• Tidak ada hasil yang ditemukan

Guru agama islam dalam perspektif Paikem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Guru agama islam dalam perspektif Paikem"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Fathul Munir NIM. 105011000179

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Fathul Munir

NIM. : 105011000179

Jur./Fak. : PAI/FITK

Jenis Kelamin : Pria

Judul Skripsi : Guru Agama Islam Dalam Perspektif PAIKEM

Dosen Pembimbing : Drs. Mu’arif Sam, M.Pd

Dengan ini menyatakan:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen yang

diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata

Satu (S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang digunakan dalam penulisan skripsi ini telah

dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya sendiri dan

merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 25 Februari 2011

(5)

i

mampu membuat manusia belajar mengenai hakikat kehidupan layaknya titel

animal educandum sekaligus animal educandus yang telah disandang sejak

manusia terlahir sebagai konsekwensi logis atas eksistensinya di dunia ini. Namun, realita berbicara akan kondisi pendidikan di Indonesia yang tak kunjung memperlihatkan kemajuannya yang pesat, tampak dengan jelas demoralisasi telah menjangkit ke berbagai lini dalam konteks pendidikan. Berita tawuran antar pelajar yang bahkan tak jarang berakhir dengan kematian ibarat sudah menjadi makanan ringan dalam kehidupan sehari-hari, rendahnya kualitas pendidik menjadi salah satu faktor adanya legitimasi akan ketidakmampuan pendidikan dalam menjawab harapan bangsa. Disinilah urgensi dari penelitian ini yang kemudian dijadikan dasar oleh penulis dalam mencari format guru agama ideal yang bisa membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik sebagai jawaban atas problematika pendidikan Indonesia. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui format guru agama ideal menurut PAIKEM yang bisa dijadikan alternatif pedoman bagi guru agama dalam meningkatkan kualitas pribadinya sebagi pendidik. Dengan mengunakan metode penelitian kepustakaan (library reseach), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, meneliti, menganalisis, dan mensintesiskan data-data yang tedapat dalam buku-buku, kitab-kitab, majalah, surat kabar, dan sumber lain yang berkaitan dengan tema guru agama dalam perspektif PAIKEM. Hasil penelitian tersebut memberikan penjabaran akan empat kompetensi pendidik yang terkandung dalam undang-undang menurut strategi PAIKEM. Empat kompetensi tersebut meliputi; pemahaman akan kesamaan kemampuan otak serta perbedaan akan penggunaannya oleh peserta didik (kompetensi pedagogik), kemampuan intrapersonal dan interpersonal (kompetensi sosial), pemahaman serta kesadaran pendidik akan tipologi kepribadian (kompetensi keoribadian), serta kemampuan akan keselarasan komunikasi pendidik dalam bentuk 3 V, yakni visual, verbal, dan voice (kemampuan profesional).

(6)

ii

dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan secerca karya tulis yang

diharapkan bisa bermanfaat untuk sesama. Shalawat dan salam selalu tercurahkan

kepada Muhammad SAW, Insan sempurna yang selalu mengajarkan akan

keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan. Semoga penulis selalu bisa belajar dan

mengamalkan setiap ajaran yang diajarkannya. Begitu juga semoga rahmat dan

ridho Allah selalu mengiringi Aba Fatah dan Ibu Muniro, dua sosok guru bangsa

yang telah mengikhlaskan gerak hati dan langkah kakinya dalam mendidik penulis

dalam proses pencarian jati dirinya.

Selanjutnya, dalam penyusunan skripsi ini tentu tidak luput dari hambatan

dan kendala yang penulis hadapi baik pikiran, tenaga maupun biaya. Namun

berkat Ridho Allah serta kesediaan berbagai pihak dalm membimbing dan

membantu baik secara langsung maupun tidak langsung akhirnya penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang tak terhingga

penulis sampaikan kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Kajur. dan Sekjur. beserta staff Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Mu’arif Sam yang dengan kesediaan serta kesabarannya berkenan membimbing penulis.

4. Om Bagus (Tubagus Wahyudi) guru besar penulis dalam kuliah kehidupan

5. Neng IIS & Mas Wahid yang sudah ditemani keponakanku tercinta Siroj,

sepupuku dzurriyah, alif atas dukungannya selama ini

6. Lek Jib sekeluarga atas kesediaannya menerima dan membimbing penulis

sejak berada di Jakarta.

7. Kanda Tanenji atas kesediaannya memberikan arahan-arahan positif dalam

(7)

iii

9. Para Bapak dan Ibu Dosen serta segenap karyawan UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

10.Fathul Arif Wasekjend PAO PB HMI, Adit, Cilung, Bang Erick Hariadi,

K’Amel, Bang Fajri Ketua Umum PB HMI, Bang Rizki Ketum Lisuma Indonesia beserta pengurus, Bang Oqe Sekjend Lisuma Indonesia, Bang Fahri

Ketum Lisuma Jakarta, Bang Ilung Kabid HI PB HMI, Bang Ujo & Cak Oji

(Ketum & Sekjend HIMA Kosgoro 57).

11.Kawan-kawan seperjuangan, khususnya Riyan Nuridansyah atas kesediaannya

mendesign semua skema gambar yang dibutuhkan di skripsi ini, Ujang

Syahid, Ridwan, Wahyudin, Aris, Dewa, Riki, Oji, Fuad Tangsel, Fajri, Sipak,

Faiq semoga sukses selalu. Keluarga besar KAHFI Al-KARIM, HMI

Komisariat Tarbiyah Cabang Ciputat, HMI Cabang Ciputat, LAPENMI,

LISUMA INDONESIA, LISUMA JAKARTA, DPP PARMA, FK2I.

12.Adik-adik satu embrio HMI, Puzi, Eka, Nengsri, Milal, Johan (staff Dewan

Pendidikan Tangsel), Edi (Program Manager Lazuardi Biru), Iman (Ketum

DPP PARMA), Nira, Gendut, Fuad, Aan (Ketum Komtar), Anang, Abduh,

Ucing, Nda, Mamen, Nnot.

13.Seseorang yang yang selalu mensupport penulis untuk segera menyelesaikan

studi S1 Afaf Zahruddin Tohir, semoga selalu diberi kemudahan untuk meraih

masa depan bersama yang cerah

14.Keluarga penulis di PAI, khususnya kelas E angkatan 2005 uus, tado, huda.

Serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis

sebutkan satu persatu

Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis memohon,

Ciputat, 25 September 2012

(8)

iv LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 6

C.Pembatasan Masalah ... 6

D.Perumusan Masalah ... 7

E.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

F. Metodologi Penelitian... 7

BAB II. KONSEP PAIKEM ... 9

A.Sejarah & Pengertian PAIKEM ... 9

B.Landasan PAIKEM... 23

C.Prinsip-prinsip PAIKEM ... 27

D.Hubungan PAIKEM dengan Teori Pembelajaran ... 29

E.Kelebihan dan Kekurangan PAIKEM ... 31

BAB III. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH ... 34

A. Pengertian Pendidikan Agama Islam di Sekolah ... 34

(9)

v

1. Kompetensi Pedagogik ... 47

2. Kompetensi Kepribadian ... 53

3. Kompetensi Sosial ... 57

4. Kompetensi Profesional ... 61

C. Peran Guru Agama Islam dalam Perspektif PAIKEM ... 63

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 68

A.Kesimpulan ... 68

B.Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 71

(10)

vi

Tabel 2 Tentang Ciri-ciri Gaya Belajar 51

Tabel 3 Tentang Kelebihan Dan Kekurangan Tipologi Kepribadian 55

Tabel 4 Tentang Cara Melatih dan Mengembangkan 3 V 62

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Tentang Model Pembelajaran 11

Gambar 2 Tentang Kekuatan 3 V 21

Gambar 3 Tentang Komponen Kurikulum 38

Gambar 4 Tentang Fungsi Otak Kiri Dan Otak Kanan 50

Gambar 5 Tentang Tipologi Kepribadian Pendidik Dan Peserta Didik 56

Gambar 6 Tentang 3 V 62

Gambar 7 Tentang Guru Agama Ideal dalam Perspektif PAIKEM 69

DAFTAR LAMPIRAN

1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAI Tingkat SD, SMP,

SMA

(11)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Membincang perihal pendidikan di Indonesia, sudah semestinya semua

pihak tergugah untuk berusaha mendermakan segenap pikiran dan tenaganya

dalam konteks memperbaiki serta memajukan pendidikan di Indonesia. Berbagai

problematika pendidikan muncul di seantero nusantara seolah tidak ada solusi

yang bisa ditawarkan dalam penyelesaian problematika tersebut, tampak dengan

jelas demoralisasi telah menjangkit ke berbagai lini dalam konteks pendidikan.

Berita tawuran antar pelajar yang bahkan tak jarang berakhir dengan kematian

ibarat sudah menjadi makanan ringan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lebih

tragis lagi, dibeberapa media sering tersorot wajah oknum pendidik yang

tertangkap polisi karena merenggut keperawanan peserta didiknya. Belum lagi,

kepedulian ditingkatan eksekutif seolah menjadi tanda tanya besar dalam benak

masyarakat Indonesia, demikian juga pihak legislatif yang diharapkan menjadi

mediator akan ekspektasi masyarakat terkesan membisu dan terlihat lebih

mementingkan kepentingan pribadi dan kerumunannya masing-masing.

Padahal disadari atau tidak, pendidikan menjadi faktor yang sangat

berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, sehingga

diperlukan usaha yang ekstra secara sistematis serta terencana dalam proses

memajukan pendidikan Indonesia seperti yang tertuang dalam dalam

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

(12)

2 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menjadikan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.1

Dalam Undang-undang tersebut sangat jelas bahwa proses pembelajaran

yang terjadi sudah semestinya diarahkan kepada pemberian ruang atau

keleluasaan peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang

dimilikinya sehingga proses pembelajaran yang terjadi bisa berjalan seperti yang

diharapkan dimana peserta didik merasa senang, nyaman serta tertantang untuk

terus mencari & menggali berbagai pengetahuan.

Abdurrahman Shaleh menjelaskan akan dua komponen pendidikan yang

berupa hardware & software yang kedua komponen tersebut harus saling

bersinergis dan berkesesuaian antara satu dengan yang lainnya, sehingga proses

pencapaian tujuan yang telah ditetapkan bisa diraih dengan mudah. Salah satu

komponen yang berupa hardware yang penulis rasa memiliki signifikansi yang

besar dalam proses pembelajaran adalah tenaga pendidik atau lebih akrab dengan

sapaan guru dimana kata guru tersebut bisa dipahami dengan arti ”digugu &

dituru (dipercaya & dijadikan suri tauladan).”

Sangat tepat kalau kemudian sosok guru dianggap sebagai salah satu

komponen yang sangat berpengaruh dalam frame pembelajaran karena memang

guru memiliki peran dan tanggung jawab yang besar seperti penjelasan dari PP No

9 tahun 2005, pasal 28 yang berisi :

”yang dimaksud dengan pendidik sebagai agent pembelajaran (learning agent) pada ketentuan ini adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator,

dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik”.

Akan tetapi, pada tataran riilnya semua pihak tidak bisa menutup mata

akan kebanyakan kondisi guru, baik dalam aspek mental serta kualitasnya,

sehingga hal tersebut memiliki implikasi negatif bagi keberlangsungan proses

1

(13)

3 pembelajaran. Data penelitian yang pernah dilakukan oleh Depdiknas dapat dilihat

di bawah ini2:

Tabel I Tentang Guru Menurut Kelayakan Mengajar 2007-2008

No Jenjang

Pendidikan

Jumlah Guru

Presentasi kepala Sekolah & Guru Menurut Ijazah tertinggi

Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran cukup idealsebagaimana tertera

dalam peraturan pemerintah tentang standar nasional pendidikan bab VI standar

pendidik dan tenaga kependidikan pasal 28 dan 29.3 Hasil tersebut terbagi 8,2 % untuk tingkat TK, 38,75% untuk tingkat SLB, 20,13% untuk tingkat SD, 65,82%

untuk tingkat SMP, 70,51% untuk tingkat SM, 75,27 untuk tingkat SMA, dan

64,22% untuk tingkat SMK.

Memang tidak tepat mengeluarkan justifikasi akan kelemahan banyak guru

begitu saja tanpa melihat berbagai faktor penyebab akan munculnya

kelemahan-kelemahan tersebut. Di beberapa media terlihat dengan jelas akan faktor-faktor

penyebab kelemahan tersebut, mulai dari gaji yang kurang manusiawi, sarana dan

prasarana pendukung yang kurang memadai, kesejahteraan guru yang terabaikan,

sampai pada diskriminasi akan tunjangan guru yang di negeri maupun di swasta.

Selain itu, wacana diberlakukannya UASBN pada materi pendidikan

agama Islam sebenarnya telah menjadi perbincangan yang cukup hangat

akhir-akhir ini. Hal tersebut sangatlah wajar mengingat beberapa point yang termaktub

2

http://www.depdiknas.go.id//Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2007/2008, Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan 2008, hal. 29

3

(14)

4 dalam tujuan pendidikan nasional mengarah pada pengembangan potensi-potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa serta berakhlak

mulia. Akan tetapi pada tataran riilnya seolah tidak ada format evaluasi tentang

tujuan tersebut yang dilaksanakan dalam konteks pendidikan. SK Dirjen

pendidikan Islam perihal pelaksanakan UASBN pada materi PAI sebenarnya telah

dikeluarkan, akan tetapi sampai saat ini SK tersebut seolah-olah masih terdiam

tanpa ada persetujuan secara resmi dari menteri agama akan diberlakukannya SK

tersebut. Hal itu bisa dilihat dari ketiadaan sosialisasi secara masif akan

diberlakukannya SK tersebut, khususnya di dunia pendidikan Islam.4

Terlepas dari faktor itu semua, kesadaran akan peran dan tanggung jawab

guru menjadi penting karena hal itulah yang pada akhirnya membentuk

bagaimana mental guru semestinya dalam konteks pengabdiannya untuk bangsa

dan negara. Kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebutlah yang juga

kemudian akan membangun kesadaran bahwa betapa mulianya profesi guru yang

pada akhirnya nanti akan menegasikan faktor-faktor yang dianggap menjadi

penyebab akan kelemahan-kelemahan pendidik.

Akar fundamental berupa mental yang telah dijelaskan menjadi pondasi

awal untuk kemudian disuplai dengan kualitas guru yang semestinya telah

memenuhi kriteria atau kompetensi yang telah ditetapkan dalam Undang-undang

berupa kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional. Sehingga

stereotipe tentang guru asal-asalan, semua orang bisa menjadi guru dengan mudah

akan terminimalisir begitu saja.

Problem yang muncul kemudian, ternyata masih banyak ditemukan proses

pembelajaran konvensional, pembelajaran tanpa strategi yang mempertimbangkan

semua hal dalam menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan akan

terjadinya proses interaktif antara pendidik dan peserta didik.

Berubahnya kurikulum seiring berubahnya zaman sudah semestinya

diimbangi dengan bertambahnya berbagai pendekatan pembelajaran yang

4

(15)

5 diharapkan bisa menjawab akan kebutuhan peserta didik & pendidik dalam

bingkai pembelajaran. Dalam catatan sejarah pendidikan nasional telah dikenal

beberapa strategi yang pernah menjadi trend pada masanya seperti SAS

(Sistematis-Analisis-Sintesis), CBSA (Cara belajar Siswa Aktif), CTL (Contextual

Teaching Learning), Life Skill Education, PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,

Efektif dan Menyenangkan), dan yang cukup mutakhir dikenal yakni PAIKEM

(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).

Strategi PAIKEM dinilai bisa menjadi alternatif strategi yang dilakukan

oleh pendidik dalam proses pembelajaran karena memang strategi ini sangat

berkesesuaian dengan diberlakukannya UU RI No 14 Tahun 2005 tentang Guru

dan Dosen serta Permendiknas No 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam

Jabatan. Dan yang lebih penting lagi bahwa strategi PAIKEM diyakini tepat untuk

diterapkan dalam proses pembelajaran karena strategi ini sangat memperhatikan

potensi-potensi peserta didik yang perlu untuk dikembangkan.

Strategi PAIKEM memandang bahwa peserta didik tidak semestinya

dipahami sebagai bejana kosong yang pasif yang hanya menerima cekokan dari

guru, sehingga guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang

memungkinkan dan memberi stimulus peserta didik untuk aktif dalam proses

pembelajaran. Strategi ini juga memberi peluang besar untuk melahirkan ide-ide

baru atau inovasi positif dalam proses pembelajaran yang kemudian diarahkan

untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik karena pada dasarnya setiap

peserta didik memiliki imajinasi-imajinasi dan rasa keingintahuan yang tak

terbatas. Tentunya strategi ini juga selalu mempertimbangkan efektifitas proses

pembelajaran yang terjadi demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan dan yang

sangat penting juga bahwa pendidik diharapkan mampu mendesign atau

mensetting proses pembelajaran sedemikian rupa yang diarahkan pada

terwujudnya proses pembelajaran yang menyenangkan karena suasana yang

menyenangkan disadari atau tidak sangat mendukung keaktifan peserta didik serta

membantu berkembangnya kreatifitas guru maupun peserta didik dalam proses

(16)

6 Dari realitas tersebut, maka dalam konteks pembelajaran agama Islam,

seorang guru sudah selayaknya memahami hakikat materi pendidikan agama

Islam serta peserta didik dalam perspektif Islam dan aneka ragam metode

pembelajaran yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dengan merujuk

pada strategi PAIKEM agar proses pembelajaran yang berlangsung bisa berjalan

sesuai dengan harapan. Sehinga penulis tergerak untuk menyusun sebuah tulisan

yang kemudian diharapkan bisa menjadi alternatif pedoman atau panduan bagi

penulis dan pendidik pada umumnya dalam menjalankan profesi keguruan.

Tulisan ini dituangkan dalam sebuah skripsi dengan judul “Guru Agama Islam dalam Perspektif PAIKEM”.

B. Identifikasi Masalah

Guru agama Islam merupakan suatu kebutuhan yang mestinya terpenuhi

dalam mewujudkan tujuan pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran

yang mengarah pada pemberdayaan dan pembentukan karakter peserta didik. Hal

ini disebabkan guru agama Islam merupakan salah satu referensi karakter

kehidupan beragama, minimal di lingkungan sekolah. Dengan demikian, banyak

hal yang harus dibahas dalam penelitian ini mengenai profil guru agama dalam

perspektif PAIKEM. Oleh karena itu diperlukan adanya identifikasi masalah

dalam penelitian ini.

Adapun masalah yang akan diteliti dan dibahas adalah masalah-masalah

seperti definisi, tugas dan fungsi, syarat, kompetensi, peran, dan sifat guru agama

Islam dalam perspektif PAIKEM.

C. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas dan memberi arah yang tepat dalam pembahasan

penelitian ini, maka perlu dilakukan pembatasan masalah pada pembahasan guru

agama Islam dalam perspektif PAIKEM. Dalam hal ini penulis hanya berusaha

mengetahui guru agama Islam dalam perspektif PAIKEM yang berkaitan dengan

pengertian, kompetensi, dan peran guru agama dalam pembelajaran Pendidikan

(17)

7 D. Perumusan Masalah

Sesuai dengan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah yang

akan diteliti adalah sebagai berikut: Bagaimana Profil Guru Agama Islam di

Sekolah dalam Perspektif PAIKEM?”

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui profil guru agama Islam dalam perspektif PAIKEM

b.Untuk menemukan alternatif pedoman guru dalam meningkatkan kualitas

pribadinya sebagai pendidik

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:

a. Pendidikan Islam Secara Umum dalam Menambah khazanah Ilmu

Pendidikan Agama Islam khususnya tentang profil guru agama ideal

dalam perspektif PAIKEM.

b.Guru dan Calon Guru Agama Islam untuk dijadikan bahan pertimbangan

dan rujukan alternatif dalam meningkatkan kompetensinya.

c. Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

untuk dijadikan salah satu bahan pertimbangan dan rujukan dalam proses

evaluasi kompetensi tenaga pendidik.

d.Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta untuk dijadikan salah satu saran dan motivasi dalam

proses pembelajaran menjadi calon pendidik agama ideal.

F. Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode

deskriptif analitis, yaitu penelitian yang bermaksud mengadakan deskripsi

mengenai data-data5 tentang PAIKEM dan menganalisis serta mensintesiskan data tersebut dalam kaitannya dengan profil guru agama Islam.

5

(18)

8 Kemudian dalam teknik pengumpulan data, penulis berusaha

menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian

yang dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, meneliti, menganalisis, dan

mensintesiskan data-data yang tedapat dalam buku-buku, kitab-kitab, majalah,

surat kabar, dan sumber lain yang berkaitan dengan tema pembahasan skripsi ini.

Sumber data primer diantaranya; Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis

PAIKEM karya Ismail, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan

Untuk Guru SD karya Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif,

Inovatif, Kreatif, Erektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) karya Yudhi Munadi dan

Farida Hamid, Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, Menyenangkan

(PAIKEM) karya Muhibbin Syah & Rahayu Kariadinata, Menjadi Public

Speaker Handal karya Tubagus Wahyudi, Ilmu Pendidikan Islam; Telaah Atas

Komponen Dasar Pendidikan Islam karya Abdul Mujib, Sejarah Pendidikan

Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia

karya Samsul Nizar. Sementara, sumber data sekunder diantaranya; Active

Learning; 101 Cara Belajar Siswa Aktif karya Melvin L Silberman, The IQ

Answer; Meningkatkan dan Memaksimalkan IQ Anak karya Dr. Frank Lawlis,

Dalam konteks ini yang dideskripsikan adalah mencari format baru profil guru

agama.

Secara teknis, penelitian ini disandarkan pada Pedoman Penulisan Skripsi

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif

(19)

9 BAB II

KONSEP PAIKEM

A. Sejarah & Pengertian PAIKEM

Strategi pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam

mewujudkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tentu strategi

pembelajaran tersebut melewati berbagai dinamika perkembangan seiring

dengan diberlakukannya kebijakan kurikulum pendidikan mulai dari

kurikulum 1975, 1984, 1994, 2004 & KTSP 2006.

Strategi pembelajaran sering disandingkan dengan beberapa terminologi

yang menurut beberapa ahli diaggap memiliki kemiripan dalam hal

pemahaman. Term tersebut meliputi pendekatan, metode, teknik, taktik

maupun desain pembelajaran. Meskipun jika dikaji lebih mendalam, maka

akan ditemukan pemahaman yang berbeda antara satu term dengan term yang

lainnya. Tetapi semua terminologi tersebut memiliki hubungan, dalam arti

keselarasan dan kesesuaian satu term dengan yang lainnya dalam mencapai

suatu tujuan yang ditetapkan. Pendekatan (approach) merupakan titik tolak

atau sudut pandang pendidik terhadap proses pembelajaran, sedangkan

metode dipahami sebagai suatu cara atau jalan yang ditempuh untuk

mencapai tujuan, sementara cara yang dilakukan pendidik dalam

mengimplementasikan metode agar efektif dan efisien dipahami sebagai

teknik, lebih detail lagi taktik dipahami sebagai gaya pendidik dalam

(20)

Kata strategi berasal dari bahasa latin strategia, yang diartikan sebagai

“seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan”.6 Dan dalam bahasa yunani strategeia (stratos = militer; dan ag = memimpin), yang artinya seni

atau ilmu untuk menjadi seorang jenderal.Pada mulanya kata strategi banyak

digunakan dalam dunia militer yang digunakan sebagai cara penggunaan

keseluruhan kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan,

misalnya ketika suatu negara sudah memutuskan untuk berperang dengan

negara lain, maka sang panglima perang harus sudah mempunyai gambaran

terlebih dahulu tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dan dijalankan

oleh pasukannya agar kemenangan bisa diraih, baik pertimbangan akan

kekuatan pasukan yang dimilikinya dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya.

Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan yang

harus dilakukan, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik

dan teknik peperangan, maupun waktu yang tepat untuk melakukan suatu

serangan. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan

berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Begitu juga dalam

kompetisi bisnis di era 1990-an kata strategi diartikan sebagai “penetapan

arah “manajemen” dalam arti sumber daya di dalam bisnis dan tentang

bagaimana mengidentifikasi kondisi yang memberikan keuntungan terbaik

untuk membantu memenangkan persaingan di dalam pasar.7

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, strategi adalah ilmu dan seni

menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan

tertentu di waktu perang dan damai; ilmu dan seni memimpin bala tentara

untuk menghadapi musuh diperang dalam kondisi yang menguntungkan;

rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.8 Strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai garis besar haluan bertindak

6

Yudhi Munadi dan Farida Hamid, Modul Pelatihan tentang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Sebagai Bahan Ajar pada Program Sertifikasi Guru yang dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

(FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2009, hal. 16

7

Crown Dirgantoro, Manajemen Strategik, (Jakarta : Grasindo, 2001), hal. 5

8

(21)

untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.9 Dalam perkembangannya, strategi tidak lagi hanya seni, tetapi sudah merupakan ilmu pengetahuan yang

dapat dipelajari.

Sementara dunia pendidikan pun tidak mau kalah dalam mengadopsi

kata strategi yang kemudian disandingkan dengan kata pembelajaran demi

mewujudkan tujuan pendidikan dalam konteks pembelajaran. Dengan

demikian strategi pembelajaran bisa dipahami sebagai a plan, method, or

series of activities designed to achieve a particular education goal, yang

berarti perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain

untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.10 Strategi pembelajaran juga diartikan sebagai cara dan seni menggunakan sumber daya untuk

menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran yang

diciptakan secara kondusif, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang

dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik secara efektif.

Akhmad Sudrajat dengan jeli menjabarkan perbedaan beberapa

terminologi yang dipaparkan di atas dengan strategi pembelajaran dalam

sebuah skema yang menarik dan mudah dipahami.11

Gambar I Tentang Model Pembelajaran

9

Tabani Rusyan, dkk., Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), h. 165

10

Junaedi dkk, Strategi Pembelajaran, ( Surabaya : LAPIS-PGMI, 2008), hal. 8

11

Akhmad Sudrajat, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran, Artikel tanggal 03 Januari 2008.

Pendekatan Pembelajaran (Student or Teacher Centered)

Strategi Pembelajaran (exposition-discovery learning or

group-individual learning))

Metode Pembelajaran (ceramah, diskusi, simulasi, dsb)

(22)

Contoh sederhana, disaat guru telah menetapkan pendekatan student

centered adalah pendekatan yang dipakai dalam proses pembelajaran, maka

dia akan menentukan strategi yang dirasa mendukung dan sejalan dengan

pendekatan yang telah ditetapkan, misalnya strategi CTL atau PAIKEM.

Setelah itu, pertimbangan akan metode yang akan diterapkan dalam proses

pembelajaran juga harus diselaraskan dengan strategi dan pendekatan yang

telah ditetapkan, maka metode yang variatif dalam proses pembelajaran

memungkinkan untuk memberi keleluasaan bagi peserta didik untuk

berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Alur tersebut memberikan

gambaran secara jelas tentang bentuk sebuah design atau model

pembelajaran.

Pemahaman akan perbedaan beberapa terminologi dalam konteks

pembelajaran tersebut menjadi penting agar terjadi kesamaan frame dalam

mengkaji strategi pembelajaran yang lebih spesifik. Merunut pada sejarah

pendidikan nasional telah dikenal berbagai strategi pembelajaran seperti SAS

(Sistematis-Analisis-Sintesis), CBSA (Cara Belajar Peserta didik Aktif), CTL

(Contextual Teaching Learning), Life Skill Education, PAKEM

(Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), dan yang cukup

mutakhir dikenal yakni PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,

Efektif, dan Menyenangkan).

Diperkenalkannya pendekatan PAIKEM dapat diketahui dan

didiskripsikan secara singkat pasca diberlakukannya UU RI No 14 Tahun

2005 tentang guru dan dosen serta diterbitkannya Permendiknas Nomor 18

Tahun 2007 tentang sertifikasi guru dalam jabatan. Dalam Permendiknas

tersebut diatur pelaksanaan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio

dengan sepuluh komponen yang bertujuan empat kompetensi pendidik, yakni

kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,

kompetensi profesional.

Dalam pelaksanaan penilaian tersebut ketika pendidik dinyatakan lulus,

maka pendidik tersebut mendapatkan sertifikat pendidik serta dinyatakan

(23)

diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan latihan profesi guru

(PLPG). Dalam buku rambu-rambu penyelenggaraan PLPG PAI yang

diberlakukan secara nasional dijabarkan bahwa salah satu materi pokok yang

harus diberikan adalah materi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif,

Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Dengan demikian sejak akhir tahun

2007 istilah PAIKEM mulai dikenal secara luas dan mulai diterapkan dalam

praktik dunia pendidikan di Indonesia.12

PAIKEM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang bisa

dipahami secara mudah karena PAIKEM sendiri adalah singkatan dari

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Istilah

Aktif dimaksudkan bahwa pembelajaran dipahami sebagai proses aktif

membangun makna dan pemahaman dari informasi, ilmu pengetahuan

maupun pengalaman peserta didik sendiri dimana dalam proses pembelajaran

tersebut peserta didik tidak semetinya dianggap layaknya bejana kosong yang

pasif dan hanya mendengarkan ceramah-ceramah guru. Sehingga dalam

proses pembelajaran pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana yang

memungkinkan peserta didik untuk menemukan, memproses serta

mengkonstruk ilmu pengetahuan dan keterampilan baru.

Pembelajaran aktif berarti pembelajaran yang lebih mengacu pada

pendekatan student centered daripada teacher centered, dimana kata kunci

yang bisa dipegang oleh guru adalah adanya kegiatan yang dirancang untuk

dilakukan peserta didik baik kegiatan berpikir (minds-on) maupun berbuat

(hands-on), sehingga fungsi dan peran guru lebih banyak sebagai fasilitator.13

Pembelajaran aktif bukan hanya berarti membuat peserta didik beraktifitas,

bergerak, dan melakukan sesuatu dengan aktif dengan indikator situasi kelas

yang ramai dan bergemuruh, sementara pendidik lebih santai. Hal tersebut

dipahami karena kita telah lama mengenal cara belajar peserta didik aktif

(CBSA) yang kemudian sering disalahartikan, bahkan di Bandung

12

Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2008), Cet I, h. 46

13

(24)

dipelesetkan menjadi ”cul budak sinah anteng” (biarkan anak asyik

bermain).14

Pembelajaran aktif sebenarnya sudah lama dikenal dan

dikembangkan. Lebih dari 2400 tahun silam, Kon fusius menyatakan: ”What

I hear, I forget. What I see, I remember. What I do, I understand”.15 Tiga

pernyataan sederhana ini berbicara banyak tentang perlunya cara belajar aktif.

Setelah itu Melvin L Silberman memodifikasi dan memperluas kata-kata

Konfusius di atas menjadi apa yang ia sebut sebagai “Paham Belajar Aktif”,

yakni dalam ungkapan: “Yang saya dengar, saya lupa… Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat… Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami… Dari yang saya dengar,

lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan

keterampilan…Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.”16

Silbermen (1996) sebagaimana dikutip oleh Trianto juga berpendapat

dalam aplikasi strategi pembelajaran aktif dikelompokkan dalam tiga bagian,

yaitu :

a. Bagaimana membantu peserta didik aktif sejak awal, misalnya strategi tim

membangun, penilaian mendadak, dan keterlibatan langsung.

b. Bagaimana membantu peserta didik untuk memperoleh pengetahuan,

keterampilan, dan kemampuan yang aktif, misalnya strategi pembelajaran

kelas, diskusi kelas, kolaborasi, dan peer teaching.

c. Bagaimana membuat pembelajaran yang tidak terlupakan, misalnya

review, penilaian diri, dan perencanaan masa depan.17

Menurut Taslimuharrom sebuah proses belajar dikatakan aktif (active

learning) apabila mengandung:

14

Hisyam Zaini Dkk, Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2002), hal. 110

15

Bermawy Munthe, Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani, 2009), cet. III, hal. 63

16

Melvin L Silberman, Active Learning; 101 Cara Belajar Peserta didik Aktif, (Bandung : Penerbit Nusamedia dan Penerbit Nuansa, 2004), cet. I, hal. 15

17

(25)

1) Keterlekatan pada tugas(Commitment)

Dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi peserta didik (meaningful), sesuai dengan kebutuhan peserta didik (relevant), dan bersifat/memiliki keterkaitan dengan kepentingan pribadi (personal);

2) Tanggung jawab (Responsibility)

Dalam hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan wewenang kepada peserta didik untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru lebih banyak mendengar dan menghormati ide-ide peserta didik, serta memberikan pilihan dan peluang kepada peserta didik untuk mengambil keputusan sendiri.

3) Motivasi (Motivation)

Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi intrinsic peserta didik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Dalam perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi peserta didik adalah motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik) karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi dan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, umpamanya, memberi pengaruh lebih kuat dan relatif lebih langgeng dibandingkan dengan dorongan hadiah atau dorongan keharusan dari orangtua dan guru. Motivasi belajar peserta didik akan meningkat apabila ditunjang oleh pendekatan yang lebih berpusat pada peserta didik (student centered learning). Guru mendorong peserta didik untuk aktif mencari, menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri. Ia tidak hanya menyuapi peserta didik, juga tidak seperti orang yang menuangkan air ke dalam ember.

Pembelajaran Inovatif dimaksudkan bahwa proses pembelajaran

semestinya mampu memberikan keleluasaan dalam melahirkan ide-ide atau

inovasi-inovasi pembelajaran yang kemudian diharapkan membantu peserta

didik dalam meningkatkan rasa keingintahuan serta keinginannya untuk terus

belajar dan menggali berbagai ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Proses pembelajaran yang berlangsung diharapkan dapat memberikan

peluang kepada peserta didik untuk berinovasi. Inovasi berarti pembaruan dan

perubahan. Inovasi adalah suatu gagasan atau tindakan perubahan menuju ke

arah perbaikan atau berbeda dari yang ada sebelumnya (baru), dilakukan dengan

sengaja dan berencana. Memberikan peluang kepada peserta didik untuk

berinovasi, tentunya harus oleh guru yang inovatif pula. Prinsip-prinsip yang

(26)

a. Inspiratif, yang ditandai dengan sikap sebagai berikut: 1) Memancing rasa ingin tahu peserta didik

2) Menimbulkan banyak pertanyaan peserta didik 3) Memancing munculnya ide peserta didik yang baru

b. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan bakat peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut:

1) Membuka peluang mencari sesuai bakat sendiri 2) Membuka peluang melakukan sesuai bakat sendiri

3) Membuka peluang membangun kerjasama dengan peserta didik lain yang memiliki kesamaan bakat

c. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan minat peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut:

1) Membuka peluang mencari sesuai dengan minat sendiri

2) Membuka peluang melakukan kegiatan sesuai dengan minat sendiri 3) Membuka peluang membangun kerjasama dengan peserta didik lain

yang memiliki kesamaan minat.

d. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan perkembangan fisik peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut: 1) Membuka peluang mencari sesuai dengan kemampuan fisik sendiri 2) Membuka peluang melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan fisik

sendiri

e. Memberikan ruang yang cukup bagi kemandirian sesuai dengan perkembangan psikologis peserta didik. Hal ini ditandai dengan hal-hal berikut:

1) Membangkitkan kebutuhan untuk berubah

2) Membuka peluang mencari sesuai dengan cara berpikir sendiri

3) Membuka peluang melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan berpikir sendiri

4) Membuka peluang membangun kerjasama dengan peserta didik lain yang memiliki kesamaan cara berpikir.18

Pembelajaran inovatif bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya

mengakomodir setiap karakteristik diri. Misalnya, sebagian orang ada yang

berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau

mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan

mendengar, dan kinestetik.19 Dan hal tersebut dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara meng-integrasikan

media/alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses

18

Yudhi Munadi dan Farida Hamid, Modul Pelatihan tentang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, dan..., hal. 34

19

(27)

pembelajaran tersebut, sehingga terjadi proses renovasi mental, di antaranya

membangun rasa pecaya diri peserta didik. Penggunaan bahan pelajaran,

software multimedia, dan microsoft power point merupakan salah satu

alternatif. 20

Sementara itu, istilah kreatif dari segi etimologi berasal dari bahasa

inggris yaitu ”to create”yang berarti ”mencipta”.21 Jika dihubungkan dengan konteks pembelajaran, maka kata kreatif dimaknai sebagai sebuah proses

pengembangan kreatifitas peserta didik, karena pada hakikatnya setiap

individu memiliki potensi, imajinasi dan rasa ingin tahu yang tidak pernah

berhenti. Sehingga dalam hal ini seorang guru diharapkan bisa menciptakan

proses pembelajaran yang memberdayakan segenap potensi pesera didik yang

beraneka ragam yang nantinya mengarah pada pemberdayaan potensi dan

imajinasi peserta didik secara maksimal. Hal tersebut sejalan dengan

ungkapan Stepehn Tong yang dikutip oleh Andreas Harefa ”we are created

by Creator to be creature with creativity”.22

Sementara Roger B. Yepsen berpendapat bahwa kreativitas merupakan ”creativity is the capacity for making something new”, kapasitas untuk membuat hal yang baru. Berbeda dengan Mihaly Csikszentmihalyi (1996)

yang memahami kreatif sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir dan

bertindak mangubah suatu ranah atau menetapkan suatu ranah baru ”a create

person is someone whose thoughts or actions change a domain, or establish a new domain”.23

Proses pembelajaran yang kreatif memberikan peluang lebih besar bagi

guru maupun peserta didik dalam berpikir divergen (proses berpikir ke

macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) dari

20

Muhibbin Syah & Rahayu Kariadinata, Bahan Pelatihan tentang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Erektif, Menyenangkan (PAIKEM). Dipresentasikan pada Pendidikan & Latihan Profesi Guru (PLPG) Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2009.

21

Selo Sumardjan, Kreativitas Suatu Tinjauan dari Sudut Sosiologi, (Jakarta: Dian Rakyat, 1983), cet. I, hal. 87

22

Andreas Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar, (Jakarta: Kompas, 2000), cet VII.

23

(28)

pada berpikir konvergen (proses berpikir yang mencari jawaban tunggal yang

paling tepat ).24

Beberapa ciri pembelajaran yang berpegang pada prinsip kreatif adalah:

1. Memberi kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan gagasan dan pengetahuan baru.

2. Bersikap respek dan menghargai ide-ide peserta didik. 3. Penghargaan pada inisiatif dan kesadaran diri peserta didik.

4. Penekanan pada proses, bukan hasil penilaian hasil akhir karya peserta didik.

5. Memberikan waktu yang cukup untuk peserta didik berpikir dan menghasilkan karya.

6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah kreativitas peserta didik, seperti mengapa, bagaimana dan apa yang terjadi ketika. Bukan hanya pertanyaan apa dan kapan.

7. Mampu memotivasi peserta didik.

8. Mampu menstimulus peserta didik untuk berpikir kritis. 9. Membangkitkan daya imajinasi peserta didik.

10.Memberikan keleluasaan peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

11.Mampu mendorong peserta didik untuk meraih prestasi.

12.Memberikan ruang peserta didik untuk berpikir secara orisinil.25

Pemikiran kreatif juga menuntut kelancaran, keluwesan, dan

kemandirian dalam berpikir serta kemampuan untuk mengembangkan suatu

gagasan (elaborasi).26 Sebagaimana Guilford dalam penelitiannya mengenai kreativitas dengan analisis faktor menemukan bahwa faktor penting yang

merupakan ciri kemampuan berpikir kreatif adalah :

1. Kelancaran berpikir (fluence of thinking), yaitu kemampuan untuk

menghasilkan banyak ide yang keluar dari pemikiran seseorang secara

cepat.

2. Keluwesan (flexibility), yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah

ide, jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat

melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda-beda, mencari

24

Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT LOGOS Wacana Ilmu, 1999), cet. I, hal. 79

25

Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif, Kreatif, (Jakarta : PPPPTK IPA, 2009), hal. 14-15

26

(29)

alternatif atau arah yang berbeda-beda, dan mampu menggunakan

bermacam-macam pendekatan atau cara pemikiran. Orang yang kreatif

adalah orang yang luwes dalam berpikir.

3. Elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan

gagasan dan menambahkan atau memperinci detil-detil dari objek,

gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.

4. Keaslian (original), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik

atau kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli.27

Sementara itu, istilah efektif dijabarkan bahwa model pembelajaran

apapun yang diterapkan harus menjamin bahwa tujuan pembelajaran yang

telah ditetapkan akan tercapai secara optimal. Indikasi tercapainya tujuan

tersebut terlihat pada pencapaian kompetensi peserta didik pasca

berlangsungnya proses pembelajaran yang tampak pada perubahan

pengetahuan, sikap & keterampilan pada diri peserta didik.

Proses pembelajaran pada esensinya merupakan proses komunikasi

antara guru dan peserta didik, maka tidak mengherankan muncul istilah one

way communication atau two way communication dalam proses pembelajaran.

Istilah yang pertama cenderung dipahami sebagai gaya pembelajaran

konvensional, sementara istilah yang kedua lebih tepat untuk digunakan

dalam proses pembelajaran di era ke-kinian.

Kesepahaman tersebut menuntut para guru untuk mampu mewujudkan

proses komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran. Suhadi

memberikan beberapa tips yang bisa dijadikan acuan dalam proses

mewujudkan komunikasi yang efektif antara guru dan peserta didik,

diantaranya28 :

a. Penggunaan terminologi yang tepat

Langkah ini mencegah peserta didik mengalami kebingungan, dan

kerancauan pada pemahaman materi, sehingga guru dituntut untuk

menggunakan terminologi atau istilah yang tepat sesuai dengan tempatnya

27

Fuad Nashori dan Rachmi Dian Mucharam, Mengembangkan Kreativitas dalam Perspektif Psikologi Islami, (Yogjakarta: Menara Kudus, 2002), h. 43-44

28

(30)

(materinya). Hal tersebut sejalan dengan mulyadhi kartanegara dalam

bukunya ”seni mengukir kata”, dia menjelaskan pentingnya penggunaan

kata-kata yang ringan dan tidak terlalu bertele-tele agar pembaca maupun

pendengar bisa memahami dengan jelas apa yang telah kita sampaikan

maupun yang kita tulis.29

b. Presentasi yang sinambung dan runtut

Mempersiapkan materi secara sistematis dan membuat alur pembahasan

yang jelas mempermudah peserta didik dalam memahami segala sesuatu

yang terjadi dalam proses pembelajaran.

c. Sinyal transisi atau perpindahan topik bahasan

Sinyal transisi ini memungkinkan peserta didik untuk mengetahui kapan

suatu segmen bahasan atau topik berakhir dan dilanjutkan dengan topik

atau pembahasan yang baru.

d. Tekanan pada bagian-bagian penting pembelajaran

Tekanan yang dimaksud tidak hanya berbentuk kata-kata, melainkan yang

lebih penting adalah intonasi, dramatisasi suara dan gerakan tubuh (body

language).

e. Kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal & non verbal

Langkah terakhir ini bisa dikatakan sebagai salah satu kunci komunikasi

yang paling efektif dalam proses pembelajaran. Contoh sederhana disaat

seorang guru agama menjelaskan tentang keindahan surga dengan mimik

muka yang terlihat menyeramkan dan menjelaskan tentang kesengsaraan

di neraka dengan mimik muka yang membahagiakan, maka muncul

kekhawatiran bahwa semua peserta didik ingin masuk neraka karena

terpengaruh oleh mimik muka guru.30

Sejalan dengan Suhadi, pakar komunikasi Albert Mehrabian (profesor

UCLA) dalam the silent massage yang dikutip oleh Tarmizi Yusuf

29

Mulyadhi Kartanegara, Seni Mengukir Kata, ( Bandung: Mizan Learning Center, 2005), cet. I, hal. 90

30

(31)

menjelaskan tentang pengaruh kata-kata (verbal) dalam proses komunikasi

hanya 7%, suara (voice) 38%, dan selebihnya 55% adalah bahasa badan

(visual). Hasil penelitian tersebut lebih familiar dengan sebutan kekuatan 3V

seperti gambar dibawah ini:31

Gambar II Tentang Kekuatan 3 V

Kemudian istilah menyenangkan menjadi perhatian yang cukup

menarik karena dalam proses pembelajaran sejatinya harus diusahakan

seoptimal mungkin bahwa proses pembelajaran tersebut mampu menciptakan

suasana yang menyenangkan dan memang diyakini bahwa suasana yang

menyenangkan dalam proses pembelajaran membantu akan penguatan

pengalaman belajar peserta didik, kesan yang mendalam serta tertanam secara

kuat dalam memory peserta didik (long term memory).

Dave Meler sebagaimana dikutip oleh Indrawati dan Wanwan

memberikan pengertian menyenangkan atau fun sebagai suasana belajar

dalam keadaan gembira. Suasana gembira disini bukan berarti suasana ribut,

hura-hura, kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal.

Ciri-ciri suasana belajar yang menyenangkan diantaranya :

a. Rileks

b. Bebas dari tekanan c. Aman

d. Menarik

e. Bangkitnya minat belajar f. Adanya keterlibatan penuh g. Perhatian peserta didik tercurah

31

(32)

h. Lingkungan belajar yang menarik (misalnya keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk peserta didik bergerak)

i. Bersemangat j. Perasaan gembira k. Konsentrasi tinggi

Sementara ciri-ciri suasana belajar yang tidak menyenangkan meliputi : a. Tertekan

b. Perasaan terancam c. Perasaan menakutkan d. Merasa tidak berdaya e. Tidak bersemangat f. Malas / tidak berminat g. Jenuh / bosan

h. Suasana pembelajaran monoton

i. Pembelajaran tidak menarik peserta didik32

Sementara itu terdapat dua prinsip yang harus diperhatikan dalam

proses menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.

1. Menciptakan kondisi yang terbaik untuk belajar, yaitu:

a. Menyediakan segala fasilitas belajar yang menyenangkan, menciptakan aroma dan warna yang menyenangkan, menghiasi dinding-dinding dengan berbagai poster berwarna, menyuguhkan seluruh poin penting yang harus dipelajari dalam bentuk kata-kata, musik maupun gambar. Semua fasilitas yang demikian itu akan memperkaya pikiran bawah sadar peserta didik, peserta didik menyerap bahan pelajaran tanpa memikirkannya secara sadar. Seluruh sudut ruangan terasa hangat dan bersahabat.

b. Menciptakan sebuah iklim atau atmosfer yang menyenangkan di setiap ruang kelas. Di sini adanya variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan sangatlah penting dalam menciptakan iklim ini. Mendatangkan tamu yang mengejutkan, melakukan perjalanan, kunjungan lapangan, program spontan, pembuatan drama, pertunjukan boneka (lebih baik direncanakan oleh para peserta didik) semuanya menambah pengayaan di samping membaca, menulis, dan diskusi.

Dalam kondisi seperti di atas, peserta didik dapat belajar dengan cara melakukan, menguji, menyentuh, membau (mencium), berbicara, bertanya, dan mencoba. Kondisi ruangan yang penuh warna, poster, dan mobilitas akan mulai menstimulasi para pelajar visual. Musik akan menyentuh para pelajar auditorial, dan aktivitas membuat para pelajar kinestetik akan segera merasa nyaman.

32

(33)

2. Menampilkan presentasi yang baik

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan

presentasi yang baik, di antaranya adalah:

a. Berorientasi pada peserta didik

b. Terkait dengan tujuan pembelajaran mereka

c. Harus bersifat positif, artinya guru sebagai fasilitator tidak boleh mengesankan bahwa pelajaran ini tidak menyenangkan, hindari kalimat-kalimat yang membuat peserta didik tidak nyaman.

d. Suguhkan terlebih dahulu gambaran umum dari apa yang akan dipresentasikan

e. Mengoptimalkan keterlibatan indera peserta didik. Presentasi yang bagus haruslah menarik bagi setiap gaya belajar individu peserta didik (visual, auditorial, dan kinestetik). Gaya belajar yang paling banyak terabaikan adalah gaya belajar kinestetik.

f. Menghindari pola-pola perkuliahan (lecturing) sepenuhnya. Ini mungkin membutuhkan perubahan paling mendasar dalam gaya mengajar. Guru yang baik adalah seorang aktivator, fasilitator, pelatih, motivator, dan orkestrator.

g. Melakukan berbagai perubahan suasana, sehingga para peserta didik secara bergantian melakukan kegiatan satu ke kegiatan berikutnya, misal dari mendengar ke melihat, kemudian ke berbicara, ke diskusi dan seterusnya.

h. Jadikan belajar tentang cara belajar sebagai kunci belajar. Ini mungkin merupakan hasil keseluruhan yang diinginkan dari seluruh proses belajar. Jadi, teknik-teknik tersebut harus disatupadukan dalam seluruh aktivitas.33

B. Landasan PAIKEM

Bukan tanpa alasan PAIKEM muncul dan diketahui oleh khalayak

umum dalam dunia pendidikan nasional. PAIKEM dalam tinjauan yuridis

formal (dasar hukum penerapan PAIKEM). Dalam konteks ini adalah segala

bentuk perundangan dan peraturan serta kebijakan pendidikan yang berlaku di

Indonesia yang didalamnya telah mengatur dan memberi rambu-rambu

tentang implementasi proses pendidikan yang berbasis PAIKEM.

33

(34)

Beberapa regulasi dan kebijakan pendidikan yang dimaksud meliputi :

1. UU RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS;

a. pasal 1, ayat 1 yakni; ” Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

menjadikan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,

dan Negara”.

b. pasal 4, ayat 3 yakni; ”Pendidikan diselenggarakan suatu proses

pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung

sepanjang hayat”.

c. pasal 4, ayat yakni; ”Pendidikan diselenggarakan dengan memberikan

ketaladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas

peserta didik dalam proses pembelajaran”.

d. kemudian pasal 39, ayat 2 yakni; ”Pendidik merupakan tenaga profesional

yang bertugas merencanakan serta melaksanakan proses pembelajaran,

menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta

melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi

pedidikan tingkat sekolah/madrasah”.

Makna pendidikan, penyelengaraan pendidikan serta tenaga

kependidikan yang termuat dalam UU RI tentang sisdiknas tersebut terlihat

dengan jelas akan hubungannya dengan PAIKEM dimana peserta didik

menjadi bagian dari subjek pendidikan (student centered) yang harus diberi

keleluasaan dalam mengembangkan potensi-potensinya. Sementara pendidik

tidak hanya berkewajiban memberikan pengajaran di ruangan kelas, akan

tetapi lebih luas lagi harus mengabdikan dirinya kepada masyarakat demi

(35)

2. Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan;

a. Pasal 19, ayat 1 yakni; ”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan

diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,

manantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta

memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan

kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

b. Pasal 28, ayat 1 yakni; ”Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan

kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta

memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

PP tentang standar nasional pendidikan tersebut menuntut para guru

untuk mampu mengcreate proses pembelajaran sedemikian rupa agar proses

pembelajaran yang terjadi mampu memancing dan mengembangkan

kreativitas peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan PAIKEM dimana proses

pembelajaran harus mengutamakan keaktifan dan kreativitas peserta didik.

3. UU RI No 14 Tahun 2005 tentang GURU dan DOSEN;

a. Pasal 1, ayat 1 yakni; ”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas

utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan peserta didik usia dini jalur

formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

b. Pasal 6 yakni; ”kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional

bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan

mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung

jawab”.

UU RI tentang guru dan dosen tersebut menggambarkan betapa mulia

tugas seorang guru dan betapa besar tanggung jawab guru dalam konteks

(36)

dalam arti bisa dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang diterapkan oleh

guru dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan pada beberapa regulasi pendidikan tersebut, baik berupa

undang-undang maupun peraturan pemerintah dapat dipahami dengan jelas

bahwa proses pembelajaran pada satuan manapun secara yuridis formal

dituntut diselanggarakan secara aktif, inovatif, kreatif, dialogis, demokratis

dan dalam suasana mengesankan serta bermakna bagi peserta didik. Disinilah

terlihat dengan jelas relevansi serta legitimasi implementasi pembelajaran

PAIKEM dalam dunia pendidikan nasional.

Strategi PAIKEM secara filosofis berlandaskan pada pandangan

konstruktivisme dimana peserta didik membangun pemahaman dan

pengetahuannya mengenai dunia sekitarnya melalui pengenalan benda-benda

yang direfleksikannya melalui pengalamannya. Ketika menemukan sesuatu

yang baru, kita dapat merekonstruksinya dengan ide-ide awal yang ada. Hal

ini memungkikankann terjadinya perubahan pengetahuan atau bahkan

memperkuat pengetahuan hasil dialektika antara ide awal dan ide baru.

Landasan filosofis ini memberikan pemahaman bagi pendidik bahwa peserta

didik yang mengikuti proses pembelajaran tidak berangkat dari kekosongan

ide atau pengetahuan, sehingga pendidik bisa melakukan

penyesuaian-penyesuaian yang tepat dalam proses pembelajaran.

Sementara itu, PAIKEM dalam tinjauan psikologis-pedagogis

(kepribadian-pengajaran) dimaksudkan untuk melihat signifikansi penerapan

pembelajaran berbasis PAIKEM dalam frame kajian psikologi belajar. Proses

pembelajaran tradisional menitik-beratkan pada metode imposisi dimana

pembelajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh

guru bagi peserta didik, cara ini tidak mempertimbangkan kesesuaian antara

materi dengan kebutuhan, minat serta tingkat perkembangan dan pemahaman

peserta didik.

Hasil penelitian terbaru dalam bidang psikologi kepribadian dan tingkah

laku manusia, berpendapat bahwa tingkah laku manusia didorong oleh

(37)

pada motivasi pada diri peserta didik. Ibarat pepatah ”anda dapat memaksa

kambing masuk air, tapi anda tidak bisa memaksanya untuk minum air”,34 maksudnya bahwa peserta didik bisa dipaksa untuk melakukan suatu

perbuatan, akan tetapi tidak bisa dipaksa untuk menghayati perbuatan

sebagaimana mestinya. Begitu juga guru dapat memaksakan materi pelajaran

kepada peserta didik, akan tetapi guru tidak dapat memaksanya untuk belajar

dalam arti yang sebenarnya. Disinilah terlihat tugas guru yang paling berat

adalah berupaya agar peserta didik mau belajar dan memiliki keinginan

belajar secara berkelanjutan tanpa dibatasi ruang & waktu.

Dalam konteks inilah kehadiran PAIKEM diharapkan dapat

memperkaya guru dalam hal strategi, metode dan teknik mengajar sebagai

seni dalam proses pembelajaran, sehingga secara psikologis-pedagogis

PAIKEM memiliki relevansi dalam kerangka mewujudkan proses

pembelajaran yang memberdayakan peserta didik.

C. Prinsip-prinsip Penerapan PAIKEM

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh pendidik dalam

penerapan PAIKEM, yakni :

1. Memahami sifat peserta didik; pada dasarnya peserta didik memiliki

modal yang luar biasa berupa sifat rasa ingin tahu dan imajinasi yang

kemudian harus dipahami oleh pendidik untuk kemudian modal tersebut

diusahakan agar terus berkembang dan terberdayakan secara maksimal.

2. Mengenal peserta didik secara individual; pada hakikatnya peserta didik

merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki beraneka ragam

keunikan masing-masing dan memiliki latar belakang, potensi serta

kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Perbedaan tersebut harus diperhatikan dan tercermin secara riil dlam

proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran tersebut memberikan

peluang sinergitas antara satu dengan yang lain dengan modal potensinya

masing-masing.

34

(38)

3. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar;

peserta didik secara naluriah memiliki sifat kebersamaan atau

berpasangan. Hal ini bisa dimanfaatkan pendidik dalam pengorganisasian

kelas yang nantinya memberikan peluang terjadinya pertukaran pikiran

atau ide-ide antara peserta didik yang satu dengan yang lain.

4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif serta mampu

memecahkan masalah; pada dasarnya hidup adalah memecahkan masalah,

untuk itu peseerta didik perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis,

kreatif untuk menganalisa berbagai masalah yang muncul, sehingga

peserta didik mampu melahirkan berbagai alternatif pemecahan masalah.

Guru bisa mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan kata ”mengapa”, ”bagaimana”, ”apa yang terjadi jika” (tipe open question).35

5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik;

ruangan kelas yang di setting semenarik mungkin menjadi hal yang harus

diwujudkan, salah satunya seperti pemajangan hasil karya peserta didik

dirungan karena hal itu bisa memotivasi peserta didik serta memberikan

apresiasi atas karya yang telah diciptakan. Hal tersebut juga

memungkinkan lahirnya inspirasi-inspirasi positif baik bagi pendidik

maupun peserta didik.

6. Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar; lingkungan (fisik,

sosial, budaya) merupakan bagian dari sumber yang sangat kaya untuk

bahan belajar peserta didik. Lingkungan juga dapat berfungsi sebagai

media belajar serta objek belajar peserta didik.

7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan belajar;

pemberian feedback yang positif merupakan interaksi antara pendidik &

peserta didik yang diharapkan bisa memberikan motivasi bagi peserta

didik dalam meningkatkan kegiataan belajarnya, tentunya feedback yang

diberikan tidak mengandung unsur merendahkan apalagi meremehkan

peserta didik.

35

(39)

8. Membedakan antara aktif fisik & aktif mental; dalam pembelajaran

PAIKEM, aktif mental sebenarnya lebih diharapkan dari pada aktif fisik.

Karena itu, aktifitas sering bertanya, mempertanyakan pendapat orang lain

& mengemukakan gagasan sendiri merupakan indikasi dari keaktifan

mental peserta didik.36

Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut Muhibbin Syah dan Rahayu

Kariadinata juga berpendapat bahwa hal-hal yang harus diperhatikan dalam

implementasi PAIKEM adalah:

a. Memahami sifat yang dimiliki peserta didik

b. Memahami perkembangan kecerdasan peserta didik

c. Mengenal peserta didik secara perorangan

d. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar

e. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah

f. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik

g. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

h. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

i. Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental37

D. Hubungan PAIKEM dengan Teori Pembelajaran

Belajar dalam konteks PAIKEM dimaknai sebagai proses aktif dalam

membangun pengetahuan atau membangun makna. Dalam proses belajar,

peserta didik akan terlibat dengan proses sosial, dan proses tersebut akan

dilaksanakan secara berkesinambungan atau sepanjang hayat. Makna tersebut

didasari oleh pandangan konstruktivisme.

Sedangkan Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori

perubahan konsep juga dipengaruhi atau didasari oleh filsafat konstruktivisme.

Filsafat ini menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh peserta didik yang

sedang belajar, dan teori perubahan konsep menjelaskan bahwa peserta didik

36

Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam…., h. 54-56

37

Gambar

Tabel 1 Tentang Guru Menurut Kelayakan Mengajar 2002-2003
Tabel I Tentang Guru Menurut Kelayakan Mengajar 2007-2008
Gambar I Tentang Model Pembelajaran
Gambar II Tentang Kekuatan 3 V
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

“ Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki