• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Cendawan Endofit Sebagai Agens Penginduksi Ketahanan Tanaman Cabai Terhadap Penyakit Daun Keriting Kuning Dan Serangga Vektor Bemisia Tabaci

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Cendawan Endofit Sebagai Agens Penginduksi Ketahanan Tanaman Cabai Terhadap Penyakit Daun Keriting Kuning Dan Serangga Vektor Bemisia Tabaci"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

PENGENDALIAN INFEKSI

Vibrio harveyi

PADA UDANG

VANAME DENGAN EKSTRAK KUNYIT-SAMBILOTO

DALAM PAKAN DI KARAMBA JARING APUNG,

KEPULAUAN SERIBU

SHAVIKA MIRANTI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pengendalian Infeksi Vibrio harveyi pada Udang Vaname dengan Ekstrak Kunyit-Sambiloto dalam Pakan di Karamba Jaring Apung, Kepulauan Seribu adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

SHAVIKA MIRANTI. Pengendalian Infeksi Vibrio harveyi pada Udang Vaname dengan Ekstrak Kunyit-Sambiloto dalam Pakan di Karamba Jaring Apung, Kepulauan Seribu. Dibimbing oleh DINAMELLA WAHJUNINGRUM dan TATAG BUDIARDI.

Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) di karamba jaring apung (KJA) laut adalah inovasi pemanfaatan potensi laut di Indonesia. Salah satu keuntungannya adalah oksigen yang melimpah di laut sehingga menghemat energi dan biaya produksi. Namun, dinamika kondisi lingkungan air laut terhadap ukuran tebar yang masih kecil dan padat tebar tinggi dapat memicu faktor stres pada udang. Meskipun hal tersebut diminimalkan lewat pemilihan lokasi (site selection) yang baik, tetapi pada suatu perairan terbuka akan terdapat faktor lingkungan yang tidak dapat dikendalikan pada musim-musim tertentu. Hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan, menurunkan sistem imun udang bahkan kematian dari udang yang dipelihara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas campuran ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan untuk meningkatkan sistem imun udang sebagai upaya pengendalian penyakit akibat bakteri V. harveyi pada udang vaname. Selain itu, penelitian ini juga untuk membangun teknologi terapan budidaya udang vaname di laut, khususnya dalam manajemen kesehatan udang.

Tahapan dari penelitian ini dimulai dengan menentukan dosis campuran ekstrak kunyit-sambiloto yang tepat lewat uji in vitro, hasil yang terbaik terdapat pada campuran ekstrak kunyit-sambiloto 4+2 g L-1. Setelah itu dilakukan pembuatan pakan, menggunakan pakan komersil (protein 40%) yang dicetak kembali (repelleting) setelah dicampur ekstrak kunyit-sambiloto 4+2 g kg-1 pakan untuk pakan uji dan tanpa campuran tersebut untuk pakan kontrol. Tahap selanjutnya yaitu uji pendahuluan di laboratorium selama 17 hari (10 hari sebelum dan 7 hari setelah uji tantang), terdiri dari tiga perlakuan (kontrol negatif, kontrol positif, pakan uji) masing-masing dengan tiga ulangan. Setelah itu, dilakukan uji in vivo sebelum uji tantang di KJA laut (30 hari), terdiri dari dua perlakuan (pakan kontrol dan pakan uji) masing-masing enam ulangan, selanjutnya uji tantang dilakukan di laboratorium, pemeliharaan diteruskan selama 10 hari dengan empat perlakuan (kontrol negatif, positif, pencegahan, dan pengendalian) masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan harian (LPH), tingkat kelangsungan hidup (TKH), dan rasio konversi pakan (RKP) serta parameter imunologi yaitu aktivitas prophenoloxidase (proPO) dan respiratory burst (RB).

(5)

15.33±0.07% hari-1 dan 0.80±0.01. Pada uji in vivo setelah uji tantang (10 hari), nilai terbaik terdapat pada perlakuan pengendalian, dengan parameter imunologi yaitu proPO pada hari ketiga setelah uji tantang (H33) dan RB pada hari kedua dan ketiga setelah uji tantang (H32 dan H33), serta parameter kinerja produksi TKH, LPH, dan RKP yang secara berurutan, 88.15±1.28%, 3.80±0.07% hari-1, dan 0.99±0.02. Pakan dengan campuran ekstrak kunyit-sambiloto 4+2 g kg-1 pakan, mampu meningkatkan sistem imun udang terhadap infeksi penyakit akibat bakteri V. harveyi pada perlakuan pengendalian yang diberikan selama 30 hari di awal pemeliharaan dan 10 hari setelah uji tantang.

(6)

SUMMARY

SHAVIKA MIRANTI. Controlling of Vibrio harveyi infection on White Shrimp with Curcuma longa-Andrographis paniculata Extract in Diets at Floating Cage Culture, Thousand Islands. Supervised by DINAMELLA WAHJUNINGRUM and TATAG BUDIARDI.

White shrimp farming in floating cage in the sea is an innovative culture technology for exploiting marine potential in Indonesia. The abundant of oxygen in the sea is one of the advantages of this technique to saving the energy and production cost. The high dynamic of seawater environmental conditions can trigger stress factors to shrimp with high stocking density and small size. Although it is minimized with the preparation of site selection, there will be certain seasons an open water environment factors can not be controlled. It can effect to growth, decrease the immune system of shrimp and even high mortality. The aimed of this research was to evaluated the effectiveness mixture of Curcuma longa-Andrographis paniculata extract in diets to increase the immune system of shrimp as an effort to control the disease caused by V. harveyi in white shrimp. In addition, to establish the apply technology in white shrimp farming in the sea, especially in the healthy management of shrimp.

Stages of this research started with in vitro test to finded the dose of mixture C. longa-A. paniculata extract, the best results was 4+2 g L-1. Furthermore, commercial feed was repelleting after mixed with the extract, 4+2 g kg-1 for treatment diet and without the extract mixture to control diet. The preliminary test in the laboratory for 17 days (10 days before and 7 days after the challenged test), consisted of three experimental design (the negative and positive control and also treatment diet) with three replications. The in vivo test before the challenged test in floating cage in the sea (30 days), two experimental design (controls and treatment diet) with six replications, continued after challenged test in the laboratory (10 days), four experimental design (negative, positive, preventive, and controlling) with three replications. The survival rate (SR), specific growth rate (SGR), and feeding convertion rasio (FCR) were evaluated in the in vivo test and also immunology parameters, prophenoloxidase (proPO) activity and respiratory burst (RB) after challenged test.

(7)

parameters, SR, SGR, and FCR of control, 88.15±1.28%, 3.80±0.07% day-1, and 0.99±0.02, respectively. Diets with mixture of C. longa-A. paniculata extract 4+2 g kg-1, can increase the immune system of shrimps againts the infection of V.harveyi on controlling which feed during 30 days at early stage culture and 10 days after the challenged test.

(8)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu Akuakultur

PENGENDALIAN INFEKSI

Vibrio harveyi

PADA UDANG

VANAME DENGAN EKSTRAK KUNYIT-SAMBILOTO

DALAM PAKAN DI KARAMBA JARING APUNG,

KEPULAUAN SERIBU

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

(10)
(11)
(12)

PRAKATA

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis mampu menyelesaikan karya ilmiah ini. Penelitian

yang berjudul “Pengendalian Infeksi Vibrio harveyi pada Udang Vaname dengan Ekstrak Kunyit-Sambiloto dalam Pakan di Karamba Jaring Apung, Kepulauan Seribu” ini dilaksanakan pada Maret 2015 hingga Juli 2015 di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor dan pengujian skala lapangan dilakukan di Balai Sea Farming, PKSPL, LPPM-IPB, Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dinamella Wahjuningrum dan Dr. Tatag Budiardi selaku komisi pembimbing atas kesabaran, arahan, dan motivasi yang diberikan kepada Penulis selama penelitian dan penyusunan tesis. Terima kasih untuk Ir. Irzal Effendi M.Si. atas izin, kepercayaan, saran dan dukungan untuk ikut menjalankan penelitian yang merupakan bagian dari Penelitian Institusi yang ketuai oleh beliau. Terima kasih juga penulis sampaikan pada Dr. Widanarni yang telah besedia menjadi dosen penguji sekaligus selaku Komisi Program Studi Ilmu Akuakultur. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada seluruh staf Balai Sea Farming (Widi, Anwar, Riky, Ibrohim) dan bagian keuangan, PKSPL, LPPM, IPB (Vepryany Oktaviarty) yang membantu sehingga penelitian ini berjalan lancar. Ungkapan terima kasih tidak lupa juga Penulis sampaikan untuk Ayahanda Syaiful Anwar dan Ibunda Hafsah, Adinda Shella Marlinda dan Keluarga Besar Alm. H. Kamohar Ratuloli atas doa dan dukungannya, teman-teman terbaik T M Haja Al Muqarammah S.Pi, M.Si, Fazril Saputra S.Kel, M.Si, Erni Susanti S.Pi, dan Abung Maruli Simanjuntak S.Pi, M.Si yang telah membantu dalam penelitian ini. Terima kasih kepada KEMENRISTEK DIKTI yang telah memberikan beasiswa BPPDN kepada Penulis sehingga dapat melanjutkan program studi pascasarjana ini. Semoga temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu di bidang perikanan, khususnya untuk manajemen kesehatan budidaya udang di KJA laut.

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN v

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 3

Hipotesis 3

2 METODE 3

Waktu dan Tempat 3

Materi Uji 4

Rancangan Percobaan 5

Prosedur Penelitian 6

Parameter Penelitian 8

Analisis Data 11

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 11

Hasil 11

Pembahasan 16

4 SIMPULAN DAN SARAN 20

Simpulan 20

Saran 20

DAFTAR PUSTAKA 20

LAMPIRAN 23

(14)

DAFTAR TABEL

1 Diameter zona hambat pada media agar plate SWC sebagai hasil uji in vitro ekstrak kunyit-sambiloto terhadap V. harveyi 11 2 Analisis parameter kinerja produksi pada uji pendahuluan penggunaan

ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi pada udang vaname KN (pakan kontrol 10 hari, imersi PBS, pakan kontrol 7 hari), KP (pakan kontrol 10 hari, imersi V. harveyi, pakan kontrol 7 hari), dan PU (pakan uji 10 hari, imersi V.

harveyi, pakan kontrol 7 hari) 12

3 Analisis parameter kinerja produksi pada uji in vivo penggunaan ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi pada udang vaname KK (pakan kontrol 30 hari di laut), KU (pakan uji 30 hari di laut), KKN (diimersi PBS, pakan kontrol 10 hari di Lab), KKP (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), KUC (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), dan KUK (diimersi V. harveyi, pakan uji 10 hari di Lab) 13

DAFTAR GAMBAR

1 Aktivitas prophenoloxidase (proPO) udang vaname yang diberi pakan mengandung ekstrak kunyit-sambiloto untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi. O (analisis sebelum udang ditebar di KJA), KK mengandung ekstrak kunyit-sambiloto untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi. O (analisis sebelum udang ditebar di KJA),KK

3 Glukosa plasma tubuh udang vaname yang diberi pakan mengandung ekstrak kunyit-sambiloto untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi. O (analisis sebelum udang ditebar di KJA), KK (pakan kontrol 30 hari di laut), KU (pakan uji 30 hari di laut), KKN (diimersi PBS, pakan kontrol 10 hari di Lab), KKP (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), KUC (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), dan KUK (diimersi V. harveyi, pakan uji 10 hari di Lab)

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil identifikasi Vibrio harveyi 23

2 Proses ekstraksi kunyit dan sambiloto di Balittro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat) Cimanggu, Bogor, Jawa Barat 23 3 Hasil uji fitokimia ekstrak kunyit Curcuma longa 24 4 Hasil uji fitokimia ekstrak sambiloto Andrographis paniculata 24

5 Hasil uji proksimat pakan 25

6 Perhitungan LC50 25

7 Prosedur analisis kadar glukosa menggunakan KIT Glucose GOD FS

dari DiaSys International 26

(16)
(17)

1

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia memiliki potensi pengembangan perikanan budidaya yang sangat besar, namun tingkat pemanfaatan potensi tersebut masih kecil. Potensi budidaya laut (marikultur) diperkirakan mencapai 8.363.501 ha, namun baru dimanfaatkan seluas 74.543 ha atau sekitar 0,9% (KKP 2011). Salah satu wilayah di Indonesia yang dapat dikembangkan marikulturnya adalah laut Kepulauan Seribu. Laut adalah sumber kehidupan dan menjadi aset produksi bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kepulauan Seribu yang 99% kawasannya berupa laut. Memproduksi udang di perairan laut Kepulauan Seribu memiliki keuntungan yaitu akan mendekatkan sentra produksi kepada pasar kota metropolitan DKI Jakarta dan kawasan megapolitan Jabodetabek Bapunjur, sehingga rantai pemasaran menjadi lebih efisien.

Budidaya udang di laut dalam KJA (karamba jaring apung) merupakan sebuah inovasi dalam marikultur yang memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah untuk mengurangi konflik kepentingan pemanfaatan lahan di darat yang semakin sempit dan juga sebagai upaya untuk memanfaatkan potensi marikultur yang kita miliki. Selain itu, sistem ini juga dapat mengurangi biaya produksi karena ketersediaan oksigen yang selalu tersedia akibat dinamisnya air laut sehingga hemat energi dan padat tebar yang digunakan juga bisa diarahkan pada intensifikasi. Inovasi ini juga dapat menjadi alternatif dalam menghadapi isu negatif pengembangan tambak udang di pesisir yang berpotensi merusak hutan mangrove (Lombardi et al. 2006). Saat ini, udang vaname (Litopenaeus vannamei) memiliki harga yang tinggi dan pasar yang bagus (baik domestik maupun ekspor), bahkan sudah ada pasar udang hidup dengan taste natural, dengan harga yang jauh lebih tinggi (harga premium), yang digunakan untuk sushi atau sashimi di kota besar di Indonesia dan dunia. Umumnya udang vaname diproduksi dalam tambak air payau di darat (inland aquaculture), dan hampir seluruhnya dipasarkan dalam kondisi segar dan beku. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa udang ini bisa dibudidayakan di laut (Zarain-Herzberg et al. 2010), dan udang vaname laut memiliki rasa, tekstur dan aroma yang lebih baik dibandingkan dengan udang vaname tambak.

(18)

2

penyakit pada udang vaname adalah Vibrio harveyi. Bakteri ini menyebabkan penyakit vibriosis pada udang, dan sangat patogen bagi larva udang sehingga menyebabkan kematian massal (Vandenberghe et al. 1999).

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa antibiotik seperti oksitetrasiklin (OTC) (Nogueira-Lima et al. 2006). Namun, pengendalian tersebut lebih bersifat pengobatan. Penggunaan antibiotik pada budidaya udang juga mempunyai dampak negatif pada lingkungan akuatik dan residunya membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsinya (Reed et al. 2003). Penggunaan antibiotik juga dapat menyebabkan berkembangnya strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik tersebut. Bahkan V. harveyi telah menunjukkan sifat resisten pada beberapa antibiotik seperti chloramphenicol, erythromichin, dan furazolidone (Karunasagar et al. 1994)

Manajemen produksi yang tepat perlu dilakukan untuk menangani permasalahan ini antara lain melalui manajemen kesehatan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan bahan alami dalam pakan yang dapat berfungsi meningkatkan sistem imun dan bersifat antibakteri, mempertahankan kelangsungan hidup serta meningkatkan pertumbuhan. Bahan alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu jika dikonsumsi udang dapat diperoleh dari tanaman herbal yang telah diujikan pada beberapa penelitian, diantaranya adalah kunyit (Curcuma longa) dan sambiloto (Andrographis paniculata). Kunyit memiliki kandungan bahan aktif golongan phenolic yaitu diarylheptanoids, dengan komponen yang paling banyak adalah curcuminoids yang terdiri dari curcumin, monodemethyoxycurcumin dan bisdemethyoxycurcumin (Pfeiffer et al. 2003; Herebian et al. 2009). Curcuminoids memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi, antioksidan, antikarsinogenik, antimutagenik, antikoagulan, antidiabetik, antibakterial, antifungal, antiprotozoal, antiviral, antivenom, dan antiradang (Kumar et al. 2011). Sambiloto memiliki tiga komponen senyawa aktif utama golongan diterpenoid lakton dalam daunnya, yaitu andrografolide, neo-andrografolid dan deoxyandrografolid (Chao and Lin 2010). Selain itu, ada komponen lain yaitu saponin, flavonoid, dan tanin (Chatterjee et al. 2014). Sambiloto memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi, antioksidan, antikanker, immunodulasi, anti-infeksi, antihepatotoksisitas, anti-aterosklerosis, dan antihiperglicemia (Chao and Lin 2010).

(19)

3 ekstrak sambiloto (400 mg L-1) sebagai pakan alami udang windu Penaeus monodon juga mampu mempertahankan TKH dan laju pertumbuhan harian (LPH) tetap tinggi setelah diinfeksi Vibrio sp. (Citarasu et al. 2003). Penelitian penggunaan campuran bahan alami seperti ekstrak kunyit-sambiloto pada pakan udang perlu diteliti untuk menguji keefektifan kedua bahan tersebut ketika diberikan secara bersaman untuk meningkatkan sistem imun udang yang dipelihara di laut agar dapat menanggulangi permasalahan penyakit akibat bakteri. Penelitian ini diharapkan akan menjadi salah satu teknologi terapan dalam manajemen kesehatan udang vaname yang dibudidayakan di laut.

Perumusan Masalah

Dinamika air laut yang tinggi akan menjadi masalah pada ukuran tebar udang yang kecil dan padat penebaran tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu faktor stres pada udang yang dapat mengganggu pertumbuhan dan menurunnya sistem imun udang sehingga mudah terinfeksi penyakit akibat bakteri. Penggunaan antibiotik sebagai pengendalian penyakit pada udang tidak lagi diperbolehkan. Oleh karena itu, penelitian penggunaan campuran bahan alami seperti ekstrak kunyit-sambiloto pada pakan udang perlu diteliti untuk mengevaluasi keefektifannya dalam meningkatkan sistem imun udang agar dapat menanggulangi permasalahan penyakit akibat bakteri V. harveyi.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas campuran ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan untuk meningkatkan sistem imun udang sebagai upaya pengendalian penyakit akibat bakteri V. harveyi pada udang vaname. Selain itu, penelitian ini juga untuk membangun teknologi terapan budidaya udang vaname di laut, khususnya dalam manajemen kesehatan udang.

Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah campuran ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan mampu meningkatkan sistem imun udang sehingga memberikan kelangsungan hidup yang tinggi pada udang vaname yang diuji tantang dengan bakteri V. harveyi.

2

METODE

Waktu dan Tempat

(20)

4

Materi Uji

Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

Udang yang digunakan pada penelitian ini adalah benur pascalarva PL-10 yang berasal dari hatchery PT. Suri Tani Pemuka di Labuan, Banten. Udang PL-10 digunakan pada uji pendahuluan dan uji in vivo di KJA laut sedangkan pada uji in vivo di laboratorium (uji tantang) adalah udang yang sudah dipelihara selama 30 hari pada uji in vivo di KJA laut.

Bakteri Uji

Jenis bakteri yang digunakan adalah Vibrio harveyi, isolat didapat dari hasil isolasi pada sampel media pemeliharaan larva udang di PT. Suri Tani Pemuka, Labuan, Banten. Air dari media pemeliharaan (100 µl) disebar pada media agar thiosulphate citrate bile-salt sucrose (TCBS), diinkubasi 24 jam pada suhu 28oC. Koloni yang tumbuh dengan warna hijau dan berpendar pada ruang gelap, dikultur kembali dengan metode kuadran. Koloni yang tumbuh pada kuadran ketiga atau keempat dikultur pada agar miring sea water complete (SWC), selanjutnya diidentifikasi lewat pewarnaan Gram sekaligus untuk melihat kemurnian dari koloni yang dipilih. Setelah mendapatkan isolat dengan Gram yang sesuai dan murni, bakteri dikultur pada media agar miring SWC kemudian diuji fisiologi dan biokimia dengan API 20E strips (BioMérieux) (Lampiran 1). Isolat yang sudah teridentifikasi sebagai V. harveyi dikultur sebagai stok pada agar miring SWC. Selanjutnya, isolat yang telah dimiliki juga diberi penanda resisten terhadap antibiotik rifampicin sebagai penanda (marker) untuk membedakan bakteri yang diinokulasikan pada udang uji dengan bakteri yang telah alami ada pada tubuh udang tersebut (Widanarni et al. 2004). Sebanyak satu ose isolat V. harveyi dikultur dalam 25 ml media SWC cair selama 18 jam dalam waterbath shaker 150 rpm pada suhu 28oC. Setelah itu 1 ml hasil kultur disentrifuse 6000 rpm 5 menit, supernatannya dibuang, endapan disuspensi kembali dengan 100 µl phosphate buffer saline (PBS), lalu disebar pada media agar TCBS yang mengandung rifampicin 50 µg/ml media, koloni yang tetap tumbuh dikultur kembali pada media agar miring SWC dan dijadikan isolat untuk digunakan pada uji selanjutnya (modifikasi dari Widanarni et al. 2003). Selanjutnya satu ose isolat tersebut dikultur kembali dalam 25 ml media SWC cair selama 18 jam dalam waterbath shaker 150 rpm pada suhu 28oC, lalu dilakukan total plate count (TPC) untuk menghitung kepadatan bakteri dari satu ose isolat tersebut.

Ekstrak Kunyit (Curcuma longa) – Sambiloto (Andrographis paniculata)

Ekstrak kunyit dan sambiloto digunakan sebagai bahan dasar untuk uji in vitro dalam menentukan dosis yang nantinya akan dicampurkan dalam pakan. Ekstrak tersebut diproses di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Cimanggu, Bogor, Jawa Barat (Lampiran 2). Selain itu, dilakukan juga analisis bahan aktif yang terkandung didalam ekstrak kunyit dan sambiloto yang dibuat (Lampiran 3 dan 4).

Pakan

(21)

5 (repelleting) setelah dicampurkan dengan bahan tambahan untuk masing-masing pakan. Pakan tanpa campuran ekstrak kunyit-sambiloto dalam penelitian ini disebut sebagai pakan kontrol dan pakan yang mengandung campuran ekstrak kunyit-sambiloto disebut sebagai pakan uji.

Pakan kontrol pada penelitian ini mendapat tambahan vitamin C 0,1% dan carboxyl methyl cellulose (CMC) sebagai binder 30 ppt/kg pakan. Pada pakan uji ditambahkan ekstrak kunyit-sambiloto, dosis yang digunakan didapat dari hasil uji in vitro. Selain itu, pada pakan ini juga ditambahkan vitamin C 0,1% dan CMC sebagai binder 30 ppt/kg pakan. Setelah bahan tercampur rata, pakan dicetak lalu dioven 24 jam pada suhu 60oC setelah itu ditepungkan kembali menggunakan mesin penepung pakan. Selanjutnya dilakukan analisis proksimat pakan untuk kedua pakan tersebut (Lampiran 5). menentukan dosis ekstrak kunyit-sambiloto yang akan dicampurkan dalam pakan, 5 dosis dengan 2 ulangan. Uji pendahuluan skala laboratorium terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan untuk mengevalusi ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan terhadap respons udang pada skala laboratorium. Pada uji in vivo skala lapangan sebelum uji tantang di KJA laut, terdiri dari 2 perlakuan dan 6 ulangan dan uji in vivo di laboratorium setelah uji tantang, 4 perlakuan dan 3 ulangan. Rancangan perlakuan pada uji pendahuluan skala laboratorium diuraikan sebagai berikut :

KN : Kontrol Negatif, udang diberi pakan kontrol selama 10 hari selanjutnya udang diimersi (direndam) dengan PBS (phosphate buffer saline), pemeliharaan dilanjutkan selama 7 hari, dan diberi pakan kontrol.

KP : Kontrol Positif, udang diberi pakan kontrol selama 10 hari selanjutnya udang diimersi dengan V.harveyi, pemeliharaan dilanjutkan selama 7 hari, dan diberi pakan kontrol.

(22)

6

Rancangan perlakuan pada uji in vivo di KJA laut sebelum uji tantang diuraikan sebagai berikut :

KK : Karamba Kontrol, udang diberi pakan kontrol selama 30 hari KU : Karamba Uji, udang diberi pakan uji selama 30 hari

Rancangan perlakuan pada uji in vivo di laboratorium setelah uji tantang tersebut diuraikan sebagai berikut :

KKN : Karamba Kontrol Negatif, udang diimersi dengan PBS dan 10 hari selanjutnya udang diberi pakan kontrol.

KKP : Karamba Kontrol Positif, udang diimersi dengan V.harveyi dan 10 hari selanjutnya udang diberi pakan kontrol.

KUC : Karamba Udang Pencegahan, udang diimersi dengan V.harveyi dan 10 hari selanjutnya udang diberi pakan kontrol.

KUK : Karamba Udang Pengendalian, udang diimersi dengan V.harveyi dan 10 hari selanjutnya udang tetap diberi pakan uji.

Imersi PBS

(23)

7 dibiakkan di media thiosulphate citrate bile-salt sucrose (TCBS) yang mengandung rifampicin 50 µg/ml dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 28oC. Untuk mendapatkan biakan murni maka setiap koloni bakteri yang tumbuh terpisah dan berlainan morfologinya dibiakkan kembali ke dalam agar miring SWC dan diinkubasi pada suhu 28 oC selama 24 jam selanjutnya diidentifikasi kembali yang meliputi uji oksidatif/fermentatif, uji oksidase, uji katalase, uji motilitas dan pewarnaan Gram (Baumann et al. 1994) untuk memastikan kelainan yang terjadi pada organ-organ tersebut disebabkan oleh bakteri yang dinjeksikan. Setelah hasil identifikasinya sesuai, bakteri dikultur kembali pada agar miring SWC. Bakteri inilah yang akan digunakan pada uji selanjutnya.

Penentuan Nilai LC50 (Lethal Concentration50)

Penentuan nilai LC50 ini penting dilakukan untuk mengetahui konsentrasi

bakteri V. harveyi yang akan digunakan pada uji tantang karena pada uji ini akan diketahui konsentrasi bakteri yang dapat menyebabkan kematian hingga setengah dari populasi udang uji. Untuk uji LC50 disiapkan 12 akuarium yang diisi

masing-masing 10 ekor udang uji PL-40. Pada uji ini udang diimersi atau direndam dalam 1 liter air yang berisi bakteri uji dengan masing-masing konsentrasi yang ditentukan selama 1 jam. Terdapat 4 konsentrasi yang diujikan yaitu 107, 106, 105, dan 104 cfu/ml, setiap konsentrasi bakteri terdiri dari 3 ulangan. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah udang yang masih hidup dan yang mati sampai hari ke-7. Kemudian dilakukan penghitungan dengan metode Reed Muench (1938) untuk mengetahui nilai LC50-nya (Lampiran 6).

Uji In Vitro

Uji in vitro ini dilakukan untuk melihat aktivitas antibakteri dari ekstrak kunyit dan sambiloto yang digunakan terhadap bakteri V. harveyi dengan metode Kirby-Bauer (Lay 1994). Sebelumnya dipersiapkan campuran ekstrak kunyit dan sambiloto dalam beberapa kombinasi dosis. Hal ini dilakukan untuk melihat dosis yang paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri uji dalam media agar plate SWC yang digunakan. Selanjutnya V. harveyi yang telah dikultur pada SWC cair disebar sebanyak 0,1 ml pada permukaan agar plate SWC menggunakan batang penyebar agar merata. Kemudian kertas cakram (d=0,5 cm) direndam dalam cairan yang mengandung ekstrak campuran kunyit dan sambiloto sesuai dosis yang telah ditentukan selama 5 menit. Dosis kombinasi kunyit dan sambiloto adalah 2+2 gr/L, 4+2 gr/L, 6+2 gr/L, 2+4 gr/L, dan 2+6 gr/L. Setelah itu, kertas diambil dengan menggunakan pinset, diangin-anginkan dan ditempatkan pada permukaan agar yang telah disebar bakteri lalu diinkubasi pada suhu 28 oC selama 24-48 jam. Masing-masing dosis yang diujikan tersebut dibuat dalam 3 ulangan. Zona hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram diukur dengan menggunakan penggaris (ketelitian 1 mm). Dosis yang menghasilkan zona hambat dievaluasi dari segi hasil, efisiensi penggunaan ekstrak dalam jumlah besar, dan faktor kandungan bahan aktif yang dapat bersifat toksik pada udang sebelum diputuskan untuk digunakan dalam pakan pada pengujian in vivo.

Uji Pendahuluan (Skala Laboratorium)

(24)

8

dari hasil uji in vitro dan pakan uji telah siap. Uji pendahuluan pada skala laboratorium menggunakan akuarium berukuran 30x20x20 cm3 dengan padat tebar benur pascalarva PL-10 sebanyak 30 ekor/akuarium. Benur udang berasal dari hatchery PT. Suri Tani Pemuka, Labuan, Banten. Uji pendahuluan terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan, KN (kontrol negatif), KP (kontrol positif) dan PU (pakan uji). Perlakuan KN dan KP diberi pakan kontrol, sedangkan PU diberi pakan uji selama 10 hari pemeliharaan. Pakan diberikan 3 kali sehari secara at satiation (sekenyangnya) yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Setelah itu udang akan diuji tantang dengan bakteri V.harveyi lewat metode imersi (perendaman selama 1 jam) dengan kepadatan V. harveyi yang digunakan adalah 106 CFU ml-1 (hasil penentuan nilai LC50). Kemudian pemeliharaan dilanjutkan selama 7 hari.

Parameter yang diamati pada uji pendahuluan adalah tingkat kelangsungan hidup (TKH), laju pertumbuhan harian (LPH), dan rasio konversi pakan (RKP).

Uji In Vivo (Skala Lapangan)

Uji in vivo sebelum uji tantang menggunakan karamba jaring apung (KJA) di laut berukuran 1x1x2 m3 yang ada di Balai Sea Farming. Padat penebaran benur di KJA adalah 700 ekor/m2. Udang dipelihara selama 30 hari yang dibagi menjadi 2 perlakuan, yaitu 6 KJA untuk perlakuan pakan kontrol (KK) dan 6 KJA untuk perlakuan pakan uji (KU). Pakan diberikan 3 kali sehari secara at satiation (sekenyangnya) yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Setelah 30 hari, beberapa sampel udang ditransportasikan dalam kondisi hidup untuk dilakukan uji tantang di Laboratorium Kesehatan Ikan, BDP, FPIK, IPB. Udang dari perlakuan KK dibagi menjadi perlakuan KKN dan KKP, sedangkan dari perlakuan KU dibagi menjadi perlakuan KUC dan KUK. Setiap perlakuan tersebut terdiri dari 3 ulangan dengan padat penebaran udang 45 ekor/akuarium. Dilakukan adaptasi selama 3 hari pasca transportasi tersebut. Setelah itu dilakukan uji tantang dengan metode imersi (perendaman selama 1 jam), dengan kepadatan V. harveyi yang digunakan adalah 106 CFU ml-1 (hasil penentuan nilai LC50), lalu pemeliharaan

dilanjutkan selama 10 hari dan dilakukan analisis parameter penelitian.

Parameter Penelitian

(25)

9

Parameter Imunologi

Pengambilan plasma tubuh udang dilakukan dengan menggerus udang menggunakan mortar. Udang dibilas tiga kali dengan akuabides steril (ddH20)

dingin. Udang kemudian dicampurkan dengan 0.5 ml ddH20 lalu digerus. Setelah

halus sebanyak ± 1 ml dipindahkan dalam mikrotube lalu disentrifuse 8050 rpm pada suhu 4oC selama 10 menit. Supernatan dipisahkan ke mikrotube lain sebagai cairan tubuh udang yang siap dianalisis (Martin et al. 2012).

Aktivitas Prophenoloxidase (proPO)

Aktivitas phenoloxidase diukur dengan menggunakan spektrofotometrik dengan mencatat perubahan bentuk dopachrome yang diproduksi dari L-dihidroxyphenylalanine (L-DOPA). Sebanyak 1 ml cairan tubuh disentrifuse 3500 rpm pada suhu 4oC selama 10 menit. Larutan supernatan yang dihasilkan dibuang dan pellet dilarutkan kembali dengan cacodylate-citrate buffer (0,01M sodium cacodylate; 0,45 M sodium chloride; 0,01 M trisodium citrate; pada pH 7,0) lalu disentrifuse kembali 3500 rpm pada suhu 4oC selama 10 menit. Supernatan dibuang, pelet dilarutkan dengan 0.2 ml cacodylate buffer dan 0.1 ml dipisahkan ke mikrotube lain kemudian diinkubasi dengan 0.05 ml trypsin (T-0303, Sigma, 1 mg/ml) yang berfungsi sebagai pengaktif selama 10 menit pada suhu 25-26oC; kemudian ditambahkan 0.05 ml L-DOPA (3 mg/ml cacodylate buffer) diamkan selama 5 menit, yang dilanjutkan dengan 0.8 ml cacodylate buffer. Sebanyak 0.2 ml dimasukkan ke microplate reader kemudian diukur optical density (OD) pada panjang gelombang 490 nm (Hsieh et al. 2008).

Aktivitas Respiratory Burst (RB)

Aktivitas respiratory burst cairan tubuh udang dihitung menggunakan reduksi Nitroblue Tetrazolium (NBT) menjadi formazan dalam kadar negatif superoxide (Cheng et al. 2004). Sebanyak 300 μl cairan tubuh udang dimasukkan kedalam mikrotube, kemudian diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang. Selanjutnya disentrifuse 3500 rpm selama 20 menit. Supernatan dibuang dan 100

μl NBT 0,3% ditambahkan dan dibiarkan bereaksi selama 2 jam pada suhu ruang. Setelah itu, disentrifuse 3500 rpm selama 10 menit dan supernatan dibuang, lalu ditambahkan 100 μl metanol absolut, disentrifuse kembali 3500 rpm selama 10 menit dan supernatan dibuang. Pelet yang terbentuk dicuci dua kali dengan

menggunakan 100 μl metanol 70%. Selanjutnya dilarutkan kedalam 120 μl 2 M

KOH dan 140 μl dimethyl sulfoxide (DMSO). Sebanyak 0.2 ml dimasukkan ke microplate reader kemudian diukur optical density (OD) pada panjang gelombang 630 nm.

Parameter Stres Glukosa Darah

Cairan tubuh yang diperoleh kemudian disentrifuse dengan kecepatan 6000 rpm selama 5 menit. Sebanyak 1 ml plasma tubuh (terletak pada bagian atas) lalu masukkan ke mikrotube lainnya untuk dianalisis lebih lanjut (Lampiran 7). Kadar glukosa darah :

Keterangan :

[GD] = Konsentrasi glukosa darah (mg/dl)

[GD]= Ab S

(26)

10

AbsSp = Absorbansi sampel AbsSt = Absorbansi standar

[GSt] = Konsentrasi glukosa standar (mg/dl)

Parameter Kinerja Produksi Kelangsungan Hidup

Kelangsungan hidup udang diamati setiap hari hingga akhir perlakuan. Perhitungan tingkat kelangsungan hidup (TKH) dilakukan di akhir perlakuan dengan rumus sebagai berikut (Effendie 1997) :

Keterangan :

TKH = Tingkat kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah udang akhir (ekor)

No = Jumlah udang awal (ekor)

Laju Pertumbuhan Harian

Untuk mengetahui laju pertumbuhan harian (LPH), bobot udang ditimbang saat awal dan akhir perlakuan dari setiap ulangan kemudian dihitung rataan bobotnya. Laju pertumbuhan harian udang dapat dihitung menggunakan rumus (Huisman 1987):

Keterangan :

LPH = Laju pertumbuhan harian (%/hari) wt = bobot rata-rata akhir (g)

wo = bobot rata-rata awal (g) n = lama pemeliharaan (hari)

Rasio Konversi Pakan

Rasio konversi pakan (RKP) diukur pada setiap akhir perlakuan (uji pendahuluan dan uji in vivo, baik sebelum dan sesudah uji tantang). Menurut Zonneveld et al. (1991), rasio konversi pakan selama penelitian dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

FCR = Rasio konversi pakan F = Jumlah pakan (g)

Bt = Biomassa udang pada akhir penelitian (g) Bm = Biomassa udang yang mati (g)

Bo = Biomassa udang pada awal penelitian (g) LPH = n W0W − x

TKH =No ×Nt

(27)

11

Analisis Data

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Parameter imunologi, stres, dan kinerja produksi dianalisis statistik secara kuantitatif. Data diuji t-test sample (p=0.05) untuk uji in vivo di KJA laut dan yang lainnya diuji ANOVA (p=0.05) dengan uji lanjut menggunakan uji Duncan menggunakan SPSS 16.0 (Lampiran 8). Pembuatan tabel dan gambar menggunakan bantuan perangkat lunak MS Excel 2010.

3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Uji in vitro dilakukan untuk melihat aktivitas antibakteri dari bahan tanaman yang digunakan terhadap bakteri V. harveyi dengan metode Kirby-Bauer (Lay 1994). Campuran ekstrak kunyit-sambiloto diujikan dalam beberapa kombinasi dosis. Dosis yang rendah tetapi menunjukkan zona hambat yang besar (minimum inhibitory concentration) menunjukkan hasil yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi yang disebar dalam media agar plate Sea Water Complete (SWC)(Tabel 1).

Tabel 1 Diameter zona hambat pada media agar plate SWC sebagai hasil uji in vitro ekstrak kunyit-sambiloto terhadap V. harveyi

Dosis Kunyit+Sambiloto

Keterangan: huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0.05)

Dosis kunyit-sambiloto yang memberikan zona hambat paling besar adalah 6+2 g L-1 sebesar 12.5±0.71 mm. Namun, hasil tersebut tidak berbeda nyata dengan dosis 4+2 g L-1 yang menghasilkan zona hambat sebesar 12±0.00 mm. Zona hambat paling kecil terdapat pada dosis 2+2, 2+4, dan 2+6 g L-1 yang ketiganya menghasilkan dosis sebesar 11±0.00 mm, hasil ini berbeda nyata dan lebih rendah dibandingkan dengan dua dosis sebelumnya. Berdasarkan hasil uji in vitro, dosis ekstrak kunyit-sambiloto yang akan dicampurkan dalam pakan adalah 4+2 g/kg pakan.

(28)

12

itu juga sebagai tahap mengevaluasi dosis yang akan diuji tidak menyebabkan gangguan terhadap kinerja produksi udang saat diaplikasikan lewat pakan. Pada uji ini, parameter seperti TKH, LPH, dan RKP pemeliharaan udang vaname dibandingkan sebelum dan sesudah uji tantang dilakukan (Tabel 2).

Parameter TKH dan LPH untuk semua perlakuan tidak berbeda nyata saat sebelum uji tantang dilakukan, kecuali pada parameter RKP, dengan nilai terbaik terdapat pada perlakuan PU 0.68±0.05 dan berbeda nyata dibanding dua perlakuan lainnya KN dan KP yang secara berurutan 1.15±0.14 dan 1.15±0.00. Setelah uji nyata yang secara berurutan 0.40±0.06 dan 0.44±0.06.

Tabel 2 Analisis parameter kinerja produksi pada uji pendahuluan skala laboratorium penggunaan ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi pada udang vaname KN (pakan kontrol 10 hari, imersi PBS, pakan kontrol 7 hari), KP (pakan kontrol 10 hari, imersi V. harveyi, pakan kontrol 7 hari), dan PU (pakan uji 10 hari, imersi V. harveyi, pakan kontrol 7 hari)

Parameter Perlakuan Keterangan: TKH (Tingkat Kelangsungan Hidup), LPH (Laju Pertumbuhan Harian), RKP (Rasio Konversi Pakan), huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0.05)

(29)

13 Setelah 30 hari pemeliharaan, uji tantang pada uji in vivo ini dilakukan di laboratorium, dengan membagi lagi udang perlakuan KK menjadi perlakuan KKN dan KKP sedangkan udang perlakuan KU dibagi menjadi perlakuan KUC dan KUK (Tabel 3). Setelah uji tantang dilakukan, pemeliharaan dilanjutkan selama 10 hari dan parameter kinerja produksi yang diamati juga sama seperti saat pemeliharaan di KJA laut. Parameter TKH semua perlakuan berbeda nyata, dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan KKN 98.52±2.57 % dan nilai terendah terdapat pada perlakuan KKP 51.85±3.39 %. TKH untuk perlakuan KUC dan KUK secara berurutan 80.74±1.28 % dan 88.15±1.28 %. Pada parameter LPH, nilai tertinggi juga terdapat pada perlakuan KKN 4.58±0.34 % hari-1, disusul perlakuan KUK 3.80±0.07 % hari-1, sementara pada perlakuan KKP dan KUC tidak berbeda nyata yang secara berurutan 2.66±0.30 % hari-1 dan 3.15±0.27 % hari-1. Untuk parameter RKP, nilai terbaik dan tidak berbeda nyata terdapat pada perlakuan KKP dan KUK yang secara berurutan bernilai 0.98±0.04 dan 0.99±0.02. Pada perlakuan KKP dan KUC nilai RKP secara berurutan 1.72±0.13 dan 1.21±0.10. Nilai RKP pada perlakuan KKP merupakan nilai yang terburuk dibanding perlakuan lainnya.

Tabel 3 Analisis parameter kinerja produksi pada uji in vivo skala lapangan penggunaan ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi pada udang vaname KK (pakan kontrol 30 hari di laut), KU (pakan uji 30 hari di laut), KKN (diimersi PBS, pakan kontrol 10 hari di Lab), KKP (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), KUC (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), dan KUK (diimersi V. harveyi, pakan uji 10 hari di Lab)

Parameter Perlakuan Keterangan: TKH (Tingkat Kelangsungan Hidup), LPH (Laju Pertumbuhan Harian), RKP (Rasio Konversi Pakan), huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0.05)

(30)

14

KJA laut, nilai aktivitas proPO untuk perlakuan KK dan KU tidak berbeda nyata sekitar 0.129±0.04 – 0.145±0.03 OD.490 nm. Selanjutnya aktivitas proPO diamati pasca uji tantang. Pada Gambar 1 dapat dilihat pola aktivitas proPO tertinggi terdapat pada hari ke-32 pasca uji tantang yang terdapat pada perlakuan KUC 0.424±0.01 OD.490 nm. Aktivitas proPO mulai kembali seperti pola awal pada hari ke-33 hingga hari ke-40 pasca uji tantang.

Keterangan: huruf yang berbeda pada hari yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0.05)

(31)

15

Keterangan: huruf yang berbeda pada hari yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0.05)

Gambar 2 Aktivitas respiratory burst (RB) udang vaname yang diberi pakan mengandung ekstrak kunyit-sambiloto untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi. O (analisis sebelum udang ditebar di KJA),KK setelah uji tantang dilakukan, nilai glukosa plasma tubuh semua perlakuan hingga hari ke-33 berbeda nyata dengan nilai tertinggi pada tiga hari tersebut terdapat pada perlakuan KKP yang berkisar antara 199.10±1.43 – 234.81±3.08 mg dL-1. Nilai tertinggi pada hari ke-40 juga masih berada pada perlakuan KKP 150.67±2.92 mg dL-1, sementara pada perlakuan KKN dan KUK tidak berbeda nyata yang secara berurutan 99.56±1.04 mg dL-1 dan 105.41±6.35 mg dL-1.

(32)

16

Keterangan: huruf yang berbeda pada hari yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0.05)

Gambar 3 Glukosa plasma tubuh udang vaname yang diberi pakan mengandung ekstrak kunyit-sambiloto untuk pengendalian infeksi bakteri V. harveyi. O (analisis sebelum udang ditebar di KJA), KK (pakan kontrol 30 hari di laut), KU (pakan uji 30 hari di laut), KKN (diimersi PBS, pakan kontrol 10 hari di Lab), KKP (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), KUC (diimersi V. harveyi, pakan kontrol 10 hari di Lab), dan KUK (diimersi V. harveyi, pakan uji 10 hari di Lab) ( uji tantang)

Pembahasan

Penggunaan campuran ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan udang vaname bergantung pada hasil uji in vitro yang dilakukan. Pada pengujian ini, setelah proses inkubasi, zona hambat akan terbentuk akibat adanya bahan aktif pada kunyit-sambiloto yang dapat menghambat pertumbuhan V. harveyi pada media agar. Pada skala uji in vitro maka yang berperan adalah bahan aktif yang memiliki fungsi sebagai antibakteri, yang pada kunyit berupa kandungan curcuminoids (Herebian et al. 2009; Kumar et al. 2011) dan pada sambiloto terdapat pada saponin, flavonoid, serta tanin (Chatterjee et al. 2014) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Namun, berdasarkan Tabel 1, yang memiliki peran sebagai antibakteri terhadap V. harveyi adalah ekstrak kunyit. Hal ini dapat dilihat ketika kombinasi dari ekstrak kunyit tetap dan sambiloto ditingkatkan (2+2, 2+4, 2+6 g L-1) zona hambat yang terbentuk tetap sama, berbeda ketika sebaliknya (4+2, 6+2 g L-1) zona hambat lebih besar seiring dengan ditambahkannya ekstrak kunyit dalam kombinasi. Berdasarkan hasil uji in vitro, dosis kunyit-sambiloto yang dipilih untuk dicampurkan dalam pakan adalah 4+2 g kg-1 pakan meskipun zona hambat paling besar terdapat pada dosis kombinasi kunyit-sambiloto 6+2 g kg-1 pakan, namun hasil tersebut tidak berbeda nyata dengan dosis 4+2 g kg-1 pakan. Penggunaan jumlah ekstrak yang lebih sedikit tetapi tetap memberikan hasil yang maksimal juga akan berdampak pada biaya produksi pakan ketika akan dibuat dalam skala massal. Dalam pemilihan dosis juga terdapat beberapa pertimbangan

(33)

17 seperti sifat toksik dari bahan aktif yang terkandung dalam ekstrak kunyit-sambiloto seperti tanin yang dapat mematikan hewan uji dalam kandungan yang tinggi. Pada dasarnya tanin dan saponin pada tanaman memang bersifat racun sebagai perlindungan terhadap hama dan serangga.

Berdasarkan analisis kinerja produksi pada uji in vivo skala laboratorium yang dilakukan (Tabel 2), parameter TKH sebelum uji tantang untuk semua perlakuan menunjukkan hasil yang sama, TKH masih 100% selama 10 hari pemeliharaan. Hal ini membuktikan, pemberian pakan yang mengandung ekstrak kunyit-sambiloto pada dosis kombinasi 4+2 gr kg-1 pakan tidak bersifat toksik bagi udang vaname. Setelah uji tantang dilakukan, nilai TKH pada perlakuan KP paling rendah dibanding perlakuan lainnya yaitu 58.89±1.92 %, sedangkan nilai TKH untuk perlakuan KN paling tinggi tetap 100 % dan PU berada pada urutan kedua 95.56±1.92 %. Hasil ini membuktikan ekstrak kunyit-sambiloto dapat mempertahankan TKH yang tinggi pasca uji tantang selama 7 hari pemeliharaan. Pada penelitian Lawhavinit et al. (2011), ekstrak tunggal dari kunyit saja dalam pakan (15 g kg-1), hanya mampu mempertahankan TKH sebesar 62.50±10.00 % setelah uji tantang dengan V. harveyi dengan metode emersi pada udang PL 45 (0.25 g). Hal ini membuktikan, campuran ekstrak kunyit dan sambiloto dapat bersinergi secara baik dalam mempertahankan TKH tetap tinggi terhadap serangan penyakit akibat bakteri. Kandungan bahan aktif yang dimiliki masing-masing ekstrak tersebut saling melengkapi dan bekerja lebih baik dibanding saat diberikan dalam bentuk ekstrak tunggal.

Parameter LPH bobot pada in vivo skala laboratorium sebelum uji tantang dilakukan, perlakuan PU memiliki nilai yang paling baik (22.89±0.79 % hari-1) dibanding perlakuan KN dan KP yang keduanya memliki nilai tidak berbeda nyata. Namun, setelah uji tantang LPH bobot pada perlakuan KP sangat turun drastis (1.61±0.45 % hari-1) dibanding perlakuan lainnya, yang pada perlakuan PU setelah uji tantang LPH bobotnya menjadi 9.57±1.31 % hari-1. Hal ini memperlihatkan bahwa infeksi V. harveyi sangat mempengaruhi pertumbuhan udang vaname. Pada in vivo skala laboratorium, dapat dilihat nilai FCR yang sangat baik pada perlakuan PU sebelum uji tantang dilakukan yaitu 0.68±0.05. Dengan demikian, adanya penambahan ektrak kunyit-sambiloto (4+2 g kg-1) pada pakan, dapat menghemat penggunaan pakan pada pemeliharaan udang vaname dan tetap memberikan pertumbuhan yang baik. Bahkan setelah uji tantang, nilai FCR perlakuan PU tidak berbeda nyata dengan perlakuan KP yang tidak diinfeksi oleh V. harveyi.

(34)

18

sama pada perlakuan KU lebih sedikit dibandingkan perlakuan KK. Hasil ini menunjukkan ekstrak kunyit-sambiloto dalam pakan membuat pemanfaatan nutrisi pakan terhadap pertumbuhan udang menjadi lebih baik.

Parameter kinerja produksi pada uji in vivo setelah uji tantang mengalami perubahan (Tabel 3). TKH perlakuan KKP paling rendah 51.85±3.39 % dan sangat berbeda dengan perlakuan lain yang diatas 80 %. TKH perlakuan KUC dan KUK tergolong masih tinggi. Hal ini membuktikan ekstrak kunyit-sambiloto (4+2 g kg-1) dapat mempertahankan sistem imun udang dalam menghadapi infeksi V. diberikan pada udang windu (Penaeus monodon) PL1-25 diuji tantang dengan Vibrio sp. Nilai LPH bobot paling baik setelah uji tantang, terdapat pada perlakuan KKN 4.58±0.34 %. Hal ini dikarenakan pada perlakuan KKN tidak diuji tantang dengan V. harveyi melainkan dengan PBS. Pada perlakuan KUK nilai LPH bobot lebih baik daripada perlakuan KKP dan KUC, dimana ketiganya sama-sama diuji tantang dengan V.harveyi. Pada perlakuan KUK, pakan uji tetap diberikan setelah uji tantang, hal ini memberikan peran pengobatan sehingga infeksi dari V.harveyi dapat diatasi lebih baik dibandingkan perlakuan KUC. RKP untuk perlakuan KKN dan KUK tidak berbeda nyata, sementara pada perlakuan KKP FCR mencapai 1.72±0.13. Nafsu makan yang rendah pada udang perlakuan KKP akibat infeksi V.harveyi menyebabkan pakan yang diberikan tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk pertumbuhan. Saat terinfeksi penyakit, nafsu makan akan menjadi turun sehingga mempengaruhi pertumbuhan.

(35)

19 lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya. Pada H40 nilai aktivitas ini tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan dan nilai kembali seperti sebelum uji tantang dilakukan, hal ini menunjukkan udang vaname telah melewati masa recovery terhadap infeksi V. harveyi.

Aktivitas respiratory burst (RB) merupakan salah satu respons imun seluler dari udang vaname. Aktivitas ini terlihat saat adanya penghapusan benda asing lewat fagositosis. Saat benda asing ditelan oleh fagosom melibatkan pelepasan enzim degradatif sehingga menghasilkan reactive oxygen intermediates (ROI) yang dikenal sebagai respiratory burst (RB) (Rodriguez and Moullac 2000). Aktivitas RB pada udang vaname setelah pemeliharaan 30 hari di KJA laut menunjukkan nilai yang tinggi. Hal ini membuktikan campuran ekstrak kunyit-sambiloto (4+2 g kg-1) dalam pakan mampu meningkatkan aktivitas RB. Namun setelah uji tantang dilakukan, pola pada grafik menunjukkan penurunan aktivitas untuk semua perlakuan (Gambar 2). Penurunan aktivitas respiratory burst ini terus terjadi hingga hari ke-32. Aktivitas RB berhubungan dengan hemosit, ketika terjadi serangan penyakit akibat bakteri nilai hemosit akan berkurang akibat bermigrasinya hemosit ke jaringan yang terserang patogen (Yeh et al. 2009). Hal ini menunjukkan adanya aktivitas fagositosis sebagai sistem imun udang vaname dalam menghadapi infeksi V.harveyi. Pada hari ke-33 hingga ke-40 pola aktivitas ini mulai sedikit meningkat dibanding hari sebelumnya.

(36)

20

4

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penggunaan pakan mengandung dosis campuran ekstrak kunyit-sambiloto (4+2 g kg-1) dapat digunakan sebagai upaya pengendalian penyakit akibat bakteri V. harveyi pada udang vaname. Hasil penelitian menunjukkan campuran ekstrak tersebut dalam pakan udang vaname efektif meningkatkan sistem imun udang seperti aktivitas prophenoloxidase dan respiratory burst, selain itu memberikan hasil kinerja produksi yang baik. Pakan ini dapat digunakan dalam manajemen kesehatan udang yang dipelihara di KJA laut.

Saran

Penelitian selanjutnya diperlukan tahap evaluasi secara periodik setelah pemberian pakan mengandung ekstrak kunyit-sambiloto ini dihentikan. Hal ini untuk melihat lama khasiat kunyit-sambiloto dalam pakan yang hanya diberikan pada 30 hari di awal pemeliharaan, tetap dapat mempertahankan sistem imun udang. Dengan demikian, dapat diketahui waktu yang tepat untuk kembali memberikan pakan yang mengandung campuran ekstrak kunyit-sambiloto ini pada udang vaname yang dipelihara di laut hingga masa panen.

DAFTAR PUSTAKA

Amparyup P, Charoensapsri W, Tassanakajon A. 2013. Prophenoloxidase system and its role in shrimp immune response against major pathogens. Fish and Shellfish Immunology. 34: 990-1001.

Angka SL. 2005. Kajian Penyakit Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) pada Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) : Patologi, Pencegahan, dan Pengobatannya dengan Fitofarmaka. [Disertasi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Baumann P, Furniss AL, Lee JV. 1994. Facultative anaerobic gram negative rods, p: 175-289. In: J.G. Holt JG, Krieg NR, Sneath PHA, Staley JT, Wilkins ST (Eds.). Bergey's Manual of Determinative Bacteriology. 9st Edition. Baltimore: The Williams and Wilkins.

Chao WW, Lin BF. 2010. Isolation and identification of bioactive compounds in Andrographis paniculata (Chuanxinlian). J.Chinese Medicine. 17: 1-15.

Chatterjee N, Sunipa B, Nimai CS, Surjyo JB. 2014. Andrographis paniculata a traditional herb with pharmacological properties: a review. Global Journal of Research on Medicinal Plants & Indigenous Medicine. 3(5): 206–214.

(37)

21 Citarasu T, Venkatramalingam K, Babu MM, Sekar RRJ, Petermarian M. 2003. Influence of the antibacterial herbs, Solanum trilobatum, Andrographis paniculata and Psoralea corylifolia on the survival, growth and bacterial load of Penaeus monodon post larvae. Aquaculture International. 11: 583–595. Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama Herebian D, Jeong-Heui, El-Aty CAMA, Jae-Han S, Michael S. 2009. Metabolite

analysis in Curcuma domestica using various GC-MS and LC-MS separation and detection techniques. J. Biomed. Chromatogr. 23: 951–965

Huisman EA. 1987. Principles of fish production. Waganingen. Netherland: Department of Fish Culture and Fisheries, Wageningen Agriculture University. Hsieh S, Ruan Y, Li Y, Hsieh P, Hu C, Kuo C. 2008. Immune and physiological

responses in Pacific white shrimp (Penaeus vannamei) to Vibrio alginolyticus. Aquaculture. 275: 335-341.

Karunasagar I, Pai R, Malathi GR, Karunasagar I. 1994. Mass mortality of Penaeus monodon larvae due to antibiotic-resistant Vibrio harveyi infection. Aquaculture. 128: 203-209.

[KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2011. Kelautan dan Perikanan dalam Angka. Jakarta: KKP.

Kumar A, Jyotsna D, Anup S. 2011. A review on spice of life curcuma longa (turmeric). International Journal of Applied Biology and Pharmaceutical Technology. 2(4): 371-379.

Lawhavinit O, Sincharoenpokai P, Sunthornandh P. 2011. Effects of ethanol tumeric (Curcuma longa Linn.) extract against shrimp pathogenic vibrio spp. and on growth performance and immune status of white shrimp (Litopenaeus vannamei). J. Kasetsart (Nat. Sci.). 45: 70-77.

Lay BW. 1994. Analisa Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Lombardi KL, Marques HLA, Pereira RTL, Barreto OJS, de Paula EJ. 2006 Cage polyculture of the Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei and the Philippines seaweed Kappaphycus alvarezii. Aquaculture. 258:412–415. Malar HLV, Charles PM. 2013. Effect of turmeric Curcuma longa Linn. extract

on immunity and resistance to Vibrio harveyi in black tiger shrimp Penaeus monodon. International Journal of Research in Zoology 3 (2): 21-26.

Martín L, Néstor M, Castillo NM, Arenal A, Rodríguez G, Franco R, Santiesteban D, Sotolongo J, Forrellat A, Espinosa G, Carrillo O, Cabrera H. 2012. Ontogenetic changes of innate immune parameters from eggs to early postlarvae of white shrimp Litopenaeus vannamei (Crustacea:Decapoda). Aquaculture. 358–359: 234–239

Nogueira-Lima AC, Gesteira TCV, Mafezoli J. 2006. Oxytetracycline residues in cultivated marine shrimp (Litopenaeus vannamei Boone, 1931) (Crustacea, Decapoda) submitted to antibiotic treatment. Aquaculture. 254:748-757.

Pfeiffer E, Hhle S, Solyom AS, Metzler M. 2003. Studies on the stability of turmeric constituents. J. Food Engineer. 56: 257-259.

Reed AL, Siewicki TC, Shah JC. 2004. Pharmakokinetic of oxytetracycline in the white shrimp, Litopenaeus setiferus. Aquaculture. 232:11-28.

(38)

22

Rodriguez J and Moullac GL. 2000. State of the art of immunological tools and health control of penaeid shrimp. Aquaculture. 191: 109-119.

Tsukamoto KK, Hiroshi O, Kenji N, Usio S. 1993. Phylogenetic relationships of marine bacteria, mainly members of the family Vibrionaceae, determined on the basis of 16S rRNA sequences. International journal of systematic bacteriology. 43 (1): 8-19.

Vandenberghe J, Verdonck l, Robles-Arozarena R, Rivera G, Bolland A, Balladares M, Gomez-Gil B, Calderon J, Sorgeloos P, Swings J. 1999. Vibrios associated with Litopenaeus vannamei larvae, postlarvae, broodstock, and hatchery probionts. J. Applied And Environmental Microbiology. 65(6): 2592-2597.

Wahjuningrum D, Ikhsan MN, Sukenda, Evan Y. 2014. Penggunaan ekstrak kunyit sebagai pengendali infeksi bakteri Edwardsiella tarda pada ikan lele. Jurnal Akuakultur Indonesia. 13 (1): 1–10.

Widanarni, Suwanto A, Sukenda, Lay BW. 2003. Potency of Vibrio isolates for biocontrol of vibriosis in tiger shrimp (Penaeus monodon) larvae. Biotropia. 20: 11-23.

Widanarni, Meha D, Nuryati S, Sukenda, Suwanto A. 2004. Uji patogenisitas Vibrio harveyi pada larva udang windu menggunakan resisten rifampisin sebagai penanda molekuler. Jurnal Akuakultur Indonesia. 3(3): 23-27.

Yeh SP, Chen YN, Hsieh SL, Cheng W, Liu CH. 2009. Immune response of white shrimp Litopenaeus vannamei, after a concurrent infection with white spot syndrome virus and infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus. Fish and Shellfish Immunology. 26: 582-588.

Zarain-Herzberg M, Fraga I, Hernandez-Llamas A. 2010. Advances in intensifying the cultivation of the shrimp Litopenaeus vannamei in floating cages. Aquaculture. 300: 87–92.

(39)

23

LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil identifikasi Vibrio harveyi

Uji Biokimia Vibrio harveyi

Pewarnaan Gram Oksidatif/Fermentatif Motilitas Katalase Oksidase

Batang negatif Fermentatif Motil Positif Positif

Lampiran 2 Proses ekstraksi kunyit dan sambiloto di Balittro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat) Cimanggu, Bogor, Jawa Barat

Ekstrak kental Penepungan

Penguapan pelarut Ekstraksi dengan pelarut

etanol Kunyit kering (utuh atau irisan)

Pengayakan Mesh 60 Penjemuran

Penggilingan Sambiloto (Campuran batang dan

daun)

Ekstrak kental Penguapan pelarut Ekstraksi dengan pelarut

(40)

24

Lampiran 3 Hasil uji fitokimia ekstrak kunyit Curcuma longa

(41)

25 Lampiran 5 Hasil uji proksimat pakan

Analisa Proksimat (%) Pakan Kontrol Pakan Uji

Protein 36,65 36,47

Log negatif LC50 = log negatif konsentrasi diatas 50% + selang proporsi

= - log 107 + 0,55

penginfeksian Vibrio harveyi dengan konsentrasi 106 cfu/ml akan menyebabkan kematian populasi udang vaname sebanyak 50%.

Selang proporsi = kematian diatas 5 % − 5

(42)

26

Lampiran 7 Prosedur analisis kadar glukosa menggunakan KIT Glucose GOD FS dari DiaSys International

1. Mempersiapkan larutan blanko, standar dan sampel hemolim pascalarva udang vaname dengan menambahkan akuades atau reagen sesuai prosedur berikut ini:

2. Homogenkan dengan bantuan vortex. Selanjutnya diinkubasi selama 20 menit pada suhu 20-25oC, atau selama 10 menit pada suhu 37oC

3. Baca absorbansi dalam 60 menit dan dibandingkan dengan blanko. Panjang gelombang yang digunakan 546 nm.

4. Penghitungan kadar glukosa : * Dengan standar atau kalibrator :

konsentrasi Std/Cal [mg/dl] = 100 mg /dl ( 5,55 mmol/l ) * Konversi faktor :

Glukosa [mg/dl] x 0,05551 = Glukosa [mmol/l]

Lampiran 8 Hasil Analisis Statistik

a. Anova dan uji lanjut Duncan untuk hasil zona hambat uji in vitro ekstrak kunyit-sambiloto

ANOVA

Sumber Keragaman Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah F Sig.

Perlakuan 4.000 4 1.000 10.000 .013

Sisa .500 5 .100

Total 4.500 9

Uji Duncan

Perlakuan N 1 2

1 2 11.0000

2 2 11.0000

3 2 11.0000

4 2 12.0000

5 2 12.5000

(43)

27 b. Anova dan uji lanjut Duncan untuk hasil kinerja produksi uji pendahuluan

skala laboratorium

ANOVA

Parameter Sumber Keragaman Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah F Sig.

(44)

28

Duncan RKP H10

Perlakuan N 1 2

3 3 .6767

1 3 1.1500

2 3 1.1500

Sig. 1.000 1.000

Duncan RKP H17

Perlakuan N 1 2

1 3 .4000

3 3 .4433

2 3 4.3700

Sig. .939 1.000

c. uji t-test pada hasil kinerja produksi uji in vivo di KJA laut sebelum uji tantang

Perlakuan pakan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean SR Pakan Kontrol 6 74.9767 10.69444 4.36599

Pakan Uji 6 79.9283 8.64630 3.52984 LPHbobot Pakan Kontrol 6 14.6433 .22862 .09333 Pakan Uji 6 15.3317 .06795 .02774 RKP Pakan Kontrol 6 1.0617 .06178 .02522

Pakan Uji 6 .8050 .01378 .00563

(45)

29

SR LPHbobot RKP

Independent Samples Test

Equal variances

assumed

Equal variances

not assumed

Equal variances

assumed

Equal variances

not assumed

Equal variances

assumed

Equal variances

not assumed

Levene's Test for

Equality of Variances

F .701 3.876 5.046

Sig. .422 .077 .048

t-test for Equality of

Means

t -.882 -.882 -7.069 -7.069 9.932 9.932

df 10 9.580 10 5.876 10 5.497

Sig. (2-tailed) .399 .399 .000 .000 .000 .000

Mean Difference -4.95167 -4.95167 -.68833 -.68833 .25667 .25667

Std. Error Difference 5.61441 5.61441 .09737 .09737 .02584 .02584

95% Confidence Interval of

the Difference

Lower -17.46135 -17.53614 -.90528 -.92780 .19909 .19200

(46)

30

d. uji t-test pada hasil parameter imunologi uji in vivo di KJA laut sebelum uji tantang

Perlakuan Pakan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean RB Pakan Kontrol 3 .50467 .110925 .064043 Mean Difference .088333 .088333 -.015333 -.015333 Std. Error Difference .070495 .070495 .031148 .031148 95% Confidence

Interval of the Difference

Lower -.107392 -.144827 -.101815 -.103789 Upper .284059 .321494 .071148 .073122

e. Anova dan uji lanjut Duncan untuk hasil kinerja produksi uji in vivo setelah uji tantang

ANOVA

(47)

31

f. Anova dan uji lanjut Duncan untuk hasil parameter imunologi uji in vivo setelah uji tantang

ANOVA

Parameter Sumber Keragaman Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah F Sig.

(48)
(49)

33

g. uji t-test parameter glukosauji in vivo di KJA laut sebelum uji tantang

Perlakuan Pakan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Glukosa Pakan Kontrol 3 1.7856E2 4.66480 2.69323

Pakan Uji 3 1.4965E2 3.28340 1.89567

(50)

34

h. Anova dan uji duncan hasil parameter glukosa uji in vivo setelah uji tantang

ANOVA

Parameter Sumber Keragaman Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah F Sig. GlukosaH31 Perlakuan 18793.169 3 6264.390 308.449 .000

Sisa 162.474 8 20.309

Total 18955.643 11

GlukosaH32 Perlakuan 20019.884 3 6673.295 582.422 .000

Sisa 91.663 8 11.458

Total 20111.546 11

GlukosaH33 Perlakuan 14623.559 3 4874.520 918.431 .000

Sisa 42.460 8 5.307

Total 14666.019 11

GlukosaH40 Perlakuan 4701.197 3 1567.066 102.993 .000

Sisa 121.723 8 15.215

Total 4822.920 11

Duncan Glukosa H31

Perlakuan N 1 2 3 4

1 3 1.2428E2

4 3 1.7331E2

3 3 1.9061E2

2 3 2.3482E2

Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000

Duncan Glukosa H32

Perlakuan N 1 2 3 4

1 3 1.1387E2

4 3 1.5969E2

3 3 1.7172E2

2 3 2.2851E2

Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000

Duncan Glukosa H33

Perlakuan N 1 2 3 4

1 3 1.0154E2

4 3 1.3885E2

3 3 1.5266E2

2 3 1.9910E2

(51)

35

Duncan Glukosa H40

Perlakuan N 1 2 3

1 3 99.5577

4 3 1.0541E2

3 3 1.1856E2

2 3 1.5070E2

Sig. .104 1.000 1.000

(52)

36

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Tanjungpinang pada 29 Mei 1989, merupakan anak pertama dari dua bersaudara dengan ayah bernama Syaiful Anwar dan Ibu bernama Hafsah. Pendidikan formal yang telah diselesaikan Penulis diantaranya adalah pendidikan dasar di SDN 05 Tanjungpinang pada 2001, sekolah menengah pertama di SLTPN 1 Tanjungpinang pada 2004, dan sekolah menengah atas di SMAN 1 Tanjungpinang pada 2007. Penulis mengambil program sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada 2007 dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan lulus pada tahun 2012. Selama mengikuti perkuliahan program sarjana di IPB Penulis pernah menjadi Asisten pada Mata Kuliah Penyakit Organisme Akuatik periode 2009-2011, Manajemen Kesehatan Organisme Akuatik periode 2010-2012. Penulis juga pernah mengikuti Praktek Lapangan Akuakultur di Balai Budidaya Laut Batam pada Juli-Agustus 2010. Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana dalam bidang perikanan budidaya Penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Penggunaan campuran tepung meniran-bawang putih dalam pakan untuk pengendalian infeksi Vibrio alginolyticus pada benih ikan kerapu macan Epinephelus fuscoguttatus.

Penulis mengambil program magister Ilmu Akuakultur di Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2013 yang disponsori oleh beasiswa BPPDN dari DIKTI. Selama menjalani program magister Penulis juga aktif sebagai asisten peneliti dari PKSPL, LPPM, IPB. Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister dalam program studi Ilmu Akuakultur Penulis melakukan penelitian dan penyusunan tesis yang berjudul “Pengendalian Infeksi Vibrio harveyi pada Udang Vaname dengan Ekstrak Kunyit-Sambiloto dalam Pakan di Karamba Jaring Apung, Kepulauan Seribu”. Bagian dari tesis ini

Gambar

Gambar 2 Aktivitas respiratory burst (RB) udang vaname yang diberi pakan

Referensi

Dokumen terkait