• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UV DENTAL KIT BERBASIS MICROCONTROLLER ATMega 16

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UV DENTAL KIT BERBASIS MICROCONTROLLER ATMega 16"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UV DENTAL KIT

BERBASIS MICROCONTROLLER ATMega 16

TUGAS AKHIR

Oleh

GALIH JULIANTORO

NIM. 20133010008

PROGRAM STUDI

D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK

(2)

PERANCANGAN

ALAT

STERILLISASI UV DENTAL KIT

BERBASIS MICROCONTROLLER ATMega 16

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.)

Program Studi D3 Teknik Elektromedik

Oleh

GALIH JULIANTORO

NIM. 20133010008

PROGRAM STUDI

D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK

(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Penulis menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh derajat Profesi Ahli Madya atau gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini serta disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 30 Agustus 2016 Yang menyatakan,

(4)

PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UVDENTAL KIT BERBASIS

MICROCONTROLLER ATMega 16

GALIH JULIANTORO

20133010008

ABSTRAK

Dalam dunia kesehatan alat sterillisasi selalu dibutuhkan untuk

menunjang jalannya aktifitas pekerjaan, salah satunya sterillisasi UV Dental Kit

terkhusus untuk para dokter gigi. Dengan adanya alat sterillisasi UV Dental Kit

maka peralatan yang biasa digunakan oleh dokter gigi dalam menjalankan

pekerjaanya seperti bur gigi dapat di sterilkan agar meminimalisir terjadinya

penularan penyakit antar pasien. Dalam proses sterillisasinya lama waktu yang

di pakai adalah 15 menit.alat ini menggunakan lampu UV (ultra violet) dengan

daya 4 watt sebanyak 2 buah lampu yang efisien memancarkan sejumlah besar sinar UV 253,7 nm yang memiliki aktifitas yang baik dalam membunuh kuman.

(5)

PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UVDENTAL KIT BERBASIS

MICROCONTROLLER ATMega 16

GALIH JULIANTORO

20133010008

ABSTRAK

In the world of health sterillisasi toolis always needed to support the

operations of the work activities, one of which sterillisasi UV Dental kit

especially for the dentist. With the tol serillisasi UV Dental kit then the usual

equipment use by dentists in carriyingimprovements such as bur teth can steril

in order to minimize the occurrence of diseasetransmission between patients. In

the process sterillisasi long in use is 15 minutes. This tool using UV light

(ultraviolet) with 4watt of power as much as 2 pieces of efficient light emit a large

amount of 253.7 nm UV rays which have a good activity in killing germs.

(6)

KATA PENGANTAR

Setinggi puji sedalam syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan mencurahkan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul “PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UV DENTAL KIT BERBASIS MICROCONTROLLER ATMega16”. Laporan Tugas Akhir ini disusun

sebagai syarat kelulusan dengan gelar Ahli Madya.

Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, bersama para sahabat yang telah berjuang keras dengan semangat dakwah islam dan ilmu pengetahuan, sehingga kita dapat merasakan zaman yang penuh dengan peradaban islam dan ilmu pengetahuan. Semoga para sahabat, keluarga dan kita sebagai umat Muhammad SAW, mendapatkansyafa’atnya di yaumil Qiyamah.

Dalam melakukan penelitian dan penyusunan laporan tugas akhir ini banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh penulis baik dalam bentuk akademik maupun non akademik. Namun disamping itu penulis juga mendapat banyak bantuan dalam bentuk saran, dorongan, dan bimbingan dari banyak pihak. Oleh karena itu tidak ada kata selain ungkapan terimakasih yang mendalam kepada :

1. Kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan dorongan baik semangat maupun doa yang tak pernah putus. “Terimakasih telah menjadi panutan, dan menjadi guru terbaik dalam hidup”.

2. Bapak Dr. Sukamta, S.T., M.T., selaku Direktur Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Ibuk Inda Rusdia Sofiani, S.T., MSc., selaku pembimbing tugas akhir penulis yang senantiasa memberi bimbingan hingga selesai.

(7)

5. Bapak/Ibu dosen penguji, yang telah berkenan menguji hasil penelitian dari penulis, yang memberikan kritik, saran dan masukan agar penulis dapat berkembang menjadi lebih baik untuk kedepanya.

6. Seluruh staff, karyawan dan dosen-dosen Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta, terutama Prodi Teknik Elektromedik yang selalu memberikan bantuan dikala penulis menemui kesulitan tentang perkuliahan, dan telah memberikan dorongan semangat untuk kuliah.

7. Seluruh Teman-teman angkatan 2013 Teknik Elektromedik Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta yang banyak memberikan masukan-masukan dan semangat serta dorongan kepada penulis “Semoga Kita Selalu Dalam Perlindungan Allah SWT”.

8. Adik-adik kelas Teknik Elektromedik yang sedang berjuang untuk menggapai masa depannya, yang juga selalu memberikan saran, dorongan, dukungan kepada penulis. Jangan penah sia-siakan waktu yang ada, karena tidak akan pernah bisa kembali waktu yang telah belalu.

Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan baik dalam kata-kata maupun dalam cara penulisan, maka dari itu penulis mengharapkan saran serta kritik yang membangun guna evaluasi untuk penulis. Amin.

Yogyakarta, Juni 2016

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN SAMPUL ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PERSETUJUAN... iv

LEMBAR PENGESAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Batasan Masalah ... 3

1.4. Tujuan ... 3

1.4.1 Tujuan umum ... 3

1.4.2 Tujuan khusus ... 3

1.5. Manfaat ... 4

1.5.1 Manfaat teoritis ... 4

1.5.2 Manfaat praktis ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Penelitian Terdahulu ... 5

2.1.1 Alat Sterillisasi Kering ... 5

2.1.2 Alat Sterillisasi Autoclave ... 7

(9)

2.3 Hour Meter ... 11

2.4 LCD ... 12

2.5 Microcontroller ... 19

2.6 SSR(solid state relay) ... 24

2.7 Buzzer ... 25

2.8 Bur gigi ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 28

3.1. Diagram Blok ... 28

3.2. Diagram Alir ... 29

3.3. Diagram Mekanis ... 31

3.4. Alat dan Bahan ... 31

3.5. Perakitan Rangkaian Power Supply ... 35

3.6. Pembuatan Program Kontrol Lampu UV ... 40

3.7. Variable Penelitian ... 43

3.8. Definisi Operasional ... 43

BAB IV PENELITIAN ... 44

4.1. Spesifikasi Alat ... 44

4.2. Gambar Alat ... 44

4.3. Cara Kerja Alat ... 45

4.4. Jenis Penelitian ... 45

4.5. Persiapan bahan ... 46

4.6. Alat yang digunakan ... 46

4.7. Percobaan alat ... 47

4.7.1 Uraian data hasil pengukuran ... 48

4.7.2 Pengujian alat dengan menghitung angka kuman pada bur gigi ... 48

4.8 Kelebihan dan Kekurangan Modul TA ... 51

(10)

4.8.2. Kekurangan Modul TA ... 51

BAB V PENUTUP ... 52

5.1. Kesimpulan ... 52

5.2. Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 54 LAMPIRAN

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alat sterillisasi kering ... 6

Gambar 2.2 Alat sterillisasiAutoclave ... 8

Gambar 2.3 Lampu uv ... 10

Gambar 2.4 Hour Meter ... 12

Gambar 2.5 LCD 16x2 ... 12

Gambar 2.6 SSR (Solid state Relay) ... 25

Gambar 2.7 Buzzer ... 26

Gambar 2.8 Bur gigi ... 27

Gambar 3.1 Diagram blok ... 28

Gambar 3.2 Diagram alir ... 29

Gambar 3.3 Diagram mekanis ... 31

Gambar 3.4 Sistematik minimum sistem ... 32

Gambar 3.5 Lay out rangkaian minimum sistem ... 33

Gambar 3.6 Minimum sistem ... 34

Gambar 3.7 Sistematik power supply ... 36

Gambar 3.8 Lay out power supply ... 37

Gambar 3.9 Power supply ... 37

Gambar 4.0 Rangkaian keseluruhan ... 39

Gambar 4.1 Gambar alat ... 44

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 konfigurasi pin LCD 2x16 karakter ... 14

Tabel 2.2keterangan pin LCD ... 15

Tabel 2.3 function set ... 15

Tabel 2.4 entry mode set ... 16

Tabel 2.5 display ON/OFF atau kursor ... 17

Tabel 2.6 display clear ... 18

Tabel 2.7 sift right atau left ... 18

Tabel 2.8 pemilihanlokasi Ram LCD karakter ... 18

Tabel 4.1perbandingan setting waktu modul dengan stopwatch ... 47

Tabel 4.2 hasil percobaan modul sterillisasi UVdental kit dengan alat yang sudah ada dengan waktu 15 menit ... 50

(13)
(14)
(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan teknologi pada saat ini sudah sangat pesat, hal ini di tandai dengan adanya berbagai macam penemuan, perkembangan, dan aplikasi teknologi baru yang dapat digunakan di dalam dunia kesahatan maupun yang lainnya, misalnya alat sterilisasi yang digunakan untuk menyeterilkan alat-alat yang biasa digunakan oleh dokter gigi.

Menurut Prof.DR.drg. Rasinta Tarigan(2013) gigi adalah salah satu organ yang digunakan untuk menghancurkan makanan sebelum masuk kedalam perut, dan lagi makanan yang kita konsumsi selama ini tidak selalu higenis, sekalipun makanan itu higenis

tetap saja meninggakan sisa makanan pada gigi, sehingga sisa makanan tersebut akan menimbulkan kuman yang dapat merusak gigi. Menurut Putranto Jokohadikusumo (2010) salah satu bakteri yang menempel pada gigi yaitu Streptococus mutans yang menyebabkan bercak (plaque). Streptococus mutans menghasilkan dekstran (suatu polier glukosa) yang mengikat sel itu bersatu dan memungkinkannya untuk melekat sangat kuat pada hidroksit apatit dari email gigi.

Inokulasi Streptococus mutans pada hewan bebas kuman ini mendapat karies dentis. Dalam keadaan normal, bakteri ini dapat ditemukan paa gigi berkaries.

(16)

menyebabkan gigi berkaries. Pada umumnya setiap dokter gigi akan membersihkan dan memeriksa gigi pasien menggunakan dental kit dan biasanya setelah menggunakannya dokter akan mensterilkannya agar tidak terjadi penularan penyakit dari pasien satu dengan yang lain.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka dari pada itu penulis tertarik untuk membuat alat yang dapat mensterilkan dental kit, sehingga penulis dapat merancang dan membuat alat ” PERANCANGAN ALAT STERILLISASI UV DENTAL KIT BERBASIS MICROCONTROLLER ATMega 16 (SUDEK).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan dan batasan masalah diatas, maka rumusan masalahnya adalah :

1. Alat yang di sterillisasi adalah bor gigi. 2. Lama waktu penyeterilan adalah 15 menit.

3. Memperlakukan bur gigi dengan cara yang sama, baik yang akan di sterilkan dengan alat yang sudah ada maupun alat yang penulis buat.

4. Menentukan jumlah koloni yang terdapat pada bur gigi baik sebelum maupun sesudah di sterillisasi.

1.3. Batasan Masalah

Agar dalam pembahasan alat ini tidak terjadi perluasan masalah dalam penyajian penulis membatasi masalah pokok yaitu:

(17)

3. Untuk penyeterilan bor gigi harus di sterilkan 15 menit sebelum digunakan ke pasien dan setelah selesai pemakaian bor kembali di sterilkan dan disimpan.

1.4. Tujuan

1.4.1 Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah alat SUDEK yang dibuat oleh penulis dapat membunuh bakteri yang terdapat pada bor gigi .

1.4.2 Tujuan khusus

1. Membuat rangkaian minimum sistem

2. Membuat program untuk konversi analog ke digital, dan program untuk menampilkan data ke LCD 16×2

3. Melakukan uji fungsi dan membandingkan alat tersebut dengan alat yang sudah ada.

1.5. Manfaat

1.5.1 Manfaat teoritis

1. Dapat menambah wawasan di bidang kesehatan khususnya alat SUDEK dengan lampu UV.

2. Sebagai bahan masukan untuk pengembangan ilmu dan teknologi.

1.5.2 Manfaat praktis

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Sterillisasi menggunakan sinar UV adalah salah satu cara dalam mensterilkan suatu alat maupun udara. Pada penelitian sebelumnya telah dibuat alat sterillisasi dengan menggunakan sinar UV yang difungsikan untuk mensterilkan udara yang ada di ruangan oleh (Linda Parwati2014). Pada kesempatan ini penulis akan mencoba membuat modul dengan menggunakan sinar UV yang berbeda fungsi dengan penelitian terdahulu yaitu difungsikan untuk mensterilkan bur gigi dengan waktu 15 menit yang telah diatur pada program.

Alat yang biasa digunakan dalam pensterilan bur gigi yaitu : 2.1.1. Alat Sterillisasi Kering

Alat sterillisasi kering adalah sebuah alat yang digunakan untuk mensterillkan alat-alat dengan menggunakan udara panas. Sterillisasi panas kering ini cocok untuk alat-alat yang terbuat dari kaca misalnya

(19)

membasahi bahan atau alat yang disterilkan. Dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 alat sterillisasi kering

Alat ini dapat bekerja dengan menghubungkan alat ke jala-jala PLN selanjutnya tekan tombol ON/OFF ke posisi ON

kemudian tegangan akan masuk ke rangkaian-rangkaian yang ada pada alat tersebut dan akan mengontak atau menghidupkan

heater sebagai elemen pemanas dari alat tersebut. Heater

tersebut digunakan untuk mensterillkan alat ataupun barang yang di masukan ke dalam alat tersebut.

Untuk penggunaan alat dalam proses sterillisasi yaitu : 1. Bungkus dan beri kapas barang yang akan di sterillkan 2. Masukan barang tersebut ke dalam alat sterillisasi 3. Nyalakan tombol ON

(20)

5. Matikan alat dengan menekan tombol OFF

6. Barang bisa digunakan jika bungkus tidak terbuka 7. Jaga dan simpan agar barang tetap steril

2.1.2 Alat Sterillisasi Autoclave

Autoclave adalah alat pemanas tertutup yang digunakan

untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit.

Penurunan tekanan pada autoclave tidak dimaksudkan untuk

membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam

autoclave. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh

microorganisme. Autoclave terutama ditujukan untuk

membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri,

sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada

spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan

yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri tersebut. Endospora dapat

dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air pada tekanan

atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh dalam

waktu 4-5 menit, di mana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya

dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.

Perhitungan waktu sterilisasi autoclave dimulai ketika suhu di

(21)

tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoclave akan

melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk

memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15

menit. Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam

volume besar akan di autoclave karena volume yang besar

membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu sterilisasi.

Performa Autoclave diuji dengan indicator biologi, contohnya Bacillus

stearothermophilus. Untuk gambar alat Autoclave dapat dilihat pada gambar 2.2

Gambar 2.2 Autoclave

Prinsip kerja dari Autoclave adalah memanfaatkan keringanan

uap dibandingkan dengan udara, sehingga udara terletak di bawah uap.

Cara kerjanya dimulai dengan memasukan uap melalui bagian atas

(22)

semakin banyak sehingga menekan udara semakin turun dan keluar

melalui saluran di bagian bawah autoklaf, selanjutnya suhu meningkat

dan terjadi sterilisasi. Autoklaf ini dapat bekerja dengan cakupan suhu

antara 121-134 °C dengan waktu 10-30 menit.

Cara kerjanya alat ini dimulai dengan pengeluaran udara. Proses

ini berlangsung selama 8-10 menit. Ketika keadaan vakum tercipta, uap

dimasukkan ke dalam Autoclave. Akibat kevakuman udara, uap segera

berhubungan dengan seluruh permukaan benda, kemudian terjadi

peningkatan suhu sehingga proses sterilisasi berlangsung. Autoklave ini

bekerja dengan suhu 132-135 °C dengan waktu 3-4 menit.

Autoclave ini menggunakan aliran uap dan dorongan tekanan di

atas tekanan atmosfer dengan rangkaian berulang. Waktu siklus pada

autoklaf ini tergantung pada benda yang disterillisasi.

2.2 Lampu UV (Ultraviolet)

Sinar UV adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang antara 100nm – 380nm. Klasifikasi sinar UV

dibagi menjadi 2 yaitu :

2.2.1. Berdasarkan panjang gelombang :

a. Sinar UV panjang gelombang panjang : 290nm – 380nm

(23)

2.2.2. Berdasarkan type:

a. Sinar UV Type A = 315nm – 390nm b. Sinar UV Type B = 280nm – 315nm c. Sinar UV Type C =100nm – 280nm

Adapun lampu yang digunakan untuk melakukan pensterilan adalah digunakan lampu dengan daya sebesar (4 watt UV ultraviolet kuman cahaya lampu UV bulb Germicidal) efisien memancarkan sejumlah besar sinar UV

253,7 nm (nanometer) yang memiliki aktivitas yang sangat baik dalam membunuh kuman. Lampu ini memiliki struktur dan karakteristik yang sama dengan lampu flurorescent yang digunakan untuk penerangan tetapi menggunakan sinar UV kaca yang efisien mentransmisikan reays UV pada 253,7 nm.

Specification Lampu UV:

a. 4 watt UVultraviolet kuman Light bulb. b. Besar sinar UV 253,7 nm

c. Life Time: 30000h ~ 50000h

(24)

Ultraviolet merupakan suatu bagian dari spektrum elektromagnetik dan tidak membutuhkan medium untuk merambat. Ultraviolet mempunyai rentang panjang gelombang antara 380 – 100 nm yang berada di antara spektrum sinar X dan cahaya tampak (EPA, 1999) Secara umum sumber Ultraviolet dapat diperoleh secara alamiah dan buatan, dengan sinar matahari merupakan sumber utama Ultraviolet di alam. Sumber Ultraviolet buatan umumnya berasal dari lampu fluorescent khusus, seperti lampu merkuri tekanan rendah (low pressure) dan lampu merkuri tekanan sedang (medium pressure). Lampu merkuri medium pressure mampu menghasilkan output radiasi Ultraviolet yang lebih besar daripada lampu merkuri low pressure. Namun lampu merkuri low pressure lebih efisien dalam pemakaian listrik dibandingkan lampu merkuri medium pressure. Lampu merkuri low pressure menghasilkan radiasi maksimum pada panjang gelombang 253,7 nm yang lethal bagi mikroorganisme dan protozoa.

(25)

yang diabsorbsi oleh protein pada membran sel akan menyebabkan kerusakan membran sel dan kematian sel.

2.3 Hourmeter

Hourmeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur seberapa lama unit tersebut bekerja. Alat hourmeter akan bekerja ketika lampu UV

dihidupkan, sehingga lamanya pemakaian lampu UV dapat dilihat pada

hourmeter. Untuk menghentikan hourmeter cukup dengan mematikan lampu

UV, dikarenakan tidak adanya arus listrik maka hourmeter akan berhenti menghitung waktu pemakaian.

Gambar 2.4 hour meter

2.4 LCD (Liquit crystal display)

(26)

untuk menampilkan waktu sterlisasi dan suhu. LCD yang digunakan yaitu LCD

karakter 2x16. Berikut merupakan gambar dari LCD 2 X 16.

Gambar 2.5 LCD 16x2

Beberapa pin yang penting pada LCD Character adalah sebagai berikut :

RS : Register Select

RS = 0; untuk menulis ke register instruksi RS = 1; untuk menulis ke register data

R/W: Read/ write

R/S = 0; proses write ( penulisan data/ instruksi ) R/S = 1; proses read ( pembacaan )

EN: Enable data difungsikan untuk penguncian data ( lacht ), pada saat ada

transisi high to low maka data atau instruksi pada data bus akan terkunci.

D0-D7: Data bus 8 bit difungsikan untuk pengiriman data atau instruksi.

(27)

Tabel 2.1 Konfigurasi PIN LCD 2 x 16 karakter

Untuk lebih jelasnya dalam memahaminya, di bawah ini adalah keterangan pin LCD 2 x 16 Karakter:

Pin Number Simbol

1 Vss

2 Vcc

3 Vee

4 RS

5 R/W

6 E

7 DB0

8 DB1

9 DB2

10 DB3

11 DB4

12 DB5

13 DB6

14 DB7

15 Vcc

(28)

Tabel 2.2 pin pada LCD karakter

Berikut ini adalah tabel keterangan function set:

Nama

Signal

Fungsi

DB0 – DB7 Untuk mengirimkan data karakter atau dan instruksi

E Enable- Signal start untuk mulai pengiriman data atau instruksi

R/W Signal yang digunakan untuk memilih mode baca atau tulis

‘0’ : write

‘1’ : tulis

RS Register Select

“0”: Instruction register (Write) “1”: Data register (Write, Read)

Vee Tegangan Pengaturan kontras pada LCD

Vcc Tegangan Vcc

(29)

Tabel 2.3 Function Set

RS R/W D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

0 0 0 0 1 DL N F X X

DL : Set data lengh. Bit ini digunakan untuk mengatur apakah interface jalur data antara Microcontroller dengan LCD Karakter adalah 4 bit atau 8 bit

DL = 0; Data lengh4 bit

DL = 1;Data lengh 8 bit

N : Set jumlah baris. Bit ini dugunakan untuk setting jumlah baris yang akan digunakan pada LCD Karakter, satu baris atau dua baris.

N = 0; Satu baris display

N = 1; Dua baris display

F : Set character font. Bit ini dugunakan untuk membangun ukuran besar atau kecilnya dari font karakter yang akan didisplaykan ke LCD Karakter. F = 0; Ukuran font karakter 5 x 7 dot

F = 1; Ukuran font karakter 5 x 10 dot

Untuk lebih jelasnya perhatikan juga tabel 2.7

Tabel 2.4 Entry Mode Set

I/D :

Set

increment atau decrement

I/D = 0; Decrement RAM

RS R/W D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

(30)

I/D = 1; Increment RAM

S = Menggeser display ke kanan atau ke kiri S = 0; display tidak bergeser

S = 1; display bergeser kekanan atau kekiri bergantung I/D

[image:30.612.141.512.283.348.2]

Dalam memahami display on-off / kursor lihatlah table di bawah ini: Tabel 2.5 Display ON-OFF/ Kursor

RS R/W D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

0 0 0 0 0 0 1 D C B

D : Set display ON/ OFF. Bit ini untuk mengatur apakah display LCD di hidupkan atau dipadamkan.

D = 0: Display OFF

D = 1; Display ON

C : Set displaycursor ON/ OFF. Bit ini untuk menampilkan atau tidak, kursor

pada LCD karakter. untuk menandai karakter yang tercetak pada layar seperti halnya pada monitor komputer.

C = 0; Cursor OFF

C = 1; Cursor ON

B : Set cursor berkedik ( BLINK ). Bit ini dapat digunakan untuk mengatur

(31)

B = 1; Cursor berkedip

[image:31.612.142.505.225.286.2]

Untuk mengetahui lebih jelas masalah display clear perhatikan table dibawah ini:

Tabel 2.6 Display Clear

RS R/W D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

Instruksi ini difungsikan untuk membersihkan layar LCD karakter.

Perhatikan juga tabel dibawah ini: Tabel 2.7 Sift Right atau Left

RS R/W D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

0 0 0 0 0 1 S/C R/L X X

S/C : Untuk menggeser cursor atau display

S/C = 0; menggeser cursor

S/C = 1; menggeser display

R/L : Untuk menggeser ke kiri atau kekanan R/L = 0; menggeser ke Left

R/L = 1; menggeser ke Right

Untuk memahami lebih jelas dalam pemilihan lokasi RAM LCD

[image:31.612.145.506.368.440.2]
(32)
[image:32.612.143.504.143.192.2]

Tabel 2.8 Pemilihan Lokasi RAM LCDCharacter

Y= Pemilihan lokasi RAM baris 1 atau 2

Y= 0: pemilihan lokasi RAM LCD pada baris 1 Y= 1: pemilihan lokasi RAM LCD pada baris 2

XXXX = pemilihan alamat dari address 0000 s/d 1111 atau 0 s/d 15 desimal, karena jumlah karakter yang dapat dimunculkan pada layar LCD karakter adalah 16 Karakter.

2.5 Microcontroller

Menurut Ardi Winoto(2008) Microcontroller adalah sebuah sistem

microprocessor yang lengkap terkandung dalam satu serpih (chip).

Microcontroller lebih dari sekedar sebuah microprocessor karena sudah terdapat atau berisi ROM (Read Only Memory), dan RAM (Read accses memory), beberapa control masukan maupun keluaran, dan beberaa peripheral seperti pencacah/pewaktu, ADC (Analog to Digital Converter), DAC (Digital to Analog Converter) dan serial komunikasi. Salah satu Microcontroller yang banyak digunakan saat ini yaitu Microcontroller AVR. AVR adalah

Microcontroller RISC (Reduce Instriction Set Compute) 8 bit berdasarkan arsitektur Harvard. Secara umum Microcontroller AVR dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu keluarga AT90Sxx, ATMega dan ATtiny. Pada dasrnya yang membedakan masing-masing kelas adlah memori, peripheral dan

RS R/W D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

(33)

fiturnya seperti microprocessor pada umumnya, secara internal

Microcontroller ATMega 16 terdiri atas unit-unit fungsionalnya Arithmetic and logical unit (ALU), himpunan register kerja, register dan control instruksi, dan pewaktu beserta komponen kendali lainnya. Berbeda dengan mikroprosesor,

Microcontroller menyediakan memori dalam serpih yang sama dengan prosesornya.

2.4.1 Arsitektur ATMega 16

Microcontroller ini menggunakan arsitektur Harvard yang memisahkan memori program dari memori data, baik bus alamat maupun bus data, sehingga pengaksesan program dan data dapat dilakukan secara bersamaan (concurrent). Secara garis besar

Microcontroller ATMega 16 terdiri dari :

1. Arsitektur RISC dengan throughtput mencapai 16 MIPS pada

frekuensi 16 MHz

2. Memiliki kapasitas flash memori 16Kbyte,EEPROM 512 Byte, dan SRAM 1Kbyte.

3. Saluran I/O 32 buah, yaitu Port A, Port B, Port C dan Port D 4. CPU yang terdiri dari 32 buah register.

5. User interupsi internal dan eksternal

6. Bandar antar muka SPI dan Bandar USART sebagai komunikasi

serial

(34)

 Dua buah 8-bit time/counter dengan prescaler terpisah dan

metodecompare

 Satu buah 16-bit time/counter dengan prescaler terpisah , mode compare, dan modecapture

Real time counter dengan osilator tersendiri

 Empat kanal PWM dan antar muka komparator analog  8 kanal, 10 bit ADC

Byte-oriented Two-wire Serial Interface

(35)

2.4.2 Konfigurasi pin ATMega 16

Deskripsi Microcontroller ATMega 16 memi.

 VCC(power supply) dan GND (Ground)

Port A (PA7..PA0) Port A berfungsi sebagai input analog pada konverter A/D. Port A juga sebagai suatu Port I/O 8-bit dua arah, jika A/D konverter tidak digunakan. Pin-pin Port dapat menyediakan resistor internal pull-up (yang dipilih untuk masing-masing bit) Port A output buffer mempunyai karakteristik gerakan simetris dengan keduanya sink tinggi dan kemampuan sumber. Ketika pin PA0 ke PA7 digunakan sebagai input dan secara

eksternal ditarik rendah, pin-pin akan memungkinkan arus sumber jika resistor internal pull-up diaktifkan. Port A adalah tri-stated manakala suatu kondisi reset menjadi aktif, sekalipun waktu habis.

Port B (PB7.PB0) Pin B adalah suatu pin I/O 8-bit dua arah dengan resistor internal pull-up (yang dipilih untuk beberapa bit). Pin B

(36)

Port C (PC7.PC0) Pin C adalah suatu pin I/O 8-bit dua arah dengan resistor internal pull-up (yang dipilih untuk beberapa bit). Pin C

output buffer mempunyai karakteristik gerakan simetris dengan keduanya sink tinggi dan kemampuan sumber. Sebagai input, Pin C yang secara eksternal ditarik rendah akan arus sumber jika resistor jika resistor pull-up diaktifkkan. Pin C adalah tri-stated manakala suatu kondisi reset menjai aktif sekalipun waktu habis.

Port D (PD7.PD0) Pin D adalah suatu pin I/O 8-bit dua arah dengan resistor internal pull-up (yang dipilih untuk beberapa bit). Pin D

output buffer mempunyai karakteristik gerakan simetris dengan keduanya sink tinggi dan kemampuan sumber. Sebagai input, Pin D yang secara eksternal ditarik rendah akan arus sumber jika resistor jika resistor pull-up diaktifkkan. Pin D adalah tri-stated manakala suatu kondisi reset menjai aktif sekalipun waktu habis.

RESET (Reset Input)

XTAL1 (Input Oscillator) XTAL2 (Output Oscillator)

AVCC adalah pin penyedia tegangan untuk Port A dan Konverter A/D.

(37)

 Peta memori ATMega16 memori program arsitektur ATMega16 mempunyai dua memori utama, yaitu memori data dan memori program. Selain itu, ATMega16 memiliki memori EEPROM untuk menyimpan data. ATMega16 memiliki 16K byte On-chip In-system Reprogrammable Flash Memori untuk menyimpan program. Intruksi ATMega16 semuanya memiliki format 16 atau 32 bit, maka memori flash diatur dalam 8K × 16 bit. Memori flash dibagi kedalam dua bagian, yaitu bagian program boot dan aplikasi.

Bootloader adalah program kecil yang bekerja pada saat sistem dimulai yang dapat memasukan seluruh program aplikasi ke dalam memori prosesor.

(38)

2.6 SSR (solid state relay)

Solid state relay berfungsi sama seperti halnya relay mekanik, dengan

solid state relay kita dapat mengendalikan beban AC maupun DC daya besar dengan sinyal logika TTL. Rangkaian solid state relay dapat digunakan untuk mengendalikan beban dengan tegangan kerja AC dari 24 volt hingga 220 volt.

Rangkaian solid state relay ini dikendalikan dengan sinyal logika tinggi TTL 2 – 5 volt DC yang diberikan ke jalur input solid state relay. Untuk meningkatkan daya atau kemampuan arus solid state relay ini dapat dilakukan dengan mengganti TRIAC Q1 BT136 dengan

[image:38.612.237.456.470.639.2]

TRIAC yang memiliki kapasitas arus yang lebih besar. TRIAC Q1 BT136 pada rangkaian solid state relay diatas harus dilengkapi dengan pendingin (heatsink) untuk meredam panas yang dihasilkan TRIAC pada saat mengalirkan arus ke beba.

(39)

2.7 Buzzer

Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang berfungsi untuk mengubah getaran listrik menjadi getaran suara. Pada dasarnya prinsip kerja

buzzer hampir sama dengan loud speaker, jadi buzzer juga terdiri dari kumparan yang terpasang pada diafragma dan kemudian kumparan tersebut di aliri arus sehingga menjadi elektromagnetik, kumparan tadi akan tertarik kedalam atau keluar, tergantung dari arah arus dan polaritas magnetnya, karena kumparan di pasang pada diafragma maka setiap gerakan kumparan akan menggerakan diafragma secara bolak-balik sehingga membuat udara bergetar yang akan menghasilkan suara.

[image:39.612.216.464.444.593.2]

Bentuk dari buzzer dapat dlihat padagambar 2.14 di bawah ini.

(40)

2.8 Bur Gigi

Bor gigi adalah suatu bor berukuran kecil dan berkecepatan tinggi yang digunakan dalam kedokteran gigi untuk membuang bagian-bagian gigi yang membusuk. Bor gigi digunakan dalam perawatan karies gigi. Bor gigi modern dapat berputar hingga 500 ribu rpm dan umumnya menggunakan campuran (alloy) logam keras yang dikenal sebagai mata bor. Mata bor tersedia dalam berbagai bentuk yang dirancang untuk penerapan khusus. Mata bor umumnya terbuat dari baja yang dilapisi wolfram karbida, ada juga bor yang menggunakan pelapis intan. Berikut adalah sebagian dari jenis-jenis bor : 1. Bur round adalah jenis bur yang digunakan untuk membuat tempat masuk

preparasi kavitas.

2. Bur fissure adalah jenis bur yang digunakan untuk melebarkan dinding kavita waktu membuat preparasi.

[image:40.612.276.432.568.654.2]

3. Bur inverted cone adalah jenis bur yang digunakan untuk meratakan dasar kavita.

(41)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Diagram Blok

[image:41.612.125.524.275.491.2]

Untuk gambar blok diagram dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 3.1 blok diagram

Cara kerja diagram blok

1. Sumber listrik adalah jala-jala PLN yang dikontrol oleh switch. 2. Kemudian tekan tombol start

3. Blok rangkaian IC bekerja menjalankan driver lampu yang berfungsi

mentriger Driver dan menyimpan data setting waktu untuk mengetahui lamanya lampu menyala.

START

MICROCON TROLLER

DISPLAY PROGRAM

DRIVER

(42)

4. Ketika Driver lampu bekerja, Driver mendapat ground lalu bekerja dan lampu menyala.

5. Apabila waktu setting waktu telah tercapai maka IC microcontroller akan memerintahkan Driver sehingga lampu mati.

3.2. Diagram Alir

TIDAK

[image:42.612.130.383.260.650.2]

Gambar 3.2 diagram alir

MULAI

Inisialisasi timer

15 MENIT

UV ON

UV OFF

BUZZER ON

(43)

Penjelasan diagram alir

1. Mulai

Untuk memulai program 2. Inisialisasi timer

Sebelum menjalankan program microcontroller melakukan persiapan ke

LCD

3. Lampu UV ON

Lampu akan hidup

4. 15 menit

15 menit adalah lamanya proses sterillisasi 5. Waktu tercapai

Waktu proses sterillisasi sudah habis 6. UV OFF dan Buzzer ON

UV mati dan buzzer hidup 7. Selesai

(44)

3.3. Diagram Mekanis

[image:44.612.210.490.151.300.2]

Gambar 3.3 diagram mekanis Keterangan:

1. Tabung setengah lingkaran adalah lampu UV

2. Persegi panjang warna biru adalah LCD display

3. Tombol warna merah adalah tombol start

4. Tombol warna kuning adalah tombol reset

5. Lingkaran hitam pada gambar adalah buzzer

6. Tombol warna merah adalah tombol ON/OFF

7. Lingkaran warna hitam pada gambar diatas adalah fuse

8. Persegi 4 pada gambar diatas adalah hour meter

3.4 Alat dan Bahan

1. Lampu UV

(45)

3. Driver SSR(solid state relay)

4. Buzzer

5. LCDDisplay

6. Microcontroller

7. Minimum sistem a. Alat

1. Papan 2. Solder 3. Timah

4. Penyedot timah b. Komponen

1. ATMega 16

2. Kapasitor 10 µf 25 v 3. Kapasitor non polar

4. Crystal

(46)
[image:46.612.113.513.113.312.2]

Gambar 3.4. Sistematik Minimum Sistem

1. Rangkai sistematik rangkaian minimum sistem dengan mengunakan aplikasi pada laptop, aplikasi yang digunakan pada pembuatan modul ini adalah proteus.Untuk gambar sistematik rangkaian minimum sistem pada aplikasi dapat dilihat pada gambar 3.4. di atas.

2. Setelah sistematik rangkaian jadi, tahap selanjutnya membuat

lay out nya dan disablon ke papan pcb. Untuk gambar lay out

(47)
[image:47.612.214.470.113.349.2]

Gambar 3.5. Lay Out Rangkaian Minimum Sistem

3. Rakit komponen yang dibutuhkan dengan menggunakan solder.

d. Gambar minimum sistem

Untuk gambar minimum sistem dapat dilihat pada gambar 3.9. di bawah ini:

[image:47.612.205.482.531.673.2]
(48)

Rangkaian minimum sistem pada modul ini berfungsi sebgai kontrol kerja modul secara keseluruhan. Cara kerja rangkaian minimum dengan memanfaatkan kapasitas penyimpanan yang dimiliki oleh IC Atmega 16. Pada IC Atmega 16 ini diberi program yang akan mengontrol sistem kerja modul secara keseluruhan. Adapun program yang digunakan pada modul ini adalah program

timer sebagai pengendali waktu pada modul. sistem ini

3.5 Perakitan Rangkaian Power Supply

1. Alat

1. Papan pcb

2. Solder 3. Timah

4. Penyedot timah 5. Tang potong 6. Tang cucut

2. Bahan

1. Travo 2 A

2. Kapasitor 2200 µf (4) 3. Kapasitor non polar 104 (4) 4. IC regulator 7805(2)

(49)

6. Transistor TIP 3055(2) 7. T-blok

3. Langkah perakitan

[image:49.612.113.555.320.608.2]

1. Rangkai sistematik rangkaian power supply dengan mengunakan aplikasi pada laptop, aplikasi yang digunakan pada pembuatan modul ini adalah proteus. Gambar dapat dilihat di bawah ini.

(50)

Pada rangkaian power supply ini menggunakan a. travo CT 2A sebagai penurun tegangan.

b. diode yang digunakan sebagai penyearah satu gelombang c. kapasitor sebagai filter atau perata tegangan.

d. resistor+led sebagai indicator. e. IC regulator 7805 untuk keluaran 5v. f. TIP 3055 sebagai penguat tegangan.

2. Setelah sistematik rangkaian jadi, tahap selanjutnya membuat

[image:50.612.203.519.387.598.2]

layout nya dan disablon ke papan pcb. Untuk gambar layout power supply pada papan pcb dapat dilihat pada gambar 3.10. di bawah ini:

Gambar 3.8. Lay Out Power supply

3. Rakit komponen yang dibutuhkan dengan menggunakan solder. 4. Gambar power supply

(51)

Gambar 3.9. Power Supply

Rangkaian power supply pada modul ini berfungsi sebagai

supply tegangan ke semua rangkain yang menggunakan tegangan DC. Prinsip kerja power supply adalah mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC dengan menggunakan transformator sebagai penurun tegangan dan dioda sebagai komponen yang berfungsi sebagai penyearah tegangan. Pada modul ini power supply akan mengubah tagangan AC menjadi DC sebesar 5 VDC dengan mengunakan IC regulator 7805. Adapun tegangan 5 VDC digunakan untuk rangkaian minimum sistem.

�� = �� + �� � = ��� + ,

� = � � �

� − , = � � �

, � = , � � �

� = , ÷ ,

(52)

5. Gambar rangkaian total

[image:52.612.114.557.126.667.2]
(53)

3.6 Pembuatan Program Kontrol Lampu UV

Untuk pembuatan program pada modul ini menggunakan aplikasi AVR dengan bahasa C. Untuk program dapat dilihat di bawah ini.

Listing program timer diperlihatkan pada listing 4.0

Listing 4.0 program timer

unsigned char mikrodetik=0, detik=0, a=0, timer=0,temp[6], temp2[6], temp3[3];

int menit=15;

bit tampilan1=0, timer_aktif=0, b=0, c=0;

{

if(detik==0) {

menit--; detik=59; }

(54)

Listing program untuk menampilkan timer diperlihatkan pada listing 4.1

f

listing 4.1 program untuk menampilkan timer.

void atur_tampilantimer() {

if(c==1) {

if(menit<10) {

lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("0"); itoa(menit,temp); lcd_gotoxy(1,1); lcd_puts(temp); }

else

{itoa(menit,temp); lcd_gotoxy(0,1); lcd_puts(temp); }

if(detik<10)

(55)

Listing program untuk menampilkan timer diperlihatkan pada listing 4.1 Lanjutan.

listing 4.1 program untuk menampilkan timer.

{

lcd_gotoxy(3,1); lcd_putsf("0"); itoa(detik,temp2); lcd_gotoxy(4,1); lcd_puts(temp2); }

else

{itoa(detik,temp2); lcd_gotoxy(3,1); lcd_puts(temp2);}} else{lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("15:00"); }

(56)

3.7 Variable penelitian

3.7.1Variabel Bebas

Sebagai variable bebas pada modul ini adalah koloni. 3.7.2Variabel Tergantung

Sebagai variable tergantung pada modul ini adalah timer. 3.7.3Variabel Terkendali

Sebagai variable terkendali pada modul ini adalah lampu UV.

3.8 Definisi Operasional

Dalam kegiatan operasionalnya, variabel-variabel yang digunakan dalam perencanaan pembuatan modul ini, baik variabel bebas, variabel

tergantung dan juga variabel terkendali memiliki fungsinya masing-masing antara lain :

(57)

BAB IV

PENELITIAN

1.1 Spesifikasi Alat

Alat SUDEK merupakan suatu alat yang digunakan untuk mensterilkan bur gigi dengan memanfaatkan sinar UV dengan waktu yang telah ditetapkan selama 15 menit.

Nama Alat : Sterillisasi UV Dental KIT (SUDEK) Tegangan : 220 Volt

Daya : 36 watt

1.2 Gambar Alat

[image:57.612.254.471.521.677.2]

Untuk dapat mengetahui bagaimana bentuk dari modul yang penulis buat dapat di lihat pada gambar 4.1

(58)

1.3 Cara Kerja Alat

ketika alat terhubung ke jala-jala PLN kemudian tekan tombol

ON/OFF pada posisi ON maka tegangan akan masuk ke power supply setelah itu, power supply akan membagi tegangan ke tiap-tiap blok rangkaian yang ada pada modul. Tegangan yang masuk ke microcontroller akan mengontak SSR(solid state relay) kemudian solid state relay akan memberikan logika untuk menghidupkan lampu UV yang akan di proses oleh program yang telah dimasukan ke microcontroller.

Pada rangkaian minimum sistem ini tegangan yang masuk ke

microcontroller akan di proses untuk di keluarkan pada Port yang telah ditentukan. Pada modul ini Port yang di gunakan adalah Port C untuk keluaran dari rangkaian minimum sistem. Keluaran pada Port C akan digunakan sebagai triger untuk menyalakan LCD, lampu UV. Tegangan keluaran pada Port C yang digunakan sebagai triger pada rangkaian driver untuk meyalakan lampu UV

ditentukan selama 15 menit oleh Microcontroller. Setelah waktu tercapai maka lampu UV akan mati dan buzzer berbunyi.

1.4 Jenis Penelitian

(59)

Variabel yang diteliti dan diamati pada alat SUDEK ini adalah koloni yang terdapat pada bor gigi

1.5 Persiapan Bahan

Adapun komponen-komponen penting dalam pembuatan modul ini antara lain:

1. IC Atmega 16 2. Lampu UV

3. SSR(solid state relay) 3-32VDC 4. Bor gigi

5. Buzzer

6. Hour meter

1.6 Alat Yang Digunakan

Adapun peralatan yang digunakan selama pembuatan tugas akhir ini anatara lain :

1. Solder listrik 2. Tool set

3. Gergaji besi 4. Penyedot timah 5. Bor pcb

(60)

7. Multimeter

8. Komputer 9. Lem tembak

1.7 Percobaan Alat

Percobaan alat disini dengan cara membandingan alat disini guna memastikan ketepatan waktu yang dikehendaki pada alat dengan waktu

stopwatch. Untuk hasil dari perbandingan waktu dapat dilihat pada tabel 4.1 tabel perbandingan setting watu modul dengan stopwatch

NO MODUL STOPWATCH

(61)

1.7.1 Uraian data hasil pengukuran

Untuk pengambilan data waktu nyala lampu UV terhadap selang waktu yang ditentukan yaitu selama 15 menit, berdasarkan waktu

stopwatch maka didapatkan hasil dengan rata-rata waktu selama 14.59 menit.sedangkan standart penyimpangan yang dihasilkan yaitu sebesar 0.18 dan nilai untuk ketidakpastian pengukuran sebesar 0.04.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin kecil nilai standart deviasi penyimpangan maka semakin presisi data yang dihasilkan.

1.7.2 Pengujian alat dengan menghitung angka kuman pada bur gigi.

pada pengujian alat disini yaitu dengan membandingkan modul yang penulis buat dengan alat yang sudah ada guna mengetahui keefektifan modul yang penulis buat dalam membunuh bakteri.

Pengujian alat ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 22-23 agustus 2016.

1. Persiapan Bahan

Adapun bahan-bahan yang harus disiapkan :

a. Media TSA(sebagai tempat pertumbuhan bakteri) b. Kapas lidi steril

c. Nacl

(62)

e. Lampu spirtus f. Kawat gores

g. Steril kering atau open 2. Persiapan Alat

Adapun peralatan yang harus dipersiapkan : a. Modul Tugas Akhir

b. Alat yang sudah ada c. Incubator bacteri

d. Koloni counter

e. Spidol f. Komputer

3. Langkah Percobaan modul sterillisasi UV dental kit

Adapun langkah dalam percobaan alat sterillisasi UV dental kit :

a. Mengusap bagian atas bur gigi sebelum di sterillkan dengan menggunakan kapas lidi steril atau dengan menggunakna kawat sterill.

b. Mengusap atau menggores kapas lidi sterill tadi kedalam cawan petri atau media tempat tumbuhnya bakteri.

c. Simpan cawan petri ke dalam incubator bacteri dengan suhu 37℃ selama 24 jam untk melihat apakah ada pertumbuhan

(63)

d. Masukan bur gigi ke dalam ruang sterillisasi modul untuk di sterilkan selama 15 menit

e. Mengusap bur gigi dengan menggunakan kapas lidi sterill. f. Mengusap atau menggoreskan kapas lidi ke dalam cawan petri

atau media untuk pertumbuhan bacteri.

g. Simpan cawan petri ke dalam incubator bacteri dengan suhu 37℃ selama 24 jam untk melihat apakah ada pertumbuhan

bacteri.

h. Mengambil cawan petri bacteri dari incubator bacteri yang sudah didiamkan selama 24 jam dengan suhu 37℃ baik yang sesudah maupun sebelum menggunakan alat.

(64)
[image:64.612.112.513.172.353.2]

Tabel 4.2 hasil percobaan modul sterillisasi UV dental kit dengan alat yang sudah ada dengan waktu 15 menit.

Sterillisasi bur gigi

Sterillisasi kering Sterillisasi UV

Sebelum sesudah Sebelum Sesudah

1 135 koloni 2 koloni 135 koloni 3 koloni 2 135 koloni 5 koloni 135 koloni 1 koloni 3 135 koloni 7 koloni 135 koloni 2 koloni 4 135 koloni 3 koloni 135 koloni 4 koloni 5 135 koloni 5 koloni 135 koloni 3 koloni 6 135 koloni 4 koloni 135 koloni 1 koloni 7 135 koloni 3 koloni 135 koloni 5 koloni 8 135 koloni 4 koloni 135 koloni 1 koloni 9 135 koloni 3 koloni 135 koloni 0 koloni 10 135 koloni 6 koloni 135 koloni 2 koloni

Tabel 4.3 perbandingan hasil perhitungan modul dengan sterillisasi kering Perhitungan Sterlisasi kering Sterillisasi UV

Rata-rata 130,8 132,7

Standart deviasi 4,69 2,88

Ketidak pastian 1,48 0,91

[image:64.612.111.436.405.493.2]
(65)

1.8 Kelebihan dan Kekurangan Modul TA

4.8.1. Kelebihan Modul TA

1. Modul dapat membunuh bakteri lebih efektif dari alat yang sudah ada dalam jangka waktu 15 menit.

2. Modul sterillisasi UV untuk bur gigi itu sendiri belum ada sebelumnya.

4.8.2. Kekurangan Modul TA

(66)

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Setelah melakukan proses pembuatan, percobaan, pengujian alat dan pendataan, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hasil uji lab yang telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dapat disimpulkan bahwa modul yang penulis buat mampu membunuh bakteri yang terdapat pada bur gigi dalam waktu 15 menit, didapat nilai rata-rata membunuh koloni 132,7 dari 135 koloni sedangkan pada alat sterillisasi kering yang di setting 15 menit didapat nilai rata-rata membunuh koloni 130,8 dari 135 koloni.

5.2. Saran

Setelah melakukan proses pembuatan, percobaan, pengujian alat dan pendataan, penulis memberikan saran sebagai pengembangan peneliti selanjutnya sebagai berikut:

(67)

2. Pembuatan box bisa dirapikan lagi dan dibuat lebih minimalis.

3. Bisa ditambahkan safety lock untuk mencegah user terkena paparan radiasi sinar UV.

(68)

54

DAFTAR PUSTAKA

Ambar Tri Utomo, Ramadani Syahputra, I., 2011. Implementasi Mikrokontroller Sebagai Pengukur Suhu Delapan Ruangan. Pengukur Suhu, 4(Pengukur Suhu Delapan Ruangan), pp.153–159.

Ardi Winoto. 2008. Mikrokontroler AVR ATMega8/32/16/8535 dan Pemrograman Dengan Bahasa C dan WinAVR. Cirebon : Informatika

Chamim, A.N.N., Ahmadi, D. & Iswanto, 2016. Atmega16 Implementation As Indicators Of Maximum Speed. International Journal of Applied Engineering Research ISSN, 11(15), pp.8432–8435.

Chamim, A.N.N. & Iswanto, 2011. Implementasi Mikrokontroler Untuk Pengendalian Lampu Dengan Sms. In Prosending Retii 6.

Frank D. Petruzella. 2001. Elektronik Industri. Yogyakarta : Andi

Hidayat, L., Iswanto & Muhammad, H., 2015. Perancangan Robot Pemadam Api Divisi Senior Berkaki. Jurnal Semesta Teknika, 14(2), pp.112–116.

Iswanto, 2008. Design dan Implementasi Sistem Embedded Mikrokontroler ATMEGA8535 dengan Bahasa Basic, Yogyakarta: Gava Media.

Iswanto, I. & Raharja, N.M., 2010. Sistem monitoring dan peringatan dini tanah longsor. In Simposium Nasional RAPI IX 2010. pp. 54–62.

Iswanto, I., Raharja, N.M. & Subardono, A., 2009. Sistem Peringatan Dini Tanah Longsor Berbasis Atmega8535. In Seminar Nasional Informatika 2009 (semnasIF 2009). pp. 53–57.

Iswanto, I. & Setiawan, R.D., 2013. Power Saver with PIR Sensor. Journal of Control & Instrumentation, 4(3), pp.26–34.

ISWANTO, JAMAL, A. & SETIADY, F., 2011. Implementasi Telepon Seluler sebagai Kendali Lampu Jarak Jauh. Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, 14(1), pp.81–85.

ISWANTO & MUHAMMAD, H., 2012. WEATHER MONITORING STATION WITH REMOTE RADIO FREQUENCY WIRELESS COMMUNICATIONS.

International Journal of Embedded Systems and Applications (IJESA), 2(3), pp.99–106.

(69)

55

Iswanto, dan Raharja Maharani, N.2015. Mikrokontroler Teori dan Peraktek ATMEGA 16 Dengan Bahasa C. Yogyakarta : CV BUDI UTAMA. Muhammad, H. & Iswanto, 2013. EGT 10 Design and Application For Position.

International Journal of Mobile Network Communications & Telematics ( IJMNCT), 3(3), pp.1–8.

Prof. Dr. Zuhal M.Sc.EE dan Ir. Zhanggischan. 2004. Prinsip Dasar Elektronik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Sadad, R.T.A. & Iswanto, 2010. Implementasi Mikrokontroler Sebagai Pengendali Kapasitor Untuk Perbaikan Faktor Daya Otomatis pada Jaringan Listrik.

SEMESTA TEKNIKA, 13(2), pp.181–192.

SADAD, R.T.A., ISWANTO & SADAD, J.A., 2011. Implementasi Mikrokontroler Sebagai Pengendali Lift Empat Lantai. JURNAL ILMIAH SEMESTA TEKNIKA, 14(2), pp.160–165.

Suripto, S. & Iswanto, 2012. DESAIN AND IMPLEMENTATION OF FM RADIO WAVES AS DISTANCE MEASURING AC VOLTAGE. International Journal of Mobile Network Communications & Telematics (IJMNCT), 2(5), pp.13–24.

Tunggal, T.P., Latif, A. & Iswanto, 2016. Low-cost portable heart rate monitoring based on photoplethysmography and decision tree. In ADVANCES OF SCIENCE AND TECHNOLOGY FOR SOCIETY: Proceedings of the 1st International Conference on Science and Technology 2015 (ICST-2015). p. 090004. Available at:

http://scitation.aip.org/content/aip/proceeding/aipcp/10.1063/1.4958522. Wahyudianto, A., Iswanto & Chamim, A.N.N., 2013. ALAT PENGONTROL

LAMPU MENGGUNAKAN REMOTE TV UNIVERSAL. In SEMINAR NASIONAL ke 8 Tahun 2013. pp. 112–116.

Rida, Angga. 2015. Pengertian LCD. http://skemaku.com/pengertian-lcd-kelebihan-dan-kekurangan-lcd/

Trikueni, Dewanto. 2014. Pengertian Solid State Relay. http://trikueni-desain-sistem.blogspot.co.id/2014/03/Pengertian-Solid-State-Relay.html

Linda Parwati. (2014). UV STERILISATOR BERBASIS MIKROKONTROLER AVR ATMega 8535. Tugas Akhir Prodi Teknik Elektromedik Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta.

(70)

56

Prof. DR. drg. Rasinta Tarigan. Karies Gigi edisi 2 Yogyakarta: buku kedokteran Putranto Joko Hadikusumo. 2010 .Memahami dunia bakteri. Bandung: Sinar Baru

Algensindo.

Tatang Sopandi Wardah. (2014). Mikrobiologi Pangan – Teori dan Praktik. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET

NN. Autoclave http://id.wikipedia.org/wiki/Autoklaf 18:20. Eve Cuny, RDA, MS;Helene Bednarsh, RDH, MPH

https://www.google.co.id/webhp?sourceid=chrome-instant&ion=1&espv=2&ie=UTF8#q=sterilization+of+dental+instruments Okik Hendriyanto Cahyonugroho. 2011. PENGARUH INTENSITAS SINAR

ULTRAVIOLET DAN PENGADUKAN TERHADAP REDUKSI JUMLAH BAKTERI. [online]. Tersedia :

http://eprints.upnjatim.ac.id/1249/1/3-Jurnal_Okik_HC.pdf [2016 juni 22 pukul 15.00].

NN. Oven http://www.alatlabor.com/article/detail/63/drying-oven-oven- laboratorium [Agustus 21 18:25].

NN. Sterilisasi bor gigi

https://www.google.co.id/search?q=sterilisasi+bor+gigi+dengan+UV&oq =ster&aqs=chrome.4.69i57j69i61j69i59l3j0.4439j0j7&sourceid=chrome&es_ sm=93&ie=UTF.

All data sheet. [online]. Tersedia :

http://www.atmel.com/images/doc2466.pdf. All data sheet. [online]. Tersedia :

https://www.sparkfun.com/datasheets/LCD/ADM1602K-NSW-FBS-3.3v.pdf. All data sheet. [online]. Tersedia :

https://www.opto22.com/documents/0859_Solid_State_Relays_data_sheet.pd f.

All data sheet. [online]. Tersedia :

(71)
(72)
[image:72.612.75.514.85.283.2]

Gambar Alat

(73)

Pengambilan sample dari bur gigi

Sterillisasi kering stellisasi UV dentalkit

Penggoresan pada media TSA

(74)

Proses inkubasi bakteri

Pertumban bakteri setelah di inkubasi selama 24 jam

(75)

Solid-State Relays

Opto 22 • 43044 Business Park Drive • Temecula, CA 92590-3614 • www.opto22.com

SALES 800-321-6786 • 951-695-3000 • FAX 951-695-3095 • [email protected]SUPPORT 800-835-6786 • 951-695-3080 • FAX 951-695-3017 • [email protected]

© 2006–2014 Opto 22. All rights reserved. Dimensions and specifications are subject to change. Brand or product names used herein are trademarks or registered trademarks of their respective companies or organizations.

PAGE 1 DA TA S H E E T F o rm 08 59 -15 062 5

S

o

lid-Sta

te Rela

y

s

Features

Rugged, epoxy encapsulation construction 4,000 volts of optical isolation

Subjected to full load test and six times the rated current surge before and after encapsulation Unique heat-spreader technology

Guaranteed for life

Overview

In 1974, Opto 22 introduced the first liquid epoxy-filled line of power solid-state relays (SSR). This innovation in SSR design greatly improved the reliability and reduced the cost of manufacturing. At that time, we also incorporated into our manufacturing process 100% testing under full load conditions of every relay we produced.

By 1978, Opto 22 had gained such a reputation for reliability that we were recognized as the world’s leading manufacturer of solid-state relays. Through continuous manufacturing

improvements and the same 100% testing policy established over 40 years ago, Opto 22 is still recognized today for the very high quality and reliability of all our solid-state relays.

Description

Opto 22 offers a complete line of SSRs, from the rugged 120/ 240/380-volt AC Series to the small footprint MP Series, designed for mounting on printed circuit boards. All Opto 22 SSRs feature 4,000 volts of optical isolation, and most are UL and CSA recognized. The innovative use of room-temperature liquid epoxy encapsulation, coupled with Opto 22’s unique heat-spreader technology, are key to mass producing the world’s most reliable solid state relays.

Every Opto 22 solid state relay is subjected to full load test and six times the rated current surge both before and after

Opto 22 Power Series SSR

Part Numbers

Part Description

AC Switching

120A10 120 VAC, 10 Amp, AC Control 120A25 120 VAC, 25 Amp, AC Control 240A10 240 VAC, 10 Amp, AC Control 240A25 240 VAC, 25 Amp, AC Control 240A45 240 VAC, 45 Amp, AC Control 120D3 120 VAC, 3 Amp, DC Control 120D10 120 VAC, 10 Amp, DC Control 120D25 120 VAC, 25 Amp, DC Control 120D45 120 VAC, 45 Amp, DC Control 240D3 240 VAC, 3 Amp, DC Control 240D10 240 VAC, 10 Amp, DC Control

240Di10 240 VAC, 10 Amp, DC Control, with LED Indica-tors

240D25 240 VAC, 25 Amp, DC Control

240Di25 240 VAC, 25 Amp, DC Control, with LED Indica-tors

240D30-HS 240 VAC, 30 Amp, DC Control, with integrated heatsink

240D45 240 VAC, 45 Amp, DC Control

240Di45 240 VAC, 45 Amp, DC Control, with LED Indica-tors

380D25 380 VAC, 25 Amp, DC Control 380D45 380 VAC, 45 Amp, DC Control

480D10-12 480 VAC, 10 Amp, DC Control, Transient Proof 480D15-12 480 VAC, 15 Amp, DC Control, Transient Proof 480D25-12 480 VAC, 25 Amp, DC Control, Transient Proof 480D25-HS 480 VAC, 25 Amp, DC Control, Transient Proof,

with integrated heatsink

480D45-12 480 VAC, 45 Amp, DC Control, Transient Proof

575D15-12 575 VAC, 15 Amp, DC Control, Transient Proof 575D45-12 575 VAC, 45 Amp, DC Control, Transient Proof 575D30-HS 575 VAC, 30 Amp, DC Control, Transient Proof,

with integrated heatsink

575Di45-12 575 VAC, 45 Amp, DC Control, Transient Proof, with LED Indicators

MP120D2 or P120D2

120 VAC, 2 Amp, DC Control. P model is low profile. MP120D4

or P120D4

120 VAC, 4 Amp, DC Control. P model is low profile. MP240D2

or P240D2

240 VAC, 2 Amp, DC. P model is low profile. MP240D4

or P240D4

240 VAC, 4 Amp, DC. P model is low profile. MP380D4 380 VAC, 4 Amp, DC

Z120D10 Z Model, 120 VAC, 10 Amp, DC Control Z240D10 Z Model, 240 VAC, 10 Amp, DC Control

DC Switching

DC60P or DC60MP

60 VDC, 3 Amp, DC Control. P model is low profile. DC200P or

DC200MP

200 VDC, 1 Amp, DC Control. P model is low profile. DC60S-3 60 VDC, 3 Amp, DC Control DC60S-5 60 VDC, 5 Amp, DC Control

Accessories

SAFETY COVER Power Series SSR safety cover SSR-HS Power Series SSR heatsink SSR-THERMOPAD Thermal conductive pad (pack of 10) Part Description

(76)

Solid-State Relays

Opto 22 • 43044 Business Park Drive • Temecula, CA 92590-3614 • www.opto22.com

SALES 800-321-6786 • 951-695-3000 • FAX 951-695-3095 • [email protected]SUPPORT 800-835-6786 • 951-695-3080 • FAX 951-695-3017 • [email protected]

© 2006–2014 Opto 22. All rights reserved. Dimensions and specifications are subject to change. Brand or product names used herein are trademarks or registered trademarks of their respective companies or organizations.

Soli

d

-S

ta

te

Rela

y

s

PAGE 2 DA TA S H E E T F o rm 085 9-1 5 0 625

encapsulation. This double testing of every part before it leaves the factory means you can rely on Opto 22 solid state relays. All Opto 22 SSRs are guaranteed for life.

Accessories for the Power-Series SSRs include a safety cover, heatsink, and a matching thermal conductive pad. See page 3.

Power Series SSRs

Opto 22 provides a full range of Power Series relays with a wide variety of voltage (120–575 volts) and current options (3–45 amps). All Power Series relays feature 4,000 volts of optical isolation and have a high PRV rating. Some Power Series relays include built-in LEDs to indicate operation.

See page 4.

DC Series

The DC Series delivers isolated DC control to large OEM customers worldwide. All DC control SSRs are LS TTL compatible.

AC Series

The AC Series offers the ultimate in solid state reliability. All AC Power Series relays feature a built-in snubber as well as zero-voltage turn-on and zero-current turn-off. Transient-proof models offer self protection for noisy electrical environments.

Z Series SSRs

The Z Series employs a unique heat transfer system that makes it possible for Opto 22 to deliver a low-cost, 10-amp, solid state relay in an all-plastic case. The push-on, tool-free quick-connect terminals make the Z Series ideal for high-volume OEM applications. Operating temperature: –40 °C to 100 °C. See page 7.

Printed Circuit Series SSRs

Opto 22’s Printed Circuit Series allows OEMs to easily deploy solid state relays on printed circuit boards. Two unique packages are available, both of which will switch loads up to four amps. Operating temperature: –40 °C to 100 °C. See

page 9.

MP Series

The MP Series packaging is designed with a minimum footprint to allow maximum relay density on the printed circuit board.

P Series

The P Series power relays provide low-profile [0.5 in. (12.7 mm)] center mounting on printed circuit boards.

HS Series SSRs

The HS Series features an integrated heatsink, which makes them so cool.

These relays have less thermal resistance inside, so heat dissipates more easily than in a standard SSR mounted to the same heatsink. With the heatsink built-in, you don't have to select one from a catalog, and installation is much easier. Includes a DIN-rail adapter. See page 13.

Specifications

(all Power Series models)

4,000 V optical isolation, input to output

Zero voltage turn-on

Zero-current turn-off

Turn-on time: 0.5 cycle maximum

Turn-off time: 0.5 cycle maximum

Operating temperature: –40 °C to 100 °C

Operating frequency: 25 to 65 Hz

(operates at 400 Hz with six times off-state leakage)

Coupling capacitance, input to output: 8 pF maximum

Hermetically sealed

DV/DT Off-state: 200 volts per microsecond

DV/DT commutating: snubbed for rated current at 0.5 power factor

UL recognized

CSA certified

CE component

Torque specs for screws (this spec is both the recommended torque and the maximum torque you should use):

(77)

Solid-State Relays

Opto 22 • 43044 Business Park Drive • Temecula, CA 92590-3614 • www.opto22.com

SALES 800-321-6786 • 951-695-3000 • FAX 951-695-3095 • [email protected]SUPPORT 800-835-6786 • 951-695-3080 • FAX 951-695-3017 • [email protected]

© 2006–2014 Opto 22. All rights reserved. Dimensions and specifications are subject to change. Brand or product names used herein are trademarks or registered trademarks of their respective companies or organizations.

Solid-S

tat

e Rela

y

s

DA TA S H E E T F o rm 0 8 5 9 -15 06 25 PAGE 3 Power Series SSR Accessories

Safety Cover

A plastic safety cover (Opto 22 part number SAFETY COVER) is available for use with Opto 22 Power Series SSRs. The safety cover reduces the chance of accidental contact with relay terminals, while providing access holes for test

instrumentation.

SSR-HS Heatsink

Custom designed for the Power Series SSRs, the SSR-HS heatsink provides excellent heat dissipation when mounted to the SSR with a matching thermal conductive pad, used in place of silicon grease. One thermal pad is included with the heatsink. Additional pads may be purchased in packs of 10 (part number SSR-THERMOPAD). DIN-rail adapter is included.

Thermal Ratings

The thermal ratings shown in the following graphs were obtained with an SSR attached to a heatsink using a thermal conductive pad.

45 Amp Relay on SSR-HS Heatsink Derating

25 Amp Relay on SSR-HS Heatsink Derating

Heatsink Assembly

Before attaching the SSR, remove the protective film from both sides of the thermal pad, then place the pad on the heatsink making sure to align the holes. Secure the SSR to the heatsink with the two 8-32 x 3/8˝ panhead Phillips screws included in the kit. Use 20 in-lb (2.26 N-m) of torque.

An optional plastic safety cover can be installed on a Power Series SSR.

V H 30 25 20 15 10 5

30 40 50 60 70 80 90 100 20

Ambient Temperature (°C)

RM

S A

m

peres

V:Heatsink mounted to a vertical surface

H: Heatsink mounted to a horizontal surface.

30 25 20 15 10 5

30 40 50 60 70 80 90 100 20

Ambient Temperature (°C)

Gambar

Tabel 2.1 konfigurasi pin LCD 2x16 karakter ...............................................
Gambar 2.1 alat sterillisasi kering
Gambar 2.2 Autoclave
Gambar 2.3 lampu UV
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian penggunaan modul radio tersebut dapat langsung diaplikasikan, karena data yang dikirimkan oleh radio dapat ditampilkan pada komputer dengan

Tugas Akhir dengan judul PERANCANGAN ALAT BANTU PENCEKAM MESIN BANDSAW (Studi Kasus: Laboratorium Proses Produksi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah

1. Agus Riyanto, MT. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.. selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bapak Abdul

penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana strata satu pada Fakultas Teknik Jurusan Elektro Studi Sistem Elektronika (STE)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

Hal ini dapat disimpulkan bahwa kenaikan nilai konduktivitas mengindikasikan kenaikan dalam persentase kadar kelembaban tanah.. Oleh karena itu, metode konfigurasi Wenner

Diajukan Kepada Program Vokasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk.. Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) Program Studi D3

Maka dengan bangga dan dengan segala kerendahan hati, Proyek akhir yang berjudul “Rancang Bangun Alat Penutup Botol Otomatis Berbasis Microcontroller Atmega 16