Oleh:
AMINULLAH
NI:tv1:805011001483
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SY ARIF HIDAYATULLAH
(Suatu Studi pada TPA. Al-Wasi' di RW 09
Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara)
SKRIP SI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh:
AMINULLAH
NIM: 805011001483
Dra. Hj. Eri Rossatria, M. Ag.
NIP: 150077513
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SY ARIF HIDAYATULLAH
Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara)" diajukan kepada Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan
dinyatakan telah lulus dalam Ujian Munaqosyah pada tanggal 24 Maret
2008 dihadapan penguji. Karena itu, Penulis berhak memperoleh gelar
Sarjana SI (S.Pd.I) dalam bidang Pendidikan Agama.
Panitia Ujian Munaqosyah
Ketua Jurusan/Progsram Studi
Ora. Hj. Eri Rossatria, M.Ag NIP. 150077531
Penguji I
Drs. H. Elman Sadri NIP. 150203320
Penguji II
Drs. SafiudinShiddig, M.Ag NIP. 150299477
Tanggal
、jヲ⦅セ@
... 1,) ... .
Mengetahui,
Jakarta, 24 Maret 2008
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
"Suatu umat akau abadi dau jaya
bila budi aka! masih ada padanya
Umat itu akau haucur dau biuar;a
bila akhlak dan budi telah tiada"
(Syair oleh Syauqy Bey, Mesir)
"Dan sesungguhuya engkau (Muhammad) berada diatas
budi pekerti yang agung" (Q.S. AI-Qalam/68: 4)
.... ..:;.
Kupersembahkan Skripsi ini untuk Ayah (Alm.) lbuku
yang ku cintai dan kagumi, lstriku tercinta,
kakak-kakakku, keponakan-keponakanku dan adik-adikku di
Majlis Ta'lim Al-Wasi' dan Darush-Shalihin serta
orang-orang yang telah berjasa, yang banyak memberi
Puji syukur Penulis panjalkan kehadiral Allah SWT, yang lelah melimpahkan
rahmal dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapal menyelesaikan skripsi
ini.
Terselesaikannya penelilian ini adalah berkal banluan dan do' a reslu berbagai
pihak. Oleh karena ilu dalam kesempatan ini perkenankanlah Penulis
menghalurkan lerima kasih yang selulus-lulusnya kepada:
I. Prof. Dr. Qomaruddin Hidayal, Reklor Universilas Islam Negeri Syarif
Hidayalullah Jakarta
2. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakullas llmu Tarbiyah dan
Keguruan
3. Ora. Hj. Eri Rossalria, M. Ag., Dosen Pembimbing dan Kelua Jurusan
Program PTTM PAI.
4. Segenap Pimpinan dan Slaf Pengajar Fakullas llmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayalullah yang telah
memberikan llmu pengetahuan dan bimbingan kepada penulis
5. Kepala TPA. Al-Wasi', Para slaf pengajar dan sanlriwan/wali beserta
orang lua santri yang lelah membanlu pelaksanaan penelitian ini
6. Ayahanda (aim.) dan ibunda lercinla yang lelah membesarkan, mendidik
dan memberikan molivasi kepada penulis dengan penuh kesabaran dan
keikhlasan
7. lslri lercinla dan kakak-kakakku yang lelah memberikan molivasi dan
perhalian kepada penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan
8. Rekan-rekan mahasiswa PTTM program guru bidang sludi PAI
9. Sahabal-sahabalku penghuni kosl Wisma Al-Qossam Duri Kosambi,
Cengkareng, Jakarta Baral
10. Rekan-rekan seprofesi di MAN 12 Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta
bantuan yang diberikan.
Jakarta, Januari 2008
Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 10 Januari 1975
NIM : 805011001483
Jurusan/Prodi
Judul Skripsi
Pembimbing
: PAI TARBIYAH
: PERANAN TAMAN PENDIDIKAN
AL-QUR'AN (TPA) TERHADAP AKHLAK SANTRI
(Suatu Studi Pada TPA. Al-Wasi' di RW 09
Kelurahan Sunter Jaya Jakarta Utara)
: I. Ora. Hj. Eri Rossatria, M.Ag
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya
sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis terhadap apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat keabsahan skripsi.
Jakarta, 24 Maret 2008
Mahasiswa Ybs.
Aminnllah (805011001483)
Peranan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA.) Terhadap Akhlak Santri (Suatu Studi pada TPA. Al-Wasi' di RW 09 Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara).
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang peranan TPA terhadap akhlak santri yang tercermin dalam bentuk akhlak yang baik (akhlaq mahmudah) dari santri TPA., yang meliputi akhlak santri dalam hubungannya dengan Allah SWT (Hablum Minal/ah), akhlak santri dalam hubungannya dengan sesama manusia (Hablum Minannaas), dan akhlak santri dalam hubungannya dengan lingkungan.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan 70 orang responden yang diambil secara acak dari TPA. Al-Wasi' di RW 09 Sunter Jaya, Jakarta Utara. Data tentang akhlak santri dikumpulkan dengan menggunakan angket yang diberikan kepada santri bese1ta orang tuanya. Sedang teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa deskriptif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Akhlak santri yang baik (akhlaq mahmudah) meliputi: sering berpuasa Ramadhan, sering berdo'a, tidak pemah berkata kasar atau sejenisnya kepada guru, tidak pernah mengambil hak milik orang lain, bila mendapatkan pertolongan atau bantuan selalu mengucapkan terima kasih, suka membantu/menolong orang, jika masuk ke rumah atau bertamu selalu mengucapkan salam, jika hendak berpergian atau keluar rumah selalu minta izin atau memberitahu, tidak pernah berperilaku yang tidak baik di tempat mengaji dan di sekolah, tidak pernah merusak tanaman, tidak pernah menganiaya hewan dan tidak pernah menyisakan makanan dan minuman dengan sengaja tanpa alasan.
LEMBAR JUD UL
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... .i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii
MOTTO ... iii
UCAPANTERIMAKASIH ... iv
SURAT PERNYATAAN ... vi
ABSTRAKSI ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GRAFIK ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... I B. ldentifikasi Masalah ... .4
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Perumusan Masalah ... 5
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA BERFIKIR A. Kajian Teoritis ... 7
I. Taman Pendidikan Al-Qur'an ... 7
2. Akhlak ... 17
3. Santri ... 25
4. Peranan TPA Terhadap Akhlak ... 26
.B. Kerangka Berfikir ... , ... , ... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan waktu Penelitian ... 30
G. Prosedur Pengumpulan Data ... 34
H. Teknik Analisa Data ... .34
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 36
I. Sejarah dan Kondisi Tempat Penelitian ... 36
2. Keadaan Santri dan Guru TPA. Al-Wasi' ... 38
B. Deskripsi Hasil Penelitian ... .40
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 69
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 73
B. Saran-saran ... 74
DAFTAR PUSTAKA ... 75
Tabel 2. Kisi-kisi lnstrumen Orang Tua Santri. ... 32
Tabel 3. Prestasi Santri TPA. Al-Wasi' ... 39
Tabel 4. Akhlak Terhadap Allah SWT
(Diperoleh dari Angket Santri) ... .42
Tabel 5. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
(Diperoleh dari Angket Santri) ... .44
Tabel 6. Akhlak Terhadap Lingkungan
(Diperoleh dari Angket Santri) ... 49
Tabel 7. Akhlak Terhadap Allah SWT
(Diperoleh dari Angket Orang Tua Santri) ... 53
Tabel 8. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
(Diperoleh dari Angket Orang Tua Santri) ... 57
Tabel 9. Akhlak Terhadap Lingkungan
[image:11.518.51.419.91.500.2]Garn bar Grafik Tentang Akhlak Santri Terhadap Allah SWT ... .42
Gambar 2. Grafik Tentang Akhlak Santri Terhadap Sesama Manusia ... .48
Gambar 3. Grafik Tentang Akhlak Santri Terhadap Lingkungan ... 52
Garn bar 4. Grafik Tentang Akhlak Santri Terhadap Allah SWT
(Berdasarkan Penilaian Orang Tua Santri) ... 56
Gambar 5. Grafilc Tentang Akhlak Santri Terhadap Sesama inanusia
(Berdasarkan Penilaian Orang Tua Santri) ... 64
Gambar 6. Grafilc Tentang Akhlak Santri Terhadap Lingkungan
[image:12.518.43.420.92.501.2]Lampiran 2. Hasil Wawancara ... 78
Lampiran 3. Angket Penelitian Untuk Santri ... 80
Lampiran 4. Angket Penelitian Untuk Orang Tua Santri. ... 83
Lampiran 5. Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ... 87
A. Latar Belakang Masalah
Saal ini bangsa Indonesia sedang melaksanakan pembangunan dalam
berbagai bidang. Dalam pelaksanaan pembangunan tersebut kita sering
mendengar, membaca bahkan ikut berbicara tentang Pembangunan Kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM), karena manusia yang berkualitaslah yang mampu
melaksanakan program pembangunan dan itu pula yang menjadi tujuan
pembangunan, yang sering kita sebut "Manusia Seutuhnya".
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun
2003) Pasal 3 dirumuskan Tujuan Pendidikan Nasional dalam rangka membangun
sumber daya manusia seutuhnya sebagai berikut:
Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 1
1
Kalima! tersebut di atas memberikan gambaran tentang sosok manusia Indonesia
yang berkualitas dan menjadi cita-dta pembangunan kita, yaitu bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai harkat, cerdas dan mandiri. Dalam bahasa
yang akrab di telinga kita, manusia seperti itu dikatakan manusia yang berakhlak.
Dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia dan membangun manusia
Indonesia seutuhnya, kita memerlukan manusia yang berakhlak. Namun sangat
disayangkan, bersamaan dengan kampanye meni)1gkatkan sumber daya manusia
dan upaya pembangunan manusia seutuhnya itu, kita justru menyaksikan gejala
bahkan sudah menjadi wabah daripada krisis akhlak, bukan saja terjadi pada para
pemimpin bahkan terjadi juga di kalangan generasi muda khususnya remaja. Hal
tersebut tentulah sangat memprihatikan, mengingat remaja merupakan generasi
penerus perjuangan bangsa, ditangannyalah masa depan bangsa ditentukan.
Umat manusia saat ini, termasuk bangsa Indonesia sedang mengalami
pergeseran nilai dan krisis akhlak, seperti yang terjadi di kalangan generasi muda
terutama yang tinggal di kota-kota besar. Rasa malu, hormat, cinta kasih sedikit
demi sedikit mulai hilang dari dalam diri kita, halal dan haram menjadi kabur.
Bila hal ini tidak diantisipasi sejak dini, maka bagaimana nasib bangsa ini di masa
yang akan datang.
Krisis akhlak dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana masyarakat lebih
cenderung melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya
sehingga keadaan masyarakat menjadi kacau balau, tidak tenteram dan pada
gilirannya menghancurkan masa depan masyarakat yang bersangkutan.
Masyarakat yang demikian ditandai oleh kebiasaan berbuat maksiat seperti
pelacuran, perjudian, meminum minuman keras, bertengkar, mencuri, menipu,
menindas, memfitnah dan sebagainya. Masyarakat yang demikian jauh dari
tuntunan agama dan tidak mengamalkannya.
Terjadinya krisis tersebut dapat disebabkan karena faktor dari dalam dan
faktor dari luar. Faktor dari dalam dapat berupa kecenderungan yang negatif
seperti sikap melampaui batas, melanggar, dzalim, takabbur, keluh kesah, bakhil
dan bodoh. Kecenderungan yang demikian menyebabkan ia berbuat yang tidak
bertentangan dengan ajaran agama, seperti paham hedonisme, materialisme,
naturalisme, pragmatisme dan utilitarisme. Paham-paham tersebut mengambil
bentuk dalam wujud produk kebudayaan seperti bahan bacaan, bahan tontonan,
makanan, minuman, pakaian , hiburan, sarana rekreasi, dan lain sebagainya.
Keadaan tersebut semakin dikembangkan karena didukung oleh orang orang yang
secara sengaja mengambil keuntungan.2
Novel Ali dalam artikelnya menyatakan:
Jika kita amati kuantitas dan kualitas dekadensi moral (baca: akhlak) di kalangan generasi muda di negara ini, tidaklah berlebihan jika dikaitkan dengan rendahnya kuantitas pendidikan dan pengajaran agama para pelakunya, yang dilakukan sejak usia dini mereka. Pendidikan dan pengajaran agama sejak awal perkembangan kepribadian manusia akan memudahkan kemantapan identitas kemanusiaan yang bersangkutan. Landasan agama merupakan pra syarat mutlak untuk aktualisasi (pemantapan) disiplin yang dipelajari manusia, yang lebih terhindar dari peluan5 pengaruh negatif, dibandingkan dengan yang tidak dilandasi oleh agama.
Untuk mengatasi akhlak yang demikian itu dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu:
l. Cara terpadu (integrated), yaitu cara pembinaan akhlak yang dipadukan dengan pengamalan ajaran agama, seperti melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji
yang di dalamnya mengandung nilai- nilai pembinaan akhlak termasuk pula di
dalamnya melalui pembinaan lingkungan yang bemuansa religius.
2. Cara terpisah, yaitu cara pembinaan akhlak yang dilakukan secara khusus
misalnya melalui pengajaran mata pelajaran akhlak, ceramah tentang akhlak,
pendidikan budi pekerti, pemberian teladan dan lain sebagainya.4
2
Abuddin Nata, Prob/ernatika Pendidikan Aga111a, (Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam dan Universitas Terbuka,1997), h. 250-256
3
Novel Ali,'" AkhlakDari Hali ke Hali'", Panji Masyarakat, 789 (Januari, 1994), h. 5 'Nata, Problematika .. .,h. 258-261
Cara-<:ara tersebut dilakukan atas dasar asumsi, bahwa akhlak dapat dibina secara
terpadu atau konvergensi, yaitu cara yang memadukan antara unsur bawaan dari
luar secara bersama-sama dan dapat dilakukan sejak dini, yaitu dengan
memasukkan anak ke Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA).
Dewasa ini keberadaan TPA semakin berkembang dalam lingkungan
masyarakat baik secara kuantitas maupun kualitas. TPA bukan sekedar tempat
mengaji sen:;'ata, melainkan juga sebagai suatu wadah untuk mengembangkan
kepribadian yang lslami, yaitu kepribadian anak (santri TPA) yang berlandaskan
Al-Qur'an dan As-Sunnah sehingga terbentuklah akhlak santri yang terpuji.5 Hal
ini sesuai dengan salah satu tujuan yang hendak dicapai oleh TPA. Dengan
keberadaan TPA tersebut, maka menarik minat peneliti untuk mengetahui apakah
ada peranan TP A terhadap pembentukan akhlak santri.
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka terdapat masalah-masalah yang
kemudian timbul dan memerlukan pengkajian lebih lanjut. Masalah-masalah
tersebut antara lain:
I. Bagaimar.akah sikap santri terhadap keberadaan TP A
2. Bagaimana peranan pendidikan dan pengajaran yang diperoleh pada TPA
terhadap pembentukan akhlak peserta didiknya (santriawan/wati TPA)
3. Bagaimana perilaku (akhlak) anak sesudah masuk TPA
4. Apakah santri TPA cenderung berakhlak baik
5
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, tidak semuanya dibahas melalui penelitian
ini. Untuk memungkinkan pengelolaan penelitian dengan baik, maka peneliti
membatasi permasalahan hanya berkisar pada akhlak yang baik (akhlaq mahmudah) dari santri TP A yang meliputi akhlak santri dalam hubungannya dengan Allah SWT (Hablum Minallah), akhlak santri dalam hubungannya dengan sesama manusia (Hablum Minannaas) dan akhlak santri dalam hu\fungannya dengan lingkungan.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah yang diteliti
dirumuskan sebagai berikut:
"Bagaimana peranan TPA terhadap akhlak santri TPA. Al-Wasi' di RW 09
Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara?"
E. Tnjuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini disamping untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana
strata satu (S-l)juga bertujuan untuk memperoleh informasi tentang peranan TPA
terhadap pembentukan akhlak santri yang tercermin dalam bentuk akhlak yang
baik (akhlaq mahmudah) dari santri TPA yang meliputi akhlak santri dalam hubungannya dengan Allah SWT (Hablum Minallah), akhlak santri dalam hubungannya dengan sesama manusia (Hablum Minannaas) dan akhlak santri dalam hubungannya dengan lingkungan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan untuk:
I. Fakultas (Akademis), yaitu:
a) Tersedianya data-data yang dapat dijadikan bahan acuan sebagai bahan
masukan bagi tenaga kependidikan.
b) Penelitian lanjutan di jurusan PAI dan jurusan lain pada umumnya.
2. TPA. Al-Wasi', yaitu:
b) Orang tua santri, agar meningkatkan peranan dan kerja samanya dengan
A. Kajian Teoritis
1. Taman Pendidikan Al-Qnr'an {TPA)
TPA merupakan salah satu bentuk pendidikan luar sekolah yang
berkembang seiring ditemukannya metode lqra' dan dapat diklasifikasikan ke
dalam jenis pendidikan keagamaan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 73/1991, tentang jenis Pendidikan Luar Sekolah, yang
berbunyi "pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan
warga negara untuk menjalankan peranan yang menuntut penguasaan khusus
tentang ajaran agama yang bersangkutan".1 Tentang Pendidikan Islam menurut
M. Arifin adalah "pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang
untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam serta nilai-nilai Islam
1
Peraturan RI No. 7311991, Tentang Pendidikan Luar Sekolah
dapat menjiwai dan mewarnai corak kehidupannya".2 Dengan pendidikan Islam
ini, diharapkan dapat menuntun anak didik atau santri dalam kehidupannya dan
menjadikan mereka pemimpin bagi dirinya maupun orang lain.
Pengertian "Taman", baik pada TKA maupun TPA adalah sebuah tempat
yang indah dan nyaman. Selain itu pilihan istilah Taman adalah mengacu pada
asas psikologis/psiko-sosial karena taman merupakan tempat yang kondusif untuk
bermain.3 Oleh karena itu proses belajar dan mengajar pada TKA maupun TPA
harus mampu mencerminkan iklim yang nyaman dan menyenangkan.4 Sedangkan
pengertian TPA adalah "Lembaga pendidikan dan pengajaran Islam untuk anak
usia SD (7-12 tahun), yang menjadikan santri mampu membaca Al-Qur'an
dengan benar sesuai dengan target pokoknya".5 TPA dapat pula didefinisikan
sebagai "pendidikan non formal (luar sekolah), yakni sebagai pemantap misi
pendidikan keagamaan (Islam) di TK/SD/MI yang porsinya dipandang kurang".6
Sesuai dengan tujuan dan target pokoknya, maka materi pelajarannya
dibedakan menjadi 3 macam, yaitu materi pokok (utama) dan materi penunjang
(tambahan) serta muatan lokal. Yang dimaksud dengan materi pokok ialah, materi
yang harus dikuasai benar oleh setiap santri dan dijadikan sebagai alat ukur untuk
menentukan lulus tidaknya seorang santri. Oleh karena itu kemampuan membaca
Iqra' dan Al-Qur'an dengan benar merupakan target pokok yang harus dimiliki
oleh setiap santri, maka pada saat pelaksanaan ujian akhir, kemampuan membaca
lqra' dan Al-Qur'an dijadikan materi utama, sedangkan materi-materi yang lain
sebagai penunjang. Adapun muatan lokal disesuaikan dengan kondisi dan potensi
yang dimiliki oleh TPA tersebut.
2M. Ari fin, Pendidikan !sla1n, Suatu Tinjauan Tteoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
linterdisip/iner, (Jakarta: Bina Aksara, 1991), h.10
3
U. Syamsuddin MZ, el. al., Panduan Kurikulum dan Pengajaran TK-TP. Al-Qur'an
(Jakarta: LPPTKA BKPRMI Pusat, 2004), hal. 20 4
M. Ch. Mu'min, Petunjuk Praktis Menge/ala TK Al- Qur'an, (Jakarta: Fikahati Aneska,
1991), h. 46
5
As'ad Hu1nam, et. al., Pedon1an Pengelolaan, Pe111binaan dan Pengernbangan TKA-TPA.
Nasional, (Yogyakarta: LPTQN, 1991), h. 11
6
Materi pokok dan materi penunjang itu harus diikuti oleh para santri. Karena
antara materi yang satu dengan yang lain saling menunjang dan saling melengkapi
satu dengan yang lainnya agar tercapainya tujuan dari lembaga tersebut. Untuk
lebih memperjelas isi dari materi pokok dan penunjang, berikut ini akan
diterangkan kedua materi tersebut berdasarkan kelompok, yaitu Paket A (Paket
Iqra') dan Paket B (Paket Al-Qur'an) sebagai berikut:
I. Paket A (Pakct Iqra')
a. Materi Pokok, meliputi: bacaan Iqra', hafalan bacaan shalat, hafalan surat pendek, dan panduan praktik shalat.
b. Materi Penunjang, meliputi: do'a dan adab harian, tahsinul kitabah c. Muatan lokal, meliputi materi tambahan yang sifatnya alternatif sesuai
dengan kondisi dan potensi yang memungkinkan untuk dapat diselenggarakan di lingkungan TP. Al-Qur'an yang bersangkutan. 2. Paket B (Paket Al-Qur'an)
a. Materi Pokok, meliputi: tadarrus Al-Qur'an, hafalan bacaan shalat, hafalan ayat pilihan, Amalan ibadah shalat, dan panduan Ilmu Tajwid. b. Materi Penunjang, meliputi: do'a dan adab harian, tahsinul kitabah,
dinul Islam.
c. Muatan lokal, meliputi materi tambahan yang sifatnya altematif sesuai dengan kondisi dan potensi yang memungkinkan untuk dapat diselenggarakan di lingkungan TP. Al-Qur'an yang bersangkutan.7
Tiap-tiap materi dari masing-masing paket memiliki Tujuan Pembelajaran
Umum sebagai berikut:
I. Tujuan Pembelajaran Paket A (Paket lqra') a. Materi Pokok, santri diharapkan agar:
-Mampu mengenal dan membaca huruf serta kalimat dan potongan-potongan ayat Al-Qur' an melalui panduan buku Iqra'.
-Hafal bacaan shalat lima waktu dan mampu mempraktekkan tata cara pelaksanaannya dengan baik.
-Hafal sejumlah surat pendek, sesuai dengan target yang telah ditentukan.
b. Materi Penunjang, santri diharapkan:
-Mampu menguasai seluruh hafalan do'a harian yang dipaketkan -Mampu membiasakan sikap dan adab yang baik
-Memiliki keterampilan menulis huruf Arab dengan benar
-Memiliki keterampilan dasar lainnya, sesuai pilihan muatan lokal yang telah ditentukan.
7
2. Tujuan Pembelajaran Umum Paket B (Paket Al-Qur'an) a. Materi Pokok, santri diharapkan:
-Mampu menyelesaikan program tadarrus Al-Qur'an sekurang-kurangnya 20 juz dengan bacaan yang baik dan benar.
-Mampu memahami pokok-pokok Ilmu Tajwid.
-Mampu menghafal dan memahami ayat pilihan yang dipaketkan. -Mampu mengembangkan kedisiplinan dalam mengerjakan shalat lima
waktu dengan sebaik-baiknya.
b. Materi Penunjang, santri diharapkan: ,
-Mampu memahami pokok-pokok ajaran dinul Islam.
-Mampu mengamalkan dalam bentuk kebiasaan beramal shaleh serta akhlak yang baik.
-Mampu mengembangkan keterampilan menulis huruf Arab dengan baik dan benar.
-Memiliki keterampilan dasar lainnya, sesuai pilihan muatan lokal yang telah ditentukan.8
Sebagai sebuah lembaga pendidikan non formal TPA memiliki visi yaitu
menyiapkan generasi Qur'ani menyongsong masa depan gemilang. Generasi
Qur'ani ialah generasi yang beriman dan bertakwa, yang menjadikan Al-Qur'an
sebagai bacaan utama dan pedoman hidupnya, berakhlak mulia, cerdas,
terampil,sehat, punya rasa tanggung jawab moral dan sosial, demi masa depan
gemilang yang mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Qur'an dalam pentas
kehidupan kekinian, dalam rangka mengemban misi "rahmatan lil 'a/amin", di
tengah-tengah gemuruhnya kemajuan teknologi modem. Selain itu TPA pun
memiliki misi sebagai berikut:
a. Misi Dwi Tunggal, yaitu misi pendidikan dan misi dakwah Islamiyah. Sebagai
misi pendidikan, TPA tampil berdampingan dengan pendidikan formal, yaitu
pendidikan SD/MI yang segala sesuatunya diatur berdasarkan kebijaksanaan
pemerintah. Sedangkan dalam misi dakwah, TPA erat hubungannya dengan
lembaga-lembaga kemasjidan dan lembaga-lembaga dakwah pada umumnya.
8
b. Melalui misi TPA tersebut terkandung hal-hal strategis yang dapat dicapai,
antara lain:
Pettama, guru-gurunya dapat direkrut dari kalangan guru-guru formal yang
berlatar belakang keguruan sekolah (guru SD/MI/Mts/SMU/MA) dan
guru-guru mengaji yang dikenal sebagai ustadzlustadzahlmuballigh (umumnya berlatar belakang kepesantrenan).
Kedua, pembauran keguruan yakni guru-guru yang berlatar belakang
pendidikan kampus dan pesantren menyatu dalam panji-panji kemasjidan.
Ketiga, keberadaan TPA di masjid-masjid/mushalla atau tempat-tempat yang
berdekatan dengan masjid/mushalla dapat menggugah kesadaran warga untuk
memakmurkan dan mengembangkan fungsi masjid sebagaimana mestinya.
Keempat, keberhasilan pencapaian kurikulum TPA akan membawa pengaruh
positifbagi lingkungan keluarga santri.
c. Dengan misi dan strategi di atas, misi TPA sekaligus menopang misi
pembangunan bangsa, yaitu dalam rangka menyiapkan generasi bangsa yang
siap melanjutkan estafet pembangunan bangsa.9
Pendirian lembaga pendidikan berupa TPA bertujuan untuk memberikan
bekal dasar bagi santri agar mampu membaca Al-Qur' an dengan baik dan benar
sesuai dengan kaidah Ilmu Tajwid, walaupun Ilmu Tajwid itu sendiri tidak
diajarkan secara mendalam di TPA. Selain itu pendidikan di TPA diharapkan
mampu membentuk generasi muda Islam yang mencintai Al-Qur'an dan
menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan dan pandangan hidupnya sehari-hari. Pada
akhirnya tujuan TPA ini membentuk generasi-generasi pembangunan yang sehat
jasmani dan rohani, sehingga dapat beraktivitas dengan "sehat" dalam
pembangunan serta tujuan utama TPA ini yaitu pemberantasan buta huruf
Al-Qur'an dapat terlaksana dengan baik. Hal ini sesuai dengan target yang hendak
dicapai dalam pendirian sebuah TPA yaitu:
9
U. Syamsuddin MZ, et. al., Panduan .. ., hal. 9-12
I. Pengetahuan, yaitu: tentang Al-Qur' an yang meliputi isi kandungan dan fungsinya.
2. Keterampilan, meliputi: baca tartil, hafal surat-surat pendek, hafal bacaan shalat, dan sebagainya.
3. Sikap atau tindakan, yaitu: bagaimana adab terhadap Al-Qur'an dan bagaimana merealisasikan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.10
Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran TPA, yaitu:
I. Tujuan Pendidikan
a. Membantu mengembangkan potensi anak ke arah pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan keagamaan, melalui pendekatan yang disesuaikan dengan lingkungan dan taraf perkembangan anak, berdasarkan tuntutan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.
b. Mempersiapkan anak agar mampu mengembangkan sikap,pengetahuan, dan keterampilan keagamaan yang telah dimilikinya melalui program pendidikan lanjutannya.
2. Tujuan Pengajaran
a. Santri dapat mengagumi dan mencintai Al-Qur'an sebagai bacaan istimewa dan pedoman utama.
b. Santri dapat terbiasa membaca Al-Qur'an dengan lancar dan fasih serta memahami hukum-hukum bacaannya berdasarkan kaidah Ilmu Tajwid.
c. Santri dapat mengerjakan shalat lima waktu dengan cara yang benar dan menyadarinya sebagai kewajiban sehari-hari.
d. Santri dapat mengembangkan perilaku sosial yang baik sesuai tuntunan Islam dan pengalaman pendidikannya.
e. Santri dapat menulis huruf Arab dengan baik dan benar.11
Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai macam metode pengajaran
diterapkan. Tentunya metode yang digunakan dengan memperhatikan tingkat
perkembangan anak yang masih dini, yaitu usia 7-12 tahun. Penerapan metode
pengajaran itu pun harus dilandasi prinsip "bermain sambil belajar" atau "belajar
sambil bermain". Dalam penerapannya pun harus disertai kiat-kiat khusus
berdasarkan pengalaman dan pengamatan guru yang bersangkutan. Salah satu
kemungkinannya adalah dengan cara memadukan sejumlah metode dalam satu
10Mu'kmin, Petunjuk ... , h.69 11
kali pertemuan atau divariasi dengan pendekatan seni tersendiri, yaitu seni
bermain, bercerita, dan menyanyi (BBM). Sejumlah metode yang dapat
diterapkan dalam KBM di TPA, adalah: metode ceramah, tanya jawab,
demonstrasi, latihan/drill, pemberian tugas, sosiodrama, kerja kelompok, dan
karya wisata. 12
TPA sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan
perkembangan zaman serta kebiasaan yang berlaku tentunya haruslan memiliki
kurikulum. Adanya kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan adalah mutlak.
Dan kurikulum terebut disusun sesuai dengan acuan serta arah dan tujuan yang
mau dicapainya.
Dalam hubungan ini, penyusunan kurikulum TP A adalah mengacu pada
asas-asas sebagai berikut:
1. Asas agamis
a.Islam, adalah agama dan tatanan hidup yang bersifat universal, berlaku dan
patut diberlakukan sepanjang hayat termasuk dalam kehidupan anak-anak.
b. Al-Qur'an sebagai rujukan utama tiap pribadi muslim adalah wajib dibaca,
dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pendidikan anak, pengajaran baca dan tulis Al-Qur'an dan shalat adalah
bagian dari kewajiban orang tua yang harus dibudidayakan sejak dini di
lingkungan keluarganya.
d. Agama pun mengajarkan bahwa tingginya kualitas dan derajat manusia
terletak pada iman dan ilmu yang dimilikinya.
2. Asas Filosofis
a.Pancasila, adalah falsafah hidup bangsa yang mengandung nilai-nilai dasar
yang tidak bertentangan ( dan tidak untuk dipertentangkan) dengan Islam yang
bersifat universal.
b.Ketuhanan Yang Maha Esa, menghendaki agar warganya beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
12
c. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah identik dengan prinsip Tauhid,"Laa Ilaaha Illallah" (tiada Tuhan selain Allah)
d. Iman dan takwa terhadap Allah mempunyai konsekuensi kewajiban untuk
berpegang teguh kepada Al-Qur'an.
2. Asas Sosio-kultural
a. Mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam.
b. Pemerintah memandang penting adanya upaya peningkatan kemampuan baca
tulis huruf Al-Qur'an bagi ummat Islam, dalam rangka peningkatan
penghayatan dan pengamalan Al-Qur'an dalm kehidupan sehari-hari.
c. Keberadaan TPA ke seluruh penjuru tanah air, menunjukkan adanya
sambutan dan dukungan yang cukup kuat dari pihak masyarakat.
3. Asas Psikologis
a.Taraf perkembangan jiwa anak usia 7-12 tahun atau usia kelompok SD/Ml,
secara psikologis cukup kondusif untuk menerima bimbingan membaca dan
menghafal Al-Qur'an, serta penanaman nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya.
b.Faktor psikologis orang tua dan masyarakat (psiko-sosial) menjadi
pertimbangan tersendiri dalam penyusunan kurikulum ini, yaitu:
Pertama, pihak orang tua pada dasarnya membutuhkan tuntunan keagamaan
bagi anak-anaknya.
Kedua, kalangan orang tua dan masyarakat masih terselimuti oleh citra
tradisional yang memandang bahwa nilai guru mengaji itu murah dan kurang
bergengsi.
c. TPA tampil di tengah-tengah masyarakat sebagai model pengajian anak-anak
dengan pengelolaan dan kemasan-kemasan yang modern.13
13
Dalam pengembangan dan penerapannya kurikulum TPA menerapkan
beberapa asas sebagai pegangan bagi para guru yang bertugas sehari-hari, yaitu:
I. Asas orientasi dan konsistensi pada tujuan
a.Keharusan orientasi pada tujuan serta konsisten dalam mencapainya.
b.Tujuan yang digariskan dalam kurikulum TPA secara struktural bertitik tolak
dari Tujuan yang sifatnya global (garis besar) yaitu Tujuan Pendidikan
Nasional, lalu diciutkan ke tingkat Tujuan Kelembagaan/Institusional,
Tujuan Pembelajaran Umum (TPU).
2. Asas Kesinambungan (kontinuitas)
a.Program pengajaran dalm TPA disusun dalam bentuk paket.
b.Kesinambungan adalah suatu proses berkelanjutan dan satu tahap
pencapaian, pengalaman belajar ke tahap berikutnya, baik secara klasikal
maupun secara individu yang dipandu oleh guru secara intensif.
3. Asas Keterpaduan (Integritas)
a. Asas keterpaduan ini menyangkut dua ha!, yaitu :
Pertama, keterpaduan dalam penyelenggaraan kependidikan dan pengajaran
anak, yaitu keterpaduan antar kegiatan di sekolah, di rumah, di lingkungan
masyarakat.
Kedua, keterpaduan dalam upaya mencapai tiga aspek pendidikan dalam
individu anak, yaitu keterpaduan antara aspek pengetahuan (kognitif), aspek
sikap (afektif), dan aspek keterampilan (psikomotor)
b.Untuk mewujudkan keterpaduan di antara tiga lingkungan pendidikan
(pendidikan di sekolah, rumah, dan masyarakat) harus dikondisikan dengan
cara menjalin hubungan kerja sama yang baik diantara figur-figur yang
berperan di dalamnya.
4. Asas Keluwesan (Fleksibilitas)
a. Asas keluwesan ini memungkinkan adanya pengurangan, penambahan atau
penyesuaian tertentu dari apa yang tersurat dalam kurikulum mengingat
b. Tiap guru harus memahami keseluruhan kurikulum yang berlaku dan
menyesuaikannya dengan tingkat perkembangan yang ia hadapi di
lingkungan unit kerjanya.
5. Asas Efisiensi dan Efektivitas
a. Seluruh program kegiatan belajar diharapkan dapat berjalan dengan tertib
dan berhasil guna (efektif) dengan keberhasilan yang bermutu.
b. Asas efisiensi dan efektivitas hendaklah diterapkan dalam mengupayakan
dan memanfaatkan alat-alat bantu yang relatif murah, sederhana, namun
cukup efektif dalam menunjang metode pengajaran yang sesuai.14
Dengan dasar seperti disebutkan dalam berbagai pembahasan di atas maka
diharapkan TPA dapat mendukung usaha pemerintah dalam menuju tercapainya
tujuan pendidikan nasional khususnya dalam sisi pengembangan iman dan takwa
(imtak) dan budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah) serta pengentasan buta aksara dan buta Al-Qur'an. Dengan demikian TPA merupakan sebagai suatu
sarana pendidikan yang akan dapat membantu terciptanya pribadi yang
menjunjung tinggi akhlak (budi pekerti) dengan melahirkan Generasi Qur'ani,
yaitu yang mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Qur'an dalam pentas
kehidupan kekinian dalam rangka mengemban misi "rahmatan Iii 'alamin" di tengah-tengah era globalisasi dan gemuruhnya kemajuan teknologi modern akan
menjadi kenyataan.
14
2. Akhlak
Pada awal penulisan, penelitian terlebih dahulu menjelaskan konsep akhlak:
Akhlak dalam pengertian sehari-hari diterjemahkan dengan budi pekerti, tata krama dan sopan santun. Atau dalam bahasa yang lebih umum dikenal dengan moral dan etika. Namun istilah-istilah tersebut terbatas antar hubungan manusia belaka melainkan セ。ョァ@ utama dari akhlak adalah hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. 5
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluqun dan khilqun, yang berarti budi pekerti, perangai atau tabiat. Digunakan kata akhlak yang seakar dengan
khalaqa atau khaliqun, untuk melambangbahasakan budi pekerti tersebut, karena perilaku-perilaku yang baik yang ditampilkan manusia itu merupakan hasil
rekayasa konsepsional dari manusianya sendiri, sebagai hasil interaksi antar unsur
-unsur ajaran dengan perkembangan kehidupan sosial, bahkan para ulama salaf
berharap agar perilaku manusia itu meniru sifat-sifat Tuhan sebagai khaliqnya.16
Kata akhlak merupakan salah satu perbendaharaan bahasa Indonesia yang
diambil dari bahasa Arab. Menurut Ja'cub, kata akhlak merupakan bentukjamak
dari nnifrat khuluqun atau khilqun, yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Digunakan kata akhlak untuk pengertian budi pekerti, dan seakar
dengan kata akhlaqun yang berarti kejadian, karena merupakan manifestasi dari konsep-konsep yang terbentuk sebagai hasil interaksi antara doktrin-<loktrin
ajaran yang telah dimiliki seseorang, dengan lingkup sosial yang dihadapainya.
Kemudian menurut Barmawy Umary penggunaan kata akhlak seakar dengan kata
khaliq pencipta, dimaksudkan agar terjadi hukum terhadap makhluk dengan
khaliqnya, dan antara makhluk yang lainnya.17
15
Ali, "Akhlak ... , h.14
16Dede Rosyada, et. al., Agama Islam, (Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka ,1997), h. 248
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai "budi
pekerti a tau kelakuan" .18 Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang biasa
berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama. Kata "Akhlak" walaupun
terambil dari bahasa Arab, namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam
Al-Qur'an. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu "khuluq"
yang tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai
sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.
"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di alas budi pekerti yang agung" (Q.S. Al-Qalam/68: 4 )
Kata "Akhlak" banyak ditemukan di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW,
dan salah satunya yang paling populer adalah:
LC\
•
"Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia ". (HR. Malik)
Sedangkan Al-Ghazali memberi definisi akhlak yaitu "Hal ikhwal yang melekat
dalam jiwa, daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa dipikir
dan diteliti".19
Definisi-definisi akhlak tersebut secara substansial nampak saling
melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam
perbuatan akhlak, yaitu:
18
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kan1us Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), Cet. Ill, h. 20
I. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang tertanam kuat dalam j iwa seseorang,
sehingga telah menjadi bagian dari kepribadiannya.
2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Hal ini bukan berarti bahwa pada
saat melakukan perbuatan tersebut yang bersangkutan dalam keadaan
tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Pada saat yang bersangkutan
'
melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat aka! pikirannya.
3. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang
mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak
adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan
yang bersangkutan.
4. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya,
bukan main-main atau sandiwara.
5. Perbuatan akhlak khususnya akhlak yang baik adalah perbuatan yang
dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji
orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pamrih.20
Dalam ajaran agama akhlak tidak dapat disamakan dengan etika karena etika
dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan
tingkah laku manusia yang bersifat lahiriah. Sedangkan akhlak lebih luas
maknanya karena selain berkaitan dengan tingkah laku manusia yang bersifat
lahiriah juga berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak mencakup 3
aspek yaitu:
a. Akhlak terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan terhadap Allah, yaitu bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan apa yang disampaikan oleh utusan-Nya serta dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
b. Akhlak terhadap sesama manusia
Titik tolak akhlak terhadap sesama manusia adalah perlakuan terhadap sesama sesuai syariat agama.
c. Akhlak terhadap Lingkungan
Yang dimaksud Iingkungan disini adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun
benda-benda talc bernyawa.21
Berkaitan dengan pengertian akhlak tersebut, maka akhlak terbagi 2, yaitu:
I. Akhlak yang baik (mahmudah), yaitu apabila perbuatan-perbuatan itu dipandang baik atau mulia oleh aka! dan ajaran Islam.
2. Akhlak yang buruk (madzmumah), yaitu apabila perbuatan-perbuatan itu dipandang buruk oleh aka! dan ajaran lslam.22
Dalam ajaran Islam akhlak yang baik terbagi:
I. Akhlak terhadap Allah SWT 2. Akhlak terhadap Rasul
3. Akhlak terhadap sesama manusia (ibu dan bapak, orang yang lebih tua, lebih muda, sebaya, saudara kita, guru dan lain-Iain)
4. Akhlak terhadap diri sendiri
5. Akhlak terhadap lingkungan hidup.23
Baik buruknya akhlak seseorang, menjadi salah satu syarat sempurna atau
tidaknya keimanan seseorang tersebut. Karena seseorang dikatakan sempurna
imannya kalau sudah berakhlak baik sekaligus martabat dan kehormatan manusia
itu akan dapat ditegakkan. Contoh-contoh dari akhlak yang baik itu diantaranya:
I. Cinta kepada Allah SWT 2. Taqwa kepada Allah SWT
3. Mengharapkan keridhaan dari Allah SWT 4. Ikhlas karena Allah SWT
5. Patuh dan taat kepada Rasul 6. Punya rasa malu
7. Berbakti kepada orang tua 8. Hormat kepada guru 9. Menepatijanji. 24
21
M.Quraish shihab, Wmvasan Al-Qur 'an: Ta/sir Maudhu 'i Alas Perbagai Persoa/an Umn1at
(Jakarta: Mizan, 1996), h. 261
22
Chaerul lmam,et.al., Aqidah Akhlak (Kudus: Menara Kudus, 1990), h. 167 23
Imam, et. al., Aqidah ... , h.169 . .-.;;,·
24
3. Akhlak juga dipentingkan dalam ajaran Islam, oleh karena inti utama ajaran
Islam adalah membina umat manusia agar sempuma akhlaknya. Dalam suatu
hadisnya yang populer beliau menyatakan bahwasanya Aku diutus ke muka
bumi ini adalah untuk menyempurnakan akh/ak yang mulia (H.R. Ahmad).
Peranan Rasullah SAW yang demikian itu dibarengi dengan sikap dan tutur
katanya yang menjadi contoh tauladan bagi seluruh umat manusia, dan hal ini
diakui sendiri oleh Allah SWT dalam Qur'an Surat Al-Ahzab/33 ay1t 21
seperti berikut ini:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tau/adan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah"
4. Akhlak yang mulia juga terasa penting, karena kemulian akhlak ini ada
kaitannya dengan kelangsungan hidup suatu bangsa. Jika akhlak yang baik,
maka bangsa tersebut akan tetap eksis secara fungsional di tengah-tengah
masyarakat, sebaliknya apabila akhlaknya rusak maka bangsa tersebut dengan
sendirinya akan hancur.
5. Secara historis munculnya ajaran akhlak yang terintegrasi ke dalam ajaran
tasawuf berkaitan dengan ketimpangan akhlak masyarakat. Pada masa
itu kejayaaan Islam telah menawarkan berbagai kenikmatan yang mengarah
pada pola hidup glamour, foya-foya dan lupa terhadap akhlak mulia. Dalam
keadaan demikianlah para ulama bangkit melakukan gerakan moral dan prates
spiritual yang termanifestasikan dalam ajaran akhlak tasawuf. Berbagai kitab
yang membahas tentang tasawuf bermunculan seperti Kitab Tahzib al-Akh/aq
karangan Ibn Miskawih, Ihya 'U/um al-Din karangan Imam al-Ghazali dan
lain-lain yang banyak berbicara tentang akhlak. Kondisi tersebut nampaknya
sudah mulai terulang lagi di zaman modern ini, sehingga perlu
para ulama. Atas dasar ini pula masalah akhlak yang mulia mendapatkan
h . k 26
per attan secara se sama.
Mengenai pembentukan akhlak, berarti kita berbicara tentang perkembangan
seorang anak manusia, tentu harus dimulai sejak masa pembuahan yaitu
pertemuan ovum dan sperma, dan berakhir sampai manusia itu menginjak dewasa.
Kemudian pembentukan akhlak tersebut tidak selamanya berjalan mulus karena
pembentukan akhlak seseorang dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut:
I. Faktor dari dalam diri manusia (pembawaan), meliputi: a. Faktor Gharizah dan nurani (instink)
b. Faktor keturunan atau warisan 2. Faktor dari luar manusia
a. Faktor adat kebiasaan b. Faktor Iingkungan/millieu 3. Faktor Agama.27
Adapun untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia dapat dilakukan
dengan sebagai berikut:
1. Menanamkan nilai-nilai akhlak baik terhadap anak, yang meliputi: a. Menanamkan nilai-nilai akhlak baik sebelum anak lahir
(MasaPranatal)
b. Menanamkan nilai-nilai akhlak baik pada masa bayi (Masa Vital) dan masa kanak-kanak, yang menjadi istilah populer sebagai anak
BALITA (bayi dibawah 5 tahun)
c. Menanamkan nilai-nilai akhlak baik anak periode intelektual (6-12 tahun)
d. Memberikan bimbingan akhlak baik pada anak remaja (13-18 tahun) e. Memberikan bimbingan akhlak baik pada anak yang sudah dewasa
(19-25 tahun).
2. Mengadakan Tindakan Preventif, Refresif dan Kuratifterhadap akhlak buruk anak, yang meliputi:
a. Mengawasi anak dari pergaulan bebas (free sex) dan menanggulanginya bila terlibat didalamnya
b. Mengawasi agar anak tidak terlibat dalam pemakaian bahan narkotika dan menanggulanginya bila terjerumus didalamnya
c. Mengawasi agar anak tidak terlibat dalam perbuatan kriminalitas dan menanggulanginya bila terjerumus didalamnya.28
2
6Nata, Problematika .. ., h. 234-238
27
Mahjuddin, Membina Akhlak Anak (Surabaya: Al-lkhlas, 1996), ha!. 14
Pembinaan terhadap akhlak anak haruslah dilakukan sejak usia dini. Adapun
pembinaan tersebut dapat dilakukan sebagai berikut:
Sebelum menginjak pada umur remaja hendaklah dibiasakan dengan perbuatan-perbuatan yang sopan, yang mengandung sopan santun dan budi pekerti.
- Pada masa ia telah remaja kebiasaan tersebut masih tetap dilakukannya sambil diperkenalkannya pada sifat-sifat utama dan budi pekerti luhur seperti berani berkata benar, Nセ。「。イL@ tawakkal, suka menolong, dan lain-lainnya serta diberikan kep•1danya tentang manfaat dan faedah sifat-sifat utama terse but dengan penjelasan yang logis dan rasional.
- Diusahakan agar terhindar dari pengaruh-pengaruh yang merusak melalui film, bacaan, gambar dan media-media lain yang merusak. - Pengajaran agama hendaknya dapat merangkum pendidikan akhlak.29
Pembinaan akhlak anak sejak usia dini sangatlah dianjurkan dan diharuskan
karena untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Imam
Ghazali mengatakan Anak merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Jika ia
dibiasakan dan diajarkan tentang hal-hal baik, ia akan tumbuh bersama kebaikan
itu, dan jika ia dibiasakan pada hal-hal jelek, dan dibiarkan seperti binatang, ia
akan menderita dan celaka. Dan apabila ia bersalah, sepantasnya ia ditegur dengan
cara pelan-pelan dan halus. Kita tidak boleh banyak berkata yang bemada
menghina setiap saat, sebab ha! itu akan memudahkan ia mendengarkan dan
mengajarkan kejelekan-kejelekan, yang pada akhimya menjadi kebiasaan bagi
dirinya.30
Al-Ghazali melihat bahwa pendidikan anak merupakan sesuatu yang amat
penting, dan anak diciptakan seraya bisa menerima hal-hal yang baik dan jelek,
dan hanyalah kedua orang tuanya yang bisa membimbingnya ke salah satunya
(yang baik). Nabi Muhammad SAW bersabda:
'
サアLセャッ|
S
NNjス@
4.j\
"'?
4;!
3\
4.j\.),
oiJ
29Masy'ari, Membentuk ... , h 99
'0Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam (Yogyakarta: Titian
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan hanyalah kedua orang tuanya yang meniadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau beragama Majusi" (HR.
11
r
rnkhi)
Ini merupakan pernyataan yang sangat populer di kalangan ahli ilmu jiwa dan
etika.
Kemudian pendapat tersebut didukung oleh ajaran filsafat empirisme yang
dipelopori oleh John Locke (6132-1704) yang mengatakan bahwa perkembangan
pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama pendidikan. John
Locke berkesimpulan: setiap individu lahir sebagai kertas putih dan lingkungan
itulah yang 'menulis' kertas putih itu. Teori ini terkenal dengan teori Tabularasa
dan teori empirisme. Bagi John Locke pengalaman yang berasal dari lingkungan
itulah yang menentukan pribadi seseorang, karena lingkungan itu dapat diatur dan
dikuasai manusia, maka teori ini bersifat optimis dengan tiap-tiap perkembangan
pribadi.31 Maka berdasarkan teori ini pembentukan akhlak hendaklah dilakukan
sejak dini, yang salah satu caranya dengan memasukkan anak ke TP A.
3. Santri
Dalam kamus umum bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S.
Poerwadarminta, santri adalah "Orang yang mendalami pengajiannya di agama
Islam (dengan pergi berguru ke tempat yang jauh, seperti: pesantren, dan
sebagainya); orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang
saleh".32
Adapun santri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah "semua peserta
didik yang sedang mengikuti pendidikan dasar dalam belajar membaca
Al-Qur'an, yaitu di TPA dengan batasan usia 7-12 tahun".33
31
Tim dosen !KIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan (Surabaya: Usaha Nasional, l 987 ), h. 8
32
W.J.S. Poerwadarminta, Ka1nus Un1un1 Bahasa Indonesia (Jakarta: PN Balai Pustaka,
2006), h. I 032 33
Dalam kelompok belajar, "jumlah santri setiap kelas berkisar 25-30 orang.
Jumlah ini sudah disesuaikan dengan kemampuan pengawasan-Span of
Control-guru ( Ustadz). Maka setiap kelas akan dipimpin oleh seorang wali kelas, yang bertanggungjawab atas kelancaran proses belajar mengajar di kelas".34
Dalam mempelajari Al-Qur'an, khususnya bagi para santri TPA kronologis
penguasaannya yang harus dikuasai oleh setiap santri adalah sebagai berikut:
I. Tilawah
2. Tartil
3. Tadarus
4. Tahfidz
5. Tatjamah
6. Tafsir
7. Tindakan
8. Tabligh
: kemampuan membaca Al-Qur'an
: membaca Al-Qur'an dengan tertib, sesuai kaidah ilmu tajwid
membaca bacaan Al-Qur'an menghafal/hafalan Al-Qur' an
kemampuan menerjemahkan Al-Qur'an secara harfiah
kemampuan menafsirkan Al-Qur'an (atas makna yang terkandung di dalamnya)
: mampu me real isasikan ajaran Al-Qur' an sebagai bacaan dan pandangan hidupnya
: mampu mendakwahkan isi kandungan Al-Qur'an kepada orang lain. 35
4. Peranan TPA Terhadap Akhlak
TPA merupakan salah satu lingkungan luar individu yang dapat
mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak, terutama dalam proses
belajar-mengajar (PBM). Sebagai sebuah lembaga pendidikan non formal TPA
memiliki visi yaitu:
menyiapkan generasi Qur' ani, yaitu generasi yang be rim an dan bertakwa, yang menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama dan pedoman hidupnya, berakhlak mulia, cerdas, terampil,sehat, punya rasa tanggung jawab moral dan sosial, demi masa depan gemilang yang mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Qur'an dalam pentas kehidupan kekinian, dalam rangka mengemban misi "rahmatan Iii 'alamin", di tengah-tengah gemuruhnya kemajuan teknologi modern.36
34
Humam, et.al., Pedoman. .. , h. 51
35
Humam, et.al. , Pedoman. .. , h. 67-68.
36
Keberadaan TPA pada dasamya dapat membantu peran orang tua selaku
pendidik dan pengajar di rumah serta membantu peran guru-guru selaku pengajar
dan pendidik di sekolah juga dapat mendukung usaha pemerintah menuju,
tercapainya tujuan pendidikan nasional, khususnya dalam sisi pengembangan
iman dan takwa (imtak) dan budi pekerti luhur (akhlaqul karimah). Hal ini terbukti dari materi-materi yang diajarkan dalam kegiatan belajar mengajar di
TPA baik dari materi pokok, materi penunjang maupun materi tambahan selalu
bermuatan akhlak. Walaupun pelajaran akhlak tidak diajarkan secara langsung
namun tidak menutup kemungkinan materi tersebut diajarkan secara khusus
sebagai materi tambahan sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki oleh
TP A yang bersangkutan sehingga memungkinkan untuk diselenggarakan di
lingkungan TPA tersebut.
Materi akhlak di TPA pada umumnya diajarkan secara terintegrasi pada
semua mata pelajaran. Para guru (ustadz/ustadzah) dalam mendidik dan mengajar serta dalam kehidupan sehari-hari dituntut dan diharapkan mampu menjadi uswah
(tauladan) bagi para santrinya sebagai realisasi dari apa yang telah mereka
sampaikan. Selain itu mereka pun harus kreatif dan inovatif dalam memotivasi
dan menggugah kesadaran sairtri agar berperilaku terpuji dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran di TPA, yaitu:
I. Tujuan Pendidikan
a. Membantu mengembangkan potensi anak ke arah pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan keagamaan, melalui pendekatan yang disesuaikan dengan lingkungan dan taraf perkembangan anak, berdasarkan tuntutan Al-Qur' an dan Sunnah Rasul.
c. Mempersiapkan anak agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan keagamaan yang telah dimilikinya melalui program pendidikan lanjutannya.
2. Tujuan Pengajaran
a. Santri dapat mengagumi dan mencintai Al-Qur'an sebagai bacaan istimewa dan pedoman utama.
f. Santri dapat terbiasa membaca Al-Qur'an dengan lancar dan fasih serta memahami hukum-hukum bacaannya berdasarkan kaidah Ilmu Tajwid.
g. Santri dapat mengerjakan shalat lima waktu dengan cara yang benar dan menyadarinya sebagai kewajiban sehari-hari.
i. Santri dapat menulis huruf Arab dengan baik dan benar.37
Dengan demikian TP A mempunyai peranan penting dan berperan aktif terhadap
pembentukan akhlak santri.
B. Kerangka Berpikir.
Setiap manusia dilahirkan sebagai makhluk yang telah dibekali kemampuan
dasar atau potensi untuk mengembangkan diri. Pengembangan diri ini meliputi
pengembangan terhadap faktor-faktor yang ada pada diri seseorang (individu),
dan dalam perjalanannya akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di luar
individu tersebut. Faktor-faktor yang ada di dalam diri individu misalnya bakat,
intelegensi, motivasi, minat dan sebagainya. Faktor ini dapat berkembang dengan
baik kalau mendapat pengaruh yang baik pula dari luar individu. Lingkungan
individu misalnya keluarga, sekolah dan masyarakat, sangat berperan dalam
perkembangan diri seseorang, terutama pada seorang anak yang masih dalam
proses perkembangan dan pertumbuhan.
Lingkungan masyarakat dalam hal ini TPA merupakan salah satu lingkungan
luar individu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak,
terutama dalam proses belajar-mengajar (PBM), tentu sangat diharapkan
menghasilkan adanya suatu perubahan yang baik bagi anak didiknya (santri) dan
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan kelak.
TPA yang saat ini semakin berkembang dalam lingkungan masyarakat dapat
dijadikan suatu penangkal dalam mengantisipasi berbagai pengaruh negatif yang
dapat merusak sikap mental dan perilaku generasi muda. Karena dewasa ini di
mana-mana terjadi krisis akhlak yang terjadi mulai dari tokoh-tokoh panutan,
para pimpinan hingga bawahan bahkan mewabah pada sebagian besar generasi
muda.
Kehadiran dan keberadaan TPA pada dasarnya adalah membantu peran orang
tua selaku pendidik dan pengajar di rumah serta membantu peran guru-guru
selaku pengajar dan pendidik di sekolah. Selain itu keberadaan TPA juga dapat
mendukung usaha pemerintah menuju tercapainya tujuan pendidikan nasional,
khususnya dalam sisi pengembangan iman dan takwa (imtak) dan budi pekerti
luhur (akhlaqul karimah).
Belakangan i11i berbagai bentuk kejahatan merebak ke hampir seluruh lapisan
masyarakat. Pelakunya bukan hanya orang tua dan pemuda, tetapi juga remaja dan
anak-anak. Hal tersebut dapat kita dengar dan saksikan melalui infonnasi yang
ditayangkan oleh berbagai media, bahkan kita terkadang menyaksikan secara
langsung peristiwa tersebut. Tentunya hal ini amat memprihatinkan mengingat
generasi muda merupakan penerima tongkat estafet kepemimpinan.
TPA sebagai lembaga pendidikan dasar belajar membaca Al-Qur'an
berupaya untuk mengantisipasi terjadinya krisis akhlak sejak usia dini. Karena
TP A sarat dengan muatan-muatan agama. TP A bukan hanya sekedar tempat
mengaji semata melainkan juga sebagai suatu wadah untuk mengembangkan
kepribadian peserta didiknya dengan berlandaskan Al-Qur 'an dan As-sunnah
sehingga terbentuklah akhlak terpuji.
Seorang anak yang mendapatkan pendidikan agama di TPA maka anak
tersebut cenderung untuk bersikap dan berperilaku positif. Namun bukan berarti
anak yang tidak mendapatkan pendidikan tersebut tidak lebih baik dari yang
mendapatkannya. Hal ini merupakan suatu pengecualian, karena banyak faktor
yang mempengaruhi pembentukan akhlak dalam proses pendidikan. Langkahnya
atau minimnya perhatian aspek akhlak mulai kanak-kanak, mendorong kejahatan
di kalangan remaja. Hal yang sama dikalangan orang tua dan pemuda.
Pembentukan akhlak peserta didik merupakan salah satu tujuan yang hendak
di capai oleh TPA. Sehingga dengan semakin berkembangnya TPA baik secara
kuantitas dan kualitas akan dapat memberikan sumbangan yang cukup berarti
terhadap permasalahan yang ada di masyarakat terutama dalam upaya
A. Tempat dan Waktu Penelitian.
Penelitian ini dilakukan di TPA. Al-Wasi' yang berlokasi di Jalan Sunter
Jaya VII A RT 005 RW 09 No. 49 Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung
Priok, Jakarta Utara.
Waktu penelitian ini dilakukan mulai tanggal 10 Oktober sampai tanggal 17
Desember 2007.
B. Metode Penelitian
Berdasarkan variabel yang diteliti dan masalah yang dirumuskan maka
penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Dalam penelitian ini hanya ada
satu variabel yang terlibat dan hanya menggambarkan kondisi-kondisi yang ada. 1
1
Irnam Choumain, Metodo/ogi Penelitian Progran1 Perkuliahan dan Studi Metodo/ogi Penelitian, 1995, h. 24
C. Populasi dan Sam pel Penelitian.
Populasi penelitian adalah semua santri TPA. Al-Wasi' beserta orang tuanya
karena dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana akhlak santri, maka orang tua
santri pun dilibatkan. Adapun jumlah populasi yang akan diteliti adalah I 05 orang
dan dari populasi tersebut diambil 70 orang untuk dijadikan sampel. Adapun
pengambilan sampel dilakukan secara acak (Random Sampling).
D. Instrumen Penelitian.
Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket. Angket digunakan untuk
mengumpulkan data tentang akhlak santri TPA sehari-hari. Angket yang
digunakan bersifat tertutup yang artinya jawaban setiap item telah disediakan
yaitu angket yang terdiri dari:
I. Angket santri, terdiri dari 3 kategori yaitu: sering, kadang-kadang, tidak
pernah. Jumlah item dalam angket adalah 17 soal pertanyaan.
2. Angket orang tua santri, terdiri dari 4 kategori yaitu: sering, kadang- kadang,
tidak pernah dan tidak tahu. Untuk angket orang tua santri jawaban ditambah
dengan kategori "tidak tahu" karena didugajawaban ini akan muncul.2 Jumlah
item dalam angket adalah 23 soal pertanyaan.
Untuk pertanyaan dan pernyataan yang bernilai positif "sering" adalah
jawaban yang menunjukkan akhlak yang baik, sedangkan untukjawaban
"kadang-kadang" dan "tidak pernah" adalah cermin akhlak yang kurang baik dan tidak
terpuji. Sedangkan untuk pertanyaan dan pernyataan yang bernilai negatif adalah
sebaliknya. Adapun untuk jawaban "tidak tahu" adalah cerminan kurangnya
perhatian orang tua terhadap anak.
Kisi-kisi instrumen.
Tabel I.
Kisi-kisi Instrumen Santri
No. lndikator Akhlak NomorSoal
Akhlak terhadap Allah SWT (Hablum
I. ! I, 2, 9, I 0, 11
Minallah)
Akhlak terhadap sesama manusia (Hablum
2. 3, 4, 5, 6, 13, 14, 15
Minannaas)
[image:44.521.21.416.111.485.2]3. Akhlak terhadap lingkungan 7, 8, 12, 16, 17
Tabel 2.
Kisi-kisi instrumen orang tua santri
No. lndikator Akhlak Nomor Soal
Akhlak terhadap Allah SWT (Hablum
I. I, 2, 3,4, 5, 6
Minallah)
Akhlak terhadap sesama manusia (Hablum 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 2.
Minannaas) 15,22,23
3. Akhlak terhadap lingkungan 16, 17, 18, 19, 20, 21
E. Somber Data Peuelitiau
Adapun sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui:
I. Penelitian Kepustakaan (librmy research)
Penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan cara mengumpulkan
sumber-sumber data. Sumber-sumber-sumber data yang digunakan diantaranya buku-buku
sumber, ensiklopedi dan dokumen-dokumen yang relevan dengan pokok
2. Penelitian lapangan (field research)
Dalam penelitian lapangan, penulis melakukan penelitian ke lokasi TPA.
Al-Wasi' yang beralamat di Jalan Sunter Jaya VII A RT 005 RW 09 Kelurahan
Sunter Jaya , Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan tujuan mencari
sumber data tentang masalah yang diteliti.
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun penelitian lapangan ini ditempuh melalui teknik pengumpulan data
sebagai berikut:
a. Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan yang dlakukan secara sistematis '
dari fenomena yang diselidiki, 3 guna memperoleh data penelitian ten tang TPA.
Al-Wasi' beserta santrinya di Sunter Jaya, Jakarta Utara.
b.c Wawancara yaitu suatu dialog yang dilakukan secara fisik.4 Pengertian lain
adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak,dikerjakan
dengan sistematis dan berdasarkan tujuan pendidikan.5 Wawancara dilakukan
kepada Kepala TPA. Al-Wasi' untuk mempertajam atau memperdalam data
yang diperoleh dari observasi.
c. Angket atau kuesioner yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan
beberapa pertanyaan berupa pilihan jawaban yang telah disediakan untuk
memperoleh data tentang akhlak santri terhadap Allah SWT, terhadap sesama
manusia, dan terhadap lingkungannya. Bentuk kuesioner yang digunakan
adalah kuesioner langsung dan bersifat tertutup dengan memilih salah satu
jawaban.
d. ,Studi Dokumentasi yaitu mencari data-data yang tertulis baik berupa buku,
catatan dan sebagainya yang berhubungan dengan TPA. Al-Wasi'. Metode ini
digunakan sebagai pendukung dari hasil wawancara.
3Suharsirni Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek
, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2000 ), h. 108
4
Lexy J. Maloeng, Metode Penelitian Kua!itatif, (Bandung: Remaja Karya, 1989), h. 3
G. Prosedur Pengumpulan Data
Pembagian instrumen dalam penelitian ini dibagi 2 yaitu: instrumen yang
berupa angket diberikan kepada santri yang bersangkutan yang ditujukan kepada
dirinya dan orang tuanya
Para santri yang akan diteliti dalam penelitian ini sebelumnya diberikan
r::engarahan dan penjelasan mengenai angket yang akan diberikan kepada dirinya
dan kepada orang tuanya. Setelah itu angket santri dibagikan untuk diisi. Setelah
santri selesai mengisi angket barulah angket orang tua diberikan kepada santri
yang nantinya diberikan kepada orang tua mereka di rumah untuk diisi dan
dikembalikan setelah diisi kepada ustadz!ustadzahnya (guru TPA. Al-Wasi'). Untuk melancarkan jalannya penelitian ini, maka peneliti terlebih dahulu
meminta izin kepada Ketua Pengelola TPA. Al-Wasi' dan juga guru yang
bersangkutan untuk membantu pengisian angket dan pengumpulan angket orang
tua.
H. Tekuik Analisa Data.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis data deskriptifyaitu menganalisa data yang diperoleh dari hasil penelitian.
Analisis data adalah sebuah teknik yang digunakan untuk memperoleh jawaban
dan kesimpulan dari data yang diperoleh. Teknik analisis data ini disesuaikan
dengan tujuan yang hendak dicapai berdasarkanjenis data yang dikumpulkan.
Data yang penulis peroleh akan diolah dengan menggunakan beberapa
langkah sebagai berikut:
l. Editing, yaitu meneliti satu persatu kelengkapan pengisian dan kejelasan penulisannya. Dalam tahap ini dilakukan dengan pengecekan terhadap
kelengkapan dan kebenaran pengisian penulisannya
2. Tabulating, yaitu bertujuan untuk mendapatkan gambaran frekuensi dalam setiap item. Oleh karena itu dibuatlah tabel yang mempunyai kolom setiap
3. Prosentase, yaitu melakukan perhitungan dari has ii jawaban responden
dengan cara frekuensi jawaban dibagi jumlah responden dikalikan I 00%
dengan rumus statistik prosentase sebagai berikut:
F
p
x
!00%N
Keterangan :
P = prosentase jawaban
F = nilai (frekuensi)
N =number of cases Qumlah frekuensi atau banyaknya individu)6
Kemudian jawaban tersebut dikelompokkan dalam kategori:
80%-100% = Pada umumnya
60%- 79% = Sebagian besar
0%- 59% = Sebagian kecil, yang diperoleh dari hasil prosentase jawaban.
Adapun untuk mengetahui kategori baik buruknya akhlak santri, maka penulis
menggunakan kategori sebagai berikut:
76-100 = Sangat baik
51- 75 =Baik
26- 50 = Cukup baik
0- 25 = Kurang baik, yang diperoleh dari hasil frekuensi jawaban.
6