• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DIMENSI FRAUD DIAMOND dan GONE Analisis Dimensi Fraud Diamond Dan Gone Theory Terhadap Academic Fraud (Studi Kasus Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS DIMENSI FRAUD DIAMOND dan GONE Analisis Dimensi Fraud Diamond Dan Gone Theory Terhadap Academic Fraud (Studi Kasus Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta)."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DIMENSI

FRAUD DIAMOND

dan

GONE

THEORY

TERHADAP

ACADEMIC FRAUD

(Studi Kasus Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Disusun Oleh:

REZA YUKA SATRIA PRATAMA B 200130420

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(2)
(3)
(4)
(5)

ANALISIS DIMENSIFRAUD DIAMONDdanGONE THEORY

TERHADAPACADEMIC FRAUD

(Studi Kasus Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruhFraud DiamonddanGONE Theory dalam perilaku kecurangan akademik yang dilakukan mahasiswa. Berdasarkan teori Fraud Diamond terdapat empat variabel yang diduga mempengaruhi kecurangan akademik, yaitu tekanan, kesempatan, rasionalisasi dan Kemampuan. Sedangkan, Berdasarkan Gone Theory terdapat tiga variabel yang diduga mempengaruhi kecurangan akademik, yaitu keserakahan, Kebutuhan dan Pengungkapan.Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis universitas muhammadiyah surakarta. Dalam penelitian ini, hipotesis diuji dengan menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesempatan, rasionalisasi dan kemampuan berpengaruh terhadap perilaku kecurangan akademik mahasiswa. Sementara itu, tekanan, keserakahan, kebutuhan dan pengungkapan tidak berpengaruh terhadap perilaku kecurangan akademik mahasiswa.

Kata kunci :Academic Fraud, Fraud Diamond, GONE Theory Abstract

This study aimed to analyze the influence of Diamond Fraud and GONE Theory in academic cheating behavior done by the students. Diamond Fraud Based on the theory there are four variables that affect academic cheating is suspected, namely pressure, opportunity, rationalization and capabilities. Meanwhile, Gone Based Theory there are three variables that affect academic cheating is Greed, Need and Exposures. The population of this research is the students of the faculty of economics and business Muhammadiyah University of Surakarta. In this study, the hypothesis was tested using multiple regression. The results showed that opportunity, rationalization and capabilities to influence the behavior of a student's academic cheating. Meanwhile, pressure, greed, need and exposures do not affect the students' academic cheating behavior.

Keywords: Academic Fraud, Fraud Diamond, GONE Theory

1. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sebuah sarana dalam meningkatkan kualitas sumber

daya manusia yang sangat berpengaruh dalam perkembangan seluruh aspek

kehidupan dan sarana pendidikan tersebut bisa didapatkan dari suatu lembaga

pendidikan. Pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam pertumbuhan suatu

negara. Pendidikan juga merupakan salah satu tolok ukur kemajuan suatu negara.

Dalam membasmi perilaku kecurangan akademik ataupun korupsi haruslah dimulai

dari dunia pendidikan baik dari pendidikan dalam keluarga maupun di sekolah

karena untuk meminimalis terjadinya kecurangan akademik tidak bisa dilakukan

secara instan. Apabila seorang Mahasiswa sudah terbiasa melakukan Fraud, maka

saat di dunia kerja nanti ada kemungkinan besar seseorang tersebut akan melakukan

(6)

Academic frauddapat dikategorikan menjadi lima kategori sebagai berikut: a).

Plagiat b). Pemalsuan data, misalnya membuat data ilmiah yang merupakan data

fiktif. c). Penggandaan tugas, yakni mengajukan dua karya tulis yang sama pada

dua kelas yang berbeda tanpa izin dosen/guru. d). Menyontek pada saat ujian e).

Kerjasama yang salah (Colby dalam Muslimah, 2013). Kecurangan akademik

(academic fraud) merupakan suatu bentuk perilaku yang buruk yang akan

memberikan dampak negatif terhadap mahasiswa. Perilaku tersebut misalnya

mencontek menggunakan catatan kecil/HP, menjiplak hasil teman dan lain-lain.

Hal ini akan mengakibatkan hasil evaluasi tidak dapat menggambarkan

ketercapaian kemampuan mahasiswa yang sebenarnya karena mencontek

merupakan bentuk dari kecurangan akademik yang membuat bias pelaksanaan

evaluasi yang baik (Zaini, 2015).

Faktor penyebab mahasiswa melakukan kecurangan akademik dapat

dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal sendiri berasal dari diri suatu individu misalnya keinginan untuk

mendapatkan nilai yang tinggi atau ketidakpercayaan diri individu terhadap

kemampuannya, sedangkan Faktor eksternal dapat berasal dari tekanan teman

sebaya, tekanan dari keluarga ataupun kebijakan yang ada di dalam universitas yang

memberatkan mahasiswa (Dody Haryanto, 2012)

Kecurangan Akademik (Academic Fraud) umumnya terjadi karena adanya

tekanan (Pressure) dan kebutuhan untuk memanfaatkan sebuah kesempatan

(Opportunity) dalam sebuah kondisi tertentu dan adanya rasionalisasi

(Rasionalization) dari seorang pelaku, akan tetapi dalam kesempatan yang

diperoleh oleh seseorang harus disertai oleh kemampuan (Capability) untuk

melakukan sebuah tindakan kecurangan tersebut (Wolfe dan Hermanson, 2004)

Selain Fraud Diamond, GONE Theory juga merupakan faktor pendorong

seseorang melakukan kecurangan. Menurut Bologna dalam Lisa (2013), GONE

theory memiliki empat komponen yaitu Greeds (keserakahan) adalah berkaitan

dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap

orang. Opportunities (kesempatan) adalah berkaitan dengan keadaan organisasi,

(7)

seseorang untuk melakukan kecurangan. Needs (kebutuhan) adalah berkaitan

dengan faktor-faktor yang dibutuhkan oleh individu-individu untuk menunjang

hidupnya yang wajar.Exposures(pengungkapan) adalah berkaitan dengan tindakan

atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku

diketemukan melakukan kecurangan.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Zaini (2015) dengan

perbedaan yang terdapat pada sampel dalam penelitiannya. Tujuan dari penelitian

ini adalah untuk mengetahui pengaruh tekanan, kesempatan, rasionalisasi,

kemampuan, keserakahan, kebutuhan dan pengungkapan terhadapacademic fraud.

2. METODE PENELITIAN

Populasi, Sampel dan Metode Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi fakultas ekonomi

dan bisnis universitas muhammadiyah surakarta.Sampel adalah bagian dari

populasi yang dinilai dapat mewakili karakteristiknya. Pengambilan sampel pada

penelitian ini menggunakan metode Convenience sampling karena merupakan

teknik dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali

berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan

orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut..

Data dan Sumber Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Adapun data primer diperoleh langsung dari sumber aslinya dengan menyebarkan

kuesioner kepada responden, sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari

penelitian terdahulu, dan data pendukung lainnya. Data sekunder yang dibutuhkan

dalam penelitian ini seperti buku, jurnal, artikel yang berkaitan dengan penelitian

ini

Pengukuran Variabel Dan Definisi Operasional a. Kecurangan Akademik (Academic Fraud)

VariabelAcademic Frauddiukur menggunakan 5 item pertanyaan yang diadaptasi

dari Zaini (2015).

(8)

Variabel Tekanan diukur menggunakan 5 item pertanyaan yang diadaptasi dari

Zaini (2015).

c. Kesempatan

Variabel kesempatan diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan.yang

diadaptasi dari Zaini (2015).

d. Rasionalisasi

Variabel rasionalisasi diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan yang

diadopsi dari Gugus (2013).

e. Kemampuan

Variabel kemampuan diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan yang

diadaptasi dari Rahmalia (2013).

f. Keserakahan

Variabel keserakahan diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan yang

diadaptasi dari Zaini (2015).

g. Kebutuhan

Variabel kebutuhan diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan yang diadaptasi

dari Zaini (2015).

h. Kebutuhan

Variabel pengungkapan diukur dengan menggunakan 5 item pertanyaan yang

diadaptasi dari Zaini (2015).

Metode Analisis Data

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi

berganda yang bertujuan untuk menguji apakah tekanan, kesempatan, rasionalisasi,

kemampuan, keserakahan, kebutuhan dan pengungkapan berpengaruh terhadap

academic fraud. Model persamaan regresi sebagai berikut.

AF = α + β1PR + β2OP + β3RAS + β4CAP + β5GR + β6ND + β7EX + ε

Keterangan:

AF :Academic Fraud

α : Konstanta

β1-β7 : Koefisien dari tiap variabel

(9)

OP : Opportunity (Kesempatan)

RAS : Rasionalisasi

CAP : Capability (Kemampuan)

GR : Greeds (Keserakahan)

ND : Needs (Kebutuhan)

EX : Exposures (Pengungkapan)

ε :Error

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Kualitas Data

Uji Validitas

Alat uji ini digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner.

Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk

mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut). Teknik yang

digunakan adalahpearson corelation product moment. Jika r hitung lebih besar dari

r tabel dan nilai positif maka butir atau pertanyaan atau indikator tersebut

dinyatakan valid. Hasil uji validitas kuesioner dengan menggunakan program SPSS

20.0 menujukkan hasil seluruh variabel dalam penelitian VALID

Uji Reliabilitas

Uji reabilitas merupakan uji yang digunakan untuk mengukur kuesioner yang

merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel

atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil

dari waktu ke waktu (Ghozali,2011). Reliabilitas instrumen penelitian diuji

menggunakan rumus koefisienCronbach’s Alpha. Jika nilai koefisien alpha lebih

besar dari 0,60 maka disimpulkan bahwa instrumen penelitian tersebut handal atau

reliabel (Ghozali, 2011). Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan SPSS

20.0 didapatkan hasil uji reliabilitas untuk variabel Tekanan, Kesempatan,

Rasionalisasi, Kemampuan, Keserakahan, Kebutuhan dan Pengungkapan terhadap

perilakuAcademic Fraud adalah RELIABEL

(10)

Hasil Kolmogrov-Smirnov sebesar 0,609 dimana nilai signifikasinya lebih

besar dari 0,05 yaitu 0,852. Hal ini menunjukkan bahwa persamaan model regresi

dalam penelitian memiliki sebaran data normal

Uji Multikolinearitas

Hasil menunjukkan bahwa masing-masing nilai VIF berada sekitar 1 sampai

10, demikian juga hasil nilai tolerance mendekati 1 atau di atas 0,1. Dengan

demikian dapat disimpulkan juga model regresi tersebut bebas multikolinearitas.

Uji Hetekodastisitas

Berdasarkan hasil output dengan menggunakan bantuan program komputer

SPSS 20.0 dengan menggunakan uji scatterplot menunjukkan bahwa titik-titik

menyebar dan tidak membentuk pola tertentu yang jelas. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskesiditas.

Pembahasan Hasil Uji Hipotesis

1. Hipotesis 1 (tekanan berpengaruh terhadap academic fraud)

Hasil perhitungan untuk variabel pengaruh tekanan terhadap perilaku

kecurangan akademik diperoleh nilai thitung-0,451 denganp-value =0,653 serta ttabel

0,677. Dapat dilihat hasil signifikasi α tidak berada dalam daerah signifikasi dan

menunjukkan nilai 0,653 > 0,1, maka H1ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa

tekanan tidak berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kecurangan akademik. Dari

hasil penelitian ditemukan fakta bahwa faktor tekanan tidak berpengaruh

terhadap perilaku kecurangan akademik. Hal ini terjadi karena beberapa faktor.

Yang pertama karena responden tidak merasa mendapat tuntunan nilai yang tinggi

dari orang tua atau orang sekitar. Apabila orang tua mendorong kuat agar anaknya

mendapatkan nilai yang baik, tidak menutup kemungkinan maka mahasiswa akan

melakukan berbagai cara untuk mendapatkan nilai tersebut. Terlebih lagi untuk

mahasiswa luar kota yang tidak tinggal dengan orang tuanya, kontrol nilai tidak

terlalu diperhatikan, yang terpenting adalah mahasiswa tersebut tetap lulus tepat

waktu dengan nilai yang cukup baik. Kedua, rendahnya tingkat persaingan nilai

dengan teman juga menyebabkan responden tidak terlalu termotivasi mendapat

IPK yang sangat tinggi.

(11)

Hasil perhitungan untuk variable kesempatan terhadap perilaku kecurangan

akademuk diperoleh nilai thitung1,962 dengan p-value = 0,053 serta ttabel0,677.

Dapat dilihat hasil signifikasi α berada di dalam daerah taraf signifikasi 10% dengan

menunjukkan nilai 0,053 < 0,1 dan berada dalam daerah signifikasi 0,05 – 0,1 ,

maka H2 diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesempatan berpengaruh

terhadap terjadinya perilaku kecurangan akademik. Hal ini karena lemahnya

pengawasan baik di dalam maupun di luar ruangan ujian dan posisi tempat duduk

yang dulit dijangkau oleh pengawas merupakan kesempatan yang dapat

dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk melakukan kecurangan. Kecurangan dapat

dengan mudah terjadi ketika adanya kesempatan. Kesempatan ada ketika lemahnya

suatu sistem seperti kurangnya kontrol dan penerapan sanksi yang tidak tegas.

Adanya fasilitas internet juga menjadi salah satu kesempatan yang digunakan

mahasiswa untuk melakukan kecurangan. Adanya kemudahan untuk mencari data

dari internet dimanfaatkan mahasiswa untuk melakukan kecurangan.

3. Hipotesis 3 (Pengaruh rasionalisasi terhadapacademic fraud)

Hasil perhitungan untuk variable rasionalisasi terhadap perilaku kecurangan

akademuk diperoleh nilai thitung-2,075 dengan p-value = 0,041 serta ttabel0,677.

Dapat dilihat hasil menujukkan signifikasi α berada di dalam daerah taraf

signifikasi 5% dengan menunjukkan nilai 0,041 < 0,05 , maka H3 diterima. Hal

tersebut menunjukkan bahwa rasionalisasi berpengaruh terhadap terjadinya

perilaku kecurangan akademik. Hal ini karena rasionalisasi dilakukan oleh pelaku

kecurangan untuk mengurangi rasa bersalah dalam dirinya dan untuk melakukan

pembenaran atas tindak kecurangan yang dilakukannya. Banyak dari mahasiswa

yang melakukan pembenaran dengan mengatakan bahwa kecurangan akademik

wajar dilakukan karena banyak mahasiswa lain yang juga melakukannya. Selain

itu, secara norma dan etika melakukan kecurangan memang tidak dibenarkan,

namun bagi mahasiswa yang berorientasi dengan nilai suatu perbuatan kecurangan

menjadi hal yang wajar-wajar saja dilakukan.

4. Hipotesis 4 (Pengaruh kemampuan terhadapacademic fraud)

Hasil perhitungan untuk variable kemampuan terhadap perilaku kecurangan

(12)

Dapat dilihat hasilsignifikasi α berada di dalam daerah taraf signifikasi 1% dengan

menunjukkan nilai 0,000 < 0,01 , maka H4 diterima. Hal tersebut menunjukkan

bahwa kemampuan berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kecurangan

akademik. Hal ini karena kemampuan sangat berpengaruh terhadap perilaku

kecurangan akademik. Kemampuan yang dimaksud adalah sifat-sifat pribadi yang

memainkan peran utama dalam kecurangan akademik. Dalam penelitian ini,

indikator dilihat dari statement yang memenuhi kriteria seperti: dapat menekan rasa

bersalah setelah melakukan kecurangan, rasa percaya diri yang kuat, dapat

mengajak orang lain turut serta melakukan kecurangan akademk, memahami

kriteria penilaian dosen, dan dapat memikirkan melakukan kecurangan akademik

berdasarkan peluang yang ada.

5. Hipotesis 5 (Pengaruh keserakahan terhadapacademic fraud)

Hasil perhitungan untuk variable keserakahan terhadap perilaku kecurangan

akademuk diperoleh nilai thitung-1,018 dengan p-value = 0,311 serta ttabel0,677.

Dapat dilihat hasil signifikasi α tidak berada di dalam daerah taraf signifikasi

dengan menunjukkan nilai 0,311> 0,1 , maka H5ditolak. Hal tersebut menunjukkan

bahwa keserakahan tidak berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kecurangan

akademik.Hal ini karena keserakahan sendiri adalah faktor yang muncul pada diri

individual. Faktor ini yang sering kali muncul apabila seorang individu tidak

dilandasi dengan iman yang kuat maka individu tersebut tidak akan pernah merasa

puas walaupun suatu yang dia dapatkan sudah cukup. Hal ini yang kemungkinan

menyebabkan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Muhammadiyah Surakarta telah merasa puas dengan IPK yang telah didapatkannya

dan tidak mempunyai keinginan untuk mendapatkan IPK tinggi di semester

berikutnya dengan melakukan suatu kecurangan akademik karena mereka

mempunyai iman yang kuat dan selalu bersyukur dengan hasil yang didapatkan.

6. Hipotesis 6 (Pengaruh kebutuhan terhadapacademic fraud)

Hasil perhitungan untuk variable kebutuhan terhadap perilaku kecurangan

akademuk diperoleh nilai thitung-0,293 dengan p-value = 0,770 serta ttabel0,677.

Dapat dilihat hasil signifikasi α tidak berada di dalam daerah taraf signifikasi

(13)

bahwa kebutuhan tidak berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kecurangan

akademik. Hal ini karena kemungkinan responden dalam penelitian ini lebih

banyak perempuan. Dari kuesioner diperoleh hasil responden wanita yang cukup

besar sekitar 62% dari jumlah responden. Cizek dan Hendrick (2004), menyatakan

bahwa mahasiswa laki-laki mempunyai kebutuhan yang lebih karena kemampuan

dan waktu belajar mahasiswa laki-laki lebih sedikit dan mahasiswa laki-laki

lebih malas dari perempuan. Hal itulah yang kemungkinan menjadi faktor

kebutuhan tidak berpengaruh terhadap perilaku kecurangan akademik.

7. Hipotesis 7 (Pengaruh pengungkapan terhadapacademic fraud)

Hasil perhitungan untuk variable pengungkapan terhadap perilaku kecurangan

akademuk diperoleh nilai thitung-0,248 dengan p-value = 0,804 serta ttabel0,677.

Dapat dilihat hasil signifikasi α tidak berada di dalam daerah taraf signifikasi

dengan menunjukkan nilai 0,804 > 0,1 , maka H7ditolak. Hal tersebut menunjukkan

bahwa pengungkapan tidak berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kecurangan

akademik.Hal ini karena Ekposuredalamacademic fraudmerupakan faktor yang

berhubungan dengan proses pembelajaran berbuat curang, peneliti menganggap

sanksi yang diberikan oleh universitas untuk mahasiswa yang melakukan tindak

kecurangan akademik masih dinilai sangat ringan sehingga tidak memberikan efek

jera untuk mahasiswa untuk tidak melakukannya.

4. PENUTUP Simpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan, maka hasil penelitian ini

dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Kesempatan, Rasionalisasi dan

Kemampuan berpengaruh terhadap academic fraud. Sedangkan, Tekanan,

Keserakahan, Kebutuhan dan Pengungkapan tidak berpengaruh terhadapacademic

fraud.

Keterbatasan Penelitian

1. Dalam penelitian ini pengumpulan data diperoleh dengan metode survei dengan

melalui penyebaran kuesioner, sehingga memungkinkan pendapat dan

(14)

2. Lingkup penelitian terbatas hanya pada Mahasiswa Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Saran

Atas dasar kesimpulan serta keterbatasan yang ada dalam penelitian ini, maka

penulis memberikan saran sebagai berikut: (1) Peneliti selanjutnya diharapkan

mengawasi pengisian kuesioner dalam pengambilan jawaban dari responden,

sehingga hasil yang diperoleh sesuai dan lebih maksimal. (2) Bagi peneliti

berikutnya diharapkan memperluas sampel serta menambah cakupan penelitian.

(3) Bagi pihak universitas untuk dapat meningkatkan sanksi yang kuat untuk

mahasiswa yang melakukan kecurangan akademik

DAFTAR PUSTAKA

Albrecht, W.Steve Dkk. 2012. Fraud Examination. South-Western: Cengage Learning(http://books.google.co.id/books?id=SBzJYBsFPIC&pg=PA55& dq=fraud+triangle&hl=id&sa=X&ei=Bd

gxVNS9GMOPuASW6YBg&redir_esc=y#v=onepage&q=fraud%20triang le&f=false) di akses tgl 21 Desember 2016.

Budi Matindas. (2010). Mencegah Kecurangan Akademik.

(http:budimatindas.blogspot.com/2010/08/mencegah-kecurangan-akademik.html) diakses pada 21 Desember 2016.

D’Arcy Becker, dkk., (2006). “Using the Business Fraud Triangle to Predict Academic Dishonesty Among Business Students.” Academy of Educational Leadership Journal. Vol 10, No. 1, Hal. 37.

Depdiknas. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Desiana Dwi Pamungkas. (2014). PENGARUH FAKTOR-FAKTOR DALAM

DIMENSI FRAUD TRIANGLE TERHADAP PERILAKU

KECURANGAN AKADEMIK SISWA KELAS XI AKUNTANSI SMK NEGERI 1 TEMPEL TAHUN AJARAN 2014/2015 (2015). Skripsi Akuntansi. Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.

Dian Purnamasari. (2014). Analisis Pengaruh Dimensi Fraud Triangle terhadap Perilaku Kecurangan Akademik Mahasiswa Saat Ujian dan Metode Pencegahannya. Skripsi. Malang: Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.

Dody Hartanto. (2012). Bimbingan & Konseling Menyontek: Mengungkap Akar Masalah dan Solusinya. Jakarta: Penerbit Indeks.

Gregory C. Cizex. (2010). Cheating On Test: How to Do It, Detect It, and Prevent It. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Inc. Publicher.

(15)

Hendricks (2004). Academic Dishonesty : A Study in The Magnitude of The Justification for Academic Dishonesty among College Undergraduate and Graduate Student. Journal Of College Student Development. Vol 35. Page

212-260.

Ismatullah dan Eriswanto. (2016) ANALISA PENGARUH TEORI GONE FRAUD TERHADAP ACADEMIC FRAUD DI UNIVERSITAS

MUHAMMADIYAH SUKABUMI. Riset Akuntansi Keuangan Indonesia. Vol 1, No. 2

Max A. Eckstein. (2003). Combanting Academic Fraud – Towards A Culture of Integrity. International Institute for Educational Planning. (Online).www.unesco.org/iiep, diakses pada 23 Desember 2016.

Muhamad Hadi Santoso.(2013). Analisis Perilaku Kecurangan Akademik Pada Mahasiswa Akuntansi Dengan Menggunakan Konsep Fraud Trangle. Skripsi.Malang : Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.

Muslimah. 2013. Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Praktik-Praktik Kecurangan Akademik (Academic Fraud).

Nonis dan Swift. (2001). An Examination of the relationship between academic dishonesty and workplace dishonesty: A multicampus investigation. Journal of Education for business. Vol 77(2), 69-77).

Nursalam, Suddin Bani, dan Munirah. 2013. Bentuk Kecurangan Akademik (Academic Cheating) Mahasiswa Pgmi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Uin Alauddin Makassar. Makasar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar.

Nursani, Rahmalia. 2014. Perilaku Kecurangan Akademik Mahasiswa: Dimensi Fraud Diamon. Skripsi Akuntansi. Malang. Universitas Brawijaya

Olejnik, S. N. & Holschuh, J. P. (2007). College rules! 2nd Edition How to study, survive, and succeed. New tork: Ten Speed Press.

Wolfe, David T., and Dana R. 2004. Hermanson. "The Fraud Diamond: Considering the Four Elements of Fraud." CPA Journal 74.12: 38-42. Zaini (2015). Analisis PengaruhFraud DiamonddanGone TheoryTerhadap

Academic Fraud(Studi Kasus Mahasiswa Akuntansi Se-Madura).

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

Jurusan Pendidikan Ekonomi. Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci: Kecurangan, Tekanan, Kesempatan, Rasionalisasi. Kecurangan akademik mahasiswa merupakan suatu tindakan

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa peluang dan kemampuan individu berpengaruh positif terhadap perilaku kecurangan yang dilakukan oleh mahasiswa akuntansi, sedangkan

Hasil uji parsial pada variabel pertama dari penelitian ini menyatakan bahwa tekanan tidak berpengaruh terhadap academic fraud dengan tingkat signifikansi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tekanan akademik dan rasionalisasi memiliki rata-rata yang cukup tinggi dibandingkan dengan variabel kesempatan, kemampuan

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pengungkapan berpengaruh terhadap kecurangan akademik sementara tekanan, kesempatan, rasionalisasi, kemampuan, kebutuhan

“Analisis Pengaruh Dimensi Fraud Diamond terhadap Perilaku Kecurangan Akademik Mahasiswa (Studi Kasus pada Mahasiswa S1 Jurusan Akuntansi Perguruan Tinggi

Berdasarkan pada statement dan penelitian terdahulu bahwa rasionalisasi berpengaruh positif terhadap perilaku kecurangan akademik H3 : Rasionalisasi berpengaruh positif terhadap