• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Nilai Gizi Rendang Khas Sumatera Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Evaluasi Nilai Gizi Rendang Khas Sumatera Barat"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Prima Yaumil Fajri
  • Pengajar:
    • Prof Dr Ir Made Astawan, MS
    • Prof drh Tutik Wresdiyati, PhD PAVet
  • Sekolah: Institut Pertanian Bogor
  • Mata Pelajaran: Ilmu Pangan
  • Topik: Evaluasi Nilai Gizi Rendang Khas Sumatera Barat
  • Tipe: tesis
  • Tahun: 2014
  • Kota: Bogor

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang penelitian mengenai rendang dan kalio, dua makanan khas Sumatera Barat. Penelitian ini berfokus pada evaluasi nilai gizi dari kedua makanan tersebut, dengan tujuan untuk memahami dampak konsumsi terhadap kesehatan. Penelitian ini juga mengidentifikasi masalah yang muncul dari proses pembuatan rendang yang lama, yang dapat mempengaruhi kualitas protein. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi mutu biologis protein dan kapasitas antioksidan dari rendang dan kalio serta dampak konsumsi terhadap kesehatan.

1.1 Latar Belakang

Latar belakang penelitian menekankan pentingnya makanan tradisional Indonesia, terutama rendang, yang telah diakui secara internasional. Rendang dikenal sebagai sumber protein hewani, dan proses pembuatannya yang panjang dapat mempengaruhi ketersediaan asam amino esensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai gizi dan efek kesehatan dari konsumsi rendang dan kalio.

1.2 Perumusan Masalah

Rumusan masalah berfokus pada potensi dampak negatif dari proses pembuatan rendang yang panjang terhadap kualitas protein dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana reaksi Maillard dan oksidasi dapat mempengaruhi nilai gizi dari makanan tradisional ini.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi mutu biologis protein dari rendang dan kalio, serta kapasitas antioksidan yang terdapat dalam bumbu. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis dampak konsumsi kedua makanan ini terhadap kesehatan, khususnya pada hewan percobaan.

1.4 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini mencakup bahwa mutu biologis protein kalio lebih baik dibandingkan rendang, dan bahwa rendang dapat menurunkan kadar MDA di jaringan hati tikus percobaan. Selain itu, diharapkan bahwa konsumsi rendang dapat meningkatkan kapasitas antioksidan.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna mengenai nilai gizi dan dampak kesehatan dari konsumsi rendang dan kalio, serta meningkatkan pemahaman tentang makanan tradisional Indonesia dalam konteks kesehatan masyarakat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bagian ini membahas konsep-konsep penting terkait rendang dan kalio, serta evaluasi nilai gizi protein. Tinjauan pustaka mencakup penjelasan tentang reaksi Maillard, melanoidin, antioksidan, dan parameter yang digunakan dalam evaluasi nilai gizi. Penjelasan ini memberikan dasar teoritis yang kuat untuk penelitian yang dilakukan.

2.1 Rendang

Rendang merupakan masakan khas Sumatera Barat yang terkenal dengan cita rasa yang kaya. Proses pembuatan rendang melibatkan berbagai bumbu rempah yang memberikan keunikan dan daya tahan yang lama. Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami nilai gizi dari makanan tradisional ini.

2.2 Evaluasi Nilai Gizi Protein

Evaluasi nilai gizi protein dapat dilakukan melalui berbagai metode, baik secara in vitro maupun in vivo. Parameter yang digunakan mencakup Protein Efficiency Ratio (PER), Net Protein Ratio (NPR), True Protein Digestibility (TPD), Biological Value (BV), dan Net Protein Utilization (NPU).

2.3 Reaksi Maillard

Reaksi Maillard adalah reaksi non-enzimatis yang terjadi antara asam amino dan gula, menghasilkan warna dan rasa yang khas. Namun, reaksi ini juga dapat menurunkan ketersediaan asam amino esensial, yang menjadi perhatian dalam penelitian ini.

2.4 Melanoidin

Melanoidin adalah senyawa yang dihasilkan dari reaksi Maillard dan memiliki potensi sebagai antioksidan. Penelitian ini mengeksplorasi peran melanoidin dalam nilai gizi rendang dan kalio.

2.5 Antioksidan

Antioksidan berfungsi untuk menghambat oksidasi dan dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk bumbu yang digunakan dalam rendang dan kalio. Penelitian ini menilai kapasitas antioksidan dari kedua makanan tersebut.

2.6 Mailard Reaction Products (MRPs)

MRPs adalah produk yang terbentuk selama reaksi Maillard dan diduga memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini akan menganalisis keberadaan MRPs dalam rendang dan kalio serta dampaknya terhadap kesehatan.

2.7 Malonaldehida

Malonaldehida (MDA) adalah indikator stres oksidatif yang dapat mempengaruhi kesehatan. Penelitian ini akan mengukur kadar MDA dalam jaringan hati tikus percobaan yang diberi perlakuan rendang dan kalio.

2.8 Tikus Percobaan

Tikus putih (Rattus norvegicus) digunakan sebagai hewan percobaan dalam penelitian ini. Keuntungan menggunakan tikus adalah kemiripan fisiologis dengan manusia, serta kemampuan adaptasi yang baik terhadap perlakuan yang diberikan.

III. METODE

Metode penelitian mencakup lokasi dan waktu penelitian, materi yang digunakan, tahapan penelitian, serta analisis data. Desain penelitian dirancang untuk mengevaluasi nilai gizi dari rendang dan kalio dengan menggunakan tikus sebagai hewan percobaan.

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hewan Percobaan dan Laboratorium Biokimia Pangan di Institut Pertanian Bogor dari Juni 2013 hingga Maret 2014. Lokasi ini dipilih untuk memastikan kualitas dan akurasi data yang diperoleh.

3.2 Materi Penelitian

Materi utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi bagian round serta bumbu-bumbu yang digunakan dalam pembuatan rendang dan kalio. Tikus strain Sprague-Dawley digunakan sebagai hewan percobaan untuk pengujian kualitas protein.

3.3 Tahapan Penelitian

Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap: persiapan bahan, pemeliharaan hewan percobaan, dan penelitian utama. Setiap tahap memiliki prosedur yang spesifik untuk memastikan validitas hasil penelitian.

3.4 Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian akan dianalisis menggunakan metode statistik yang sesuai untuk mengevaluasi perbedaan antara kelompok perlakuan. Hasil analisis akan digunakan untuk menarik kesimpulan tentang nilai gizi rendang dan kalio.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bagian ini menyajikan hasil penelitian terkait kualitas protein rendang dan kalio, serta analisis proksimat sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rendang dan kalio dalam beberapa parameter gizi.

4.1 Analisis Proksimat Sampel

Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan gizi dari rendang dan kalio. Hasil menunjukkan bahwa kedua makanan ini memiliki kandungan protein, lemak, dan karbohidrat yang cukup baik, menjadikannya sebagai sumber gizi yang penting.

4.2 Kualitas Protein Berdasarkan Metode Pertumbuhan

Kualitas protein diukur menggunakan metode pertumbuhan pada tikus percobaan. Hasil menunjukkan bahwa baik rendang maupun kalio memiliki kemampuan yang baik dalam mendukung pertumbuhan tikus, meskipun ada perbedaan yang signifikan dalam beberapa parameter.

4.3 Kualitas Protein Berdasarkan Metode Keseimbangan Nitrogen

Metode keseimbangan nitrogen digunakan untuk mengevaluasi efisiensi penggunaan protein dari kedua makanan. Hasil menunjukkan bahwa rendang memiliki nilai yang lebih rendah dalam hal pemanfaatan nitrogen dibandingkan dengan kasein.

4.4 Berat Organ Hati Tikus Percobaan

Pengukuran berat organ hati tikus menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok yang diberi rendang dan kalio. Hal ini menunjukkan bahwa kedua makanan tidak berdampak buruk pada kesehatan hati tikus percobaan.

4.5 Kadar MDA Jaringan Hati Tikus Percobaan

Kadar MDA di jaringan hati tikus percobaan menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi rendang memiliki kadar MDA yang lebih rendah dibandingkan dengan kalio. Ini menunjukkan bahwa rendang mungkin memiliki efek antioksidan yang lebih baik.

4.6 Tebal Mukosa Usus Halus (Duodenum)

Pengukuran ketebalan mukosa usus halus menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan. Ini menunjukkan bahwa konsumsi rendang dan kalio tidak berdampak negatif pada kesehatan usus tikus.

4.7 Kerusakan Vili Usus Halus (Duodenum)

Analisis kerusakan vili usus halus menunjukkan bahwa baik rendang maupun kalio tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan pada struktur usus tikus. Ini menunjukkan bahwa kedua makanan aman untuk dikonsumsi.

4.8 Aktivitas Antioksidan dan Kapasitas Antioksidan

Aktivitas antioksidan dari rendang terbukti lebih tinggi dibandingkan kalio. Ini menunjukkan bahwa bumbu yang digunakan dalam rendang memberikan kontribusi signifikan terhadap kapasitas antioksidan.

4.9 Intensitas Pencokelatan

Intensitas pencokelatan pada daging rendang lebih tinggi dibandingkan kalio, yang menunjukkan bahwa proses memasak yang lebih lama pada rendang menghasilkan senyawa yang lebih kompleks dan berpotensi lebih baik dari segi rasa dan aroma.

V. SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam mutu biologis protein antara rendang dan kalio. Meskipun keduanya memiliki nilai gizi yang baik, rendang menunjukkan potensi yang lebih baik dalam hal kapasitas antioksidan.

5.1 Simpulan

Simpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa baik rendang maupun kalio memiliki kualitas protein yang baik dan tidak menunjukkan dampak negatif pada kesehatan tikus percobaan. Namun, rendang memiliki kapasitas antioksidan yang lebih tinggi.

5.2 Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang dampak jangka panjang dari konsumsi rendang dan kalio terhadap kesehatan. Penelitian lebih lanjut juga dapat mempertimbangkan variasi dalam metode pembuatan untuk meningkatkan nilai gizi.

Gambar

Gambar 1  Diagram alir proses pembuatan rendang (Novelina dan Hamzah 1997)
Gambar 2  Diagram alir proses pembuatan kalio (Murhadi 1994).
Tabel 1  Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan rendang
Tabel 2  Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kalio
+2

Referensi

Dokumen terkait

Uji Duncan menunjukkan bahwa bobot badan ayam kontrol pada umur 3 minggu tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan ayam yang diberi ransum mengandung SHP menggantikan jagung