LEMBAR PERNYATAAN
Asslamu’alaikum Wr. Wb
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah penulis skripsi dengan judul “Analisis Deskriptif Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid” dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan dalam bentuk referensi, baik footnote atau pun daftar pustaka sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli atau
merupakan duplikasi karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikian lembar pernyataan ini dibuat, diharapkan dapat dipergunakan dengan semestinya. Terima Kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Bekasi, 3 Agustus 2010
IMELDA DWI PUTRI SARI
¯2lµo
Asslamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, Sang Pencipta yang telah menciptakan umatNya dengan kemampuan untuk selalu berpikir dan berkarya. Sholawat dan salam tak lupa selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang selalu memberikan petunjuk dan pencerahan bagi kehidupan, yang telah membawa umatnya minadzulumati ilannur, dan kesejahteraan semoga selalu tercurahkan kepada keluarga besar beliau, sahabat-sahabatnya-Nya, tabi’in-tabi’uttabiin, dan kita sebagai umatnya semoga mendapatkan syafaatnya kelak. Amin.
KarenaNya-lah telah memberikanku kekuatan untuk menyelesaikan tugas akhir perkuliahan, walau banyak lika-liku yang harus dihadapi. Dengan petunjuk Allah dan semangat yang ditularkan orang terdekat (Dirga) untuk selalu “membaca dan membaca”.
Aku persembahkan karya ilmiah ini untuk orang-orang teristimewa, Ibunda tercinta Mayati dan Ayahanda tersayang Muhammad Damiri Yakub atas seluruh pengorbanan yang tak kenal lelah, yang senantiasa mensupport dari segi moril maupun materiil, ikhlas dan sabar berjuang demi kelangsungan pendidikan penulis. Ka Resvitasari dan adik-adikku, Syifa serta Fayedh yang masih jauh menempuh perjalanan kehidupan, cinta yang mempersatukan kita. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, semoga Allah SWT senantiasa
merahmati dan melimpahkan keberkahanNya untuk kita, Amin. Karya kecil ini aku persembahkan untuk kalian.
Dengan penuh kerendahan hati dan kesadaran diri, penulis sadar bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materiil, sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan demi terselesaikannya penulisan skripsi ini. Maka penulis berterima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Arief Subhan, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Pudek I Drs. Wahidin Saputra, M.A, Pudek II Drs. H. Mahmud Jalal, M.A, Pudek III Drs. Study Rizal LK, M.A.
3. Drs. Jumroni, M.Si dan Umi Musyarofah, M.A selaku Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
4. Pembimbing Skripsi, Dr. Jamhari, MA yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Terima kasih atas waktu, bimbingan dan semangatnya ya Pa... 5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas
Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah mendidik dan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga penulis dapat mengamalkan ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan, Amin.
6. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi selama perkuliahan dan penelitian skripsi ini.
vi
literatur sebagai referensi dalam penulisan skripsi ini.
8. Kakak dan adik-adikku tersayang Resvitasari, SHI, St. Khoirunnisa Syifa Sari, Muhammad Fayedh Al-Fathir yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini dan senyum manisnya kepada penulis dikala kejenuhan melanda.
9. Dirga Maulana, princeku yang selalu memberikan support dan semangatnya, pengorbanan waktu, tenaga serta perhatiannya saat penulis mengerjakan tugas akhir ini. Hope we’ill get the best think ever in our life, Amiin.
10.Ira D Aini, Ika Lestari dan Milastri Muzakkar yang telah meluangkan waktunya untuk sharing dan berbagi info serta teman seperjuangan dalam menyusun dan menyelesaikan tugas akhir perkuliahan ini.
11.Kawan-kawan mahasiswa seperjuangan KPI angkatan 2006, khususnya KPI C yang telah memberikan banyak cerita, pengalaman dan inspirasi untuk penulis. Neng Imeh, Pipit, Filly, Fadila, dan Janthi yang selalu menghibur dan memberi semangat di saat penulis menyelesaikan tugas akhir ini. Teman-teman satu kost Assalam Alfi, Qori dan Citra yang selalu memberikan senyum kalian sebagai penambah semangatku. Terima kasih do’a dan semangat kalian kawan...
12.Last but not least, kawan-kawan Forum Muda Paramadina yang telah membantu khususnya ka Husni Mubarok, terima kasih atas informasi yang diberikan sebagai bahan penulis mengerjakan skripsi ini.
Ciputat, 4 Juli 2010
Imelda Dwi Putri Sari
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Metodologi Penelitian ... 7
E. Tinjauan Pustaka ... 13
F. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II KAJIAN TEORITIS A. Konseptualisasi Gaya Komunikasi ... 15
1. Pengertian Gaya ... 15
2. Pengertian Komunikasi ... 16
3. Prinsip Komunikasi... 18
4. Proses Komunikasi... 19
5. Tatanan Komunikasi ... 21
6. Pengertian Gaya Komunikasi... 22
7. Retorika ... 24
8. Bahasa ... 28
a. Aspek Bahasa ... 29
b. Fungsi Bahasa ... 30
viii
BAB III BIOGRAFI NURCHOLISH MADJID
A. Profil Nurcholish Madjid ... 33 B. Riwayat Pendidikan dan Aktifitas Intelektual Nurcholish
Madjid ... 35 1. Aktivitas Intelektual Nurcholish Madjid... 40 2. Karya-karya dan Karirnya ... 42 BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS GAYA KOMUNIKASI
NURCHOLISH MADJID
A. Pembahasan Hasil Wawancara dengan Informan terkait Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid ... 51 1. Analisa Hasil Wawancara dengan Informan Terkait
dengan Retorika Nurcholish Madjid ... 51 2. Analisa Hasil Wawancara dengan Informan Terkait
dengan Bahasa (Pemilihan Kata) Nurcholish Madjid... 59 3. Analisa Wawancara dengan Informan Terkait dengan
Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid ... 64 B. Pandangan Kolega Tentang Gaya Komunikasi Nurcholish
Madjid ... 65
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 67 B. Saran... 68 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemampuan komunikasi yang baik dan efektif tentunya bisa mengantarkan seseorang meraih tahta dan cita-cita tertinggi. Pengucapan kata yang jelas dalam komunikasi sangat diperlukan sehingga pesan sampai ke komunikan (penerima pesan) lancar dan tidak terkena gangguan (noise) atau distorsi (pemutarbalikan fakta atau kenyataan).
Dalam berkomunikasi seseorang tidak lepas dari bagaimana gaya komunikasinya. Gaya komunikasi dapat dilihat dari bagaimana seorang komunikator menggunakan bahasa, pemilihan kata, retorika dan menunjukkan bahasa tubuhnya.
Seperti diungkapkan Sidik Suhada seorang Jurnalis media dan televisi, bahwa “bahasa menunjukkan bangsa. Identitas dan citra diri seseorang di mata orang lain pun dipengaruhi oleh bagaimana cara ia berkomunikasi. Selain itu juga pemilihan kata, istilah serta intonasi (tekanan suara). Semua akan dapat mencerminkan identitas dan citra diri seseorang yang sedang berbicara”.1 Seperti halnya bahasa yang memiliki konteks ruang dan waktu, agar menarik gaya komunikasi juga harus mengikuti selera masyarakat yang selalu mengalami perubahan konteksnya. Dalam hal ini gaya komunikasi Nurcholish Madjid dalam menyampaikan ceramah atau pidato.
1
Sidik Suhada,” Media dan Komunikasi,” artikel diakses pada 20 April 2010 pukul 11.11 pm dari http://sidiksuhada.blogspot.com/2010/01/bahasa-dan-ideologi-dalam-retorika.html
Untuk memahami bagaimana gaya komunikasi yang baik agar pesan sampai secara efektif kepada komunikan, maka hal demikian menjadi perhatian Penulis pada sosok Nurcholish Madjid atau Cak Nur, sapaan akrabnya.
Dalam sejarahnya selain melalui tulisan, Cak Nur seringkali menyampaikan ide atau gagasannya secara lisan melalui ceramah, khutbah atau melalui forum-forum diskusi dengan gaya komunikasinya yang khas. Karena kepiawaiannya berkomunikasi, gagasan Cak Nur terus berkembang.
Adian Husaini, seorang yang kontra terhadap Cak Nur pun tak memungkiri, ia mengatakan bahwa “Nurcholish Madjid menjadi faktor penentu bagi perkembangan gerakan pembaruan Islam di Indonesia”. Pertama, karena kepiawaian komunikasi Nurcholish Madjid baik lisan maupun tulisan. Kedua, karena Nurcholish Madjid berlatar belakang pendidikan studi Islam dan memulainya dari tubuh organisasi Islam di Indonesia. Dengan kepiawaiannya berkomunikasi, Nurcholish Madjid dan ide-idenya masih terus dikembangkan.2
Kepiawaian Cak Nur dalam berkomunikasi bisa dilihat dengan bagaimana gaya komunikasi atau cara khas tokoh ini menyampaikan pidato, berbicara dalam forum-forum diskusi atau ceramah dalam khutbah Jum’at. Seseorang yang santun, sederhana, berbahasa Indonesia yang baik dengan bahasa yang sangat akademis dan ilmiah yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang awam itulah yang sepertinya tampak pada diri seorang Cak Nur.
2
Adian Husaini, “37 Tahun Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia,” artikel diakses
3
Cak Nur adalah seorang cendikiawan Muslim yang selalu melontarkan ide, gagasan yang menekankan pentingnya mencari persamaan di antara semua agama dan semua kebudayaan. Gagasan-gagasan keislaman Cak Nur selama ini terlihat konsisten, sistematis, utuh dan terkait secara logis dengan persoalan kemodernan dan keindonesiaan. Melalui ceramah, pidato, khutbah Jum’at atau dalam forum-forum diskusi dengan kemampuan retorika dan gaya komunikasinya sulit meragukan dan concern Cak Nur untuk Islam dan Indoensia.
Dalam buku “Komunikasi Efektif”, Deddy Mulyana mengatakan tidak mengherankan jika pada tahun 2003 salah satu dari enam tokoh yang dipilih oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional bersama tujuh organisasi media massa sebagai tokoh yang memiliki gaya komunikasi dengan berbahasa Indonesia lisan terbaik adalah Cak Nur.3 Gaya komunikasi Cak Nur terbuka, jernih, apa adanya dan santun.4
Dalam buku Deddy Mulyana tersebut juga dikatakan bahwa gaya komunikasi efektif merupakan perpaduan antara sisi-sisi positif komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah yang ditandai dengan ketulusan, kejernihan, keterbukaan, keterusterangan, kesederhanaan, dan kesantunan dalam berbicara.5
Secara teoritik Edward T. Hall mengungkapkan bahwa gaya komunikasi dapat dibedakan ke dalam bentuk gaya komunikasi konteks tinggi dan gaya komunikasi konteks rendah. Spesifikasi konteks tinggi biasanya
3
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2006) cet ke-2 h.149-150.
4
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, h.147.
5
orang lebih suka berbicara secara implisit, tidak langsung dan suka basa-basi. Sementara gaya komunikasi konteks rendah biasanya digunakan oleh orang-orang yang memiliki pola pikir linier (searah). Bahasa yang digunakan langsung, lugas dan eksplisit.6
Deddy Mulyana juga mengemukakan bahwa Cak Nur tergolong seorang yang bergaya komunikasi konteks rendah, ditandai dengan keterbukaan dan kelugasan dalam menyampaikan gagasan-gagasannya, karena dilatarbelakangi lamanya Cak Nur mengenyam pendidikan di Amerika.
Dalam menyampaikan ide maupun gagasannya baik melalui tulisan maupun lisan seperti pidato atau dalam forum diskusi, Cak Nur menggunakan bahasa Indonesia yang baik, tetapi ia menggunakan istilah yang tidak sederhana dan sulit dipahami oleh kebanyakan orang awam. Menurut Budhy Munawar-Rahman:
“Cak Nur pernah mengatakan bahwasanya konstituen Paramadina adalah kelas menengah. Sebenarnya hal yang demikian itu natural saja. Karena dalam menguraikan gagasan-gagasan itu kita menggunakan pola-pola komunikasi tertentu, yang disebut ilmiah, akademik dan lain sebagainya. Jadi kekelasmenengahan Paramadina bukanlah tujuan, tapi efek dari pendekatan yang kita gunakan. Kebetulan juga didukung oleh teori-teori bahwa perubahan sosial itu berasal dari kelas menengah, yang antara lain muncul dalam teori-teori tentang strategic elities, opinion makers, trend makers, dan lain sebagainya ”.... sebab kalau tidak begitu, kita tidak akan efisien lagi. Kalau kita ke bawah juga, kita harus siap-siap membagi bahasa. Padahal kita tidak bisa menjadi setiap orang. We cannot be everybody. Kita harus menjadi somebody secara efektif dan commited...”7
Dalam kutipan tersebut dijelaskan bahwa bahasa yang digunakan Cak Nur memang akademis, ilmiah, dan ditujukan bagi kelas menengah. Karena Cak Nur meyakini perubahan sosial berasal dari kelas menengah. Pilihan gaya komunikasi Cak Nur disesuaikan dengan konteks budaya jamaahnya. Seperti
6
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, h. 129.
7
5
yang ditegaskan oleh Fiske bahwa komunikasi merupakan sentral bagi kehidupan budaya kita.8
Oleh karena itu, Penulis bermaksud meneliti dengan menganalisis gaya komunikasi Cak Nur melalui wawancara dengan beberapa kolega dan murid-murid Cak Nur serta mengamati melalui rekaman audio visual Cak Nur. Dan itulah beberapa yang dapat dijadikan Penulis sebagai alasan atau landasan, mengapa topik ini diangkat dan dijadikan sebuah penelitian dan karya ilmiah yang berjudul Analisis Deskriptif Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Yang menjadi pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana gaya komunikasi Nurcholish Madjid dalam menyampaikan gagasan pluralisme dalam konteks Islam dan keindonesian sehingga gagasannya terus berkembang hingga saat ini. Dilihat dari mazhab proses yang dikembangkan oleh Shannon dan Weaver dalam Mathematical Theory of Communication melihat sebuah komunikasi sebagai transmisi (saluran) pesan.
Agar penelitian ini lebih fokus, terarah, jelas dan spesifik Penulis membatasi masalah yang akan diteliti.
Dari pembatasan masalah diatas, maka muncul rumusan masalah, yakni sebagai berikut:
1. Bagaimana gaya komunikasi Nurcholish Madjid ketika menyampaikan gagasan pluralisme dalam konteks Islam dan keindonesian melalui ceramah maupun pidato ketika berbicara dalam sebuah forum diskusi?
8
John Fiske, Cultural and Communication Studies; Sebuah Pengantar Paling
2. Bagaimana pandangan kolega terhadap gaya komunikasi Cak Nur?
3. Apakah gaya komunikasi Cak Nur termasuk gaya komunikasi konteks tinggi atau konteks rendah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari, membahas dan mengetahui bagaimana gaya komunikasi Nurcholish Madjid dan pandangan kolega terhadap gaya komunikasi Nurcholish Madjid ketika menyampaikan gagasan pluralisme dalam konteks Islam dan keindonesian melalui ceramah maupun pidato dalam forum-forum diskusi.
2. Manfaat Penelitian a. Akademis
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan tentang gaya komunikasi yang baik dan efektif khususnya bagi insan akademisi di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dan umumnya di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
b. Praktis
Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dan membuka pandangan bagi para teoritisi, praktisi dan pemikir dari berbagai perspektif tentang gaya komunikasi efektif.
c. Teoritis
7
keberhasilannya menyampaikan sebuah pesan, ide atau gagasan sehingga terjadi komunikasi yang efektif dan tercapainya tujuan yang diharapkan seorang komunikator.
D. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kualitatif deskriptif. Dengan mengamati kasus dari berbagai sumber data yang digunakan untuk meneliti, menguraikan dan menjelaskan secara komprehensif, berbagai aspek individu, kelompok suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis. Penelaah berbagai sumber data ini membutuhkan berbagai macam instrumen pengumuman data. Karena itu, Penulis menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi-dokumentasi, rekaman bukti-bukti fisik.9
Dengan menggunakan analisis deskriptif dimana peneliti berusaha melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.10
Ciri lain dalam analisis ini ialah titik berat pada observasi dan suasana alamiah (naturalistis setting). Peneliti bertindak sebagai pengamat. Peneliti hanya membuat kategori prilaku, mengamati gejala, dan mencatatnya dalam buku observasinya. Dengan suasana alamiah yang dimaksudkan bahwa peneliti terjun ke lapangan. Peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi variabel. Karena kehadirannya mungkin mempengaruhi prilaku gejala (reactive measures), peneliti berusaha memperkecil pengaruh ini. Penelitian sosial telah menghasilkan beberapa
9
Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta, 2007), cet ke-2 h.102
10
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja
pengukuhan yang tidak terlalu banyak “merusak” kenormalan (unobstrusive measures).11
Fungsi analisis deskriptif adalah untuk memberikan gambaran umum tentang data yang telah diperoleh. Gambaran umum ini bisa menjadi acuan untuk melihat karakteristik data yang kita peroleh.12 Begitu pula pada penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan temuan di lapangan apa adanya. Sebisa mungkin peneliti akan mengurangi pengaruh terhadap objek, sehingga data yang diproleh dapat diolah secara memadai.
2. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah sumber tempat memperoleh keterangan.13 Adapun subjek dalam penelitian ini adalah Cak Nur dengan menggunakan rekaman audio visual Cak Nur, kolega, murid-murid. Sedangkan objeknya adalah bagian dari subjek yang diteliti secara terperinci. Objek penelitian merinci fenomena yang akan diteliti sekaligus merupakan deskripsi dari penelitian yaitu gaya komunikasi Nurcholish Madjid dalam menyampaikan gagasan pluralisme dalam konteks islam dan keindonesian. Dengan mencari sumber data yang akurat, yaitu wawancara beberapa pihak yang memiliki keterkaitan terhadap Cak Nur seperti kolega dan muridnya yang pernah berinteraksi, serta rekaman audio visual Cak Nur ketika berceramah dalam khutbah Jum’at dan rekaman berbicara dalam forum diskusi, guna memberikan informasi mengenai Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid.
11
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, 2005.h.25
12
“Analisis Deskriptif” artikel diakses pada 30 April 2010 dari inparametric.com/bhinablog/donload/04_analisis_deskriptif.pdf-Halaman sejenis (30-04-2010)
13
9
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan data primer yaitu wawancara terhadap kolega dan murid-murid Cak Nur (field research). Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder melalui rekaman audio visual Nurcholish Madjid ketika menyampaikan gagasan pluralisme dalam konteks Islam dan keindonesian dalam khutbah Jum’at dan ketika Cak Nur berbicara dalam sebuah forum diskusi yang peneliti peroleh dari Yayasan Wakaf Paramadina Jakarta. Penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang di lapangan, tempat dimana objek penelitian itu berada.14 Untuk pengambilan data penelitian lapangan digunakan metode sebagai berikut.
a. Wawancara, yaitu percakapan antara peneliti – seseorang yang berharap mendapat informasi dari informan (seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi langsung dari sumbernya).15 Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada kolega yang pasti memiliki keterkaitan erat dan berhubungan baik secara langsung dengan Cak Nur guna memperoleh data-data mengenai gaya komunikasinya. Teknik wawancara yang digunakan yaitu bebas terbuka yaitu peneliti menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan gaya komunikasi Nurcholish Madjid yang kemudian dikembangkan bersamaan dengan dijawabnya pertanyaan
14
Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
2004), h.89
15
Rahmat Kriyantono, Tehnik Praktisi Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana Pranada
b. Informan, dalam penelitian ini, ada beberapa pertimbangan untuk menentukan informan sebagai sumber informasi. Dalam menentukan informan pertimbangannya adalah:
1) Keakuratan dan validitas informasi yang diperoleh. Berdasarkan hal ini maka jumlah informan sangat tergantung pada hasil yang dikehendaki. Bila mereka yang menjadi informan adalah orang-orang yang benar-benar menguasi masalah yang diteliti, maka informasi tersebut dijadikan bahan analisis.
2) Jumlah informan sangat bergantung pada pencapaian tujuan penelitian, artinya bila masalah-masalah dalam penelitian yang diajukan sudah terjawab dari 7 informan, maka jumlah tersebut adalah jumlah yang tepat.
3) Peneliti diberi kewenangan dalam menentukan siapa saja yang menjadi informan, tidak terpengaruh jabatan seseorang.
Informan yang telah diwawancarai dalam rangka untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, sebagai kolega Cak Nur dan merupakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2) Romo Frof. Dr. Magnis-Suseno SJ, Guru Besar STF Driyarkara merupakan kolega dekat Cak Nur.
11
4) Rahmat Hidayat, sebagai rekan kerja Cak Nur yang merupakan staf Yayasan Wakaf Paramadina.
5) Omi Komariah, sebagai istri dan partner terdekat Cak Nur.
6) Musdah Mulia, sebagai murid Cak Nur dan merupakan Direktur lembaga ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace). 7) Trisno S. Sutanto, masyarakat non muslim merupakan kolega Cak
Nur.
c. Observasi, yaitu informasi atau data yang dikumpulkan dalam penelitian.16
Observasi dapat juga berarti pengamatan yang merupakan kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra mata, mulut, dan kulit. Oleh karena itu, observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan.17
d. Dokumentasi, yaitu data diperoleh dari dokumen-dokumen dan arsip-arsip yang didapat dari Yayasan Wakaf Paramadina dan Organisasi Forum Muda Paramadina, seperti rekaman audio visual ceramah Nurcholish Madjid, buku-buku, newsletter, internet yang berhubungan dengan judul yang Penulis angkat, serta situs www.paramadina.or.id. 4. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Patton, adalah proses mengatur uraian data. Mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satu uraian
16
Masri Singarimbun, Metodologi Penelitian Survey, (Editor: Sofian Effendi), (Jakarta: h.192
17
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan
dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraian.18
Untuk menganalisis data atau fakta yang telah didapatkan, digunakan metode analisis deskriptif. Disiplin ilmu ini bekerja dengan mengungkapkan data dan fakta secara alamiah tanpa sedikitpun mempengaruhi subjek maupun objek penelitian.
Untuk menganalisis data dalam penelitian ini, maka dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pengumpulan informasi, melalui wawancara, kuisioner maupun observasi langsung.
2. Reduksi. Langkah ini adalah untuk memilih informasi mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan masalah penelitian.
3. Penyajian. Setelah informasi dipilih maka disajikan bisa dalam bentuk tabel, ataupun uraian penjelasan.
4. Tahap akhir, adalah menarik kesimpulan.
Pertanyaan melalui wawancara yang diajukan kepada informan semata-mata sebagai bahan kajian yang mendasar untuk membuat kesimpulan. Bagaimanapun pendapat banyak orang merupakan hal penting meskipun tidak dijamin validitasnya. Semakin banyak informasi, maka diharapkan akan menghasilkan data yang sudah tersaring dengan ketat dan lebih akurat.19
18
Lexy J. Moeleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
1993), cet ke-10 h. 103.
19
13
E. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan tinjauan pustaka. Dengan mengadakan tinjauan perpustakaan utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Selain itu juga peneliti mencari sumber tambahan dengan melakukan tinjauan di perpustakaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat serta Fakultas Adab dan Humaniora. Peneliti melakukan tinjauan pustaka ini guna memastikan apakah ada judul atau tema yang sama dengan penelitian (skripsi) ini. Berdasarkan hasil penelusuran peneliti, ada beberapa skripsi yang meneliti mengenai Nurcholish Madjid diantaranya; Konsep Negara dalam Wacana Pemikiran Politik Nurcholish Madjid oleh Irwa Hulwani, mahasiswa Fakultas Syari”ah dan Hukum Jurusan Jinayah Syiyasah, Nurcholish Madjid dan Yayasan Wakaf Paramadina (Kajian Awal Tentang Sejarah Yayasan Wakaf Paramadina sebagai Laboratorium Pembaharuan Islam Versi Nurcholish Madjid Pada Tahun 1970-1996) oleh Fitriyah mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, serta Masyarakat Madani Menurut Pemikiran Nurcholish Madjid dalam Pandangan Islam oleh Zulkarnaen mahasiswa fakultas Syariah dan Hukum UIN. Tentu saja penelitian-penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Karena peneliti akan melakukan penelitian mengenai Analisis Deskriptif Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan serta teraturnya skripsi ini dan memberikan gambaran yang jelas serta lebih terarah mengenai pokok permasalahan yang dijadikan pokok dalam skripsi ini, maka peneliti mengelompokkan dalam lima bab pembahasan, yaitu sebagai berikut:
BAB I Merupakan bab pendahuluan yang membahas tentang Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penulisan.
Bab II Bab ini menjelaskan teori-teori yang relevan digunakan dalam Penulisan skripsi untuk menganalisa dan merancang sistem yang diperoleh dari berbagai sumber seperti rekaman video, buku referensi maupun internet yang menjadi landasan Penulisan skripsi ini diantaranya terdapat teori terministic screen.
BAB III Bab ini berisi gambaran lebih jauh sosok tokoh cendikiawan Muslim yaitu biografi Nurcholish Madjid yang berisikan Riwayat Hidup Nurcholish Madjid, Riwayat Pendidikan, Karir dan Aktivitas Intelektualnya.
Bab IV Merupakan bab analisis dan pembahasan. Bab ini membahas hasil dari temuan data dan analisis data yakni Analisis hasil wawancara kepada informan terkait Gaya Komunikasi Nurcholish Madjid.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Konseptualisasi Gaya Komunikasi 1. Pengertian Gaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anonim, 1999) gaya memiliki banyak konotasi arti. Ada yang berkonotasi kekuatan, sikap, irama/lagu, elok dan ragam (cara, rupa, bentuk) yang khusus, mengenai tulisan, karangan, pemakaian bahasa dan bangunan rumah.1
Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia juga mengartikan gaya sebagai cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan.2 Jadi penjelasan di atas mengenai gaya bisa dikonfrontasikan bahwa ciri khas seseorang dalam menyatakan pikiran dan perasaannya dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga Depdiknas dalam konteks bahasa, gaya berarti pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis. Dapat juga berarti cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan serta pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu.3
1
Sumardjo, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Anonim, 1999)
2
Frista Artmanda W, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Jombang: Penerbit Lintas
Media)
3
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga
(Jakarta: Balai Pustaka, 1985)
Dalam konteks komunikasi, gaya bisa diartikan ragam (cara) seseorang dalam pemakaian bahasa untuk menyampaikan pesan kepada komunikan.4
2. Pengertian Komunikasi
Onong Uchjana Effendy dalam Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi menyatakan komunikasi secara etimologi berasal dari kata latin “communicatio”. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti sama, sama disini maksudnya sama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan.5 Onong Uchjana Effendy dalam karyanya yang berbeda Dinamika Komunikasi juga mengatakan istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin,
communicatio yang berasal dari kata communis artinya: “sama” dalam arti sama makna mengenai suatu hal.6
Pendapat lain mengatakan, secara historis, kata komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu perkataan “communicare” mempunyai arti ”berpartisipasi atau memberitahukan”.7
Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.
4
Rimun Wibowo, dkk., “Gaya Komunikasi Pemimpin dan Keefektifan Kelompok Tani
dalam Melaksanakan Program Konservasi Tanah dan Air”, artikel diakses pada 23 April 2010
pukul 10.06 am dari http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/12167/psl067_3.pdf
5
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2003), cet. ke-3 h. 30.
6
Onong Uhcjana, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 4.
7
Astrid S. Susanto, Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, (Bandung: Bina Cipta 1974),
17
Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator), sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi makna komunikan (communicate).
Sasa Djuarsa Senjaja dalam bukunya Pengantar Komunikasi
mengatakan, komunikasi adalah “suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dan dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu.8
Definisi komunikasi menurut Harold Dwight Laswell, bahwa komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan tentang apa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat apa? (who says what in which channel to whom with what effect?).
Selain pernyataan di atas, para ahli komunikasi juga mempunyai pendapat yang berbeda mengenai pengertian komunikasi, diantaranya Bereslon dan Steiner mendefinisikan komunikasi sebagai penyampaian informasi, ide, gagasan, emosi, keterampilan dan seterusnya melalui penggunaan simbol kata, gambar, angka, grafik, dan lain-lain. Kemudian Shannon dan Weaver mengartikan komunikasi mencakup sebagai prosedur melalui mana pikiran seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain.9
Dalam buku Sistem Komunikasi Indonesia, Nurudin mendefinisikan komunikasi adalah proses hal dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah
8
Sasa Djuarsa Senjaja, Pengantar Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999),
cet.ke-4. h.8.
9
prilaku. Definisi tersebut menekankan bahwa dalam komunikasi ada sebuah proses pengoperan (pemrosesan) ide, gagasan, lambang, dan di dalam proses itu melibatkan orang lain.10
Adapula yang menekankan pada unsur penyampaian atau pengoperan bahwa komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang berarti antara individu-individu.11
Menurut Onong Uchjana, ada beberapa sebab mengapa manusia melakukan komunikasi, yakni untuk:
a. Mengubah sikap (to change the attitude)
b. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) c. Mengubah prilaku (to change the behavior)
d. Mengubah masyarakat (to change society)
Komunikasi juga dilakukan dengan berbagai metode, istilah metode atau dalam bahasa Inggris “method” berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang berarti rangkaian yang sistematis dan yang merujuk kepada tata cara yang sudah dibina berdasarkan rencana yang pasti, mapan, dan logis. Agar komunikasi berjalan efektif, maka kita juga memerlukan strategi dalam menyampaikan pesan agar dapat diterima oleh orang lain.12
3. Prinsip Komunikasi
Ada lima prinsip penting yang tidak bisa dilewatkan dalam berkomunikasi yang baik yaitu:
10
Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007),
h.26
11
Anwar Arifin, Ilmu Komunikasi; Sebagai Pengantar Ringkas, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1995), cet ke-3, h. 25
12
19
a. Seluruh perilaku mengkomunikasikan sesuatu dengan sengaja atau tidak sengaja (tangan, mulut, wajah, baju, dll).
b. Komunikasi non verbal sangat berpengaruh terhadap persepsi. c. Konteks berpengaruh terhadap komunikasi.
d. Arti terdapat pada orang bukan pada kata-kata. Kita masih melihat siapa yang berbicara dan apa yang di katakannya, dan kita umumnya tidak melihat kata-kata dan cara penyampaiannya.
e. Komunikasi memerlukan keterbukaan dari pengirim dan penerima.13 4. Proses Komunikasi
Meminjam istilah Laswell untuk berkomunikasi yang baik itu dibutuhkan lima kategori penting yang tidak bisa kita pungkiri yakni: a. Source (sumber)
Sumber adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan, yang digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku dan sejenisnya.14
b. Communicator (penyampai pesan)
Komunikator dapat berupa individu yang sedang berbicara, menulis, kelompok orang, organisasi komunikasi, seperti: surat kabar, televisi, film dan sebagainya. Komunikator dalam penyampaian pesannya bisa juga menjadi komunikan begitu juga sebaliknya. Syarat-syarat yang harus di perhatikan oleh seorang komunikator adalah: a. Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi komunikasinya.
b. Keterampilan berkomunikasi.
13
Abu Fatheer, “Retorika Dakwah”, artikel diakses pada 3 Mei 2010 pukul 11.36 am dari http://pks-kotabekasi.com/component/content/article/38-motivasi/119-retorika-dakwah.html
14
Widjadja, Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Bumi
c. Mempunyai pengetahuan yang luas. d. Sikap
e. Memiliki daya tarik15 c. Message (pesan)
Pesan keseluruhan dari apa yang disampaikan komunikator. Pesan dapat bersifat informatif memberi keterangan-keterangan yang kemudian komunikan dapat mengambil kesimpulannya sendiri. Persuasif bujukan, yakni membangkitkan dan kesadaran seseorang bahwa apa yang kita sampaikan akan memberi pendapat atau sikap, sehingga ada perubahan.
d. Channel (saluran)
Saluran komunikasi selalu menyampaikan pesan yang dapat diterima melalui pancaindra atau menggunakan media. Pada dasarnya komunikasi yang sering dilakukan dapat berlangsung menurut dua saluran, yaitu:
1) Saluran formal atau yang bersifat resmi;
2) Saluran informal atau yang bersifat tidak resmi. e. Communican (penerima pesan)
Komunikan atau penerima pesan dapat digolongkan dalam tiga jenis yakni personal, kelompok dan massa.
f. Effect (hasil)
Effect adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak dengan yang kita inginkan.
15
21
5. Tatanan Komunikasi
Yang dimaksud dengan tatanan komunikasi adalah proses komunikasi ditinjau dari jumlah komunikan. Apakah satu orang, sekelompok orang, atau sejumlah orang yang bertempat tinggal secara tersebar.16
Glueck membedakan komunikasi ke dalam dua bagian utama yaitu:
a. Interpersonal Communications, komunikasi antar pribadi yaitu, proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dalam suatu kelompok kecil manusia.
b. Organizational Communications, yaitu di mana pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian kepada orang banyak di dalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan.17
Abdurrachman menyatakan bahwa pesan yang disampaikan komunikator harus mempunyai pengertian yang sama dengan komunikan agar dapat dimengertinya, sehingga komunikator akan mengetahui reaksi dan respon dari komunikan terhadap pesan yang disampaikan.18
16
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2003), cet-3 h. 53.
17
Widjaja, H. A., Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), Cet. 3, h. 8.
18
Adriana Aprilia, Analisa Pengaruh Tipe Kepribadian dan Gaya Komunikasi Public
Relations Manager Hotel ”X” Surabaya dalam Membangun Hubungan Baik dengan Media dan
Meningkatkan Publisitas” dalam Abdurrachman, Dasar-Dasar Public Relations, (Bandung: PT.
6. Pengertian Gaya Komunikasi
Mengacu pada pernyataan Bereslon dan Steiner dan arti gaya serta komunikasi di atas maka gaya komunikasi dapat diartikan sebagai cara seseorang menyampaikan ide, gagasan dengan bahasa sebagai alat penyalurnya untuk menyampaikan pesan kepada komunikan.
Pendapat lain menyatakan gaya komunikasi adalah suatu kekhasan yang dimiliki setiap orang. Proses komunikasi seseorang dipengaruhi oleh gaya komunikasi. Gaya komunikasi antara orang yang satu dengan orang yang lain tentu berbeda. Perbedaan antara gaya komunikasi antara orang yang satu dengan yang lain dapat berupa perbedaan ciri-ciri model dalam berkomunikasi, tata cara berkomunikasi, cara berekspresi dalam berkomunikasi dan tanggapan yang diberikan atau ditunjukkan pada saat berkomunikasi.19
Dalam hal ini Cak Nur melontarkan atau menyampaikan pikirannya berupa ide, gagasannya melalui forum diskusi dengan khas gaya komunikasinya. Untuk lebih memfokuskan penelitian, peneliti menandai gaya komunikasi Cak Nur dari sisi retorika dan bahasa (pemilihan kata) yang digunakan oleh Cak Nur.
Kemudian, gaya komunikasi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada gaya komunikasi yang dikemukakan oleh Edward T. Hall. Menurut Hall, gaya komunikasi dalam konteks budaya dapat
19
Junaedi Wijaya dan Yenny Wiyanto, “Analisa Pengaruh Tipe Kepribadian dan Gaya
Komunikasi Public Relations Manager Hotel ”X” Surabaya dalam Membangun Hubungan Baik
23
diklasifikasikan ke dalam gaya komunikasi konteks tinggi dan gaya komunkasi konteks rendah.20
Secara teoretik, Edward T. Hall dalam buku Deddy Mulyana, menyebut dalam konteks budaya, gaya komunikasi dapat dibedakan ke dalam bentuk gaya komunikasi konteks tinggi dan gaya komunikasi konteks rendah. Gaya bicara komunikasi konteks tinggi ini, orang lebih suka berbicara secara implisit (halus, diam-diam), tidak langsung, dan suka basa-basi. Salah satu tujuannya, untuk memelihara keselarasan kelompok dan tidak ingin berkonfrontasi (bertentangan), maksudnya agar tidak mudah menyinggung perasaan orang lain. Komunikasi budaya konteks tinggi, cenderung lebih tertutup dan mudah curiga terhadap pendatang baru atau orang asing. Sementara gaya komunikasi dalam konteks rendah, biasanya digunakan oleh orang-orang yang memiliki pola pikir linier. Bahasa yang digunakan langsung, lugas, dan eksplisit21. Selain itu, komunikasi konteks rendah, cepat dan mudah berubah karena tidak mengikat kelompok.22
Untuk lebih memudahkan peneliti membuatnya dalam bentuk tabel di bawah ini:
20
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya (Bandung: PT
RemajaRosdakarya, 2005) h.129
21
Dalam kamus ilmiah populer karangan Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry eksplisit berarti jelas, terang, gamblang; dengan tegas.
22
Tebel 1. Perbedaan Gaya Komunikasi Konteks Tinggi dan Gaya Komunikasi Konteks Rendah
No. Gaya Komunikasi Konteks Tinggi Gaya Komunikasi Konteks Rendah 1. Mengandung pesan yang kebanyakannya
ada dalam konteks fisik, sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan tersebut.
Sibuk dengan spesifikasi, rincian, jadwal waktu yang persis dengan mengabaikan konteks.
2. Bicara secara implisit, tidak langsung dan suka basa-basi.
Bicaranya eksplisit, bahasa yang digunakan langsung dan lugas.
3. Kebanyakan masyarakat homogen berbudaya konteks – tinggi, pola pikir non linier.
Biasanya digunakan oleh orang-orang yang memiliki pola pikir linier.
4. Kekuatan kohesif bersama yang memiliki sejarah yang panjang, lamban berubah dan berfungsi untuk menyatukan kelompok.
Cepat dan mudah berubah, tidak mengikat kelompok.
5. Orang berbudaya konteks-tinggi gemar berdiam diri, tidak suka berterus terang, dan misterius.
Orang berbudaya konteks-rendah dianggap berbicara berlebihan, mengulang-ngulang apa yang sudah jelas.
Sumber: Deddy Mulyana, “Komunikasi Efektif”, h.129
7. Retorika
Gaya komunikasi seseorang juga dapat dilihat dari retorika. Retorika adalah ilmu berbicara. Dalam bahasa Inggris, yaitu rhetoric dan dari kata Latin rhetorica yang berarti ilmu bicara.23 Bagi Aristoteles retorika adalah seni persuasi, suatu yang harus singkat, jelas dan meyakinkan, dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang bersifat memperbaiki (corrective), memerintah (instructive), mendorong (suggestive) dan mempertahankan (defensive).24
23
Onong Uchjana Effendy, Komunikasi: Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2007), cet.ke-21 h.53.
24
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (Bandung: PT Citra
25
Aristoteles menulis:
“Persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara, yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya kita menganggapnya dapat dipercaya. Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang-orang baik daripada orang lain: ini berlaku umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi. Tidak benar, anggapan sementara penulis retorika bahwa kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa-apa pada kekuatan persuasinya; sebaliknya, karakternya hampir bisa disebut sebagai alat persuasi yang paling efektif yang dimilikinya.”25
Aristoteles menyebut karakter komunikator ini sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik, akhlak yang baik, dan maksud yang baik (good sense, good moral character, good will).26
Pada mulanya retorika merupakan cara pengungkapan pikiran dan perasaan manusia terhadap sesamanya telah ada seiring munculnya manusia di bumi ini. Retorika menjadi bahan kajian proses pernyataan antarmanusia sebagai fenomena sosial mulai abad V SM di Yunani dan Romawi.
Di Yunani dipelopori oleh Georgias (480-370 SM). Seiring dengan mulai dikembangkannya sistem pemerintahan demokrasi, maka retorika yang diajarkan Georgias adalah bagaimana mengembangkan kemampuan seni berpidato demi tercapainya tujuan pencapaian kekuasaan dalam pemerintahan (dibenarkan dengan pemutarbalikan fakta untuk menarik perhatian khalayak). Jadi retorika berperan penting bagi persiapan seseorang untuk menjadi pemimpin.27
25
(Aristoteles, 1954:45) dalam Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007), cet.ke-25 h.255.
26
Ibid, h.255.
27
Protagoras (500-432 SM) menyatakan bahwa retorika sebagai kemahiran berbicara bukan demi kemenangan melainkan demi keindahan bahasa.
Pendapat lain, Socrates (469-399 SM) menyatakan bahwa retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya, karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya. Plato yang merupakan murid utama Socrates, menyatakan bahwa pentingnya retorika adalah sebagai metode pendidikan dalam rangka mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan dalam rangka upaya mempengaruhi rakyat.28
Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan Latin rhetorica yang berarti ilmu bicara.29
Onong Uchjana dalam bukunya “Komunikasi: Teori dan Praktek” menambahkan Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya,
Modern Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif.
Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa retorika memiliki pengertian sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa, bisa lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai public speaking atau pidato di depan umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni menulis.30
28
Onong Uchjana Effendi, Komunikasi: Teori dan Praktek (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007) cet.ke-27 h.54
29
Onong Uchjana Effendi, Komunikasi: Teori dan Praktek , h.53
30
Onong Uchjana Effendi, Komunikasi: Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja
27
Menurut Sonnya K. Foss, retorika didefinisikan sebagai penggunaan kata atau bahasa untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku khalayak. Jika didasarkan pada fungsi bahasa yang mendasar, retorika menjadi sarana simbolis yang digunakan manusia untuk ”membujuk” manusia lain yang secara alami beraksi dan berkreasi dengan menggunakan simbol-simbol.31
Menurut Aristoteles, Dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu :32 a. Ethos (ethical) yaitu, karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara ia
berkomunikasi. Eugene Ryan (1984) menyatakan bahwa ethos
merupakan istilah yang luas yang merujuk pada pengaruh timbal balik yang dimiliki oleh pembicara dan pendengar terhadap satu sama lain.33 b. Pathos (emotional) yaitu, perasaan emosional khalayak yang dapat
dipahami dengan pendekatan “Psikologi Massa”.
c. Logos (logical) yaitu, pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.
Kemudian ada dua persyaratan mutlak bagi seseorang yang akan muncul dalam mimbar atau forum untuk berpidato. Syarat yang pertama adalah apa yang dinamakan source credibility atau kredibilitas sumber, dan yang kedua adalah source attractiveness atau daya tarik sumber.34
31
Sonnya K. Foss (1989: 4-5) dalam Sidik Suhada,” Media dan Komunikasi,” artikel diakses pada 20 April 2010 pukul 11.11 pm dari http://sidiksuhada.blogspot.com/2010/01/bahasa-dan-ideologi-dalam-retorika.html
32
Fathurin, “Pengantar Retorika dan Public Speaking”, 2008 artikel diakses pada 2 Mei 2010 pukul 15.03 pm dari http://www.fathurin-zen.com/?p=89
33
Richard West, Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi:Analisis dan Aplikasi,
(Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2008) h. 18
34
Onong Uchjana Effendi, Komunikasi: Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja
a. Kepercayaan kepada komunikator/ kredibilitas sumber (source credibility)
Kepercayaan kepada komunikator ditentukan oleh keahliannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. Kepercayaan kepada komunikator mencerminkan bahwa pesan yang diterima komunikan dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Selain itu, kepercayaan ini banyak bersangkutan dengan profesi atau keahlian yang dimiliki seorang komunikator. seorang dokter akan mendapat kepercayaan jika ia menerangkan soal kesehatan. Seorang duta besar akan mendapat kepercayaan jika berbicara mengenai situasi internasional.35
b. Daya Tarik Komunikator (source attractiveness)
Seorang komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap, opini, dan prilaku komunikan melalui mekanisme daya tarik, jika pihak komunikasi merasa bahwa komunikator ikut serta dengan mereka dalam hubungannya dengan opini secara memuaskan. Dengan kata lain komunikan akan merasa ada kesamaan antara komunikator dengannya sehingga komunikan bersedia taat pada isi pesan yang dilancarkan oleh komunikator. 36
8. Bahasa
Apabila ditinjau dari ilmu komunikasi, bahasa sebagai lambang dalam proses komunikasi itu tidak berdiri sendiri, tetapi bertautan dengan komponen-komponen komunikasi lainnya, dalam buku “Komunikasi: Teori dan Praktek” karya Onong Uchjana Effendi menyebutkan
35
Onong Uchjana, Komunikasi: Teori dan Praktek, h.38
36
29
komponen-komponen lainnya yaitu, komunikator yang menggunakan bahasa itu, pesan yang dibawakan oleh bahasa itu, media yang akan meneruskan bahasa itu, komunikan yang dituju oleh bahasa itu, dan efek yang diharapkan dari komunikan dengan menggunakan bahasa itu.
Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Komunikasi melalui bahasa ini memungkinkan tiap orang untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya. Ia memungkinkan tiap orang untuk mempelajari kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan serta latar belakangnya masing-masing.37
a. Aspek Bahasa
Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vocal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer38, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat dicerap panca indra.
Berarti bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi vocal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya itu. Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita (yang dicerap panca indra kita), sedangkan arti adalah isi yang
37
Gorys Keraf, Komposisi, (Jakarta: Penerbit Nusa Indah, 1994)
38
Dalam John Fiske, Communication Studies, Arbitrer adalah istilah dalam semiotika
terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan reaksi atau tanggapan dari orang lain.39
b. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa adalah: 1) untuk menyatakan ekspresi diri; 2) sebagai alat komunikasi;
3) sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial; 4) sebagai alat untuk mengadakan kontrol sosial.
B. Teori Terministic Screen
Salah satu teori yang memiliki hubungan erat dengan definisi retorika tersebut adalah teori terministic screen. Teori ini dikembangkan oleh seorang ahli bidang retorika dari Amerika Serikat, Kenneth Burke. Inti dari teori ini adalah bahwa dalam komunikasi, manusia cenderung memilih kata-kata tertentu untuk mencapai tujuannya. Pemilihan kata-kata itu bersifat strategis. Dengan demikian, kata yang diungkapkan, simbol yang diberikan, dan intonasi pembicaraan, tidaklah semata-mata sebagai ekspresi pribadi atau cara berkomunikasi, namun dipakai secara sengaja untuk maksud tertentu dengan tujuan mengarahkan cara berpikir dan keyakinan khalayak.40
39
Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia bebas arikel diakses pada 5 Mei 2010 pukul 22.23 pm dari www.wikipedia.org/bahasa
40
31
C. Komunikasi Efektif
Menurut Deddy Mulyana dalam buku “Komunikasi Efektif”, gaya komunikasi efektif merupakan perpaduan antara sisi-sisi positif komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah yang ditandai dengan ketulusan, kejernihan, keterbukaan, keterusterangan, kesederhanaan, dan kesantunan dalam berbicara.41
Sedangkan dalam buku karya Onong Uchjana Effendi “Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi” disebutkan faktor-faktor penunjang komunikasi efektif, ia menjelaskan apa yang dikatakan Wilbur Schramm “the condition of success in communication”, yakni kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki. Faktor-faktor tersebut yaitu:
1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
2. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.
3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
4. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok di mana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.42
41
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan Lintas Budaya, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2006) cet ke-2 h. 149.
42
Onong Uchjana Effendi, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT Citra
Onong Uchjana Effendy dalam karya lain “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek” mengatakan agar komunikasi efektif, proses penyandian oleh komunikator harus bertautan dengan proses pengawasandian oleh komunikan. Wilbur Schramm melihat pesan sebagai tanda esensial yang harus dikenal oleh komunikan. Semakin tumpang tindih bidang pengalaman komunikator dengan bidang pengalaman komunikan, akan semakin efektif pesan yang dikomunikasikan.
Komunikator akan dapat menyandi dan komunikan akan dapat mengaesandi hanya dalam pengalaman yang dimiliki masing-masing. Biarpun tidak demikian dalam teori komunikasi dikenal dengan istilah empathy, yang berarti kemampuan memproyeksikan diri kepada peranan orang lain. Maka jika komunikator bersikap empatik, maka komunikasi tidak akan gagal.43
Dalam konteks komunikasi Cak Nur adalah sebagai seorang komunikator yang baik, dia mempunyai media yaitu Yayasan Wakaf Paramadina dan Cak Nur memiliki komunikan yakni muslim kelas menengah kota. Dilihat dari ketiga element tersebut gagasannya terus berkembang hingga sekarang dan melahirkan intelektual-intelektual muda yang kompetibel dalam pemikiran Islam.
43
BAB III
BIOGRAFI NURCHOLISH MADJID
A. Profil Nurcholish Madjid
Prof. DR. Nurcholish Madjid lahir pada 17 Maret 1939 bertepatan dengan 26 Muharram 1358 H. Ia lahir di sebuah sudut kampung kecil di desa Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur. Ia dibesarkan dari kalangan keluarga santri, putra dari seorang ayah bernama Abdul Madjid. Seorang kiai lulusan pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan dan dipimpin oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU (Nahdatul Ulama).1
Ayah Cak Nur adalah seorang murid kesayangan kyai Hasyim Asy’ari di Pesanteren Tebuireng, Jombang. Untuk beberapa tahun lamanya ayah Cak Nur belajar langsung di bawah bimbingan Hasyim Asy’ari, bahkan pernah dinikahkan dengan seorang wanita keponakan dari gurunya tersebut yang bernama Halimah. Tentang peristiwa ini Cak Nur sendiri pernah mengisahkannya, “waktu itu kyai Hasyim Asy’ari sendiri memang sangat menginginkan ayahnya menjadi menantunya”.2 Tetapi dari pernikahan tersebut tidak membuahkan keturunan. Karena alasan inilah maka mereka kemudian “berpisah” secara baik-baik.
Lalu beberapa waktu kemudian Hasyim Asy’ari menganjurkan kepada ayah Cak Nur untuk menikah dengan wanita yang lain, yaitu dengan ibu Cak
1
Dedy Djamaluddin Malik dan Idy Subandy Ibrahim, Zaman Baru islam Indonesia:
Pemikiran dan Aksi Politik Gus Dur, Amin Rais, Cak Nur, Djalaluddin Rahmat (Bandung: Pustaka
Zaman Wacana Mulia, 1998), cet I h. 121-122
2
Ibid, h. 122
Nur yang sekarang. Ibu Cak Nur adalah salah seorang putri kyai Abdullah Sadjad dari Kediri yang juga teman baik kyai Hasyim Asy’ari.
Tidak dapat dipungkiri bahwa wawasan intelektual Abdul Madjid yang kemudian mempengaruhi pemikiran Cak Nur adalah dibentuk atas dasar hubungan yang begitu dekat antara sang guru dengan muridnya. Peristiwa tersebut terjadi ketika Abdul Madjid mengikuti kyai Hasyim Asy’ari untuk bergabung dalam Masyumi, dan terus bertahan di Masyumi sebagai rasa hormat pada sang guru yang saat meninggal masih menjadi tokoh Masyumi.3
Secara ekonomi, keluarga ayah Cak Nur, termasuk keluarga yang berkecukupan. Dia seorang petani dari Jombang dan juga seringkali dipanggil “kyai haji” sebagai ungkapan penghormatan bagi ketinggian ilmu-ilmu keislaman yang dimilikinya. Walau ia sendiri secara pribadi tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang kyai dan tidak pernah secara resmi “bergabung dengan kalangan ulama”.
Walaupun Abdul Madjid menyebut dirinya hanya sebagai “orang biasa”, namun ayah Cak Nur ini juga mendirikan sebuah madrasah yang bernama “Al-Wathoniyah” di Mojoanyar, Jombang. Ia mempunyai peranan besar pada pembangunan dan pengelolaan serta setiap saat mengawasi perkembangan madrasah tersebut, madrasah itu membuka proses kegiatan belajar mengajar pada sore hari dan sering disebut “sekolah sore”, yang dipersiapkan untuk para siswa yang telah mengikuti sekolah rakyat (SR) di pagi hari. Seperti diketahui SR adalah sekolah rakyat yang memberi
3
Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neomodernisme Cak Nur,
Djohan Effendy, Ahmad Wahib dan Gus Dur (Jakarta: Paramadina dan Pustaka Antara, 1999), cet
35
pendidikan sekuler. Dan madrasah “Al-Wathoniyah” ini ternyata berperan besar pada era 1990-an di bawah kepemimpinan ayah Cak Nur.4
Pengaruh awal yang paling dominan yang mewarnai pemikiran Cak Nur tidak bisa dilepaskan dari pengaruh lingkungan rumah dan keluarganya, terutama sosok sang ayah, yaitu Abdul Madjid.
B. Riwayat Pendidikan dan Aktifitas Intelektual Nurcholish Madjid
Sejak kecil Cak Nur memang telah memperlihatkan tanda-tanda akan menjadi seorang intelektual muslim5. Di dunia pendidikannya Cak Nur menampakkan prestasi akademik yang luar biasa, selama tiga tahun lebih Cak Nur memperoleh nilai tertinggi dan menjadi juara kelas di madrasah, yang kebetulan pada saat itu sang ayah memang sebagai pendiri merangkap pengajar di madrasah tersebut pada tahun 1984. Hal itu tentu saja menimbulkan rasa kagum ayahnya.
Selain mengenyam pendidikan di madrasah, Cak Nur kecil juga mengikuti Sekolah Rakyat (SR) di kampungnya. Selanjutnya, setamat dari Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1952 ketika usianya 14 tahun, ia dimasukkan ayahnya ke pesanteren Darul Ulum, di daerah Rejoso, Jombang, dan ternyata di Pesanteren ini pun ia memperoleh prestasi-prestasi yang mengagumkan.6
4
Ibid, h. 72.
5
Pengertian sederhana tentang intelektual dikemukakan George A. Theodoran dan Achilles G. Theodore, menurut keduanya, kaum intelek adalah anggota-anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya pada pengembangan ide-ide orisinil dan terikat dalam penacarian pemikiran
kreatif. Lihat Azyumardi Azra, “Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi menuju Milenium
Baru” (Jakarta: Logos, 1999) h. 157
6
Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neomodernisme Cak Nur,
Djohan Effendy, Ahmad Wahib dan Gus Dur (Jakarta: Paramadina dan Pustaka Antara, 1999), cet
Namun, hanya dua tahun Cak Nur belajar atau nyantri di pesanteren Darul Ulum dan sempat menyelesaikan pada tingkat ibtidaiyah lalu melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah. Ayahnya memindahkan Cak Nur ke pesanteren pondok modern Darussalam Gontor, di Ponorogo pada tahun 1955.
Melalui pesantren ini pula Cak Nur menunjukkan kembali bahwa ia memang merupakan seorang yang pantas diperhitungkan. Ia kembali menjadi salah seorang siswa terbaik dengan meraih juara kelas, sehingga pada waktu ia kelas satu bisa langsung loncat ke kelas tiga Tsanawiyah.
Pada usia 16 tahun, Cak Nur masuk ke pesanteren pondok modern Gontor dan pada tahun 1960 ketika usianya mencapai 21 tahun, ia berhasil menyelesaikan studinya. Kemudian beberapa tahun ia mengajar di bekas almamaternya. Jika diukur dengan masa sekarang pola pendidikan yang dikembangkan Gontor pada saat Cak Nur nyantri sekitar akhir 1950-an, dapat dianggap sebagai pendidikan yang bersifat progresif, dan dengan gaya revolusioner. Kurikulum Gontor menghadirkan perpaduan yang liberal, yakni menerapkan tradisi belajar klasik dengan gaya modern Barat, yang diwujudkan secara baik dalam sistem pengajaran maupun mata pelajarannya.
37
hanya dengan bahasa Inggris atau bahasa Arab, sehingga pluralisme pun disini cukup terjaga.
Pada tahun 1962, Nurcholish hijrah ke Jakarta, ibukota negara, untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sebuah lembaga pendidikan tinggi yang dibangun pemerintah pasca-kemerdekaan untuk mendorong mobilitas vertikal kaum Muslim santri yang pendidikannya sangat terhambat di bawah kolonialisme. Di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini Cak Nur mengikuti kuliah di fakultas Adab, jurusan bahasa Arab dan Sejarah Kebudayaan Islam. Dari sini semakin jelas bahwa karirnya akan berkaitan dengan dunia pemikiran keislaman. Pada masa ini pulalah ia mulai berkiprah di organisasi kemahasiswaan: ia terlibat sangat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi mahasiswa Islam “kota” yang didirikan pada tahun 1947. Di organisasi inilah kemampuannya mulai tampak menonjol. Pada tahun 1965, misalnya, ia menulis Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), rumusan doktrin ideologis HMI yang hingga sekarang masih dijadikan materi wajib dalam pengkaderan puluhan ribu anggotanya. Karena kemampuannya demikian menonjol (saat itu, ia antara lain menguasai bahasa Arab dan Inggris secara aktif dan bahasa Perancis secara pasif), ia terpilih sebagai Ketua Umum HMI untuk dua periode: 1966-1969 dan 1969-1971. Hingga saat ini, ia-lah satu-satunya Ketua Umum HMI yang terpilih dua kali.7
Cak Nur pun pernah menjabat sebagai presiden persatuan mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) pada periode 1967-1969, lalu masa bhakti
7
Dalam Pengantar Diskusi Penulisan Otobiografi Intelektual: Demi Islam, Demi
1968-1971 ia juga menjadi wakil sekretaris umum sekaligus pendiri
International Islamic Federation of Student Organisation (IIFSO) yaitu himpunan organisasi mahasiswa Islam se-Dunia.
Pada tahun 1968 Cak Nur berhasil menyelesaikan pendidikan di IAIN jakarta dan meraih gelar sarjana (bahkan sarjana terbaik), ia menulis skripsi berjudul “Al-Qur’an ‘Arabiyun Lughatan Wa ‘Alamiyun Ma’nan” (Al-Qur’an secara bahasa adalah bahasa Arab secara makna adalah universal).
Dan pada tahun 1971 Cak Nur mulai mencurahkan pada upaya pendalaman pemikiran ketimbang urusan organisasi. Ia pun lebih banyak menulis hingga tahun 1978. Pada saat itu pula, Cak Nur memperoleh beasiswa dari Ford Foundation guna melanjutkan studinya pada program pasca sarjana di University of Chicago AS, dan dari sanalah ia meraih gelar Doktor dalam bidang filsafat dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1984.
Pertautannya dengan Universitas Chicago, salah satu perguruan tinggi paling bergengsi di Amerika Serikat, di atas belakangan terbukti cukup memainkan peran dalam mematangkan Cak Nur sebagai pemikir dan pembaru. Terkesan oleh kemampuan Cak Nur, universitas itu menawarkan beasiswa pasca-sarjana kepadanya – sebuah tawaran yang, sekalipun dengan antusias diterimanya, baru dapat dijalaninya setelah ia selesai berkampanye untuk PPP pada pemilu tahun 1977.
39
Pakistan ini, Nurcholish lalu menulis disertasi mengenai pemikiran Ibn Taymiyyah, tokoh yang dianggapnya sebagai mbah-nya pemikir pembaruan di dunia Islam.
Sekembalinya dari Amerika Serikat, bersama rekan-rekannya, Cak Nur membentuk Yayasan Wakaf Paramadina (1986). Lewat yayasan ini, ia membidik sasaran publik yang lebih tegas yaitu kaum Muslim menengah kota yang selama ini kurang tertampung minat dan kepentingan religiusnya karena pola, bentuk dan kandungan intelektual para dai “tradisional” dirasakan kurang memadai. Selain menyelenggarakan kursus-kursus reguler dan diskusi bulanan tentang tema-tema keislaman, yayasan ini juga menerbitkan buku-buku baik karangan asli maupun terjemahan.
Di samping itu, petualangan internasional adalah bentuk kegiatan lainnya yang telah memberi sumbangan berharga terhadap pengalaman dan perkembangan intelektualnya. Yaitu dimulai dengan kunjungannya ke Amerika lalu dilanjutkan ke negara-negara Timur Tengah. Bagi Cak Nur perjalanan ke Timur Tengah telah membuka matanya untuk melihat persoalan-persoalan yang berkaitan dengan diskursus Islam.
Di bawah ini adalah daftar jenjang pendidikan Nurcholish Madjid:8 1. Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, 1955
2. Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960
3. Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1965 (BA, Sastra Arab)
8
Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopesi bebas, Cak Nur dalam Ensiklopedia Tokoh
Indonesia artikel diakses pada tanggal 13 Mei 2010 pukul 14.50 pm dari
4. Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus, Sastra Arab)
5. The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 1984 (Ph.D, Studi Agama Islam) Bidang yang diminati Filsafah dan Pemikiran Islam, Reformasi Islam, Kebudayaan Islam, Politik dan Agama Sosiologi Agama, Politik negara-negara berkembang.
1. Aktivitas Intelektual Nurcholish Madjid
a. Presenter, Seminar Internasional tentang “Agama Dunia dan Pluralisme”, November 1992, Bellagio, Italia
b. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Agama-agama dan Perdamaian Dunia”, April 1993, Wina, Austria
c. Presenter, Seminar Internasional tentang “Islam di Asia Tenggara”, Mei 1993, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat
d. Presenter, Seminar Internasional tentang “Persesuaian aliran Pemikiran Islam”, Mei 1993, Teheran, Iran.
e. Presenter, Seminar internasional tentang “Ekspresi-ekspresi kebudayaan tentang Pluralisme”, Jakarta 1995, Casablanca, Maroko
f. Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, Maret 1995, Bellagio, Italia
g. Presenter, seminar internasional tentang “Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, Juni 1995, Canberra, Australia
41
i. Presenter, seminar internasional tentang “Agama-agama dan Komunitas Dunia Abad ke-21,” Juni 1996, Leiden, Belanda.
j. Presenter, seminar internasional tentang “Hak-hak Asasi Manusia”, Juni 1996, Tokyo, Jepang
k. Presenter, seminar internasional tentang “Dunia Melayu”, September 1996, Kuala Lumpur, Malaysia
l. Presenter, seminar internasional tentang “Agama dan Masyarakat Sipil”, 1997 Kuala lumpur
m. Pembicara, konferensi USINDO (United States Indonesian Society), Maret 1997, Washington, DC, Amerika Serikat
n. Peserta, Konferensi Internasional tentang “Agama dan Perdamaian Dunia” (Konperensi Kedua), Mei 1997, Wina, Austria
o. Peserta, Seminar tentang “Kebangkitan Islam”, November 1997, Universitas Emory, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat
p. Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Masyarakat Sipil” November 1997, Universitas Georgetown, Washington, DC, Amerika Serikat q. Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Pluralisme”, November 1997,
Universitas Washington, Seattle, Washington DC, Amerika Serikat r. Sarjana Tamu dan Pembicara, Konferensi Tahunan, MESA (Asosiasi
Studi tentang Timur Tengah), November 1997, San Francisco, California, Amerika Serikat
t. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia”, Oktober 1998, Jenewa, Swiss
u. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Agama-agama dan Hak-hak asasi Manusia”, November 1998 State Department (Departemen Luar Negeri Amerika), Washington DC, Amerika Serikat
v. Peserta Presenter “Konferensi Pemimpin-pemimpin Asia”, September 1999, Brisbane, Australia
w. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia, pesan-pesan dari Asia Tenggara”, November 1999, Ito, Jepang
x. Peserta, Sidang ke-7 Konferensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (WCRP), November 1999, Amman, Yordania.
2. Karya-karya dan Karirnya
a. Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang, 1986)
b. Islam, Kemoderanan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1988) c. Islam, Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah
Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan (Jakarta, Paramadina, 1992)
d. Islam, Kerakyatan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1993) e. Pintu-pintu menuju Tuhan, (Jakarta, Paramdina, 1994)
f. Islam, Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta, Paramadina, 1995)
43
h. Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer, (Jakarta, Paradima, 1998)
i. Kaki Langit Peradaban Islam,(Jakarta: Paramadina, 1997) j. Bilik-bilik Pesanteren, (Jakarta: Paramadina,1997)
k. Cita-cita politik Islam Era Reformasi, (Jakarta: Paramadina, 1999) l. Cendekiawan dan Religious Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999) m. Pesan-pesan Takwa (kumpulan khutbah Jumat di Paramadina)
(Jakarta:Paramadina, --)
n. The Issue of Modernization among Muslim in Indonesia, a participant point of view dalam Gloria Davies, ed. What is Modern Indonesia Culture (Athens, Ohio, Ohio University, 1978)
o. “Islam In Indonesia: Challenges and Opportunities” dalam Cyriac K. Pullapilly, Ed. Islam in Modern World (Bloomington, Indiana: Crossroads, 1982)
p. “In Search of Islamic Roots for Modern Pluralism: The Indonesian Experiences” dalam Mark Woodward ed., Toward a new Paradigm, Recent Developments in Indonesian Islamic Thoughts (Tempe, Arizona: Arizona State University, 1996).