• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak pajak ekspor crude palm oil terhadap industri minyak goreng indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dampak pajak ekspor crude palm oil terhadap industri minyak goreng indonesia"

Copied!
372
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK PAJAK

INDUSTR

JAN

SE

INST

K EKSPOR CRUDE PALM OIL TERH

RI MINYAK GORENG INDONESIA

DISERTASI

AN HORAS VERYADY PURBA

SEKOLAH PASCASARJANA

STITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(2)
(3)

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam

disertasi saya yang berjudul:

DAMPAK PAJAK EKSPOR CRUDE PALM OIL TERHADAP

INDUSTRI MINYAK GORENG INDONESIA

merupakan gagasan atau hasil penelitian disertasi saya sendiri, dengan bimbingan

Komisi Pembimbing, kecuali yang jelas ditunjukkan rujukannya. Disertasi ini

belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada progam sejenis di Perguruan

Tinggi lain. Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan

secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Februari 2012

(4)
(5)

ABSTRACT

JAN HORAS VERYADY PURBA. The Impact of Export Tax-Crude Palm Oil on

Cooking Oil Industry in Indonesia. (SRI HARTOYO as Chairman, BUNGARAN

SARAGIH and HARIANTO as Members of the Advisory Committee)

Oil palm industry has a very important role to perform in development of Indonesian national economy. These commodities, and specifically Crude Palm Oil (CPO), have contributed immensely to the Gross Domestic Product (GDP) of Indonesia, increased international and national trade, created various forms of employment, led to growth in production and areal development, and improved the living standards as well as the financial status of the local people. Indonesia is one of the highest CPO producers in the world. The world CPO production has grown steadily and relatively faster as compared to other oil yielding crops. Export growth of Indonesian CPO can be attributed to three factors: world demand factor, product and market effects and competitiveness effects. The world demand factor reflects growth in exports that can be attributed to rising international demand, i.e. the stronger global import demand, the stronger the country’s export growth. Due to the importance of the crude palm oil to the Indonesian economy, and the world over, the Indonesian government decided to impose export tax on its CPO. Therefore, the goal of the research is to find out the impact of the CPO export tax on Indonesian cooking oil industry. The findings of the study show that export tax had been proven to be effective in controlling domestic cooking oil price, which otherwise would provide the supply more of the raw material for domestic cooking oil. With this policy, the government had been successful to keep the cooking oil price down when the world CPO price increased. The implementation of tax policy should be considered to improve the competitiveness of Indonesian CPO in the world market, and allocate the government revenue to develop the supply side of Indonesian oil palm industry. There should be an increase in investment to improve the oil palm productivity.

(6)
(7)

RINGKASAN

JAN HORAS VERYADY PURBA. Dampak Pajak Ekspor Crude Palm Oil terhadap Industri Minyak Goreng Indonesia. (SRI HARTOYO sebagai Ketua, BUNGARAN SARAGIH dan HARIANTO, sebagai Anggota Komisi Pembimbing)

Pajak ekspor (PE) merupakan salah satu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai instrumen untuk menghambat laju ekspor dan untuk meningkatkan penerimaan Negara. Kebijakan PE sudah dimulai sejak tahun 1978 melalui SKB Mendagkop, Menteri Pertanian dan Menperindag, yang mengatur alokasi bagi kebutuhan dalam negeri serta menetapkan harga penjualan CPO di dalam negeri. Tahun 1991-1994 pemerintah mencabut SKB tersebut dan membebaskan perdagangan dan ekspor CPO. Tahun 1994-1997 Menteri Keuangan menetapkan pajak ekspor progresif bagi CPO dan produk derivatifnya, dan menetapkan pajak ekspor 40 persen hingga 60 persen. Tahun 1998 (Januari sampai April) pemerintah melakukan larangan ekspor CPO, dan kemudian menerapkan pajak ekspor dari 15 persen hingga 40 persen. Selanjutnya pemerintah menetapkan pajak ekspor progresif berdasarkan harga CPO di pasar dunia yang mengalami perubahan dari watu ke waktu. Tahun 2007 Menteri Keuangan menetapkan tarif pajak ekspor dari 0 persen (harga di bawah US$ 550 per ton hingga 10 persen (harga di atas US$ 850 per ton) dengan SK Nomor 61/PMK 011/2007. Tahun 2008, harga CPO dunia cenderung meningkat tajam hampir dua kali lipat dari kisaran US$ 600 per ton menjadi 1300 USD per ton, sehingga Menteri Keuangan menerbitkan SK Nomor 223/PMK.011/2008 yang menetapkan tarif pajak ekspor dari 0 persen hingga 25 persen.

Tujuan pengenaan pajak ekspor CPO antara lain adalah untuk menjamin kebutuhan dalam negeri, antisipasi kenaikan harga di pasar internasional dan menjaga stabilitas harga dalam negeri. Berdasarkan beberapa hasil studi terdahulu, pengenaan pajak ekspor dapat menahan laju ekspor CPO untuk melindungi ketersediaan bahan baku CPO pada industri hilir minyak goreng domestik.

Minyak sawit juga memiliki peran penting dalam memenuhi permintaan CPO di pasar dunia. Global excess demand di pasar CPO dunia mengakibatkan permintaan dunia naik dan harga CPO di pasar internasional juga meningkat. Terdapat kecenderungan para eksportir domestik mengekspor CPO dalam jumlah yang sangat besar. Hal tersebut berdampak negatif terhadap ketersediaan pasokan CPO untuk bahan baku industri minyak goreng di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan industri hilir di dalam negeri adalah dengan menerapkan kebijakan pajak ekspor (bea keluar).

(8)

Penelitian ini menghasilkan temuan, bahwa pajak ekspor merupakan salah satu instrumen kebijakan yang efektif mengontrol harga minyak goreng domestik. Pengenaan pajak ekspor berpengaruh negatif terhadap volume ekspor CPO Indonesia dan berdampak positif dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku CPO untuk industri minyak goreng. Selanjutnya dengan bertambahnya bahan baku CPO sebagai input bagi industri minyak goreng, maka penawaran minyak goreng domestik meningkat dan selanjutnya mempengaruhi stabilitas harga minyak goreng sawit domestik. Pengenaan pajak ekspor menurunkan daya saing ekspor Indonesia dan berdampak negatif bagi produsen, karena petani menerima harga yang lebih rendah dan berdampak pada penurunan luas areal produktif serta penurunan produksi CPO domestik. Dengan demikian, pajak ekspor berdampak negatif terhadap industri hulu kelapa sawit Indonesia. Hal ini penting ditekankan karena memiliki dampak jangka panjang bagi sub sistem hulu agribisnis kelapa sawit Indonesia, dimana pola kepemilikan terbesar kelapa sawit Indonesia saat ini adalah perkebunan rakyat dan 68 persen diantaranya adalah petani swadana (independent farmer)

CPO merupakan komoditas strategis nasional dan memiliki orientasi ekspor yang sangat kuat, untuk memenuhi permintaan minyak sawit di pasar dunia, dan salah satu sumber terbesar minyak nabati dunia. Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan:

1. Perilaku ekspor CPO Indonesia maupun Malaysia dipengaruhi oleh faktor permintaan CPO dunia, baik konsumsi maupun impor CPO dunia (world demand pull factor) dan Indonesia memiliki prospek yang baik di masa mendatang karena laju permintaan CPO dunia lebih besar dari laju penawaran. Excess demand di pasar global tersebut merupakan faktor yang menyebabkan peningkatan harga CPO di pasar global. Peningkatan harga CPO dunia akan mendorong peningkatan produksi dan ekspor CPO di negara produsen; 2. Perilaku impor RRC, India dan Uni Eropa menunjukkan bahwa peubah

produk domestik bruto memiliki pengaruh yang kuat dan dominan dalam permintaan impor CPO masing-masing Negara. Disamping itu, permintaan impor CPO bersifat income elastic¸ dimana pendapatan per kapita berpengaruh positif terhadap permintaan impor CPO di negara yang bersangkutan;

3. Harga keseimbangan CPO dunia dipengaruhi oleh impor CPO dunia dan CPO dunia. Harga CPO dunia memiliki pengaruh positif terhadap peubah harga CPO di pasar domestik, sementara itu peubah harga CPO di pasar domestik memiliki dampak yang luas bagi industri hulu dan hilir kelapa sawit Indonesia. Peningkatan harga CPO domestik akan mendorong perkembangan industri hulu kelapa sawit Indonesia.

(9)
(10)
(11)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-undang.

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik dan tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau

(12)
(13)

DAMPAK PAJAK EKSPOR CRUDE PALM OIL TERHADAP

INDUSTRI MINYAK GORENG INDONESIA

JAN HORAS VERYADY PURBA

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor

pada

Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(14)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:

1. Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS

Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

2. Dr. Ir. Henny Daryanto, MS

Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka:

1. Dr. Ir. Handewi Purwati Saliem, MS

Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pertanian, Bogor.

2. Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, MEc.

(15)

Judul Disertasi : Dampak Pajak Ekspor Crude Palm Oil terhadap Industri Minyak Goreng Indonesia

Nama Mahasiswa : Jan Horas Veryady Purba

Nomor Pokok : A. 161040061

Program Studi : Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui,

1. Komisi Pembimbing

Dr. Ir. H. Sri Hartoyo, MS Ketua

Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, MEc Dr. Ir. Harianto, MS Anggota Anggota

Mengetahui,

2. Ketua Program Studi 3. Dekan Sekolah Pascasarjana, Ilmu Ekonomi Pertanian IPB

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

(16)
(17)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang maha

kuasa karena atas rahmat-Nya disertasi ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan

ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus

kepada yang terhormat Bapak Dr. Ir. H. Sri Hartoyo, MS, sebagai Ketua Komisi

Pembimbing yang telah memberikan curahan waktu, bimbingan, arahan, nasehat

dengan penuh kesabaran, serta memberikan dorongan moral kepada penulis

hingga selesainya penulisan disertasi ini. Penghargaan dan ucapan terima kasih

yang tak terhingga kepada Anggota Komisi Pembimbing - Bapak Prof. Dr.

Dr(HC). Ir. Bungaran Saragih, MEc. atas segala kebaikan yang diberikan selama

bertahun-tahun sejak penulis berada di Bogor (1984), yang memotivasi penulis

untuk melanjutkan studi S-2 serta memberikan dorongan, nasihat dan bantuan

moral dan materiil dalam studi S-3 ini. Terima kasih yang sebesarnya kepada

Bapak Dr. Ir. Harianto, MS. selaku Anggota Komisi Pembimbing atas semua

bimbingan yang diberikan dengan penuh kesabaran, saran, motivasi dan perhatian

yang penuh kasih kepada penulis untuk menyelesaikan disertasi ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada Rektor Institut

Pertanian Bogor, yang memberikan kesempatan kepada penulis memperoleh

pendidikan Strata 1 hingga Strata 3 di IPB, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB,

Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Ketua Program Studi Ekonomi

Pertanian Bapak Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA. – yang memberikan banyak

perhatian kepada mahasiswa EPN, serta motivasi dan nasihat yang sangat

berharga. Banyak kebaikan yang diberikan selama menjabat Ketua Program Studi

EPN, serta memberikan masukan dan koreksi untuk lebih menyempurnakan

(18)

Hartoyo, MS yang selalu penuh kesabaran memberikan banyak nasehat dan

dorongan kepada Penulis dalam penyelesaian studi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. M. Parulian

Hutagaol, MS. dan Ibu Dr. Ir. Henny Daryanto, MS. selaku penguji sidang

tertutup dan kepada Ibu Dr. Ir. Handewi Purwati Saliem, MS. (Kepala Pusat

Analisis Sosek dan Kebijakan Pertanian) dan Bapak Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim,

MEc. selaku penguji sidang terbuka, serta kepada Bapak Ibu Dosen pada Program

Studi Ekonomi Pertanian.

Secara khusus, penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof Dr. Ir.

Rudolf S. Sinaga, MSc., dosen pembimbing Skripsi ketika menempuh pendidikan

di S-1 Sosek IPB.

Penghargaan dan terima kasih kepada Ketua Umum Yayasan Kesatuan –

Bapak Drs. Suherdy Arno, Ibu Ir. Luana Manikoe beserta seluruh Pengurus

Yayasan Kesatuan, khususnya Bapak Ketua Pembina Yayasan Kesatuan atas

seluruh dukungan yang telah diberikan, juga terima kasih atas kehadiran Bapak

Prof Dr. Ir. Satari, MSc, Bapak Dr. Fred Rumawas, dan Bapak Dr. Ir. Biakman

Irbansyah pada saat Sidang Ujian Terbuka di IPB Darmaga.

Terima kasih kepada Bapak Dr. Drs. H. Moermahadi Soerja Djanegara,

Ak., MM. (Ketua STIE Kesatuan periode 1995-2009), Bapak Iriyadi Ak.,

M.Comm. (Pjs. Ketua STIE Kesatuan 2009/2010) dan Bapak Dr. Bambang

Pamungkas, Ak., MBA, (Ketua STIE Kesatuan periode 2010-2014) – atas izin

dan kesempatan yang diberikan kepada Penulis untuk menempuh pendidikan S-3

di IPB serta bantuan dana pendidikan dalam penyelesaian disertasi ini.

Terima kasih yang sedalamnya kepada Bapak Prof. Dr. Eddy Mulyadi

Soepardi, MM., SE., Ak. yang senantiasa menaruh perhatian dan dorongan kepada

(19)

materil. Terima kasih kepada Bapak Dr. Rizal Djalil, MM. yang juga memberikan

dukungan moral dan materil kepada penulis, termasuk menjembatani akses

memperoleh data ke Bank Indonesia, dan bentuk support lainnya, serta kepada

Bapak Dr. Hari Gursida yang memberikan dorongan bagi penulis dalam

menempuh pendidikan ini.

Penghargaan dan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Ir.

Nusa Muktiadji, MM, rekan struktural di STIE Kesatuan Bogor dan para Kepala

Sekolah di Sekolah Kesatuan Bogor dan para dosen di STIE Kesatuan dan di

Universitas Pakuan Bogor, serta Bapak Dosen STIEK yang hadir pada sidang

ujian terbuka – Pak Angga, MM., Pak Hastoni, MM, Pak Yoyon, Sdr Farhan serta

rekan staf dosen lainnya.

Penulis juga menghaturkan terima kasih kepada Staf dan Pegawai

Perpustakaan di Bank Indonesia Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta,

Agro Ekonomi Bogor, Puslit Perkebunan Bogor, dan Staf Perpustakaan Institut

Pertanian Bogor, dan para narasumber Bapak Dr. Bambang Drajat dari LRPI

Bogor, juga kepada Bu Rubi, Bu Yani, staf EPN, Bagian Layanan

Kemahasiswaan Pascasarjana IPB serta kepada seluruh pihak yang tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu, atas segala waktu, pengetahuan, dan saran yang

diberikan kepada penulis selama mengumpulkan data dan informasi di lapangan

serta segala sesuatu yang mendukung penyelesaian studi ini.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Departemen Pendidikan

Nasional – Dirjen Dikti dan Kopertis Wilayah IV Jabar-Banten, atas bantuan

beasiswa BPPS selama 3 tahun (2004-2007).

Terima kasih kepada Abang Dr. Sabarman Damanik, APU. dan keluarga,

yang banyak memberikan dorongan serta doa yang tak pernah henti dan dukungan

(20)

Sipayung, Dr. Edwin Sanso Saragih dan Dr. Maijon Purba, Dr. Sirman Purba, dan

Dr. Surya Abadi Sembiring atas perhatian, dorongan dan doa yang tulus yang

diberikan serta kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang

telah membantu penulis sampai selesainya desertasi ini, disampaikan terimakasih.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bu Lies Volianti -

Staf Yayasan Kesatuan yang memberikan banyak dorongan dan semangat serta

rekan-rekan di TUP Sekolah Kesatuan, para sahabat di Universitas Pakuan, Bapak

Dr. Aang Munawar, Bapak Herdiyana, Bapak Hari Muharam yang keduanya

sedang tahap akhir penyelesaian Program Doktor, rekan-rekan mahasiswa dan

alumni Sekolah Pascasarjana Program Studi Ekonomi Pertanian IPB atas

kebersamaan dan dukungan selama menempuh pendidikan.

Rasa hormat dan terima kasih yang sangat dalam kepada Ayahanda

Djasminer Purba dan Ibunda Sarlide Saragih, dan seluruh Keluarga Besar Jl

Mufakat Kiri Pematang Siantar, yang kasih sayang, doa dan dorongan semangat,

khususnya Lawei Drs. Jan Wiserdo Saragih. Secara khusus, kepada istri tercinta

Mintauli Saragih atas doa, pengorbanan, kesabaran, pengertian, ketabahan, dan

dorongan semangat yang telah diberikan selama penulis menempuh pendidikan.

Kepada ananda Evandeo Adipatra Purba dan ananda Jeremy Hans Immanuel

Purba, penulis sampaikan agar studi ini dapat memberikan inspirasi untuk

menempuh pendidikan kedua ananda lebih lanjut.

Penulis menyadari bahwa desertasi ini bukanlah karya yang sempurna, dan

penulis menerima dengan baik kritik atau saran dari semua pihak untuk

menyempurnakan desertasi ini. Akhirnya, semoga desertasi ini dapat bermanfaat

bagi yang berkepentingan.

Bogor, Februari 2012

(21)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pematang Siantar-Sumatera Utara, pada tanggal 11

Pebruari 1965, putra pertama dari Bapak Djasminer Purba dan Ibu Sarlide

Saragih. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di Pematang Siantar, yakni

di SD GKPS (1972-1977), SMP Negeri I (1978-1981) dan SMA Negeri II

(1981-1984). Tahun 1984 melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor melalui Proyek

Perintis II dan tahun 1985 duduk di Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial

Ekonomi, Fakultas Pertanian - Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1989.

Tahun 1995, penulis meneruskan pendidikan Strata-2 di Program Pascasarjana

Institut Pertanian Bogor, Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, lulus dengan

gelar Magister Sains dalam bidang Ekonomi Pembangunan pada tahun 2000.

Pada tahun 2004, penulis melanjutkan Program Doktor pada Sekolah

Pascasarjana, Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Setelah lulus sarjana S-1, penulis bekerja pada sebuah perusahaan swasta

bidang pertanian (Mix Farming) di Jonggol. Sejak tahun 1994, penulis bekerja

sebagai dosen pada sebuah Universitas swasta di Bogor, dan sejak tahun 1996

penulis bekerja sebagai dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)

Kesatuan Bogor. Disamping itu aktif sebagai konsultan sejak 2000 hingga 2007.

Penulis pernah menjabat sebagai Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan

Pengabdian Masarakat) STIE Kesatuan (2003-2007), Direktur Sekolah Kesatuan

(2007-2012), dan sejak 2008 dosen Magister Manajemen (S2) pada Program

Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor.

Pada tahun 1992, penulis menikah dengan Mintauli Saragih, dan

dikaruniai dua orang putera: EvanDeo Adipatra Purba (1994) dan Jeremy Hans

(22)
(23)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xxiv

DAFTAR GAMBAR ... xxvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xxvii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

1.5. Novelty ... 8

1.6. Keterbatasan Penelitian ... 9

II. GAMBARAN UMUM PAJAK EKSPOR, MINYAK GORENG DAN KELAPA SAWIT DOMESTIK DAN MINYAK SAWIT

DUNIA ... 10

2.1. Kebijakan Pemerintah pada Komoditas CPO ... 10

2.2. Industri Minyak Goreng Sawit Indonesia... 14

2.3. Perkembangan Kelapa Sawit Indonesia ... 18

2.3.1. Luas Areal Kelapa Sawit Indonesia ... 22

2.3.2. Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia ... 25

2.4. Ekonomi Minyak Sawit Dunia ... 28

2.4.1. Produksi Minyak dan Lemak Dunia ... 28

2.4.2. Konsumsi Minyak dan Lemak Dunia ... 32

2.4.3. Perdagangan Minyak Utama di Pasar Dunia ... 34

III. TINJAUAN PUSTAKA ... 36 3.1. Hasil Penelitian Beberapa Model Komoditas ... 36

3.1.1. Respon Penawaran ... 36

3.1.2. Eflsiensi Ekonomi Relatif ... 38

3.1.3. Open Economy: Perdagangan Internasional Minyak

(24)

3.1.4. Daya Saing Minyak Sawit Indonesia di Pasar

Internasional ... 42

3.1.5. Disagregasi Wilayah dan Pola Pengusahaan ... 44

3.1.6. Pajak Ekspor ... 44

3.1.7. Minyak Goreng Sawit Domestik ... . 45

3.2. Kontribusi Penelitian Empiris ... 51

IV. KERANGKA PEMIKIRAN ... 52

4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 52

4.1.1. Pajak Ekspor ... 54

4.1.2. Teori Penawaran Ekspor CPO Indonesia ... 55

4.1.3. Teori Penawaran Minyak Goreng Sawit Indonesia ... 57

4.1.4. Teori Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia ... 58

4.1.5. Teori Nilai Tukar ... 59

4.1.6. Elastisitas ... 60

4.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 63

V. PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS ... 65

5.1. Model Ekonometrika Industri Kelapa Sawit Indonesia ... 65

5.1.1. Areal Tanam Produktif Kelapa Sawit dan Produksi

CPO Indonesia ... 66

5.1.2. Pasar Minyak Sawit Dunia ... 69

5.1.3. Industri Minyak Goreng Domestik ... 72

5.2. Identifikasi Model ... 73

5.3. Metoda Pendugaan Model ... 73

5.4. Prosedur Penerapan Model ... 74

5.5. Simulasi Kebijakan Historik ... 77

VI. DAMPAK PAJAK EKSPOR TERHADAP INDUSTRI MINYAK GORENG DOMESTIK DAN ANALISIS PASAR CPO

INDONESIA ... 79

6.1. Hasil Pendugaan Model ... 79

6.1.1. Areal Tanam Produktif Kelapa Sawit dan Produksi CPO Indonesia ... 80

6.1.2. Analisi Pasar Global CPO ... 85

(25)

6.2. Pembahasan ... 103

6.2.1. Dampak Pajak Ekspor terhadap Industri Minyak Goreng Domestik ... 103

6.2.2. Pasar CPO Dunia ... 109

6.2.3. Analisis Simulasi Kebijakan dalam Industri Kelapa

Sawit Indonesia ... 112

VII. ANALISIS SIMULASI KEBIJAKAN ... 114

7.1. Validasi Model ... 114

7.2. Hasil dan Penjelasan Simulasi Kebijakan ... 115

7.2.1. Kebijakan Internal ... 116

7.2.2. Dampak Perubahan Eksternal ... 124

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 130

8.1. Kesimpulan ... 130

8.2. Saran ... 133

8.3. Saran Penelitian Lanjutan ... 134

DAFTAR PUSTAKA ... 135

(26)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Perkembangan Kebijakan CPO di Indonesia ... 11

2. Dampak Positif dan Negatif masing-masing Pilihan Kebijakan ... 12

3. Distribusi Pangsa Pasar dalam Industri Minyak Goreng Sawit di

Indonesia ... 17

4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan

Jenis Pengusahaan Tahun 1979-2008 ... 23

5. Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan Jenis

Pengusahaan Tahun 1979-2008 ... 27

6. Negara Eksportir dan Importir Minyak Utama Dunia Tahun 2010 . 35

7. Ringkasan Penelitian Terdahulu tentang Kelapa Sawit ... 47

8. Simulasi Internal dan Eksternal ... 78

9. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Areal Produktif Sawit ... 80

10. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Permintaan CPO untuk

Minyak Goreng Domestik ... 82

11. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Harga CPO Domestik ... 84

12. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Ekspor CPO Indonesia ... 86

13. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Ekspor CPO Malaysia ... 89

14. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO Malaysia ... 91

15. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO RRC ... 92

16. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO India ... 94

17. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO Uni Eropa ... 95

18. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Harga CPO Dunia... 96

19. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Permintaan Minyak

Goreng ... 98

20. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Produksi Minyak Goreng .... 100

21. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Harga Minyak Goreng

Sawit ... 101

22. Perbandingan Beberapa Penelitian Pengenaan Pajak Ekspor ... 105

23. Distribusi Kesejahteraan dengan adanya Pengenaan Pajak Ekspor

CPO ... 106

(27)

25. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Pajak

Ekspor sebesar 22.5 persen ... 116

26. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Suku

Bunga sebesar 10 persen ... 117

27. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Pajak

Ekspor sebesar 22.5 persen dan Suku Bunga 10 persen ... 119

28. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Nilai

Tukar Naik 8.82 persen ... 121

29. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Pendapatan per

Kapita Naik 5 persen ... 123

30. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Produk Domestik

Bruto RRC Naik 10 Persen ... 124

31. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Produk Domestik

Bruto India Naik 5 persen ... 126

32. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Produk Domestik

Bruto Uni Eropa Turun 10 persen ... 127

33. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Impor CPO Dunia

(28)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Perkembangan Harga Minyak Goreng Sawit Tahun 1979-2008 ... 2

2. Tarif Pajak Ekspor CPO Berdasarkan SK Nomor

223/PMK.011/2008 ... 3

3. Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Harga Minyak Goreng

Domestik, 1979-2008 ... 15

4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan

Jenis Pengusahaan, 1979-2008 ... 24

5. Produksi Minyak Sawit Indonesia Berdasarkan Jenis

Pengusahaan, 1979-2008 ... 26

6. Perkembangan Pangsa Produksi Minyak Kedele dan Minyak

Sawit Dunia ... 29

7. Ekspor CPO Indonesia dan Malaysia, 1979-2007 ... 31

8. Perdagangan Minyak Utama Dunia Tahun 2010 ... 34

9. Perkembangan Penelitian Terdahulu dan Kontribusi Penelitian ... 51

10. Pengaruh Kenaikan Pajak Ekspor terhadap Ekspor dan Harga

Minyak Goreng Domestik ... 52

11. Pengaruh Perubahan Nilai Tukar terhadap Harga dan Volume

Perdagangan ... 59

12. Kerangka Pemikiran Operasional ... 64

13. Diagram Keterkaitan Pasar CPO Domestik, Pasar CPO Dunia dan Industri Minyak Goreng Domestik ... 66

(29)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Perkembangan Pangsa Minyak Kedele dan Minyak Sawit Tahun

1961-2010 ... 141

2. Daftar Nama Peubah ... 142

3. Identifikasi Model ... 145

4. Program Estimasi Model Penelitian dengan Metode Two Stages

Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 ... 146

5. Hasil Estimasi Model Penelitian dengan Metode Two Stages

Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 ... 147

6. Program Simulasi Dasar Model Penelitian dengan Metode Two

Stages Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 .. 160

7. Hasil Simulasi Dasar Model Penelitian dengan Metode Two

Stages Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 .. 162

8. Hasil Simulasi Kebijakan dengan Metode Two Stages Least

(30)
(31)
(32)
(33)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebelum dan sesudah krisis ekonomi tahun 1998, harga minyak sawit

(Crude Palm Oil=CPO) dunia rata-rata berkisar US$ 341 hingga US$ 358 per ton.

Namun sejak tahun 2007 harga CPO dunia meningkat dua kali lipat hingga

mencapai US$ 719.13 per ton dan mendekati US$ 1.200 per ton pada tahun 2010.

Gejolak harga CPO tersebut secara faktual mempengaruhi harga minyak goreng di

pasar domestik dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 12.900 per kg. Hal ini dapat

dijelaskan karena 80 persen biaya produksi pengolahan minyak goreng sawit

merupakan biaya input (bahan baku) CPO. Pada masa krisis tahun 1997-2000,

terjadi fluktuasi yang sangat tajam, kemudian sejak tahun 2000 harga riel minyak

goreng sawit cenderung mereda setiap tahun.

Melonjaknya harga minyak goreng sawit di atas dipengaruhi oleh

meningkatnya konsumsi minyak goreng domestik sebesar 12.42 persen per tahun.

Tahun 2000 permintaan minyak goreng domestik mencapai 2.84 juta ton dan

tahun 2008 meningkat dua kali lipat menjadi 5.71 juta ton. Disamping itu,

terdapat perubahan struktur konsumsi minyak goreng dari minyak kelapa (coconut

oil) ke minyak goreng sawit (palm oil) di Indonesia (Sinaga dan Ardana, 2004).

Industri minyak goreng saat ini didominasi oleh minyak goreng sawit dan tidak

dapat dipenuhi dari sumber minyak kelapa. Untuk mengatasi hal tersebut,

pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan ekspor minyak sawit (crude

palm oil=CPO) untuk mengamankan ketersediaan bahan baku industri hilir

domestik dan menjaga harga minyak goreng sawit berada pada level yang dapat

(34)

ekspor). Fakta empiris menunjukkan pengenaan pajak ekspor mampu menurunkan

harga minyak goreng domestik sebagaimana disajikan pada Gambar 1.

Sumber: Kelapa Sawit, Dirjen Perkebunan RI (diolah)

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Goreng Sawit Tahun 1979-2008

Pajak ekspor (PE) merupakan salah satu Penerimaan Negara Bukan Pajak

(PNBP) yang memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai instrumen untuk

menghambat laju ekspor dan untuk meningkatkan penerimaan Negara. Kebijakan

PE sudah dimulai sejak tahun 1978 melalui SKB Mendagkop, Menteri Pertanian

dan Menperindag, yang mengatur alokasi bagi kebutuhan dalam negeri serta

menetapkan harga penjualan CPO di dalam negeri. Tahun 1991-1994 pemerintah

mencabut SKB tersebut dan membebaskan perdagangan dan ekspor CPO. Tahun

1994-1997 Menteri Keuangan menetapkan pajak ekspor progresif bagi CPO dan

produk derivatifnya, dan menetapkan pajak ekspor 40 persen hingga 60 persen.

Tahun 1998 (Januari sampai April) pemerintah melakukan larangan ekspor CPO,

dan kemudian menerapkan pajak ekspor dari 15 persen hingga 40 persen.

Selanjutnya pemerintah menetapkan pajak ekspor progresif berdasarkan harga

CPO di pasar dunia yang mengalami perubahan dari watu ke waktu. Tahun 2007

-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 1 9 7 9 1 9 8 1 1 9 8 3 1 9 8 5 1 9 8 7 1 9 8 9 1 9 9 1 1 9 9 3 1 9 9 5 1 9 9 7 1 9 9 9 2 0 0 1 2 0 0 3 2 0 0 5 2 0 0 7 Rp/ k g

Harga Nominal Harga Riel

Harga Riel

(35)

Menteri Keuangan mene

US$ 550 per ton hingga

Nomor 61/PMK 011/20

tajam hampir dua kali li

ton, sehingga Menteri

yang menetapkan tarif p

disajikan pada Gambar 2

Gambar 2. Tarif Pajak E

Tujuan pengenaa

kebutuhan dalam neger

menjaga stabilitas harga

Berdasarkan beberapa h

menahan laju ekspor CP

industri hilir minyak g

menunjukkan pengenaa

persen pada Oktober 199

menetapkan tarif pajak ekspor dari 0 persen (harga

gga 10 persen (harga di atas US$ 850 per ton) d

2007. Tahun 2008, harga CPO dunia cenderung

i lipat dari kisaran US$ 600 per ton menjadi 1300

ri Keuangan menerbitkan SK Nomor 223/PMK

f pajak ekspor dari 0 persen hingga 25 persen seb

r 2.

k Ekspor CPO Berdasarkan SK Nomor 223/PMK.

naan pajak ekspor CPO antara lain adalah untuk

eri, antisipasi kenaikan harga di pasar internas

rga dalam negeri. (Pasal 2 ayat 2 PP No 35 tah

hasil penelitian terdahulu, pengenaan pajak ek

CPO untuk melindungi ketersediaan bahan baku

goreng domestik. Hasan, Reed dan Marcha

aan pajak ekspor menurunkan laju ekspor seb

994 dan 64.4 persen pada Desember 1994.

rga di bawah

) dengan SK

g meningkat

00 USD per

K.011/2008

sebagaimana

K.011/2008

uk menjamin

nasional dan

tahun 2005).

ekspor dapat

u CPO pada

hant (2001)

(36)

Pengenaan pajak ekspor tidak terlepas dari fenomena perkembangan

ekspor CPO domestik. Pertumbuhan ekspor CPO Indonesia dipengaruhi oleh tiga

faktor: (1) faktor permintaan CPO di pasar dunia, (2) perkembangan produksi dan

pasar CPO domestik dan (3) pengaruh daya saing (competetiveness) CPO

Indonesia (Obado, Syaukat dan Siregar, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa CPO

terkait erat dengan sub sistem hulu (areal dan produksi CPO), perdagangan dan

ekspor hingga industri hilir.

Dalam keseimbangan supply-demand minyak sawit Indonesia terdapat

kecenderungan orientasi ekspor yang semakin tinggi dengan laju 15.44 persen per

tahun, dan hal ini terlihat nyata sejak era reformasi tahun 1998. Sebelumnya pada

tahun 1979-1997 proporsi ekspor CPO domestik adalah 40 persen dari total

produksi sedangkan pasca reformasi (1998 hingga kini) proporsi ekspor telah

mencapai 63 persen dari total penawaran CPO domestik.

Peningkatan ekspor CPO domestik tersebut tidak terlepas dari

meningkatnya permintaan CPO di pasar internasional karena CPO memiliki peran

yang semakin besar di pasar internasional untuk memenuhi permintaan oil and fat

dunia (Basiron, 2002); dan Pasquali (1993) memproyeksikan tingkat pertumbuhan

CPO lebih tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Proyeksi Pasquali

tersebut ternyata terbukti, dimana pada tahun 2010 proporsi konsumsi minyak

sawit telah mengungguli minyak kedele di pasar dunia (Lampiran 1) dengan

pangsa masing-masing 28.01 persen dan 23.77 persen (Oil World, 2010). Laju

konsumsi minyak sawit relatif lebih tinggi (70 persen) dibandingkan dengan

minyak kedele (54 persen) dalam kurun 1995-2002, dan pada tahun 2020

konsumsi minyak sawit dunia diperkirakan akan mencapai 67 juta ton pada tahun

(37)

Peningkatan konsumsi tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya

jumlah penduduk, pendapatan per kapita, serta permintaan minyak sawit dunia

untuk bahan baku industri di Uni Eropa, dan juga meningkatnya permintaan impor

CPO oleh negara India dan RRC. Permintaan CPO di pasar dunia diperkirakan

terus meningkat di masa depan. Hal itu antara lain disebabkan oleh meningkatnya

permintaan negara-negara di dunia yang mulai menggunakan komoditas tersebut

untuk biodiesel. Produk energi itu relatif ramah lingkungan dan bisa menggantikan

bahan bakar konvensional. Tingginya permintaan CPO itu mengakibatkan harga di

pasar dunia meningkat tajam.

Uraian di atas menunjukkan keterkaitan satu sama lain, baik CPO di pasar

domestik maupun CPO di pasar internasional. Domestic excess demand mendorong

kenaikan harga CPO di pasar domestik rata-rata 2.26 persen per tahun, dan harga

sebagai signal pasar mendorong pertumbuhan luas areal kelapa sawit Indonesia,

terutama oleh petani rakyat (independent farmer) serta perkebunan swasta.

Nurochmat (2010) menyebutkan backward linkage CPO ke industri hulu adalah 1,

artinya terdapat keterkaitan pengembangan CPO yang cukup kuat terhadap

perluasan areal dan pengembangan industri hulu kelapa sawit Indonesia.

Kelebihan permintaan CPO di pasar dunia (global excess demand)

mengakibatkan harga CPO dunia meningkat rata-rata 1.96 persen per tahun dan daya

tarik harga ini merupakan faktor yang mendorong peningkatan ekspor CPO

Indonesia. Hal ini berdampak pada berkurangnya ketersediaan CPO untuk industri

minyak goreng di pasar domestik.

Dari uraian di atas, maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui

dampak pajak ekspor terhadap industri minyak sawit Indonesia, khususnya

industri minyak goreng domestik. Kebijakan pajak ekspor tersebut masih

(38)

pajak ekspor yang tinggi justru memperlemah daya saing ekspor Indonesia dan

kehilangan kesempatan memperoleh devisa, dan kebijakan ini tidak memberikan

rangsangan ke sektor hulu (on farm) dan perlu dikaji apakah meningkatkan

kesejahteraan petani.

1.2. Perumusan Masalah

Tingginya permintaan minyak sawit di pasar dunia menyebabkan harga

CPO di pasar internasional meningkat tajam. Melonjaknya harga CPO di pasar

internasional merupakan salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap

gejolak harga di dalam negeri dan mengganggu industri minyak goreng dalam

negeri. Terdapat kecenderungan para eksportir domestik mengekspor CPO dalam

jumlah yang sangat besar. Hal tersebut berdampak negatif terhadap ketersediaan

pasokan CPO untuk bahan baku industri minyak goreng di Indonesia. Untuk

mengatasi hal tersebut, pemerintah memberlakukan kebijakan pajak ekspor (bea

keluar).

Dari sisi perdagangan dunia, ekspor minyak sawit Indonesia bersifat

fluktuatif. Pada tahun 80-an, tujuan ekspor minyak sawit Indonesia sangat

didominasi negara-negara Eropa seperti Belanda (27.51 persen), Jerman (6.98

persen), Italy (5.86 persen), Inggris (2.48 persen). Sejak tahun 1990-an terdapat

pergeseran tujuan ekspor minyak sawit Indonesia. Tujuan ekspor terbesar adalah

negara-negara di Asia (64.4 persen), sedangkan pangsa tujuan ekspor ke Eropa

adalah 22.5 persen dari total ekspor CPO Indonesia. Beberapa negara-negara

penting diantaranya adalah RRC, rata-rata meningkat 17.54 persen per tahun,

diikuti India 15.15 persen per tahun dan negara-negara Uni Eropa 9.44 persen per

tahun. Oleh sebab itu, negara-negara tersebut dipilih secara purposive sebagai

(39)

Pasar internasional CPO terintegrasi dengan pasar CPO domestik, sehingga

perubahan harga CPO di pasar internasional akan mempengaruhi industri minyak

sawit dan minyak goreng di pasar domestik. Permasalahan yang ingin dilihat

adalah kajian perdagangan internasional CPO Indonesia yang meliputi ekspor

negara Indonesia dan Malaysia, serta impor oleh negara Cina, India dan Uni

Eropa.

Komoditas CPO merupakan salah satu sumber penting konsumsi minyak

dunia. Karena itu, perubahan yang terjadi di sisi eksternal dan internal akan

mempengaruhi industri kelapa sawit Indonesia. Situasi eksternal yang paling

dominan adalah meningkatnya permintaan impor CPO dunia dan perubahan harga

minyak kedele, sedangkan situasi internal yang cukup penting adalah peubah yang

berpengaruh terhadap kebijakan perluasan areal, ekspor dan konsumsi minyak

goreng domestik. Untuk memahami respon industri kelapa sawit Indonesia

terhadap perubahan yang terjadi di pasar global maupun domestik maka

permasalahan yang ingin dilihat adalah menganalisis dampak perubahan sejumlah

peubah eksogen yang berhubungan dengan industri kelapa sawit Indonesia.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan masalah yang dikemukakan di atas, maka

secara umum tujuan penelitian adalah untuk menganalisis industri kelapa sawit

Indonesia, serta dampak pajak ekspor terhadap industri minyak goreng domestik,

serta menganalisis pasar CPO di pasar domestik dan pasar global.

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis dampak pajak ekspor terhadap industri minyak goreng domestik,

(40)

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini mencakup dua hal pokok, yakni (1) manfaat

akademis dan (2) manfaat operasional. Dari sisi akademis, penelitian ini

memberikan informasi empiris tentang dampak pajak ekspor terhadap industri

minyak goreng domestik dan juga memberikan informasi ekonomi industri kelapa

sawit Indonesia, yang meliputi industri hulu, hingga hilir (minyak goreng) dan

analisis integrasi harga dan perdagangan internasional CPO. Manfaat operasional

adalah menyajikan informasi dan masukan bagi pemerintah dalam pengenaan

pajak ekspor untuk pengembangan agribisnis kelapa sawit nasional pada masa

mendatang. Disamping itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk penelitian

lanjutan, khususnya peran kelapa sawit untuk memenuhi permintaan energi.

1.5. Novelty

Kajian mengenai pajak ekspor dan kelapa sawit telah banyak dilakukan

yang sebagian besar dalam kajian perdagangan internasional. Susila dan Setiawan

(2001), Hasan, Reed dan Marchant, (2001) dan Obado et al., (2009) mengkaji

dampak penerapan pajak ekspor CPO terhadap industri CPO Indonesia, dan

menyimpulkan bahwa pengenaan pajak ekspor menurunkan daya saing

(competetiveness) ekspor CPO Indonesia, dan juga berdampak pada penurunan

areal dan produksi CPO Indonesia. Munadi (2007) dengan model dinamis ECM

(error correction model) melakukan pengujian sebaliknya, yakni pengurangan

pajak ekspor akan meningkatkan daya saing CPO Indonesia ke India.

Novelty atau kebaruan dari penelitian ini menghasilkan sebuah temuan

yakni pengenaan pajak ekspor mampu menahan laju ekspor untuk mengamankan

kebutuhan bahan baku CPO pada industri hilir minyak goreng di Indonesia,

(41)

berdampak positif kepada industri hulu, yang sebagian besar dikelola oleh petani

sawit rakyat (independent farmer). Salah satu solusi dimasa mendatang adalah

perbaikan produktivitas (yield) kelapa sawit Indonesia dan pengalokasian

penerimaan negara dari pajak ekspor untuk meningkatkan produktivitas industri

hulu kelapa sawit Indonesia.

1.6. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan (limitasi) dalam penelitian ini antara lain adalah:

1. Pembahasan dalam studi ini tidak mencakup inti kelapa sawit (palm kernel

oil) karena terbatasnya data. Namun demikian CPO cukup representatif

karena CPO mencakup 80 persen dari seluruh produk kelapa sawit.

2. Sejak tahun 2000, terdapat korelasi yang positif dan kuat antara harga bahan

bakar minyak (BBM) dengan harga CPO di pasar dunia dengan koefisien

korelasi 0.83 (Purba dan Hartoyo, 2010). Jika harga BBM naik maka harga

CPO juga cenderung naik. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan CPO

pada saat ini telah berkembang untuk memenuhi permintaan bahan baku

industri biodiesel. Limitasi dalam penelitian ini, tidak membahas permintaan

CPO untuk biodiesel.

3. Kebijakan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah pengenaan pajak

ekspor, sementara kebijakan (1) alokasi bahan baku untuk pasar domestik dan

(42)

II. GAMBARAN UMUM PAJAK EKSPOR, MINYAK

GORENG SAWIT DOMESTIK DAN

MINYAK SAWIT DUNIA

2.1. Kebijakan Pemerintah pada Komoditas CPO

Kebijakan pembatasan ekspor CPO telah dimulai sejak tahun 1978, yakni

dengan diterbitkannya SKB Mendagkop, Menteri Pertanian dan Menperindag

untuk mengatur alokasi kebutuhan CPO dalam negeri dan pengaturan penjualan

CPO di pasar domestik. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh kenaikan harga

minyak goreng di dalam negeri, karena negara mengalami kekurangan pasokan

kopra dan CPO.--Pada tahun 1977-1978 minyak kelapa sawit hanya

diperuntukkan bagi ekspor, namun selanjutnya minyak kelapa sawit mulai

diarahkan untuk memenuhi kekurangan bahan baku minyak goreng dalam negeri

untuk mensubstitusi minyak kelapa dan kopra yang mengalami kelangkaan.

Kebijakan liberalisasi perdagangan tahun 1991 berdampak pada kenaikan

harga minyak goreng dan ekspor CPO dan memicu lonjakan harga minyak goreng

tahun 1994. Untuk mengendalikan keadaan ini pemerintah memberlakukan pajak

ekspor CPO dan hasil olahannya sekitar 40 hingga 75 persen. Implementasi

kebijakan ini hanya berlaku bila harga minyak goreng mencapai Rp 1.250 per kg.

(Rata-rata harga sebelumnya adalah Rp 800 per kg).--Pentingnya peran

pemerintah dalam mengendalikan harga minyak goreng karena harga minyak

goreng memiliki dampak ekonomi yang luas, menimbulkan keresahan masyarakat

miskin dan industri kecil dan mempengaruhi kenaikan harga-harga kebutuhan

pokok lainnya. Jika tidak dikendalikan, maka kenaikan harga minyak goreng juga

merambat pada masalah sosial dan politik. (Susila, 2007). Perkembangan

(43)

Tabel 1. Perkembangan Kebijakan CPO di Indonesia

No Periode Surat Keputusan Materi Kebijakan 1 1978-1991 SKB Mendagkop,

Mentan, Menperindag 275/KPB/XII/1978 764/Kpts/12/1978 252/U/SK/1978

a. Instrumen alokasi kebutuhan domestik

b. Penetapan Harga CPO untuk penjualan domestik c. Ijin dari Departemen Perdagangan untuk ekspor

2 1991-1994 SKB Mendag, Mentan dan Menperin 136/KPB/VI/1991 340/Kpts/6/1991 50/M/SK/6/1991

Membebaskan perdagangan dan ekspor CPO

3 1994-1997 SK Menkeu Nomor 439/KMK.017/1994

Menetapkan pajak ekspor CPO progresif

4 1997-1998 SK Menkeu 300/KMK/1997

Pajak Ekspor diturunkan dari 40-60 persen menjadi 2-5 persen dan tidak progresif

SK Menperindag 456/MPP/Kep/12/1997

Kewajiban produsen memasok CPO untuk kebutuhan dalam negeri

SK Menkeu

No 622/KMK.01/1997

PE tambahan 28-30% bagi produsen yang belum memenuhi kewajiban memasok kebutuhan domestik Surat Ditjen Dagri

420/DJPDN/XII/1997

Larangan ekspor pada Januari – Maret 1998 dan produk CPO untuk kebutuhan domestik

SK Menperindag 181/MPP/Kep/4/1998

Perdagangan CPO dan produk-produknya bebas

SK MEnkeu 242/KMK.01/1998

Pajak ekspor berkisar antara 15 – 40 persen

5 2001 SK Menkeu 66/2001 Pajak ekspor CPO 3 persen (single rate)

6 2005 SK Menkeu 130/2005 Pajak ekspor CPO 1.5 persen (single rate) 7 2005 PP No 35/2005 Penetapan barang ekspor tertentu 8 2006 SK Menperindag

17/M-Dag/Per/3/2006

Penetapan HPE setiap bulan

HPE April – Mei sebesar US$ 362.MT 9 2006 SK Menperindag

21/M-Dag/Per.5/1006

HPE Mei – Juni 2006 sebesar US$ 358.MT

10 2007 Peraturan Menkeu

61/PMK 011/2007

Tarif bea keluar 0-10 persen secara progresif

2007 SK Menkeu 188/011/2007

Pemerintah memberikan fasilitas pembebasan PPN

11 2008 Peraturan Menkeu 214/PMK.04/2008

Ketentuan tentang pemungutan bea keluar

Peraturan Menkeu 223/PMK.04/2008

Tarif Bea Keluar 0-25 persen secara progresif

12 2009 SK Menkeu 256/KM.4/2009

HPE

Peraturan MenDag

06/M-DAG/PER/1/2009

Penetapan harga patokan ekspor (HPE) atas barang ekspor tertentu

13 2010 366 /KM.4/2010 Penetapan HPE US$ 708 per MT

(44)

Kebijakan pemerintah khususnya dalam rangka stabilisasi harga minyak

goreng meliputi (1) kebijakan pada sisi input (hulu) berupa kebijakan Domestic

Market Obligation (DMO) serta kebijakan Pajak Ekspor (PE) progresif dan (2)

kebijakan pada sisi output (hilir) melalui operasi pasar (OP) minyak goreng

bersubsidi dan pembebasan PPN untuk penjualan minyak goreng curah

(PPN-DTP). Di samping itu pemerintah menerbitkan kebijakan yang dikenal dengan

Program Minyakita pada awal tahun 2009. Dampak positif dan negatif

masing-masing pilihankebijakan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Dampak Positif dan Negatif masing-masing Pilihan Kebijakan

No Kebijakan Potensi Dampak Positif Potensi Dampak Negatif

1 Pajak Ekspor • Penerimaan Negara

• Distribusi beban antara konsumen dan produsen

• Mudah dilaksanakan

• Mendistorsi pasar internasional dan domestik

• Menghambat upaya peningkatan ekspor

• Menurunkan pendapatan industri CPO domestik

• Menurunkan pendapatan petani 2 Domestik Market

Obligation

• Efektivitas relatif lebih baik • Mendistorsi pasar internasional dan domestik

• Menghambat upaya peningkatan ekspor

• Menurunkan pendapatan industri CPO domestik

• Menurunkan pendapatan petani

• Penerimaan negara lebih rendah 3 Operasi Pasar • Tidak mendistorsi pasar

ekspor

• Tidak membebani industri berbasis CPO

• Tidak membebani petani

• Membebani anggaran negara cukup besar

• Efektivitas rendah

4 Subsidi ke Industri Minyak Goreng

• Tidak mendistorsi pasar ekspor

• Tidak membebani industri berbasis CPO

• Tidak membebani petani

• Membebani anggaran negara cukup besar

• Ekspor minyak goreng bersubsidi

• Kesulitan implementasi

5 Subsidi ke Orang Miskin

• Tidak mendistorsi pasar ekspor

• Tidak membebani industri berbasis CPO

• Tidak membebani petani

• Target lebih fokus sehingga beban anggaran lebih rendah

• Membebani anggaran negara

• Pelaksanaan sering tidak tepat sasaran

(45)

Data empiris menunjukkan dampak kebijakan pajak ekspor cukup positif

dan berhasil meredam kenaikan harga minyak goreng. Kenaikan harga minyak

goreng kembali terjadi tahun 1992 dan 1994 sebagai akibat dari kenaikan harga

CPO di pasar dunia. Gejolak harga tersebut diatasi dengan menerapkan pajak

ekspor hingga 60 persen dan dibarengi dengan kebijakan alokasi CPO di pasar

domestik pada tahun 1994.

Kebijakan Domestik Market Obligation didasarkan pada Keputusan

Menteri Pertanian No.339/Kpts/PD.300/5/2007 tentang pasokan CPO untuk

kebutuhan dalam negeri guna stabilisasi harga minyak goreng curah bagi

perusahaan perkebunan kelapa sawit anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha

Kelapa Sawit Indonesia) maupun non anggota GAPKI. Dua alternatif yang

ditawarkan oleh pemerintah untuk kebijakan DMO minyak sawit mentah yaitu :

1. Pengusaha wajib menyediakan pasokan minyak goreng domestik 20 persen

yaitu 2.4 juta ton minyak goreng atau setara dengan 3.3 juta ton CPO.

2. Pengusaha wajib menyediakan pasokan minyak goreng domestik 18 persen

yaitu 2.15 juta ton minyak goreng atau setara dengan 2.96 juta ton CPO.

Kedua alternatif kebijakan tersebut dibuat berdasarkan pada perhitungan

kebutuhan minyak goreng selama setahun dan berlaku untuk produsen CPO yang

mempunyai luas lahan perkebunan sedikitnya 1.000 hektar.

Dalam pelaksanaannya komitmen perusahaan dalam memenuhi alokasi

pasokan yang ditetapkan dalam DMO tidak terealisasi sepenuhnya (Ketut, 2010).

Bulan Mei 2007 hanya terealisasi 59 persen (dari komitmen DMO CPO berjumlah

97.525 ton), sedangkan sampai dengan 12 Juni 2007 hanya terealisasi 10 persen

(dari komitmen Juni dan carry over bulan Mei 142.781 ton). Sampai waktu

(46)

2.2. Industri Minyak Goreng Sawit Indonesia

Minyak goreng sawit merupakan salah satu komoditas yang bernilai

strategis karena termasuk salah satu dari 9 kebutuhan pokok bangsa Indonesia.

Permintaan minyak goreng, baik domestik maupun ekspor merupakan indikasi

pentingnya peranan komoditas kelapa sawit dalam perekonomian bangsa.

Produksi dan konsumsi minyak goreng sawit terus meningkat dari tahun ke tahun

seiring bertambahnya jumlah penduduk, berkembangnya pabrik dan industri

makanan, dan meningkatnya konsumsi masyarakat akan minyak goreng.

Sejak tahun 1970, minyak goreng asal kelapa sawit telah mendominasi

pangsa konsumsi minyak goreng yang sebelumnya didominasi oleh minyak

goreng kelapa (coconut oil). Pergeseran posisi tersebut dikarenakan minyak sawit

mentah yang berasal dari pohon kelapa sawit lebih mudah dibudidayakan.

Budidaya kelapa sawit tidak tergantung musim tertentu, lebih tahan hama dan

dapat diusahakan dalam skala besar sehingga dapat mencapai skala ekonomi

tertentu.

Perkembangan industri minyak goreng di Indonesia memiliki trend

pertumbuhan yang positif, dengan rata-rata pertumbuhan produksi 10.1 persen per

tahun dan pertumbuhan konsumsi 7.5 persen per tahun. Pada tahun 1998 total

produksi minyak goreng Indonesia mencapai angka 5.9 juta ton dan tahun 2008

telah-mencapai-15.5-juta-ton.--Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan

permintaan minyak goreng, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 7.5-persen-per

tahun.

Perkembangan produksi, konsumsi dan harga minyak goreng sawit

(47)

Gambar 3. Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Harga Minyak Goreng Domestik, 1979-2008

Gejolak harga dan pasokan minyak goreng di dalam negeri terjadi pada

tahun 2007-2008 ketika harga minyak kelapa sawit internasional mengalami

kenaikan tajam (dua kali lipat). Kenaikan harga minyak kelapa sawit dunia ini

sempat mengakibatkan kelangkaan pasokan minyak kelapa sawit di dalam negeri,

yang memicu peningkatan harga minyak goreng. Antisipasi yang dilakukan

pemerintah melalui peraturan bea keluar secara progresif, pengurangan harga jual

dalam negeri dan pengamanan daya beli masyarakat, menstabilkan harga, dan

menjamin kecukupan pasokan di dalam negeri.

Harga minyak goreng pada tahun 2005-2006 masih stabil pada kisaran

Rp-7.000 per liter. Tahun 2007, harga minyak goreng mengalami peningkatan

yang signifikan. Puncak kenaikan harga minyak goreng terj adi pada kuartal II

2008 yang menembus angka Rp 12.471 per liter. Harga minyak goreng dalam

negeri mulai mengalami penurunan pada awal tahun 2009, dimana harga

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 1 97 9 1 98 1 1 98 3 1 98 5 1 98 7 1 98 9 1 99 1 1 99 3 1 99 5 1 99 7 1 99 9 2 00 1 2 00 3 2 00 5 2 00 7 R p /k g 0 0 0 to n

(48)

rata-rata minyak goreng curah bulan Agustus 2009 lebih rendah (turun 14

persen) dibanding harga tahun 2008. Sementara itu, harga rata-rata minyak

goreng kemasan juga mengalami penurunan sebesar 13 persen dibanding

tahun 2008.

Pangsa pasar produk minyak goreng saat ini diperebutkan oleh sekitar 120

produsen lokal yang masih aktif berproduksi dengan kapasitas produksi sebesar

15.5 juta ton. Beberapa konglomerat yang terjun dalam bisnis perkebunan dan

pengolahan kelapa sawit diantaranya adalah Salim grup (produsen Bimoli),

Sinarmas grup (produsen Filma), Astra grup, Bakrie grup, Musi Mas grup, Hasil

Karsa grup, Bukit Kapur grup dan Raja Garuda Mas, Kelompok di atas memiliki

industri terpadu mulai dari perkebunan sawit, pengolahan CPO dan pabrik minyak

goreng.

Pabrik minyak goreng sawit di Indonesia, tersebar di Sumatera Utara

(30.46 persen), Riau (24.83 persen), DKI Jakarta (13.01 persen), Jawa Timur

(9.62 persen), Sumatera Selatan (7.18 persen), Sulawesi Utara (5.28 persen), Jawa

Barat (3.38 persen), Sumatera Barat (1.97 persen), Lampung (1.74 persen),

Sulawesi Tengah (0.70 persen), Kalimantan Barat (0.64 persen), Jambi (0.59

persen), dan Jawa Tengah (0.59 persen). Dengan ringkas penyebaran minyak

goreng di Indonesia telah berkembang di 13 provinsi. Wilayah terluas terdapat di

Sumatera, diikuti Jawa. Sulawesi dan Kalimantan. Lima provinsi terluas

berturut-turut adalah Sumatera Utara (30.46 persen), Riau (24.83 persen), DKI Jakarta

(13.01 persen), Jawa Timur (9.62 persen) dan Sumatera Selatan (7.18 persen).

Pada Tabel 3 disajikan data 10 pelaku usaha terbesar beserta kapasitas produksi

(49)

Tabel 3. Distribusi Pangsa Pasar dalam Industri Minyak Goreng Sawit di Indonesia

No Pelaku Usaha Kapasitas Produksi (Ton/thn) Market Share ( persen)

1 Wilmar Group (5 perusahaan) 2 819 400 18.27

2 Musim Mas (6 Perusahaan) 2 109 000 13.67

3 Permata Hijau Group (3 Perusahaan) 932 000 6.04

4 PT Smart 713 027 4.62

5 Salim Group 654 900 4.24

6 PT Bina Karya Prima 370 000 2.40

7 PT Tunas Baru Lampung 355 940 2.31

8 BEST Group 341 500 2.21

9 PT Pacific Palmindo Industri 310 800 2.01

10 PT Asian Agro Agung Jaya (RGM Group) 307 396 1.99

11 Lainnya 6 516 037 42.23

Jumlah 15 430 000

Sumber: Departemen Perindustrian, 2010.

Industri hilir kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang

cukup pesat dalam satu dasawarsa terakhir, seiring dengan berkembangnya

perkebunan kelapa sawit domestik. Perkembangan agroindustri hilir kelapa sawit

dipengaruhi oleh kondisi industri minyak sawit yang saling kompetitif. Dalam

perkembangannya sistem agroindustri kelapa sawit domestik mengalami berbagai

tuntutan perubahan strategi untuk menjaga efisiensi, kelangsungan dan efektivitas

operasional sistem agroindustri kelapa sawit itu sendiri. Salah satu strategi

efisiensi dan efektivitas agroindustri kelapa sawit di Indonesia adalah dengan

menerapkan sistem integrasi vertikal sehingga sistem dan subsitem agroindustri

kelapa sawit terintegrasi dan menimbulkan suatu unit usaha yang efisien. Dalam

pola pengusahaan kelapa sawit di Indonesia, sebanyak 68 persen perusahaan

minyak goreng domestik terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit dan 32

(50)

Struktur pasar industri minyak goreng di Indonesia memiliki karakteristik

oligopoli longgar (loose oligopoly) (Ketut, 2010). Meskipun struktur pasar

memiliki karakteristik oligopoli longgar (mendekati persaingan) namun dengan

mencermati data pergerakan harga minyak goreng di tingkat konsumen periode

Januari 2006 – Maret 2009, mengindikasikan bahwa harga perdagangan minyak

goreng di pasar domestik lebih ditentukan oleh kemampuan

perusahaan-perusahaan minyak goreng. Hal ini tercermin dari dua perilaku sebagai berikut:

(1) pada saat terjadi kenaikan harga CPO di pasar dunia, perusahaan minyak

goreng di Indonesia diduga melakukan consious parallelism, dengan cara

menggunakan informasi pasar pergerakan harga input (CPO) internasional dalam

menetapkan harga jual minyak goreng di pasar domestik; dan (2) pada saat terjadi

penurunan harga CPO di pasar dunia, diduga terjadi asymetric price transmission,

yang terlihat dari semakin melebarnya selisih antara harga CPO dengan harga

minyak goreng.

2.3. Perkembangan Kelapa Sawit di Indonesia

Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika Barat, dengan nama botani

Elaeis guineensis Jacq. Tanaman tersebut mulai dikenal pertengahan abad ke-15

dan semakin populer setelah revolusi industri di Eropa pada akhir abad ke-19.

Perdagangan minyak sawit semakin tinggi untuk memenuhi permintaan untuk

bahan pangan dan kebutuhan bahan baku industri sabun di Eropa.

Kelapa sawit di Indonesia diintroduksi pertama kali oleh pemerintah

Belanda pada tahun 1848. Saat itu Johanes Elyas Teysmann yang menjabat

sebagai Direktur Kebun Raya membawa 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa

(51)

Permintaan minyak sawit dunia dan minyak inti sawit semakin meningkat

seiring dengan lahirnya industri margarin (1870), industri minyak pelumas untuk

kereta api serta industri makanan ternak di Eropa. Pada tahun 1830-an, ekspor

minyak sawit Afrika Barat ke Eropa telah mencapai 14.000 ton. Namun kenaikan

permintaan minyak sawit di pasar Eropa tidak mampu diikuti oleh penawaran

minyak sawit dari Afrika Barat sebagai negara produsen utama. Terbatasnya

pasokan ini disebabkan oleh belum adanya pembudidayaan kelapa sawit dan

masih mengandalkan tumbuhan kelapa sawit alam di semak belukar Afrika Barat.

Salah satu sejarah penting yang memiliki kontribusi besar dalam

perkembangan kelapa sawit dunia dikemudian hari adalah introduksi kelapa sawit

ke Indonesia. Pada tahun 1848 Indonesia menerima empat buah bibit kelapa sawit

dari Bourbon dan Amesterdam melalui Hortus Botanicus Amesterdam. Kelapa

sawit tersebut ditanam di Kebun Raya Bogor, dan dari Bogor kemudian disebar ke

Deli-Sumatera Timur. Introduksi tanaman kelapa sawit tersebut tidak ada

kaitannya dengan kelangkaan pasokan minyak sawit dunia. Bahkan pada awalnya

penanaman kelapa sawit di Indonesia bukan untuk tujuan komersil melainkan

untuk tujuan keindahan (ornamental purpose) (Saragih, 1980). Upaya ke arah

komersial baru dimulai dua puluh tahun kemudian oleh pemerintah kolonial

Belanda, yakni dengan dirintisnya perkebunan kelapa sawit di Muara Enim

(1869), Musi Hulu (1870) dan Belitung (1890). Namun upaya ini tidak

berkembang dan kurang mendapat respon penduduk karena tanaman kelapa sawit

dianggap tidak memiliki prospek ekonomi.

Tahun 1911 merupakan sejarah awal perkembangan perkebunan

(plantation) kelapa sawit di Indonesia oleh seorang pengusaha Belgia bernama

(52)

Pengembangan perkebunan ini antara lain didukung oleh pengalaman

internasional dalam produksi minyak sawit. Pembukaan usaha perorangan ini

diikuti oleh K. Schadt (Jerman) di Tanah Itan Ulu (Deli-Sumatera Timur). Luas

areal perkebunan mencapai 5.123 ha.

Berdasarkan penelitian Hallet, "tanaman hias" kelapa sawit di sepanjang

jalan raya Deli memiliki komposisi buah yang jauh lebih banyak dan lebih besar

dibandingkan tanaman aslinya di Afrika Barat serta mengandung potensi minyak

sawit sebesar 30 persen. Dari pengamatan lainnya juga diketahui bahwa tanah dan

iklim Sumatera Utara sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit. Selanjutnya

perkebunan kelapa sawit semakin berkembang terutama oleh investasi

perusahaan-perusahaan asing swasta yang memiliki modal besar, antara lain

Socfin (Prancis dan Belgia) dan HVA (suatu Bank Perkebunan Belanda). Pada

tahun 1938, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mencapai 92.307 ha

(rata-rata 31.68 persen per tahun).

Perkembangan luas areal kelapa sawit Indonesia juga diikuti dengan

perkembangan ekspor CPO Indonesia ke pasar internasional. Pada tahun 1919,

Indonesia mengekspor minyak sawit sebanyak 576 ton. Pada tahun 1940 telah

meningkat hampir lima kali lipat menjadi 250.000 ton pada tahun 1940. Pada

kurun waktu 1919-1940, rata-rata pertumbuhan ekspor minyak sawit Indonesia

mencapai 62.05 persen per tahun.

Pada tahun 1923, ekspor minyak sawit Indonesia baru mencapai 7.000 ton,

atau 3.67 persen dari total ekspor dunia, sedangkan Nigeria memiliki pangsa

67.02 persen dari total ekspor dunia. Pada tahun 1937, Indonesia menjadi negara

pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, yakni sebesar 194 ribu ton, dengan

pangsa 40 persen dari total ekspor minyak sawit dunia. Sedangkan Nigeria

(53)

Pada tahun 1959 dan tahun 1965, ekspor minyak sawit Indonesia menurun

dibanding tahun 1937. Pada tahun 1965 pangsa ekspor CPO Indonesia turun dari

39.11 persen menjadi 23.52 persen, sedangkan Malaysia naik dari 8.67 persen

menjadi 26.39 persen dan menjadi negara pengekspor terbesar kedua setelah

Nigeria. Penurunan ekspor ini terkait erat dengan situasi politik dan ekonomi

Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan perjuangan fisik pasca kemerdekaan.

Tahun 1940 merupakan turning point dalam sejarah perkebunan kelapa

sawit Indonesia. Ekspor minyak sawit Indonesia menurun tajam hingga mencapai

titik terendah pada tahun 1945. Penurunan yang sangat drastis ini dipengaruhi

oleh meletusnya perang dunia II yang segera diikuti oleh pendudukan pemerintah

Jepang di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit

Indonesia relatif terhenti.

Pada tahun 1957-1968 merupakan masa "ambil alih" perkebunan kelapa

sawit, dimana pemerintah mengambil alih seluruh perkebunan milik pemerintah

Belanda, yang kemudian dikenal dengan Perkebunan Negara. Pada tahun 1967,

pemerintah mengembalikan perusahaan swasta asing kepada pemiliknya, seperti

perkebunan milik Inggris, Francis, Belgia dan Amerika. Akibat dari keputusan itu,

101 dari 207 perkebunan asing yang ada di kawasan Sumatera dikuasai oleh

pemerintah Indonesia dibawah sebuah badan bernama Pusat Perkebunan Negara.

Pada tahun 1966, perkebunan kelapa sawit mengalami masa

perkembangan baru yang didukung oleh kondisi politik dan ekonomi yang

semakin stabil sehingga pembangunan dapat dijalankan dengan baik. Selain itu,

terdapat perubahan orientasi pembangunan dari orientasi sosialis ke orientasi

(54)

kondusif bagi pihak swasta untuk berperan dalam pengembangan kelapa sawit

swasta pada tahun-tahun berikutnya.

Uraian di atas menggambarkan pasang surutnya perkebunan kelapa sawit

di Indonesia. Pada periode 1910-1940 perkebunan kelapa sawit berkembang

dengan baik dan menempatkan Indonesia sebagai negara penting dalam

perdagangan minyak sawit dunia. Pada kurun waktu tersebut, perkebunan kelapa

sawit didominasi oleh perusahaan swasta asing. Periode 1940-1958 perkebunan

kelapa sawit Indonesia mengalami masa yang sangat sulit. Disamping itu situasi

politik dan ekonomi Indonesia relatif kurang stabil. Namun manajemen kultur

teknis yang diterapkan kurang terkendali dan produktivitas kelapa sawit menurun

dari 3 ton/ha menjadi 1.9 ton/ha.

Dengan berdirinya Perkebunan Negara, maka bentuk pengusahaan

perkebunan menjadi dua kelompok, yakni Perkebunan Negara dan Perkebunan

Swasta, Perkebunan kelapa sawit Indonesia didominasi oleh Perkebunan Negara,

Periode 1968-kini pembangunan perkebunan kelapa sawit mengalami kemajuan

yang pesat serta memiliki kontribusi nyata dalam perekonomian nasional serta

salah satu sumber devisa negara. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pola

PIR yang mengarah pada kebijakan ekstensifikasi, antara lain : Riau, Sumatera

Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan ke wilayah Luar Sumatera, yakni

Jawa Barat (Banten), Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua.

2.3.1. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia

Perkebunan kelapa sawit Indonesia terdiri atas tiga jenis pengusahaan,

yakni perkebunan negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Luas areal

(55)

Tabel 4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan Jenis Pengusahaan Tahun 1979-2008

Luas Areal Perkebunan (ha) Pangsa Luas Areal (persen) Rakyat Negara Swasta Total Rakyat Negara Swasta 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 3 125 6 175 5 695 8 573 37 043 40 552 118 564 129 904 203 047 196 279 223 832 291 338 384 594 439 46

Gambar

Gambar 2.  Tarif Pajak E
Tabel 2.   Dampak Positif dan Negatif masing-masing Pilihan Kebijakan
Gambar  3.  Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Harga Minyak  Goreng Domestik, 1979-2008
Tabel  3.  Distribusi  Pangsa  Pasar  dalam  Industri  Minyak  Goreng  Sawit  di  Indonesia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kajian perbandingan kualiti udara akibat aktiviti pembakaran jerami padi di Alor Star, Kedah pada Mac 2002 dan 2003 bertujuan untuk melihat sejauh mana pengaruh kepekatan

Hasil penelitian tahap pratindakan terlihat bahwa kemampuan investigasi matematika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Watampone terbukti masih rendah. Dari lima

pengetahun dasar wali santri mempengaruhi bagaimana pemahaman wali santri terhadap proses rehabilitasi di Pondok Pesntren Salafiyah Al Jannatu 'DDUXO 0D¶ZD

Paradigma sehat merupakan suatu strategi baru pembangunan kesehatan yang memandang masalah kesehatan sebagai suatu variable kontinyu, direncanakan dalam suatu system

Secara umum partisipasi dalam pengembang- an sistem akan mempengaruhi keberhasilan dalam pengembangan sistem informasi. Partisi- pasi akan menyebabkan semakin tingginya

Sedangkan berdasarkan pada Tabel 4 menunjukkan nilai korelasi spearman untuk mengetahui adanya hubungan antara perilaku caring dengan Tingkat Kepuasan pasien di

Mitra Pinasthika Mustika Motor Pekanbaru berada pada kategori netral, artinya penerapan insentif ini dirasakan oleh karyawan belum cukup memuaskan secara maksimal

Sistem Pengolahan Air Limbah Skala Kawasan berbasis masyarakat. Tragih