Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)
Disusun Oleh:
M. Tri Panca W. Nim. 106032201088
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 20 Agustus 2011
Resistensi Pedagang Pasar Sumber Arta Bekasi Barat
Pasar Sumber Arta merupakan pasar tradisional dengan status kepemilikan swasta. Pasar ini resmi berdiri tahun 1988 yang kemudian menjelma menjadi pusat perdagangan dan jasa, sumber penghasilan pedagang dan lembaga sosial. Penggusuran yang telah dilakukan pengelola pasar pada tahun 2008 menghasilkan resistensi (perlawanan) dari pedagang. Perlawanan sendiri tidak selalu bentrokan fisik namun juga berbentuk perilaku seperti yang dilakukan oleh pedagang pasar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perlawanan yang dilakukan pedagang pasar, berbagai faktor yang melatarbelakangi perlawanan dan bentuk-bentuk resistensi yang terjadi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pembangunan dari Rostow yaitu lima tahap pembangunan, teori Clifford Geertz tentang pasar tradisional yaitu sebuah bentuk konkret bagi segala kegiatan, suatu lingkungan hidup yang dalam pandangannya bersifat alamiah disamping bersifat kultural yang seluruh kehidupan dibentuk olehnya. Kemudian teori resistensi dari James Scott yaitu sebuah bentuk perlawanan sehari-hari yang dilakukan oleh kelompok lemah (everyday forms of resistance). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Sedangkan pendekatan kualitatif menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi serta studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan informan sebanyak sembilan orang.
hidayah-Nya, serta tidak lupa shalawat dan salam dihaturkan selalu kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, sahabat dan umatnya. Seorang figur yang pantas
untuk ditauladani bagi manusia dalam kehidupan.
Skripsi ini tentunya tidak dapat rampung tanpa bantuan, bimbingan,
arahan, dukungan dan kontribusi dari beberapa pihak. Oleh karena itu penulis juga
tak lupa mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah memberi
inspirasi dan juga banyak berkontributif dalam memberikan sumbangan
pemikiran, pesan moral dan lain-lain sehingga penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan, diantaranya adalah:
1. Kedua orang tuaku tercinta dan tersayang, H.M. Sardi A.R. dan
Hj. Siti Rohaeni yang telah memberikan pendidikan, kepercayaan,
kesabaran, semangat, pengorbanan, serta segala doa yang selalu
terus mereka panjatkan untuk penulis agar sukses dan berhasil
dalam penulisan skripsi ini dengan nilai yang terbaik.
2. Kakakku tersayang, Adri Rubiyanto, Budi Luhur, Sofia Maulida,
Kak Diah yang kerap kali mengajarkan penulis tentang artinya
manusia berpendidikan dan pentingnya renungan spiritual, di saat
penulis mengalami perasaan stagnansi dan kemunduran diri dalam
4. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Bapak Prof. Dr. Bahtiar
Effendy.
5. Ketua jurusan Prodi Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta Bapak Dr. Zulkifly, MA dan Sekretaris
jurusan Ibu Joharotul Jamilah, S. Ag. M.Si.
6. Seluruh dosen dan staff pengajar pada program studi sosiologi atas
segala motivasi, ilmu pengetahuan, bimbingan, wawasan dan
pengalaman yang mendorong penulis selama menempuh studi.
7. Dosen pembimbing Bapak Saifudin Asrori, M.Si yang selalu setia
dalam memberikan saran, kritik dan gagasan dalam proses
penulisan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabatku Andri Prakarsa yang berbagi pengalaman dan
menemaniku sejak zaman putih abu-abu hingga sekarang, you’re
the best, my friend. Para pejuang sosiologi M. al-Aufar,
Muhammad Ayub, Irvan Matondang, Ghundar Muhammad
al-Hasan yang telah menjadi sahabat terbaik, pengalaman kita
terekam tak pernah mati. Teman-teman sosiologi 2006 lainnya
9. Seseorang disana yang tetap memberikan dukungannya dikala
penulis mengalami stagnansi.
10.Pedagang pasar, pengelola serta organisasi terkait yang menerima
penulis dengan terbuka untuk melakukan penelitian skripsi, serta
para karyawan yang tentunya tidak bisa penulis sebutkan
satu-persatu.
11.Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini,
yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna, begitu pula
dengan skripsi ini yang masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan
kritik yang membangun dari para pembaca untuk perbaikan di masa mendatang
sangat penulis harapkan.
Jakarta, Agustus 2011
KATA PENGANTAR ...……… ii
DAFTAR ISI.……….. v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….1
B. Tinjauan Pustaka.……….. 8
C. Pembatasan dan Pertanyaan Penelitian………... 11
D. Model Analisis………...11
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian…….………...12
F. Metodologi Penelitian……….………...13
1. Jenis Penelitian….………... ...13
2. Teknik Pengumpulan Data.………... 14 3. Instrumen Penelitian………....……….. 16
G. Sistematika Penulisan..……….... 17 BAB II KAJIAN TEORI A. Pembangunan………...19
1. Definisi………...19
1. Pengertian………...27
2. Bentuk Resistensi………...31
BAB III GAMBARAN UMUM PENELITIAN
A. Sejarah Sumber Arta………..34
B. Kondisi Sosial Lingkungan Kampung Cibening…………38
C. Kondisi Ekonomi………...40
BAB IV TEMUAN PENELITIAN
A. Resistensi Pedagang Pasar Sumber Arta………..43
B. Bentuk-Bentuk Resistensi……….………...47
1. Resistensi Tertutup……….47
2. Resistensi Semi-Terbuka…..………..50
C. Faktor Penyebab………...55
1. Masa Hak Pakai Yang Telah Berakhir………...55
2. Pasar Baru Yang Tak Kunjung Dibangun………..55
3. Intimidasi Pengelola………...57
4. Warga Rusun Pasar (WRP)………58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pertumbuhan sektor informal merupakan ciri khas yang melekat pada
pembangunan perkotaan.1 Di Indonesia sektor ini dianggap sumber perekonomian
yang melekat pada sektor formal, contoh pertumbuhan industri membuat
berkembangnya kebutuhan akan pakaian, makan, tempat tinggal dan lain-lain.
Sektor informal mempunyai fungsi sebagai penampung gejolak sosial (holding
tank) dan urbanisasi prematur sehingga keberadaannya sering tergusur oleh
pembangunan.2 Penggusuran Pasar Sumber Arta di daerah Bekasi Barat
merupakan salah satu bukti konkrit ketidakberdayaan sektor informal berhadapan
dengan modal dan Negara.
Sumber Arta merupakan sebuah pasar tradisional yang berdiri dan
diresmikan pada tahun 1988 yang tumbuh serta hidup bersama di masyarakat.
Pasar ini mempunyai beberapa fungsi: pertama, menaungi sektor informal seperti
pedagang sayur, buah, kelontong, daging, pakaian dan sebagainya. Kedua, sebagai
jalur distribusi barang dan jasa yaitu jenis barang yang diperjualbelikan tidak
1
International Labour Organization (ILO)mendefinisikan sektor informal sebagai pekerjaan-pekerjaan di pinggiran kota besar, tetapi juga meliputi berbagai aktivitas ekonomi antara lain ditandai dengan: mudah untuk dimasuki, bersandar pada sumberdaya lokal, usaha milik sendiri, operasinya dalam skala kecil, padat karya dan teknologinya bersifat adaptif, keterampilan dapat diperoleh diluar sistem sekolah formal, dan tidak terkena langsung oleh regulasi dan pasarnya bersifat kompetitif.
2
besar, mudah dibawa, bahan pangan yang mudah disimpan, tekstil, barang pecah
belah kecil dan sejenisnya. Kemudian yang terakhir, sebagai tempat bertemunya
berbagai macam kepentingan masyarakat.
Munculnya sektor informal di perkotaan sebenarnya tidak terlepas dengan
adanya proses urbanisasi. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
urbanisasi yaitu pertama makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan, seperti
menurunnya daya dukung lingkungan, susahnya memperoleh hasil tambang, kayu
atau bahan pertanian. Kedua, menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal
akibat lahan pertanian yang semakin tidak ada, sedangkan yang ketiga karena
alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.3 Strategi industrialisasi yang
terlalu menitikberatkan pada pergeseran sektor pertanian ke sektor industri pun
menyebabkan meningginya eskalasi urbanisasi di Indonesia. Proses urbanisasi
semakin meningkat ditambah dengan kebijakan yang memusatkan ekonomi di
perkotaan, sedangkan sektor pertanian dianggap penyangga untuk proses
kelangsungan dan keberhasilan industrialisasi. Sumber Arta sebagai pasar
tradisional juga merupakan penampung gejolak sosial urbanisasi, hal ini terlihat
dari beragamnya jenis etnis suku yang berjualan di pasar tersebut antara lain
Sunda, Jawa, Batak, Minangkabau, etnis Tionghoa dan lain-lain.4
Faktor lain dari industrialisasi adalah meningkatnya kepadatan penduduk
yang disebabkan sentralitas ekonomi di perkotaan. Terjadinya ledakan penduduk
di perkotaan ikut berimplikasi terhadap tingkat pengangguran yang cenderung
3Chotib, “Mobilitas Penduduk,” artikel diakses pada 16 Agustus 2011 dari
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/ea3efedb6ec0bdbe7c574fcb773661d5a24a8cce.pdf
4
naik akibat urbanisasi. Keadaan ini berbanding terbalik dengan pedesaan dimana
semakin sedikit tenaga kerja yang berada di desa disebabkan oleh perpindahan
tenaga kerja ke daerah perkotaan. Bila kita cermati persoalan urbanisasi ini
ternyata perpindahan penduduk dari desa ke kota selalu melampaui tingkat
penciptaan lapangan pekerjaan di kota. Dengan kata lain perkotaan tidak dapat
menyerap tenaga kerja yang terlampau tinggi akibat urbanisasi. Fenomena ini
terjadi akibat kurang cepatnya proses industrialisasi dikembangkan, akan
berkecenderungan semakin mempertinggi tingkat tenaga kerja yang datang ke
kota tersebut.
Efek negatif dari tidak terserapnya tenaga kerja tersebut melahirkan
pengangguran di perkotaan yaitu tenaga kerja produktif yang tidak bekerja.
Berdasarkan data Sakernas sampai Agustus 2007, angka Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda tingkat nasional sebanyak 15,30 persen,
dengan TPT laki-laki 13,52 persen dan perempuan 18,20 persen. Sementara
TPT pemuda di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan TPT pemuda di
perdesaan yaitu 19,70 persen dan 11,71 persen. Jika dilihat dari wilayah,
pengangguran terbuka pemuda di wilayah perkotaan jauh lebih besar
dibandingkan dengan pemuda di wilayah perdesaan. Hal ini dimungkinkan
karena tenaga kerja pemuda pedesaan terserap di sektor pertanian.
Menumpuknya pengangguran terbuka pemuda di perkotaan dapat memicu
Tabel Tingkat Pengangguran Terbuka Pemuda Menurut Jenis Kelamin dan Wilayah Perkotaan/Pedesaan per Propinsi Tahun 20075
Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2007
Sedangkan angka pengangguran muda pada bulan Agustus 2010 mencapai 7, 14 persen dari 220 juta penduduk Indonesia.
5
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2008–2010
(persen)6
Tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat pengangguran masih tetap tinggi
meski mengalami penurunan. Namun Badan Pusat Statistik (BPS) menilai angka
pengangguran terbuka turun tidak signifikan. Karena signifikansi pertumbuhan
ekonomi hanya sekitar 6 persen saja dan ditambah adanya intervensi pemerintah
seperti mulainya pembangunan sarana pendidikan dan pembebasan biaya
pendidikan di beberapa daerah.7 Pasang surutnya pengangguran bukan tidak
mungkin disebabkan oleh kebijakan struktural yang kurang memperhatikan
kepentingan masyarakat arus bawah yang banyak dijumpai dalam tingkatan
produktif.
6
Badan Pusat Statistik, KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2010, No. 77/12/Th. XIII (Jakarta: BPS, 2010), h. 6.
7
Kembali pada konteks problematika sosial yang dihadapi pedagang pasar,
terkait dengan pasar tradisional dan pembangunan setidaknya hal yang sering
mencuat adalah penggusuran pasar. Yaitu fenomena di daerah perkotaan yang
menggambarkan banyak kasus tentang bagaimana pembangunan kurang
bersimpati pada masyarakat. Selanjutnya adalah rasa ketidakpuasan pedagang atas
perlakuan yang dialami pedagang dengan dalih ketertiban dan terkadang terdapat
motif ekonomi yang lebih besar dibalik kejadian tersebut. Potret kondisi sosial
seperti ini seharusnya menjadi concern para stakeholder, terlebih pemerintah
sebagai pihak yang mengeluarkan kebijakan terkait dengan kesejahteraan sosial
dan pemberdayaan masyarakat kecil.
Jika kita melihat pasar sebagai sebuah bentuk sistem perekonomian
tradisional, kita akan mendapatkan gambaran bagaimana sektor informal ini dapat
bertahan di tengah arus pembangunan yang serasa mencekik sektor ini. Pasar
bukan saja sebagai distribusi barang dan saja tetapi juga sebuah lingkungan
kehidupan bagi masyarakat hidup berdampingan, berkembang dan kemudian
menjadi habitus, menjadi sifat kultural yang kemudian kehidupan bermasyarakat
dibentuk olehnya. Tidak sedikit pasar tradisional yang hilang dari relasi kehidupan
bermasyarakat dan berganti menjadi gedung mewah, apartemen hingga pasar
modern. Akibat hilangnya pasar, otomatis berkurangnya pendapatan bagi para
pedagang. Implikasi yang paling jelas adalah perlawanan terhadap penggusuran
tempat mereka berjualan. Perlawanan tersebut dapat bermacam mulai dari
perlawanan terbuka hingga tertutup yang tidak begitu mencuat ke permukaan.
di setiap kasusnya mungkin berbeda. Bentuk perlawanan pedagang pasar yang
sering terlihat dan terbuka ialah bentrokan fisik antara pedagang dengan aparat
pemerintah (Satpol PP) yang kadang berujung korban, pedagang dengan pedagang
serta pedagang dengan pengembang dalam kasus penggusuran pasar oleh
apartemen maupun pusat perbelanjaan modern. Inilah yang menjadi sebuah
kecemasan sosial bagaimana pasar yang seharusnya menjadi perekonomian idola
masyarakat arus bawah harus dijaga dan bukan digusur untuk kepentingan
ketertiban ekonomi suatu kota atau permainan modal.
Common sense yang tercipta di masyarakat yaitu perlawanan selalu
dikaitkan dengan bentrokan fisik, ini tidak terlepas dari peran media yang melihat
konflik pedagang selalu dari sisi bentrokan terbuka fisik. Bagi James Scott justru
strategi perlawanan yang seharusnya menarik untuk dilihat dan dikaji ialah
everyday forms of resistance yang terdiri dari kumpulan pola perilaku sehari-hari
dari para pedagang untuk melakukan perlawanan.8 Strategi tersebut dapat
dikatakan perlawanan khas dari pekerja sektor informal dimana dalam kasus ini
ialah pedagang pasar.
Pasar sebagai tiang penyangga ekonomi masyarakat, seringkali menjadi
korban akibat perspektif kelembagaan pemerintah terhadap sektor ini. Mungkin
perspektif ini menelurkan kebijakan yang cenderung kurang bersahabat dengan
para pedagang pasar sebagai salah satu civil society yang berdiri sendiri dan
mandiri.9 Seakan menjadi lumrah bahwa terkadang kebijakan dipengaruhi oleh
8
Marzani Anwar, Adaptasi dan Resistansi (Jakarta: Penamadani, 2006),h. 150.
9
motivasi ekonomi dalam membangun tingkat perekonomian kota tersebut.
Sehingga dapat dikatakan perspektif kebijakan pemerintah akan sektor informal
tergantung pada berfungsi atau tidaknya pasar tersebut bagi pendapatan daerah.
Bila dianggap tidak mendukung maka sikap yang diambil pemerintah ialah
penggusuran.10
Pedagang Pasar Sumber Arta sepertinya tak henti-henti mendapatkan
kejutan dalam ruang lingkup tempat mereka berjualan. Penggusuran yang telah
terjadi sepertinya menyimpan masalah yang tak begitu mencuat ke permukaan.
Tempat mereka yang hancur untuk digantikan lahan apartemen menjadi kenyataan
di depan mata, nasib mereka dalam mempertahankan pilar ekonomi dan institusi
sosial masyarakat kini berganti gedung apartemen. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa persoalan penting yang dikaji dalam membahas resistensi
dengan kaitannya pembangunan di Indonesia adalah masalah faktor penyebab,
bentuk-bentuk resistensi dan gambaran perlawanan. Untuk itu peneliti tertarik
mengambil mengambil tema masalah konflik dengan judul “Resistensi Pedagang
Pasar Sumber Arta Bekasi Barat” untuk melihat gambaran resistensi,
bentuknya serta faktor penyebab.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Terdapat beberapa penelitian tentang resistensi di Indonesia, peneliti akan
mencoba mereview penelitian yang dibuat oleh Eko Siswono tahun 2009 dan I
10
Gusti Ngurah Jayanti tahun 2010. Karena kedua penelitian tersebut layak untuk
menjadi model penelitian tentang resistensi di Indonesia.
Pertama, Eko Siswono dalam disertasinya Resistensi dan Akomodasi:
Suatu Kajian Tentang Hubungan-Hubungan Kekuasaan pada Pedagang Kaki
Lima (PKL), Preman dan Aparat di Depok mendeskripsikan mengenai resistensi
pedagang kaki lima akibat Peraturan Daerah (Perda).11 Ia menekankan bagaimana
relasi kuasa terjalin diantara tiga komponen dalam dalam melakukan strategi
untuk menguatkan kontrol atas lahan trotoar. Ia memakai Gidden untuk
menjelaskan praktek sosial diantara mereka, oleh sebab itulah menandai
bekerjanya kekuasaan akibat hubungan antara struktur dan agensi. Resistensi
terjadi karena Perda yang menurut para pedagang PKL tidak sesuai dengan
realitas yang harus mereka hadapi.
Kedua, tesis dari I Gusti Ngurah Jayanti dengan judul Resistensi Terhadap
Kebijakan Pemerintah Atas Penutupan Kegiatan Galian C di Daerah Aliran
Sungai (DAS) Unda Klungkung: Sebuah Kajian Budaya.12 Ia menerangkan
bagaimana resistensi terjadi karena kebijakan yang cenderung dari atas ke bawah
top-down tanpa adanya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan
kebijakan, sehingga dianggap tidak transparan dan melahirkan resistensi
11Eko Siswono, “Resistensi dan Akomodasi: Suatu Kajian Tentang Hubungan
-Hubungan
Kekuasaan pada Pedagang Kaki Lima (PKL), Preman dan Aparat di Depok,” (Disertasi S3
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Antropologi Program Pasca Sarjana, Universitas Indonesia, 2009), h. 13.
12I Gusti Ngurah Jayanti, “Resistensi Terhadap Kebijakan Pemerintah Atas Penutupan Kegiatan
Galian C di Daerah Aliran Sungai (DAS) Unda Klungkung: Sebuah Kajian Budaya,” diakses 17
komunitas penambang pasir. Bentuk resistensi yang dilakukan oleh masyarakat
salah satunya menempuh jalur formal dengan menyampaikan inspirasi mereka
pada lembaga pemerintahan. Komunitas penambang pasir berunjuk rasa ke kantor
Bupati dan Gedung Dewan Perwakilan Daerah Klungkung. Resistensi juga
terlihat dengan tetap dilakukannya aktivitas penambangan secara diam-diam.
Pada penelitian pertama, Eko Siswono meninjau resistensi dengan
menggunakan analisa struktur dan agen milik Gidden dalam melihat fenomena
perlawanan PKL dan mentendesikan penelitian tersebut pada negosiasi dan
akomodasi para aktor yang berkaitan dengan PKL. Misalnya sikap aparat
pemerintah kota yang mendua. Resistensi menjadi jalur alternatif lunak ketika
melunaknya penertiban karena terjadinya kepentingan dikedua pihak. Akibatnya
terjadi kontra-produktif dan distorsi dari aparat terhadap PKL. Perbedaan dalam
memaknai ruang terbuka publik juga menjadi penekanan dalam penelitian ini
yaitu trotoar. Adapun pada penelitian kedua I Gusti melihat resistensi masyarakat
karena disebabkan oleh menetapkan kebijakan tanpa partisipasi masyarakat
sehingga mereka memilih jalur terbuka dengan berunjuk rasa ke Gedung Bupati
dan mendatangi Gedung Perwakilan Daerah.
Dua penelitian sebelumnya memang mendeskripsikan bagaimana
resistensi kelompok lemah itu berjalan melawan kelas penguasa. Berbeda dengan
kajian sebelumnya penelitian ini mencoba menggambarkan bagaimana resistensi
akibat penggusuran dapat terjadi di pasar tradisional Sumber Arta yang
mengungkapkan bentuk dan faktor apa yang membuat para pedagang di pasar
Sumber Arta berani melakukan resistensi.
C. PEMBATASAN DAN PERTANYAAN PENELITIAN
Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti mencoba untuk membatasi pada
resistemsi (perlawanan) pedagang pasar Sumber Arta. Perlawanan tidak selalu
bentrok fisik namun juga berbentuk perilaku yang dilakukan oleh pedagang pasar
Sumber Arta, Bekasi.
Sedangkan pertanyaan penelitian yang akan menjadi kajian dalam penelitian
ini adalah :
a. Bagaimana bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan pedagang terhadap
pembangunan apartemen di pasar Sumber Arta?
b. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pedagang pasar berani
melakukan resistensi?
Penggusuran pasar yang dilakukan pengelola Pasar Sumber Arta
menyebabkan resistensi (perlawanan) dari para pedagang pasar. Terdapat dua
bentuk resistensi yang dilakukan oleh pedagang pasar yaitu resistensi tertutup dan
semi-terbuka. Resistensi pedagang muncul dikarenakan dua faktor antara lain:
psikologi sosial dan struktural.
E. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui faktor penyebab resistensi pedagang Pasar Sumber
Arta.
2. Untuk menggambarkan bentuk-bentuk resistensi pedagang pasar terhadap
penggusuran Pasar Sumber Arta.
Manfaat dari penelitian ini adalah
Penelitian ini diharapkan memberikan masukan kepada para pelaku sektor
informal khususnya pedagang Pasar Sumber Arta, dan Pemerintah Kota
Bekasi umumnya untuk bersama-sama memberikan kontribusi pada
F. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi yang penulis pakai dalam melakukan penelitian adalah sebagai
berikut:
1. Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam menganalisa fenomena resistensi
pedagang Pasar Sumber Arta yaitu kualitatif. Karena untuk
menggambarkan resistensi pedagang pasar Sumber Arta metode ini dirasa
pantas dalam meneliti perilaku sehari-hari, bahasa percakapan dan
kejadian yang berkaitan dengan pedagang. Berdasarkan hal tersebut
diharapkan dapat menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif
juga merupakan salah satu turunan dari tradisi yang fundamental dalam
ilmu pengetahuan di bidang sosial, yang terkait dengan individu dengan
bahasa dan peristiwanya.13 Sedangkan metode penelitian deskriptif yaitu
penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta,
atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat
populasi atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak
perlu mencari atau menerangkan saling hubungan dan menguji hipotesis.14
13
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan: Teori-Aplikasi (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2006), h. 92.
14
2. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data di lapangan peneliti menggunakan teknik
sebagai berikut:
a. Wawancara
Teknik wawancara merupakan sebuah proses interaksi dan
komunikasi verbal dengan tujuan untuk mendapatkan informasi
penting yang diinginkan. Wawancara ialah alat pengumpul informasi
dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk
dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari wawancara adalah adanya
kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi
(interviewer) dan sumber informasi (interviewee).15 Teknik wawancara
merupakan salah satu elemen penting dalam proses penelitian.
Wawancara (interview) dapat diartikan sebagai cara yang
dipergunakan untuk mendapatkan informasi (data) dari responden
dengan cara bertanya lengsung secara tatap muka (face to face)16.
Peneliti melakukan wawancara dengan lima pedagang pasar (dua
penjual sayur, satu penjual buah, satu penjual daging dan satu penjual
pakaian), tiga tokoh masyarakat dan seorang karyawan dari pengelola
pasar Sumber Arta.
15
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan: Teori-Aplikasi, h. 179.
16
Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan
b. Observasi
Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu
proses yang kompleks, digunakan bila berkenaan dengan perilaku
manusia, proses kerja, dan bila informan yang diamati tidak terlalu
besar. 17 Observasi juga tidak terbatas pada orang, tetapi juga
objek-objek lainnya. Sedangkan S. Margono mengartikan observasi adalah
pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang
tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan dilakukan
terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.
Metode observasi sebagai alat pengumpul data, dapat dikatakan
berfungsi ganda, sederhana, dan dapat dilakukan tanpa menghabiskan
biaya. Namun, dalam melakukan observasi peneliti dituntut memiliki
keahlian dan penguasaan kompetensi tertentu.18 Penelitian ini
menggunakan teknik observasi langsung yaitu dengan mengamati,
meneliti, menyaksikan kejadian langsung bersama objek yang
diselidiki atau yang diamati di Pasar Sumber Arta dan lingkungan
Kampung Cibening karena berkaitan dengan sejarah pasar yang tidak
terlepas dari wilayah kampung tersebut.
17
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 145.
18
3. Instrumen Penelitian
Beberapa instrumen yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu
pertama, buku kecil untuk mencatat kejadian, hasil pengamatan dan
wawancara. Kedua, tape recorder untuk melakukan rekam wawancara
terhadap informan untuk mendapatkan data yang terkadang tidak tercatat
di buku kecil hasil wawancara. Ketiga, buku catatan untuk melakukan
sistematisasi hasil dari pengumpulan data-data yang belum sudah
dianalisa. Keempat, kamera untuk memfoto kejadian, keadaan demografis,
geografis dan kejadian yang menarik serta penting untuk kelengkapan data
penelitian.
4. Sumber Data
Dalam penelitian ini dikategorikan kedalam dua jenis, yaitu: data
primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data
yang diperoleh melalui hasil wawancara dengan informan dan observasi.
Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui
kepustakaan, seperti buku-buku, skripsi, tesis, dan internet, yang
berhubungan dengan penelitian.
5. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu dan penelitian ini dimulai sejak bulan Februari 2011 sampai
dengan Juni 2011. Sedangkan lokasi penelitian dilakukan di Pasar Sumber
6. Pengolahan dan Analisis Data
Data dikumpulkan dari para informan yang kemudian membentuk suatu data yang
sistematis dan menghasilkan kesimpulan. Kesimpulan merupakan jawaban dari
data yang telah didapatkan. Sedangkan tenik dalam penulisan skripsi mengacu
pada buku “Pedoman penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi) UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan oleh Center for Quality Development
and Assurance ( CeQDA) tahun 2007.
G. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I PENDAHULUAN
Membahas tentang latar belakang masalah yang diangkat dalam penelitian,
pembatasan dan pertanyaan penelitian, tinjauan pustaka, model analisis, tujuan
dan manfaat, metodologi penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II KAJIAN TEORI
Membahas kajian teori mengenai
1. Pembangunan
a. Definisi
2. Pasar Tradisional
a. Pengertian, manfaat dan fungsi
3. Resistensi
a. Pengertian
b. Bentuk Resistensi
BAB III DESKRIPSI GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI
Membahas kondisi sejarah pasar Sumber Arta, kondisi ekonomi dan
keadaan sosial di lingkungan Kampung Cibening.
BAB IV TEMUAN HASIL PENELITIAN
Temuan hasil dari penelitian tentang bagaimana gambaran resistensi
pedagang pasar terhadap penggusuran pasar Sumber Arta, bagaimana bentuk
resistensi para pedagang dan faktor yang menyebabkan resisteni dapat terjadi.
BAB V PENUTUP
A.
Pembangunan
1. Definisi
Untuk mendefinisikan isitilah pembangunan memang terdapat perbedaan
diantara ilmuwan. Namun secara umum dapat diartikan sebagai suatu upaya
terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada
setiap warga Negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang paling
manusiawi.18 Di Indonesia, kata pembangunan sudah menjadi kata kunci bagi
segala hal yang diartikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat
dan warganya. Seringkali, kemajuan yang dimaksud terutama adalah kemajuan
material. Maka, pembangunan sering diartikan sebagai kemajuan yang dicapai
oleh sebuah masyarakat dibidang ekonomi.19 Dari beberapa studi kepustakaan,
masalah sentral dalam studi mengenai pembangunan sepertinya berkutat pada
persoalan ekonomi. Problematika seperti meningkatkan tingkat produktifitas
bekerja suatu negara, meletakkan dasar-dasar ekonomi agar bisa bersaing di pasar
internasional hingga yang paling mendasar seperti bagaimana bertahan hidup.
18
Syamsiah Badruddin, “Teori dan Indikator Pembangunan,” artikel diakses pada 21 Februari
2011 dari http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/.
19
Pembangunan dapat dilihat dari dua macam, pertama adalah pembangunan
materiil, yaitu pembangunan berorientasi ekonomi yaitu mengenai apa yang mau
dihasilkan dan dibagi. Kedua, pembangunan spiritual, yaitu pembangunan yang
mentendensikan kualitas dari manusia-manusia di dalam masyarakat tersebut.20
Tetapi kemudian pembangunan seringkali meminggirkan permasalahan sumber
daya manusia, karena manusia masih dianggap sebagai faktor pendukung
produksi untuk meningkatkan produksi. Oleh karena itu masalah yang kurang
dipersoalkan adalah bagaimana menciptakan kondisi lingkungan, baik lingkungan
politik maupun lingkungan budaya, yang mendorong lahirnya manusia kreatif
yang berorientasi bagaimana potensi nilai-nilai individu yang ada dimasyarakat
dimaksimalkan untuk menunjang proses pembangunan, contohnya pendidikan.
Dalam mengusung pembangunan, dua aspek inilah yang semestinya di dorong
agar terjadi balance antara pembangunan materi yang menekankan pada
pembangunan berorientasi fisik seperti sarana dan gedung pusat pelayanan publik
dengan skill individu yang menyeimbangi kemajuan teknologi tersebut. Banyak
teoritisi menekankan bahwa pembangunan itu harus berorientasi ekonomi, karena
masalah internal seperti ini harus diperbaiki terlebih dahulu sehingga ketika
sistem perekonomian modern mulai 4terwujud maka persoalan seperti pendidikan,
kesejahteraan, politik dan sebagainya akan mengekor dengan sendirinya.
Stabilitas masyarakat akan tetap terjaga selama pondasi internal berkembang
sesuai dengan arahnya. Hal tersebut mirip dengan bangunan pemikiran sosiolog
klasik Karl Marx yang menyatakan bahwa ekonomi sebagai pondasi bagi
20
suprastruktur seperti pendidikan, politik, hukum dan lain-lain.21 Ironisnya ide
ekonomi sebagai pondasi, sepertinya dipahami bahwa ekonomi diatas
segala-galanya sehingga kerap kali melupakan asas sosial budaya.
2. Strategi Pembangunan Ala Rostow
Dalam bukunya yang berjudul, The Stages of Economic Growth, A
Non-Communist Manifesto, W.W. Rostow mencoba memformulasikan tahapan
pembangunan dalam sebuah masyarakat. Untuk mencapai sebuah pembangunan
yang mumpuni ia membagi pembangunan menjadi lima tahap, yaitu:
1. Masyarakat Tradisional
Pada masyarakat ini ilmu pengetahuan masih belum banyak dikuasai.
Karena masyarakat masih diliputi oleh mitos dan
kepercayaan-kepercayaan lokal. Manusia masih dikuasai oleh alam sehingga
produksi masih sangat terbatas. Kemajuan berjalan lambat dan pola
produksi masih dipakai untuk konsumsi pribadi.
2. Prakondisi untuk Lepas Landas
Fase ini berawal dengan adanya factor eksternal yaitu campur tangan
dari masyarakat yang sudah lebih maju. Dampak dari ekspansi luar
menyadarkan masyarakat sedikit demi sedikit, seperti mulai
meningkatnya ketertarikan terhadap peningkatan tabungan, investasi
pada sektor-sektor produktif yang menguntungkan, seperti pendidikan.
21
Investasi ini tidak hanya dilakukan oleh negara tapi juga perorangan
sehingga terbentuk peningkatan produksi yang semakin melaju.
3. Lepas Landas
Tahapan ini ditandai dengan mulai berkembangnya industri-industri
baru dengan sangat pesat. Keuntungan sebagian besar diinvestasikan
kembali ke pabrik yang baru. Sektor perekonomian modern pun mulai
berkembang. Di sektor pertanian, teknik-teknik baru juga tumbuh
seiring masuknya teknologi yang kemudian menjadikan pertanian
sebagai usaha komersial untuk mencari keuntungan, dan tidak lagi
sekedar konsumsi pribadi.
4. Bergerak ke Kematangan Ekonomi
Industri berkembang pesat seiring pertumbuhan penduduk, negara pun
memantapkan posisinya dalam perekonomian global. Laju lalu lintas
barang ke dalam dan keluar pun menjadi rutinitas perdagangan
nasional. Produksi tidak terbatas pada pemenuhan barang konsumtif
tetapi juga barang modal. Impor menjadi sebuah kebutuhan baru.
5. Jaman Konsumsi Massal yang Tinggi
Akibat naiknya pendapat masyarakat dalam perekonomian, konsumsi
tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok, tetapi meningkat ke
kebutuhan yang lebih tinggi. Pada fase terakhir ini, investasi tidak lagi
menjadi tujuan yang paling utama. Karena ketika taraf kedewasaan
dicapai maka terjadi surplus ekonomi akibat stabilitas.22
22
Syamsyiah Badrudin dalam sebuah tulisan mengatakan bahwa
merumuskan pembangunan melalui kebijakan ekonomi dalam banyak hal
membuktikan keberhasilan.23 Dikatakan berhasil ketika beberapa faktor berikut
sangat dipertimbangkan yaitu seperti kebijakan ekonomi di negara-negara tersebut
yang umumnya dirumuskan secara konsepsional dengan melibatkan pertimbangan
dari aspek sosial lingkungan serta didukung mekanisme politik yang bertanggung
jawab sehingga setiap kebijakan ekonomi dapat diuraikan kembali secara
transparan, adil dan memenuhi kaidah-kaidah perencanaan.24 Dalam aspek sosial,
bukan saja aspirasi masyarakat ikut dipertimbangkan tetapi juga keberadaan
lembaga-lembaga sosial (social capital) juga ikut dipelihara bahkan fungsinya
ditingkatkan. Sementara dalam aspek lingkungan, aspek fungsi kelestarian natural
capital juga sangat diperhatikan demi kepentingan umat manusia. Dari semua itu,
yang terpenting pengambilan keputusan juga berjalan sangat bersih dari beragam
perilaku lobi yang bernuansa kekurangan (moral hazard) yang dipenuhi
kepentingan tertentu (vested interest) dari keuntungan semata (rent seeking).25
Pada akhirnya seringkali terdapat statement bahwa pembangunan
merupakan suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri (self
sustaining process) tergantung kepada manusia dan struktrur sosialnya, sehingga
pembangunan bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha pemerintah
belaka.26 Hal ini tak sepenuhnya benar, karena dalam proses pembangunan
Syamsiah Badruddin, “Teori dan Indikator Pembangunan.”
26
H. Bintoro Tjokromidjojo dan Mustopadidjaja A.R., Teori & Strategi Pembangunan Nasional
terdapat stakeholder yang saling berkaitan yaitu, Negara, Pasar (pengusaha), dan
Masyarakat. Dalam pengelolaan negara, Indonesia telah bertekad berpijak pada
asas keadilan sosial sebagai tujuan akhir dari pembangunan. Semua strategi dan
kebijakan serta pelaksanaan pembangunan dipilih untuk kemaslahatan bersama,
keseimbangan antara si kaya dan si miskin yang kemudian harus selalu di perkecil
untuk menghindari ketidakadilan. Hal ini bukan tanpa dasar bahwa keadilan sosial
sebagai syarat utama sebuah pembangunan harus dihadapkan dengan realitas
masyarakat Indonesia yang dihuni oleh berbagai macam kultur, adat, agama dan
etnis yang beragam sehingga tanpa adanya tali keadilan niscaya keragaman
tersebut mudah menyulut keretakan.27
B. Pasar Tradisional
kegiatan perdagangan yang mencakup semua segi kehidupan masyarakat
disamping merupakan suatu alam kebudayaan masyarakat yang hamper-hampir
27
Ahmad Erani Yustika, Negara Vs. Kaum Miskin, h. 3.
28
saja merupakan suatu kebulatan yang lengkap.29 Pasar tersebut merupakan
latarbelakang kongkrit bagi segala bentuk kegiatan, suatu lingkungan hidup yang
dalam pandangannya bersifat alamiah disamping bersifat kultural yang seluruh
kehidupan dibentuk olehnya. Ada beberapa point of view yang kita dapat gunakan
untuk menganalisa sebuah pasar dengan segala proses kegiatan didalamnya,
Geertz menyatakan, untuk dapat memahami pasar dalam bentuknya yang luas,
kita harus melihat dari tiga sudut pandang.
Sudut pandang pertama, yaitu sebagai suatu pola aliran barang dagang dan
jasa. Salah satu ciri pasar yang menonjol adalah jenis barang yang
diperjualbelikan tidak besar, mudah dibawa, bahan pangan yang mudah disimpan,
tekstil, barang pecah belah kecil dan sejenisnya. Kedua, sebagai sebuah suatu
kumpulan mekanisme ekonomi yang mempertahankan dan mengatur aliran-aliran
barang dan jasa, yaitu menjaga ciri khas sistem tawar-menawar dalam setiap
transaksi, apapun barangnya meskipun ukurannya kecil, lakunya sangat cepat.
Barang-barang mengalir sangat cepat di jalur pasar dan melalui transaksi kecil
yang banyak. Aliran barang tersebut tidak bersifat langsung, namun cenderung
berputar-putar dari satu pedangang ke pedagang lain untuk waktu yang cukup
lama. Dan yang ketiga, sebagai sebuah sistem sosial dan kultural di dalam mana
mekanisme tersebut berada. Pasar bukan sekedar sarana distribusi yang sederhana,
tetapi juga sebagai tempat memproduksi barang yang diperlukan. Karena pada
29
umumnya barang yang diperdagangkan dalam pasar diolah dan dibuat di dalam
pasar juga.30
Sebagai sekumpulan mekanisme ekonomi yang memelihara dan mengatur
aliran barang dan jasa, ada beberapa hal penting yang menurut Geertz harus
diperhatikan yaitu: suatu sistem harga bergeser, suatu neraca kredit yang
kompleks yang dikelola secara hati-hati dan terbaginya resiko dari laba.31 Hal
yang disebutkan tersebut merupakan beberapa ciri yang terjadi di dalam
mekanisme penjualan barang dan jasa di pasar tradisional. Ketiga hal itu tidak
dapat dipisahkan dari peran pedagang pasar sebagai pelakunya.
Pedagang-pedagang pasar adalah individu-individualis dalam pengertian bahwa mereka
bekerja sendiri-sendiri lepas dari organisasi ekonomi, mengambil keputusan sama
sekali atas dasar apa yang menurut pandangan mereka adalah kepentingan mereka
sendiri.32
Hubungan antara pedagang pasar adalah hubungan sosial yang sangat
spesifik yaitu hubungan perdagangan yang dipisahkan secara berhati-hati dari
relasi kemasyarakatan umum.33 Persahabatan, hubungan tetangga dan bahkan
hubungan kekerabatan adalah suatu hal, sedangkan perdagangan adalah hal yang
lain. Tawar-menawar, hutang piutang dan persekutuan dagang umumnya bebeas
dari kekangan norma yang batasannya samar-samar. Jadi, ekonomi pasar
tradisional itu diatur oleh kebiasaan-kebiasaan tetap yang diperkuat oleh
30
Abdulllah, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, h. 161.
31
Abdulllah, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, h. 162.
32
Abdulllah, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, h. 164.
33
penggunaan terus menerus selama berabad-abad. Apa yang tak dipunyai oleh
ekonomi pasar tradisional bukan ruang gerak tetapi organisasi, bukan kebebasan
tetapi bentuk.34
C. Resistensi
1. Pengertian
Tema mengenai resistensi atau perlawanan menjadi sesuatu yang menarik
bagi para ilmuwan sosial. Di akhir tahun 1980-an, resistensi menjadi trend dalam
menelaah kasus-kasus yang mudah diamati serta bersifat empiris. Bagi para
peneliti sosial, resistensi dianggap berciri kultural, sebab ia muncul melalui
ekspresi serta tindakan keseharian masyarakat. Analisa resistensi sendiri terhadap
suatu fenomena banyak melihat hal-hal yang ada dalam keseharian masyarakat
baik berupa kisah-kisah, tema pembicaraan, umpatan, serta puji-pujian dan
perilaku lainnya sehingga resistensi menjadi gayung bersambut dalam keilmuan
sosial.35
Sebagian orang berpendapat isu mengenai resistensi sendiri mencuat sejak
tahun 1960-an dimana saat itu mulai banyak otokritik terhadap ilmu-ilmu sosial
yang dianggap menganut paradima positivistik yang kerap mereduksi makna
manusia menjadi sekumpulan angka-angka dan kehilangan semangat untuk
perubahan. Situasi sejarah saaat 1960-an adalah ketika tengah berjayanya rezim
34
Abdulllah, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, h. 166.
35
Yusran Darmawan, “Resistensi dalam Kajian Antropologi,”artikel diakses pada 27 April 2011
totaliter seperti Hitler di Jerman, Mussoulini di Italia serta berbagai rezim lainnya
di Afrika. Kondisi seperti ini seperti menjadi ancaman bagi kelangsungan
memproduksi metode ilmu sosial sebab harus memproduksi suatu pengetahuan
yang menguntungkan satu rezim. Pada saat inilah muncul ilmu sosial kritis yang
tidak hanya mengkritik pada tataran ideologi namun juga mengkritik konfigurasi
sistem sosial yang represif.36
Dalam khazanah antropologi, benih-benih kritik internal atau refleksi yang
dapat dilihat sebagai upaya resistensi telah muncul terhadap arus besar keilmuan
antropologi saat itu. Kritis tersebut mencuat ketika Talal Asad mengeluarkan buku
berjudul Anthropology as Colonial Encounter. Ia melihat bahwa realitas
kebanyakan antropolog masih terharu-biru oleh imajinasi para penjelajah Eropa
yang terobsesi menemukan masyarakat primitif untuk dianalisa dan ditekuk dalam
satu kategori.37 Imaji tentang penaklukan, kekuasaan, serta menemukan
masyarakat primitif dan eksotik telah membimbing antropolog pada bentuk
etnografi. Poin yang dipetik dari Talal Asad adalah mereka para antropolog
(ilmuwan sosial) masih terbelenggu dalam dikotomi masyarakat primitif dan
modern sehingga seakan-akan terdapat sebuah ego bahwa primitif itu adalah
barbar dan tak berperadaban.
Berbeda dengan penelitian ilmuwan sosial sebelumnya yang masih
cenderung untuk menemukan primitifnya suatu sistem sosial di sebuah
masyarakat atau kelompok, Lila Abu-Lughod mencoba menggambarkan dalam
36
Yusran Darmawan, “Resistensi dalam Kajian Antropologi.”
37
penelitiannya mengenai resistensi perempuan di sebuah komunitas Bedouin,
Gurun Mesir Barat. Penelitian yang bertujuan mendeskripsikan bagaimana kaum
yang sering disisihkan (perempuan) melakukan perlawanan terhadap struktur yang
ada. Lila mencoba mengangkat bagaimana strategi dan bentuk perlawanan
perempuan di dalam sebuah struktur budaya yang mengekang hak-hak kaum
perempuan.
Lila Abu-Lughod mengungkapkan dalam sebuah tulisannya mengenai
resistensi sebagai berikut.
“…resistance is, I would argue, a growing disaffection with ways we have
understood power, and the most interesting thing to emerge from this work on resistance is a greater sense of the complexity of the nature and forms of
domination.”38
(...perlawanan, saya berpendapat, sebuah ketidakpuasan yang berkembang dengan cara-cara kita memahami kekuatan, dan hal paling menarik yang muncul dari ini bekerja pada resistensi adalah rasa yang lebih besar dari kompleksitas sifat dan bentuk-bentuk dominasi).
Dari beberapa fakta yang didapatkannya mengenai bentuk perlawanan
perempuan terhadap kuasa laki-laki dalam struktur sosial, ia mengungkapkan
bahwa sesungguhnya untuk mempelajari hal tersebut diperlukan interpretasi
dalam memotret fenomena sehingga akan membawa kita pada berbagai bentuk
relasi di dalam sebuah struktur komunitas yang saling bertalian. Lila juga
menganjurkan resistensi sebagai sebuah strategi untuk menganalisa kuasa
(resistance as a diagnostic of power). Hal tersebut ia dapat setelah terinspirasi
38
dari tulisan Foucault, sesungguhnya dimana ada kekuasaan disitu terdapat
resistensi (where there is power, there is resistance).39
Di kalangan ilmuwan sosial, resistensi terkadang dimaksudkan dalam
paradigma konflik, padahal keduanya memiliki bentuk yang berbeda. Lazimnya
resistensi menjadi titik tengah dari dinamika teori konflik Marxian dan teori
konflik Non-Marxian. Jika konflik masih berkutat pada frame teoritis dalam
melihat realitas, maka resistensi menekankan pada aspek empiris serta melakukan
sensitizing atau dialog secara kreatif terhadap realitas sosial.40 Inilah yang
kemudian menjadi titik tengah atau jalan keluar dari kecenderungan teori konflik
yang lebih melihat persoalan dari atas sehingga sarat dengan adanya generalisasi.
Berdasarkan hal tersebut maka resistensi lebih menekankan pada aspek manusia
yang kemudian hal ini selaras dengan lahirnya studi etnografi baru (new
ethnography) yang telah mengalami pergeseran memandang manusia yaitu dari
obyek ke subyek.41 Antropolog Cliffort Geerrtz sendiri mengatakan bahwa
antropolog tampaknya harus berada di tengah-tengah karena posisinya yang tidak
melulu pemikiran teori, melainkan lapangan empiris yang langsung bersumber
dari warga masyarakat yang nyata.42 Hal ini terlihat bagaimana ia melakukan
metode etnografi dalam melakukan studi atas Islam di Mojokuto, Geerzt
melakukan partisipasi lapangan dalam kehidupan bermasyarakat di Jawa, ikut
39
Lila Abu-Lughod, “The Romance of Resistance: Tracing Transformation of Power Through
Bedouin Women.” 40
Yusran Darmawan, “Resistensi dalam Kajian Antropologi.”
41
Yusran Darmawan, “Resistensi dalam Kajian Antropologi.”
42
merasa, sehingga dapat menggambarkan bagaimana sistem sosial hadir dalam
keseharian masyarakat.
Sejarah resistensi memang bermula pada khazanah antropologi karena
memang gagasan tersebut berada pada posisi di tengah-tengah antara pemikiran
Marxisme dalam antropologi dan pemikiran antropologi simbolik yang lebih
berorientasi pada kebudayaan atau yang memiliki sensitivitas budaya. Dalam
keilmuan sosiologi sepertinya bermula ketika terjadi kritik internal oleh mazhab
Frankfurt Jerman, sosiologi dikritik karena saintisme-nya, karena menjadikan
metode ilmiah sebagai tujuan itu sendiri, selain itu sosiologi juga dituduh
melanggengkan status quo sehingga keilmuan ini tidak mampu menyumbangkan
hal-hal bermakna bagi perubahan politik yang dapat melahirkan “masyarakat yang
adil dan manusiawi”.43
Resistensi bermaksud melakukan rekonsiliasi dari dua
kutub pemikiran antropologi. Jika jalan tengah ini diterima, maka isu materi yang
ada pada kajian Marx bisa tercermin dalam kajian antropologi yang menganalisis
berbagai peristiwa lokalitas.
2. Bentuk Resistensi
James Scott dalam studinya Weapons of the Weak: Everyday Forms of
Peasant Resistance tentang resistensi petani di Malaysia.44 Menurutnya selama ini
telah banyak bermunculan literatur mengenai bentuk-bentuk resistensi yang
dipakai oleh petani. Terlebih pada bentuk perlawanan diantara kelompok sosial
43
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), h. 303.
44
John Martinussen, Society, State and Market: A guide to competing theories of development
dalam civil society. Berbeda dengan sebelumnya, Scott mencoba mengobservasi
serta mendeskripsikan tentang merasakan serta tingkahlaku masyarakat miskin di
perkampungan Malaysia yang menjadi sebuah kerangka sosial kehidupan mereka
dalam melakukan kegiatan perlawanan. Scott membuat tiga level perbedaan atas
resistensi:
a. Ketika tingkat ekonomi makro dan proses perpolitikan diberikan kepada
petani namun hal tersebut jauh dari kerangka sosial yang diharapkan oleh
para petani.
b. Intervensi pemerintah yang kurang melakukan observasi terhadap norma
dalam kehidupan masyarakat sekitar.
c. Dan yang terakhir, terdiri dari peristiwa lokal dan kondisi perasaan serta
pengalaman dari masing-masing individu.45
Scott mendokumentasikan kehidupan sehari-hari warga dan sejarah
mereka, dan menunjukkan bagaimana mereka melakukan perlawanan dari campur
tangan negara dan agen perusahaan ekonomi. Bentuk-bentuk perlawanan mereka
yaitu teknik rendah diri (low-profile techniques), sebagian bersembunyi dan
menghindar, mengidentifikasikan diri dengan menyeret kaki mereka
(foot-dragging evasions) dan pasif, daripada penolakan terbuka atau perlawanan
terbuka (open rejection or struggle).46 Meski menurut Scott bentuk-bentuk
perlawanan tersebut kurang efektif, tetapi karena ada satu alasan bagi mereka
45
John Martinussen, Society, State and Market: A guide to competing theories of development, h. 316.
46
John Martinussen, Society, State and Market: A guide to competing theories of development, h.
melakukannya yaitu mereka tidak ingin tergabung kedalam pola produksi kapitalis
dan terjebak pada relasi kelas.
Resistensi dalam studi James Scott yaitu fokus pada bentuk-bentuk
perlawanan yang sebenarnya ada dan terjadi disekitar kita dalam kehidupan
sehari-hari, ia menggambarkan dengan jelas bagaimana bentuk perlawanan kaum
minoritas lemah. Mereka yang tidak punya kekuatan dalam melakukan penolakan
terbuka ternyata mempunyai cara lain dalam menghindari intervensi dari negara
dan perusahaan. Menurut Scott terdapat beberapa bentuk resistensi yaitu:
a. Resistensi tertutup (simbolis atau ideologis) yaitu gossip, fitnah, penolakan
terhadap kategori-kategori yang dipaksakan kepada masyarakat, serta
penarikan kembali rasa hormat kepada pihak penguasa.
b. Resistensi semi-terbuka (protes sosial atau demostrasi)
c. Resistensi terbuka, merupakan bentuk resistensi yang terorganisasi,
sistematis dan berprinsip. Manifestasi yang digunakan dalam resistensi
adalah cara-cara kekerasan (violent) seperti pemberontakan.47
Pada akhirnya pendekatan terhadap penelitian level lokal dan
bentuk-bentuknya mungkin dapat bernilai dalam memahami dinamika pembangunan.
Perlawanan sehari-hari dan bentuknya merupakan gejala yang terjadi disekitar
kita, yang kadang sering terlupa bahwa perlawanan atau penolakan akan suatu hal
tidak harus terbuka, karena memang secara tidar sadar kita melakukan perlawanan
secara diam-diam (tak terbuka).
47
Andi Suriadi, “Resistensi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Perdesaan,”
A. Sejarah Sumber Arta
Sumber Arta merupakan pasar yang terbentuk dari kegiatan ekonomi
sekelompok warga yang mencoba menjual hasil dari kebun pribadi, toko
kelontong, hingga warung makan dalam skala kecil di Kampung Cibening pada
tahun 1950-an.46 Kegiatan tersebut semakin mantab dilakukan warga saat
dimulainya proyek besar pembangunan sungai buatan Kalimalang di tahun
1956.47 Pembuatan sungai buatan yang dimulai era presiden Soekarno itu,
bermaksud untuk membantu pengairan sawah dan minum untuk daerah Jakarta
yang kekurangan air. Setelah proyek Kalimalang selesai berefek pada
berdatangannya warga dari luar daerah untuk ikut serta dalam proses perdagangan
di Kampung Cibening.
Awalnya kemunculan lokasi berjualan berada di sepanjang bagian Barat
kampung Cibening yang berbatasan dengan Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta
Timur. Konsentrasi pedagang yang paling banyak sebenarnya berada di bagian
Selatan yang disebut dengan daerah Kincan yang kemudian harus ikut bergabung
dengan pedagang di bagian Utara akibat proyek Kalimalang. Semenjak
perpindahan pedagang dari bagian selatan tersebut, kemudian menjadi kumpulan
46
Wawancara Pribadi dengan HS, Bekasi, 23 Februari 2011.
47
pedagang yang tidak pisah karena sekarang berada disatu lokasi. Kondisi inilah
yang kemudian menjadi cikal bakal Pasar Sumber Arta.
Perpindahan beberapa pedagang dari bagian selatan ke utara telah
membentuk sebuah sistem sosial yang baru karena menurut salah satu mantan
pedagang yang kini telah digantikan anaknya, para pedagang merasakan
keharusan membentuk sebuah pasar. Hal itu masih berada pada tataran kultural
karena mereka belum mampu untuk mengkoordinasikan untuk membentuk pasar
seutuhnya. Maksudnya adalah membangun bentuk fisik, disebabkan lahan yang
mereka tempati merupakan hak milik Entong Kukuh yang sebelumnya telah dibeli
dari Kuncoro yang sama-sama merupakan tuan tanah keturunan etnis TiongHoa.
Disaat kepemilikan Kuncoro, bagian utara Kampung Cibening dibeli untuk
dibangun perumahan kavling namun beralih kepemilikan kepada Entong Kukuh.
Ia belum mempunyai rencana membangun sesuatu di area seluas +/- 2 hektar
karena itu ia membiarkan kegiatan perdagangan yang sudah berjalan dengan
membangun fisik pasar bagi masyarakat yang berjualan.48
Tidak cukup berhenti membangun fisik pasar, Pak Entong (panggilan
warga terhadapnya) juga membangun terminal kecil lengkap dengan mobil
transportasi, membuka jalan dan mengaspalnya. Hal ini di kemudian hari
diteruskan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk ditindaklanjuti seperti
diresmikannya trayek Sumber Arta - Pondok Kopi dan peresmian terminal
Sumber Arta. Hingga sekarang semua yang dibangun masih bisa dilihat bentuk
fisiknya kecuali pasar yang sudah digusur.
48
Sebagai pusat perdagangan tradisional bagi masyarakat sekitar, Sumber
Arta telah tiga kali mengalami perubahan fungsi.49 Pertama, Kuncoro sebagai
pemilik pertama lahan berencana untuk membangun kavling perumahan. Kedua,
setelah beralih kepemilikan kavling yang tidak jadi dibangun difungsikan menjadi
pasar tradisional serta menjadi misbar (gerimis bubar).50 Ketiga, dibangun
bangunan fisik guna memudahkan, menata serta memfungsikan seutuhnya
menjadi pasar tradisional. Nama Sumber Arta sendiri diberikan oleh Entong
Kukuh sebagai pemilik yang selanjutnya diresmikan oleh Bupati Bekasi pada
tahun 1988. Peresmian tersebut menandakan bahwa pasar telah resmi diakui
sebagai pasar tradisional warga Bekasi.
49
Wawancara Pribadi dengan informan HS. Bekasi, 23 Februari 2011.
50
Sumber: Google Maps, Agustus 2011
Keterangan Gambar: A: Penampungan Sementara/ Pasar yang sekarang
B: Apartemen
Struktur diatas tidak baku kecuali pemilik, maksudnya adalah tidak
terdapat struktur yang sistematis seperti perusahaan pada umumnya. Menurut KS,
salah satu pegawai pengelola pasar, karena Sumber Arta merupakan pasar pribadi
di bawah naungan PT. Sempurna Abadi Dinamika milik Pak Entong.51
B. Kondisi Sosial Kampung Cibening
Pasar Sumber Arta berdiri dilingkungan kampung Cibening tepatnya di jalan
KH. Noer Ali RT 05 RW 03 kelurahan Bintara Jaya kecamatan Bekasi Barat.
Pasar sendiri berada di bagian selatan kelurahan Bintara Jaya, menurut tokoh
masyarakat setempat Kampung Cibening itu lebih luas dari Kelurahan Bintara
Jaya. Kelurahan Bintara Jaya mempunyai luas wilayah 234,168 ha (dua ratus tiga
puluh empat koma seratus enam puluh delapan hektar are) dengan batas wilayah
sebagai berikut.52
1. Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Bintara Kecamatan Bekasi Barat.
2. Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Jatibening Kecamatan Pondok
Gede.
3. Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Jakasampurna Kecamatan Bekasi
Barat.
4. Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Pondok Kelapa dan Kelurahan
Pondok Kopi – Jakarta Timur.
51
Wawancara pribadi dengan informan K, Bekasi, 17 Juni 2011.
52
Kemudian, untuk jumlah pemeluk beragama di kampung Cibening
berdasarkan jumlah penduduk adalah sebagai berikut.
1. Islam : 31.471 jiwa
2. Kristen Protestan : 1.236 jiwa
3. Kisten Katholik : 927 jiwa
4. Hindu : 256 jiwa
5. Budha : 90 jiwa
Berdasarkan data yang didapat dari Kelurahan Bintara Jaya, terdapat
gambaran bahwa mengapa begitu banyak masyarakat yang berdagang di kampung
Cibening. Berikut adalah data jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan dan
mata pencaharian.53
Berdasarkan Tingkat Pendidikan
53
Berdasarkan Mata Pencaharian
C. Kondisi Ekonomi
Struktur ekonomi masyarakat di kampung Cibening pada umumnya bergerak
di sektor jasa perdagangan dan industri kecil. Perekonomian ini didukung oleh
Usaha Menengah Kecil (UKM) yang berjumlah sembilan yang antara lain yaitu:54
54
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa pergerakan sektor
ekonomi kampung Cibening sebenarnya terletak pada sektor informal. Hal ini
diperkuat bila dilihat tingkat pendidikan dan mata pencaharian.
Sumber Arta sebagai sebuah pelampung gejolak sosial pengangguran di
kampung Cibening juga mempunyai peran besar dalam menyerap pengangguran.
Seorang pedagang mengungkapkan salah satu alasan mengapa dirinya berjualan
adalah ketidakinginannya untuk menganggur, maka pedagang tersebut
memutuskan untuk berjualan. Disamping alasan keengganan untuk menganggur,
faktor lainnya adalah pendidikan yang tergolong rendah, yaitu lulusan SMP. Di
kampung Cibening terdapat 8.772 orang yang lulus sampai SMP saja selebihnya
memilih bergerak di sektor informal. Pedagang pasar Sumber Arta terdiri dari
berbagai macam etnis, suku dan agama. Dalam sebuah wawancara P menuturkan.
“Para pedagang tersebut banyak yang datang dari luar daerah, rata-rata dari
mereka datang ke sini karena mengikuti saudara mereka yang telah dulu berjualan disini
dan ada juga yang memang sudah turun temurun” 55
Berdasarkan wawancara dan observasi para pedagang rata-rata
mengontrak rumah petakan di belakang pasar, meski ada juga yang sudah
mempunyai rumah sendiri. Sebut saja UK seorang bos daging yang berdagang di
pasar semenjak tahun 90-an yang kini telah mempunyai rumah pribadi dan
memiliki 8 orang anak buah yang semuanya berjualan daging. Menurutnya
mengapa mereka berjualan, alasannya adalah perekonomian keluarga yang tidak
mendukung untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar dapat
mencari pekerjaan.
55
“Sekarang sih udah enak, masuk SD dan SMP tidak bayar, coba dulu, boro-boro
buat sekolah, buat makan sehari aja nemu, udah bersyukur”56
Dari wawancara tersebut, masalah yang sering diutarakan bila berkaitan
dengan alasan berdagang adalah penghasilan ekonomi yang rendah berdampak
pada pendidikan. Maka dari itu banyak masyarakat yang berpendidikan rendah
serta perekonomiannya dibawah rata-rata memasuki sektor informal dikarenakan
kurang terserapnya tenaga produktif yang berurbanisasi dari desa ke kota.
Begitupun penghasilan pedagang yang diwawancarai oleh peneliti, P seorang
penjual buah yang dahulu mempunyai kios kini tidak lagi menuturkan.
“Kalo masalah modal, kita itung-itungannya perhari, karena sekarang
disesuaikan kondisi. Pendapatan yang sekarang mah berkurang drastis, palingan 250 ribu. Itu belum dihitung ongkos lain-lain yang gak keliatan. Jadi kalo perhitungan saya,
sebulan kadang dapat dikit keuntungan kadang enggak”57
Percakapan diatas tidak jauh berbeda dengan percakapan dengan pedagang
lainnya, karena akibat penggusuran yang telah terjadi cukup membuat penurunan
drastis pendapatan para pedagang. Faktanya banyak dari kios pedagang disewakan
untuk gudang pakaian, obat dan sebagainya. Sedangkan para pemiliknya
berdagang ditempat lain, karena kecewa dengan kondisi pasar.
56
Wawancara Pribadi dengan informan UK, Bekasi, 5 Maret 2011.
57
A. Resistensi Pedagang Pasar Sumber Arta
Resistensi tidak selalu terlihat, karena implementasi dari resistensi itu
sendiri berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar “tidak ikut”, apatis, sampai pada
aksi “perlawanan”, tergantung dari kadar perubahan maupun kekuatan
individu/komunitas yang resisten. Kadar perubahan itulah yang akan menentukan
sikap perlawanan yang akan tercipta, bagaimana strategi melawan tersebut
dilakukan serta seperti apa bentuknya.
Fenomena pembangunan apartemen dan penggusuran Pasar Sumber Arta
di Kampung Cibening merupakan perubahan besar bagi pedagang. Apartemen
yang memperoleh izin dari Walikota Bekasi kini terhenti prosesnya seiring waktu.
Menurut salah satu pekerja pengelola pasar, proses terhenti disebabkan Walikota
Bekasi Moechtar Mohammad terjerat kasus korupsi sehingga berimbas pada
proses penyelesaian apartemen. Transaksi pembelian apartemen juga terhenti
karena belum jelasnya status Pasar Sumber Arta, apakah ditiadakan atau
direlokasi kembali dari penampungan sementara.
Pemerintah Kota Bekasi sebagai stakeholder yang mempunyai wewenang