• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Pengisian Gabah pada Padi yang Mengalami Cekaman Suhu Tinggi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon Pengisian Gabah pada Padi yang Mengalami Cekaman Suhu Tinggi"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON PENGISIAN GABAH PADA PADI YANG

MENGALAMI CEKAMAN SUHU TINGGI

FAISAL AJI WIBOWO

A24110147

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Respon Pengisian Gabah pada Padi yang Mengalami Cekaman Suhu Tinggi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2015

(4)
(5)

ABSTRAK

FAISAL AJI WIBOWO. Respon Pengisian Gabah pada Padi yang Mengalami Cekaman Suhu Tinggi. Dibimbing oleh AHMAD JUNAEDI.

Pemanasan global menyebabkan dampak negatif, antara lain menurunkan produktivitas padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pengisian gabah beberapa varietas padi terhadap cekaman suhu tinggi. Penelitian ini dilakukan di University Farm IPB, Babakan Sawah Baru, Dramaga, Bogor. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi 2 faktor yaitu suhu (petak utama) dan varietas IR64, Ciherang, Jatiluhur, dan Way Apo Buru (anak petak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rata-rata suhu maksimum sebesar 4.07°C dari 35.44°C ke 39.51°C memberikan respon pengisian gabah yang sama pada tiap varietas. Perlakuan suhu tinggi berpengaruh nyata terhadap tinggi maksimum, berat gabah bernas pada ujung primer, bobot 1 000 butir pangkal sekunder dan total gabah bernas pada ujung malai. Suhu tinggi cenderung berpengaruh nyata pada berat gabah bernas ujung sekunder dan total gabah bernas pada ujung primer.

Kata kunci: bobot gabah, pemanasan global, sebaran pengisian gabah

ABSTRACT

FAISAL AJI WIBOWO. Response of Rice Grain Filling at High Temperature Stress. Supervised by AHMAD JUNAEDI.

Global warming could imply negative impact on reducing productivity of rice. The aim of this research was to study grain filling response of rice using some rice varieties grown under high temperature stress. The research was conducted at the University Farm IPB, Babakan Sawah Baru, Dramaga, Bogor. Research was perfomed using split plot design with two factors: temperature (main plots) and varieties of IR64, Ciherang, Jatiluhur, and Way Apo Buru (subplot). The results showed that the increasing of average maximum temperature of 4.07°C form 35.44°C to 39.51°C gave the same response of grain filling on each variety. Moreover it was significantly different on the maximum height, full grain at primary tip, and the weight of 1 000 grains at secondary base. High temperature has tendency on the weight of full grain at secondary tip total full grain at primary tip.

(6)
(7)

RESPON PENGISIAN GABAH PADA PADI YANG

MENGALAMI CEKAMAN SUHU TINGGI

FAISAL AJI WIBOWO

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Agronomi dan Hortikultura

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Skripsi yang dilaksanakan pada bulan Desember 2014 – Maret 2015 ini berjudul Respon Pengisian Gabah pada Padi yang Mengalami Suhu Tinggi.

Terima kasih penulis ucapkan kepada

1. Dr Ir Ahmad Junaedi, MSi selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dari awal penyusunan proposal penelitian hingga penelitian selesai. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas pelajaran hidup dan motivasi yang diberikan selama bimbingan.

2. Dr Ir Supijatno, MSi selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan memberikan arahan selama studi.

3. Dr Ir Hajrial Aswidinnoor, MSc dan Dr Ir Iskandar Lubis, MS selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan saran terhadap penulis.

4. Orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan motivasi, semangat dan doa kepada penulis.

5. Rekan-rekan laboratorium perkebunan (Bapak Hafit Furqoni, Bapak Miftahul Bachrir, Bapak Putut Setyo Nugroho, Jumiatun, Sri Astuti, Izzah, Lerry Sormin, dan Muhammad Zamromi), dan rekan-rekan yang telah berpartisipasi membantu penelitian (Kridaningtyas Purwandari, Widyaningtyas, Dede Rahmatullah, Anis Khairunnisa, Agiv Julio P, Muhammad Risky) serta rekan-rekan DANDELION 48 yang telah memberikan semangat dan motivasinya kepada penulis.

Bogor, Agustus 2015

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL i

DAFTAR GAMBAR i

DAFTAR LAMPIRAN i

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan 2

Hipotesis 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Botani Padi 2

Siklus Hidup Tanaman Padi 3

Mekanisme Adaptasi Tanaman terhadap Suhu Tinggi 5

METODE 6

Tempat dan Waktu 6

Bahan dan Alat 6

Metode Penelitian 6

Pelaksanaan 7

Pengamatan dan Analisis Data 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 8

Kondisi Umum 8

Jumlah Anakan, Jumlah Malai per Rumpun, Panjang Malai dan Tinggi

Maksimum 9

Berat Gabah Hampa dan Bernas pada Tiap-tiap Posisi Malai 10

Total Gabah per Rumpun dan per Posisi Malai 12

Bobot 1 000 Butir pada Tiap-tiap Posisi Malai 14

Total Gabah Hampa dan Bernas Pada Ujung dan Pangkal Malai 15

KESIMPULAN 16

DAFTAR PUSTAKA 17

LAMPIRAN 19

(14)
(15)

i

DAFTAR TABEL

1 Pengaruh suhu dan varietas terhadap jumlah anakan maksimum, jumlah malai per rumpun dan panjang malai 10 2 Pengaruh suhu dan varietas terhadap berat gabah hampa ujung

primer, sekunder dan berat gabah bernas ujung primer,

sekunder 11

3 Pengaruh suhu dan varietas terhadap berat gabah hampa pangkal primer, sekunder, dan berat gabah bernas pangkal

primer, sekunder 12

4 Pengaruh suhu dan varietas terhadap bobot 1000 butir ujung primer. ujung sekuder, pangkal primer dan pangkal sekunder 15 5 Pengaruh suhu dan varietas terhadap total bobot gabah bernas

per rumpun, total bobot gabah hampa per rumpun, dan total

bobot gabah per rumpun 13

6 Pengaruh suhu dan varietas terhadap total gabah bernas cabang primer, total gabah hampa cabang primer, total gabah bernas cabang sekunder dan total gabah hampa cabang sekunder 13 7 Pengaruh suhu dan varietas terhadap total gabah hampa ujung

malai, total gabah bernas ujung malai, total gabah hampa pangkal malai, dan total gabah bernas pangkal malai 16

DAFTAR GAMBAR

1 Waktu tanaman terpapar suhu udara diatas 35°C 8

2 Perubahan suhu udara selama penelitian 9

DAFTAR LAMPIRAN

1. Deskripsi varietas IR64 19

2. Deskripsi varietas Ciherang 20

3. Deskripsi varietas Jatiluhur 21

4. Deskripsi varietas Way Apo Buru 22

(16)
(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman pangan dengan tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat pada besarnya kebutuhan kalori masyarakat Indonesia yang menempatkan tanaman padi sebesar 919.1 Kkal orang-1 hari-1, sangat jauh dibandingkan dengan tingkat konsumsi tanaman pangan lainnya seperti umbi-umbian 43.4 Kkal orang-1 hari-1, kacang-kacangan 54.1 Kkal orang-1 hari-1 dan sumber protein hewani seperti daging sebesar 44.7 Kkal orang-1 hari-1, telur dan susu sebesar 55.9 Kkal orang-1 hari-1 (BPS 2011). Kebutuhan padi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia akan semakin besar, mengingat data proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama 25 tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205.1 juta pada tahun 2000 menjadi 273.2 juta pada tahun 2025 (BPS 2014).

Perkembangan industri serta peningkatan polusi menyebabkan dampak perubahan iklim yang sering disebut global warming. Perubahan iklim global telah mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama yang dekat dengan permukaan bumi. Pemanasan global memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan sehari-hari, salah satu dampak dari perubahan iklim global yaitu mempengaruhi stabilitas produksi tanaman (Aydinalp dan Cresser 2008). Kajian yang dilakukan oleh IPCC (2007) memproyeksikan bahwa

peningkatan suhu global akan terus meningkat sekitar 1.1 ̊C – 6.4 ̊C. δitbang

BMKG (2009) mencatat bahwa pada tahun 1981 – 2003 di Indonesia telah terjadi

peningkatan suhu sebesar 0.036 ̊C – 1.383 ̊C.

Dengan adanya global warming petani semakin disulitkan oleh cuaca yang tidak dapat diprediksi serta ancaman gagal panen. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global khususnya peningkatan suhu yaitu dapat menurunkan produk tivitas padi yang disebabkan oleh kegagalan pada saat penyerbukan serta gangguan pada saat fase pengisian gabah (Yoshida 1981). Hal tersebut telah terjadi di Indonesia tepatnya pada tahun 2014, banyak petani yang melaporkan gagal panen dan penurunan produktivitas akibat dampak dari pemanasan global (Indriani 2014). Terganggunya produktifitas tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia ikut merasakan hal yang sama. Beberapa penelitian (Ying et al. 2009; Kim et al. 2011; Lu et al. 2013) juga melaporkan bahwa pemanasan global sangat mengganggu produktivitas padi di Jepang dan Cina, sebagian besar permasalahan yang timbul akibat global warming yaitu penurunan produktivitas padi.

(18)

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pengisian gabah beberapa varietas padi dengan perlakuan suhu tinggi.

Hipotesis

1. Terdapat perbedaan respon pengisian gabah pada cekaman suhu tinggi. 2. Terdapat keragaman respon pengisian gabah pada beberapa varietas padi. 3. Terdapat pengaruh interaksi antara suhu tinggi dengan varietas padi terhadap

pengisian gabah.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Padi

Klasifikasi botani tanaman padi menurut Siregar (1981) masuk dalam divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Monotyledonae, keluarga Gramineae (Poaceae), Genus Oryza, spesies Oryza sativa L. Padi merupakan tumbuhan yang ditandai dengan adanya batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas tersebut merupakan bubug kosong yang tertutup oleh buku. Ruas yang tersusun memiliki panjang yang berbeda, umumnya ruas pada pangal batang mempunyai ukuran yang lebih pendek. Pada morfologi bunga, terdiri dari tangkai bunga, benang sari, kepala putik, serta daun mahkota bunga yang sering disebut palea dan lemma. Pada bagian bawah karyopsis tumbuh 6 filamen (benangsari). Setiap benangsari memiliki kepala sari, kepala sari inilah yang nantinya sebagai penyimpan tepung sari yang nantinya berfungsi sebagai bahan untuk penyerbukan.

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3 000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Utara Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam, di Indonesia terdapat 25 spesies Oryza, dan yang banyak dikenal adalah O. sativa (Kementrian RISTEK 2000).

(19)

3 sistem gogo. Perbedaan yang mendasar antara padi sawah dan gogo yaitu pada penggunaan air. Pada sistem sawah penggunaan air selama musim tanam umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan teknik budidaya secara gogo (Siregar 1981).

Ditinjau dari iklim tempat budidaya padi di daerah tropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1 500 – 2 000 mm tahun-1. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. Pada dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0 – 650 m dpl, sedangkan di dataran tinggi 650 – 1 500 m dpl. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan (DEPTAN 2012).

Siklus Hidup Tanaman Padi

Secara umum pertumbuhan padi dibagi menjadi beberapa fase antara lain: fase vegetatif (awal pertumbuhan sampai terbentuknya bakal malai/primordia); fase reproduksi (primordia sampai pembungaan); dan pematangan (pembungaan sampai gabah matang) (Makarim dan Suhartatik 2009; Yoshida 1981). Pertumbuhan padi dimulai dari fase perkecambahan sampai muncul ke permukaan tanah. Pada ahir tahap ini memperlihatkan daun pertama yang muncul masih melengkung dan bakal akar memanjang (Makarim dan Suhartatik 2009). Pada fase perkecambahan, air memasuki benih secara imbibisi, sehingga meningkatkan kadar air 25-35%. Secara ekofisiologis fase perkecambahan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain: faktor suhu, oksigen, dan varietas (Yoshida 1981).

Setelah fase perkecambahan selesai, dilanjutkan pada fase pertunasan yang ditandai dengan benih yang berkecambah tumbuh menjadi tanaman muda hingga keluar anakan pertama. Pada tahap ini akar seminal dan lima daun terbentuk. Daun terus berkembang pada kecepatan 1 daun setiap 3 – 4 hari. Selain itu akar sekunder membentuk perakaran serabut permanen dengan cepat menggantikan radikula dan akar seminal (Makarim dan Suhartatik 2009). Pada jenis padi japonica umumnya membutuhkan waktu perkecambahan lebih lama dibandingkan dengan padi jenis indica. Yoshida (1981) menyebutkan bahwa pada satu minggu pertama, pengaruh suhu tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, pada minggu pertama pengaruh suhu tinggi berkorelasi positif terhadap pertumbuhan tanaman. Radikula mengalami pemanjangan secara optimum pada suhu 30 °C serta akan berhenti pada suhu dibawah 15 °C dan diatas 40 °C.

Tahap selanjutnya yaitu tahap pembentukan anakan dan fase pemanjangan batang. Fase berlangsung sejak munculnya anakan pertama sampai pembentukan anakan maksimum. Anakan muncul pada tunas aksial pada buku batang dan menggantikan tempat daun. Selang muncul anakan pertama dengan anakan kedua membutuhkan waktu sekitar 30 hari setelah pindah tanam. Tanaman akan terus menghasilkan anakan sampai pada tahap berikutnya (Makarim dan Suhartatik 2009).

(20)

4

Pada saat malai terus berkembang, bulir akan terlihat dan dapat dibedakan. Ukuran malai mengalami peningkatan dan berkembang ke atas dalam pelepah daun bendera, sehingga menyebabkan pelepah daun menggelembung. Penggelembungan pelepah daun bendera disebut bunting. Pada tahapan bunting, ujung daun akan layu dan anakan non produktif akan terlihat pada bagian dasar tanaman (Makarim dan Suhartatik 2009). Pada umumnya di daerah tropikal, inisiasi malai akan berlangsung 23–25 hari sebelum heading (Yoshida 1981).

Setelah melewati fase bunting, tanaman padi akan mengalami fase heading yang sering disebut tahap keluarnya malai. Heading ditandai dengan munculnya ujung malai dari pelepah daun bendera. Malai terus berkembang sampai keluar seutuhnya dari pelepah daun. Anthesis terjadi segera setelah heading, oleh sebab itu ditinjau pada hari kalender anthesis sering diartikan sama dengan heading. Apabila 50% bunga telah keluar maka tanaman sudah dalam fase pembungaan (Yoshida 1981)

Tahap selanjutnya yaitu pembungaan, fase pembungaan dimulai ketika benang sari bunga yang paling ujung tiap cabang malai telah tampak keluar dari bulir dan terjadi proses penyerbukan. Pada umumnya anthesis terjadi antara pukul 08.00 – 13.00, serbuk sari dapat bertahan selama 1 – 2.5 jam dan persarian selesai dalam 5 – 6 jam setelah anthesis. Pada tahap pembungaan, antera akan keluar dari kelopak bunga dan terjadi pembuahan ketika serbuk sari jatuh ke putik. Pembungaan akan terjadi 1 hari setelah heading (Makarim dan Suhartatik 2009). Pada tanaman padi peristiwa anthesis terjadi 25 hari setelah bunting. Pada fase anthesis, padi sangat rentan dengan cekaman suhu tinggi, dampak yang ditimbulkan dari suhu tinggi yaitu dapat menurunkan produktivitas padi (Yoshida 1981).

Setelah mengalami fase pembungaan, masuk pada fase matang susu dimana pada fase ini gabah mulai terisi dengan cairan kental berwarna putih susu. Bila gabah ditekan maka cairan tersebut akan keluar. Selain terjadi pengsian pada gabah, malai hijau akan mulai merunduk, pelayuan pada dasar anakan serta daun bendera dan dua daun dibawahnya akan tetap hijau (Makarim dan Suhartatik 2009).

Tahap setelah fase matang susu, padi akan mengalami fase gabah ½ matang atau masak kuning, dimana gabah yang menyerupai susu akan berubah menjadi gumpalan yang lunak. Selain itu ditandai dengan gabah yang mulai menguning, pelayuan dari anakan dan daun di bagian dasar tanaman tampak semakin jelas, tanaman akan terlihat menguning diikuti dengan mengeringnya anakan (Makarim dan Suhartatik 2009).

Tahapan yang terahir adalah gabah matang penuh dan matang mati. Pada fase ini ditandai dengan setiap gabah matang berkembang penuh, tekstur keras, berwarna kuning, daun bagian atas dengan cepat dan sejumlah daun akan mati yang terakumulasi pada bagian dasar tanaman. Periode pemasakan memerlukan waktu berkisar 30 hari ditandai dengan penuaan daun. Pada tahap ini suhu mempengaruhi periode pemasakan gabah (Yoshida 1981)

(21)

5 gabah isi ditentukan oleh kondisi suhu selama pematangan. Cuaca yang tidak optimal selama tahap pembelahan dan antesis serta kerapatan tanaman yang tinggi menentukan jumlah gabah isi per malai. Jumlah malai dan gabah isi menentukan bobot 1 000 butir. Tingginya suhu harian selama tahap pematangan menurunkan bobot 1 000 butir dan efisiensi pengisian gabah (Oldeman et al. 1986).

Mekanisme Adaptasi Tanaman terhadap Suhu Tinggi

Stres suhu tinggi adalah suatu kondisi suhu yang dihadapi oleh tanaman yang menyebabkan kerusakan yang tidak dapat balik. Suhu menjadi cekaman bagi tanaman tergantung pada laju perubahan, intensitas maupun durasinya. Toleransi terhadap suhu tinggi merupakan kemampuan tanaman untuk mempertahankan pertumbuhan dan hasil pada kondisi cekaman suhu tinggi (Wahid et al. 2007).

Berbagai penelitian terkait tanaman padi, menyebutkan bahwa peningkatan suhu dapat menurunkan produktivitas dan kualitas padi. Hal ini terjadi karena adanya gangguan suhu tinggi dapat meningkatkan persentase bunga steril yang mengakibatkan menurunnya jumlah serbuk sari yang ditangkap oleh stigma, sehingga berdampak pada peningkatan jumlah persentase gabah hampa (Oh-e et al. 2007; Tsukaguchi dan Iida 2008; Nagai dan Makino 2009). Cekaman suhu tinggi pada tanaman dapat mengganggu aktifitas fisiologi dan biokimia (Susandi et al. 2008).

Suhu tinggi dapat meningkatkan respirasi pada saat fase vegetatif, hal tersebut menyebabkan rusaknya membran daun (Reynolds et al. 1994), kerusakan membran daun dapat mengakibatkan penurunan suplai air, ion dan perpindahan antar memberan sel, sehingga mengakibatkan penurunan konsumsi karbon, dan transport asimilat.

(22)

METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru, Dramaga, Bogor. Penanaman dilakukan pada lahan di bawah konstruksi rumah plastik, dilaksanakan dari Desember 2014 sampai dengan Maret 2015.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah padi varietas IR64, Ciherang, Jatiluhur dan Way Apo Buru. Pupuk yang digunakan yaitu Urea, SP18 dan KCl. Pestisida digunakan jika dibutuhkan. Alat yang digunakan: alat pertanian, meteran, penggaris, timbangan analitik, oven, Thermo recorder (TR-71U, TandD, Japan) untuk mengukur suhu udara dan suhu tanah, trai semai, gunting dan alat tulis.

Metode Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (split plot) dengan dua perlakuan yaitu periode suhu tinggi sebagai petak utama yang terdiri atas 3 taraf : 1) suhu udara di dalam rumah plastik plot-1 (T1); 2) suhu udara di dalam rumah plastik dengan peningkatan suhu maksimum sekitar (T1 + 0.22–1.61°C) (T2); 3) dan suhu udara di dalam rumah plastik dengan peningkatan sekitar (T2 + 0.07–2.46°C) (T3). Varietas sebagai anak petak terdiri dari IR64, Ciherang, Jatiluhur dan Way Apo Buru. Kombinasi dari 2 faktor perlakuan menghasilkan 12 kombinasi perlakuan, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Tiap unit percobaan terdapat 6 tanaman, sehingga terdapat sebanyak 216 tanaman.

Model linier Rancangan Petak terbagi (split plot):

Yijk = μ + αi + ik + βj +(αβ)ij + ijk

Keterangan :

Yijk : Nilai pengamatan faktor perlakuan suhu tinggi ke-I dan varietas ke-j dan blok ke-k.

μ : Rataan umum.

αi : Pengaruh petak utama (suhu tinggi ke-i)

ik : Komponen acak dari petak utama (suhu tinggi) yang menyebar normal

βj : Pengaruh anak petak (varietas ke-j).

(αβ)ij : Komponen interaksi antara petak utama taraf ke-i (suhu tinggi) dan anak petak taraf ke-j (varietas).

(23)

7 Pelaksanaan

Penanaman dilakukan dalam bak kontainer yang berukuran 67 cm x 47 cm x 37 cm. Pada setiap bak kontainer ditanam 1 varietas padi, pada 1 varietas ditanam sebanyak 6 tanaman per kontainer dengan jarak 20 cm x 20 cm. Tanah yang digunakan sebagai media tanam dilakukan pembersihan dari kotoran, akar dan kerikil dengan cara diayak dengan saringan yang terbuat dari kawat yang berukuran 1 cm x 1 cm. Tanah yang sudah diayak selanjutnya dimasukkan pada bak kontaier dengan berat rata-rata 83 kg per kontainer. Tanah yang sudah dimasukkan ke bak kontainer kemudian ditambahkan air hingga jenuh dan tergenang 2 cm di atas permukaan tanah. Selanjutnya diaduk sampai membentuk lumpur hingga siap digunakan sebagai media tanam (Supijatno et al. 2012).

Pemeliharaan tanaman dilakukan pemupukan dalam 3 tahap menggunakan pupuk dasar 37.5 kg N/ha, 36 kg P2O5/ha, dan 60 kg K2O/ha diberikan 1 MST dan untuk pemupukan kedua dan ketiga diberikan 37.5 kg N/ha pada 5 MST dan 9 MST. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan. Perbedaan suhu pada tiap-tiap ruang, dapat dilakukan dengan pemberian lubang ventilasi dan mulsa pastik pada permukaan tanah. Semakin jarang diberikan lubang ventilasi serta pemberian mulsa plastik menyebabkan terjadinya peningkatan suhu pada ruangan.

Pengamatan dan Analisis Data

Peubah pengamatan tanaman yang diamati adalah :

1. Tinggi tanaman, diukur dari permukaan tanah sampai ujung daun/malai terpanjang dengan mengunakan meteran. Pengamatan dilakukan pada saat 3 MST, 5 MST, 7 MST dan 9 MST.

2. Jumlah anakan maksimum, dihitung saat 3 MST, 5 MST dan 7 MST. 3. Jumlah malai dan panjang malai (cm), pengamatan dilakukan dengan

menghitung jumlah malai per rumpun yang menghasilkan malai. Panjang malai dihitung dari buku pertama pada pangkal malai.

4. Berat gabah hampa dan bernas pada ujung primer, ujung sekunder, pangkal primer dan pangkal sekunder, serta total gabah bernas dan gabah hampa pada ujung dan pangkal malai, total gabah bernas per rumpun, total gabah hampa per rumpun, total gabah per rumpun, total gabah bernas cabang primer, total gabah hampa cabang primer, total gabah bernas cabang sekunder dan total gabah hampa cabang sekunder. Pengamatan dilakukan dengan menimbang berat gabah pada masing-masing posisi malai.

5. Bobot 1 000 butir pada ujung primer, ujung sekunder, pangkal primer, dan pangkal sekunder. Pengamatan dilakukan dengan menghitung bobot 1 000 butir pada tiap posisi malai.

(24)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum

Penanaman dilakukan dalam rumah plastik yang terdapat 3 kompartemen dengan suhu berbeda-beda, perbedaan suhu tersebut didapatkan dengan menggunakan mulsa hitam perak dan pemasangan ventilasi. Dengan menggunakan cara tersebut berhasil meningkatkan rata-rata suhu maksimum sebesar 4.07°C. Pada T1 dapat mencapai suhu maksimum sebesar 35.44°C dan suhu minimum sebesar 21.67°C, pada T2 dengan suhu maksimum 37.05°C dan suhu minimum sebesar 21.89°C, pada T3 dengan suhu maksimum 39.51°C dan suhu minimum sebesar 21.96°C.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yoshida (1981) dilaporkan bahwa batasan suhu yang dapat ditoleransi padi berkisar dibawah 35°C, dan ketika suhu diatas 35°C padi dapat mengalami dampak yang buruk baik pada pertumbuhan maupun dalam pengisian gabah. Efek yang disebabkan cekaman suhu tinggi salah satunya yaitu meningkatnya bunga steril yang akan berdampak pada meningkatnya jumlah bulir hampa, selain itu dapat menyebabkan gabah mengapur dan menurunnya bobot gabah isi. Pada penelitian ini, suhu dapat melampaui 35°C. Pada kompartemen T1 suhu mencapai 35°C pada pukul 11.30 – 14.00 WIB, pada kompartemen T2 suhu dapat mencapai 35°C pada pukul 11.30 – 14.30 WIB, sedangkan pada kompartermen T3 suhu mencapai diatas 35°C didapatkan lebih awal dan lebih lama yaitu pada pukul 10.00 – 15.30 WIB (Gambar 1).

Gambar 1 Waktu tanaman terpapar suhu udara diatas 35°C

31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

T1 T2 T3

Su

h

u

(

oC)

(25)

9

Gambar 2 Perubahan suhu udara selama penelitian

Jumlah Anakan, Jumlah Malai per Rumpun, Panjang Malai dan Tinggi Maksimum

Jumlah anakan dilakukan pengamatan setiap 2 minggu dimulai pada 3 MST hingga 7 MST, karena pada 7 MST padi sudah mulai memasuki fase pemanjangan batang disusul dengan munculnya daun bendera dan fase primordia (fase generatif). Pertumbuhan anakan berlangsung sejak munculnya anakan pertama sampai pembentukan anakan maksimum. Anakan terus berkembang sampai tanaman memasuki tahap pemanjangan batang dan fase primordia (Makarim dan Suhartatik 2009). Faktor perlakuan suhu dan interaksi suhu dan varietas tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan, jumlah malai per rumpun dan panjang malai, sedangkan varietas berbeda nyata pada peubah tersebut. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Khamid (2014) yang melaporkan bahwa perlakuan suhu tinggi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan, jumlah malai per rumpun dan panjang malai.

Pada peubah tinggi maksimum suhu memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Hal ini sesuai dengan penelitian Kim et al. (2011) yang menyebutkan bahwa pengaruh suhu tinggi dapat mempercepat siklus hidup padi, hal ini terjadi karena adanya cekaman suhu tinggi dapat meningkatkan tingkat pengisian gabah dan penuan pada daun, tetapi mengurangi waktu pada tingkat pengisian gabah. Dalam hal ini pengisian pada gabah padi yang tercekam suhu tinggi akan berhenti lebih awal dari pada padi yang tidak mendapatkan cekaman suhu tinggi. Sehingga mengakibatkan penyaluran assimilat kembali meningkat pada seludang daun dan batang padi. Kemungkinan hal tersebut dapat mengakibatkan adanya pemanjangan batang pada padi pada saat tercekam suhu tinggi.

Pada peubah jumlah anakan maksimum, varietas Ciherang berbeda nyata lebih tinggi terhadap varietas lainya, sedangkan varietas Jatiluhur berbeda nyata lebih rendah dibandingkan varietas yang lainya. Ditinjau dari peubah jumlah malai, varietas IR64 dan Way Apo Buru merupakan varietas yang memiliki jumlah malai paling banyak dibandingkan varietas lainya. Ditinjau dari peubah panjang malai, varietas Ciherang, IR64 dan Way Apo Buru tidak berbeda nyata,

(26)

10

tetapi varietas Jatiluhur memiliki panjang malai yang berbeda nyata lebih panjang dibandingkan dengan varietas Ciherang, IR64 dan Way Apo Buru (Tabel 1). Varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi maksimum, hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan karakteristik antar varietas. Varietas Jatiluhur memiliki nilai tertinggi sebesar 155.65 cm. Sedangkan varietas Ciherang memiliki tinggi sebesar 106.94 cm sehingga menempatkan varietas tersebut memiliki tinggi dibawah varietas lainnya.

Tabel 1 Pengaruh suhu dan varietas terhadap jumlah anakan maksimum, jumlah malai per rumpun dan panjang malai

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama untuk masing-masing faktor perlakuan suhu dan varietas tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α 5%.

Berat Gabah Hampa dan Bernas pada Tiap-tiap Posisi Malai

Pada peubah berat gabah bernas posisi ujung sekunder, varietas cenderung berinteraksi dengan suhu. Suhu berpengauh nyata terhadap peubah berat gabah bernas ujung primer dan berat gabah hampa ujung sekunder, perlakuan suhu relatif berpengaruh pada peubah berat gabah hampa ujung primer, berat gabah bernas ujung sekunder dan berat gabah hampa pangkal sekunder, tetapi perlakuan suhu tidak berpengaruh nyata pada peubah berat gabah hampa pangkal primer, berat gabah bernas pangkal primer dan berat gabah bernas pangkal sekunder (Tabel 2). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yoshida (1981), Oh-e et al. (2007), Tsukaguchi dan Iida (2008), Nagai dan Makino (2009) yang melaporkan bahwa suhu tinggi dapat meningkatkan bunga steril akibat dari tidak ditangkapnya serbuk sari oleh stigma, sehingga meningkatnya jumlah gabah hampa. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Noviandy (2012) dengan faktor perlakuan kekeringan juga menyebutkan bahwa periode cekaman kekeringan berpengaruh nyata pada beberapa peubah berat gabah pada tiap-tiap posisi malai. Penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2011) menyebutkan bahwa cekaman suhu tinggi dapat mengakibatkan proses pengisian gabah berhenti lebih awal, berhentinya pengisian bukan karena kurangnya assimilat, tetapi lebih diakibatkan karena hilangnya aktivitas sink dan penuaan daun bendera secara

(27)

11 cepat. Aktivitas sink yang tercekam suhu tinggi dapat menurunkan kemampuan translokasi dan sintesis enzim pati. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Mohammed dan Tarpley (2010) yang melaporkan bahwa pengisian gabah pada padi dimulai pada bagian ujung malai, akibat dari cekaman suhu tinggi terjadi gangguan dalam transport assimilat pada bulir padi dan terjadi persaingan pengisian antar bulir pada malai.

Tabel 2 Pengaruh suhu dan varietas terhadap berat gabah hampa ujung primer, sekunder dan berat gabah bernas ujung primer, sekunder

Perlakuan untuk masing-masing faktor perlakuan suhu dan varietas tidak

berbeda nyata menurut uji DεRT pada taraf α 5%.

Varietas memiliki perbedaan sangat nyata pada peubah berat gabah hampa ujung primer, berat gabah bernas ujung primer dan berat gabah hampa ujung sekunder. Varietas cenderung nyata pada peubah berat gabah bernas ujung sekunder. Ying et al. (2009) menyatakan bahwa genotipe toleran suhu tinggi menunjukkan aktivitas perakaran yang kuat, meningkatnya sistem pertahanan antioxidatif aktif pada daun, tingginya aktivitas ATPase pada bulir, dan suhu daun yang lebih rendah dibandingkan dengan genotipe yang peka terhadap suhu tinggi. Noviandy (2012) juga melaporkan bahwa varietas toleran ditunjukkan oleh respon pengisian gabah ujung malai pada cabang sekunder lebih baik daripada pengisian gabah pagkal malai pada cabang sekunder. Selain itu, merujuk pada penelitian Mohammed dan Tarpley (2010) yang melaporkan bahwa varietas toleran suhu tinggi cenderung memiliki respon pengisian pada ujung malai yang baik.

(28)

12

penurunan persentase gabah bernas pada ujung primer sebesar 23.8%, dan persentase gabah bernas pada ujung sekunder sebesar 17.5%.

Pada posisi pangkal malai, varietas IR64 dan Way Apo Buru memiliki berat gabah hampa pangkal primer tertinggi. Pada peubah berat gabah bernas pangkal primer, varietas Jatiluhur memiliki berat tertinggi. Pada peubah berat gabah hampa pangkal sekunder, varietas yang memiliki nilai tertinggi yaitu Jatiluhur dan Way Apo Buru. Varietas Jatiluhur pada peubah berat gabah bernas pangkal sekunder memiliki nilai paling tertinggi (Tabel 3).

Tabel 3 Pengaruh suhu dan varietas terhadap berat gabah hampa pangkal primer, sekunder, dan berat gabah bernas pangkal primer, sekunder

Perlakuan untuk masing-masing faktor perlakuan suhu dan varietas tidak berbeda nyata menurut uji DεRT pada taraf α 5%.

Total Gabah per Rumpun dan per Posisi Malai

Pada peubah total gabah bernas per rumpun, total bobot gabah hampa per rumpun, dan total bobot gabah per rumpun, peningkatan rata-rata suhu maksimum sebesar 4.07°C tidak berpengaruh nyata. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Khamid (2014) yang menyatakan bahwa perlakuan suhu tinggi tidak berpengaruh nyata pada jumlah gabah isi per rumpun, gabah hampa per rumpun dan total gabah per rumpun, serta interaksinya dengan perlakuan varietas tidak berpengaruh nyata. Selain itu, peningakatan suhu maksimum sebesar 4.07°C cenderung berpengaruh terhadap total gabah hampa pada cabang primer, dan tidak berpengaruh nyata terhadap peubah total gabah bernas cabang primer, total gabah bernas cabang sekunder dan total gabah hampa cabang sekunder.

(29)

13 dilaporkan oleh Supijatno et al. (2012) yang menyatakan bahwa varietas Jatiluhur mempunyai postur malai yang lebih panjang serta mempunyai tingkat kerapatan malai yang lebih tinggi daripada varietas Ciherang, IR64 dan Way Apo Buru. Sehinga berdampak pada tingginya total gabah per rumpun.

Tabel 4 Pengaruh suhu dan varietas terhadap total bobot gabah bernas per untuk masing-masing faktor perlakuan suhu dan varietas tidak

berbeda nyata menurut uji DεRT pada taraf α 5%.

Tabel 5 Pengaruh suhu dan varietas terhadap total gabah bernas cabang primer, total gabah hampa cabang primer, total gabah bernas cabang sekunder dan total gabah hampa cabang sekunder

Perlakuan untuk masing-masing faktor perlakuan suhu dan varietas tidak

(30)

14

Bobot 1 000 Butir pada Tiap-tiap Posisi Malai

Hasil bobot 1 000 butir pada tiap-tiap posisi malai, menunjukan perbedaan antar varietas dan cekaman suhu. Pada peubah bobot 1 000 butir, peningkatan suhu berpengaruh nyata pada bobot 1 000 butir posisi pangkal sekunder, tetapi tidak berpengaruh nyata pada bobot 1 000 butir ujung primer, ujung sekunder, dan pangkal primer. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu maka bobot 1 000 butir pangkal sekunder semakin meningkat. Hal ini bertentangan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa cekaman suhu tinggi dapat menurunkan bobot 1 000 butir. Penelitian yang dilakukan oleh Yoshida (1981) menyebutkan bahwa perbedaan bobot 1 000 butir dapat dipengaruhi oleh tipe bentuk gabah pada masing-masing varietas dan adanya pengaruh suhu tinggi. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Ma et al. (2009) juga melaporkan bahwa penurunan bobot 1 000 butir terjadi karenahambatan pada saat proses pengisian gabah, hal ini terjadi karena pembentukan dan akumulasi protein yang akan disimpan dalam bulir gabah mengalami gangguan akibat suhu tinggi sehingga berdampak pada menurunnya bobot 1 000 butir. Reynolds et al. (1994) melaporkan bahwa cekaman suhu tinggi dapat merusak membran daun sehingga dampak yang ditimbulkan yaitu terganggunya transport asimilat ke bulir. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dong et al. (2014) yang melaporkan bahwa bobot 1 000 butir pada tanaman yang mendapatkan cekaman suhu tinggi akan lebih rendah bila dibandingkan dengan padi yang dibudidayakan pada suhu normal. Hal ini terjadi karena adanya penurunan pembentukan dan pengisian bulir khususnya pada posisi pangkal malai. Meningkatnya suhu diikuti dengan meningkatnya bobot 1 000 butir juga kemungkinan dapat terjadi, hal ini disebabkan karena adanya metabolisme sekunder pada suatu tanaman. Murakami et al. (2006) menyebutkan bahwa peningkatan kadar asam lemak trienoik pada suatu membran pada suatu tanaman dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap cekaman suhu tinggi. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Yul-Sung et al. (2003) cekaman suhu tinggi yang diujikan diberbagai tanaman pangan juga menyatakan bahwa sel tanaman yang mengandung kalsium lebih tinggi cenderung lebih toleran terhadap cekaman suhu tinggi.

(31)

15 Tabel 6 Pengaruh suhu dan varietas terhadap bobot 1000 butir ujung primer.

ujung sekuder, pangkal primer dan pangkal sekunder

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama untuk faktor perlakuan suhu dan varietas tidak berbeda nyata

menurut uji DεRT pada taraf α 5%. - = persentase terhadap bobot

gabah pada posisi ujung primer untuk tiap perlakuan suhu. Total Gabah Hampa dan Bernas Pada Ujung dan Pangkal Malai

Pada peubah total gabah hampa dan bernas pada ujung dan pangkal malai, peningkatan rata-rata suhu maksimum sebesar 4.07°C berpengaruh nyata terhadap total gabah hampa dan bernas pada ujung malai, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap total gabah hampa dan bernas pada pangkal malai. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohammed dan Tarpley (2010), yang menyebutkan bahwa pada cekaman suhu tinggi, posisi ujung malai mengalami tingkat kehampaan yang tinggi dibandingkan dengan pangkal malai. Hal ini dimungkinkan karena pada posisi ujung malai terjadi anthesis lebih awal dibandingkan dengan pangkal malai. Sedangkan anthesis pada ujung malai terjadi bersamaan dengan peningkatan suhu udara. Sehingga terjadi kegagalan pada saat penyerbukan yang berdampak pada peningkatan gabah hampa dan penurunan gabah bernas pada padi. Sedangkan pada posisi pangkal malai, dimungkinkan anthesis terjadi pada saat suhu ruangan mulai menurun dibawah suhu 35°C. Sehingga dapat terhindar dari cekaman suhu tinggi.

Varietas memberikan pengaruh nyata pada masing-masing peubah pengamatan. Varitas Way Apo Buru menunjukan total gabah hampa pada ujung malai dan pangkal malai tertinggi. Varietas IR64 menunjukan total gabah bernas ujung malai tertinggi, sedangkan pada varietas Jatiluhur memiliki berat tertinggi pada peubah total gabah bernas pangkal malai.

(32)

16

Tabel 7 Pengaruh suhu dan varietas terhadap total gabah hampa ujung malai, total gabah bernas ujung malai, total gabah hampa pangkal malai, dan total untuk masing-masing faktor perlakuan suhu dan varietas tidak

berbeda nyata menurut uji DεRT pada taraf α 5%.

KESIMPULAN

Peningkatan rata-rata suhu maksimum sebesar 4.07°C tidak menunjukan adanya interaksi yang nyata antara suhu dan varietas. Hal ini menunjukan bahwa 4 varietas tersebut mempunyai respon pengisian gabah yang sama terhadap cekaman suhu tinggi. Peningkatan rata-rata suhu maksimum sebesar 4.07°C tidak berpengaruh nyata pada jumlah anakan maksimum, panjang malai, jumlah malai, berat gabah bernas pangkal primer, berat gabah bernas pangkal sekunder, bobot 1 000 butir pada posisi ujung primer, ujung sekunder, dan pangkal primer, serta pada total bernas pangkal malai, total gabah bernas per rumpun, total gabah bernas cabang primer dan total gabah bernas cabang sekunder. Suhu tinggi cenderung berpengaruh nyata pada berat gabah bernas ujung sekunder dan total berat gabah bernas pada ujung primer. Suhu tinggi berpengaruh nyata terhadap tinggi maksimum, barat gabah bernas pada ujung primer, bobot 1 000 butir pangkal sekunder, dan total gabah bernas pada ujung malai.

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Aydinalp C, Cresser MS. 2008. The effects of global climate change on agriculture. J Agric & Environ Sci. 3 (5): 672-676.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Rata-rata Konsumsi Kalori (KKal) per Kapita Sehari Menurut Kelompok Makanan. [internet]. [diunduh 2014 Mar 8]. Tersedia pada: http://bps.go.id/tab_sub/view.php ?kat=1&tabel= 1& daftar=1& id_sub yek=05&not ab=5.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. [internet]. [diunduh 2014 Mar 8].Tersedia pada: http://bps.go.id/tab_sub/ view.php?kat=1&tab el=1& daftar=1&id_sub yek=05&notab=5.

[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2012. Syarat pertumbuhan tanaman padi sawah [internet]. [diunduh 2014 Mar 15]. Tersedia pada : http://cybex.deptan.go.id/ penyuluhan /syarat-pertumbuhan-tanaman-padi-sawah

[IPCC] Intergovenrmental Panel on Climate Change. 2007. Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. New York (USA): Cambridge University Press.

Dong W, Chen J, Wang L, Tian Y, Zhang B, Lai Y, Meng Y, Qian C, Guo J. 2014. Impacts of nighttime post-anthesis warming on rice productivity and grain quality in East China. The Crop Journal. 2:63-69.

Indriani. 2014. Petani semakin terdesak perubahan iklim. [internet]. [diunduh 2015 mar 25]. Tersedia pada: http://www.antaranews.com/berita/425138/ petani-semakin-terdesak-perubahan-iklim.

Kementrian RISTEK. 2000. PADI ( Oryza Sativa ).[internet]. [diunduh 2014 Mar 19]. Tersedia pada: www.warintek.ristek.go.id/pertanian/padi.pdf.

Khamid MBR. 2014. Respon pertumbuhan dan produksi padi (Oryza sativa L.) terhadap cekaman suhu tinggi [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Kim J, Shon J, Lee CK, Yang W, Yoon W, Yang WH, Kim YG, Lee BW. 2011.

Relationship between grain filling duration and leaf senescence of temperate rice under high temperature. Field Crops Res. 122: 207-213.

Litbang BMKG. 2009. Suhu udara rata-rata di Indonesia naik. [internet]. [diunduh 2014 mar 2]. Tersedia pada: http://sains.kompas.com/read /2012/11/29/22052636/ Suhu. di.Indonesia. Rata-rata.Naik.1. Derajat.Cel sius.

Lu GH, Wu YF, Bai WB, Ma B, Wang CY, Song JQ. 2013. Influence of high temperature stress on net photosynthesis, dry matter partitioning and rice grain yield at flowering and grain filling stages. Journal of Integrative Agriculture. 12(4):603-609.

Ma QL, Li YS, Tian XH, Yan SZ, Lei WC, Noboru N. 2009. Influence of high temperature stress on composition and accumulation configuration of storage protein in rice. Scientia Agricultura Sinica. 42:714-718.

Makarim AK, Suhartatik E. 2009. Morfologi dan Fisologi Tanaman Padi. Subang (ID): Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

(34)

18

Mohammed AR, Tarpley R. 2010. Effects of high night temperature and spikelet position on yield-related parameters of rice (Oryza sativa L.) plants. Europ J Agron. 33:117-123.

Murakami Y, Tsuyama M, Kobayashi Y, Kodama H, Iba K. 2006. Trienoic fatty acids and plant tolerance of high temperature. Science. 5452(287): 476 – 479.

Nagai D, Makino A. 2009. Differences between rice and wheat in temperature responses of photosynthesis and plant growth. Plant Cell Physiol. 50(4): 744–755.

Noviandy I. 2012. Pengisian gabah beberapa varietas padi pada periode cekaman berbeda dalam sistem sawah [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Oh-e I, Saitoh K, Kuroda T. 2007. Effects of high temperature on growth, yield,

and dry matter production of rice grown in the paddy field. Plant Prod. 10 (4): 412 – 422.

Oldeman LR., Shesu DV, Cady FB. 1986. Response of rice to weather variables. Manila (PH): IRRI.

Reynolds MP, Balota M, Delgado MIB, Aman I, Fisher RA. 1994. Physiological and morphological traits associated with spring wheat yield under hot irrigated conditions. Plant Physiol. 21. 717–730.

Siregar H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Bogor (ID): Sastra Hudayana

Supijatno, Chozin MA, Sopandie D, Trikoesoemaningtyas, Junaedi A, Lubis I. 2012. Evaluasi konsumsi air beberapa genotipe padi untuk potensi efisiensi penggunaan air. J Agron Indonesia. 40(1): 15 – 20.

Susandi A, Herlianti I, Tamamadin M, Nurlaila I. 2008. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketinggian Muka Laut di Wilayah Banjarmasin. Jurnal Ekonomi Lingkungan. 12(2).

Tsukaguchi T, Iida Y. 2008. Effects of assimilate supply and high temperature during grain-filling periode on the occurrence of various types of chalky kernels in rice plants (Oryza sativa L.). Plant Prod. 11(2): 203 – 210. Wahid A, Gelani S, Ashraf M, Foolad MR. 2007. Heat tolerance in plants: an

overview. Environmental and Experimental Botany. 61: 199 -223.

Ying CY, Hua D, Nian YL, Qing WZ, Jun LL, Chang YJ. 2009. Effect of high temperature during heading and early filling on grain yield and physiological characteristics in indica rice. Acta Agron Sin. 35(3): 512–52 Yoshida S. 1981. Fundamentals of Rice Crop Science. Manila (PH): IRRI.

Yoshida S, Parao FT. 1976. Climate influence on yield and yield components of lowland rice in tropics. Proccedings of Symposium on Climate and Rice; Los Banos, Philippines. Los Banos (PH): IRRI. hlm 471-494.

(35)

LAMPIRAN

Lampiran 1 Deskripsi varietas IR64 Nomor seleksi : IR18348-36-3-3 Asal persilangan : IR5657/IR2061 Golongan : Cere

Umur tanaman : 110-120 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : 115-126 cm Anakan produktif : 20-35 Warna kaki : Hijau Warna batang : Hijau

Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna Warna helai daun : Hijau

Muka daun : Kasar Posisi daun : Tegak Daun bendera : Tegak

Bentuk gabah : Panjang ramping Warna gabah : Kuning bersih Kerontokan : Tahan

Kerebahan : Tahan Tekstur nasi : Pulen Kadar amilosa : 23% Indek glikemik : 70 Bobot 1000 butir : 24.1 g Rata-rata hasil : 5.0 ton/ha Potensi hasil : 6.0 ton/ha

Ketahanan HPT : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2 dan agak tahan wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteri strain IV, tahan virus kerdil rumput

Anjuran tanam : Baik ditanam di lahan sawah irigasi dataran rendah sampai sedang

(36)

20

Lampiran 2 Deskripsi varietas Ciherang Nomor seleksi : S3383-ID-PN-41-3-1

Asal persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/3*IR19661-131-3-1-3//4*IR64

Golongan : Cere

Umur tanaman : 116-125 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : 107-115 cm Anakan produktif : 14-17 Warna kaki : Hijau Warna batang : Hijau

Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna Warna helai daun : Hijau

Muka daun : Kasar pada sebelah bawah Posisi daun : Tegak

Daun bendera : Tegak

Bentuk gabah : Panjang ramping Warna gabah : Kuning bersih Kerontokan : Sedang Kerebahan : Sedang Tekstur nasi : Pulen Kadar amilosa : 23% Indek glikemik : 54 Bobot 1000 butir : 28 g Rata-rata hasil : 6.0 ton/ha Potensi hasil : 8.5 ton/ha

Ketahanan HPT : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan sedang terhadap biotipe 3

Anjuran tanam : Baik pada lahan sawah irigasi dataran rendah sampai dengan 500 m dpl

Nama pemulia : Tarjat T., Z. A. Simanullang, E. Sumadi, dan Aan A. Daradjat

(37)

21 Lampiran 3 Deskripsi varietas Jatiluhur

Nomor seleksi :

Asal persilangan : Persilangan Tox 1011 / Ranau

Golongan : Cere (Indica)

Umur tanaman : 115-125 hari

Bentuk tanaman : Tegak

Tinggi tanaman : 95-100 cm

Anakan produktif :

Warna kaki : Hijau

Warna batang : Hijau muda

Warna telinga daun : Tidak berwarna

Warna lidah daun : Tidak berwarna

Warna helai daun : Hijau

Muka daun : Kasar

Posisi daun : Tegak miring

Daun bendera : Miring

Bentuk gabah : Bulat besar

Warna gabah : Kuning kotor

Kerontokan : Agak tahan

Kerebahan : Tahan

Tekstur nasi : Pera

Kadar amilosa : 27.6%

Indek glikemik :

Bobot 1000 butir : 27 g

Rata-rata hasil : 2.5 ton/ha GKG

Potensi hasil : 3.5 ton/ha GKG

Ketahanan HPT : Tahan blas dan toleran naungan

Anjuran tanam : Baik untuk padi lahan kering sampai 500 m dpl

Nama pemulia : Murdani Diredja, Suwarno, Susanto T.W., Hadis Siregar,

Erwina Lubis

(38)

22

Lampiran 4 Deskripsi varietas Way Apo Buru Nomor seleksi : S3383-ID-PN-16-2

Asal persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/3*IR19661-131-3-1-3//4*IR64 Golongan : Cere

Umur tanaman : 115-125 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : 105-113 cm Anakan produktif : 15-18 Warna kaki : Hijau Warna batang : Hijau

Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna Warna helai daun :

Muka daun : Kasar Posisi daun : Tegak Daun bendera : Tegak

Bentuk gabah : Panjang ramping Warna gabah : Kuning bersih Kerontokan : Sedang Kerebahan : Sedang Tekstur nasi : Pulen Kadar amilosa : 23% Bobot 1000 butir : 27 g Rata-rata hasil : 5.5 ton/ha Potensi hasil : 8.0 ton/ha

Ketahanan HPT : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan biotipe 3 Anjuran tanam : Baik ditanam di lahan sawah irigasi dataran rendah

sampai sedang (600 m dpl)

Nama pemulia : Tarjat T., Z. A. Simanullang, E. Sumadi, dan Aan A. Daradjat

(39)

23 Lampiran 5 Rekapitulasi sidik ragam

Keterangan: ** = Berpengaruh sangat nyata pada pengujian sidik ragam pada selang kepercayaan 99%; * = berpengaruh nyata pada pengujian sidik ragam pada selang kepercayaan 95%; + = berpengaruh nyata pada pengujian sidik ragam pada selang kepercayaan 90%; tn = tidak nyata; KK = koefisien keragaman; tr hasil transformasi akar √� + .

No Peubah

F-hitung

Suhu Varietas Interaksi KK (%)

1 Jumlah anakan 7 MST 0.5 tn 30.9* 0.3 tn 13.0

2 Tinggi tanaman 9 MST 6.9* 272.9* 0.3 tn 3.4

3 Panjang malai 2.1tn 4.5* 1.7 tn 4.4

4 Jumlah malai 2.5 tn 26.1** 1.4 tn 14.2

(40)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Demak pada tanggal 11 November 1992 sebagai anak ke tiga dari pasangan Muji Waluyo Bambang K dan Sa’diah. Penulis menempuh pendidikan formalnya pada SD Negeri 5 Demak, SMP Negeri 2 Demak, SMA Negeri 1 Demak dan pada tahun 2011 penulis melanjutkan ke jenjang sarjana di Institut Pertanian Bogor. Penulis menempuh strata 1 di mayor Agronomi dan Holtikultura, Fakultas Pertanian dengan minor Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, lulus pada tahun 2015.

Gambar

Gambar 1  Waktu tanaman terpapar suhu udara diatas 35°C
Gambar 2  Perubahan suhu udara selama penelitian
Tabel 1 Pengaruh suhu dan varietas terhadap jumlah anakan maksimum, jumlah malai per rumpun dan panjang malai

Referensi

Dokumen terkait

Untuk visi dan misi Unpad, telah menyusun sebuah periodisasi visi, maka jika dilihat kaitannya dengan ASEAN Community terdapat pada periode ke-tiga yaitu Periode

Untuk mengetahui pengaruh interaksi yang terbaik dari okulasi tanaman jeruk dengan menggunakan berbagai klon mata entres dan umur batang bawah JC

mempengaruhi efektivitas suatu sistem informasi cukup lengkap.Variabel pemakai ( use ) tidak digunakan dalam penelitian ini, tetapi peneliti menggunakan variabel

“Amanah itu suatu tugas yang diberikan kepada kita baik itu amanah dari sang Pencipta maupun dari atasan, dimana harapannya itu kita mampu, mampu melakukan secara

Citra Quickbird mampu digunakan untuk ektraksi parameter-parameter yang diasumsikan mempengaruhi potensi karbon monoksida ambien seperti kepadatan bangunan, ketinggian

Tujuan mengidentifikasi pola transformasi adalah mendapatkan gambaran pola transformasi struktural dalam sebuah perekonomian, khususnya gambaran kaitan perubahan antar

Pemilik UMKM IMEL, menyepakti keinginan kepala desa, antara lain untuk menjadikan UMKM IMEL: (a) seperti Inomaret/alfamart, baik sistem pengelolaanya maupun sarana dan

Hasil penelitian analisis deskriktif menujukkan bahwa variabel politik uang (X) berdasarkan indicator pemberian uang, pemberian barang, pemberian janji/iming- iming masuk