METODE DETERIORASI TERKONTROL UNTUK
PENDUGAAN DAYA SIMPAN BENIH KEDELAI
(
Glycine max
(L.) Merrill)
NIZARUDDIN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Metode Deteriorasi Terkontrol untuk Pendugaan Daya Simpan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, September 2013
Nizaruddin
RINGKASAN
NIZARUDDIN. Metode Deteriorasi Terkontrol untuk Pendugaan Daya Simpan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill). Dibimbing oleh FAIZA C. SUWARNO, ENY WIDAJATI dan ABDUL QADIR.
Mutu fisiologis benih kedelai mudah mengalami kemunduran selama dalam penyimpanan. Kandungan protein yang tinggi, sifat kulit kedelai dan hilum yang permeabel serta kondisi lingkungan tropis mempengaruhi kemunduran mutu benih kedelai selama dalam penyimpanan. Upaya untuk mempertahankan mutu benih kedelai selama dalam penyimpanan merupakan salah satu langkah penting dalam memenuhi kebutuhan benih kedelai.
Pendugaan daya simpan benih dapat dilakukan dengan pendekatan percobaan di laboratorium. Salah satu metode yang dapat dikembangkan adalah metode deteriorasi terkontrol. Penelitian bertujuan untuk memperoleh kondisi kadar air benih dan lama pengusangan pada metode deteriorasi terkontrol yang sesuai untuk benih kedelai dan mendapatkan metode deteriorasi terkontrol untuk menduga daya simpan benih kedelai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium
Quality Control Benih Tanaman Hortikultura dan gudang penyimpanan di PT. BISI International, Tbk., Kediri, Jawa Timur mulai bulan Oktober 2012 hingga Februari 2013. Penelitian terdiri atas tiga percobaan, yaitu metode deteriorasi terkontrol pada benih kedelai, metode deteriorasi terkontrol terpilih dengan pola
time series dan penyimpanan benih kedelai pada suhu kamar. Benih kedelai varietas Wilis dan varietas Detam-1 digunakan sebagai bahan penelitian. Percobaan satu dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah kadar air dengan tiga taraf yaitu 15%, 17.5% dan 20% dan faktor kedua adalah lama pengusangan dengan empat taraf yaitu 0 jam, 8 jam, 16 jam dan 24 jam. Percobaan dua dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan empat ulangan. Faktor perlakuan yang dicobakan adalah lama pengusangan dengan 16 taraf yaitu 1 jam sampai dengan 16 jam pengusangan. Peubah-peubah yang diamati meliputi kadar air, daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh setelah deteriorasi terkontrol. Percobaan tiga dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan empat ulangan. Faktor perlakuan yang dicobakan adalah lama penyimpanan dengan 16 taraf yaitu 1 minggu sampai dengan 16 minggu penyimpanan. Peubah-peubah yang diamati meliputi kadar air, daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh setiap satu minggu penyimpanan selama 16 minggu.
Persamaan pendugaan vigor daya simpan (VDS) dibentuk dari hubungan
antara lama pengusangan (t) dengan nilai vigor daya simpan. Persamaan pendugaan vigor daya simpan yang dihasilkan berbentuk - t, dengan a dan b nilai konstanta. Persamaan pendugaan daya simpan (DS) dibentuk dari hubungan antara periode simpan dengan nilai peubah daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol . Persamaan yang dihasilkan berbentuk - , dengan a dan b nilai konstanta.
Hasil verifikasi persamaan pendugaan vigor daya simpan menunjukkan bahwa persamaan yang diperoleh dapat menduga nilai peubah daya berkecambah dan kecepatan tumbuh. Hasil verifikasi secara kualitatif menunjukkan bahwa nilai metode deteriorasi terkontrol berada pada selang kepercayaan (1-α 0.95 nilai aktual. Verifikasi secara kuantitatif dengan uji khi kuadrat yang menunjukkan
hw nil i χ2 hitung le ih kecil d ri χ2
tabel, yang berarti bahwa nilai pada metode deteriorasi terkontrol berkesesuaian dengan nilai aktual. Hasil yang berbeda terjadi pada peubah indeks vigor. Persamaan pendugaan vigor daya simpan tidak dapat menduga peubah indeks vigor varietas Wilis dan Detam-1 dikarenakan sebagian besar nilai pada metode deteriorasi terkontrol berada di luar selang kepercayaan (1-α 0.95 nilai aktual. Verifikasi secara kuantitatif dengan uji khi kuadrat menunjukkan bahwa nilai χ2 hitung lebih besar d ri χ2 tabel.
Hasil simulasi persamaan pendugaan daya simpan yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin besar nilai daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol det maka semakin daya simpan benih semakin tinggi. Hasil validasi menunjukkan bahwa persamaan pendugaan daya simpan dapat menduga secara logik daya simpan benih kedelai varietas Wilis dan Detam-1 yang disimpan menggunakan kemasan aluminium foil pada ruangan dengan suhu berkisar 25.1-34.8 °C.
SUMMARY
NIZARUDDIN. Controlled Deterioration Test to Estimate Soybean Seed Storability. Supervised by FAIZA C. SUWARNO, ENY WIDAJATI and ABDUL QADIR.
Physiologycal quality of soybean seed was easily deteriorated during storage. It was caused by high protein content, permeable seed coat and high humidity in storage condition. Therefore, it was important to maintain the soybean seed quality to fulfill the increasing requirement of soybean seed.
Estimation of the seed storability could be done by carrying out the laboratory tests. One of the testing method is controlled deterioration test. The objectives of the research were to determine seed moisture content and period at the controlled deterioration treatment which could be used to evaluate soybean seed viability, and to find the appropriate controlled deterioration test for estimating storability of soybean seed. The research was conducted at the Horticulture Crops Quality Control Laboratory and the seed storage warehouse PT. BISI International, Tbk, Kediri since October 2012 until February 2013. The research consists of three experiments, i.e. controlled deterioration test for soybean seed, controlled deterioration test by time series pattern and soybean seed storage at room temperature. Wilis and Detam-1 variety seeds were used as experimental material. The first experiment was arranged in a Completely Randomized Design with two factors and four replications. Three levels of moisture content (15%, 17.5% and 20%) and four levels of controlled deterioration test period (0 hour, 8 hours, 16 hours and 24 hours) were used as treatments. The second experiment was arranged in a Completely Randomized Design with one factor and four replications. Sixteen levels of deterioration period (1–16 hours) were used as treatments. The moisture content, germination, vigour index and speed of germination were observed after controlled deterioration test. The third experiment was arranged in a Completely Randomized Design with one factor and four replications. Sixteen levels of actual storage periods (1–16 weeks) were used as treatments. The moisture content, germination, vigour index and speed of germination were observed every week during the sixteen weeks storage periods.
The experiment results showed that there were significant differences for germination, vigour index and speed of germination after controlled deterioration test. The results also showed that the proper controlled deterioration test to evaluate Wilis variety seed was at 17.5% moisture content for 16 hours and controlled deterioration test for Detam-1 variety seed was at 15% moisture content for 16 hours. There were significant correlations of physiological quality variables and the actual at 16 weeks storage periods, indicating that controlled deterioration test period could describe storage period.
The equation for estimating seed storability vigour (VDS) developed based
on the relationship between controlled deterioration period (t) and the storability vigour was - t, where a and b are the constant values. The equation for estimating seed storability (DS) developed based on the relationship between storage periods and germination after controlled deterioration ( det ) was - det ,
Verification result showed that the VDS equations could be used to estimate
germination and speed of germination. Qualitative verification showed that the actual observed variables were in the simulation interval confidence (1-α 0.95 . These results were confirmed by quantitative verification showed the chi square value lower than chi square table. Different results occured in vigour index variable. The equation could not be used to estimate the vigour index. The majority of actual vigour index values were outside the simulation interval confidence (1-α 0.95 nd it h ve chi- square value higher than chi-square table.
Simulation of storability equation results showed that the greater value of seed germination after controlled deterioration the higher seed storability. The validation result showed that the equation could estimate the seed storability of Wilis and Detam-1 varieties stored using aluminum foil package at room condition with 25.1-34.8 °C temperature.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu dan Teknologi Benih
METODE DETERIORASI TERKONTROL UNTUK
PENDUGAAN DAYA SIMPAN BENIH KEDELAI
(
Glycine max
(L.) Merrill)
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Metode Deteriorasi Terkontrol untuk Pendugaan Daya Simpan Benih Kedelai (Glycinemax (L.) Merrill)
Nama : Nizaruddin
NIM : A251100164
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Faiza C. Suwarno, MS Ketua
Dr Ir Eny Widajati, MS Anggota
Dr Ir Abdul Qadir, MSi Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Benih
Prof Dr Ir Satriyas Ilyas, MS
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian yang berjudul Metode Deteriorasi Terkontrol untuk Pendugaan Daya Simpan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) dilaksanakan sejak bulan Oktober 2012 hingga Februari 2013 di Kediri, Jawa Timur.
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu selama penelitian hingga selesainya penulisan tesis:
1. Dr Ir Faiza C. Suwarno, MS sebagai Ketua Komisi Pembimbing, Dr Ir Eny Widajati, MS dan Dr Ir Abdul Qadir, MSi sebagai Anggota Komisi Pembimbing atas arahan, saran, dukungan dan kritikan selama penelitian hingga penulisan tesis.
2. Dr Ir M. Rahmad Suhartanto, MS sebagai dosen penguji luar komisi atas arahan dan masukan pada saat ujian tesis.
3. Prof Dr Ir Satriyas Ilyas, MS sebagai Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Benih atas arahan dan masukan selama menempuh studi, penelitian dan pada saat ujian tesis.
4. Jajaran manajemen PT. BISI International, Tbk. atas beasiswa pendidikan Program Magister di IPB.
5. Para pengajar IPB yang telah memberikan banyak ilmu selama kegiatan perkuliahan program Magister di IPB.
6. Herdina Pratiwi SP (Balitkabi, Malang) atas bantuan dalam menyediakan sumber benih kedelai.
7. Adhi Kristanto STP, MP sebagai General Manager Departemen Proses Benih Hortikultura PT. BISI International, Tbk atas arahan dan masukan selama menempuh studi.
8. Dwi Praptono K. SP sebagai Manager Departemen Quality Control Benih Hortikultura PT. BISI International, Tbk. atas ijin menggunakan fasilitas laboratorium untuk penelitian.
9. Seluruh staf dan karyawan Departemen Proses Benih Hortikultura PT. BISI International, Tbk. serta asisten-asisten penelitian atas bantuan, dukungan dan semangat selama menempuh studi dan penelitian.
10.Rekan-rekan sesama penerima beasiswa dari PT. BISI International, Tbk. atas bantuan, dukungan dan semangat selama menempuh studi.
11.Bapak H. Muchsin Riziq, Ibu Hj. Nur Hidayah dan adik-adik serta seluruh
kelu rg t s do’ , dukung n dan kasih sayang yang diberikan.
12.Istri tercinta, Eka Cahyanti RN SP, atas kasih sayang, do’ , sem ng t d n pengertian yang tulus.
13.Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, September 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR LAMPIRAN xv
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 3
Ruang Lingkup Penelitian 3
2 TINJAUAN PUSTAKA 3
Konsep Kemunduran Benih 3
Metode Deteriorasi Terkontrol 4
Vigor Daya Simpan 5
Pendugaan Daya Simpan Benih 6
3 METODE PENELITIAN 7
Bahan Penelitian 7
Peralatan Penelitian 7
Lokasi dan Waktu Penelitian 7
Prosedur Percobaan 7
Pengamatan 11
Analisa Data 13
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 13
Mutu Benih Kedelai sebelum disimpan 13
Metode Deteriorasi Terkontrol pada Benih Kedelai 14 Metode Deteriorasi Terkontrol Terpilih dengan Pola Time Series 17
Penyimpanan dan Pengujian Mutu Benih Kedelai 19
Penyusunan Persamaan Metode Deteriorasi Terkontrol untuk Pendugaan
Vigor Daya Simpan dan Daya Simpan Benih 22
Verifikasi Persamaan Pendugaan Vigor Daya Simpan 24 Simulasi dan Validasi Persamaan Pendugaan Daya Simpan Benih 29
5 KESIMPULAN DAN SARAN 30
Kesimpulan 30
Saran 30
DAFTAR PUSTAKA 31
LAMPIRAN 34
DAFTAR TABEL
1 Data mutu benih kedelai sebelum disimpan 14
2 Kadar air benih rata-rata setelah perlakuan deteriorasi terkontrol 15 3 Pengaruh perlakuan kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah daya berkecambah, indeks vigor
dan kecepatan tumbuh 16
4 Nilai peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh setelah deteriorasi terkontrol terpiliha dengan pola time series 17 5 Koefisien korelasi (r) peubah mutu fisiologis hasil deteriorasi terkontrol
dengan peubah mutu fisiologis hasil penyimpanan pada suhu kamar
(aktual) 22
6 Nilai konstanta a dan b penyusun persamaan pendugaan vigor daya
simpan 23
7 Nilai konstanta a dan b penyusun persamaan pendugaan daya simpan 23 8 Verifikasi secara kuantitatif terhadap peubah mutu fisiologis dengan
uji khi kuadrat 26
9 Simulasi persamaan pendugaan daya simpan benih 29
DAFTAR GAMBAR
1 Proses kemunduran benih pada metode deteriorasi terkontrol 4
2 Diagram alir kegiatan penelitian 8
3 Penyimpanan benih kedelai pada kondisi suhu kamar 11 4 Kadar air benih kedelai selama periode simpan 16 minggu 19 5 Daya berkecambah benih kedelai selama periode simpan 16 minggu 20 6 Indeks vigor benih kedelai selama periode simpan 16 minggu 21 7 Kecepatan tumbuh benih kedelai selama periode simpan 16 minggu 21 8 Verifikasi peubah daya berkecambah hasil metode deteriorasi terkontrol
dengan hasil penyimpanan pada suhu kamar (aktual) varietas Wilis 25 9 Verifikasi peubah daya berkecambah hasil metode deteriorasi terkontrol
dengan hasil penyimpanan pada suhu kamar (aktual) varietas Detam-1 25
10 Verifikasi peubah kecepatan tumbuh hasil metode deteriorasi terkontrol dengan hasil penyimpanan pada suhu kamar (aktual) varietas Wilis 26
12 Verifikasi peubah indeks vigor hasil metode deteriorasi terkontrol dengan hasil penyimpanan pada suhu kamar (aktual) varietas Wilis 27 13 Verifikasi peubah indeks vigor hasil metode deteriorasi terkontrol dengan hasil penyimpanan pada suhu kamar (aktual) varietas Detam-1 28
DAFTAR LAMPIRAN
1 Deskripsi benih kedelai varietas Wilis 34
2 Deskripsi benih kedelai varietas Detam-1 35
3 Analisis ragam pengaruh kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah daya berkecambah varietas Wilis 36 4 Analisis ragam pengaruh kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah indeks vigor varietas Wilis 36 5 Analisis ragam pengaruh kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah kecepatan tumbuh varietas Wilis 36 6 Analisis ragam pengaruh kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah daya berkecambah varietas Detam-1 37 7 Analisis ragam pengaruh kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah indeks vigor varietas Detam-1 37 8 Analisis ragam pengaruh kadar air dan lama pengusangan pada metode
deteriorasi terkontrol terhadap peubah kecepatan tumbuh varietas Detam-1 37 9 Verifikasi peubah daya berkecambah varietas Wilis dengan uji khi kuadrat 38 10 Verifikasi peubah indeks vigor varietas Wilis dengan uji khi kuadrat 39 11 Verifikasi peubah kecepatan tumbuh varietas Wilis dengan uji khi kuadrat 40 12 Verifikasi peubah daya berkecambah varietas Detam-1 dengan uji
khi kuadrat 41
13 Verifikasi peubah indeks vigor varietas Detam-1 dengan uji khi kuadrat 42 14 Verifikasi peubah kecepatan tumbuh varietas Detam-1 dengan uji
khi kuadrat 43
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kedelai merupakan tanaman palawija yang penting untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia, terutama kebutuhan protein nabati. Permintaan kedelai menunjukkan kenaikan yang cukup besar seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat. Kebutuhan kedelai belum dapat dipenuhi dengan produksi kedelai dalam negeri, sehingga masih diperlukan impor (Manurung 2002). Produksi kedelai mengalami penurunan dari 907 031 ton/tahun pada tahun 2010 menjadi 819 446 ton/tahun pada tahun 2011 atau menurun sebesar 9.65% (Kementerian Pertanian Republik Indonesia 2012). Atman (2009) menyatakan bahwa strategi untuk meningkatkan produksi kedelai nasional diantaranya dengan penggunaan benih bermutu dari varietas unggul dalam jumlah cukup dan mudah diakses. Kartono (2004) menyatakan bahwa permasalahan benih kedelai adalah penurunan mutu sebesar 75% dalam waktu kurang dari tiga bulan dalam penyimpanan terbuka, sehingga mempertahankan kualitas benih kedelai selama dalam penyimpanan merupakan salah satu langkah penting untuk mendukung pemenuhan benih kedelai bermutu tinggi.
Benih kedelai mudah mengalami penurunan mutu fisiologis pada periode simpan. Kepekaan mutu fisiologis benih kedelai disebabkan oleh kandungan protein yang tinggi berkisar 35-54% (Somaatmadja 1993), sifat kulit kedelai dan hilum yang permeabel serta kondisi lingkungan tropis yang dapat mempercepat kemunduran benih kedelai selama penyimpanan (Purwanti 2004). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan mutu benih kedelai yaitu kadar air awal benih, suhu dan kelembaban nisbi ruang simpan benih. Benih kedelai varietas Wilis dengan kadar air awal 8% dan 10% yang disimpan dengan kemasan polietilen dan kemasan aluminium foil pada suhu kamar mampu mempertahankan viabilitasnya selama enam bulan penyimpanan (Tatipata et al. 2004). Penelitian Arulnandhy dan Senanayake (1984) pada benih kedelai varietas Ph-I dan Tatipata (2008) pada benih kedelai varietas Wilis menyebutkan bahwa kemampuan hidup benih kedelai dipengaruhi oleh kadar air awal sebelum penyimpanan. Penyimpanan benih kedelai varietas Ph-I dengan kemasan kertas pada suhu rata-rata 28 °C dan kelembaban udara rata-rata 73.2% dengan kadar air 8.5% menghasilkan daya berkecambah yang lebih baik apabila dibandingkan dengan disimpan pada kadar air 15.5% pada ruang simpan dengan suhu dan kelembaban udara yang tidak terkontrol (Arulnandhy dan Senanayake 1984). Benih kedelai varietas Wilis dengan kadar air awal 8%, 10% dan 12% yang disimpan dengan kemasan aluminium foil pada suhu kamar akan mengalami penurunan daya berkecambah masing-maisng pada bulan ke-6, ke-4 dan ke-3 (Tatipata 2008).
2
metode simulasi uji vigor yang telah dikembangkan dan dapat digunakan untuk identifikasi dini adalah metode deteriorasi terkontrol atau controlled deterioration
(CD). Metode CD telah divalidasi oleh ISTA untuk pada benih Brassica spp.
(ISTA 2010).
Hasil penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode deteriorasi terkontrol dapat digunakan untuk berbagai tujuan yang diperlukan di bidang teknologi benih, diantaranya untuk pendugaan daya simpan relatif pada benih semangka, timun dan melon (Demir dan Mavi 2008), benih cabai (Basak et al.
2006), untuk pendugaan vigor daya simpan benih cabai (Ekowahyuni et al. 2012), untuk deteksi dini tingkat toleransi genotipe padi gogo terhadap cekaman kekeringan (Aryati 2011), dan untuk evaluasi lot benih kedelai untuk pendugaan vigor benih terhadap salinitas (Reninta 2012). Metode deteriorasi terkontrol pada benih kedelai yang berukuran lebih besar diharapkan memberikan hasil yang relatif sama dengan benih timun dan cabai, walaupun masing-masing benih mempunyai komposisi kimia yang berbeda.
Perumusan Masalah
Benih kedelai mudah mengalami kemunduran mutu fisiologis selama dalam penyimpanan. Komposisi kimiawi benih, kulit benih dan hilum yang permeabel serta lingkungan tropis di Indonesia merupakan faktor-faktor yang mempercepat kemunduran mutu benih kedelai. Langkah antisipatif dalam rangka pemenuhan kebutuhan benih kedelai bermutu tinggi dapat dilakukan dengan upaya pendugaan terhadap daya simpan benih kedelai, sehingga dapat diduga kapan benih kedelai akan mengalami kemunduran mutu fisiologis.
Upaya pendugaan daya simpan benih kedelai dapat didekati dengan pengujian peubah mutu fisiologis di laboratorium, kemudian hasil pengujian dikorelasikan dengan mutu fisiologis hasil penyimpanan benih pada kondisi aktual. Salah satu metode yang dapat dikembangkan adalah metode deteriorasi terkontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode deteriorasi terkontrol dapat digunakan untuk berbagai tujuan dalam bidang teknologi benih yang dapat diterapkan untuk berbagai komoditas.
Perumusan pendugaan daya simpan benih kedelai berdasarkan hasil pengujian mutu fisiologis terutama daya berkecambah benih akibat perlakuan kadar air dan lama pengusangan pada deteriorasi terkontrol. Kadar air benih yang ditingkatkan sebagai salah satu faktor perlakuan harus dilakukan secara akurat, sehingga diperoleh interpretasi hasil yang baik. Benih kedelai yang masih mempunyai daya berkecambah tinggi setelah perlakuan kadar air dan lama pengusangan pada metode deteriorasi terkontrol dapat dikatakan bahwa benih mempunyai vigor daya simpan tinggi dan diharapkan mempunyai daya simpan yang tinggi.
Tujuan Penelitian
3 Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat digunakan untuk menduga daya simpan benih kedelai dan untuk seleksi galur dengan daya simpan tinggi pada benih kedelai.
Ruang Lingkup Penelitian
Benih kedelai yang digunakan berasal dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang yaitu varietas Wilis dan varietas Detam-1. Varietas Wilis mewakili benih kedelai dengan kulit berwarna kuning dengan tanggal panen 22 Mei 2012, sedangkan varietas Detam-1 mewakili benih kedelai dengan kulit berwarna hitam dengan tanggal panen 15 Mei 2012. Benih yang digunakan memiliki daya berkecambah awal minimal 90% dan kadar air benih 8-9%. Benih disimpan pada kemasan yang tertutup (seal) dan disimpan di ruang terkendali dengan suhu udara 13-15 °C dan kelembaban udara 30-40% sebelum digunakan sebagai materi penelitian, sehingga mutu fisiologis benih mampu dipertahankan. Percobaan penyimpanan dilakukan pada ruang dengan suhu 25.1-34.8 °C yang dilakukan di gudang PT. BISI International, Tbk., berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur mulai bulan Oktober 2012 hingga Januari 2013.
Faktor kemasan, kadar air benih, suhu dan kelembaban ruang simpan diasumsikan sama sehingga tidak dijadikan sebagai input persamaan. Input utama penyusun persamaan pendugaan vigor daya simpan adalah lama pengusangan pada perlakuan deteriorasi terkontrol dan input utama penyusun persamaaan pendugaan daya simpan benih adalah peubah daya berkecambah yang diamati setelah perlakuan deteriorasi terkontrol. Faktor komposisi kimiawi dan mutu patologis benih tidak dimasukkan sebagai input persamaan.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Kemunduran Benih
Kemunduran benih menurut Sadjad et al. (1999) didefinisikan sebagai penurunan viabilitas benih oleh faktor alami baik di lapang produksi maupun dalam ruang simpan. Menurut Copeland dan McDonald (2001) sifat kemunduran benih ada tiga, yaitu (1) kemunduran benih bersifat inexorable yang berarti bahwa setiap mahluk tidak dapat menghindari proses kemunduran dan pada akhirnya akan mati, (2) kemunduran benih bersifat irreversible yang berarti proses kemunduran benih tidak dapat balik atau benih yang memiliki mutu rendah tidak dapat ditingkatkan mutunya, dan (3) kemunduran benih terjadi pada berbagai lot benih dalam suatu populasi.
4
Menurut Copeland dan McDonald (2001) metode pengujian vigor yang ideal memiliki karakteristik-karakteristik, yaitu (a) murah, (b) cepat pelaksanaanya, (c) mudah dilakukan, (d) objektif (dapat distandardisasi dengan mudah dan terhindar dari interpretasi subjektif), (e) dapat diulang, dan (f) berkorelasi erat dengan pertumbuhan di lapangan. Metode pengujian vigor yang telah divalidasi oleh ISTA sebagai metode resmi pengujian adalah uji daya hantar listrik (DHL) untuk benih kacang kapri (Pisum sativum), accelerated aging test (AAT) untuk benih kedelai (Glycine max) dan uji controlled deterioration (CD) untuk benih
Brassica spp. (ISTA 2010).
Metode deteriorasi terkontrol pada prinsipnya sama dengan metode
accelerated aging test (AAT). Teknik yang digunakan selama pelaksanaan deteriorasi terkontrol dan adanya penetapan kadar air merupakan dua hal yang membedakan dengan metode AAT. Metode deteriorasi terkontrol menggunakan peralatan yang lebih sederhana dan kadar air yang diketahui dengan jelas dan terkontrol selama penderaan. Powell dan Matthews (2005) menyebutkan bahwa metode deteriorasi terkontrol menggambarkan proses kemunduran suatu lot benih. Kadar air benih yang sering digunakan dalam metode deteriorasi terkontrol adalah 20% dengan suhu 45 °C dan periode penderaan 24 jam. Metode deteriorasi terkontrol yang sudah divalidasi ISTA (2010) menyebutkan bahwa benih dinaikkan kadar airnya hingga mencapai 20%, kemudian dilakukan cekaman pada suhu tinggi (45 °C) menggunakan waterbath selama 24 jam. Gambar 1 merupakan proses kemunduran benih pada metode deteriorasi terkontrol yang dikembangkan oleh Powell dan Matthews (2005).
Waktu
5 berubah dan berada pada selang yang sangat lebar seperti terlihat antara lot A dengan lot C ketika benih didera selama periode tertentu yang tepat sesuai dengan spesies yang digunakan. Lama penderaan merupakan faktor utama yang menyebabkan perbedaan tingkat vigor benih (Powell dan Matthews 2005).
Metode deteriorasi terkontrol membutuhkan kadar air, suhu dan lama pengusangan yang berbeda-beda antar komoditas, sehingga dalam pengembangannya perlu diteliti terlebih dahulu kadar air, suhu dan lama pengusangan yang tepat. Metode deteriorasi terkontrol dapat digunakan untuk berbagai spesies yang memiliki bentuk dan ukuran yang dapat menghasilkan kadar air benih pada tingkat tertentu melalui proses imbibisi (Powell dan Matthews 2005). Hasil penelitian Filho et al. (2001) pada benih kedelai menyatakan bahwa metode deteriorasi terkontrol dengan kadar air benih 15.5% selama 48 jam dan 72 jam pada suhu 40 °C dapat digunakan untuk menguji vigor benih kedelai. Hasil yang sama diperoleh oleh penelitian Reninta (2012) pada benih kedelai yang menyatakan bahwa kondisi kadar air 15 % dengan lama penderaan 24 jam dan suhu penderaan 45 °C merupakan kondisi paling tepat untuk menguji vigor benih kedelai. Penelitian Wafiroh (2010) pada benih wijen menunjukkan bahwa metode deteriorasi terkontrol dengan kadar air benih 20% dan lama penderaan 24 jam dapat digunakan untuk menguji vigor benih wijen.
Metode deteriorasi terkontrol selain digunakan untuk pendugaan vigor benih, juga dapat digunakan untuk pendugaan daya simpan benih. Penelitian Basak et al. (2006) menyatakan bahwa penggunaan deteriorasi terkontrol dengan tingkat kadar air benih 18% dan lama pengusangan 48 jam pada suhu 45 °C dapat digunakan untuk memprediksi daya simpan benih cabai yang disimpan dengan lama penyimpanan 8 bulan dengan koefisien korelasi antara perlakuan pengusangan dengan daya berkecambah masing-masing sebesar 0.97 dan 0.95. Demir dan Mavi (2008) melakukan penelitian potensi penyimpanan relatif pada benih timun, semangka dan melon yang menyebutkan bahwa metode deteriorasi terkontrol dengan perlakuan pengaturan kadar air sampai 20% dengan waktu inkubasi selama 48 jam dengan suhu 45 °C akan memberikan korelasi yang erat dengan daya simpan benih timun, semangka dan melon dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.86–0.96.
Metode deteriorasi terkontrol juga dapat digunakan untuk pendugaan toleransi benih terhadap cekaman lingkungan. Hasil penelitian Aryati (2011) pada benih padi menunjukkan bahwa perlakuan deteriorasi terkontrol dengan kadar air 20% dan lama penderaan 48 jam serta suhu 45 °C dapat digunakan untuk mengidentifikasi secara dini tingkat toleransi genotipe padi gogo terhadap cekaman kekeringan. Penelitian Changrong et al. (2007) juga menunjukkan metode deteriorasi terkotrol dapat digunakan untuk evaluasi ketahanan benih kedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap kondisi di lapang.
Vigor Daya Simpan
6
simpan yang normal dalam keadaan suboptimum dan lebih panjang daya simpannya apabila ruang simpan dalam keadaan optimum (Sadjad et al. 1999). Vigor benih sewaktu disimpan merupakan faktor penting yang mempengaruhi daya simpan benih (Justice dan Bass 2002).
Tiga faktor yang dapat mempengaruhi vigor benih menurut Copeland dan McDonald (2001) yaitu (a) faktor genetik benih meliputi tingkat kekerasan benih, vigor tanaman induk, daya tahan terhadap kerusakan mekanik dan komposisi kimiawi benih, (b) faktor lingkungan selama perkembangan benih yang meliputi kelembaban dan kesuburan tanah serta pemanenan benih, dan (c) faktor lingkungan penyimpanan yang mencakup waktu penyimpanan, lingkungan penyimpanan (suhu, kelembaban dan persediaan oksigen) dan jenis benih yang disimpan. Powell dan Matthews (1981) menyebutkan bahwa perbedaan vigor benih ditentukan oleh faktor-faktor penuaan benih akibat kemunduran, kerusakan pada saat imbibisi dan kondisi lingkungan pada saat berbunga serta ukuran benih.
Penelitian Tubic et al. (2010) menyebutkan bahwa benih bunga matahari dan kedelai yang disimpan pada kondisi alamiah yang sama selama enam dan delapan bulan akan mengalami penurunan daya berkecambah. Benih kedelai mengalami penurunan daya berkecambah lebih cepat dan lebih sensitif terhadap kerusakan embrio. Marwanto (2004) menyatakan bahwa kemunduran benih dipengaruhi oleh permeabilitas kulit dan kandungan lignin kulit benih kedelai yang tinggi.
Benih kedelai hitam memiliki vigor yang lebih baik daripada benih kedelai kuning. Hasil penelitian Purwanti (2004) pada benih kedelai menunjukkan bahwa benih kedelai kuning mempunyai daya berkecambah rendah, pertumbuhan bibit rendah dan berat kering rendah yang ditanam di lapang setelah benih disimpan selama enam bulan. Permeabilitas kulit benih kedelai kuning lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai hitam (Marwanto 2003). Permeabilitas kulit benih yang tinggi akan memudahkan masuknya air dan oksigen ke dalam benih yang akan mengaktifkan enzim-enzim yang berperan dalam metabolisme benih. Salah satu enzim yang aktif adalah respirasi, respirasi menggunakan substrat dari cadangan makanan dalam benih, sehingga cadangan makanan berkurang untuk pertumbuhan embrio pada saat benih dikecambahkan.
Vigor benih kedelai hitam dapat dipertahankan tetap tinggi dengan daya tumbuh > 90% setelah enam bulan bila disimpan dalam kemasan kantong plastik dan kaleng pada suhu rendah. Benih kedelai kuning dapat mempertahankan daya tumbuh 80%, vigor dan daya tumbuh tinggi bila disimpan pada suhu ruang rendah, sedangkan penyimpanan pada suhu tinggi kemunduran benih kedelai dipercepat mulai dua bulan disimpan dengan daya tumbuh 41% (Purwanti 2004).
Pendugaan Daya Simpan Benih
7 (Janmohammadi et al. 2008). Viabilitas potensial benih kedelai selama dalam penyimpanan menurun sangat cepat bila dibandingkan dengan benih lain (Khaliliaqdam et al. 2012). Kemunduran mutu benih kedelai berkaitan dengan permeabilitas kulit dan warna benih. Benih kedelai hitam lebih resisten terhadap penderaan secara cepat dibandingkan dengan benih kedelai kuning.
Hasil penelitian Hasbianto (2012) pada benih kedelai varietas Anjasmoro menyebutkan bahwa daya simpan suatu lot benih dapat diduga berdasarkan faktor-faktor kadar air benih, kondisi suhu, viabilitas awal, permeabilitas kemasan dan varietas. Kadar air benih yang tinggi akan meningkatkan pertumbuhan
mycoflora benih yang berperan penting pada kemunduran mutu benih kedelai dan viabilitas selama dalam penyimpanan (Shelar et al. 2008)
Penelitian Khaliliaqdam et al. (2012) pada benih kedelai menunjukkan bahwa persamaan pendugaan daya simpan yang ditemukan oleh Ellis dan Roberts (1980) dapat dikembangkan dengan menentukan konstanta-konstanta penyusun persamaan untuk pendugaan daya simpan benih kedelai. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh konstanta penyusun persamaan untuk benih kedelai varietas Sahar adalah KE = 5.0833, CW = 1.636, CH = 0.0076, dan CQ = 0.00059 dan untuk
varietas DPX adalah KE = 6.6619, CW = 1.762, CH = 0.0365, dan CQ = 0.00029.
Konstanta-konstanta yang dihasilkan berlaku spesifik untuk varietas yang diteliti.
3
METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan meliputi benih kedelai varietas Wilis (tanggal panen 22 Mei 2012) dan varietas Detam-1 (tanggal panen 15 Mei 2012) yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), kemasan aluminium foil, plastik, kertas label, pinset, kertas CD, boks plastik dan aquades.
Peralatan Penelitian
Alat yang digunakan meliputi alat pengecambah benih, ruang penyimpanan benih, oven, neraca digital, desikator, sealer, waterbath, termohigrometer digital dan refrigerator.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Quality Control Benih Tanaman Hortikultura dan gudang penyimpanan benih PT. BISI International, Tbk, Kediri pada bulan Oktober 2012 hingga Februari 2013.
Prosedur Percobaan
8
time series dan penyimpanan benih kedelai pada kondisi suhu kamar. Diagram alir kegiatan penelitian ditunjukkan pada Gambar 2.
Percobaan 1: Metode deteriorasi terkontrol pada benih kedelai
Model untuk menduga daya simpan benih dengan metode deteriorasi terkontrol
terkontrolterpilih dengan pola time series
Metode deteriorasi
9 Percobaan 1: Metode deteriorasi terkontrol pada benih kedelai
Percobaan satu bertujuan untuk memperoleh kondisi kadar air benih dan lama pengusangan yang sesuai pada metode deteriorasi terkontrol untuk benih kedelai. Kadar air benih dan lama pengusangan yang sesuai ditentukan berdasarkan pada efektivitas hubungan dengan peubah pengamatan. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah kadar air benih dengan tiga taraf, yaitu:
M1 = kadar air benih 15%
M2 = kadar air benih 17.5%
M3 = kadar air benih 20%
Faktor kedua adalah lama pengusangan dengan empat taraf, yaitu: T0 = lama pengusangan 0 jam
T1 = lama pengusangan 8 jam
T2 = lama pengusangan 16 jam
T3 = lama pengusangan 24 jam
Kombinasi dari kedua faktor menghasilkan 12 perlakuan dan tiap perlakuan diulang empat kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan membutuhkan benih sebanyak 150 butir benih sehingga total kebutuhan benih sebanyak 7200 butir benih. Model linier rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yijk µ + αi+ βj+ αβ ij+ εijk
Keterangan:
Yijk = nilai pengamatan pada kadar air benih ke-i dan lama pengusangan ke-j
pada ulangan ke-k. µ = nilai tengah umum.
αi = pengaruh perlakuan kadar air benih ke-i (i = 1, 2, 3).
βi = pengaruh perlakuan lama pengusangan ke-j (j = 1, 2, 3, 4).
αβ ij = pengaruh interaksi kadar air benih ke-i dan lama pengusangan ke-j.
εijk = galat percobaan
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam, apabila berpengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test
(DMRT) pada taraf 5%.
Metode deteriorasi terkontrol dilaksanakan dengan mengelompokkan benih berdasarkan perlakuan kadar air benih yaitu 15%, 17.5% dan 20%. Sebanyak 150 butir benih kedelai dimasukkan dalam kemasan aluminium foil dan ditambahkan aquades hingga mencapai bobot benih dengan kadar air benih yang diinginkan.
Bobot benih dengan kadar air benih yang diinginkan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
10
Keterangan :
A = kadar air awal benih (%)
B = kadar air benih yang diinginkan (%) W1 = bobot awal benih yang telah diketahui (g)
W2 = bobot benih dengan kadar air yang diinginkan (g)
Aluminium foil berisi benih dan aquades sesuai perlakuan dikocok agar aquades bisa merata, kemudian dimasukkan dalam refrigerator bersuhu 4 °C dan didiamkan selama 24 jam agar benih berimbibisi dan mencapai kadar air kesetimbangan yang diinginkan. Benih yang telah mencapai kadar air sesuai perlakuan kemudian dimasukkan ke dalam waterbath bersuhu 40 °C selama 0 jam, 8 jam, 16 jam dan 24 jam. Setelah waktu pengusangan tercapai, benih dikeluarkan dan dikecambahkan pada kondisi optimum dengan metode uji kertas digulung didirikan dalam plastik (UKDdp) dan dimasukkan dalam alat pengecambah benih. Peubah-peubah yang diamati meliputi kadar air setelah deteriorasi terkontrol, indeks vigor setelah deteriorasi terkontrol ( det ), daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol ( det ) dan kecepatan tumbuh setelah deteriorasi terkontrol (KCT det). Metode deteriorasi terkontrol yang tepat dipilih berdasarkan pada
kriteria-kriteria: (1) perlakuan yang menghasilkan nilai daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol 50-60%, (2) efektivitas waktu pengusangan, dan (3) efektivitas peningkatan kadar air benih.
Percobaan 2: Metode deteriorasi terkontrol terpilih dengan pola time series
Percobaan dua bertujuan untuk menentukan pola penurunan mutu benih kedelai berdasarkan kadar air benih dan lama pengusangan yang terpilih pada percobaan satu. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat ulangan. Faktor penyusun perlakuan adalah lama pengusangan dengan 16 taraf. yaitu lama pengusangan satu jam sampai dengan lama pengusangan 16 jam. Jumlah benih yang dikemas dalam kemasan aluminium foil sebanyak 250 butir dan jumlah kemasan sebanyak 64 buah. Model linier rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yij µ + τi+ εij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan lama pengusangan ke-i dan ulangan ke-j.
µ = nilai tengah umum.
τi = pengaruh perlakuan lama pengusangan taraf ke-i.
εij = galat percobaan
11 ( det ) dan kecepatan tumbuh setelah deteriorasi terkontrol (KCT det).
Peubah-peubah mutu fisiologis diamati setiap interval waktu tertentu sampai lama pengusangan metode deteriorasi terkontrol yang terpilih tercapai.
Percobaan 3: Penyimpanan benih kedelai pada kondisi suhu kamar
Percobaan tiga bertujuan untuk mengetahui pola penurunan mutu fisiologis benih dalam penyimpanan suhu 25-30 °C dan kelembaban nisbi 80-85%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat ulangan. Faktor penyusun perlakuan adalah lama penyimpanan benih dengan 16 taraf, yaitu lama penyimpanan satu minggu sampai dengan 16 minggu. Benih dikemas menggunakan kemasan aluminium foil dengan jumlah benih 250 butir setiap kemasan. Jumlah kemasan yang disimpan per varietas sebanyak 64 buah. Pengamatan dilakukan setiap tujuh hari selama empat bulan penyimpanan sehingga terdapat 16 kali pengamatan. Peubah-peubah yang diamati meliputi peubah kadar air setelah penyimpanan, indeks vigor setelah penyimpanan ( ), daya berkecambah setelah penyimpanan ( ) dan kecepatan tumbuh setelah penyimpanan (KCT akt). Model linier rancangan percobaan yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Yij µ + τi+ εij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan lama penyimpanan ke-i dan ulangan ke-j.
µ = nilai tengah umum.
τi = pengaruh perlakuan lama penyimpanan taraf ke-i.
εij = galat percobaan
Keterangan: A) varietas Wilis; B) varietas Detam-1
Gambar 3 Penyimpanan benih kedelai pada kondisi suhu kamar
Pengamatan
Pengamatan di laboratorium dilakukan terhadap peubah: 1. Kadar air benih
Kadar air benih setelah pengusangan dan selama penyimpanan diukur menggunakan metode oven suhu rendah konstan (101-105 °C) selama 17 ± 1 jam
12
(berdasarkan bobot basah). Bobot benih kedelai yang dipakai pada pengukuran kadar air benih sebanyak 4.5 ± 0.5 g untuk setiap ulangan dengan empat ulangan. Kadar air benih merupakan persentase bobot benih yang dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
k d r ir - - x 00
Keterangan :
M1 = bobot wadah beserta tutupnya (gram)
M2 = bobot wadah, tutup dan benih sebelum dioven (gram)
M3 = bobot wadah, tutup dan benih setelah dioven (gram)
Benih kedelai dihancurkan terlebih dahulu kemudian ditimbang untuk mendapatkan M2 dan dioven untuk mendapatkan M3 (ISTA 2010).
2. Indeks vigor (IV)
Indeks vigor dihitung berdasarkan jumlah kecambah normal pada hitungan pertama yaitu hari ke-3. Persentase indeks vigor ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut:
ec m h norm l p d hitung n pert m uml h enih y ng dikec m hk n x 00
3. Daya berkecambah (DB)
Daya berkecambah benih kedelai diamati pada hari ke-3 (hitungan pertama) dan hari ke-5 (hitungan kedua) setelah dikecambahkan. Persentase kecambah normal ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
+
uml h enih y ng dikec m hk n x 00
Keterangan :
DB = daya berkecambah (%)
KN I = Jumlah kecambah normal pada hitungan pertama (hari ke-3) KN II = Jumlah kecambah normal pada hitungan kedua (hari ke-5)
Daya berkecambah diuji dengan metode uji kertas digulung didirikan dalam plastik (UKDdp) menggunakan substrat kertas CD. Jumlah benih untuk setiap ulangan adalah 100 butir dan jumlah benih setiap gulung sebanyak 50 butir sehingga tiap ulangan terdapat dua gulung.
4. Kecepatan tumbuh (KCT)
13
∑ t
tn
n 0
Keterangan:
KCT = kecepatan tumbuh
N = persentase kecambah normal
t = periode waktu perkecambahan (etmal) tn = waktu akhir pengamatan
1 etmal = 24 jam
5. Kelembaban udara dan suhu udara ruang simpan
Kelembaban udara dan suhu udara ruang simpan diukur dengan menggunakan termohigrometer digital. Kelembaban udara dan suhu udara ruang simpan diamati setiap hari dengan waktu pengamatan tiga kali yaitu pukul 7.30 WIB (pagi), 12.00 WIB (siang) dan 17.00 (sore).
Analisis Data
Data dianalisis dengan korelasi dan regresi antara peubah-peubah yang diamati pada percobaan dua dengan percobaan tiga, kemudian disusun persamaan eksponensial pendugaan vigor daya simpan dan persamaan pendugaan daya simpan benih. Verifikasi persamaan dilakukan dengan grafik dan dengan uji khi kuadrat. Simulasi dan validasi digunakan untuk menguji keabsahan (logik) model persamaan daya simpan yang diperoleh.
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Mutu Benih Kedelai sebelum disimpan
Mutu benih sebelum simpan akan menentukan daya simpan benih. Mutu benih dua varietas kedelai yang digunakan memiliki viabilitas yang cukup tinggi yang ditunjukkan dengan persentase daya berkecambah benih kedelai varietas Wilis sebesar 95.50% dan varietas Detam-1 sebesar 90.00%. Berdasarkan data daya berkecambah benih pada Tabel 1 menunjukkan bahwa benih kedelai yang digunakan masih berkualitas baik dan memenuhi persyaratan minimum benih bina seperti diatur dalam SNI 01-6234-1-2003.
14
Tabel 1 Data mutu benih kedelai sebelum disimpan
Peubah Varietas
Warna kulit biji Kuning Hitam
Bobot 100 butir (g) 9.52 ± 0.87 12.84 ± 0.50
Kisaran suhu ruang simpan (°C) 25.1 - 34.8 Kisaran kelembaban ruang simpan (%) 68.3 - 100
Kadar air benih merupakan faktor paling penting yang diperhatikan dalam penyimpanan benih. Benih kedelai mempunyai kotiledon yang bersifat porous
sehingga mudah terjadi proses absorpsi dan desorpsi uap air selama dalam penyimpanan (Wang et al. 2010). Kemunduran benih akan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar air benih. Kadar air benih berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimia dalam benih yang dapat mempengaruhi vigor benih setelah simpan (Shelar et al. 2008). Menurut Purwanti (2004) kadar air yang aman untuk benih kedelai yang disimpan 6-10 bulan adalah tidak lebih dari 11%. Tabel 1 menunjukkan bahwa kadar air benih kedelai varietas Wilis sebesar 8.16% dan varietas Detam-1 sebesar 8.25%, sehingga benih kedelai yang digunakan dalam penelitian berada pada tingkat aman untuk disimpan. Kondisi kadar air benih awal menjadi acuan dalam perlakuan peningkatan kadar air benih sesuai dengan perlakuan pada metode deteriorasi terkontrol.
Metode Deteriorasi Terkontrol pada Benih Kedelai
Metode deteriorasi terkontrol dilaksanakan dengan menggunakan metode standar yang dikemukakan oleh Powell dan Matthews (2005). Metode deteriorasi terkontrol yang dilaksanakan oleh Powell dan Matthews digunakan untuk mengevaluasi vigor benih sayuran yang berukuran kecil, namun demikian penelitian lain menyatakan bahwa metode deteriorasi terkontrol juga dapat digunakan untuk benih-benih berukuran besar seperti timun, semangka dan melon (Demir dan Mavi 2008), padi (Ali et al. 2003) dan kedelai (Changrong et al.
2007; Reninta 2012).
15 Tabel 2 Kadar air benih rata-rata setelah perlakuan deteriorasi terkontrol
Kondisi deteriorasi terkontrol Varietas dicapai setelah perlakuan deteriorasi terkontrol berkisar 14.14-15.31%, 16.95-17.49% dan 19.39-20.52%, sedangkan varietas Detam-1 berkisar 14.14-15.37%, 17.22-17.67% dan 19.39-20.72%. Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa perlakuan kadar air untuk setiap perlakuan relatif sesuai dengan yang telah direncanakan. Perbedaan kadar air setelah pengusangan untuk masing-masing perlakuan kadar air sebesar 0.15-0.86%, 0.01-0.55% dan 0.05-0.72%.
Percobaan deteriorasi terkontrol pada kondisi kadar air benih dan lama pengusangan yang berbeda memberikan respon yang beragam pada peubah-peubah yang diamati. Semakin tinggi kadar air dan semakin lama waktu pengusangan, maka penurunan viabilitas dan vigor benih kedelai semakin cepat. Penggunaan lot benih yang berbeda juga akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan (Tabel 3).
Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan kadar air dan lama pengusangan memberikan pengaruh yang nyata pada peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh. Semakin tinggi peningkatan kadar air maka menghasilkan nilai peubah mutu fisiologis yang semakin rendah. Lama pengusangan yang meningkat juga menurunkan nilai ketiga peubah mutu fisiologis yang diamati.
Kombinasi perlakuan kadar air dan lama pengusangan 15%-0 jam, 17.5%-0 jam dan 20%-0 jam mempunyai persentase daya berkecambah yang relatif masih tinggi. Berdasarkan hasil pengujian daya berkecambah pada Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan dengan peningkatan kadar air tanpa disertai dengan pengusangan (pengusangan 0 jam) tidak menurunkan viabilitas benih, yang menunjukkan bahwa kadar air relatif tidak berkontribusi dalam proses penurunan viabilitas benih bila tidak diikuti dengan pengusangan pada suhu tinggi.
16
padi. Penelitian Ekowahyuni et al. (2012) pada benih cabai juga menyebutkan bahwa pengusangan cepat pada suhu 40 °C dengan lama pengusangan 24 jam telah menurunkan indeks vigor benih cabai sampai pada nilai 25.55%.
Tabel 3 Pengaruh perlakuan kadar air dan lama pengusangan pada metode deteriorasi terkontrol terhadap peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh
Tabel 3 juga menunjukkan bahwa pada kondisi deteriorasi terkontrol dengan kadar air 15%, 17.5% dan 20% dengan lama pengusangan 24 jam telah terjadi penurunan kecepatan tumbuh yang nyata. Kondisi deteriorasi terkontrol pada kadar air 15%, 17.5% dan 20% dengan lama pengusangan 24 jam dapat digunakan untuk membedakan antar varietas yang toleran dan peka terhadap kondisi perlakuan. Berdasarkan hasil percobaan varietas Wilis merupakan varietas yang lebih toleran dibandingkan varietas Detam-1 dengan nilai kecepatan tumbuh yang lebih besar pada kondisi kadar air dan lama pengusangan yang sama.
17 pengusangan 16 jam. Kondisi deteriorasi terkontrol yang tepat didasarkan pada nilai peubah daya berkecambah sudah menurun sampai pada kisaran 50-60%, lama pengusangan yang lebih cepat dan peningkatan kadar air yang relatif kecil sehingga mencegah munculnya cendawan pada saat pengujian mutu fisiologis. Penelitian Silva dan Vieira (2010) pada benih bit dan Rodo dan Filho (2003) pada benih bawang menyatakan bahwa lama pengusangan yang lebih cepat dengan kadar air yang lebih rendah dipilih untuk mengevaluasi viabilitas masing-masing benih yang diteliti.
Metode Deteriorasi Terkontrol Terpilih dengan Pola Time Series
Pola time series digunakan untuk menentukan pola penurunan peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh selama periode pengusangan tertentu. Jumlah perlakuan lama pengusangan sebanyak 16 titik yang disesuaikan dengan jumlah pengamatan pada kondisi penyimpanan benih aktual. Percobaan dilaksanakan berdasarkan pada metode deteriorasi terkontrol terpilih untuk masing-masing varietas. Hasil percobaan deteriorasi terkontrol terpilih pada varietas Wilis dan Detam-1 terhadap peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4 Nilai peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh setelah deteriorasi terkontrol terpiliha dengan pola time series
Lama
Deteriorasi terkontrol terpilih varietas Wilis pada kadar air 15% dan lama pengusangan 16 jam: deteriorasi terkontrol terpilih varietas Detam-1 pada kadar air 15 % dan lama pengusangan 16 jam.
18
peubah yang diamati. Kadar air dan lama pengusangan yang meningkat yang dialami oleh benih telah mengakibatkan terjadinya kemunduran mutu benih. Salah satu penyebab terjadinya kemunduran benih adalah respirasi (Marwanto 2003). Respirasi meningkat sejalan dengan kenaikan kadar air dan peningkatan suhu. Suhu respirasi yang meningkat mengakibatkan proses metabolisme berlangsung cepat sehingga cadangan energi cepat habis. Viabilitas benih yang menurun pada suhu dan kadar air tinggi pada pengusangan secara buatan terjadi dengan cepat. Penelitian Tubic et al. (2010) pada benih kedelai menyebutkan bahwa pengusangan buatan pada suhu 42 °C dan kelembaban relatif 100% telah menurunkan daya berkecambah benih kedelai. Laju kemunduran benih kedelai yang tinggi juga disebabkan oleh adanya proses peroksidasi lipid (Shelar et al.
2008). Peroksidasi lipid meningkat pada saat benih mengalami proses pengusangan cepat (Hsu et al. 2003).
Tabel 4 juga menunjukkan bahwa kadar air benih yang tercapai setelah deteriorasi terkontrol relatif sesuai dengan yang telah ditetapkan. Kadar air benih setelah deteriorasi terkontrol varietas Wilis berkisar 16.53-17.78%, yang menunjukkan bahwa kadar air yang tercapai mengalami selisih penurunan sampai 0.97% dan selisih kenaikan sampai 0.28%. Kadar air benih setelah deteriorasi terkontrol varietas Detam-1 berkisar 13.96-15.79%, yang menunjukkan bahwa kadar air yang tercapai mengalami selisih penurunan sampai 1.04% dan selisih kenaikan sampai 0.79%.
Seluruh peubah mutu fisiologis yang diamati mengalami penurunan dengan semakin lamanya waktu pengusangan. Varietas Wilis pada saat 0 jam pengusangan memiliki daya berkecambah sebesar 92.75% mengalami penurunan sampai pada tingkat 56.50% pada saat 16 jam pengusangan, sedangkan varietas Detam-1 pada saat 0 jam pengusangan memiliki daya berkecambah sebesar 90.50% mengalami penurunan sampai pada tingkat 50.75% pada saat 16 jam pengusangan. Hasil yang relatif sama diperoleh oleh Basak et al. (2006) pada benih cabai yang menyatakan bahwa metode deteriorasi terkontrol pada kadar air 18% dan lama pengusangan 24 jam telah menurunkan daya berkecambah benih cabai sampai pada tingkat 70%.
Nilai indeks vigor setelah deteriorasi terkontrol varietas Wilis mengalami penurunan dari 75.75% pada 0 jam pengusangan ke 21.75% pada 16 jam pengusangan sedangkan nilai indeks vigor setelah perlakuan deteriorasi terkontrol varietas Detam-1 mengalami penurunan dari 69.5% pada 0 jam pengusangan ke 24.25% pada 16 jam pengusangan. Berdasarkan nilai indeks vigor pada Tabel 4 menunjukkan bahwa varietas Wilis memiliki vigor yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Detam-1, sehingga lebih tahan terhadap deraan suhu tinggi. Marwanto (2004) menjelaskan bahwa permeabilitas kulit benih kedelai kuning lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai hitam. Penelitian Purwanti (2004) pada benih kedelai menyatakan bahwa benih kedelai kuning mempunyai daya berkecambah yang lebih rendah, pertumbuhan bibit lebih rendah dan berat kering yang lebih rendah dibandingkan benih kedelai hitam yang ditanam di lapang setelah benih disimpan selama enam bulan.
19 Sadjad et al. (1999) menyatakan bahwa peubah kecepatan tumbuh merupakan peubah yang menggambarkan vigor benih dan lebih peka dari peubah daya berkecambah.
Penyimpanan dan Pengujian Mutu Benih Kedelai
Percobaan penyimpanan dan pengujian mutu benih kedelai dilakukan untuk mempelajari perilaku benih pada penyimpanan suhu kamar. Perilaku benih diperlukan untuk menentukan variabel-variabel yang dapat dijadikan input dalam kegiatan verifikasi model persamaan yang diperoleh. Peubah-peubah yang diamati pada penyimpanan benih kedelai pada suhu kamar meliputi kadar air benih, daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh.
Perilaku benih kedelai varietas Wilis dan Detam-1 yang disimpan selama 16 minggu dengan peubah kadar air benih ditunjukkan pada Gambar 4. Gambar 4 menunjukkan bahwa penyimpanan benih kedelai varietas Wilis dan Detam-1 menggunakan kemasan aluminium foil mampu mempertahankan kadar air benih relatif rendah (< 11%) hingga periode simpan 16 minggu. Kadar air benih kedelai yang disimpan menggunakan kemasan aluminium foil menunjukkan kadar air yang cenderung konstan dan mengalami kenaikan kadar air yang relatif kecil. Kemasan aluminium foil yang digunakan mampu menghambat kenaikan kadar air benih. Kemasan aluminium foil merupakan kemasan yang memiliki nilai water vapour resistance dan water resistance tertinggi diantara bahan pengemas lainnya (Kuswanto 2003).
Gambar 4 Kadar air benih kedelai selama periode simpan 16 minggu Faktor yang secara nyata mempengaruhi kadar air benih kedelai selama dalam penyimpanan yaitu varietas, proses pengolahan dan kemasan simpan yang digunakan (Shelar et al. 2008). Vijay dan Dadlani (2003) menyatakan bahwa peningkatan kadar air yang terjadi karena proses absorbsi uap air merupakan penyebab langsung terjadinya kemunduran benih selama penyimpanan.
20
Hasil percobaan pada Gambar 4 menunjukkan pola perilaku kadar air benih yang sama dari dua varietas kedelai yang diuji. Benih kedelai varietas Wilis mengalami peningkatan kadar air mingguan berkisar 0.06-0.49% dan benih kedelai varietas Detam-1 mengalami peningkatan kadar air per minggu berkisar 0.11-0.48%.
Gambar 4 juga menunjukkan bahwa peningkatan kadar air benih kedelai varietas Wilis relatif lebih besar dari varietas Detam-1 pada akhir periode simpan. Kadar air benih kedelai varietas Wilis pada akhir periode simpan sebesar 8.53% atau meningkat sebesar 0.37% sedangkan kadar air benih kedelai varietas Detam-1 sebesar 8.38% atau meningkat sebesar 0.Detam-13%. Justice dan Bass (2002) menjelaskan bahwa pengaruh varietas terhadap penyerapan dan penahanan uap air oleh benih diantaranya ketebalan dan struktur kulit benih serta komposisi kimia benih. Komposisi kimia benih yang berperan dalam peningkatan kadar air adalah protein karena sifatnya yang higroskopis (mudah menyerap dan menahan uap air). Marwanto (2004) menyatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi ketahanan benih dalam penyimpanan yaitu warna kulit. Benih kedelai dengan warna kulit hitam memiliki kandungan lignin yang lebih tinggi dibandingkan kedelai berwarna kuning sehingga kedelai berwarna hitam memiliki permeabilitas yang lebih rendah.
Gambar 5 menunjukkan bahwa daya berkecambah dua varietas kedelai yang diuji memperlihatkan pola penurunan selama periode simpan. Daya berkecambah menurun secara perlahan. Kemasan aluminium foil mampu memperlambat kenaikan kadar air benih sehingga daya berkecambah benih tidak menurun secara drastis. Varietas Detam-1 menunjukkan penurunan lebih cepat hingga 60% pada minggu ke-11 kemudian varietas Wilis pada minggu ke-16. Daya berkecambah benih pada akhir periode simpan untuk varietas Wilis dan Detam-1 masing-masing sebesar 60.50% dan 59.30%.
21 sedangkan varietas Wilis sebesar 40.00% pada minggu ke-7. Indeks vigor benih pada akhir periode simpan sebesar 31.30% untuk varietas Wilis dan 30.80% untuk varietas Detam-1. Indeks vigor benih kedelai varietas Detam-1 yang menurun lebih cepat dari varietas Wilis disebabkan oleh indeks vigor awal varietas Detam-1 lebih rendah dibandingkan varietas Wilis. Indeks vigor awal varietas Detam-1 sebesar 83.00%, sedangkan varietas Wilis sebesar 83.50%. Benih yang memiliki vigor awal yang tinggi akan memiliki daya simpan yang panjang meski kondisi penyimpananya suboptimum (penyimpanan terbuka) (Sadjad et al. 1999).
Gambar 6 Indeks vigor benih kedelai selama periode simpan 16 minggu Kecepatan tumbuhbenih merupakan tolok ukur yang mengindikasikan vigor kekuatan tumbuh (VKT) dan merupakan tolok ukur yang lebih peka dibandingkan
dengan peubah daya berkecambah (Sadjad et al. 1999). Gambar 7 menunjukkan pola penurunan kecepatan tumbuhvarietas Wilis dan Detam-1.
22
Varietas Detam-1 memiliki penurunan kecepatan tumbuh yang lebih cepat pada minggu ke-7 sedangkan penurunan kecepatan tumbuhvarietas Wilis terjadi pada minggu ke-11. Varietas Detam-1 memiliki nilai kecepatan tumbuh yang lebih besar dibandingkan varietas Wilis pada akhir periode simpan. Nilai kecepatan tumbuh pada akhir periode simpan sebesar 15.67%etmal-1 untuk varietas Wilis dan 16.08%etmal-1 untuk varietas Detam-1. Warna kulit benih diduga mempengaruhi vigor kekuatan tumbuh pada varietas Detam-1. Purwanti (2004) menyatakan bahwa benih kedelai hitam memiliki vigor yang lebih baik daripada benih kedelai kuning, yang ditandai dengan benih kedelai kuning mempunyai daya berkecambah rendah, pertumbuhan bibit rendah dan berat kering rendah yang ditanam di lapang setelah benih disimpan selama enam bulan.
Penyusunan Persamaan Metode Deteriorasi Terkontrol untuk Pendugaan Vigor Daya Simpan dan Daya Simpan Benih
Kegiatan awal dalam penyusunan persamaan metode deteriorasi terkontrol untuk pendugaan vigor daya simpan dan daya simpan benih kedelai yaitu dengan menganalisis korelasi antar peubah yang diamati pada metode deteriorasi terkontrol terpilih dengan peubah yang diamati pada penyimpanan benih pada suhu kamar (aktual). Tabel 5 menunjukkan korelasi yang nyata antara peubah mutu fisiologis yang sama pada metode deteriorasi terkontrol dengan peubah mutu fisiologis yang diamati setelah penyimpanan ktu l deng n nil i α se es r 1%, yang mengindikasikan bahwa lama pengusangan pada metode deteriorasi terkontrol menggambarkan periode simpan aktual.
Tabel 5 Koefisien korelasi (r) peubah mutu fisiologis hasil deteriorasi terkontrol dengan peubah mutu fisiologis hasil penyimpanan suhu kamar (aktual) Peubah yang diamati pada
metode deteriorasi terkontrol
Peubah yang diamati pada penyimpanan suhu kamar (aktual) Berdasarkan analisis data, persamaan yang terbentuk untuk menduga VDS adalah
23
- …….……….(1)
dengan e = bilangan Euler, t = lama pengusangan, a dan b nilai konstanta. Nilai konstanta a dan b disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Nilai konstanta a dan b penyusun persamaan pendugaan vigor daya simpan
Peubah yang diamati
Varietas Wilis Varietas Detam-1
Konstanta a Konstanta b Konstanta a Konstanta b
vigor; KCTakt: kecepatan tumbuh hasil penyimpanan aktual.
Persamaan pendugaan vigor daya simpan benih (persamaan satu) dipengaruhi oleh lama pengusangan pada metode deteriorasi terkontrol. Pendugaan vigor daya simpan benih menggunakan persamaan satu secara praktis harus melaksanakan metode deteriorasi terkontrol dengan faktor kadar air, lama pengusangan dan penderaan pada waterbath dengan suhu 40 °C. Lama pengusangan dan konstanta a dan b pada Tabel 6 dijadikan input persamaan satu untuk menghasilkan nilai vigor daya simpan. Lama pengusangan satu jam akan menghasilkan nilai vigor daya simpan benih yang setara dengan lama penyimpanan satu minggu, dikarenakan lama pengusangan berkorelasi sangat erat dengan lama penyimpanan (Tabel 5).
Salah satu tolok ukur daya simpan (DS) benih adalah daya berkecambah, sehingga persamaan pendugaan daya simpan benih diduga dengan peubah daya berkecambah. Persamaan pendugaan daya simpan benih dibentuk dari hubungan antara daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol ( det ) (peubah bebas) dengan lama penyimpanan (peubah tak bebas). Berdasarkan analisis data, diperoleh persamaan pendugaan daya simpan adalah sebagai berikut:
-
…...………...(2)
dengan e = bilangan Euler, det = daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol, a dan b nilai konstanta. Nilai konstanta a dan b disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Nilai konstanta a dan b penyusun persamaan pendugaan daya simpan Peubah yang
diamati
Varietas Wilis Varietas Detam-1 Konstanta a Konstanta b Konstanta a Konstanta b
det x
(%) 1200.9 ± 0.5 0.07 ± 0.5 710 ± 0.5 0.06 ± 0.5
x
det
: daya berkecambah setelah deteriorasi terkontrol.
24
pengusangan dan penderaan pada waterbath dengan suhu 40 °C. Peubah yang diamati setelah deteriorasi terkontrol yaitu daya berkecambah ( det ). Nilai daya berkecambah yang teramati setelah deteriorasi terkontrol dijadikan input persamaan dua beserta konstanta a dan b (Tabel 7) sehingga menghasilkan nilai daya simpan dugaan (minggu).
Metode deteriorasi terkontrol yang menghasilkan persamaan pendugaan vigor daya simpan (persamaan satu) dan persamaan pendugaan daya simpan (persamaan dua) merupakan persamaan berbasis eksponensial yang sangat sederhana, sehingga dalam penyusunannya diperlukan asumsi-asumsi. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penyusunan persamaan diantaranya kemasan yang dipakai memiliki permeabilitas yang seragam, kadar air lot benih seragam, suhu dan kelembaban ruangan seragam, komposisi kimiawi dan viabilitas awal benih tidak berpengaruh terhadap daya simpan. Konstanta-konstanta yang dihasilkan yang menyusun persamaan satu dan persamaan dua spesifik digunakan untuk peubah mutu fisiologis yang diamati dan spesifik untuk varietas yang diteliti. Verifikasi Persamaan Pendugaan Vigor Daya Simpan
Verifikasi model persamaan dimaksudkan sebagai tahapan kegiatan yang bertujuan untuk menilai kesesuaian hasil simulasi dengan hasil aktual (Qadir 2012). Verifikasi model persamaan dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Verifikasi model persamaan secara kualitatif dinyatakan dengan menggunakan grafik yang menghubungkan antara peubah yang dihasilkan dari persamaan pendugaan vigor daya simpan benih (persamaan satu) pada metode deteriorasi terkontrol dengan hasil aktual berdasarkan waktu atau periode tertentu. Model persamaan dinyatakan berkesesuaian jika hasil pendugaan berada pada selang kepercayaan (1-α 0.95 d ri h sil ktu l.
Verifikasi secara kuantitatif dilakukan dengan menguji hasil pendugaan vigor daya simpan benih pada metode deteriorasi terkontrol (persamaan satu) dengan hasil aktual menggunakan uji statistik dengan uji khi kuadrat. Hasil pendugaan diny t k n erkesesu i n p il nil i χ2 hitung le ih kecil d ri χ2
t el p d t r f α se es r 5 . Uji khi kuadrat digunakan untuk menguji frekuensi yang diobeservasi (observed frequencies) dengan frekuensi teoritisnya (expected frequencies) yang disebut sebagai uji kecocokan atau uji kompatibilitas (goodness of fit). Data konsisten apabila tidak berbeda nyata antara frekuensi yang diobservasi dengan frekuensi teoritisnya (Fauzy 2008). Verifikasi persamaan pendugaan vigor daya simpan yang terbentuk menggunakan uji khi kuadrat yang terdiri atas nilai peubah-peubah mutu fisiologis yang diamati pada metode deteriorasi terkontrol sebagai frekuensi teoritis dengan nilai peubah-peubah mutu fisiologis yang diamati pada penyimpanan benih aktual sebagai frekuensi observasi.
ke-25 2, 4, 12, dan 14 untuk varietas Wilis dan pada minggu ke-2, 4, dan 8 untuk varietas Detam-1.
Gambar 8 Verifikasi peubah daya berkecambah hasil metode deteriorasi terkontrol dengan hasil penyimpanan pada suhu kamar (aktual) varietas Wilis
26
(26.29) (Tabel 8). Hasil verifikasi secara kuantitatif menunjukkan bahwa hasil pengamatan peubah mutu fisiologis benih pada deteriorasi terkontrol tidak berbeda nyata (adanya kesesuaian) dengan hasil pengamatan peubah mutu fisiologis setelah penyimpanan pada kondisi aktual.
Tabel 8 Verifikasi secara kuantitatif terhadap peubah mutu fisilogis dengan uji khi kuadrat
deteriorasi terkontrol: : indeks vigor setelah deteriorasi terkontrol: KCT det: kecepatan tumbuh
setelah deteriorasi terkontrol.
Verifikasi secara kualitatif terhadap peubah kecepatan tumbuh varietas Wilis dan Detam-1 pada Gambar 10 dan Gambar 11 menunjukkan bahwa ada kesesuaian antara hasil deteriorasi terkontrol dengan hasil aktual. Verifikasi secara kualitatif menunjukkan bahwa data hasil deteriorasi terkontrol berada pada selang kepercayaan (1-α 0.95 d ri h sil ktu l kecu li nil i p d minggu ke-2 dan 11 untuk varietas Wilis dan pada minggu ke-2, 7, 8, dan 14 untuk varietas Detam-1.