• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERIMAAN PENONTON TERHADAP ISU RASISME DALAM FILM HOLLYWOOD (Analysis Reception Film 12 Years a Slave pada Komunitas Film ‘Yuk Nonton dan HMJ Antropologi UGM)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENERIMAAN PENONTON TERHADAP ISU RASISME DALAM FILM HOLLYWOOD (Analysis Reception Film 12 Years a Slave pada Komunitas Film ‘Yuk Nonton dan HMJ Antropologi UGM)"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

PENERIMAAN PENONTON TERHADAP ISU RASISME DALAM FILM HOLLYWOOD

(Analysis Reception Film 12 Years a Slave pada Komunitas Film ‘Yuk Nonton dan HMJ Antropologi UGM)

The Audiens Acceptance of Racism Issue in Hollywood Film ( 12 Years a Slave Analysis Reception of a film enthusiast community ‘Yuk

Nonton and HMJ Antropologi UGM’)

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh : Dita Ami Raditie

20110530017

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH YOGYAKARTA

(2)

PENERIMAAN PENONTON TERHADAP ISU RASISME DALAM FILM HOLLYWOOD

(Analysis Reception Film 12 Years a Slave pada Komunitas Film ‘Yuk Nonton dan HMJ Antropologi UGM)

The Audiens Acceptance of Racism Issue in Hollywood Film ( 12 Years a Slave Analysis Reception of a film enthusiast community ‘Yuk

Nonton and HMJ Antropologi UGM’)

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh : Dita Ami Raditie

20110530017

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH YOGYAKARTA

(3)

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Dita Ami Raditie

NIM : 20110530017

Konsentrasi : Broadcasting

Jurusan : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi :Analysis Reception Film 12 Years a Slave pada Komunitas Film ‘Yuk Nonton dan HMJ Antropologi UGM

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk

memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta.

Yogyakarta, 09November 2016

Penulis

(4)

MOTTO

KESUKSESAN HANYA DAPAT DIRAIH DENGAN SEGALA UPAYA DAN USAHA YANG DISERTAI DENGAN DOA, KARENA SESUNGGUHNYA

(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Untuk kedua orangtuaku : Seto Mulyadi dan Sri Rahayu

Kakak-kakaku : Priyo Anarkie Yuseptyo S.T

Yennie Munggarawati S.T

Keluarga Besar Glinding Seto Pangarso dan Waginah Serta,

Keluarga Besar Ilmu Komunikasi angkatan 2011 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

ALL THANKS TO :

(6)

Kedua orang tuaku, Bapak dan Ibu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa besarnya kasih sayang kalian, mendidik dan membesarkan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Maaf pak bu, karena sampai saat ini belum bisa membalas semua kasih sayang yang kalian berikan, tetapi suatu saat pasti bisa membahagiakan kalian. Amiinn..

Untuk kakak-kakakku tercinta Mas Priyo dan Mb Yeni yang selalu memberikan dukungan agar tetap semangat menyelesaikan studi ini. Walaupun telat selesainya akhirnya kelar juga...

Kepada dosen pembimbing Pak Filosa Gita Sukmono dan Mba Ayu Amalia atas bimbingan dan arahannya selama saya melakukan penelitian ini, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.

Dosen penguji Mas Zein Mufarrih yang telah memberikan masukan dan kritik yang sangat membangun untuk penelitian ini.

Seluruh dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UMY yang telah memberikan ilmu untuk bekal nantinya dalam meniti karir. Kepada staff Ilmu Komunikasi Mba Siti, Pak Jono, Pak Muryadi, Pak Yuli terimakasih atas kesabarannya menjawab pertanyaan kami sebagai mahasiswa.

Untuk teman-teman terbaikku yang dari awal kuliah selalu bersama Elen, Nisa, Nurul, Orin, Lina, Ina dan Ambar. Terimakasih atas pertemanan yang tidak akan terlupakan ini walaupun kalian lulus duluan tapi akhirnya aku bisa nyusul. Semoga pertemanan ini akan berlangsung selamanya.

Teman-teman pejuang skripsi Novis, leni, Gelvi dan Mboy yang setiap hari selalu mengingatkan untuk mengerjakan skripsi.

Untuk seluruh teman-teman Broadcasting 2011 terimakasih atas

kebersamaannya dalam perkuliahan, produksi film, launching film, menulis buku. Semoga kalian semua sukses.

Kepada informan dari HMJ Antropologi UGM Mb Hilya, Mas Iyan dan Mb Mega terimakasih atas keramahan kalian pada saat diskusi. Kepada

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... 1

HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... 2

(8)

KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined.

HALAMAN PERSEMBAHAN ... 4

DAFTAR ISI ... 6

DAFTAR GAMBAR ... 8

DAFTAR TABEL ... 9

ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined. ABSTRACT ... Error! Bookmark not defined. BAB I ... Error! Bookmark not defined. PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. A. Latar Belakang Masalah ... Error! Bookmark not defined. B. Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined. C. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. D. Manfaat Penelitian ... Error! Bookmark not defined. E. Kerangka Teori... Error! Bookmark not defined. F. Metode Penelitian... Error! Bookmark not defined. G. Sistematika Penulisan ... Error! Bookmark not defined. BAB II ... Error! Bookmark not defined. GAMBARAN OBYEK PENELITIAN ... Error! Bookmark not defined. A. Penelitian Terdahulu ... Error! Bookmark not defined. B. Sejarah rasisme dan praktik-praktik rasisme di dunia ... Error! Bookmark not defined.

(9)

2. Hubungan Produksi ... Error! Bookmark not defined. 3. Infrastruktur Teknis ... Error! Bookmark not defined. C. AnalisisDecoding ... Error! Bookmark not defined. D. Penerimaan Informan tentang Rasisme dalam Film 12 Years a Slave Error! Bookmark not defined.

1. Dominasi kulit putih sebagai kaum superior atas kulit hitam ... Error! Bookmark not defined.

2. Rasisme Warga Kulit Putih terhadap Warga Kulit Hitam... Error! Bookmark not defined.

3. RasialismeWarga Kulit Putih terhadap Warga Kulit Hitam ... Error! Bookmark not defined.

E. Analisis terhadap Rasisme dalam Film 12 years a slave . Error! Bookmark not defined.

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Teknik Analisis Data ... 24

Gambar 2.1 Profil Yuk Nonton ... 44

Gambar 2.2 Tweet Yuk Nonton ... 44

Gambar2.3 Poster Film 12 Years a Slave ... 45

Gambar 3.1Tn. Edwinn Epps membacakan peraturan ... 57

Gambar 3.2Kulit hitam yang sedang memanen kapas ... 59

Gambar 3.3 Para kulit hitam menjadi budak kapas... 60

Gambar 3.4Platt sedang berbicara dengan Ny Epps ... 62

Gambar 3.5 Platt diseret oleh Tn John Tibeats ... 63

(11)

DAFTAR TABEL

(12)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan dan di sahkan di depan Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta, pada:

Hari

Tanggal

Tempat

Nilai

Rabu

09November 2016

Ruang Rapat Ihnu Kornunikasi

Penguji 1I

S.S'6s., M.Si Zcin Mufarrih M, S.IP., M.I.Kom

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan

unttrk memperoleh gelar sarjana (S-1) pada tanggal 09 November 2016 SUSIINAN TIM PENGUJI

(13)

ABSTRAK

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi

Konsentrasi Broadcasting Dita Ami Raditie (20110530017)

Penerimaan Penonton Terhadap Isu Rasisme dalam Film Hollywood (Analysis Reception Film 12 Years a Slave pada Komunitas Film ‘Yuk Nonton dan HMJ Antropologi UGM)

Tahun Skripsi : 2016 + 108 halaman

Daftar Pustaka : 30 buku + 11 sumber internet jurnal

Film 12 Years a slave merupakan salah satu dari beberapa film yang menggambarkan tentang rasisme terhadap kulit hitam yang tengah dialami oleh bangsa amerika ketika itu. Sang sutradara ingin menyampaikan bahwa perbedaan ras kulit hitam dapat dihentikan karena perbedaan tersebut.

Tujuan penelitian adalah mengetahui bagaimana tanggapan khalayak tentang rasisme film 12 years a slave.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode reception analysis Stuart Hall.Dimana analisis ini memiliki tiga posisi; dominant hegemonic, negotiated dan oppositional yang peneliti gunakan untuk klasifikasi atas penemuan-penemuan tentang penerimaan khalayak terhadap rasisme dalam film tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dan lingkungan mempengaruhi tanggapan atas rasisme dalam film 12 years a slave. Informan HMJ Antropologi menyikapi rasisme dalam film 12 years a slave dari perspektif budaya dan sejarah. Sedangkan informan dari komunitas film “Yuk Nonton” melihat rasisme dalam film cenderung dari teknis produksi pembuatan film dan sinematografi.

(14)

ABSTRACT

Universitas Muhammadiya Yogyakarta Faculty of social and political science Communication Science Department Broadcasting consentration

Dita Ami Raditie (20110530017)

The Audiens Acceptance of Racism Issue in Hollywood Film ( 12 Years a Slave Analysis Reception of a film enthusiast community ‘Yuk Nonton and HMJ Antropologi UGM’

Years of Thesis: 2016 + 108 Pages

Bibliography : 30 book + 11 internet source journal

12 Years a Slave is one of film which explained about racism toward race black community in America. Director want to convey that the difference race black should be terminated.

The research look for what are the audiences’ perceptions toward racism in 12 years a slave. This is qualitative research using reception analysis method by Stuart Hall. The analysis has three potitions; dominant, hegemonic, negotiated and oppositional. It is used to clasified the audiences’ perceptions about racism in this film.

The result of research showed the educational and society background influence the perceptions toward racism in 12 years a slave. HMJ Antropology as the informan saw the racism in 2 years a slave from the perspective of culture and history. In other hand, from film community “Yuk Nonton” saw the racism in this film from technical of film production and sinematografi

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Isu rasial merupakan hal yang tidak pernah habis dibicarakan.Ras

merupakan konsepsi sosial yang timbul dari usaha untuk mengelompokkan

orang ke dalam kelompok-kelompok berbeda (Samovar dkk,

2010:187).Pembedaan tampilan fisik tersebut menyebabkan ras yang cenderung

menimbulkan penilaian stereotipe.Dari stereotipe inilah individu menganggap

bahwa ras mereka lebih unggul.Hal ini memicu lahirnya faham rasisme.Di masa

lalu rasisme merujuk pada suatu kepercayaan atau doktrin yang menyatakan

bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan

pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan

memiliki hak untuk mengatur lainnya. Pandangan tentang superioritas inilah

yang memungkinkan seseorang untuk memperlakukan kelompok lain secara

buruk berdasarkan ras dan warna kulit (Samovar dkk, 2010:212).

Rasisme menunjuk pada satu karakteristik fisik, terutama warna kulit yaitu

antara kulit hitam dan kulit putih yang membedakan satu kelompok manusia

dengan yang lain. Pembedaan ini yang menyeret manusia berada dalam konflik

ketidakadilan dan penindasan.Sehingga rasis mengandung suatu keyakinan

bahwa satu kelompok ras ditakdirkan lebih unggul daripada kelompok ras lain

(Ballasuriya, 2004:50). Rasisme di Amerika Serikat sebagai ideologi tentang

martabat rendah golongan kulit hitam yang bersifat bawaan, muncul ke

(16)

pada tahun 1830-an sebagai tanggapan atas tuntutan-tuntutan radikal akan

emansipasi di masa ketika pemerintahan federal bertekad melindungi

perbudakan (Fredrickson, 106-107).

Hingga kini praktik rasisme masih terjadi di Amerika.Pemerintahan Barack

Obama rasisme di Amerika Serikat bukannya hilang, malah justru semakin

mendalam. Dua kasus rasisme yang ramai dibicarakan publik Amerika tahun

2014 Seperti yang telah diberitakan oleh Tempo, Ahad dinihari, 17 Agustus

2014 tujuh orang ditangkap polisi dalam kerusuhan rasisme yang meletup di

Ferguson, Missouri, Amerika Serikat. Kericuhan dipicu dari tewasnya seorang

remaja kulit hitam berusia 18 tahun, Michael Brownkarena ditembak oleh polisi

kulit putih

(http://dunia.tempo.co/read/news/2014/08/17/116600294/Amerika-Diguncang-Kerusuhan-Berbau-Rasis Akses tanggal 24 Maret 2015 jam 0.34

WIB). Selain itu kasus rasis lain yang diberitakan oleh Republika, tewasnya Eric

Garner ketika hendak ditahan oleh petugas polisi Garner ditangkap karena

dituduh menjual rokok ilegal di daerah taten Island. Garner tewas akibat

kehabisan nafas pasca dipiting polisi kulit putih Daniel Pantaleo di New York

(http://www.republika.co.id/berita/koran/internasionalkoran/14/12/15/ngm3g72

5-kecam-rasisme-warga-as-berdemoAkses tanggal 24 Maret 2015 jam 01.00

WIB ).

Praktik rasisme juga terjadi di Indonesia yaitu kasus yang terjadi pada Alex

Pulalo ketika dilempar kulit pisang atau diteriaki suara seperti monyet ketika

(17)

25-28 Maret 2007. Atau pengalaman Bambang Pamungkas ketika melihat para

pemain Papua seperti Rony Wabia, Elly Eiboy, Ortizan Sallosa, Erol Iba sampai

Boaz Sallosa begitu dielu-elukan ketika membela tim nasional tetapi banyak

mengalami praktik rasis oleh para pendukung di Indonesia begitu pemain

tersebut membela klub lawan dari klub kesayangan mereka. Hal ini

memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih menganggap dan berpikir

bahwa budaya dan ras orang Papua masih primitif dan terbelakang (Sukmono

dan Junaedi, 2014:58).

Isu rasisme bisa disebut sebagai isu besar yang telah diangkat oleh

media.Fenomena rasis sebenarnya sudah ada jauh hari sebelum istilah rasisme

digunakan, dan pengertian yang ada tidak melebihi daripada sejenis prasangka

kelompok yang didasarkan pada kebudayaan, agama, atau ranah kekerabatan

dan kekeluargaan.Puncak sejarah rasisme terjadi pada abad kedua puluhan di

dalam kebangkitan dan keruntuhan dari rezim-rezim rasis terang-terangan.Di

Amerika bagian selatan muncul usaha untuk menjamin “kemurnian ras” dengan

meramalkan beberapa aspek penyiksaan resmi oleh Nazi atas orang-orang

Yahudi pada tahun 1930-an (Frederickson, 2005:4).Hollywood sebagai pusat

perkembangan film di seluruh dunia tidak jarang memberikan gambaran

rasisme. Salah satu film besutan Hollywood yang mengangkat isu rasisme

adalah film 12 Years a Slave. Film 12 Years a Slave adalah film berlatar drama

sejarah Amerika Serikat. Film 12 Years a Slave merupakan adaptasi dari buku

yang berjudul sama karya Solomon Northup yang terbit tahun 1853. Film 12

(18)

Dalam film 12 Years a Slave rasisme digambarkan Solomon Northup

sebagai seorang negro dia kelahiran New York yang diculik di Washington DC

pada tahun 1841 dan dijual sebagai budak. Solomon Northup adalah seorang

yang berketurunan afro-america yang bebas dan hidup tenang di kota New York

bersama istri dan kedua anaknya. Sampai suatu saat dia menjadi korban

penculikan dan identitasnya dipalsukan menjadi Platt, budak yang kabur dari

Georgia.Selama 12 tahun Solomon harus mengabdi kepada 2 orang majikan

yang berbeda.Yang pertama majikan yang baik hati bernama William Ford yang

menghargai bakat milik Solomon serta memperlakukan para budak selayaknya

manusia.Namun dikarenakan satu masalah yang disebabkan oleh anak buah

Ford, Tibetas, mau tidak mau Ford harus memberikan Solomon demi

keselamatannya kepada majikan baru yang kejam dan tidak

berprikemanusiaan.Selama menjadi budak, Solomon harus berpura-pura tidak

bisa menulis dan membaca ini demi keselamatan dirinya.

Warga kulit hitam dikonstruksi lebih sebagai objek ketimbang subyek

sejarah.Tak mampu berpikir atau bertindak untuk mereka sendiri, warga kulit

berwarna tidak dianggap mampu mengerjakan aktivitas atau mengendalikan

nasib mereka sendiri.Pada gilirannya, sebagai objek dan makhluk asing yang

berasal dari bumi lain, warga kulit hitam menimbulkan beberapa masalah bagi

warga kulit putih, misalnya sebagai tampilan kebudayaan asing yang

mengkontaminasi atau sebagai pelaku kejahatan (Barker, 2000:219).

Pemaparan diatas yang menampilkan kasus rasisme menunjukan bahwa

(19)

orang tertentu, maka kita mempunyai sikap tertentu terhadap objek tersebut.

Film 12 a Years Slave memberikan persepsi yang berbeda-beda berdasarkan

interpretasi penontonnya. Berdasarkan pentingnya pemaknaan dalam sebuah

pesan media, maka penelitian ini berfokus pada khalayak.Studi khalayak

menempatkan pengalaman khalayak sendiri sebagai pusat penelitian.Dengan

demikian dapat dilihat secara jelas bagaimana pesan dari media diterima oleh

khalayak dan bagaimana hal tersebut dipahami terkait dampak, pengaruh dan

efek dari media tersebut.Saat khalayak menerima dan memaknai sebuah pesan,

khalayak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti dari latar belakang baik itu

dari tingkat pendidikan, lingkungan sosial budaya, dan pekerjaan dari khalayak

itu sendiri. Penelitian khalayak juga memungkinkan kita meneliti apa yang

diperoleh orang-orang dari media, apa yang mereka sukai dan apa yang mereka

tidak sukai (Stokes, 2003:148).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis resepsi. Berbeda

dengan teori media lain yang melemahkan penonton, dalam analisis resepsi,

khalayak penonton berperan aktif dalam penyampaian pesan yang dilakukan

oleh media sesuai dengan latar belakang mereka. Proses komunikasi yang

sederhana antara media dan penonton dianggap sebagai sebuah proses linear,

yang bersumber dari pesan yang dikirimkan oleh media sebagai pengirim

(sender)dan berakhir dengan penerimaan pesan oleh penonton sebagai penerima

(receiver). Model komunikasi sederhana tersebut merupakan hal yang sangat

penting karena terkait dengan proses timbal balik suatu pesan yang disampaikan

(20)

mengetahui bagaimana tanggapan dan apa yang dikehendaki oleh si penonton

(receiver) (Stokes, 2003:147).

Pada teori Stuart hall yakni Reception Theory mengatakan bahwa makna

yang dimaksud dan diartikan dalam sebuah pesan bisa terdapat perbedaan.Kode

yang digunakan atau yang disandi (encode) dan yang tidak disandi (decode)

tidak selamanya berbentuk simetris. Yang dimaksud simetris dalam teori ini

adalah perbandingan pemahaman dan kesalahpahaman dalam pertukaran pesan

pada proses komunikasi tergantung dengan hasil yang terbentuk antara encoder

dan decoder.Encoder dan decoder disini diposisikan sebagai penerima dan

pengirim pesan. Ketika khalayak memaknai sebuah pesan dalam suatu

komunikasi (decoding), maka terdapat tiga kategorisasi audiens yang telah

melaluiencode dan decode dalam sebuah pesan, yaitu: (1) Dominant-Hegemonic

Position, (2) Negotiated Position, (3) Oppositional Position (Hall, 2003:15).

Dalam penelitian ini, peneliti memilih informan di komunitas film dan

bukan komunitas film yang telah menonton film 12 Years a Slave karena

diharapkan lebih mengetahui bentuk rasisme dari film 12 Years a Slave. Peneliti

memilih dari komunitas film ‘Yuk Nonton’ karena objek yang diteliti film, tentu

filmaker punya persepsi sendiri dengan orang yang hanya menonton atau

menikmati. Dan memilih bukan komunitas film ‘HMJ Antropologi’ karena

peneliti mengambil tema tentang rasisme dan anak antropologi belajar tentang

budaya dan ras-ras sehingga peneliti mengambil sasaran anak antropologi.

Penonton sebagai khalayak aktif tentu bertindak juga sebagai penghasil

(21)

film tersebut.Apakah khalayak tersebut dominan reading, negosiasi atau oposisi.

Dalam hal ini analisis resepsi digunakan untuk mengetahui pemaknaan yang di

dapat dari penonton film 12 Years a Slave. Dalam penelitian ini, peneliti ingin

mengetahui penerimaan khalayak tentang rasisme di komunitas film ‘Yuk

Nonton’ dan bukan komunitas film ‘HMJ Antropologi’ pada film 12 Years a

Slave. Bagaimana ‘Yuk Nonton’ sebagai filmaker memaknai pesan rasisme yang

ditampilkan dalam film 12 Years a Slave dan begitu juga ‘HMJ Antropologi’

yang lebih mengerti dengan budaya dan ras-ras dalam memaknai rasisme yang

ditampilkan film 12 Years a Slave, sehingga akan terlihat perbedaan dalam

menyimpulkan pesan dan juga tidak terjadi pemaknaan yang menyimpang

terhadap film 12 Years a Slave.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang, maka rumusan masalah dari

peneliti ini adalah “Bagaimana pemaknaan khalayak terhadap film 12 Years a

Slave yang menampilkanrasisme?

C.Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadap film rasisme

di Hollywood.

(22)

Penulis berharap hasil dari penelitian ini memberikan membantu

pengembangan ilmu komunikasi, khususnya bidang analisis resepsi dan

rasisme.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu bentuk pemahaman bagi

masyarakat mengenai analisis resepsi masyarakat terhadap teks media

dikontruksi melalui nilai dan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya

sebagai audiens media.

E.Kerangka Teori

1. Mayoritas dan Minoritas

Media sering kali menampilkan penindasan terhadap individu tertentu

yang tergolong dalam kelompok minoritas, hal ini akibat dari dalam

kelompok tersebut mayoritas lebih merasa berkuasa dari kelompok ataupun

individu yang tergolong minoritas.Penindasan terhadap hak individu atau

masyarakat minoritas oleh kelompok mayoritas, yang berupa pelecehan,

ancaman, penghambatan beraktifitas, pengrusakan, sampai pembinasaan

fasilitas maupun individu atau masyarakat yang berbeda kepercayaan tersebut

(Lim, 2001:39-40).Berikut teorinya, kelompok massa apa pun, jika menjadi

mayoritas, cenderung menindas kelompok lainnya yang minoritas, satu dan

lain hal disebabkan karena faktor arogansi dan keinginan untuk terus berkuasa

dan mengambil keuntungan dari statusnya tersebut. Hal ini berakibat kaum

minoritas menjadi terkesampingkan dengan berkuasanya kaum mayoritas dan

(23)

Identitas mayoritas dikembangkan dengan dimulainya gejala yang tak

disadari dalam membuat kategori ras, di mana mayoritas menuntut agar

privileges mereka diterima sehingga menciptakan sebuah masyarakat rasial.

Dalam kelompok mayoritas kebanyakan kaum muda sejak awal sudah

diperkenalkan dengan isu-isu seperti ras, lalu membandingkannya dengan

kaum minoritas, dan kejadian ini dianggap Kultural normal.Minoritas adalah

suatu kelompok yang diperlakukan tidak seimbang dari kelompok dominan

dalam suatu organisasi secara fisik maupun kultural, sehingga perlakuan

diskriminasi sering diberikan kepada mereka.Rasisme yang terjadi tidak jauh

dari konsep adanya mayoritas dan minoritas.Hal ini dalam percakapan

sehari-hari selalu dihubungkan dengan mayoritas dan minoritas agama, etnik dan

ras. Gagasan mayoritas dan minoritas tersebut secara tidak langsung

sebenarnya turut memperkuat ideology white privileges yang memberikan

status lebih tinggi kepada “orang kulit putih” agar orang kulit putih tidak

kehilangan muka (Liliweri, 2005:99-112).

Makna minoritas telah tertanam di mindset setiap individu sebagai

kelompok yang relatif kurang berpengaruh/berkuasa, selalu dipandang

negatif, diperlakukan secara tidak adil. Istilah minoritas menggambarkan

istilah yang berbeda dengan kelompok mayoritas yang sangat dominan,

karena mayoritas menguasai sumber daya sehingga selalu menguasai,

mempunyai martabat yang lebih tinggi daripada orang lain. Oleh karena itu

kelompok mayoritas dalam stratifikasi selalu lebih tinggi dari pada kelompok

(24)

Mengenai minoritas dan mayoritas, kelompok mayoritas atau kelompok

dominan dalam suatu masyarakat merupakan kelompok yang merasa

memiliki kontrol atau kekuasaan untuk mengontrol.Mereka merupakan

sumber daya kekuasaan setting institusi yang berbeda-beda.Setting

institusional cenderung lebih penting karena hal tersebut dapat

mempengaruhi masyarakat, termasuk penyelenggaran pemerintahan, agama,

pendidikan dan pekerjaan (ekonomi). Sebaliknya, kelompok minoritas

kurang mempunyai akses terhadap sumber daya, privileges kurang atau

bahkan tidak berpeluang mendapat kekuasaan seperti mayoritas. Inilah

ketidakseimbangan kekuasaan dan hal ini yang dapat mendorong prasangka

antara mayoritas dan minoritas (Liliweri, 2005:110).

Perbedaan pandangan antara mayoritas dan minoritas berada dalam

kepercayaan diri kelompok mayoritas untuk menyuarakan pendapatnya,

mereka akan menunjukkan keyakinan dengan memakai kancing, memasang

stiker mobil, dan mecetak pendapat mereka pada pakaian yang mereka

kenakan. Pemegang pendapat minoritas biasanya lebih berhati-hati dan diam,

yang memperkuat persepsi public mengenai kelemahan mereka

(Noelle-Neumann dalam Richard West dan Lynn H. Turner, 2008:121).

Dalam media, kelompok minoritas dikonstruksikan menjadi kelompok

yang selalu berada di bawah mayoritas. Kemampuan mediadalam

mengkonstruksi realitas merupakan cara mempengaruhi kita memandang apa

yang terjadi di sekitar kita. Media dalam hal ini televisi, juga mampu

(25)

disuguhkan ke ruang-ruang pemirsanya.Lewat acara yang ditayangkan,

televisi memberikan suatu ruang-ruang konstruksi ke kehidupan

pemirsa.Tayangan dalam media televisi mengkontruksi realitas kepada

pemirsanya lewat teks yang bersifat persuasif dengan membangun ideologi

tertentu. Media televisi saat ini telah mengkontruksikan kelompok minoritas

sebagai kelompok yang tidak pantas untuk mengeluarkan pendapat,

kelompok yang terpinggirkan, kelompok yang bergantung kepada kelompok

mayoritas, oleh karena itu munculah media lain untuk merubah kontruksi

kelompok minoritas ke khalayak dengan mengangkat tema minoritas ke

dalam sebuah cerita dalam film, film juga merupakan sebuah media yang

sangat efektif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak dengan

cerita-cerita yang dikemas dengan gambar dan suara yang menarik.

2. Rasisme Dalam Media

Rasisme mempunyai banyak pengertian, dimulai dari konsep pembedaan

yang berdasarkan hanya pada ciri fisik dan biologis semata, hingga

pembedaan yang dilandaskan pada konsep seperti gender, agama dan

orientasi seksual dan seterusnya. Rasisme melahirkan sebuah pandangan

seseorang yang mendoktrin bahwa “kita” berbeda dengan “mereka” dan

menghasilkan atas pandangan tersebut (Frederickson, 2005:11).

Konsep ras menurut Barker (Sukmono, 2014:47) melahirkan jejak

asal-usul dalam diskursus biologis Darwinisme sosial yang menitikberatkan

adanya ‘garis keturunan’ dan ‘jenis-jenis manusia’. Disini ras mengacu pada

(26)

adalah pigmentasi kulit. Bagi suatu kelompok yang tinggal di suatu tempat

yang memperoleh paparan sinar matahari lebih banyak, akan berpengaruh

pada warna kulit mereka yang berganti menjadi lebih gelap. Sebaliknya, bagi

suatu keompok yang tinggal di suatu tempat yang mendapatkan paparan sinar

matahari sedikit, kulit mereka cenderung akan lebih terang. Hal ini

diakibatkan karena semakin banyaknya sentuhan matahari ke dalam kulit

akan menambah banyaknya melanin pada kulit, yang berpengaruh pula pada

semakin gelap/terangnya kulit. Mengenai penjabaran diatas dapat

disimpulkan bahwa ras adalah suatu pengertian biologis, bukan pengertian

sosiokultural.

Rasisme merupakan konsep cair dan tampil dalam bentuk yang

berbeda-beda sepanjang waktu.Istilah rasisme pertama kali digunakan secara umum

pada tahun 1930an ketika istilah baru diperlukan untuk menggambarkan

teori-teori oleh Nazi dijadikan dasar bagi penganiayaan yang mereka lakukan

terhadap orang-orang Yahudi (Frederickson, 2005:8).Dari situlah rasisme

mempunyai dua konsepsi yaitu perbedaan dan kekuasaan.Rasisme berasal

dari suatu sikap yang memandang “mereka” berbeda dengan “Kita” secara

permanen dan tak terjembatani yang menimbulkan diskriminasi sosial yang

tak resmi namun menyebar luas.Seperti genosida, pemberlakuan segregasi,

penaklukan kolonial, pengucilan, deportasi paksa atau pembasmian etnis

serta perbudakan. Didalam segenap rasisme dari yang paling lunak hingga

keras, yang ditolak kemungkinan bahwa perilaku rasialisme dan sasaran

(27)

berdasarkan dominasi dan subordinasi. Yang ditolak juga adalah gagasan

apapun bahwa individu dapat melenyapkan perbedaan etnorasial dengan

mengubah identitas mereka (Frederickson, 2005: 13-14).

Rasisme terus diperlakukan sebagai isu tiadanya suatu kebebasan pada

level personal ketimbang sebagai sesuatu ketimpangan terstruktur, sementara

itu perhatian yang cukup memadai diberikan secara spesifik kepada

kebudayaan kulit hitam. Gray menyampaikan satu hal penting bahwa apa

yang dipandang sebagai representasi ‘positif’ warga Amerika keturunan

Afrika tidak selalu berfungsi secara positif, khususnya bila dihadapkan pada

gambaran lain tentang warga kulit hitam dalam konteks identitas ras yang

lebih luas lagi.Kendati program ini mengandung acuan bagi yang disebut oleh

para presenter televisi itu semua berfungsi untuk mengalihkan

pengkambinghitaman berupa ‘keluarga kulit hitam yang kuat dan sukses di

Amerika’ dari karakter struktural dan sistematis ketimpangan rasial di

Amerika dan mengarahkan kesalahan kepada kelemahan yang dianggap

melekat pada diri individu secara kecacatan moral warga miskin kulit hitam

(Barker, 2000:225).

Para pakar ahli meyakini adanya suatu praktik diskriminasi yang

dilakukan para pelaku industri film sebagai senjata untuk mengeksploitasi

para kulit hitam sebagai ras yang berlevel selalu terendah di film, terkadang

bisa ditampilkan secara seakan-akan halus dan kasar (Hall Dines & Humez,

2003:91).Praktik rasisme yang terjadi bisa dipandang sebagai suatu isu

(28)

media.Perkembangan media yang pesat memiliki andil yang besar dalam

menyebarluaskan isu rasisme. Praktik rasisme yang terjadi di suatu daerah

tidak akan diketahui kalau tidak ada peran media, karena isu tersebut hanya

beredar di lingkungan dimana praktik rasisme itu terjadi. Berbeda apabila

suatu daerah yang memiliki masalah mengenai praktik rasisme yang diangkat

oleh media.Dikarenakan perkembangan media yang begitu cepat, hal itu

menyebabkan masalah praktik rasisme yang terjadi di daerah tersebut dapat

dengan cepat beredar.Jadi dalam hal ini media sangat berperan dalam

menyebarluaskan isu rasisme.

Sebagai contoh, praktik rasisme yang ada dalam media adalah adanya

beberapa isu rasisme yang diangkat dan beberapa isu rasisme yang

ditampilkan dalam film. Film seperti 12 Years a Slave memperlakukan kulit

gelap sebagai budak mereka dan dihukum dengan kekerasan fisik seperti

cambukan dan tamparan.Dalam contoh film tersebut ditampilkan bagaimana

kulit putih memperlakukan kulit gelap dengan cara yang tidak manusiawi.

Kulit putih yang selalu jadi superior dan kulit hitam yang menjadi inferior.

3. Studi Khalayak

Studi penerimaan khalayak tidak lagi memfokuskan khalayak sebagai

penentu media yang mereka konsumsi. Khalayak adalah partisipan aktif

dalam membangun menginterpretasikan makna atas apa yang mereka baca,

dengar dan lihat sesuai konteks budaya. Isi media dipahami sebagai bagian

dari sebuah proses dimana common sense dikonstruksi melalui pembacaan

(29)

bukanlah fitur transparan, tetapi produk interpretasi oleh pembaca dan

penonton (Street, 2001:95-97).

Pada studi khalayak sendiri, menempatkan pengalaman khalayak sebagai

pusat dari penelitian.Media dengan berbagai kontennya membawa

pesan-pesan tertentu, hal inilah yang kemudian membawa dampak bagi para

audiensnya baik tingkat kognisi maupun pada tingkat audiens. Meneliti

khalayak untuk media dan budaya menjadi salah satu cara untuk melihat

bagaimana sebuah media memiliki dampak, efek, serta pengaruh bagi para

konsumennya. Selain itu, studi mengenai khalayak ini dapat menunjukkan

apa yang diperoleh khalayak dari media, apa yang disukai maupun yang tidak

disukai dari media dan mengapa hal tersebut terjadi. Pada studi khalayak,

pemaknaan tidak berhenti pada bagaimana sebuah teks dibuat, melainkan

juga bagaimana teks tersebut diinterpertasikan oleh para pembacanya. Oleh

sebab itu, pengalaman dan latar belakang dari para pembaca sangat penting

dan sangat berpengaruh dalam studi khalayak (Stokes, 2003:131).

Peneliti lebih berfokus pada penerimaan masyarakat atau reception

audience.Hal ini juga dibenarkan oleh Chris Barker dalam bukunya cultural

studies (2000:273), mengatakan bahwa kendati kita berkonsentrasi kepada

berbagai bentuk analisis tekstual yang terfokus pada posisi subjek yang

ditawarkan oleh pembaca, suatu cakupan baru studi-studi resepsi (reception

studies) memberikan tekanan kepada audien aktif, yaitu dengan cara

penonton mengonstruksi, menegosiasikan dan menampilkan aneka ragam

(30)

Pendekatan Reception Studies ini bertujuan untuk untuk analisis tekstual

yang difokuskan pada ruang lingkup untuk negosiasi dan penolakan dari

penonton.Ini berarti sebuah teks baik itu buku, film atau karya kreatif lainnya

tidak hanya pasif diterima oleh penonton, tetapi pembaca atau pemirsa dapat

menafsirkan makna teks berdasarkan budaya latar belakang dan pengalaman

hidup masing-masing individu.Pada dasarnya makna teks tidak melekat

dalam teks itu sendiri, tetapi dibuat dalam hubungan antara teks dan

audiens.Polemik mengenai tipologi khalayak pasif berhadapan dengan

khalayak aktif.Pandangan khalayak pasif memahami bahwa masyarakat

dapat dengan mudah dipengaruhi oleh arus langsung dengan media,

sedangkan khalayak aktif menyatakan bahwa khalayak memiliki keputusan

aktif tentang bagaimana menggunakan media (Junaedi, 2007:81).

Terdapat beberapa tipologi dari khalayak aktif yang diungkapkan Biocca

(dalam Junaedi, 2007:82), yaitu:

“Pertama adalah selektifitas, dimana khalayak aktif dianggap selektif

dalam konsumsi media yang mereka pilih untuk digunakan.Mereka tidak sembarang dalam mengkonsumsi media, namun didasari alasan dan tujuan tertentu.Kedua adalah utilitarianisme dimana khalayak aktif dikatakan mengkonsumsi media dalam rangka suatu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki.Karakteristik ketiga adalah intensionalitas yang mengandung makna penggunaan secara sengaja dari isi media.Keempat adalah keikutsertaan atau usaha maksudnya khalayak secara aktif berfikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsi media.Dan karakter yang terakhir yaitu khalayak atif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalam menghadapi pengaruh media atau tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri.”

Dalam proses decoding khalayak bebas memaknai ideologi yang

(31)

yang terjadi apabila khalayak tidak mengetahui istilah-istilah yang

digunakan. Menurut Stuart Hall, khalayak melakukan decoding terhadap

pesan media melalui 3 kemungkinan posisi yaitu (Hall, 2003:15):

a. Posisi hegemoni dominan

Situasi dimana khalayak menerima pesan yang disampaikan oleh

media.Ini adalah situasi dimana media menyampaikan pesannya dengan

menggunakan kode budaya dominan dalam masyarakat. Dengan kata lain,

baik media dan khalayak sama-sama menggunakan budaya dominan yang

berlaku. Media harus memastikan bahwa pesan yang diproduksinya harus

sesuai dengan budaya dominan yang ada dalam masyarakat.

b. Posisi negosiasi

Posisi dimana khalayak secara umum menerima ideologi dominan

namun menolak penerapannya dalam kasus-kasus tertentu sebagaimana

dikemukakan Stuart Hall:

“The audience assimilates the leading ideology in general but opposes its application in spesific case”

Dalam hal ini khalayak bersedia menerima ideologi dominan yang

bersifat umum, namun mereka akan melakukan beberapa pengecualian

dalam penerapannya yang disesuaikan dengan aturan budaya setempat.

c. Posisi Oposisi

Khalayak dalam melakukan decoding terhadap pesan media adalah

(32)

mengganti atau mengubah pesan atau kode yang disampaikan media

dengan pesan atau kode alternatif. Audiensi menolak makna pesan yang

dimaksudkan atau disukai media dan menggantikannya dengan cara

berpikir mereka sendiri terhadap topik yang disampaikan media.

Stuart Hall menerima fakta bahwa media membingkai pesan dengan

maksud tersembunyi yaitu untuk membujuk, namun demikian khalayak

juga memiliki kemampuan untuk menghindari diri dari kemungkinan

tertelan oleh ideologi dominan.Namun demikian sering kali pesan bujukan

yang diterima khalayak bersifat sangat halus.Para ahli teori studi kultural

tidak berpandangan khalayak mudah dibohongi media, namun sering kali

khalayak tidak mengetahui bahwa mereka telah terpengaruh dan menjadi

bagian dari ideologi dominan (Morrisan, 2013: 550-551).

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Penelitian kualitatif

merupakan penelitian yang berhubungan dengan makna dan penafsiran.

Pendekatan-pendekatan penafsiran diturunkan dari kajian-kajian sastra dan

hermeneutika, dan berkepentingan dengan evaluasi kritis terhadap teks-teks

(Stokes, 2003:xi). Penelitian ini menggunakan pendekatan reception

analysis, dimana penelitian ini memfokuskan pada kajian khalayak media.

Menurut McQuail (2010), Pendekatan reception analysis melihat konstruksi

(33)

bersifat terbuka dimana memiliki banyak makna dan diinterpretasikan oleh

khalayak berdasarkan konteks dan budaya khalayak.

Pada penelitian tentang khalayak penonton film 12 Years a Slave pada

komunitas film dan bukan komunitas film di Yogyakarta mengenai rasisme.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif karena penulis ingin melihat

bagaiman pemaknaan dari penonton film 12 years a Slave secara lebih

mendalam dengan pemikiran dari penonton masing-masing. Pada dasarnya

proses umpan balik terhadap penerimaan pesan adalah komunikasi yang

pelakunya sama, hanya posisi berbeda. Penerima pesan akan bertindak

sebagai pengirim pesan atau sebaliknya dan pengirim pesan juga bertindak

sebagai penerima respons (Hall dalam Stevenson, 2002:78).

Seorang informan yang ideal harus mempunyai ketentuan-ketentuan

yaitu, informan memahami objek penelitian dengan baik, informan memiliki

waktu yang luang dan bersedia memberikan informasi kepada penliti dalam

melakukan penelitian. Purposive sampling akan digunakan didalam

penelitian ini karena teknik tersebut mencangkup orang-orang yang diseleksi

atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat oleh peneliti berdasarkan

tujuan penelitian (Kriyantono, 2008:156). Dalam penelitian ini informasi dan

data-data diperoleh dari informan yang telah menonton film 12 years a Slave,

peneliti mengambil 6 orang informan untuk menanggapi pesan dalam film 12

years a Slave, 3 orang informan dari komunitas film ‘yuk nonton’ dan 3 orang

dari bukan komunitas film atau HMJ Antropologi UGM.

(34)

Peneliti mengambil informan dari komunitas film ‘Yuk Nonton’ karena

di Yogyakarta komunitas film ‘Yuk Nonton’ yang masih aktif dan sering

melakukan screening film, dengan alasan tersebut diharapkan informan dari

‘Yuk Nonton’ dapat membantu peneliti dalam memaknai isu rasisme dalam

film. Dalam penelitian ini, peneliti juga mengambil informan dari non

komunitas film yaitu HMJ Antropologi UGM karena diharapkan mahasiswa

tersebut mengetahui tentang rasisme dan kajian film.

Peneliti membuat kriteria tertentu untuk syarat-syarat sebagai informan

dalam penelitian ini. Informan yang dipilih harus memenuhi kriteria-kriteria

sebagai berikut:

a. Mengetahui dan menonton film 12 Years a Slave

b. Berstatus Mahasiswa

c. Memiliki pengetahuan tentang kajian film

Syarat pertama peneliti tetapkan dengan alasan agar informan sudah

mengetahui dan paham dengan alur cerita dari film 12 years a slave, sehingga

dapat memahami film 12 years a slave secara lebih mendalam. Syarat kedua,

latar pendidikan berstatus mahasiswa, karena informan yang masih

menyelesaikan studi Strata Satu (S1) nya.Peneliti menetapkan status

mahasiswa setidaknya para informan telah memiliki pengetahuan tentang

film dan ras.Syarat ketiga peneliti tentukan karena informan pada ‘HMJ

Antropologi’ merupakan informan yang memiliki ilmu pengetahuan tentang

ras dan budaya yang kuat dan dapat memberikan tanggapannya mengenai

(35)

adalah filmmaker.Filmmaker yang mempunyai pemikiran idealis agar pesan

dalam film bisa tersampaikan oleh khalayak. Klasifikasiinforman tersebut

untuk melihat bagaimana relasi antara komunitas film dan bukan komunitas

film dengan pandangan mereka yang berbeda. Selain itu khalayak sebagai

informan sudah menonton dan mengetahui alur cerita film 12 Years a Slave

sehingga informan dapat memahami pesan yang ada dalam film tesebut. Latar

belakang mereka yang sebagai filmmaker dan informan lainnya yang hanya

sebagai penonton saja sehingga informan yang dipilih adalah heterogen yang

memliki latar belakang yang berbeda.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam menghasilkan data yang mendekati keakuratan maka teknik

dalam mengumpulkan data di penelitian adalah:

a. Focus Group Discussion (FGD)

FGD merupakan diskusi langsung mengenai topik yang akan dibahas

yang berkaitan dengan penelitian yang telah peneliti pilih (diskusi terarah),

menyesuaikan dengan beberapa kriteria penelitian. FGD dapat

menyelesaikan masalah, artinya diskusi yang dilakukan dalam FGD

ditujukan untuk mencapai suatu kesepakatan tertentu menganai suatu

permasalahan yang dihadapi oleh para peserta (Irwanto, 2006:3). Dengan

melakukan FGD penelitian akan memperoleh data serta informasi secara

(36)

belakang jawaban mereka serta bertanya tentang opini mereka terhadap

teks media tertentu.

1) Wawancara mendalam (in-depth interview)

Wawancara adalah percakapan antara peneliti sebagai seorang

yang menginginkan informasi sesuai dengan subjek penelitian dan

seorang informan sebagai seorang yang diasumsikan memiliki

informasi atau keterkaitan dengan subjek atau hal-hal yang terkait

dalam penelitian.Sehingga secara umum, wawancara mendalam adalah

teknik pengumpulandata yang mengutamakan pada wawancara secara

mendalam dengan informan dalam riset.

Wawancara secara garis besar dibagai menjadi dua, yaitu

wawancara tak tersturuktur dan wawancara tersturuktur. Wawancara

tak terstruktur sering juga disebut dengan wawancara mendalam

(in-depth interview), sedangkan wawancara terstruktur disebut juga dengan

wawancara baku. Wawancara tidak terstruktur atau wawancara

mendalam mirip dengan percakapan informal.Metode ini bertujuan

untuk memperoleh bentuk-bentuk informasi dari semua responden,

tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri

responden. Wawancara mendalam bersifat luwes, susunan

pertanyaannya dan susunan kata dalam setiap pertanyaan dapat diubah

pada saat wawancara, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pada

(37)

Keunggulan teknik ini adalah dapat menghasilkan data yang lebih

akurat karena informan telah melalui tahap seleksi sesuai dengan

ketentuan didalam penelitian ini.Selain itu melalui teknik ini, dapat

diperoleh data yang lebih lengkap dan spesifik terkait dengan opini

serta argumentasi yang dipaparkan oleh informan.Kemudian, peneliti

dapat membaca perilaku non-verbal melalui gerak-gerik dan bahasa

dari informan terkait dengan subjek pada penelitian ini.

2) Studi Pustaka

Teknik pengumpulan data ini didapat dari sumber tertulis yang

terdapat pada buku, jurnal, laporan penelitian dan sebagainya yang

berhubungan dan membantu dalam proses penelitian.

b. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, dimana dalam

penelitian kualitatif akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari orang-orang yang menjadi responden dari penelitian

ini. Analisa data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan

data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat

dirumuskan (Moleong, 2001:103).

Encoding Meaning structures 1

decoding meaning structure 2

Frameworks ofknowledge Relations of production Technical infrastructure

Frameworks ofknowledge Relations of production Technical infrastructure Programme as

(38)

Gambar 1.1 Teknik Analisis Data

Proses encoding-decoding yang akan digunakan dalam penelitian ini

menggunakan teori Stuart Hall. Peneliti akan menganalisis bagaimana

produser sebagai encoding menciptakan suatu makna pada film ini melalui

kerangka berpikirnya, hubungan terhadap produksi dan infrastruktur

teknis. Setelah itu bagaimana informan memahami dan memaknai teks

tersebut melalui struktur yang sama dengan produser.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah reception

analysis dimana penelitian dilakukan dengan subjek manusia, yang berarti

bentuk penelitian yang menggunakan orang-orang sebagai sasaran sebuah

proyekpenelitian.Analisis resepsi merupakan studi yang mendalam

terhadap proses aktual melalui wacana dalam media yang diasimilasikan

kedalam wacana dan pratik-praktik budaya khalayak (Stokes,

2003:155).Penonton akan menafsirkan apa yang mereka tangkap dari

sebuah teks/tontonan. Khalayak dalam hal ini akan menjadi pencipta aktif

makna dari sebuah tayangan. Reception analysis adalah metode yang

merujuk pada sebuah komparasi antara analisis tekstual wacana media dan

wacana khalayak, yang hasil interpretasinya merujuk pada konteks, seperti

cultural setting dan context atas isi media lain. Khalayak dilihat sebagai

bagian dari interpretive communitive yang selalu aktif dalam mempersepsi

(39)

pasif yang hanya menerima saja makna yang diproduksi oleh media massa

(Hadi, 2007: 16).

Reception analysis menekankan pada penggunaan media sebagai

refleksi dari konteks sosial budaya dan sebagai proses dari pemberian

makna melalui persepsi khalayak atas pengalaman dan produksi.

Reception analysis merujuk pada sebuah komparasi antara analisis tekstual

wacana media dan wacana khalayak, yang hasil menginterpretasi merujuk

pada konteks, seperti cultural setting dan context atas isi media lain

(Jensen dalam Hadi, 2003:139). Khalayak dilihat sebagai bagian dari

interpretive communitive yang selalu aktif dalam mempersepsi pesan dan

memproduksi makna, tidak hanya sekedar menjadi individu pasif yang

hanya menerima saja makna yang diproduksi oleh media massa (Mc Quail,

1997:19).

Menurut Stuart Hall proses penyampaian pesan (dari pengirim kepada

penerima) maupun pengiriman kembali respon (dari penerima kepada

pengirim) memerlukan dua kegiatan, yaitu:

1) Encoding (fungsi mengirim): proses merancang atau merubah gagasan

secara simbolik menjadi suatu pesan untuk disampaikan kepada

penerima.

2) Decoding (fungsi menerima): proses menguraikan dan mengartikan

simbol sehingga pesan yang diterima menjadikan suatu pemahaman.

Metode encoding dan decoding Stuart Hall mendorong terjadinya

(40)

selama proses resepsi. Makna yang disampaikan oleh khalayak dalam

menerima sebuah pesan merupakan sesuatu yang tidak pasti. Maka Stuart

Hall menurunkan teori encode dan decode menjadi 3 interpretasi yang

digunakan agar makna yang disampaikan lebih spesifik dan lebih terarah,

yaitu dengan Dominant hegemonic merupakan posisi khalyak yang

menyetujui dan menerima langsung apa saja yang disajikan oleh media

dan menerima ideologi yang dari program tayangan tanpa ada penolakan

atau ketidaksetujuan terhadap pesan yang tersampaikan. Yang kedua

adalah Negotiated position merupakan penonton yang mencampurkan

interpretasinya dengan pengalaman-pengalaman sosial tertentu mereka.

Khalayak yang masuk dalam kategori ini bertindak antara adaptif dan

oposis terhadap interpretasi pesan atau ideologi dalam media. Yang ketiga

adalah Oppositional position merupakan posisi khalayak ketika

berlawanan dengan representasi yang ditawarkan dalam tayangan dengan

cara yang berbeda dengan makna yang telah ditawarkan oleh media.

Khalayak menolak secara langsung pesan yang tersampaikan cenderung

tidak bisa diganggu gugat (Hall, 2003:15).

Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan analisis data yang

diperoleh dari keadaan sikap, perilaku, tanggapan serta pandangan

responden dari data yang diperoleh melalui focused group discussion,

in-depth interview serta data-data pustaka lainnya yang mendukung.

Kemudian dari data yang diperoleh dari FGD, wawancara mendalam serta

(41)

kesamaan gagasan untuk dianalisis dan diinterpretasikan yang akan

dikaitkan dengan perumusan masalah dan kajian teori dalam penelitian ini.

G.Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini dimulai dari BAB I yang berisikan latar

belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

kerangka teori dan metode penelitian sebagai langkah dasar peneliti melakukan

penelitian.

Selanjutnya BAB II berisi gambaran umum atau profil dari komunitas film

dan bukan komunitas film dan juga sekilas tentang film 12 Years a Slave serta

pada bab dua ini menulis penelitian sebelumnya.

BAB III akan berisi pembahasan mengenai hasil penelitian dari data yang

sudah didapat dari proses pengolahan data yang selanjutnya akan dianalisis,

bagaimana reception analysis pada komunitas film dan bukan komunitas film

menanggapi tentang film 12 Years a Slave yang dihubungkan dengan 3

kategorisasi Stuart Hall. Pada bab ini semua akan dianalisis oleh peneliti

sehingga dapat diambil kesimpulan.

BAB IV yaitu berisi hasil, kesimpulan beserta saran dari peneliti terhadap

(42)

BAB II

GAMBARAN OBYEK PENELITIAN

A.Penelitian Terdahulu

Pada sub bab ini akan memaparkan beberapa penelitian sebelumnya tentang

film yang bertemakan rasisme untuk menjadi acuan dan penegtahuan tambahan

dalam proses penulisan skripsi. Pertama penelitian yang meneliti rasisme atas

ras bawaan tampak pada penelitian “Etnis Minoritas pada Film” (Konstruksi

Kekerasan Etnis Ambon dalam Film The raid)2014. Penelitian ilmiah karya

Yodi Prananta dari Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas ISIPOL Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta dalam film “etnis minoritas pada film”

memperlihatkan bahwa etnis ambon melakukan kekerasan karena diberi

kekuasaan, setelah merasa memiliki kekuasaan akhirnya mereka berani

mendominasi. Etnis ambon dalam film ini juga mendapatkan hak minoritas

sebagai pengakuan keberadaan dalam kelompok mayoritas.

Penelitian kedua adalah penelitian terdahulu yang mengangkat isu rasisme

yaitu penelitian dari Tea Rahmawati Novia P. Mahasiswa jurusan Ilmu

Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam film “The

Butler”(2014). Tea memperlihatkan bentuk perlakuan rasisme terhadap orang

kulit gelap dalam bidang pekerjaan, pendidikan dan lain-lain, sama halnya dalam

sejarah orang kulit gelap di Amerika Serikat.

Penelitian ketiga yang mengangkat isu rasisme yaitu penelitian dari Putri

(43)

pada awalnya menampilkan orang kulit gelap sebagai sosok Hero.Namun dibalik

itu ternyata orang kulit gelap tetap membutuhkan bantuan dari orang kulit putih.

Penelitian keempat yang mengangkat isu rasisme yaitu penelitian dari Dwi

Fitriana mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta dalam film ‘Crash’ (2008). Kesimpulan dari penelitian ini rasisme

terjadi dari adanya stereotip, prasangka, dan diskriminasi yang menimbulkan

kekerasan rasial.

Pada penelitian-penelitian semua peneiliti melakukan pengkajian terhadap

symbol atau makna rasisme yang terkandung dalam film.Sedangkan dalam

penelitian ini, peneliti melakukan pengkajian terhadap film yang mengangkat

tema rasisme dalam film 12 years a slave.Perbedaan dengan film lainnya ialah

peneliti mengkaji tentang bagaimana penerimaan khalayak terhadap pesan yang

ada pada film ini.

B.Sejarah rasisme dan praktik-praktik rasisme di dunia

Fenomena rasisme sepertinya merupakan fenomena yang mendarah daging

di kehidupan manusia karena sering kali persoalan tersebut diceritakan dari

waktu ke waktu dan dari berbagai penjuru.Paul Spoonley dalam Ethnicity and

Racism (1990) mencoba menelusuri jejak-jejak rasisme yang disimpulkan

berasal dari konsep ras. “Ras adalah sebuah konsep kolonialisme, yang muncul

ketika semangat berekspansi melanda Eropa. Eropa bisa jadi dianggap sebagai

tempat dimana praktik rasisme lahir dan disebarkan pada masa-masa Eropa

(44)

Amerika. Karena alasan tersebut, beberapa ahli meyakini bahwa rasisme adalah

produk buatan Barat (Frederickson, 2005:xi).

Sebelum melacak sejarah istilah rasisme diperkenalkan rasanya perlu

dijelaskan awal kemunculannya.Munculnya rasisme erat kaitannya dengan

persoalan agama. Kitab injil mengatakan bahwa semua manusia adalah saudara

dan diturunkan dari orang tua yang sama. Maka dari itulah keberadaan “orang

buas” dan “monster” itu tidak mudah dijelaskan.Salah satu tanggapannya

menempatkan mereka sebagai makhluk-makhluk yang menuai amarah tuhan,

jadilah asosiasi berdasar kitab injil bahwa warna hitam itu ada hubungannya

dengan keturunan Ham, putra Nuh yang jahat dan kekuatan-kekuatan jahatnya

(Loomba, 2003: 138).

Melacak sejarah rasisme itu sendiri Frederickson (2005: 8) dalam bukunya

yang berjudul “ Rasisme Sejarah Singkat “ menyatakan bahwa istilah rasisme

pertama kali digunakan secara umum pada tahun 1930-an ketika sebuah istilah

baru menggambarkan teori-teori yang oleh orang Nazi dijadikan dasar bagi

penganiayaan yang mereka lakukan terhadap orang Yahudi.

Sejarah dunia telah mencatat peristiwa penting yang dikaitkan dengan rezim

rasismeselain praktik rasisme yang dilakukan Nazi.Pada tahun 1935, lahir

Undang-Undang Nuremberg yang melarang adanya perkawinan Yahudi dengan

non-Yahudi di Jerman. Lahirnya politik Apartheid di Afrika Selatan pada tahun

1948, serta pemisahan masyarakat kulit putih dan kulit hitam pada era Jim Crow

(45)

Terkait sejarahnya sendiri, rasisme tidak bisa dilepaskan dari hubungannya

dengan agama. Seperti pemaparan Ania Loomba, bahwa injil mengatakan semua

manusia adalah saudara yang diturunkan dari orang tua yang sama, maka

keberadaan “orang buas” dan “monster” itu tidak mudah dijelaskan. Salah satu

tanggapannya menempatkan mereka sebagai makhluk-makhluk yang menuai

amarah tuhan, jadilah asosiasi berdasar kitab injil bahwa warna hitam itu ada

hubungannya dengan keturunan Ham, putra Nuh yang jahat dan

kekuatan-kekuatan jahatnya.Namun penjelasan seperti itu bukannya menyelesaikan

masalah, justru menciptakan lebih banyak lagi masalah-masalah konsepsual.Di

masa-masa modern awal, aforisma-aforisma seperti kemustahilan “mencuri

orang etiopia agar menjadi putih” selalu dipakai untuk menunjukkan basis

biologis yang menunjukkan ketakterubahan ras dan warna (Loomba dalam

Sukmono dan Junaedi, 2014: 53-54).

Lebih lanjut munculnya rasisme sebagai isu utama hak-hak asasi manusia

selama bergulirnya abad itu terutama dihasilkan dari perhatian terhadap

rezim-rezim ini oleh bangsa-bangsa yang bereda di luar wilayahnya.Kemunculan dan

kejatuhan rezim-rezim itu merupakan peristiwa-peristiwa penting, bukan hanya

bagi sejarah negeri-negeri itu saja, tetapi juga bagi sejarah dunia.Rezim-rezim

tersebut selayaknya tidak dikaji atau diperbandingkan secara tersendiri

melainkan di dalam konteks-konteks internasional yang semula mempengaruhi

(46)

Kenyataan menyedihkan lainnya dari rasisme adalah bahwa rasisme sudah

ada di seluruh dunia selama ribuan tahun, sejarah penuh dengan contohnya. Di

masa lalu kita melihat kaum Afrika-Amerika dipaksa untuk berada di belakang

jika naik bus, orang Yahudi diharuskan untuk mengenakan lencana kuning

Daud, orang Jepang-Amerika diisolasi dalam tenda selama Perang Dunia ke 2,

orang Amerika-Indian dirampas tanahnya dan masyarakat Afrika Selatan terbagi

secara ras (Samovar dalam Sukmono dan Junaedi, 2014: 54-55).

Hitler menggunakan teori-teori rasis untuk membenarkan pembantaian

missal yang ia lakukan terhadap orang-orang Yahudi Eropa, seperti halnya yang

dilakukan para supremasikus kulit putih di Amerika bagian selatan ketika ingin

menjelaskan mengapa hukum-hukum Jim Crow dibutuhkan untuk menjaga agar

masyarakat kulit putih dan kulit hitam tetap terpisah dan tidak setara

(Frederickson, 2005: 3-4).

Paska keruntuhan rezim-rezim rasisme pada abad ke-20, rasisme tidak bisa

dikatakan telah hilang sepenuhnya dari kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah

dinyatakanSamovar (2010 : 211) mengatakan bahwa bentuk nyata dan

tersembunyi dari rasisme menyebar dalam tingkat organisasi dan personal dalam

masyarakat kita. Rasis bertindak dalam institusi ini dan dalam masyarakat secara

umum, menargetkan suatu kelompok untuk berbagai alasan. Seperti yang

dinyatakan oleh Gold “ Bentuk rasisme dialami oleh kelompok seperti

masyarakat Asia-Amerika, Latin, Arab, dan Amerika-India yang mana

perasialan diasosiasikan dengan faktor seperti agama, keasingan, budaya,

(47)

Beberapa contoh segresi di Amerika Serikat tentang dua orang gadis

berkulit hitam Claudette Colvin dan Rosa Park yang ditangkap oleh pihak

berwajib karena menolak memberikan kursi kepada warga kulit putih, hukum

yang berlaku pada saat itu. Hingga Martin Luther King Jr, pejuang hak asasi

manusia warga Afro Amerika memboikot bus yang ada di Birmingham selama

385 hari (Sinatur, 2014: 110).

Orang kulit hitam menerima pendidikan yang tidak memadai, dikucilkan

dari pekerjaan dengan upah tinggi, tidak diperkenankan mengikuti pemilu dan

hanya bisa memiliki rumah yang tak layak huni dengan minim pelayanan umum.

Tanda – tanda “khusus kulit putih” memaksa orang kulit hitam untuk

menggunakan toilet, taman – taman umum, sumber air minum dan restoran yang

berbeda. Undang-undang hak sipil tahun 1964 yang diberlakukan setelah proses

kekerasan bertahun-tahun di bawah pimpinan Pdt. Dr.Martin Luther King Jr.

(Thompson, 2009: 190).

Secara umum praktik rasisme dapat dikelompokkan menjadi praktik secara

personal dan institusional.Rasisme personal terdiri atas tindakan, kepercayaan,

perilaku dan tindakan rasial sebagai bagian dari seorang individu.Sementara

rasisme institusional merujuk pada tindakan merendahkan suatu ras atau

perasaan antipati yang dilakukan oleh institusi sosial tertentu seperti sekolah,

perusahaan, rumah sakit atau sistem keadilan kriminal (Samovar dalam

(48)

Segregasi merupakan salah satu bentuk hubungan antar etnik yang

berbentuk tindakan pemisahan dari dua kelompok yang berbeda, kelompok

mayoritas dan minoritas baik etnik maupun ras. Pemisahan itu dapat dilakukan

berdasarkan tempat tinggal, tempat kerja, fasilitas sosial seperti pendidikan

(Sekolah, gereja, asrama, mal, toko, dan lain - lain). Segregasi juga berarti proses

pemisahan secara fisik dan sosial di kalangan ras maupun etnik yang umumnya

kelompok masyarakat mayoritas melakukan segregasi terhadap masyarakat

minoritas bukan secara paksaan melainkan struktural melalui perundang –

undangan. Sepanjang sejarah Amerika Serikat, terlihat bahwa segregasi rasial

dilakukan melalui perangkat hukum de jure, atau mengakui segregasi secara de

facto. Para peniliti menyimpan tentang dokumentasi apa yang disebut dengan

hyper segregation yang terjadi atas keturunan African Americans di beberapa

kota di Amerika Serikat (Liliweri, 2005: 150).

Pada masa kolonial Hindia Belanda juga terjadi banyak rasisme

institusional.Misalnya ada pemisahan sekolah untuk pribumi dan bangsa kulit

putih, begitu juga fasilitas kesehatan yang berbeda jauh sekali.Contoh lainnya

adalah adanya sebuah foto yang memisahkan tempat buang air kecil antara kedua

pihak tersebut. Secara tidak sadar sebenarnya seringkali seorang individu dalam

pergaulan di masyarakat menyatakan bahwa cara berpikirnya merupakan yang

terbaik dan paling benar. Sehingga merendahkan pemikiran dari lawan bicaranya

(49)

C.Rasisme Amerika

Konsep identitas rasial berlaku di Amerika sebagai gagasan secara sosial

yang berkaitan erat dengan warisan historis seperti perbudakan, penganiayaan

suku Indian, kedatangan imigran dan isu hak sipil (Samovar dkk, 2010:187).Ada

berbagai penyebab yang melatarbelakangi rasisme di Amerika.Sebagai catatan,

pada zaman kolonial benua Amerika menjadi salah satu kawasan yang dijadikan

sasaran ekspansi oleh negara-negara Eropa.

Ketika Columbus mencatat pertemuannya dengan pribumi Amerika.Ia

mengungkapkan citra ganda terhadap oran-orang Indian. Yang pertama,

masyarakat Indian yang menyambut hangat kedatangan bangsa Eropa dicap

sebagai orang-orang liar yang anggun dan masyarakat yang bersikap memusuhi

kedatangan mereka dianggap sebagai “para kanibal” yang harus ditaklukkan

dengan kekerasan atau ditumpas. Suku Indian dianggap sebagai masyarakat

yang tidak bisa diajak kerja sama. Selain itu, gaya hidup bangsa Indian yang

sangat sederhana dianggap sebagai penghambat bagi perkembangan

bangsa-bangsa pendatang. Berbagai alasan tersebutlah yang memungkinkan terjadinya

penganiayaan terhadap suku Indian.

Rasisme secara mendalam terdapat dua kata kunci untuk rasisme. Pertama,

Miles berargumen bahwa konsep ini seharusnya digunakan untuk melihat secara

eksklusif fenomena ideologis. Kemudian yang kedua, ia mengidentifikasikan

karakter representasi secara spesifik. Kedua hal tersebut bisa menjamin

(50)

Di Amerika, sejarah rasisme bisa ditelusuri dari Spanyol. Pada abad ke 12

sampai ke 13, pengikut Islam, Yahudi, dan Kristen bisa hidup berdampingan.

Tapi pada akhir abad ke 14 dan awal abad ke 15, timbulnya konflik dengan orang

Moor lalu memercikan diskriminasi terhadap Islam dan Yahudi. Disini tampak

kebencian yang bersifat sektarian lalu menjadi kebencian yang bersifat rasial

dalam bentuk pengusiran. Setelah dibersihkan dari orang-orang Yahudi dan

Moor, Spanyol kemudian mulai menjajah “dunia baru” (Amerika) dan

menemukan jenis perbedaan baru orang-orang primitif dan yang kurang beradab

(Aksan, 2008:45).

Berbicara mengenai ras, ada beberapa istilah yang berbunyi hampir sama

namun memiliki arti yang berbeda, yakni Ras, Rasisme dan Rasialis. Ras adalah

populasi yang memiliki ciri-ciri umum karena adaptasi dengan lingkungan,

khususnya dengan iklim yang bertambah terus sebagai tanggapan terhadap

kekuatan-kekuatan evolusi seperti lalu lintas gen dan tekanan selektif yang

berubah (Haviland, 1985:291). Definisi ini cukup menjelaskan bagaimana

maksud dari ras itu sendiri.Definisi ras ini membuktikan bahwasanya ras kulit

gelap dan kulit putih terjadi karena perubahan iklim dimana ras kulit gelap

menjadi gelap karena mereka hidup didaerah yang memiliki sentuhan sinar

matahari sangat terik sehingga menambah banyaknya melanin di dalam kulit

yang membuat warna kulit menjadi lebih gelap.Rasisme adalah doktrin

superiortias sosial yang menyatakan superioritas kelompok yang satu atas

kelompok yang lain (Haviland, 1999: 292). Berdasarkan definisi ini,

(51)

rasisme yang terjadi dalam film ini dimana ras kulit putih merasa diri mereka

lebih superior atau lebih memiliki kekuasaan sehingga dapat memperlakukan ras

yang lain yakni ras kulit gelap dengan semau mereka. Sedangkan rasisalisme

adalah konsep pembedaan ras yang mengacu pada karakteristik biologis dan

fisik (Haviland, 1999: 292).

Pengacauan antara karakteristik-karakteristik nonbiologis dengan yang

dianggap sebagai kategori biologis itu sama sekali tidak terbatas pada

masyarakat Amerika latin. Sampai tingkat tertentu kekacauan seperti itu

ditemukan juga dimasyarakat Barat, termasuk Eropa dan Amerika Serikat.Yang

membuatnya lebih buruk lagi adalah bahwa hal itu sering ditemukan bersama

dengan sikap tertentu yang kemudian digunakan sebagai dalih untuk

mengeluarkan seluruh kategori orang tertentu dari pesan atau posisi tertentu

dalam amsyarakat (Haviland, 1985: 186).

Mengenai akibat-akibat jahat dari kesalahpahaman tentang ras terjadi ketika

kaum Nazi mencanangkan superioritas “Ras Arya” (yang sebenarnya hanya

suatu pengelompokan linguistik dan sama seklai bukan ras) dan inferioritas “ras

Yahudi” (yang sebenarnya suatu kategori etnis dan religius), dan kemudian

menggunakannya sebagai dalih untuk melenyapkan orang yahudi sama sekali

dari bumi. Tragisnya, program pembinasaan kelompok yang s

Gambar

Gambar 2.1Gambar 2.2 Profil Yuk Nonton Tweet Yuk Nonton
Gambar 3.1Tn. Edwinn Epps membacakan peraturan
Gambar 3.2Kulit hitam yang sedang memanen kapas
Gambar 3.3 Para kulit hitam menjadi budak kapas
+5

Referensi

Dokumen terkait