• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN HISTORIS PERAN PANGLIMA BAMBANG SUGENG DALAM PERISTIWA SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TINJAUAN HISTORIS PERAN PANGLIMA BAMBANG SUGENG DALAM PERISTIWA SERANGAN UMUM 1 MARET 1949"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DALAM PERISTIWA SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

Oleh

Ahmad Munthohar

Setelah merdeka Republik Indonesia banyak sekali mengalami rongrongan dari pihak asing khususnya dari pihak Belanda. Ibukota Republik Indonesia Yogyakarta pada saat Agresi Militer II mendapati serangan dan di mulailah perjuangan senjata dan diplomasi dalam usaha mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Sosok seorang pemimpin serangan yang terlupakan dan namanya tidak banyak diingat orang adalah Panglima Bambang Sugeng. Panglima Komando Pertempuran dalam Serangan umum 1 Maret 1949. Usaha serta gagasan yang dituangkan dalam perintah siasat dan instruksi rahasia adalah salah satu upaya dalam strategi militer yang di jalankannya. Dalam usaha merebut kembali Ibukota Yogyakarta pada tahun 1949, Panglima Bambang Sugeng melakukan usaha dalam bentuk perlawanan terhadap pihak belanda, menyusun strategi, dan melakukan usaha perebutan Ibukota Yogyakarta kembali. Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa sajakah kontribusi Panglima Bambang Sugeng dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 ?.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa sajakah kontribusi Panglima Bambang Sugeng pada saat peristiwa serangan umum 1 Maret 1949. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik kepustakaan dan teknik dokumentasi, sedangkan untuk menganalisis data menggunakan analisis data kualitatif.

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Analisis Masalah ... 8

B.1 Identifikasi Masalah... ... 8

B.2 Batasan Masalah.. ... 8

B.3 Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan, Kegunaan, dan Ruang Lingkup Penelitian C.1. Tujuan Penelitian ... 9

C.2. Kegunaan Penelitian ... 9

C.3. Ruang Lingkup Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka ... 13

1. Konsep Peran ... 13

2. Konsep Militer ... 14

3. Konsep Peristiwa ... 16

4. Konsep Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949…………. 18

B. Kerangka Pikir ... 21

C. Paradigma ... 23

III. METODELOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 25

A.1 Metode yang digunakan .. ... 25

A.2 Variabel Penelitian. ... 29

A.3 Teknik Pengumpulan Data, ... 30

A.3.1. Teknik Kepustakaan ... 30

A.3.2. Teknik Dokumentasi ... 31

(7)

1.1 Keadaan Umum Yogyakarta Sebelum Peristiwa

Serangan Umum 1 Maret 1949… ... 35 1.2 Yogyakarta Pada Masa Pembentukan Pemerintahan

Republik Indonesia ... 38 a. Kondisi Keamanan dan Pemerintahan Daerah

Yogyakarta……… 39

b. Pembentukan Organisasi Militer dan Organisasi

Kepemudaan di Daerah Yogyakarta……….. 42

1.3 Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Daerah Yogyakarta ... 48

a. Perpindahan Ibukota Republik Indonesia Dari Jakarta Ke Yogyakarta……… ... 48

b. Agresi Militer Belanda II Di Daerah

Yogyakarta ……… ... 50 2. Panglima Bambang Sugeng ... 58 2.1 Profil Panglima Bambang Sugeng ... 58 3. Kontribusi Panglima Bambang Sugeng Dalam Peristiwa

Serangan Umum 1 Maret 1949 ... 64 3.1Perintah Siasat Tertanggal1Januari

Dan 15 Maret 1949 ... 64 a. Isi Dan Subyek Perintah Siasat Kolonel

Bambang Sugeng ... 66 b. Cara Penyampaian Perintah Siasat Kolonel

Bambang Sugeng……… ... 70

3.1.2 Instruksi RahasiaTertanggal

18 Februari 1949 ... 72 a. Isi Dan Cara Pemberian Instruksi Rahasia Kolonel Bambang Sugeng………. 73 b. Efek Dan Dampak Perintah Siasat Serta

Instruksi Rahasia Kolonel Bambang Sugeng Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. ... ... 75

3.1.3 Serangan Umum 1 Maret 1949……… 78 a. Jalannya Serangan Umum

1 Maret1949………. . 78

b. Kembalinya Ibukota Yogyakarta ... 87 B. Pembahasan ... 93

1. Kontribusi Panglima Bambang Sugeng Dalam Peristiwa

(8)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(9)

I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, banyak sudah yang telah dikorbankan demi meraih kemerdekaan Indonesia hingga saat ini. Banyak sekali peristiwa yang dialami oleh bangsa ini, yakni Indonesia. Serangkaian peristiwa yang muncul pada era revolusi fisik dari tahun 1945-1949, jelas memaksa rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan perang menggunakan senjata. Tidak ada pilihan terbaik pada saat itu selain berperang membantu para pejuang kemerdekaan dengan menggunakan senjata, tetesan darah dan air mata yang menetes seakan jadi penghias pada masa itu. Setelah era revolusi fisik berakhir bangsa Indonesia kembali berjuang dengan perjuangan melalui diplomasi yang tiada henti-henti nya (http://wwwsejarah-agustinus.blogspot.com/2013/10/29/12:05WIB/serangan-oemoem-1-maret-1949.html).

(10)

peneliti saya sangat tertarik dengan Peran Panglima Bambang Sugeng, selaku panglima komandan pertempuran Kepala Staf Divisi III/GM III daerah Yogyakarta. Panglima Bambang Sugeng adalah salah satu nama pahlawan yang terlupakan oleh bangsa ini, peranPanglima Bambang Sugeng amatlah penting. Bagaimana tidak serangan umum yang dilakukan selama kurang lebih enam jam itu ada kaitannya dengan intruksi rahasia yang dikeluarkan oleh Kolonel Bambang Sugeng, Panglima Komando Divisi III Jawa Tengah kepada Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Wehrkreise III/Brigade X yang meliputi daerah Yogyakarta Panglima Bambang Sugeng menginstruksikan kepada Letnan Kolonel Soeharto agar mengadakan serangan secara besar-besaran terhadap Ibukota Republik Indonesia Yogyakarta antara tanggal 25 Februari dan 1 Maret 1949 (Julius Pour, 2012:91).

Secara de jure, Kolonel Bambang Sugeng membawahi WK III yang dipimpin Letkol Soeharto. Beliau juga memiliki inisiatif melakukan perang gerilya secara terkoordinasi(Tim Lembaga Analisis Informasi, 2000:58).

(11)

Serangan umum 1 Maret 1949 dalam upaya merebut Ibukota Yogyakarta kembali semua dikendalikan atas inisiatif panglima komandan pertempuran Kepala Staf Divisi III/GM III Panglima Bambang sugeng sebagai bukti kepada dunia Internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih menunjukkan eksistensinya serta Republik Indonesia belumlah dihancurkan sepenuhnya. Salah satu usaha Kolonel Bambang Sugeng dalam serangan umum adalah, secara terus-menerus mengobarkan aktivitas gerilya terhadap para pejuang yang dipimpinnya (Tim Lembaga Analisis Informasi, 2000:58).

Peran Panglima Bambang Sugeng dimulai sejak Agresi Militer Belanda Pertama yakni pada tanggal 21 Juli 1947, pada saat itu Kolonel Bambang Sugeng telah diangkat menjadi kepala staf Divisi II/Sunan Gunung Jati, Cirebon.Perjalanan reorganisasi divisi di pulau jawa yang berjumlah 10 divisi dikurangi menjadi 7 divisi, dalam rangkaian reorganisasi tersebut Kolonel Bambang Sugeng di promosikan sebagai Kepala Staf Divisi II/Sunan Gunung Jati, Cirebon. Di Jawa Tengah gerakan militer Belanda dilancarkan secara serentak menggunakan divisi B, menggunakan 2 brigade yaitu brigade T dan W. Pada saat itu Kepala Staf Divisi II Sunan Gunung Jati Kolonel Bambang Sugeng sudah menduga-duga dan memperkirakan bahwa cepat atau lambat Purwokerto juga pasti akan di duduki oleh Belanda (Edi Hartoto, 2012:38).

(12)

beliau ke daerah Banjarnegara.Dari kota Banjarnegara inilah perlawanan terhadap Belanda dilancarkan.

Peran Kolonel Bambang Sugeng dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini terdapat dalam buku karangan Edi Hartoto yang berjudul, Panglima Bambang Sugeng Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibu Kota Djogja Kembali 1949 Dan Seorang Diplomat, beliau mengungkapkan bahwa :

Secara berangsur telah datang di Banjarnegara Staf Resimen 16dengan pimpinan Letnan Kolonel Moh. Bachroen, serta Staf Divisi II Sunan Gunung Jati dengan Panglima nya Kolonel Gatot Subroto dan Kepala Staf Kolonel Bambang Sugeng yang kemudian secara langsung memimpin pertahanan melawan Belanda di Banjarnegara dan Wonosobo. Pertahanan Divisi II Sunan Gunung Jati terutama di pusatkan di sekitar Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, Brebes, dan Tegal yang disusun menjadi beberapa sektor( Edi Hartoto, 2012:38-40).

Dan pada saat Agresi Militer Belanda I ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI), ini berhasil menemukan jati dirinya. Menghadapi intensitas perlawanan TNI, Belanda terpojok dan memaksa mereka kembali kemeja perundingan. Peran Bambang Sugeng kembali di butuhkan pada saat persetujuan Renville dimana pada saat itu penetapan pasukan masing-masing pihak (Republik Indonesia dan Belanda ).

(13)

Perundingan dengan Belanda tersebut dilangsungkan di Kemit. Hal ini disebabkan karena serangan militer Belanda waktu itu tertahan di daerah tersebut.

Delegasi militer yang di pimpin oleh Kepala Staf Divisi II Sunan Gunung Jati Kolonel Bambang Sugeng tersebut terdiri dari tujuh anggota yaitu Letnan Kolonel Kun Kamdani, Mayor Rakhmat, Mayor Panuju, Kapten Subiyandino, Kapten Surono ( mantan menko polkam dan ketua dewan harian angkatan 45), Letnan Kusman, dan Letnan Suyoto(EdiHartoto, 2012:41).

Pada saat Agresi Militer Belanda II, yang pada saat itu Belanda memfokuskan serangannya ke Jawa Tengah Khusus nya Ibukota Republik Indonesia Yogyakarta, dengan tujuan menghancurkan pusat kekuatan TNI dan menawan pimpinan Pemerintah Republik Indonesia. Sesuai dengan rencana sebelumnya yang tertuang dalam Perintah Siasat Nomor 1 Tahun 1948, dengan mengikutsertakan seluruh rakyat dengan aktif serta mengerahkan semua tenaga dan harta kekayaan rakyat.Pada saat bersamaan pula strategi pertahanan yang semula bersistem linier dirubah menjadi sistem pertahanan wehrkreise yang telah dilengkapi dengan taktik perang gerilya.

Usaha Panglima Bambang Sugeng pada saat Agresi Militer Belanda II ialah menentukan jadwal latihan bersama pasukannya dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, namun sangat disayangkan jadwal latihan pada tanggal 19 Desember 1948 dijadikan sebagai hari penyerangan Agresi Belanda II berkat kelicikan mata-mata dari pihak Belanda.

(14)

1. Wehrkreise I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Moch. Bachroen mengendalikan daerah-daerah Banyumas, Pekalongan dan Wonosobo dengan Pos Komando (Posko) di Desa Makam (sebelah utara Purbolinggo), terdiri dari empat Sub Wehrkreise (SWKS) dan I Korp Armada.

2. Wehrkreise II di bawah pimpinan Letnan Kolonel Sarbini, meliputi daerah Kedu (minus Wonosobo) ditambah Kabupaten Kendal (mulai dari Semarang) dengan posko di Bruno (sebelah utara Purworejo), terdiri dari tujuh SWKS.

3. Wehrkreise III di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto (mantan presiden RI), meliputi daerah Yogyakarta, terdiri dari 6 SWKS.

Dari sini jelas terlihat daerah Wehrkreise-wehrkreise itulah serangan melawan pihak Belanda dilancarkan oleh Divisi III secara teratur di bawah Komando Gubernur Militer III/Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng dan secara otomatis sebagai panglima komando pertempuran merebut kembali Ibu Kota Yogyakarta. Sesuai doktrin perang wilayah Perintah Siasat dari Pimpinan MBKD.

(15)

Usaha Panglima Bambang Sugeng selaku Panglima Divisi III Jawa Tengah, bertanggung jawab terhadap daerah Yogyakarta.

Dalam menyikapi propaganda Belanda tersebut, tugas Bambang Sugeng selaku Panglima Divisi III Jawa Tengah, Barat dan Yogyakarta inilah yang tidak pernah dapat di lupakan baik bagi nusa dan bangsa. Serangan itu ada kaitannya dengan intruksi rahasia Kolonel Bambang Soegeng, Panglima Komando Divisi III Jawa Tengah, kepada Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Wehrkreise III/Brigade X yang meliputi daerah Yogyakarta, agar

“mengadakan gerakan serangan besar-besaran terhadap Ibu Kota (RI di

Yogyakarta yang di duduki pasukanBelanda)” antara 25 Februari dan 1 Maret 1949 (Julius Pour, 2012:91).

(16)

B. Analisis Masalah

B.I Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut :

1. Ide Panglima Bambang Sugeng dalam melawan propaganda pihak Belanda pad atahun 1949.

2. Usaha Panglima Bambang Sugeng dalam bentuk aktifitas

perlawanan merebut Ibukota Republik Indonesia Yogyakarta 1949. 3. Kontribusi Panglima Bambang Sugeng dalam peristiwa serangan

umum 1 Maret 1949.

B.2 PembatasanMasalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti membatasi masalah pada nomor (3), yaitu : Kontribusi Panglima Bambang Sugeng dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949.

B.3 RumusanMasalah

(17)

C. Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian dan Ruang Lingkup Penelitian

C.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa sajakah peran Panglima Bambang Sugeng dalam usaha merebut kembali Ibukota Yogyakarta tahun 1949 ?.

C.2 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan, serta informasi tentang Ilmu Kesejarahan, khususnya mengenai peristiwa serangan umum 1 Maret 1949.

2. Sebagai masukan yang bisa menjadi manfaat bagi para pembaca, khususnya mahasiswa Pendidikan Sejarah, khususnya mata kuliah Sejarah Indonesia 1945 sampai dengan sekarang.

(18)

C.3 Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat masalah di atas maka dalam penelitian ini untuk menghindari kesalah- pahaman, maka dalam hal penelitian ini peneliti memberikan kejelasan tentang sasaran dan tujuan penelitian mencakup :

a. Objek penelitian

Objek penelitian adalah sifat keadaan (attributes) dari sesuatu benda, Orang, atau keadaan, yang menjadi pusat perhatian atau sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa kuantitas, dan kualitas (orang, dan lembaga), bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra atau simpati-antipati, disebut (orang), bisa pula berupa proses disebut (lembaga). Dalam penelitian ini, peneliti membatasi ruang lingkup objek

dalam penelitian iniadalah peran panglima Bambang Sugeng dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949.

b. Subjek penelitian

(19)

c. Wilayah / Tempat Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di perpustakaan umum dan perpustakaan daerah. disebabkan, karena dalam bidang ilmu sejarah di butuhkan resensi buku guna menunjang penyelesaian penelitian ini.

Wilayah/tempat penelitian dalam penelitian ini adalah Perpustakaan Unila dan Perpustakaan Daerah Lampung.

d. Waktu Penelitian

Waktu adalah besaran yang menunjukkan lamanya suatu peristiwa berlangsung. Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah tahun 2013.

e. Bidang Ilmu

(20)

REFERENSI

(http://www.sejarah-agustinus.blogspot.com/serangan-oemoem-1-maret- 1949.html/diakses 29 Oktober 2013, pukul 12.05WIB).

JuliusPour. 2012. Sepanjang Hayat Bersama Rakyat 100 Tahun Sultan Hamengku Buwono IX. Kompas. Jakarta : Halaman 91

Tim Lembaga Analisis Informasi. 2000. Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949. Media Pressindo. Yogyakarta : Halaman 58

(http://aergot.wordpress.com/jejak-sunyi-seorang-panglima/diakses 29 Oktober 2013, pukul 02.14WIB).

Tim Lembaga Analisis Informasi. Op. Cit. halaman 58

Edi Hartoto. 2012. Panglima Bambang sugeng panglima komando pertempuran merebut ibu kota djogja kembali 1949 dan seorang diplomat. Kompas. Jakarta : Halaman 38

Ibid, halaman 38-40

(21)

II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka 1. Konsep Peran

Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran (Soekanto, 1990:268).

Menurut Palan, peran adalah merujuk pada hal yang harus dijalankan seseorang di dalam sebuah tim(http://adidevi69.wordpress.com/2014/01/18/ 09:03WIB/konsep-peran-menurut-beberapa-ahli).

Sedangkan menurut Friedman M, peran adalah :

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (ketentuan) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut (Friedman M, 1998:286).

(22)

intruksi rahasia dalam kontribusinya dan kewajibannya pada saat peristiwa serangan umum 1 Maret 1949.

2. KonsepMiliter

Menurut Amos Perlmutter, militeradalah :

Sebuah organisasi yang paling sering melayani kepentingan umum tanpa menyertakan orang-orang yang menjadi sasaran usaha-usaha organisasi itu. militer adalah suatu profesi sukarela karena setiap individu bebas memilih suatu pekerjaan di dalamnya, namun ia juga bersifat memaksa karena anggotanya tidak bebas untuk membentuk suatu perkumpulan sukarela melainkan terbatas kepada situasi hirarki birokrasi (Amos Perlmutter, 2000:2).

Atas dasar di atas maka militer merupakan sebuah institusi dan komponen yang melayani kepentingan umum, dan dalam hal ini mereka bertanggung jawab terhadap pertahanan dan keamanan negara.

Abdoel Fattah menyatakan bahwa peran militer adalah sebagai alat negara yang menjaga keutuhan dan kedaulatan negara untuk mensejahterakan kehidupan bangsa (Abdoel Fattah, 2005:41). Hal ini membuktikan bahwa militer pada saat itu memiliki peranan sebagai alat pertahanan keamanan yang menjaga persatuan dan keutuhan negara dari ancaman serta gangguan dari bangsa dan negara asing, termasuk dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan mengadakan perlawanan apabila negara dan bangsa Indonesia sedang mengalami gangguan dari pihak bangsa dan negara lain. Menurut M.D. La Ode, militerversi Indonesia adalah terdiridari :

(23)

2. TNI Angkatan Laut yang mengemban tugas khusus untuk mengawal kedaulatan NKRI di wilayah lautan.

3. TNI Angkatan Udara untuk mengemban tugas khusus sebagai pengawal kedaulatan NKRI dari segala bentuk AGTH (Ancaman, Gangguan, Tantangan, dan Hambatan) yang berasal dari dalam maupun dari luar (M.D.La. Ode, 2006:24).

M. D. La Ode selanjutnya mengatakan bahwa :

Penamaan ABRI dalam organisasi Militer Indonesia berlangsung sampai tahun 1998, yang terdiri dari TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan POLRI. Pada tahun 1998 sampai saat ini, sebutan ABRI untuk institusi militer tidak lagi digunakan melainkan mempergunakan nama TNI untuk menyebut organisasi militer Indonesia. Kebijakan penggunaan nama TNI, karena POLRI secara resmi telah dikeluarkan dari ABRI (M.D.La. Ode, 2006:90).

Dalam buku Militer Dan Gerakan Prademokrasi karangan Cholisin, Hasnan

Habib berpendapat bahwa “organisasi militer untuk menghadapi dan

mengatasi keadaan darurat (emergency organization) yang bercirikan organisasi keras, ketat, hirarkis sentralistis, berdisiplin keras dan bergerak atas komando (Cholisin, 2002:11).

Ada dua faktor prinsipil yang menjadikan militer senantiasa tampil sebagai penyelamat bangsa dan negara saat dalam keadaan gawat yang bisa mengarah pada disintegrasi politik nasional. Kedua prinsipil yang dimaksud, yaitu :

1. Jiwa ksatria dan patriotisme untuk menjaga keamanan dan keselamatan tanah tumpah darahnya tidak pernah surut.

2. Sifat konsistensi yang sangat tinggi terhadap UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan de facto dan de jure kepemilikan NKRI ini jauh melebihi sifat konsistensi pihak sipil pada saat itu (presiden, kabinet, dan partai-partai (M.D.La. Ode, 2006:94).

(24)

kembali Ibukota Yogyakarta dari pihak Belanda, militer merupakan organisasi yang sering melayani kepentingan umum yang setiap anggotanya tidak bebas membentuk perkumpulan karena terbatas oleh situasi dan hirarki yang terpusat, berdisiplin keras dan bergerak atas komando yang berguna untuk menghadapi dan mengatasi keadaan darurat dan terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian. Dalam peristiwa serangan umum 1 Maret sebagai komando adalah Panglima Bambang Sugeng.

3. Konsep Peristiwa

Peristiwa adalah sejarah, maka sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang peristiwa-peristiwa pada masa lampau dan menyangkut manusia sebagai makhluk sosial, dapat dijadikan pedoman untuk menentukan kebijaksanaan pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Untuk mengetahui dan memahami kebenaran dari peristiwa atau sejarah itu sendiri maka perlu dikemukakan pengertian peristiwa menurut pendapat beberapa ahli. Mengenai peristiwa atau kejadian ini Soemardjo, 1961 seperti dikutip oleh Ali Imron mengemukakan :

(25)

Jadi suatu peristiwa menjadi perhatian dan menarik apabila pengalaman manusia, dan apa-apa yang dialami manusia dimasa lampau dan kehidupannya di masa lampau. Banyak manusia yang menjadikan pengalaman nya sebagai ilmu dan bagian objek studi nya meskipun dengan cara dan titik perhatian yang berbeda. Banyak juga para sejarawan yang tertarik dengan peristiwa masa lampau tersebut, namun perlu dilihat dari segi aspek yang mana yang menjadi perhatian utama sejarawan dalam studi terhadap masa lampau itu.

Dan para sejarawan tertarik pada aspek peristiwa sebagai (event), peristiwa khusus, dan dimensi kronologis. Dalam bukunya yang berjudul Manusia Dan Sejarah,Maskun mengatakan bahwa :

Dalam hal ini kelihatannya sejarawan terutama tertarik pada aspek-aspek tertentu dari pengalaman masa lampau yaitu tentu saja tertarik terhadap,(1) peristiwa sebagai suatu (event), bukannya bagaimana adanya atau adanya peristiwa tersebut sebagai suatu gejala yang bisa diisolasikan dengan peristiwa-peristiwa yang lain. Selanjutnya dalam mengkaji peristiwa sebagai peristiwa tentu mereka menaruh perhatian pada (2).peristiwa khusus (particulars), yaitu peristiwa-peristiwa yang meskipun mungkin ada persamaan jenisnya dengan peristiwa-peristiwa lainnya, tetapi tidak pernah sama betul (identik) dengan peristiwa-peristiwa lainnya itu. sejarawan juga tertarik pada (3). Dimensi kronologis (urutan perkembangan dari peristiwa untuk mengartikan perubahan atau perkembangan (change) yang menjadi landasan utama bagi persambungan/urutan-urutan peristiwa-peristiwa tersebut. Akhirnya oleh

karena segala sesuatu di masa lampau hakekatnya “mensejarah”

(26)

sama saja membahas sejarah manusia dengan begitu sejarah lebih luas cakupannya dari ilmu-ilmu yang lain ketika menjadi suatu peristiwa, peristiwa sendiri dalam hal ini terutama yang bersifat khusus dari segi-segi urutan perkembangan yang kemudian disususun dalam suatu cerita sejarah.

4. Konsep Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949

Peristiwa Serangan umum 1 Maret 1945 adalah serangan yang dilakukan untuk merebut kembali Ibukota Yogyakarta yang pada saat itu telah dikuasai dan diduduki oleh Belanda, serangan umum merupakan bukti eksistensi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang masih ada dan sekuat tenaga membela Republik Indonesia dan membuktikan pada dunia internasional bahwa Republik Indonesia belum lah dikuasai sepenuhnya.

Dr. Anhar Gonggong mengungkapkan dalam buku “Panglima Bambang Sugeng Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibu Kota Djogja Kembali 1949 Dan Seorang Diplomat” :

Berdasarkan data itu, katanya, SO 1Maret 1949 bukanlah serangan yang berdiri sendiri tapi bagian dari serangkaian serangan yang dilakukan 25

Februari sampai 1 maret 1949. “SO dianggap hebat karena sebagai bukti eksistensi TNI yang sekaligus merupakan eksistensi RI,” ( Edi Hartoto,

2012 : 194).

Dalam hal ini Kapten AURI Budiardjo dalam buku yang berjudul

“Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949” menuturkan :

(27)

Timur Kol. Simatupang singgah di Playen (lokasi pemancar radio) membawa berita tentang Serangan Umum Satu Maret yang akan dilaksanakan esok hari-nya.“Sayamenerima teks dan briefing

secukupnya…dengan diwanti-wanti untuk menyiapkan besok malamnya, setelah terjadi SO 1 Maret yang akan dilancarkan pada waktu subuh tanggal 1 Maret 1949. Tulisan Pak Simatupang tersusun jelas, dalam bahasa Inggris yang bagus dan rapi.

Sayang sekali saya tidak berani menyimpan teks itu, setelah disiarkan .”

Alm. Soedjatmoko pada waktu itu salah satu wakil RI di Dewan Keamanan pernah cerita, betapa ia segera mengadakan konferensi pers setelah menerima berita tentang SO 1 Maret (Tim LembagaAnalisisInformasi, 2000 : 86).

Berdasarkan beberapa keterangan diatas maka, dapat ditegaskan bahwa Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, merupakan serangan frontal tidak hanya dari Angkatan Darat (AD), tapi juga dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Dari penuturan Boediardjo, dapat diketahui bahwa Letkol Soeharto bukanlah perwira berpangkat tertinggi yang mengetahui rencana Serangan Umum (SO) I Maret. Di atas Soeharto, terdapat perwira-perwira lain yang mengetahui rencana tersebut.

Berbicara mengenai Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, tidak terlepas dari peran Panglima Bambang Sugeng yang namanya dilupakan olehBangsa Indonesia, peran serta usaha Panglima Bambang Sugeng yang telah dikebiri pada era sejarah Soeharto.

(28)

Soegeng adalah orang yang emosional dan bagi dia tidaklah memuaskan apabila Yogyakarta nanti dikembalikan begitu saja kepada kita. Idenya ialah : Yogyakarta harus direbut dengan senjata. Paling sedikit ia ingin bahwa Yogyakarta kita serang secara besar-besaran… Dengan Kol. Soegeng masih saya bicarakan beberapa kekuatan yang dapat dikumpulkannya untuk serangan itu, bagaimana rencananya dan seterusnya(T.B Simatupang, 1960 : 60).

Menurut pendapat Afred Suci dalam bukunya yang berjudul 151 Konspirasi Dunia Paling gila dan mencengankan :

Versi Orde Baru mengatakan bahwa Letkol Soeharto memberi perintah kepada Kolonel T.B. Simatupang, seorang Wakil kepala Staf Angkatan Perang untuk menyusun rilis berita berbahasa Inggris dan menyiarkannya melalui jaringan milik Angkatan Udara RI mengenai eksistensi (keberadaan) RI. Banyak sejarawan meragukan dan para petinggi militer merasa aneh dengan penulisan sejarah seperti ini. Bagaimana mungkin seorang bawahan yang hanya mengepalai Brigade Yogyakarta bisa member perintah kepada perwira yang memiliki 1 melati lebih banyak di pundaknya dan merupakan wakil pimpinan angkatan perang seluruh tentara RI? Itu menyalahi rantai komando yang sangat dipatuhi oleh setiap prajurit perwira militer. Adanya Perintah Siasat No. 4/S/Cop. I, tanggal 1 Januari 1949, Instruksi Rahasia tanggal 18 Februari 1949 dari Panglima/GM III Kolonel Bambang Sugeng, merupakan bukti tak terbantahkan bahwa bukan Letkol Soeharto yang menggagas serangan. Bukan dia pula perwira dengan pangkat tertinggi yang mengetahui rencana serangan itu. Sebab, kedua dokumen dari Kol. Bambang Sugeng merupakan fakta bahwa perencanaan Serangan Umum berasal dari atasan Letkol Soeharto. Kedua dokumen penting itu merupakan instruksi dari Panglima/GM III kepada ketika komandan Brigade, termasuk Brigade III pimpinan Letkol Soeharto (AfredSuci, 2012 : 105).

(29)

untuk membuktikan kepada Dunia Internasional Bahwa Republik Indonesia Masih ada.

B.Kerangka Pikir

Pada Agresi militer Belanda I, Kolonel Bambang Sugeng dipercaya sebagai Staf Divisi II Sunan Gunung Jati ( Cirebon ) mendampingi Kolonel Gatot Subroto sebagai Panglima Divisi II Sunan Gunung Jati.

Alasan dan pertimbangan keamanan menyebabkan pos komando Divisi II Sunan Gunung Jati di Cirebon di pindahkan ke Purwokerto kemudian ke Banjarnegara. Menjelang Agresi Militer Belanda II, Kolonel Gatot Subroto di mutasi menjadi Panglima Divisi II di solo dengan pos komando di Gunung Lawu. Tidak berselang lama, Kolonel Bambang Sugeng kembali di promosikan menjadi Panglima Divisi III Jawa Tengah, Barat dan Yogyakarta dengan pos komando di Magelang serta pos gerilya di Gunung Sumbing yakni perbatasan Wonosobo, Magelang Jawa Tengah. Tugas Panglima Bambang Sugeng inilah yang tidak dapat dilupakan baik bagi Nusa dan Bangsa. Peran Panglima Bambang sugeng dalam Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, amatlah penting.

(30)

Aksi militer yang dituangkan Panglima Bambang Sugeng melalui Perintah khusus, yakni perintah siasat dan Intruksi rahasia.

Serangan Umum 1 Maret 1949 pimpinan Letkol Soeharto, sesungguhnya pelaksanaan Intruksi rahasia Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng kepada Brigade 10 Letkol Soeharto agar melakukan serangan besar-besaran terhadap Ibukota Yogyakarta antara tanggal 25 Februari sampai dengan 1 maret 1949.

Selaku Panglima Komando Divisi III Jawa Tengah dan Yogyakarta Panglima Bambang Sugeng mempunyai pertimbangan sendiri saat mengeluarkan perintah itu, yakni untuk mematahkan propaganda Belanda bahwa TNI sudah hancur dan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Serangan umum 1 Maret 1949 ternyata mampu mempengaruhi jalannya Dewan Keamanan PBB di Lake Succes, Amerika Serikat dan berdampak positif bagi eksitensi Republik Indonesia melalui Perintah Siasat dan Intruksi Rahasia. Berkat peran dalam kontribusi ide Panglima Bambang Sugeng inilah yang membuat Yogyakarta kembali ketangan bangsa Indonesia.

(31)

1. Perintah Siasat Tertanggal 1 Januari 1949 2. Instruksi Rahasia Tertanggal 18 Februari 1949

3. Perintah Siasat Tertanggal 15 Maret 1949

Serangan Umum 1 Maret 1949 C. Paradigma

Peran Panglima Divisi.III Jawa Tengah dan Yogyakarta Bambang Sugeng

Kembali nya Ibukota Yogyakarta

Keterangan :

(32)

REFERENSI

(http://adidevi69.wordpress.com/konsep-peran-menurut-beberapa-ahli/diakses 18 Januari 2014, pukul 09.03WIB).

Amos Perlmutter. 2000. Militer Dan Politik. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Halaman 2.

Abdoel Fattah. 2005. Demilitarisasi Tentara:Pasang Surut Politik Militer 1945-2004. Yogyakarta : LKis. Halaman 41.

M.D. La. Ode. 2006. Peran Militer Dalam Ketahanan Nasional (Studi Kasus Hankam Indonesia 1967-2000. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Halaman24. Ibid, halaman 90.

Cholisin. 2002. Militer Dan Gerakan Prademokrasi. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. Halaman 11.

M.D. La. Ode. Op.Cit, halaman 94.

Ali Imron. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Bandar Lampung : Unila Press. Halaman 3.

Maskun. 2008. Manusia Dan Sejarah. Bandar Lampung : Unila Press. Halaman 16-17.

Edi Hartoto. 2012. Panglima Bambang sugeng panglima komando

pertempuran merebut ibu kota djogja kembali 1949 dan seorang diplomat. Jakarta : Kompas. Halaman 194.

Tim Lembaga Analisis Informasi. 2000. Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949. Yogyakarta : Media Pressindo. Halaman 86.

T.B. Simatupang. 1960. Laporan Dari Banaran. Jakarta : Halaman 60. Afred Suci. 2012. 151 Konspirasi Dunia Paling gila dan mencengankan.

(33)

III METODELOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

A.1 Metode yang digunakan

Sebelum membuat suatu penulisan penelitian sebagai peneliti hendaknya, menentukan metode penelitian apakah yang akan dipakai dalam suatu penulisan penelitian tersebut. Metode penelitian juga menentukan bagaimana susunan cara atau urutan penelitian dalam meneliti suatu masalah. Metode adalah suatu bentuk urutan atau cara yang dipergunakan peneliti dalam memecahkan suatu masalah dengan menguji secara benar dan berurutan.

Di dalam penelitian,metode merupakan faktor penting untuk memecahkan masalah yang turut menentukan keberhasilan suatu penelitian. Metode adalah cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik serta alat tertentu (Winarno Surakhmad, 1982: 121).

Sedangkan menurut Husin Sayuti menegaskan bahwa “metode merupakan cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi

sasaran ilmu yang bersangkutan”(Husin Sayuti, 1989:32).

(34)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode historis, karena penelitian ini mengambil obyek dari peristiwa-peristiwa pada masa lampau. Metode penelitian adalah suatu cara dan jalan untuk memperoleh pemecahan terhadap sesuatu untuk memperoleh pemecahan terhadap suatu permasalahan.

Dalam proses metode historis ini peneliti mendapat sumber-sumber serta bukti-bukti yang relevan yang di dapat melalui pencarian, penulisan, perangkuman suatu cerita peristiwa yang peneliti peroleh dari Perpustakaan Umum, Perpustakaan Universitas Lampung, dan Perpustakaan Daerah Lampung (PUSDA). Demi memperoleh pemecahan terhadap masalah yang akan peneliti teliti.

Hadari Nawawi berpendapat bahwa:

Adapun yang dimaksud dari metode historis adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu atau peninggalan-peninggalan, baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu, terlepas dari keadaan masa sekarang maupun untuk memahami kejadian atau keadaan masa sekarang dalam hubungannya dengan kejadian atau keadaan masa lalu, untuk kemudian hasilnya juga dapat dipergunakan untuk meramalkan kejadian atau keadaan masa yang akan datang (Hadari Nawawi, 1993: 78-79).

Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa : “Metode historis adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dari masa lalu” (Louis Gottschalk, 1986: 32).

Metode historis adalah suatu cara atau jalan penelitian yang

(35)

secara kritis agar bisa dijadikan bahan dalam penulisan sejarah serta bisa merekonstruksi suatu fakta dan menarik kesimpulan secara benar.

Tujuan penelitian historis adalah membuat rekontruksi masa lampau secara objektif dan sistematis dengan cara mengumpulkan, memverifikasikan, mengintesakan bukti-bukti untuk memperoleh kesimpulan.

Dalam penelitian historis, validitas dan reabilitas hasil yang dicapai sangat ditentukan oleh sifat data yang ditentukan pula oleh sumber datanya. Sifat data historis diklasifikasikan:

-Data Primer, yakni data autentik. Data yang langsung dari tangan pertama tentang masalah yang diungkapkan atau data asli.

-Data Sekunder, yakni data yang mengutip dari sumber lain sehingga tidak bersif atautentik karena sudah diperoleh dari tangan kedua, ketiga dan selanjutnya, atau data tidak asli (Budi Koestoro dan Basrowi, 2006:122).

Menurut Nugroho Notosusanto langkah-langkah dalam penelitian historis, yaitu :

1. Heuristikadalah proses mencari untuk menemukan sumber-sumber sejarah.

2. Kritik adalah menyelidiki apakah jejak sejarah itu asliatau palsu. 3. Interpretasi adalah setelah mendapatkan fakta-fakta yang

diperlukan maka kita harus merangkaikan fakta-fakta itu menjadi keseluruhan yang masuk akal.

4. Historiografi adalah suatu kegiatan penulisan dalam bentuk laporan hasil penelitian (Nugroho Notosusanto, 1984:11).

(36)

1. Heuristik

Peneliti mencoba mencari serta mengumpulkan data-data yang diperlukan dan berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Kegiatan heuristik akan difokuskan pada literatur-literatur yang berkaitan dengan peranan panglima Bambang Sugeng dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949.

2. Kritik

Setelah data terkumpul, kegiatan penelitian selanjutnya adalah melakukan kritik terhadap sumber-sumber yang telah didapat untuk menguji apakah data tersebut valid atau tidak serta layak menunjang kegiatan penelitian yang dilakukkan. Jenis kritik yang dilakukan dengan kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern adalah mengkritik dengan melihat apakah data yang didapat itu asli atau palsu. Kritik intern adalah mengkritik yang bertujuan untuk meneliti kebenaran isi data dari sumber data yang sudah didapat.

3. Interpretasi

Peneliti melakukan penafsiran terhadap data-data yang telah didapatkannya dan selanjutnya berusaha untuk melakukan analisis data atau peneliti mulai melakukan pembentukan konsep dan generalisasi sejarah.

4. Historiografi

(37)

A.2 Variabel Penelitian

Dalam tahap penelitian terdapat variabel penelitian, variabel penelitian adalah suatu bentuk konsep yang sangat bervariasi yang dapat dikelompokkan dalam dua kelompok atau lebih. Dalam mencari dan mendapat konsep variabel penelitian ini peneliti mendapatkan sumber yang relevan dari Perpustakaan Daerah Lampung (PUSDA) dan

Perpustakaan Universitas Lampung.“Menurut pendapat S.Margono,

Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai, variabel juga dapat diartikan sebagai pengelompokkan yang logis dari dua atau lebih atribut” (S.Margono, 1996:133).

Sedangkan menurut Pendapat Muhammad Ali, Variabel menunjukkan pada gejala, karakteristik, atau yang kemunculannya berbeda-beda pada setiap subyek (Muhammad Ali, 1992:26). Menurut pendapat Suharsimi

Arikunto, “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi inti

perhatian suatu penelitian” (Suharsimi Arikunto, 2002:96).

(38)

A.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam tehnik pengumpulan data peneliti menggunakan tehnik kepustakaan dan dokumentasi yang sesuai dengan cara yang benar yang telah diajarkan pada saat perkuliahan pada Fakultas Pendidikan Sejarah, mendapatkan sumber-sumber bahan yang mendukung dalam pemecahan masalah yang akan peneliti uji.

Sumber kepustakaan diperoleh dari Perpustakaan Daerah Lampung (PUSDA) Perpustakaan Universitas Lampung, dan Perpustakaan Umum lain nya yang mendukung peneliti mengumpulkan sumber pengumpulan data. Dalam tehnik dokumentasi peneliti berusaha mengambil serta mengabadikan gambar-gambar atau segala macam bentuk kejadian peristiwa yang sesuai dengan masalah yang peneliti akan cari dengan mendokumentasikannya sebagai bukti yang dapat dipercayai kebenarannya.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teknik, yaitu teknik kepustakaan dan dokumentasi. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang diinginkan lebih akurat. Teknik pendukung dalam pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :

A.3.1. Teknik Kepustakaan

(39)

Perpustakaan Universitas Lampung, Perpustakaan Daerah Lampung (PUSDA), serta Perpustakaan Umum lainnya.

Menurut pendapat Nawawi teknik studi kepustakaan dilaksanakan dengan cara mendapatkan sumber-sumber data yang diperoleh dari perpustakaan yaitu dengan mempelajari buku-buku literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti(Nawawi, 1993:133).

Menurut Koenjaraningrat,“Teknik kepustakaan merupakan cara

pengumpulan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang terdapat diruang perpustakaan, misalnya dalam bentuk koran, naskah, catatan, kisah sejarah, dokumen-dokumen dan sebagainya yang relevan dengan penelitian (Koenjaraningrat,1983: 133).

Dengan demikian dalam melakukan teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti ini dilakukan dengan membaca-baca serta mempelajari buku dengan tujuan memperoleh teori-teori ataupun argument yang dikemukakan oleh para ahli terkait dengan masalah yang diteliti.

A.3.2. Teknik Dokumentasi

(40)

Menurut Nawawi, “Teknik dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui sumber tertulis terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku, teori, dalil-dalil atau hukum-hukum dan lain-lain, yang berhubungan dengan masalah yang akan di teliti.” (Nawawi, 1993: 134).

Berdasarkan pendapat diatas peneliti akan melakukan penelitian dengan teknik dokumentasi, peneliti akan berusaha mencari dan mengumpulan buku-buku, surat kabar,artikel, film, arsip bersejarah tentang Peran Panglima Bambang Sugeng Dalam usaha merebut kembali Ibukota Yogyakarta tahun 1949.

A.4.Teknik Analisis Data

Data yang terdapat dalam penelitian ini adalah data kualitatif dengan demikian teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif yaitu data yang berupa fenomena-fenomena yang terjadi yang dikumpulkan dalam bentuk laporan dan karangan para sejarahwan sehingga memerlukan pemikiran dalam menyelesaikan masalah penelitian.

Dan dalam tahapan-tahapan proses analisis data kualitatif ini peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut.

Tahapan-tahapan dalam proses analisis data kualitatif meliputi:

(41)

data yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Reduksi data juga merupakan bentuk analisis yang tajam, menggolongkan, mengarahkan, serta membuang yang tidak perlu dan mengorganisir data sampai akhir bisa menarik sebuah kesimpulan.

2. Penyajian data, adalah penyajian data yang dibatasi sebagai kumpulan informasi tersusun, member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan penyajian data tersebut akan dapat dipahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan, sehingga dalam menganalisis atau mengambil tindakan nantinya akan berdasarkan pemahaman yang didapat dari penyajian tersebut.

(42)

REFERENSI

WinarnoSurakhmad. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito Bandung. Halaman 121.

Husin Sayuti. 1989. Pengantar Metodologi Riset. Jakarta : Fajar Agung. Halaman 32.

Hadari Nawawi. 1993. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta :Gajah Mada Univercity Pers. Halaman 78-79.

Louis Gottschalk. 1986. Mengerti Sejarah:Pengantar Metode Sejarah. Jakarta : Yayasan Penerbit UI. Halaman 32.

Budi Koestoro dan Basrowi. 2006. Strategi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta : Yayasan Kampusina. Halaman 122.

Nugroho Notosusanto. 1984. Masalah Penelitia nSejarah Kontemporer. Jakarta : Inti Idayu Press. Halaman 11.

S Margono. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta : Rineka Cipta. Halaman 133.

Muhammad Ali. 1992 . Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung : Angkasa. Halaman 26.

Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Citra. Halaman 96.

Hadari Nawawi.Op. Cit. Halaman 133.

Koenjaraningrat . 1983. Metode-Metode Penelitian masyarakat.Jakarta : PT Gramedia. Halaman 133.

Hadari Nawawi.Op. Cit. Halaman 134.

(43)

V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan yang dilakukan oleh peneliti pada bab sebelumnya mengenai Tinjauan Historis Peran Panglima Bambang Sugeng Dalam Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Peran Panglima Bambang Sugeng dibuktikan dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 dalam bentuk kontribusi ide serta inisiatif yang tertuang dalam perintah siasat Panglima Bambang Sugeng No.4/S/Cop.I.tertanggal 1 Januari 1949 dan perintah Siasat No. 9/PS/49 tertanggal 15 Maret 1949 serta instruksi rahasia Panglima Bambang Sugeng Tertanggal 18 Februari 1949. Ini membuktikan pada saat serangan umum 1 Maret 1949 dan pada saat bergerilya bersama para pejuang dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki peran yang sangat Signifikan meskipun kontribusi dalam bentuk ide dan inisiatif namun pada akhirnya, dalam pelaksanaan serangan umum 1 Maret 1949 berkat jasa Letnan Kolonel Soehartolah sebagai Komandan Wehkreise III yang melakukan serangan dari awal hingga akhirnya dapat merebut Ibu Kota Yogyakarta kembali. 2. Dalam bentuk perintah siasat tertanggal 1 Januari 1949,

(44)

Sarbini sebagai Komandan Wehrkreise II, dan Letkol Soeharto sebagai Komandan Wehrkreise III, untuk segera mengadakan perlawanan serentak terhadap Belanda pada tanggal 17 Januari 1949. Agar timbul suasana pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda, yang dapat perhatian dunia luar untuk menyatakan kebohongan keterangan-keterangan Belanda Kolonel Bambang Sugeng megeluarkan Counter Issue melawan propaganda Belanda.

3. Dalam bentuk instruksi rahasia tertanggal 18 Februari Kolonel Bambang Sugeng memerintahkan kepada Komandan Daerah III Letkol Soeharto di Panjatan (Yogyakarta) agar melakukan gerakan serangan besar-besaran terhadap ibukota antara tanggal 25 Februari sampai dengan tanggal 1 Maret 1949 dengan menggunakan bantuan pasukan Brigade 9 Ahmad Yani.

4. Dalam bentuk perintah siasat tertanggal 15 Maret 1949, Kolonel Bambang Sugeng memerintahkan seluruh pasukan Divisi III agar tetap melakukan perlawanan terus-menerus dari tanggal 15 Maret sampai dengan tanggal 1 April 1949 sebagai tindakan antisipasi dari pihak Belanda supaya tidak melakukan tindakan balasan,

(45)

jam mampu memukul mundur pihak Belanda dan mengembalikan Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia, ini sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa Propaganda Belanda salah danTentara Nasional Indonesia masih menunjukkan eksistensinya.

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini beberapa hal yang dapat diusulkan sebagai saran yang penulis sampaikan diantaranya yaitu:

(46)
(47)

Ali, Muhammad. 1992 . Strategi Penelitian Pendidikan. Angkasa : Bandung. Halaman 26

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Citra : Jakarta. 274 Halaman

Basrowi, dan Koestoro, Budi. 2006. Strategi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta : Yayasan Kampusina. Halaman 122

Cholisin. 2002. Militer Dan Gerakan Prademokrasi. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. Halaman 11

Dewan Harian Nasional Angkatan 45 Pusat Dokumentasi Sejarah Perjuangan 45. 1976. Pengalaman Dan Pandangan Tentang Perjuangan 45. Firma Aries Lima. Halaman 228 Halaman

Fattah, Abdoel. 2005. Demilitarisasi Tentara:Pasang Surut Politik Militer 1945-2004. Yogyakarta : LKis. Halaman 41

Goenawan, Ryadi. 1993. Sejarah Sosial Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial D.I Yogyakarta Periode Awal Abad Duapuluhan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. CV. Manggala Bhakti. Jakarta-Indonesia : Halaman 27

Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah, (diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto). Yayasan Penerbit UI : Jakarta.

Hartoto, Edi. 2012. Panglima Bambang sugeng panglima komando pertempuran merebut ibu kota djogja kembali 1949 dan seorang diplomat. Kompas. Jakarta. 229 Halaman

Imron, Ali. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Unila Press : Bandar Lampung. Halaman 3

Kansil, C.s.t, drs. 1990. Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Pt Gelora Aksara Pratama. Jakarta. 192 Halaman

Koentjaraningrat . 1986. Metode-Metode Penelitian Sejarah. PT Gramedia : Jakarta. Halaman 169

(48)

Gerilya Semesta II. Disjarah-Ad. Angkasa Bandung : Bandung. Halaman 37 Nawawi, Hadari dan Mimi Martini. 1993. Penelitian Terapan. Gajah Mada Pers : Yogyakarta. 133 Halaman

Notosusanto Nugroho, Poeponegoro Marwati Djoened. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Balai Pustaka : Jakarta. 619 Halaman

Ode, M.D. La. 2006. Peran Militer Dalam Ketahanan Nasional (Studi Kasus Hankam Indonesia 1967-2000. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Halaman 24

Oemar, Moh dkk. 1994. Sejarah Daerah Jawa Tengah. Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Cv Dwi Karya. Jakarta. 258 Halaman

Perlmutter, Amos. 2000. Militer Dan Politik. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Halaman 2 Poloma M, Margaret. 1979. Sosiologi kontemporer. Jakarta : Raja Grafindo.

Halaman 106

Pour, Julius. 2012. Sepanjang Hayat Bersama Rakyat 100 Tahun Sultan Hamengku Buwono IX. Kompas. Jakarta. 345 Halaman

Sayuti, Husin. 1989. Pengantar Metodologi Riset. Fajar Agung. Jakarta. Halaman 32

Simatupang, T.B. 1960. Laporan Dari Banaran. Jakarta. Halaman 60

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar.Rajawali Pers : Jakarta. 480 Halaman Suci, Afred. 2012. 151 Konspirasi Dunia Paling gila dan mencengankan.

Wahyu Media. 453 Halaman

Surakhmad, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah. Tarsito :Bandung. Halaman 121

Tashadi. 1991. Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Di Daerah

Istimewa Yogyakarta. Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional : Jakarta . 298 Halaman

(49)

DIY.html). Ditulis oleh admin Dikpora pada tanggal 23 April 2009. (http://id.wikisource.org/wiki/Piagam_Penetapan/2013/09/24/13:10WIB). (http://serbasejarah.wordpress.com/2011/03/01/lasjkar-rakjat/ diakses 25

september 2013, pukul 06.31 WIB).

(http://garudamiliter.blogspot.com/ diakses 25 September 2013, pukul 11.10 WIB).

(http://vina-puspitasari.blogspot.com/2011/12/serangan-umum-1-maret-1949- html/ diakses 28 September 2013, pukul 09.06 WIB). Ditulis oleh Vina Puspita sari pada tanggal 24 Desember 2011.

(http://kbbi.web.id/perintah/ diakses 20 Agustus 2013, pukul 09.12 WIB) (http://kbbi.web.id/siasat/ diakses 20 Agustus 2012, pukul 09.20WIB).

(http://themanfromthepast.blogspot.com/2010/03/fakta-baru-tentang-serangan umum-1.html/diakses 20 Oktober 2013, pukul 16.14WIB).

(http://kbbi.web.id/instruksi/ diakses 20 Agustus 2013, pukul 01.02). (http://kbbi.web.id/rahasia/diakses 20 Agustus 2013, pukul 01.05).

(50)
(51)

MANDAT PRESIDEN KEPADA MR. SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA “Kami Presiden Republik Indonesia memberitakan, bahwa Pada hari Minggu tanggal 19−12−1948, jam 6 pagi Belanda Telah mulai serangannya atas Ibukota Yogyakarta.

Jika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat menjalankan Kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk Membentuk Pemerintah Republik Darurat di Sumatera.”

Yogyakarta, 19 Desember 1948 Presiden Wakil Presiden

Soekarno Moh. Hatta Pro: Dr. Sudarsono – Palar –Mr. Maramis New Delhi.

“Kami Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa Pada hari Minggu tanggal 19− 12−1948, jam 6 pagi Belanda Telah memulai serangannya atas Ibukota Yogyakarta. Jika ikhtiar Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah

Darurat di Sumatera tidak berhasil, kepada saudara-saudara di- kuasakan untuk membentuk exile government Republik In- donesia di India

Harap dalam hal ini berhubungan dengan Syafruddin di Sumatera.

Jika hubungan tidak mungkin, harap diambil tindakan- Tindakan seperlunya.”

Yogyakarta. 19 Desember 1948

Wakil Presiden Menteri Luar Negeri Moh. Hatta Agus Salim

Sumber :

(52)

surat kepada Presiden, para menteri, Pangsar APRI, PTTD, dan semua jawatan tentang situasi kesibukan sehari-hari serta saran-saran yang seyogyanya mendapat perhatian khusus. Saran-saran itu antara lain:

1. Semenjak agresi Belanda yang kedua ini terjadi, maka pemerintah yang terselenggara adalah pemerintah militer, yang terus-menerus diadakan perbaikan baik mengenai formasi, organisasi maupun tekniknya.

2. Dengan perubahan suasana yang mengakibatkan kesempatan antara lain untuk konsolidasi dan stabilisasi kembali pemerintahan pusat, dengan demikian di Kota Yogya tampak kesibukan usaha membangun kembali kementerian-kementerian dan jawatan-jawatan.

3. Dalam keadaan sibuk, hendaknya oleh yang bersangkutan (kementerian dan jawatan) selalu diingatkan, bahwa masih tetap adanya Pemerintahan Militer dan tetap berlaku peraturan-peraturannya.

4. Kenyataan-kenyataan telah tampak, bahwa kesibukan membangun Yogya seolah-olah melupakan masih tetap adanya Pemerintahan Militer, sehingga timbul tindakan-tindakan yang tidak sejalan dengan organisasi Pemerintahan Militer yang sedang berjalan, bahkan ada kalanya bertentangan dan mengakibatkan stagnasi jalannya roda pemerintahan.

5. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan dengan cara mengadakan hubungan langsung mengenai organisasi dan personalia kepada instansi bawahannya, tanpa melalui saluran hierarkis organisasi Pemerintahan Militer yang mana mengakibatkan akan rusaknya sifat pimpinan dan disiplin Pemerintahan Militer.

6. Selain diperlukan adanya perhatian khusus, sangat diharapkan adanya usaha untuk memperkuat organisasi pemerintah militer di daerah luar Yogya, mengingat akan munculnya kesulitan-kesulitan di daerah akibat adanya gencatan senjata.

Sumber :

(53)

Turunan Tentara Nasional Indonesia

Staf Divisi III

PERINTAH SIASAT No.4/s/Cop.I.

Diperintahkan kepada :

1. Lt. Kol. Moh. Bachroen, Cdt. Daerah I. 2. Lt. Kol. Sarbini ,, ,, II. 3. Lt. Kol. Soeharto ,, ,, III. Oentoek: 1. Segera mengadakan perlawanan serentak terhadap Belanda

sehebat2nja, agar timboel soeasana pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda, jang dapat menarik perhatian doenia loear, oentoek menjatakan kebohongan keterangan2 Belanda, bahwa gerakan mereka telah selesai.

2. soepaja pada tg. 17 Djanoeari 1949 mengadakan perlawanan serentak terhadap segala sasaran jg. Berada didaerah Paduka Tuan masing2.

Selesai.

Keterangan : Pada saat ini perdjoeangan Indonesia digambarkan oleh Belanda, seolah2 soedah selesai, dan telah dihantjoerkan. Pada oemoemnja doenia luar biasa dipengaruhi oleh perkabaran, bagaimana

besarnja kebohongan. Oleh karena kita pada waktoe ini tidak bisa langsoeng berhoeboengan dengan loear negeri, oentoek memberi tahoekan, kepada mereka bahwa tenaga kita 90% masih berdiri tegak, maka kita mesi membuktikan dengan gerakan jang njata, bahwa kekoeatan dan tjara gerakan kita ini mesti sedemikian, sehingga Belanda ta’dapat menjembunjikannja. Toedjoean jang dapat kita tjapai maksoed ini ialah antaranja

menghalang-halangi penerbangan mereka. Consequentie dari jang kedoea ini adalah, bahwa kita haroes menghantjoerkan, goena

angkoetan jang penting c.q. troepentransport dan djalan jang akan dilaloei oleh penindjaoe loear negeri.

Dikeloerkan di Safkwartier Tg. 1-1-1949.

Dj. 17.00 Panglima Divisi III/Gub. Mil. III.

ttd. Kol. B. Soegeng. STAF DIVISI III/ G.M III.

Sumber :

(54)

PANGLIMA BAMBANG SUGENG

INSTRUKSI RAHASIA Tanggal : 18/II/1949

Berkenaan dengan Instruksi Rahasia jang diberikan kepada Cdt. Daerah III (Letn.Kol. Soeharto), oentoek mengadakan gerakan serangan Besar2-an terhadap Iboe-kota jang akan dilakoekan antara tgl. 25/II/1949 s/d. 1/III/1949 dengan mempergoenakan Bantoean pasoekan dari Brigade IX.

Dengan ini diperintahkan kepada:

Commandant Daerah 1

Oentoek 1. Pada waktoe bersamaan dengan tgl. tsb. Diatas (15/II/1949 s/d.I/ III/1949) mengadakan serangan-serangan serentak terhadap salah satoe object moesoeh di Daerah I oentoek mengikat perhatian moesoeh dan mentjegah balabantoean oentoek Jogjakarta.

2. Selesai.

Dikeluarkan di : tempat. Tanggal : 18-II-1949. Djam : 20.00.

Gub.mil.III/Panglima Div.III. ttd

(Kolonel Bambang Soegeng)

Sumber :

(55)

PANGLIMA BAMBANG SUGENG

Staf Goebernoer Militer III Sangat Rahasia.

Perintah – Siasat Nomor: 9/PS49

Keadaan: 1. Moelai tgl. 1-III-1949 serangan terhadap Iboe-kota telah dimoe- lai dan oesaha mereboet Iboe-kota akan dilakoekan berkali2. Kekoeatan dari fihak kita meloeloe dari Brigade X, ditambah dng. Pasoekan2 ketjil dari kesatoean2 lain-lainja.

Bantoean juga. diberikan kepada Brigade X. 1 Cie dari Bat. Sroehardojo Brigade X. 1 Bat. Dari Bat. Darjatmo Brigade IX.

2. Berhoeboeng dng. Activitiet dari fihak kita, maka Belanda menggerakkan balabantoean dari Semarang dan Magelang (ditaksir 2000 orang lengkap) dan dibantoe dng. Luchtmachnja, sehingga druk ke medan Djogja sangat beratnja.

Perintah : Berhoeboeng dng. hal tsb. maka diperintahkan kepada Cdt. Daerah I dan

Cdt. Daerah II.

Oentoek : 1. Vernegen activiteitnja didaerahnja, teroetama ditoedjoekan kepada centra dari moesoeh Premboen-Keboemen-Magelang- Semarang westelijk gedeeltei-Poerwokerto-Poerbolinggo-Ka- rangkobar.

2. Oentoek daerah W.K. Brigade IX, teroetama verbindingsweg- Djogja. (Dalam hal ini Bat. Penoedjoe ditarik ke Magelang oetara dan Bat. Bintoro verschuiven kearah timoer).

3. Gerakan2 tsb. dilakoekan intensief dalam periode15-III-1949 hingga 1-IV-1949 dan selandjoetnja tetap meloeaskan perla- wanan.

4. S e l e s a i.

Dibuat otk. Diboet di tempat.

1. Cdt. Daerah I. Tanggal : 15-III-1949 2. Cdt. Daerah II. Djam : 12.00 Tindakan otk.

1. Staf Divisi III. Panglima Divisi III/G.M.III. 2. M.B.K.D.

3. Cdt. Daerah III. ttd

4. Archief. (Kolonel Bambang Soegeng)

Sumber :

(56)
(57)

G.M III /Divisi III Gub. Militer Kol. Bambang Sugeng

STC. Pekalongan STC. Kedu STC Yogyakarta Banyumas Let. Kol. Sarbini Let.Kol. seloali Mayor Brotosewoyo Let. Kol. Soehoed

Brigade 8 Brigade 9 Brigade 10 Let. Kol. M. Bachroen Let.Kol Pranoto Let. Kol Soeharto May . A. Yani

Batalyon I Batalyon I Batalyon I Mayor Hartoyo Mayor Suhardojo Mayor Sardjono

Batalyon II Batalyon II Batalyon II Mayor Brotosiswoyo Mayor Soerjosoempeno Mayor Soedjono

Batalyon III Batalyon III Batalyon III

Mayor Soerono Mayor Bintoro Mayor Daryatmo

Batalyon IV Batalyon IV Batalyon IV Kapten Wongsoatmojo Kapten Panuju Kapten Soedarmo

Sumber :

Buku Panglima Bambang Sugeng Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibukota Djogja Kembali 1949 Dan Seprang Diplomat, Edi Hartoto 2012

[image:57.595.70.484.116.574.2]
(58)

Bambang Sugeng, Dengan Menggunakan Mesin Ketik.

Sumber :

Buku Panglima Bambang Sugeng Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibukota Djogja Kembali 1949 Dan Seprang Diplomat, Edi Hartoto 2012

[image:58.595.74.527.123.665.2]
(59)

Ketik.

Sumber :

Buku Panglima Bambang Sugeng Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibukota Djogja Kembali 1949 Dan Seprang Diplomat, Edi Hartoto 2012

[image:59.595.75.526.136.628.2]
(60)
[image:60.595.72.471.205.715.2]

III/Gubernur Militer III Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Gambar B : Menunjukkan foto Monumen Panglima Bambang Sugeng yang sedang mengacungkan tangan kearah Yogyakarta dan membelakangi Pegunungan Sumbing. Monumen ini adalah simbol perintah serangan umum merebut Ibukota Yogyakarta kembali tahun 1949 dan diresmikan oleh Menhankam Jenderal (TNI) Poniman. (Gambar A).

(gambar B).

Sumber :

[image:60.595.75.469.214.458.2]
(61)

1948.

Sumber :

[image:61.595.74.475.168.656.2]
(62)
[image:62.595.75.474.210.433.2]

merundingkan gencatan senjata di Semarang, Mei 1949 bersama Kolonel A.H. Nasution dan Mayor Ahmad Yani.

Gambar B : Menunjukkan foto para gerilyawan sedang siaga di Gunung Sumbing, Jawa Tengah, di bawah kendali Panglima Bambang Sugeng, (1949).

(Gambar A).

(Gambar B).

Sumber :

[image:62.595.72.479.221.633.2] [image:62.595.74.474.456.710.2]
(63)

Sumber :

[image:63.595.75.473.115.697.2]
(64)
[image:64.595.74.479.177.691.2]

Markas Besar Angkatan Darat, 23 Juni 1977.

Gambar B : Menunjukkan foto Wakil Presiden Sri Sultan Hamengku Buwono IX sedang bersalaman dengan Ibu Istiyah Bambang Sugeng.

(Gambar A).

(Gambar B).

Sumber :

[image:64.595.75.473.177.403.2]
(65)
[image:65.595.72.482.191.680.2]

pemakaman Panglima Bambang Sugeng di Kranggan, Temanggung, 23 Juni 1977. Gambar B : Menunjukkan foto KSAD Jenderal TNI Ma’mun Murod dan Pangdam Diponegoro Mayjen Yasir Hadibroto mengiring jenazah Panglima/Mantan KSAD Bambang Sugeng.

(Gambar A).

(Gambar B).

Sumber :

[image:65.595.75.478.200.422.2]
(66)
[image:66.595.70.483.198.661.2]

Yogyakarta kembali.

Gambar B : Menunjukkan makam Pahlawan Bambang Sugeng di jalan Raya Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah setelah pemugaran tahun 1986 dinamakan Monumen Pembunuhan Massal Pejuang RI Kali Progo Tahun 1949.

(Gambar A).

(Gambar B).

Sumber :

Gambar A, http://trisihono.staff.uii.ac.id/2012/03/01/pahlawan/

Gambar

Gambar 1. Struktur Organisasi Divisi III Jawa Tengah dan Yogyakarta
Gambar 2.
Gambar 3. Komentar Dr. Anhar Gonggong, Tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 Dan Keaslian
Gambar B : Menunjukkan foto Monumen Panglima Bambang Sugeng yang sedang mengacungkan tangan kearah Yogyakarta dan membelakangi Pegunungan Sumbing
+7

Referensi

Dokumen terkait