• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frasa Eksosentris Direktif Yang Wajib Hadir Dan Menduduki Fungsi Adverb Pada Konstruksi Kalimat Bahasa Inggris: Kajian Sintaksis dan Semantis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Frasa Eksosentris Direktif Yang Wajib Hadir Dan Menduduki Fungsi Adverb Pada Konstruksi Kalimat Bahasa Inggris: Kajian Sintaksis dan Semantis"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

OBLIGED DIRECTIVE EXOCENTRIC PHRASE OCCUPYING ADVERB FUNCTION IN ENGLISH SENTENCE CONSTRUCTION:

A Study of Syntax and Semantics

SKRIPSI

diajukan untuk menempuh Ujian Sarjana pada Program Studi Sastra Inggris Fakultas Sastra

Universitas Komputer Indonesia

HIZZUL NURLENA 63710017

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG

(2)

ix DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERSETUJUAN REVISI PERNYATAAN BUKTI KEPEMILIKAN

DEDIKASI iv

ABSTRAK v

ABSTRACT vi

KATA PENGANTAR vii

DAFTAR ISI ix

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian 1

1.2 Rumusan Masalah 4

1.3 Tujuan Penelitian 5

1.4 Manfaat Penelitian 5

1.5 Kerangka Pemikiran 6

BAB II : KAJIAN TEORI

2.1 Sintaksis 9

2.1.1 Dependent dan Independent Clause 12

2.1.2 Frasa 13

2.1.2.1 Frasa Eksosentris Direktif 15 2.1.2.1 Frasa Eksosentris Nondirektif 16

(3)

2.2.1 Struktur Semantis 18 2.2.2 Komponen Makna yang Melibatkan Entailment 20

2.2.3 Jenis Relasi Preposisi 22

2.2.3.1 Locative 23

2.2.3.2 Temporal 26

2.2.3.3 Process 28

2.2.3.4 Respect 30

2.2.3.5 Contingency 30

BAB III : OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian 32

3.2 Metode Penelitian 33

3.2.1 Teknik Pengumpulan Data 33

3.2.2 Teknik Analisis Data 35

BAB IV : PEMBAHASAN

(4)

BAB V: SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan 78

5.2 Saran 79

DAFTAR PUSTAKA 81

DAFTAR LAMPIRAN 83

(5)

81

Arifin, Z.E. dan M.H. Junaiyah. 2009. Sintaksis. Jakarta: PT Grasindo.

Djajasudarma, T. Fatimah. 2010. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Rafika Aditama.

Fromkin, Victoria dan Rodman Robert. 1983. Third Edition: An Introduction to Language. New York: CBS College.

Hogue, Ann dan Oshima, Alice. 1999. Wiritng Academic English: Third Edition. London: Longman.

Jackson, Howard. 1990. Grammar and Meaning: A Semantic Approach to English Grammar. New York: Longman.

Larson, M. Mildres. 1984. Meaning- Based Translation. London: University Press of America.

Leech, Geoffrey. 2003. Semantik. Jogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lyons, John. 1968. Introduction To Theoritical Linguistics. London: Cambridge University Press.

Murcia, C.M. dan Freeman, L.D. 1999. Second Edition- The Grammar Book: An ESL/EFL Teacher’s Course. US: Heinle and Heinle.

Ramlan, M. 2001. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Taniran, Kencanawati. 1988. Penerjemahan Berdasarkan Makna. Jakarta: ARCAN.

(6)

SUMBER DATA

(7)

86 A. Riwayat Hidup

a. Nama : Hizzul Nurlena

b. Tempat dan Tanggal Lahir : Pandeglang, 29 Juni 1992

c. Alamat : Kp. Nagrog Ds. Bayumundu RT/ RW 003/001 Kec. Kaduhejo Kab.

Pandeglang, Banten. d. No Tlp : 08170261652

e. Jenis Kelamin : Perempuan f. Kewarganegaraan : Indonesia

g. Agama : Islam

h. Hobi : Menulis

i. Email : [email protected]

B. Pendidikan Formal

No Tahun Institusi

1 1998 – 2004 SD Negeri 1 Bayumundu 2 2004 – 2007 SMP Negeri 1 Pandeglang

(8)

C. Kompetensi

Di bawah ini beberapa kompetensi yang dimiliki, yakni:

a. Kejuaran Pencak Silat IPSI and Merpati Putih b. Speech competition-one of the program ILCF 2013

D. Pendidikan Non-formal

No. Tahun Seminar/ Achievement Keterangan

1. 2007

Juara Ke-2 Bupati Cup IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia)

Sertifikat

2. 2009

Juara Ke-2 Bupati Cup IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia)

Sertifikat

3. 2010 Central Computer Banten (CCB) Sertifikat

4. 2010

Karya Ilmiah “Penyembuhan

Penyakit Maag dengan Kunyit (Curcuma Domestica) Sebagai Salah Satu Pengobatan Alternatif.

Sertifikat

5. 2011

Seminar “Building Confidence in

Delivering Public Speech” as the

attendance and committee

(9)

6. 2011 Seminar and Workshop of Semiotics Sertifikat

7. 2011

Feminist, Feminine and Text Seminar as the attendance and committee

Sertifikat

8. 2012

Talkshow Raditya Dika “Kreatif

Menulis, Rezeki Tak Akan Habis” Sertifikat

9. 2012

Hari Sastra “ Cross Culture” as the

attendance and committee

Sertifikat

10. 2012 English Contest Sertifikat

11. 2012 Character Building Training Sertifikat

12. 2012

Kejuaran Antar Kolat Merati Putih Cabang Bandung “Menggali Potensi

Untuk Berprestasi”

Sertifikat

13. 2013

Participant Of Workshop Translation “Building The Translation Skill and

Confidence” as the attendance and

committee

Sertifikat

14. 2013

Copywriting Seminar “Go Viral” as

the attendance and committee

(10)

15. 2013 Islamic MOVEtivation Training Sertifikat

16. 2013

Speech Competition-one of the programs of International Language and Culture Festival (ILCF 2013) under the theme: “SOUL OF

NATION”

Sertifikat

16. 2014

Seminar “Menyambut Bulan Suci

Ramadhan” Sertifikat

17. 2014

Talk Show Menulis Bersama, Risa Saraswati “You Write What You

Think”

Sertifikat

18. 2014 Sertifikat Hardware Sertifikat

19. 2014

Seminar Hardware “Cepat dan

Mudah Membuat Website Online dalam 30 Menit”

Sertifikat

20. 2014

Seminar TOEFL “How To Train

Your TOEFL”

(11)

E. Pengalaman Organisasi dan Kerja

No. Tahun Organisasi/ Pekerjaan

1. 2004 – 2005

Member of Pramuka SMP Negeri I Pandeglang and Member of PMR SMP Negeri I Pandeglang

2. 2005 – 2008

Member of Pencak Silat SMP Negeri 1 Pandeglang and SMA 2 Pandeglang 3. 2010-2011 Member of UKM Taekwondo UNIKOM

4. 2011-2012

Member of UKM Merpati Putih Unikom and Member of SADAYA UNIKOM

5. 2010 – 2013

Member of HIMA of English Department UNIKOM

(12)

vii

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Hanya kepada Allah saya memuji, Rabb sang pemilik seluruh alam semesta beserta isinya. Semoga salawat, salam, dan keberkahan selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman kelak.

Serta dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada:

1. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Moh. Tadjudin, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra Inggris Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Atas perizinannya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Yth. Bapak Dr. Juanda., selaku Ketua Program Studi Sastra Inggris Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung.

3. Yth. Ibu Retno Purwani Sari, S.S., M.Hum., selaku dosen Pembimbing pertama. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, bimbingan, nasihat, saran, serta kesabaran untuk memberi pengarahan dan motivasi kepada peneliti.

4. Yth. Ibu Nenden Rikma Dewi, S.S., M.Hum., selaku dosen Pembimbing kedua yang telah menolong dan mendorong peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih untuk bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada peneliti. 5. Yth. Bapak/Ibu dosen dan staf administrasi Sastra Inggris. Semoga Allah

(13)

viii

7. Sahabat saya Adi Upay yang senantiasa memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini, kemudian teman-teman 2010 yang saya cintai; Nonoy Vini, Abang Sofyan, Cantik Vivi, Ceuceu Lisna, Ica Belo, Dania Gomez, Daliman, Oom Fhandry, Wildan, adikku Indra, Guntur, Luthfi, teman-teman senior yang ikut memberikan dukungan serta motivasi kak Aldo, tante Ilma, kang Ali, Kang Abe, Teh Resti, Teh Ferra, Teh Anggit serta teman-teman yang lainnya yang tak dapat peneliti sebutkan satu per satu, terima kasih atas motivasi, kebersamaan dan bantuan kalian yang berarti bagi peneliti.

Untuk kesempurnaan dari penulisan ini, maka peneliti menerima kritik saran dari pembaca. Akhir kata, peneliti mengharapkan semoga penulisan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak lain pada umumnya rekan-rekan di UNIKOM khususnya yang akan melakukan skripsi pada sidang yang sama dengan peneliti.

Bandung, Juli 2014 Peneliti

(14)

1 1. Latar Belakang

Pada umumnya frasa merupakan kelompok kata atau gabungan dua kata atau lebih, tetapi Murcia dan Freeman (1999:83) dalam bukunya The Grammar Book: an ESL/ EFL- Teacher’s Cource: Second Edition, menyatakan bahwa frasa tidak selalu merupakan gabungan dari dua kata atau lebih, tetapi kata seperti book, bag, lawyer, teacher dapat juga dikatakan sebagai frasa, yakni frasa yang memperlihakan kategori NP. Hal ini diperlihatkan dan dibuktikan melalui pernyataanya sebagai berikut:

“NP can be rewritten as a pronoun: I, you, he, she, and so on. The first option is more complex in that it allows NP to be expanded in any number of ways. Minimally, it is expanded as a uninflected lexical noun such as book, rice, or Nancy”.

Dari pernyataannya di atas terlihat bahwa “pronoun” seperti I, you, he, she dan “noun” seperti book, rice dan Nancy secara umum dapat dikatakan sebagai frasa juga yakni frasa yang tergolong dalam kategori NP.

(15)

one or more of its constituents; and any construction which is not endocentric is exocentric. (In other words, exocentricity is defined negatively with reference to a prior definition of endocentricity, and all constructions fall into one class or the other.)

Pernyataan tersebut memaknai tipe endosentris sebagai tipe frasa yang memiliki distribusi yang sama antarunsurnya sehingga dapat saling menggantikan seperti pada kalimat, My friend Ningsih is most beautiful in class. My friend Ningsih adalah jenis frasa endosentris sehingga baik my friend maupun Ningsih dapat saling menggantikan atau mewakilkan. Dengan demikian, kalimat My friend is most beautiful in class atau Ningsih is most beautiful in class berterima secara gramatikal dan semantis bahasa Inggris. Sementara itu, frasa eksosentris pada kalimat My friend Ningsih is most beautiful in class, diwakili oleh frasa in class. Frasa in class adalah jenis frasa eksosentris, yakni frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya sehingga tidak dapat saling menggantikan.

(16)

adalah bola. Kasus verba tersebut yang menunjukan hubungan verba dengan objek (komplemen) verba disebut frasa eksosentris objektif. Berbeda dengan frasa eksosentris objektif, frasa eksosentris direktif memiliki direktor atau berpartikel. Istilah “berpartikel” dalam hal ini memiliki arti sebagai kata yang tidak dapat dipisahkan, dengan kata lain tidak dapat digunakan secara lepas atau berdiri sendiri. Contohnya, frasa eksosentris direktif in class pada kalimat My friend Ningsih is most beautiful in class. Frasa eksosentrisin class ini adalah frasa yang berpartikel yang kehadirannya selalu dikait-kaitkan atau sangat bergantung pada kata yang mengikutinya. Preposisi in membutuhkan kata class agar dapat dimengerti apa maksudnya, karena tanpa kata class tersebut preposisi in tidak dapat dimengerti maknanya.

Dari penjabaran frasa eksosentris dalam hal dapat dan tidaknya unsur-unsur tersebut dipisahkan, peneliti menganggap frasa eksosentris direktif penting untuk diteliti, terutama dalam kaitannya dengan relasi yang dimiliki unsur-unsur pembentuknya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan memaparkan alasan mengapa pada frasa eksosentris direktif satu unsur dengan unsur lainnya tidak dapat dipisahkan dan berada pada satu fungsi klausa, serta relasi apa yang terbangun di antara unsur-unsurnya.

Sebelumnya, penelitian mengenai frasa telah diteliti oleh Imam

Muhammad Iqbal (2013), dengan judul “Nominal Group yang Mengikuti Verbal

Process dalam Novel Percy Jackson & The Olympians (The Lightning Thief) karangan Rick Riordan”. Penelitiannya membahas bentuk nominal group yang

(17)

mengikuti verbal process. Dalam penelitiannya, Iqbal membatasi pada relasi head dan modifier. Sementara itu, penelitian ini berfokus pada frasa eksosentris yang menduduki fungsi adverb yang kehadirannya wajib hadir dalam konstruksi kalimat bahasa Inggris. Peneliti mengangkat kasus ini disebabkan ada frasa eksosentris yang menduduki fungsi adverb yang kehadirannya bersifat wajib dan bersifat optional. Frasa eksosentris yang kehadirannya bersifat optional memungkinkan frasa eksosentris dihilangkan, dan makna kalimat tetap dapat dipahami. Pada kalimat Adi is my best friend in Bandung, misalnya, kehadiran frasa eksosentris in Bandung dapat hadir dan dapat juga tidak karena sekalipun in Bandung dihilangkan, makna dari kalimat tersebut dapat dipahami. Di lain pihak, kalimat My little sister and my mother go to the market today, mewajibkan kehadiran frasa eksosentris “to the market”. Kalimat tersebut membutuhkan

informasi yang menyatakan tujuan kepergian “My little sister and my mother” untuk membuat makna kalimat dapat dipahami.

Menilik pemaparan contoh data di atas diasumsikan bahwa verba yang memperlihatkan dynamic verb untuk kategori momentary verb seperti jump, kick, knock, nod, tap, come, go, arrive, departure mewajibkan kehadiran frasa eksosentris direktif. Oleh sebab itu, untuk memudahkan peneliti dalam mencari data sebagai data analisis, peneliti berfokus pada data yang verbanya memperlihatkan unsur dynamic verb.

(18)

sebagai judul penelitian.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di latar belakang, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Preposisi apa saja yang muncul pada frasa eksosentris direktif yang menduduki fungsi adverb yang wajib hadir pada data?

2. Relasi apa yang dimiliki preposisi dan frasa nomina yang mengikutinya?

3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan preposisi yang muncul pada frasa eksosentris direktif yang menduduki fungsi adverb yang wajib hadir pada data

2. Mendeskripsikan relasi yang dimiliki preposisi dan frasa nomina yang mengikutinya

4. Manfaat Penelitian

(19)

ke dalam frasa eksosentris yang wajib hadir dan mana yang tidak atau optional. Hal ini dapat pembaca lakukan dengan melihat dan memperhatikan verba yang ada pada kalimat. Artinya, jika pada verba menunjukan unsur pergerakan atau perpindahan sebagai contoh “I go to school”, sudah dapat dipastikan verba go tersebut membutuhkan kehadiran frasa eksosentris “to school”, karena kata go di sini membutuhkan informasi tambahan untuk memperjelas kemana subjek I akan pergi, sehingga frasa eksosentrisnya wajib hadir. Sementara itu yang tidak mewajibkan kehadiran frasa eksosentris dapat dilihat dari verbanya juga, dimana verbanya selalu menunjukan informasi yang sudah lengkap atau jelas sebagai contoh “Indra eats at noon. Verba eats tersebut sudah jelas maknanya bahwa subjek Indra makan, frasa eksosentris at noon di sini tidak terlalu penting kehadirannya karena hanya memberikan penambahan informasi waktu saja kapan indra makan. Secara praktik simpulannya, melalui penelitian ini pembaca dapat dengan mudah menentukan mana frasa eksosentris yang wajib hadir dan tidak dengan memperhatikan verba yang ada pada kalimat.

5. Kerangka Pemikiran

Dalam penelitian ini penulis berfokus pada frasa eksosentris. Berdasarkan pemaparan Ramlan, “frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan

unsurnya baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya, ini dikatakan sebagai frasa eksosentris”.(2001:142), artinya frasa ini sudah saling melekat dan

(20)

mengikutinya “class”. Oleh sebab itu, frasa dikatakan eksosentris karena unsur-unsurnya sudah menjadi satu perangkat atau melekat satu sama lain sehingga tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya unsur kata yang lain yang mengikutinya.

Pada konstruksi kalimat bahasa Inggris, kehadiran frasa eksosentris kehadirannya tidak harus selalu ada, artinya ada frasa eksosentris yang memang kehadirannya diwajibkan ada yakni berpengaruh pada makna kalimat tersebut, ada juga yang tidak. Sebagai contoh kehadiran frasa eksosentris yang kehadirannya wajib ada “Dania wants to talk to Trisa for discussing her problem in Grammar.

Jika frasa eksosentris “for discussing her problem in Grammar” dihilangkan dan kalimatnya hanya sampai pada “Dania wants to talk to Trisa” kalimat ini masih

menggantung artinya membutuhkan informasi alasan mengapa Dania ingin bertemu atau berbicara dengan Trisa. Oleh sebab itu, kehadiran frasa eksosentris “for discussing her problem in Grammar” ini wajib hadir sehingga makna

kalimatnya menjadi jelas dan tidak menggantung. Tidak menggantung di sini artinya makna kalimat tersebut lengkap dengan kehadiran frasa eksosentris, alasan Dania ingin berbicara kepada Trisa. Contoh lain dapat diperlihatkan melalui kalimat “John will buy a new car at Toyota showroom”. Jika frasa eksosentris “at Toyota showroom” dihilangkan menjadi “John will buy a new car”, makna

(21)

makna tempat terjadinya kegiatan baked.

Melihat dua kasus kalimat di atas, peneliti hanya berfokus pada frasa eksosentris yang kehadirannya wajib hadir saja untuk mengkaji atau meneliti lebih dalam sebab atau alasan mengapa frasa eksosentris tersebut wajib hadir dalam konstruksi kalimat bahasa Inggris.Kemudian dalam penelitian, fokus peneliti hanya pada frasa eksosentris direktifyang menduduki fungsi adverb. Frasa eksosentris direktif umumnya ditandai dengan penggunaan preposisi, sebagai contoh in the morning, in front of, on the cupboard.

Berbicara mengenai preposisi yang menduduki fungsi adverb artinya berbicara mengenai suatu keadaan atau circumstance yang menggambarkan atau

menerangkan keadaan si pelaku “subjek”. Jackson (1990:49) memaparkan bahwa

(22)

9

Bab ini memaparkan teori-teori yang peneliti gunakan untuk keperluan analisis. Teori- teori tersebut meliputi ruang lingkup pembahasan sintaksis dan semantis, frasa dan penggolongannya, serta jenis relasi preposisi yang menunjukan hubungan antara frasa eksosentris direktif, yang merupakan pokok penting di dalam penelitian ini, dengan NP yang mengikutinya.

2.1 Sintaksis

Struktur lahir bahasa dipelajari dalam ilmu Sintaksis. Verhaar (1996: 11) mendefinisikan Sintaksis sebagai “cabang linguistik yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat”. Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa sintaksis merupakan cabang ilmu atau kajian yang bahasannya mengacu pada terstruktur atau tidaknya rangkaian kata di dalam suatu kalimat sehingga menentukan pemaknaan atau pesan yang disampaikan oleh kalimat tersebut menjadi logis atau tidak.

(23)

makna yang ingin disampaikan oleh pola tersebut tidak dapat dipahami penutur bahasa Inggris. Sementara itu, pada kalimat she cooks fried chicken in the kitchen, maknanya dapat dipahami dengan jelas. Hal ini disebabkan susunan kata pada kalimat tersebut sudah memenuhi kaidah baku bahasa Inggris. Artinya, kata-kata pada kalimat kedua sudah terstruktur berdasarkan kaidah SVOCA. Perbedaan yang kontras pada contoh pola dan kalimat tersebut memperlihatkan bahwa susunan kata-kata itu sangat penting di dalam sebuah kalimat bahasa Inggris untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan melalui kalimat tersebut.

Jika dikaitkan dengan fungsi sintaksis, Verhaar (1996: 165) mengartikannya bahwa suatu kalimat dapat dikatakan mempunyai fungsi sintaksis apabila memperlihatkan adanya subjek, predikat, dan objek di dalam sebuah kalimat. Dalam upayanya memperjelas konsep kaidah SVOCA tersebut, Verhaar (1996) mendefinisikan subjek sebagai pelaku atau pemeran yang melakukan sesuatu. Di lain pihak, predikat menunjukkan atau memperlihatkan suatu kondisi keadaan, aksi, tindakan, sedangkan objek “pihak yang mengalami tindakan” (Verhaar, 1996: 166). Menilik kembali pada kedua contoh data di atas,

pola cooks she fried chicken in the kitchen, dapat dianalisis berdasarkan fungsi sintaksis yang dimilikinya, sebagai berikut:

cooks she fried chicken in the kitchen. V S O A

(24)

terstruktur berdasarkan pola urutan baku bahasa Inggris. Bahasa Inggris, pada umumnya, menempatkan subjek sebelum predikat, kemudian predikat tersebut diikuti lagi oleh objek atau complement, lalu keterangan keadaan “adverb” yang menerangkan subjek atau predikat tersebut.

Berbeda dengan contoh pola tersebut, kalimat she cooks fried chicken in the kitchen, dapat dijabarkan fungsi sintaksisnya sebagai berikut:

She cooks fried chicken in the kitchen. S V O A

Struktur sintaksis kalimat kedua memenuhi kaidah SVOCA sehingga maknanya menjadi logis. Kestrukturan kalimat ini lah yang dimaksudkan sebagai definisi dari sintaksis Verhaar tersebut di atas.

Selanjutnya, kalimat dapat dipandang sebagai suatu paparan panjang kata yang terbentuk dari rangkaian kata yang menyatakan makna yang utuh atau lengkap. Melihat utuh dan tidak utuhnya makna di dalam kalimat, Hogue dan Oshima (1999: 153) mengklasifikasikan 2 (dua) jenis klausa yakni dependent dan independent clause, yakni satuan bahasa yang membangun kalimat. Berikut adalah penjelasannya.

2.1.1 Dependent dan Independent Clause

(25)

memperlihatkan informasi yang utuh, sehingga informasi yang disampaikan tidak dapat dipahami secara utuh. Untuk itu dependent clause membutuhkan informasi tambahan yang lain untuk melengkapi dan memperjelas dependent clause tersebut. Seperti yang dijabarkan oleh Hogue dan Oshima (1999: 153) dalam bukunya Writing Academic English: Third Edition, “Dependent clause does not express a complete thought and cannot stand alone as a sentence by itself“. Dari pernyataannya tersebut dapat disimpulkan bahwa dependent clause ini tidak dapat berdiri sendiri tanpa klausa yang lain di dalam kalimat yang sama. Lebih jelasnya, dependent clause ini biasanya ditandai dengan penggunaan subordinator seperti when, while, if, that, or who.

Di lain pihak, independent clause dipahami sebagai klausa yang dapat berdiri sendiri. Artinya, klausa ini dapat berdiri sendiri membangun kalimat utuh dengan informasi yang jelas. Dengan kata lain, independent clause tidak membutuhkan informasi tambahan untuk menjadi kalimat yang lengkap. Seperti yang dinyatakan oleh Hogue dan Oshima (1999: 153), “Independent clause contains a subject and a verb and expresses a complete thought. It can stand alone as a sentence itself by itself”. Di bawah ini adalah contoh dari dependent

dan independent clause yang dibahas oleh Hogue dan Oshima (1999: 153) dalam bukunya Writing Academic English. Berikut penjabarannya.

Contoh di bawah ini merupakan dependent clause, (1)…….if I declare my major now………

(26)

Dependent clause (1) dan (2) hadir dengan ditandai konjungsi if dan when. Klausa tersebut diidentifikasi memerlukan informasi tambahan dari klausa yang lain di dalam kalimat yang sama, untuk membuat kalimatnya menjadi lengkap atau utuh. Berbeda dengan klausa (1) dan (2), klausa (3) dan (4) berikut ini merupakan independent clause,

(3) Students normally spend four years in college.

(4) Many International students experience culture shock when the come to the United States

Klausa (3) dan (4) merupakan klausa yang informasinya sudah lengkap dan jelas. Berelevansi dengan topik yang dikaji pada penelitian ini, frasa diidentifikasi sebagai salah satu unsur pembentuk klausa. Guna memperlihatkan sistemematika pemikiran ini, berikut ini adalah penjabaran mengenai frasa.

2.1.2 Frasa

Mengutip pernyataan Murcia dan Freeman (1999:83) dalam bukunya The Grammar Book: an ESL/ EFL- Teacher’s Cource: Second Edition, frasa tidak selalu merupakan gabungan dari dua kata atau lebih, tetapi kata seperti pensil, gelas, boneka, meja dapat pula dikatakan sebagai frasa, yakni frasa yang termasuk pada kategori NP. Hal ini diperlihatkan dan dibuktikan melalui pernyataanya sebagai berikut:

(27)

Dari pernyataannya di atas terlihat bahwa “pronoun” seperti I, you, he, she dan “noun” seperti book, rice dan Nancy secara umum dapat dikatakan sebagai frasa

juga yakni frasa yang tergolong dalam kategori NP.

Berbicara mengenai frasa, Arifin dan Junaiyah (2009: 18-25) mengkategorikan frasa ke dalam dua bentuk yaitu exocentric phrase dan endocentric phrase. Exocentric phrase meliputi exocentric directive phrase yang berpartikel dan exocentric nondirective phrase yang dibagi lagi ke dalam connective dan predicative. Sementara itu, endocentric atau frasa endosentris ada yang berinduk tunggal dan ada juga yang berinduk jamak. Endocentric phrase yang berinduk tunggal meliputi nominal phrase, pronominal phrase, verb phrase, adjective phrase, dan numeral phrase, sedangkan yang berinduk jamak meliputi coordinative phrase dan appositive phrase. Namun, berdasarkan topik yang peneliti angkat yakni mengenai frasa eksosentris, paparan hanya difokuskan pada frasa eksosentris.

(28)

dengan yang lainnya karena tidak adanya distribusi yang sama antar unsurnya. Sebagai contoh My Friend Ningsih is most beautiful in class, pada kalimat tersebut in class merupakan frasa eksosentris dimana in dan class tidak dapat saling menggantikan karena tidak adanya perilaku yang sama dengan semua komponennya, baik “in” yang berkelas preposition dan “class” yang berkelas

noun. Akibatnya pada “in class”, “in” dan “class” tidak dapat saling menggantikan satu sama lain.

Selanjutnya, frasa eksosentris, masih menurut Arifin dan Junaiyah (2009: 18), diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) jenis yakni frasa eksosentris direktif dan frasa eksosentris nondirektif. Adapun penjelasan mengenai apa itu frasa eksosentris direktif dan frasa eksosentris nondirektif adalah sebagai berikut.

2.1.2.1 Frasa Eksosentris Direktif

Frasa eksosentris direktif (exocentric directive phrase) didefinisikan sebagai frasa yang berpartikel (Arifin dan Junaiyah, (2009: 19). Artinya frasa eksosentris direktif ini ditandai dengan penggunaan preposisi, misalnya in the evening, with the knife, dan on the chair. Pada umumnya frasa eksosentris direktif berfungsi memberikan keterangan, misalnya memberikan keterangan tempat“in the kitchen”, keterangan arah “from the school”, dan keterangan instrumen“with the knife”.

(29)

2.1.2.2 Frasa Eksosentris Nondirektif

Frasa eksosentris nondirektif (exocentric nondirective phrase) adalah jenis frasa eksosentris yang bersumbu (Arifin dan Junaiyah, (2009: 19). Bersumbu di sini artinya frasa yang berperan menyambung atau mengaitkan. Menyinggung hal ini “menyambung atau mengaitkan”, Arifin dan Junaiyah (2009: 19-20) membagi

frasa eksosentris yang dikatakan bersumbu tersebut ke dalam 2 (dua) bentuk yaitu bentuk connective dan predicative. Bentuk connective di sini berfungsi sebagai penghubung, misalnya John is a college student, is pada kalimat John is a college student adalah frasa eksosentris nondirektif konektif yang berfungsi menghubungkan subject “John” dengan complement “a college student”. Sementara itu, frasa eksosentris nondirektif bentuk predicative berfungsi mengaitkan, sebagai contoh Leon writes a poem. Write pada kalimat Leon writes a poem adalah eksosentris nondirektif yang berbentuk predicative. Predicative di sini memberikan fungsi atau peran yang berupa tindakan, proses, atau keadaan yang menunjuk atau mengaitkan pelaku subject “John” dengan apa yang

dilakukannya, yakni bahwa subjek “John” menulis puisi.

(30)

yang sudah dijabarkan di atas, melainkan peneliti juga akan memaparkan apa itu semantik. Berikut adalah penjelasannya.

2.2 Semantik

Bebicara mengenai semantik, Verhaar (1996:13) dalam bukunya “Asas -Asas Linguistik Umum” menyatakan bahwa “Semantik adalah suatu cabang yang membahas arti atau makna”. Dari pernyataannya tersebut, dapat diartikan bahwa

semantik merupakan suatu cabang ilmu yang bahasannya mengacu pada pemaknaan yang ada di balik bahasa baik “kata”, “frasa” atau “kalimat” yang dituliskan atau mungkin dituturkan.

Kemudian, mendukung pernyataan Verhaar, Fromkin dan Rodman (1983: 164) berpendapat bahwa “The semantics is the linguistic meaning of words, phrases, and sentence”. Melihat definisi Fromkin dan Rodman, terdapat

kesamaan fokus dalam mengkaji pokok kajian semantik, yakni semantik berfokus pada pemaknaan dari setiap kata, frasa, atau kalimat.

Berbicara mengenai pemaknaan yang terdapat di dalam kata, frasa, atau kalimat, penjabaran struktur semantis dan komponen makna berikut dengan persyaratan (entailment) menjadi hal yang penting untuk dikemukakan. Berikut ini adalah penjabarannya:

2.2.1 Struktur Semantis

(31)

which can be classified as THINGS, EVENTS, ATTRIBUTES, OR RELATION”.

(32)

Untuk memperjelas pemahaman mengenai proposisi, di bawah ini merupakan penjabaran contoh dari proposisi yang terdiri dari konsep yang dimaksud di atas:

John hits ball. (Larson, 1984: 27)

Pada kalimat berproposisi di atas terdiri dari 3 konsep yakni John, hits, dan ball. Dan peran yang terdiri dari pelaku (yang melakukan perbuatan) serta penderita (yang menjadi akibat dari perbuatan).

Jika dijabarkan lagi proposisi di atas akan menjadi sebagai berikut: Pelaku …(John)…..(memukul)…..penderita…..(bola)

Atau

(John)….pelaku…..(yang memukul)…penderita……(bola)

Dari 3 konsep dan peran yang di jabarkan di atas dapat disimpulkan dengan rumusan sebagai berikut bahwa:

Pelaku= John Kegiatan/aktifitas= Memukul Penderita= Bola

Kemudian beralih pada satuan terkecil dari struktur semantis. Satuan terkecil dari struktur semantis yaitu komponen makna. Mengenai hal ini akan dijabarkan oleh peneliti pada subbab 2.2.2 berikut.

2.2.2 Komponen Makna yang Melibatkan Entailment

Larson (1984: 28) menyatakan bahwa komponen makna diartikan sebagai “the smallest unit in the semantic structures that group together to form

(33)

majalah, tabloid merepresentasikan bahwa bagian-bagian tersebut merupakan “konsep” yakni komponen atau bagian dari media massa cetak.

Kemudian Larson (1984: 29) membagi komponen makna ke dalam empat kelompok yakni THINGS, EVENTS, ATTRIBUTES, dan RELATION. Jika dipaparkan kembali dari ke empat kelompok tersebut, THINGS atau BENDA merepresentasikan semua yang bernyawa dan tidak. Misalnya anak, roh, malaikat. EVENTS atau KEJADIAN merepresentasikan sesuatu yang memperlihatkan peristiwa atau kejadian, tindakan, proses, misalnya makan, minum, lari, berpikir, berteriak. ATTRIBUTES atau ATRIBUT merepresentasikan hal yang memperlihatkan sifat dari BENDA atau KEJADIAN, misalnya panjang, luas, kasar, lembut. Sedangkan RELATION atau RELASI ini mereprestasikan hubungan antara dua satuan semantis di antara semua satuan yang telah disebutkan di atas, misalnya dengan, oleh, karena, sejak, karena itu. (Larson, 1984: 29).

Untuk memahami komponen makna lebih lanjut, di bawah ini adalah contoh dari penjabaran komponen makna:

Perhatian kata WOMAN DAN GIRL pada kalimat berikut:

1. The teacher is a woman. 2. Rizzi met two girls.

(34)

woman logisnya memperlihatkan komponen makna yang menggambarankan ciri dari sosok female yang sudah dewasa, mapan, dan mandiri, sedangkan girls secara logisnya memperlihatkan komponen makna yang menggambarkan ciri dari female yang masih senang bermain, kekanakan atau kanak-kanak, manja dan polos.

Berbicara mengenai kelogisan suatu makna kata mempunyai keterhubungan dengan istilah Entailment, adapun istilah Entailment ini, Leech (1974: 133) memaparkannya sebagai seperangkat pernyataan dasar yang menunjukan hubungan logis. Pernyataannya tersebut artinya bahwa entailment memperlihatkan kelogisan-kelogisan yang mendasari, sehingga dapat dipahami pemaknaanya atau pemaksudannya seperti apa. Sebagai contoh untuk lebih jelasnya mengenai pemahaman entailment adalah sebagai berikut:

I moved to Bandung because my parent worked there.

Pada kalimat di atas verba moved memperlihatkan pergerakan atau movement dari satu tempat menuju tempat yang lain, sehingga verba “moved” membutuhkan pernyataan lain “to bandung” untuk membuat pergerakan yang dilakukan oleh “I” jelas menuju kemana. Dengan demikian keterkaitan antara

verba “moved” dengan pernyataan “to Bandung” ini memperlihatkan adanya

(35)

Dalam contoh di atas memperlihatkan adanya unsur circumstance atau keadaan di dalam suatu kalimat yang menerangkan atau menggambarkan suatu situasi yang terjadi pada subjek. Circumstance pada kalimat I moved to Bandung because my parent worked there diperlihatkan oleh frasa eksosentris direktif to bandung, dimana to bandungnya menerangkan keadaan atau situasi tempat berpindahnya subjek I dari tempat awal menuju Bandung. Jika diperhatikan pada frasa eksosentris to Bandung adanya relasi preposisi yang terdiri dari preposisi to dan NP “Bandung” yang mengikuti preposisi “to” tersebut. Relasi preposisi “to bandung” ini berperan mengaitkan verba moved yang dilakukan oleh subjek I yang berpindah tempat menuju Bandung, sehingga dengan kehadiran relasi preposisi tersebut pada kalimat I moved to Bandung because my parent worked there menyebabkan terbentuknya kelogisan suatu makna. Hal ini memperlihatkan bahwa peran relasi preposisi cukup penting kehadirannya di dalam kalimat. Oleh sebab itu, peneliti akan menjabarkan jenis relasi apa saja yang ada pada preposisi. Berikut adalah pemaparannya:

2.2.3 Jenis Relasi Preposisi

(36)

additional, gratuitous information about situation”. Pernyataannya tersebut jelas bahwa adanya relasi preposisi berperan untuk memberikan keterangan situasi atau keadaan.

Berbicara mengenai relasi preposisi yang menunjukan “circumstance” ini, Jackson (1990:49) memaparkan bahwa relasi preposisi yang menunjukan keadaan atau bersifat menerangkan subjek bentuknya variatif yakni meliputi relasi locative, temporal, process, respect, contingency, dan degree. Tetapi dari ke 6 (enam) bentuk ini yang memperlihatkan adanya penggunaan relasi preposisi yang sifatnya menerangkan keadaan subjek dan posisinya menduduki fungsi adverb hanya terdapat pada relasi locative, temporal, process, respect dan contingency. Adapun lebih jelasynya mengenai bentuk relasi dan penjelasan dari setiap bentuk yang disebutkan di atas dapat dijabarkan sebagai berikut ini:

2.2.3.1 Locative

Locative atau circumstance “keadaan”, preposisi ini menunjukan keadaan yang berhubungan dengan keadaan lokasi tempat (position), lokasi arah (direction) dan lokasi jarak (distance), hal ini dipaparkan oleh Jackson (1990: 49).

2.2.3.1.1 Locative Position

(37)

preposisi at, near, on, above, against, below, beside, among behind, in front of, inside, outside, over, dan under. (Jackson, 1990: 65).Sebagai contoh pada kata inside dan outside berikut:

- By the time three-quarters of the men were hard at work inside and outside the vessel (Jackson, 1990- 65)

Pada contoh kalimat di atas kata “inside” dan “outside” memperlihatkan keadaan posisi tempat dimana orang-orang tengah bekerja keras di kapal sekitar pukul 3.15 Pada contoh tersebut kapal memperlihatkan posisi tempat bekerjanya secara general. Sementara itu, inside dan outside memperlihatkan posisi bekerjanya yang lebih spesifik, yakni ruangan tempat bekerja yang berada di luar maupun di dalam, yang sebenarnya keduanya masih sama-sama ada di kapal.

2.2.3.1.2 Locative Direction

Locative Direction (arah), preposisi ini mengarah pada keadaan preposisi yang menunjukan arah dari sesuatu yang akan datang atau pergi mengarah kemana. Jackson (1990: 65) menggolongkan locative direction ke dalam 3 kategori yaitu yang mengarah atau menunjukan:

1. Source : (dengan preposisi) from, of, out of

2. Path : (dengan preposisi) down, past, around, across, along, between, through

(38)

Jika dijabarkan dari ketiga kategori dari locative direction di atas, Source menerangkan arah datangnya sesuatu atau sumber datangnya sesuatu itu darimana atau menuju kemana. Path memperlihatkan jalur dari arah kedatangan sesuatu itu seperti apa, artinya apakah lurus, berbelok, bersebrangan, dan sebagainya. Kemudian yang terakhir Goal, goal ini bersifat menjelaskan arah tujuan.

Sebagai contoh untuk kasus relasi locative direction ini sebagai berikut: - He withdrew the tin box from its hiding-place. (Jackson: 1990- 65-66)

Pada kalimat di atas from menunjukan arah atau direction yang mengespresikan source direction. Hal ini karena adanya sesuatu “the thin” yang ditarik oleh subjek “she”. “the thin” tersebut berasal atau bersumber dari “its

hiding-place”.Adanya sesuatu yang ditarik dari suatu tempat berasalnya sesuatu tersebut memperlihatkan locative direction yang bersifat source direction.

2.2.3.1.3 Locative Distances

Locative Distances (arah) menurut Jackson (1990: 51) merupakan jenis locative preposition ini. Jenis lokasi ini menunjukan suatu keadaan yang mengekspresikan atau memperlihatkan keadaan jarak “seberapa jauh” dari satu tempat ke tempat yang lain. Preposisi yang digunakan biasanya as far as, for. (Jackson, 1990: 66).

(39)

Pada kalimat di atas, as far as menunjukan adanya jarak yang mengekspresikan keadaan dimana seseorang yang tak disebutkan namanya tengah mengejar objek “him” sampai akhirnya orang yang dikejarnya menghilang dibalik tebing. Akibat adanya jarak tempuh “sampai tebing” dari aksi yang dilakukan oleh subjek yang tak disebutkan namanya ini menunjukan locative distance.

2.2.3.2 Temporal

Jackson (1990: 51- 53) mendefinisikan relasi temporal atau temporal preposition sebagai “Circumstance roles concerned with the time”. Jadi pada preposisi ini jenis keadaannya menggambarkan atau menekankan “waktu”, yakni

kapan suatu perisitiwa terjadi. Kategori preposisi temporal dikategorikan ke dalam 3 (tiga) jenis yaitu yang menunjukan position, duration, dan frequency. Tetapi dari ketiga jenis ini, katergori yang memperlihatkan penggunaan preposisi dan kehadirannya ada pada fungsi adverb hanya terdapat pada kategori atau jenis temporal position dan duration saja.

2.2.3.2.1 Temporal Position

(40)

- I go to school at 7 o’clock every day.

Pada contoh di atas “at 7 o’clock” menekankan adanya lokasi waktu dari kepergian subjek I ke sekolah terjadi pada tepat pukul 7 pagi setiap harinya. Adanya keterangan keadaan “waktu” kepergian subjek I inilah yang dimaksud

dengan temporal position.

2.2.3.2.2 Temporal Duration

Temporal Duration menekankan jarak keadaan waktu (Jackson, 1900:51). Artinya pada tipe duration ini kasusnya sama dengan tipe distance yang terdapat pada jenis locative distance yang merupakan subbab dari locative preposition di atas, yakni memperlihatkan jarak keadaan waktu juga, perbedaannya jika pada locative distance yang menjadi takaran atau acuan jaraknya adalah “how far/

seberapa jauh” sedangkan pada temporal duration ini takaran atau acuan jaraknya adalah “how long/ seberapa lama” sesuatu dilakukan atau terjadi. Preposisi yang mengekspresikan temporal duration meliputi from, since, until, up, to, during, for, throughtout, between (Jackson, 1990: 67). Contohnya sebagai berikut:

- Anggi was ill for six days.

(41)

2.2.3.3 Process

Jenis dari relasi process ini menunjukan adanya suatu keadaan yang memperlihatkan bahwa suatu keadaan terjadi dengan cara seperti apa atau dilakukannya dengan cara apa. Seperti yang dinyatakan oleh Jackson (1990: 67) bahwa“Circumstance of process related to the question „how?”. Penyataan tersebut jelas bahwa relasi ini menekankan akan “bagaimana” sesuatu terjadi

artinya menekankan pada suatu cara yang terjadi seperti apa.

Relasi process dapat dikategorikan ke dalam process yang menjelaskan manner, means, instrument, dan agentive. Penjabaran dari ke 4 (empat) kategori tersebut adalah sebagai berikut:

2.2.3.3.1 Manner

Jackson (1990: 54) menyatakan bahwa kategori process yang memperlihatkan manner dipahami sebagai“represent the speaker’s subjective assessment of the way in which an event happens or an action is understaken”.

Artinya process yang memperlihatkan manner menekankan suatu cara yang mempertanyakan “bagaimana” suatu peritiwa atau kejadian terjadi atau dilakukan.

Process yang memperlihatkan manner ini biasanya ditandai dengan penggunaan preposisi in. Misalnya adalah in…….manner.

2.2.3.3.2 Means

(42)

ini adalah jenis process dari suatu keadaan yang menjawab lebih spesifik pertanyaan “by what meant” yakni dengan “cara” yang seperti apa atau bagaimana suatu peristiwa atau tindakan dilakukan atau terjadi. Process yang memperlihatkan means ini biasanya menggunakan preposisi seperti by dan by means of.

2.2.3.3.3 Instrument

Process yang memperlihatkan instrument menurut Jackson (1990: 55) menjawab pertanyaan spesifik dari “what with”. Artinya, proses instrument ini mempertanyakan “dengan apa” sesuatu dilakukan, misalnya dengan knive, hand, dan sebagainya. Process instrument ini biasanya ditandai dengan penggunaan preposisi with dan without.

2.2.3.3.4 Agentive

Acuan process yang memperlihatkan agentive menurut Jackson (1990: 55), mengarah pada “person”, untuk menjawab pertanyaan “by whom”. Dari pernyataan Jackson tersebut pada jenis process ini fokusnya kepada pertanyaan yang mempertanyakan “oleh siapa” sesuatu dilakukan.

(43)

2.2.3.4 Respect

Pada relasi respect tidak terdapatnya kategori seperti yang ada pada relasi locative, temporal, dan process. Menurut Jackson (1990: 56) relasi respect ini mengacu pada pertanyaan “in respect of what”, Artinya, relasi respect menekankan suatu kejadian atau peristiwa yang mempertanyakan suatu informasi “mengenai atau dalam hal apa” suatu peristiwa atau kejadian terjadi. Preposisi

yang digunakan meliputi penggunaan preposisi seperti in respect of, with respect to, with regard to, concerning, with reference to, as for. (Jackson, 1990: 67)

2.2.3.5 Contingency

Relasi contingency merupakan suatu kemungkinan atau kontinjensi yang mungkin muncul sebagai pengekspresian suatu keadaan. Pada relasi ini terdapat 6 (enam) kategori yang meliputi cause, reason, purpose, result, condition, dan concession. Hanya saja dari ke 6 (enam) kategori tersebut yang memperlihatkan penggunaan preposisi serta kedudukannya ada pada fungsi adverb hanya terdapat pada kategori cause dan reason. Di bawah ini adalah pengertian dari setiap masing-masing kategori contingency berdasarkan pernyataan Jackson (1990: 59).

2.2.3.5.1 Cause

Jackson (1990: 57) menyatakan bahwa cause “refers to a circumstance of contingency which expresses an objectively identifiable cause or motive for action or event”. Pernyataan Jackson tersebut artinya bahwa pada kategori contingency

(44)

terjadinya suatu tindakan atau peristiwa. Preposisi yang digunakan adalah “because of”.

Berikut adalah contoh dari contingency yang memperlihatkan kategori cause berdasarkan contoh yang diberikan oleh Jackson (1990: 57) dalam bukunya. - The hand-over, due in September was delayed because of the Berlin crisis.

2.2.3.5.2 Reason

Jackson (1990: 57) “Reason expresses a relatively personal or subjective view of a contingency”. Dari pernyataannya tersebut artinya bahwa sebenarnya

pada kategori contingency yang memperlihatkan reason ini hampir sama dengan jenis kategori contingency cause di atas. Hal ini dibuktikan dengan acuan yang sama, yakni sama-sama mengacu pada pertanyaan “why”. Hal yang membedakannya adalah pada contingency yang memperlihatkan reason lebih mengekspresikan sesuatu dengan lebih personal atau pribadi, artinya lebih subjektif dibandingkan yang memperlihatkan cause di atas. Selain itu perbedaan dari contingency yang menunjukan cause dan reason ini dilihat dari acuan pertanyaan yang diberikan. Contingency yang menunjukan cause mengacu pada pertanyaan (why, what cause), sedangkan contingency yang menunjukan reason mengacu pada pertanyaan (why, for what reason). Preposisi yang digunakan pun sama menggunakan preposisi because of.

Di bawah ini adalah contoh contingency yang berkategori atau menunjukan reason berdasarkan contoh yang dibuat oleh Jackson (1990: 57) dalam bukunya.

(45)

32

Bab ini menjelaskan tentang objek dan metode penelitian yang meliputi teknik dan metode yang digunakan dalam pengumpulan dan analisis data yang diambil dari novel After The Funeral karya Agatha Christie.

3.1. Objek Penelitian

Objek yang diteliti berfokus pada frasa eksosentris direktif, yakni frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, serta tidak dapat dipisahkan dalam tataran fungsi klausa. Kemudian dalam penelitian ini, fokus peneliti tidak hanya pada frasa eksosentris direktif melainkan memperhatikan frasa eksosentris direktif yang hanya menempati fungsi adverb saja. Dalam penentuan frasa eksosentris direktif yang menduduki fungsi adverb, peneliti tidak sembarang mengambil data, artinya peneliti hanya fokus pada frasa eksosentris direktif yang menduduki fungsi adverb yang kehadirannya wajib hadir dalam konstruksi kalimat bahasa Inggris. Hal ini dilakukan guna memberikan fokus pada penelitian.

(46)

banyak ditemukan relasi preposisi yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.

3.2 Metode Penelitian

Metode yang digunakan peneliti adalah metode deskriptif. Metode deskiptif itu sendiri dalam buku yang ditulis oleh Fatimah Djajasudarma (2010: 16) dijabarkan sebagai:

Gambaran ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri. Data yang dikumpulkan mungkin berasal dari naskah, wawancara, catatan, lapangan, foto videotape, dokumen pribadi, dsb. Data digambarkan sesuai dengan hakikatnya (ciri-cirinya yang asli).

Dari pengertian metode deksriptif di atas penulis menyimpulkan bahwa tipe dari metode ini adalah tipe motode yang menjelaskan atau memaparkan data sesuai dengan ciri-ciri yang ada.

3.2.1 Teknik Pengumpulan Data

(47)

1. Mengamati Data

Dalam mengamati data, peneliti memfokuskan diri untuk menemukan frasa eksosentris direktif yang menduduki fungsi adverb saja yang kehadirannya wajib hadir pada novel After The Funeral.

2. Menentukan Data

Dalam penentuan data ini, peneliti mengamati secara cermat data yang diambil berdasarkan pada ciri-ciri data yang ada, misalnya peneliti memperhatikan pada data apakah data tersebut sudah memenuhi kebutuhan yang terdapat ciri yang dicari atau dibutuhkan oleh peneliti, artinya peneliti hanya mencari data yang menunjukan frasa eksosentris direktif yang menduduki fungsi adverb dan kehadirannya wajib hadir dalam konstruksi kalimat bahasa Inggris.

3. Mengklasifikasi Data

Pengklasifikasian data lebih pada melihat relasi preposisi dengan frasa yang mengikutinya. Misalnya, apakah relasinya menunjukan relasi locative, temporal, atau mungkin process. Dengan demikian, peneliti akan mengklasifikasikan data berdasarkan ciri relasi tersebut.

4. Menganalisis Data

(48)

3.2.2. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pertama, data yang sudah terkumpul diperiksa kembali oleh peneliti untuk dipastikan frasa eksosentrisnya sudah benar menduduki fungsi adverb dan kehadirannya wajib hadir pada konstruksi kalimat bahasa Inggris yang ada pada data.

2. Kedua, menentukan fungsi sintaksisnya seperti apa, artinya menentukan pada data mana yang berfungsi sebagai subjek, verb, objek, komplemen, atau adverb. Hal ini dilakukan peneliti untuk memudahkan peneliti melihat peran frasa eksosentris yang menduduki fungsi adverb tersebut kehadirannya memang diwajibkan hadir atau tidak.

3. Kemudian yang terakhir, melihat relasi antara preposisi dengan frasa nomina yang mengikutinya; apakah relasinya menunjukan relasi locative, temporal, process, respect, contingency, atau degree.

Contoh analisis data yang dilakukan peneliti sebagai berikut: Data 1

Dina moved to Bandung.

S V A

Pada data “Dina moved to Bandung”, to Bandung di sini adalah frasa

(49)

subjek Dina, sehingga kehadiran frasa eksosentris direktif “to Bandung” wajib hadir untuk melengkapi informasi atau memberikan persyaratan makna sebagaimana yang diisyaratkan frasa verba “moved” bahwa subjek atau pelaku “Dina” melakukan tindakan pindah ke Bandung. Dengan kata lain, makna frasa

verba “moved” memiliki komponen makna persyaratan tempat tujuan

perpindahan. Frasa eksosentris “to Bandung” ini dibutuhkan kehadirannya karena jika kehadiran frasa eksosentris direktif “to Bandung” tersebut tidak dihadirkan pada kalimat “Dina moved to Bandung” maka pemaknaannya tidak memenuhi

persyaratan makna frasa verba “moved”.

Mengkaji lebih jauh unsur sintaksis frasa eksosentris direktif “to Bandung”, frasa terdiri dari preposisi “to” dan NP “Bandung”. Kemudian relasi antara preposisi to dan NP “Bandung” menunjukan relasi locative. Relasi locative-nya di sini memperlihatkan locative direction yang menunjukan “goal direction”. Locative direction artinya adanya sesuatu yang difokuskan oleh si pelaku “Dina” terhadap sesuatu. Sesuatu yang difokuskan pelaku “Dina” di sini

(50)

37

Bab ini memaparkan analisis dan pembahasan data yang bersumber pada novel “After The Funeral” karya Agatha Christie. Sebelum menganalisis, untuk mempermudah penganalisisan data, peneliti mengklasifikasikan data terlebih dahulu berdasarkan rumusan masalah sebagaimana yang dipaparkan pada bab I, kemudian menganalisisnya.

4.1. Frasa eksosentris direktif yang ditandai Preposisi “on”

Subbab ini merupakan penjabaran analisis data yang termasuk pada kategori frasa eksosentris direktif yang ditandai preposisi “on”. Frasa eksosentris direktif tersebut menduduki fungsi adverb serta kehadirannya wajib hadir dalam konstruksi kalimat bahasa Inggris. Pada kasus ini, peneliti menemukan 2 (dua) frasa eksosentris direktif yang ditandai preposisi “on”, tetapi hanya menemukan 1 (satu) jenis relasi saja yakni relasi locative. Di bawah ini, merupakan penjabaran frasa eksosentris direktif preposisi “on” yang relasinya memperlihatkan relasi

lokatif.

Data 1

It dropped on the floor and the glass shade broke. (ATF: 198)

(51)

Penjelasan:

Klausa 1 (independent clause) It dropped on the floor.

Klausa 2 (independent clause) The glass shade broke.

Berikut ini adalah analisis fungsi sintaksis yang menyertainya,

It dropped on the floor and the glass shade broke. S V A S V

Mengkaji struktur semantis dari independent clause yang memiliki frasa eksosentris direktif preposisi “on” pada klausa “It dropped on the floor”, frasa eksosentris direktif “on the floor” ini kehadirannya wajib hadir karena verba “dropped” mewajibkan adverb hadir untuk memperlihatkan secara spesifik bahwa

sesuatu yang terjatuh itu jatuhnya ke lantai, dalam artian lebih jelasnya, sesuatu tidak terjatuh ke jurang atau laut, karena diperlihatkan oleh keadaan gelas yang pecah setelah kejadian jatuh tersebut, dengan kata lain tidak mungkin secara logisnya kalau sesuatu yang terjatuh itu ke jurang atau ke laut, mungkin bentuknya tidak bisa dipastikan apa gelas itu pecah atau menghilang, oleh sebab itu kehadiran frasa eksosentris direktif “on the floor” wajib hadir untuk

memperlihatkan dan menekankan pemahaman logis yang secara spesifik bahwa sesuatu terjatuh ke lantai sehingga menyebabkan gelas menjadi pecah.

(52)

NP “the floor” memperlihatkan relasi locative sehingga preposisi on pada klausa ini dikategorikan sebagai locative preposition. Relasi tersebut dikatakan memperlihatkan locative preposition karena jika melihat pada klausa”It dropped on the floor”, frasa eksosentris direktif “on the floor” menerangkan keadaan

lokasi posisi dari tempat terjatuhnya “it” menuju lantai. Adanya perpindahan jatuhnya “it” yang jatuh dari tempat awal menuju tempat akhir “the floor” ini memperlihatkan locative preposition yang menunjukan goal direction.

Data 2

She went out on to the landing, tapped for a moment on Miss Gilchrist's door and then went in. (ATF: 153)

Secara sintaksis, data 2 memiliki 1 (satu) klausa yang merupakan independent clause.

Penjelasan:

Klausa (independent clause)

She went out on to the landing, tapped for a moment on Miss Gilchrist's door and then went in.

Berikut ini adalah analisis fungsi sintaksis yang menyertainya,

She went out on to the landing, tapped for a moment on Miss Gilchrist's S V A V A A

(53)

Pada data di atas, klausa “she went out on to the landing, tapped for a moment on Miss Gilchrist’s door and then went in.”, secara semantis frasa

eksosentris direktifnya adalah “on to the landing” di mana preposisinya ditandai dengan penggunaan preposisi “on”. Frasa eksosentris direktif “on to the landing” kehadirannya wajib pada klausa tersebut. Kehadirannya yang wajib hadir di sini karena verba ”went out” mewajibkan adverb hadir untuk memperlihatkan arah perpindahan atau pergerakan subjek “she” dari mana atau menuju ke mana. Bandingkan, jika pada klausa “she went out on to the landing, tapped for a

moment on Miss Gilchrist’s door and then went in” , kehadiran frasa eksosentris

direktif “on to the landing” nya dihilangkan, hubungan logis verba went out yang mempersyaratkan kehadiran dari pergerakan kepergian subjek “she” akan ke mana tidak dapat dijelaskan. Oleh karena itu, kehadiran frasa eksosentris direktif “on to the landing” kehadirannya wajib hadir untuk memperlihatkan arah

pergerakan kepergian yang dilakukan subjek “she”, bahwa subjek she tengah pergi menuju tangga lantai atas.

Pada penjabaran di atas adalah penjabaran analisis frasa yang dilihat dari segi semantis, sekarang beralih pada penjabaran frasa dilihat dari segi sintaksis. Frasa eksosentris direktif “on to the landing” terdiri dari preposisi “on”, “to” dan NP “the landing”. Relasi antara antara preposisi “on”, “to” dan NP “the landing”

memperlihatkan relasi locative. Oleh karena itu preposisi on pada klausa “she went out on to the landing, tapped for a moment on Miss Gilchrist's door and then went in.” termasuk ke dalam kategori locative preposition. Relasi tersebut

(54)

on to the landing, tapped for a moment on Miss Gilchrist's door and then went in”, frasa eksosentris direktif “on to the landing” menerangkan keadaan lokasi posisi dari tujuan pergerakan kepergian subjek “she” menuju tangga lantai atas. Oleh sebab itu adanya pergerakan kepergian “she” yang berjalan menuju tangga lantai atas ini memperlihatkan locative preposition yang menunjukan goal direction.

4.2 Frasa eksosentris direktif yang ditandai Preposisi “in”

Subbab ini merupakan penjabaran analisis data yang termasuk pada kategori frasa eksosentris direktif yang ditandai preposisi “in”. Frasa eksosentris direktif tersebut menduduki fungsi adverb serta kehadirannya wajib hadir dalam konstruksi kalimat bahasa Inggris. Pada kasus ini, peneliti menemukan 3 (tiga) frasa eksosentris direktif yang ditandai preposisi “in”, tetapi hanya menemukan 1 (satu) jenis relasi saja yakni relasi locative. Di bawah ini, merupakan penjabaran frasa eksosentris direktif preposisi “in” yang relasinya memperlihatkan relasi

locative.

Data 3

And then I had to run in the kitchen for something boiling over and when I got back Mr Abernethie was saying, 'Even if I die an unnatural death I don't want the police called in’, if it can possibly be avoided. (ATF: 293)

(55)

Penjelasan:

Klausa 1 (independent clause)

And then I had to run in the kitchen for something boiling over

Klausa 2 (dependent clause)

when I got back Mr Abernethie was saying, 'Even if I die an unnatural death I don't want the police called in’, if it can possibly be avoided

Penjabaran dari klausa ke 2:

Independent clause:

Mr Abernethie was saying [something]

Dependent clauses:

1. when I got back

2. 'Even if I die an unnatural death I don't want the police called in’, if it can possibly be avoided

3. Even if I die an unnatural death 4. if it can possibly be avoided

Berikut ini adalah analisis fungsi sintaksis yang menyertainya,

And then I had to run in the kitchen for something boiling over and when I got S V A A A back Mr Abernethie was saying, 'Even if I die an unnatural death I don't want the S V O

(56)

Jika melihat pada data 3 di atas, independent clause yang preposisinya menggunakan preposisi “in” serta posisinya menduduki adverb, ditunjukan oleh klausa “And then I had to run in the kitchen for something boiling over”. Pada

klausa tersebut kehadiran frasa eksosentris direktif “in the kitchen” kehadirannya wajib hadir. Kehadiran frasa eksosentris direktif “in the kitchen” yang wajib hadir pada klausa “And then I had to run in the kitchen for something boiling over” ini disebabkan karena secara semantis verba “had to run” mewajibkan adverb hadir untuk memperlihatkan pergerakan berlari yang dilakukan oleh subjek “I” darimana atau menuju kemana. Pernyataan tersebut artinya jika frasa eksosentris direktif “in the kitchen” pada independent clause “And then I had to run in the

kitchen for something boiling over” kehadirannya dihilangkan, hubungan logis verba “had to run” yang mempersyaratkan arah pergerakan kepergian dari berlarinya subjek “I” menuju kemana atau darimana tidak dapat dijelaskan. Oleh karena itu, kehadiran frasa eksosentris direktif “in the kitchen” ini kehadirannya wajib hadir untuk memperlihatkan arah pergerakan berlarinya subjek “I”, bahwa subjek “I” berlari menuju ke dapur untuk mengangkat sesuatu yang tengah mendidih.

Di atas adalah penjabaran frasa secara semantis, sekarang beralih pada penjabaran frasa jika dilihat dari sisi sintaksis, frasa eksosentris direktif “in the kitchen” terdiri dari preposisi “in”, dan NP “the kitchen”. Relasi antara keduanya

(57)

Relasi tersebut dikategorikan ke dalam locative preposition karena pada klausa And then I had to run in the kitchen for something boiling over”, frasa eksosentris direktif “in the kitchennya menunjukan keadaan lokasi posisi yang

merupakan posisi didapatkannya dapur yang juga merupakan tempat tujuan kepergian dari pergerakan berlari yang dilakukan oleh subjek “I”. Sehingga menjadi jelas adanya pergerakan berlari yang dilakukan oleh subjek “I” menuju dapur ini memperlihatkan locative preposition yang menunjukan goal direction.

Data 4

Funny that murder should have been running in Cora's mind the very day before she herself was murdered. (ATF: 40)

Secara sintaksis, data 4 memiliki 2 (dua) klausa yakni 1 (satu) independent clause dan 1 (satu) dependent clause.

Penjelasan:

Pada klausa “Funny that murder should have been running in Cora's mind the

very day before she herself was murdered. “subjeknya dilesapkan yakni [it] [is] funny.

Independent clause

It is funny.

Dependent clause

(58)

Berikut ini adalah analisis fungsi sintaksis yang menyertainya,

[It] [is] Funny that murder should have been running in Cora's mind S V S V A

the very day before she herself was murdered. A A

Pada data di atas, frasa eksosentris direktif yang menggunakan preposisi “in” dan posisinya menduduki fungsi adverb, ada pada independent clause “that

murder should have been running in Cora's mind the very day before she herself was murdered” dimana kehadiran frasa eksosentris direktif “in Cora’s mind” ini

wajib hadir dalam independent clause tersebut. Kehadiran frasa eksosentris direktif ini wajib hadir karena secara semantis, verba “should have been running” pada dependent clause “that murder should have been running in Cora's mind the very day before she herself was murdered.” mewajibkan adverb hadir untuk

memperlihatkan pikirannya siapa yang tengah dibayangi tentang pembunuhan, artinya jika frasa eksosentris direktif “in Cora’s mind” pada independent clause “that murder should have been running in Cora's mind the very day before she

herself was murdered.” kehadirannya dihilangkan, hubungan logis verba “should have been running” yang mempersyaratkan arah sumber yang mengacu pada

(59)

Penjabaran di atas menunjukan pemahaman frasa secara semantis, sekarang beralih pada pemahaman frasa secara sintaksis, secara sintaksis frasa eksosentris direktif “in Cora's mind terdiri dari preposisi “in” dan NP “Cora's

mind” dimana relasi antara preposisi dan NP-nya menunjukan relasi locative, sehingga preposisi “in” pada klausa “that murder should have been running in Cora's mind the very day before she herself was murdered” dikategorikan sebagai locative preposition. Relasi tersebut dikatakan memperlihatkan locative preposition dapat dilihat dari konteks klausanya “that murder should have been running in Cora's mind the very day before she herself was murdered.”, pada

klausa tersebut terlihat adanya informasi yang mengarahkan bahwa sesuatu tentang pemikiran atau bayangan mengenai pembunuhan tertuju atau lokasinya mengarah pada pemikiran yang dipikirkan oleh subjek “Cora”. Adanya pemikiran atau bayangan tentang pembunuhan yang sumbernya berasal dari pikiran Cora ini, menunjukan locative preposition yang mengekspresikan source direction.

Data 5

It's dark there, and I'm not going in any dark corners by myself after what happened to Aunt Helen. (ATF: 285)

(60)

Penjelasan:

2 Independent Clause 1. It is dark there

2. I'm not going in any dark corners by myself after what happened to Aunt Helen

Berikut ini adalah analisis fungsi sintaksis yang menyertainya,

It is dark there, and I am not going in any dark corners S V C A S V A

by myself after what happened to Aunt Helen. A A

Pada data 5 di atas, frasa eksosentris direktif yang preposisinya menggunakan preposisi “in” ditunjukan pada klausa kedua “I'm not going in any dark corners by myself after what happened to Aunt Helen”, dimana kehadiran frasa eksosentris direktif “in any dark corners” ini kehadirannya wajib hadir. Kehadiran frasa eksosentris direktif “in any dark corners” yang kehadirannya wajib hadir pada klausa “I'm not going in any dark corners by myself after what

happened to Aunt Helen” ini disebabkan karena secara semantis verba “am not going” mewajibkan adverb hadir untuk memperlihatkan pergerakan dari tidak jadinya kepergian subjek “I” menuju ke mana. Pernyataan tersebut artinya jika

frasa eksosentris direktif “in any dark corners“ pada independent clause “I'm not going in any dark corners by myself after what happened to Aunt Helen”

(61)

arah tujuan dari pergerakan kepergian subjek “I” menuju ke mana tidak dapat dijelaskan. Oleh sebab itu, kehadiran frasa eksosentris direktif “in any dark corners” ini wajib hadir untuk memperlihatkan arah pergerakan kepergian subjek “I”, bahwa subjek “I” sebenarnya akan pergi ke sudut tempat yang gelap namun

membatalkannya, karena teringat kejadian yang menimpa bibinya Helen yang kejadiannya di tempat tersebut juga.

Pada paragraf di atas adalah penjabaran frasa secara semantis, sementara pada paragraf ini adalah penjabaran frasa secara sintaksis. Secara sintaksis, frasa eksosentris

Referensi

Dokumen terkait