• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian Glutamin, Dextrin Dan Kombinasinya secara in Ovo Terhadap Daya Tetas, Berat Tetas, Performa Dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemberian Glutamin, Dextrin Dan Kombinasinya secara in Ovo Terhadap Daya Tetas, Berat Tetas, Performa Dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari"

Copied!
242
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERIAN GLUTAMIN, DEXTRIN DAN KOMBINASINYA

SECARA

IN OVO

TERHADAP DAYA TETAS, BERAT TETAS,

PERFORMA DAN PEMANFAATAN ENERGI AYAM

BROILER JANTAN UMUR 15 HARI

LELY DELIMA SAKIYO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis saya yang berjudul: Pemberian Glutamin, Dextrin dan Kombinasinya secara In Ovo terhadap Daya Tetas, Performa dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari, merupakan hasil karya saya sendiri atau hasil penelitian tesis saya sendiri, dengan bimbingan komisi pembimbing. Semua sumber data dan informasi atau pustaka yang digunakan dalam tesis ini telah dinyatakan dengan jelas dan lengkap dan dapat diperiksa kebenarannya. Tesis ini belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun atau untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain.

Bogor, Desember 2007 Lely Delima Sakiyo

(3)

ABSTRACT

LELY DELIMA SAKIYO. Insertion of Glutamine, Dextrin and Its Combination Through In Ovo Feeding on Hatchability, Hatchling Weight, Performances and Energy Utilization of Broiler. Under the supervisions of WIRANDA G. PILIANG, DEWI APRI ASTUTI, and DESIANTO BUDI UTOMO.

Early development of the digestive tract is crucial for achieving maximal growth and development of chickens. Since the late-term embryos naturally consume the amniotic fluid, insertion of nutrient solution into the embryonic amniotic fluid [in ovo feeding, IOF] would enhance digestive tract development and provide more energy for embryos to pip. This research was conducted to study the effects of glutamine, dextrin, and its combination through IOF in chicken eggs on the 18th day of incubation. The parameters observed were hatchability, hatchling weight, performances and energy utilization of male broiler chicks up to 15 days of age. The data was analyzed by a Completely Randomized Design (CRD). The two controls were intact eggs and eggs with NaCl 0.5% insertion. The results showed that IOF of glutamine, dextrin and its combination decreased the hatchability and did not increase hatchling weight. All treatments neither affect significantly the chick performances nor the energy utilization. The control group (intact eggs) showed higher hatchability as compared to that of the other treatment groups. The control group treated with NaCl 0.5% insertion, gave the highest hatchability as compared to that of the other groups but did not affect other parameters.

(4)

RINGKASAN

LELY DELIMA SAKIYO. Pemberian Glutamin, Dextrin dan Kombinasinya secara in Ovo terhadap Daya Tetas, Berat Tetas, Performa dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari. WIRANDA G. PILIANG, DEWI APRI ASTUTI dan DESIANTO BUDI UTOMO.

(5)

@ Hak cipta milik IPB, tahun 2007

Hak cipta dilindungi undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(6)

PEMBERIAN GLUTAMIN, DEXTRIN DAN KOMBINASINYA SECARA

IN OVO TERHADAP DAYA TETAS, BERAT TETAS, PERFORMA

DAN PEMANFAATAN ENERGI AYAM BROILER JANTAN UMUR 15 HARI

LELY DELIMA SAKIYO

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Depertemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)

Judul Tesis : Pemberian Glutamin, Dextrin dan Kombinasinya secara in Ovo terhadap Daya Tetas, Berat Tetas, Performa dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari

Nama : Lely Delima Sakiyo

NIM : D051050051

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Ir. Wiranda G. Piliang, Ph.D., M. Sc Ketua

Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M. S drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D., M.Sc Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

Dr. Ir. Idat Galih Permana, M. Sc

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M. S

(8)
(9)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada Prof. Ir. Wiranda G. Piliang, Ph.D., M.Sc., Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M.S., dan drh. Desianto Budi Utomo, M.Sc, Ph.D., selaku komisi pembimbing atas bimbingan, arahan, saran dan kesabaran selama proses penyusunan tesis ini. Thank you very much to Dr. Kenny Ray Hazen for your supports, literatures and long discussions. Kepada Ika, Diah dan Bang Anto, terima kasih atas dorongan semangat, persahabatan, kasih sayang dan bantuannya. Kepada Mas Supri, Bagus NH, Ipep, Erma, Andi, Ina, serta semua rekan-rekan di research farm yang telah banyak membantu, penulis menyampaikan terima kasih. Ungkapan terima kasih terutama disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala cinta, doa, dorongan semangat dan kasih sayangnya. This thesis is for you Mom.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Desember 2007

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 19 Februari 1976, putri tunggal dari ayah Sakijo dan ibu Almh.Indhang Dharadjatin.

Tahun 1993 penulis lulus dari SMUN IV Surabaya, pada tahun yang sama masuk Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya dan lulus pada tahun 2000.

(11)

PEMBERIAN GLUTAMIN, DEXTRIN DAN KOMBINASINYA

SECARA

IN OVO

TERHADAP DAYA TETAS, BERAT TETAS,

PERFORMA DAN PEMANFAATAN ENERGI AYAM

BROILER JANTAN UMUR 15 HARI

LELY DELIMA SAKIYO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis saya yang berjudul: Pemberian Glutamin, Dextrin dan Kombinasinya secara In Ovo terhadap Daya Tetas, Performa dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari, merupakan hasil karya saya sendiri atau hasil penelitian tesis saya sendiri, dengan bimbingan komisi pembimbing. Semua sumber data dan informasi atau pustaka yang digunakan dalam tesis ini telah dinyatakan dengan jelas dan lengkap dan dapat diperiksa kebenarannya. Tesis ini belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun atau untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain.

Bogor, Desember 2007 Lely Delima Sakiyo

(13)

ABSTRACT

LELY DELIMA SAKIYO. Insertion of Glutamine, Dextrin and Its Combination Through In Ovo Feeding on Hatchability, Hatchling Weight, Performances and Energy Utilization of Broiler. Under the supervisions of WIRANDA G. PILIANG, DEWI APRI ASTUTI, and DESIANTO BUDI UTOMO.

Early development of the digestive tract is crucial for achieving maximal growth and development of chickens. Since the late-term embryos naturally consume the amniotic fluid, insertion of nutrient solution into the embryonic amniotic fluid [in ovo feeding, IOF] would enhance digestive tract development and provide more energy for embryos to pip. This research was conducted to study the effects of glutamine, dextrin, and its combination through IOF in chicken eggs on the 18th day of incubation. The parameters observed were hatchability, hatchling weight, performances and energy utilization of male broiler chicks up to 15 days of age. The data was analyzed by a Completely Randomized Design (CRD). The two controls were intact eggs and eggs with NaCl 0.5% insertion. The results showed that IOF of glutamine, dextrin and its combination decreased the hatchability and did not increase hatchling weight. All treatments neither affect significantly the chick performances nor the energy utilization. The control group (intact eggs) showed higher hatchability as compared to that of the other treatment groups. The control group treated with NaCl 0.5% insertion, gave the highest hatchability as compared to that of the other groups but did not affect other parameters.

(14)

RINGKASAN

LELY DELIMA SAKIYO. Pemberian Glutamin, Dextrin dan Kombinasinya secara in Ovo terhadap Daya Tetas, Berat Tetas, Performa dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari. WIRANDA G. PILIANG, DEWI APRI ASTUTI dan DESIANTO BUDI UTOMO.

(15)

@ Hak cipta milik IPB, tahun 2007

Hak cipta dilindungi undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(16)

PEMBERIAN GLUTAMIN, DEXTRIN DAN KOMBINASINYA SECARA

IN OVO TERHADAP DAYA TETAS, BERAT TETAS, PERFORMA

DAN PEMANFAATAN ENERGI AYAM BROILER JANTAN UMUR 15 HARI

LELY DELIMA SAKIYO

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Depertemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(17)

Judul Tesis : Pemberian Glutamin, Dextrin dan Kombinasinya secara in Ovo terhadap Daya Tetas, Berat Tetas, Performa dan Pemanfaatan Energi Ayam Broiler Jantan Umur 15 Hari

Nama : Lely Delima Sakiyo

NIM : D051050051

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Ir. Wiranda G. Piliang, Ph.D., M. Sc Ketua

Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M. S drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D., M.Sc Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

Dr. Ir. Idat Galih Permana, M. Sc

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M. S

(18)
(19)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada Prof. Ir. Wiranda G. Piliang, Ph.D., M.Sc., Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M.S., dan drh. Desianto Budi Utomo, M.Sc, Ph.D., selaku komisi pembimbing atas bimbingan, arahan, saran dan kesabaran selama proses penyusunan tesis ini. Thank you very much to Dr. Kenny Ray Hazen for your supports, literatures and long discussions. Kepada Ika, Diah dan Bang Anto, terima kasih atas dorongan semangat, persahabatan, kasih sayang dan bantuannya. Kepada Mas Supri, Bagus NH, Ipep, Erma, Andi, Ina, serta semua rekan-rekan di research farm yang telah banyak membantu, penulis menyampaikan terima kasih. Ungkapan terima kasih terutama disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala cinta, doa, dorongan semangat dan kasih sayangnya. This thesis is for you Mom.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Desember 2007

(20)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 19 Februari 1976, putri tunggal dari ayah Sakijo dan ibu Almh.Indhang Dharadjatin.

Tahun 1993 penulis lulus dari SMUN IV Surabaya, pada tahun yang sama masuk Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya dan lulus pada tahun 2000.

(21)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang Masalah ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesa Penelitian ... 3

Manfaat Hasil Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA ... 6

Pengaruh Early Feeding terhadap Pertumbuhan Saluran Pencernaan Anak Ayam ... 6

In Ovo Feeding ... 7

Pengaruh in Ovo Feeding terhadap Daya Tetas ... 12

Pengaruh in Ovo Feeding terhadap Saluran Pencernaan Embrio dan Berat Tetas ... 12

Pemanfaatan Energi ... 13

Penggunaan Karbohidrat sebagai in Ovo Feeding ... 16

Glutamin dan Saluran Pencernaan ... 17

Usus Halus ... 20

MATERI DAN METODE ... 22

Waktu dan Tempat Penelitian ... 22

Rancangan Penelitian ... 22

Perlakuan Penelitian ... 24

Parameter yang Diamati... 25

Materi Penelitian ... 26

Kandang ... 26

Telur Tetas ... 26

Pakan ... 27

Larutan Nutrien ... 27

Metode Penelitian ... 27

Prosedur in Ovo Feeding pada Telur Tetas ... 27

Perhitungan Persentase Data Tetas ... 28

Persiapan Day Old Chick (DOC) ... 28

Perkembangan Usus Halus ... 29

Pengukuran Pemanfaatan Energi ... 31

Performa Mingguan Anak Ayam ... 37

Analisa Data ... 38

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

Daya Tetas dan Berat Tetas... 40

Usus Halus Neonatal Jantan ... 43

(22)
(23)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Sejarah penelitian in ovo feeding ... 8 2 Perlakuan dan nutrien yang digunakan dalam penelitian ... 25 3 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap persentase daya tetas dan

berat tetas jantan ... 40

4 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap usus halus neonatal jantan ... 43

5 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili duodenum

neonatal jantan ... 46

6 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili mikroskopi

jejunum neonatal jantan ... 48 7 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili ileum neonatal jantan ... 49 8 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap usus halus anak ayam

broiler jantan umur 14 hari ... 52

9 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap gambaran histologi ileum

ayam broiler jantan umur 14 hari ... 55

10 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap performa minggu pertama

dan kedua anak ayam broiler jantan ... 58

11 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap AME ayam broiler jantan

umur 15 hari ... 60

12 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap energi bruto (GE) embrio,

(24)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Kerangka pemikiran ... 5 2 Definisi dan hubungan dari neraca energi pada unggas ... 15 3 Sintesa dan interconversion glutamin dan glutamat ... 19 4 Sintesa proline dari glutamat ... 19 5 Alur penelitian ... 23 6 Pengukuran luas permukaan duodenum, jejunum dan ileum neonatal jantan ... 30 7 Pengukuran vili usus halus ... 31 8 Pengukuran dan perhitungan penggunaan energi pakan ... 32 9 Pengukuran energi ekskreta dalam kandang metabolik individual ... 33 10 Pengukuran energi bruto (GE) embrio ... 34 11 Pengukuran energi bruto (GE) neonatal jantan ... 36 12 Pengukuran energi bruto (GE) anak ayam umur 15 hari ... 37 13 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap persentase daya tetas dan

berat tetas jantan ... 41 14 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap berat usus halus neonatal

jantan ... 44

15 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap panjang usus halus

neonatal jantan ... 45

16 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili duodenum

neonatal jantan ... 47

17 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili duodenum

neonatal jantan ... 48

18 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili duodenum

(25)

Halaman 19 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap luas permukaan vili

usus halus neonatal jantan ... 50

20 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap gambaran mikroskopi

duodenum, jejunum dan ileum neonatal jantan ... 51 21 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in

ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap berat usus halus anak

ayam broiler jantan umur 14 hari ... 53

22 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap panjang usus halus

anak ayam broiler jantan umur 14 hari ... 53

23 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap deskripsi vili ileum

ayam broiler jantan umur 14 hari ... 56

24 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap luas permukaan vili

ileum ayam broiler jantan umur 14 hari ... 56

25 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap berat badan minggu

pertama dan kedua anak ayam broiler jantan ... 58

26 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap konsumsi pakan

minggu pertama dan kedua anak ayam broiler jantan ... 59

27 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap konversi pakan minggu

pertama dan kedua anak ayam broiler jantan ... 59 28 Pengaruh pemberian glutamin, dextrin dan kombinasinya secara

in ovo pada umur 18 hari inkubasi terhadap AME ayam broiler

jantan umur 15 hari ... 61

(26)

DAFTAR LAMPIRAN

(27)

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Suatu perkembangan genetik yang dramatis telah dilakukan selama lebih

dari 40 tahun terakhir untuk mendapatkan ayam broiler dengan kecepatan

pertumbuhan badan yang tinggi. Seleksi genetik yang dilakukan pada ayam

broiler menghasilkan perubahan performa dan kecepatan deposisi lemak dan

protein pada karkas. Perubahan pola pertumbuhan pada broiler ini memerlukan

suatu modifikasi nutrien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar mereka dapat

tumbuh maksimal sesuai dengan potensi genetiknya (Sakomura et al. 2005).

Saluran pencernaan adalah organ penyuplai nutrisi bagi tubuh. Setiap

makanan yang masuk ke dalam tubuh diubah menjadi energi yang akan digunakan

tubuh untuk bertahan hidup, tumbuh-kembang dan berproduksi. Semakin cepat

saluran pencernaan dapat berfungsi dengan baik pada seekor anak ayam, maka

semakin cepat pula anak ayam tersebut dapat mencerna dan menggunakan nutrien

yang terdapat dalam makanan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan

potensi genetiknya (Uni & Ferket 2004).

Waktu pemberian dan bentuk pakan yang pertama kali diberikan pada

anak ayam yang baru menetas memegang peranan penting dalam pertumbuhan

anak ayam (Noy & Sklan 1998b). Pemberian pakan sedini mungkin pada anak

ayam yang baru menetas (early feeding) akan menstimulasi penggunaan yolk

(Noy & Sklan 1998a; Speake et al. 1998), akan tetapi yang paling penting adalah

early feeding sangat penting dalam pertumbuhan sistem saluran pencernaan anak

ayam. Saluran pencernaan yang tumbuh lebih cepat akan menghasilkan berat

badan yang lebih tinggi dan memperpendek waktu yang diperlukan untuk

mencapai berat panen.

Tentu saja para peneliti tidak berpuas diri dan berhenti pada early feeding

saja. Embrio unggas memiliki rentang waktu menetas yang lebar, hal ini

menyebabkan hatchery komersial menahan anak ayam dalam inkubator hingga

semua telur menetas sempurna. Konsekuensinya adalah banyak anak ayam yang

(28)

dan lain-lain), transportasi (apalagi jika harus dikirim keluar kota atau pulau),

poultry shop dan farm (bila brooder belum siap) sebelum mereka dapat

ditempatkan di brooder dan mendapatkan makanan dan minuman untuk pertama

kali (Batal & Parson 2002).

Karena akses yang cepat terhadap pakan segera setelah menetas adalah

suatu hal yang penting bagi pertumbuhan saluran pencernaan, maka suplai

nutrien selama periode prehatch (17-18 hari inkubasi dengan cara in ovo feeding)

diharapkan dapat meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan usus halus.

Nutrien cair yang disuntikkan ke dalam cairan amnion embrio ayam akan

dikonsumsi oleh embrio secara oral sebelum dia menetas. Hal ini akan

menstimulasi saluran pencernaan embrio untuk mulai tumbuh lebih awal

dibandingkan bila harus menunggu embrio tersebut menetas dulu dan mulai

makan.

Selama sepuluh tahun terakhir banyak dilakukan penelitian tentang in ovo

feeding. Berbagai respon muncul akibat pemberian in ovo feeding, beberapa

penelitian menunjukkan respon yang positif. Akan tetapi tidak sedikit pula yang

tidak menunjukkan respon apa pun atau justru menunjukkan respon yang negatif.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Uni dan Ferket selama tiga tahun di Hebrew

University of Jerussalem dan North Carolina State University menunjukkan

respon yang positif. Pemberian nutrien cair (karbohidrat, asam amino, protein dan

lain-lain) pada cairan amnion embrio ayam, beberapa hari sebelum menetas,

mampu meningkatkan efisiensi produksi broiler dengan meningkatkan daya tetas

dan berat tetas serta memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk mencapai berat

panen (Uni & Ferket 2004).

Pada penelitian yang menunjukkan respon postif, diketahui bahwa

pemberian nutrien cair secara in ovo feeding pada periode kritis pertumbuhan

embrio akan meningkatkan status nutrisi embrio ayam. Perbaikan status nutrisi ini

diharapkan akan memberikan beberapa keuntungan di lapangan, antara lain:

peningkatan efisiensi penggunaan pakan, peningkatan respon imun terhadap

enteric antigen, menurunnya mortalitas dan morbiditas pasca menetas,

(29)

kelainan pertumbuhan. Keuntungan-keuntungan ini akan menekan biaya produksi

per kilogram broiler (Uni & Ferket 2004).

Banyak nutrien yang dapat digunakan sebagai cairan in ovofeeding, antara

lain karbohidrat (Moran 1985), asam amino (Ohta et al. 1999; Pedroso et al.

2006), sodium (Gal-Gerber et al. 2000; Currid et al. 2004) serta mineral, vitamin

dan enteric modulator juga merupakan kandidat yang baik sebagai cairan in ovo

feeding (Uni & Ferket 2004). Glutamin adalah suatu asam amino non essensial

yang memiliki fungsi sebagai bahan bakar utama sel-sel saluran pencernaan untuk

berproliferasi dengan cepat. Dextrin adalah suatu oligosakarida yang mengandung

minimal tiga gugus glukosa dalam satu rantainya. `

Setelah mengetahui hasil beberapa penelitian in ovo feeding yang telah

dilakukan, maka timbul suatu pertanyaan apakah pemberian glutamin, dextrin

serta kombinasinya secara in ovo pada umur 18 hari inkubasi akan memberikan

pengaruh yang positif terhadap daya tetas, berat tetas, perkembangan usus halus,

penggunaan energi dan performa ayam broiler jantan hingga umur 15 hari pasca

menetas. Kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1 di

halaman 5.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian glutamin,

dextrin dan kombinasinya secara in ovo pada cairan amnion embrio ayam umur 18

hari inkubasi terhadap daya tetas dan berat tetas, performa dan pemanfaatan

energi ayam broiler jantan hingga umur 15 hari pasca menetas.

Hipotesa Penelitian

Hipotesa penelitian ini adalah:

H0= pemberian glutamin, dextrin serta kombinasinya secara in ovo tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap daya tetas, berat tetas,

(30)

H1= pemberian glutamin, dextrin serta kombinasinya secara in ovo

memberikan pengaruh yang nyata terhadap daya tetas, berat tetas,

performa dan pemanfaatan energi broiler jantan umur 15 hari.

Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu

mempertahankan kualitas day old chick (DOC) yang akan mengalami perjalanan

(31)

18 hari inkubasi:

Injeksi larutan nutrien ke cairan amnion

Day Old Chick:

- Daya Tetas - Berat Tetas

- Energi Bruto (GE)DOC

- Berat dan Panjang Usus Halus DOC - Luas Permukaan Vili Usus Halus DOC

Umur 9 – 13 hari:

- Energi Ekskreta

- Energi Metabolisme Semu (AME)

Umur 15 hari:

- Energi Bruto Ayam

Umur 18 hari inkubasi:

- Energi Bruto (GE) Embrio

Umur 7 hari:

- Berat Badan - Konsumsi Pakan

- Feed Conversion Ratio

Umur 14 hari: - Berat Badan - Konsumsi Pakan

- Feed Conversion Rasio

[image:31.595.113.513.82.676.2]

- Berat dan Panjang Usus Halus - Luas Permukaan Vili Ileum Telur Tetas Broiler Inkubasi selama 18 hari

(32)

TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Early Feeding terhadap Pertumbuhan Saluran Pencernaan Anak

Ayam

Menjelang akhir inkubasi, yolk masuk ke dalam rongga abdominal. Pada

saat menetas, berat yolk mencapai 20% dari berat badan DOC. Yolk menyediakan

energi dan protein untuk bertahan hidup dan tumbuh bagi anak ayam (Romanoff

1960; Noy & Sklan 2000). Yolk digunakan oleh anak melalui dua jalur, pertama

melalui transfer langsung ke dalam pembuluh darah dan kedua melalui yolk stalk

ke dalam usus halus (Noy & Sklan 2002).

Pada ayam, hari pertama pasca menetas adalah periode kritis

perkembangan karena terjadi suatu perubahan besar dalam penggunaan sumber

nutrisi dimana penggunaan yolk atau kuning telur akan digantikan oleh makanan

dari luar (Noble & Ogunyemi 1989; Noy & Sklan 1998a). Hasil

penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa masuknya

makanan dalam saluran pencernaan anak ayam yang baru menetas akan

menstimulasi sekresi yolk ke dalam usus halus dan merangsang aktivitas absorbsi

bahan-bahan hydrophilic (Noy & Sklan 2001).

Perkembangan saluran pencernaan embrio terjadi selama proses inkubasi

(Romanoff 1960). Pankreas embrio mengembangkan kapasitas produksi enzim

proteolitik sebelum menetas, aktivitas spesifik dari karboksipeptidase A dan

chymotripsin sejak umur 16 hari inkubasi (Marchaim & Kulka 1967). Pancreatic-α-amilase terdeteksi sejak umur 18 hari inkubasi tetapi aktivitas spesifik yang maksimum dicapai saat umur empat hari setelah menetas. Tripsin teraktifkan saat

umur 18 hari inkubasi dan lipase muncul menjelang menetas (Moran 1985).

Day Old Chick yang mencerna makanan menunjukkan peningkatan aktivitas total tripsin, amilase dan lipase yang berkorelasi dengan berat saluran

pencernaan dan berat badan. Dengan kata lain sekresi tripsin dan amilase ke

dalam saluran pencernaan DOC dirangsang oleh adanya makanan di dalam

saluran cerna (Noy & Sklan 2000). Day Old Chick broiler dan kalkun yang

(33)

lebih tinggi termasuk di dalamnya luas permukaan vili yang lebih luas dan

meningkatnya jumlah sel pada vili – vili usus (Noy et al. 2001; Gonzales et al. 2003).

Pertumbuhan secara keseluruhan pada anak ayam yang dipuasakan hingga

dua hari setelah menetas tertunda hingga anak ayam tersebut mendapat pakan

pertama dan berat badan pada umur enam hari 25% lebih rendah dari berat badan

anak ayam yang mendapat pakan segera setelah menetas. Ketersediaan pakan

setelah periode puasa tidak mencukupi kompensasi retardasi dari pertambahan

berat badan, berat saluran pencernaan dan berat otot dada (Bigot et al. 2003).

In Ovo Feeding

In ovo feeding adalah suatu metode pemberian nutrien cair ke dalam telur tetas. Nutrien disuntikkan ke dalam cairan amnion dan harus dilakukan pada saat

embrio mulai mengkonsumsi cairan amnion. Pada embrio ayam hal ini terjadi saat

umur 17-18 hari inkubasi dan pada kalkun saat umur 22-25 hari inkubasi. Tekanan

osmotik larutan nutrien yang akan digunakan sebagai in ovo feeding tidak boleh

melebihi tekanan osmotik cairan amnion sebesar 300 mOsm (Ferket & Uni 2006).

Penelitian tentang in ovo feeding telah dimulai sejak akhir tahun 1990-an,

dimana para peneliti memulai dengan penelitian-penelitian tentang lokasi dan

umur penyuntikan. Tidak semua penelitian-penelitian tersebut menunjukkan

respon yang positif. Beberapa hasil penelitian terdahulu mengenai in ovo feeding

(34)

Tabel 1 Sejarah Penelitian in Ovo Feeding

Tahun Peneliti Judul dan Hasil

1999

2001

2001

2003

Ohta et al.

Ohta et al.

Ohta et al.

Uni Z, Ferket PR

Effect of Amino Acid Injection in Broiler BreederEggs on Embrionic Growth and Hatchability of Chicks.

Lokasi penyuntikan: yolk

Umur penyuntikan: tujuh (7) hari inkubasi

Hasil: Pemberian asam amino secara in ovo

mungkin merupakan suatu metode yang efektif untuk meningkatkan berat badan anak ayam saat menetas.

Optimum Site for In ovo Amino Acid Injection in Broiler Breeder Eggs.

Lokasi penyuntikan: chorioallantoic

membrane, extra-embrionic coelom, amniotic cavity dan yolk sac.

Umur penyuntikan: 7 hari inkubasi

Hasil: Kemungkinan lokasi terbaik untuk menyuntikkan asam amino ke dalam telur

adalah ke dalam yolk dan extra-embrionic

coelom.

Embrio Growth and Amino Acid Concentration Profiles of Broiler Breeder Eggs, Embrios, and Chicks After In Ovo Administration of Amino Acids.

Lokasi penyuntikan: yolk

Umur penyuntikan: 7 hari inkubasi

Hasil: Pemberian asam amino secara in ovo

dapat meningkatkan konsentrasi asam amino embrio ayam dan konsentrasi asam amino isi telur lainnya.

(35)

Tahun Peneliti Judul dan Hasil

2004

2004

2005

2005

Uni Z, Ferket PR

Tako E, Ferket PR, Uni Z

Uni Z, Ferket PR, Tako E, Kedar O

Foye OT

Methods For Early Nutrition and Their Potential.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion embrio ayam

Umur penyuntikan: 18 hari inkubasi

Hasil: Pemberian karbohidrat secara in ovo

meningkatkan berat badan DOC, berat badan ayam hingga umur 35 hari, meningkatkan tinggi vili dan level glikogen hati. Kombinasi

karbohidrat dan protein sebagai in ovo feeding

meningkatkan berat DOC, berat ayam hingga umur 14 hari dan berat otot DOC.

Effects of In Ovo Feeding of Carbohydrate and β-Hydroxy-β-Methylbutyrate on The Development of Chicken Intestine.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion Umur penyuntikan : 17.5 hari inkubasi

Hasil: In ovo feeding meningkatkan

perkembangan intestine dengan meningkatkan ukuran vili (HMB lebih baik) dan kapasitas cerna disakarida (CHO + HMB lebih baik)

In Ovo Feeding Improves Energy Status of Late – Term Chicken Embrios.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion Umur penyuntikan: 17.5 hari inkubasi

Hasil: Pemberian CHO + HMB secara in ovo

meningkatkan berat badan DOC, level glikogen hati dan ukuran otot dada.

(36)

Tahun Peneliti Judul dan Hasil

2005

2006

2006

2006

Tako E, Ferket PR, Uni Z

Smirnov A, Tako E, Ferket PR, Uni Z

Foye OT, Uni Z, Ferket PR

Pedroso et al.

Changes in Chicken Intestinal Zinc Exporter mRNA expression and Small Intestine Functionality Following Intra-Amniotic Zinc- Methionine Administration.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion

Umur penyuntikan : 17 hari masa inkubasi

Hasil: Pemberian Zinc-Methionine

meningkatkan ekspresi enzim-enzim brush

border dan nutrient transporter dari neonatal.

Mucin Gene Expression and Mucin Content in The Chicken Intestinal Goblet Cells Are Affected by In Ovo Feeding of Carbohydrates.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion

Umur penyuntikan : 17.5 hari masa inkubasi

Hasil: Pemberian CHO secara in ovo memiliki

efek thropic terhadap usus halus,

meningkatkan mucin mRNA expression dan

meningkatkan perkembangan sel goblet usus.

Effect of In Ovo Feeding Egg White Protein, β

-Hydroxy-β-Methylbutyrate, and

Carbohydrates on Glycogen Status and Neonatal Growth of Turkeys.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion Umur penyuntikan: 23 hari

Hasil: in ovo feeding meningkatkan berat tetas, status glikogen hati dan otot dada kalkun

Nutrient Inoculation in Eggs from Heavy Breeders

Lokasi penyuntikan: cairan amnion Umur penyuntikan: 16 hari masa inkubasi Hasil: Pemberian glukosa, glutamin dan asam linoleat dengan konsentrasi yang berbeda-beda

secara in ovo tidak memberikan efek yang

(37)

Tahun Peneliti Judul dan Hasil

2006

2006

2007

2007

Pedroso et al.

Zhar W, Neuman SL, Hester PY

Bhanja SK et al.

Bhattacharyya A et

al.

High Glucose Levels in Ovo Causes Damage to Embrios

Lokasi penyuntikan: cairan amnion Umur penyuntikan: 15 hari masa inkubasi Hasil: Pemberian glukosa dengan dosis 100, 200 dan 300 mg menyebabkan kerusakan dan kematian embrio pada fase lanjut (umur 15-20 hari inkubasi) serta tidak berpengaruh pada rasio telur:anak ayam dan berat tetas.

The Effect of in Ovo Injection of L-carnitine on Hatch Rate of White Leghorn Eggs.

Lokasi penyuntikan: cairan amnion Umur penyuntikan: 18 hari inkubasi

Hasil: Pemberian L-carnitin secara in ovo tidak memberikan pengaruh yang nyata pada daya tetas.

Effect of in Ovo Injection of Vitamins on The Chick Weight and Post-Hatch Growth Performance in Broiler Chickens

Lokasi penyuntikan:

Umur penyuntikan: 14 hari inkubasi

Hasil: penyuntikan vitamin A, E, C, B1 dan B6 menurunkan persentase daya tetas. Vitamin A dan C mempengaruhi perkembangan masa embrio sedangkan vitamin E dan B1

dibutuhkan saat untuk perkembangan early

posthatch.

Effect of in Ovo Injection of Glucose on

Growth, Immunocompetence and Development of Digestive Organs in Turkey Poults

Lokasi penyuntikan: yolk sac, cairan amnion,

cairan alantois

(38)

Pengaruh In Ovo Feeding terhadap Daya Tetas

Keberadaan status glukosa yang stabil dan cukup pada periode akhir

pertumbuhan embrio sangat penting di dalam proses menetas dan pertumbuhan

pasca menetas hingga anak ayam menerima makanan dari luar untuk pertama

kalinya. Menjelang akhir inkubasi, embrio mengubah energi yang mereka simpan

untuk memenuhi kebutuhan glukosa yang tinggi sebagai bahan bakar aktivitas

menetas (Freeman 1965; John et al. 1987; Christensen et al. 2001). Walaupun

glukosa dapat disintesa dari lemak dan protein, glukosa terutama dihasilkan oleh

protein albumin dan otot melalui glukoneogenesis atau melalui glikolisis dari

cadangan glikogen karena ketersediaan oksigen pada periode akhir inkubasi

sangat terbatas (Bjonnes et al. 1987; John et al. 1987). Pada unggas, cadangan

glikogen terbesar adalah di hati dan otot (John et al. 1988). Cadangan glikogen

ini akan digunakan saat embrio melewati proses menetas (Christensen et al.

2001).

Kurangnya jumlah glikogen dan albumin akan memaksa embrio untuk

menggunakan protein otot dalam jumlah besar, hal ini akan menyebabkan

terhambatnya pertumbuhan embrio pada periode akhir inkubasi dan anak ayam

yang baru menetas (Uni et al. 2005). Cadangan glikogen mulai disimpan kembali

saat anak ayam yang baru menetas mendapatkan makanan dan oksigen serta dapat

menggunakan lemak yang tersimpan dalam yolk sac secara maksimal

(Rosebrough et al. 1978a, 1978b). Pemberian karbohidrat secara in ovo feeding

pada cairan amnion embrio broiler meningkatkan jumlah cadangan glikogen pada

hati embrio dan anak ayam yang baru menetas (Uni & Ferket 2004).

Pengaruh Pemberian In Ovo Feeding terhadap Saluran Pencernaan Embrio

dan Berat Tetas

Embrio ayam memiliki kemampuan mencerna dan absorbsi nutrisi

menjelang menetas yang terbatas, yang ditunjukkan oleh rendahnya level mRNA

dari sucrase-isomaltase (SI), l-aminopeptidase, ATPase dan sodium glucose

transporter (SGLT-1) pada mukosa usus halus (Uni et al. 2003b). Aktivitas dan

(39)

peptides, dan sebagian besar transporter (sodium-glucose transporter dan ATPase) ditemukan saat 15 hari inkubasi, dan mulai meningkat saat 19 hari

inkubasi dan meningkat lebih jauh saat menetas (Uni et al. 1999; Sklan 2001; Uni

et al. 2003b). Tinggi dan besar vili usus meningkat 200 – 300% sejak umur 17 hari inkubasi hingga menetas.

Penyuntikan cairan karbohidrat (CHO) dan β-Hydroxy-β-Methybutyrate

(HMB) pada cairan amnion embrio ayam umur 17.5 hari mengindikasikan bahwa

usus halus embrio yang baru menetas yang menerima in ovo feeding (CHO +

HMB) berfungsi sama seperti usus halus anak ayam umur dua hari yang diberi

makan secara konvensional. In ovo feeding meningkatkan pertumbuhan saluran

pencernaan embrio dengan meningkatkan ukuran vili dan meningkatkan kapasitas

cerna disakarida usus (meningkatkan aktivitas enzim brush border). Hal ini

menyebabkan DOC yang menerima in ovo feeding memiliki berat badan yang

lebih berat (Tako et al. 2004). Hasil penelitian Uni et al. (2005) menunjukkan

bahwa pemberian karbohidrat dan HMB pada embrio broiler berumur 17.5 hari

inkubasi dapat meningkatkan status energi pada fase lanjut embrio broiler serta

meningkatkan pertumbuhan awal embrio fase lanjut dan anak ayam yang baru

menetas.

Pemanfaatan Energi

Leeson dan Summers (2001) membagi energi yang diterima seekor ayam

menjadi bermacam-macam energi seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2.

Energi Bruto (Gross Energy, GE)adalah total energi yang berasal dari pakan yang

dikonsumsi, energi ini diukur dengan menggunakan bomb kalorimeter (tipe

adiabatic atau ballistic).

Energi Tercerna (Digestible Energy, DE) adalah energi asal pakan yang

dapat dicerna oleh seekor hewan. Energi ini dihitung dengan mengurangkan

energi bruto pakan yang dikonsumsi dengan Energi Feses (Fecal Energy, FE).

Energi ini sering disebut sebagai Energi Tercerna Semu (Apparent Digestible

(40)

Energi Metabolisme (Metabolizable Energy, ME) adalah estimasi dari energi pakan yang tersedia untuk metabolisme tubuh seekor hewan. Energi ini

dihitung dengan mengurangkan energi bruto pakan yang dikonsumsi dengan

energi yang hilang ke dalam feses, urin dan combustile gas. Energi ini sering

disebut sebagai Energi Metabolisme Semu (Apparent Metabolizable Energy,

AME) karena sulit untuk mengukur endogenous energy losses (tidak semua energi

yang terdapat dalam feses dan urin berasal dari residu makanan). Untuk unggas,

AME dihitung dengan mengurangkan energi bruto pakan yang dikonsumsi dengan

energi yang hilang ke dalam feses dan urin, karena gaseos energy sangat kecil

pada unggas sehingga diabaikan (AME = GE – FE – UE). Saluran pengeluaran

feses dan urine pada seekor unggas adalah satu saluran sehingga sulit untuk

memisahkan antara feses dan urine unggas, sehingga AME dikatakan memiliki

nilai yang sama dengan ADE. True Metabolizable Energy (TME) adalah AME

dikurangi dengan metabolic andendogenous energy losses.

Energi Netto(Net Energy, NE) adalah bagian dari energi bruto pakan yang

dikonsumsi yang digunakan oleh seekor hewan untuk bertahan hidup

(maintenance) dan berproduksi. Energi ini dihitung dengan mengurangkan AME

dengan Produksi Panas (Heat Increament, HI). Heat increament adalah total

panas yang timbul saat suatu bahan pakan dicerna, oleh karena itu HI

menggambarkan total energi yang digunakan tubuh untuk proses metabolisme

suatu bahan pakan. Energi ini merupakan jumlah dari energi yang digunakan

untuk mencerna, absorbsi dan metabolisme (Leeson & Summers 2001; Anonimus

1981). Energi Netto dibagi menjadi Energi Netto untuk Maintenance (NEm) dan

Energi Netto untuk Produksi (NEp). NEm digunakan untuk metabolisme basal,

aktivitas sehari-hari, pengaturan suhu tubuh, endogenous fecal energy dan

endogenous urinary energy. NEp digunakan untuk pertumbuhan jaringan, pertambahan lemak tubuh, penyimpanan karbohidrat dan produksi telur (MacLeod

2002; Leeson & Summers 2001).

Fraps (1946) menyatakan bahwa productive energy adalah suatu bentuk

energi netto. Pada unggas yang sedang tumbuh atau digemukkan energi ini

didapat dengan mengukur energi yang disimpan tubuh dalam bentuk lemak dan

(41)
[image:41.595.112.512.142.693.2]

tubuh dengan metode comparative slaughter dan pengukuran berat badan untuk estimasi kebutuhan energi maintenance.

Gambar 2 Definisi dan hubungan dari neraca energi pada unggas (Leeson &

Summers 2001)

ENERGY BRUTO (Gross Energy, GE)

ENERGI METABOLISME SEMU (Apparent Metabolizable Energy,

AME)

ENERGI NETTO (Net Energy, NE)

TRUE METABOLIZABLE ENERGY (TME)

Metabolic & Endogenous Energy

Losses

Produksi Panas (Heat Increament, HI)

NE untuk Maintenance (NEm): - Basal Metabolic Rate (BMR) - Aktivitas

- Termoregulator

NEuntuk Produksi (NEp): - Pertumbuhan - Bulu

- Telur ENERGI

(42)

Penggunaan Karbohidrat sebagai in Ovo Feeding

Telah banyak dilakukan penelitian tentang nutrien yang dapat digunakan

sebagai larutan nutrien in ovo feeding dan bagaimana pengaruhnya terhadap

performa, daya tetas dan perkembangan saluran pencernaan anak ayam. Salah

satunya adalah penggunaaan β-Hydroxy-β-Methybutyrate (HMB), karbohidrat dan

kombinasinya terhadap performa dan perkembangan saluran perncernaan ayam.

Karbohidrat adalah komponen penting sebagai larutan in ovo feeding

karena berperan penting dalam perkembangan embrio stadium akhir, untuk keluar

dari cangkang telur dan level karbohidrat yang terdapat dalam telur sebelum

menetas sangatlah sedikit (Christensen et al. 1993). Hasil penelitian yang

dilakukan Tako et al (2004) menyatakan bahwa pemberian karbohidrat

(disakarida) dan HMB secara bersama-sama sebagai in ovo feeding meningkatkan

aktivitas enzim maltase dan sukrase (brush border enzymes) sebelum dan setelah

menetas, meningkatkan ukuran vili usus dan meningkatkan berat badan DOC.

Glukosa adalah suatu karbohidrat sederhana dan merupakan sumber energi

yang baik. Penelitian yang dilakukan oleh Pedroso et al. (2006) menyatakan

bahwa glukosa tidak dapat digunakan sebagai larutan in ovo feeding karena

osmolaritasnya yang besar. Osmolaritas yang besar ini mengganggu osmolaritas

cairan di dalam telur dan membunuh embrio di dalamnya. Dextrin adalah suatu

oligosakarida yang merupakan produk antara pada hidrolisa pati menjadi maltosa

dan akhirnya menjadi glukosa. Dextrin didapat dengan cara pemanasan,

penambahan asam ataupun enzim. Dextrin terdiri dari minimal tiga unit D-glukosa

yang saling berkaitan secara linear dengan ikatan α(1-4). Semakin panjang rantai

dextrin, maka osmolaritas dextrin akan semakin besar.

Dextrin dihidrolisa di dalam saluran pencernaan oleh α-amilase, yang

disekresikan ke dalam saluran pencernaan oleh pankreas. Alpha-amilase

menghidrolisa ikatan α(1-4) menghasilkan D-glukosa. Glukosa hasil hidrolisa

pati siap diabsorbsi dinding usus halus sebagai sumber energi (Lehninger 1982).

Aktivitas terbesar dari amilase dan enzim pencernaan karbohidrat lainnya terdapat

di jejunum, diikuti oleh ileum dan duodenum. Sistem transpor Na+ dependent

(43)

efisiensinya meningkat selama 20-30 hari pertama setelah menetas (Lesson &

Summers 2001).

Glutamin dan Saluran Pencernaan

Jaringan dari saluran pencernaan berperan penting dalam metabolisme

protein dan asam amino seekor hewan yang sedang tumbuh. Jaringan ini memiliki

laju metabolisme protein tinggi yang berkaitan langsung dengan tingginya laju

proliferasi, sekresi protein, cell death dan deskuamasi dari beberapa epithelial dan sel limfoid di dalam mukosa. Usus halus adalah jaringan pertama yang terpapar

oleh makanan, oleh karena itu usus halus berperan sebagai key regulatory role

dalam proses digesti, absorbsi, metabolisme dan ketersediaan (availability)

protein dan asam amino asal makanan untuk proses pertumbuhan. Bahan bakar

oksidasi utama usus adalah glutamin, glutamat, aspartat dan glukosa, walaupun

dalam proses oksidasi tersebut terdapat beberapa asam amino esensial yang ikut

dioksidasi seperti lysine, leucine dan phenylalanine (Burrin 2002)

Kegunaan utama glutamin dan glutamat adalah sebagai bahan bakar dalam

proses proliferasi sel - sel yang sangat cepat, seperti sel enterosit dan limfosit.

Disamping itu, glutamin dan glutamat juga merupakan prekursor penting dari

sintesa asam nukleat, nukleotida, amino sugar, asam amino dan glutathione

(Souba 1993). Selain dari makanan, kebutuhan tubuh akan glutamin juga dipenuhi

dari hasil sintesa di berbagai jaringan tubuh. Walaupun banyak jaringan tubuh

dapat mensintesa glutamin, tetapi hanya beberapa organ tertentu saja yang dapat

melepaskan sejumlah besar glutamin ke dalam darah. Organ-organ tersebut

adalah paru-paru, otak, otot rangka, dan kemungkinan jaringan adiposa. Tubuh

terdiri dari banyak jaringan otot rangka, oleh karena itu otot rangka merupakan

jaringan penghasil glutamin penting dalam tubuh (Calder & Newsholme 2002).

Selain dari otot rangka, glutamin juga diproduksi oleh sel epithelial saluran

pencernaan secara simultan (Burrin & Reeds 2001).

Sel epithelial saluran pencernaan mendapatkan nutrisi yang mereka

butuhkan melalui dua sumber, yaitu dari makanan melalui lumen saluran

(44)

membran basolateral (arterial). Sedikitnya 50% glutamin dan glutamat yang

diabsorbsi usus dari makanan teroksidasi menjadi karbondioksida. Beberapa

penelitian terakhir mengenai glutamin dan glutamat pada anak babi, bayi dan

manusia dewasa menunjukkan bahwa sekitar 50%-95% dietary glutamin dan

glutamat diserap oleh jaringan visceral, sebagian besar diantaranya dioksidasi

menjadi karbondioksida (Burrin 2002). Sebagian besar glutamin yang dicerna

akan diekstraksi pada first pass di saluran pencernaan, ekstraksi glutamin lebih

tinggi pada saat proses mencerna asam amino bersama glukosa dibandingkan saat

proses mencerna asam amino saja (Mittendorfer, Volpi & Wolfe 2001). Untuk

dapat ditransport ke dalam sel epithelial melalui brush border, glutamin

memerlukan bantuan sodium (Groff & Gropper 2000).

Di dalam sel usus hanya sedikit dari glutamin yang dikatabolis menjadi

amonia dan glutamat. Amonia masuk ke dalam darah portal dan diabsorbsi oleh

hati. Glutamat dapat digunakan untuk memproduksi gluthatione atau mengalami

transaminasi di mana gugus amino nya dipisahkan dan berubah menjadi α

-ketoglutarat (Gambar 3). Gugus amino kemudian ditransfer kepada pyruvat

(berasal dari metabolisme glukosa dalam sel usus) untuk membentuk asam amino

alanine (Burrin 2002).

Begitu terbentuk, alanine meninggalkan sel usus dan memasuki darah

portal, selanjutnya diabsorbsi bersama amonia oleh periportal hepatocyte untuk

sintesa urea. Glutamat yang tidak digunakan untuk sintesa alanine, kemungkinan

akan digunakan untuk sintesa proline di sel usus, seperti terlihat pada Gambar 4

(Groff dan Gropper 2000). Pemberian 1% suplemetasi glutamin segera setelah

anak ayam broiler ditempatkan pada brooder sangat membantu dalam

meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi kematian (Yi et al. 2005).

Glutamin adalah salah satu asam amino non essensial yang penting untuk

tubuh. Selain suplai dari makanan, glutamin juga disuplai dari dalam tubuh

sendiri. Prekursor utama glutamin adalah glutamat. Glutamin di sintesa dari

glutamat dengan bantuan enzim glutamin synthetase. Sintesa glutamin terjadi di

(45)

NADH + H+ NAD H2O

NH3 H2O

α

-ketoglutarat

Glutamat

NH4+

Glutamin

amino acid keto-acid ATP ADP+Pi

Gambar 3 Sintesa dan interconversion glutamin dan glutamat (Burrin 2002).

(1) glutamat dehydrogenase; (2) alanine aminotransferase, aspartate

aminotransferase atau branched-chain aminotransferase; (3) glutaminase; (4) glutamin synthetase

Glutamat Glutamat semialdehyde Proline5-carboxylate

Proline

Gambar 4 Sintesa proline dari glutamat (Groff & Gropper 2000)

Sintesa glutamin tidak saja terjadi di kedua jaringan tersebut karena

beberapa penelitian menyatakan bahwa jaringan intestine tidak saja mengambil

glutamin dari sirkulasi arteri akan tetapi sel mukosa kripta dan vili juga

memproduksi glutamin secara simultan (Burrin & Reeds 2001; Neu 2000). Efek

thropic glutamin dilakukan melalui beberapa mekanisme, antara lain:

1. Glutamin memberikan efek nutrisi sederhana yaitu menyediakan energi

untuk mukosa saluran pencernaan.

2. Glutamin meningkatkan sintesa DNA. Glutamin merupakan donor

nitrogen untuk sintesa purine dan pirimidine yang merupakan building

blocks dari asam nukleat yang diperlukan dalam jumlah besar selama proses replikasi sel.

3. Glutamin meningkatkan sistem imunitas saluran pencernaan. Glutamin

berperan sebagai sumber bahan bakar utama limfosit dan makrofag.

1

2 4

(46)

4. Glutamin meningkatkan aliran darah saluran pencernaan.

5. Glutamin meningkatkan sintesa glutathion, karena glutathion memegang

peranan penting dalam melindungi mukosa saluran pencernaan dari stres

oksidatif (Marchini et al. 1999)

Usus Halus

Usus halus adalah tempat utama proses pencernaan dan absorbsi nutrien,

terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Duodenum

adalah bagian pertama dari usus halus, dimana berhubungan dengan gizzard pada

bagian atas dan berhubungan dengan jejunum pada bagian bawah. Setelah

makanan bercampur dengan asam lambung (HCl dan pepsin), makanan masuk ke

dalam duodenum tempat dimana cairan empedu dan enzim-enzim pankreas akan

membantu proses pencernaan. Absorbsi nutrien dimulai dari duodenum.

Jejunum adalah bagian tengah dari usus halus. Proses absorbsi nutrien

terus berlanjut di jejunum. Ileum sebagai bagian paling akhir adalah tempat

absorbsi final dari nutrien. Yolk stalk (diverticulum vitellinum; biasa disebut

Meckel’s diverticulum) sering digunakan sebagai tanda batas antara jejunum dan ileum (Denbow 2000). Ileum dipisahkan dengan sekum oleh katup ileosekal.

Secara umum, dinding usus halus terbagi atas tunika mukosa, tunika

submukosa, tunika muskularis dan tunika serosa. Vili merupakan penjuluran

mukosa dan menjadi ciri khas usus halus, tinggi vili bervariasi tergantung dari

daerah, jenis hewan dan aktivitas fisiologis (Stinson & Calhoun 1992). Ileum

dapat dibedakan dengan duodenum dan jejunum oleh jumlah sel goblet yang lebih

banyak pada mukosa dan keberadaan daun Peyer (Peyer’s patches), yaitu jaringan

limfoid submukosa yang berfungsi seperti limfonodus. Daun Peyer merupakan

struktur permanen dan ciri konstan dari ileum mamalia serta sebagian besar

vertebrata lainnya. Tidak seperti pada duodenum, kelenjar submukosa tidak

terdapat pada jejunum dan ileum (Wilson 2005).

Pertumbuhan usus halus yang optimum berlangsung pada hari kedua

(47)

hingga hari ke-14 pasca menetas. Vili jejunum dan ileum berkembang hingga hari

(48)

MATERI DAN METODE

WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Penelitian dilakukan di sebuah peternakan broiler di daerah

Cikupa-Tangerang pada bulan Maret 2007 hingga Juli 2007. Penyuntikan larutan nutrisi

dilakukan di sebuah hatchery di daerah Subang. Pembuatan dan analisa

histopathologi usus halus dilakukan di Animal Health Laboratorium (AHL)

Charoen Pokphand Indonesia-Jakarta. Pengukuran energi bruto dilakukan di

laboratorium pakan Charoen Pokphand Indonesia-Jakarta.

RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri

dari lima perlakuan. Masing–masing perlakuan dilakukan lima ulangan sehingga

penelitian ini memiliki 25 satuan percobaan. Setiap ulangan terdiri atas 12 ekor

ayam, sehingga total ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah 300 ekor.

Dari 12 ekor ayam per ulangan tersebut satu ekor digunakan untuk mengukur

perkembangan usus halus neonatal jantan, satu ekor untuk mengukur energi bruto

(GE) neonatal jantan, satu ekor digunakan untuk mengukur energi bruto (GE) saat

umur 15 hari dan satu ekor digunakan untuk mengukur perkembangan usus halus

ayam umur 14 hari. Secara keseluruhan dari satu ulangan digunakan empat ekor

ayam. Delapan ekor ayam lainnya digunakan untuk penelitian lanjutan sampai

(49)

4 100 butir telur tetas Ross 308

820 butir 820 butir 820 butir 820 butir 820 butir (P1) (P2) (P3) (P4) (P5)

Inkubasi selama 18 hari

Seleksi telur-telur fertil (3839 butir)

10 embrio untuk pengukuran GE embrio

692 butir 772 butir 794 butir 766 butir 805 butir (P1) (P2) (P3) (P4) (P5)

Injeksi Injeksi Injeksi Injeksi Tanpa Injeksi

Glutamin Dextrin Glutamin + Dextrin NaCl 0.5%

Hatchery selama 3 hari

369 Ekor 216 ekor 169 ekor 706 ekor 692 ekor

(P1) (P2) (P3) (P4) (P5)

Seleksi neonatal jantan

187 ekor 103 ekor 66 ekor 333 ekor 271 ekor

(P1) (P2) (P3) (P4) (P5)

(50)

187 ekor 103 ekor 66 ekor 333 ekor 271 ekor

(P1) (P2) (P3) (P4) (P5)

60 ekor: 60 ekor: 60 ekor: 60 ekor: 60 ekor:

5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan @ 12 ekor @ 12 ekor @ 12 ekor @ 12 ekor @ 12 ekor

@ 5 ekor per perlakukan untuk pengukuran GE

@ 5 ekor per perlakuan untuk pengukuran usus halus

5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan

@ 10 ekor @ 10 ekor @ 10 ekor @ 10 ekor @ 10 ekor

Umur 7 hari:

@ 5 ekor per perlakuan untuk pengukuran AME s/d GE ayam di umur 15 hari

5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan @ 9 ekor @ 9 ekor @ 9 ekor @ 9 ekor @ 9 ekor

Umur 14 hari:

@ 5 ekor untuk pengukuran usus halus

[image:50.595.112.499.84.599.2]

5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan 5 ulangan @ 8 ekor @ 8 ekor @ 8 ekor @ 8 ekor @ 8 ekor

Gambar 5 Alur penelitian

Perlakuan Penelitian

Penelitian ini memiliki lima perlakuan, antara lain (Tabel 2):

P1 = embrio ayam yang menerima larutan glutamin sebagai in ovo feeding

P2 = embrio ayam yang menerima larutan dextrin sebagai inovo feeding

P3 = embrio ayam yang menerima kombinasi larutan glutamin dan dextrin

(51)

P4 = embrio ayam yang menerima larutan NaCl 0.5% sebagai in ovo feeding

[image:51.595.115.508.180.403.2]

P5 = anak ayam jantan yang tidak menerima perlakuan in ovo feeding

Tabel 2 Perlakuan dan nutrien yang digunakan dalam penelitian

Pada penelitian pertama untuk mengetahui pengaruh in ovo feeding

terhadap daya tetas dan berat tetas, maka dibandingkan daya tetas dan berat tetas

kontrol A (tanpa injeksi, P5) dengan daya tetas dari kontrol B (NaCl 0.5%, P4)

glutamin (P1), dextrin (P2) serta kombinasi glutamin dan dextrin (P3). Untuk

mengetahui pengaruh in ovo feeding terhadap perkembangan usus halus neonatal

jantan dan performa anak ayam hingga umur 14 hari serta energi metabolisme

semu dan energi bruto di umur 15 hari dibandingkan hasil kontrol B (NaCl 0.5%,

P4) dengan hasil dari kelompok perlakuan.

Parameter yang Diamati

Pada penelitian ini, parameter yang diamati antara lain :

1. Daya tetas

2. Berat tetas

3. Berat dan panjang usus halus (duodenum, jejunum dan ileum) neonatal

jantan dan anak ayam jantan umur 14 hari Nutrien Perlakuan Ulangan

Jumlah Ayam

per Ulangan

(ekor)

Glutamin (16 g/l)

Dextrin (200 g/l)

NaCl (5 g/l)

Keterangan

P1 5 12 V - V Glutamin

P2 5 12 - V V Dextrin

P3 5 12 V V V Dextrin +

Glutamin

P4 5 12 - - V Kontrol B

(placebo)

(52)

4. Luas permukaan vili usus halus neonatal jantan dan anak ayam jantan

umur 14 hari

5. Energi metabolisme semu (Apparent Metabolizable Energy, AME)

6. Energi bruto embrio, neonatal jantan dan anak ayam jantan umur 15 hari

MATERI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan 4 100 butir telur tetas Ross 308, larutan NaCl,

larutan glutamin, larutan dextrin serta kombinasi larutan dextrin dan glutamin

yang disuntikkan ke dalam telur ber-embrio umur 18 hari inkubasi, pakan broiler

starter (1-21 hari) produksi Charoen Pokphand Indonesia (CP 511). Alat-alat lain

yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: alat bedah (gunting dan pinset),

cawan petri, candling telur, pensil, selotip, timbangan, bomb kalorimeter tipe

adiabatic merk Parr, kandang postal lengkap dengan peralatan, kertas aluminium

(aluminium foil), oven, blender dan autoclave.

Kandang

Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang postal

berukuran 50 x 8 meter. Kandang dibagi menjadi 64 pen dengan ukuran 2.25 x

1.75 meter yang menampung 10 ekor neonatal jantan per pen nya. Alas kandang

dilapisi sekam setebal 5 cm, menggunakan seng sebagai batas brooder, infra red

heater sebagai pemanas, tempat minum otomatis, tempat pakan dari plastik dan

lampu berdaya 60 watt sebagai penerangan.

Telur Tetas

Empat ribu seratus (4 100) butir telur tetas ayam broiler didapatkan dari

sebuah breeding farm komersial dengan strain Ross 308 yang berasal dari induk

dengan flock dan umur yang sama (minggu), sehingga memiliki berat yang relatif

(53)

Pakan

Pakan broiler starter yang digunakan dalam penelitian ini adalah CP 511

yang diproduksi oleh Charoen Pokphand Indonesia, berbentuk crumble. Pakan

dan air minum diberikan secara ad libitum. Pakan starter ini memiliki spesifikasi

kandungan nutrisi sebagai berikut: energi metabolisme 3 020 - 3 120 Kkal/kg,

protein kasar 22.16 %, lemak kasar 6.30%, serat kasar 2.50%, abu 6.75%, kalsium

minimal 0.9% dan phospor minimal 0.6%.

Larutan Nutrien

Larutan nutrien yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

1. Larutan Glutamin

Terdiri dari glutamin 16 gram/l dalam NaCl 5 gram/l (Ohta 1999).

2. Larutan Dextrin

Terdiri dari dextrin 200 gram/l dalam NaCl 5 gram/l (Tako et al.

2004).

3. Larutan Glutamin + Dextrin

Terdiri dari glutamin 16 gram/l dan dextrin 200 gram/l dalam NaCl 5

gram/l.

4. Larutan NaCl

Terdiri dari NaCl 5 gram/l (Tako et al 2004).

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Prosedur In Ovo Feeding Pada Telur Tetas

Empat ribu seratus (4 100) butir telur tetas dibagi menjadi lima kelompok

yang masing-masing terdiri dari 820 butir, kelompok pertama (P1) menerima 0.8

ml larutan glutamin 1.6% dalam NaCl 0.5%. Kelompok kedua (P2) menerima 0.8

ml larutan dextrin 20% dalam NaCl 0.5%. Kelompok ketiga (P3) menerima 0.8 ml

larutan glutamin 1.6% dan larutan dextrin 20% dalam NaCl 0.5%. Kelompok

(54)

Kelompok kelima (P5) sebagai kontrol A tidak menerima perlakuan apa pun.

Telur-telur tersebut diinkubasikan dalam inkubator dengan temperatur 98-99°F

(37-38ºC) dan kelembaban 86-88 % selama 18 hari. Pada hari ke-18 inkubasi,

dilakukan seleksi untuk mengeluarkan telur yang tidak ber-embrio dan

telur-telur yang mengandung embrio mati (death in shell). Didapatkan sebanyak 3 839

butir telur yang siap untuk disuntik.

Penyuntikan larutan nutrien dilakukan dengan menggunakan metode dari

Foye (2005). Larutan NaCl 0.5% dan nutrien disuntikkan ke dalam cairan amnion

setiap telur secara manual dengan menggunakan jarum suntik 23 G sepanjang 19

mm dari ujung tumpul telur. Setelah itu lubang suntikan ditutup dengan

menggunakan isolasi kertas. Telur yang sudah menerima larutan nutrien kemudian

dimasukkan ke dalam mesin hatchery dengan temperatur 98-99°F (37-38ºC) dan

kelembaban 86-88 % hingga telur menetas. Telur dari kelompok kontrol A

dimasukkan ke dalam mesin hatchery pada saat yang bersamaan dengan

dimasukkannya telur dari kelompok perlakuan.

Perhitungan Persentase Daya Tetas

Untuk menghitung persentase daya tetas digunakan rumus sebagai

berikut:

Jumlah anak ayam yang menetas x 100%

Jumlah telur yang diinjeksi

Persiapan Day Old Chick (DOC)

Pada hari ke-21 saat seluruh telur menetas, dilakukan sexing untuk

memisahkan jantan dan betina. Selanjutnya penelitian dilakukan pada anak ayam

jantan saja. Seluruh DOC jantan ditimbang berat badannya untuk mengetahui

rataan berat badan dari masing-masing perlakuan. Sejumlah 300 ekor DOC jantan

dipilih secara acak. Selanjutnya DOC dipelihara dalam kandang postal. Pakan dan

(55)

Perkembangan Usus Halus

A. Pengukuran Berat dan Panjang Usus Halus

Pengukuran berat dan panjang usus halus dilakukan pada neonatal

jantan dan anak ayam umur 14 hari. Usus halus terdiri atas duodenum,

jejunum dan ileum. Usus halus dibersihkan dari sisa pakan, kemudian diukur

panjang dan berat dari masing-masing segment usus halus. Batas antara

duodenum dengan jejunum ditentukan sesuai dengan panjang lengkungan

duodenum. Batas antara jejunum dan ileum adalah Meckel’s diverticulum.

Batas antara ileum dan kolon adalah percabangan sekum di mana ileo caecal

tonsil berada.

B. Pengukuran Luas Permukaan Vili Usus Halus

Pengukuran ini dilakukan pada neonatal jantan dan anak ayam umur

14 hari. Pada neonatal jantan pengukuran luas permukaan vili dilakukan pada

duodenum, jejunum dan ileum sedangkan saat umur 14 hari pengukuran hanya

dilakukan pada ileum saja. Pengambilan sampel dilakukan dua sentimeter dari

ujung proksimal masing-masing segmen usus halus, sepanjang satu

sentimeter untuk setiap segmennya. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam

tabung yang berisi larutan formalin 10% untuk kemudian di buat preparat

histologi. Hal ini berlaku untuk setiap ulangan dan perlakuan sehingga dapat

dibandingkan luas permukaan vili duodenum, jejunum dan ileum dari

masing-masing perlakuan (Gambar 6).

Sediaan difiksasi dengan larutan Buffer Neutral Formalin 10%,

kemudian dilakukan trimming dan organ dimasukkan ke dalam kaset. Proses

dehidrasi organ dilakukan dengan menggunakan alkohol bertingkat, mulai dari

konsentrasi 70%, 80%, 90%, 95% hingga 100%. Tahap selanjutnya adalah

penjernihan (clearing) dengan menggunakan xylol, kemudian dilanjutkan

dengan penanaman (embedding) pada paraffin. Sediaan dalam blok paraffin

diiris menggunakan rotary microtom dengan ketebalan 4 µm. Hasil irisan

yang berebentuk seperti pita direntangkan di permukaan air hangat untuk

mencegah pengeriputan jaringan. Kemudiaan sediaan diangkat dan diletakkan

(56)

Broiler neonatal jantan

Potong duodenum, jejunum dan ileum masing-masing sepanjang 1 sentimeter

Formalin 10%

Preparat histologi dengan pewarnaan hematoksilin-eosin

[image:56.595.130.504.86.353.2]

Pengamatan mikroskop dengan pembesaran 40 kali

Gambar 6 Pengukuran luas permukaan duodenum, jejunum dan ileum

neonatal jantan

Tahap selanjutnya adalah pewarnaan umum hematoksilin eosin (HE).

Proses pewarnaan dimulai dengan deparafinasi menggunakan xylol I dan II,

masing-masing selama dua menit. Kemudian dilanjutkan dengan proses

rehidrasi menggunakan alkohol 100%, 95% dan 80% secara berurutan

masing-masing selama dua menit lalu sediaan dicuci dengan air mengalir.

Sediaan diwarnai dengan pewarna hematoksilin selama delapan menit, dibilas

dengan air mengalir, dicuci dengan litium karbonat selama 15-30 detik,

kemudian dibilas dengan air mengalir. Tahap selanjutnya adalah pewarnaan

eosin selama 2-3 menit. Setelah itu sediaan dicuci dengan air mengalir untuk

membersihkan warna eosin yang berlebihan.

Setelah pewarnaan selesai, dilakukan proses dehidrasi. Sediaan

dimasukkan ke dalam alkohol 95% dan alkohol absolut I masing-masing

sebanyak 10 celupan, alkohol absolut II selama dua menit, xylol I selama satu

menit dan xylol II selama dua menit kemudian dikeringkan di udara. Setelah

kering, sediaan ditutup dengan cover glass menggunakan zat perekat

(57)

kedalaman kripta, tinggi vili, lebar basal dan lebar apikal dengan

menggunakan mikroskop cahaya yang dihubungkan dengan video mikrometer

(Gambar 7). Pemotongan jaringan usus halus dilakukan setebal 4 µm.

Pengukuran struktur usus halus di satu penampang irisan dilakukan pada 10

buah vili yang dipilih secara acak. Perhitungan luas permukaan vili dilakukan

dengan menggunakan metode Iji et al. (2001):

(b + c)

Luas Permukaan Vili= X a

b

Keterangan: a = tinggi vili b = lebar apikal vili

c = lebar basal vili

d = kedalaman kripta

Gambar 7 Pengukuran vili usus halus (pembesaran 100 x)

Pengukuran Pemanfaatan Energi A. Pengukuran Energi Bruto Pakan

Dilakukan dengan bomb kalorimeter berdasarkan berat keringnya. a

b

c

(58)

B. Perhitungan Konsumsi Energi

Energi bruto pakan dikalikan dengan konsumsi pakan

Gambar

Gambar 1  Kerangka pemikiran
Gambar 2  Definisi dan hubungan dari neraca energi  pada unggas (Leeson &               Summers 2001)
Gambar 5 Alur penelitian
Tabel 2  Perlakuan dan nutrien yang digunakan dalam penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait