• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL DENGAN METODE VIDEO CRITIC PADA PESERTA DIDIK KELAS VII D SMP N 2 WELAHAN KABUPATEN JEPARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL DENGAN METODE VIDEO CRITIC PADA PESERTA DIDIK KELAS VII D SMP N 2 WELAHAN KABUPATEN JEPARA"

Copied!
203
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI

MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL

DENGAN METODE VIDEO CRITIC

PADA PESERTA DIDIK KELAS VII D SMP N 2 WELAHAN

KABUPATEN JEPARA

SKRIPSI

diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I untuk memeroleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

Nama : Rokhis Rukhiyanto

NIM : 2101409022

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

SARI

Rukhiyanto, Rokhis. 2013. “Peningkatan Keterampilan Menulis puisi Menggunakan Media Audio Visual dengan Metode Video Critic pada Peserta Didik Kelas VII D SMP Negeri 2 Welahan Kabupaten Jepara.” Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum., Pembimbing II: Dr. Mimi Mulyani, M.Hum.

Kata kunci: keterampilan menulis puisi, media audio visual, dan metode video critic. Pembelajaran menulis puisi merupakan kegiatan belajar yang bersifat produktif. Berdasarkan wawancara yang pernah dilakukan dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara, lemahnya keterampilan menulis puisi peserta didik ada pada proses menentukan tema, mengembangkan tema, serta dalam menentukan diksi.Selain itu, peserta didik juga kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal tersebut juga disebabkan oleh kurangnya minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, terutama pembelajaran menulis puisi.Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk perbaikan pembelajaran keterampilan menulis puisi. Solusi yang diberikan dalam penelitian ini berkenaan dengan menulis puisi adalah dengan menggunakan media audio visual dengan metode video critic yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilanmenulis puisi pada peserta didik kelas VII D SMP Negeri 2 Welahan

Kabupaten Jepara.

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah proses pembelajaran keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara, (2)bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan, dan (3) bagaimanakah perubahan tingkah laku peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic.

(3)

critic. Teknik nontes berupa pedoman observasi,pedoman jurnal, pedoman wawancara, dan dokumentasi foto. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.

Berdasarkan hasil analisis data prasiklus, siklus I, dan siklus II diketahui rata-rata nilai kelasyang diperoleh peserta didik dalam pembelajaran menulis puisi meningkat.Pada prasiklus, rata-rata nilai kelas yang dicapai sebesar 53,94. Pada siklus I terjadi peningkatan rata-rata nilai dari prasiklussebesar 32,44 % dengan nilai rata-rata kelas mencapai71,44. Peningkatan rata-rata nilai kelas juga terjadi pada siklus II, yaitu rata-rata nilai kelas yang dicapai sebesar 78,56atau terjadi peningkatan dari siklus I sebesar 9,96 %, sedangkan peningkatan dari prasiklus sampai tahap siklus II sebesar 45,64 %. Perilaku peserta didik juga mengalami perubahan ke arah positif selama mengikuti proses pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic. Peserta didik menjadi lebih aktif dan tertarik terhadap pelajaran menulis puisi serta mengubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih positif..

(4)

PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

Disetujui untuk diajukan dalam sidang panitia ujian skripsi Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada

hari :

tanggal :

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum. Dr. Mimi Mulyani, M.Hum.

(5)

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

hari :

tanggal :

Panitia Ujian Skripsi

Ketua, Sekretaris,

Dr. Abduurachman Faridi, M.Pd. Sumartini, S.S., M.A.

NIP 195301121990021001 NIP 197307111998022001 Penguji I,

Drs. Mukh Doyin, M.Si

NIP 196506121994121001

Penguji II, Penguji III,

Dr. Mimi Mulyani, M.Hum. Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum.

(6)

NIP 196008031989011001

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat dan temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

(7)

MOTO DAN PERSEMBAHAN

Moto

1) Jangan katakan ”wahai Allah, masalahku sungguh besar, tapi katakanlah wahai masalah, Allah itu Maha Besar.”

2) Sukses itu harus bersyukur, tapi bersyukur itu jauh lebih sukses.

Persembahan

Skripsi ini kupersembahkan untuk: 1) Orangtua dan keluargaku;

2) Bapak, Ibu Guru, dan Dosenku; dan

(8)
(9)

PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya, karena penelitian ini yang berjudul Peningkatan

Keterampilan Menulis Puisi Menggunakan Media Audio Visual dengan Metode

Video Critic pada Peserta Didik Kelas VII D SMP Negeri 2 Welahan Kabupaten

Jepara, dapat diselesaikan dengan baik.

Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan tidak lepas dari dukungan dosen pembimbing dan teman-teman, baik itu material maupun spiritual. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Bapak Agus Nuryatin sebagai dosen pembimbing I dan Ibu Mimi Mulyani sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

Penghargaan serta ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada:

1) Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin penelitian.

2) Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan fasilitas administratif dan motivasi serta pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

(10)

4) Kepala sekolah, guru mapel bahasa Indonesia, dan peserta didik kelas VII D SMP Negeri 2 Welahan Kabupaten Jepara yang telah memberikan izin penelitian dan telah bersedia membantu sepenuh hati.

5) Bapak dan Ibu yang tidak pernah berhenti menyayangi dan mengasihi lahir dan batin; adiku tersayang yang selalu memberikan dukungan; serta sahabat, dan teman-temanku yang selalu memberikan inspirasi, motivasi, dan semangat.

6) Semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini.

Semoga Allah Swt. memberikan pahala kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan pada penelitian ini. Saran dan kritik yang membangun diharapkan untuk kesempurnaan penelitian ini.

Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kemajuan dan perkembangan dalam dunia pendidikan.

Semarang,

(11)

DAFTAR ISI

SARI ... ii

PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... iv

PENGESAHAN KELULUSAN ... v

PERNYATAAN ... vi

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vii

PRAKATA ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GRAFIK ... xviii

DAFTAR GAMBAR ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang ... 4

1.2Identifikasi Masalah ... 5

1.3Pembatasan Masalah ... 6

1.4Rumusan Masalah ... 6

1.5Tujuan Penelitian ... 7

(12)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS ... 10

2.1 Kajian Pustaka ... 10

2.2 Landasan Teoretis ... 14

2.2.1 Hakikat Puisi ... 15

2.2.1.1 Pengertian Puisi ... 15

2.2.1.2 Jenis-Jenis Puisi ... 17

2.2.1.3 Unsur-Unsur Puisi ... 18

2.2.2. Menulis Kreatif Puisi ... 28

2.2.2.1 Langkah-Langkah Menulis Puisi ... 29

2.2.3 Hakikat Media ... 30

2.2.3.1 Media Audio Visual ... 31

2.2.4 Hakikat Metode Video Critic ... 34

2.2.4.1 Pengertian dan Langkah Metode Video Critic ... 34

2.2.4.2 Kelebihan Metode Video Critic ... 35

2.2.4.3 Kekurangan Metode Video Critic ... 36

2.2.5 Penerapan Media Audio Visual dengan Metode Video Critic dalam Pembelajaran Menulis Puisi ... 36

2.2.6 Kerangka Berpikir ... 37

(13)

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Desain Penelitian ... 39

3.1.1 Prosedur Tindakan Siklus I ... 40

3.1.1.1 Perencanaan ... 40

3.1.1.2 Tindakan ... 41

3.1.1.3 Observasi ... 43

3.1.1.4 Refleksi ... 43

3.1.2 Prosedur Tindakan Siklus II ... 44

3.1.2.1 Perencanaan ... 44

3.1.2.1 Tindakan ... 45

3.1.2.3 Observasi ... 47

3.1.2.4 Refleksi ... 47

3.2 Subjek Penelitian ... 47

3.3 Variabel Penelitian ... 48

3.3.1 Variabel Keterampilan Menulis Puisi ... 48

3.3.2 Variabel Media Audio Visual dengan Metode Video Critic ... 49

3.4 Instrumen Penelitian ... 49

3.4.1 Instrumen Tes ... 50

3.4.2 Instrumen Nontes ... 54

3.4.2.1 Lembar Observasi ... 54

(14)

3.4.2.3 Pedoman Wawancara ... 53

3.4.2.4 Dokumentasi (Foto) ... 54

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 56

3.5.1 Teknik Tes ... 57

3.5.2 Teknik Nontes ... 57

3.5.2.1 Observasi ... 57

3.5.2.2 Jurnal ... 57

3.5.2.3 Wawancara ... 58

3.5.2.4 Dokumentasi ... 58

3.6 Teknik Analisis Data ... 59

3.6.1 Teknik Kuantitatif ... 59

3.6.2 Teknik Kualitatif ... 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 61

4.1.1 Hasil Prasiklus ... 61

4.1.2 Hasil Penelitian Siklus I ... 63

4.1.2.1 Proses Pembelajaran Siklus I ... 63

4.1.2.2 Hasil Tes Siklus I ... 68

4.1.2.2.1 Hasil Tes Penelitian Siklus I ... 70

(15)

4.1.2.2.2 Hasil Tes Aspek Kesesuaian Isi dengan Tema ... 73

4.1.2.2.3 Hasil Tes Aspek Diksi ... 74

4.1.2.2.4 Hasil Tes Aspek Rima ... 75

4.1.2.2.5 Hasil Tes Aspek Tipografi ... 76

4.1.2.3 Hasil Nontes Siklus I ... 79

4.1.2.3.1 Hasil Observasi Siklus I ... 79

4.1.2.3.2 Hasil Jurnal Siklus I ... 82

4.1.2.3.3 Hasil Wawancara Siklus I ... 85

4.1.2.4 Refleksi Siklus I ... 87

4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II ... 89

4.1.3.1 Proses Pembelajaran Siklus II ... 89

4.1.3.2 Hasil Tes Siklus II ... 96

4.1.3.2.1 Hasil Tes Aspek Judul ... 98

4.1.3.2.2 Hasil Tes Aspek Kesesuaian Isi dengan Tema ... 99

4.1.3.2.3 Hasil Tes Aspek Diksi ... 100

4.1.3.2.4 Hasil Tes Aspek Rima ... 101

4.1.3.2.5 Hasil Tes Aspek Tipografi ... 102

4.1.3.3 Hasil Nontes Siklus II ... 104

4.1.3.3.1 Hasil Observasi Siklus II ... 104

4.1.3.3.2 Hasil Jurnal Siklus II ... 108

(16)

4.1.3.4 Refleksi Siklus II ... 113

4.2 Pembahasan ... 114

4.2.1 Proses Pembelajaran Keterampilan Menulis Puisi Menggunakan Media Audio Visual dengan Metode Video Critic ... 115

4.2.2 Peningkatan Keteramilan Menulis Puisi Menggunakan Media Audio Visual dengan Metode Video Critic ... 120

4.2.3 Perubahan Perilaku Peserta Didik Setelah Mengikuti Pembelajaran Menulis Puisi Menggunakan Media Audio Visual dengan Metode Video Critic ... 126

BAB V PENUTUP ... 135

5.1 Simpulan ... 135

5.2 Saran ... 137

DAFTAR PUSTAKA ... 139

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rubrik Penilaian Keterampilan Menulis Puisi ... 50

Tabel 3.2 Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis Puisi ... 50

Tabel 3.3 Kriteria Penskoran Keterampilan Menulis Puisi ... 52

Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Puisi ... 53

Tabel 4.1 Hasil Tes Pembelajaran Menulis Puisi Prasiklus ... 62

Tabel 4.2 Hasil Tes Pembelajaran Menulis Puisi Siklus I ... 70

Tabel 4.3 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Judul Siklus I ... 72

Tabel 4.4 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Kesesuaian Isi dengan Tema Siklus I ... 73

Tabel 4.5 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Diksi Siklus I ... 74

Tabel 4.6 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Rima Siklus I ... 75

Tabel 4.7 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Tipografi Siklus I ... 76

Tabel 4.8 Rata-Rata Skor Tiap Aspek Pembelajaran Menulis Puisi Siklus I ... 77

Tabel 4.9 Hasil Observasi Peserta Didik Siklus I ... 80

Tabel 4.10 Hasil Tes Pembelajaran Menulis Puisi Siklus II ... 96

(18)

Tabel 4.13 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Diksi Siklus II ... 100 Tabel 4.14 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Rima Siklus II ... 101 Tabel 4.15 Hasil Tes Menulis Puisi Aspek Tipografi Siklus II ... 102 Tabel 4.16 Rata-Rata Skor Tiap Aspek Pembelajaran Menulis Puisi

Siklus II ... 103 Tabel 4.17 Hasil Observasi Pembelajaran Menulis Puisi

Siklus II ... 105 Tabel 4.18 Peningkatan Rata-Rata Skor dan Rata-Rata Nilai Kelas

(19)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Hasil Tes Pembelajaran Menulis Puisi Siklus I ... 71 Grafik 4.2 Hasil Tes Pembelajaran Menulis Puisi Siklus II ... 97 Grafik 4.3 Peningkatan Rata-Rata Skor Tiap Aspek Pembelajaran Menulis

Puisi dari Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II ... 123 Grafik 4.4 Peningkatan Rata-Rata Nilai Kelas Pembelajaran Menulis

(20)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Suasana Kelas saat Guru Baru Memasuki Kelas Siklus I ... 63 Gambar 4.2 Aktivitas Guru dan Peserta Didik pada Kegiatan Awal

Pembelajaran Siklus I ... 64 Gambar 4.3 Aktivitas Peserta Didik saat Guru Menjelaskan Materi

Pembelajaran Siklus I ... 65 Gambar 4.4 Aktivitas Peserta Didik Menyaksikan Video Pertama ... 66 Gambar 4.5 Aktivitas Peserta Didi saat Diskusi Kelompok ... 66 Gambar 4.6 Aktivitas Guru saat Membimbing Peserta Didik di Tiap

Kelompok ... 67 Gambar 4.7 Aktivitas Peserta Didik Mempresentasikan Hasil Kerja

Kelompoknya ... 68 Gambar 4.8 Aktivitas Peserta Didik saat Mengerjakan Tugas Individu . 69 Gambar 4.9 Suasana saat Guru Baru Memasuki Kelas Siklus II ... 89 Gambar 4.10 Aktivitas Guru dan Peserta Didik pada Kegiatan Awal

Pembelajaran Siklus II ... 90 Gambar 4.11 Suasana Kelas saat Guru Menjelaskan Materi

(21)

Gambar 4.14 Aktivitas Peserta Didik saat Mempresentasikan

Hasil Kerja Kelompoknya ... 94 Gambar 4.15 Aktivitas Peserta Didik saat Mengerjakan Tugas Individu 95

Gambar 4.16 Perbandingan Suasana Kelas saat Guru Baru Memasuki

Kelas Siklus I dan Siklus II ... 115 Gambar 4.17 Perbandingan Suasana Kelas saat Guru Menjelaskan

Materi Pembelajaran Siklus I dan Siklus II ... 117 Gambar 4.18 Aktivitas Peserta Didik saat Berdiskusi Kelompok

Siklus I dan Siklus II ... 118 Gambar 4.19 Aktivitas Guru saat Membimbing Peserta Didik di Tiap

Kelompok ... 118 Gambar 4.20 Perbandingan Aktivitas Peserta Didik saat Mengerjakan

Tugas Individu Siklus I dan Siklus II ... 119 Gambar 4.21 Perbandingan Persiapan Peserta Didik dalam Mengikuti

Pembelajaran Siklus I dan Siklus II ... 129 Gambar 4.22 Perbandingan Keseriusan Peserta Didik dalam Mengikuti

Pembelajaran Siklus I dan Siklus II ... 130 Gambar 4.23 Perbandingan Keaktifan Peserta Didik Selama Proses

Pembelajaran Siklus I dan Siklus II ... 131 Gambar 4.24 Perbandingan Respon Peserta Didik terhadap Media dan

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

(23)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan alat komunikasi penulis dengan pembaca karya sastra. Menurut Suharianto (2005:1) karya sastra adalah pengejawantahan kehidupan hasil pengamatan sastrawan atas kehidupan sekitar yang telah diwarnai dengan sikap penulisnya, latar belakang pendidikannya, keyakinannya, dan sebagainya.

Horace (dalam Suharianto 2005:9) menjelaskan bahwa sebuah karya seni pada umumnya adalah dulce et util, (menyenangkan dan berguna). Karya seni dikatakan menyenangkan karena melalui karya seni seseorang dapat memperoleh kenikmatan hidup. Berguna karena dapat memberikan manfaat bagi sesorang untuk mendorong lahirnya perilaku-perilaku yang mendatangkan manfaat bagi kehidupan.

Penciptaan sebuah karya sastra semata-mata dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa adanya latihan, tetapi agar dapat menciptakan sebuah karya sastra yang bagus harus dimulai dengan banyak belajar, banyak berlatih, dan seringnya berkecimpung dalam hal-hal yang berkaitan dengan sastra. Kegiatan belajar digunakan untuk mendapatkan pemahaman tentang kesastraan. Misalnya tentang bentuk-bentuk karya sastra, unsur-unsur pembangun puisi, prosa, dan drama.

(24)

memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, serta bertujuan agar peserta didik dapat menghargai dan mengembangkan karya sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan bahasa. Dari berbagai tujuan pembelajaran sastra tersebut, terdapat satu tujuan pembelajaran yang hanya ada dalam pembelajaran sastra, yaitu memperhalus budi pekerti. Adanya tujuan memperhalus budi pekerti ini karena di dalam karya sastra mengandung nilai-nilai moral yang dapat mengantarkan seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan menjadikan seseorang lebih bijaksana dalam menghadapai permasalahan.

Pembelajaran menulis puisi yang dilaksanakan selama ini masih bersifat teori, karena guru cenderung menerangkan hal-hal yang bersifat teori. Guru umumnya menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan teori menulis, kemudian guru memberi tugas kepada peserta didik untuk membuat puisi, dan di akhir proses tersebut adalah memberikan penilaian. Proses belajar yang demikian kurang mendapatkan hasil maksimal karena guru tidak memberikan bimbingan menulis puisi dengan cara menunjukkan proses pembuatan puisi kepada peserta didik, sehingga ketika diberi tugas menulis puisi mereka mengalami kesulitan.

(25)

dihadapi. Maka dari itu, pembelajaran menulis puisi harus dilakukan dengan cara kreatif dan aktif untuk mengurangi hambatan atau kesulitan yang sering dihadapi.

Berdasarkan wawancara yang pernah dilakukan dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP N 2 Welahan Kabuapten Jepara, lemahnya keterampilan menulis puisi peserta didik pada proses menentukan tema, mengembangkan tema, menentukan diksi. Selain itu, sebagian peserta didik juga kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran menulis puisi. Kelemahan tersebut merupakan kendala pada proses pembuatan puisi yang sering dihadapi sesorang ketika menulis puisi. Kelemahan peserta didik dalam menulis puisi tersebut mengakibatkan rendahnya nilai mereka. Nilai yang didapat peserta didik hampir sebagian besar belum memenuhi KKM sebesar 72,00.

Berbagai kesulitan tersebut dapat menggugah para guru untuk memilih model, metode, teknik, dan media yang sesuai sehingga para peserta didik dapat menguasai kompetensi dasar yang dimaksud yaitu keterampilan menulis puisi. Hal tersebut menuntut kesungguhan guru dalam merencanakan dan melaksanakan program pengajarannya serta memilih media yang cocok dan menarik sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.

(26)

diperhatikan oleh guru agar hasil belajar peserta didik dalam menulis puisi dapat ditingkatkan. Metode yang diberikan seharusnya dapat memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk aktif dan kreatif sehingga pembelajaran tidak terpusat pada guru. Oleh karena itu, guru juga dituntut dapat menentukan sumber belajar yang tepat sesuai dengan tujuan, bahan, pembelajaran, dan metode pembelajaran.

Metode video critic dengan media audio visual merupakan sebuah metode dan media pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif untuk membelajarkan menulis puisi dengan cara menunjukkan proses pemerolehan diksi untuk penciptaan puisi secara langsung. Selain itu, metode video critic dapat juga digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam menentukan diksi. Diksi merupakan unsur yang cukup penting dalam menentukan baik buruknya sebuah puisi.

(27)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, keterampilan menulis puisi sangat penting bagi peserta didik. Keterampilan menulis puisi dapat memperhalus budi pekerti, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, serta bertujuan agar peserta didik dapat menghargai dan mengembangkan karya sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan bahasa.

Keterampilan menulis puisi peserta didik SMP Negeri 2 Welahan Kabupaten Jepara khususnya pada peserta didik kelas VII D masih kurang dan menunjukan hasil yang kurang memuaskan. Kebanyakan peserta didik yang diajar merasa bosan dan enggan belajar di bidang sastra, khususnya menulis puisi. Ketidakberhasilan pembelajaran menulis puisi ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal peserta peserta didik itu sendiri. Sebagian peserta didik menganggap bahwa pembelajaran sastra merupakan pembelajaran yang membosankan dan tidak penting sehingga mereka menyepelekannya dan kurang berminat mengikuti pembelajaran tersebut. Faktor lain penyebab rendahnya keterampilan menulis puisi ialah (1) peserta didik kesulitan dalam menentukan tema, mengembangkan tema, serta dalam menentukan diksi, dan (2) peserta didik merasa kurang berminat pada pembelajaran karena jenuh dengan penjelasan teori dari guru.

(28)

membuat puisi, dan di akhir proses tersebut adalah memberikan penilaian. Proses belajar yang demikian kurang mendapatkan hasil maksimal, karena guru tidak memberikan bimbingan menulis puisi dengan cara menunjukkan proses pembuatan puisi kepada peserta didik, sehingga ketika peserta didik diberi tugas menulis puisi peserta didik mengalami kesulitan.

Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk perbaikan pembelajaran keterampilan menulis puisi. Untuk itu, dalam penelitian ini berusaha memberikan solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Salah satu solusi yang diberikan dalam penelitian ini terutama berkenaan dengan menulis puisi adalah dengan menggunakan media audio visual dengan metode video critic.

1.3 Pembatasan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara.

1.4 Rumusan Masalah

(29)

1. Bagaimanakah proses pembelajaran keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara?

2. Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan?

3. Bagaimanakah perubahan tingkah laku peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara.

(30)

3. Untuk mendeskripsikan perubahan tingkah laku peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pada tataran teoretis dan praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan teori pembelajaran sastra pada umumnya dan penggunaan media audio visual dengan metode video critic, pada khususnya.

2. Manfaat Praktis

(31)

Bagi guru, penelitian ini dapat memberikan umpan balik bagi guru untuk mengadakan perbaikan dalam pembelajaran kompetensi dasar menulis puisi. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan masukan pada guru mengenai penggunaan media audio visual dengan metode video critic pada peserta didik kelas VII D SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara.

Bagi sekolah, penelitian ini dapatmeningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan meningkatkan prestasi peserta didik dalam hal menulis. Penelitian ini juga memberikan sebuah bentuk media baru dalam pembelajaran kompetensi menulis puisi.

(32)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.1 Kajian Pustaka

Penelitian tentang pembelajaran sastra terutama menulis puisi telah banyak dilakukan, di antaranya dilakukan oleh Karningsih (2007), Widowati (2007), Abdurrahman (2007), Mislichah (2008), dan Ngainah (2008). Semua penelitian yang dilakukan adalah berjenis penelitian tindakan kelas (PTK)

Karningsih dalam skripsinya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi dengan Media Lirik Lagu Iwan Fals Melalui Metode Latihan

Terbimbing pada Peserta didik Kelas X-2 SMA Tunas Patria Ungaran menunjukkan adanya peningkatan kemampuan dan keterampilan dalam menulis puisi. Skor rata-rata kelas pembelajaran menulis puisi pada prasiklus sebesar 57,24 dan pada siklus I diperoleh skor rata-rata kelas 69,32. Dengan demikian, kemampuan menulis puisi dari prasiklus sampai siklus I mengalami peningkatan sebesar 21,10%. Adapaun pada siklus II kemampuan menulis puisi dari siklus I meningkat sebesar 13,44%. Jadi, peningkatan kemampuan menulis puisi dari prasiklus sampai siklus II sebesar 37,78%.

(33)

digunakan pada penelitian tersebut adalah metode latihan terbimbing melalui media lirik lagu, sedangkan media dan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah media audio visual dengan metode video critic.

Penelitian keterampilan menulis puisi juga dilakukan oleh Widowati (2007) dalam skripsinya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi dengan Teknik Pengamatan Objek Secara Langsung pada Kelas X MA Al Ashor Patemon

Gunung Pati Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ada peningkatan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan teknik pengamatan objek secara langsung. Besarnya peningkatan itu dapat dilihat dari proses prasiklus sampai siklus II. Pada prasiklus skor rata-rata kelas sebesar 60, dan pada siklus I skor rata-rata kelas diperoleh 72,1 yang artinya terjadi peningkatan sebesar 31, 8%. Kemudian pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat lebih baik lagi menjadi 80,4 atau mengalami peningkatan sebesar 21,8% dibandingkan hasil pada siklus I.

(34)

Penelitian yang dilakukan oleh Abdurrahman (2007) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Kreatif Puisi Tentang Peristiwa Yang Paling

Berkesan dengan Menggunakan Metode Discovery-Inquiry Peserta didik Kelas VII A

SMP Negeri DonorejoKabupaten Pacitan juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta didik dalam menulis puisi. Hasil analisis data dari siklus I ke siklus II terus mengalami peningkatan. Hasil tes siklus I menunjukkan skor rata-rata sebesar 59, kemudian siklus II memperoleh rata-rata kelas sebesar 79 dan termasuk dalam kategori baik. Peningkatan hasil tes menulis kreatif puisi dari siklus II sebesar 21,1 %.

Relevansi penelitian yang dilakukan oleh Abdurrahman (2007) dengan penelitian ini yaitu sama-sama jenis penelitian pada aspek pembelajaran menulis puisi. Perbedaanya terletak pada metode serta penggunaan media audio visual yang tidak digunakan oleh penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Mislichah (2008) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Berbasis Keindahan Alam dengan Media Lukisan

Panorama serta Teknik Pemberian Kata Kunci Peserta Didik Kelas VII A SMP

(35)

peningkatan kemampuan menulis sebesar 21,64 atau 36,74% dari prasiklus ke siklus II.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Mislichah (2008) juga mempunyai persamaan dengan penelitian ini, yaitu sama-sama berjenis penelitian pada aspek pembelajaran menulis puisi. Adapun letak perbedaanya terletak pada subjek penelitiannya. Penelitian ini menggunakan teknik pemberian kata kunci untuk meningkatkan ketarampilan menulis puisi tanpa menggunakan media, sedangkan penelitian ini menggunakan media audio visual dengan metode video crtitic.

Penelitian menulis puisi juga dilakukan oleh Ngainah (2008) yang berjudul Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Media Musik dan Gambar pada

Peserta didik Kelas VII SMP Negeri 3 Ungaran, disimpulkan bahwa nilai rata-rata kelas pada siklus I adalah 73,36. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II rata-rata kelas menjadi 81. Peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 71,16%.

Penelitian yang dilakukan oleh Ngainah (2008) mempunyai persamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama berjenis penelitian pada aspek pembelajaran menulis puisi. Adapun perbedaanya terletak pada penggunaan media pembelajaran. Penelitian yang telah dilakukan Ngainah (2008) menggunakan media musik, sedangkan media yang digunakan pada penelitian ini adalah media audio visual.

(36)

latihan terbimbing, teknik pengamatan objek langsung, metode Discovery-Inquiry, dan teknik pemberian kata kunci. Adapun penggunaan media pembelajaran pendukungnya dapat berupa lirik lagu dan gambar. Penelitian mengenai peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, sebagai pengembangan penelitian peningkatan keterampilan menulis puisi, penelitian ini dilakukan. Penelitian ini tentang peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video-crtitic, karena media dan metode yang digunakan dapat menumbuhkan minat serta meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hal memperoleh diksi. Selain itu, media dan metode pada penelitian ini juga dapat memudahkan peserta didik dalam menulis puisi, karena mempermudah peserta didik dalam memperoleh diksi dari video yang ditayangkan. Peserta didik juga dajak untuk aktif dalam pembelajaran menulis puisi ini karena penggunaan metode video critic dalam pembelajaran ini peserta didik akan diajak untuk aktif mengkritik video yang ditayangkan untuk dijadikan sebagai inspirasi dalam memperoleh diksi.

2.2 Landasan Teoretis

(37)

2.2.1 Hakikat Puisi

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Puisi sebagai salah satu karya sastra mempunyai peran penting dalam memperpeka perasaan pembacanya. Melalui puisi, pembaca dituntun untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh pengarang. Di dalam puisi terkandung nilai-nilai kehidupan yang sangat bermanfaat bagi pembaca, terutama untuk memperhalus budi pekerti. Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian puisi, jenis-jenis puisi, dan unsur-unsur pembangun puisi.

2.2.1.1 Pengertian Puisi

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poenima “membuat” atau poesis “pembuatan”, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena melalui puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin 2002 :134).

(38)

Sementara itu, Jalil (1985:1) menyatakan bahwa puisi adalah sebuah karya sastra yang merupakan pancaran kehidupan sosial, kejolak kejiwaan, dan segala aspek yang ditimbulkan oleh adanya interaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar dalam suatu masa atau periode tertentu. Pancaran itu sendiri berlaku untuk sepanjang masa selama nilai-nilai estetis dari sebuah karya puisi itu masih berlaku dalam masyarakat.

Pendapat yang sama juga diuangkapkan Badrun (1989:2), yang menyatakan bahwa puisi pada hakikatnya mengkomunikasikan pengalaman yang penting-penting karena puisi lebih terpusat dan terorganisir. Pengalaman-pengalaman itu dapat berupa pengalaman yang baik atau pengalaman yang tidak baik. Melalui puisi, seseorang dapat mengabadikan peristiwa-peristiwa kehidupan, baik itu kehidupannya sendiri atau pun kehidupan orang lain. Pengabadian itu tidak hanya digunakan untuk mengingat-ingat tentang kehidupan yang telah dijalani, tetapi juga digunakan untuk menyampaikan amanat kepada pembaca tentang kehidupan.

(39)

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imanjinatif) (Waluyo 2003:1). Kata-kata yang digunakan benar-benar merupakan kata-kata pilihan yang mempunyai kekuatan pengucapan. Walaupun kata-kata yang digunakan singkat atau padat, namun dapat mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak.

Dari berbagai definisi mengenai puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah hasil pengungkapan (pengabadian) kembali pengalaman batin yang dialami oleh penulis sendiri atau yang dialami oleh orang lain ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa yang esetetis dengan memperhatikan aturan-aturan kepuisian yang baku.

2.2.1.2 Jenis-Jenis Puisi

Menurut Badrun (1989:123) pembagian puisi berdasarkan bahasa yang digunakan yang dilihat dari mudah atau sukarnya puisi itu dipahami. Dalam hal ini puisi dibagi menjadi dua macam, yaitu puisi transparan atau puisi diafan dan puisi prismatik. Puisi transparan adalah puisi yang mudah dipahami, tidak ada kata-kata atau lambang yang sukar dipahami, sedangkan puisi prismatik lebih sukar dipahami karena banyak kata-kata yang memiliki makna ganda dan memerlukan penafsiran.

(40)

lambang-lambang atau kiasan. Dengan adanya lambang-lambang-lambang-lambang atau kiasan, membuat orang-orang awam terhadap masalah puisi dibandingkan dengan puisi berjenis diafan.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa puisi diafan atau puisi transparan adalah puisi yang maknanya mudah dipahami atau lebih bersifat terbuka, sedangakan puisi prismatik adalah puisi yang maknanya sukar dipahami, sehingga perlu pemahaman dan penafsiran yang mendalam untuk bisa memahami puisi prismatik. Jenis puisi yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah puisi diafan.

2.2.1.3 Unsur-Unsur Puisi

Pada bagian ini akan dibahas mengenai unsur-unsur puisi, yaitu diksi, pengimajian, irama, tipografi, tema, nada suasana, perasaan, dan amanat.

2.2.1.3.1 Diksi

Diksi merupakan salah satu aspek yang penting dalam keterampilan berbahasa. Barfield (dalam Pradopo 1987:54) mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara sedemikian rupa sehingga artinya menimbulkan imajinasi estetis, maka hasilnya disebut diksi puitis. Diksi sendiri berfungsi untuk menambah nilai estetis.

(41)

sekalipun maknanya tidak berbeda. Bahkan sekalipun unsur bunyinya hampir mirip dan maknanya sama, kata yang sudah dipilih itu tidak dapat diganti. Jika kata itu diganti dengan kata lainnnya akan mengganggu komposisi dalam konstruksi keseluruhan puisi itu.

Masalah pemilihan kata, menurut Chapman (dalam Nurgiyantoro 1998:290) dapat melalui pertimbangan-pertimbangan formal tertentu. Pertama, pertimbangan fondagis misalnya kepentingan aliterasi, irama, efek bunyi tertentu. Kedua, pertimbangan dari segi mode, bentuk dan makna yang dipergunakan sebagai sarana menkonsentrasikan gagasan. Dalam hal ini, faktor personal pengarang untuk memilih kata-kata yang paling menarik perhatiannya berperan penting. Pengarang dapat saja memilih kata dan ungkapan tertentu sebagai siasat untuk mencapai efek yang diinginkan. Menurut Sayuti (2002:143), diksi sebagai salah satu unsur yang membangun keberadaan puisi berarti pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan-peraasaa yang bergejolak dan menggejala dalam dirinya, sehingga Sayuti mengatakan bahwa diksi merupakan esensi dalam penulisan puisi.

(42)

Senada dengan pendapat Nurgiyantoro, menurut Sayuti (2002:144-145) mengungkapkan bahwa dalam puisi penempatan kata-kata sangat penting dalam rangka menumbuhkan suasana puitis yang akan membawa pembaca pada kenikmatan dan pemahaman yang menyeluruh dan total.

Berbeda dengan pendapat Nurgiyantoro, menurut Jabrohim (2001:35) untuk mencapai diksi yang baik seorang penulis harus memahami lebih baik masalah kata dan maknanya, harus tahu memperluas dan mengaktifkan kosa kata yang sesuai dengan situasi yang dihadapi dan harus mengenali dengan baik macam corak gaya bahasa sesuai denga tujuan penulisan.

Penggolongan diksi menurut para ahli bahasa berbeda-beda karena mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda pula, salah satunya adalah Parera. Menurut Parera (1991:67) diksi digolongkan menjadi lima, yaitu:

1. Diksi sesuai dengan kaidah umum atau perangkat kebiasaan, yang meliputi diksi yang tepat, saksama dan lazim.

2. Diksi sebagai kaidah sosial pemakainya yang meliputi pilihan kata umum, pilihan kata professional, pilihan kata dialek dan pilihan kata sosiolog.

3. Diksi sesuai dengan ragam pemakainya meliputi kata baku, pilihan kata formal, kata kosultatif, pilihan kata santai, pilihan kata akrab, dan pilihan kata rahasia. 4. Diksi dalam retorik yang meliputi bentuk tunggal, bentuk terurai, kata

(43)

5. Diksi sesuai dengan kaidah kata yang meliputi denotasi-asosiasi, leksikal gramatikal, frase ungkapan, sinonim-perangkat bersistem, kata umum-kata khusus, kata umum istilah, kata bahasa Indonesia-kata serapan, padanan kata terjemahan.

Sementara itu, Keraf (2000:89-107) mengungkapkan penggunaan kata yang meliputi penggunaan kata umum dan kata khusus, kata konkret dan kata abstrak, kata ilmiah dan kata populer, kata jargon, kata percakapan dan penggunaan kata slang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diksi merupakan pilihan kata yang digunakan penyair untuk menyatakan kata-kata mana yang tepat untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan sesuai dengan perasaan, isi pikiran, dan pengalaman jiwa.

1) Fungsi Diksi

(44)

kata-kata itu seolah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah dan sebagainya.

Sejalan dengan pendapat Waluyo, Barfiled (dalam Pradopo 1987:54) mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya diksi puisi. Jadi diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik.

Selanjutnya Pradopo (1987:58) mengemukakan bahwa dalam memilih kata-kata supaya tepat dan menimbulkan gambaran yang jelas dan padat itu penyair mesti mengerti denotasi dan konotasi sebuah kata.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi diksi adalah sebagai berikut.

a) Menambah keestetisan atau untuk memperindah bahasa. b) Memberikan gambaran angan yang lebih jelas.

c) Memberikan sugesti atau menimbulkan perasaan (emosi) tertentu kepada pembaca atau pendengar.

d) Untuk menyampaikan makna yang ingin disampaikan pengarang dengan tema-tema yang disodorkan.

(45)

2.2.1.3.2 Pengimajian

Melalui puisinya sorang pengarang menginginkan apa yang didengarnya, dilihatnya, dan dirasakannya dapat juga dirasakan oleh pembaca. Atas dasar inilah pengarang selalu berusaha menggunakan kata-kata yang mempu meimbulkan pengimajian pembaca untuk dapat merasakan apa saja yang dirasakannya. Suharianto (1981:66) menjelaskan bahwa pengimajian adalah usaha untuk menjadikan sesuatu yang semula abstrak menjadi konkret sehingga dapat dengan mudah ditangkap oleh pancaindera.

Selaras dengan pendapat Suharianto, Ensten (2000:17-18) menjelaskan pengertian imajinasi adalah daya bayang, daya fantasi, daya khayal, tetapi bukanlah khayalan atau lamunan. Imajinasi tidaklah sama dan persis dengan realita yang sesunguhnya (realita objektif), dan imajinasi tentang sesuatu tidaklah sama pada masing-masing orang. Penggunaan kata konkret menimbulkan daya bayang tergantung kepada pengetahuan dan pengalaman seseorang. Melalui kata-kata yang mengandung daya bayang penyair ingin mengonkretkan makna kata-kata yang abstrak dalam puisi sehingga pembaca lebih mudah memahami secara keseluruhan makna puisi yang dibaca.

(46)

digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktif)

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengimajian merupakan pengonkretan bahasa puisi yang berupa bahasa yang mampu menghadirkan unsur pendengaran penglihatan, dan perasaan. Pengimajian digunakan untuk memperjelas apa yang dinyatakan oleh penyair.

2.2.1.3.3 Irama (Ritme)

Dalam kepustakaan Indonesia (dalam Tarigan 1984:34) ritme atau irama adalah turun-naiknya suara secara teratur, sedangkan rima atau sajak adalah persamaan bunyi.

Menurut Doreksi (dalam Badrun 1989:78) irama lebih kurang dapat diartikan sebagai pengulangan bagian bunyi yang ditekan atau tidak ditekan.

(47)

Jadi, dari uraian-uraian mengenai pengertian irama di atas dapat disimpulkan bahwa irama adalah turun naiknya suara secara teratur yang menimbulkan gelombang suara yang menumbuhkan keindahan. Pengulangan itu dapat berhubungan dengan pengulangan bunyi, frasa, dan kalimat.

2.2.1.3.4 Tata Wajah (Tipografi)

Secara harfiah tiporgrafi berarti seni mencetak dengan desain khusus, susunan atau rupa (penampilan) barang cetak. (Badrun 1989:87).

Selaras dengan pendapat Badrun, Suharianto (1981:35) menyatakan bahwa tipografi disebut juga ukiran bentuk, ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk dalam tipografi adalah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi.

Aminuddin (2002:146) menjelaskan bahwa peranan tipografi selain untuk menampilkan artistik visual, juga untuk menciptakan nuansa makna dan suasana tertentu. Tipografi juga berperan dalam menunjukkan adanya loncatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyairnya.

(48)

letak bait-bait dalam puisi, juga penggunaan tanda baca. Tipografi digunakan pengarang untuk memperindah dan mendukung isi atau makna puisi.

2.2.1.3.5 Tema

Menurut Badrun (1989:106) tema adalah ide dasar dalam penciptaan karya sastra. Dalam penciptaan karya sastra tersebut pengarang tidak sembarangan membeberkan seluruh pengalaman atau masalahnya, tetapi terlebih dahulu dipilih. Pemilihan itu berdasarkan pemikiran dan pertimbangan tertentu, maka karya sastra yang diciptakan menjadi lebih menarik. Tema mencakup segala aspek kehidupan, misalnya tentang cerita, kekecewaan, penderitaan, perjuangan, paham keagamaan.

Adapun menurut Waluyo (2003:17) tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Dengan demikian, tema merupakan ide yang membangun sebuah puisi.

Dari penjelasan tentang tema di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah isi atau gagasan yang mendasari pengarang dalam menciptakan sebuah puisi.

2.2.1.3.6 Perasaan, Nada dan Suasana

(49)

memanfaatkan kemampuan kata tersebut sebesar-besarnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa nada dan suasana atau sikap penyair digambarkan pada suasana, benda-benda, keadaan dan sebagainya yang ditangkap oleh indera penyair. Nada-nada diungkapkan penyair secara implisit dan eksplisit.

Senada dengan pendapat tersebut, menurut Tarigan (1984:18) yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya, atau dengan perkataan lain nada adalah sikap penyair terhadap para penikmat karyanya. Nada yang dikemukakan berhubungan dengan tema dan rasa yang terkandung pada puisi tersebut.

Jabrohim, dkk (2001:66) mengemukakan bahwa perasaan merupakan suasana hati penyair saat menulis puisi. Perasaan penyair ikut terekspresikan dalam puisi. Nada adalah sikap penyair kepada pembaca, sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi. Puisi juga mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itulah tercipta suasana puisi. Puisi mengungkapkan perasaan penyair (Waluyo 2003:37)

(50)

2.2.1.3.8 Amanat

Amanat, pesan atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi (Waluyo 2003: 40). Penghayatan terhadap amanat sebuah puisi tidak secara objektif, namun subjektif, artinya berdasarkan interpretasi pembaca. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi. Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.

2.2.2. Pengertian Menulis Kreatif Puisi

Menulis pada hakikatnya adalah upaya mengekspresikan apa yang dilihat, dialami, dirasakan, dan dipikirkan ke dalam bahasa tulisan (Hakim2005:15)Kata menulis mempunyai dua arti, pertama, menulis berarti mengubah bunyi yang dapat didengar menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat. Kedua, kata menulis mempunyai arti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis (Wiyanto 2004:12).Menulis puis merupakan suatu kegiatan seseorang “intelektual”, yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, harus benar-benar meguasai bahasa, harus luas wawasannya, dan peka perasaannya (Jabrohim, dkk 2003:67-68).

(51)

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa. Menulis dapat digunakan sebagai upaya untuk mengekspresikan , mengungkapkan, menuangkan gagasan, ide, pesan secara tidak langsung. Dalam kegiatan menulis puisi seseorang penulis diharuskan memiliki berbagai kemampuan, juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menciptakan daya cipta untuk menghasilkan puisi yang baik.

2.2.2.2 Langkah-Langkah Menulis Puisi

Ada beberapa langkah-langkah di dalam menulis puisi seperti yang diungkapkan oleh Komaidi (2008:210-212) diantaranya sebagai berikut.

1. Sebelum menulis puisi, pahami dulu apa itu puisi. Bisa dengan mulai membaca puisi yang ada dibuku, majalah, atau media massa. Baca juga buku tentang puisi. Setelah banyak membaca puisi tentu sedikit atau banyak aka yahu apa itu puisi dan bagaimana membuatnya.

2. Cari inspirasi. Pengalaman eswtetik sebagai pendorong pembuatan puisi. Puisi agaknya cocok untuk menggambarkan pengalaman estetik tersebut.

(52)

4. Tulislah puisi, jangan ragu, takut, atau malu. Tulis apa saja yang ada dipikiran, perasaan (sedih, gembira), uneg-uneg, kegelisahan, tulislah perasaan dengan bebas tanpa beban.

5. Baca dan perbaiki. Setelah selesai menulis puisi coba endapkan sebentar beberapa jam atau beberapa hari kemudian. Setelah itu, baca lagi puisi tersebut, rasakan sesuatu yang berbeda dalam puisi tersebut.

6. Setelah selesai menulis puisi, coba uji puisi. Dengan mengirim ke media massa atau minta kritik saran dari teman, guru, orangtua, atau siapa saja. 7. Kalau puisi tersebut tidak dikirimkan karena suatu alas an, bisa disimpan

sebagai kenang-kenangan. Puisi adalah karya seni yang sangat pribadi, kalau memang tidak laku dijual ke media atau penerbit, puisi tersebut masih pantas untuk disimpan sebagai dokumen pribadi misalnya dalam buku harian.

2.2.3 Hakikat Media

Association of Education and Communication Technology (AECT, 1977)

dalam Arsyad (2002:3) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.

(53)

Pendapat yang sama juga diungkapkan Anitah (2010:5) yang menyatakan bahwa media adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Dari beberapa definisi media di atas, dapat disimpulkan bahwa media adalah seseorang, alat, bahan, atau peristiwa yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang memungkinkan peserta didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Berdasarkan sudut pandang media, media pembelajaran tidak langsung dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu (1) media cetak, (2) media audio visual, (3) media yang berdasarkan komputer, dan (4) media gabungan teknologi cetak dan komputer (Arsyad 2002:29).

2.2.3.1 Media Audio Visual

Menurut Arsyad (2002:30), pengajaran melalui audio visual adalah produksi dan penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada pemahaman kata atau simbol-simbol serupa.

(54)

Dari tiga definisi media audio visual di atas, dapat disimpulkan bahwa media audio visual adalah media yang dalam penggunaannya melibatkan dua unsur, yaitu unsur suara (unsur yang didengar) dan unsur gambar (unsur yang dilihat).

Salah satu contoh dari media audio visual adalah film dan video. Film dan video dapat menggambarkan suatu objek bergerak bersama-sama dengan suara. Kedua jenis media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-tujuan untuk hiburan, dokumentasi, dan pendidikan. Mereka dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan memperngaruhi sikap.

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa kelebihan dan kekurangan dari media audio visual menurut Arsyad (2002:49-50), khususnya film dan video:

2.2.3.1.1 Kelebihan Film dan Video

1) Film dan video yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok peserta didik. Bahkan, film dan video, seperti slogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam kelas.

2) Film dan video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapi atau perilaku binatang buas.

(55)

4) Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit. Misalnya, bagaimana kejadian mekarnya bunga mulai dari lahirnya kuncup bunga hingga kuncup itu mekar.

2.2.3.1.2 Kekurangan Film dan Video.

1) Pengadaan film dan video umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu yang banyak. Hal ini dapat diatasi dengan mengunduh video internet, sehingga dapat lebih memudahkan guru dalam mendapatkan video.

2) Pada saat film dipertunjukkan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua peserta didik mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut. Hal ini dapat diatasi dengan memutarkan ulang video yang telah ditayangkan, sehingga semua peserta didik dapat memperhatikan tayangan dengan penuh.

(56)

2.2.4 Hakikat Metode Video Critic

Berikut ini akan dijelaskan mengenai pengertian metode video critic, langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode video critic, kelebihan dan kekurangan metode video critic dalam pembelajaran.

2.2.4.1 Pengertian dan Langkah Metode Video Critic

Pada dasarnya, video critic terdiri atas dua kata yaitu video dan critic. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hakikat video berarti:1) bagian yg memancarkan gambar pada pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup atau program televisi untuk ditayangkan lewat pesawat televisi, sedangkan kritik berarti kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

Dari kedua pengertian istilah video dan kritik di atas, maka dapat disimpulkan pengertian video critic adalah tanggapan atau pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya yang ditayangkan melalui gambar hidup atau melalui video.

Metode video critic pertama kali dikemukakan oleh Silbermen (2009:124-125) dalam bukunya Active Learning, namun Silbermen tidak secara lengkap menjelaskan pengertian teknik video critic. Silbermen hanya menjelaskan langkah-langkah dalam melakukan teknik video critic yang meliputi.

(57)

(2) Beritahukan kepada mereka sebelum menonton video bahwa Anda ingin mereka mengulas secara kritis video tersebut.

(3) Minta mereka untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi selama video tersebut berlangsung.

(4) Setelah penayangan video, bagilah peserta didik dalam beberapa kelompok. (5) Minta tiap kelompok mencatat dan mendiskusikan apa saja yang telah mereka

peroleh pada saat menonton video.

(6) Mintalah tiap kelompok untuk memaparkan tentang apa telah yang mereka diskusikan.

(7) Bahas bersama-sama tentang video tersebut. Bisa juga sesekali menayangkan ulang video agar pembahasan lebih nyata.

2.2.4.2 Kelebihan Metode Video Critic dalam Pembelajaran

(58)

2.2.4.3 Kekurangan Metode Video Critic dalam Pembelajaran

Selain mempunyai kelebihan, metode video critic juga mempunyai kekurangan. Kekurangan metode video critic yaitu suasana kelas bisa menjadi sangat ramai ketika peserta melihat tayangan video yang mungkin dianggap lucu oleh mereka, sehingga guru harus pandai mengendalikan suasana kelas supaya tidak mengganggu kelas lain. Metode ini juga memiliki ketergantungan terhadap sumber listrik pada saat metode ini digunakan dalam pembelajaran. Apabila listrik mati pada saat pembelajaran berlangsung, maka metode pembelajaran ini tidak dapat diteruskan.

2.2.5 Penerapan Media Audio visual dengan Metode Video Criticdalam Pembelajaran Menulis puisi.

Secara umum, kegiatan inti pembelajaran menulis puisi mengunakan media audio visual dengan metode video critic adalah sebagai berikut.

(1) Guru menjelaskan tentang materi yang akan dipelajari; (2) Guru menayangkan video;

(3) Guru meminta peserta didik untuk fokus memperhatikan video dan memperhatikan beberapa faktor, yang meliputi (a) apa yang dilihat, (b) apa yang didengar, (c) hal-hal yang berkesan, (d) perasaan setelah melihat tayangan video; (4) Guru meminta peserta didik untuk mengkritik dari video yang baru saja diputar

(59)

(5) Perwakilan peserta didik menyampaikan hasil kritikannya terhadap video yang telah ditayangkan;

(6) Hasil krtitikan dibahahas bersama-sama.

2.2.6 Kerangka Berpikir

Keterampilan menulis puisi merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran dan perasaan secara apresiatif dalam bentuk puisi sebagai sesuatu yang bermakna dengan memanfaatkan berbagai pengalaman dalam kehidupan nyata. Seseorang dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tertulis tidak semata-mata langsung dapat baik, tetapi kemampuan menulis puisi akan tumbuh dan berkembang dengan adanya latihan yang intensif.

(60)

Selama ini menulis puisi dirasakan oleh peserta didik sebagai materi yang sulit. Untuk mengatasi hal itu, penelitian ini menggunakan media audio visual dengan metode video critic sebagai media dan metode yang dapat menarik peserta didik. Penggunakan media dan metode dalam penelitian ini dapat menghindarkan rasa bosan peserta didik terhadap pembelajaran menulis puisi. Selain itu, penggunaan media dan metode ini dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menemukan diksi untuk dijadikan puisi karena peserta didik dapat mengetahui proses pemerolehan diksi puisi secara jelas.

Pembelajaran menulis puisi puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic diharapkan dapat menarik dan memotivasi peserta didik untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu, diharapkan terjadi perubahan sikap ke arah yang positif pada proses pembelajaran menulis puisi.

2.2.7 Hipotesis Tindakan

(61)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau biasa disebut PTK. Penelitian tindakan kelas adalah kegiatan mencermati sekelompok peserta didik yang sedang melakukan proses belajar dengan suatu cara tertentu dengan tujuan meningkatkan hasil belajar peserta didik menjadi lebih memuaskan.

Proses PTK ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu; (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi atau pengamatan, dan (4) refleksi. Jika tindakan siklus I rata-rata nilai peserta didik belum mencapai target yang telah ditentukan, maka akan dilakukan tindakan siklus II. Proses penelitian tindakan kelas ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Bagan 1. Desain Penelitian Tindakan Kelas

1. Perencanaan

1. Perencanaan

2. Tindakan

Siklus I Siklus II

4. Refleksi

4. Refleksi 2. Tindakan

(62)

3.1.1 Prosedur Tindakan Siklus I

Prosedur tindakan siklus I terdiri atas tahap perencanaan, tindakan observasi, dan refleksi. Masing-masing tahapan tersebut akan diuraikan lebih lanjut sebagai berikut.

3.1.1.1 Perencanaan

Tahap perencanaan merupakan tahap awal yang digunakan pada penelitian ini untuk menentukan langkah-langkah penelitian untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Pada tahap ini guru berkoordinasi dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia untuk menentukan waktu pelaksanaan penelitian, materi pelajaran yang akan disampaikan, dan perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

(63)

3.1.1.2 Tindakan

Tindakan ini disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah disusun pada tahap perencanaan. Pelaksanaan tindakan dalam siklus I meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

3.1.1.2.1 Kegiatan Awal

Pada tahap ini guru memberikan apersepsi kepada peserta didik mengenai pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic. Kegiatan apersepsi digunakan untuk mengkondisikan peserta didik agar tiap peserta didik menerima pelajaran dengan baik. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic. Kegiatan apersepsi juga dapat dilakukan guru dengan cara memberikan pertanyaan berkaitan dengan materi puisi. Penyampaian tujuan serta manfaat pembelajaran menulis puisi yang akan dicapai juga disampaikan dalam tahap pendahuluan.

3.1.1.2.2 Kegiatan Inti

(64)

mendiskusikan hal-hal yang dilihat peserta didik dari video yang telah diputarkan, kemudian dari hasil diskusi tersebut akan dipaparkan oleh peserta didik yang kemudian akan ditanggapi bersama-sama.

Kegiatan selanjutnya adalah memutarkan video yang berbeda kepada peserta didik kemudian peserta didik secara individu membuat puisi dari video yang telah diputarkan sebagai penilaian akhir. Setelah peserta didik selesai membuat puisi, guru menunjuk beberapa peserta didik untuk membacakan puisi yang telah dibuat. Pada tahap terakhir, peserta didik dan guru membahas puisi yang telah dibuat oleh peserta didik.

3.1.1.2.3 Kegiatan Akhir

(65)

didik untuk selalu belajar dan mengembangkan kemampuannya dalam menulis puisi.

3.1.1.3 Observasi

Kegiatan observasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Melalui lembar observasi, guru mengamati tingkah laku peserta didik selama pembelajaran berlangsung.

Setelah kegiatan pembelajaran selesai, guru membagikan lembar jurnal kepada peserta didik untuk mengetahui tanggapan, kesan, dan pesan peserta didik terhadap materi, proses pembelajaran, dan sumber belajar yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran. Melalui lembar jurnal ini dapat diketahui kekurangan atau kelemahan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan sehingga dapat diperbaiki tindakan pada siklus selanjutnya.

Untuk mengetahui tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic, guru melakukan wawancara dengan peserta didik. Kegiatan wawancara dilakukan untuk mengetahui sikap positif dan negatif peserta didik dalam kegiatan pembelajaran menulis puisi.

3.1.1.4 Refleksi

(66)

analisis hasil tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil wawancara yang telah dilalukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran. Refleksi siklus I digunakan untuk mengubah strategi dan sebagai perbaikan pembelajaran pada siklus II.

3.1.2 Prosedur Tindakan Siklus II

Prosedur tindakan pada siklus II merupakan perbaikan dari tindakan siklus I setelah diketahui hasil kemampuan menulis puisi dan perubahan perilaku peserta didik dalam pembelajaran menulis puisi.

3.1.2.1 Perencanaan

(67)

3.1.2.2 Tindakan

Tindakan yang dilakukan pada siklus II berbeda dengan tindakan pada siklus I. Tindakan yang dilakukan pada siklus II merupakan perbaikan tindakan pada siklus I.

3.1.2.2.1 Kegiatan Awal

Sebelum peserta didik menulis puisi berdasarkan video yang diputarkan, guru menanyakan kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam menulis puisi melalui media audio visual dengan metode video critic. Kemudian peserta didik diberi arahan dan bimbingan agar dalam pelaksanaan kegiatan menulis puisi selanjutnya menjadi lebih baik. Selanjutnya, guru meyampaikan kesalahan-kesalahan hasil tes pada siklus I dan juga memberikan solusinya.

3.1.2.2.2 Kegiatan Inti

(68)

Kegiatan selanjutnya adalah guru memutarkan video yang berbeda kepada peserta didik kemudian peserta didik secara individu membuat puisi berdasarkan video yang telah diputarkan. Setelah peserta didik selesai membuat puisi, guru menunjuk beberapa peserta didik untuk membacakan puisi yang telah dibuat. Pada tahap terakhir, peserta didik dan guru membahas puisi yang telah ditulis oleh peserta didik.

3.1.2.2.3 Kegiatan Akhir

(69)

3.1.2.3 Observasi

Selama proses pembelajaran berlangsung, guru melakukan pengamatan terhadap peserta didik dengan menggunakan lembar observasi dan melakukan pemotretan. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, guru membagikan jurnal kepada peserta didik untuk mengetahui tanggapan, kesan, dan pesan peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Pada siklus II ini, dilihat dari hasil tes dan perilaku peserta didik dalam mengerjakan tugas dan keaktifan peserta didik dalam bertanya dan menjawab pertanyaan

3.1.2.4 Refleksi

Pada siklus II, refleksi dilakukan untuk mengetahui peningkatan keterampailan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic dan perubahan tingkah laku peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Berdasarkan refleksi tersebut juga dapat diketahui keefektifan penggunaan media audio visual dengan metode video critic.

3.2 Subjek Penelitian

(70)

yang mengajar di kelas VII D, guru tersebut menyatakan bahwa peserta didik kesulitan terhadap pemerolehan diksi atau kata-kata kias. Selain itu, kurangnya respon peserta didik terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada materi pembelajaran menulis puisi.

3.3 Variabel Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka variabel pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) yaitu variabel yang mempengaruhi dan variabel terikat (dependent variable) yaitu variabel yang dipengaruhi. Variabel bebas pada penelitian ini adalah media audio visual dan metode video critic, sedangkan variabel terikatnya adalah peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic.

3.3.1 Variabel Keterampilan Menulis puisi

(71)

Target tingkat keberhasilan setiap peserta didik ditetapkan jika peserta didik mampu menulis puisi, yakni mampu memilih judul, keseuaian isi dengan tema, diksi, rima, dan tipografi.

3.3.2 Variabel Media Audio Visual dengan Metode Video Critic

Penggunaan media audio visual dengan metode video critic dimaksudkan untuk memberikan pengarahan yang jelas kepada peserta didik dalam membuat puisi agar hasil yang diperoleh baik. Melalui media audio visual dengan metode video critic peserta didik dapat menemukan inspirasi untuk membuat puisi setelah menyimak video yang diputarkan. Selanjutnya inspirasi itu diwujudkan dalam bentuk diksi puisi melalui kegiatan berdiskusi. Metode video critic digunakan untuk merangsang peserta didik menemukan diksi dari video yang telah ditayangkan.

Selain media audio visual, peserta didik juga akan lebih aktif dan kreatif karena menggunakan metode video critic dalam proses pembelajaram menulis puisi. Dalam proses pembelajaran melalui media audio visual dengan metode video critic, peserta didik dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi dan merubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik dalam proses pembelajaran menulis puisi.

3.4 Instrumen Penelitian

(72)

3.4.1 Instrumen Tes

Bentuk instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini tidak hanya memfokuskan penilaian pada diksi saja, tetapi penilaian didasarkan pada keseluruhan unsur pembangun puisi. Aspek yang dinilai antara lain pemilihan judul, kesesuaian isi dengan tema, diksi, rima , dan tipografi. Untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam menulis puisi terutama pada menulis puisi dilakukan dengan pembobotan nilai yang lebih tinggi pada diksi dari unsur-unsur puisi lainnya. Berikut rubrik penilaian menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic.

Tabel 3.1Rubrik Penilaian Keterampilan Menulis puisi Menggunakan Media Audio visual dengan Metode Video Critic pada KDMenulis Kreatif Puisi Berkenaan dengan Keindahan Alam.

No. Aspek Penilaian Skala Penilaan Bobot Skor

1 2 3 4 5

Tabel 3.2 Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis puisi Menggunakan Media Audio visual dengan Metode Video Critic pada KDMenulis Kreatif Puisi Berkenaan dengan Keindahan Alam.

No. Aspek Penilaian

Kategori Patokan

(73)

1. Judul Sangat baik Baik

Cukup Kurang Sangat kurang

Judul puisi sangat menimbulkan daya tarik bagi pembaca

Judul puisi menimbulkan daya tarik bagi pembaca

Judul puisi cukup menimbulkan daya tarik bagi pembaca

Judul puisi kurang menimbulkan daya tarik bagi pembaca

Judul puisi tidak menimbulkan daya tarik bagi pembaca

Isi sangat menerangkan sebagian besar tema. Isi menerangkan sebagian besar tema. Isi cukup menerangkan sebagian besar tema. Isi kurang menerangkan sebagian besar tema. Isi tidak menerangkan sebagian besar tema.

3. Diksi Sangat baik

Baik Cukup Kurang Sangat kurang

Diksi yang dipilih sangat mendukung makna yang ingin diungkapkan

Diksi yang dipilih mendukung makna yang ingin diungkapkan

Diksi yang pililih cukup mendukung makna yang ingin diungkapkan

Diksi yang pililih kurang mendukung makna yang ingin diungkapkan

Diksi yang pililih tidak mendukung makna yang ingin diungkapkan

Persajakan yang dilpilih sangat mendukung suasana puisi

Persajakan yang dipilih mendukung suasana puisi

Persajakan yang dilpilih cukup mendukung suasana puisi

Persajakan yang dilpilih kurang mendukung suasana puisi

(74)

5. Tipografi Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang

Tipografi yang dipilih sangat mendukung makna puisi

Tipografi yang dipilih mendukung makna puisi

Tipografi yang dipilih cukup mendukung makna puisi

Tipografi yang dipilih kurang mendukung makna puisi

Tipografi yang dipilih tidak mendukung makna puisi.

Berdasarkan pedoman penilaian menulis puisi tersebut, dapat diketahui kemampuan peserta didik untuk mengungkapkan ide kreatifnya berhasil dengan sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangat kurang. Penggolongan pedoman penilaian keterampilan menulis puisi menggunakan media audio visual dengan metode video critic sebagai berikut.

Tabel 3.3 Kriteria Penskoran Keterampilan Menulis puisi Menggunakan Media Audio visual dengan Metode Video Critic pada KDMenulis Kreatif Puisi Berkenaan dengan Keindahan Alam.

(75)

Sangat kurang <4

Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis puisi Menggunakan Media Audio visual dengan Metode Video Critic pada KDMenulis Kreatif Puisi Berkenaan dengan Keindahan Alam.

No. Kategori Rentang Nilai

(76)

3.4.2 Instrumen Nontes

Bentuk instrumen yang berupa nontes adalah lembar observasi, pedoman, jurnal, wawancara dan dokumentasi berupa foto.

3.4.2.1 Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengamati keadaan, respon, sikap, dan keaktifan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Hal-hal yang diamati yaitu perilaku positif dan perilaku negatif peserta didik dalam proses pembelajaran.

3.4.2.2. Pedoman Jurnal

Gambar

Tabel 3.2
Tabel 3.3 Kriteria Penskoran Keterampilan Menulis puisi
Tabel 3.4
Tabel 4.1 Hasil Tes Pembelajaran Menulis puisi Prasiklus
+7

Referensi

Dokumen terkait