• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PASOKAN LIMBAH CAIR TEKSTIL PT. BATIK KERIS SUKOHARJO TERHADAP PERUBAHAN SUHU, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg DAN PLANKTON DI SUNGAI PREMULUNG SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PASOKAN LIMBAH CAIR TEKSTIL PT. BATIK KERIS SUKOHARJO TERHADAP PERUBAHAN SUHU, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg DAN PLANKTON DI SUNGAI PREMULUNG SURAKARTA"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

i

DAN PLANKTON DI SUNGAI PREMULUNG SURAKARTA

Skripsi

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sains

Oleh :

Hadi Prayitno

NIM. M 0498051

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

ii

PENGARUH PASOKAN LIMBAH CAIR TEKSTIL

PT. BATIK KERIS SUKOHARJO

TERHADAP PERUBAHAN SUHU, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg

DAN PLANKTON DI SUNGAI PREMULUNG SURAKARTA

Oleh : Hadi Prayitno NIM. M 0498051

(3)

iii

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari dapat ditemukan adanya unsur penjiplakan maka gelar kesarjanaan yang telah diperoleh dapat ditinjau dan/atau dicabut.

Surakarta, 13 April 2006

(4)

iv

Hadi Prayitno. 2006. PENGARUH PASOKAN LIMBAH CAIR TEKSTIL PT. BATIK KERIS SUKOHARJO TERHADAP PERUBAHAN SUHU, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg, DAN PLANKTON DI SUNGAI PREMULUNG SURAKARTA. Jurusan Biologi. FMIPA. UNS. Surakarta.

PT. Batik Keris Sukoharjo adalah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dengan motif batik, terletak di desa Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Perusahaan tersebut membuang limbahnya melalui saluran yang kemudian bermuara di sungai Premulung Surakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas limbah cair tekstil di saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris Sukoharjo, dan pengaruhnya terhadap kondisi perairan sungai Premulung Surakarta, berdasarkan parameter suhu, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg dan indeks diversitas plankton.

Pengambilan dan pengukuran sampel air dilakukan dengan menggunakan metode jarak (plottles sampling methods), dengan membagi penggal sungai menjadi 5 (lima) stasiun pengamatan dengan jarak masing-masing stasiun ± 50 meter dan dilakukan 3 (tiga) kali ulangan, yaitu pada tepi kiri, tengah dan tepi kanan sungai. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif.

Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kualitas perairan di saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris Sukoharjo berdasarkan parameter suhu, BOD melebihi batas maksimum, DO lebih rendah dari batas minimum yang dipersyaratkan, dan berdasarkan indeks diversitas plankton tergolong ke dalam tingkat perairan tercemar sedang, (2) Pasokan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo secara keseluruhan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan suhu, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg maupun indeks diversitas plankton perairan sungai Premulung Surakarta

(5)

v

Hadi Prayitno. 2006. THE EFFECT OF LIQUID TEXTILE WASTE SUPPLY OF PT. BATIK KERIS SUKOHARJO ON THE CHANGE OF TEMPERATURE, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg, AND PLANKTON IN THE PREMULUNG RIVER SURAKARTA. Biology Departement. FMIPA. UNS. Surakarta.

PT. Batik Keris Sukoharjo is a textile manufacture with batik as a motif, it is located in Cemani villages, Grogol, Sukoharjo, Central of Java. This manufacture disposed continuously the liquid industrial waste into the canal, which is supplies water to the Premulung river in Surakarta. The aims of this research were to know the quality of the liquid textile waste canal of PT. Batik Keris Sukoharjo, and how the effect to the conditions of Premulung river, based on temperature, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg and diversity index of plankton.

The water samples are taken from the rivers by using a range methods (plotless sampling methods), by dividing the river into 5 (five) monitoring stations with the distance of its station is ± 50 metre and done by 3 (three) repetitions, that is on the left of the river-bank, middle, and on the right of the river-bank. Data were analyzed by using descriptive analysis.

The result of the research indicate: (1) Quality of the liquid waste textile in the waste canal of the PT Batik Keris Sukoharjo based on parameters for temperature, BOD, NO3 is exceeding maximum boundary and DO that is below from minimum boundary, and based on the diversity index of plankton is classify to the moderate pollution, (2) Liquid waste textile supplies of PT. Batik Keris Sukoharjo do not show the signifikan influence to the change of temperature, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg and diversity index of plankton of Premulung river Surakarta.

(6)

vi

“Orang yang berakal itu bukanlah orang yang pandai mencari-cari alasan untuk membenarkan kejelekannya setelah terjatuh ke dalamnya,

Tetapi orang yang berakal ialah orang yang pandai menyiasati kejelekan agar tidak terjatuh ke dalamnya” (Permadi Alibasyah)

“Persepsi mengubah peristiwa

(7)

vii

Dengan ketulusan hati dan kasih sayang,

kupersembahkan karya kecil ini :

U mar Wirahady Pranatha Pelita hati dan penyejuk jiwa pemberi banyak inspirasi

(8)

vii

Sungai memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena selain sebagai penyedia air tawar bagi aktivitas manusia, sungai juga dijadikan tempat pembuangan sisa-sisa hasil kegiatan manusia baik kegiatan biologi maupun kimia.

Sungai Premulung Surakarta adalah sungai yang banyak digunakan sebagai tempat pembuangan limbah hasil aktivitas masyarakat sekitar, baik itu rumah tangga, maupun industri kecil dan menengah yang berada disekitar aliran sungai Premulung. Salah satunya adalah PT. Batik Keris yang secara berkelanjutan membuang limbah cairnya ke saluran pembuangan limbah yang akhirnya bermuara ke sungai Premulung.

Plankton adalah organisme yang dapat dijadikan indikator biologi, karena plankton sangat peka terhadap perubahan lingkungan baik fisik ataupun kimia. Keberadaan plankton dapat mencerminkan kondisi lingkungan suatu perairan dengan didukung parameter fisik dan kimia.

Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh masukan suatu limbah hasil industri terhadap perubahan kondisi fisik, kimia maupun biologi sungai Premulung Surakarta, sehingga diharapkan dapat dilakukan pengendalian terhadap kualitas sungai Premulung agar sesuai dengan peruntukkannya atau tidak menjadi turun kualitasnya.

Surakarta, 13 April 2006

(9)

ix

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II. LANDASAN TEORI ... 5

A. Tinjauan Pustaka ... 5

(10)

x

4. Plankton ... 14

5. Diversitas dan Densitas Plankton ... 16

B. Kerangka Pemikiran ... 17

C. Hipotesis ... 19

BAB III. METODE PENELITIAN ... 20

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 20

B. Alat dan Bahan ... 20

C. Cara Kerja ... 21

D. Analisis Data ... 25

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

A. Hasil Penelitian ... 26

B. Pembahasan ... 29

1. Parameter Fisik dan Kimia Sungai ... 29

2. Analisis Plankton ... 40

BAB V. PENUTUP ... 48

A. Kesimpulan ... 48

B. Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 51

UCAPAN TERIMA KASIH ... 54

(11)

xi

Halaman Tabel 1. Jenis Proses Industri Batik dan Kemungkinan Zat yang Dapat

Mencemari ... 7 Tabel 2. Baku Mutu Limbah Cair untuk Industri Tekstil ... 7 Tabel 3. Jenis, Densitas dan Distribusi Plakton Pada Tiap Stasiun

Pangamatan ... 27 Tabel 4. Rata-rata Hasil Pengukuran Parameter Fisik dan Kimia Pada Tiap

Stasiun Pengamatan ... 28 Tabel 5. Jumlah Spesies, Jumlah Individu, Densitas dan Indeks Diversitas

(12)

xii

Halaman Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran ... 18 Gambar 2. Skema Stasiun Pengambilan Sampel ... 22 Gambar 3. Grafik Hubungan antara Suhu dengan Indeks Diversitas

Plankton ... 30 Gambar 4. Grafik Hubungan antara Arus dengan Indeks Diversitas

Plankton ... 31 Gambar 5. Grafik Hubungan antara pH dengan Indeks Diversitas Plankton

... 32 Gambar 6. Grafik Hubungan antara DO dengan Indeks Diversitas

Plankton ... 34 Gambar 7. Grafik Hubungan antara BOD dengan Indeks Diversitas

Plankton ... 36 Gambar 8. Grafik Hubungan antara NO3 dengan Indeks Diversitas

Plankton ... 38 Gambar 9. Grafik Hubungan antara Ca dengan Indeks Diversitas Plankton 39 Gambar 10. Grafik Hubungan antara Mg dengan Indeks Diversitas Plankton

(13)

xiii

Halaman

Lampiran 1. Hasil Identifikasi, Densitas dan Indeks Diversitas Plankton ... 56

Lampiran 2. Cara Kerja Analisis Kimia ... 57

Lampiran 3. Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ... 59

Lampiran 4. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Air ... 61

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan industri yang pesat di suatu negara akan memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan dan kemakmuran warga negaranya, memberikan devisa negara, dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun, menurut Sudarmadji (1990) dalam Wiryanto (1997) bahwa pertumbuhan industri yang pesat juga memiliki dampak negatif. Karena pertumbuhan industri menuntut penyediaan tanah, air, udara dan energi yang besar sebagai tempat atau media dalam menjalankan aktivitasnya, yang sering diikuti oleh peningkatan

waste dan effluent yang potensial menjadi bahan pencemaran lingkungan.

Menurut Suratno (1998), perubahan penyebaran kehidupan organisme banyak dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia pada tempat tersebut. Hal ini dapat dijelaskan secara mendalam di dalam konsep ekosistem, bahwasannya organisme atau kelompok organisme mempunyai hubungan yang erat dengan komponen abiotiknya, baik berupa faktor fisik maupun kimianya.

Keberadaan suatu spesies dapat dijadikan alat untuk memonitor adanya perubahan kondisi perairan secara biologi. Perubahan pola distribusi dan kemelimpahan organisme akuatik dapat diakibatkan oleh pencemaran perairan. Pada umumnya macam spesies yang terdapat pada air tercemar sangat sedikit tetapi spesies yang toleran menunjukkan jumlah individu yang banyak (Mills, 1989).

(15)

Menurut Badrudin (1990), sifat organisme yang dapat dipakai sebagai bioindikator umumnya sangat peka terhadap fluktuasi zat tertentu meskipun fluktuasi yang timbul hanya sedikit. Hal seperti ini menyebabkan hilangnya spesies-spesies yang mempunyai toleransi rendah terhadap perubahan lingkungan. Dan plankton adalah organisme yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan (Mujosemedi, 1985). Dalam lingkungan akuatik, plankton dapat berperan sebagai filter biologi yang membantu pemulihan mutu air (Hadisusanto, 1992). Perubahan jumlah dan komposisi spesies plankton pada lingkungan akuatik dapat digunakan sebagai indikator pencemaran lingkungan (Wiryanto, 1997).

Sungai memiliki arti penting bagi kehidupan manusia, karena selain sebagai penyedia air tawar bagi manusia, sungai juga dijadikan tempat pembuangan sisa-sisa aktivitas manusia baik kegiatan biologi maupun kimia-industri (Soemarwoto, 1994).

Sungai Premulung merupakan salah satu sungai yang melintasi kota Surakarta. Daerah hulu dimulai dari daerah Kartasura, Sukoharjo terus ke timur melewati kelurahan Kleco, kelurahan Pajang, kelurahan Sondakan, kelurahan Tipes dan akhirnya bermuara di Bengawan Solo. Lebar sungai ini antara 5-12 m dengan kedalaman antara 0,7-12 m (Martini, 2001).

(16)

tersebut, sangat memungkinkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan perairan sungai Premulung yang berpengaruh pada diversitas plankton. Penelitian ini dilakukan pada ekosistem perairan sungai Premulung yang mendapat pasokan limbah cair industri tekstil dari PT. Batik Keris, Sukoharjo.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang diversitas plankton sungai Premulung, Surakarta yang mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris, Sukoharjo. Dengan bioindikator plankton dan hubungannya dengan kondisi fisik dan kimia dapat diketahui pengaruh limbah cair PT Batik Keris terhadap kualitas perairan sungai Premulung, Surakarta.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah kualitas limbah cair tekstil di saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris Sukoharjo berdasarkan parameter suhu, arus, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg dan indeks diversitas plankton.

(17)

C. Tujuan

Tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Mengetahui kualitas limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo berdasarkan parameter suhu, arus, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg dan indeks diversitas plankton

2. Mengetahui pengaruh pasokan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo terhadap perubahan suhu, arus, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg dan indeks diversitas plankton di sungai Premulung Surakarta.

D. Manfaat

Dari penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut :

1. Bagi ilmu pengetahuan : memberikan data atau informasi tentang pengaruh pasokan limbah cair tekstil terhadap perubahan suhu, pH, DO, BOD NO3, Ca, Mg dan hubungannya dengan indeks diversitas plankton khususnya di sungai Premulung Surakarta.

2. Bagi masyarakat : memberikan wawasan kepada masyarakat tentang kondisi sungai Premulung yang mendapat pasokan dari saluran limbah tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo.

(18)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Limbah Cair Tekstil

Dalam menjalankan aktivitasnya, suatu industri selalu memerlukan air. Air tersebut digunakan untuk proses produksi, pendinginan mesin, pencucian bahan baku dan pencucian alat-alat produksi. Setiap aktivitas yang dijalankan selalu menghasilkan limbah, limbah tersebut dapat berupa padat, cair ataupun gas. Limbah cair adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat dan terutama terdiri dari air yang telah dipergunakan dengan hampir 0,1%-nya berupa benda-benda padat yang terdiri dari zat organik dan anorganik. Limbah cair yang dihasilkan oleh proses-proses pabrik dan industri yang mempergunakan air dalam jumlah sedang, sampai banyak disebut “sampah industri”. Istilah sampah industri pada umumnya terbatas pada sampel cair yang karena alasan warna, isinya yang padat, kandungan anorganik atau organik, kadar garam, keasaman dan sifat-sifat khas mereka yang dapat menimbulkan masalah pencemaran air (Mahida, 1984).

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 Pasal 1 ayat (11) tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, bahwa pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya.

(19)

Adapun klasifikasi mutu air menurut PP Nomor 82 tahun 2001 Pasal 8 ayat (1) ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas, yaitu :

a. Kelas satu, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

b. Kelas dua, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

c. Kelas tiga, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

d. Kelas empat, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

(20)

Berikut ini adalah tabel jenis proses industri batik dan kemungkinan zat yang dapat mencemari:

Tabel 1. Jenis Proses Industri Batik dan Kemungkinan Zat yang Dapat Mencemari No. Jenis Proses Zat-zat yang dapat mencemari

1 Proses Persiapan Sisa kanji, asam, soda, abu koustik, minyak koustik, natrium nitrit, komponen lilin dan fenol

5 Finishing Sisa kanji

Sumber : BBKP Departemen Perindustrian Yogyakarta 1985 dalam Hudiyono, dkk. (1999).

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (1994), menyatakan bahwa baku mutu limbah cair mencerminkan teknologi praktis terbaik untuk pengoperasian industri tekstil di Indonesia saat ini. Baku mutu yang ada saat ini harus diterapkan dan dicapai oleh seluruh industri tekstil, yaitu dengan daur ulang dan pemanfaatan air. Limbah yang dihasilkan oleh industri tekstil harus sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah seperti yang terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Baku Mutu Limbah Cair untuk Industri Tekstil Parameter Kadar Maksimum

(21)

2. PT. Batik Keris

PT. Batik Keris adalah perusahaan yang bergerak dibidang tekstil dengan motif batik, terletak di desa Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Perusahaan ini didirikan oleh Kwee Som Tjiok (Kasom Tjokrosaputro) pada tahun 1920, yang pada saat itu masih dalam taraf industri rumah tangga. Kemudian berkembang dan menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Batik Keris pada tahun 1970-sampai sekarang. Dan sepeninggal Kwee Som Tjiok (Kasom Tjokrosaputro) usaha ini diteruskan oleh putra Kwee Som Tjiok yang bernama Kwee Han Tiong (Handoko Tjokrosaputro).

Batik printing yang dihasilkan PT. Batik Keris dapat mencapai 120 yard per tahun dan lebih dari 3 juta potong pakaian jadi per tahunnya. Selain dipasarkan di dalam negeri, produk PT. Batik Keris juga diekspor ke berbagai negara diantaranya Singapura, Australia, Hongaria, Jepang, Amerika Serikat, dan Negara-negara di kawasan Timur Tengah. Grup Batik Keris yang dulunya hanya bergerak dibidang industri tekstil, sekarang sudah berkembang dan merambah ke sektor properti dan perhotelan (Anonim, 2005).

3. Sungai

1) Habitat dan Ekosistem Sungai

(22)

jenis yang membentuk suatu komunitas (Resosoedarmo, 1988 dalam Wiryanto, 1997).

Menurut Odum (1993), perairan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan tawar dan perairan laut. Lebih lanjut Odum (1993), membagi perairan tawar menjadi dua kelompok, yaitu :

1). Air tergenang atau habitat lentik, seperti danau, kolam, rawa atau pasir terapung.

2). Air mengalir atau habitat lotik, seperti mata air, aliran sungai atau sungai. Habitat lotikdibagi lagi menjadi dua zona :

a) Zona air deras, yaitu daerah perairan yang dangkal dengan aliran arus yang cukup tinggi untuk dapat membersihkan dasar sungai dari endapan dan materi lain yang lepas. Zona ini dihuni oleh bentos yang beradaptasi khusus, organisme perifitik dan ikan yang kuat berenang.

b) Zona air tenang, yaitu daerah perairan yang dalam dengan aliran arus yang lambat atau tenang, sehingga lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar sungai dan menyebabkan dasar sungai menjadi lunak (Odum, 1993).

(23)

diantara komponen abiotik dan biotik membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem.

Odum (1993), membagi organisme perairan berdasarkan sifat kebiasaan dan bentuk kehidupannya menjadi 5 kelompok :

1) Bentos, yaitu organisme yang merayap di dasar atau hidup di dalam endapan. Bentos dibedakan berdasarkan cara makannya menjadi filter feeder (seperti kerang) dan deposit feeder (seperti siput).

2) Periphyton, yaitu organisme baik hewan maupun tumbuhan yang melekat atau menggantung pada batang atau daun tumbuhan berakar di dalam air atau permukaan lain yang ada di atas dasar perairan.

3) Plankton, yaitu organisme yang mengapung/melayang di dalam air dan gerakannya tergantung pada arus serta gerak air.

4) Nekton, yaitu organisme yang dapat berenang dan bergerak bebas sesuai kehendaknya sendiri di dalam air.

(24)

2) Komponen Fisik dan Kimia

1) Suhu

Suhu adalah derajat panas atau dingin yang diukur pada skala tertentu (°C atau °F). Besarnya suhu dalam perairan cenderung mengikuti suhu udara di sekitarnya akibat intensitas cahaya matahari (Odum, 1993).

Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan organisme sungai. Pengukuran suhu sangat berguna untuk melihat kecenderungan aktivitas-aktivitas kimiawi dan biologis (Mahida, 1984). Suhu berpengaruh terhadap konsentrasi O2 terlarut dalam air dan konsumsi oksigen plankton. Kenaikan suhu sebesar 10oC akan menaikkan dua kali lipat kecepatan reaksi kimia dan biologi (Cholik dan Poernomo, 1989). Menurut Harjadi (1979), suhu juga berpengaruh terhadap kestabilan enzim yang merupakan katalisator dalam proses fotosintesis.

2) Arus

Faktor utama yang membedakan sungai sebagai komunitas perairan lotik

(25)

3) Puissance negative de H (pH)

Puissance negative de H (pH) adalah derajat yang menyatakan keasaman dan kebasaan perairan yang merupakan negatif dari logaritma konsentrasi ion hidrogen (H+) (Odum, 1993).

pH merupakan tolok ukur mutu air yang banyak mempengaruhi nilai pemanfaatan air. Perubahan pH dari nilai normal dapat menurunkan mutu lingkungan. Pengukuran pH adalah sesuatu yang penting dan praktis, karena banyak reaksi-reaksi kimia dan biokimia yang penting terjadi pada tingkat pH tertentu atau dalam kisaran pH yang sempit (Mahida, 1984). Perairan yang mempunyai pH antara 6,5-8,5 adalah perairan yang produktif dan ideal bagi kehidupan organisme akuatik (Odum, 1993).

Bahan buangan industri yang berupa limbah cair seringkali menyebabkan keasaman atau alkalinitas yang tinggi pada saluran-saluran air di tempat limbah tersebut dibuang (Kosasih, 1981 dalam Wiryanto 1997).

4) Dissolved Oxygen (DO)

Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung dalam air dan diukur dalam satuan mg/l (Sugiharto, 1987). Menurut Fardiaz (1992) oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman maupun hewan dalam air. Kehidupan mahluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya.

(26)

konsentrasi zat terlarut di dalamnya. Kelarutan oksigen akan berkurang dengan bertambahnya konsentrasi zat terlarut dan naiknya suhu (Mujosemedi, 1985). Selain itu, menurut Tebbutt (1977) dalam Wiryanto (1997), kelarutan oksigen juga dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan akuatik dan pemakaian oksigen oleh organisme perairan lainnya.

5) Biological Oxygen Demand (BOD)

BOD adalah jumlah oksigen yang diperlukan atau digunakan oleh mikroorganisme untuk proses oksidasi dari material organik dalam waktu dan suhu tertentu (Alaerts dan Santika, 1987).

Kebutuhan oksigen biologis merupakan salah satu tolok ukur kimiawi yang digunakan untuk mengukur tingkat beban pencemar pada suatu perairan. Bila nilai kebutuhan oksigen biologis suatu perairan tinggi, berarti kandungan bahan pencemar organik terlarut dan kebutuhan oksigen untuk proses oksidasi oleh mikroorganisme tinggi pula (Mujosemedi, 1985).

6) Nitrat (NO3)

(27)

Dalam proses nitrifikasi oleh bakteri diperlukan oksigen dan karbon sebagai sumber energi. Sehingga berpengaruh pada ketersediaan DO (Dissolved Oxygen) dan kadar BOD (Biological Oxygen Demand) dalam suatu perairan. Oksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat dilakukan oleh bakteri khemoautotrofik yaitu Nitrosomonas yang menggunakan NH4+ sebagai sumber energi dan Nitrobacter yang menggunakan NO2- (nitrit) sebagai sumber energinya. Proses nitrifikasi lebih cepat berlangsung pada pH 7-8 dan suhu 25-30oC (Chiang, 1989).

7) Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg)

Kalsium (Ca) merupakan unsur hara yang terdapat dalam persenyawaan karbonat dan bikarbonat. Garam bikarbonat berperan dalam penyediaan CO2 di perairan (Wardoyo, 1982 dalam Winarno dan Ashadi, 1997). Kandungan Ca dan Mg yang terlarut dalam perairan tawar menyebabkan terbentuknya endapan berupa lendir oleh sabun sadah. Kandungan Ca dan Mg yang berasal dari sabun dan deterjen dapat menyebabkan keracunan kimia akut bagi organisme akuatik (Rizald, 1998).

4. Plankton

(28)

primer, sedangkan zooplankton berperan penting dalam memindahkan energi dari produsen primer yaitu fitoplankton, ke tingkat konsumen yang lebih tinggi seperti serangga akuatik, larva ikan, dan ikan-ikan kecil (Odum, 1993).

Menurut Tebbutt (1977) dalam Wiryanto (1997), fitoplankton merupakan mikroorganisme yang bersifat autotrofik dan memiliki peran penting dalam suatu perairan, sebagai produsen primer bahan organik melalui fotosintesis. Dan zooplankton adalah konsumen tingkat pertama dari energi yang difiksasi oleh fitoplankton. Di dalam ekosistem akuatik, zooplankton berfungsi sebagai mata rantai antara produsen primer dengan tingkat tropik yang lebih tinggi.

5. Diveristas dan Densitas Plankton

Diversitas adalah suatu keanekaragaman atau perbedaan diantara anggota-anggota suatu populasi, sedangkan densitas atau kerapatan merupakan jumlah cacah individu per satuan luas. Antara diversitas dan densitas terdapat suatu hubungan yang saling mempengaruhi bila dikaitkan dengan faktor lingkungan. (Botkin dan Keller, 2000).

(29)

atau persamaan kurva. Banyaknya jenis serta perbandingan yang didasarkan indeks diversitas yang merupakan nisbah atau besaran dan hubungan kepentingan (Odum, 1993).

Suatu komunitas dikatakan mempunyai diversitas tinggi, jika kemelimpahan spesies tinggi dan disebut mempunyai diversitas rendah jika hanya terdapat beberapa spesies yang melimpah. Indeks diversitas menggambarkan keadaan populasi organisme secara matematis untuk mempermudah dalam menganalisis informasi jumlah individu masing-masing spesies dalam komunitas (Lee, 1978 dalam Winarno, dkk., 2000).

Perubahan diversitas dan kemelimpahan organisme akuatik dapat diakibatkan oleh adanya polusi perairan. Keberadaan suatu spesies dapat dijadikan alat untuk memonitor adanya perubahan kondisi perairan secara biologi (Mills, 1989). Wilhm (1975) dalam Wiryanto (1997), menyebutkan bahwa hubungan antara indeks diversitas plankton dengan kondisi pencemaran air dapat dinyatakan sebagai berikut :

0 < ID < 1 tingkat pencemaran berat 1 < ID < 2 tingkat pencemaran sedang 2 < ID < 3 tingkat pencemaran ringan

(30)

B. Kerangka Pemikiran

Kondisi suatu ekosistem sungai sangat dipengaruhi oleh alam dan manusia. Dengan berkembangnya suatu negara maka semakin banyak berdiri industri dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia. Industri-industri selain menghasilkan output yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia juga menghasilkan tidak sedikit bahan-bahan buangan yang dapat merugikan bagi kelangsungan hidup manusia sendiri. Sungai Premulung adalah salah satu sungai yang dijadikan tempat pembuangan limbah, baik oleh masyarakat sekitar ataupun industri-industri yang berdiri di sekitar aliran sungai Premulung. PT. Batik Keris adalah salah satu perusahaan tekstil yang membuang limbah cairnya ke dalam aliran sungai Premulung.

Dengan adanya aliran limbah yang masuk ke dalam aliran sungai Premulung dapat mempengaruhi kondisi sungai baik fisik, kimiawi ataupun biologis. Dan ini dapat diketahui dengan mengukur parameter-parameter lingkungan sungai Premulung. Plankton adalah organisme yang sangat mudah terpengaruh oleh kondisi fisik ataupun kimiawi sungai, sehingga dapat dijadikan sebagai indikator biologis dengan mengetahui perubahan densitas dan diversitasnya.

(31)

Ekosistem Sungai Premulung

Densitas dan Diversitas Plankton Limbah Cair Tekstil

PT. Batik Keris

Komponen Fisik : Suhu

Arus

Komponen Kimia : pH

DO BOD NO3 Ca Mg

Komponen Biotik Komponen

Abiotik

(32)

C. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Kualitas limbah cair tekstil di saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris Sukoharjo rendah, dan termasuk ke dalam golongan tingkat pencemaran sedang sampai berat.

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2005, di sungai Premulung Surakarta yang mendapat pasokan dari saluran limbah cair PT. Batik Keris Sukoharjo. Analisis sampel dilakukan di Sub Lab. Biologi dan Kimia, Laboratorium Pusat MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : plankton net (25 mess), pipet tetes, stopwatch, pH meter elektrik, DO meter elektrik, ember plastik, botol film, alat tulis, bola pingpong, botol gelap, meteran, tali, termometer elektrik, Erlenmeyer, vortex, gelas beker, tabung reaksi, mikroskop listrik, cawan hitung SRCC (Sedgwick-Rafter Counting Cells), dan spektrofotometer AAS.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : alkohol 70% sebagai larutan fiksatif, sampel air dari saluran limbah tekstil PT Batik Keris Sukoharjo, sampel air dari sungai Premulung Surakarta dan bahan-bahan untuk analisis kimia.

(34)

C. Cara Kerja

Pengambilan sampel air untuk analisis plankton, parameter kimia dan pengukuran parameter fisik ditetapkan 5 titik sampling sebagai stasiun (4 stasiun pada aliran sungai Premulung Surakarta dan 1 stasiun pada saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo), yaitu :

Stasiun I : Penggal sungai Premulung sebelum mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris Sukoharjo (± 50 m sebelum pertemuan).

Stasiun II : Penggal sungai Premulung pada pertemuan dengan saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris Sukoharjo.

Stasiun III : Penggal saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris Sukoharjo (± 50 m sebelum pertemuan)

Stasiun IV : Penggal sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris Sukoharjo (± 50 m setelah setelah pertemuan).

Stasiun V : Penggal sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris Sukoharjo (± 100 m setelah setelah pertemuan).

(35)

St. III

Arah arus St. I St. II St. IV St. V

1. Pengambilan sampel plankton

a. Sampel air diambil dengan ember (volume 10 liter), dan dituangkan ke dalam plankton net yang pada ujungnya telah dipasang botol film. Pengambilan sampel air dilakukan pada kedalaman 0 – 50 cm.

b. Setiap sampel air pada botol film, ke dalamnya ditambahkan 4-5 tetes alkohol 70% sebagai larutan fiksatif.

2. Pengambilan sampel air

Pengambilan sampel air dilakukan dengan botol gelap (volume 150 ml), yaitu :

a. Botol gelap dimasukkan ke dalam air ± 30 cm dari atas permukaan air, kemudian penutup botol dibuka sehingga botol terisi air.

b. Setelah botol gelap terisi air sampai penuh, botol ditutup kembali dan mengangkat botol gelap ke atas permukaan. Air yang di dalam botol gelap dianggap sebagai sampel dan selanjutnya dianalisis di laboratorium.

(36)

3. Pengamatan dan identifikasi plankton

Sampel air yang sudah diperoleh kemudian di teteskan ke dalam gelas SRCC (Sedgwick-Rafter Counting Cells) menggunakan pipet tetes, dan diamati di bawah mikroskop. Perhitungan dilakukan dengan metode “total strip counting”

(seluruh medan penglihatan dijelajahi dan semua individu yang diketemukan dihitung). Identifikasi plankton dilakukan sampai pada tingkat genera dengan menggunakan buku panduan Fresh Water Biology (Edmonson, 1983). Kemudian dihitung densitas dan indeks diversitas plankton.

Perhitungan densitas plankton yaitu jumlah individu per satuan luas digunakan untuk menghasilkan indeks diversitas plankton dengan menggunakan rumus Shannon-Wienner dalam Stilling (1998), sebagai berikut :

Keterangan : H = Indeks diversitas spesies

pi = ni/N (perbandingan jumlah individu jenis ke i dengan total individu)

ni = jumlah individu tiap jenis N = jumlah total individu 4. Pengukuran parameter fisik dan kimia

(37)

b. Arus : Pengukuran arus aliran sungai dilakukan dengan menggunakan alat bola pingpong yang dialirkan di sungai, dicatat jarak per satuan waktu.

c. pH : Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter elektrik, dengan cara memasukkan elektroda termometer ke dalam air ± 30 cm dari atas permukaan air.

d. DO : Pengukuran DO dilakukan dengan menggunakan DO meter elektrik, dengan cara memasukkan elektroda termometer ke dalam air ± 30 cm dari atas permukaan air.

e. BOD : Pengukuran BOD mengambil data pengukuran DO di lapangan sebagai DO awal dan mengambil sampel untuk diukur sebagai DO akhir setelah diinkubasi selama 5 hari pada suhu 25°C. f. Nitrat : Analisis Nitrat (NO3) dengan menggunakan metode

spektrofotometer AAS.

g. Ca : Analisis Kalsium (Ca) dengan menggunakan metode spektrofotometer AAS

(38)

D. Analisis Data

(39)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan pada aliran sungai Premulung dan saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris, yang ditetapkan menjadi 5 stasiun pengamatan dengan jarak tiap stasiun ± 50 meter, dan dilakukan 3 (tiga) kali ulangan, yaitu pada tepi kiri, tengah dan tepi kanan sungai.

Stasiun I adalah penggal aliran sungai Premulung sebelum mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris. Stasiun I dijadikan parameter kontrol kualitas sungai Premulung sebelum mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris. Stasiun II adalah penggal aliran sungai Premulung saat tepat bertemu dengan saluran limbah cair tekstil PT. Batik Keris. Stasiun III adalah saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo. Sedangkan stasiun IV dan V adalah aliran sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris, dimana stasiun IV adalah ± 50 meter dari stasiun II dan stasiun V adalah ± 50 meter setelah stasiun IV.

(40)

Berikut di bawah ini adalah data hasil identifikasi plankton dan hasil pengamatan beberapa parameter lingkungan terukur pada tiap stasiun pengamatan:

Tabel 3. Jenis, Densitas dan Distribusi Plankton pada Tiap Stasiun Pengamatan

(41)

Tabel 4. Rata-rata Hasil Pengukuran Parameter Fisik dan Kimia pada Tiap Stasiun

Dari hasil pengamatan, identifikasi dan penghitungan jumlah plankton pada tiap stasiun pengamatan, kemudian dihitung indeks diversitas plankton. Berikut di bawah ini adalah tabel hasil penghitungan jumlah spesies, kerapatan (densitas) dan nilai indeks diversitas plankton pada tiap stasiun pengamatan.

Tabel 5. Jumlah Spesies, Jumlah Individu, Densitas dan Indeks Diversitas Plankton pada tiap stasiun pengamatan

(42)

B. Pembahasan

1. Parameter Fisik dan Kimia Sungai

a) Suhu

Suhu air berpengaruh pada proses-proses fisikokimia perairan. Menurut Mujosemedi (1985) naiknya suhu dapat mengurangi kelarutan oksigen dalam air. Dan kenaikan suhu sebesar 10oC akan menaikkan dua kali lipat kecepatan reaksi kimia dan biologi (Cholik dan Poernomo, 1989). Sedang menurut Tebutt (1977) dalam Wiryanto (1997) berubahnya suhu dari 20°C menjadi 30°C dapat menyebabkan penurunan kelarutan oksigen dalam perairan sekitar 1,5 ppm.

Tabel 3. menunjukkan rata-rata hasil pengukuran suhu di tiap stasiun pengamatan. Suhu tertinggi adalah 34°C pada stasiun III yang merupakan saluran pembuangan limbah. Dan suhu rata-rata aliran sungai Premulung adalah 28,15°C.

(43)

Gambar 3. Grafik Hubungan antara Suhu dengan Indeks Diversitas Plankton stasiun III adalah saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris yang memiliki kondisi fisik yang sempit, memiliki debit air yang lebih kecil dibandingkan dengan sungai Premulung dan terkena paparan sinar matahari secara langsung hingga sampai ke dasar. Sedangkan suhu yang lebih rendah pada aliran sungai Premulung, terutama pada stasiun II, dapat disebabkan banyak terdapat naungan dari vegetasi yang hidup di tepi sungai. Hal ini menyebabkan sinar matahari tidak dapat langsung menembus atau terhalang untuk mencapai permukaan sungai atau masuk sampai ke dasar sungai.

(44)

b) Kecepatan arus

Sungai adalah termasuk perairan lotik, yang ditandai dengan adanya air yang mengalir atau arus. Laju aliran air berpengaruh pada jenis individu yang dapat hidup dan beradaptasi. Plankton adalah organisme yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh arus, karena plankton hidup dipermukaan ataupun melayang-layang pasif dalam air. Oleh karena itu, pengukuran arus tidak dapat dikesampingkan dalam pembahasan kualitas suatu perairan sungai.

Gambar 4. Grafik Hubungan antara Arus dengan Indeks Diversitas Plankton 0.00

(45)

Batik Keris. Sehingga laju aliran saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris tidak berpengaruh terhadap perubahan laju aliran sungai Premulung.

c) pH

Pengukuran pH pada suatu perairan merupakan hal yang penting karena banyak reaksi kimia dan biokimia terjadi pada kisaran pH yang sempit. Pengetahuan tentang pH sangat berguna dalam pengendalian dan pengoperasian sarana instalasi pembenahan limbah anaerobik dari zat-zat organik. Apabila pH kurang dari 5 atau lebih besar dari 10, maka proses-proses aerobik biologis dapat menjadi kacau (Mahida, 1984).

Gambar 5. Grafik Hubungan antara pH dengan Indeks Diversitas Plankton 0.00

(46)

Nilai pH perairan sungai Premulung dari stasiun I sampai stasiun V berturut-turut mengalami penurunan yang relatif kecil, kecuali pada stasiun III yang merupakan saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris. Tingginya pH pada stasiun III (8,13) ini dimungkinkan karena penggunaan soda koustik untuk proses pembersihan alat-alat pabrik.

Kisaran pH sungai Premulung pada tiap stasiun adalah di atas 7, baik sebelum mendapat pasokan dari limbah cair PT. Batik Keris ataupun setelahnya. Ini dapat diartikan bahwa sifat atau kondisi perairan sungai Premulung adalah alkalis. Kondisi alkalis ini terjadi karena sungai Premulung banyak mendapat masukan dari limbah-limbah domestik yang banyak mengandung sabun atau deterjen sebagai pembentuk Ca dan Mg, sehingga terjadi kesadahan air.

d) Dissolved Oxygen (DO)

(47)

Gambar 6. Grafik Hubungan antara DO dengan Indeks Diversitas Plankton stasiun. Nilai DO rata-rata tiap stasiun adalah 2,30 mg/L–2,44 mg/L. Menurut Pescod (1973), kandungan oksigen minimum sebesar 2 mg/L jika tidak terdapat senyawa toksik sudah dapat mendukung kehidupan organisme perairan secara normal. Sehingga dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa DO tiap stasiun sudah dapat mendukung kehidupan organisme secara normal.

(48)

Sedangkan DO tertinggi sebesar 2,44 mg/L dari ke lima stasiun yang dijumpai pada stasiun III diduga disebabkan karena banyaknya cahaya yang masuk bahkan sampai dasar perairan, sehingga aktivitas fotosintesis produsen perairan relatif lebih besar dan menghasilkan oksigen terlarut yang lebih banyak, dan juga pengikatan oksigen dari udara berjalan lebih baik.

Berdasarkan kriteria mutu air, kadar DO saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo maupun kadar DO sungai Premulung yang berkisar antara 2,30 mg/l s/d 2,44 mg/l, adalah lebih rendah dari batas minimum yang dipersyaratkan yaitu 4 mg/l (PP No. 82 tahun 2001, Kelas II). Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa berdasarkan parameter DO, kualitas perairan sungai Premulung sudah lebih rendah dari kelas II, sesuai dengan PP No. 82/2001.

e) Biologycal Oxygen Demand (BOD)

(49)

Gambar 7. Grafik Hubungan antara BOD dengan Indeks Diversitas Plankton stasiun I sampai stasiun III, kemudian nilai BOD turun pada stasiun IV dan V. Kisaran nilai rata-rata BOD adalah 30,25 mg/L s/d 52,34 mg/L. Pada stasiun III memiliki kandungan BOD yang paling tinggi yaitu 52,34 mg/L. Tingginya kandungan BOD pada stasiun III disebabkan karena stasiun III merupakan saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris, sehingga limbah belum tercampur dengan air sungai.

(50)

Namun demikian, pengaruh kenaikan kandungan BOD ini tidak mempengaruhi sungai Premulung secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat pada penurunan kadar BOD pada stasiun IV dan V yang merupakan aliran sungai Premulung setelah mendapat pasokan limbah dari saluran pembuangan PT. Batik Keris. Pada stasiun II sebesar 46,25 mg/L, pada stasiun IV turun sebesar 15,93 mg/L (34,44%) menjadi 30,32 mg/L. dan pada stasiun V turun sebesar 16,00 mg/L (34,59%) menjadi 30,25 mg/L. Penurunan pada stasiun IV dan V dapat terjadi karena kemampuan organisme sungai Premulung dalam mengoksidasi limbah organik, dan terjadinya pengenceran dengan aliran sungai Premulung.

Kadar BOD pada sungai Premulung dan saluran limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukohorjo yang berkisar antara 30,25 mg/l s/d 52,34 mg/l adalah lebih tinggi dari batas maksimum BOD yang dipersyaratkan yaitu 3 mg/l (berdasarkan PP No. 82 tahun 2001, Kelas II).

f) Nitrat (NO3)

(51)

Di bawah ini adalah grafik rata-rata kandungan nitrat hasil pengukuran di lima stasiun pengamatan.

Gambar 8. Grafik Hubungan antara NO3 dengan Indeks Diversitas Plankton 0.00

Gambar 8, menunjukkan kandungan nitrat tertinggi adalah pada stasiun III yaitu sebesar 6,39 mg/L dan kandungan nitrat ke empat stasiun lainnya (I, II, III, IV dan V) hampir sama yaitu berturut-turut sebesar 2,36 mg/L, 2,35 mg/L, 2,10 mg/L, dan 2,15 mg/L. Tingginya kandungan nitrat pada stasiun III diduga disebabkan oleh adanya limbah PT Batik Keris dan masukan limbah domestik dari pemukiman penduduk sekitar yang banyak mengandung senyawa-senyawa nitrat, yaitu bahan-bahan organik yang selanjutnya mengalami proses oksidasi oleh bakteri aerob menjadi bentuk nitrat sehingga kandungan nitrat meningkat.

(52)

g) Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg)

Ca dan Mg berperan penting dalam pembentukan cangkang organisme perairan seperti plankton dan benthos. Ion Ca dan Mg berasal dari bahan-bahan kapur, sisa cangkang organisme air yang telah mati dan hasil dari pelapukan batuan kapur. Kehadiran ion Ca dan Mg dalam suatu perairan dapat menimbulkan kesadahan air. Kesadahan air yang berlebih dapat menyebabkan air bersifat korosif dan sabun tidak dapat membusa.

Gambar 9. Grafik Hubungan antara Ca dengan Indeks Diversitas Plankton 0.00

(53)

Seperti terlihat pada gambar 9 dan gambar 10 di atas, bahwa pada stasiun III adalah yang memiliki kandungan Ca dan Mg terendah, yaitu 19,39 mg/L (Ca) dan 16,48 mg/L (Mg). Dengan demikian saluran limbah PT. Batik Keris tidak berpengaruh pada kenaikkan Ca atau Mg yang dapat menyebabkan perairan bersifat korosif. Karena kandungan Ca atau Mg pada saluran limbah PT. Batik keris memiliki rata-rata lebih rendah daripada keempat stasiun lainnya yang merupakan aliran sungai Premulung.

Kandungan Ca dan Mg yang lebih tinggi di empat stasiun (I, II, IV dan V) yang merupakan aliran sungai Premulung daripada saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris (stasiun III) dapat diakibatkan karena aliran sungai Premulung banyak mendapat masukan dari limbah domestik berupa sabun yang mengalami proses saponifikasi lemak dengan sabun hidroksida.

2. Analisis Plankton

a) Densitas

Densitas atau kerapatan merupakan jumlah cacah individu per satuan volume. Nilai densitas plankton dapat mencerminkan daya dukung suatu habitat terhadap kehidupan plankton. Semakin tinggi kehadiran plankton atau densitas yang tinggi, mencerminkan daya dukung lingkungan yang baik bagi kehidupan plankton.

(54)

Euglenophyta, serta 9 jenis zooplankton anggota dari phylum Arthropoda, Protozoa, dan Rotifera.

Densitas plankton tertinggi terdapat pada stasiun V yaitu sebesar 102.000 ind/m3. Stasiun V adalah penggal aliran sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris (± 50 m setelah stasiun IV). Dan densitas terkecil terdapat pada stasiun II yaitu sebesar 52.000 ind/m3. Stasiun II adalah penggal aliran sungai Premulung saat tepat bertemu dengan saluran pembuangan limbah cair PT. Batik Keris.

Gambar 11. Histogram Perbedaan Densitas Plankton Tiap Stasiun

86,000

(55)

Sesuai dengan pengukuran parameter kimia terutama kandungan nitrat yang tertinggi pada stasiun ini. Menurut Dix (1981) dalam Wiryanto (1997), limbah organik yang banyak mengandung nitrogen akan menyebabkan kenaikan populasi plankton. Lebih lanjut diterangkan bahwa limbah yang banyak mengandung senyawa beracun seperti logam berat, minyak dan deterjen yang tinggi akan menyebabkan penurunan populasi plankton.

Dari gambar 11 di atas, dapat diketahui adanya penurunan nilai densitas pada aliran sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris. Sebelum mendapat pasokan dari saluran limbah cair PT Batik Keris (stasiun I) densitas planktonnya adalah sebesar (86.000 ind/m3), setelah aliran sungai Premulung mendapat pasokan dari saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris densitasnya menjadi 54.000 ind/m3 atau turun sebesar 32.000 (13,97%) pada stasiun II, dan pada penggal aliran sungai Premulung ±50m setelah stasiun II (stasiun IV) juga masih menunjukkan penurunan nilai densitas meskipun sudah lebih sedikit, yaitu sebesar 6.500 (7,56%). Jadi turunnya nilai densitas plankton pada stasiun II dan IV dipengaruhi oleh adanya masukan dari saluran limbah PT. Batik Keris, sehingga menurunkan kualitas air sungai Premulung, terutama pada stasiun II, dan IV.

(56)

pengukuran parameter fisik dan kimia, pada stasiun V memiliki kondisi yang lebih mendukung daripada stasiun lainnya.

Jumlah total individu plankton yang berhasil diketemukan pada pengamatan sampel air dari 5 stasiun pengamatan adalah 796 spesies, yang terdiri atas 27 jenis spesies yang berbeda. 18 spesies dari golongan fitoplankton dan 9 jenis dari golongan zooplankton. Distribusi baik fitoplankton maupun zooplankton pada stasiun pengamatan menunjukkan distribusi yang tidak merata. Jenis Ankistrodesmus sp, Gonatozygon sp,

Spirogyra sp, Navicula sp dan Nitzschia sp dapat ditemukan pada seluruh stasiun pengamatan, dengan tingkat densitas yang berbeda pada tiap stasiun pengamatan. Diploneis sp, Meriamopedia convulta, dan Astramoeba radiosa

hanya ditemukan pada stasiun III. Sedangkan jenis selain yang disebutkan di atas, dapat diketemukan pada 2, 3, atau 4 stasiun yang berbeda. Perbedaan pesebaran yang terjadi berhubungan dengan kondisi lingkungannya. Densitas tiap spesies yang terukur memiliki nilai yang bervariasi pada berbagai stasiun, ada yang meningkat kerapatannya, ada pula yang menurun kerapatannya.

(57)

untuk menopang kehidupan berbagai jenis plankton. Perbedaan kerapatan yang cukup besar pada tiap stasiun pengamatan, terutama pada stasiun II, III dan V, hal ini terjadi karena perbedaan tersedianya nutrient baik organik maupun anorganik pada berbagai lokasi pengamatan tersebut.

Jumlah individu zooplankton yang ditemukan pada ke lima lokasi pengamatan, lebih sedikit daripada jumlah fitoplankton yang ditemukan. Keadaan tersebut karena fitoplankton berfungsi sebagai produsen primer, sehingga kehadiran zooplankton tergantung pada kehadiran jenis fitoplankton pada habitat tersebut.

b) Indeks Diversitas

Indeks diversitas menggambarkan keadaan populasi organisme secara matematis untuk mempermudah dalam menganalisis informasi jumlah individu masing-masing spesies dalam komunitas. Kondisi lingkungan yang baik memiliki indeks diversitas yang tinggi. Indeks diversitas yang tinggi menggambarkan dalam komunitas tersebut tidak terdapat dominansi dari suatu spesies dengan jumlah yang tinggi. Sehingga jumlah kehadiran suatu spesies adalah relatif sama.

(58)

Dari Tabel 5 dapat dibuat histogram perbedaan indeks diversitas plankton pada tiap stasiun pengamatan, sebagai berikut :

Gambar 12. Histogram Perbedaan Indeks Diversitas Plankton Tiap Stasiun

(59)

Rendahnya nilai indeks diversitas pada stasiun III, dimungkinkan karena stasiun III yang merupakan lokasi saluran pembuangan limbah dari PT. Batik Keris, mempunyai kandungan bahan-bahan organik maupun anorganik yang lebih tinggi yang menyebabkan suatu spesies plankton tidak mampu untuk bertahan hidup pada lingkungan ini. Sehingga didapatkan indeks diversitas yang rendah, atau dapat diartikan memiliki keanekaragaman spesies yang rendah.

Nilai indeks diversitas mengalami kenaikan kembali pada penggal aliran sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran limbah PT. Batik Keris, atau pada stasiun IV dan stasiun V. Kenaikan pada stasiun IV sebesar 0,078 (4,79%) dan pada stasiun V sebesar 0,246 (15,12%). Naiknya nilai indeks diversitas plankton ini dikarenakan pengaruh dari limbah PT. Batik Keris sudah semakin rendah, mengingat lokasi stasiun pengamatan yang lebih jauh (±50m) daripada stasiun pengamatan yang langsung bertemu dengan saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris (stasiun II). Sehingga dimungkinkan telah terjadi penguraian dan pengendapan limbah organik maupun anorganik.

(60)

perairan sungai Premulung tergolong kedalam tingkat pencemaran sedang, baik itu penggal aliran sungai Premulung sebelum mendapat pasokan dari saluran limbah PT. Batik Keris, maupun penggal aliran sungai Premulung setelah mendapat pasokan dari saluran limbah PT. Batik Keris. Demikian halnya dengan saluran pembuangan limbah PT. Batik Keris.

(61)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagi berikut :

1. Kualitas perairan di saluran pembuangan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo diasosiasikan dengan Baku Mutu Air kelas II PP Nomor 82/2001, berdasarkan indikator :

a. Suhu, lebih tinggi dari batas maksimum deviasi suhu yang dipersyaratkan.

b. pH dan NO3, masih dalam batas toleransi pH dan NO3 yang dipersyaratkan.

c. DO, kurang atau lebih rendah dari batas minimum DO yang dipersyaratkan.

d. BOD, melebihi atau lebih tinggi dari batas maksimum BOD yang dipersyaratkan.

e. Indeks diversitas menurut Wilhm (1975) dalam Wiryanto (1997), termasuk perairan tercemar sedang.

2. Kualitas perairan sungai Premulung baik sebelum mendapat pasokan limbah cair tekstil PT. Batik Keris maupun setelahnya, memiliki kualitas perairan yang sama, diasosiasikan dengan Baku Mutu Air kelas II PP Nomor 82/2001, yaitu berdasarkan indikator :

(62)

a. Suhu, pH dan NO3, masih dalam batas toleransi suhu dan pH yang dipersyaratkan.

b. DO, kurang atau lebih rendah dari batas minimum DO yang dipersyaratkan.

c. BOD, melebihi atau lebih tinggi dari batas maksimum BOD yang dipersyaratkan.

d. Indeks diversitas menurut Wilhm (1975) dalam Wiryanto (1997), termasuk perairan tercemar sedang.

3. Pasokan limbah cair tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo secara keseluruhan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan suhu, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg maupun indeks diversitas plankton perairan sungai Premulung Surakarta.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang kualitas limbah cair dari berbagai sumber yang memasok limbah ke dalam perairan sungai Premulung dan pengamatan densitas, distribusi dan indeks diversitas plankton dari hulu sampai hilir, sehingga diperoleh informasi kualitas sungai Premulung secara menyeluruh.

(63)

sudah tidak sesuai dengan batas yang dipersyaratkan (Baku Mutu Air kelas II PP Nomor 82/2001), sehingga kualitasnya tidak menjadi semakin turun. 3. Perlu diadakan program-program pembinaan atau penyuluhan yang

(64)

DAFTAR PUSTAKA Batik Dengan Pemanfaatan Ekstrak Yeast. Penelitian. Surakarta: FMIPA Universitas Sebelas Maret.

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1994. Limbah Cair Berbagai Industri di Indonesia : Pengendalian dan Baku Mutu. Jakarta: Emdi_Bapedal. Badrudin, M. 1990. “Penilaian Pencemaran Air dengan Sistem Indeks”. Jurnal

L.P. Nomor 5 (17): 5-12.

Botkin, D. B. and E. A. Keller. 2000. Environmental Science Earth as A Living Planet. California: John Willey and Sons Inc.

Chiang, K. T. 1989. “Pengelolaan Mutu Air (Shrimp Pond Water Quality Management)”. Lokakarya Pengelolaan Budidaya Udang. Gedung Balai Prajurit Brawijaya. Surabaya: 31 Juli-2 Agustus

Cholik, F. dan Poernomo. 1989. “Pengelolaan Mutu Air Tambak Untuk Budidaya Udang Intensif”. Dalam Kumpulan Makalah Seminar Teknik Budidaya Udang Intensif di Medan, Jakarta, Surabaya dan Ujung Pandang, tanggal 8-14 Desember 1987. hal: 45.

Edmonson, D. 1983. Freshwater Biology. 2nd edition. New York: John Wiley and Sons Inc.

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Hadisusanto, S. 1992. Filter Biologi untuk Penanganan Limbah Industri. Yogyakarta: PAU Bioteknologi UGM.

Harjadi, S. 1979. Pengantar Agronomi. Jakarta: Departemen Agronomi. Fakultas Pertanian. IPB. Penerbit Gramedia. hal : 120.

Hudiyono, Maryani dan M. Harini. 1999. Kajian Kualitas dan Kuantitas Pseudomonas aeruginosa yang Terdapat Dalam Limbah Industri Batik. Laporan Penelitian. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

(65)

Mahida, U. N. 1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta: C V Rajawali.

Martini, K. S. 2001. Pengaruh Parameter BOD, COD, pH, Fenol dan Coli pada Air Sungai terhadap Kualitas Air Sumur disekitar Aliran Sungai Premulung Kota Surakarta. [Tesis]. Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret.

Mills, J.N. 1989. Control Zoology 10thedition. New York: Mc Millan Publishing Co. Inc.

Mujosemedi. 1985. Beberapa Aspek Pencemaran Limbah Pabrik PT. Batik Keris di Perairan Sungai Premulung Surakarta. [Skripsi]. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.

Odum, E. P. 1993. Fundamental of Ecology, 3th edition. London: WB. Soundes Co.

Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standars for Tropical Countries. Bangkok: AIT.

Rizald, M. R. 1998. Kimia Lingkungan. Bandung: Penerbit Tarsito

Soemarwoto, O. 1994. Ekologi, Lingkungan dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Stilling, P. D. 1998. Ecology : Theories and Application. New Jersey: Prentice Hall International Inc.

Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Suratno, F. G. 1998. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Cetakan ke-8 edisi revisi). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Syamsudin dan Komar. 1982. Biologi Perikanan. Jakarta; Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan: Depdikbud.

Whitten, A. J. 1987. Ekologi Sulawesi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

(66)

Winarno, K., O.P. Astirin dan A.D. Setyawan. 2000. “Pemantauan Kualitas Perairan Rawa Jabung berdasarkan Keanekaragaman dan Kekayaan Komunitas Bentos”. Biosmart. 2(1): 40-46.

(67)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdullilahi robbil’alamin, hanya atas rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Pasokan Limbah Cair Tekstil PT. Batik Keris Sukoharjo Terhadap Perubahan Suhu, pH, DO, BOD, NO3, Ca, Mg dan Plankton di Sungai Premulung Surakarta” dengan baik. Dalam proses penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dengan selesainya naskah skripsi ini penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Ayah, Ibu, Kakak dan Adik tercinta; terima kasih atas doa, dukungan, dorongan semangat dan segalanya baik moril maupun materiil yang telah diberikan selama ini.

2. Drs. H. Marsusi, M. S., selaku Dekan Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Drs. Wiryanto, M. Si., selaku Ketua Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Pembimbing II/Penguji IV yang telah memberikan ijin dan kemudahan birokrasi serta bimbingan, dorongan dan saran yang sangat berharga sehingga terselesaikannya skripsi ini. 4. Drs. Kusumo Winarno, M. Si., selaku Pembimbing I/Penguji III yang telah

(68)

5. Dr. Sugiyarto, M. Si., selaku Penguji I yang telah banyak memberikan saran dan masukan sehingga terselesaikannya skripsi ini.

6. Ari Susilowati, M. Si., selaku Penguji II yang telah banyak memberikan saran dan masukan sehingga terselesaikannya skripsi ini.

7. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan jurusan Biologi FMIPA UNS seluruhnya atas ilmu dan dukungan yang diberikan selama penulis menempuh perkuliahan.

8. Kepala Sub Lab Biologi dan Kepala Sub Lab Kimia Laboratorium Pusat MIPA UNS beserta seluruh staff dan pegawai yang telah memberikan ijin untuk menggunakan fasilitas penelitian dan atas kerjasamanya.

9. Wachid Machmud, rekan penelitian yang banyak membantu dan memberikan semangat.

10.Rahadi Hutomo, Prandaya Umara, Heri, Andi, Taufik dan Arif yang telah banyak membantu penulis selama ini.

11.Semua pihak yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Surakarta, 13 April 2006

(69)

Chlorophyta Closterium sp 1 500 0.006 (0.030) 2 1000 0.019 (0.074) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 3 Chlorophyta Gonatozygon sp 7 3500 0.041 (0.130) 2 1000 0.019 (0.074) 1 500 0.007 (0.036) 3 1500 0.019 (0.075) 4 2000 0.018 (0.073) 4 Chlorophyta Micractinium sp 2 1000 0.012 (0.052) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 2 1000 0.013 (0.055) 5 2500 0.023 (0.086) 5 Chlorophyta Oocardium sp 43 21500 0.250 (0.347) 13 6500 0.120 (0.255) 9 4500 0.066 (0.180) 56 28000 0.352 (0.368) 89 44500 0.403 (0.366) 6 Chlorophyta Protococcus sp 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.007 (0.036) 0 0 0.000 0.000 1 500 0.005 (0.024) 7 Chlorophyta Scenedesmus sp 1 500 0.006 (0.030) 4 2000 0.037 (0.122) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 8 Chlorophyta Spirogyra sp 2 1000 0.012 (0.052) 1 500 0.009 (0.043) 4 2000 0.029 (0.104) 2 1000 0.013 (0.055) 5 2500 0.023 (0.086) 9 Chlorophyta Ulothrix zonata 1 500 0.006 (0.030) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.006 (0.032) 3 1500 0.014 (0.058) 10 Chlorophyta Volvox aureus 1 500 0.006 (0.030) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.006 (0.032) 1 500 0.005 (0.024) 11 Chrysophyta Denticula sp 0 0 0.000 0.000 1 500 0.009 (0.043) 1 500 0.007 (0.036) 0 0 0.000 0.000 6 3000 0.027 (0.098)

12 Chrysophyta Diploneis sp 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 2 1000 0.015 (0.062) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000

13 Chrysophyta Navicula sp 8 4000 0.047 (0.143) 4 2000 0.037 (0.122) 5 2500 0.037 (0.121) 12 6000 0.075 (0.195) 7 3500 0.032 (0.109) 14 Chrysophyta Nitzschia sp 86 43000 0.500 (0.347) 71 35500 0.657 (0.276) 97 48500 0.713 (0.241) 58 29000 0.365 (0.368) 62 31000 0.281 (0.357) 15 Chrysophyta Synedra sp 1 500 0.006 (0.030) 3 1500 0.028 (0.100) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 16 Chyanophyta Meriamopedia convulta 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.007 (0.036) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 17 Cryptophyta Chilomonas sp 3 1500 0.017 (0.071) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 3 1500 0.019 (0.075) 2 1000 0.009 (0.043) 18 Euglenophyta Euglena sp 0 0 0.000 0.000 1 500 0.009 (0.043) 7 3500 0.051 (0.153) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 19 Arthropoda Cyclops sp 0 0 0.000 0.000 1 500 0.009 (0.043) 1 500 0.007 (0.036) 0 0 0.000 0.000 1 500 0.005 (0.024) 20 Arthropoda Daphnia sp 1 500 0.006 (0.030) 1 500 0.009 (0.043) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.005 (0.024) 21 Arthropoda Macrosetella sp 1 500 0.006 (0.030) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.006 (0.032) 3 1500 0.014 (0.058) 22 Protozoa Astramoeba radiosa 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 1 500 0.007 (0.036) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 23 Protozoa Centropyxis costricta 2 1000 0.012 (0.052) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 4 2000 0.025 (0.093) 2 1000 0.009 (0.043) 24 Protozoa Paramecium sp 0 0 0.000 0.000 1 500 0.009 (0.043) 5 2500 0.037 (0.121) 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 25 Rotifera Asplanchna sp 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 2 1000 0.013 (0.055) 4 2000 0.018 (0.073) 26 Rotifera Notholca sp 3 1500 0.017 (0.071) 1 500 0.009 (0.043) 0 0 0.000 0.000 1 500 0.006 (0.032) 2 1000 0.009 (0.043) 27 Rotifera Platyias sp 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 0 0 0.000 0.000 2 1000 0.013 (0.055) 4 2000 0.018 (0.073) T O T A L 172 86000 1.000 (1.627) 108 54000 1.000 (1.399) 136 68000 1.000 (1.235) 159 79500 1.000 (1.705) 221 110500 1.000 (1.873)

Keterangan :

1. Nilai "0" memiliki arti spesies termaksud tidak dtemukan dalam pengamatan.

2. Mulai nomor urut 1 sampai dengan 18 termasuk kedalam Fitoplankton, dan sisanya adalah zooplankton

Summary

I II III IV V

Jumlah spesies 17 15 14 15 19

Jumlah individu 172 108 136 159 221 Densitas (Ind/m3) 86000 54000 68000 79500 110500 Indeks Diversitas 1.627 1.399 1.235 1.705 1.873

(70)

Cara Kerja Analisis Kimia

1. Pengukuran BOD.

Mengencerkan sampel air dengan air pengenceran, membuat air pengenceran dengan cara membuat larutan FeCl3 (0,25 gr FeCl3.6H2O dalam 1 liter akuades), larutan CaCl2 (2,75 gr CaCl2 dalam 1 liter akuades), larutan MgSO4 (22,5 gr MgSO4.7H2O dalam 1 liter akuades), larutan buffer phospat (2,125 gr KH2PO4; 5,4375 gr K2HPO4; 8,35 gr Na2HPO4; 0,425 gr NH4Cl dalam akuades hingga 250 ml). Selanjutnya mengambil masing-masing larutan pengencer tersebut 1 ml, kemudian menambahkan akuades hingga 1 liter dalam labu ukur 1000 ml (mengaerasikan air pengencer selama 24 jam dan mengukur pH larutan 6,5-8,5 dengan penambahan asam atau basa). Mengukur DO awal dengan DO meter, selanjutnya menyimpan dalam botol tertutup dan tidak terdapat gelembung udara, menginkubasikan selama 5 hari pada suhu 20o C. Kemudian mengukur DO-nya.

2. Pengukuran Nitrat dengan metode spektrofotometer AAS.

(71)

3. Pengukuran Ca dengan metode spektrofotometer AAS.

Mendestruksikan 100 ml sampel air dengan 5 ml HNO3, memanaskan selama 1 jam kemudian menyaringnya setelah dingin. Setelah itu mengencerkannya lagi menjadi 100 ml dan menembaknya dengan spektrofotometer AAS.

4. Pengukuran Mg dengan metode spektrofotometer AAS.

(72)
(73)
(74)
(75)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Penulis dilahirkan pada tanggal 13 April 1979 di Pemalang, Jawa Tengah. Pada tahun 1992 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 02 Purwosari. Selanjutnya, menamatkan pendidikan Sekolah Lanjutan Pertama di SLTP Negeri 1 Comal Pemalang pada tahun 1995 dan Sekolah Menengah Umum di SMU Negeri 1 Pemalang pada tahun 1998. Tahun 1998 penulis diterima di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan Biologi.

Gambar

Tabel 1. Jenis Proses Industri Batik dan Kemungkinan Zat yang Dapat Mencemari
Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran
Gambar 2. Skema Stasiun Pengambilan Sampel.
Tabel 3. Jenis, Densitas dan Distribusi Plankton pada Tiap Stasiun Pengamatan
+7

Referensi

Dokumen terkait