Evaluasi Sifat Fisik dan Kimia Fraksinasi Bungkil Inti Sawit

20 

Teks penuh

(1)

RICKE PAMELA RENJANI

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2014

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Evaluasi Sifat Fisik dan Kimia Fraksinasi Bungkil Inti Sawit adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor,Agustus2014

Ricke Pamela Renjani

(4)

ABSTRAK

RICKE PAMELA RENJANI. Evaluasi Sifat Fisik dan Kimia Fraksinasi Bungkil Inti Sawit. Dibimbing oleh NAHROWI dan ANURAGA JAYANEGARA

Pemanfaatan BIS pada pakan ternak unggas belum seefektif pada ternak ruminansia. Hal ini disebabkan oleh tingginya serat kasar yang terkandung di dalam BIS. Batok yang terdapat dalam BIS menyebabkan proses penyerapan menjadi rendah. Masalah ini perlu ditangani dengan melakukan metode pemisahan batok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi serta mengetahui sifat fisik dan kimia bungkil inti sawit hasil fraksinasi setelah penggilingan dan penyaringan 100 mash serta membandingkan kualitas bungkil inti sawit (BIS) pada daerah yang berbeda. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, dengan perlakuan BIS P1 (tidak digiling) dan P2 (digiling). Peubah yang diukur adalah komposisi kimia, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, dan daya ambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggilingan dan penyaringan tidak memperbaiki komposisi kimia BIS. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan penggilingan dan penyaringan tidak dapat memperbaiki kandungan nutrient BIS asal Lampung dan Kalimantan namun memperbaiki kualitas fisik.

Kata kunci: bungkil inti sawit, penggilingan, penyaringan, sifat fisik, sifat kimia

ABSTRACT

RICKE PAMELA RENJANI. Evaluation of its Physical and Chemical Characteristics Fraction of Palm Kernel Meal. Supervised by NAHROWI and ANURAGA JAYANEGARA

The utilization of palm kernel meal in poultry feed has not been as effective as in ruminants. This is caused by high crude fiber contained in palm kernel meal. Shells found in palm kernel meal causing the absorption becomes low. This problem needs to be addressed by conducting shell separation method. The purpose of this study was to evaluate and determine the physical and chemical characteristicsfractions of palm kernel meal after milling and screening 100 mash and compare the quality of palm kernel meal in different areas. The data obtained were analyzed using descriptive analysis, with the treatments of palm kernel meal were P1 (without milled) and P2 (milled). The variables measured were density, bulk density, compacted bulk density, angle of respose, and floating rate. It can be concluded that milled and screened treatments can not improve the contents of nutrients of palm kernel meal fractions from Lampung and Kalimantan, while affect the physical properties.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan

pada

Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

EVALUASI SIFAT FISIK DAN KIMIA FRAKSINASI

BUNGKIL INTI SAWIT

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2014

(6)
(7)

Judul Skripsi : Evaluasi Sifat Fisik dan Kimia Fraksinasi Bungkil Inti Sawit Nama : Ricke Pamela Renjani

NIM : D24080009

Disetujui oleh

Prof Dr Ir Nahrowi, MSc Pembimbing I

Dr Anuraga Jayanegara, SPt, MSc Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Panca Dewi MHKS, MSi Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nyas ehingga penulis dapatmenyelesaikan penulisan skripsi dengan judul Evaluasi Sifat Fisik dan Kimia Fraksinasi Bungkil Inti Sawit. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis bulan Januari hingga April 2014 di Laboratorium Industri Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi serta mengetahui terhadap sifat fisik dan kimia BIS hasil fraksinasi setelah penggilingan dan penyaringan 100 mash serta membandingkan kualitas bungkil inti sawit (BIS) pada daerah yang berbeda. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk kelulusan dan memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2014

(9)

DAFTAR ISI

Komposisi Nutrien Bungkil Inti Sawit 4

(10)

DAFTAR TABEL

1 Komposisi bungkil inti sawit 4

2 Berat jenis bungkil inti sawit (g mL-1) 5

3 Kerapatan tumpukan bungkil inti sawit (kg m-3) 6 4 Kerapatan pemadatan tumpukan bungkil inti sawit (kg m-3) 6

5 Sudut tumpukan bungkil inti sawit (ο) 7

6 Daya ambang bungkil inti sawit (m s-1) 7

DAFTAR LAMPIRAN

1 Bungkil inti sawit setelah digiling 9

(11)

1

PENDAHULUAN

Saat ini Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar kelapa sawit dalam bentuk minyak kelapa sawit dan ikutannya bungkil inti sawit. Menurut Departemen Pertanian (2012), produksi kelapa sawit di Indonesia mencapai 23 521 071 ton dan 11 760 54 ton buah inti sawit. Bungkil inti sawit mengandung protein kasar 15.85%, total asam amino 12.64%, dan serat kasar 32.95% (Yatno 2011).

Produksi bungkil inti sawit yang meningkat belum diikuti dengan tingkat pemakaian yang tinggi dalam ransum unggas. Hal ini dikarenakan adanya kandungan serat kasar yang tinggi dan kandungan protein kasar yang rendah 16-18% (Nahrowi 2014). Kandungan serat kasar yang tinggi menyebabkan level penggunaan bungkil inti sawit berkisar antara 5-10% pada ransum broiler (Sinurat et al. 2009). Rendahnya daya cerna suatu bahan pakan dapat disebabkan tingginya serat kasar bahan pakan tersebut (Wahyunto 1989).

Dalam upaya menurunkan serat kasar perlu perbaikan teknik penyaringan agar semua batok dapat terpisahkan. Menurut Sinurat et al. (2009) keberadaan batok merupakan salah satu masalah yang dihadapi dalam penggunaan bungkil inti sawit sebagai pakan unggas. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Yatno (2009) bahwa pemberian bungkil inti sawit dalam ransum puyuh tanpa dilakukan pemisahan batok menyebabkan lesio atau merobek villi usus halus pada puyuh. Dengan demikian perlakuan fisik seperti penyaringan diharapkan dapat mengurangi kandungan serat kasar dalam bungkil inti sawit.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi serta mengetahui sifat fisik dan kimia bungkil inti sawit hasil fraksinasi setelah penggilingan dan penyaringan 100 mash

serta membandingkan kualitas bungkil inti sawit (BIS) pada daerah yang berbeda.

METODE

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bungkil inti sawit (BIS) yang diperoleh dari pabrik pengolahan inti sawit di Lampung dan Kalimantan. Bahan kimia untuk pengujian analis proksimat.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari hingga April 2014. Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Alat

(12)

2

Persiapan Bungkil Inti Sawit

Bungkil inti sawit lima kg (Lampung atau Kalimantan) di bagi dua bagian. Dua setengah kg dari bungkil inti sawit digiling dan sisanya dibiarkan sebagai kontrol. Penggilingan dilakukan menggunakan hammer mill dengan ukuran lima sampai tiga mm. Masing-masing bungkil inti sawit disaring dengan ukuran 100 mash.

Pengukuran Sifat Fisik

Berat Jenis (Khalil 1999a)

Berat jenis diukur dengan prinsip perubahan volume air (hukum Archimedes) pada gelas ukur. Sampel sebanyak 100 g dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berisi 300 mL aquades kemudian dilakukan pengadukan untuk mempercepat penghilangan ruang udara antar partikel ransum. Berat jenis dihitung dengan rumus:

Berat jenis (g mL-1) =

Kerapatan Tumpukan (Khalil 1999a)

Kerapatan tumpukan diukur dengan cara mencurahkan sampel sebanyak 100 g ke dalam gelas ukur kemudian sampel dalam gelas ukur tersebut dilihat ketinggiannya berdasarkan ketinggian yang tertera pada gelas ukur. Kerapatan tumpukan dihitung dengan rumus:

Kerapatan tumpukan (kg m-3) =

Kerapatan Pemadatan Tumpukan (Khalil 1999a)

Kerapatan pemadatan tumpukan ditentukan dengan cara yang sama seperti kerapatan tumpukan tetapi volume sampel dibaca setelah dilakukan proses pemadatan dengan cara menggoyang-goyangkan gelas ukur sampai volume tidak berubah lagi. Kerapatan pemadatan tumpukan dihitung dengan rumus:

Kerapatan pemadatan tumpukan (kg m-3) = Sudut Tumpukan (Khalil 1999b)

Pengukuran sudut tumpukan dilakukan dengan cara menjatuhkan sampel pada ketinggian 3 m melalui corong yang dipasang pada kaki tiga sampai sampel jatuh pada bidang datar yang beralaskan bidang datar. Pengukuran diameter dilakukan dengan menggunakan mistar dan di sisi yang sama setiap pengukuran. Satuan sudut tumpukan dinyatakan dalam derajat (°), sehingga diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t), maka besar sudut tumpukan dihitung dengan rumus:

(13)

3

Daya Ambang

Daya ambang bahan diukur dengan menjatuhkan sampel pada ketinggian 3 m dari lantai kemudian diukur lama waktu (detik) yang dibutuhkan untuk mencapai lantai dengan menggunakan stopwatch. Lantai tepat jatuh bahan diberi alas alumunium foil untuk meminimumkan kesalahan. Diusahakan bahan jatuh tegak lurus dengan membuat bulatan pada alumunium foil. Untuk meminimumkan pengaruh angin semua lubang yang memungkinkan angin masuk selama pengukuran daya ambang di tutup dengan kertas karton. Daya ambang diukur dengan rumus : (Khalil 1999b)

Daya ambang (m s-1) =

Pengukuran Komposisi Nutrien

Kadar Air

Pengukuran kadar air dilakukan untuk mengetahui kadar air bahan pada saat awal dengan cara sampel yang akan diuji kadar air ditimbang sebanyak 5 g dalam cawan kemudian dimasukkan dalam oven 105 °C selama 24 jam. Perhitungan kadar air dengan menggunakan rumus:

Kadar air (%)

-Protein Kasar

Sampel sebanyak 0.3 g dimasukkan ke dalam labu destruksi atau labu Kjeldahl dan ditambahkan kira-kira1 gram katalis campuran selen pekat. Kemudian campuran tersebut dipanaskan di atas api pembakar bunsen sampai tidak berbuih lagi kemudian di destilasi lalu di titrasi dengan larutan NaOH. Perhitungan kadar protein kasar dengan menggunakan rumus :

Protein kasar (%) –

Kadar Serat Kasar

Sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas piala dan ditambahkan H2SO4 kemudian dipanaskan selama 15 menit. Setelah itu disaring dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam cawan porselen. Selanjutnya cawan porselenserta isinya dibakar dan diabukan dalam tanur listrik pada suhu 600°C. Perhitungan kadar serat kasar dengan menggunakan rumus :

Serat kasar (%) -

-Analisis Data

(14)

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi Kimia Bahan Pakan

Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Komposisi nutrient BIS disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Komposisi nutrien bungkil inti sawit

Asal BIS Perlakuan Penyaringan BK(%)* PK(%)* SK(%)*

*Hasil Analisis Proksimat di Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi (PAU), IPB (2014); BK (%), PK (%), SK (%); BK= bahan kering, PK= protein kasar, SK= serat kasar; BIS= Bungkil inti sawit;P1= BIS tanpa digiling, P2= BIS digiling

Kandungan bahan kering BIS dari Lampung yang mendapatkan perlakuan penyaringan tanpa penggilingan terlebih dahulu relatif sama dengan BIS asal Kalimantan. Hal ini terjadi karena BIS non batok masih mengandung cangkang yang melekat dan terlalu besar, sehingga hasil analisis tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan BIS batok.

Kandungan nutrient protein kasar (PK) BIS batok asal Lampung yang disaring dan digiling relatif sama dengan kandungan PK BIS batok asal Kalimantan yang diberi perlakuan sama. Fraksi non batok yang disaring dengan menggunakan ukuran saringan 100 mash relatif dapat meningkatkan kandungan PK baik BIS asal Lampung dan Kalimantan serta relatif dapat menurunkan kandungan serat kasar (SK).

Kandungan SK batok BIS yang mendapatkan perlakuan penggilingan lebih tinggi dibandingkan SK batok BIS tanpa perlakuan penggilingan. Tabel 1 dimana kandungan SK P2 asal Lampung mencapai 33.71%, sedangkan SK P2 asal Kalimantan mencapai 20.84%. Dengan demikian kandungan serat kasar BIS yang digiling pada batok termasuk tinggi karena BIS yang digunakan masih terdapat cangkang batok sehingga BIS tidak disarankan sebagai bahan baku pakan ternak non-ruminansia karena kandungan serat kasar pada BIS lebih tinggi dibandingkan bahan baku sumber protein lainnya (Elisabeth dan Ginting 2003).

Kualitas Fisik

Berat Jenis

(15)

5

terhadap volumenya yang berpengaruh terhadap homogenitas penyebaran partikel dan stabilitasnya dalam suatu campuran bahan. Berat jenis memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan, dan penyimpanan (Khalil 1999a). Perbedaan hasil berat jenis dari setiap daerah dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Berat jenis bungkil inti sawit (g mL-1)

Asal BIS Perlakuan Penyaringan

Batok Non batok

Lampung P1 1.200 ± 0.274 3.600 ± 1.342

P2 0.880 ± 0.566 3.210 ± 2.740

Kalimantan P1 0.950 ± 0.112 5.400 ± 1.342

P2 0.656 ± 0.472 2.400 ± 0.548

BIS= Bungkil inti sawit; BJ= berat jenis; P1= BIS tanpa digiling, P2= BIS digiling

Kerapatan Tumpukan

Pengukuran kerapatan tumpukan dilakukan untuk menentukan volume ruang pada suatu bahan dengan berat jenis tertentu seperti pengisian alat pencampur dan elevator (Kolatac 1996). BIS asal Kalimantan yang digiling mempunyai kerapatan tumpukan nyata lebih tinggi dibandingkan BIS asal Lampung serta kerapatan tumpukan BIS batok lebih tinggi dari BIS tanpa batok. Fasina dan Sonkhansanj (1993) mengemukakan bahwa nilai kerapatan tumpukan berbanding terbalik dengan kandungan air dan partikel asing dalam bahan, sehingga peningkatan kandungan air atau partikel asing akan menurunkan nilai kerapatan tumpukan bahan tersebut. Sesuai yang diutarakan oleh Khalil (1999) bahwa nilai kerapatan tumpukan menunjukkan porositas dari bahan yaitu jumlah rongga udara yang terdapat diantara partikel-partikel bahan, sehingga kerapatan tumpukan (bulk density) memiliki sifat fisik bahan yang memegang peranan penting dalam memperhitungkan perbandingan antara berat bahan dengan volume ruang yang ditempatinya. Hasil kerapatan tumpukan dapat disajikan pada Tabel 3.

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Perlakuan P2 (BIS setelah digiling) mempunyai kerapatan pemadatan tumpukan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan P1 (BIS tanpa digiling). Hal ini dapat dikarenakan kadar air pada P2 (BIS setelah digiling) lebih tinggi dibandingkan kadar air P1 (BIS tanpa digiling). Nilai kerapatan tumpukan batok asal Kalimantan lebih tinggi dibandingkan batok asal Lampung. Menurut Suadnyana (1998), penurunan kerapatan pemadatan tumpukan pada saat kandungan air tinggi disebabkan oleh terbukanya pori-pori permukaan partikel bahan tersebut, sehingga pada saat penambahan kandungan air, bahan tersebut mengembang yang menyebabkan volume ruang yang dibutuhkan semakin besar.

(16)

6

Tabel 3 Kerapatan tumpukan bungkil inti sawit (kg m-3)

Asal BIS Perlakuan Penyaringan

Batok Non batok

Lampung P1 0.498 ± 0.015 0.384 ± 0.005

P2 0.568 ± 0.016 0.388 ± 0.029

Kalimantan P1 0.476 ± 0.015 0.388 ± 0.004

P2 0.618 ± 0.047 0.378 ± 0.019

BIS= Bungkil inti sawit; KT= kerapatan tumpukan; P1= BIS tanpa digiling,P2= BIS digiling

Tabel 4 Kerapatan pemadatan tumpukanbungkil inti sawit (kg m-3)

Asal BIS Perlakuan Penyaringan

Batok Non batok

Lampung P1 0.528 ± 0.029 0.492 ± 0.023

P2 0.580 ± 0.025 0.506 ± 0.036

Kalimantan P1 0.528 ± 0.023 0.494 ± 0.011

P2 0.610 ± 0.042 0.474 ± 0.005

BIS= Bungkil inti sawit; KPT= kerapatan pemadatan tumpukan; P1= BIS tanpa digiling, P2= BIS digiling

Sudut Tumpukan

Sudut tumpukan merupakan sudut yang terbentuk antara bidang datar dengan kemiringan tumpukan bahan ketika bahan di curahkan dari ketinggian tertentu ke bidang datar. Semakin kecil sudut tumpukan suatu bahan maka semakin bebas partikel bergerak dan semakin besar daya alir (flow ability). BIS asal Lampung tidak digiling mempunyai daya ambang yang lebih tinggi dibandingkan BIS asal Kalimantan serta penyaringan BIS tanpa batok lebih tinggi dari BIS batok. Hal ini disebabkan selama proses penanganan pengolahan bahan pakan tersebut mengalami perubahan yang mempengaruhi sifat fisik dari setiap daerah dan ukuran partikel bahan relatif sama yang mempengaruhi perbedaan sehingga mempunyai nilai yang tinggi dari setiap masing-masing daerah. Khalil (1999) berpendapat bahwa sudut tumpukan dipengaruhi oleh ukuran partikel bahan. Baryeh (2002) menyatakan bahwa yang mempengaruhi nilai sudut tumpukan yaitu kadar air, semakin tinggi nilai kadar air maka akan meningkatkan nilai sudut tumpukan. Menurut Geldart et al. (1990) bahwa pengukuran sudut tumpukan merupakan metode yang cepat dan produktif untuk menunjukkan laju aliran bahan.

Tabel 5 Sudut tumpukan bungkil inti sawit (ο)

Asal BIS Perlakuan Penyaringan

Batok Non batok

Lampung P1 16.058 ± 0.690 28.994 ± 0.369

P2 17.938 ± 1.530 27.160 ± 2.281

Kalimantan P1 14.758 ± 2.937 27.434 ± 2.204

P2 17.294 ± 2.605 27.982 ± 1.890

(17)

7

Daya Ambang

BIS asal Kalimantan tidak digiling mempunyai daya ambang yang lebih tinggi dibandingkan BIS asal Lampung, serta daya ambang BIS batok nyata lebih tinggi dari BIS tanpa batok. Hal ini disebabkan selama proses penanganan pengolahan bahan pakan tersebut mengalami perubahan yang mempengaruhi sifat fisik dari setiap daerah. Nilai daya ambang BIS Lampung dengan penyaringan batok dalam penelitian ini berkisar antara 4.78-4.02m s-1, sedangkan BIS tanpa batok yaitu 3.44-3.37 m s-1. Kemudian nilai daya ambang pada BIS Kalimantan dengan penyaringan batok bekisar antara 5.18-4.23m s-1 pada (Tabel 6) dan BIS tanpa batok yaitu 3.38-3.37 m s-1, sehingga termasuk mempunyai daya ambang yang besar. Sesuai yang diutarakan oleh khalil (1999) partikel yang lebih kecil ukurannya dengan bobot lebih ringan mempunyai daya ambang lebih besar sehingga akan lebih cepat dihisap oleh alat pengangkut tersebut.

Tabel 6 Daya ambang bungkil inti sawit (m s-1)

Asal BIS Perlakuan Penyaringan

Batok Non batok

Lampung P1 4.780 ± 0.227 3.444 ± 0.151

P2 4.020 ± 0.307 3.374 ± 0.352

Kalimantan P1 5.182 ± 1.012 3.388 ± 0.219

P2 4.230 ± 0..456 3.370 ± 0.562

BIS= Bungkil inti sawit; DA= daya ambang; P1= BIS tanpa digiling, P2= BIS digiling

KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Perlakuan penggilingan dan penyaringan tidak dapat memperbaiki kandungan nutrient BIS asal Lampung dan Kalimantan namun memperbaiki kulitas fisik.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara lebih spesifik teknik penyaringan bungkil inti sawit terhadap sifat fisik.

DAFTAR PUSTAKA

Baryeh EA. 2002. Physical properties of millet. J Food Eng, 51: 39-46.

Fasina OD, Sokhansanj S. 1993. Effect of moisture on bulk handling properties of alfalfa pellets. Can Agr Eng 35 (4): 269-272.

Geldart D. 1973. Types ofgas fluidization. Powder Technology 7:285–292.

Kamal M. 1998. Nutrisi Ternak I. Rangkuman. Lab. Makanan Ternak, jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan. Yogyakarta (ID): UGM Pr.

(18)

8

Khalil. 1999b. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap sifat fisik pakan lokal: sudut tumpukan, daya ambang dan faktor higroskopis. Med Pet. 22 (1) : 33-42.

Nahrowi. 2014. Bungkil inti sawit hambat bakteri patogen. [internet]. [diunduh 2014 juni 20]. 12. Tersedia pada: http://www.jurnas.com/halaman/12/2014-06-02/302797.

Sinurat AP, Purwadaria T, Pasaribu T, Ketaren P, Hamid H, Emmi, Fredrick E, Udjianto, Haryono. 2009. Proses Pengolahan Bungkil Inti Sawit dan Evaluasi Biologis pada Ayam. Laporan Penelitian. Bogor (ID). Balai Penelitian Ternak. Suadnyana IW. 1998. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap perubahan

fisik pakan lokal sumber protein. [Skripsi]. Bogor (ID). Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Toharmat T, Nursasih E, Nazillah R, Hotimah N, Noerzihad TQ, Sigit NA, Retnani Y. 2006. Sifat fisik pakan kaya serat dan pengaruhnya terhadap konsumsi dan kecernaan nutrien ransum pada kambing. Med Pet. 29 (3): 144-154.

Wahyunto WB. 1989. Pengaruh ekstraksi minyak biji kapas dan ekstruksi campuran tepung biji kapas, kedelai serta beras terhadap nilai gizinya [Thesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Yatno. 2009. Isolasi protein bungkil inti sawit dan kajian nilai biologinya sebagai alternatif bungkil kedelai pada puyuh. [disertasi]. Bogor (ID). Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

(19)

9

LAMPIRAN

Lampiran 1 Bungkil inti sawit setelah digiling

Lampiran 2 Bungkil inti sawit yang terlewat pada saringan 100 mash

(20)

10 pada tahun 2005 yang diselesaikan pada tahun 2008.

Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2008 jalur Undangan Seleksi Masuk

IPB (USMI) dan diterima di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan. Selama menjalani pendidikan akademik di Institut Pertanian Bogor penulis pernah bergabung didalam kepanitiaan, seperti Dekan Cup (2009), dan Fapet

Show Time (FST) (2010). Penulis juga sempat mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-P) yang didanai dikti pada tahun (2012) dengan judul “Penurunan Intesitas Off-Odor Pada Daging Itik Afkir Dengan Pemberian Tepung Daun Beluntas

(Pluchea indica Less.) dan Daun Kenikir (Cosmos caudats Kunth.) Dalam Pakan”.

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.Terima kasih penulis ucapkan kepada bapak Prof Dr Ir Nahrowi, MSc dan Dr Anuraga Jayanegara, SPt, MSc selaku pembimbing skripsi. Ucapkan terima kasih juga kepada bapak Dr. Ir. Asep Sudarman, MRur, Sc dan ibu Ir. Hj. Komariah, MSi selaku penguji sidang pada tanggal 18 Juli 2014. Penulis juga ucapkan kepada ibu Dilla M Fassah, SPt, MSc selaku panitia sidang. Tidak lupa juga penulis ucapkan terimakasih kepada ibu Prof Dr Ir Yuli Retnani, MS selaku penguji seminar dan bapak Dr Anuraga Jayanegara, SPt, MSc selaku panitia seminar pada tanggal 22 Mei 2014. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada staf Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Laboratorium Teknologi Industri Pakan, dan Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga setulus-tulusnya disampaikan kepada ayah dan ibu yang selalu memberikan support selama masa kuliah. Terima kasih banyak kepada seluruh keluarga, serta teman-teman atas segala doa dan kasih sayangnya.

Figur

Tabel 1 Komposisi nutrien bungkil inti sawit
Tabel 1 Komposisi nutrien bungkil inti sawit . View in document p.14
Tabel 3 Kerapatan tumpukan bungkil inti sawit (kg m-3)
Tabel 3 Kerapatan tumpukan bungkil inti sawit kg m 3 . View in document p.16
Tabel 5 Sudut tumpukan bungkil inti sawit (ο)
Tabel 5 Sudut tumpukan bungkil inti sawit . View in document p.16
Tabel 6 Daya ambang bungkil inti sawit (m s-1)
Tabel 6 Daya ambang bungkil inti sawit m s 1 . View in document p.17

Referensi

Memperbarui...