• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEBIJAKAN PENANGANAN PENGANGGURAN TERDIDIK DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS KEBIJAKAN PENANGANAN PENGANGGURAN TERDIDIK DI INDONESIA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS

KEBIJAKAN

PENANGANAN

PENGANGGURAN TERDIDIK DI INDONESIA

Dra.

Atik

Septi

Wurvaningsih

Fakultas

Ilmu

Sosial dan

llmu Politik UMY

ABSTRACT

In the

first

slage

of

its long-lerm developmenl, Indonesia had heen able to develop ils econonry so thal

il

moved front poor country slalus lo a middle-income counIry. However, lhe success in lhe ecanomy had nol

been

followed

in the labor sector. Huge number oftmemployment is an indicator of that failure. According to SUPAS 1995 data, the rate

of

open unemployment of highly educaled workforce reached l2.4 percent

from the total workforce. Although it seems that the number is not big,

it

is indeed a sigVifcant numbel

for

laborforce with high education back-gyound.

This research wqs intenfud to

(l)

identifl the root of problems of

unem-ployment in Indonesia, (2) to make invenlory of some policy alternatives

to solve the prohlem of educated unemployment, and (3) to formulate recommendations on policy implementalion to onswer the problem.

l.l.

Intisari

dan

judul

penelitian

Selama

ini

penelitian-penelitian

tentang pengangguran, khususnya tentang

pengangguran

terdidik

masih belum banyak di lakukan. Penelitian-penelitian

tentang

pengangguran

yang

banyak

dilakukan adalah penelitian yang sifatnya

deskriptif. Unsur kebaruan yang melekat

dalam penelitian

ini

adalah

pada

tinjauannya yang

menyeluruh

dan

pendekatan

atau analisisnya

yan g

menggunakan metode analisis kebijakan

publik.

Adapur

judul

analisisnya rnenggunakan metode analisis kebijakan publik. Judul penelitian ini adalah,4zalisis Keb

ijakan

Penanganan

Masalah

P e nganggura n Terdid i k d i Indon r s i o.

1.2.

Tujuan

Penelitian

Penelitian

ini

dilakukan dengan

tujuan untuk:

IDEA EDISI 06 TAHUN 1420 H / 1999 M

a.

Mengidentifikasikan akar

per-masalahan pengangguran terdidik

di Indonesia.

b.

Menginventarisasi

a

lternatif-alternatif kebijakan penanganan pengangguran terdidik

di

Indone-sia.

c.

Merumuskan rekomendasi ke-b ij

akan

penanganan masalah

pengangguran terdidik

di

Indone-s ia.

1.3.

Hipotesis atau

Keterangan

Empiris

Yang

Diharapkan

Setelah penelitian

selesai diharapkan akan diperoleh penjelasan

tentang akar permasalahan pengangguran terdidik

di

Indonesia dan rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan untuk

menanganinya.

(2)

1.4.

Metode

Penelitian

Penelitian akan dilakukan dengan menggunakan metode aDalisis kebijakan

publik

dengan

mengikuti

pedoman-pedoman yang telah dibuat oleh William

N.

Dunn. Data

akan

dikumpulkan dengan memaksimalkan pemanfaatan

teknik pengamatan langsung dan data sekunder.

Bahan atau materi yang akan diteliti

adalah:

a.

Data

sekunder

yang

tersedia

tentang

pengangguran

dan

pengangguran terdidik

di

Indone-sia.

b.

Aspek-aspekmanajerialpengelola-an pengangguran terdidik di

Indo-nesia.

c.

Hasil-hasilpenelitianterdahulu

yaug relevan.

Analisis akan dilakukan dengan

mempergunakan

metode

analisis deskriptif yang biasa dilakukan dalam penelitian-penelitian yang memanfaatkan metode penelitian

kualitatif.

Metode

deskriptif

ini

dilakukan

dengan

berpedoman pada buku yang ditulis oleh Matthew Miles dan A.M. Huberman yang diberijudul Qualitative Data Analysis: a

Source Book ol New Method.

Latar

Belakang Masalah

2.1.

Deskripsisituasi permasalahan

Pembarrgunan nasional 25 tahun

pertama

yang dikenal

dengan

Pernbangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT-I) telah mampu mendorong status Indonesia sebagai salah satu negara miskin

di

dunia dengan produk Produk

Domestik Broto (PDB) per kapita sebesar

US$ 65 dan pada tahun 1960 menjadi

negara berpenghasilan menengah dengan PDB per kapita lebih besar dari US$ I 000

padaakhir 1995 (Effendi, 1996:

l2).

Akan

tetapi keberhasilan dibidang ekonomi irri

belum

diikuti

keberhasilan pada sektor tenaga

kerja.

Masih

tingginya

angka pengangguran sejak awal Orde Baru, menunjukkan bahwa sektor ketenaga-kerjaan belum tertangani dengan baik

seperti halnya bidang ekonomi. Menurut

]lokrowinoto (19E7:109) dalam periode antara

l97l

-

1976

terjadi

perluasan kesempatan

kerja

9

juta,

sedangkan tingkat pengangguran hanya meningkat

sebesar 5o%, yaitu dari 2,22Yo meryadi

4,01olo. Menurut Latif( 1993:256) tingkat

pengangguran

secara

n as iona I

berdasarkan pengertian konvensional pada

tahun

l99l

sebesar

2,6

persen. Penganggura konvensional

di

Indonesia

dilihat dari

tingkat

pendidikan, umur, dan lokasi. Bahkan diperkirakan pada repelita

VI

menjadi 3,26 persen atau 3,01 ilota orung (Latif,

1993:254).

Dalam

Tabel

I

dibawah

ini

disajikanjumlah

pengangguranterbuka

di

Indonesia dalam kurun

waktu

1989

sampai dengan 1995. Pengangguran terbuka adalah penduduk usia kerja: (

l)

yang belum pernah bekerja dan sedang mendapatkan pekerjaan; (2) yang sudah pernah bekerja, namun karena sesuatu hal

berhenti atau diberhentikan, dan sedang berusaha memperoleh pekerjaan; (3) yang

dibebastugaskan, ba

ik

akan dipanggil kembali atau tidak, tetapi sedang berusaha

untuk mendapatkan pekerjaan.

(3)

Tabel 1.

Tingkat Pengangguran Terbuka (open unempkryment) Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 1989 dan 1995

No Tingkat Pendidikan

Tahun 1989

Mencari Persen cari

Tahun

1995

Laju (%)/Th

Mencari Persen

cari

Pekerjaan

0,'18 0,57 1,48 0,90 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

Tidak/Belum pernah skl

TidaUBelum tamat SD Tamat SD

Sub Jumlah Tamat SMTP Umum

Tamal SMTP Kejuruan

Tamat SMTA Umum

Tamat SMTA Kejuruan

Sub Jumlah

Tamat Oiploma Ull

Tamat Dploma lll/Akad Tamat Universitas

Sub Jumlah

21781

114 577 394.014

534.372

283 139 50 215 719 053 377.989

1 430.396

'18.096

39 317 61 007

1t8 420

4,85

5,1 1

't6,87 9,87 9,59 7,11 7,25 10,93 8,74 176.869 673 821

1 692 532

2 543.222 948 376

72.539

1.556 620

725.841

3.303.376

46.220

1'16 970

241 413

404 603

1,79 3,32 5,95 4,U r0,29 8,85 18,09 12,36 13,48 I,12

t 1,9/r

13,51 12,36 41,77 33,57 27,50 29,70 22,32 6,32 13,74 11,49 14,97 16,92 19.93 25,76 22,73

2.083.188

2,76

6.251 201 7,24 20,10

Sumber. Sakcrnas 1989 dan SUPAS 1995, Bito Pusat Statistik (Diolah)

Berdasarkan data SUPAS 1995.

tingkat

pengangguran terbuka secara

umum untuk semua jenjang pendidikan mencapai 7,24 persen dari total angkatan

kerja 80,1 juta orang (Kompas, 4 Maret

1997). Dengan dernikian, ada sekitar 6,2

juta

orang lndonesia yang menganggur

secara terbuka.

Tingginya

angka pengangguran

ini

disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan angkatan

kerja yang tinggi. keselnpatan kerja yang terbatas, maupulr karena tenaga kerja ini akibatnya akan men imbulkan berbagai

darnpak terhadap kehidupan sosial dan

ekonomi, yang menurut

Latif

(1993:6),

antara lain:

l.

Tingkat

ketergantungan untuk

menjadi pegawai atau karyawan

or-ang lain sangat tinggi.

2.

Mobilitas relatif

rendah, karena

pada um umnya angkatan kerja

IDEA EDISI06 TAHUN I42O H / 1999 M

yang berpendidikan rendah dan kurang terampil. tidak mempunyai

keberanian untuk mencari kerha ke daerah lain.

Kurang

birinisiatif,

takut

rnengambil resiko, sukar rnand iri, kurang dapat

melihat

wawasan

yang

luas

dan kurang

mampu

rn emanfaatkan peluan g.

Produktivitas kerja rendah, baik dilihat dari

segi

jam kerja efektif

maupun dari segi hasil kerja dan pendapatan.

Lebih

rnengandalkan k ekuatan

fisiknya dari pada daya

pikir

dan

kemampuan

inte lektua lnya. sehingga hanya mampu ditugaskan

pada pekerjaan manual dengan

sistem

kerja dan

peralatan sederhana.

Dengan kualitas yang rendah maka

115

3.

[image:3.595.56.444.48.659.2]
(4)

kesempatan kerja yang mereka

rnilikj

rnenjadi sangat sernpit dan terbatas pada

bidang-bidang terlentu saja. Akan tetapi

kondisi ini tidak hanya menimpa angkatan kerja yang lulusarr pendrdikannya rendah karena ternyata masih banyak pula lulusan

pendidikan

tinggi yang

belunr

rrendapatkan kesempatan

kerja

atau rnasih urenganggur.

Kecenderungan yang terjadi selama

ini

berkaitan dengan tingkat pendidikan tenaga kerja menyebabkan kurangnya tenaga kerja ahli

di

lapisan atas, tetapi

rrengalami kelebihan tenaga kerja di lapisan bawah. Strukturtenaga kerja lebih berat ke bawah dengan mayoritas tingkat

pendidikan tenaga

kerja

berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah. Dari

total angkatan kerja sejunrlah E0,l juta

orang, angkatan kerja dengan pendidikan

SD ke bawah 56,0juta orang atau sekitar

6,9 persen. Sedangkan

jumlah

tenaga

kerja berpendidikan diploma l,32juta or-ang atau sekitar 1,65 persen (Rochani,

1997:

17).

Dari

angka-angka tersebut nampak bahwa

tingkat

pengangguran pada lulusan pendidikan

tinggi

masih

tinggi angkanya, terutama pada tamatan universitas.

Tingkat

pengangguran terbuka

pada angkatan kerja berpendidikan tinggi

tercatat 12,4 persen

daritotal

angkatan kerja. Sehingga

jumlah

pengangguran terbuka pada kelompok terdidik 404.000

orang, baik tingkat sarjana (S'l) maupun

diploma

I

sampai

II.

Jumlah tingkat sarjana yang menganggur total 241 -000

( 1 3,5 persen), sedangkan pada tingkat d

i-ploma

III

sekitar

I

17.000

orang

( I l.9persen) dan Diploma

l/ll

46.000

or-ang (9,1 persen).

Diproyeksi sampai akhir Repelita

VI

(tahun 1998), angka pengangguran

potensial diperkirakan sebesar 4,2%o dari

seluruh angkatan kerja yang tersedia.

116

Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan selama masa Repelita

V

yang

hanya mencapai 3,2To (Suryadi, 1996:7 3).

Tuntutan sektor-sektor industri terhadap kualitas keahlian dan keterampilan tenaga

kerja

terdidik yang

sernakin

besar

cenderung mengakibatkan

mak in besarnya

pengangguran

terd id ik.

Melihat

tingginya angka proyeksi ini

maka perlu dilakukan tindak lanjut untuk

mengantisipasi permasalahan

peng-angguran tersebut.

2,2.

Ilasil

pemecahan masalah

terdahulu

Mengenai

strategi

mengatasi

masalah pengangguran

yang

pern ah dilakukan selarna ini lebih bersifatumum,

dalam arti tidak hanya khusus dilakukan

pengangguran

terdidik

-

terutama

lulusan perguruan

tinggi

-

terutama

adalah reformasi pelatihan. Reformasi ini

bertujuan untuk menyed iakan tenaga kerja terampil, berpendidikan dan fleksibel

secara tepat dan cepat sesuai dengan

kebutuhan pasar kerja; meningkatkan

produktivitas tenaga kerja agar hasil produksi dapat bersaing

di

pasar dalam

dan

luar

rregeri,

dan

meningkatkan pendapatan serta iklinr kerja (quality

of

working

life)

dari tenaga

kerja

yang

bersangkutan (LatiJ I 993 ; 26

l).

Selain itu upaya dilakukan adalah pengembangan usaha mandiri profesional.

Strategi dilaksanakan dengan memberi

pelatihan mandiri pada kelompok sasarar

masyarakat

terdidik dengan tingkat

pendidikan

SLTA

dan

sarjana,

dau

memberi bantuan usaha untuk memulai bekerja secara mandiri

(initial

invest' menl). Dampak dari pembentukan tenaga

kerj

a

pernuda

mandiri

profesional

diharapkan dapat memperluas lapangan

kerja

secara berantai

yang

awalnya

merupakan usaha kecil dan selanjutnya

(5)

dapat dikembarrgkan rnenj ad

i

usaha menengah.

Strategi

penempatan langsun g

melalui sistem reformasi dan bursa tenaga kerja terpadujuga pemah dilakukan dalarn

rangka mengatasi rrasalah penganguran

ini. Program penempatan kerja langsung

ini

berkaitan

erat

dengan

program

pemagangan dan sistem refonnasi bursa

tenaga kerja terpadu. Dengan informasi

pasar kerja. memungkinkan para pencari

kerja meningkatkan mobilitasnya dalam rangka

mengisi

kesempatan kerja di daerah lain.

Usaha lain yang pernah dilakukan adalah peningkatan ekspor jasa tenaga

kerja.

Hal ini

dilakukan dengan cara rnengirimkan tenaga kerja profesional

keluar negeri, dan rnerupakan upaya untuk rnendatangkan devisa bagi negara sebagai ekspor non-migas. Untuk mendukung hal

ini

diperlukan pelatihan khusus sesuai dengan tingkatan profesional isme tenaga

kerja yang ditujukan untuk mendukung

program ini.

l.Jsaha lain yang pema.h pula dirintis

adalah pengembangan usaha agro bisnis. Bersama dengan instansi teknis terkait,

Depnaker menekankan usaha ini terutama

di

daerah pedesaan

untuk

nrengurangi

pengangguran terdidik. Pengembangan usalra agro bisnis ini dapat bersifat skala

industri kecil menengah.

Di

sini upaya yang dilakukan hendaknya mengarah

pada

peningkatan

efisiensi

dan

produktivitas sehingga

akan

rn e rr in

gkatkan

pencapaian

output

pertanian yang telah ditargetkan dan

peningkatan

pendapatanmasyarakat

pedesaan

terutama

untuk

yang berpendidikan

relatif

rendah. Dengan pengembangan agro bisnis akan lahir

unit-unit ekonomi yang mampu berdiri sendiri

dan

menjad

i

kekuatan

ekonomi

masyarakatdi

pedesaan.

IDEA EDISI06 TAHUN 1420 H / 1999 M

Sedang upaya lain yangjuga pernah

dilakukan adalah pengembangan usaha keluarga. Upaya ini dilaksanakan dengan

mendorong para tenaga kerja terdidik

untuk melanjutkan usalra keluarga yang dimiliki orang tuanya. Dengan tambahan latihan terampil bisnis, diharapkan mereka dapat rnengernbangkan, modernisasi dan meningkatkan usaha keluarganya. Dengan

demikian

disini

tidak hanya masuk ke pasar kerja tetapijuga dapat memperluas

kesempatan kerja.

Lingkup

dan

Inti

Masalah

3.1.

Penilaian dan hasil kebijakan terdahulu

Melihat permasalahan yang terjadi

bahwa

mas

ih

tingginya

angka

pengangguran terdidik sampai saat ini.

dan nampaknya masih akan terus terjadi

sampai awal Repelita ketujuh nanti maka harus segera diupayakan kebijakan untuk mengatasi masalah pengangguran ini.

Berbagai kebijakan yang

pernah

di

putuskan

untuk

menangani masalah

pengangguran terdidik seperti yang telah

diungkapkan diatas nampaknya perlu

dibenahi dalam beberapa hal.

Tarnpilan

data

statistik

dalam

Tabel 2

menunjukkan bahwa untuk

penduduk berusia angkatan kerja (yang digolongkan pada umur l0 tahun ke atas)

yang bekerja manurut

9

(sembilan)

lapangan usaha, ternyata mayoritas masih terdapat

di

sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan. Baru setelah itu

disusun bidang perdagangan serta bidang

listrik,

gas dan

air

masih menetnpati nomor satu dan nomor dua dari bawah atau urutan ke 8 dan 9. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa untuk

jenis

pekerjaan

di

sektor industri dan sejenisnya masih menyerap tenaga kerja

yang sedikit sekalij um lahnya, yaitu hanya

(6)

0.8Vo dan 0,27Yo alau dibawah l% dilihat secara keseluruhan.

Meskipun demikian menurut data dari Departemen Peridusrian seperti dikutip

|^3i,if (1993 :257 ) lemyata penyerapan tenaga kerja sektor industri kecil rnenengah relatif lebih besar dibandingkan industri besar. Data rnenunjukkan bahwa industri

kecil-rnenengah menyerap 7,0% juta orang pada

tahun

1993, sedangkan

industri

besar

menyerap hanya 3,3 juta orang pada tahun

yang

sama.

Tetapi data

penyerapan

tambahan tenaga kerja

di

sektor industri

selama Pelita

V

menunjukkan tambahan kesempatan kerja kurang lebih untuk 2,47

juta orang.

9.

Jasa kemasvarakatan, sosial dan perorangan

3.2.

Kadar situasi permasalahan

Gambaran permasalahan yang akan

dihadapi oleh pihak perguruan tinggi di

rnasa depan adalah:

a)

Meningkatkan jumlah lulusan Perguruan Tinggi mulai dari

tingkat diploma/D

I

sampai

dengan tingkat Univers itas

Peningkatan

jumlah

lu lusa n

pendidikan

tinggi

ini

apabila

tidak

diimbali

dengan

jumlah

penyed iaan

Tabel 2

Penduduk Berusia 10 Tahun ke Atas yang Bekerja

Menurut

Lapangan Usaha dan Tingkat Pendidikan

Talnat Pendidikan

Diploma l/ll

Akademi l/D ll

Llniveasilas

13 060 2.583 21925 1957

2,44./o 0,56% 4,760h O,43./,

23.874 9 09S 99318 6106

2.77./6 1.06./6 11.52% O.710/o

6 426 27 975 6 1E5 13 517 366 719 460.317

1,1Ov. 6,Oa% 1,34"/o 2,94o/o 79,66% 1OO%

30188 105770 2A774 73.-744 4A5413 862286

3,5OVo 12,27o/o 3,U% a,556/. 56,29'/. l00lo 74074 165.540 33396 105167 967 902 1460347

4,79"/0 10,72% 2,19"/. 6.aO./. 62,630/, 100%

51.E19

3,35%

15 687 211 927 I 195

1,03% 7,A90/6 0,59./0

Total (o/o) 43,98% 0,80% 12,64"k O,27"/" 4,7% 17,330h 4,32./s 0,42y. 15,13%

Sumber: Sun'ei Penduduk Antar Sensus 1995, BPS

Catalan: lapangan usaha

tersebut

lapangan

kerja

atau

pemberian

meliputi:

kesempatan kerja tentu saja akan menjadi

l

Pertanian, kehutanan,

perburuan

penganggur.

Di

Jawa/Bali saja lulusan

dan

perikanan

universitas sebanyak 34 persen, sedangdi

2.

Pertambangan dan

penggalian

luar Jawa/Bali angkanya sebanyak

l2

3.

Industri

pengolahan

persen dalam kead aan menganggtr (LatiJ,

4.

Lishik, gas dan

air

1995:88). Persentase pengangguran

5. Bangunan

terbuka

yang

berpendidikan

tinggi

6.

Perdagangan besar, eceran,

rumah

mengalami kenaikan yang berarti untuk

makan dan

hotel

tingkat

akademi mengalami kenaikan

7.

Angkutan,

pergudangan

dan

l

l00lo selama l4tahun,yakni dari 1,560/o

komunikasi

padal976

menjadi3,28o/o pada tahun

8.

Keuangan,

asuransi,

usaha

1990. Sedangkan untuk tingkat universitas persewaan bangunan dan

tanah,

mengalami kenaikan 317%o selama 14, danjasa

perusahaan

yakni dari

0,41o/o pada 1976 menjadi [image:6.595.56.447.40.689.2]
(7)

3,58To pada

tahun

1990 (Prasodjo,

l993:63). Tinggirrya angka tersebut bisa

d isebabkan karena adanya ledakan lulusan

SLA. Tetapi studi

yang

studi

yang

dilakukan Remi Clignet

di

Afrika

rnenuniukkan bahwa semakin terd id ik

seseorang, seln akiD besar harapannya

padajenis pekerjaan yang aman. Pekerja

terdidik lebih

suka bekerja

pada perusahaan besar daripada membuka usaha

sendiri.

Mereka

menilai

tinggi pek€rjaan yang stabil daripada beresiko

tinggi

(ibid). Lebih rinci lagi data yang

nampak dalam

tabel

3

menunjukkarr tentang kelulusan yang terserap dalam

lapangan

kerj

a

rnenurut

bidang

pendidikannya.

1488-676x100%

3) Th.1986 : = 12o.12ok

676

Jumlah

= 12'l.75ok

Rata-rata

jumlah

lu lusan universitas yang

tidak

terserap dalarn lapangan kerja rneuurut bidang pasti alam dan teknologi adalah:

151.7 5010

= 50,58%

J

Sedangkan untuk bidang-bidang sosial dan kependidikan pada kurun waktu yang sama, diperoleh persentase sebagai berikut:

12.980-4513x'l0o%

'r)Th.1984:

= 3.22o/o

45'13

Tabel 3

Lulusan

Universitas yang Tidak Terserap dalam

Lapangan

Kerja

Menurut Bidang Pendidiksn

(Iahun

l9Eli - l9E6)

Bidang

Pendidikan

1983 19M 1985 1986

Pasti alam

Teknologi Pertanian Kesehatan Sosial Kependidikan Lain-lain

159 416

1 055 430 3.050 196 159

1 16

7U 895 356 10.727 860

1 393

169 507 1.818 316

9.966 3 175

1355

227 1.211

't.706

414 10.054

2.664

1.004

Sunbcr: BPS 1990/1991

Dari tabel 3

di

atas dapat dilihat persentase kena ikan

jumlah

lulusan perguruan

tinggi

yang

tidak

terserap

lapangan kerja rnenurut bidang pasti alam

dan teknologi dari tahun 1983

-

1986 adalah:

900-575x100%

=

575

13.398-12.980x'100%

2) Th.1985 : -- 2,420/0

= 2A2%

3) Th.1986 :

12.980

Jumlah = 193,25%

Rata-rata

jumlah

kenaikan kerja

yang tidak terserap lapangan kerja bidang sosial dan kependidikan adalah:

119

13.398

13.722-'t3.398x100%

1) Th.1984 ;

2) Th.1985 :

56,520/o

696-900x 100%

= -24,89% 900

[image:7.595.59.449.42.675.2]
(8)

193.25Vo

= 64,42Vo 3

Melihat hasil perhitungan

di

atas nampak bahwa untuk bidang-bidang non

eksakta (sosial dan kependidikan) pe-ningkatan jurn lah tenaga kerja yang tidak

terserap lapangan

kerja lebih

besar

angkanya dibanding yang tidak terserap

dari

bidang eksakta

(pasti

alam dan

teknologi), yaitu 50,58%

:

64,42Yo. Hal

ini

disebabkan karena jumlah kelulusan

di

bidang sosial, kependidikan maupun humaniora sudah sangatjenuh, karena dari tahun ke tahun kebanyakan program studi

baru yang

didirikan

di

perguruan-perguruan tinggi swasta khususnya lebih banyak bidang norr eksakta.

Melihat angka peningkatan yang sedernikian besarnya maka pemerintah

dalam

hal

ini

harus

mengusahakan

penurunan angka-angka tersebut terutama untuk bidang-bidang pendidikan yang

sudah

terlalu

banyak

menghasilkan lulusan seperti bidang sosial maupun lrumaniora. Dengan menurunkan jum lah

pengangguran

berarti

juga

akan rnenirrgkatkan kesejahteraan penduduk.

Sehingga

persentase antara jum lah

penduduk dengan jum lah pengangguran-nya tidak terlalu mencolok perbedaannya. Sebagai perbandingan pada tahun

1995

jumlah pencari kerja

lulusan perguruan tinggi di Jerman adalah sekitar

200.000 orang (dari 80juta penduduk) dan

di

Perancis 400.000 orang (dari 60 juta

penduduk), sedang di Indonesia (dengan 200.000 juta penduduk) terdapat 400.000

lulusan perguruan tinggi yang mencari

pekerjaan (Hadihardaja, I 997 : 5).

b)

Meningkatnya jutnlah

pengang-gyran

lerdidik poda bidang sosial/hunaniora di satu sisi tupi

di

sisi lain jumlah tenaga kerja

di

b idang t e kn o I ogi/ in dus tr i j us t ru kumng

Tingkat pengangguran ini justru menimbulkan kontroversial karena di satu

sisi bidang

industri

manufaktur justru

sangat memerlukan tenaga terdidik dalam

jurnlah cukup besar. Sedangkan tenaga

kerja

terdidik yang terserap di bidang

ini

lrarrya 8To.

Dari

sekitar I,545 jLrta tenaga berpendidikan sarjana hanya 121.000 orang yang masuk ke sektor industri atau hanya sekitar 7,89 persen. Sebagian besar (967.000 sarjana atau 62,6 persen) tenaga kerja terdidik masuk ke

dalam bidang

pekerjaan

j asa

kemasyarakatan,sosialdan perorangan

yang produktiv itasnya rendah. Padahal

diketahui bahwa sektor industri menjadi

tulang

punggung

dan

pendorong pertumbuhan ekonomi pada Repelita VI. Lebih jauh lagi dapat dilihat angka proyeksi kelebihan dan kekurangan jumlah pengangguran sarjana (S I ) pada Repelita VI.

l-ebih jauh lagi dapat dilihat angka proyeksi kelebihan dan kekurangan jumlah pengangguran (Sl ) pada Repelita Vl.

Tabel 4. Proyeksi Persediaan dan Kebutuhan Tenaga

Kerja

Menurut Tingkat Pendidikan, 1994-1998 (dalam Rupiah)

Tinqgal Pendidikan Angkatan Kerja Kesempatan Kerja Keseimbangan

1

3 5 6 7 8

TS

TTSD STSD TSLTP

TSLTAU

TSLTAK Tdiploma Tslrala

") 10r5,6

4 472,4 1 885,9 3 360,8 1 582,5

613,0

-527,27)

1.073,8 5 869.1 2 085,1

1748,0

1.509,3 544,7 340,8

527.7 50,2 -1 396,3 .199 2

r 612,8

73,2

.305 4

94,6 904 192.3 104.0

439

179,9 13 169.9 1? 643,1 104 2

Sumber: studi Proyek Kesempalan Kerjo selamo Repelita l'1, Bappenas 1992

(9)

*)

Diperkirakan kesernpatan kerja

untuk

peker.ia

yang

tidak

bersekolah

terus

trlenurun.

Penurunan ini d iperkirakan sekitar

528 ribu orang selarna repelita VI.

**)

Persediaan angkatan kerja tidak sekolah diperkirakan masih ada

tetapi .jurnlahnya sangat kecil dan

telah

digabungkan

ke

dalam kategori tarrat SD.

Dari angka proyeksi persediaan dan kebutuhan tenaga kerja menurut tillgkat

pendidikan

di

atas

maka

daPat disimpulkan bahwa pada level strata

-tidak diperinci apakah Strata

l,

52 atau 53

-

angka perbandingannya sangat

besar. Sehingga jurnlah angkatan kerja

yang

tinggi tidak

diimbangi jumlah

kesempatan kerja yang tersedia.

1994), dengan komposisi

tingkat

kejenuhan pada lulusan IPS dan terjadi

kekurangan pada

bidang sains

dan

teknologi (lPA) kecuali untuk bisang studi

di

lingkungan fakultas Pertanian dan Perikanan yang kira-kira sampai dengan

repelita ke

Vll.

Proyeksi terakhir memperlihatkan

pertumbuhan tenaga kerj

a dibidang

manufaktur lndonesia akan tumbuh dari

12,2%o pada tahun 1993/1994 menjadi

45%o pada tahun 2019, sedaDgkan tenaga

kerja di sektor pertanian diproyeksikan akan menyusut dari 48,2%o pada tahun

1993/1994 rnenjadi l0% padatahun 2019

(Djojodihurdjo,

1994).

Hal

irri

menunjukkan

bahwa

laj

u

derap pembangunan, masyarakat I ndones ia yang menguasai

ilmu

pengetahuan dan

Tabel 5

Proyeksi Kelebihan dan Kekurangan

Jumlah Pengangguran Sarjana

(Sl)

pada Repelita

VI

Bidang llmu

Persediaan

Kebutuhan Presentase

llmu Pend. & Keg Kesenran & seni Rupa

Humanisme llmu Sosial/Perilaku Adm Perush & Keu-an Hukum dan Kehakiman lmu-rlmu Murni

Teknik

Pertan, Kehut & Perikanan

Ko Massa & Dokum

451 645 2.922

41.663 435.689

58 367 266.618

5 563

125181 92 129 6 253

434 72a

982

12.922

114.871 61 979

40 125 263.795 133.650 2 347

+O4o/o

+66o/" +69o/" +67ok

-06% +80% 490/"

+o7o/.

+7o%

+620/0

Sumber BPS 1990/1991

Prciyeksi ini ternyata terbukti dari hasil sensus pendrrdrrk I 980. SUPAS I 985

dan Sensus Penduduk 1990 menunjukkan .juLrlah tenaga sarjana dan SO 1'ang

berstatus sebagai pencari kerja terus nreningkat persentasenya yatlg

berturut-turut

5.50%. 10,5% dan 15,5o% bahkan

diproyeksikan sampai dengan Pelita VI masih sekitar 79,90% tenaga lu lusan strata

I

yang akan mengattggur (Joyonegoro.

IDEA EDISI 06 TAHUN 1420 H / 1999 M

teknologi makin

besar

jumlahnya,

sehingga

teraga kerja

di

lndonesia

rneugalami transformasi ke arah yang

memiliki nilai tambah yang lebih tinggi

yaitu

sektor rnanu l'a k tu

r.

Selanjutnya penurunan jumlah tenaga keqia di sektor pertan

iarr

dapat

m emperlilratkan

peningkatan efisiensi dan pemanfaatan

ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ter.iad

inya

pengangguran dan
(10)

mengecilnya proporsi lulusan perguruan

tinggi

d a

larn

angkatan

kerja

menunjukkan adanya ketidakserasian antara kebutuhan tenaga kerja dengan hasil keluaran

dari

pendidikan tinggi (Soehendru. 1994:6).

3.3.

KebutuhanAnalisis

Untuk melihat perlu

t id akn ya

diadakan reformasi sistem pend idikan

tinggi

dalam mengatasi pembangunan

terdidik maka perlu dilakukan evaluasi

hal-hal berikut ini:

a)

Jumlah kesempatan kerja yang dibutuhkan khususnya di bidang

sains dan lelonlogi serta jumlah

angkalan kerja yang tersedia

Melihat

proyeksi kelebihan dan

kekurangan jurnlah sarjana pada repelita

\rl

maka

nampak

sekali

bahwa

perbandingan antara persediaan dan

kebutuhan tenaga kerja

di

bidang

ilmu-ilmu

nurni

dan

Teknik

masilr terasa sangat timpang. Urrtuk ilmu-ilmu Murni saja persediaan tenaga kerja sebanyak 5.563 sedangkan kebutuhannya 263.795, dan bidang Tekn ik persediaannya I25.1 8l

sedangkan kebutuhannya

133.650.

Dengan demikian memang masih sangat banyak diperlukan kebutuhan tenaga kerja

di

bidang-bidang tersebut. Lain halnya

dengan bidang-bidang

sosial

dan

human iora

justru jumlah

persediaan

tenaga kerjanya banyak tetapi kebutuhan

yang diperlukan hanya sedikit. Rata-rata

jurnlah kebutuhan hanya sebanyak 25olo

d iband ing banyaknya jumlah persediaan tenaga kerja yang ada. Dengan dernikian

rremang sudalr saatnya diperlukan adanya

suatu kebijakan dan bertujuan untuk menghambat atau mengurangi jumlah

lulusan

yang sudah

jenuh,

sehingga

rnenambah jum lah pengangguran terdidik danmeningkatkan jurn lah lulusan yang

122

memang masih sangat diperlukan untuk

menghadapi era globalisasi di masa-masa yang akan datang.

b)

Terjadinyoketidakseimbangon

tcnaga keria antara scktor industri dengan scktor jasa

Dari sekitar

1,545

juta

tenaga berpendidikan sarjana hanya ada sekitar 121.000 orang yang masuk ke scktor industri atau hanya sekitar 7,89 perserr. Sebagian besaran (967.000 sarjana atau 62,6%o) tenaga kerja terdidik masuk ke

dalam pekerjaan jasa kemasyarakatan,

sosial dan

perorangan

yaug

produktivitasnya

rendah.

Angka

ini

apabila diproyeksikan rnaka sekitar

l0

tahun lagi, dengan tingkat pertumbuhan taia-tata per tahun sebesar 3o% maka

jumlah

tenaga kerja yang terserap di

sektor

industri

akan

dihitung

dengan

menggunakan

rumus

pertum buharr

Pt = Po

(l

+ 0n.

Pt = Po

(l

+ 0.03) 10

=

l2l

.000 (

I

+ 0.03) 10

=

12r.000(1.03) r0

:162.613,88

Dengan mengetahui

j um lah

perhitungan proyeksi di tahun 2005 (1995

;

l0)

maka

jumlah

tenaga kerja yang

terserap di sektor industri atau maDufaktur

diharapkan akan rnenjadi l0,53Yo dari

seluruh

tenaga

kerja

berpen d id ikan sarjana. Seh ingga

terjadi

penambahan 2,64 dibanding saat ini.

Perumusan

Masalah

4.1.

Delinisi Masalah

Untuk membuat suatu perumusan

masalah yang dihadapi kebijakarr in i,

maka akan digunakan metode analisis hirarkhis, yaitu teknik atau cara untuk

mengidentifikasikan

faktor- fa kto r

penyebab utama

muncu

lnya

(11)

masalahan dalam pelaksanaan kebijakan

relormasi sistem pendidikan tinggi. Adapun skema yang muncul dari

permasalahan kebijakan reformasi sistem pendidikan tinggi adalah sebagai berikut:

banyak memerlukan tenaga kerja. Dengan dernikian faktor inilah yang dapat dirubah

untuk

mengatasi

perm asalahan

penganggurarr terdidik.

Sedangkan permasalalran keci lnya

I

",",n a

',r',ra""

I

I

"**t"t""

I

lpendidil€n tinqqr rendah

-l

*.otJ

Dari skerna

di

atas, dapat

di

lihat

bahwa masalah penyebab tingginya angka peflgangguran terdid ik adalah karena:

l.

Produktivitas rendah sebab bidaug

pekerjaan yang dimasuki adalah

bidang

jasa,

sosiai

maupun

perorangan.

2.

Adanya ketidaksesuaian antara bidang ilmu yang dikuasai dengan

bidang

ilmu

yang

d iperlu kan tuntutan kerja.

3.

Adanya

kecenderungan untuk

terlalu

memilih-milih

pekerjaan,

karena rnerasa sebagai lu lusan

berpendidikan.

Apabila

dilakukan telaah leb ih

lanjut,

maka ketiga

faktor

diatas

merupakan penyebab

yang

rn un gkin

terjadi Qtossihle czrarc) dalam masalah

pengangguran

terdidik

ini.

Tetapi bila

d itarn bah dengan pengalarnan penulis

dalam mengamati permasalahan selarna

beberapa talrun nraka ket idaksesuaian

bidang ilmu nampak sebagai penl,ebab

yang paling rrrasuk akal dan merupakan

nrasalah

utarn

a

dalam

kebijakan mengatasi perrgangguran terdidik ini. Kita

tahu besanrya angka pengangguran adalah

terletak pada lulusan pendidikan ringgi

dari bidang ilmu sosial dan humaniora. padahaldi satu sisidiketahui bahwa untuk

bidang sains dan teknologi justru masih

IDEA EDISI 06 TAHUN 1420 H / 1999 M

EI@tffii

penyerapan tenaga kerja yang ada juga merupakan masalah yang masuk akal dan menjadi masalah yarrg dapat dirubah

(acti ona

I

cause). Kecilny a penyerapan

tenaga kerja

ini

memang disebabkan karena adanya ketidaksesuaian bidang ilmu yang

dimiliki

dan yang dibutuhkan

pasar kerja. Apabila ketidaksesuaian ini sudah

dirubah

dalam

arti

dilakukan penyesesuaian maka jurnlah penyerapan tenaga kerja juga akan semakin banyak karena lapangan kerja juga diperbanyak.

Mengenai permasalahan terla lu

pilih-pilih

pekerjaan memang bisa juga menjad i penyebab sebab sehingga

seolah-olah

lapangan

kerja

dibatas. Apabila sudah sampai pada persoalan pilih-pilih

ini

memang

sudah

menyangkut

pertimbangan selera dapat

d iru bah

(inactional cazsc)

karena

salrgat

d itentukan pribadi masing-rnasing.

Dari

hasil analisis

hirarki

yang

dilaksanakan

ini

rnaka permasalahan utama yang dapat dirumuskan dalam

keb ij

akan

rnengatasi pengangguran

t€rdidik

ini

adanya ketidaksesuain di

bidang ilmu yang

dirniliki

dengan yang

dibutuhkan pasar ker.ja.

4.2.

Pihak-pihak yang berkompeten

Disini pihak-pihak yang

berkonr-peten untuk mempelajari, memahami,

(12)

membicarakan, membahas

dan selanjutnya menuangkan dalam agenda

kebijakan adalah:

a)

Di lingkat pusat

l. Menteri

Pend

idikan

dan

Kebudayaan

( Mend ik bud ) beserta staf terka;t sebagai le ud ing

r?clor

merupakan pelopor dan

pembuat kebijakan

untuk kern u d

ian

disebarluaskan

ke

seluruh

lembaga

pendidikan di

negeri

in

i.

Pendidikan

lebih

menekankan pada pembentukan kualitas dasar, pembentukan dan pengembangan kompetensi.

2.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker)

beserta

staf

terkait

akan berkoordinasi dengan Mendikbud

dalam pendataan, penempatan dan pelatihan tenaga

kerja

sebelum

memasuki dunia kerja.

3.

Menteri

Perindustrian

dan

Perdagangan

( M en perind ag) beserta staf disini akan memberi

masukan mengenai bidang-bidang

industri

dan manufaktur

yang masih memerlukan banyak tenaga

kerja.

5.

t.

Dirjen

Pendidikan

Tinggi

Depdikbud dengan stafnya akan

melakukan

pembahasan

dan menyusun petunjuk pelaksanaan

dari keputusan yang sudah dibuat

di level atas.

Direktur Perguruan Tinggi Swasta

( D

irgutiswa)

b€serta

staf

yang

terkait akan melakukan koordinasi

penyusunan

operasionalisasi

khusus untuk Perguruan Tinggi Swasta.

b)

Di

tingkat doerah

Koordinasi

Perguruan T inggi

Swasta

(Kopertis)

beserta staf

terkait

akan menyusun

operasi-onalisasi

di

lapangan, khususnya PTS.

2.

Badan Musyawarah Pergu ruan

Tinggi

Swasta

lndonesia

(BMPTSI)

akan

me laku kan

musyawarah di tingkat Perguruan

Tinggi

untuk

pelaksanaan SK Mendikbud.

3.

Rektor dan Pembantu Rektor I akan membuat kebijakan tentang jumlah penerimaan mahasiswa bidang

eksakta dan non eksakta.

4.

Dekan dan pembantu Dekan I akan melaksanakan keputusan atasan di tingkat fakultas.

5.

Lembaga

pendidikan informal

diminta untuk memberi masukan dan ide tentang bidang-bidang pekerjaan

yang masih

banyak diperlukan.

6.

Lembaga-lembagakemahasiswaan

di sini

diminta

untuk memberi

masukan tentang bidang pekerjaan

yang disenangi mahasiswa untuk

nantinya berkoordinasi dengan pengurus fakultas (dalam

hal

ini

Dekan

dan

PD I).

7.

Masyarakat dalam hal ini diwakili ormas-Ormas, lembaga pendidikan

kejurusan maupun

lem

baga-lembaga lain yang berkompeten di

bidang pendid ikan.

Apabila kebijakan

mengatas i

pengangguran

terdidik

khususnya

pendidikan

tinggi ini

nanti berbentuk

Keputusan menteri, maka skemanya dapat

d igambarkan sebagai berikut:

4.

(13)

Masyarakat

LPK-LPK ORMAS Lembaga MHS llmuwan

4.3,

Tujuan dan Sasaran

Tujuan yang ingin dicapai dengan

kebijakan sistern pendidikan

tinggi

ini

adalah:

a.

Mernberikan d isribusi kesempatan

ker.ia

bagi

lulusan

pend id ikan tinggi. Distribusi kesempatan kerja

ini

khususnya

ditujukan

untuk

lulusan

pendidikan

tinggi.

Terutama untuk wi layah-wilayah yang tennasuk maju tetapi karena

lokasinya

yang

jauh

m ungkin

dihindari para pencari ker.ia lulusan pend idikan tirrggi, sehingga sasaran rnereka mencari kerja hanya daerah

perkotaan atau kota-kota besar. Misalnya untuk Kawasan Timur

ln-donesia (KTI).

b.

Men ingkatkan

jumlah

lulusan

perguruan tinggi bidang sains dan

teknologi;

Se.ialan dengan

masih

ku rang

banyaknya tenaga kerja di bidang

ini.

rnaka yang

perlu

diternpuh

adalah upaya untuk meningkatkan

.iurnlah lulusan di bidang sains dan

teknologi, untuk rnengisi bidang-bidang yang diperlukan. Untuk itu perlu ditempuh kerjasama dengan

pihak-pihak industri.

c.

Mengurangi atau menekan.iumlah

IDEA EDISI 06 TAHUN 1420 H / 1999 M

lulusan perguruan

tinggi

bidang

sos ia

I

dan hulnaniora.

kerana

selarna

ini

telah

rnengalarni

kejenuhan.

Memeratakan agar

tidak

terjadi

lulusan tertentu menumpuk di suatu

tempat sedangkan di ternpat yang

lain tidak rnendapat tenaga kerja:

Melaksanakan azas keterkaitan dan

kesepadanan

(link

and

mttcth) dalarn sistem pendidikan.

Adapun yang

menjadi

sasa ra n

kebijakan reformasi sistern pend id ikan

tinggi

adalah mahasiswa

di

seluruh perguruan

tinggi

baik

negeri maupun

swasta. Di sini mahasiswa lebih diarahkan

untuk memilih program studi program

studi yang relevan dengan kebutuhan

pasar ker.ia.

4.4.

Ukuranefektivitas

Ukuran yang digunakan u ntuk

mengukur efektivitas reformasi sistent pendidikan tinggi ini adalah kemampuan

kebijakan tersebut untuk menciptakan suatu sistem yang konduktif

di

dalarn Perguruan

Tinggi

sehingga mampu

menyeleksi calon-calon mahasiswa yang berkualitas sehingga pada akhirnya nanti

lulusan yarrg dihasilkan

juga

rnarnpu memenulri tuntutaD pasar ker.ia dan profesional dibidangnya. Selain itu.juga

hanya membuka program studi sains dan

teknologi

untuk

mengantisipasi

kekurangan tenaga kerja

di

bidang ini. Apabila ini terjadi maka diharapkan akan dapat mengurangi .jum lah pengangguran

terdidik (ed ucated unc mploymant'1.

4.5.

Potensi pemecahan

Potensi-potensi

yang

dapat

meldukung pemecahan permasa lahan

tentang rnasih tingginya

.iunr lah

pengangguran terd id ik adalah:

a.

Pucnsi Fisik

125

(14)

l)

Adanya masing-masing

ciri

khas

yang

dimiliki

oleh suatu daerah yang dikembangkan dalam rangka

menciptakan lapangan kerja yang sesuaidengan kebutuhandaerah.

Misalnya untuk

daerah

yang

mayoritas wilayahnya

ad a lah

pantai rnaka dapat

rrengembangkan Fakultas atau

Program

Studi

kelautan

dan

pelayaran.

2)

Perguruantinggi-perguruantinggi

di

daerah dapat memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam yang

dimiliki guna

mendukung berlangkungnya proses be lajar

rn engajar.

b.

Potensi Situasi

I

)

Sejalan dengan tujuan Pembangun-an Jangka Panjang Tahap

ll

untuk

meningkatkan

kualitas

sumber

daya

manusia, maka

sistem

pendidikan

yang

d ic iptakan

hendaknya

terkait

dan sepadan

dengan masa depan yang akan mengalam

i

perubahan

dan perkembangan m en.jad

i

negara industri.

2)

Dalam

upaya menghadapi era

tinggal

landas,

globalisasi

dan perdagangan bebas. Indonesia

harus mampu menciptakan

produk-produk yang berteknolog; tinggi

dan

mampu bersaing

di

pasar

internasional.

O

leh

karenanya

faktor kuncinya terletak pada sektor pend idikan.

c.

Polensi Organisasi

Dapat dikoordinasikan

lembaga-lembaga

yang bergerak

di

bidang

pendidikan

tinggi

khususnya untuk

menyumbangkan saran dan gagasan tentang sistem pendidikan

tinggi

yang

diterapkan di Indonesia.

126

d.

Potensi Politik

Melihat kebijakan reformasi sistem pendidikan tinggi yang akan dilaksanakan

ini maka secara politis rnemiliki potensi

besar

urrtuk dapat

mem ecahkan

permasalahan rnengatasi pengangguran

terdidik. Tentu sa.ja disin i perlu didukung

dari pemerintah dan keterlibatan berbagai

pihak sehingga akhirnya kebijakan akan berhasil dengan dukungan

dari

pihak

mayarakat.

Dengan melihat analisis terhadap

potensi-potensi

di atas,

maka

kemungkinaan

untuk

melaku kan

kebijakan reformas

i

dalam kebijakan

reformasi dalam rangka memecalrkan

masalah yang dihadapi semakin besar.

Alternatif

Kebijakan

5.1.

DeskripsiAlternatif

Dalam rangka mengatasi masalalr pengangguran, khususnya pengangguran

terdidik

akan ditempuh

tiga

alternatif

kebijakan, yaitu:

Alternatif I:

Memberikan yang

lebih besar pada Perguruan Tinggi dalarn menyusun kurikulum program studi yang

d itawarkan.

Di sini hanya 60 persen beban studi yang ditentukan pemerintah bagi prograrn sarjana. sedangkan perguruan t inggi

mempunyai kebebasan 40 persen (atau

sekitar 50 SKS) untuk

merciptakan

kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan yang ada.

Alternatif

II:

Menyelenggarakan

(o-up

pducation

melalui

kerjasarna

industri

dengan sebagian pergu ruan

tinggi. Melalui program pendidikan ini

mahasiswa dapat rnemanfaatkan sebagiarr

waktupendidikannyadengan

bekeria

di industri. Di sini mehasiswa dikenalkan

dengan

dunia kerja

sehingga dapat
(15)

memperoleh

pengalamaD

dan

pengetahuan rnengenai iklim dan

syarat-syarat

bekerja di industri.

Alternatif

III:

Reformasi Sistern

Pendidikan Tiuggi. Dalarn hal

ini

perlu

rnenyeimbangkan perbandingan Iulusan bidang sains dan teknologi dengan bidang

sosial. Pengern bangan pendidikan tinggi

direncanakan agar di PTN dalam 25 tahun mendatang perbandingan 33:67 pada saat

ini

dapat meningkatkan menjadi 70:30. Sedang

di

lingkungan PTS diharapkan

Alternatif

I:

Pemberian otonomi pada PT

IDEA EDISI06 TAHUN 1420 H / 19S9 M

dapat diubah dari 25:75 menjadi 40:60.

Seh

ingga dalam

nananrbah

jurnlah

mahasiswa lebih diarahkan kepada bidang sains dan teknologi (Hadihardaja, 1997).

5.2.

PerbandinganKonsekuensi

Untuk rnelihat alternatif kebilakan yang lebih layak dalarn arti tneugandung dampak positif dengan konsekwensi yang rendah, maka

berikut

ini

diuraikan

kelemahan dan kekuatan masing-masing alternatifkebijakan:

127

Langkah Kebllakan Alas.n P03Mt Konreluensi

Pemberian otonbomi yang lebah besar kepada Perguruan Tinggi

dalam menyusun kurikulum Program Sludi yang ditawarkan

1 Memberikan Kesempalian yang lebrh besar bagi pihak Perguruan Tinggi untuk mengembengkan k{irikulum sesuai kebuluhan lokal

2, Mualan kurikulum lokal sesuaa dengan kebutuhan pasardn

kerja-3 Pihak PT bisa menampung dan mengrkut sertakan pendapat

mahasiswa dalam menyusun kurikulum lokal, s€hinggE dapal

dilihat MK-MK yang diinginkan pihek mahasiswa.

1 Dengan memberi kesempalan

PerguruanTinggi menyusun kurikulum lokal berarli diperlukan

anggaran yang cukup b€sar

karena akan melibatkan banyak

unsur dan tahapan proses yang

paniang. Kegiatan yang terjadi

dalam peny6unan kunkrlum

antara lain.

- pengumpulan ide gagasan

- pengajuan nama-nana MK

- Simposum Kudok

- p€netapan MK di lingkal jurusan

- penyesualan MK antar jurusan dalam linokD Fatultas

- penyesuaian MK hti Fakultes di

lingtel Univergileg - pengesahan di kopedis

Bila seliap k€glatan nieln€rluken

dana @ Rp 500 000,. dengan

demilian anggaran untuk I macan

kegiatan di atas diperlukan Rp 4 jul,a unluk salu Fakullrs dengan

jumlah ini tinggal [€ngalikan

jumlah Fakultas di masing-masinJ

Perouruan Tinggi

2. Diperlukan waklu ekslra unluyk

nrenyelesaikan k69iatan

penyu3Bnan kuaikulum lokal ini

Karena bila hanya clikeriakan saal jam kerja saja menjadi sangal

lama- oengan waklu ekstra ini dana yano dipedukan iuga

berlambah misaloya, untuk uang sidang dsb. Bila diasumsikan uang sidang konsumsi I transport

pero.dng Rp 40 000 dan tiapturusan d kuli minrrnal 5 orang, maka beiumlah Rp 200 db!

Jumlah ini lentusaia dikalikan

jumlah iutusan yang ada di masing-masing Unive6ilas gila

ierdepal 10 jurwan maka

(16)

Alternatif

: Penyelenggaraan co-op educalion

L.ngkah Kebijakan Alasan Positif Konsekuensi

Dengan menyelenggarakan co-op

educaton melalui kerjasama industri

dengen sebagran perguruan tinggi

1 Dengan kegEtan co-op educ€lion diharapakn mahasiswa lebih mengenal dunia kerja sehingga akan memperoleh pengalaman den pengelahuan mengenai iklim kerja di dunia induslri

2 Bagipihak indusl dapat

memanfaalkan leanage murah dan bila perlu menididiknya sehingga kalau mahasrswa lersebut potensial ekhimya setelah lulus dapat

diangkal sebagai lenaga kerja di

iempal tersebut

3 Bagipihak PT yang melakukan

kerjasama dengan pihak industn dapat menetapkan kegiatan tersebul sebagi program diklat s€c3l;l terus menerus

1 Tenggang waklu belajar mahasiswa akan lebih lama karena pogram iili menelapkan 2 x 1 semester untuk bekerja di pihak induslri, dengan diselingi satu semester pendidikan di masing-masing PT

2 Dengan berlambah lamanya waklu belajar mahasiswa, maka akibatnya juga akan mengurengi daya tampung di Perguruang Tinggi setempat, karena banyaknya mahasiswa lama yang belum lulus Misalnya. banyaknya mahasiswa yang tertunda lulus seliap trahunnya sebanyak 1 00-200 orang, maka

apabila pihak PT tidak dapat

menyediakan b€rlembhnya

daya tamFfi€ dan tasilrtas

poses belaiar mangajar yang

lam unluk mahasiSwa baru,

akibalnya jumlah penerimaan mahasiswa baru setiap tahunya juge harus dikurangi sejumlah angka tersebut

Langkah Kebljakan Alas.n Posluf Konsekueftl

Menyeirhbangkan perbandingan lulusan bidang sains dan

teknologdengan bidang sosial/

humaniora sehingga lebih sesuai dengan proporsi kebutuhan yang ada

I L,ntuk memenuht kebutuhan pasar

kerja dibidang leknik dan industn maka hendaknya dipebesar jumlah lulusan sariana dibidang sains dan teknologi, karena selama ini kekorangan tenaga kerja justru di bidang ini Angkanya akan dilingkatkan dad 33:67 menjadr 70:30 unluk PTN.

2 Unluk mengurangi kejenuhan luliusan dibdang sosial atau humaniora maka sebaiknay dikurangi juga jumlah program studi yang non eksak, khususnya lntJk

PTS yang akan mambuke Fakullas dan Program Studr baru. untuk

PTS drharapkan angak yang dicapai adalahdari 25:75 meniadr 40:60

3 Menciptakan tenaga kela yang prolesional dibdang nya dan belul-betuk dbutuhkan pasar ke.la

4 Menumbuhkan iklim persaingan yang sehat antar Perguruan Tinggi

5 lrenimbuhkan motrvasi bagr

perguruan tinggi untuk mencapai status yang baik

6 Tercapanya penyelenggaraan

tenaga keia yang lebih besar dibanding saet ini

1 Diperlukan intelvensi dari pemedntah untuk ikut

menga€hkan clan menyeleksi

Perguruan Tinggi menjadi kelompok yang berkualitas dengan instrumen seleksi yang tebih ketiat.

2 Pembedan siatus muiai dan terdattar, diakui sampai disamakan harus benar-benar didasarkan pada pe6yaratan

yang ada Sebagaiconloh. untuk

Program Studiyang akan

memp€oleh Slatus disamakan

herus mempunyai minrmal 10 orang dosen telap, dan minmal 50o/. harus sudah bertitei

52-3 Untuk PTS yang tidak mau berupaya meningkalkan statusnya, mak dapal dilaklJkan penberian sanksidengan mempoersulit urusan administrasi civil,as akedemika dr kop€rtis, sedangkan untuk PTS yang berhasil nEluluskan saian yang

beftualilis dengan indikator lulusannya tl€mpu diserap

bdang-bidang industri dan

manutaldur lerkemuka di negeri inr, rnaka s€baiknya diberi rnsentif

Alternatif

III:

Reformasi Sistem Pendidikan Tinggi
(17)

5.3.

Eksternalitas

Kebij

akan untuk

mengurangi jurn lah pengangguran

terdidik

dengan

ketiga alternatif

yang

d iu ngkapkan

dimuka

tentunya akan

be rpengaru h terhadap pihak-pihak

di

luar

rnasing-rnasing perguruan

tinggi

baik

secara

langsung

maupun

tidak

langsung.

Masing-masing pengaruh

luar

dan

eksternalitas

yang terjadi

te rh ad ap

kebijakan

keb ij akan tersebut adalah

sebagai berikut:

Alternatif

I: Memberikan otonom i

yang lebih besar pada Perguruan Tinggi

dalam menyusun

kurikulum

program

stud

i

yang

ditawarkan.

Pengaruh

eksternalitasnya adalah :

I

Masyarakat akan dihadapkan pada kesewenang-kesewenangan pihak

perguruan tinggi. Dalam arti bahwa

pihak perguruan tinggi kemudian

akan dengan sekehendak hatinya

menyusun

kurikulumlokal

karena tidak ada atau kurangnya kontrol dari pemerintah.

2

Masyarakat yang merasa terpenuhi

aspirasinya rnelalui penyusunan

kurikulum

lokal dalarn program

studi yang

diminati

akan berdampak pada ajakan kepada

teman, kenalarr dan saudara untuk

memasuki

Perguruan Tinggi

tersebut.

Alternatif

II:

Menyelenggarakan co-op education melalui kerjasma industri dengan sebagian Perguruan Tirrggi. Pengarulr eksternal itasnya adalah:

I

Dengan

kegiatan

ini

maka

nrasvarakat bisa

ikut

merasakan manfaatnya karena mahasiswa yang ikut dalam kegiatan tersebut

kenrudian

jugu

rnern bagi ketrampilan yang mereka peroleh,

kepada

pernuda-pemuda

di

I ingkungan tempat tinggalnya.

IDEA EDISI 06 TAHUN 1420 H / 1999 M

2

Masyarakat

luas akan

lebih mempercayai

kualitas

lulusan

Perguruan

Tinggi

yang

akan

bersangkutan karena sudah punya

jalinan kerja sama dengan

pihak-pihak

industri tertentu. Dengan

demikian

masyarakat berharap

calon nrahasiswa yang dimasukkan di Perguruan Tinggi tersebut akan

cepat

mendapatkan peke rj aan

karena memang punya keah lian

dan berpengalaman.

Alternatif

III:

Reformasi sistem pendidikan tinggi. Pengaruh eksternalitas-nya:

I

Masyarakat akan

lebih

pandai-pandai Perguruan

Tinggi

yang

benar-benar

berkualias

dan

statusnya baik.

2

Masyarakat industritidak perlu lagi

akan

terjadi

kekurangan tenaga kerj

a

sarjana

yang

menguasai

bidang sains dan teknologi.

5.4.

Kendala dan Kelayakan Politis

Alternatif I: Memberikan otonorni yang lebih besar pada perguruan tinggi

dalam menyusun

kurikulum

program

studi yang ditawarkan. Kendola:

Dengan

pemberian

porsi

atau

persentase yang besar pada penyusunan Kuriku

lum Lokal

perguruan

Tinggi

setempat pada akhirnya terbentur pada

kendala

tentang kapabilitas

staf

pengajarnya. Hal

ini

terutama dihadapi

oleh PTS-PTS yang mayoritas doden-dosennya masilr muda sehingga belum

berpengalaman, dan akibatnya mereka ini masih mengandalkan dosen-dosen pada universitas pembina.

Kelayakan politis:

Dengan pemberian otonomi yang

lebih

besar.

segenap civitas akadernika
(18)

dituntut untuk lebih

meningkatkan kernampuan selringga pada akhirnya nanti bisa benar-benar mandiri tidak perlu lagi

intervensi dari pemerintah.

Alternatif

II:

Menyelenggarakan

co-op

cducutior

m elalu

i

kerjasama

industri

dengan sebagian Pergu ruan Tinggi.

Kendala:

I

Dilihat dari pihak pemilik industri, untuk menyelenggarakan kegiatan

ini rnaka d iperlukan tenaga-tenaga

ahli

yang benar-benar menguasai

bidang

industri

kerana

akan

menyangkut nama baik perusahaan

yang

d

ipromosikan

kepada

mahasiswa-malrasiswa

di

per-guruan tinggi.

2

Dilihat dari pihak perguruan tinggi

akan diperlukan

dosen

pem-bimbing yang rnenguasai

bidang-bidang industri tersebut selain itu

juga

mempunyai

waktu

luan g

untuk

bisa

mengikuti

kegiatan

malrasiswa tersebut. Kelayakan

politis

I

Dengan kegiatut co-op educalion

ini

rnaka

akan memberi

nilai

tambah pada rnahasiswa dalam

upaya

memasuki pasar

kerj a seh

ingga

pihak industri

dan pern e

ritah

akan

lebih

rnem-perhatikan.

2

Untuk bidang-bidang industri

rrilik

pemerintah, seperti IPTN, PT Inti

dan

BUMN

la in nya sebaiknya memberi kemudahan-kemudahan bagi kegiatan-kegiatan kerja sama seperti itu. Dalarn hal ini tidak perlLr

menggunakan

perizinan

yang menyu

litkan

dan

kemudahan

meminjam

fasilitas

apabila

diperlukan.

130

Alternatif

III:

Reformasi Sisterr

Pendidikan Tinggi Kendala:

Dengan menyeimbangkan jum lah bidang sains dan teknologi dengan bidang sosial/humaniora rnaka untuk tahun-talrun

yang akan datang

jurnlah

penerirnaan mahasiswa bidang sosial harus dibatasi. Bisa dibuat perbandingan penerimaan 3: I .

Kelayakan politis:

Karena masalah pengangguran

terdidik apabila tidak segera ditanggulangi

akan mengakibatkan keresahan sosial,

yang pada akhirnya akan berdampak pada

kestabilian

politik

maka keb ij aka n

reformasi ini dipandang tepat dan perlu segera direalisir sehingga sepen u hnya

mendapat dukungan dari elit pemerintalr untuk mewujudkannya.

Rekomendasi

Kebijakan

6.1.

Kriteria

Usulan

Alternatif

Agar penilaian dapat dilakukarr

secara obyektif terhadap ketiga alternatif kebijakan yang diusulkan, maka dipakai

beberapa kriteria penilaian. Hal ini perlu

dilakukan sehingga nantinya alternatif yang di laksanakan adalah alternatifyang mencapai

nilai

terbaik

dari

berbagai kriteria yang telah ditetapkan.

Adapun kriteria yang digunakan

untuk

melakukan penilaian terhadap

masing-masing alternatif adalah sebagai

berikut:

u)

Technical.feasibility

Kemampuan alternatif kebijakan yang dikemukakan dalam rnemecahkan masalah secara teknis.

b)

Economic and Financial possibilitv

Pen ila ia

n

terhadap

alternatif

(19)

Kr i teria u ntu k rne r i hat sejau hrn

ana

lil:il

il:Jjfl

ffi'jj"i:?:]"ii"T

#;:?

masing-tnasing

alternatif

.

dapat

nilai alternatifyang tertinggi.

d i laksanakan secara administrasr.

kebijakan secara ekorromis

c)

Pol

ical viubility

Kriteria

yang

di

gunakan untuk

rnelihat resiko politis yang ditirnbulkan

oleh

rnasing-masing

alternatif

kebijakan.

d)

Adntinislraliveoperatebility

e)

Legal viability

Kr

iteria

untuk melihat

apakah

rnasing-masing alternatif kebijakan layak secara hukum (tidak bertentangan dengan hukurn yang berlaku.

Dalarn melakukan

pen

ilaian

berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan,

kepada masing-masing a lternatif yang

diusulkan diberikan nilai dengan weight

ing atau pembobotan sebagai berikut :

a.

Nilai

I : tidak memadai b. Nilai 2: kurang memadai c. Nilai 3: cukup memadai d. Nilai 4: rnemadai

Dari perhitungan yang d ilakukan,

6.2.

DeskripsiAlternatifTerpilih

Dengan memakai pedoman pac'a

kriteria

dan pembobotan yang lelalr

ditetapkan di atas, maka hasil penilaian

terhadap ketiga alternatif kebijakan yang diajukan dapat

dilihat

dalam

tabel

6 sebagai berikut:

Tabel 6

Berdasarkan perhitungan

di

atas maka terhadap alternatif kebijakan yang

diajukan dapat disusun rangking sebagai

berikut:

u)

RankingI:AltarnatifIII

Jum lah bobot I 8, sehingga rata-rata bobot yang dicapai adalah l8: 5=3,

6

berarti mendekati bobot/nilai

tertinggi

(4).

sehingga

dapat

IDEA EOISI06 TAHUN 1420 H / ]999 M

d

ikatakan

memadai

untuk

d ilaksanakan.

Ranking

II

; Alternatif

I

Jurnlah bobot 15, sehingga rata-rata bobot yang dicapai adalah l5:5=3, dan ini berarti sama dengan bobot/

nilai yang

di

kategorikan sebagai

cukup memadai.

131

b)

Pembobotan Terhadap Masing-rnasing

Alternatif

Kebijakan

No Altemalif

kebijakan Teknis Ekonomis

Bobot

Polilis Administralif Legal Jumlah

Persenlase l"/")

1

2

3

Allematif

I

Allernalif

tl

tlt

3

2

2

3

3

3

2

3

3

2

4

4 15

t3

18

32.6

243

391

[image:19.595.56.494.201.817.2]
(20)

c1

Ranking

III

: Alternatif

II

Jurnlah bobot 13, sehingga rata-rata bobot yang

dicapai

adalah

l3:

5=2,6,

ini

berarti diantara

nilai

2

dan 3

dengan

kecenderungan

mendekati

3,

sehingga

dapat

dikatakan cukup memadai namun

dengan bobot yang lebih rendah daripada alternatif

l.

Dengan

penilaian yang

te lah

dilakukan,

maka dapat d isimpulkan bahwa alternatif kebijakan terbaik dan memadai

untuk

dilaksanakan adalah alternatif

III

yaitu melakukan refonnasi sistem pendidikan

tinggi

di

perguruan tinggi negeri maupun swasta.

63.

Garis Besar Strategi Pelaksanaan

Agar

kebijakan

di

atas dapat dilaksanakan dengan baik. secara garis besar diperlukan strategi sebagai berikut:

a

Strategi Organisasi

Pelaksanaan kebijakan di atas perlu

dikoordinasikan diantara

lembaga-lembaga yang

terkait.

Adapun istansi terkait yang ada di tingkat daerah masing-masing akan dipimpin oleh rektor untuk PTN dan Kopertis atau BMPTSI untuk

PTS. Pemberian insentif bagi perguruan tinggi yang berkualitas dapat dilakukan

dengan subsidi pemerintah rnelalui bank-bank pemerintah yang ditunjuk. Selain itu

perlu ditanrpung saran-saran dari lembaga

pendidikarr swasta lain (semacam

LPK-LPK) yang

mencetak tenaga

kerja profesional. Dengan kerja sama yang

dilakukan antar instansi yang terkait maka diharapkan implemenrasi kebijakan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

b.

StrategiPembiultaan

Untuk dapat dilaksanakan kegiatan

132

ini maka pembiayaan dapat diperoleh dari:

I

Subsidi

pernerintah,

bisa

diambilkan

dari

anggaran

Depdikbud.

2

Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja rnasing-rnasing perguruan

tinggi.

3

Sumbangan masyarakat yang inters dengan dunia pendidikan.

6,4.

Rencana Monitoring dan Evaluasi

Setelah melakukan penyusunan

strategi kebijakan

yang

aka n

dilaksanakan, maka diperlukan rencana

monitoring dan evaluasi untuk melihat langkah-langkah yang telah dilakukan

dalam

menetapkan

kebijakan

dan irnplementasinya. Berdasarkan

monitor-ing yang dilakukan para pelaku kebijakan

rnaka dapat dievaluasikan hal-hal sebagai

berikut:

I

Monitoringdan mengevaluasi. Hal

ini

untuk

mengetahui

apakah

landasan yuridis bagi pelaksanaan

kebijakan

tersebut

su dah

ditetapkan, misalnya dalam bentuk:

Keputusan

Menteri,

Keputusan

atau Surat

Edaran

bersam a beberapa menteri

yang

terkait,

dan untuk

operas ionalisas

i

di tingkat perguruan tinggi diperlukan

Keputusan

Rektor

atau

pun

Keputusan Kopertis/BMPTSI

untuk lingkungan PTS.

2

Pelaporan. mekanisme pelaporan

yang dilakukan sebaiknya secara

bertahap atau ber.jenjang, karena

dengan berjenjang rnaka apabila

teriadi penyirnpan gan dapat segera d iketahu

i

dan diatasi.

Tahap pelaporan ini di lakukan oleh aparat

di

tingkat

bawah (operas iona

l)

disampaikan kepada aparat atasan. Pelaporan ini bisa dilakukan atau
(21)

diserahkan kepada atasan setiap satu semester sekali atau 6 bulan sekali.

6.5,

Keterbatasan dan akibat

tidak

terduga

Beberapa hal yang dapat rnenjadi keterkaitan dan akibat tidak terduga dalam perumusan kebijakan ini adalah:

I

Keterbatasan

dana

di

sektor

pendidikan sering mengganggu kelancaran irnplementasi

kebijak-an.

2

Masih kurangnya pakar-pakar di bidang sains

di

bidang sains dan

teknologi juga dapat menghambat tercapa inya

jumlah

lulusan yang

tinggi

di

bidang sains

dan teknologi.

Daftar

Pustaka

Effendi, Sofian ( 1986), Revitalisasi Sehor Publik Menghadapi Keterbukaan

Ekonomi

dan

Demokratisasi

Politik,

pidato pengukuhan Guru

Besar pada Fakultas

llmu

Sosial

dan

I

lmu Politik

Universitas

Cadjah Mada Yogyakarta,

3 Agustus 1986.

(1997), C1tdton Kuliah Analisis Publik, MAP UGM Yogyakarta. Djojodihardio, Harjono ( 1984), Pofensi,

Parun Serto dan

Kebutuhan

Pendidikan Tinggi Teknik dalam

Alih

Tcknologi. makalah sem inar

Dies Natalis ke-45 dan KAGAMA

di audotorium Universitas Gadjah Mada dengan tema "Kebijakan

Pendidikan Tinggi, Pengenrbangan IPTEK dan Transformasi Sosial"

tanggal 20-21 Desember.

Hadihardaja, Joetata (1997), Lulusan Perguruan Tinggi dan Kesempatan

Kerja. H.U. Kornpas, 6 Mei. Kumorotomo, Wahyud i (1997), C utatan

Kuliah Analisis Kebijakan Publik, MAP UCM Yogyakarta.

Latif, Abdnl ( 1995), Pokok-pokok Strategi

Pemecahan

Masalah

Pembangunan

dalam

bu ku

"Membangun Sumber

Daya

Manusia dan Profesional", PT Pena Kencana Nusa Dwipa, Jakarta. N. Dunn, William (1994), Public Policy

I

Analysis:

An

Introduc t

ion,

Prentice Hal I lnternational Ed ition,

Canada.

Prasodjo, lwan ( 1993), Pengenggyran dan

Setengah

Pengangguran di

Perkotaan. Prisma

No.2

Tahun

XXII,

hal. 60-61.

Rachbini, Didiek (1997), P enganggyran

Terdidik dan Mismatch Pendidikan Tinggi, H.U . Kompas, 4 Maret.

Suryadi, Ace ( 1996\, Pertumbuhan dalam

P-lP 11, Prisma No. 8/1996,

hal.65-75.

lokrowinoto,

Moeljarto (1987) Politik

Pembungunan: Sebuah Analis is Konsep, Arah dan Stategi, PT

Ti-ara Wacana Yogyakarta.

Wibawa, Samudera (1994), Kebijakan

Publik:

Proses

dan

Anat is

is,

Intermedia, Jakarta. SUPAS ( 1996) *+*

Gambar

Tabel 1.Terbuka
Tabel 2Tahun ke Atas
Tabel 3Universitas yang Tidak
Tabel 6Pembobotan Terhadap Masing-rnasing

Referensi

Dokumen terkait

Dapat dilihat pada grafik pada gambar 2, pada persamaan (7) hanya terdapat satu titik potong pada sumbu

Teori strategi komunikasi menurut menurut Effendy (1993:300) bahwa strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai satu tujuan

Keadaan dimana nucleus pulposus keluar menonjol untuk kemudian menekan kearah kanalis spinalis melalui annulus fibrosus yang robek. Dasar terjadinya

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa Kelas VIIIA SMP Kristen Aletheia diketahui bahwa pembelajaran dengan pendekatan IPA Terpadu Tipe Connected untuk

Gambar 3 memperlihatkan bahwa provinsi produsen cengkeh terbagi menjadi tiga kelompok; yakni (1) tinggi – tinggi, yakni kelompok produsen cengkeh tinggi dengan tingkat

Seiring dengan rumusan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut Untuk mengetahui Tindakan Hukum atas perbuatan melawan Hukum

meliputi ruang, tempat Negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, serta yuridiksinya. meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia

Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan potong lintang ( cross sectional ), dilakukan di Fakultas Kedokteran Untan pada bulan November 2015. Data