RASIO ANTARA PANJANG
BILGE KEEL
DENGAN
LENGTH
OF WATERLINE
DALAM MEREDAM GERAKAN
ROLLING
KAPAL MODEL
PRINGGO KUSUMA DWI NOORYADI PUTRA
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Rasio antara Panjang Bilge keel dengan Lenght of Waterline dalam Meredam Gerakan Rolling Kapal Model” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
ABSTRAK
PRINGGO KUSUMA DWI NOORYADI PUTRA. Rasio antara Panjang Bilge Keel dengan Lenght of Waterline dalam Meredam Gerakan Rolling Kapal Model. Dibimbing oleh BUDHI HASCARYO ISKANDAR dan YOPI NOVITA.
Kapal penangkap ikan harus memiliki stabilitas dan kemampuan manuver yang baik. Kasko dengan bentuk round bottom memiliki rolling duration yang relatif kurang baik dibandingkan dengan bentuk lainnya. Peredaman rolling duration dan yang akan meningkatkan kualitas stabilitas pada kapal dapat dilakukan dengan pemasangan bilge keel. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Membandingkan setiap nilai parameter oleng kapal model yang menggunakan bilge keel; (2) Menentukan rasio minimum panjang bilge keel terhadap length of waterline kapal model yang masih memiliki kemampuan untuk meredam rolling kapal. Metode penelitian dilakukan dengan memberi perlakuan pada kapal model dan mengamati gerakan rolling tersebut dengan memberikan beberapa perlakuan panjang bilge keel berbeda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemasangan bilge keel dengan beberapa rasio panjang terhadap length of waterline memiliki hasil yang berbeda signifikan, dan bilge keel dengan rasio panjangsebesar 0,2 masih memiliki kemampuan yang efektif dalam meredam gerakan rolling kapal model.
Kata Kunci: bilge keel, gerakan rolling, round bottom, stabilitas
ABSTRACT
PRINGGO KUSUMA DWI NOORYADI PUTRA. The Length Ratio between Bilge Keel and Length of Waterline for Reduce Rolling Motion Ship Models. Supervised by BUDHI HASCARYO ISKANDAR and YOPI NOVITA.
Fishing vessels must have a good stability and maneuverability. The hull with round bottom shape have a relatively poor rolling duration than the other forms. Damping rolling duration that will improve the quality of stability on the ship can be done by the installation of the bilge keel. The objectives of this research are: (1) Compare each parameter value of rolling ship model that uses bilge keel; (2) Determine the ratio of the minimum length of bilge keel to the length of waterline ship models to have a better ability in reducing rolling ship. Experimental method was applied in this research by giving a treatment on the model of fishing vessel and observe the movement of rolling with some different length of bilge keel. Based on the result, it can be concluded that installation of bilge keel with some length ratio of the length of waterline have a different result signifikan, and bilge keel with the length ratio to the length of waterline at 0,2, still has a better ability in reducing rolling motion ship models.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan
pada
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
RASIO ANTARA PANJANG
BILGE KEEL
DENGAN
LENGTH
OF WATERLINE
DALAM MEREDAM GERAKAN
ROLLING
KAPAL MODEL
PRINGGO KUSUMA DWI NOORYADI PUTRA
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih adalah Rasio antara Panjang Bilge Keel dengan Length of Waterline dalam Meredam Gerakan Rolling Kapal Model.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada:
1. Dr Ir Budhi Hascaryo Iskandar, MSi dan Dr Yopi Novita, SPi MSi sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan, dan saran; 2. Dr Iin Solihin, SPi MSi sebagai Komisi Pendidikan yang telah memberikan
masukan dan saran;
3. Ir Wawan Oktariza, MSi sebagai dosen penguji tamu pada sidang ujian skripsi; 4. Dr Ir Mohammad Imron MSi sebagai Dosen Pembimbing Akademik yang
telah memberikan bimbingan, masukan, dan saran;
5. Dr Fis Purwangka, SPi MSi yang turut memberikan dukungan serta arahan; 6. Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan untuk semua ilmu
yang telah diberikan;
7. Ayah, ibu dan kakak tercinta yang tiada hentinya memberikan doa, motivasi, semangat, dukungan, cinta dan kasih sayangnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
8. Keluarga besar PSP 48 yang telah banyak memberikan inspirasi, semangat, motivasi, doa dan bantuannya;
9. PSP 49, PSP 50, Toba crew, TU PSP (Bu Vina dan Pak Zulfa), Bagian Dapur (Mang Yana, Mang Isman, dan Bi Hani), Staff Perpustakaan (Teh Yuni), serta civitas PSP lainnya yang telah memberikan doa, semangat dan juga dukungannya;
10.Pihak terkait yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN viii
DAFTAR ISTILAH ix
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Hasil Penelitian Terkait Sebelumnya 2
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
METODE 3
Waktu dan Tempat Penelitian 3
Alat 3
Bahan 4
Jenis dan Metode Pengumpulan Data 6
Pengolahan Data 9
Analisis Data 11
HASIL DAN PEMBAHASAN 12
Sudut Oleng dan Rolling Duration 12
Rolling Period 14
Rolling Frequency 16
KESIMPULAN DAN SARAN 17
Kesimpulan 17
Saran 17
DAFTAR PUSTAKA 18
LAMPIRAN 19
DAFTAR TABEL
1 Alat yang digunakan selama penelitian 3
2 Jenis data yang dibutuhkan 6
3 Data hasil uji coba rolling duration, rolling period
dan rolling frequency 11
4 Contoh tabel hasil analisis eksperimen 11
5 Nilai rolling duration (detik) kapal model 13 6 Nilai rolling period (detik) kapal model 15
7 Nilai rolling frequency kapal model 16
8 Data hasil analisis eksperimen 17
DAFTAR GAMBAR
1 Kapal model 4
2 Bentuk round bottom 4
3 Lines plan kapal model round bottom 5
4 Gambar bilge keel 6
5 Ilustrasi rasio panjang bilge keel terhadap length of waterline 7 6 Ilustrasi pengkondisian kapal model di dalam flumetank 8
7 Tahapan percobaan 9
8 Pengukuran sudut oleng kapal model 10
9 Langkah pembuatan profil sudut oleng 10
10 Profil rolling kapal model 12
DAFTAR LAMPIRAN
1 Dokumentasi penelitian 19
DAFTAR ISTILAH
Bilge keel : Konstruksi tambahan berupa sirip yang dipasang pada kedua sisi luar lambung kapal;
Draft : Batas sarat air sebuah kapal;
Floading angle : Sudut yang dibentuk antara garis tegak tetap dengan garis tengah vertikal kapal yang menyimpang sejauh sheer terendah kapal menyentuh permukaan air;
Length of waterline : Panjang badan kapal yang terendam di dalam air;
Rolling : Gerakan oleng kapal; gerakan osilasi dimana terjadinya gerakan miring ke sisi kanan dan kiri yang berporos pada sumbu memanjang;
Rolling duration : Waktu yang dibutuhkan oleh kapal untuk kembali tegak ke posisi semula setelah mengalami rolling;
Rolling frequency : Jumlah gerakan oleng kapal yang dapat terjadi dalam satu satuan waktu;
Rolling period : Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu gerakan oleng;
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kapal adalah salah satu moda yang ditujukan untuk sarana transportasi, penelitian, eksplorasi, operasi penangkapan ikan, dan sebagainya. Setiap kapal memiliki faktor-faktor yang berbeda guna mendukung keberhasilan kerja untuk mencapai tujuannya. Kapal yang khusus digunakan untuk operasi penangkapan ikan disebut sebagai kapal perikanan. Menurut Susanto (2010) kapal perikanan memiliki kekhususan tersendiri bila dibandingkan dengan kapal lain pada umumnya. Hal ini disebabkan oleh bervariasinya aktivitas kerja yang dilakukan pada kapal tersebut, contohnya seperti aktivitas penangkapan, penyimpanan dan juga pengolahan ikan. Oleh sebab itu, untuk mendukung kesuksesan operasi penangkapan, kapal penangkap ikan harus memiliki stabilitas dan kemampuan olah gerak yang baik.
Stabilitas merupakan salah satu faktor penting yang harus dimiliki kapal perikanan. Kemampuan stabilitas setiap kapal, salah satunya dapat dipengaruhi oleh bentuk kasko kapal. Rouf (2004) menyebutkan bahwa bentuk kasko kapal perikanan di Indonesia memiliki bentuk yang berbeda-beda, diantaranya adalah bentuk kasko U-bottom, round bottom, round flat bottom, hard chin bottom, dan bentuk akatsuki. Kelima bentuk kasko kapal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan kemampuan olah gerak, tahanan gerak dan stabilitas kapal. Berdasarkan hasil kajian tersebut juga diketahui bahwa tidak terdapat kecenderungan tertentu dalam menggunakan bentuk kasko kapal untuk metode penangkapan ikan tertentu. Umumnya kapal-kapal penangkap ikan di Indonesia menggunakan bentuk kasko round bottom atau round flat bottom. Bentuk kasko tersebut memiliki kemampuan olah gerak yang baik akan tetapi memiliki stabilitas yang kurang baik jika dibandingkan dengan bentuk kasko lainnya. Hal ini didukung oleh Saputra (2007) yang menyatakan bahwa kasko dengan bentuk round bottom memiliki stabilitas yang kurang baik jika dibandingkan dengan bentuk kasko lainnya. Jenis kapal yang lebih membutuhkan kemampuan olah gerak yang tinggi adalah kapal mengoperasikan alat tangkap degan cara encircling gear seperti payang dan purse seine. Kapal yang menggunakan alat tangkap dengan cara encircling gear akan lebih menguntungkan bila menggunakan kasko berbentuk round bottom. Akan tetapi tidak bagi kapal yang mengoperasikan alat tangkap dengan cara static gear seperti kapal gillnet, rawai dan pancing. Bagi kapal-kapal static gear, stabilitas menjadi lebih utama jika dibandingkan dengan kemampuan olah gerak.
Kualitas stabilitas sebuah kapal dapat dilihat dari besarnya rolling duration yang terjadi pada saat kapal melakukan gerakan rolling, rolling duration semakin besar maka stabilitas kapal semakin rendah.
2
mampu mengurangi goyang angguk kapal sebesar 20% di laut yang tak beraturan akibat angin yang kecepatannya 24 knot. Di lautan yang lebih hebat golakannya akibat angin 40 knot, pengurangan goyang angguk itu masih sebesar 13% (Lewis dan Brien 1983). Selain itu penggunaan bilge keel dapat menunjang stabilitas kapal dan dapat mengurangi risiko terbaliknya kapal pada saat melakukan olah gerak.
Beberapa hasil kajian yang terkait dengan bilge keel telah dilakukan oleh Iskandar dan Novita (2006). Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa pemasangan bilge keel pada posisi length of waterline tertinggi kapal akan menghasilkan stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan pemasangan bilge keel pada posisi length of waterline dibawahnya. Selain itu, Saputra (2007) juga melakukan kajian terhadap pengaruh pemasangan bilge keel terhadap tahanan gerak yang dihasilkan. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan bilge keel dalam meningkatkan stabilitas kapal. Diantaranya adalah kajian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu bertujuan untuk memperoleh panjang bilge keel yang minimum untuk mampu meredam rolling duration kapal. Penggunaan panjang bilge keel akan dibandingkan dengan panjang badan kapal yang terendam air (Length of Water Line, LWL). Kapal yang digunakan adalah kapal dalam skala model. Hal ini dikarenakan pengujian lebih mudah dilakukan dalam skala model dan laboratorium.
Hasil Penelitian Terkait Sebelumnya
Penelitian terkait bilge keel sebelumnya pernah diteliti oleh Haryanto (1987) tentang Pengaruh Pemasangan Bilge Keel terhadap Stabilitas dan Kemampuan Olah Gerak pada Model Kapal. Perlakuan pada penelitian tersebut adalah pemasangan bilge keel dengan bahan dan ukuran yang berbeda. Bahan bilge keel yang dipakai adalah kayu dan seng. Selanjutnya bilge keel tersebut memiliki panjang yang sama, namun memiliki 4 lebar yang berbeda setiap perlakuannya. Penelitian lainnya yang terkait adalah Kajian Ukuran dan Posisi Pemasangan Bilge Keel pada Kasko Model Kapal Bentuk Round Bottom terhadap Tahanan Gerak (Saputra 2007). Pada penelitian ini perlakuan yang dilakukan adalah ukuran dan posisi bilge keel yang berbeda terhadap nilai tahanan gerak kapal.
Perumusan Masalah
3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Membandingkan setiap nilai parameter oleng kapal model yang menggunakan bilge keel; dan
2. Menentukan rasio minimum panjang bilge keel terhadap length of waterline kapal model yang masih memiliki kemampuan untuk meredam rolling kapal.
Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Pengkayaan IPTEKS di bidang dinamika kapal;
2. Sebagai informasi bagi pihak terkait yang akan menggunakan bilge keel; dan
3. Sebagai dasar bagi penelitian lanjutan di bidang terkait.
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental, dimana eksperimen dilakukan dengan menggunakan kapal model. Eksperimen dilakukan pada kondisi perairan yang tenang dimana tidak ada angin dan juga gelombang.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Februari hingga Maret 2015. Tempat penelitian dilaksanakan di flumetank Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat
Alat yang digunakan serta kegunaanya dalam penelitian tertera pada Tabel 1. Tabel 1 Alat yang digunakan selama penelitian
No Alat Kegunaan
1 Flumetank Sebagai media eksperimen dimana kapal model akan diletakkan di dalam flumetank yang berisi air
2 Kamera Digital
Sebagai alat untuk merekam gerakan rolling kapal model pada saat eksperimen berlangsung
3 Tripod Sebagai alat untuk mengatur ketinggian kamera digital 4 Waterpas Sebagai alat acuan untuk menyeimbangkan tripod 5 Alat tulis Sebagai alat untuk mencatat data selama kegiatan
4
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Kapal model berbentuk round bottom dengan dimensi 51 cm x 16,7 cm x 10,9 cm (Gambar 1). Penggunaan kapal model berbentuk round bottom dikarenakan kapal-kapal penangkap ikan yang membutuhkan stabilitas tinggi adalah kapal yang termasuk kelompok encircling gear. Umumnya kapal-kapal yang termasuk kelompok encircling gear memiliki bentuk cenderung round bottom (Gambar 2). Model kapal dibuat dengan mengacu pada kisaran nilai parameter desain kapal encircling gear di beberapa daerah di Indonesia oleh Ramadhani (2004) mengenai Dimensi dan Koefisien Bentuk Badan Kapal Ikan di Beberapa Daerah di Indonesia. Adapun lines plan kapal disajikan pada Gambar 3;
Gambar 2 Bentuk round bottom
2. Bilge keel yang terbuat dari fiberdengan tiga ukuran (Gambar 4) : - Bilge keel pendek (8 cm x 0,5 cm x 0,2 cm);
- Bilge keel sedang (12 cm x 0,5 cm x 0,2 cm); - Bilge keel panjang (16 cm x 0,5 cm x 0,2 cm).
5 Gambar 3 Lines plan kapal model round bottom
Body plan
Half breadth plan Profil plan
LOA : 51 cm
B : 16,7 cm
D : 10,9 cm
d : 4 cm
6
Gambar 4 Gambar bilge keel. (k1) bilge keel pendek, (k2) bilge keel sedang, (k3) bilge keel panjang
Jenis dan Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan penelitian disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Jenis data yang dibutuhkan
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan keempat jenis data tersebut memiliki cara masing-masing yang berbeda. Jenis data pertama yaitu sudut oleng. Data sudut oleng didapat dengan mengukur sudut kemiringan kapal model yang terjadi pada setiap gerakan rolling kapal model dengan melihat hasil dari video pengamatan rolling yang dilakukan selama eksperimen. Jenis data kedua adalah rolling duration. Data rolling duration didapat dengan menghitung lamanya waktu yang dialami oleh kapal model pada saat mulai melakukan gerakan rolling hingga kapal model tersebut kembali relatif diam dan tegak semula. Selanjutnya jenis data ketiga adalah rolling period. Data rolling period didapat dengan menghitung lamanya waktu yang dibutuhkan kapal model untuk melakukan gerakan rolling dari sisi kiri ke sisi kanan hingga kembali ke sisi kiri atau sebaliknya.
Jenis data Definisi
Sudut Oleng
Sudut yang dibentuk oleh sheer kapal saat melakukan gerakan oleng ke kanan dan ke kiri terhadap sumbu x
Rolling Duration Waktu yang dibutuhkan oleh kapal untuk
kembali diam dan tegak ke posisi semula
Rolling Period Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
satu gerakan oleng
Rolling Frequency Jumlah gerakan oleng kapal yang dapat terjadi
7 Jenis data terakhir adalah data rolling frequency yang didapat dari hasil pembagian dari jumlah rolling dan rolling duration kapal model setiap perlakuannya.
Perlakuan dan eksperimen dilakukan pada panjang bilge keel terhadap panjang garis air kapal (length of waterline). Perlakuan yang diberikan adalah penggunaan bilge keel dengan rasio antara panjang bilge keel dan length of waterline kapal model yang berbeda, yaitu:
1. Tanpa bilge keel, sebagai acuan kapal model pada keadaan normal(Bk0); 2. Bilge keel pendek, dengan rasio panjang bilge keel terhadap length of
waterline sebesar0,2 (Bk1);
3. Bilge keel sedang, dengan rasio panjang bilge keel terhadap length of waterline sebesar0,3 (Bk2); dan
4. Bilge keel besar, dengan rasio panjang bilge keel terhadap length of waterline sebesar0,4 (Bk3).
Ilustrasi rasio panjang bilge keel terhadap length of waterline disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5 Ilustrasi rasio panjang bilge keel terhadap length of waterline. (a) Rasio 0,2 terhadap panjang LWL (Bk1), (b) Rasio 0,3 terhadap panjang LWL (Bk2), (c) Rasio 0,4 terhadap panjang LWL (Bk3).
(a)
(b)
8
Pengkondisian kapal model selama eksperimen disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6 Ilustrasi pengkondisian kapal model di dalam flumetank
Untuk membantu pengamatan, digunakan plastik mika yang ditempel di dinding luar kaca flumetank. Lapisan mika tersebut telah dibuat garis sumbu simetri. Garis tersebut digunakan sebagai acuan dalam menghitung sudut oleng yang terjadi. Pada ujung haluan dan buritan kapal, dipasang tali yang dikaitkan ke flumetank. Tujuannya adalah agar kapal model tidak bergerak jauh dari jarak pandang pengambilan gambar yang dilakukan oleh kamera digital.
9
Gambar 7 Tahapan percobaan
Pengolahan Data
Data yang didapat dalam bentuk video diolah dengan menggunakan software adobe photoshop CC untuk memperoleh waktu dan banyaknya jumlah rolling. Selanjutnya video pengamatan rolling diukur besar sudut oleng untuk setiap gerakan rolling yang terjadi dengan melihat sudut yang dihasilkan antara garis horizontal yang terlihat dari kertas mika dan kemiringan sheer kapal model pada saat kapal model melakukan rolling (Gambar 8). Hasilnya kemudian diolah dalam bentuk grafik dengan menjadikan waktu sebagai sumbu x dan sudut oleng sebagai sumbu y. Langkah kerja untuk untuk mendapatkan profil rolling kapal model disajikan pada Gambar 9.
Mulai
Mempersiapkan flumetank sebagai bejana
dan kamera digital sebagai alat perekam untuk pelaksanaan penelitian
Mempersiapkan garis saling tegak lurus yang digambar pada kertas mika dan ditempel pada bagian luar kaca depan
flumetank (Lampiran 1a)
Pemasangan tali yang berguna untuk mengontrol posisi kapal model terhadap
jarak pandang kamera yang dipasang tepat di belakang posisi kertas mika
Meletakkan kapal model yang sudah dipasang tali tepat di belakang kertas
mika (Lampiran 1b)
Salah satu sisi kapal ditekan hingga sheer
kapal model menyentuh permukaan air dan kemudian dilepaskan (Lampiran 1c)
10
Gambar 8 Pengukuran sudut oleng kapal model
Gambar 9 Langkah pembuatan profil sudut oleng Mulai
Masuk ke software adobe photoshop CC
Buka video rekaman hasil percobaan
Klik play untuk memulai video, dan pause saat kapal model berada pada sudut kemiringan maksimum untuk
setiap gerakan olengnya
Klik ruller pada toolbar
Buatlah garis sepanjang sheer sehingga membuat sudut dengan garis horizontal pada
kertas mika
Lihatlah sudut yang terbentuk pada option bar
11 Pengolahan data untuk mendapatkan profil rolling duration dilakukan dengan cara menghitung waktu yang dibutuhkan kapal model untuk kembali ke posisi semula. Hasilnya kemudian dimasukkan ke dalam bentuk grafik dengan urutan rolling duration sebagai sudut x dan besar sudut oleng yang dihasilkan kapal model sebagai sumbu y. Untuk memperjelas nilai yang dihasilkan rolling duration pada grafik, nilai tersebut ditabulasi ke dalam bentuk tabel. Pengolahan data untuk nilai rolling duration, rolling period dan rolling frequency juga dilakukan dalam bentuk sebagaimana tertera pada Tabel 3.
Tabel 3 Data hasil uji coba rolling duration, rolling period dan rolling frequency
Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dan numerical comparative. Metode analisis rancang lengkap bertujuan untuk menentukan apakah ada perbedaan yang nyata terhadap setiap perlakuan yang dilakukan. Analisis ini dilakukan terhadap semua parameter dengan menggunakan uji F.
Metode analisis numerical comparative dilakukan untuk membandingkan setiap data sudut oleng, rolling duration, rolling period, dan rolling frequency terhadap setiap perlakuan yang diberikan. Perbandingan tersebut dilakukan pada tabel dan grafik hasil dari pengolahan data yang telah dilakukan. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan rasio antara panjang bilge keel dan length of waterline terbaik yang mampu mengurangi rolling duration pada kapal model. Hasil dari analisis ini akan diperlihatkan dalam bentuk tabel sebagaimana tertera pada Tabel 4.
Tabel 4 Contoh tabel hasil analisis eksperimen
Parameter Bk0 Bk1 Bk2 Bk3
Ulangan ke- Bilge keel
12
Terlihat pada Tabel 4, hasil dari setiap parameter akan diberi rangking dimana pemberian tersebut berdasarkan dari urutan perlakuan yang dapat menghasilkan kemampuan untuk meredam gerakan rolling kapal model. Kapal model yang menghasilkan kemampuan untuk meredam gerakan rolling yang lebih baik akan diberikan rangking I. Sebaliknya, kapal model yang menghasilkan kemampuan untuk meredam gerakan rolling paling buruk akan diberikan rangking IV atau terakhir.
Hasil dari rangking yang didapat akan diakumulasi berdasarkan banyaknya nilai rangking terbaik yang didapat dari setiap perlakuan. Hal ini menjadikan kapal model yang menggunakan perlakuan yang paling banyak mendapatkan rangking I adalah kapal model yang memiliki kemampuan untuk meredam gerakan rolling terbaik. Begitu pun sebaliknya, perlakuan yang paling banyak mendapatkan rangking IV adalah kapal model yang memiliki kemampuan yang tidak terlalu baik dalam meredam gerakan rolling kapal model.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sudut Oleng dan Rolling Duration
Gambar 10 menunjukkan profil gerakan rolling kapal model untuk setiap perlakuannya.
Gambar 10 Profil rolling kapal model
Gambar 10 memperlihatkan pola gerakan rolling kapal model dari semua perlakuan yang diberikan. Gerakan rolling yang dibentuk oleh kapal model diubah ke dalam grafik berbentuk gelombang amplitudo. Gelombang amplitudo yang terjadi pada setiap perlakuan terlihat semakin lama akan semakin mengecil. Hal
13 tersebut menandakan bahwa gerakan rolling yang terbentuk akan semakin mengecil seiring bertambahnya waktu. Ini menunjukkan bahwa gerakan rolling merupakan gerakan osilasi. Gerakan osilasi merupakan suatu pergerakkan sudut yang diukur pada sumbu memanjang (Bhattacharyya 1978).
Gambar 10 juga menunjukkan bahwa sudut oleng yang dibentuk pada perlakuan Bk0, untuk setiap gerakan rolling-nya memiliki sudut yang paling besar jika dibandingkan dengan perlakuan Bk1, Bk2, dan Bk3. Demikian dengan perlakuan Bk1 yang memiliki sudut oleng lebih besar dibandingkan dengan perlakuan Bk2, juga perlakuan Bk2 yang memiliki sudut oleng lebih besar dibandingkan dengan perlakuan Bk3. Ini menunjukan bahwa, penambahan bilge keel pendek (Bk1), rata-rata dapat mengurangi sudut oleng kapal model sebesar 52%. Demikian dengan perlakuan kapal model yang menggunakan bilge keel sedang (Bk2) dan panjang (Bk3), rata-rata dapat mengurangi sudut oleng kapal model sebesar 60% dan 69%. Hal ini menunjukan bahwa kapal model yang diberi perlakuan Bk3 lebih cepat kembali ke posisi tegak semula dibandingkan dengan perlakuan Bk2, Bk1 dan Bk0.
Fenomena ini menunjukkan bahwa panjang bilge keel yang semakin panjang dapat mengurangi besar sudut olengyang terbentuk, sehingga kapal akan semakin cepat kembali ke posisi tegak semula. Fenomena ini terjadi karena saat kapal model melakukan gerakan rolling sejumlah massa air tertahan oleh adanya luas area bilge keel, dimana semakin besar luas area bilge keel yang menahan gerakan oleng kapal model maka sudut oleng yang terbentuk pun akan semakin kecil.
Melihat pengurangan sudut oleng yang dihasilkan dari semua perlakuan, menunjukan bahwa sudut oleng yang dihasilkan antara perlakuan Bk0 dan Bk1 dapat mengurangi sudut oleng sebesar 52%. Hal tersebut menunjukan bahwa kapal model yang dipasang bilge keel dengan rasio panjang terhadap length of waterline sebesar 0,2 masih efektif dalam meredam gerakan rolling yang dihasilkan oleh kapal model. Aloiso dan Felice (2006) menyatakan bahwa pemasangan bilge keel akan memberikan efek yang sangat signifikan terhadap gerakan rolling pada kapal. Hal ini didukung dengan hasil uji statistik terhadap nilai sudut oleng yang dihasilkan antara Bk0 vs Bk1 yang memiliki nilai F-hit yang lebih besar dibandingkan dengan nilai F-tab (Lampiran 2). Artinya bahwa nilai sudut oleng antar perlakuan tersebut memiliki perbedaan yang nyata. Perbedaan tersebut terjadi karena pemasangan bilge keel akan mempengaruhi hasil besar sudut oleng yang terjadi.
Gambar 10 selain menunjukan profil sudut oleng yang terjadi, juga menunjukan nilai rolling duration yang dihasilkan. Untuk memperjelas nilai rolling duration, Tabel 5 disajikan hasil rolling duration untuk keempat perlakukan yang dilakukan terhadap kapal model.
Tabel 5 Nilai rolling duration (detik) kapal model Bilge keel
Bk0 Bk1 Bk2 Bk3
Kisaran 12,5 - 12,58 7,14 - 7,27 5,82 - 5,92 4,12 - 4,54
14
Tabel 5 memperlihatkan bahwa keempat perlakuan yang dilakukan pada model kapal menghasilkan rolling duration yang berbeda. Pada keempat perlakuan terlihat bahwa pada perlakuan Bk0 dengan kisaran rolling duration 12,5-12,58 detik, memiliki nilai rolling duration yang paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sebaliknya, perlakuan Bk3 dengan kisaran rolling duration 4,12-4,54 detik, memiliki rolling duration yang paling kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga terjadi karena pada saat kapal bergerak oleng, massa air yang yang berada tepat di bawah kapal dapat dengan mudah bergerak mengikuti bentuk kasko kapal yang hidrodinamis. Sehingga pada perlakuan Bk0, nilai rolling duration yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang memakai bilge keel.
Tabel 5 menunjukkan bahwa penambahan bilge keel pendek (Bk1) dapat mengurangi rolling duration kapal model sebesar 42%. Demikian pula dengan perlakuan kapal model yang menggunakan bilge keel sedang (Bk2) dan panjang (Bk3) dapat mengurangi rolling duration kapal model sebesar 53% dan 66%. Menurut Iskandar dan Novita (2006) pengurangan rolling duration ini dikarenakan oleh penambahan bilge keel yang menyebabkan sejumlah massa air tertahan oleh bilge keel saat kapal bergerak oleng dari satu sisi ke sisi lainnya.
Pengurangan rolling duration kapal model tersebut jika dikaitkan dengan sudut oleng yang terbentuk, terlihat bahwa sudut oleng paling besar terjadi pada perlakuan Bk0, dimana pada perlakuan tersebut memiliki nilai rolling duration paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hasil tersebut akan semakin mengecil berturut-turut pada perlakuan Bk1, Bk2, dan Bk3. Hal tersebut membuktikan bahwa semakin kecil sudut oleng yang terbentuk maka akan berbanding lurus terhadap nilai rolling duration yang dihasilkan, dimana semakin kecil sudut oleng maka akan semakin kecil pula rolling duration yang dihasilkan. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa penambahan panjang bilge keel tidak hanya akan mengurangi sudut oleng, namun juga dapat mengurangi rolling duration pada kapal.
Pengurangan rolling duration yang dihasilkan dari semua perlakuan menunjukan bahwa rolling duration yang dihasilkan antara perlakuan Bk0 dan Bk1 dapat mengurangi rata-rata rolling duration sebesar 42%. Ini menunjukan bahwa kapal model yang dipasang dengan bilge keel dengan rasio panjang terhadap length of waterline sebesar 0,2 masih efektif dalam meredam gerakan rolling yang dihasilkan kapal model.
Berdasarkan hasil uji statistik terhadap nilai rolling duration antar perlakuan Bk0 vs Bk1, Bk0 vs Bk2, Bk0 vs Bk3, Bk1 vs Bk2, Bk1 vs Bk3, dan Bk2 vs Bk3 memiliki nilai F-hit yang lebih besar dibandingkan dengan nilai F-tab (Lampiran 3). Artinya bahwa nilai rolling duration yang dihasilkan antar setiap perlakuan memiliki perbedaan yang nyata. Perbedaan ini membuktikan bahwa panjang bilge keel dapat mempengaruhi besarnya nilai rolling duration kapal.
Rolling Period
15 Tabel 6 Nilai rolling period (detik) kapal model
Tabel 6 menunjukkan bahwa keempat perlakuan yang dilakukan pada kapal model menghasilkan rolling period yang berbeda. Hasil nilai rolling period menunjukkan bahwa perlakuan Bk0 dengan kisaran 0,73-0,91 memiliki nilai rolling period yang paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Demikian sebaliknya, perlakuan Bk3 dengan kisaran 0,70-0,83 memiliki nilai rolling period paling kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Rolling period adalah sejumlah waktu yang dibutuhkan oleh kapal untuk kembali tegak setelah kapal miring karena gaya yang bekerja padanya (Marjoni et al. 2010). Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata kapal model pada perlakuan Bk3 dapat melakukan 1 kali rolling dalam waktu 0,73 detik. Pada tabel tersebut terlihat bahwa perlakuan Bk0, Bk1, Bk2, dan Bk3 memiliki nilai rolling period yang semakin kecil. Menurut Novita et al. (2013) nilai rolling period yang semakin lama semakin kecil ini disebabkan karena moment pengembalik kapal semakin bertambah besar jika dibandingkan dengan moment pembalik kapal.
Menurut Liliana et al. (2012) besarnya sudut oleng yang dihasilkan akan mempengaruhi besarnya rolling period yang terjadi. Ini menandakan bahwa berkurangnya nilai rolling period kapal model tersebut dapat dikaitkan dengan sudut oleng yang terbentuk. Hal ini terlihat pada sudut oleng paling besar terjadi pada perlakuan Bk0, dimana pada perlakuan tersebut memiliki nilai rolling period paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hasil tersebut akan semakin mengecil berturut-turut pada perlakuan Bk1, Bk2, dan Bk3. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecilnya rolling periode yang dihasilkan, maka akan berbanding lurus dengan sudut oleng dan rolling duration yang dihasilkan.
Hasil tersebut dapat dikatakan bahwa penambahan panjang bilge keel tidak hanya akan mengurangi sudut oleng, dan rolling duration namun juga dapat mengurangi rolling period pada kapal. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil sudut oleng, rolling duration dan rolling period yang terjadi, maka kapal tersebut akan semakin stabil. Hasil ini senada dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Kruger dan Kluwe (2008) yang menyatakan bahwa jika stabilitas sebuah kapal rendah maka kapal tersebut memiliki rolling period yang besar. Sebaliknya, jika rolling period yang dihasilkan kecil maka kapal tersebut memiliki stabilitas yang tinggi. Namun jika rolling period yang dihasilkan sebuah kapal terlalu kecil, itu akan memberikan efek yang negatif pada kenyamanan kerja di atas dek (Novita 2003).
Berdasarkan hasil uji statistik terhadap nilai rolling period antar perlakuan Bk0 vs Bk1, Bk0 vs Bk2, Bk0 vs Bk3, Bk1 vs Bk2, Bk1 vs Bk3, dan Bk2 vs Bk3 memiliki nilai F-hit yang lebih besar dibandingkan dengan nilai F-tab (Lampiran 4). Artinya bahwa nilai rolling period yang dihasilkan antar perlakuan memiliki perbedaan yang nyata. Perbedaan ini membuktikan bahwa panjang bilge keel dapat mempengaruhi besarnya nilai rolling period kapal.
Bilge keel
Bk0 Bk1 Bk2 Bk3
Kisaran 0,73 - 0,91 0,77 - 0,87 0,73 - 0,85 0,70 - 0,83
16
Rolling Frequency
Data hasil nilai rolling frequency kapal model disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 Nilai rolling frequency kapal model
Tabel 7 memperlihatkan bahwa bahwa perlakuan Bk0 dengan kisaran nilai rolling frequency 2,39-2,4 memiliki nilai rataan yang paling kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Demikian sebaliknya, pada perlakuan Bk3 dengan kisaran rolling frequency 2,85-2,93 memiliki nilai rataan yang paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Menurut Bhattacharyya (1978) rolling frequency adalah banyaknya gerakan oleng kapal dalam satu satuan waktu. Hal tersebut menunjukan bahwa kapal model dengan perlakuan Bk3 memiliki rata-rata yang dapat menghasilkan hampir 3 gerakan oleng dalam 1 detik.
Tabel 7 menunjukkan bahwa hasil nilai rolling frequency dari perlakuan Bk0, Bk2, Bk2, dan Bk3, memiliki nilai rolling frequency yang semakin besar. Hasil rolling frequency ini sesuai dengan hubungan periode dan frekuensi, di mana semakin lama periode yang dibutuhkan maka akan semakin sedikit frekuensinya (f =1
�) (Liliana et al. 2012). Hal ini menandakan bahwa perlakuan Bk0 memiliki jumlah rolling yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Sehingga perlakuan Bk0 akan memakan waktu yang lebih banyak untuk mencapai posisi tegak semula.
Sebaliknya terjadi pada perlakuan Bk3 dimana perlakuan Bk3 menghasilkan jumlah rolling yang lebih sedikit, sehingga kapal model tidak akan banyak memakan waktu untuk kembali ke posisi tegak semula. Ini menandakan bahwa efek dari pemasangan bilge keel dapat mempengaruhi besar nilai rolling frequency. Semakin panjang bilge keel yang digunakan maka akan semakin besar nilai rolling frequency yang dihasilkan dan kapal akan semakin cepat kembali ke posisi yang stabil. Oleh sebab itu, perlakuan Bk3 memiliki hasil nilai rolling frequency yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Berdasarkan hasil uji statistik terhadap nilai rolling frequency antar perlakuan Bk0 vs Bk1, Bk0 vs Bk2, Bk0 vs Bk3, Bk1 vs Bk2, Bk1 vs Bk3, dan Bk2 vs Bk3 memiliki nilai F-hit yang lebih besar dibandingkan dengan nilai F-tab (Lampiran 5). Artinya bahwa nilai rolling frequency yang dihasilkan antar perlakuan memiliki perbedaan yang nyata. Perbedaan ini membuktikan bahwa panjang bilge keel dapat mempengaruhi besarnya nilai rolling frequency kapal.
Data hasil penelitian secara keseluruhan dikumpulkan dan dibandingkan pada tabel data hasil analisis eksperimen (Tabel 8).
Bilge keel
Bk0 Bk1 Bk2 Bk3
Kisaran 2,39 - 2,4 2,61 - 2,65 2,7 - 2,75 2,85 - 2,93
17 Tabel 8 Data hasil analisis ekperimen
Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan terlihat pada keempat parameter, rangking satu diberikan kepada setiap perlakuan yang dapat kembali ke posisi tegak semula lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kondisi ini diperoleh pada perlakuan Bk3 yang menghasilkan sudut oleng rolling duration, rolling period yang paling kecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Adapun untuk rolling frequency, rangking Idiberikan pada perlakuan yang menghasilkan nilai terbesar, yaitu perlakuan Bk3.
Hasil ini menjadikan kapal model yang dipasang dengan bilge keel dengan panjang rasio sebesar 0,4 terhadap length of waterline adalah perlakuan yang memberikan kemampuan untuk meredam gerakan rolling kapal model yang lebih baik. Walaupun perlakuan bilge keel dengan panjang rasio sebesar 0,2 terhadap length of waterline menempati rangking IV, perlakuan tersebut masih memiliki kemampuan yang efektif dalam meredam gerakan rolling kapal model.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Perbandingan antara setiap nilai parameter oleng, yaitu sudut oleng, rolling duration, rolling period, dan rolling frequency memberikan hasil yang berbeda nyata. Hal ini terjadi karena dampak dari penggunaan beberapa bilge keel dengan rasio antara panjang bilge keel dan length of waterline kapal model yang berbeda. Selanjutnya, bilge keel dengan rasio panjang terhadap length of waterline sebesar 0,2 masih memiliki kemampuan yang efektif dalam meredam gerakan rolling kapal model.
Saran
18
DAFTAR PUSTAKA
Aloisio G, Felice FDi. 2006. PIV analysis around the Bilge Keel of a Ship Model in Free Roll Decay. ConvegnoNazionale A.I.VE.LA. 14:1-11.
Bhattacharyya R. 1978. Dynamics of Marine Vehicles. New York (US): John Wiley & Sons, Inc.
Gachet M and Kherian JG. 2008. Impact of Linearization of Bilge Keel Damping On The Early Assessment of Vessel Operability. Di dalam: Anonim, editor. Proceedings of The ASME 27th International Conference on Offshore Mechanics and Arctic Engineering (OMAE); 2008 Jun 15-20; Estoril, Portugal. Estoril [PT]: ASME. hlm 1-8.
Haryanto R. 1987. Pengaruh Pemasangan Bilge keel terhadap Stabilitas dan Kemampuan Olah Gerak Model Kapal [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Iskandar BH, Novita Y. 2006. Pengaruh Beberapa Bentuk Kasko Model Kapal Terhadap Tahanan Gerak (Studi Pendahuluan). Bogor (ID): Departemen Pemanfaatan Sumberdaya.
Kruger S, Kluwe F. 2008. A Simplified Method for the Estimation of the Natural Roll Frequency of Ships in Heavy Weather. HANSA. 9(8):1-7.
Lewis ED, Brien RO. 1983. Kapal (Pustaka ilmu Life). Jakarta (ID): Tira Pustaka. Liliana N, Novita Y, Purwangka F. 2012. Jenis Muatan dan Pengaruh terhadap
Rolling Peroid Model Kapal. Jurnal Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut. 20(3):249-262.
Marjoni, Iskandar BH, Imron M. 2010. Stabilitas Statis dan dinamis Kapal Purse Seine di Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo Kota Banda Aceh Nangroe Aceh Darussalam. Jurnal Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut. 1(2):113-122.
Novita Y. 2003. Static Stability Comparison between Western Coast and Easter Coast Purse Seiner in North Sumatera. Bulettin PSP. 12(1):1-9.
Novita Y, Ramadhan AD, Imron M. 2013. Efek Perbedaan Luas Free Surface Muatan Cair Terhadap Gerakan Rolling Model Kapal. Jurnal Saintek Perikanan. 8(2):44-51.
Rouf ARA. 2004 Bentuk Kasko dan Pengaruhnya terhadap Tahanan Kasko Kapal Ikan. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Saputra D. 2007. Kajian Ukuran dan Posisi Pemasangan Bilge Keel pada Kasko Model Kapal Bentuk Round Bottom terhadap Tahanan Gerak [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
19 Lampiran 1 Dokumentasi penelitian
b. Pemasangan tali pada kapal model a. Pemasangan mika di depan
kaca flumetank
c. Penekanan sheer disalah satu sisi kapal model
f. Penempatan posisi bilge keel
20
Lampiran 2 Contoh perhitungan uji statistik sudut olengkapal model
Bk0 vs Bk1
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance Column 1 10 309,1 30,91 10,1277 Column 2 10 251,5 25,15 0,20278
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 165,88 1 165,88 32,116 2,24417E-05 4,41387 Within Groups 92,97 18 5,1652
21 Lampiran 3 Contoh perhitungan uji statistik rolling duration kapal model
Bk0 vs Bk1
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 10 125,19 12,5194 0,26327
Column 2 10 72,108 7,2108 0,00277
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 140,906 1 140,906 1059,25 1,9E-17 4,413 Within Groups 2,39443 18 0,133024
Total 143,300 19
Bk0 vs Bk2
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 10 125,194 12,5194 0,263274
Column 2 10 58,534 5,8534 0,001657
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 222,177 1 222,177 1677,252 3,2E-19 4,413 Within Groups 2,38437 18 0,13246
22
Lampiran 4 Contoh perhitungan uji statistik rolling period kapal model
Bk0 vs Bk1
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 8 7,158 0,89475 0,00049
Column 2 8 6,3166 0,78957 0,00221
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0,04425 1 0,044247 32,7239 5,29E-05 4,60011 Within Groups 0,01893 14 0,001352
Total 0,063177 15
Bk0 vs Bk2
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 6 5,4144 0,9024 0,000334
Column 2 6 4,6494 0,7749 0,001553
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0,04877 1 0,04877 51,7078 2,96E-05 4,965 Within Groups 0,00943 10 0,00094
23 Lampiran 5 Contoh perhitungan uji statistik rolling frequency kapal model
Bk0 vs Bk1
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 10 23,92 2,392 1,8E-05
Column 2 10 26,35 2,635 0,00038
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0,29525 1 0,29525 1472,14 1,0211E-18 4,414 Within Groups 0,00361 18 0,0002
Total 0,29886 19
Bk0 vs Bk2
Anova: Single Factor SUMMARY
Groups Count Sum Average Variance
Column 1 10 23,92 2,392 1,8E-05
Column 2 10 27,34 2,734 0,0004
ANOVA Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0,58482 1 0,58482 2770,2 3,623E-21 4,414 Within Groups 0,0038 18 0,00021
24
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 12 Januari 1992 dari pasangan ayah Nooryadi dan ibu Wiwik Purwanti. Penulis merupakan putra kedua dari dua bersaudara. Tahun 2010 penulis lulus dari SMA Negeri 5 Bandung dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Talenta Masuk IPB (UTMI) dan diterima di Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.