Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Fathul Munir NIM. 105011000179
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Fathul Munir
NIM. : 105011000179
Jur./Fak. : PAI/FITK
Jenis Kelamin : Pria
Judul Skripsi : Guru Agama Islam Dalam Perspektif PAIKEM
Dosen Pembimbing : Drs. Mu’arif Sam, M.Pd
Dengan ini menyatakan:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen yang
diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata
Satu (S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang digunakan dalam penulisan skripsi ini telah
dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya sendiri dan
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 25 Februari 2011
i
mampu membuat manusia belajar mengenai hakikat kehidupan layaknya titel
animal educandum sekaligus animal educandus yang telah disandang sejak
manusia terlahir sebagai konsekwensi logis atas eksistensinya di dunia ini. Namun, realita berbicara akan kondisi pendidikan di Indonesia yang tak kunjung memperlihatkan kemajuannya yang pesat, tampak dengan jelas demoralisasi telah menjangkit ke berbagai lini dalam konteks pendidikan. Berita tawuran antar pelajar yang bahkan tak jarang berakhir dengan kematian ibarat sudah menjadi makanan ringan dalam kehidupan sehari-hari, rendahnya kualitas pendidik menjadi salah satu faktor adanya legitimasi akan ketidakmampuan pendidikan dalam menjawab harapan bangsa. Disinilah urgensi dari penelitian ini yang kemudian dijadikan dasar oleh penulis dalam mencari format guru agama ideal yang bisa membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik sebagai jawaban atas problematika pendidikan Indonesia. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui format guru agama ideal menurut PAIKEM yang bisa dijadikan alternatif pedoman bagi guru agama dalam meningkatkan kualitas pribadinya sebagi pendidik. Dengan mengunakan metode penelitian kepustakaan (library reseach), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, meneliti, menganalisis, dan mensintesiskan data-data yang tedapat dalam buku-buku, kitab-kitab, majalah, surat kabar, dan sumber lain yang berkaitan dengan tema guru agama dalam perspektif PAIKEM. Hasil penelitian tersebut memberikan penjabaran akan empat kompetensi pendidik yang terkandung dalam undang-undang menurut strategi PAIKEM. Empat kompetensi tersebut meliputi; pemahaman akan kesamaan kemampuan otak serta perbedaan akan penggunaannya oleh peserta didik (kompetensi pedagogik), kemampuan intrapersonal dan interpersonal (kompetensi sosial), pemahaman serta kesadaran pendidik akan tipologi kepribadian (kompetensi keoribadian), serta kemampuan akan keselarasan komunikasi pendidik dalam bentuk 3 V, yakni visual, verbal, dan voice (kemampuan profesional).
ii
dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan secerca karya tulis yang
diharapkan bisa bermanfaat untuk sesama. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Muhammad SAW, Insan sempurna yang selalu mengajarkan akan
keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan. Semoga penulis selalu bisa belajar dan
mengamalkan setiap ajaran yang diajarkannya. Begitu juga semoga rahmat dan
ridho Allah selalu mengiringi Aba Fatah dan Ibu Muniro, dua sosok guru bangsa
yang telah mengikhlaskan gerak hati dan langkah kakinya dalam mendidik penulis
dalam proses pencarian jati dirinya.
Selanjutnya, dalam penyusunan skripsi ini tentu tidak luput dari hambatan
dan kendala yang penulis hadapi baik pikiran, tenaga maupun biaya. Namun
berkat Ridho Allah serta kesediaan berbagai pihak dalm membimbing dan
membantu baik secara langsung maupun tidak langsung akhirnya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang tak terhingga
penulis sampaikan kepada :
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Kajur. dan Sekjur. beserta staff Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Mu’arif Sam yang dengan kesediaan serta kesabarannya berkenan membimbing penulis.
4. Om Bagus (Tubagus Wahyudi) guru besar penulis dalam kuliah kehidupan
5. Neng IIS & Mas Wahid yang sudah ditemani keponakanku tercinta Siroj,
sepupuku dzurriyah, alif atas dukungannya selama ini
6. Lek Jib sekeluarga atas kesediaannya menerima dan membimbing penulis
sejak berada di Jakarta.
7. Kanda Tanenji atas kesediaannya memberikan arahan-arahan positif dalam
iii
9. Para Bapak dan Ibu Dosen serta segenap karyawan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
10.Fathul Arif Wasekjend PAO PB HMI, Adit, Cilung, Bang Erick Hariadi,
K’Amel, Bang Fajri Ketua Umum PB HMI, Bang Rizki Ketum Lisuma Indonesia beserta pengurus, Bang Oqe Sekjend Lisuma Indonesia, Bang Fahri
Ketum Lisuma Jakarta, Bang Ilung Kabid HI PB HMI, Bang Ujo & Cak Oji
(Ketum & Sekjend HIMA Kosgoro 57).
11.Kawan-kawan seperjuangan, khususnya Riyan Nuridansyah atas kesediaannya
mendesign semua skema gambar yang dibutuhkan di skripsi ini, Ujang
Syahid, Ridwan, Wahyudin, Aris, Dewa, Riki, Oji, Fuad Tangsel, Fajri, Sipak,
Faiq semoga sukses selalu. Keluarga besar KAHFI Al-KARIM, HMI
Komisariat Tarbiyah Cabang Ciputat, HMI Cabang Ciputat, LAPENMI,
LISUMA INDONESIA, LISUMA JAKARTA, DPP PARMA, FK2I.
12.Adik-adik satu embrio HMI, Puzi, Eka, Nengsri, Milal, Johan (staff Dewan
Pendidikan Tangsel), Edi (Program Manager Lazuardi Biru), Iman (Ketum
DPP PARMA), Nira, Gendut, Fuad, Aan (Ketum Komtar), Anang, Abduh,
Ucing, Nda, Mamen, Nnot.
13.Seseorang yang yang selalu mensupport penulis untuk segera menyelesaikan
studi S1 Afaf Zahruddin Tohir, semoga selalu diberi kemudahan untuk meraih
masa depan bersama yang cerah
14.Keluarga penulis di PAI, khususnya kelas E angkatan 2005 uus, tado, huda.
Serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis memohon,
Ciputat, 25 September 2012
iv LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAKSI ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Identifikasi Masalah ... 6
C.Pembatasan Masalah ... 6
D.Perumusan Masalah ... 7
E.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
F. Metodologi Penelitian... 7
BAB II. KONSEP PAIKEM ... 9
A.Sejarah & Pengertian PAIKEM ... 9
B.Landasan PAIKEM... 23
C.Prinsip-prinsip PAIKEM ... 27
D.Hubungan PAIKEM dengan Teori Pembelajaran ... 29
E.Kelebihan dan Kekurangan PAIKEM ... 31
BAB III. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH ... 34
A. Pengertian Pendidikan Agama Islam di Sekolah ... 34
v
1. Kompetensi Pedagogik ... 47
2. Kompetensi Kepribadian ... 53
3. Kompetensi Sosial ... 57
4. Kompetensi Profesional ... 61
C. Peran Guru Agama Islam dalam Perspektif PAIKEM ... 63
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 68
A.Kesimpulan ... 68
B.Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 71
vi
Tabel 2 Tentang Ciri-ciri Gaya Belajar 51
Tabel 3 Tentang Kelebihan Dan Kekurangan Tipologi Kepribadian 55
Tabel 4 Tentang Cara Melatih dan Mengembangkan 3 V 62
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Tentang Model Pembelajaran 11
Gambar 2 Tentang Kekuatan 3 V 21
Gambar 3 Tentang Komponen Kurikulum 38
Gambar 4 Tentang Fungsi Otak Kiri Dan Otak Kanan 50
Gambar 5 Tentang Tipologi Kepribadian Pendidik Dan Peserta Didik 56
Gambar 6 Tentang 3 V 62
Gambar 7 Tentang Guru Agama Ideal dalam Perspektif PAIKEM 69
DAFTAR LAMPIRAN
1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAI Tingkat SD, SMP,
SMA
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Membincang perihal pendidikan di Indonesia, sudah semestinya semua
pihak tergugah untuk berusaha mendermakan segenap pikiran dan tenaganya
dalam konteks memperbaiki serta memajukan pendidikan di Indonesia. Berbagai
problematika pendidikan muncul di seantero nusantara seolah tidak ada solusi
yang bisa ditawarkan dalam penyelesaian problematika tersebut, tampak dengan
jelas demoralisasi telah menjangkit ke berbagai lini dalam konteks pendidikan.
Berita tawuran antar pelajar yang bahkan tak jarang berakhir dengan kematian
ibarat sudah menjadi makanan ringan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lebih
tragis lagi, dibeberapa media sering tersorot wajah oknum pendidik yang
tertangkap polisi karena merenggut keperawanan peserta didiknya. Belum lagi,
kepedulian ditingkatan eksekutif seolah menjadi tanda tanya besar dalam benak
masyarakat Indonesia, demikian juga pihak legislatif yang diharapkan menjadi
mediator akan ekspektasi masyarakat terkesan membisu dan terlihat lebih
mementingkan kepentingan pribadi dan kerumunannya masing-masing.
Padahal disadari atau tidak, pendidikan menjadi faktor yang sangat
berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, sehingga
diperlukan usaha yang ekstra secara sistematis serta terencana dalam proses
memajukan pendidikan Indonesia seperti yang tertuang dalam dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
2 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menjadikan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.1
Dalam Undang-undang tersebut sangat jelas bahwa proses pembelajaran
yang terjadi sudah semestinya diarahkan kepada pemberian ruang atau
keleluasaan peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang
dimilikinya sehingga proses pembelajaran yang terjadi bisa berjalan seperti yang
diharapkan dimana peserta didik merasa senang, nyaman serta tertantang untuk
terus mencari & menggali berbagai pengetahuan.
Abdurrahman Shaleh menjelaskan akan dua komponen pendidikan yang
berupa hardware & software yang kedua komponen tersebut harus saling
bersinergis dan berkesesuaian antara satu dengan yang lainnya, sehingga proses
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan bisa diraih dengan mudah. Salah satu
komponen yang berupa hardware yang penulis rasa memiliki signifikansi yang
besar dalam proses pembelajaran adalah tenaga pendidik atau lebih akrab dengan
sapaan guru dimana kata guru tersebut bisa dipahami dengan arti ”digugu &
dituru (dipercaya & dijadikan suri tauladan).”
Sangat tepat kalau kemudian sosok guru dianggap sebagai salah satu
komponen yang sangat berpengaruh dalam frame pembelajaran karena memang
guru memiliki peran dan tanggung jawab yang besar seperti penjelasan dari PP No
9 tahun 2005, pasal 28 yang berisi :
”yang dimaksud dengan pendidik sebagai agent pembelajaran (learning agent) pada ketentuan ini adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator,
dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik”.
Akan tetapi, pada tataran riilnya semua pihak tidak bisa menutup mata
akan kebanyakan kondisi guru, baik dalam aspek mental serta kualitasnya,
sehingga hal tersebut memiliki implikasi negatif bagi keberlangsungan proses
1
3 pembelajaran. Data penelitian yang pernah dilakukan oleh Depdiknas dapat dilihat
di bawah ini2:
Tabel I Tentang Guru Menurut Kelayakan Mengajar 2007-2008
No Jenjang
Pendidikan
Jumlah Guru
Presentasi kepala Sekolah & Guru Menurut Ijazah tertinggi
Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran cukup idealsebagaimana tertera
dalam peraturan pemerintah tentang standar nasional pendidikan bab VI standar
pendidik dan tenaga kependidikan pasal 28 dan 29.3 Hasil tersebut terbagi 8,2 % untuk tingkat TK, 38,75% untuk tingkat SLB, 20,13% untuk tingkat SD, 65,82%
untuk tingkat SMP, 70,51% untuk tingkat SM, 75,27 untuk tingkat SMA, dan
64,22% untuk tingkat SMK.
Memang tidak tepat mengeluarkan justifikasi akan kelemahan banyak guru
begitu saja tanpa melihat berbagai faktor penyebab akan munculnya
kelemahan-kelemahan tersebut. Di beberapa media terlihat dengan jelas akan faktor-faktor
penyebab kelemahan tersebut, mulai dari gaji yang kurang manusiawi, sarana dan
prasarana pendukung yang kurang memadai, kesejahteraan guru yang terabaikan,
sampai pada diskriminasi akan tunjangan guru yang di negeri maupun di swasta.
Selain itu, wacana diberlakukannya UASBN pada materi pendidikan
agama Islam sebenarnya telah menjadi perbincangan yang cukup hangat
akhir-akhir ini. Hal tersebut sangatlah wajar mengingat beberapa point yang termaktub
2
http://www.depdiknas.go.id//Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2007/2008, Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan 2008, hal. 29
3
4 dalam tujuan pendidikan nasional mengarah pada pengembangan potensi-potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa serta berakhlak
mulia. Akan tetapi pada tataran riilnya seolah tidak ada format evaluasi tentang
tujuan tersebut yang dilaksanakan dalam konteks pendidikan. SK Dirjen
pendidikan Islam perihal pelaksanakan UASBN pada materi PAI sebenarnya telah
dikeluarkan, akan tetapi sampai saat ini SK tersebut seolah-olah masih terdiam
tanpa ada persetujuan secara resmi dari menteri agama akan diberlakukannya SK
tersebut. Hal itu bisa dilihat dari ketiadaan sosialisasi secara masif akan
diberlakukannya SK tersebut, khususnya di dunia pendidikan Islam.4
Terlepas dari faktor itu semua, kesadaran akan peran dan tanggung jawab
guru menjadi penting karena hal itulah yang pada akhirnya membentuk
bagaimana mental guru semestinya dalam konteks pengabdiannya untuk bangsa
dan negara. Kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebutlah yang juga
kemudian akan membangun kesadaran bahwa betapa mulianya profesi guru yang
pada akhirnya nanti akan menegasikan faktor-faktor yang dianggap menjadi
penyebab akan kelemahan-kelemahan pendidik.
Akar fundamental berupa mental yang telah dijelaskan menjadi pondasi
awal untuk kemudian disuplai dengan kualitas guru yang semestinya telah
memenuhi kriteria atau kompetensi yang telah ditetapkan dalam Undang-undang
berupa kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional. Sehingga
stereotipe tentang guru asal-asalan, semua orang bisa menjadi guru dengan mudah
akan terminimalisir begitu saja.
Problem yang muncul kemudian, ternyata masih banyak ditemukan proses
pembelajaran konvensional, pembelajaran tanpa strategi yang mempertimbangkan
semua hal dalam menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan akan
terjadinya proses interaktif antara pendidik dan peserta didik.
Berubahnya kurikulum seiring berubahnya zaman sudah semestinya
diimbangi dengan bertambahnya berbagai pendekatan pembelajaran yang
4
5 diharapkan bisa menjawab akan kebutuhan peserta didik & pendidik dalam
bingkai pembelajaran. Dalam catatan sejarah pendidikan nasional telah dikenal
beberapa strategi yang pernah menjadi trend pada masanya seperti SAS
(Sistematis-Analisis-Sintesis), CBSA (Cara belajar Siswa Aktif), CTL (Contextual
Teaching Learning), Life Skill Education, PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan), dan yang cukup mutakhir dikenal yakni PAIKEM
(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Strategi PAIKEM dinilai bisa menjadi alternatif strategi yang dilakukan
oleh pendidik dalam proses pembelajaran karena memang strategi ini sangat
berkesesuaian dengan diberlakukannya UU RI No 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen serta Permendiknas No 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam
Jabatan. Dan yang lebih penting lagi bahwa strategi PAIKEM diyakini tepat untuk
diterapkan dalam proses pembelajaran karena strategi ini sangat memperhatikan
potensi-potensi peserta didik yang perlu untuk dikembangkan.
Strategi PAIKEM memandang bahwa peserta didik tidak semestinya
dipahami sebagai bejana kosong yang pasif yang hanya menerima cekokan dari
guru, sehingga guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang
memungkinkan dan memberi stimulus peserta didik untuk aktif dalam proses
pembelajaran. Strategi ini juga memberi peluang besar untuk melahirkan ide-ide
baru atau inovasi positif dalam proses pembelajaran yang kemudian diarahkan
untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik karena pada dasarnya setiap
peserta didik memiliki imajinasi-imajinasi dan rasa keingintahuan yang tak
terbatas. Tentunya strategi ini juga selalu mempertimbangkan efektifitas proses
pembelajaran yang terjadi demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan dan yang
sangat penting juga bahwa pendidik diharapkan mampu mendesign atau
mensetting proses pembelajaran sedemikian rupa yang diarahkan pada
terwujudnya proses pembelajaran yang menyenangkan karena suasana yang
menyenangkan disadari atau tidak sangat mendukung keaktifan peserta didik serta
membantu berkembangnya kreatifitas guru maupun peserta didik dalam proses
6 Dari realitas tersebut, maka dalam konteks pembelajaran agama Islam,
seorang guru sudah selayaknya memahami hakikat materi pendidikan agama
Islam serta peserta didik dalam perspektif Islam dan aneka ragam metode
pembelajaran yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dengan merujuk
pada strategi PAIKEM agar proses pembelajaran yang berlangsung bisa berjalan
sesuai dengan harapan. Sehinga penulis tergerak untuk menyusun sebuah tulisan
yang kemudian diharapkan bisa menjadi alternatif pedoman atau panduan bagi
penulis dan pendidik pada umumnya dalam menjalankan profesi keguruan.
Tulisan ini dituangkan dalam sebuah skripsi dengan judul “Guru Agama Islam dalam Perspektif PAIKEM”.
B. Identifikasi Masalah
Guru agama Islam merupakan suatu kebutuhan yang mestinya terpenuhi
dalam mewujudkan tujuan pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran
yang mengarah pada pemberdayaan dan pembentukan karakter peserta didik. Hal
ini disebabkan guru agama Islam merupakan salah satu referensi karakter
kehidupan beragama, minimal di lingkungan sekolah. Dengan demikian, banyak
hal yang harus dibahas dalam penelitian ini mengenai profil guru agama dalam
perspektif PAIKEM. Oleh karena itu diperlukan adanya identifikasi masalah
dalam penelitian ini.
Adapun masalah yang akan diteliti dan dibahas adalah masalah-masalah
seperti definisi, tugas dan fungsi, syarat, kompetensi, peran, dan sifat guru agama
Islam dalam perspektif PAIKEM.
C. Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas dan memberi arah yang tepat dalam pembahasan
penelitian ini, maka perlu dilakukan pembatasan masalah pada pembahasan guru
agama Islam dalam perspektif PAIKEM. Dalam hal ini penulis hanya berusaha
mengetahui guru agama Islam dalam perspektif PAIKEM yang berkaitan dengan
pengertian, kompetensi, dan peran guru agama dalam pembelajaran Pendidikan
7 D. Perumusan Masalah
Sesuai dengan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah yang
akan diteliti adalah sebagai berikut: ”Bagaimana Profil Guru Agama Islam di
Sekolah dalam Perspektif PAIKEM?”
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui profil guru agama Islam dalam perspektif PAIKEM
b.Untuk menemukan alternatif pedoman guru dalam meningkatkan kualitas
pribadinya sebagai pendidik
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:
a. Pendidikan Islam Secara Umum dalam Menambah khazanah Ilmu
Pendidikan Agama Islam khususnya tentang profil guru agama ideal
dalam perspektif PAIKEM.
b.Guru dan Calon Guru Agama Islam untuk dijadikan bahan pertimbangan
dan rujukan alternatif dalam meningkatkan kompetensinya.
c. Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk dijadikan salah satu bahan pertimbangan dan rujukan dalam proses
evaluasi kompetensi tenaga pendidik.
d.Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta untuk dijadikan salah satu saran dan motivasi dalam
proses pembelajaran menjadi calon pendidik agama ideal.
F. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode
deskriptif analitis, yaitu penelitian yang bermaksud mengadakan deskripsi
mengenai data-data5 tentang PAIKEM dan menganalisis serta mensintesiskan data tersebut dalam kaitannya dengan profil guru agama Islam.
5
8 Kemudian dalam teknik pengumpulan data, penulis berusaha
menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian
yang dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, meneliti, menganalisis, dan
mensintesiskan data-data yang tedapat dalam buku-buku, kitab-kitab, majalah,
surat kabar, dan sumber lain yang berkaitan dengan tema pembahasan skripsi ini.
Sumber data primer diantaranya; Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis
PAIKEM karya Ismail, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
Untuk Guru SD karya Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Erektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) karya Yudhi Munadi dan
Farida Hamid, Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, Menyenangkan
(PAIKEM) karya Muhibbin Syah & Rahayu Kariadinata, Menjadi Public
Speaker Handal karya Tubagus Wahyudi, Ilmu Pendidikan Islam; Telaah Atas
Komponen Dasar Pendidikan Islam karya Abdul Mujib, Sejarah Pendidikan
Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia
karya Samsul Nizar. Sementara, sumber data sekunder diantaranya; Active
Learning; 101 Cara Belajar Siswa Aktif karya Melvin L Silberman, The IQ
Answer; Meningkatkan dan Memaksimalkan IQ Anak karya Dr. Frank Lawlis,
Dalam konteks ini yang dideskripsikan adalah mencari format baru profil guru
agama.
Secara teknis, penelitian ini disandarkan pada Pedoman Penulisan Skripsi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
9 BAB II
KONSEP PAIKEM
A. Sejarah & Pengertian PAIKEM
Strategi pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
mewujudkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tentu strategi
pembelajaran tersebut melewati berbagai dinamika perkembangan seiring
dengan diberlakukannya kebijakan kurikulum pendidikan mulai dari
kurikulum 1975, 1984, 1994, 2004 & KTSP 2006.
Strategi pembelajaran sering disandingkan dengan beberapa terminologi
yang menurut beberapa ahli diaggap memiliki kemiripan dalam hal
pemahaman. Term tersebut meliputi pendekatan, metode, teknik, taktik
maupun desain pembelajaran. Meskipun jika dikaji lebih mendalam, maka
akan ditemukan pemahaman yang berbeda antara satu term dengan term yang
lainnya. Tetapi semua terminologi tersebut memiliki hubungan, dalam arti
keselarasan dan kesesuaian satu term dengan yang lainnya dalam mencapai
suatu tujuan yang ditetapkan. Pendekatan (approach) merupakan titik tolak
atau sudut pandang pendidik terhadap proses pembelajaran, sedangkan
metode dipahami sebagai suatu cara atau jalan yang ditempuh untuk
mencapai tujuan, sementara cara yang dilakukan pendidik dalam
mengimplementasikan metode agar efektif dan efisien dipahami sebagai
teknik, lebih detail lagi taktik dipahami sebagai gaya pendidik dalam
Kata strategi berasal dari bahasa latin strategia, yang diartikan sebagai
“seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan”.6 Dan dalam bahasa yunani strategeia (stratos = militer; dan ag = memimpin), yang artinya seni
atau ilmu untuk menjadi seorang jenderal.Pada mulanya kata strategi banyak
digunakan dalam dunia militer yang digunakan sebagai cara penggunaan
keseluruhan kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan,
misalnya ketika suatu negara sudah memutuskan untuk berperang dengan
negara lain, maka sang panglima perang harus sudah mempunyai gambaran
terlebih dahulu tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dan dijalankan
oleh pasukannya agar kemenangan bisa diraih, baik pertimbangan akan
kekuatan pasukan yang dimilikinya dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya.
Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan yang
harus dilakukan, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik
dan teknik peperangan, maupun waktu yang tepat untuk melakukan suatu
serangan. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan
berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Begitu juga dalam
kompetisi bisnis di era 1990-an kata strategi diartikan sebagai “penetapan
arah “manajemen” dalam arti sumber daya di dalam bisnis dan tentang
bagaimana mengidentifikasi kondisi yang memberikan keuntungan terbaik
untuk membantu memenangkan persaingan di dalam pasar.7
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, strategi adalah ilmu dan seni
menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan
tertentu di waktu perang dan damai; ilmu dan seni memimpin bala tentara
untuk menghadapi musuh diperang dalam kondisi yang menguntungkan;
rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.8 Strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai garis besar haluan bertindak
6
Yudhi Munadi dan Farida Hamid, Modul Pelatihan tentang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Sebagai Bahan Ajar pada Program Sertifikasi Guru yang dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2009, hal. 16
7
Crown Dirgantoro, Manajemen Strategik, (Jakarta : Grasindo, 2001), hal. 5
8
untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.9 Dalam perkembangannya, strategi tidak lagi hanya seni, tetapi sudah merupakan ilmu pengetahuan yang
dapat dipelajari.
Sementara dunia pendidikan pun tidak mau kalah dalam mengadopsi
kata strategi yang kemudian disandingkan dengan kata pembelajaran demi
mewujudkan tujuan pendidikan dalam konteks pembelajaran. Dengan
demikian strategi pembelajaran bisa dipahami sebagai a plan, method, or
series of activities designed to achieve a particular education goal, yang
berarti perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.10 Strategi pembelajaran juga diartikan sebagai cara dan seni menggunakan sumber daya untuk
menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran yang
diciptakan secara kondusif, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang
dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik secara efektif.
Akhmad Sudrajat dengan jeli menjabarkan perbedaan beberapa
terminologi yang dipaparkan di atas dengan strategi pembelajaran dalam
sebuah skema yang menarik dan mudah dipahami.11
Gambar I Tentang Model Pembelajaran
9
Tabani Rusyan, dkk., Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), h. 165
10
Junaedi dkk, Strategi Pembelajaran, ( Surabaya : LAPIS-PGMI, 2008), hal. 8
11
Akhmad Sudrajat, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran, Artikel tanggal 03 Januari 2008.
Pendekatan Pembelajaran (Student or Teacher Centered)
Strategi Pembelajaran (exposition-discovery learning or
group-individual learning))
Metode Pembelajaran (ceramah, diskusi, simulasi, dsb)
Contoh sederhana, disaat guru telah menetapkan pendekatan student
centered adalah pendekatan yang dipakai dalam proses pembelajaran, maka
dia akan menentukan strategi yang dirasa mendukung dan sejalan dengan
pendekatan yang telah ditetapkan, misalnya strategi CTL atau PAIKEM.
Setelah itu, pertimbangan akan metode yang akan diterapkan dalam proses
pembelajaran juga harus diselaraskan dengan strategi dan pendekatan yang
telah ditetapkan, maka metode yang variatif dalam proses pembelajaran
memungkinkan untuk memberi keleluasaan bagi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Alur tersebut memberikan
gambaran secara jelas tentang bentuk sebuah design atau model
pembelajaran.
Pemahaman akan perbedaan beberapa terminologi dalam konteks
pembelajaran tersebut menjadi penting agar terjadi kesamaan frame dalam
mengkaji strategi pembelajaran yang lebih spesifik. Merunut pada sejarah
pendidikan nasional telah dikenal berbagai strategi pembelajaran seperti SAS
(Sistematis-Analisis-Sintesis), CBSA (Cara Belajar Peserta didik Aktif), CTL
(Contextual Teaching Learning), Life Skill Education, PAKEM
(Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), dan yang cukup
mutakhir dikenal yakni PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan).
Diperkenalkannya pendekatan PAIKEM dapat diketahui dan
didiskripsikan secara singkat pasca diberlakukannya UU RI No 14 Tahun
2005 tentang guru dan dosen serta diterbitkannya Permendiknas Nomor 18
Tahun 2007 tentang sertifikasi guru dalam jabatan. Dalam Permendiknas
tersebut diatur pelaksanaan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio
dengan sepuluh komponen yang bertujuan empat kompetensi pendidik, yakni
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,
kompetensi profesional.
Dalam pelaksanaan penilaian tersebut ketika pendidik dinyatakan lulus,
maka pendidik tersebut mendapatkan sertifikat pendidik serta dinyatakan
diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan latihan profesi guru
(PLPG). Dalam buku rambu-rambu penyelenggaraan PLPG PAI yang
diberlakukan secara nasional dijabarkan bahwa salah satu materi pokok yang
harus diberikan adalah materi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Dengan demikian sejak akhir tahun
2007 istilah PAIKEM mulai dikenal secara luas dan mulai diterapkan dalam
praktik dunia pendidikan di Indonesia.12
PAIKEM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang bisa
dipahami secara mudah karena PAIKEM sendiri adalah singkatan dari
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Istilah
Aktif dimaksudkan bahwa pembelajaran dipahami sebagai proses aktif
membangun makna dan pemahaman dari informasi, ilmu pengetahuan
maupun pengalaman peserta didik sendiri dimana dalam proses pembelajaran
tersebut peserta didik tidak semetinya dianggap layaknya bejana kosong yang
pasif dan hanya mendengarkan ceramah-ceramah guru. Sehingga dalam
proses pembelajaran pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana yang
memungkinkan peserta didik untuk menemukan, memproses serta
mengkonstruk ilmu pengetahuan dan keterampilan baru.
Pembelajaran aktif berarti pembelajaran yang lebih mengacu pada
pendekatan student centered daripada teacher centered, dimana kata kunci
yang bisa dipegang oleh guru adalah adanya kegiatan yang dirancang untuk
dilakukan peserta didik baik kegiatan berpikir (minds-on) maupun berbuat
(hands-on), sehingga fungsi dan peran guru lebih banyak sebagai fasilitator.13
Pembelajaran aktif bukan hanya berarti membuat peserta didik beraktifitas,
bergerak, dan melakukan sesuatu dengan aktif dengan indikator situasi kelas
yang ramai dan bergemuruh, sementara pendidik lebih santai. Hal tersebut
dipahami karena kita telah lama mengenal cara belajar peserta didik aktif
(CBSA) yang kemudian sering disalahartikan, bahkan di Bandung
12
Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2008), Cet I, h. 46
13
dipelesetkan menjadi ”cul budak sinah anteng” (biarkan anak asyik
bermain).14
Pembelajaran aktif sebenarnya sudah lama dikenal dan
dikembangkan. Lebih dari 2400 tahun silam, Kon fusius menyatakan: ”What
I hear, I forget. What I see, I remember. What I do, I understand”.15 Tiga
pernyataan sederhana ini berbicara banyak tentang perlunya cara belajar aktif.
Setelah itu Melvin L Silberman memodifikasi dan memperluas kata-kata
Konfusius di atas menjadi apa yang ia sebut sebagai “Paham Belajar Aktif”,
yakni dalam ungkapan: “Yang saya dengar, saya lupa… Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat… Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami… Dari yang saya dengar,
lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan
keterampilan…Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.”16
Silbermen (1996) sebagaimana dikutip oleh Trianto juga berpendapat
dalam aplikasi strategi pembelajaran aktif dikelompokkan dalam tiga bagian,
yaitu :
a. Bagaimana membantu peserta didik aktif sejak awal, misalnya strategi tim
membangun, penilaian mendadak, dan keterlibatan langsung.
b. Bagaimana membantu peserta didik untuk memperoleh pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang aktif, misalnya strategi pembelajaran
kelas, diskusi kelas, kolaborasi, dan peer teaching.
c. Bagaimana membuat pembelajaran yang tidak terlupakan, misalnya
review, penilaian diri, dan perencanaan masa depan.17
Menurut Taslimuharrom sebuah proses belajar dikatakan aktif (active
learning) apabila mengandung:
14
Hisyam Zaini Dkk, Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2002), hal. 110
15
Bermawy Munthe, Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani, 2009), cet. III, hal. 63
16
Melvin L Silberman, Active Learning; 101 Cara Belajar Peserta didik Aktif, (Bandung : Penerbit Nusamedia dan Penerbit Nuansa, 2004), cet. I, hal. 15
17
1) Keterlekatan pada tugas(Commitment)
Dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi peserta didik (meaningful), sesuai dengan kebutuhan peserta didik (relevant), dan bersifat/memiliki keterkaitan dengan kepentingan pribadi (personal);
2) Tanggung jawab (Responsibility)
Dalam hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan wewenang kepada peserta didik untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru lebih banyak mendengar dan menghormati ide-ide peserta didik, serta memberikan pilihan dan peluang kepada peserta didik untuk mengambil keputusan sendiri.
3) Motivasi (Motivation)
Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi intrinsic peserta didik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Dalam perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi peserta didik adalah motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik) karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi dan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, umpamanya, memberi pengaruh lebih kuat dan relatif lebih langgeng dibandingkan dengan dorongan hadiah atau dorongan keharusan dari orangtua dan guru. Motivasi belajar peserta didik akan meningkat apabila ditunjang oleh pendekatan yang lebih berpusat pada peserta didik (student centered learning). Guru mendorong peserta didik untuk aktif mencari, menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri. Ia tidak hanya menyuapi peserta didik, juga tidak seperti orang yang menuangkan air ke dalam ember.
Pembelajaran Inovatif dimaksudkan bahwa proses pembelajaran
semestinya mampu memberikan keleluasaan dalam melahirkan ide-ide atau
inovasi-inovasi pembelajaran yang kemudian diharapkan membantu peserta
didik dalam meningkatkan rasa keingintahuan serta keinginannya untuk terus
belajar dan menggali berbagai ilmu pengetahuan yang terus berkembang.
Proses pembelajaran yang berlangsung diharapkan dapat memberikan
peluang kepada peserta didik untuk berinovasi. Inovasi berarti pembaruan dan
perubahan. Inovasi adalah suatu gagasan atau tindakan perubahan menuju ke
arah perbaikan atau berbeda dari yang ada sebelumnya (baru), dilakukan dengan
sengaja dan berencana. Memberikan peluang kepada peserta didik untuk
berinovasi, tentunya harus oleh guru yang inovatif pula. Prinsip-prinsip yang
a. Inspiratif, yang ditandai dengan sikap sebagai berikut: 1) Memancing rasa ingin tahu peserta didik
2) Menimbulkan banyak pertanyaan peserta didik 3) Memancing munculnya ide peserta didik yang baru
b. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan bakat peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut:
1) Membuka peluang mencari sesuai bakat sendiri 2) Membuka peluang melakukan sesuai bakat sendiri
3) Membuka peluang membangun kerjasama dengan peserta didik lain yang memiliki kesamaan bakat
c. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan minat peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut:
1) Membuka peluang mencari sesuai dengan minat sendiri
2) Membuka peluang melakukan kegiatan sesuai dengan minat sendiri 3) Membuka peluang membangun kerjasama dengan peserta didik lain
yang memiliki kesamaan minat.
d. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan perkembangan fisik peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut: 1) Membuka peluang mencari sesuai dengan kemampuan fisik sendiri 2) Membuka peluang melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan fisik
sendiri
e. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan perkembangan psikologis peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut:
1) Membangkitkan kebutuhan untuk berubah
2) Membuka peluang mencari sesuai dengan cara berpikir sendiri
3) Membuka peluang melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan berpikir sendiri
4) Membuka peluang membangun kerjasama dengan peserta didik lain yang memiliki kesamaan cara berpikir.18
Pembelajaran inovatif bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
mengakomodir setiap karakteristik diri. Misalnya, sebagian orang ada yang
berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau
mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan
mendengar, dan kinestetik.19 Dan hal tersebut dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara meng-integrasikan
media/alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses
18
Yudhi Munadi dan Farida Hamid, Modul Pelatihan tentang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, dan..., hal. 34
19
pembelajaran tersebut, sehingga terjadi proses renovasi mental, di antaranya
membangun rasa pecaya diri peserta didik. Penggunaan bahan pelajaran,
software multimedia, dan microsoft power point merupakan salah satu
alternatif. 20
Sementara itu, istilah kreatif dari segi etimologi berasal dari bahasa
inggris yaitu ”to create”yang berarti ”mencipta”.21 Jika dihubungkan dengan konteks pembelajaran, maka kata kreatif dimaknai sebagai sebuah proses
pengembangan kreatifitas peserta didik, karena pada hakikatnya setiap
individu memiliki potensi, imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah
berhenti. Sehingga dalam hal ini seorang guru diharapkan bisa menciptakan
proses pembelajaran yang memberdayakan segenap potensi pesera didik yang
beraneka ragam yang nantinya mengarah pada pemberdayaan potensi dan
imajinasi peserta didik secara maksimal. Hal tersebut sejalan dengan
ungkapan Stepehn Tong yang dikutip oleh Andreas Harefa ”we are created
by Creator to be creature with creativity”.22
Sementara Roger B. Yepsen berpendapat bahwa kreativitas merupakan ”creativity is the capacity for making something new”, kapasitas untuk membuat hal yang baru. Berbeda dengan Mihaly Csikszentmihalyi (1996)
yang memahami kreatif sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir dan
bertindak mangubah suatu ranah atau menetapkan suatu ranah baru ”a create
person is someone whose thoughts or actions change a domain, or establish a new domain”.23
Proses pembelajaran yang kreatif memberikan peluang lebih besar bagi
guru maupun peserta didik dalam berpikir divergen (proses berpikir ke
macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) dari
20
Muhibbin Syah & Rahayu Kariadinata, Bahan Pelatihan tentang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, Menyenangkan (PAIKEM). Dipresentasikan pada Pendidikan & Latihan Profesi Guru (PLPG) Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2009.
21
Selo Sumardjan, Kreativitas Suatu Tinjauan dari Sudut Sosiologi, (Jakarta: Dian Rakyat, 1983), cet. I, hal. 87
22
Andreas Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar, (Jakarta: Kompas, 2000), cet VII.
23
pada berpikir konvergen (proses berpikir yang mencari jawaban tunggal yang
paling tepat ).24
Beberapa ciri pembelajaran yang berpegang pada prinsip kreatif adalah:
1. Memberi kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan gagasan dan pengetahuan baru.
2. Bersikap respek dan menghargai ide-ide peserta didik. 3. Penghargaan pada inisiatif dan kesadaran diri peserta didik.
4. Penekanan pada proses, bukan hasil penilaian hasil akhir karya peserta didik.
5. Memberikan waktu yang cukup untuk peserta didik berpikir dan menghasilkan karya.
6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah kreativitas peserta didik, seperti mengapa, bagaimana dan apa yang terjadi ketika. Bukan hanya pertanyaan apa dan kapan.
7. Mampu memotivasi peserta didik.
8. Mampu menstimulus peserta didik untuk berpikir kritis. 9. Membangkitkan daya imajinasi peserta didik.
10.Memberikan keleluasaan peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.
11.Mampu mendorong peserta didik untuk meraih prestasi.
12.Memberikan ruang peserta didik untuk berpikir secara orisinil.25
Pemikiran kreatif juga menuntut kelancaran, keluwesan, dan
kemandirian dalam berpikir serta kemampuan untuk mengembangkan suatu
gagasan (elaborasi).26 Sebagaimana Guilford dalam penelitiannya mengenai kreativitas dengan analisis faktor menemukan bahwa faktor penting yang
merupakan ciri kemampuan berpikir kreatif adalah :
1. Kelancaran berpikir (fluence of thinking), yaitu kemampuan untuk
menghasilkan banyak ide yang keluar dari pemikiran seseorang secara
cepat.
2. Keluwesan (flexibility), yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah
ide, jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat
melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda-beda, mencari
24
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT LOGOS Wacana Ilmu, 1999), cet. I, hal. 79
25
Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif, Kreatif, (Jakarta : PPPPTK IPA, 2009), hal. 14-15
26
alternatif atau arah yang berbeda-beda, dan mampu menggunakan
bermacam-macam pendekatan atau cara pemikiran. Orang yang kreatif
adalah orang yang luwes dalam berpikir.
3. Elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan
gagasan dan menambahkan atau memperinci detil-detil dari objek,
gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
4. Keaslian (original), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik
atau kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli.27
Sementara itu, istilah efektif dijabarkan bahwa model pembelajaran
apapun yang diterapkan harus menjamin bahwa tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan akan tercapai secara optimal. Indikasi tercapainya tujuan
tersebut terlihat pada pencapaian kompetensi peserta didik pasca
berlangsungnya proses pembelajaran yang tampak pada perubahan
pengetahuan, sikap & keterampilan pada diri peserta didik.
Proses pembelajaran pada esensinya merupakan proses komunikasi
antara guru dan peserta didik, maka tidak mengherankan muncul istilah one
way communication atau two way communication dalam proses pembelajaran.
Istilah yang pertama cenderung dipahami sebagai gaya pembelajaran
konvensional, sementara istilah yang kedua lebih tepat untuk digunakan
dalam proses pembelajaran di era ke-kinian.
Kesepahaman tersebut menuntut para guru untuk mampu mewujudkan
proses komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran. Suhadi
memberikan beberapa tips yang bisa dijadikan acuan dalam proses
mewujudkan komunikasi yang efektif antara guru dan peserta didik,
diantaranya28 :
a. Penggunaan terminologi yang tepat
Langkah ini mencegah peserta didik mengalami kebingungan, dan
kerancauan pada pemahaman materi, sehingga guru dituntut untuk
menggunakan terminologi atau istilah yang tepat sesuai dengan tempatnya
27
Fuad Nashori dan Rachmi Dian Mucharam, Mengembangkan Kreativitas dalam Perspektif Psikologi Islami, (Yogjakarta: Menara Kudus, 2002), h. 43-44
28
(materinya). Hal tersebut sejalan dengan mulyadhi kartanegara dalam
bukunya ”seni mengukir kata”, dia menjelaskan pentingnya penggunaan
kata-kata yang ringan dan tidak terlalu bertele-tele agar pembaca maupun
pendengar bisa memahami dengan jelas apa yang telah kita sampaikan
maupun yang kita tulis.29
b. Presentasi yang sinambung dan runtut
Mempersiapkan materi secara sistematis dan membuat alur pembahasan
yang jelas mempermudah peserta didik dalam memahami segala sesuatu
yang terjadi dalam proses pembelajaran.
c. Sinyal transisi atau perpindahan topik bahasan
Sinyal transisi ini memungkinkan peserta didik untuk mengetahui kapan
suatu segmen bahasan atau topik berakhir dan dilanjutkan dengan topik
atau pembahasan yang baru.
d. Tekanan pada bagian-bagian penting pembelajaran
Tekanan yang dimaksud tidak hanya berbentuk kata-kata, melainkan yang
lebih penting adalah intonasi, dramatisasi suara dan gerakan tubuh (body
language).
e. Kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal & non verbal
Langkah terakhir ini bisa dikatakan sebagai salah satu kunci komunikasi
yang paling efektif dalam proses pembelajaran. Contoh sederhana disaat
seorang guru agama menjelaskan tentang keindahan surga dengan mimik
muka yang terlihat menyeramkan dan menjelaskan tentang kesengsaraan
di neraka dengan mimik muka yang membahagiakan, maka muncul
kekhawatiran bahwa semua peserta didik ingin masuk neraka karena
terpengaruh oleh mimik muka guru.30
Sejalan dengan Suhadi, pakar komunikasi Albert Mehrabian (profesor
UCLA) dalam the silent massage yang dikutip oleh Tarmizi Yusuf
29
Mulyadhi Kartanegara, Seni Mengukir Kata, ( Bandung: Mizan Learning Center, 2005), cet. I, hal. 90
30
menjelaskan tentang pengaruh kata-kata (verbal) dalam proses komunikasi
hanya 7%, suara (voice) 38%, dan selebihnya 55% adalah bahasa badan
(visual). Hasil penelitian tersebut lebih familiar dengan sebutan kekuatan 3V
seperti gambar dibawah ini:31
Gambar II Tentang Kekuatan 3 V
Kemudian istilah menyenangkan menjadi perhatian yang cukup
menarik karena dalam proses pembelajaran sejatinya harus diusahakan
seoptimal mungkin bahwa proses pembelajaran tersebut mampu menciptakan
suasana yang menyenangkan dan memang diyakini bahwa suasana yang
menyenangkan dalam proses pembelajaran membantu akan penguatan
pengalaman belajar peserta didik, kesan yang mendalam serta tertanam secara
kuat dalam memory peserta didik (long term memory).
Dave Meler sebagaimana dikutip oleh Indrawati dan Wanwan
memberikan pengertian menyenangkan atau fun sebagai suasana belajar
dalam keadaan gembira. Suasana gembira disini bukan berarti suasana ribut,
hura-hura, kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal.
Ciri-ciri suasana belajar yang menyenangkan diantaranya :
a. Rileks
b. Bebas dari tekanan c. Aman
d. Menarik
e. Bangkitnya minat belajar f. Adanya keterlibatan penuh g. Perhatian peserta didik tercurah
31
h. Lingkungan belajar yang menarik (misalnya keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk peserta didik bergerak)
i. Bersemangat j. Perasaan gembira k. Konsentrasi tinggi
Sementara ciri-ciri suasana belajar yang tidak menyenangkan meliputi : a. Tertekan
b. Perasaan terancam c. Perasaan menakutkan d. Merasa tidak berdaya e. Tidak bersemangat f. Malas / tidak berminat g. Jenuh / bosan
h. Suasana pembelajaran monoton
i. Pembelajaran tidak menarik peserta didik32
Sementara itu terdapat dua prinsip yang harus diperhatikan dalam
proses menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
1. Menciptakan kondisi yang terbaik untuk belajar, yaitu:
a. Menyediakan segala fasilitas belajar yang menyenangkan, menciptakan aroma dan warna yang menyenangkan, menghiasi dinding-dinding dengan berbagai poster berwarna, menyuguhkan seluruh poin penting yang harus dipelajari dalam bentuk kata-kata, musik maupun gambar. Semua fasilitas yang demikian itu akan memperkaya pikiran bawah sadar peserta didik, peserta didik menyerap bahan pelajaran tanpa memikirkannya secara sadar. Seluruh sudut ruangan terasa hangat dan bersahabat.
b. Menciptakan sebuah iklim atau atmosfer yang menyenangkan di setiap ruang kelas. Di sini adanya variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan sangatlah penting dalam menciptakan iklim ini. Mendatangkan tamu yang mengejutkan, melakukan perjalanan, kunjungan lapangan, program spontan, pembuatan drama, pertunjukan boneka (lebih baik direncanakan oleh para peserta didik) semuanya menambah pengayaan di samping membaca, menulis, dan diskusi.
Dalam kondisi seperti di atas, peserta didik dapat belajar dengan cara melakukan, menguji, menyentuh, membau (mencium), berbicara, bertanya, dan mencoba. Kondisi ruangan yang penuh warna, poster, dan mobilitas akan mulai menstimulasi para pelajar visual. Musik akan menyentuh para pelajar auditorial, dan aktivitas membuat para pelajar kinestetik akan segera merasa nyaman.
32
2. Menampilkan presentasi yang baik
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan
presentasi yang baik, di antaranya adalah:
a. Berorientasi pada peserta didik
b. Terkait dengan tujuan pembelajaran mereka
c. Harus bersifat positif, artinya guru sebagai fasilitator tidak boleh mengesankan bahwa pelajaran ini tidak menyenangkan, hindari kalimat-kalimat yang membuat peserta didik tidak nyaman.
d. Suguhkan terlebih dahulu gambaran umum dari apa yang akan dipresentasikan
e. Mengoptimalkan keterlibatan indera peserta didik. Presentasi yang bagus haruslah menarik bagi setiap gaya belajar individu peserta didik (visual, auditorial, dan kinestetik). Gaya belajar yang paling banyak terabaikan adalah gaya belajar kinestetik.
f. Menghindari pola-pola perkuliahan (lecturing) sepenuhnya. Ini mungkin membutuhkan perubahan paling mendasar dalam gaya mengajar. Guru yang baik adalah seorang aktivator, fasilitator, pelatih, motivator, dan orkestrator.
g. Melakukan berbagai perubahan suasana, sehingga para peserta didik secara bergantian melakukan kegiatan satu ke kegiatan berikutnya, misal dari mendengar ke melihat, kemudian ke berbicara, ke diskusi dan seterusnya.
h. Jadikan belajar tentang cara belajar sebagai kunci belajar. Ini mungkin merupakan hasil keseluruhan yang diinginkan dari seluruh proses belajar. Jadi, teknik-teknik tersebut harus disatupadukan dalam seluruh aktivitas.33
B. Landasan PAIKEM
Bukan tanpa alasan PAIKEM muncul dan diketahui oleh khalayak
umum dalam dunia pendidikan nasional. PAIKEM dalam tinjauan yuridis
formal (dasar hukum penerapan PAIKEM). Dalam konteks ini adalah segala
bentuk perundangan dan peraturan serta kebijakan pendidikan yang berlaku di
Indonesia yang didalamnya telah mengatur dan memberi rambu-rambu
tentang implementasi proses pendidikan yang berbasis PAIKEM.
33
Beberapa regulasi dan kebijakan pendidikan yang dimaksud meliputi :
1. UU RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS;
a. pasal 1, ayat 1 yakni; ” Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
menjadikan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan Negara”.
b. pasal 4, ayat 3 yakni; ”Pendidikan diselenggarakan suatu proses
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung
sepanjang hayat”.
c. pasal 4, ayat yakni; ”Pendidikan diselenggarakan dengan memberikan
ketaladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas
peserta didik dalam proses pembelajaran”.
d. kemudian pasal 39, ayat 2 yakni; ”Pendidik merupakan tenaga profesional
yang bertugas merencanakan serta melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta
melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pedidikan tingkat sekolah/madrasah”.
Makna pendidikan, penyelengaraan pendidikan serta tenaga
kependidikan yang termuat dalam UU RI tentang sisdiknas tersebut terlihat
dengan jelas akan hubungannya dengan PAIKEM dimana peserta didik
menjadi bagian dari subjek pendidikan (student centered) yang harus diberi
keleluasaan dalam mengembangkan potensi-potensinya. Sementara pendidik
tidak hanya berkewajiban memberikan pengajaran di ruangan kelas, akan
tetapi lebih luas lagi harus mengabdikan dirinya kepada masyarakat demi
2. Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan;
a. Pasal 19, ayat 1 yakni; ”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
manantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.
b. Pasal 28, ayat 1 yakni; ”Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan
kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
PP tentang standar nasional pendidikan tersebut menuntut para guru
untuk mampu mengcreate proses pembelajaran sedemikian rupa agar proses
pembelajaran yang terjadi mampu memancing dan mengembangkan
kreativitas peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan PAIKEM dimana proses
pembelajaran harus mengutamakan keaktifan dan kreativitas peserta didik.
3. UU RI No 14 Tahun 2005 tentang GURU dan DOSEN;
a. Pasal 1, ayat 1 yakni; ”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan peserta didik usia dini jalur
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
b. Pasal 6 yakni; ”kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional
bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan
mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab”.
UU RI tentang guru dan dosen tersebut menggambarkan betapa mulia
tugas seorang guru dan betapa besar tanggung jawab guru dalam konteks
dalam arti bisa dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang diterapkan oleh
guru dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan pada beberapa regulasi pendidikan tersebut, baik berupa
undang-undang maupun peraturan pemerintah dapat dipahami dengan jelas
bahwa proses pembelajaran pada satuan manapun secara yuridis formal
dituntut diselanggarakan secara aktif, inovatif, kreatif, dialogis, demokratis
dan dalam suasana mengesankan serta bermakna bagi peserta didik. Disinilah
terlihat dengan jelas relevansi serta legitimasi implementasi pembelajaran
PAIKEM dalam dunia pendidikan nasional.
Strategi PAIKEM secara filosofis berlandaskan pada pandangan
konstruktivisme dimana peserta didik membangun pemahaman dan
pengetahuannya mengenai dunia sekitarnya melalui pengenalan benda-benda
yang direfleksikannya melalui pengalamannya. Ketika menemukan sesuatu
yang baru, kita dapat merekonstruksinya dengan ide-ide awal yang ada. Hal
ini memungkikankann terjadinya perubahan pengetahuan atau bahkan
memperkuat pengetahuan hasil dialektika antara ide awal dan ide baru.
Landasan filosofis ini memberikan pemahaman bagi pendidik bahwa peserta
didik yang mengikuti proses pembelajaran tidak berangkat dari kekosongan
ide atau pengetahuan, sehingga pendidik bisa melakukan
penyesuaian-penyesuaian yang tepat dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, PAIKEM dalam tinjauan psikologis-pedagogis
(kepribadian-pengajaran) dimaksudkan untuk melihat signifikansi penerapan
pembelajaran berbasis PAIKEM dalam frame kajian psikologi belajar. Proses
pembelajaran tradisional menitik-beratkan pada metode imposisi dimana
pembelajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh
guru bagi peserta didik, cara ini tidak mempertimbangkan kesesuaian antara
materi dengan kebutuhan, minat serta tingkat perkembangan dan pemahaman
peserta didik.
Hasil penelitian terbaru dalam bidang psikologi kepribadian dan tingkah
laku manusia, berpendapat bahwa tingkah laku manusia didorong oleh
pada motivasi pada diri peserta didik. Ibarat pepatah ”anda dapat memaksa
kambing masuk air, tapi anda tidak bisa memaksanya untuk minum air”,34 maksudnya bahwa peserta didik bisa dipaksa untuk melakukan suatu
perbuatan, akan tetapi tidak bisa dipaksa untuk menghayati perbuatan
sebagaimana mestinya. Begitu juga guru dapat memaksakan materi pelajaran
kepada peserta didik, akan tetapi guru tidak dapat memaksanya untuk belajar
dalam arti yang sebenarnya. Disinilah terlihat tugas guru yang paling berat
adalah berupaya agar peserta didik mau belajar dan memiliki keinginan
belajar secara berkelanjutan tanpa dibatasi ruang & waktu.
Dalam konteks inilah kehadiran PAIKEM diharapkan dapat
memperkaya guru dalam hal strategi, metode dan teknik mengajar sebagai
seni dalam proses pembelajaran, sehingga secara psikologis-pedagogis
PAIKEM memiliki relevansi dalam kerangka mewujudkan proses
pembelajaran yang memberdayakan peserta didik.
C. Prinsip-prinsip Penerapan PAIKEM
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh pendidik dalam
penerapan PAIKEM, yakni :
1. Memahami sifat peserta didik; pada dasarnya peserta didik memiliki
modal yang luar biasa berupa sifat rasa ingin tahu dan imajinasi yang
kemudian harus dipahami oleh pendidik untuk kemudian modal tersebut
diusahakan agar terus berkembang dan terberdayakan secara maksimal.
2. Mengenal peserta didik secara individual; pada hakikatnya peserta didik
merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki beraneka ragam
keunikan masing-masing dan memiliki latar belakang, potensi serta
kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Perbedaan tersebut harus diperhatikan dan tercermin secara riil dlam
proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran tersebut memberikan
peluang sinergitas antara satu dengan yang lain dengan modal potensinya
masing-masing.
34
3. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar;
peserta didik secara naluriah memiliki sifat kebersamaan atau
berpasangan. Hal ini bisa dimanfaatkan pendidik dalam pengorganisasian
kelas yang nantinya memberikan peluang terjadinya pertukaran pikiran
atau ide-ide antara peserta didik yang satu dengan yang lain.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif serta mampu
memecahkan masalah; pada dasarnya hidup adalah memecahkan masalah,
untuk itu peseerta didik perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis,
kreatif untuk menganalisa berbagai masalah yang muncul, sehingga
peserta didik mampu melahirkan berbagai alternatif pemecahan masalah.
Guru bisa mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan kata ”mengapa”, ”bagaimana”, ”apa yang terjadi jika” (tipe open question).35
5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik;
ruangan kelas yang di setting semenarik mungkin menjadi hal yang harus
diwujudkan, salah satunya seperti pemajangan hasil karya peserta didik
dirungan karena hal itu bisa memotivasi peserta didik serta memberikan
apresiasi atas karya yang telah diciptakan. Hal tersebut juga
memungkinkan lahirnya inspirasi-inspirasi positif baik bagi pendidik
maupun peserta didik.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar; lingkungan (fisik,
sosial, budaya) merupakan bagian dari sumber yang sangat kaya untuk
bahan belajar peserta didik. Lingkungan juga dapat berfungsi sebagai
media belajar serta objek belajar peserta didik.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan belajar;
pemberian feedback yang positif merupakan interaksi antara pendidik &
peserta didik yang diharapkan bisa memberikan motivasi bagi peserta
didik dalam meningkatkan kegiataan belajarnya, tentunya feedback yang
diberikan tidak mengandung unsur merendahkan apalagi meremehkan
peserta didik.
35
8. Membedakan antara aktif fisik & aktif mental; dalam pembelajaran
PAIKEM, aktif mental sebenarnya lebih diharapkan dari pada aktif fisik.
Karena itu, aktifitas sering bertanya, mempertanyakan pendapat orang lain
& mengemukakan gagasan sendiri merupakan indikasi dari keaktifan
mental peserta didik.36
Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut Muhibbin Syah dan Rahayu
Kariadinata juga berpendapat bahwa hal-hal yang harus diperhatikan dalam
implementasi PAIKEM adalah:
a. Memahami sifat yang dimiliki peserta didik
b. Memahami perkembangan kecerdasan peserta didik
c. Mengenal peserta didik secara perorangan
d. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar
e. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
f. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
g. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
h. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
i. Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental37
D. Hubungan PAIKEM dengan Teori Pembelajaran
Belajar dalam konteks PAIKEM dimaknai sebagai proses aktif dalam
membangun pengetahuan atau membangun makna. Dalam proses belajar,
peserta didik akan terlibat dengan proses sosial, dan proses tersebut akan
dilaksanakan secara berkesinambungan atau sepanjang hayat. Makna tersebut
didasari oleh pandangan konstruktivisme.
Sedangkan Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori
perubahan konsep juga dipengaruhi atau didasari oleh filsafat konstruktivisme.
Filsafat ini menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh peserta didik yang
sedang belajar, dan teori perubahan konsep menjelaskan bahwa peserta didik
36
Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam…., h. 54-56
37