• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Cross Laminated Bamboo sebagai Bahan Komposit Struktural

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Karakteristik Cross Laminated Bamboo sebagai Bahan Komposit Struktural"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK

CROSS LAMINATED BAMBOO

SEBAGAI BAHAN KOMPOSIT STRUKTURAL

ANA AGUSTINA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Karakteristik Cross Laminated Bamboo sebagai Bahan Komposit Struktural adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2014

Ana Agustina

(4)
(5)

RINGKASAN

ANA AGUSTINA. Karakteristik Cross Laminated Bamboo sebagai Bahan Komposit Struktural. Dibimbing oleh DEDE HERMAWAN dan NARESWORO

NUGROHO.

Cross laminated bamboo (CLB) merupakan produk yang dihasilkan pada

penelitian ini, yang bertujuan untuk menghasilkan cross laminated bamboo (CLB) kualitas tinggi dengan mengkaji pengaruh kombinasi ketebalan dan orientasi sudut bilah bambu. Pada penelitian ini dilakukan variasi sudut penyusunan antar lapisan CLB dengan membentuk sudut 0o, 45o dan 90o antara core dengan

face/back. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu betung yang dipotong

menjadi ukuran bilah 115 cm x 2 cm dengan ketebalan bilah 0.80 cm, 1.00 cm dan 1.33 cm. Tebal CLB yang dibuat sebesar 4 cm menggunakan perekat isosianat pada berat labur 280 g/m2. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian kerapatan, kadar air, kembang susut, delaminasi, keteguhan rekat, tekan sejajar serat, MOE dan MOR yang mengacu pada standar pengujian ASTM D 143-94 (2008) dan JAS 1152 (2007), serta pengujian kekakuan dan kekuatan bidang panel CLB dengan melakukan penurunan rumus sesuai dengan kaidah-kaidah mekanika teknik.

Berdasarkan hasil pengujian, nilai delaminasi, kekakuan lentur, keteguhan patah dan keteguhan rekat belum memenuhi persyaratan standar JAS 1152 (2007). Sementara untuk nilai tekan sejajar serat apabila dibandingkan dengan produk CLT dari kayu solid yang memiliki nilai kekuatan tekan sejajar serat 245 kg/cm2, maka nilai kekuatan tekan sejajar serat CLB jauh lebih tinggi hasilnya yaitu dapat mencapai 434 kg/cm2. Pada pengujian bidang panel terjadi peningkatan nilai MOE dan MOR seiring dengan peningkatan sudut core CLB.

(6)

SUMMARY

ANA AGUSTINA. Characteristic of Cross Laminated Bamboo as Structural Composite Material. Supervised by DEDE HERMAWAN and NARESWORO NUGROHO.

Cross laminated bamboo (CLB) was a product in this research, the purpose of this study was to produce the high quality of cross laminated bamboo with examine the effect of layer thickness and orientation angle of CLB. In this study, the preparation of the angular variation between CLB layer with an angle

between the core and face/back of 0o, 45o and 90o were investigated. The type of

bamboo used was betung bamboo splits were cut into size of 115 cm x 2 cm with thickness of 0.80 cm, 1.00 cm and 1.33 cm respectively. CLB products were made

with a thickness of 4 cm by using isocyanate adhesive (glue spread 280 g/m2).

Testing was conducted on the test density, moisture content, swelling and shrinkage volume, delamination, bonding strength, compresive strength parallel to grain, MOE and MOR with reference to ASTM D 143-94 (2008), and JAS 1152 (2007). and testing of the stiffness and strength of CLB panel by derivation according to the principles of engineering mechanics.

Based on the test results, the value of delamination, MOE, MOR, and bonding strength were still under the standard requirements of JAS 1152 (2007). When compared with CLT products of solid wood which had a value of

compressive strength parallel to the fiber of 245 kg/cm2, compressive strength

parallel to fiber value of CLB was much higher which can reach 434 kg/cm2. In

CLB panel testing occurred MOE and MOR values increase with increasing the angle of CLB cores.

(7)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(8)
(9)

KARAKTERISTIK

CROSS LAMINATED BAMBOO

SEBAGAI BAHAN KOMPOSIT STRUKTURAL

ANA AGUSTINA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)
(11)

Judul Tesis : Karakteristik Cross Laminated Bamboo sebagai Bahan Komposit Struktural

Nama : Ana Agustina

NIM : E251120041

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Dr Ir Dede Hermawan, MSc Dr Ir Naresworo Nugroho, MS Ketua Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof Dr Ir Fauzi Febrianto, MSc Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

(12)
(13)

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan September 2013 ini ialah pengembangan produk komposit, dengan judul Karakteristik Cross Laminated

Bamboo sebagai Bahan Komposit Struktural. Karya ilmiah ini merupakan salah

satu syarat untuk melaksanakan penelitian dalam rangka penulisan Tesis untuk memperoleh gelar Master Sains pada Program Studi Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir.Dede Hermawan, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS selaku pembimbing atas bimbingan dan arahan dalam penulisan karya ilmiah, sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan, Bapak Effendi Tri Bahtiar S.Hut M.Si yang telah banyak memberi saran dalam penulisan karya ilmiah ini, serta Bapak Prof. Dr. Ir. Sucahyo, MS selaku dosen Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis. Kepada Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) atas bantuan dana beasiswa yang diberikan dan kepada Dekan Sekolah pascasarjana serta ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan penulis kesempatan untuk melanjutkan studi strata dua. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah (Zulkarnain) (alm), ibu (Zuraida), serta adik-adikku (Mia Masthuriah, Fajar Mustaqin dan Faras Khairunnisa), atas segala doa dan kasih sayangnya. Di samping itu, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Reza Ramadhan, Romi Lasse, Bapak Supriatin, Bapak Suhada, Bapak Kadiman, Bapak Mahdi dan Muh Irfan yang telah membantu selama proses penelitian. Serta ucapan terima kasih kepada seluruh rekan-rekan seperjuangan pascasarjana THH 2012.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, Agustus 2014

(14)
(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 3

2 METODOLOGI 4

Tempat dan Waktu Penelitian 4

Bahan dan Alat Penelitian 4

Prosedur Penelitian 4

Analisis Data 14

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 15

Sifat Fisis Cross Laminated Bamboo 15

Delaminasi Cross Laminated Bamboo 20

Sifat Mekanis Cross Laminated Bamboo 22

Kekakuan dan Kekuatan Bidang Panel Cross Laminated Bamboo 29

4 SIMPULAN DAN SARAN 32

Simpulan 32

Saran 32

DAFTAR PUSTAKA 33

LAMPIRAN 36

(16)

DAFTAR GAMBAR

1 Diagram alir pembuatan panel CLB 5

2 Pola penyusunan CLB berdasarkan ketebalan bilah dan orientasi sudut core 7

3 Pola pemotongan contoh uji panel CLB 9

4 Pengujian MOE dan MOR balok CLB menggunakan UTM merk

instron 11

5 Pengujian kekuatan tekan sejajar serat CLB 11

6 Pengujian keteguhan rekat 12

7 Pengujian kekakuan dan kekuatan bidang panel 13

8 Pengujian kekakuan dan kekuatan bidang panel 13

9 Kerapatan cross laminated bamboo 15

10 Kadar air cross laminated bamboo 15

11 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap kadar air cross

laminated bamboo 17

12 Penyusutan volume cross laminated bamboo 18

13 Pengembangan volume cross laminated bamboo 19

14 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap pengembangan

volume cross laminated bamboo 19

15 Delaminasi rendaman air dingin cross laminated bamboo 20

16 Delaminasi rendaman air mendidih cross laminated bamboo 21

17 Kekakuan lentur cross laminated bamboo 22

18 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap MOE cross

laminated bamboo 23

19 Hubungan nilai MOE pengujian dengan nilai MOE persamaan

Hankinson 24

20 Keteguhan patah cross laminated bamboo 25

21 Hubungan nilai MOR pengujian dengan nilai MOR persamaan

Hankinson 26

22 Kekuatan tekan sejajar serat cross laminated bamboo 27

23 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap tekan sejajar serat

cross laminated bamboo 27

24 Keteguhan rekat cross laminated bamboo 28

25 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap keteguhan rekat

cross laminated bamboo 29

26 Kekakuan lentur bidang panel cross laminated bamboo 30

27 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap MOE bidang panel

cross laminated bamboo 30

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Data rata-rata dan standar deviasi sifat fisis cross laminated bamboo 36 2 Data rata-rata dan standar deviasi delaminasi cross laminated bamboo 36 3 Data rata-rata dan standar deviasi sifat mekanis cross laminated

bamboo 37

4 Data rata-rata dan standar deviasi kekakuan dan kekuatan bidang panel

cross laminated bamboo 37

5 Hasil analisis statistika (uji F) kerapatan Cross Laminated Bamboo 38 6 Hasil analisis statistika (uji F) kadar air Cross Laminated Bamboo 38 7 Hasil analisis statistika (uji F) susut volume Cross Laminated Bamboo 39 8 Hasil analisis statistika (uji F) pengembangan volume Cross Laminated

Bamboo 39

9 Hasil analisis statistika (uji F) delaminasi rendaman air dingin Cross

Laminated Bamboo 40

10 Hasil analisis statistika (uji F) delaminasi rendaman air mendidih Cross

Laminated Bamboo 41

11 Hasil analisis statistika (uji F) MOE Cross Laminated Bamboo 42 12 Hasil analisis statistika (uji F) MOR Cross Laminated Bamboo 42 13 Hasil analisis statistika (uji F) tekan sejajar serat Cross Laminated

Bamboo 43

14 Hasil analisis statistika (uji F) keteguhan rekat Cross Laminated

Bamboo 44

15 Hasil analisis statistika (uji F) MOE bidang panel Cross Laminated

Bamboo 45

16 Hasil analisis statistika (uji F) MOR bidang panel Cross Laminated

(18)
(19)

1

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Teknologi pemanfaatan hasil hutan kayu semakin berkembang, salah satunya adalah produk biokomposit. Adanya keterbatasan terhadap jumlah kayu bulat menjadi alasan yang membuat produk biokomposit semakin sering digunakan. Berdasarkan data FAO (2012) produksi produk biokomposit terus meningkat, hingga saat ini jumlah produksi sekitar 6,6 juta m3/tahun. Produk biokomposit yang terus dikembangkan saat ini di antaranya papan partikel, papan serat, plywood, OSB hingga CLT yang digunakan sebagai bahan struktural.

Seiring adanya penurunan kualitas kayu bulat untuk tujuan konstruksi, membuat produk laminasi bersilang menjadi substitusi bagi kekurangan kayu bulat tersebut. Cross Laminated Timber (CLT) merupakan perkembangan dari produk kayu lapis, dimana CLT disusun dari papan tipis dan direkatkan secara bersama-sama yang dimanfaatkan sebagai komponen struktural (FPInnovations 2013). Salah satu hal yang menarik untuk diteliti adalah bagaimana menggantikan kayu mengingat keterbatasan jumlah kayu bulat, dengan bahan substitusi lainnya yang memiliki potensi tinggi dan mudah dikembangkan, salah satunya adalah bambu.

Di Indonesia terdapat sekitar 143 jenis bambu termasuk yang masih tumbuh liar dan belum banyak dimanfaatkan (Widjaja 2001). Jenis-jenis bambu yang ada di Indonesia baru sekitar 20 jenis saja yang telah dimanfaatkan dan dibudidayakan oleh masyarakat. Jenis-jenis tersebut antara lain: bambu apus, bambu ater/apel, bambu andong, bambu betung, bambu kuning, bambu hitam/wulung, bambu talang, bambu tutul, bambu cendani, bambu cangkoreng, bambu perling, bambu tamiang, bambu loleba, bambu batu, bambu belangke, bambu sian, bambu jepang, bambu gendang, bambu bali, dan bambu pagar (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999). Indonesia berada pada posisi keempat di dunia dalam hal luasan hutan bambu yakni memiliki luas sekitar 2,081 juta Ha (Lobovikov et al. 2007).

Pemanfaatan bambu saat sekarang ini semakin berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Bambu sangat diperlukan sebagai bahan baku di beberapa industri, antara lain yaitu industri kertas, furniture, kerajinan, sumpit

(chopstick), plybamboo, bambu lamina dan rebung kalengan. Dalam berbagai

pemanfaatan ini oleh industri membuat pemenuhan bahan baku tidak dapat bergantung pada ketersediaan bambu di alam. Sehingga perlu adanya pengembangan dalam penanaman bambu dalam bentuk perkebunan. Pembudidayaan bambu dapat dilakukan pada lahan-lahan yang tidak produktif, dengan demikian bambu dapat meningkatkan produktivitas lahan.

(20)

2

al. 2006; Bahtiar et al. 2012; Van der Lugt et al. 2012) dan kelestarian sumberdaya bambu di alam (Vogtländer et al. 2010; Nath et al. 2012). Sebagai produk alam, sifat-sifat batang bambu dipengaruhi oleh banyak faktor selama periode pertumbuhannya antara lain genetik dan kondisi habitat. Faktor-faktor tersebut menghasilkan variabilitas pada bentuk dan ukuran bambu sehingga setiap batang dapat memiliki beraneka ragam ukuran, taper, dan eksentrisitas (Bahtiar et al. 2013).

Bambu merupakan salah satu bahan baku alternatif sebagai substistusi kayu dalam hal pengembangan produk berbasis teknologi panel komposit. Beberapa penelitian dan pemanfaatannya sebagai bahan baku panel yaitu OSB bambu (Lee et al. 1996; Sumardi 2008; Febrianto et al. 2012), oriented strand lumber dari bambu (Malanit et al. 2011), bambu lamina (Sulastiningsih et al. 1996; Nugroho & Ando 2001; Sulastiningsih et al. 1998; Sulastiningsih et al. 2005; Verma & Chariar 2012), serta plybamboo (Anwar et al. 2012) telah dilakukan. Sebagai salah satu alternatif pengembangan pemanfaatan bambu pada penelitian ini dilakukan dengan menciptakan sebuah inovasi dari panel cross laminated timber (CLT) dengan menggunakan bambu sebagai substitusi kayu. Adapun jenis bambu yang digunakan sebagai bahan baku adalah bambu betung (Dendrocalamus asper

(Schult. f.) Backer ex Heyne). Alasan penggunaan bambu betung sebagai bahan baku adalah kekuatan yang dimiliki oleh bambu betung lebih baik dibandingkan jenis lain (Chaowana 2013), dan hanya bambu betung yang dapat memenuhi persyaratan tebal bilah yang dibutuhkan pada penelitian ini.

Cross laminated bamboo (CLB) merupakan produk inovasi baru yang

dibuat dari bilah-bilah bambu yang direkat bersilangan. CLB merupakan perpanjangan dari teknologi yang dimulai dengan produk kayu lapis dengan lapisan laminasi silang dari vinir yang telah dikenal memiliki sifat-sifat unggul karena adanya penataan lapisan yang saling bersilangan arah transversal dan longitudinal. CLB diilhami oleh mulai berkembangnya CLT yang dibuat dari lamina-lamina kayu yang direkat bersilangan. Dengan berbagai keunggulan bambu (baik sifat-sifat dasar maupun sumbangannya pada lingkungan), bambu merupakan salah satu material unggulan yang dapat diproduksi menjadi CLB. Produk CLB ini menggunakan bambu dengan memanfaatkan sifat orthotropis dari bambu dengan mendistribusikan kekuatan sepanjang serat bambu pada kedua arah.

(21)

3

teknik kombinasi ketebalan bilah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan baku bambu.

Perumusan Masalah

Bambu merupakan salah satu bahan baku struktural yang dapat dikembangkan sebagai alternatif kayu. Salah satunya adalah dalam pengembangan teknologi bambu lamina. Cross Laminated Bamboo (CLB) dibuat dengan memanfaatkan bambu dalam ukuran bilah sebagai upaya mengatasi keterbatasan dimensi bambu yang terdapat rongga dibagian dalam buluh bambu. Kebutuhan komponen struktural yang berdimensi besar dapat diatasi dengan inovasi ini karena CLB dapat dibuat dengan dimensi tak hingga dari bahan baku bilah-bilah bambu kecil.

Setiap komponen struktural harus memenuhi persyaratan tertentu menyangkut kekuatan, kekakuan, dan kestabilan struktur. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pembuatan CLB dengan variasi ketebalan dan orientasi sudut bilah agar didapatkan CLB dari bambu betung yang dapat memenuhi persyaratan bahan struktural dan dapat memanfaatkan seluruh bagian buluh bambu sebagai upaya efisiensi.

Tujuan Penelitian

(22)

4

2 METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengerjaan Kayu IPB untuk proses pembuatan CLB, pengujian sifat fisis CLB di Laboratorium Biokomposit IPB dan pengujian sifat mekanis di Laboratorium Rekayasa dan Desain Bangunan Kayu IPB, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Penelitian telah dilakukan pada bulan September 2013 hingga bulan Mei 2014.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan adalah bambu betung berumur 3-4 tahun yang diperoleh dari daerah Cibeureum Bogor, Jawa Barat. Perekat yang digunakan adalah jenis Water Based Polymer Isocyanate (WBPI) dari PT. Polychemi Asia Pasifik, terdiri dari base resin dan hardener yang dicampur pada proses perekatan pada perbandingan 100:15 dan berat labur 280 g/m2.

Alat yang digunakan untuk pembuatan papan dan bilah bambu adalah golok, gergaji mesin (circular saw) dan amplas. Kiln dry digunakan untuk mengeringkan bilah bambu. Alat-alat lainnya adalah peralatan untuk aplikasi perekat (wadah plastik, pengaduk, dan kape karet) dan mesin cold press untuk pengempaan CLB. Pengujian CLB menggunakan kaliper digital dan meteran untuk pengukuran dimensi, timbangan digital untuk mengukur berat contoh uji, oven untuk pengujian sifat fisis, moisture meter untuk mengukur kadar air, water bath dan wadah. Serta alat uji Universal Testing Machine merk Instron dengan kapasitas beban sebesar 5 ton dan Universal Testing Machine merk Baldwin kapasitas 30 ton untuk pengujian sifat mekanis.

Prosedur Penelitian

Cross laminated bamboo (CLB) yang dibuat sebanyak 27 panel dengan

(23)

5

Gambar 1 Diagram alir pembuatan panel CLB Persiapan Bahan Baku

Bilah core Bilah face/back

Pembentukan Panel CLB (3-5 Lapisan)

Pelaburan Perekat Isosianat 280 g/m2

Cold Press

(t = ± 3 jam, P= 10 kg/cm2

Karakteristik Panel CLB Pengkondisian ± 1 minggu

Pembuatan contoh uji

Pengujian sifat fisis-mekanis Pembuatan Bilah dan

Pengeringan

(24)

6

1. Pembuatan Bilah dan Pengeringan

Bambu yang digunakan adalah buluh bambu yang kemudian dipotong berukuran panjang 115 cm lalu dibelah menjadi bilah-bilah berukuran 2 cm.

Bilah-bilah dikelompokkan menjadi dua yaitu yang dipergunakan sebagai bilah face/back, dan bilah core. Adapun ukuran bilah yang dibuat serta jumlahnya adalah:

1. Bilah face atau back sebanyak 810 bilah, dibagi menjadi tiga kelompok bilah berdasarkan perbedaan ketebalan yaitu:

a. (0.80 cm x 2 cm x 115 cm), sebanyak 18 x 15 bilah b. (1.00 cm x 2 cm x 115 cm), sebanyak 18 x 15 bilah c. (1.33 cm x 2 cm x 115 cm), sebanyak 18 x 15 bilah

Bagian kulit luar bilah face dan back tidak disayat sehingga masih memiliki lapisan silika.

2. Bilah core sebanyak 810 bilah, dipergunakan untuk core yang disusun memiliki orientasi sudut 0o, 45o dan 90o terhadap face maupun back. Ada tiga kelompok bilah core berdasarkan perbedaan ketebalannya yaitu:

a. (0.80 cm x 2 cm x 115 cm), sebanyak 27 x 15 bilah b. (1.00 cm x 2 cm x 115 cm), sebanyak 18 x 15 bilah c. (1.33 cm x 2 cm x 115 cm), sebanyak 9 x 15 bilah

Bilah core disayat kulit luarnya sehingga tidak memiliki lapisan silika lagi untuk memudahkan perekatan.

(25)

7

(26)

8

2. Pembuatan Panel CLB

Panel CLB yang dibuat berukuran panjang 115 cm, lebar 30 cm dan tebal 4 cm dengan 3 kombinasi ketebalan bilah. Tipe panel CLB A (tebal bilah 0.80 cm) terdiri dari 3 orientasi sudut yaitu 0o, 45o dan 90o. Tipe panel CLB B (tebal bilah 1.00 cm) terdiri dari 3 orientasi sudut yaitu 0o, 45o dan 90o. Begitu pula dengan Tipe panel CLB C (tebal bilah 0.80 cm) terdiri dari 3 orientasi sudut yaitu 0o, 45o dan 90o.

3. Perekatan

Perekat yang digunakan dilaburkan pada permukaan bilah dengan menggunakan kape karet. Pelaburan dilakukan pada dua permukaan (double

spread) dengan berat labur 280 g/m2. Perekat yang akan dilaburkan disiapkan

dengan menghitung kebutuhan perekat tiap bilah, berdasarkan luas permukaan bidang rekat dengan menggunakan rumus:

Kebutuhan perekat = Luas bidang rekat x Berat labur

Permukaan bidang rekat bambu dibersihkan dari segala kotoran dan debu, kemudian perekat dilaburkan pada permukaan bidang rekat secara double spread dengan menggunakan kape karet sesuai kebutuhan perekat setiap bilah.

4. Pengempaan

Pengempaan dilakukan dengan mengunakan mesin kempa dengan tekanan pengempaan dingin (cold press) umumnya berkisar 10 kg/cm2, pengempaan dengan perekat isosianat membutuhkan waktu sekitar ± 3 jam (Riana 2012). Pengukuran tekanan kempa biasanya dihitung berdasarkan luas bidang rekatan dan gaya kempa rencana.

5. Pengkondisian

Panel CLB dikeluarkan dari mesin kempa dan dikondisikan selama ± 1 minggu sebelum dilakukan pengujian sifat fisis dan mekanis dengan kelembaban relatifnya berkisar 60-70% dan suhu ruangan (±27oC). Panel CLB ditumpuk dengan menggunakan ganjal setiap lapisan panel CLB tingkat demi tingkat. Tumpukan CLB berbentuk persegi dengan ganjal lurus baik secara vertikal maupun horizontal.

6. Pengujian

Pembuatan contoh uji dilakukan setelah panel CLB disimpan dalam ruangan

(conditioning) selama ± 1 minggu. Pengujian dilakukan terhadap sifat fisis dan

mekanis berdasarkan standar ASTM D 143-94 (2008), delaminasi berdasarkan

Japanese Agricultural Standard for Glued Laminated Timber Notification No.

(27)

9

Keterangan:

1. MOE dan MOR balok (61 cm x 5 cm x 4 cm) 2. Kekuatan tekan sejajar serat (16 cm x 5 cm x 4 cm)

3. (a) Delaminasi rendaman air dingin (7.5 cm x 7.5 cm x 4 cm) (b) Delaminasi rendaman air mendidih (7.5 cm x 7.5 cm x 4 cm) 4. Keteguhan rekat (5 cm x 5 cm x 4 cm)

5. Kerapatan, kadar air dan kembang susut (5 cm x 5 cm x 4 cm) 6. Kekakuan dan kekuatan bidang panel (20 cm x 20 cm x 4 cm)

Gambar 3 Pola pemotongan contoh uji panel CLB

a. Pengujian Sifat Fisis 1) Kerapatan (ρ)

Kerapatan merupakan nilai dari berat contoh uji sebelum di oven dibagi dengan volume sebelum di oven, yaitu pada kondisi kering udara. Volume contoh uji diukur dengan mengalikan panjang, lebar, dan tebalnya dengan alat pengukur kaliper (VKU) dan selanjutnya ditimbang (BKU). Nilai kerapatan dihitung dengan

Kadar air merupakan hasil pembagian kandungan berat air terhadap berat kering tanur dari contoh uji. Berat air adalah selisih dari berat contoh uji sebelum di oven dikurangi berat kering tanur. Contoh uji kerapatan digunakan juga dalam menentukan kadar air. Contoh uji dalam keadaan kering udara ditimbang beratnya (BKU) dan dikeringkan dalam oven pada suhu 103 ± 2 oC selama 24 jam atau sampai mencapai berat konstan dan ditimbang sehingga diperoleh berat kering tanur (BKT). Nilai kadar air dihitung dengan rumus:

Kadar air (%) =

Pengujian susut kayu dirumuskan sebagai selisih antara dimensi awal (DA) dengan dimensi kering tanur (DB) dibandingkan dengan dimensi awalnya. Contoh uji kerapatan dan kadar air digunakan juga dalam menentukan susut kayu. Contoh

(28)

10

uji diukur tebal (arah radial), lebar (arah tangensial), dan panjang (arah longitudinal) dengan menggunakan kaliper sehingga diperoleh dimensi awal. Contoh uji dioven pada suhu 103 ± 2 oC selama 24 jam. Contoh uji dikeluarkan dari oven kemudian diadakan pengukuran panjangnya kembali sehingga diperoleh dimensi akhir. Nilai susut volume dihitung dengan rumus:

Susut volume (%) =

Pengujian pengembangan dapat dirumuskan sebagai selisih antara dimensi akhir (DB) dengan dimensi awal (DA) dibandingkan dengan dimensi awalnya. Contoh uji diukur tebal (arah radial), lebar (arah tangensial), dan panjang (arah longitudinal) dengan menggunakan kaliper sehingga diperoleh dimensi awal (DA). Contoh uji direndam dalam air selama ± 1 minggu. Contoh uji dikeluarkan dari air kemudian diadakan pengukuran panjangnya kembali sehingga diperoleh dimensi akhir (DB). Nilai pengembangan volume dihitung dengan rumus:

Pengembangan volume (%) = DA

DA -DB

x 100%

b. Pengujian Sifat Mekanis

1) Modulus of Elasticity (MOE)

Contoh uji untuk pengujian MOE dan MOR berukuran 4 cm x 5 cm x 61 cm untuk dimensi tebal, lebar, dan panjang. Pengujian MOE panel CLB dilakukan

∆P : Besar perubahan beban sebelum batas proporsi (kg) L : Jarak sangga (cm)

∆Y : Besar perubahan defleksi akibat perubahan beban (cm) b : Lebar contoh uji (cm)

h : Tebal contoh uji (cm)

2) Modulus of Rupture (MOR)

Pengujian MOR panel CLB dilakukan bersama-sama dengan pengujian MOE dengan memakai contoh uji yang sama (Gambar 4). Pengujian MOR dilakukan sampai panel CLB yang diberikan beban terpusat ditengah bentangnya mengalami kerusakan. Nilai MOR dihitung dengan rumus:

MOR= 2

(29)

11

dimana:

MOR : Modulus of rupture (kg/cm2)

P : Beban maksimum (kgf)

L : Jarak sangga (cm) b : Lebar contoh uji (cm) h : Tebal contoh uji (cm)

Gambar 4 Pengujian MOE dan MOR balok CLB menggunakan UTM merk instron

3) Kekuatan Tekan Sejajar Serat

Keteguhan tekan sejajar serat merupakan kemampuan menahan gaya tekan sejajar arah serat dan mengakibatkan terjadi perpendekan. Contoh uji dengan ukuran tebal, lebar, dan panjang masing-masing 4 cm, 5 cm, dan 16 cm diberikan beban pada arah sejajar serat pada kedudukan contoh uji vertikal, pemberian beban secara perlahan-lahan sampai contoh uji mengalami kerusakan (Gambar 5). Beban tersebut merupakan beban maksimum yang dapat diterima oleh contoh uji. Nilai keteguhan tekan sejajar serat dihitung dengan rumus:

Kekuatan tekan sejajar serat (kg/cm2) =

) (cm penampang Luas

(kg) maksimum Beban

2

(30)

12

4) Keteguhan Rekat

Pengujian keteguhan rekat dilakukan dengan cara memberikan pembebanan yang diletakkan pada arah sejajar serat dengan meletakkan contoh uji secara vertikal (Gambar 6). Contoh uji keteguhan rekat memiliki dimensi panjang, lebar dan tebal masing-masing 5 cm, 5 cm dan 4 cm. Nilai beban maksimum dibaca saat contoh uji mengalami kerusakan. Nilai keteguhan rekat dihitung dengan rumus:

Keteguhan rekat (kg/cm2) =

) (cm direkat yang

permukaan Luas

(kg) maksimum Beban

2

Gambar 6 Pengujian keteguhan rekat

c. Delaminasi

Pengujian delaminasi dilakukan dengan dua cara yaitu perendaman dalam air dingin dan air mendidih. Contoh uji yang digunakan diambil dari bagian ujung panel CLB dengan ukuran panjang 7.5 cm. Perendaman dalam air dingin dengan merendam contoh uji dalam air pada suhu ruangan selama 6 jam. Selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 40 ± 3 oC selama 18 jam. Perendaman dalam air mendidih dilakukan dengan merebus contoh uji dalam air mendidih (± 100 oC) selama 4 jam kemudian dilanjutkan dengan merendamnya dalam air pada suhu ruangan selama 1 jam. Setelah itu contoh uji dikeringkan dalam oven pada suhu 70 ± 3 oC selama 18 jam. Kemudian dilakukan pengukuran persentase lepasnya bagian bidang rekat antar lamina (rasio delaminasi) dengan rumus:

Rasio Delaminasi % =Panjang total delaminasi

panjang garis rekat x 100

d. Uji kekakuan dan kekuatan bidang panel

(31)

13

Gambar 7 Cara pengujian kekakuan dan kekuatan bidang panel

Pengujian kekakuan dan kekuatan bidang panel menggunakan UTM merk Baldwin dengan pengukuran defleksi pada satu titik (Gambar 8). Dalam perhitungan nilai kekakuan bidang panel nilai MOE yang diperoleh merupakan MOE gabungan. Sementara nilai MOE bidang panel akan diperoleh setelah dilakukan penurunan rumus MOE. Rumus yang digunakan untuk menghitung MOE bidang panel adalah sebagai berikut:

2Eg

E1 : MOE hasil center point loading (MOE sisi kuat) E2 : MOE sisi lemah

Eg : MOE gabungan dari total defleksi Ep : MOE bidang panel

k : konstanta; dinyatakan dengan  1 1 Eg

E k

Gambar 8 Pengujian kekakuan dan kekuatan bidang panel 20 cm

a

(32)

14

Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode analisis rancangan dua faktor dalam rancangan acak lengkap (faktorial RAL) (Mattjik & Sumertajaya 2000) dengan 2 faktor perlakuan yaitu perlakuan tebal dan orientasi sudut bilah. Faktor perlakuan tebal bilah penyusun CLB (A) mempunyai 3 taraf perlakuan yaitu bilah dengan tebal 0.8 cm, 1 cm dan 1.33 cm. Faktor perlakuan orientasi sudut bilah (B) mempunyai 3 taraf perlakuan yaitu 0o, 45o dan 90o. Tiap kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan, dengan demikian jumlah satuan percobaan yang dibuat adalah 27 panel CLB. Adapun model umum yang digunakan adalah:

Yijk = μ + Ai + Bj + (AB)ij + єijk

Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan parameter penentu kualitas CLB ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ke-i yang mendapat taraf ke-j

μ = Nilai tengah pengamatan

Ai = Nilai pengaruh faktor tebal bilah pada taraf ke-i

Bj = Nilai pengaruh faktor orientasi sudut lamina pada taraf ke-j

ABij = Nilai pengaruh interaksi taraf ke-i faktor tebal bilah dantaraf ke-j faktor orientasi sudut bilah

єij = Nilai galat percobaan

(33)

15

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat Fisis Cross Laminated Bamboo

Sifat fisis merupakan salah satu sifat yang menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Hasil pengujian sifat fisis CLB selengkapnya terdapat pada Lampiran 1.

1. Kerapatan

Kerapatan merupakan salah satu sifat fisis yang dinyatakan dalam perbandingan antara massa terhadap volume bahan dalam kondisi kering udara. Kerapatan CLB yang dihasilkan memiliki kisaran nilai yang cukup seragam yaitu 0.66-0.70 g/cm3 (Gambar 9). Kecenderungan nilai kerapatan yang dihasilkan pada tebal bilah 0.80 cm memiliki nilai kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan tebal bilah lainnya, hal ini berkaitan dengan struktur penyusun bambu berupa ikatan vaskular yang semakin rapat dan kompak pada bagian ujung hingga bagian pangkal buluh bambu.

Berdasarkan hasil uji analisis sidik ragam (Lampiran 5), pada data kerapatan CLB tidak terdapat pengaruh yang nyata pada kedua faktor perlakuan tebal bilah dan sudut core serta interaksi kedua faktor tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh keseragaman kondisi bahan baku meskipun masing-masing papan tersusun atas tebal bilah yang berbeda dengan jumlah garis rekat yang berbeda pula, akan tetapi tidak memberikan pengaruh yang berbeda pada kerapatan CLB.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terjadi peningkatan nilai kerapatan bambu dari bagian pangkal, bagian tengah hingga bagian ujung bambu (Chaowana 2013; Malanit et al. 2008). Akan tetapi dalam penelitian ini terdapat keseragaman nilai kerapatan CLB, hal ini diduga karena pengaruh dari jumlah lapisan yang berbeda dari setiap tebal bilah.

(34)

16

Dalam penelitian ini dilakukan pula pengukuran kerapatan bambu betung. Adapun nilai kerapatan bambu betung yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0.78 g/cm3. Nilai kerapatan bahan baku bambu betung lebih tinggi dibandingkan produk CLB yang dihasilkan, hal ini berkaitan dengan terdapatnya beberapa celah pada produk yang dihasilkan sebagai akibat dari proses pengerjaannya yang bersifat manual sehingga terjadi ikatan yang kurang kompak antara perekat dan bambu, yang kemudian menghasilkan rongga antar lapisan CLB. Selain itu, kandungan kadar air yang lebih tinggi pada bambu utuh dapat memberikan pengaruh terhadap kerapatan bambu yang lebih tinggi dibandingkan kerapatan CLB. Hal ini dinyatakan dalam penelitian Riana (2012) bahwa kerapatan balok utuh lebih tinggi dibandingkan produk CLT karena adanya pengaruh dari kadar air. Akan tetapi berdasarkan hasil uji t antara kerapatan bahan baku bambu dan kerapatan CLB tidak terdapat perbedaan yang signifikan sehingga tidak terdapat perbedaan sifat dari segi kerapatan antara produk dan bambu betung.

2. Kadar Air

Kadar air suatu produk erat kaitannya terhadap bahan baku dan jenis perekat yang digunakan. Kadar air merupakan salah satu faktor penting yang dapat memberikan pengaruh terhadap sifat mekanis bambu (Li 2004). Pengujian kadar air dilakukan untuk melihat banyaknya kadar air yang terkandung pada CLB pada kondisi kering udara. Kadar air CLB rata-rata adalah 12.97 % dengan kisaran nilai 11.45-13.61 %. Pada Gambar 10 dapat dilihat bahwa kadar air cenderung berfluktuatif, dimana masing-masing tebal bilah memiliki pengaruh yang berbeda terhadap sudut core yang digunakan. Pada tebal bilah 0.80 cm kadar air dengan sudut core 0o memiliki kadar air paling rendah dibandingkan sudut lainnya, sedangkan pada tebal bilah 1.00 cm nilai terendah berada pada sudut core 90o, dan pada tebal bilah 1.33 cm pada sudut core 0o dan 90o. Keberagaman ini diduga adanya pengaruh dari tebal bilah yang selanjutnya memberikan efek terhadap kadar air dengan variasi sudut core yang digunakan.

Gambar 10 Kadar air cross laminated bamboo

(35)

17

interaksi ditunjukkan dengan faktor yang saling berpotongan (Gambar 11). Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan pada tebal bilah 0.80 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap sudut 45o dan 90o, tebal bilah 1 cm dengan sudut 0o dan 45o, dan tebal bilah 1.33 cm dengan sudut 45o. Demikian pula untuk kombinasi perlakuan lain secara jelas disajikan pada Lampiran 6. Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa interaksi antar perlakuan menjadi faktor yang menentukan kadar air CLB meskipun secara keseluruhan kadar air berada di bawah 15%.

Gambar 11 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap kadar air cross laminated bamboo

Selanjutnya menurut Bowyer et al. (2003) yang mempengaruhi banyaknya air terikat di dalam dinding sel adalah proses pengeringan bahan dan lingkungan tempat penyimpanan akhir produk. Proses pengeringan bambu yang digunakan pada penelitian ini mampu menurunkan kadar air terikat pada dinding sel sehingga kadar air akhir produk berada di bawah 15%. Kadar air bilah sebaiknya sama atau mendekati dengan kondisi ketika penggunaannya agar tetap terjaga kualitas CLB tersebut.

Umumnya semakin tinggi kadar air maka akan menurunkan kekuatan dari kayu, apabila kadar air berada di bawah titik jenuh serat maka akan terjadi peningkatan kekuatan kayu. Adanya peningkatan kekuatan ini dipengaruhi oleh struktur dinding sel kayu yang semakin kompak (Tsoumis 1991). Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh JAS 1152 (2007) kadar air produk maksimum senilai 15%, dalam hal ini seluruh produk CLB yang dihasilkan memiliki kadar air dibawah 15%.

3. Penyusutan Volume

Kembang susut volume merupakan perubahan dimensi pada kayu sebagai akibat dari perubahan kadar air di dalamnya pada kondisi di bawah titik jenuh serat (Brown et al. 1952). Pada pengujian susut volume, terjadi penurunan dimensi dari CLB sebagai akibat penurunan kadar air pada produk. Hasil penelitian menunjukkan penyusutan volume berkisar antara 2.34 % sampai 7.51 % (Gambar 12), dari data tersebut perlakuan sudut core 45o mengalami penyusutan dimensi yang lebih besar, dan sudut core 90o mengalami penyusutan dimensi terendah.

Hasil uji analisis sidik ragam (Lampiran 7) menunjukkan orientasi sudut memberikan pengaruh nyata terhadap penyusutan CLB, setelah dilakukan uji

(36)

18

lanjut Duncan terhadap orientasi sudut diperoleh bahwa orientasi sudut 90o memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan sudut 0o dan 45o yakni 3.09%. Hal ini diduga adanya pengaruh dari arah serat yang saling tegak lurus antar lapisan CLB. Penelitian yang menunjukkan hasil serupa ditunjukkan dalam penelitian Riana (2012) yang membuat CLT dari kayu jabon, dimana terjadi penurunan nilai penyusutan volume seiring dengan besarnya perubahan orientasi sudut lamina yang digunakan.

Gambar 12 Penyusutan volume cross laminated bamboo

Meskipun sudut core yang dibentuk memiliki pengaruh terhadap penyusutan, tebal bilah yang digunakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dari hasil pengujian ini. Ikatan vaskular bambu lebih rapat dan kompak pada tebal bilah 0.80 cm, akan tetapi tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap penyusutan volume. Hal ini diduga oleh jumlah garis rekat yang lebih banyak pada CLB dengan tebal bilah 0.80 cm sehingga penyusutan volume yang terjadi tidak jauh berbeda dengan tebal bilah lainnya. Banyaknya jumlah garis rekat dapat memberikan pengaruh terhadap penyusutan volume, dimana akan semakin rendahnya uap air yang terperangkap pada daerah rekatan seiring dengan penambahan jumlah garis rekat.

4. Pengembangan Volume

(37)

19

Gambar 13 Pengembangan volume cross laminated bamboo

Apabila diperhatikan dari perlakuan sudut core, maka pengembangan volume CLB mengalami penurunan nilai seiring dengan semakin besarnya sudut core yang digunakan, kecuali pada CLB dengan tebal bilah 0.80 cm yang cenderung stabil antar perlakuan sudut core yang diberikan. Berdasarkan hasil uji statistika (Lampiran 8), diperoleh terdapatnya hubungan interaksi yang signifikan pada kedua faktor yang digunakan terhadap nilai pengembangan volume sehingga dilakukan uji lanjut Duncan. Hubungan interaksi tersebut terdapat pada Gambar 14 yang menunjukkan adanya garis yang saling berpotongan pada faktor tebal bilah dan sudut core CLB.

Gambar 14 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap pengembangan volume cross laminated bamboo

Hasil uji lanjut Duncan memperlihatkan bahwa tebal bilah 0.80 cm sudut 0o hanya berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 90o. Tebal bilah 0.80 cm sudut 45o dan 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm dengan sudut 45o dan 90o. Sedangkan pada tebal bilah 1.00 cm sudut 0o hanya berbeda nyata dengan tebal bilah 1.00 cm sudut 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 90o, tebal bilah 0.80 cm sudut 45o dan 90o serta tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Selanjutnya tebal bilah 1.00 cm sudut 90o

(38)

20

berbeda nyata terhadap seluruh kombinasi perlakuan tebal bilah dan sudut core. Pada tebal bilah 1.33 cm sudut 0o menunjukkan perbedaan nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 45o dan 90o. Pada tebal bilah 1.33 cm sudut 45o dan 90o keduanya hanya berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 90o. Seperti halnya pada plywood, CLB dengan sudut core 90o memiliki nilai kembang-susut yang lebih stabil karena adanya arah serat yang saling tegak lurus dan dapat menahan terjadinya proses kembang-susut yang besar.

Delaminasi Cross Laminated Bamboo

Pengujian delaminasi dilakukan untuk melihat kualitas perekatan produk terhadap pengembangan dan penyusutan akibat pemberian kondisi kelembaban dan panas yang tinggi (Vick 1999). Pengujian delaminasi dilakukan dengan menguji pada rendaman dingin dan rendaman air mendidih. Data delaminasi rendaman air dingin dan air mendidih selengkapnya disajikan pada Lampiran 2.

1. Delaminasi Rendaman Air Dingin

Pengujian delaminasi rendaman air dingin memiliki kisaran nilai antara 0-6.63 %, nilai delaminasi rendaman air dingin yang diperoleh pada penelitian ini disajikan pada Gambar 15. Nilai delaminasi pada tebal bilah 1.33 cm sudut 45o dan 90o adalah 0%, setelah dilakukan pengujian tidak terdapatnya delaminasi pada kedua faktor perlakuan tersebut. Hal ini diduga pengaruh dari jumlah garis rekat yang lebih sedikit dibandingkan tebal bilah laninnya, dan adanya arah lapisan yang saling bersilangan memberikan pengaruh terhadap kekuatan rekatan antarlapisan. Hasil pengujian analisis sidik ragam (Lampiran 9) menunjukkan bahwa terdapat hubungan interaksi yang signifikan pada faktor tebal bilah dan sudut core terhadap nilai delaminasi rendaman air dingin.

Gambar 15 Delaminasi rendaman air dingin cross laminated bamboo

(39)

21

berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.33 cm sudut 45o dan 90o. Selanjutnya tebal bilah 1.33 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.33 cm sudut 45o dan 90o. Tebal bilah 1.33 cm dengan sudut 45o dan 90o berbeda nyata terhadap seluruh kombinasi perlakuan lainnya, kecuali pada sudut 45o yang menunjukkan tidak berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 45o. Berdasarkan standar JAS 1152 (2007) delaminasi rendaman air dingin memiliki persentase maksimum 5 % sehingga secara keseluruhan papan CLB dapat memenuhi persyaratan standar tersebut.

2. Delaminasi Rendaman Air Mendidih

Pengujian delaminasi rendaman air mendidih memberikan nilai berkisar 4.33-28% (Gambar 16). Delaminasi yang diuji pada CLB memperoleh hasil yang cukup beragam, pada pengujian delaminasi rendaman air mendidih CLB dengan tebal bilah 1.33 cm memberikan persentase delaminasi terkecil dibandingkan dengan ketebalan bilah 0.80 cm dan 1.00 cm. Hasil uji statistika (Lampiran 10) menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada faktor perlakuan tebal bilah dan orientasi sudut core terhadap nilai delaminasi rendaman air mendidih. Selanjutnya dilakukan uji Duncan, hasil pengujian menunjukkan tebal bilah 0.80 cm memiliki nilai delaminasi paling kecil dibandingkan tebal bilah lainnya. Hal ini diduga oleh banyaknya garis rekat pada tebal bilah 0.80 cm sehingga delaminasi terjadi lebih sedikit dibandingkan tebal bilah lainnya.

Pada faktor sudut core, setelah dilakukan uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa sudut 90o memberikan nilai delaminasi yang lebih rendah dibandingkan dengan sudut core lainnya. Seperti halnya pada pengembangan volume, perlakuan sudut core memberikan hasil yang semakin kecil nilai delaminasinya seiring dengan perubahan besarnya sudut core yang digunakan.

Gambar 16 Delaminasi rendaman air mendidih cross laminated bamboo

Berdasarkan hasil pengujian dengan rendaman air mendidih, CLB dengan perekat isosianat belum mampu memenuhi standar dan tidak mampu bertahan pada kondisi yang ekstrim. Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa perekat isosianat tidak dapat bertahan pada kondisi ekstrim dan belum memenuhi standar JAS 1152 (2007) (Riana 2012; Herawati 2007).

(40)

22

Sifat Mekanis Cross Laminated Bamboo

Sifat mekanis merupakan karakteristik penting bagi suatu produk yang memiliki tujuan penggunaan struktural. Adapun sifat mekanis yang dikaji pada penelitian ini meliputi modulus elastisitas (MOE), Modulus of Rupture (MOR), tekan sejajar serat dan keteguhan rekat. Keseluruhan data uji sifat mekanis CLB disajikan pada Lampiran 3.

1. Modulus Elastisitas (MOE)

Pengujian modulus elastisitas (MOE) dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan produk untuk mempertahankan bentuk awalnya sebagai akibat dari menahan beban yang cenderung dapat merubah bentuk dan ukurannya. Modulus elastisitas diukur pada kondisi tegangan dan regangan berada di bawah batas proporsi. Nilai MOE menunjukkan keelastisan suatu bahan, semakin tinggi nilai MOE maka akan semakin kaku bahan tersebut, sebaliknya semakin rendah nilai MOE maka akan semakin elastis bahan tersebut (Dinwoodie 1981). Modulus elastisitas pada CLB memiliki kisaran nilai antara 8363-53760 kg/cm2 dengan nilai tertinggi pada CLB dengan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o sebesar 53760 kg/cm2, dan CLB terendah pada tebal bilah 1.33 cm sudut 45o sebesar 8363 kg/cm2, seperti yang tersaji pada Gambar 17.

Gambar 17 Kekakuan lentur cross laminated bamboo

Pada CLB yang menggunakan tebal bilah 0.80 cm ternyata memberikan nilai MOE yang lebih tinggi apabila dibandingkan tebal bilah 1.00 cm dan 1.33 cm. Kemudian pada perlakuan sudut, sudut core 0o memberikan nilai MOE yang lebih tinggi dibandingkan sudut core lainnya. Pada penelitian ini fenomena arah miring serat memberikan penurunan nilai MOE CLB. Menurut Bowyer et al. (2003) kemiringan serat dapat menyebabkan penurunan nilai kekuatan yang besarnya penurunan ditentukan oleh besarnya kemiringan serat tersebut.

(41)

23

perlakuan tebal bilah dan sudut kecuali pada tebal bilah 1.00 cm sudut 0o. Pada tebal bilah 0.80 cm sudut 45o dan 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm, 1.00 cm dan 1.33 cm pada sudut 0o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 45o dan 90o, tebal bilah 1.00 cm sudut 45o, dan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o, 45o dan 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm, 1.00 cm dan 1.33 cm pada sudut 0o. Selanjutnya pada tebal bilah 1.00 cm sudut 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 0o, dan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o dan 45o. CLB dengan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o memiliki nilai MOE yang berbeda nyata terhadap kombinasi perlakuan lainnya. Tebal bilah 1.33 cm sudut 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 0o, tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan 90o serta tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Sedangkan pada tebal bilah 1.33 cm dengan sudut core 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm, 1.00 cm dan 1.33 cm dengan sudut 0o.

Gambar 18 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap MOE cross laminated bamboo

Hubungan interaksi antara tebal bilah dan sudut core memiliki kecenderungan semakin tebal bilah yang digunakan semakin besar nilai MOE dan semakin besar sudut core yang digunakan semakin kecil nilai MOE CLB. CLB memiliki hasil terbaik pada papan dengan tebal bilah 1.33 cm sudut core 0o, papan CLB berikutnya yang memiliki nilai MOE yang tinggi adalah CLB dengan tebal bilah 1.00 cm sudut core 0o dan 0.80 cm sudut core 0o. Hal ini erat kaitannya dengan arah serat yang saling sejajar pada antar lapisan papan CLB. Akan tetapi, secara keseluruhan CLB tidak ada yang memenuhi persyaratan JAS 1152 (2007) dengan nilai minimum 75000 kg/cm2.

Menurut Nugroho (2000) pemberian beban yang dilakukan pada suatu panel dengan sudut tertentu, maka akan semakin menurun nilai MOE seiring dengan meningkatnya arah miring serat. Persamaan Hankinson akan digunakan untuk melihat hasil penelitian dengan teori yang ada mengenai pengaruh arah serat terhadap sifat mekanis bahan, dalam hal ini dilakukan terhadap nilai MOE CLB. Persamaan Hankinson digunakan untuk menunjukkan terjadinya penurunan nilai MOE seiring dengan peningkatan sudut serat hingga sudut 90o. Data yang diperlukan untuk menghitung MOE menggunakan persamaan Hankinson adalah nilai MOE pada arah sejajar serat (0o) dan tegak lurus serat (90o). Adapun persamaan Hankinson sebagai berikut:

(42)

24

Dimana Fθ adalah nilai pengujian CLB pada sudut tertentu, F adalah nilai

pengujian CLB sejajar serat, dan Fadalah nilai pengujian CLB tegak lurus serat.

Hubungan antara nilai MOE dari hasil pengujian dan nilai MOE yang diperoleh dari persamaan Hankinson disajikan pada Gambar 19. Nilai MOE dari persamaan Hankinson menunjukkan semakin menurun seiring dengan peningkatan sudut core yang digunakan. Arah sudut 0o memiliki nilai MOE yang lebih tinggi, dilanjutkan dengan sudut 45o dan nilai terendah pada sudut 90o. Sementara nilai MOE yang diperoleh dari hasil pengujian nilai MOE mengalami kecenderungan menurun pada sudut 45o kemudian naik kembali pada sudut 90o, dengan nilai MOE tertinggi pada sudut 0o. Dengan demikian hasil perhitungan dengan persamaan Hankinson tidak dapat diterapkan pada penelitian ini karena sudut 45o memiliki nilai MOE yang paling rendah dibandingkan sudut lainnya.

Gambar 19 Hubungan nilai MOE pengujian dengan nilai MOE persamaan Hankinson

2. Modulus of Rupture (MOR)

Modulus of Rupture (MOR) merupakan batas maksimum suatu bahan

(43)

25

MOR CLB mengalami peningkatan seiring dengan peningkatn tebalnya bilah yang digunakan. Pada ketiga sudut core yang digunakan, sudut 0o memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan sudut core lainnya. Berdasarkan hasil uji statistika (Lampiran 12) terdapat perbedaan yang nyata pada masing-masing faktor tanpa menunjukkan hubungan interaksi yang signifikan. Pada faktor tebal bilah, terhadap nilai MOR CLB menunjukkan CLB dengan tebal bilah penyusun 1.33 cm berbeda nyata terhadap 0.80 cm dan 1.00 cm. CLB dengan tebal bilah penyusun 1.33 cm memberikan nilai MOR yang lebih baik dibandingkan tebal bilah penyusun lainnya (Gambar 20). Hal tersebut menunjukkan terdapatnya pengaruh dari penggunaan tebal bilah terhadap nilai MOR.

Selanjutnya untuk faktor pengaruh sudut core, berdasarkan hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara sudut core 0o terhadap sudut 45o dan 90o, yaitu sudut core 0o memiliki nilai yang lebih tinggi kemudian dilanjutkan oleh sudut 90o dan yang memiliki nilai MOR terkecil adalah sudut 45o. hal ini berarti terdapatnya pengaruh sudut core yang digunakan, dimana terjadi penurunan nilai MOR seiring dengan peningkatan arah sudut core. Meskipun nilai MOR sudut 90o memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan sudut 45o akan tetapi berdasarkan hasil uji lanjut Duncan tidak berbeda signifikan pada kedua orientasi sudut core CLB.

Gambar 20 Keteguhan patah cross laminated bamboo

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CLB yang saling sejajar antar lapisannya mampu menghasilkan nilai MOR lebih baik dibandingkan CLB lainnya. Hal ini besar kemungkinan dipengaruhi oleh contoh uji yang berbentuk balok panjang sehingga keberadaan lapisan yang saling tegak lurus tidak mampu menahan beban secara maksimal. Sehingga untuk melihat pengaruh dari arah sudut seharusnya melakukan pengujian bidang panel.

Nilai MOR pada pengujian selanjutnya dibandingkan dengan nilai MOR yang diperoleh dari persamaan Hankinson. Gambar 21 menunjukkan hubungan antara nilai MOR pengujian dengan nilai MOR Hankinson, pada MOR Hankinson diperoleh nilai MOR yang semakin menurun seiring dengan peningkatan sudut core yang digunakan. Hal ini berbeda dengan hasil pengujian, nilai MOR terendah ditunjukkan pada sudut core 45o, sehingga pendugaan nilai MOR Hankinson tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini.

(44)

26

Gambar 21 Hubungan nilai MOR pengujian dengan nilai MOR persamaan Hankinson

Sudut 45o memiliki nilai yang relatif rendah dibandingkan sudut core lainnya diduga dipengaruhi oleh jumlah bilah yang digunakan lebih banyak pada masing-masing lapisan untuk membentuk sudut 45o dibandingkan dengan sudut core lainnya. Sehingga lebih banyak terdapat perlemahan pada sudut core 45o. Semakin tebal bilah yang digunakan, maka semakin meningkat nilai MOR pada CLB, hal ini berhubungan dengan semakin berkurangnya jumlah garis rekat. Jumlah garis rekat mempengaruhi nilai MOR CLB, hal ini disebabkan pada saat pengujian maka akan semakin besar terjadinya pergeseran antar lapisan penyusun CLB. Seperti halnya MOE, nilai pada MOR pun tidak memenuhi standar minimum JAS 1152 (2007) yang mensyaratkan 300 kg/cm2.

3. Tekan Sejajar Serat

(45)

27

Gambar 22 Kekuatan tekan sejajar serat cross laminated bamboo

Hasil analisis ragam (Lampiran 13) menunjukkan adanya interaksi pada faktor tebal bilah dan faktor sudut yang memberikan pengaruh signifikan, hal ini berarti terdapat pengaruh yang beragam pada tebal bilah dan sudut core yang digunakan terhadap nilai tekan sejajar serat. Hubungan interaksi pada faktor perlakuan tebal bilah dan orientasi sudut core (Gambar 23) selanjutnya dilakukan uji lanjut Duncan, tebal bilah 0.80 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap seluruh kombinasi perlakuan kecuali pada tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Tebal bilah 0.80 cm sudut 45o dan 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 0o, tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o dan 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 0o memiliki nilai tekan sejajar serat yang berbeda signifikan terhadap seluruh kombinasi perlakuan tebal bilah dan sudut core. Tebal bilah 1.00 cm sudut 45o dan 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm, 1.00 cm dan 1.33 cm dengan sudut core 0o. Selanjutnya pada tebal bilah 1.33 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap seluruh kombinasi perlakuan kecuali terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 0o. Tebal bilah 1.33 cm berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm, 1.00 cm dan 1.33 cm dengan sudut 0o. Dan tebal bilah 1.33 cm sudut 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 0o, 45o dan 90o, tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan tebal bilah 1.33 cm dengan sudut 0o.

(46)

28

Pengujian tekan sejajar serat apabila dilihat penampang contoh uji, maka akan terdapat dua arah pembebanan yaitu untuk lapisan yang sejajar arah pemberian beban akan menerima beban sejajar serat, sementara lapisan yang membentuk sudut tertentu terhadap arah pembebanan akan mengalami beban tegak lurus serat. Oleh sebab itu nilai tekan sejajar serat pada sudut core 0o memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan sudut lainnya. Hasil penelitian Supartini (2012) menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian ini, yaitu semakin banyak jumlah lapisan yang saling bersilangan maka akan menambah nilai pembebanan tegak lurus serat sehingga terjadi penurunan pada nilai tekan sejajar serat.

Nilai tekan sejajar serat CLB apabila dibandingkan dengan jenis produk CLT kayu manii, akasia dan jabon memiliki nilai lebih tinggi, dimana dalam penelitian Riana (2012) menjelaskan bahwa kekuatan tekan sejajar serat CLT kayu jabon berada di bawah 245.13 kg/cm2, dan dalam penelitian Supartini (2012) nilai kekuatan tekan sejajar serat CLT kayu manii, akasia dan jabon berada dibawah nilai 238.56 kg/cm2.

4. Keteguhan Rekat

Pengujian keteguhan rekat merupakan salah satu pengujian sifat mekanis CLB dalam hal pengaruh perekat terhadap sambungan atau lapisan pada produk. Keteguhan rekat pada standar JAS 1152 (2007) mensyaratkan nilai minimum adalah 54 kg/cm2, hasil pengujian nilai keteguhan rekat CLB berkisar 6.23-32.29 kg/cm2 sehingga masih berada di bawah standar yang ditetapkan seperti yang disajikan pada Gambar 24. Hal ini dapat menjelaskan nilai MOE dan MOR yang tidak memenuhi persyaratan standar JAS 1152 (2007), yang ditunjukkan oleh pengujian keteguhan rekat memiliki nilai yang rendah. Kecenderungan yang diperoleh dari penelitian ini adalah semakin besarnya sudut core CLB nilai keteguhan rekat semakin menurun.

Gambar 24 Keteguhan rekat cross laminated bamboo

(47)

29

bilah 1.00 cm sudut 0o dan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap keseluruhan kombinasi perlakuan kecuali terhadap tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan tebal bilah 1.33 cm sudut 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Selanjutnya pada tebal bilah 1.33 cm sudut 0o menunjukkan nilai tekan sejajar serat berbeda nyata terhadap tebal bilah 0.80 cm sudut 0o, 45o dan 90o, tebal bilah 1.00 cm sudut 90o dan tebal bilah 1.33 cm sudut 45o dan 90o. Tebal bilah 1.33 cm sudut 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.33cm sudut 0o dan tebal bilah 1.00 cm sudut 0o. Dan tebal bilah 1.33 cm sudut 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan 45o serta tebal bilah 1.33 cm sudut 0o. Hasil interaksi ditunjukkan pada Gambar 25 dimana terdapat perpotongan titik yang menunjukkan adanya interaksi pada faktor perlakuan.

Gambar 25 Interaksi antara tebal bilah dan sudut core terhadap keteguhan rekat cross laminated bamboo

Sudut 0o memberikan hasil keteguhan rekat yang lebih baik dibandingkan dengan sudut 45o dan 90o. Hal ini sejalan dengan penelitian Riana (2012) dan Rilatupa et al. (2004), hal ini mungkin erat kaitannya terhadap arah serat yang sejajar ataupun saling tegak lurus dengan memberikan pengaruh terhadap perekatannya dimana orientasi sudut core 0o memiliki tahanan yang lebih baik dalam hal pengujian keteguhan rekat.

Kekakuan dan Kekuatan Bidang Panel Cross Laminated Bamboo

Kekakuan lentur dan keteguhan patah CLB dengan melakukan pengujian dalam bentuk bidang panel dilakukan untuk melihat pemanfaatan CLB sebagai panel dinding maupun lantai. Nilai MOE dan MOR panel CLB memberikan hasil yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan pengujian MOE dan MOR yang telah lazim dilakukan. Nilai MOE dan MOR bidang panel selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.

(48)

30

kemudian meningkat pada sudut core 45o hingga mencapai nilai MOE tertinggi pada sudut core 90o. Dengan demikian hasil terbaik ditunjukkan pada CLB sudut core 90o. Berdasarkan hasil uji analisis sidik ragam (Lampiran 15) terhadap faktor perlakuan menunjukkan adanya interaksi yang nyata antara kedua faktor tersebut.

Gambar 26 Kekakuan lentur bidang panel cross laminated bamboo

Hubungan interaksi antara faktor perlakuan ditunjukkan pada Gambar 27, untuk melihat pengaruh lebih lanjut dari interaksi perlakuan perlu dilakukan uji lanjut Duncan. Nilai MOE bidang panel pada tebal bilah 0.80 cm sudut 0o, 45o dan 90o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 90o dan tebal bilah 1.33 cm sudut 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 0o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 45o dan 90o serta tebal bilah 1.33 cm sudut 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 0o dan 90o, tebal bilah 1.33 cm sudut 0o, 45o dan 90o. Tebal bilah 1.00 cm sudut 90o berbeda nyata terhadap keseleruhan kombinasi perlakuan. Tebal bilah 1.33 cm sudut 0o dan 45o berbeda nyata terhadap tebal bilah 1.00 cm sudut 45o dan 90o, tebal bilah 1.33 cm sudut 90o. tebal bilah 1.33 cm sudut 90o berbeda nyata terhadap keseluruhan kombinasi perlakuan CLB.

(49)

31

Penggunaan sudut core 90o ternyata memberikan pengaruh nyata terhadap nilai MOE, sedangkan sudut core 45o dan 0o tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Nilai MOE bidang panel semakin meningkat pada CLB dengan tebal bilah 1.00 cm dan 1.33 cm dengan sudut core 90o. Hal ini berkaitan dengan jumlah garis rekat yang semakin berkurang sehingga mengurangi perlemahan pada CLB, serta adanya arah serat yang saling bersilangan pada panel memberikan pengaruh pada nilai MOE CLB menjadi semakin meningkat.

Keteguhan patah (MOR) bidang panel dihitung dengan menggunakan rumus yang sama dengan perhitungan MOR, hanya saja akan ada dampak akibat perbedaan panjang span dan lebar contoh uji yang membuat MOR bidang panel memiliki nilai yang lebih rendah. MOR bidang panel memiliki kisaran nilai 0.7-63.02 kg/cm2 (Gambar 28), nilai keteguhan patah pada CLB mengalami peningkatan dari sudut core 0o hingga sudut core 90o. Berdasarkan hasil uji statistika hanya faktor perlakuan sudut yang memberikan pengaruh signifikan, sudut core 90o berbeda nyata terhadap sudut core 45o dan sudut 0o. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui orientasi serat dari setiap lapisan CLB, yang menunjukkan pada CLB yang saling bersilangan arah seratnya memberikan hasil MOR yang tinggi, demikian sebaliknya, arah serat setiap lapisan CLB yang saling sejajar memberikan nilai MOR yang lebih kecil.

Gambar 28 Keteguhan patah bidang panel cross laminated bamboo

Perbedaan nilai MOR bidang panel yang besar antara sudut core disebabkan oleh pembebanan yang diberikan dipengaruhi oleh sisi terlemah dari bidang panel tersebut. Pada CLB dengan sudut core 0o titik terlemah terdapat pada rekatan antar bilah sehingga CLB tidak mampu menahan beban yang besar dibandingkan dengan sudut core 45o dan 90o.

Nilai MOE dan MOR bidang panel memiliki nilai yang sangat kecil dipengaruhi oleh pengujian yang menggunakan tumpuan pada empat titik saja, sedangkan dalam pemakaiannya panel diberi rangka diseluruh sisi untuk memperkuat sebuah panel. Selain itu adanya pengaruh dari arah defleksi terlemah juga menentukan seberapa besar kekuatan dari sebuah panel tersebut.

(50)

32

4 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Sifat-sifat yang dimiliki oleh Cross Laminated Bamboo terutama delaminasi, kekuatan lentur, keteguhan patah dan keteguhan rekat belum memenuhi syarat standar JAS 1152 (2007), akan tetapi untuk tekan sejajar serat dari CLB apabila dibandingkan dengan CLT dari kayu solid dengan nilai 245 kg/cm2 memiliki nilai pengujian yang lebih tinggi yaitu 434 kg/cm2. Pada pengujian bidang panel terjadi peningkatan nilai MOE dan MOR seiring dengan peningkatan sudut core. Terdapat kestabilan dimensi yang lebih baik seiring dengan peningkatan sudut core yang digunakan. Keteguhan rekat yang rendah memberikan pengaruh pada kekuatan CLB yang dihasilkan.

Saran

(51)

33

DAFTAR PUSTAKA

Anwar UMK, Paridah MT, Hamdan H, Zaidon A, Hanim AR, Nordahlia AS. 2012. Adhesion and bonding properties of low molecular weight phenol formaldehyde-treated plybamboo. Journal of tropical forest science. 24 (3): 379-386.

[ASTM] American Society for Testing and Materials. 2008. Annual Book of ASTM Standards Volume 04.10, Construction. D143-94 (2008). Standard

Test Methods for Small Clear Specimen of Timber. USA.

Bahtiar ET, Nugroho N, Carolina A, Maulana AC. 2012. Measuring carbondioxide sink of betung bamboo (dendrocalamus asper (schult f.) backer ex heyne) by sinusoidal curve fitting on its daily photosynthesis light response. Journal of Agricultural Science and Technology. 2(7B): 780-788.

Bahtiar ET, Nugroho N, Surjokusumo S, Karlinasari L. 2013. Eccentricity effect

on bamboo’s flexural properties. Journal of Biological Sciences. 13(2):

82-87. doi: 10.3923/jbs.2013.82.82-87.

Bowyer JL, Shmulssky R, and Haygreen JG. 2003. Forest Products and Wood

Science. An Introduction, Fourth Edition. Iowa (US): Oowa State Press, A

Blackwell Publishing Company.

Brown HP, Panshin AJ, and Forsaith CC. 1952. Text Book of Wood Technology. Vol. II. New York (US): Mc Graw Hill Book Company.

Chaowana P. 2013. Bamboo: An alternative raw material for wood and wood-based composites. Journal of Materials Science Research. 2(2): 90-102.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1999. Panduan Kehutanan Indonesia. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta.

Dinwoodie JM. 1981. Timber Its Structure, Properties and Utilisation. Oregon (US): Timber Press.

[FAO] Food and Agriculture Organization of United Nations. 2012. Forestry Statistics [diacu 2014 Juni 9]. Tersedia dari: faostat.fao.org.

Febrianto F, Sahroni, Hidayat W, Bakar ES, Kwon GJ, Kwon JH, Hong SI, Kim NH. 2012. Properties of oriented strand board made from betung bamboo

(Dendrocalamus asper (Schultes.f) Backerex Heyne). Wood Science and

Technology.46: 53-62. http://dx.doi.org/10.1007/s00226-010-0385-8.

FPInnovations. 2013. Cross Laminated Timber Handbook. Karacabeyli E, Douglas B, editor. Pointe-Claire, QC. Special Edition SP-529E.

Herawati E. 2007. Karakteristik Balok Laminasi dari Kayu Cepat Tumbuh Berdiameter Kecil. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

[JPIC] Japan Plywood Inspection Corporation. 2007. Japanese Agricultural

Standard for Glued Laminated Timber. Tokyo.

Gambar

Gambar 1 Diagram alir pembuatan panel CLB
Gambar 2 Pola penyusunan CLB berdasarkan ketebalan bilah dan orientasi  sudut core
Gambar 3 Pola pemotongan contoh uji panel CLB
Gambar 5 Pengujian kekuatan tekan sejajar serat CLB
+7

Referensi

Dokumen terkait