• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MAKALAH MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAY"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA SERTA MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ALAM AGAR TIDAK

MASUK DALAM TRANSAKSI POLITIK PRAKTIS (Studi di Provinsi Kalimantan Tengah)

Oleh :

Yandi Novia

Ketua Bidang Pelajar Dan Mahasiswa Dpd Knpi Provinsi Kalimantan Tengah

DALAM KEGIATAN:

(2)

1

MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA SERTA MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ALAM AGAR TIDAK

MASUK DALAM TRANSAKSI POLITIK PRAKTIS (Studi di Provinsi Kalimantan Tengah)

A. Prolog

Siapkah anda menghadapi persaingan di tahun 2015? Sudah seharusnya kita bersiap menghadapi ketatnya persaingan di tahun 2015. Indonesia dan negara-negara di wilayah Asia Tenggara akan membentuk sebuah kawasan yang terintegrasi yang dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

(3)

2

terkecuali Indonesia, sebagai negera berpenduduk terbanyak dengan kawasan yang paling luas.

Dalam era industrialisasi yang semakin kompetitif sekarang ini, setiap pelaku bisnis yang ingin memenangkan kompetisi dalam dunia industri harus memberikan perhatian penuh pada kualitas. Usaha untuk memantapkan kondisi perusahaan diperumit lagi dengan berlakunya era perdagangan bebas AFTA (2003) dan akan berlakunya APEC (2020). Hal ini berakibat semakin banyaknya pesaing baru, di samping pesaing lama yang turut terlibat di bisnis untuk memperebutkan pangsa yang juga meluas.

Tingginya tingkat persaingan antarnegara ini tidak hanya akan berdampak pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan melainkan juga akan berdampak langsung pada perekonomian daerah khususnya setelah pemberlakuan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Tantangan ini selanjutnya harus diartikan sebagai tuntutan bagi setiap daerah di Indonesia untuk meningkatkan daya saing daerahnya masing-masing sebagai penentu keberhasilan pembangunan di daerah tersebut.

(4)

3

Konsep daya saing dapat ditinjau dari sisi perusahaan, industri, kelompokindustri, negara, atau daerah. Daya saing merupakan salah satu kata kunci yang lekat dengan pembangunan ekonomi daerah (Sri Susilo, 2013). Menurut Porter (1990), daya saing daerah adalah kemampuan menciptakan atau mengembangkan iklim paling produktif bagi bisnis dan inovasi. Daya saing juga banyak diartikan sebagai suatu potensi tunggal, sehingga dengan demikian tidak ada upaya pemahaman bagaimana kompleksitas faktor-faktor yang membentuk daya saing. Tanpa adanya kesatuan pemahaman yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, daya saing sering kali menyebabkan kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan dan kebijakan. Oleh karena itu upaya penyatuan pemahaman akan konsep daya saing adalah sangat perlu untuk dilakukan. Word Economic Forum (WEF), suatu lembaga yang secara rutin menerbitkan “Global Competitiveness”, mendefenisikan

daya saing nasional secara lebih luas namun dalam kalimat yang singkat dan sederhana. WEF mendefenisikan daya saing nasional sebagai “kemampuan

perekonomian nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan”. Fokusnya kemudian adalah pada kebijakan-kebijakan

yang tepat, institusi-institusi yang sesuai, serta karakteristik-karakteristik ekonomi yang lain yang mendukung terwujudnya pertumbuhan ekonomi lain yang mendukung terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan tersebut.

(5)

4

Adanya perbaikan di beberapa sektor pendorong ekonomi, menjadi salah satu faktor kenaikan peringkat tersebut. Setelah pada tahun 2013, peringkat Indonesia melompat secara signifikan sampai 12 level ke peringkat 38 dalam pemeringkatan daya saing global 2013-2014. Dengan kenaikan tersebut, Indonesia berada di klasemen menengah. Kenaikan tersebut dikarenakan perbaikan di beberapa kriteria seperti infrastruktur, konektifitas, kualitas tata kelola sektor swasta dan publik efisiensi pemerintah, dan pemberantasan korupsi.

Penopang dalam hal ini adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia yang harus lebih difokuskan kepada pemuda, karena pemuda yang akan melanjutkan astapet kepemimpinan baru. Tentu akan banyak peluang dan tantangan yang kemudian harus siap untuk dihadapi. Hal ini juga berkaitan erat dengan Sumber Daya Alam Indonesia yang kian musnah, akibat berbagai macam perusahaan, dimulai dari perkebunan sawit, tambang batu bara, timah, tambang emas, ilegal loging, dan lainnya.

(6)

5 B. Gambaran Sumber Daya Alam

Dalam hal kekayaan alam, Indonesia termasuk yang terkaya di dunia. Tetapi, dalam hal kemakmuran, pendapatan perkapita rakyat Indonesia masih tertinggal jauh di belakang. Jika kita membandingkan Indonesia dengan Singapura. “Singapura, yang tidak punya SDA, bisa maju dan pendapatan per

kapita warganya mencapai US$ 48. 595 per orang per tahun. Sedangkan Indonesia, negeri yang kaya SDA, pendapatan per kapita warganya hanya US$ 3.452 per orang per tahun.

Dari perbandingan ini membuktikan ada yang tidak beres dalam pengelolaan SDA di Indonesia. Mengenai hal ini Pemuda di Kalteng, melalui perwakilannya dalam forum diskusi yang promotori oleh Menara News (16/2/2014) sepakat menyatakan perbandingan itu menyingkap fakta, bahwa ada yang salah dengan kebijakan ekonomi dan tata kelola SDA kita.

Dua faktor penyebab kegagalan Indonesia mengelola SDA. Pertama, ekonomi Indonesia masih mengandalkan ekspor bahan mentah. Karena Model ekonomi semacam ini tidak menciptakan nilai-tambah dan tidak menyediakan basis untuk industrialisasi. Kedua, pemerintah Indonesia tidak percaya pada kekuatan sendiri untuk mengolah SDA-nya, tetapi semuanya diserahkan kepada korporasi asing. Akibatnya, sebagian besar SDA di Indonesia sudah di bawah bendera asing.

(7)

6

negara terhadap SDA dan pengelolaannya harus mendatangkan kemakmuran bagi rakyat.

Sebelum lebih jauh membahas mengenai pemanfaatan SDA sebagai transaksi politik, terlebih dahulu kita akan memberikan gambaran bagaimana Pengelolaan SDA di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan Tengah pada khususnya.

Karena pada fakta yang terlihat melalui data-data yang terhimpun berbagai media, organisasi dan LSM serta lembaga lainnya yang terfokus dalam menangani masalah lingkungan. Dalam hal ini Menara News mendapat data dari WALHI Kalimantan Tengah (16/2/2014) bahwa; Laju kerusakan hutan di Indonesia adalah 6 kali lapangan bola (300 ha) per detik. Hutan Alam dan HTI hanya mampu memasok 23% dari total demand (63.4 juta ha per tahun). Dari 673 bencana yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1998, lebih dari 65 persen diantaranya merupakan kesalahan pengelolaan lingkungan – Banjir, longsor dan kebakaran hutan).

C. Lalu bagaimana di Kalimantan Tengah?

(8)

7

BRUINZEEL yang megolah kayu agthis dan pasca kemerdekaan terutama Orde baru eksploitasi menjadi masif (Kayu, Sawit, Tambang, karbon offset) berbasis pada komoditas eksport.

Kepentingan kaum kapitalisme di Indonesia masih mengunakan sistem sosial yang feodalisme dimana monopoli tanah merupakan basis sosialnya. Bentuk pengusaan dari tuan tanah klasik menjadi tuan tanah tipe baru dengan pola pengusaan melaui ijin konsesi dengan merebut akses dan kontror terhadap kawasan. Kalteng yang memiliki luasan 15,356,800, 85 % sudah diperuntukan untuk investasi yang menguasi ruang dan merampas tanah dan hak-hak masyarakat adat Akibat pengusaan kawasan tersebut terjadi konflik sosial, kerusakan lingkungan, kesenjangan ekonomi dan bencana ekologi.

(9)

8

Akibat dikuasainya sumberdaya alam di kalimantan tengah oleh investasi untuk industri komoditas mengakibatkan; Konversi hutan besar-besaran mengkibatkan laju degradasi kerusakan hutan dan lahan sebesar ± 140.000 Ha/tahun, jauh lebih besar daripada kemampuan rehabilitasi sebesar 25.000 s/d 30.0 Ha/tahun dan menyiskan lahan krtis hingga 7,5 juta ha. Limbah pabrik dan tambang yang mencemari sungai dan danau akibat bahan kimia dan psetisda yang berlebihan. Kekeringan hutan/dan lahan gambut mengakibatkan kebakaran hutan dan bencana asap. Hilang dan punahnya satwa akibat rusaknya habitat dan terputusnya rantai makanan dan bentang alam (ekosistem yang terputus). Rusaknya struktur tanah akibat pengunaan pupuk dan air tanah yang berlebihan.

Berdampak pada bencana ekologi dan pemanasan iklim global. Perebutan akses tanah akan berdampak pada konflik agaria dan kriminalisasi warga serta pelanggaran HAM. Hilangnya budaya lokal dan kearifan masyarakat adat dalam pengelolaan SDA. Konflik buruh dengan upah yang rendah dan jaminan kesejahteraan. Masuknya budaya asing dan meningkatnya kriminalitas dan prostitusi.

(10)

9

Meningkatnya budaya korupsi dan pungli bagi aparat penegak hukum, dari data satgas mafia kehutanan Kalimantan Tengah mengalami kerugian hingga mancapai 156 Triliuyun rupiah dari konversi hutan secara ilegal. Sumber daya alam menjadi negosiasi politik untuk kekuasaan dan mencari keuntungan. Hukum hanya berlaku bagi orang yang beruang saja dan banyak korban hukum justru bagi rakyat pemilik tanah ( WALHI mencacat 32 komunitas yang berkonflik bahkan pemerintah melansir data 300 lebih konflik masyarakat dengan perkebunan sawit).

Perlu disadari Kalimantan Tengah menyimpan banyak sekali SDA yang sangat berlimpah, sehingga tak heran jika Bumi Tambun Bungai sebagai paru-paru dunia. Tentunya kita tak ingin julukan “paru-paru dunia” akan menjadi sebuah dongeng untuk generasi mendatang. Hal yang perlu ditanyakan adalah sistem mengabdi kepada siapa? Memihak kepada siapa? Bukankan sudah jelas bahwa konsep yang kita anut di Indonesia adalah pengelolaan SDA sebagaimana diatur dalam pasal 33 UUD 1945. Di situ ada penegasan mengenai kedaulatan negara terhadap SDA dan pengelolaannya harus mendatangkan kemakmuran bagi rakyat.

(11)

10

karena pendidikan dan daya pikir sebagian masyarakat menilai pendidikan itu hanya cukup sampai SLTA, dan orientasi mereka masih pada taraf gaji yang tinggi, sehingga menjadi buruh kasar tak jadi masalah. Disisi lain Korporasi Asing juga menyerap banyak tenaga kerja, sehingga sebagian besar masyarakat tidak menjadi pengangguran. Lalu apa yang menjadi masalah? Kembali kepertanyaan di atas tadi, apakah rakyat sudah disejahterakan?

Dalam diskusi singkat yang dipromotori oleh Menara News menghadirkan perwakilan dari WALHI Kalimantan Tengah dan beberapa organisasi (DPD IMM Kalteng, BEM UNPAR, DEMA STAIN, BEM UMP, GMNI Cab. Palangkaraya) mencoba menggali pemanfaatan SDA sebagai transaksi politik, yang tentunya tidak terlepas kepada calon pemangku jabatan atau mereka yang sudah dan telah memangku jabatan itu sendiri. Dikatakan bahwa “ketidakmampuan penguasa melihat keberlangsungan”, sistem yang

ada berorientasi pada keuntungan politik, kesejahteraan rakyat tak lagi dipikirkan, sehingga pernyataan bahwa “masyarakat miskin diciptakan”

adalah hal yang wajar untuk disebutkan.

Alih-alih politik untuk kemakmuran rakyat, malahan sebaliknya pengerukan terjadi di mana-mana. Sebagaimana diungkapkan oleh peneliti senior Transaksi Politik Daniel Dhakidae bahwa di Indonesia tak ada politik yang bersih. ”Di mana pun, semua politik pasti bersifat transaksional,” mulai

tingkat pemilukada hingga pemilu. ”Nyaris semuanya membeli dan menjual

(12)

11

juga pernah mengungkapkan dalam proses politik yang berorientasi transaksional , posisi pemilih (voter) dan kandidat menjadi tidak seimbang. Transaksi politik ini sangat berbahaya, karena selain berpotensi besar melemahkan warga, juga bisa melahirkan persepsi kuat bahwa pemilu harus dengan praktik transaksional. Inilah yang membuat kedudukan pemilih dan kandidat menjadi tidak setara.

Semua sumber daya alam baik yang potensial maupun yang riil harus dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin demi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hal ini tertuang dalam Undang-undang Nomor 4 tahun 1982 tentang Pengelolaan Lingkungn Hidup dan UUD 1945 Pasal 33 yang menetapkan agar sumber daya alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kemakmuran tersebut harus dapat dinikmati oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Artinya, generasi sekarang harus berhati-hati dalam mengeksploitasi dan memanfaatkan sumber daya alam, sehingga generasi yang akan datang tetap dapat menikmatinya.

(13)

12 D. Apa yang harus dilakukan?

Masalah utama dalam pembangunan nasional adalah terbatasnya jumlah sumber daya alam. Sementara itu, kebutuhan manusia semakin bertambah sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kondisi ini menuntut adanya kebijakan yang tepat memnfaatkan lingkungan agar tidak cepat habis, seperti: (1) Memperhatikan Faktor Kelestarian Lingkungan; (2) meningkatkan nilai sumber daya alam yang tersedia; (3) membangun masa sekarang dan masa yang akan datang; (4) menerapkan etika lingkungan; (5) menjamin pemerataan dan keadilan; (6) menghargai keanekaragaman hayati; (7) menggunakan pendekatan integrative; dan (8) menggunakan pendekatan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam merencanakan pembangunan lingkungan.

E. Bagimana dengan pemanfaatan SDA sebagai Transaksi Politik?

Pengelolaan SDA sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, seharusnya digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat, baik pada generasi saat ini, dan generasi yang akan datang (Present and Future Generation). Hal ini juga melanda pada proses Penegakan Hukum (Law Enforcement), karena pada kenyataannya para pelaku yang menjalankan usaha di bidang SDA adalah orang-orang yang dekat dengan lingkaran kekuasaan.

(14)

13

1,9 triliun. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Koalisi Anti Mafia Hutan tahun 2012-2013 di tiga provinsi, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kerugian negara akibat dari ketidakbecusan Pemerintah dalam mengelola SDA bisa ditanggulangi atau sekurang kurangnya dihentikan jika saja pemerintah dan penegak hukum serius melakukan upaya pemberantasan mafia hutan ataupun pemberantasan korupsi di sektor sumber daya alam.

Penegak hukum, khususnya KPK, harus memberikan perhatian pada sektor SDA khususnya pada proses alih fungsi lahan dan tender konsesi pertambangan. Maraknya praktik korupsi dalam proses perizinan membuat target pemerintah untuk mengurangi emisi pada tahun 2020 kelak terancam tidak tercapai. Penegakan hukum harus segera dilakukan karena sudah banyak informasi tentang korupsi dalam alih fungsi lahan. KPK harus menjadikan sektor SDA sebagai fokus pemberantasan korupsi baik dari aspek pencegahan maupun penindakan.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah berkewajiban untuk membuka akses informasi kepada masyarakat agar tata kelola hutan dan lahan kualitasnya dapat ditingkatkan.

(15)

14

Jika kita kembalikan pada mandat pasal 33 ayat (3), lantas yang harus dijawab adalah siapa yang paling berkepentingan dengan pengelolaan SDA. Tentunya, masyarakatlah yang justru sebagai pihak paling punya kepentingan. Masyarakat yang selama ini hidup di sekitar hutan, misalnya, yang banyak dirugikan dan menjadi lebih miskin, bukan karena tidak terampil dan tidak tahu cara mengelola sumber daya hutan tersebut, akan tetapi dikarenakan lemah dan tidak berkuasa dalam konstelasi politik lokal dan nasional.

Dalam paradigma ini memberikan wewenang penuh pada negara untuk menguasai, memiliki dan mengatur pengelolaan SDA. Hal ini sangat rentan bagi masuknya kelompok kepentingan yang bermaksud mandapat keuntungan atas pengelolaan SDA ini dan menjauhkan partisipasi para pihak secara luas.

Komitmen politik dari berbagai pihak untuk menjalankan kebijakan dalam pengelolaan SDA akan sangat mempengaruhi efektifitas pengelolaan sumber daya alam sesuai dengan arah reformasi kebijakan itu sendiri.

(16)

15

tersebut dalam pengelolaan SDA yang selama ini dapat memberi pemasukan bagi biaya-biaya politik.

Referensi

Dokumen terkait