• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON PERTUMBUHAN

Acacia mangium

Willd. TERHADAP

PENAMBAHAN KAPUR DAN HSC (

HUMIC SUBSTANTCES

COMPLEX

) PADA LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA

NURI JELMA MEGAWATI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara adalah benar karya saya denganarahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

NURI JELMA MEGAWATI. Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara. Dibimbing oleh BASUKI WASIS dan YADI SETIADI.

Kegiatan reklamasi dan revegetasi pada lahan pasca tambang harus memenuhi standar keberhasilan menurut permenhut No 60 tahun 2009. Tingkat keberhasilan penanaman pada lahan pasca tambang batubara rendah. Hal ini disebabkan oleh kondisi karakteristik tanah yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman seperti pH rendah dan kelarutan Al yang tinggi. Upaya perbaikan tanah pada kondisi tersebut dapat dilakukan dengan cara pengapuran dan penambahan HSC. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkarakteristikkan tanah pada lahan pasca tambang batubara pada kondisi pertumbuhan tanaman yang berbeda serta menguji pengaruh penambahan kapur dan HSC terhadap pertumbuhan A. mangium di lahan pasca tambang.

Penelitian dilaksanakan pada lahan pasca tambang batubara PT Jorong Barutama Greston pada blok umur tanam 1, 2, dan 3 tahun. Pada masing-masing blok umur tanam tersebut dilakukan pengkarakteristikkan tanah berdasarkan kondisi pertumbuhan yaitu normal, sedang, dan buruk. Pada lokasi kondisi pertumbuhan buruk untuk masing-masing blok umur tanam dilaksanakan penelitian untuk mengetahui respon pertumbuhan A. mangium. Penelitian tersebut menggunakan rancangan percobaan blok terpisah dengan 2 faktor yaitu penambahan kapur dan HSC untuk masing-masing lokasi.

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan karakteristik tanah pada lahan pasca tambang batubara yang menyebabkan kondisi pertumbuhan menjadi normal, sedang, dan buruk. Perbedaan karakterisik kondisi pertumbuhan tanaman

tersebut disebabkan oleh nilai pH yang rendah (≤4.7) dan tingkat kelarutan Al

tanah yang tinggi (>3 me/100g). Semakin rendah nilai pH akan menyebabkan kelarutan Al semakin meningkat sehingga pertumbuhan tanaman akan menjadi tidak normal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan kapur dan HSC mampu meningkatkan pertumbuhan A. mangium. Perlakuan penambahan kapur memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan tinggi A. mangium pada ketiga lokasi. Perlakuan penambahan kapur terbaik untuk masing-masing lokasi yaitu dosis 0.75 dan 1.5 kg/lubang tanam (lokasi 1), 1 kg/lubang tanam (lokasi 2), dan 3 kg/lubang tanam (lokasi 3). Perlakuan penambahan HSC belum mampu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan A. mangium.

(5)

SUMMARY

NURI JELMA MEGAWATI. The Respons on Growth of Acacia mangium Willd. by Using Dolomit and HSC (Humic Substances Complex) on Ex Coal Mineland. Supervised by BASUKI WASIS and YADI SETIADI.

Success of reclamation and revegetation activities on ex-coal mined land must be refer to Regulation of Ministry of Forestry 60, 2009. Low of successful of revegetation on ex-coal mined land, due to the soil condition which not appropriate to support plant grow, such as low pH and high Al solubility. Attempt to soil rehabilitation could be done by liming and HSC addition. The objectives of this research were to charaterize the soil in various types of A. mangium growth condition and to examine the effect of adding dolomit and HSC to improve soil condition and A. mangium growth on ex coal mined land.

This research was conducted on ex-coal mined lan PT Jorong Barutama Greston planting block 1st year, 2nd year, and 3th year. Soil analysis was conducted in three condition of A. mangium growth, which are normal, moderate and bad. Measuring of response of A. mangium growth was conducted in three planting block which shown the bad performance of A. mangium growth. This research used Split Block Design with two factors, namely dolomit addition and HSC addition in each locations.

The results showed differences in the characteristics of the soil on the ex-coal mined land, thus impacted to growing conditions become normal, moderate, and bad. Differences of characteristics in plant growth are caused by the low pH

value (≤4.7) and the high solubility of Al (>γ me/100g). The lower the pH value

will impact to increasing of Al solubility, thus the plants would be growth abnormally.

The results showed that addition of dolomit and HSC are able to enhance the growth of A. mangium. Addition of dolomit shown a significantly different effect on the growth of height of A. mangium in all three locations. The best amount of dolomit for treatment in each location are 0.75 and 1.5 kg/ planting hole (location 1), 1 kg / planting hole (location 2), and 3 kg / planting hole (location 3). Treatment by addition HSC has not shown significant influence on growing A. mangium.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Silvikultur Tropika

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

RESPON PERTUMBUHAN

Acacia mangium

Willd. TERHADAP

PENAMBAHAN KAPUR DAN HSC (

HUMIC SUBSTANTCES

(8)
(9)

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Basuki Wasis MS Ketua

Dr Ir Yadi Setiadi MSc Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Silvikultur Tropika

Prof Dr Ir Sri Wilarso Budi R MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah MScAgr

Tanggal Ujian: Tanggal Lulus:

Judul Tesis : Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara

Nama : Nuri Jelma Megawati

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April 2013 ini ialah Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara. Terima kasih penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Dr Ir Basuki Wasis MS dan Bapak Dr Ir Yadi Setiadi MSc selaku pembimbing atas bantuan dan bimbingannya.

2. Bapak Dr Ir Iwan Hilwan MS selaku dosen penguji luar komisi atas pembelajaran dan bimbingannya.

3. Staff PT Jorong Barutama Greston (JBG) yang telah membantu selama pengumpulan data.

4. Dosen dan Staff Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor atas pembelajaran, bantuan, dan dukunganya.

5. Ayah dan Ibu, serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. 6. Teman-teman Laboratorium Bioteknologi Hutan (Kak Nadia, Weda, Rahmat,

dan Pak Acep) atas dukungan, bantuan, dan doanya.

7. Teman-teman Silvikultur Tropika (Dina Oktavia, Laura Florensia, dll) dan sahabat satu program fasttrack (Adisti PH, Eti O) yang tak henti-hentinya memberikan semangat, dukungan, dan doa.

8. Sahabat-sahabat dari Departemen Silvikultur (Dwi Atri, Ardi, Azzam, Suyogya dll) dan sahabat kost cempaka (Tatat, Intan, Vivi, Kamil, Mbak Dani, Bu Agung, Zahra) serta sahabat G0L asrama APD (Zhulmi, Desi dll) atas kebersamaan, bantuan, dan semangatnya.

9. Beasiswa Fresh Graduate yang telah memberikan bantuan finansial selama penulis melakukan studi.

Dan terimakasih juga penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesainya penelitian dan karya ilmiah ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga amal ibadahnya diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

Perumusan Masalah 2

Manfaat Penelitian 3

Ruang Lingkup Penelitian 3

METODE 4

Waktu dan Tempat Penelitian 4

Alat dan Bahan 4

Prosedur Penelitian 4

HASIL 8

Analisis Tanah 8

Pertumbuhan A. mangium 10

PEMBAHASAN 13

Karakteristik Tanah 13

Pertumbuhan A. mangium 15

KESIMPULAN DAN SARAN 17

Kesimpulan 17

Saran 18

DAFTAR PUSTAKA 18

LAMPIRAN 21

(12)

DAFTAR TABEL

1 Parameter analisis tanah 5

2 Perlakuan pada masing-masing lokasi 6

3 Hasil analisis tanah blok M1W inpit dump (umur tanam 1 tahun) 8 4 Hasil analisis tanah blok M23E west inpit (umur tanam 2 tahun) 9 5 Hasil analisis tanah blok M45C disposal (umur tanam 3 tahun) 10 6 Rekapitulasi pengukuran pH tanah pada lokasi penelitian 11 7 Hasil rekapitulasi sidik ragam pengaruh perlakuan kapur dan HSC

terhadap pertumbuhan A. mangium

11 8 Hasil uji bedanyata pengaruh perlakuan kapur dan HSC terhadap

pertumbuhan A. mangium pada lokasi M1W inpit dump

11 9 Hasil uji bedanyata pengaruh perlakuan kapur dan HSC terhadap

pertumbuhan A. mangium pada lokasi M23E inpit dump

12 10 Hasil uji bedanyata pengaruh perlakuan interaksi kapur dan HSC

terhadap pertumbuhan A. mangium

12

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran 2

2 Peta lokasi penelitian 3

3 Ilustrasi Pengambilan Sampel tanah 4

4 Plot kondisi pertumbuhan buruk. (A) lokasi 1; (B) lokasi 2; (C) lokasi 3

9

DAFTAR LAMPIRAN

1. Standar kondisi lahan bermasalah (Setiadi 2012) 21 2. Kriteria umum untuk menilai nutrisi dan karakteristik fisik tanah untuk

tanaman (BAI 1984)

22

3. Denah tata letak penanaman 23

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kegiatan reklamasi dan revegetasi pada lahan pasca tambang yang dilaksanakan oleh pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) harus memenuhi standar keberhasilan menurut Permenhut No 60 Tahun 2009 (Replublik Indonesia 2009). PT Jorong Barutama Greston (JBG) merupakan salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan Selatan yang telah melaksanakan kegiatan reklamasi dan revegetasi pada lahan pasca tambang. Dari kegiatan pra evaluasi kegiatan reklamasi dan revegetasi di PT JBG masih ditemukan kondisi pertumbuhan tanaman yang kekuningan, kerdil, dan kematian. Kondisi tersebut memengaruhi persen daya hidup dan kesehatan tanaman yang merupakan parameter penting yang menentukan keberhasilan reklamasi dan revegetasi. Permasalahan yang sering muncul pada upaya revegetasi lahan pasca tambang ialah rendahnya kualitas sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengkarakteristikan tanah perlu dilakukan untuk mengetahui permasalahan utama yang menyebabkan status pertumbuhan tanaman menjadi normal, sedang, dan buruk.

Kondisi pH tanah yang rendah merupakan permasalah utama yang sering dijumpai pada pertambangan batubara. Kondisi pH tersebut dapat menyebabkan peningkatan kelarutan dari logam Al yang berpotensi menjadi racun bagi tanaman dan dapat juga menyebabkan peningkatan fixing phosphate (Setiadi 2012). Salah satu upaya untuk menangani kondisi pH yang rendah tersebut ialah melalui pengapuran. Pengapuran adalah penambahan senyawa yang mengandung Ca dan atau Mg ke dalam tanah dan mampu mengurangi kemasaman tanah. Secara kimiawi pengapuran dapat mengurangi keracunan Al, meningkatkan pH tanah, dan meningkatkan ketersediaan hara tanaman terutama Ca dan P (Widjaja dan Adhi 1985). Selain pengapuran, salah satu cara meminimalkan toksisitas unsur Al yaitu dengan penggunaan HSC (Humic Substances Complex). HSC merupakan komponen yang sangat penting dari tanah yang dapat memengaruhi sifat fisik dan kimia serta meningkatkan kesuburan tanah. HSC dalam tanah dan sedimen dapat dibagi menjadi tiga fraksi utama yaitu asam humat, asam fulvat, dan humin (IHSS 2007). Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai perbaikan lahan pasca tambang batubara menggunakan kapur dan HSC untuk meningkatkan pertumbuhan A. mangium sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam meningkatkan keberhasilan reklamasi dan revegetasi lahan pasca tambang batubara.

Tujuan Penelitian

(14)

2

Perumusan Masalah

Kegiatan pertambangan batubara yang dilaksanakan pada kawasan hutan berdampak terhadap penurunan kualitas tanah dan perubahan bentang alam. Kegiatan reklamasi perlu dilaksanakan untuk memperbaiki kualitas tanah dan bentang alam yang telah berubah agar dapat mendukung proses revegetasi. Dari kegiatan pra-evaluasi lapangan, kegiatan revegetasi yang dilaksanakan oleh PT JBG sebagian masih belum memenuhi kriteria keberhasilan reklamasi dan revegetasi. Permasalahan utama yang dihadapi ialah kondisi pH yang rendah yang menyebabkan kelarutan logam Al menjadi tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Hal tersebut menyebabkan hasil revegetasi yang telah dilakukan PT. JBG memiliki status kondisi pertumbuhan tanaman yang berbeda-beda. Status kondisi pertumbuhan tanaman tersebut dibagi menjadi tiga yaitu normal (pertumbuhan baik dan sehat), sedang (pertumbuhan di bawah rata-rata normal, daun nampak kekuningan dan pertumbuhan kerdil), dan buruk (pertumbuhan jauh dibawah rata-rata, stagnant, nampak adanya gejala toksisitas dan sebagian besar tanaman mati).

Pengambilan sampel tanah dilakukan pada tiga lahan dengan status kondisi pertumbuhan tanaman yang berbeda untuk mengetahui perbedaan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pada status kondisi pertumbuhan tanaman buruk dilakukan upaya perbaikan tanah dengan menggunakan kapur dan HSC. Kapur sebagai bahan yang dapat megurangi kemasaman tanah dan HSC untuk meminimalkan toksisitas logam Al. Hal tersebut diharapkan dapat memperbaiki kualitas tanah sehingga pertumbuhan tanaman tidak terganggu. Kerangka pemikiran tertera pada Gambar 1.

(15)

3 Bedasarkan latar belakang dan kerangka pemikiran tersebut maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah perbedaan karateristik tanah dapat menyebabkan perbedaan kondisi pertumbuhan A. mangium?

2. Apakah perbaikan kondisi tanah menggunakan kapur dan HSC dapat menigkatkan pertumbuhan A. mangium?

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi acuan dalam melakukan karakterisasi tanah sebelum penanaman dan penentuan perbaikan kondisi tanah yang tepat untuk mengatasi permasalahan kondisi pH yang rendah dan keracunan logam Al dalam kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan pasca tambang batubara.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mencakup pengkarakteristikan tanah dari hasil analisis tanah yang dilaksanakan di Laboratorium Tanah Universitas Lambung Mangkurat, Kalimatan Selatan. Sampel tanah diambil dari lahan pasca tambang batubara PT JBG pada tiga umur tanam dan tiga kondisi pertumbuhan. Upaya perbaikan dilakukan pada tanah yang teridentifikasi memiliki permasalahan kondisi pH rendah dan keracunan Al berdasarkan hasil analisis tanah menggunakan kapur pertanian (dolomit) dan HSC (mengandung Asam Humat, bahan stimulan mikroba, dan perangsang akar) untuk meningkatkan pertumbuhan A. mangium. Bibit A. mangium yang dipergunakan pada penelitian ini berasal dari persemaian PT JBG.

(16)

4

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2013 sampai dengan bulan Juni 2014. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan. Penelitian dilaksanakan di lahan pasca tambang (Gambar 2) PT. JBG, Kalimantan Selatan.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meteran, bor tanah, plastik sampel, spidol permanen, alat tulis, sarung tangan, kamera, tallysheet, cangkul, pita label, timbangan, gembor, ember, garu untuk ripping, galah, dan kaliper. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bibit A. mangium, kapur, HSC, Bionature-50, kompos bio-organik, pupuk NPK, dan rock phosphat.

Prosedur Penelitian

Analisis Tanah

Analisis tanah dilaksanakan pada lahan pasca tambang batubara PT. Jorong Barutama Greston yang telah dilakukan penanaman. Lokasi pengambilan sampel tanah dilakukan pada lahan dengan tiga blok umur tanam yaitu 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun. Pada masing-masing blok umur tanam tersebut dipilih tiga plot dengan kondisi pertumbuhan tanaman yang berbeda yaitu plot kondisi pertumbuhan normal (keseluruhan tanaman tumbuh dengan normal dan sehat), plot kondisi pertumbuhan sedang (pertumbuhan tanaman dibawah rata-rata normal dan atau pertumbuhan tanaman kerdil), dan plot kondisi pertumbuhan buruk (pertumbuhan tanaman jauh di bawah rata-rata dan atau hampir keseluruhan tanaman mati).

(17)

5 Mekanisme pengambilan sampel tanah dilakukan seperti pada Gambar 3. Pada masing-masing lokasi kondisi pertumbuhan dilakukan pembagian menjadi 2 bagian berdasarkan kesamaan warna tanah. Pada masing-masing bagian dilakukan pengambilan sampel tanah dari hasil komposit tanah yang berasal dari lima sampling point pada dua kedalaman yaitu 0–30 cm dan 30–60 cm. Jumlah sampel tanah untuk setiap plot kondisi pertumbuhan yaitu 4 sampel. Jadi total sampel tanah keseluruhan yaitu 12 sampel tanah per lokasi umur tanam (36 sampel tanah untuk ketiga umur tanam).

Analisis tanah dilakukan untuk mengetahui kualitas fisik, kimia, dan biologi tanah yang menjadi permasalahan utama yang umumnya ditemui pada pertambangan batubara. Parameter tanah yang dianalisis adalah sebanyak 17 parameter, seperti yan terdapat pada Tabel 1.

Hasil analisis tanah tersebut digunakan untuk mengevaluasi kesuburan tanah dan mengidentifikasi kendala pertumbuhan tanaman. Data analisis tanah yang diperoleh kemudian dievaluasi dengan menggunakan standar kondisi lahan bermasalah (Lampiran 1) dan kriteria kesuburan tanah (Lampiran 2).

Pertumbuhan A. mangium

Tiga penelitian dilaksanakan untuk mengetahui respon pertumbuhan A. mangium yang dilaksanakan di tiga plot kondisi pertumbuhan buruk yang terbagi atas:

a. Penelitian pertama berada di M1W In Pit Dump umur tanam 1 tahun (lokasi 1). b. Penelitian kedua berada di M23E West In Pit umur tanam 2 tahun (lokasi 2). c. Penelitian ketiga berada di M45C Disposal umur tanam 3 tahun (lokasi 3).

Prosedur penanaman terdiri dari penyiapan bibit, penyiapan lahan, Tabel 1 Parameter analisis tanah

(18)

6

Penyiapan bibit. Bibit yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit A. mangium yang berasal dari persemaian PT. JBG. Ukuran bibit yang digunakan berbeda pada masing-masing lokasi (Tabel 2). Jumlah bibit pada masing-masing lokasi adalah sebanyak 173 bibit (144 bibit ditambah 20% bibit sulaman) sehingga total keseluruhan bibit yang digunakan adalah sebanyak 519 bibit. Persiapan bibit dilakukan dengan memilih bibit yang sehat kemudian diberikan pengaktif akar (Bionature-50). Pengatif akar diberikan dengan dosis 1.67% sebanyak 200 cc/bibit dengan frekuensi penyiraman sebanyak 2 kali. Pemberian pengaktif akar ini bertujuan agar akar dapat dengan cepat beradaptasi ketika ditanam (tidak mengalami fase stagnasi).

Penyiapan Lahan. Penyiapan lahan dimulai dengan membuat jarak tanam 4 m x 4 m pada masing-masing lokasi. Pembuatan lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. Pada setiap lubang tanam dipasangkan ajir yang telah diberikan label sesuai dengan perlakuan yang akan diberikan.

Pemberian kapur. Pemberian kapur diberikan dengan dosis sesuai perlakuan (Tabel 2). Pemberian kapur dilakukan dengan mencampurkan kapur ke tanah pada lubang tanam dan permukaan tanah pada luasan 2.25 m2 mengelilingi lubang tanam. Pengecekan pH tanah dilakukan sebelum pemberian pH dan setelah pemberian pH pada H+3, H+7, dan H+14 untuk mengetahui peningkatan pH tanah.

Pemberian HSC. Pemberian HSC dilakukan selama dua minggu setelah pengapuran dengan dosis sesuai dengan perlakuan (Tabel 2). HSC diberikan dengan cara menyiramkan secara merata pada lubang tanam dan juga pada luasan 2.25 m2 di sekeliling lubang tanam.

Penanaman. Penanaman dilaksanakan satu minggu setelah pemberian HSC. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan metode root ball dengan posisi leher akar 2 cm di atas permukaan tanah. Sebelum penanaman, dilakukan penambahan Rock phosphat, kompos, dan pupuk NPK dengan dosis yang ditunjukkan pada Tabel 2.

Pengambilan data. Parameter pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi (cm), diameter (cm), dan jumlah tunas baru tanaman. Pengamatan dilakukan dengan metode sampling pada setiap plot dengan jumlah sampel sebanyak tiga tanaman untuk setiap perlakuan. Sampel dipilih dengan menggunakan angka acak yang diperoleh dari Microsoft Excel. Pengamatan dilakukan setiap bulan selama empat bulan dengan menghitung jumlah pucuk

Tabel 2 Rincian dosis masing-masing lokasi

(19)

7 yang baru. Untuk mengurangi bias maka pada saat menghitung jumlah pucuk baru pada setiap bulannya, pucuk yang telah dihitung ditandai dengan cat hitam.

Rancangan Percobaan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Blok Terpisah dengan dua faktor yang terdiri dari 16 ulangan untuk setiap plot penanaman, jadi untuk setiap lokasi terdapat 144 A. mangium. Faktor pertama yaitu perlakuan pemberian kapur (L) dengan tiga taraf perlakuan pada masing-masing plot percobaan. Faktor kedua yaitu perlakuan pemberian HSC (H) dengan tiga taraf perlakuan pada masing-masing lokasi percobaan. Rincian mengenai perlakuan dan taraf pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada Tabel 2. Denah tata letak penanaman bibit A. mangium pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada Lampiran 3, 4, dan 5.

Berdasarkan rancangan penelitian tersebut maka model linier yang digunakan adalah sebagai berikut (Mattjik & Sumertajaya 2002) :

Yijk = µ + ρk+ αiik + j + ik + (α )ij+ εijk

Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan pada faktor perlakuan kapur taraf ke-i, faktor perlakuan HSC taraf ke-j, dan blok ke-k.

µ = Nilai rata-rata umum ρk = Pengaruh pengelompokan

αi = Pengaruh faktor perlakuan kapur taraf ke-i

Δik = Komponen acak dari faktor perlakuan kapur yang menyebar ke-i, faktor perlakuan HSC taraf ke-j dan blok ke-k

Analisis Data. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan A. mangium, dilakukan sidik ragam dengan uji F. Data yang diperoleh dari setiap plot lokasi diolah dengan menggunakan perangkat lunak statistika SAS 9.1, jika :

a. F hitung < F Tabel, maka perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi dan diameter

b. F hitung > F Tabel, maka perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi dan diameter. Jika terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut Duncan`s Multiple Range Test.

(20)

8 tidak bermasalah menurut kriteria lahan bermasalah (Setiadi 2012). Nilai pH tersebut juga tergolong pada kisaran rendah sampai sedang menurut kriteria umum menilai nutrisi tanah untuk tanaman (BAI 1984). Plot sedang pada lokasi tersebut memiliki permasalahan pada tekstur tanah yang didominasi oleh pasir sebesar 62.54 –85.75% serta dua sampel tanah nya memiliki nilai KTK yang cukup rendah yaitu 11.83 me/100g dan 13.77 me/100g. Pada plot buruk tekstur tanahnya didominasi oleh pasir sebesar 61.65–81.21%. Kondisi berpasir tersebut disertai dengan kelarutan Al yang cukup tinggi hingga 1.01–2.08 me/100g sehingga menjadi permasalahan utama yang menyebabkan kondisi pertumbuhan A. mangium menjadi buruk.

Tabel 3 Hasil analisis tanah blok umur tanam 1 tahun

Lokasi 1

* = bermasalah menurut kriteria lahan bermasalah (Setiadi 2012)

(21)

9 bermasalah karena padat yang disebabkan oleh jumlah fraksi debu dan liat >65%, tetapi pada plot normal A. mangium pada plot normal mampu tumbuh dengan baik karena tidak ada permasalahan lain selain kondisi tekstur tanah tersebut. Berbeda halnya pada plot sedang, selain memiliki permasalahan pada tekstur tanahnya yang padat, terdapat masalah lain yaitu adanya nilai kelarutan Al yang tinggi pada dua sampel tanah nya yaitu 2.86 me/100g dan 2.91 me/100g. Tekstur tanah pada plot kondisi pertumbuhan buruk didominasi padat dengan jumlah debu dan liat bekisar 73.03–75.98% disertai dengan kelarutan Al yang tinggi berkisar 3.29–4.43 me/100g merupakan permasalahan utama yang menyebabkan kondisi pertumbuhan A. mangium menjadi buruk.

Tabel 4 Hasil analisis tanah blok M23E Inpit Dump (umur tanam 2 tahun)

Lokasi 2 * = bermasalah menurut kriteria lahan bermasalah (Setiadi 2012)

(22)

10

Tabel 5 Hasil analisis tanah blok M45C Disposal (umur tanam 3 tahun)

Lokasi 3 * = bermasalah menurut kriteria lahan bermasalah (Setiadi 2012)

Pertumbuhan A. mangium

Hasil Rekapitulasi pH tanah (Tabel 6) menunjukkan peningkatan pH pada tiga lokasi penelitian yang diukur pada hari ke 3, 7 dan 14 setelah pemberian kapur. Penambahan kapur sebanyak 0.75 dan 1.5 kg/lubang tanam pada lokasi 1 mampu menaikkan pH tanah dari <3.00 menjadi 4.60 dan 5.10 pada hari ke-14 setelah pengapuran. Tabel 6 juga menjelaskan bahwa penambahan kapur sebanyak 1.00 dan 2.00 kg/lubang tanam pada lokasi 2 mampu menaikkan pH tanah yang awalnya <3.00 menjadi 4.80 dan 5.80 pada hari ke-14 setelah pemberian kapur. Penambahan kapur sebanyak 1.50 dan 3.00 kg/lubang tanam pada lokasi 3 mampu menaikkan pH tanah yang awalnya <3.00 menjadi 4.95 dan 5.80 pada hari ke-14 setelah dilakukan pemberian kapur.

(23)

11 Tabel 6 Rekapitulasi pH tanah pada lokasi penelitian

Perlakuan kapur pertumbuhan A. mangium pada lokasi 1

Perlakuan

Tinggi (cm) Diameter (cm) Jumlah tunas baru

Rata-rata % Peningkatan Rata-rata % Peningkatan Rata-rata % Peningkatan

(24)

12

pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 44.13% sampai dengan 58.79%. Perlakuan kapur terbaik terdapat pada penambahan kapur sebanyak 1.50 kg/lubang tanam dengan tinggi 38.56 cm atau terjadi peningkatan sebesar 58.79%. Perlakuan kapur tidak memberikan pengaruh yang nyata pada parameter diameter dan jumlah tunas baru. Meskipun tidak berpengaruh nyata pada parameter diameter, perlakuan kapur masih mampu meningkatkan pertumbuhan diameter sebesar 19.75 – 42.98%.

Tabel 9 Hasil uji bedanyata pengaruh perlakuan kapur dan HSC terhadap pertumbuhan A. mangium pada lokasi 2

Perlakuan Tinggi (cm) Diameter (cm) Jumlah tunas baru Rata-rata % Peningkatan Rata-rata % Peningkatan Rata-rata % Peningkatan

Kapur kapur memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter pertumbuhan tinggi A. mangium dibanding kontrol (tanpa pemberian kapur). Perlakuan kapur sebanyak 1 kg/lubang tanam merupakan perlakuan pemberian kapur terbaik yang mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 72.37%. Hal tersebut tidak berbeda nyata dengan pemberian kapur sebanyak 2 kg/lubang tanam yang mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi A. mangium sebesar 62.16%. Meskipun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada parameter pertumbuhan diameter, penambahan kapur sebanyak sebesar 1 kg/lubang tanam dan 2 kg/lubang tanam dapat meningkatkan diameter tanaman sebesar 54.47% dan 38.10%.

Tabel 10 Hasil uji bedanyata pengaruh perlakuan interaksi kapur dan HSC terhadap pertumbuhan A. mangium lokasi 3

Pengaruh interaksi * = Persentase peningkatan dibanding kontrol

(25)

13 Hasil uji beda nyata (Tabel 10) menunjukkan bahwa perlakuan L2H0 (kapur 3 kg/lubang tanam tanpa pemberian HSC) merupakan perlakuan terbaik dengan tinggi 38.33 cm atau terjadi peningkatan sebesar 68.69%. Perlakuan L2H0 ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan L1H1 (kapur 1.5 kg/lubang tanam dan 4 liter HSC 0.83%), L2H1 (kapur 1.5 kg/lubang tanam dan 4 liter HSC 0.83%), dan L2H2 (kapur 3 kg/lubang tanam dan 4 liter HSC 1.25%). Perlakuan interaksi terburuk ialah L1H0 (kapur 1.5 kg/lubang tanam tanpa pemberian HSC) yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan L0H0 (kontrol), L0H1 (tanpa pemberian kapur dengan 4 liter HSC 0.83%), dan L0H2 (tanpa pemberian kapur dengan 4 liter HSC 1.25%).

PEMBAHASAN

Karakteristik Tanah

Kegiatan pertambangan batubara yang menggunakan areal kawasan hutan umumnya dilakukan dengan cara penambangan terbuka (open pit mining). Menurut Sarief (1985); Darwo (2003), penambangan terbuka (open pit mining) dapat menimbulkan penurunan produktivitas lahan atau lahan telah terdegradasi, sehingga tidak lagi dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Upaya revegetasi yang dilakukan pada lahan tersebut menghasilkan pertumbuhan yang beragam (normal, sedang, dan buruk) sesuai dengan karakteristik tanahnya. Karakteristik sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berdasarkan hasil analisis tanah dapat merepresentasikan kesuburan tanah pada lokasi tersebut.

Sifat Fisik Tanah

Karakteristik fisik tanah utamanya ditentukan oleh parameter tekstur tanah. Tekstur tanah ditunjukkan oleh presentase fraksi pasir, debu, dan liat dengan total presentase sebesar 100%. Kombinasi dari tiga fraksi tersebur akan menentukan tingkat kepadatan dan status porositas dari tanah yang tentunya akan memengaruhi pertumbuhan tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut. Menurut Setiadi (2012), tingkat kepadatan dan porositas akan memengaruhi pertumbuhan akar, laju serapan hara, potensi terjadinya keracunan (Al dan Pirit), dan akhirnya berdampak pada status pertumbuhan tanaman (tumbuh baik, sedang atau buruk).

(26)

14

Berbeda dengan lokasi 1, Hasil analisis tanah pada lokasi 2 yang disajikan pada Tabel 4 menunjukkan seluruh plot memiliki tekstur tanah yang padat. Hal ini menunjukkan kondisi yang bermasalah bagi pertumbuhan tanaman apabila persentase jumlah debu dan liat lebih dari 70% (Setiadi 2012). Dengan kondisi demikian maka akan membuat tanah padat sehingga akar tidak dapat berkembang yang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi stagnan. Selain itu, tanah yang padat menyebabkan tingginya potensi genangan ketika hujan yang menyebabkan akar membusuk hingga kematian tanaman. Tanah padat merupakan tanah memiliki tekstur yang halus sehingga mampu memegang air yang terlalu banyak (Indranada 1989). Kondisi ini membuat pori-pori tanah pada tanah padat tersebut menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sehingga mengakibatkan tanaman menjadi defisiensi air. Pada penelitian ini, tekstur tanah yang padat ternyata bukan merupakan permasalahan yang menyebabkan tehambatnya pertumbuhan A. mangium karena pada plot normal juga ditemui tekstur tanah yang padat. Plot normal ada lokasi ini tidak memiliki permasalahan nilai pH rendah dan kelarutan Al yang tinggi yang merupakan permasalahan pada plot kondisi sedang dan buruk.

Hasil analisis tanah pada lokasi 3 yang disajikan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa seluruh plot memiliki presentase pasir, debu, dan liat yang hampir seimbang. Tesktur tanah seperti pada lokasi ini merupakan tekstur tanah sedang. Menurut Indranada (1989), tekstur tanah yang sedang tersebut merupakan kondisi terbaik dalam mengadakan keseimbangan faktor-faktor tumbuh dalam tanah. Selain sifat fisika hal yang perlu diperhatikan ialah sifat kimia dan biologi tanahnya. Pada lokasi 3 ini, hal yang membedakan pada masing-masing plot ialah sifat kimia tanahnya.

Sifat Kimia Tanah

Dari 106 buah unsur yang ada di alam, hanya 16 unsur yang diakui secara umum sebagai unsur hara bagi tanaman (Indranada 1989). Karakteristik kimia pada tanah dapat dilihat dari ketersediaan 16 unsur hara tersebut. Keenam belas unsur hara tersebut ialah C, H, O, N, P, K, S, Ca, Mg, Zn, Fe, Cu, Mn, Mo, B, dan Cl. Disamping 16 unsur hara tersebut, terdapat juga parameter yang dapat empengaruhi karakteristik kimia tanah. Salah satu parameternya yaitu nilai KTK tanah. Nilai KTK tanah juga merupakan parameter yang memengaruhi karakteristik kimia tanah.

(27)

15 Permasalahan utama yang membedakan kondisi pertumbuhan tanaman mejadi normal, sedang, dan buruk pada semua lokasi ialah pH dan kelarutan Alumuniumnya. Pada hasil analisis tanah menunjukkan bahwa hampir seluruh plot sedang dan buruk di tiga lokasi memiliki pH tanah kurang dari 5. Menurut Degenhardt et al. (1998); Takita et al. (1999); Ma (2000), permasalah serius pada budidaya tanaman di tanah masam terutama pada kondisi pH kurang dari 5 adalah akibat tinggi kelarutan Al3+ yang bersifat racun bagi tanaman dan rendahnya kelarutan hara esensial sehingga terjadi kekahatan. Hasil analisis tanah pada plot kondisi pertumbuhan buruk pada ketiga lokasi memiliki permasalahan kelarutan Al yang lebih tinggi dibandingkan dengan plot sedang. Kelarutan Al yang tinggi (>3 me/100g) merupakan kondisi yang bermasalah karena hal tersebut menyebabkan kematian tanaman (Setiadi 2012).

Salah satu kendala dalam pertumbuhan tanaman pada tanah asam adalah keracunan alumunium. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa penyerapan P, Ca, Mg, dan K oleh tanaman akan berkurang secara nyata dengan semakin tingginya kandungan Al dalam tanah (Matsumoto et al. 1992). Menurut Munawar (2011), pada tanah-tanah masam jumlah P-total tanah rendah yakni kurang dari 200 ppm. Bahkan keseluruhan nilai P-total pada ketiga lokasi penelitian tergolong sangat rendah yaiu hanya berkisar 0.30–3.32 ppm (lokasi 1), 1.79–6.34 ppm (lokasi 2), dan 1.76–10.76 ppm (lokasi 3). Hal ini disebabkan terbentuknya komplek Al-P (baik di larutan tanah maupun di dalam sel) yang tidak tersedia bagi tanaman. Kemampuan tanaman untuk dapat memanfaatkan kandungan P yang rendah secara efisien selalu dihubungkan dengan sifat toleransi tanaman terhadap kandungan Al. Selain itu, kation Al+3 juga menghambat transpor Ca+2 dan memblok saluran K+ (Ryan et al. 1997). Taylor et al. (2010) merangkum variabel kualitas tanah yang perubahannya berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan tanaman. Variabel tersebut antara lain adalah pH, N total, P tersedia, serta K, Ca, Fe dan Al dapat ditukar.

Sifat Biologi Tanah

(28)

16

Pertumbuhan A. mangium

Menurut kriteria umum untuk menilai nutrisi dan karakteristik tanah (BAI 1984), penambahan kapur (Tabel 6) pada lokasi 1 dapat meningkatkan pH yang awalnya tergolong sangat rendah menjadi rendah. Pada lokasi 2 dan 3, penambahan kapur dapat meningkatkan pH yang awalnya tergolong sangat rendah menjadi rendah hingga sedang. Berdasarkan data tersebut, pH tanah pada lokasi 1 dengan dosis penambahan 0.75 dan 1.50 kg/lubang tanam belum mampu menaikkan pH tanah ke dalam kisaran yang aman untuk pertumbuhan tanaman. Begitu pula pada lokasi 2 dan 3, penambahan pH sebanyak 1.00 kg/lubang tanam pada lokasi 2 dan 1.50 kg/lubang tanam pada lokasi 3 juga belum mampu dinaikkan nilainya ke dalam kisaran yang aman untuk pertumbuhan tanaman. Sedangkan penambahan kapur sebanyak 2.00 kg/lubang tanam pada lokasi 2 dan sebanyak 3.00 kg/lubang tanam pada lokasi 3 mampu menaikkan pH tanah ke dalam kisaran nilai yang aman untuk pertumbuhan tanaman. Menurut Munawar (2011), sebagian besar tanaman tumbuh baik pada tanah mineral dengan rentang pH 5.8–6.5. Sanchez (1992) memberikan rekomendasi bahwa pengapuran pada tanah tropika cukup sampai dengan pH 5.5–6.0.

Dari hasil penelitian pada lokasi 1 menunjukkan bahwa kapur terbukti mampu memperbaiki kondisi pH walaupun belum memenuhi standar nilai pH yang aman untuk pertumbuhan tanaman pada pengukuran hari ke-14. Adanya pemberian kapur pada lokasi ini mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi A. mangium sebesar 44.13% pada pemberian kapur 0.75 kg/lubang tanam dan 58.79% pada pemberian kapur 1.5 kg/lubang tanam. Hal ini sesuai pendapat Munawar (2011) menyatakan bahwa pertumbuhan akan meningkat dengan adanya penambahan kapur pada tanah masam. Kapur juga mampu meningkatkan kandungan Ca dan Mg tanah, dan fungsi tidak langsung seperti meningkatkan Upaya perbaikan melalui penambahan kapur ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan A. mangium. Peningkatan pH yang terjadi pada lokasi 2 tersebut lebih besar daripada peningkatan yang terjadi pada lokasi 1. Hal ini disebabkan dosis kapur yang dipergunakan pada lokasi 2 tersebut lebih besar daripada lokasi 1. Peningkatan dosis kapur tersebut juga diikuti dengan peningkatan pertumbuhan tinggi A. mangium yaitu dari 44.13–58.79% (lokasi 1) dan meningkat menjadi 62.16–72.37% (lokasi 2).

(29)

17 Pada lokasi 3 perlakuan interaksi kapur dan HSC memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Pemberian kapur sebanyak 1.50 dan 3.00 kg/lubang tanam serta penambahan 4 liter HSC dengan konsentrasi 0.83 dan 1.25% mampu meningkatkan pertumbuhan A. mangium. Seperti yang diketahui, HSC yang berupa HA tidak larut dalam kondisi masam sehingga pada lokasi 3 ini perlakuan pemberian kapur dengan dosis yang lebih tinggi mampu menaikkan pH tanah dan pemberian HSC nya dapat berpengaruh kepada pertumbuhan A. mangium. Penggunaan bibit 1.5 m lebih besar, dosis kapur yang lebih besar, dan penggunaan dosis rockphospat yang lebih tinggi pada lokasi 3 memungkinkan perlakuan interaksi lebih memberikan pengaruh pada tinggi A. mangium dibandingkan dengan lokasi 1 dan 2. Perlakuan interaksi yang terbaik adalah pada pemberian kapur dengan dosis 3 kg/lubang tanam tanpa penambahan HSC dan pemberian kapur dengan dosis 3 kg/lubang tanam dengan penambahan HSC. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian HSC pada tanah dapat bereaksi dengan optimal jika disertai dengan penambahan kapur dengan dosis 3 kg/lubang tanam terlebih dulu. Penambahan 3 kg/lubang tanam mempu menaikkan pH tanah menjadi tergolong sedang. Hal ini membuktikan bahwa HSC yang berupa HA hanya larut pada kondisi pH normal. HSC yang berupa HA tidak dapat larut dalam kondisi masam (Segoe & Madison 1997, Munawar 2011) dan akan mengendap pada kondisi asam kuat (IHSS 2007).

Berbeda dengan kapur yang berfungsi untuk meningkatkan pH tanah, peranan HSC lebih pada pengikatan kation Al3+ atau Fe2+ oleh asam-asam organik seperti asam humat atau fulvat, yang diperoleh dari dekomposisi bahan organik dengan membentuk kelat Al atau Fe. Bahkan menurut Bhatti et al. (1998) asam-asam organik sederhana lainnya seperti asam-asam oksalat yang juga berasal dari dekomposisi bahan organik merupakan salah satu senyawa penting dalam proses pelepasan fosfat. Lebih lanjut dijelaskan oleh Munawar (2011), bahan humat dapat memacu pertumbuhan tanaman secara langsung, karena dapat berfungsi sebagai hormon tanaman alami memperbaiki perkecambahan biji, pertumbuhan awal akar, penyerapan hara, dan penyedia hara. Secara tidak langsung bahan humat tersebut mampu memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah karena bersifat koloidal dan menjadi sumber KTK (Stevenson 1994).

(30)

18

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Hasil analisis tanah menunjukkan karakteristik tanah yang berbeda menyebabkan perbedaan kondisi pertumbuhan pada masing-masing umur tanam. Kondisi pH tanah yang rendah (≤4.7) dan tingkat kelarutan Al yang tinggi (>3 me/100g) merupakan penyebab utama yang membuat kondisi pertumbuhan A. mangium menjadi tidak normal.

2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan kapur dan HSC mampu meningkatkan pertumbuhan A. mangium. Perlakuan penambahan kapur memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan tinggi A. mangium pada ketiga lokasi. Perlakuan penambahan kapur terbaik untuk masing-masing lokasi yaitu dosis 0.75 dan 1.5 kg/lubang tanam (lokasi 1), 1 kg/lubang tanam (lokasi 2), dan 3 kg/lubang tanam (lokasi 3). Perlakuan penambahan HSC belum mampu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan A. mangium.

Saran

1. Sebelum penanaman sebaiknya dilakukan pengkarakterisikan lahan terlebih dulu agar mengetahui permasalahan pada lahan dan dapat menentukan perbaikan tanah yang tepat untuk mencegah ketidakberhasilan penanaman. 2. Perbaikan kondisi tanah yang memiliki permasalahan pH rendah dapat

dilakukan dengan menambahkan kapur dengan dosis 0.75–3 kg/lubang tanam (dosis yang telah diujicobakan pada penelitian ini) disertai dengan penambahan rock phosphat, kompos, dan pupuk NPK.

3. Penambahan HSC yang berupa asam humat pada tanah masam haruslah didahului oleh penambahan kapur sebelumnya untuk meningkatkan pH tanah karena HSC yang berupa asam humat hanya dapat larut pada kondisi pH normal.

4. Penggunaan bibit dengan ukuran besar (tinggi bibit >50 cm) mampu adaptif dan baik digunakan untuk penanaman pada lahan pasca tambang. Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu dilakukan pemilihan bibit dengan mempertimbangkan akar tanaman harus sudah memenuhi polibag. Pemberian zat pengaktif akar sebelum penanaman harus dilakukan untuk mencegah akar mengalami dorman.

(31)

19

DAFTAR PUSTAKA

[BAI] Booker Agriculture International (US). 1984. Booker Tropical Soil Manual. Landon JR, editor. America (US): Booker Agriculture International Limited.

Bhatti JS, Comerford NB, Johnston CT. 1998. Influence of soil organic matter removal and pH on oxalate sorption onto a spodic horizon. Soil Sciences Society Am J. 62:152-158.

Darwo. 2003. Respon pertumbuhan Khaya anthoteca dx. dan Acacia crassicarpa A Cunn ex benth terhadap pengunaan endomikoriza, pupuk kompos dan asam humat pada lahan pasca penambangan semen [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Degenhardt J, PB Larsen, SH Howell, LV Kochian. 1998. Aluminum resistance in the arabidopsis mutant alr-104 is caused by an aluminum-induced increase in rhizosphere pH. Plant physiol. 117:19-27.

Hafiziansyah G. 1997. Evaluasi kesesuaian tanaman Acacia mangium dan Eucalyptus deglupta di areal hutan tanaman industri PT. Surya Hutani Jaya Sebulu, Kalimantan Timur [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Hakim N, Nyakpa Y, Lubis AM, Nugroho SG, Diha MA, Hong GB, Bailey HH.

1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung (ID): Universitas Lampung. Hardjowigeno S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta (ID): CV

Akademika Pressindo.

Hermawan B. 2002. Buku Ajar Dasar-dasar Fisika Tanah. Bengkulu (ID): Lemlit UnibPr.

[IHSS] International Humic Subtances Society (US). 2007. What are humic substances?. Humic substances [Internet]. [diunduh 2014 Jun 3]. Tersedia pada: http://www.humicsubstances.org/whatarehs.html.

Indranada HK. 1989. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Jakarta (ID): PT Bina Aksara

Ma JF. 2000. Role of organic acids in detoxification of aluminum in higher plants. Plant cell physiol. 41(4): 383-390.

Matsumoto H, Yamamoto Y, Kasai M. 1992. Changes of same properties of the plasma membrane enriched fraction of barley roots related to aluminum stress : membrane associated ATPase, aluminum and calcium. Soil Sciences Plant Nutr. 38(3): 411-419.

Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2002. Perancangan Percobaan, Ed ke-2. Bogor (ID): IPB Pr.

Munawar A. 2011. Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman. Bogor (ID): IPB Pr. [PT JBG] Perseroan Terbatas Jorong Barutama Greston. 2013. Revegetation Trial

Report. Banjarmasin (ID). Tidak dipublikasikan

Republik Indonesia. 2009. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.60/Menhut-II/2009 tentang Kriteria dan Indikator Keberhasilan Reklamasi Hutan. Jakarta (ID): Sekretariat Kabinet RI.

Ryan PR, Reid RJ, Smith FA. 1997. Direct evalution of the Ca2+ displacement hypothesis for Al toxicity. Plant physiol. 113: 1351-1357.

(32)

20

Sarief SE. 1985. Konservasi Tanah dan Air. Bandung (ID): CV Pustaka Buana. Segoe S, Madison W.1986. Interaksi Mineral Tanah dengan Organik Alami dan

Mikroba. Goenadi DH, penerjemah; Sudarsono, penyunting; Huang PM, Schnitzer M, editor. Amerika (US). Soil Science Society of America, Inc. Terjemahan dari: Interactions of Soil Minerals with Natural Organics and Microbes. Ed ke-1.

Setiadi Y. 2012. Bahan Kuliah Ekologi Restorasi. Bogor (ID): Program Studi Silvikultur Tropika, Sekolah Pasca Sarjana, IPB. Tidak Diterbitkan.

Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor (ID): Departemen Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor.

Stevenson FJ. 1994. Humus Chemistry, Genesis, Composition, Reactoins. 2nd edition. New York (US): Wiley Intersscience

Takita E, Keyama H, Hara T. 1999. Organic acid metabolism in aluminum-phosphate utilizing cells of carrot (Daucus carota L.). Plant cell physiol 40(5): 489-495.

Tan KH. 1993. Priciples of Soil Chemistry. New york (US): Marcel Dekker Inc. Taylor MD, Kim ND, Hill RB, Chapman R. 2010. A review of soil quality

indicators and five key issues after 12 yr soil quality monitoring in the Waikato region. Soil Use and Management. 26: 212–224.

(33)

21 Lampiran 1 Standar kondisi lahan bermasalah (Setiadi 2012)

Soil parameter Level problem Efect on plant growth

pH <2.7 Toxic Al &Fe, fixing phospate.

Compaction Silt and clay > 70% Stagnan, less root developmet

Al > 60% atau

> 3 me/100 g

Root curling plant stagnant, Dying

Fe 12000 ppm Root spongi, stagnant

CEC < 8 me/100 g Stagnant

BS (KB) < 20% Slow growth

Ca and Mg Ca < Mg Stagnant

Sandy Sand > 80 % Stagnant

Hydrocarbon (TPH)

(34)

22

Lampiran 2 Kriteria umum untuk menilai nutrisi dan karakteristik fisik tanah untuk tanaman (BAI 1984)

Components Unit High Medium Low Very Low

1. Chemical

C-Total % ≥ 10 > 4 ≤ 4 < 2

N-Total % ≥ 0.5 > 0.2 ≤ 0.β < 0.1

P-Bray 1 Ppm > 11 > 8 ≥ 4 < 4

K-exchangeable me/100 g > 0.5 ≥ 0.β5 < 0.25 ≤ 0.15

Ca-exchangeable me/100 g ≥ 10 > 4 ≤ 4 ≤ 0.β

Mg-exchangeable me/100 g ≥ 1.5 > 0.8 ≤ 0.4 < 0.2

Fe-available ppm Fe Usually deficient at < 4.5

Cu-available ppm Cu Usually deficient at < 1.06

Mn-available ppm Mn Usually deficient at < 9.0

Zn-available ppm Zn Usually deficient at < 7.5

Al-Saturation % > 60 ≤ 60 < 40 < 20

pH - > 7.0 ≥ 5.5 < 5.5 ≤ 4.5

Electric conductivity (EC) M S/cm > 4 > 3 < 2

-Cation Exchange Capacity

(CEC) me/100 g ≥ β5 > 15 ≤ 15 ≤ 5

Base Saturation % > 60 > 20 ≤ β0 < 10

Total P*** ppm P > 262 < 262 < 175 < 92

Total K*** me K/100 g > 1.28 ≤ 1.β8 ≤ 0.85 < 0.45

Total Ca*** me Ca/100 g > 17.85 < 17.85 ≤ 7.14 < 3.57

Total Mg*** me Mg/100 g > 25 ≤ β5 ≤ 10 < 5

2. Physical

Bulk Density g/cc ≥ 1.γ 0.9-1.2 < 0.9 < 0.6

Total Porosity % < 501)

Available Water Capacity (AWC)

mm/m < 120 120-180 > 180

Air Capacity 102)

Hydraulic Conductivity cm/hr ≥ 8.0 < 6.0 < 2 < 0.8

1 = untuk tanah liat, porositas kurang dari 50% akan membatasi pertumbuhan akar karena kekuatan yang berlebihan

(35)
(36)

Lampiran 4 Hasil analisis tanah lengkap lokasi 1 M1W inpit dump (umur tanam 1 tahun)

HASIL ANALISIS TANAH

Nomor : 214/UN8.2.1/PL/2013

Lembaga Analisa : Pusat penelitian Lingkungan Hidup, Universitas lambung Mangkurat Kalimantan Selatan

Sampel : Tanah

Acid cation Total Pyrite

(37)

Lampiran 5 Hasil analisis tanah lengkap lokasi 2 M23E west inpit (umur tanam 2 tahun)

HASIL ANALISIS TANAH

Nomor : 240/UN8.2.1/PL/2013

Lembaga Analisa : Pusat penelitian Lingkungan Hidup, Universitas lambung Mangkurat Kalimantan Selatan

Sampel : Tanah

Acid cation Total Pyrite

(38)

Lampiran 6 Hasil analisis tanah lengkap lokasi 3 M45C disposal (umur tanam 3 tahun)

HASIL ANALISIS TANAH

Nomor : 240/UN8.2.2/PL/2013

Lembaga Analisa : Pusat penelitian Lingkungan Hidup, Universitas lambung Mangkurat Kalimantan Selatan

Sampel : Tanah

Acid cation Total Pyrite

(39)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Karanganyar, 11 Januari 1992 sebagai anak kedua dari empat bersaudara pasangan Tandur Warsito dan Haryati. Pada tahun 2009–2013 penulis melaksanakan perkuliahan sarjana di Departemen Silvikultur, Fakultas kehutanan, Institut pertanian Bogor, dan mendapatan gelar Sarjana Kehutananan pada tahun 2013. Penulis mulai melaksankana perkuliahan pasca sarjana pada tahun 2012 mendapatkan beasiswa Fresh Graduate pada program Fast track Sinergi S1-S2 pada program studi Silvikultur Tropika, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Selama masa perkuliahan tahun 2011–2012 penulis aktif sebagai asisten praktikum mata kuliah pengaruh hutan di Laboratorium pengaruh hutan Fakultas Kehutanan IPB. Pada tahun 2011–2012 penulis juga aktif mengikuti perlombaan Program Kreatifitas Mahasiwa dan memperoleh juara I Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2012 pada kategori kewirausahaan dengan Bisnis “Boneka Mushmus sebagai Green Souvenir Jamur Tiram yang Edukatif dan bersifat Edibel”. Pada tahun 2013 penulis melaksanakan pratek kerja profesi di PT Aneka Tambang UPBE Pongkor. Pada tahun 2013–2014 penulis melaksanakan magang di Lab Bioteknologi PAU IPB dibimbing oleh Dr Yadi Setiadi.

Guna memperoleh gelar Magister Sains pada program studi Silvikultur Tropika, penulis menyelesaikan tesis yang berjudul Respon Pertumbuhan Acacia mangium Willd. terhadap Penambahan Kapur dan HSC (Humic Substantces Complex) pada Lahan Pasca Tambang Batubara dibawah bimbingan Dr Ir Basuki Wasis, MS dan Dr Ir Yadi Setiadi, MSc.

Gambar

Gambar 1  Kerangka pemikiran
Gambar 2  Peta lokasi penelitian
Gambar 3   Ilustrasi pengambilan sampel tanah
Tabel 1  Parameter analisis tanah
+7

Referensi

Dokumen terkait