KERAGAMAN GENETIK TIGA POPULASI BELUT SAWAH
Monopterus albus
(Zuiew, 1793) ASAL JAWA BARAT DAN RESPONS
BIOMETRIK PADA MEDIA AIR BERSALINITAS TANPA SUBSTRAT
AHMAD FAHRUL SYARIF
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul “Keragaman Genetik Tiga Populasi Belut Sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) Asal Jawa Barat dan Respons Biometrik pada Media Air Bersalinitas Tanpa Substrat” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2015
Ahmad Fahrul Syarif
RINGKASAN
AHMAD FAHRUL SYARIF. Keragaman Genetik Tiga Populasi Belut Sawah
Monopterus albus (Zuiew, 1793) Asal Jawa Barat dan Respons Biometrik pada
Media Air Bersalinitas Tanpa Substrat. Dibimbing oleh DINAR TRI SOELISTYOWATI dan RIDWAN AFFANDI.
Belut sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki prospek pasar dan nilai ekspor tinggi. Permintaan belut sawah di pasar dalam negeri dan luar negeri yang terus meningkat belum dapat terpenuhi karena keterbatasan produksi yang masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, sementara populasinya semakin menurun karena berkurangnya areal persawahan dan pencemaran lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan produksi belut sawah yang terus meningkat adalah dengan menggali potensi pengembangannya secara berkelanjutan melalui budidaya. Keberhasilan dalam kegiatan budidaya ditentukan oleh mutu sumber genetik dan respons organisme terhadap proses pengadaptasian dari kondisi alami menuju kondisi budidaya yang terkontrol yaitu pemeliharaan dalam wadah terbatas dan lingkungan buatan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi potensi sumber genetik belut sawah asal Jawa Barat serta respons biometriknya dalam pemeliharaan pada media air bersalinitas untuk pengembangan budidaya. Sampel belut sawah merupakan hasil tangkapan dari 3 lokasi di Cianjur, Sukabumi dan Karawang yang berukuran 19-26,5 cm dan bobot 4,95-11,4 gram. Sebanyak 30 ekor setiap populasi digunakan untuk pengukuran truss morfometrik dan sampel sirip dianalisis secara molekuler menggunakan metode Random Amplified Polymorphyc DNA (RAPD), serta 200 ekor untuk pengujian respons biometrik pada media air bersalinitas. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan salinitas media pemeliharaan yaitu 0, 6, 12 ppt diulang tiga kali dengan padat penebaran 1 kg/m2. Pemeliharaan belut sawah dilakukan selama 30 hari pada media air tanpa substat dengan pemberian shelter (pelindung) berupa potongan pipa paralon berdiameter ¾ inchi dan panjang 20 cm serta pergantian air 100% setiap hari. Wadah pemeliharaan berupa bak plastik berwarna biru dengan dimensi 50x30x30 cm. Pemberian pakan sebanyak satu kali per hari secara at satiation
berupa cacing sutera Tubificidae. Pengukuran parameter respons biometrik dilakukan setiap 10 hari sekali meliputi tingkat kelangsungan hidup, pertambahan panjang dan bobot, biomassa panen (yield) dan kadar glukosa darah, serta pengukuran gradien osmotik yang dilakukan pada akhir pemeliharaan.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat keragaman genetik belut sawah populasi asal Karawang (23,72%) dan Cianjur (22,91%) lebih tinggi dibandingkan populasi asal Sukabumi (19,47%), serta terdapat kemiripan genotipe dan fenotipe
truss morfometrik antara populasi belut sawah asal Karawang dengan Cianjur
(I=0,0474) dibandingkan dengan populasi Sukabumi (I=0,0652). Respons biometrik belut sawah menunjukkan optimal pada salinitas 6 ppt yang ditandai dengan pola penurunan nilai glukosa darah dan gradien osmotik. Secara umum populasi asal Karawang lebih unggul dibandingkan populasi Cianjur dan Sukabumi berdasarkan tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, pertambahan bobot dan panjang harian serta biomassa panen.
SUMMARY
AHMAD FAHRUL SYARIF. Genetic Diversity of Three Populations of Asian Swamp Eel Monopterus albus (Zuiew, 1793) from West Java and Biometric Responses on Water Salinity Without Substrate. Supervised by DINAR TRI SOELISTYOWATI and RIDWAN AFFANDI.
Asian swamp eel Monopterus albus (Zuiew, 1793) is the one of fisheries products which is prospective of market and have high value of export. The increase of demand asian swamp eel in domestic market and abroad can’t be fullfilled due to the limitedness of production catches from nature and in the meantime the seed population decline caused by reduction of rice field available for cultivation and water pollution. For fulfillment needs of asian swamp eel production so that the potency of wild population needs to be developed for sustainable the harvesting through culture techniques. The Success of aquaculture activities are determined by the quality of genetic source and biometric response to the adaptation process from wild toward aquaculture condition that is limited by artifical environment.
The research aimed to evaluate the genotypes and phenotypes of asian swamp eel from West Java and the biometric responses culture conditions with media water salinity. Samples of asian swamp eel catches sized of 19-26.5 cm and a weight of 4.95-11.4 grams were collected from three location (Cianjur, Sukabumi, Karawang). The 30 samples of each population were conducted to truss morphometric measurement and RAPD analysis for genetic characterization, and 200 individuals for biometric response on media water salinity. The culture experiments was performed in different water without substrate by giving a shelter from PVC pipe sized of ¾-inch and 20 cm lenght. Scheme of cultivation experiment was designed using a completely randomized design (CRD) three level of salinity treatments 0, 6, 12 ppt repeated three times with stocking density 1 kg / m2. The rearing was performed using blue plastic tub sized 50 x 30 x 30 cm. Cultivation experiment was carried out for 30 days with 100% water changed per day and feeding from kind of silk worms Tubificidae was taken once a day with at satiation manner. The Parameter measurements were sampled every 10 days consisted of survival rate, length and weight, biomass of harvest (yield), blood glucose levels, and osmotic gradient pressure measured at the end of treatments.
The results showed genetic diversity of asian swamp eel population from Karawang (23.72%) and Cianjur (22.91%) were higher than population from Sukabumi (19.47%), and there were similarity relationship between the asian swamp eel from Karawang and Cianjur (I = 0.0474) compared of population from Sukabumi (I = 0.0652) based on RAPD profile as well as the value ratio of truss morphometric phenotypes. The biometric responses of asian swamp eel to the water salinity 6 ppt showed the optimal response characterized by decrease in blood glucose values and osmotic gradient. The populations from Karawang showed the superior performance than the population of Cianjur and Sukabumi based on survival rate, specific growth rate, daily weight gain and length and yield
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Akuakultur
KERAGAMAN GENETIK TIGA POPULASI BELUT SAWAH
Monopterus albus
(Zuiew, 1793) ASAL JAWA BARAT DAN RESPONS
BIOMETRIK PADA MEDIA AIR BERSALINITAS TANPA SUBSTRAT
AHMAD FAHRUL SYARIF
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Keragaman Genetik Tiga Populasi Belut Sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) Asal Jawa Barat dan Respons Biometrik pada Media Air Bersalinitas Tanpa Substrat
Nama : Ahmad Fahrul Syarif NIM : C151130401
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Dinar Tri Soelistyowati, DEA Ketua
Prof Dr Ir Ridwan Affandi, DEA Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Ilmu Akuakultur
Dr Ir Widanarni, MSi
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
Tanggal Ujian: 21 Agustus 201519 Mei 2015
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul ”Keragaman Genetik Tiga Populasi Belut Sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) Asal Jawa Barat dan Respons Biometrik pada Media Air Bersalinitas Tanpa Substrat”
Dalam kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Dr Ir Dinar Tri Soelistyowati, DEA dan Bapak Prof Dr Ir Ridwan
Affandi, DEA selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan selama pengerjaan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini.
2. Bapak Dr Ir Tatag Budiardi, MSi selaku dosen penguji luar komisi dan Ibu Dr Ir Mia Setiawati, MSi selaku komisi program studi ilmu akuakultur atas masukan, saran dan perbaikan dalam penelitian serta penulisan karya ilmiah ini.
3. Ibu Ir Yani Hadiroseyani, MM, Ibu Dr Dinamella Wahjuningrum, SSi, MSi, Bapak Ir Harton Arfah, MSi dan Bang Robin, SPi, MSi atas dukungan, masukan, semangat dan motivasi yang diberikan kepada penulis.
4. Rekan-rekan penelitian belut sawah (Yodi Husein, Fenti Nurul dan Risma Suryani)
5. Rekan-rekan sepenelitian di kolam percobaan Babakan (Bang Herjayanto SPi, Kak Hasrah, SSi, Anna Nurkhasanah, Rahmadhani, Wulan Nurindah, Winy Yusrina, Hamzah Muhammad Ikhsan dan Dhani Prasetyo)
6. Rekan-rekan satu laboratorium Reproduksi dan Genetika Organisme Akuakultur Pascasarjana 2013 (Kak Tuti Puji Lestari, SPi, Bang Radhi Fadhillah, SPi, Kak Dwi Mulyasih, SPi dan rekan semuanya se-Lab RGOA BDP IPB)
7. Keluargaku tercinta terutama ayah, ibu dan kedua adik tersayang (Astuti Dwi Cahya dan Intan Furaida Shafira), om Wayan dan bule Wulan serta keluarga besar atas segala doa dan motivasi yang diberikan kepada penulis. 8. Teman-teman Ilmu Akuakultur 2013.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan karya imiah ini. Penulis berharap penelitian yang dituangkan dalam sebuah karya ilmiah berupa tesis ini dapat memberikan banyak manfaat sesuai dengan yang diharapkan. Sebagian hasil penelitian ini akan di publikasikan pada Jurnal Iktiologi Indonesia.
Akhir kata, penyusun berharap semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, Agustus 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 3
Tujuan 3
Manfaat 4
2 METODE 4
Waktu dan Tempat 4
Koleksi Materi Uji 4
Pengukuran Truss Morfometrik 5
Analisis Random Amplified Polymorphyc DNA (RAPD) 6
Pemeliharaan pada Media Air Bersalinitas 7
Prosedur Pemeliharaan 7
Parameter Uji 8
Analisis Data 10
3 HASIL DAN PEMBAHASAN 10
Profil RAPD (Random Amplified Polymorphyc DNA) 10
Polimorfisme dan Heterosigositas 11
Uji Perbandingan Berpasangan Fst 12
Jarak Genetik 12
Truss Morfometrik 13
Respons Biomterik Belut Sawah pada Media Air Bersalinitas 15
4 KESIMPULAN DAN SARAN 21
Kesimpulan 21
Saran 21
DAFTAR PUSTAKA 22
LAMPIRAN 24
DAFTAR TABEL
1 Sumber genetik, asal populasi dan letak geografis pengambilan sampel belut
sawah (M. albus) 4
2 Pengukuran parameter kualitas air lokasi sampling belut sawah (M. albus) di
Cianjur, Sukabumi dan Karawang 5
3 Kualitas air pada media pemeliharaan belut sawah (M. albus) populasi Cianjur,
Sukabumi dan Karawang 8
4 Jumlah fragmen dan ukuran fragmen DNA terampifikasi 12
5 Derajat polimorfisme dan heterosigositas 12
6 Uji perbandingan berpasangan Fst pada 3 primer 12 7 Jarak genetik belut sawah (M. albus) asal Jawa Barat (Cianjur,
Sukabumi,Karawang) 12
8 Koefisien keragaman (KK) rasio morfometrik belut sawah M. albus populasi
asal Cianjur, Sukabumi, Karawang 13
9 Tingkat kelangsungan hidup belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt 15 10 Laju pertumbuhan harian belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt 15 11 Pertambahan bobot harian belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt 16 12 Pertumbuhan panjang mutlak belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt 16 13 Biomassa panen (yield) belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt 17
DAFTAR GAMBAR
1 Karakter morfometrik belut sawah M. albus (Wijana, 1999) 5 2 Amplifikasi DNA : SK 1-5 populasi Sukabumi, CJ 1-5 populasi Cianjur, KR
1-5 populasi Karawang menggunakan primer OPA-09 10 3 Amplifikasi DNA : SK 1-5 populasi Sukabumi, CJ 1-5 populasi Cianjur, KR
1-5 populasi Karawang menggunakan primer OPC-02 11 4 Amplifikasi DNA : SK 1-5 populasi Sukabumi, CJ 1-5 populasi Cianjur, KR
1-5 populasi Karawang menggunakan primer OPC-05 11 5 Dendrogram hubungan genetik 3 populasi belut sawah M. albus asal Jawa
Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) 13
6 Dendogram rasio fenotipe truss morfometrik belut sawah M. albus asal Jawa
Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) 14
7 Fungsi diskriminan kanonikal 3 populasi belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) berdasarkan karakter morfometrik 14 8 Profil glukosa darah belut sawah M. albus populasi (A) Cianjur (B) Sukabumi
(C) Karawang pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt 17 9 Gradien osmotik belut sawah M. albus populasi Cianjur, Sukabumi, Karawang
DAFTAR LAMPIRAN
1 Data pengukuran 8 karakter truss morfometrik belut sawah (Monopterus albus)
populasi Cianjur 24
2 Data pengukuran 8 karakter truss morfometrik belut sawah (Monopterus albus)
populasi Sukabumi 25
3 Data pengukuran 8 karakter truss morfometrik belut sawah (Monopterus albus)
populasi Karawang 26
4 Data rasio truss morfometrik belut sawah (Monopterus albus) populasi Cianjur 27 5 Data rasio truss morfometrik belut sawah (Monopterus albus) populasi Sukabumi 28 6 Data rasio truss morfometrik belut sawah (Monopterus albus) populasi Karawang 29 7 Uji Manova 7 perbandingaan truss karakter morfometrik belut sawah populasi Cianjur,
Sukabumi dan Karawang (Levene’s test) 30
8 Uji Anova dan uji lanjut Duncan intrapopulasi pada parameter tingkat kelangsungan hidup belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 30 9 Uji Anova dan uji lanjut Duncan interpopulasi pada parameter tingkat kelangsungan
hidup belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 31 10 Uji Anova dan uji lanjut Duncan intrapopulasi pada parameter laju pertumbuhan
harian belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 31 11 Uji Anova dan uji lanjut Duncan interpopulasi pada parameter laju pertumbuhan
harian belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 32 12 Uji Anova dan uji lanjut Duncan intrapopulasi pada parameter pertambahan bobot
harian belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 33 13 Uji Anova dan uji lanjut Duncan interpopulasi pada parameter pertambahan bobot
harian belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 34 14 Uji Anova dan uji lanjut Duncan intrapopulasi pada parameter pertumbuhan panjang
mutlak belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 35 15 Uji Anova dan uji lanjut Duncan interpopulasi pada parameter pertumbuhan panjang
mutlak belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 36 16 Uji Anova dan uji lanjut Duncan intrapopulasi pada parameter biomassa panen (yield)
belut sawah populasi Cianjur, Sukabumi dan Karawang 37 17 Uji Anova dan uji lanjut Duncan interpopulasi pada parameter biomassa panen (yield)
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Belut sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki prospek pasar dan nilai ekspor tinggi. Ekspor belut dari Jakarta ke Hongkong telah berlangsung sejak tahun 1979. Potensi pasar lokal belut saat ini juga tergolong besar, contohnya di Jakarta membutuhkan 20 ton per hari sedangkan di Yogyakarta membutuhkan sebanyak 30 ton per hari untuk memenuhi 150 industri rumah tangga, sementara untuk daerah lain permintaan mencapai ratusan kilo per hari. Data produksi tahun 2010 menunjukkan bahwa, ekspor belut Indonesia diarahkan ke beberapa negara besar konsumen belut di dunia seperti China, Hongkong, Jepang, Singapura, Taiwan, Korea dan Thailand. Volume ekspor belut sebanyak 2.189 ton pada tahun 2007 dan meningkat di tahun 2008 yaitu 2.676 ton, hingga sampai akhir tahun 2009 sebanyak 4.744 ton dengan peningkatan sebesar 77,2 % dibandingkan tahun 2008 (WPI 2010)
Permintaan belut di pasar dalam negeri dan luar negeri yang terus meningkat belum dapat terpenuhi karena keterbatasan produksi yang masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam dan menurunnya populasi benih yang tersedia untuk budidaya. Penurunan populasi di alam berkaitan erat dengan musim dan penangkapan yang intensif terutama terhadap calon-calon induk. Selain itu, habitat hidup belut di alam semakin sempit akibat konversi lahan serta pencemaran insektisida dan pestisida di areal persawahan. Upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan produksi yang terus meningkat adalah dengan menggali potensi pengembangan belut yang berkelanjutan dengan penguasaan teknik-teknik budidaya. Keberhasilan dalam kegiatan budidaya ditentukan oleh mutu sumber genetik dan respons genetik terhadap proses pengadaptasian populasi dari kondisi alami menuju kondisi budidaya yang terkontrol yatu wadah terbatas dan lingkungan buatan. Manipulasi yang dilakukan pada lingkungan budidaya dimaksudkan supaya ikan dapat beradaptasi pada kondisi-kondisi tertentu. Apabila tingkat keberhasilan hidup dalam lingkungan budidaya dapat terlampaui maka aplikasi dan transfer teknologi budidaya dapat berkembang menuju produksi skala besar yang menguntungkan dan berkelanjutan (Maskur 2002).
2
hal ini media air dengan cara menyeimbangkan keluar masuknya ion-ion kimia Na+
dan Cl- melalui transpor aktif dari ginjal atau epitel insang (Evans 1993).
Sebagai hewan osmoregulator belut sawah melakukan aktivitas osmoregulasi, habitat belut adalah media air berlumpur dengan substrat berperan sebagai penahan masuknya air kedalam tubuh dan keluarnya garam-garam dari dalam tubuhnya sehingga kondisi homeostasis terjaga. Menurut Khanh dan Ngan (2010) belut sawah dilaporkan dapat dipelihara pada wadah budidaya dengan media air tanpa lumpur. Pemeliharaan belut sawah dalam media air tanpa substrat dapat memudahkan pemantauan, selain itu kepadatan juga dapat ditingkatkan dan kanibalisme dapat ditekan (Khanh & Ngan 2010). Perubahan habitat belut sawah pada pemeliharaan di media air tanpa substrat akan mempengaruhi kondisi fisologisnya terutama berkaitan dengan osmoregulasi yang mempengaruhi kemampuan digesti dan absorbsi nutrien, laju metabolisme (katabolisme dan anabolisme) di dalam tubuh. Salinitas berpengaruh langsung apabila gradien osmotik antara cairan tubuh dengan cairan media mendekati isoosmotik, pada kondisi ini proses fisiologis akan berjalan dengan optimal (homeostasis).
Respons adaptasi organisme terhadap perubahan lingkungan yang berbeda dengan kondisi habitat di alamnya menentukan keberlanjutan hidupnya secara individual atau pada skala populasi. Sumber genetik sebagai pelaku hereditas secara individual memiliki karakteristik genotipe dan fenotipe yang spesifik serta beragam berdasarkan sebaran geografisnya. Keragaman genetik yang tinggi memiliki tingkat adaptasi yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan hidupnya sehingga lebih lestari dalam jangka lama. Proses penyesuaian diri organisme dari alam yang kemudian dipelihara secara terkontrol dalam wadah budidaya akan mempengaruhi respons fisiologi dan tingkah laku yang akan berdampak pada perubahan fenotipe biometriknya. Dalam hal ini, terdapat hubungan antara keragaman genetik dengan ragam fenotipe dan kinerja produksinya (Gjederm 2005; Wei et al. 2006).
Keragaman genetik populasi di alam maupun dalam proses budidaya dimungkinkan mengalami reduksi apabila ukuran populasi terbatas karena gangguan lingkungan atau habitat yang tidak memadai. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku karena respons fisiologi dan reproduksi sebagai upaya menyesuaikan terhadap lingkungannya. Penurunan ragam genetik dapat mengurangi kebugaran populasi, respons adaptasi dan kinerja produksinya. Kelestarian populasi dapat berlangsung apabila kondisi lingkungan optimal dan sumber keragaman genetik memadai untuk merespons lingkungannya sehingga mendukung kelangsungan hidup dan bereproduksi secara acak (random mated). Ekspresi genotipe dimungkinkan tidak maksimal apabila berada pada lingkungan yang tertekan atau sub-optimal. Status genotipe heterozigot menunjukkan fenotipe yang lebih unggul dibandingkan dengan homozigot terkait dengan potential fitness
dan efek heterosis (hybrid vigour) yang menunjukkan respons adaptasi lebih tinggi yang berasal dari kontribusi gen aditif, diantaranya berkaitan dengan pertumbuhan (Tave 1994).
3
belut sawah asal Jawa Barat yang dikoleksi dari persawahan di tiga lokasi (Cianjur, Sukabumi, Karawang) dengan ketinggian lokasi yang berbeda serta respons adaptasinya terhadap proses domestikasi pada kondisi budidaya dalam media air tanpa substrat dan pemberian salinitas. Analisis keragaman genetik intra dan interpopulasi digunakan untuk menentukan potensi sumber genetik populasi yang memiliki respons adaptasi paling baik serta kinerja produksi yang optimal pada pemeliharaan dalam wadah budidaya.
Rumusan Masalah
Permintaan belut di pasar dalam negeri dan luar negeri yang terus meningkat belum dapat terpenuhi karena keterbatasan produksi yang masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam dan menurunnya populasi akibat konversi areal persawahan dan pencemaran air yang berasal dari penggunaan pestisida dan detergent. Upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan produksi yang terus meningkat adalah pengembangan budidaya belut yang berkelanjutan. Keberhasilan budidaya antara lain ditentukan oleh ketersediaan sumber genetik yang bermutu dan lingkungan budidaya yang memadai untuk menjamin kesuksesan adaptasi populasi dari kondisi alami menuju kondisi budidaya dalam wadah terbatas dan lingkungan buatan. Rekayasa wadah budidaya dimaksudkan agar menyesuaikan dengan kondisi habitatnya sehingga kualitas air dapat ditolerir oleh ikan dengan tingkat adaptasi yang tinggi. Proses penyesuaian diri organisme dari habitat alaminya terhadap lingkungan terkontrol dalam wadah budidaya diduga mempengaruhi tingkah laku, respons fisiologis dan berdampak pada perubahan fenotipe biometrik. Dalam hal ini, terdapat interaksi antara faktor genetik dan lingkungan terhadap keragaman fenotipe produksi. Keragaman genetik yang tinggi memiliki tingkat adaptasi yang lebih baik terhadap perubahan lingkungan sehingga lebih mampu bertahan hidup dan berproduksi secara optimal. Analisis sumber genetik dilakukan dengan pendekatan molekuler dan karakterisasi truss
morfometrik pada tiga populasi belut sawah asal Jawa Barat yaitu Cianjur, Sukabumi dan Karawang. Selanjutnya pengadaptasian dalam budidaya dilakukan dengan pendekatan manipulasi lingkungan berupa perlakuan salinitas dalam wadah budidaya dengan media air tanpa substrat agar menyesuaikan kondisi alaminya sebagai hewan osmoregulator yang memerlukan keseimbangan beban osmotik dan bersifat nocturnal. Hubungan interaksi antara keragaman genetik dan respons biometrik belut sawah terhadap kondisi lingkungan budidaya akan dievaluasi untuk menentukan populasi yang potensial memiliki respons adaptasi paling baik berdasarkan parameter biometrik dan kinerja produksinya.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengevaluasi keragaman genetik populasi belut sawah M. albus (Zuiew, 1793) asal Cianjur, Sukabumi dan Karawang melalui analisis molekuler dengan metode RAPD (Randomly Amplified Polymoprhyc DNA) dan karakteristik fenotipe truss morfometrik
4
Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sumber genetik belut sawah asal Jawa Barat yang potensial untuk dikembangkan dalam kegiatan budidaya dengan teknik pemeliharaan dalam media air tanpa substrat.
2
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 sampai dengan Mei 2015. Koleksi sampel belut sawah dilakukan di tiga lokasi persawahan yang terdapat di Jawa Barat yaitu Cianjur, Sukabumi dan Karawang (Tabel 1).
Tabel 1 Sumber genetik, asal populasi, letak geografis dan ketinggian lokasi pengambilan sampel belut sawah M. albus
Nama Populasi
Kode Sampel
Sumber Asal
Populasi Lintang Bujur
Ketinggian Lokasi
Suhu Lokasi*
Cianjur CJ Kec. Cibeber,
Kab. Cianjur 6°56'8.31"S 107° 8'11.89"T429 dpl 20-31°C
Sukabumi SK Kec. Sukaraja
Kab. Sukabumi 6°36'40.12"S 106°50'50.42"T673 dpl 17-30°C
Karawang KR Kec. Purwasari,
Kab. Karawang 6°21'57.76"S 107°24'52.03"T 51 dpl 22-34°C *Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (2015)
Analisis molekuler dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) Bogor, analisis kualitas air di Laboratorium Lingkungan (Departemen Budidaya Perairan IPB), analisis osmolaritas darah dilakukan di Laboratorium Embriologi (Fakultas Kedokteran Hewan IPB), dan pengujian budidaya dengan pemeliharaan pada media air tanpa substrat dan bersalinitas dilakukan pada Laboratorium Kolam Percobaan Babakan (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB).
Koleksi Materi Uji
5
Tabel 2 Pengukuran parameter fisika-kimia air lokasi pengambilan sampel belut sawah M. albus di Cianjur, Sukabumi dan Karawang
Parameter Kualitas Air Cianjur Sukabumi Populasi Karawang
Suhu (oC) 24,22-30,94 23,49-24,93 31,59-34,70
Konduktivitas (mS/cm) 0,19-0,32 0,12-0,19 0,00-0,40
Kekeruhan (NTU) 15,40-104,00 0,00-275,00 0,00-1000,00
TDS (g/L) 0,12-0,21 0,08-0,12 0,00-0,26
DO (mg/L) 5,91-13,67 1,41-7,68 4,5-13,55
pH 6,64-7,48 7,44-9,36 7,23-7,79
Salinitas (g/L) 0,10-0,20 0,0-0,10 0,0-0,20
Parameter biologi yang diukur adalah bobot dan panjang tubuh serta dilakukan identifikasi status kelaminnya berdasarkan pengamatan gonad. Untuk preparasi analisis genotipe diambil sampel sirip atau bagian tubuh belut sawah sebanyak 5-10 mg kemudian diawetkan di dalam alkohol 96% dalam tabung
eppendorf 1,5 ml.
Pengukuran Truss Morfometrik
Sebelum melakukan pengukuran parameter morfometrik, belut sawah terlebih dahulu dipingsankan dengan menggunakan obat bius komersial Stabilizer
Arowana® dengan dosis 4 ml larutan per satu liter air. Karakterisasi morfometrik
yang diukur meliputi delapan karakter fenotipe (Gambar 1) yang diukur menggunakan mistar untuk karakter nomor 1-4 dan dengan jangka sorong pada pengukuran karakter nomor 5-8 (Lampiran 1-3).
Gambar 1 Karakterisasi truss morfometrik belut sawah M. albus (Wijana 1999)
6
Delapan karakter fenotipe yang telah diukur kemudian dibuat tujuh rasio ukuran yang relevan (Lampiran 4-6). Rasio karakter fenotipe belut sawah tersebut, yaitu :
1. Panjang Kepala : Panjang Total 2. Panjang Badan : Panjang Total 3. Panjang Ekor : Panjang Total 4. Panjang Hidung : Panjang Kepala 5. Lebar Badan-I : Panjang Kepala 6. Lebar Badan-II : Panjang Badan 7. Lebar Badan-III : Panjang Ekor
Analisis Random Amplified Polymorphyc DNA (RAPD) Ekstraksi DNA
Sampel bagian tubuh belut sawah (5-10 mg) dari masing-masing lokasi sampling dikeluarkan dari larutan preservasi (alkohol 96%) kemudian dibilas 2 kali menggunakan akuades dan dikeringkan dengan tissue. Selanjutnya DNA sampel diekstraksi melalui beberapa tahapan yaitu meliputi pelisisan sel dengan menambahkan TNES urea sebanyak 500 µl dan protein kinase 10 µl, kemudian dihomogenkan menggunakan vortex dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam dan ditambahkan phenolchloroform isoamilalkohol dengan perbandingan 25:24:1 sebanyak 1000 µl serta disentrifugasi dengan kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit. Kemudian, supernatan dipindahkan ke tabung baru dan ditambahkan etanol sebanyak 1000 µl dan 10 µl serta disentrifugasi kembali dengan kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya, supernatan dibuang dan pelet dikering anginkan sampai etanol menguap. Pelet DNA dilarutkan dengan 100 μl bufer Tris-EDTA kemudian disimpan pada suhu 4oC sebelum digunakan pada proses analisis genetik selanjutnya.
Amplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR)
Primer yang digunakan pada amplifikasi DNA dengan PCR yaitu OPA-09 (5’-GGGTAACGCC-3’), OPC-02 (5’-GATAGGCGTC-3’) dan OPC-05 (5’-GATGACCGCC-3’). Proses amplifikasi DNA dengan metode Polymerase Chain
Reaction (PCR) menggunakan komposisi bahan yang terdiri atas 1 μl DNA genom
hasil ekstraksi, 1 μl primer, 12.5 μl Taq polymerase dan 10.5 μl akuades sehingga total volume sebanyak 25 μl. Campuran tersebut dihomogenkan dengan vortex
kemudian dimasukkan ke dalam spin down agar sampel turun ke dasar tabung. Selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin PCR dengan denaturasi awal pada suhu 97ºC selama 10 menit, dan 40 siklus selanjutnya terdiri atas denaturasi pada suhu 94 ºC selama 1 menit, annealing pada suhu 36ºC selama 1 menit, elongasi pada suhu 72 ºC selama 1,5 menit, elongasi akhir pada suhu 72 ºC selama 5 menit, dan proses penstabilan pada suhu 4 ºC selama 3 menit (Wei et al. 2006).
Elektroforesis
7
Selanjutnya campuran DNA 10 μl dan Loading Dye 3 μl dimasukkan ke dalam sumur-sumur elektroforesis. Gene Ruler 100bp DNA Loader digunakan sebagai standar untuk menentukan ukuran fragmen hasil amplifikasi. Listrik dialirkan dengan tegangan 100 volt selama 30 menit. Setelah proses elektroforesis selesai, gel diangkat dari bak elektroforesis untuk selanjutnya diamati menggunakan lampu ultraviolet dan didokumentasikan menggunakan kamera pollaroid.
Pemeliharaan Belut Sawah pada Media Air Bersalinitas
Pemeliharaan belut sawah pada percobaan ini dilakukan pada media air bersalinitas tanpa menggunakan substrat tanah. Wadah yang digunakan berupa bak plastik berwarna biru dengan dimensi 50x30x30 cm dengan pemberian pelindung
(shelter) berupa potongan pipa paralon berdiameter ¾ inci dan panjang 20 cm.
Skema penelitian ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan salinitas yang berbeda pada media air tanpa substrat sebagai berikut:
Perlakuan 1 (P1) : media air bersalinitas 0 ppt Perlakuan 2 (P2) : media air bersalinitas 6 ppt Perlakuan 3 (P3) : media air bersalinitas 12 ppt
Setiap perlakuan diulang 3 kali dengan padat penebaran mengacu pada modifikasi Khanh & Ngan (2010) yaitu 1 kg/m2 belut sawah dengan panjang tubuh rata-rata 19,0-26,5 cm dan bobot rata-rata 4,95-11,4 gram.
Prosedur Pemeliharaan Persiapan wadah
Wadah yang digunakan berupa bak plastik berwarna biru (gelap) dengan dimensi 50x30x30 cm sebanyak 27 buah untuk 3 populasi (Cianjur, Sukabumi, Karawang) masing-masing dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Persiapan wadah pemeliharaan meliputi pencucian wadah dan pengisian air dengan volume 5 liter. Wadah dan air yang akan digunakan terlebih dahulu di disinfeksi menggunakan disinfektan.
Aklimatisasi
Belut sawah hasil koleksi yang diperoleh dari masing-masing populasi dilakukan pemberokan (pemuasaan) pasca transportasi dari lokasi asal untuk tahap aklimatisasi. Kegiatan ini dilakukan pada wadah tertutup tanpa pemberian pakan di media air bersalinitas 6 ppt dengan frekuensi pergantian air sebanyak 100% per hari. Masa pemuasaan dan aklimatisasi dilakukan selama 7 hari, yaitu ketika kematian belut sawah pasca transportasi kurang dari 20%.
Pemeliharaan pada media air bersalinitas
8
darah. Pengukuran gradien osmotik dilakukan pada akhir pemeliharaan dan pengukuran kualitas air dilakukan setiap 10 hari sekali (Tabel 3).
Tabel 3 Kualitas air pada media pemeliharaan belut sawah M. albus
Parameter Kualitas Air Perlakuan(ppt) Cianjur Sukabumi Populasi Karawang
Suhu (oC)
Heterozigot merupakan perpaduan dari alel-alel yang berbeda pada lokus yang sama dan dihitung menggunakan rumus persamaan sebagai berikut (Soewardi 2007) :
Jarak genetik menggambarkan hubungan kekerabatan genetik interpopulasi yang dihitung menggunakan program UPGMA berdasarkan tingkat keragaman amplifikasi DNA pada 3 primer yang digunakan melalui persamaan berikut (Soewardi 2007) :
D = −ln − J
J J 0.5...(2) Keterangan : D = Jarak genetik
Jab = frekuensi haplotipe pada lokus populasi sama Ja & Jb= frekuensi haplotipe pada populasi A dan B
Koefisien Keragaman (KK)
Koefisien keragaman (KK) digunakan untuk membandingkan tingkat keragaman fenotipe morfometrik intrapopulasi (Steel & Torrie 1980) :
KK =SD̅ ...(3) Keterangan : KK = Koefisien keragaman
9
Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH)
Tingkat kelangsungan hidup dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1997), yaitu :
Tingkat Kelangsungan Hidup =NoNt x ...(4) Keterangan : Nt = Jumlah ikan akhir (ekor)
No = Jumlah ikan awal (ekor)
Laju Pertumbuhan Harian (LPH)
Laju pertumbuhan bobot harian dihitung dengan menggunakan rumus Huisman (1987), yaitu :
α = [�√̅ 0̅ t− ] X ...(5) Keterangan : α = Laju pertumbuhan harian (%)
wt = Bobot rata-rata ikan pada waktu t (g)
wo = Bobot rata-rata ikan pada awal percobaan (g) t = Lama percobaan (hari)
Pertumbuhan Bobot Mutlak
Pertumbuhan bobot mutlak dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1997), yaitu :
Pertumbuhan Bobot Harian =̅̅̅t−̅̅̅0t ...(6) Keterangan : wt = Bobot rata-rata ikan pada waktu t (g)
w0 = Bobot rata-rata ikan pada awal percobaan (g) t = Lama percobaan (hari)
Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang mutlak dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1997), yaitu :
Pertumbuhan Panjang Mutlak = L̅t − L̅ ...(7) Keterangan : Lt = Panjang rata-rata ikan pada waktu t (cm)
L0 = Panjang rata-rata ikan pada awal percobaan (cm)
Gradien Osmotik
Gradien osmotik menggambarkan perbedaan tekanan osmotik di dalam tubuh ikan dan media pemeliharaan yang diukur menggunakan osmometer untuk melihat beban osmotik belut sawah terhadap media. Rumus yang digunakan menurut Karim (2007) adalah:
GO = [Posm darah – Posm media] ...(8)
Keterangan : GO = Gradien Osmotik, Osm/l H20 Posm darah = Tekanan osmotik/osmolaritas
darah (Osm/l H20)
Posm media = Tekanan osmotik/osmolaritas
media (Osm/l H20)
10
Pengukuran Glukosa Darah
Analisis glukosa darah dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan budidaya terhadap tingkat stres belut sawah dalam merespons perubahan lingkungan. Kadar glukosa darah diukur dengan kit GLUCODR® yang digunakan
untuk pengukuran kadar glukosa darah pada manusia.
Analisis Data
Data keragaman genetik intrapopulasi yang meliputi tingkat polimorfisme dan heterosigositas dianalisis dengan metode descriptive statistics, exact test for
population differentiation (Raymond & Rousset 1995 dalam Miller 1997)
menggunakan program TFPGA (Tools for Population Genetic Analysis). Struktur dan hubungan kekerabatan genetik interpopulasi dianalisis berdasarkan jarak genetik dan dendrogram menggunakan UPGMA (Unweighted Pair Group Method
with Arithmetic Mean) Wright (1978) modifikasi Rogers (1972) dalam Miller
(1997) dari software TFGPA. Data keragaman fenotipe dan respons biometrik dianalisis menggunakan Microsoft Excel 2013, Minitab 14.0 dan SPSS 17.0 (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%.
3
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Profil RAPD (Random Amplified Polymorphyc DNA)
Hasil amplifikasi DNA menggunakan primer OPA-09 (Gambar 2), OPC-02 (Gambar 3) dan OPC-05 (Gambar 4) menunjukkan keragaman genotipe antar populasi belut sawah asal Cianjur (CJ), Sukabumi (SK) dan Karawang (KR) dengan
marker leader (M) yang memiliki ukuran panjang DNA 100-3000 basepair.
Gambar 2 Amplifikasi DNA menggunakan primer OPA-09: SK 1-5 populasi Sukabumi, CJ 1-5 populasi Cianjur, KR 1-5 populasi Karawang, dan
11
Gambar 3 Amplifikasi DNA menggunakan primer OPC-02: SK 1-5 populasi Sukabumi, CJ 1-5 populasi Cianjur, KR 1-5 populasi Karawang, dan
marker leader (M)
Gambar 4 Amplifikasi DNA menggunakan primer OPC-05: SK 1-5 populasi Sukabumi, CJ 1-5 populasi Cianjur, KR 1-5 populasi Karawang, dan
marker leader (M)
Rekapitulasi analisis keragaman profil DNA teramplifikasi dengan penanda RAPD (Random Amplified Polymorphyc DNA) yaitu berupa jumlah pita DNA yang teramplifikasi dan ukuran fragmen DNA teramplifikasi disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Jumlah fragmen dan ukuran fragmen DNA terampifikasi
Populasi Belut Sawah Jumlah Fragmen Kisaran Ukuran Fragmen (bp)
Cianjur Sukabumi Karawang
9-14 6-12 9-13
300-3000 300-3000 300-3000
Polimorfisme dan Heterozigositas
12
Tabel 5 Derajat polimorfisme dan heterosigositas
Populasi Belut Sawah Polimorfisme (%) Heterosigositas
Cianjur 83,33 0,2291
Sukabumi 76,19 0,1947
Karawang 83,33 0,2372
Uji Perbandingan Berpasangan Fst
Uji perbandingan berpasangan Fst (Tabel 6) menganalisis sebaran variasi genetik interpopulasi (Cianjur, Sukabumi, Karawang) berdasarkan analisis keragaman genetik menggunakan RAPD dengan 3 primer (OPA-09, 02, OPC-05) menunjukkan perbedaan secara nyata antara populasi (P<0,OPC-05).
Tabel 6 Uji perbandingan berpasangan Fst pada 3 primer
Populasi Belut Sawah Cianjur Sukabumi Karawang
Cianjur ---
Sukabumi 0,0194* ---
Karawang 0,0269* 0,0085* ---
Keterangan: *berbeda nyata (P<0.05)
Jarak Genetik
Hubungan kekerabatan genetik interpopulasi (Tabel 7) diukur berdasarkan jarak genetik 3 populasi belut sawah asal Cianjur, Sukabumi dan Karawang berdasarkan keragaman pita DNA yang teramplifikasi hasil analisis RAPD
(Random Amplified Polymorphyc DNA) menggunakan 3 primer (OPA-09, OPC-02
dan OPC-05).
Tabel 7 Jarak genetik belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang)
Populasi Belut Sawah Cianjur Sukabumi Karawang
Cianjur Sukabumi Karawang
--- 0,0388
---
0,0191 0,0474 ---
13
Gambar 5 Dendrogram hubungan genetik 3 populasi belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang)
Hubungan kekerabatan genetik antara populasi belut sawah populasi asal Cianjur dan Karawang membentuk satu kluster yang terpisah dengan populasi belut sawah asal Sukabumi.
Truss Morfometrik
Analisis koefisien keragaman rasio truss morfometrik dari tiga populasi belut sawah (Tabel 8) menunjukkan ada satu karakter yang berbeda antar populasi. Karakter yang berbeda tersebut adalah rasio perbandingan (LBI:PK) yaitu lebar badan-1 dengan panjang kepala (Lampiran 7).
Tabel 8 Koefisien keragaman (KK) rasio morfometrik belut sawah M. albus
populasi asal Cianjur, Sukabumi, Karawang Rasio Karakter
Morfometrik Cianjur Sukabumi Karawang Signifikasi
PK : PT 0,103 0,101 0,079 0,672
PB : PT 0,029 0,028 0,017 0,101
PE : PT 0,061 0,071 0,038 0,143
PH : PK 0,140 0,092 0,145 0,961
LBI : PK 0,104 0,153 0,119 0,013*
LBII : PB 0,126 0,110 0,097 0,512
LBIII : PE 0,141 0,178 0,194 0,445
*karakter yang berbeda (P<0,05)
Keterangan : PK (Panjang Kepala), PB (Panjang Badan), PT (Panjang Total), PE (Panjang Ekor), PH (Panjang Hidung), LBI (Lebar Badan-1), LBII (Lebar Badan-2), LBIII (Lebar Badan-3)
14
Gambar 6 Dendrogram rasio fenotipe truss morfometrik belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang)
Hasil ilustrasi fungsi kanonikal berdasarkan sebaran karakter morfometrik dari 3 populasi belut sawah asal Jawa Barat menunjukkan bahwa group centroid
populasi Cianjur dan Karawang lebih dekat dibandingkan group centroid populasi Sukabumi (Gambar 7).
Gambar 7 Fungsi diskriminan kanonikal 3 populasi belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) berdasarkan karakter morfometrik
Karawang Cianjur
Sukabumi 93,11
95,40
97,70
100,00
Variables
S
im
ila
ri
15
Respons Biomterik Belut Sawah pada Media Air Bersalinitas Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup belut sawah pada pemeliharaan budidaya dalam media air tanpa substrat dengan perlakuan salinitas yang berbeda selama 30 hari pemeliharaan berkisar antara 40-90% (Tabel 9). Berdasarkan analisis ragam interpopulasi (Lampiran 9) pada perlakuan 0 ppt dan 6 ppt, tingkat kelangsungan hidup belut sawah tidak ada perbedaan nyata (P>0,05). Perlakuan 12 ppt populasi Sukabumi menunjukkan kelangsungan hidup yang rendah (P<0,5) dibandingkan populasi Karawang dan Cianjur. Analisis ragam antar perlakuan salinitas intrapopulasi (Lampiran 8) menunjukkan bahwa pada populasi Sukabumi terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan dengan kelangsungan hidup tertinggi (87,5%) adalah pada perlakuan salinitas 6 ppt (P<0,5). Demikian halnya dengan kelangsungan hidup populasi belut sawah asal Karawang yang tertinggi yaitu 90% pada perlakuan 6 ppt (P<0,5).
Tabel 9 Tingkat kelangsungan hidup belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt
Perlakuan (ppt)
Populasi
Cianjur Sukabumi Karawang
0
Ket : Huruf superscript pada baris yang sama menunjukkan perbedaan interpopulasi (P<0,05) Angka superscript pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan intrapopulasi (P<0,05) Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata dan simpangan baku.
Laju Pertumbuhan Harian
Laju pertumbuhan harian belut sawah asal Cianjur, Sukabumi dan Karawang yang dipelihara pada media air tanpa substrat dengan salinitas 0 ppt, 6 ppt, dan 12 ppt berkisar antara 0,35±0,13% sampai dengan 1,42±0,20%. Rata-rata laju pertumbuhan harian belut sawah ketiga populasi pada perlakuan 12 ppt secara umum adalah yang paling rendah dibandingkan perlakuan yang lain (Tabel 10). Berdasarkan analisis ragam interpopulasi (Lampiran 11) diketahui bahwa pada perlakuan 0 ppt laju pertumbuhan populasi Sukabumi adalah yang paling rendah (P<0,05), sedangkan pada salinitas 6 ppt populasi Karawang menunjukkan laju pertumbuhan yang paling tinggi (P<0,05). Analisis ragam antar perlakuan intrapopulasi (Lampiran 10) pada populasi Cianjur dan Karawang menunjukkan bahwa perlakuan 12 ppt menghasilkan pertumbuhan yang paling rendah (P<0,05), sedangkan pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu pada perlakuan 0 ppt dan 6 ppt (P<0,05). Sedangkan pada populasi belut asal Sukabumi pertumbuhn yang terbaik adalah pada salinitas 6 ppt (P<0,05).
Tabel 10 Laju pertumbuhan harian belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt
Perlakuan (ppt)
Populasi
Cianjur Sukabumi Karawang
0
16
Pertumbuhan Bobot Harian
Pertumbuhan bobot harian belut sawah yang dipelihara pada salinitas 0 ppt, 6 ppt, 12 ppt berkisar antara 0,022±0,009 gram/hari sampai dengan 0,109±0,0203 gram/hari (Tabel 11). Rata-rata pertumbuhan bobot harian belut sawah antar populasi pada perlakuan salinitas 12 ppt adalah yang paling rendah dibandingkan perlakuan salinitas 0 ppt dan 6 ppt. Berdasarkan analisis ragam pertumbuhan bobot harian interpopulasi (Lampiran 13) diketahui bahwa pada perlakuan 0 ppt populasi Sukabumi menunjukkan peningkatan bobot yang paling rendah (P<0,05), sedangkan pada salinitas 6 ppt populasi asal Cianjur yang paling rendah. Hasil analisis ragam intrapopulasi (Lampiran 12) pada populasi Cianjur menunjukkan perlakuan 0 ppt adalah yang paling paling tinggi (P<0,05), dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan salinitas 6 ppt, sedangkan pada populasi Sukabumi perlakuan 6 ppt menghasilkan pertambahan bobot tubuh yang paling tinggi (P<0,05) demikian pula pada populasi Karawang (P<0,05).
Tabel 11 Pertambahan bobot harian belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt
Perlakuan (ppt)
Populasi
Cianjur Sukabumi Karawang
0
Ket : Huruf superscript pada baris yang sama menunjukkan perbedaan interpopulasi (P<0,05) Angka superscript pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan intrapopulasi (P<0,05) Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata dan simpangan baku.
Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang mutlak belut sawah yang dipelihara pada salinitas 0 ppt, 6 ppt, 12 ppt berkisar antara 2,38±0,39 cm/hari sampai dengan 0,74±0,01 cm/hari (Tabel 12). Berdasarkan analisis ragam pertumbuhan panjang mutlak interpopulasi (Lampiran 15) diketahui bahwa pada perlakuan 0 ppt dan 12 ppt populasi Cianjur menunjukkan pertumbuhan yang paling tinggi (P<0,05), sedangkan pada perlakuan 6 ppt populasi Cianjur dan Karawang lebih tinggi dibandingkan dengan Sukabumi (P<0,05). Analisis ragam intrapopulasi (Lampiran 14) menunjukkan bahwa hanya pada populasi belut asal Karawang terdapat perbedaan pertambahan panjang tubuh yang nyata dan perlakuan 6 ppt yang paling tinggi (P<0,05) dibandingkan 0 ppt dan 12 ppt.
Tabel 12 Pertumbuhan panjang mutlak belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt
Perlakuan (ppt)
Populasi
Cianjur Sukabumi Karawang
0
17
Biomassa Panen (Yield)
Biomassa panen (yield) belut sawah yang dipelihara pada media air tanpa substrat dengan salinitas 0 ppt, 6 ppt, 12 ppt berkisar antara 4,47+ 2,24 gram sampai dengan 31,57+4,01 gram (Tabel 13). Berdasarkan analisis ragam biomassa panen
(yield) interpopulasi (Lampiran 17) dapat diketahui bahwa pada perlakuan 0 ppt
populasi Cianjur adalah yang paling tinggi (P<0,05), sedangkan pada salinitas 6 ppt yang terbaik adalah populasi Sukabumi (P<0,05) dan tidak berbeda nyata dengan populasi Karawang namun pada salinitas 12 ppt populasi asal Karawang menunjukkan yield yang paling rendah (P<0,05). Analisis ragam intrapopulasi (Lampiran 16) menunjukkan bahwa perlakuan 0 ppt pada populasi Cianjur menghasilkan biomassa anen yang tertinggi (P<0,05), dan pada populasi Sukabumi perlakuan salinitas 6 ppt paling tinggi dan pada 12 ppt lebih unggul dibandingkan dengan 0 ppt (P<0,05). Pada populasi belut asal Karawang biomassa panen pada salinitas 12 ppt adalah yang paling rendah (P<0,05).
Tabel 13 Biomassa panen (yield) belut sawah M. albus asal Jawa Barat (Cianjur, Sukabumi, Karawang) pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt
Perlakuan (ppt)
Populasi
Cianjur Sukabumi Karawang
0
Ket : Huruf superscript pada baris yang sama menunjukkan perbedaan interpopulasi (P<0,05) Angka superscript pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan intrapopulasi (P<0,05) Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata dan simpangan baku.
Kadar Glukosa Darah
Kadar glukosa darah belut sawah uji asal Jawa Barat minggu ke 0-4 (Gambar 8) pada perlakuan salinitas 0, 6, 12 ppt secara umum mengalami kecenderungan penurunan dan pada akhir pemeliharaan nilai glukosa darah meningkat hampir di semua perlakuan dan populasi. Kadar glukosa darah menunjukkan respons stres belut terhadap perubahan lingkungan selama pemeliharan pada wadah budidaya. Perlakuan salinitas 6 ppt menurunkan nilai glukosa darah yang lebih baik dibandingkan perlakuan 0 ppt dan 12 ppt. Hal ini menunjukkan bahwa pemeliharaan belut sawah pada 6 ppt berdampak pada tingkat stres yang paling rendah dan populasi belut sawah asal Cianjur menunjukkan tingkat stres yang paling rendah pada pemeliharan di laboratorium (Bogor) dibandingkan dengan populasi asal Sukabumi dan Karawang.
(A) (B) (C)
18
Gradien Osmotik
Gradien osmotik belut sawah pada media air bersalinitas di akhir pemeliharaan (Gambar 9) secara umum mengalami penurunan. Gradien osmotik menunjukkan beban osmotik yang ditanggung oleh organisme dalam mempertahankan tekanan osmotik di dalam tubuhnya terhadap media. Semakin kecil nilai gradien osmotik (isoosmotik) maka semakin ringan beban osmotik yang ditanggung organisme untuk melakukan osmoregulasi. Perlakuan salinitas 6 ppt pada semua populasi menunjukkan tingkat kerja osmotik yang relatif lebih kecil dibandingkan perlakuan 0 ppt dan 12 ppt. Pada belut sawah populasi asal Karawang menunjukkan nilai gradien osmotik yang paling rendah yaitu pada salinitas 6 ppt.
Gambar 9 Gradien osmotik belut sawah M. albus populasi Cianjur, Sukabumi, Karawang pada perlakuan salinitas 0, 6 dan 12 ppt akhir pemeliharaan
PEMBAHASAN
Ragam genetik merupakan indikator kemampuan suatu populasi merespons kondisi lingkungan hidupnya di alam maupun secara buatan (Gjederm 2005). Berdasarkan analisis keragaman genetik RAPD tiga populasi belut sawah menggunakan 3 primer (OPA-09, OPC-02 dan OPC-05) menghasilkan derajat polimorfisme dan nilai heterozigositas yang paling tinggi yaitu pada populasi belut sawah asal Karawang (83,33% ; 0,2372), sedangkan yang paling rendah adalah pada populasi belut sawah asal Sukabumi (76,19 % ; 0,1947). Populasi dengan ragam genetik yang tinggi pada umumnya memiliki peluang lebih sukses beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungannya sehingga dapat sintas dalam jangka lama (Gjederm 2005; Wei et al. 2006). Berdasarkan kemiripan genotipe dan fenotipe morfometrik menunjukkan hubungan kekerabatan genetik yang dekat antara belut sawah asal populasi Karawang dengan Cianjur (I=0,0474) dibandingkan dengan populasi Sukabumi (I=0,0652).Variasi genetik intrapopulasi sangat penting sebagai modalitas yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi (Wijana 1999). Pada populasi belut asal Sukabumi, rendahnya keragaman genetik kemungkinan disebabkan karena faktor geografis yaitu berupa ketinggian lokasi (673 m dpl) yang kurang sesuai dengan habitatnya yaitu dataran rendah berkisar 40-400 m dpl (Affandi etal. 2003)
19
sehingga sebaran populasi terbatas. Menurut Wijana (1999), dalam populasi yang berukuran kecil karena isolasi geografis maka variasi genetik akan terus terjadi pengurangan (drift) sebagai dampak dari inbreeding dan penurunan heterosigositas akibat terhambatnya aliran gen karena kendala reproduksi serta kemungkinan tidak adanya perkawinan acak (non-random mated). Selain itu, penyebab lain yang memungkinkan rendahnya respons biometrik pada populasi asal Sukabumi adalah perbedaan suhu yang terlampau lebar antara kondisi di habitatnya dengan kondisi lingkungan (Tabel 1).
Variasi interaksi genotipe dan lingkungan akan muncul karena kontribusi beberapa alel yang bertanggung jawab terhadap suatu fenotipe yang terekspresi secara berkala dalam lingkungan yang berbeda (Fujaya 1999). Analisis koefisien keragaman tujuh rasio truss morfometrik dari tiga populasi belut sawah (Tabel 8) menunjukkan perbedaan interpopullasi berdasarkan satu karakter yaitu rasio perbandingan lebar badan-1 dengan panjang kepala (LBK:PK). Menurut Kristanto & Kusrini (2007), karakter morfometrik yang berbeda dapat digunakan sebagai penciri kelompok populasi untuk membedakan dengan populasi lainnya. Keragaman yang tinggi pada fenotipe sangat dipengaruhi oleh ekspresi genetik dan interaksi genetik dengan lingkungan, dan secara umum ikan memiliki variabilitas yang intra dan interpopulasi yang tinggi (Soewardi 2007).
Berdasarkan rasio fenotipe truss morfometrik pada ketiga populasi (Gambar 6) menunjukkan bahwa belut sawah dari populasi asal Karawang dan Cianjur memiliki kemiripan (95,40%) dan dengan belut sawah asal populasi Sukabumi (93,11%). Menurut Carvalho (1993), jika populasi berada pada lingkungan yang sesuai tanpa gangguan dan tidak ada kendala reproduksi (interbreeding) dimana perkawinan berlangsung secara acak (random mated) maka akan terjadi kesinambungan aliran genetik yang terus menerus sehingga antara individu tersebut akan menampakkan banyak kesamaan baik fenotipe maupun genotipe. Belut sawah populasi Karawang dan Cianjur menunjukkan kesamaan tersebut, hal ini didukung dengan data kualitas air lokasi sampel (Tabel 2) disamping adanya hubungan aliran sungai (DAS) yang menghubungkan kedua lokasi. Bila populasi berada pada suatu lingkungan yang sangat kontras sehingga terjadi reduksi ukuran populasi akibat isolasi genetik maupun migrasi maka dimungkinkan akan berdampak pada strukturasi genetika populasi yang dapat mempengaruhi jarak genetik hingga pemisahan populasi. Fenomena tersebut disebabkan karena perubahan variasi genetik akibat ukuran populasi berdampak pada tingkat heterzigositas dalam suatu populasi dan spesies (Carvalho 1993).
20
Aklimatisasi merupakan proses penyesuaian organisme terhadap perubahan kondisi lingkungan di alam dengan pemeliharaan secara terkontrol. Perubahan lingkungan dapat mempengaruhi tingkah laku organisme secara fisiologis yang akan tergambar pada perubahan fenotipe dan kinerja produksinya (Gjederm 2005). Percobaan budidaya belut sawah pada media air bersalinitas tanpa substrat menunjukkan tingkat kelangsungan hidup hingga 90 % (Gambar 8). Secara umum, pada perlakuan 6 ppt tingkat kelangsungan hidup belut sawah di semua populasi cenderung lebih tinggi dibandingkan 0 ppt, namun mulai menurun pada perlakuan 12 ppt, hal ini diduga berkaitan dengan beban osmotik yang ditanggung organisme untuk proses osmoregulasi. Osmolaritas cairan tubuh pada organisme akuatik ditentukan oleh salinitas media lingkungannya (Gambar 9). Osmoregulasi merupakan upaya fisiologis ikan untuk menyeimbangkan antara air dan ion cairan tubuh dengan lingkungannya (homeostasis). Dalam upaya menuju kondisi homeostasis, ikan memerlukan energi untuk mendukung respons fisiologis tubuh sesuai dengan beban osmotik yang ditanggung dan melakukan penyeimbangan antara kandungan ion cairan tubuh dengan kandungan ion dari lingkungannya sehingga hal ini dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ikan (Affandi & Tang 2002).
Keragaan pertumbuhan dan biomasa panen (yield) merupakan indikator keberhasilan respons adaptasi biota terhadap lingkungan pada proses domestikasi maupun budidaya (Lampiran 18 dan 19). Pada percobaan budidaya dalam media air tanpa substrat dengan salinitas 6 ppt menunjukkan pertumbuhan yang terbaik pada ketiga populasi (Tabel 10, 11 dan 12). Organisme yang dapat merespon lingkungan dengan baik akan mencapai homeostasis pada tahap domestikasi yang ditandai dengan nilai sintasan yang tinggi, petumbuhan yang baik dan mudah bereproduksi (Soewardi 2007). Menurut Gjederm (2005), organisme yang sudah berhasil didomestikasi pada umumnya menunjukkan pertumbuhan yang lebih seragam dibandingkan dengan populasi di alam. Koefisien keragaman fenotipe di dalam populasi maupun interpopulasi menunjukkan perbedaan kemampuan individual dalam merespon lingkungan hidupnya (Soewardi 2007). Individu-individu yang gagal beradaptasi terhadap kondisi lingkungan hidupnya dapat berhenti mewariskan gen pada keturunannya sehingga menyebabkan pengurangan variasi alelik di dalam populasi dan mengancam keberlanjutan populasi (Wei et al. 2006).
21
baik dalam hal ini kandungan cairan di dalam tubuh dan diluar tubuh ikan sama (isoosmotik). Pada perlakuan salinitas 6 ppt menunjukkan tingkat kerja osmotik yang lebih baik dibandingkan perlakuan 0 an 12 ppt. Stres didefinisikan sebagai respons fisiologis yang terjadi pada saat hewan berusaha mempertahankan homeostasis. Homeostasis adalah keadaan stabil yang dipertahankan melalui proses aktif yang melawan perubahan. Homeostatis ini terjadi pada tingkat sel yaitu dengan pengaturan metabolisme sel, pengontrolan permeabilitas membran sel, pembuangan sisa metabolisme. Respon stres ini dapat berupa penurunan volume darah, penurunan jumlah leukosit, penurunan glikogen hati dan peningkatan glukosa darah (Affandi & Tang 2000). Kecenderungan penurunan kadar glukosa darah dan rendahnya nilai gradien osmotik disetiap perlakuan di setiap populasi belut sawah merupakan indikator adaptasi yang baik dalam menurunkan stres pada wadah budidaya. Salinitas 6 ppt menunjukkan kondisi yang dapat ditoleransi. Respons terhadap stres ini dikontrol oleh sistem endokrin melalui pelepasan hormon kortisol (Barton et al. 1980) dan katekolamin (Woodward 1982) sehingga menunjukkan peningkatan metabolisme glukosa darah pada tubuh (Marzuqi et al.
1997).
4
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Keragaman genetik populasi belut sawah Karawang paling unggul dan menunjukkan kemiripan dengan Cianjur dibandingkan dengan Sukabumi. Respons belut sawah populasi Karawang pada pemeliharaan dalam media air tanpa substrat dengan salinitas 6 ppt menunjukkan tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, pertambahan bobot dan panjang harian serta biomassa panen (yield) relatif lebih unggul dibandingkan populasi asal Cianjur dan Sukabumi. Salinitas 6 ppt merupakan salinitas terbaik untuk pemeliharan belut sawah pada media air tanpa substrat yang ditandai dengan penurunan gradien osmotik dan nilai glukosa darah.
Saran
1. Belut sawah populasi Karawang berpotensi untuk dikembangkan.
2. Teknologi aklimatisasi dan budidaya belut dapat dikembangkan dalam media air dengan salinitas 6 ppt tanpa substrat dan suhu pemeliharannya disesuaikan dengan suhu asal sumber benih.
22
DAFTAR PUSTAKA
Affandi R, Tang UM. 2002. Fisiologi hewan air. Unri Press Riau (ID).
Affandi R, Ernawati Y, Wahyudi S. 2003. Studi bio-ekologi belut sawah
(Monopterus albus) pada berbagai ketinggian tempat di kabupaten subang,
jawa barat. Jurnal Iktiologi Indonesia.Vol.3 No.2
Austin CM, Verhoef GD. 1998. Combined effects of shelter and density on the growth and survival of juveniles of the Australian freshwater crayfish, Cherax
destructor Clark, Part 2. Aquaculture 170 (1999), 49-57.
Barton BS, Peter RE, Paulencu CR. 1980. Plasma cortisol levels of fingerIing rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) at rest and subjected to handling, confinement, transport, and stocking. Can. Fish. Aquat. Sci. 37:805 - 811. [BMKG] Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. 2015. Prakiraan Cuaca
Propinsi Jawa Barat [internet]. [diacu 2015 Agsutus 26]. Tersedia dari http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Informasi_Cuaca/Prakiraan_Cuaca/P rakiraan_Cuaca_Propinsi.bmkg?prop=13.
Boyd CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Scientific Publishing Company (US).
Carvalho, GR. 1993. Evolutionary aspect of fish distribution : genetic variability and adaptation. Journal of Fish Biology. 43 : 53-73.
Collins TM, Trexler JC, Nico LG, Rawlings TA.2002. Genetic diversity in a morphologically conservative invasive taxon: multiple introductions of swamp eels to the southeastern United States. Conservation Biology.
16:1024–1035.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta (ID).
Evans DH. 1993. The Physiology of Fishes. CRC Press (US).
Ferguson A, Taggart JB, Prodohl PA, McMeel O, Thompson C, Stone P, McGinnity P, Hynes RA. 1995. The aplication of molecular markers to the study and conservation of fish population, with special reference to salmo.
Journal of Fish Biology. 47 : 103-126.
Fujaya 1999. Dasar-dasar Genetika dan Pengembangbiakan Ikan. Makassar (ID). Gjedrem T. 2005. Selection and Breeding Programs in Aquaculture. Springer (ND). Holliday FGT. 1969. The Effect of Salinity on The Eggs and Larvae of Teleostei.
Academic Press (US)
Iversen KN. 2013. Cardiovascular anatomy and cardiac function in the air-breathing swamp eel (Monopterus albus). Comp Biochem Physiol A Mol
Intgr Physiol. 164:171-180.
Karim M. 2007. Pengaruh salinitas dan bobot terhadap konsumsi kepiting bakau
23
Kanhn NH dan Ngan HTB. 2010. Current practices of rice field eel Monopterus
albus (Zuiew, 1793) culture in Viet Nam. Aquaculture Asia Magazine
Volume XV No. 3 July-September 2010.
Kristanto A & Kusrini E. 2007. Peranan faktor lingkungan dalam pemuliaan ikan.
Media Akuakultur. 2(1): 183-188.
Langkosono. 2007. Budidaya ikan kerapu (Serrenidae) dan kualitas perairan.
Neptunus. Vol. 14, No. 1: 61 – 67.
Martono B, Ghulamahdi M, Darusman LK, Aziz SA, Bermawie N. 2009. Kriteria penanda seleksi produktivitas terna dan asiatikosida pada pegagan (Centella
asiatica (L.) Urban). Jurnal Littri. 16(1):12-19.
Marzuqi MK. Sugama, Z.I. Azwar. 1997. Pengaruh askorbil fosfat magnesium sebagai sumber vitamin C terhadap pematangan gonad udang windu
(Penaeus monodon) asal tambak. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.
3(3): 41 - 46.
Soewardi K. 2007.Pengelolaan Keragaman Genetik Sumberdaya Perikanan Dan
Kelautan. Instiut Pertanian Bogor (ID).
Steel GD, Torrie JH. 1980. Principles and Procedures of Statistics. McGraw-Hill, Inc (EN).
Tave D. 1994. Selective Breeding Programes For Medium-Sized Fish Farm. Rome : FAO Fisheries Technical Paper (EN).
Wei RB, Qiu GF, Song R. 2006. Genetic diversity of rice field eel (Monopterus
albus) in China based on RAPD analysis. Asian Fisheries Science.
19(2006):61-68.
Wijana IMS. 1999. Keragaman Enzim dan Morfologi Belut, Monopterus albus
Zuiew (Synabranchidea:Synabarnchidae) [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Woodward, JJ. 1982. Plasma catecholamines in resting rainbow trout
Oncorhynchus mykiss, by high pressure liquid chromotgraphy. Fish Biol.
21 :429 - 432.
[WPI] Warta Pasar Ikan. 2010. Belut dan Sidat Permintaannya Semakin Meningkat [internet]. [diacu 2013 Desember 20]. Tersedia dari http://www.wpi.kkp. go.id/?p=650.
Yudiarto S, Arief M dan Agustono. 2012. Pengaruh penambahan atraktan yang berbeda dalam pakan pasta terhadap retensi protein, lemak dan energi benih ikan sidat (Anguilla bicolor) stadia elver. Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan Vol. 4 No. 2
24
LAMPIRAN
Lampiran 1 Data pengukuran 8 karakter truss morfometrik belut sawah
(Monopterus albus) populasi Cianjur
No Karakter Morfomeristik (cm)
PK PB PE PT PH LB I LB II LB III
1 2,60 19,40 9,50 31,50 0,54 0,83 0,61 0,54
2 2,80 21,30 9,40 33,50 0,45 0,94 1,07 0,60
3 3,10 19,80 9,90 32,80 0,53 1,05 0,94 0,61
4 2,80 17,80 8,20 28,80 0,48 0,95 0,76 0,65
5 2,10 17,00 8,10 27,20 0,42 0,73 0,77 0,58
6 2,50 18,50 8,70 29,70 0,56 0,89 0,94 0,58
7 2,10 15,80 7,60 25,50 0,53 0,79 0,82 0,58
8 3,10 24,50 10,40 38,00 0,63 1,22 1,26 0,89
9 2,90 23,00 9,70 35,60 0,50 0,91 0,95 0,59
10 2,20 17,90 8,50 28,60 0,47 0,83 0,71 0,55
11 2,90 22,20 9,20 34,30 0,40 0,98 1,01 0,80
12 2,70 19,30 9,20 31,20 0,48 0,93 0,96 0,72
13 1,80 16,20 6,80 24,80 0,44 0,83 0,87 0,52
14 2,40 18,00 9,20 29,60 0,47 0,80 0,93 0,53
15 2,90 20,10 10,10 33,10 0,60 1,05 0,90 0,66
16 2,30 17,80 7,80 27,90 0,49 0,86 0,84 0,72
17 3,90 20,00 8,50 32,40 0,51 0,98 1,04 0,61
18 2,50 20,80 9,30 32,60 0,53 0,90 0,86 0,58
19 2,30 16,80 8,20 27,30 0,44 0,84 0,81 0,55
20 2,00 15,50 7,30 24,80 0,36 0,76 0,78 0,56
21 3,80 27,80 10,70 42,30 0,82 1,23 1,24 0,88
22 2,20 17,80 8,20 28,20 0,41 0,84 0,75 0,61
23 2,50 19,20 7,80 29,50 0,48 0,81 0,84 0,70
24 1,90 13,10 6,80 21,80 0,39 0,61 0,67 0,60
25 2,30 18,00 8,80 29,10 0,46 0,79 0,88 0,48
26 2,30 19,30 8,80 30,40 0,55 0,95 0,77 0,61
27 2,10 15,30 7,60 25,00 0,46 0,78 0,94 0,53
28 1,90 12,40 7,30 21,60 0,41 0,63 0,67 0,49
29 2,20 16,30 6,90 25,40 0,46 0,74 0,70 0,51
30 1,90 15,60 7,10 24,60 0,41 0,64 0,61 0,53
Rerata 2,50 18,55 8,52 29,57 0,49 0,87 0,86 0,61
Simpangan
Baku 0,52 3,20 1,09 4,63 0,09 0,15 0,16 0,10
Koef.
Keragaman 0,21 0,17 0,13 0,16 0,18 0,17 0,19 0,17