DAMPAK PAJAK
INDUSTR
JAN
SE
INST
K EKSPOR CRUDE PALM OIL TERH
RI MINYAK GORENG INDONESIA
DISERTASI
AN HORAS VERYADY PURBA
SEKOLAH PASCASARJANA
STITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam
disertasi saya yang berjudul:
DAMPAK PAJAK EKSPOR CRUDE PALM OIL TERHADAP
INDUSTRI MINYAK GORENG INDONESIA
merupakan gagasan atau hasil penelitian disertasi saya sendiri, dengan bimbingan
Komisi Pembimbing, kecuali yang jelas ditunjukkan rujukannya. Disertasi ini
belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada progam sejenis di Perguruan
Tinggi lain. Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, Februari 2012
ABSTRACT
JAN HORAS VERYADY PURBA. The Impact of Export Tax-Crude Palm Oil on
Cooking Oil Industry in Indonesia. (SRI HARTOYO as Chairman, BUNGARAN
SARAGIH and HARIANTO as Members of the Advisory Committee)
Oil palm industry has a very important role to perform in development of Indonesian national economy. These commodities, and specifically Crude Palm Oil (CPO), have contributed immensely to the Gross Domestic Product (GDP) of Indonesia, increased international and national trade, created various forms of employment, led to growth in production and areal development, and improved the living standards as well as the financial status of the local people. Indonesia is one of the highest CPO producers in the world. The world CPO production has grown steadily and relatively faster as compared to other oil yielding crops. Export growth of Indonesian CPO can be attributed to three factors: world demand factor, product and market effects and competitiveness effects. The world demand factor reflects growth in exports that can be attributed to rising international demand, i.e. the stronger global import demand, the stronger the country’s export growth. Due to the importance of the crude palm oil to the Indonesian economy, and the world over, the Indonesian government decided to impose export tax on its CPO. Therefore, the goal of the research is to find out the impact of the CPO export tax on Indonesian cooking oil industry. The findings of the study show that export tax had been proven to be effective in controlling domestic cooking oil price, which otherwise would provide the supply more of the raw material for domestic cooking oil. With this policy, the government had been successful to keep the cooking oil price down when the world CPO price increased. The implementation of tax policy should be considered to improve the competitiveness of Indonesian CPO in the world market, and allocate the government revenue to develop the supply side of Indonesian oil palm industry. There should be an increase in investment to improve the oil palm productivity.
RINGKASAN
JAN HORAS VERYADY PURBA. Dampak Pajak Ekspor Crude Palm Oil terhadap Industri Minyak Goreng Indonesia. (SRI HARTOYO sebagai Ketua, BUNGARAN SARAGIH dan HARIANTO, sebagai Anggota Komisi Pembimbing)
Pajak ekspor (PE) merupakan salah satu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai instrumen untuk menghambat laju ekspor dan untuk meningkatkan penerimaan Negara. Kebijakan PE sudah dimulai sejak tahun 1978 melalui SKB Mendagkop, Menteri Pertanian dan Menperindag, yang mengatur alokasi bagi kebutuhan dalam negeri serta menetapkan harga penjualan CPO di dalam negeri. Tahun 1991-1994 pemerintah mencabut SKB tersebut dan membebaskan perdagangan dan ekspor CPO. Tahun 1994-1997 Menteri Keuangan menetapkan pajak ekspor progresif bagi CPO dan produk derivatifnya, dan menetapkan pajak ekspor 40 persen hingga 60 persen. Tahun 1998 (Januari sampai April) pemerintah melakukan larangan ekspor CPO, dan kemudian menerapkan pajak ekspor dari 15 persen hingga 40 persen. Selanjutnya pemerintah menetapkan pajak ekspor progresif berdasarkan harga CPO di pasar dunia yang mengalami perubahan dari watu ke waktu. Tahun 2007 Menteri Keuangan menetapkan tarif pajak ekspor dari 0 persen (harga di bawah US$ 550 per ton hingga 10 persen (harga di atas US$ 850 per ton) dengan SK Nomor 61/PMK 011/2007. Tahun 2008, harga CPO dunia cenderung meningkat tajam hampir dua kali lipat dari kisaran US$ 600 per ton menjadi 1300 USD per ton, sehingga Menteri Keuangan menerbitkan SK Nomor 223/PMK.011/2008 yang menetapkan tarif pajak ekspor dari 0 persen hingga 25 persen.
Tujuan pengenaan pajak ekspor CPO antara lain adalah untuk menjamin kebutuhan dalam negeri, antisipasi kenaikan harga di pasar internasional dan menjaga stabilitas harga dalam negeri. Berdasarkan beberapa hasil studi terdahulu, pengenaan pajak ekspor dapat menahan laju ekspor CPO untuk melindungi ketersediaan bahan baku CPO pada industri hilir minyak goreng domestik.
Minyak sawit juga memiliki peran penting dalam memenuhi permintaan CPO di pasar dunia. Global excess demand di pasar CPO dunia mengakibatkan permintaan dunia naik dan harga CPO di pasar internasional juga meningkat. Terdapat kecenderungan para eksportir domestik mengekspor CPO dalam jumlah yang sangat besar. Hal tersebut berdampak negatif terhadap ketersediaan pasokan CPO untuk bahan baku industri minyak goreng di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan industri hilir di dalam negeri adalah dengan menerapkan kebijakan pajak ekspor (bea keluar).
Penelitian ini menghasilkan temuan, bahwa pajak ekspor merupakan salah satu instrumen kebijakan yang efektif mengontrol harga minyak goreng domestik. Pengenaan pajak ekspor berpengaruh negatif terhadap volume ekspor CPO Indonesia dan berdampak positif dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku CPO untuk industri minyak goreng. Selanjutnya dengan bertambahnya bahan baku CPO sebagai input bagi industri minyak goreng, maka penawaran minyak goreng domestik meningkat dan selanjutnya mempengaruhi stabilitas harga minyak goreng sawit domestik. Pengenaan pajak ekspor menurunkan daya saing ekspor Indonesia dan berdampak negatif bagi produsen, karena petani menerima harga yang lebih rendah dan berdampak pada penurunan luas areal produktif serta penurunan produksi CPO domestik. Dengan demikian, pajak ekspor berdampak negatif terhadap industri hulu kelapa sawit Indonesia. Hal ini penting ditekankan karena memiliki dampak jangka panjang bagi sub sistem hulu agribisnis kelapa sawit Indonesia, dimana pola kepemilikan terbesar kelapa sawit Indonesia saat ini adalah perkebunan rakyat dan 68 persen diantaranya adalah petani swadana (independent farmer)
CPO merupakan komoditas strategis nasional dan memiliki orientasi ekspor yang sangat kuat, untuk memenuhi permintaan minyak sawit di pasar dunia, dan salah satu sumber terbesar minyak nabati dunia. Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan:
1. Perilaku ekspor CPO Indonesia maupun Malaysia dipengaruhi oleh faktor permintaan CPO dunia, baik konsumsi maupun impor CPO dunia (world demand pull factor) dan Indonesia memiliki prospek yang baik di masa mendatang karena laju permintaan CPO dunia lebih besar dari laju penawaran. Excess demand di pasar global tersebut merupakan faktor yang menyebabkan peningkatan harga CPO di pasar global. Peningkatan harga CPO dunia akan mendorong peningkatan produksi dan ekspor CPO di negara produsen; 2. Perilaku impor RRC, India dan Uni Eropa menunjukkan bahwa peubah
produk domestik bruto memiliki pengaruh yang kuat dan dominan dalam permintaan impor CPO masing-masing Negara. Disamping itu, permintaan impor CPO bersifat income elastic¸ dimana pendapatan per kapita berpengaruh positif terhadap permintaan impor CPO di negara yang bersangkutan;
3. Harga keseimbangan CPO dunia dipengaruhi oleh impor CPO dunia dan CPO dunia. Harga CPO dunia memiliki pengaruh positif terhadap peubah harga CPO di pasar domestik, sementara itu peubah harga CPO di pasar domestik memiliki dampak yang luas bagi industri hulu dan hilir kelapa sawit Indonesia. Peningkatan harga CPO domestik akan mendorong perkembangan industri hulu kelapa sawit Indonesia.
© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-undang.
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik dan tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau
DAMPAK PAJAK EKSPOR CRUDE PALM OIL TERHADAP
INDUSTRI MINYAK GORENG INDONESIA
JAN HORAS VERYADY PURBA
Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:
1. Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor
2. Dr. Ir. Henny Daryanto, MS
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor
Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka:
1. Dr. Ir. Handewi Purwati Saliem, MS
Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pertanian, Bogor.
2. Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, MEc.
Judul Disertasi : Dampak Pajak Ekspor Crude Palm Oil terhadap Industri Minyak Goreng Indonesia
Nama Mahasiswa : Jan Horas Veryady Purba
Nomor Pokok : A. 161040061
Program Studi : Ilmu Ekonomi Pertanian
Menyetujui,
1. Komisi Pembimbing
Dr. Ir. H. Sri Hartoyo, MS Ketua
Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, MEc Dr. Ir. Harianto, MS Anggota Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Program Studi 3. Dekan Sekolah Pascasarjana, Ilmu Ekonomi Pertanian IPB
Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr
KATA PENGANTAR
Pertama-tama penulis panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang maha
kuasa karena atas rahmat-Nya disertasi ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan
ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus
kepada yang terhormat Bapak Dr. Ir. H. Sri Hartoyo, MS, sebagai Ketua Komisi
Pembimbing yang telah memberikan curahan waktu, bimbingan, arahan, nasehat
dengan penuh kesabaran, serta memberikan dorongan moral kepada penulis
hingga selesainya penulisan disertasi ini. Penghargaan dan ucapan terima kasih
yang tak terhingga kepada Anggota Komisi Pembimbing - Bapak Prof. Dr.
Dr(HC). Ir. Bungaran Saragih, MEc. atas segala kebaikan yang diberikan selama
bertahun-tahun sejak penulis berada di Bogor (1984), yang memotivasi penulis
untuk melanjutkan studi S-2 serta memberikan dorongan, nasihat dan bantuan
moral dan materiil dalam studi S-3 ini. Terima kasih yang sebesarnya kepada
Bapak Dr. Ir. Harianto, MS. selaku Anggota Komisi Pembimbing atas semua
bimbingan yang diberikan dengan penuh kesabaran, saran, motivasi dan perhatian
yang penuh kasih kepada penulis untuk menyelesaikan disertasi ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada Rektor Institut
Pertanian Bogor, yang memberikan kesempatan kepada penulis memperoleh
pendidikan Strata 1 hingga Strata 3 di IPB, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB,
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Ketua Program Studi Ekonomi
Pertanian Bapak Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA. – yang memberikan banyak
perhatian kepada mahasiswa EPN, serta motivasi dan nasihat yang sangat
berharga. Banyak kebaikan yang diberikan selama menjabat Ketua Program Studi
EPN, serta memberikan masukan dan koreksi untuk lebih menyempurnakan
Hartoyo, MS yang selalu penuh kesabaran memberikan banyak nasehat dan
dorongan kepada Penulis dalam penyelesaian studi ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. M. Parulian
Hutagaol, MS. dan Ibu Dr. Ir. Henny Daryanto, MS. selaku penguji sidang
tertutup dan kepada Ibu Dr. Ir. Handewi Purwati Saliem, MS. (Kepala Pusat
Analisis Sosek dan Kebijakan Pertanian) dan Bapak Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim,
MEc. selaku penguji sidang terbuka, serta kepada Bapak Ibu Dosen pada Program
Studi Ekonomi Pertanian.
Secara khusus, penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof Dr. Ir.
Rudolf S. Sinaga, MSc., dosen pembimbing Skripsi ketika menempuh pendidikan
di S-1 Sosek IPB.
Penghargaan dan terima kasih kepada Ketua Umum Yayasan Kesatuan –
Bapak Drs. Suherdy Arno, Ibu Ir. Luana Manikoe beserta seluruh Pengurus
Yayasan Kesatuan, khususnya Bapak Ketua Pembina Yayasan Kesatuan atas
seluruh dukungan yang telah diberikan, juga terima kasih atas kehadiran Bapak
Prof Dr. Ir. Satari, MSc, Bapak Dr. Fred Rumawas, dan Bapak Dr. Ir. Biakman
Irbansyah pada saat Sidang Ujian Terbuka di IPB Darmaga.
Terima kasih kepada Bapak Dr. Drs. H. Moermahadi Soerja Djanegara,
Ak., MM. (Ketua STIE Kesatuan periode 1995-2009), Bapak Iriyadi Ak.,
M.Comm. (Pjs. Ketua STIE Kesatuan 2009/2010) dan Bapak Dr. Bambang
Pamungkas, Ak., MBA, (Ketua STIE Kesatuan periode 2010-2014) – atas izin
dan kesempatan yang diberikan kepada Penulis untuk menempuh pendidikan S-3
di IPB serta bantuan dana pendidikan dalam penyelesaian disertasi ini.
Terima kasih yang sedalamnya kepada Bapak Prof. Dr. Eddy Mulyadi
Soepardi, MM., SE., Ak. yang senantiasa menaruh perhatian dan dorongan kepada
materil. Terima kasih kepada Bapak Dr. Rizal Djalil, MM. yang juga memberikan
dukungan moral dan materil kepada penulis, termasuk menjembatani akses
memperoleh data ke Bank Indonesia, dan bentuk support lainnya, serta kepada
Bapak Dr. Hari Gursida yang memberikan dorongan bagi penulis dalam
menempuh pendidikan ini.
Penghargaan dan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Ir.
Nusa Muktiadji, MM, rekan struktural di STIE Kesatuan Bogor dan para Kepala
Sekolah di Sekolah Kesatuan Bogor dan para dosen di STIE Kesatuan dan di
Universitas Pakuan Bogor, serta Bapak Dosen STIEK yang hadir pada sidang
ujian terbuka – Pak Angga, MM., Pak Hastoni, MM, Pak Yoyon, Sdr Farhan serta
rekan staf dosen lainnya.
Penulis juga menghaturkan terima kasih kepada Staf dan Pegawai
Perpustakaan di Bank Indonesia Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta,
Agro Ekonomi Bogor, Puslit Perkebunan Bogor, dan Staf Perpustakaan Institut
Pertanian Bogor, dan para narasumber Bapak Dr. Bambang Drajat dari LRPI
Bogor, juga kepada Bu Rubi, Bu Yani, staf EPN, Bagian Layanan
Kemahasiswaan Pascasarjana IPB serta kepada seluruh pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu, atas segala waktu, pengetahuan, dan saran yang
diberikan kepada penulis selama mengumpulkan data dan informasi di lapangan
serta segala sesuatu yang mendukung penyelesaian studi ini.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Departemen Pendidikan
Nasional – Dirjen Dikti dan Kopertis Wilayah IV Jabar-Banten, atas bantuan
beasiswa BPPS selama 3 tahun (2004-2007).
Terima kasih kepada Abang Dr. Sabarman Damanik, APU. dan keluarga,
yang banyak memberikan dorongan serta doa yang tak pernah henti dan dukungan
Sipayung, Dr. Edwin Sanso Saragih dan Dr. Maijon Purba, Dr. Sirman Purba, dan
Dr. Surya Abadi Sembiring atas perhatian, dorongan dan doa yang tulus yang
diberikan serta kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang
telah membantu penulis sampai selesainya desertasi ini, disampaikan terimakasih.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bu Lies Volianti -
Staf Yayasan Kesatuan yang memberikan banyak dorongan dan semangat serta
rekan-rekan di TUP Sekolah Kesatuan, para sahabat di Universitas Pakuan, Bapak
Dr. Aang Munawar, Bapak Herdiyana, Bapak Hari Muharam yang keduanya
sedang tahap akhir penyelesaian Program Doktor, rekan-rekan mahasiswa dan
alumni Sekolah Pascasarjana Program Studi Ekonomi Pertanian IPB atas
kebersamaan dan dukungan selama menempuh pendidikan.
Rasa hormat dan terima kasih yang sangat dalam kepada Ayahanda
Djasminer Purba dan Ibunda Sarlide Saragih, dan seluruh Keluarga Besar Jl
Mufakat Kiri Pematang Siantar, yang kasih sayang, doa dan dorongan semangat,
khususnya Lawei Drs. Jan Wiserdo Saragih. Secara khusus, kepada istri tercinta
Mintauli Saragih atas doa, pengorbanan, kesabaran, pengertian, ketabahan, dan
dorongan semangat yang telah diberikan selama penulis menempuh pendidikan.
Kepada ananda Evandeo Adipatra Purba dan ananda Jeremy Hans Immanuel
Purba, penulis sampaikan agar studi ini dapat memberikan inspirasi untuk
menempuh pendidikan kedua ananda lebih lanjut.
Penulis menyadari bahwa desertasi ini bukanlah karya yang sempurna, dan
penulis menerima dengan baik kritik atau saran dari semua pihak untuk
menyempurnakan desertasi ini. Akhirnya, semoga desertasi ini dapat bermanfaat
bagi yang berkepentingan.
Bogor, Februari 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pematang Siantar-Sumatera Utara, pada tanggal 11
Pebruari 1965, putra pertama dari Bapak Djasminer Purba dan Ibu Sarlide
Saragih. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di Pematang Siantar, yakni
di SD GKPS (1972-1977), SMP Negeri I (1978-1981) dan SMA Negeri II
(1981-1984). Tahun 1984 melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor melalui Proyek
Perintis II dan tahun 1985 duduk di Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial
Ekonomi, Fakultas Pertanian - Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1989.
Tahun 1995, penulis meneruskan pendidikan Strata-2 di Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor, Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, lulus dengan
gelar Magister Sains dalam bidang Ekonomi Pembangunan pada tahun 2000.
Pada tahun 2004, penulis melanjutkan Program Doktor pada Sekolah
Pascasarjana, Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Setelah lulus sarjana S-1, penulis bekerja pada sebuah perusahaan swasta
bidang pertanian (Mix Farming) di Jonggol. Sejak tahun 1994, penulis bekerja
sebagai dosen pada sebuah Universitas swasta di Bogor, dan sejak tahun 1996
penulis bekerja sebagai dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)
Kesatuan Bogor. Disamping itu aktif sebagai konsultan sejak 2000 hingga 2007.
Penulis pernah menjabat sebagai Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masarakat) STIE Kesatuan (2003-2007), Direktur Sekolah Kesatuan
(2007-2012), dan sejak 2008 dosen Magister Manajemen (S2) pada Program
Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor.
Pada tahun 1992, penulis menikah dengan Mintauli Saragih, dan
dikaruniai dua orang putera: EvanDeo Adipatra Purba (1994) dan Jeremy Hans
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xxiv
DAFTAR GAMBAR ... xxvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xxvii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 8
1.5. Novelty ... 8
1.6. Keterbatasan Penelitian ... 9
II. GAMBARAN UMUM PAJAK EKSPOR, MINYAK GORENG DAN KELAPA SAWIT DOMESTIK DAN MINYAK SAWIT
DUNIA ... 10
2.1. Kebijakan Pemerintah pada Komoditas CPO ... 10
2.2. Industri Minyak Goreng Sawit Indonesia... 14
2.3. Perkembangan Kelapa Sawit Indonesia ... 18
2.3.1. Luas Areal Kelapa Sawit Indonesia ... 22
2.3.2. Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia ... 25
2.4. Ekonomi Minyak Sawit Dunia ... 28
2.4.1. Produksi Minyak dan Lemak Dunia ... 28
2.4.2. Konsumsi Minyak dan Lemak Dunia ... 32
2.4.3. Perdagangan Minyak Utama di Pasar Dunia ... 34
III. TINJAUAN PUSTAKA ... 36 3.1. Hasil Penelitian Beberapa Model Komoditas ... 36
3.1.1. Respon Penawaran ... 36
3.1.2. Eflsiensi Ekonomi Relatif ... 38
3.1.3. Open Economy: Perdagangan Internasional Minyak
3.1.4. Daya Saing Minyak Sawit Indonesia di Pasar
Internasional ... 42
3.1.5. Disagregasi Wilayah dan Pola Pengusahaan ... 44
3.1.6. Pajak Ekspor ... 44
3.1.7. Minyak Goreng Sawit Domestik ... . 45
3.2. Kontribusi Penelitian Empiris ... 51
IV. KERANGKA PEMIKIRAN ... 52
4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 52
4.1.1. Pajak Ekspor ... 54
4.1.2. Teori Penawaran Ekspor CPO Indonesia ... 55
4.1.3. Teori Penawaran Minyak Goreng Sawit Indonesia ... 57
4.1.4. Teori Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia ... 58
4.1.5. Teori Nilai Tukar ... 59
4.1.6. Elastisitas ... 60
4.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 63
V. PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS ... 65
5.1. Model Ekonometrika Industri Kelapa Sawit Indonesia ... 65
5.1.1. Areal Tanam Produktif Kelapa Sawit dan Produksi
CPO Indonesia ... 66
5.1.2. Pasar Minyak Sawit Dunia ... 69
5.1.3. Industri Minyak Goreng Domestik ... 72
5.2. Identifikasi Model ... 73
5.3. Metoda Pendugaan Model ... 73
5.4. Prosedur Penerapan Model ... 74
5.5. Simulasi Kebijakan Historik ... 77
VI. DAMPAK PAJAK EKSPOR TERHADAP INDUSTRI MINYAK GORENG DOMESTIK DAN ANALISIS PASAR CPO
INDONESIA ... 79
6.1. Hasil Pendugaan Model ... 79
6.1.1. Areal Tanam Produktif Kelapa Sawit dan Produksi CPO Indonesia ... 80
6.1.2. Analisi Pasar Global CPO ... 85
6.2. Pembahasan ... 103
6.2.1. Dampak Pajak Ekspor terhadap Industri Minyak Goreng Domestik ... 103
6.2.2. Pasar CPO Dunia ... 109
6.2.3. Analisis Simulasi Kebijakan dalam Industri Kelapa
Sawit Indonesia ... 112
VII. ANALISIS SIMULASI KEBIJAKAN ... 114
7.1. Validasi Model ... 114
7.2. Hasil dan Penjelasan Simulasi Kebijakan ... 115
7.2.1. Kebijakan Internal ... 116
7.2.2. Dampak Perubahan Eksternal ... 124
VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 130
8.1. Kesimpulan ... 130
8.2. Saran ... 133
8.3. Saran Penelitian Lanjutan ... 134
DAFTAR PUSTAKA ... 135
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Perkembangan Kebijakan CPO di Indonesia ... 11
2. Dampak Positif dan Negatif masing-masing Pilihan Kebijakan ... 12
3. Distribusi Pangsa Pasar dalam Industri Minyak Goreng Sawit di
Indonesia ... 17
4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan
Jenis Pengusahaan Tahun 1979-2008 ... 23
5. Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan Jenis
Pengusahaan Tahun 1979-2008 ... 27
6. Negara Eksportir dan Importir Minyak Utama Dunia Tahun 2010 . 35
7. Ringkasan Penelitian Terdahulu tentang Kelapa Sawit ... 47
8. Simulasi Internal dan Eksternal ... 78
9. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Areal Produktif Sawit ... 80
10. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Permintaan CPO untuk
Minyak Goreng Domestik ... 82
11. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Harga CPO Domestik ... 84
12. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Ekspor CPO Indonesia ... 86
13. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Ekspor CPO Malaysia ... 89
14. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO Malaysia ... 91
15. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO RRC ... 92
16. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO India ... 94
17. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Impor CPO Uni Eropa ... 95
18. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Harga CPO Dunia... 96
19. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Permintaan Minyak
Goreng ... 98
20. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Produksi Minyak Goreng .... 100
21. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Harga Minyak Goreng
Sawit ... 101
22. Perbandingan Beberapa Penelitian Pengenaan Pajak Ekspor ... 105
23. Distribusi Kesejahteraan dengan adanya Pengenaan Pajak Ekspor
CPO ... 106
25. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Pajak
Ekspor sebesar 22.5 persen ... 116
26. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Suku
Bunga sebesar 10 persen ... 117
27. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Pajak
Ekspor sebesar 22.5 persen dan Suku Bunga 10 persen ... 119
28. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Nilai
Tukar Naik 8.82 persen ... 121
29. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Pendapatan per
Kapita Naik 5 persen ... 123
30. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Produk Domestik
Bruto RRC Naik 10 Persen ... 124
31. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Produk Domestik
Bruto India Naik 5 persen ... 126
32. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Produk Domestik
Bruto Uni Eropa Turun 10 persen ... 127
33. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Impor CPO Dunia
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Perkembangan Harga Minyak Goreng Sawit Tahun 1979-2008 ... 2
2. Tarif Pajak Ekspor CPO Berdasarkan SK Nomor
223/PMK.011/2008 ... 3
3. Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Harga Minyak Goreng
Domestik, 1979-2008 ... 15
4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan
Jenis Pengusahaan, 1979-2008 ... 24
5. Produksi Minyak Sawit Indonesia Berdasarkan Jenis
Pengusahaan, 1979-2008 ... 26
6. Perkembangan Pangsa Produksi Minyak Kedele dan Minyak
Sawit Dunia ... 29
7. Ekspor CPO Indonesia dan Malaysia, 1979-2007 ... 31
8. Perdagangan Minyak Utama Dunia Tahun 2010 ... 34
9. Perkembangan Penelitian Terdahulu dan Kontribusi Penelitian ... 51
10. Pengaruh Kenaikan Pajak Ekspor terhadap Ekspor dan Harga
Minyak Goreng Domestik ... 52
11. Pengaruh Perubahan Nilai Tukar terhadap Harga dan Volume
Perdagangan ... 59
12. Kerangka Pemikiran Operasional ... 64
13. Diagram Keterkaitan Pasar CPO Domestik, Pasar CPO Dunia dan Industri Minyak Goreng Domestik ... 66
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Perkembangan Pangsa Minyak Kedele dan Minyak Sawit Tahun
1961-2010 ... 141
2. Daftar Nama Peubah ... 142
3. Identifikasi Model ... 145
4. Program Estimasi Model Penelitian dengan Metode Two Stages
Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 ... 146
5. Hasil Estimasi Model Penelitian dengan Metode Two Stages
Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 ... 147
6. Program Simulasi Dasar Model Penelitian dengan Metode Two
Stages Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 .. 160
7. Hasil Simulasi Dasar Model Penelitian dengan Metode Two
Stages Least Squares (2SLS) dengan Software SAS/ETS ver. 9.1 .. 162
8. Hasil Simulasi Kebijakan dengan Metode Two Stages Least
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebelum dan sesudah krisis ekonomi tahun 1998, harga minyak sawit
(Crude Palm Oil=CPO) dunia rata-rata berkisar US$ 341 hingga US$ 358 per ton.
Namun sejak tahun 2007 harga CPO dunia meningkat dua kali lipat hingga
mencapai US$ 719.13 per ton dan mendekati US$ 1.200 per ton pada tahun 2010.
Gejolak harga CPO tersebut secara faktual mempengaruhi harga minyak goreng di
pasar domestik dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 12.900 per kg. Hal ini dapat
dijelaskan karena 80 persen biaya produksi pengolahan minyak goreng sawit
merupakan biaya input (bahan baku) CPO. Pada masa krisis tahun 1997-2000,
terjadi fluktuasi yang sangat tajam, kemudian sejak tahun 2000 harga riel minyak
goreng sawit cenderung mereda setiap tahun.
Melonjaknya harga minyak goreng sawit di atas dipengaruhi oleh
meningkatnya konsumsi minyak goreng domestik sebesar 12.42 persen per tahun.
Tahun 2000 permintaan minyak goreng domestik mencapai 2.84 juta ton dan
tahun 2008 meningkat dua kali lipat menjadi 5.71 juta ton. Disamping itu,
terdapat perubahan struktur konsumsi minyak goreng dari minyak kelapa (coconut
oil) ke minyak goreng sawit (palm oil) di Indonesia (Sinaga dan Ardana, 2004).
Industri minyak goreng saat ini didominasi oleh minyak goreng sawit dan tidak
dapat dipenuhi dari sumber minyak kelapa. Untuk mengatasi hal tersebut,
pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan ekspor minyak sawit (crude
palm oil=CPO) untuk mengamankan ketersediaan bahan baku industri hilir
domestik dan menjaga harga minyak goreng sawit berada pada level yang dapat
ekspor). Fakta empiris menunjukkan pengenaan pajak ekspor mampu menurunkan
harga minyak goreng domestik sebagaimana disajikan pada Gambar 1.
Sumber: Kelapa Sawit, Dirjen Perkebunan RI (diolah)
Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Goreng Sawit Tahun 1979-2008
Pajak ekspor (PE) merupakan salah satu Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP) yang memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai instrumen untuk
menghambat laju ekspor dan untuk meningkatkan penerimaan Negara. Kebijakan
PE sudah dimulai sejak tahun 1978 melalui SKB Mendagkop, Menteri Pertanian
dan Menperindag, yang mengatur alokasi bagi kebutuhan dalam negeri serta
menetapkan harga penjualan CPO di dalam negeri. Tahun 1991-1994 pemerintah
mencabut SKB tersebut dan membebaskan perdagangan dan ekspor CPO. Tahun
1994-1997 Menteri Keuangan menetapkan pajak ekspor progresif bagi CPO dan
produk derivatifnya, dan menetapkan pajak ekspor 40 persen hingga 60 persen.
Tahun 1998 (Januari sampai April) pemerintah melakukan larangan ekspor CPO,
dan kemudian menerapkan pajak ekspor dari 15 persen hingga 40 persen.
Selanjutnya pemerintah menetapkan pajak ekspor progresif berdasarkan harga
CPO di pasar dunia yang mengalami perubahan dari watu ke waktu. Tahun 2007
-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 1 9 7 9 1 9 8 1 1 9 8 3 1 9 8 5 1 9 8 7 1 9 8 9 1 9 9 1 1 9 9 3 1 9 9 5 1 9 9 7 1 9 9 9 2 0 0 1 2 0 0 3 2 0 0 5 2 0 0 7 Rp/ k g
Harga Nominal Harga Riel
Harga Riel
Menteri Keuangan mene
US$ 550 per ton hingga
Nomor 61/PMK 011/20
tajam hampir dua kali li
ton, sehingga Menteri
yang menetapkan tarif p
disajikan pada Gambar 2
Gambar 2. Tarif Pajak E
Tujuan pengenaa
kebutuhan dalam neger
menjaga stabilitas harga
Berdasarkan beberapa h
menahan laju ekspor CP
industri hilir minyak g
menunjukkan pengenaa
persen pada Oktober 199
menetapkan tarif pajak ekspor dari 0 persen (harga
gga 10 persen (harga di atas US$ 850 per ton) d
2007. Tahun 2008, harga CPO dunia cenderung
i lipat dari kisaran US$ 600 per ton menjadi 1300
ri Keuangan menerbitkan SK Nomor 223/PMK
f pajak ekspor dari 0 persen hingga 25 persen seb
r 2.
k Ekspor CPO Berdasarkan SK Nomor 223/PMK.
naan pajak ekspor CPO antara lain adalah untuk
eri, antisipasi kenaikan harga di pasar internas
rga dalam negeri. (Pasal 2 ayat 2 PP No 35 tah
hasil penelitian terdahulu, pengenaan pajak ek
CPO untuk melindungi ketersediaan bahan baku
goreng domestik. Hasan, Reed dan Marcha
aan pajak ekspor menurunkan laju ekspor seb
994 dan 64.4 persen pada Desember 1994.
rga di bawah
) dengan SK
g meningkat
00 USD per
K.011/2008
sebagaimana
K.011/2008
uk menjamin
nasional dan
tahun 2005).
ekspor dapat
u CPO pada
hant (2001)
Pengenaan pajak ekspor tidak terlepas dari fenomena perkembangan
ekspor CPO domestik. Pertumbuhan ekspor CPO Indonesia dipengaruhi oleh tiga
faktor: (1) faktor permintaan CPO di pasar dunia, (2) perkembangan produksi dan
pasar CPO domestik dan (3) pengaruh daya saing (competetiveness) CPO
Indonesia (Obado, Syaukat dan Siregar, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa CPO
terkait erat dengan sub sistem hulu (areal dan produksi CPO), perdagangan dan
ekspor hingga industri hilir.
Dalam keseimbangan supply-demand minyak sawit Indonesia terdapat
kecenderungan orientasi ekspor yang semakin tinggi dengan laju 15.44 persen per
tahun, dan hal ini terlihat nyata sejak era reformasi tahun 1998. Sebelumnya pada
tahun 1979-1997 proporsi ekspor CPO domestik adalah 40 persen dari total
produksi sedangkan pasca reformasi (1998 hingga kini) proporsi ekspor telah
mencapai 63 persen dari total penawaran CPO domestik.
Peningkatan ekspor CPO domestik tersebut tidak terlepas dari
meningkatnya permintaan CPO di pasar internasional karena CPO memiliki peran
yang semakin besar di pasar internasional untuk memenuhi permintaan oil and fat
dunia (Basiron, 2002); dan Pasquali (1993) memproyeksikan tingkat pertumbuhan
CPO lebih tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Proyeksi Pasquali
tersebut ternyata terbukti, dimana pada tahun 2010 proporsi konsumsi minyak
sawit telah mengungguli minyak kedele di pasar dunia (Lampiran 1) dengan
pangsa masing-masing 28.01 persen dan 23.77 persen (Oil World, 2010). Laju
konsumsi minyak sawit relatif lebih tinggi (70 persen) dibandingkan dengan
minyak kedele (54 persen) dalam kurun 1995-2002, dan pada tahun 2020
konsumsi minyak sawit dunia diperkirakan akan mencapai 67 juta ton pada tahun
Peningkatan konsumsi tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya
jumlah penduduk, pendapatan per kapita, serta permintaan minyak sawit dunia
untuk bahan baku industri di Uni Eropa, dan juga meningkatnya permintaan impor
CPO oleh negara India dan RRC. Permintaan CPO di pasar dunia diperkirakan
terus meningkat di masa depan. Hal itu antara lain disebabkan oleh meningkatnya
permintaan negara-negara di dunia yang mulai menggunakan komoditas tersebut
untuk biodiesel. Produk energi itu relatif ramah lingkungan dan bisa menggantikan
bahan bakar konvensional. Tingginya permintaan CPO itu mengakibatkan harga di
pasar dunia meningkat tajam.
Uraian di atas menunjukkan keterkaitan satu sama lain, baik CPO di pasar
domestik maupun CPO di pasar internasional. Domestic excess demand mendorong
kenaikan harga CPO di pasar domestik rata-rata 2.26 persen per tahun, dan harga
sebagai signal pasar mendorong pertumbuhan luas areal kelapa sawit Indonesia,
terutama oleh petani rakyat (independent farmer) serta perkebunan swasta.
Nurochmat (2010) menyebutkan backward linkage CPO ke industri hulu adalah 1,
artinya terdapat keterkaitan pengembangan CPO yang cukup kuat terhadap
perluasan areal dan pengembangan industri hulu kelapa sawit Indonesia.
Kelebihan permintaan CPO di pasar dunia (global excess demand)
mengakibatkan harga CPO dunia meningkat rata-rata 1.96 persen per tahun dan daya
tarik harga ini merupakan faktor yang mendorong peningkatan ekspor CPO
Indonesia. Hal ini berdampak pada berkurangnya ketersediaan CPO untuk industri
minyak goreng di pasar domestik.
Dari uraian di atas, maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui
dampak pajak ekspor terhadap industri minyak sawit Indonesia, khususnya
industri minyak goreng domestik. Kebijakan pajak ekspor tersebut masih
pajak ekspor yang tinggi justru memperlemah daya saing ekspor Indonesia dan
kehilangan kesempatan memperoleh devisa, dan kebijakan ini tidak memberikan
rangsangan ke sektor hulu (on farm) dan perlu dikaji apakah meningkatkan
kesejahteraan petani.
1.2. Perumusan Masalah
Tingginya permintaan minyak sawit di pasar dunia menyebabkan harga
CPO di pasar internasional meningkat tajam. Melonjaknya harga CPO di pasar
internasional merupakan salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap
gejolak harga di dalam negeri dan mengganggu industri minyak goreng dalam
negeri. Terdapat kecenderungan para eksportir domestik mengekspor CPO dalam
jumlah yang sangat besar. Hal tersebut berdampak negatif terhadap ketersediaan
pasokan CPO untuk bahan baku industri minyak goreng di Indonesia. Untuk
mengatasi hal tersebut, pemerintah memberlakukan kebijakan pajak ekspor (bea
keluar).
Dari sisi perdagangan dunia, ekspor minyak sawit Indonesia bersifat
fluktuatif. Pada tahun 80-an, tujuan ekspor minyak sawit Indonesia sangat
didominasi negara-negara Eropa seperti Belanda (27.51 persen), Jerman (6.98
persen), Italy (5.86 persen), Inggris (2.48 persen). Sejak tahun 1990-an terdapat
pergeseran tujuan ekspor minyak sawit Indonesia. Tujuan ekspor terbesar adalah
negara-negara di Asia (64.4 persen), sedangkan pangsa tujuan ekspor ke Eropa
adalah 22.5 persen dari total ekspor CPO Indonesia. Beberapa negara-negara
penting diantaranya adalah RRC, rata-rata meningkat 17.54 persen per tahun,
diikuti India 15.15 persen per tahun dan negara-negara Uni Eropa 9.44 persen per
tahun. Oleh sebab itu, negara-negara tersebut dipilih secara purposive sebagai
Pasar internasional CPO terintegrasi dengan pasar CPO domestik, sehingga
perubahan harga CPO di pasar internasional akan mempengaruhi industri minyak
sawit dan minyak goreng di pasar domestik. Permasalahan yang ingin dilihat
adalah kajian perdagangan internasional CPO Indonesia yang meliputi ekspor
negara Indonesia dan Malaysia, serta impor oleh negara Cina, India dan Uni
Eropa.
Komoditas CPO merupakan salah satu sumber penting konsumsi minyak
dunia. Karena itu, perubahan yang terjadi di sisi eksternal dan internal akan
mempengaruhi industri kelapa sawit Indonesia. Situasi eksternal yang paling
dominan adalah meningkatnya permintaan impor CPO dunia dan perubahan harga
minyak kedele, sedangkan situasi internal yang cukup penting adalah peubah yang
berpengaruh terhadap kebijakan perluasan areal, ekspor dan konsumsi minyak
goreng domestik. Untuk memahami respon industri kelapa sawit Indonesia
terhadap perubahan yang terjadi di pasar global maupun domestik maka
permasalahan yang ingin dilihat adalah menganalisis dampak perubahan sejumlah
peubah eksogen yang berhubungan dengan industri kelapa sawit Indonesia.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan masalah yang dikemukakan di atas, maka
secara umum tujuan penelitian adalah untuk menganalisis industri kelapa sawit
Indonesia, serta dampak pajak ekspor terhadap industri minyak goreng domestik,
serta menganalisis pasar CPO di pasar domestik dan pasar global.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis dampak pajak ekspor terhadap industri minyak goreng domestik,
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini mencakup dua hal pokok, yakni (1) manfaat
akademis dan (2) manfaat operasional. Dari sisi akademis, penelitian ini
memberikan informasi empiris tentang dampak pajak ekspor terhadap industri
minyak goreng domestik dan juga memberikan informasi ekonomi industri kelapa
sawit Indonesia, yang meliputi industri hulu, hingga hilir (minyak goreng) dan
analisis integrasi harga dan perdagangan internasional CPO. Manfaat operasional
adalah menyajikan informasi dan masukan bagi pemerintah dalam pengenaan
pajak ekspor untuk pengembangan agribisnis kelapa sawit nasional pada masa
mendatang. Disamping itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk penelitian
lanjutan, khususnya peran kelapa sawit untuk memenuhi permintaan energi.
1.5. Novelty
Kajian mengenai pajak ekspor dan kelapa sawit telah banyak dilakukan
yang sebagian besar dalam kajian perdagangan internasional. Susila dan Setiawan
(2001), Hasan, Reed dan Marchant, (2001) dan Obado et al., (2009) mengkaji
dampak penerapan pajak ekspor CPO terhadap industri CPO Indonesia, dan
menyimpulkan bahwa pengenaan pajak ekspor menurunkan daya saing
(competetiveness) ekspor CPO Indonesia, dan juga berdampak pada penurunan
areal dan produksi CPO Indonesia. Munadi (2007) dengan model dinamis ECM
(error correction model) melakukan pengujian sebaliknya, yakni pengurangan
pajak ekspor akan meningkatkan daya saing CPO Indonesia ke India.
Novelty atau kebaruan dari penelitian ini menghasilkan sebuah temuan
yakni pengenaan pajak ekspor mampu menahan laju ekspor untuk mengamankan
kebutuhan bahan baku CPO pada industri hilir minyak goreng di Indonesia,
berdampak positif kepada industri hulu, yang sebagian besar dikelola oleh petani
sawit rakyat (independent farmer). Salah satu solusi dimasa mendatang adalah
perbaikan produktivitas (yield) kelapa sawit Indonesia dan pengalokasian
penerimaan negara dari pajak ekspor untuk meningkatkan produktivitas industri
hulu kelapa sawit Indonesia.
1.6. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan (limitasi) dalam penelitian ini antara lain adalah:
1. Pembahasan dalam studi ini tidak mencakup inti kelapa sawit (palm kernel
oil) karena terbatasnya data. Namun demikian CPO cukup representatif
karena CPO mencakup 80 persen dari seluruh produk kelapa sawit.
2. Sejak tahun 2000, terdapat korelasi yang positif dan kuat antara harga bahan
bakar minyak (BBM) dengan harga CPO di pasar dunia dengan koefisien
korelasi 0.83 (Purba dan Hartoyo, 2010). Jika harga BBM naik maka harga
CPO juga cenderung naik. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan CPO
pada saat ini telah berkembang untuk memenuhi permintaan bahan baku
industri biodiesel. Limitasi dalam penelitian ini, tidak membahas permintaan
CPO untuk biodiesel.
3. Kebijakan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah pengenaan pajak
ekspor, sementara kebijakan (1) alokasi bahan baku untuk pasar domestik dan
II. GAMBARAN UMUM PAJAK EKSPOR, MINYAK
GORENG SAWIT DOMESTIK DAN
MINYAK SAWIT DUNIA
2.1. Kebijakan Pemerintah pada Komoditas CPO
Kebijakan pembatasan ekspor CPO telah dimulai sejak tahun 1978, yakni
dengan diterbitkannya SKB Mendagkop, Menteri Pertanian dan Menperindag
untuk mengatur alokasi kebutuhan CPO dalam negeri dan pengaturan penjualan
CPO di pasar domestik. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh kenaikan harga
minyak goreng di dalam negeri, karena negara mengalami kekurangan pasokan
kopra dan CPO.--Pada tahun 1977-1978 minyak kelapa sawit hanya
diperuntukkan bagi ekspor, namun selanjutnya minyak kelapa sawit mulai
diarahkan untuk memenuhi kekurangan bahan baku minyak goreng dalam negeri
untuk mensubstitusi minyak kelapa dan kopra yang mengalami kelangkaan.
Kebijakan liberalisasi perdagangan tahun 1991 berdampak pada kenaikan
harga minyak goreng dan ekspor CPO dan memicu lonjakan harga minyak goreng
tahun 1994. Untuk mengendalikan keadaan ini pemerintah memberlakukan pajak
ekspor CPO dan hasil olahannya sekitar 40 hingga 75 persen. Implementasi
kebijakan ini hanya berlaku bila harga minyak goreng mencapai Rp 1.250 per kg.
(Rata-rata harga sebelumnya adalah Rp 800 per kg).--Pentingnya peran
pemerintah dalam mengendalikan harga minyak goreng karena harga minyak
goreng memiliki dampak ekonomi yang luas, menimbulkan keresahan masyarakat
miskin dan industri kecil dan mempengaruhi kenaikan harga-harga kebutuhan
pokok lainnya. Jika tidak dikendalikan, maka kenaikan harga minyak goreng juga
merambat pada masalah sosial dan politik. (Susila, 2007). Perkembangan
Tabel 1. Perkembangan Kebijakan CPO di Indonesia
No Periode Surat Keputusan Materi Kebijakan 1 1978-1991 SKB Mendagkop,
Mentan, Menperindag 275/KPB/XII/1978 764/Kpts/12/1978 252/U/SK/1978
a. Instrumen alokasi kebutuhan domestik
b. Penetapan Harga CPO untuk penjualan domestik c. Ijin dari Departemen Perdagangan untuk ekspor
2 1991-1994 SKB Mendag, Mentan dan Menperin 136/KPB/VI/1991 340/Kpts/6/1991 50/M/SK/6/1991
Membebaskan perdagangan dan ekspor CPO
3 1994-1997 SK Menkeu Nomor 439/KMK.017/1994
Menetapkan pajak ekspor CPO progresif
4 1997-1998 SK Menkeu 300/KMK/1997
Pajak Ekspor diturunkan dari 40-60 persen menjadi 2-5 persen dan tidak progresif
SK Menperindag 456/MPP/Kep/12/1997
Kewajiban produsen memasok CPO untuk kebutuhan dalam negeri
SK Menkeu
No 622/KMK.01/1997
PE tambahan 28-30% bagi produsen yang belum memenuhi kewajiban memasok kebutuhan domestik Surat Ditjen Dagri
420/DJPDN/XII/1997
Larangan ekspor pada Januari – Maret 1998 dan produk CPO untuk kebutuhan domestik
SK Menperindag 181/MPP/Kep/4/1998
Perdagangan CPO dan produk-produknya bebas
SK MEnkeu 242/KMK.01/1998
Pajak ekspor berkisar antara 15 – 40 persen
5 2001 SK Menkeu 66/2001 Pajak ekspor CPO 3 persen (single rate)
6 2005 SK Menkeu 130/2005 Pajak ekspor CPO 1.5 persen (single rate) 7 2005 PP No 35/2005 Penetapan barang ekspor tertentu 8 2006 SK Menperindag
17/M-Dag/Per/3/2006
Penetapan HPE setiap bulan
HPE April – Mei sebesar US$ 362.MT 9 2006 SK Menperindag
21/M-Dag/Per.5/1006
HPE Mei – Juni 2006 sebesar US$ 358.MT
10 2007 Peraturan Menkeu
61/PMK 011/2007
Tarif bea keluar 0-10 persen secara progresif
2007 SK Menkeu 188/011/2007
Pemerintah memberikan fasilitas pembebasan PPN
11 2008 Peraturan Menkeu 214/PMK.04/2008
Ketentuan tentang pemungutan bea keluar
Peraturan Menkeu 223/PMK.04/2008
Tarif Bea Keluar 0-25 persen secara progresif
12 2009 SK Menkeu 256/KM.4/2009
HPE
Peraturan MenDag
06/M-DAG/PER/1/2009
Penetapan harga patokan ekspor (HPE) atas barang ekspor tertentu
13 2010 366 /KM.4/2010 Penetapan HPE US$ 708 per MT
Kebijakan pemerintah khususnya dalam rangka stabilisasi harga minyak
goreng meliputi (1) kebijakan pada sisi input (hulu) berupa kebijakan Domestic
Market Obligation (DMO) serta kebijakan Pajak Ekspor (PE) progresif dan (2)
kebijakan pada sisi output (hilir) melalui operasi pasar (OP) minyak goreng
bersubsidi dan pembebasan PPN untuk penjualan minyak goreng curah
(PPN-DTP). Di samping itu pemerintah menerbitkan kebijakan yang dikenal dengan
Program Minyakita pada awal tahun 2009. Dampak positif dan negatif
masing-masing pilihankebijakan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Dampak Positif dan Negatif masing-masing Pilihan Kebijakan
No Kebijakan Potensi Dampak Positif Potensi Dampak Negatif
1 Pajak Ekspor • Penerimaan Negara
• Distribusi beban antara konsumen dan produsen
• Mudah dilaksanakan
• Mendistorsi pasar internasional dan domestik
• Menghambat upaya peningkatan ekspor
• Menurunkan pendapatan industri CPO domestik
• Menurunkan pendapatan petani 2 Domestik Market
Obligation
• Efektivitas relatif lebih baik • Mendistorsi pasar internasional dan domestik
• Menghambat upaya peningkatan ekspor
• Menurunkan pendapatan industri CPO domestik
• Menurunkan pendapatan petani
• Penerimaan negara lebih rendah 3 Operasi Pasar • Tidak mendistorsi pasar
ekspor
• Tidak membebani industri berbasis CPO
• Tidak membebani petani
• Membebani anggaran negara cukup besar
• Efektivitas rendah
4 Subsidi ke Industri Minyak Goreng
• Tidak mendistorsi pasar ekspor
• Tidak membebani industri berbasis CPO
• Tidak membebani petani
• Membebani anggaran negara cukup besar
• Ekspor minyak goreng bersubsidi
• Kesulitan implementasi
5 Subsidi ke Orang Miskin
• Tidak mendistorsi pasar ekspor
• Tidak membebani industri berbasis CPO
• Tidak membebani petani
• Target lebih fokus sehingga beban anggaran lebih rendah
• Membebani anggaran negara
• Pelaksanaan sering tidak tepat sasaran
Data empiris menunjukkan dampak kebijakan pajak ekspor cukup positif
dan berhasil meredam kenaikan harga minyak goreng. Kenaikan harga minyak
goreng kembali terjadi tahun 1992 dan 1994 sebagai akibat dari kenaikan harga
CPO di pasar dunia. Gejolak harga tersebut diatasi dengan menerapkan pajak
ekspor hingga 60 persen dan dibarengi dengan kebijakan alokasi CPO di pasar
domestik pada tahun 1994.
Kebijakan Domestik Market Obligation didasarkan pada Keputusan
Menteri Pertanian No.339/Kpts/PD.300/5/2007 tentang pasokan CPO untuk
kebutuhan dalam negeri guna stabilisasi harga minyak goreng curah bagi
perusahaan perkebunan kelapa sawit anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha
Kelapa Sawit Indonesia) maupun non anggota GAPKI. Dua alternatif yang
ditawarkan oleh pemerintah untuk kebijakan DMO minyak sawit mentah yaitu :
1. Pengusaha wajib menyediakan pasokan minyak goreng domestik 20 persen
yaitu 2.4 juta ton minyak goreng atau setara dengan 3.3 juta ton CPO.
2. Pengusaha wajib menyediakan pasokan minyak goreng domestik 18 persen
yaitu 2.15 juta ton minyak goreng atau setara dengan 2.96 juta ton CPO.
Kedua alternatif kebijakan tersebut dibuat berdasarkan pada perhitungan
kebutuhan minyak goreng selama setahun dan berlaku untuk produsen CPO yang
mempunyai luas lahan perkebunan sedikitnya 1.000 hektar.
Dalam pelaksanaannya komitmen perusahaan dalam memenuhi alokasi
pasokan yang ditetapkan dalam DMO tidak terealisasi sepenuhnya (Ketut, 2010).
Bulan Mei 2007 hanya terealisasi 59 persen (dari komitmen DMO CPO berjumlah
97.525 ton), sedangkan sampai dengan 12 Juni 2007 hanya terealisasi 10 persen
(dari komitmen Juni dan carry over bulan Mei 142.781 ton). Sampai waktu
2.2. Industri Minyak Goreng Sawit Indonesia
Minyak goreng sawit merupakan salah satu komoditas yang bernilai
strategis karena termasuk salah satu dari 9 kebutuhan pokok bangsa Indonesia.
Permintaan minyak goreng, baik domestik maupun ekspor merupakan indikasi
pentingnya peranan komoditas kelapa sawit dalam perekonomian bangsa.
Produksi dan konsumsi minyak goreng sawit terus meningkat dari tahun ke tahun
seiring bertambahnya jumlah penduduk, berkembangnya pabrik dan industri
makanan, dan meningkatnya konsumsi masyarakat akan minyak goreng.
Sejak tahun 1970, minyak goreng asal kelapa sawit telah mendominasi
pangsa konsumsi minyak goreng yang sebelumnya didominasi oleh minyak
goreng kelapa (coconut oil). Pergeseran posisi tersebut dikarenakan minyak sawit
mentah yang berasal dari pohon kelapa sawit lebih mudah dibudidayakan.
Budidaya kelapa sawit tidak tergantung musim tertentu, lebih tahan hama dan
dapat diusahakan dalam skala besar sehingga dapat mencapai skala ekonomi
tertentu.
Perkembangan industri minyak goreng di Indonesia memiliki trend
pertumbuhan yang positif, dengan rata-rata pertumbuhan produksi 10.1 persen per
tahun dan pertumbuhan konsumsi 7.5 persen per tahun. Pada tahun 1998 total
produksi minyak goreng Indonesia mencapai angka 5.9 juta ton dan tahun 2008
telah-mencapai-15.5-juta-ton.--Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan
permintaan minyak goreng, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 7.5-persen-per
tahun.
Perkembangan produksi, konsumsi dan harga minyak goreng sawit
Gambar 3. Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Harga Minyak Goreng Domestik, 1979-2008
Gejolak harga dan pasokan minyak goreng di dalam negeri terjadi pada
tahun 2007-2008 ketika harga minyak kelapa sawit internasional mengalami
kenaikan tajam (dua kali lipat). Kenaikan harga minyak kelapa sawit dunia ini
sempat mengakibatkan kelangkaan pasokan minyak kelapa sawit di dalam negeri,
yang memicu peningkatan harga minyak goreng. Antisipasi yang dilakukan
pemerintah melalui peraturan bea keluar secara progresif, pengurangan harga jual
dalam negeri dan pengamanan daya beli masyarakat, menstabilkan harga, dan
menjamin kecukupan pasokan di dalam negeri.
Harga minyak goreng pada tahun 2005-2006 masih stabil pada kisaran
Rp-7.000 per liter. Tahun 2007, harga minyak goreng mengalami peningkatan
yang signifikan. Puncak kenaikan harga minyak goreng terj adi pada kuartal II
2008 yang menembus angka Rp 12.471 per liter. Harga minyak goreng dalam
negeri mulai mengalami penurunan pada awal tahun 2009, dimana harga
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 1 97 9 1 98 1 1 98 3 1 98 5 1 98 7 1 98 9 1 99 1 1 99 3 1 99 5 1 99 7 1 99 9 2 00 1 2 00 3 2 00 5 2 00 7 R p /k g 0 0 0 to n
rata-rata minyak goreng curah bulan Agustus 2009 lebih rendah (turun 14
persen) dibanding harga tahun 2008. Sementara itu, harga rata-rata minyak
goreng kemasan juga mengalami penurunan sebesar 13 persen dibanding
tahun 2008.
Pangsa pasar produk minyak goreng saat ini diperebutkan oleh sekitar 120
produsen lokal yang masih aktif berproduksi dengan kapasitas produksi sebesar
15.5 juta ton. Beberapa konglomerat yang terjun dalam bisnis perkebunan dan
pengolahan kelapa sawit diantaranya adalah Salim grup (produsen Bimoli),
Sinarmas grup (produsen Filma), Astra grup, Bakrie grup, Musi Mas grup, Hasil
Karsa grup, Bukit Kapur grup dan Raja Garuda Mas, Kelompok di atas memiliki
industri terpadu mulai dari perkebunan sawit, pengolahan CPO dan pabrik minyak
goreng.
Pabrik minyak goreng sawit di Indonesia, tersebar di Sumatera Utara
(30.46 persen), Riau (24.83 persen), DKI Jakarta (13.01 persen), Jawa Timur
(9.62 persen), Sumatera Selatan (7.18 persen), Sulawesi Utara (5.28 persen), Jawa
Barat (3.38 persen), Sumatera Barat (1.97 persen), Lampung (1.74 persen),
Sulawesi Tengah (0.70 persen), Kalimantan Barat (0.64 persen), Jambi (0.59
persen), dan Jawa Tengah (0.59 persen). Dengan ringkas penyebaran minyak
goreng di Indonesia telah berkembang di 13 provinsi. Wilayah terluas terdapat di
Sumatera, diikuti Jawa. Sulawesi dan Kalimantan. Lima provinsi terluas
berturut-turut adalah Sumatera Utara (30.46 persen), Riau (24.83 persen), DKI Jakarta
(13.01 persen), Jawa Timur (9.62 persen) dan Sumatera Selatan (7.18 persen).
Pada Tabel 3 disajikan data 10 pelaku usaha terbesar beserta kapasitas produksi
Tabel 3. Distribusi Pangsa Pasar dalam Industri Minyak Goreng Sawit di Indonesia
No Pelaku Usaha Kapasitas Produksi (Ton/thn) Market Share ( persen)
1 Wilmar Group (5 perusahaan) 2 819 400 18.27
2 Musim Mas (6 Perusahaan) 2 109 000 13.67
3 Permata Hijau Group (3 Perusahaan) 932 000 6.04
4 PT Smart 713 027 4.62
5 Salim Group 654 900 4.24
6 PT Bina Karya Prima 370 000 2.40
7 PT Tunas Baru Lampung 355 940 2.31
8 BEST Group 341 500 2.21
9 PT Pacific Palmindo Industri 310 800 2.01
10 PT Asian Agro Agung Jaya (RGM Group) 307 396 1.99
11 Lainnya 6 516 037 42.23
Jumlah 15 430 000
Sumber: Departemen Perindustrian, 2010.
Industri hilir kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang
cukup pesat dalam satu dasawarsa terakhir, seiring dengan berkembangnya
perkebunan kelapa sawit domestik. Perkembangan agroindustri hilir kelapa sawit
dipengaruhi oleh kondisi industri minyak sawit yang saling kompetitif. Dalam
perkembangannya sistem agroindustri kelapa sawit domestik mengalami berbagai
tuntutan perubahan strategi untuk menjaga efisiensi, kelangsungan dan efektivitas
operasional sistem agroindustri kelapa sawit itu sendiri. Salah satu strategi
efisiensi dan efektivitas agroindustri kelapa sawit di Indonesia adalah dengan
menerapkan sistem integrasi vertikal sehingga sistem dan subsitem agroindustri
kelapa sawit terintegrasi dan menimbulkan suatu unit usaha yang efisien. Dalam
pola pengusahaan kelapa sawit di Indonesia, sebanyak 68 persen perusahaan
minyak goreng domestik terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit dan 32
Struktur pasar industri minyak goreng di Indonesia memiliki karakteristik
oligopoli longgar (loose oligopoly) (Ketut, 2010). Meskipun struktur pasar
memiliki karakteristik oligopoli longgar (mendekati persaingan) namun dengan
mencermati data pergerakan harga minyak goreng di tingkat konsumen periode
Januari 2006 – Maret 2009, mengindikasikan bahwa harga perdagangan minyak
goreng di pasar domestik lebih ditentukan oleh kemampuan
perusahaan-perusahaan minyak goreng. Hal ini tercermin dari dua perilaku sebagai berikut:
(1) pada saat terjadi kenaikan harga CPO di pasar dunia, perusahaan minyak
goreng di Indonesia diduga melakukan consious parallelism, dengan cara
menggunakan informasi pasar pergerakan harga input (CPO) internasional dalam
menetapkan harga jual minyak goreng di pasar domestik; dan (2) pada saat terjadi
penurunan harga CPO di pasar dunia, diduga terjadi asymetric price transmission,
yang terlihat dari semakin melebarnya selisih antara harga CPO dengan harga
minyak goreng.
2.3. Perkembangan Kelapa Sawit di Indonesia
Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika Barat, dengan nama botani
Elaeis guineensis Jacq. Tanaman tersebut mulai dikenal pertengahan abad ke-15
dan semakin populer setelah revolusi industri di Eropa pada akhir abad ke-19.
Perdagangan minyak sawit semakin tinggi untuk memenuhi permintaan untuk
bahan pangan dan kebutuhan bahan baku industri sabun di Eropa.
Kelapa sawit di Indonesia diintroduksi pertama kali oleh pemerintah
Belanda pada tahun 1848. Saat itu Johanes Elyas Teysmann yang menjabat
sebagai Direktur Kebun Raya membawa 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa
Permintaan minyak sawit dunia dan minyak inti sawit semakin meningkat
seiring dengan lahirnya industri margarin (1870), industri minyak pelumas untuk
kereta api serta industri makanan ternak di Eropa. Pada tahun 1830-an, ekspor
minyak sawit Afrika Barat ke Eropa telah mencapai 14.000 ton. Namun kenaikan
permintaan minyak sawit di pasar Eropa tidak mampu diikuti oleh penawaran
minyak sawit dari Afrika Barat sebagai negara produsen utama. Terbatasnya
pasokan ini disebabkan oleh belum adanya pembudidayaan kelapa sawit dan
masih mengandalkan tumbuhan kelapa sawit alam di semak belukar Afrika Barat.
Salah satu sejarah penting yang memiliki kontribusi besar dalam
perkembangan kelapa sawit dunia dikemudian hari adalah introduksi kelapa sawit
ke Indonesia. Pada tahun 1848 Indonesia menerima empat buah bibit kelapa sawit
dari Bourbon dan Amesterdam melalui Hortus Botanicus Amesterdam. Kelapa
sawit tersebut ditanam di Kebun Raya Bogor, dan dari Bogor kemudian disebar ke
Deli-Sumatera Timur. Introduksi tanaman kelapa sawit tersebut tidak ada
kaitannya dengan kelangkaan pasokan minyak sawit dunia. Bahkan pada awalnya
penanaman kelapa sawit di Indonesia bukan untuk tujuan komersil melainkan
untuk tujuan keindahan (ornamental purpose) (Saragih, 1980). Upaya ke arah
komersial baru dimulai dua puluh tahun kemudian oleh pemerintah kolonial
Belanda, yakni dengan dirintisnya perkebunan kelapa sawit di Muara Enim
(1869), Musi Hulu (1870) dan Belitung (1890). Namun upaya ini tidak
berkembang dan kurang mendapat respon penduduk karena tanaman kelapa sawit
dianggap tidak memiliki prospek ekonomi.
Tahun 1911 merupakan sejarah awal perkembangan perkebunan
(plantation) kelapa sawit di Indonesia oleh seorang pengusaha Belgia bernama
Pengembangan perkebunan ini antara lain didukung oleh pengalaman
internasional dalam produksi minyak sawit. Pembukaan usaha perorangan ini
diikuti oleh K. Schadt (Jerman) di Tanah Itan Ulu (Deli-Sumatera Timur). Luas
areal perkebunan mencapai 5.123 ha.
Berdasarkan penelitian Hallet, "tanaman hias" kelapa sawit di sepanjang
jalan raya Deli memiliki komposisi buah yang jauh lebih banyak dan lebih besar
dibandingkan tanaman aslinya di Afrika Barat serta mengandung potensi minyak
sawit sebesar 30 persen. Dari pengamatan lainnya juga diketahui bahwa tanah dan
iklim Sumatera Utara sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit. Selanjutnya
perkebunan kelapa sawit semakin berkembang terutama oleh investasi
perusahaan-perusahaan asing swasta yang memiliki modal besar, antara lain
Socfin (Prancis dan Belgia) dan HVA (suatu Bank Perkebunan Belanda). Pada
tahun 1938, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mencapai 92.307 ha
(rata-rata 31.68 persen per tahun).
Perkembangan luas areal kelapa sawit Indonesia juga diikuti dengan
perkembangan ekspor CPO Indonesia ke pasar internasional. Pada tahun 1919,
Indonesia mengekspor minyak sawit sebanyak 576 ton. Pada tahun 1940 telah
meningkat hampir lima kali lipat menjadi 250.000 ton pada tahun 1940. Pada
kurun waktu 1919-1940, rata-rata pertumbuhan ekspor minyak sawit Indonesia
mencapai 62.05 persen per tahun.
Pada tahun 1923, ekspor minyak sawit Indonesia baru mencapai 7.000 ton,
atau 3.67 persen dari total ekspor dunia, sedangkan Nigeria memiliki pangsa
67.02 persen dari total ekspor dunia. Pada tahun 1937, Indonesia menjadi negara
pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, yakni sebesar 194 ribu ton, dengan
pangsa 40 persen dari total ekspor minyak sawit dunia. Sedangkan Nigeria
Pada tahun 1959 dan tahun 1965, ekspor minyak sawit Indonesia menurun
dibanding tahun 1937. Pada tahun 1965 pangsa ekspor CPO Indonesia turun dari
39.11 persen menjadi 23.52 persen, sedangkan Malaysia naik dari 8.67 persen
menjadi 26.39 persen dan menjadi negara pengekspor terbesar kedua setelah
Nigeria. Penurunan ekspor ini terkait erat dengan situasi politik dan ekonomi
Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan perjuangan fisik pasca kemerdekaan.
Tahun 1940 merupakan turning point dalam sejarah perkebunan kelapa
sawit Indonesia. Ekspor minyak sawit Indonesia menurun tajam hingga mencapai
titik terendah pada tahun 1945. Penurunan yang sangat drastis ini dipengaruhi
oleh meletusnya perang dunia II yang segera diikuti oleh pendudukan pemerintah
Jepang di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit
Indonesia relatif terhenti.
Pada tahun 1957-1968 merupakan masa "ambil alih" perkebunan kelapa
sawit, dimana pemerintah mengambil alih seluruh perkebunan milik pemerintah
Belanda, yang kemudian dikenal dengan Perkebunan Negara. Pada tahun 1967,
pemerintah mengembalikan perusahaan swasta asing kepada pemiliknya, seperti
perkebunan milik Inggris, Francis, Belgia dan Amerika. Akibat dari keputusan itu,
101 dari 207 perkebunan asing yang ada di kawasan Sumatera dikuasai oleh
pemerintah Indonesia dibawah sebuah badan bernama Pusat Perkebunan Negara.
Pada tahun 1966, perkebunan kelapa sawit mengalami masa
perkembangan baru yang didukung oleh kondisi politik dan ekonomi yang
semakin stabil sehingga pembangunan dapat dijalankan dengan baik. Selain itu,
terdapat perubahan orientasi pembangunan dari orientasi sosialis ke orientasi
kondusif bagi pihak swasta untuk berperan dalam pengembangan kelapa sawit
swasta pada tahun-tahun berikutnya.
Uraian di atas menggambarkan pasang surutnya perkebunan kelapa sawit
di Indonesia. Pada periode 1910-1940 perkebunan kelapa sawit berkembang
dengan baik dan menempatkan Indonesia sebagai negara penting dalam
perdagangan minyak sawit dunia. Pada kurun waktu tersebut, perkebunan kelapa
sawit didominasi oleh perusahaan swasta asing. Periode 1940-1958 perkebunan
kelapa sawit Indonesia mengalami masa yang sangat sulit. Disamping itu situasi
politik dan ekonomi Indonesia relatif kurang stabil. Namun manajemen kultur
teknis yang diterapkan kurang terkendali dan produktivitas kelapa sawit menurun
dari 3 ton/ha menjadi 1.9 ton/ha.
Dengan berdirinya Perkebunan Negara, maka bentuk pengusahaan
perkebunan menjadi dua kelompok, yakni Perkebunan Negara dan Perkebunan
Swasta, Perkebunan kelapa sawit Indonesia didominasi oleh Perkebunan Negara,
Periode 1968-kini pembangunan perkebunan kelapa sawit mengalami kemajuan
yang pesat serta memiliki kontribusi nyata dalam perekonomian nasional serta
salah satu sumber devisa negara. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pola
PIR yang mengarah pada kebijakan ekstensifikasi, antara lain : Riau, Sumatera
Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan ke wilayah Luar Sumatera, yakni
Jawa Barat (Banten), Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua.
2.3.1. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia
Perkebunan kelapa sawit Indonesia terdiri atas tiga jenis pengusahaan,
yakni perkebunan negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Luas areal
Tabel 4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Berdasarkan Jenis Pengusahaan Tahun 1979-2008
Luas Areal Perkebunan (ha) Pangsa Luas Areal (persen) Rakyat Negara Swasta Total Rakyat Negara Swasta 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 3 125 6 175 5 695 8 573 37 043 40 552 118 564 129 904 203 047 196 279 223 832 291 338 384 594 439 46