(Penelitian Kuasi Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
ASRI ANITA NIM. 109018300077
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
(Penelitian Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
ASRI ANITA NIM. 109018300077
Di Bawah Bimbingan
Dosen Pembimbing Skripsi
Lia Kurniawati, M.Pd NIP. 19760521 200801 2 008
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan (Penelitian Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup).” disusun oleh Asri Anita NIM.109018300077, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan
dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang
munaqasah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 20 Februari 2014
Yang Mengesahkan,
Pembimbing
Lia Kurniawati, M.Pd
Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan disusun oleh ASRI ANITA Nomor Induk Mahasiswa 109018300077, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan LULUS dalam Ujian Munaqasah pada tanggal 07 Maret 2014 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S. Pd) dalam bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Jakarta, 17 Maret 2014
Panitia Ujian Munaqasah
Ketua Jurusan Tanggal Tanda Tangan
Dr. Fauzan, MA. ____________ ____________
NIP. 19761107 200701 1 013
Penguji I
Abdul Muin, M. Pd. ____________ ____________
NIP. 19751201 200604 1 003
Penguji II
Dr. Kadir, M. Pd. ____________ ____________
NIP. 19670812 199402 1 001
Mengetahui: Dekan,
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Asri Anita
NIM : 109018300077
Jurusan : PGMI
Alamat : Jalan Utan Panjang II. RT 06 RW 08 No.25. Kemayoran.
Jakarta Pusat. 10650.
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
Bahwa skripsi yang berjudul Pengaruh Media Komik terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan (Penelitian Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup). Adalah benar hasil karya sendiri dibawah bimbingan dosen :
Nama pembimbing : Lia Kurniawati, M.Pd.
NIP : 19760521 200801 2 008
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.
Jakarta, 20 Februari 2014
Yang menyatakan,
i
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pada penggunaan media komik terhadap hasil belajar matematika siswa pada konsep faktor dan kelipatan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Muhara 2 Citeureup. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan bentuk
Posttest-Only Control Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Assignment Random Sampling. Sampel penelitian yang pertama berjumlah 30 siswa untuk kelas eksperimen dengan menggunakan media komik. Sampel yang kedua berjumlah 30 siswa untuk kelas kontrol tanpa menggunakan media komik. Analisis data proses kedua kelompok menggunakan uji-t, diperoleh hasil thitung sebesar 5,17 dan ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,00, maka thitung > ttabel. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada penggunaan media komik terhadap hasil belajar matematika siswa.
ii
The purpose of this study was to determine whether there is an influence on the use of comics media on students’ mathematic achievement on factor and multiple concept. This study was conducted in SDN Muhara 02 Citeureup. The method used in this study was quasi experiment with Posttest-Only Control Design. Sampling was done by using Assignment Random Sampling technique.
The first study’s samples are 30 students for experiment class use comics media.
The second’s samples are 30 students for control class without comics media.
Data analysis process of the two groups used the t-test, obtained results of taccount
5,17 and ttable 2,00 on 5% significance level, accordingly taccount>ttable. This case
shows that there are significant on the used comics media on student’s mathematic achievement.
iii
rahmat dan karuniaNya dengan segala kemuliaan dan keagunganNya telah
mempermudah langkah penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Dalam penulisan
skripsi ini penulis belajar banyak ketika mengalami kesulitan, kebingungan, dan
menghadapi tantangan sampai menemukan kemudahan. Namun atas izinNya dan
motivasi serta dukungan dari berbagai pihak penulis menyadari bahwa
keberhasilan dan kesempurnaan merupakan sebuah proses yang harus dijalani.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang turut berjasa dalam proses penyelesaian skripsi ini, diantaranya
adalah:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. selaku Rektor Universitas Islam
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dra. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.
3. Dr. Fauzan, MA. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah.
4. Lia Kurniawati, M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah
dengan sabar dan bersedia meluangkan waktu demi membimbing penulis
dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Dindin Ridwanudin, M.Pd. dan Tanenji, MA. Dosen yang menjadi
inspirasi dan memotivasi penulis.
6. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memotivasi dan mengalirkan
ilmunya kepada penulis selama masa kuliah.
7. Sekolah Dasar Negeri Muhara 02 Citeureup-Bogor, khususnya Kepala
Sekolah, guru kelas IV, siswa-siswi kelas IV, dan staf yang telah
membantu dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk
8. Teristimewa untuk kedua orang tuaku, Ibu Sapsiti dan Bapak Sobari
Hardjosasmito, Nene dan Kake yang tak henti mendoakan, melimpahkan
kasih sayangnya, dan memberikan dukungan moril maupun materiil
kepada penulis.
9. Abangku, Mas Bowo yang telah memberikan banyak dukungan materiil
kepada penulis selama masa kuliah. Kakakku tersayang; Mamah, Mbor,
Mano, Mba Indah atas doa dan motivasinya kepada penulis. Adikku
sayang yang sangat menyebalkan, dan keponakan-keponakan lucu yang
menghibur penulis.
10. Aprianto, A.Md., Je’C yang selalu menemani dan memotivasi penulis
dalam suka duka melewati masa kuliah, terima kasih atas kasih kinasih
yang telah tercurah.
11. Sahabatku, Imi Genduth, terima kasih atas seluruh untaian doa yang selalu
tertuju kepada penulis, semoga kita tetap berada dalam kebaikan.
12. Sahabat Ember Bulan S.Pd (Adit, Lilu, Miftah) atas semua canda tawa dan
waktu yang telah dilewati bersama penulis, semoga mimpi-mimpi kita
mewujud nyata di kehidupan mendatang dan silaturahim kita tetap terjaga
hingga tua menjelang.
13. Keluarga Ibu Siti Choiriyah, S.Pd, terima kasih atas bantuan dan
dukungannya kepada penulis selama masa penelitian.
14. Yopi Fajar Suryadi, S.Pd.I, yang telah membantu penulis dalam proses
pembuatan media komik yang digunakan dalam penelitian ini.
15. Sahabat-sahabat sejak SMA (Van, Bundo, Astri, Ary, Abdul), rekan-rekan
masa PPKT di Madania School, dan rekan-rekan mahasiswa PGMI
khususnya angkatan 2009 yang telah menemani, memotivasi dan
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,
mudah-mudahan bantuan bimbingan, motivasi, dan doa yang telah diberikan menjadi
pintu datangnya ridho dan kasih sayang Allaah SWT di dunia dan akhirat kelak.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
Penulis menerima segala bentuk saran serta masukan yang bersifat membangun
sebagai bahan perbaikan skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan bagi khazanah ilmu pengetahuan umum serta semua
pihak tentunya.
Jakarta, 20 Februari 2014
vi
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Perumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 6
F. Kegunaan Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teoritik ... 7
1. Hasil Belajar Matematika Siswa ... 7
a. Pengertian Hasil Belajar ... 7
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 12
c. Pengertian Matematika ... 13
2. Media Pembelajaran ... 14
a. Pengertian Media ... 14
b. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran ... 15
c. Jenis-jenis Media Pembelajaran dan Pengembangan- nya ... 17
d. Karakteristik Media Visual ... 18
e. Pemilihan Media Pembelajaran ... 20
vii
c. Kelebihan dan Kekurangan Komik ... 25
d. Macam-Macam Komik ... 26
e. Komik Sebagai Media Pembelajaran ... 28
f. Membuat Komik ... 32
B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 34
C. Kerangka Berpikir ... 34
D. Hipotesis Penelitian ... 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 38
B. Metode dan Desain Penelitian ... 38
C. Populasi dan Sampel ... 39
D. Variabel Penelitian ... 40
E. Teknik Pengumpulan Data ... 40
F. Kontrol terhadap Validitas Internal ... 40
1. Penyusunan Kisi-kisi Instrumen ... 40
2. Uji Coba Instrumen ... 41
a. Validitas Instrumen ... 42
b. Reliabilitas Instrumen ... 43
c. Taraf Kesukaran Butir Soal ... 44
d. Daya Pembeda ... 46
G. Teknik Analisis Data ... 47
1. Uji Normalitas ... 48
2. Uji Homogenitas ... 49
3. Uji Hipotesis ... 50
viii
3. Rekapitulasi Data Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen
dan Kontrol ... 54
B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis .... 56
1. Uji Normalitas ... 57
2. Uji Homogenitas ... 58
3. Uji Hipotesis ... 58
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 59
D. Keterbatasan Penelitian ... 66
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 67
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
ix
Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen ... 70
Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ... 110
Lampiran 3 : Media Komik ... 123
Lampiran 4 : Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Keli-
patan dan Faktor ... 141
Lampiran 5 : Instrumen Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Kelipatan dan
Faktor ... 144
Lampiran 6 : Kunci Jawaban Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Kelipatan
dan Faktor ... 145
Lampiran 7 : Rubrik Penskoran Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Keli-
patan dan Faktor ... 147
Lampiran 8 : Perhitungan Uji Validitas Instrumen, Uji Reliabilitas, Taraf
Kesukaran, Daya Pembeda Soal, Persentase Jenjang Kognitif
Nilai Posttest Kelas Eksperimen, Persentase Jenjang Kognitif Nilai Posttest Kelas Kontrol ... 151 Lampiran 9 : Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol,
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen,
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol ... 158
Lampiran 10 : Perhitungan Uji Normalitas, Perhitungan Uji Homogenitas,
Perhitungan Uji-t ... 164
Lampiran 11 : Surat Bimbingan Skripsi, Surat Permohonan Izin Penelitian,
x
Tabel 3.1 : Desain Penelitian ... 37
Tabel 3.2 : Kisi-kisi Instrumen ... 39
Tabel 3.3 : Validitas Soal ... 41
Tabel 3.4 : Indeks Reliabilitas ... 42
Tabel 3.5 : Kriteria Tingkat Kesukaran Soal ... 43
Tabel 3.6 : Taraf Kesukaran Butir Soal ... 44
Tabel 3.7 : Klasifikasi Daya Pembeda Soal ... 45
Tabel 3.8 : Daya Pembeda Butir Soal ... 45
Tabel 3.9 : Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen ... 46
Tabel 4.1 : Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen ... 52
Tabel 4.2 : Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Kontrol ... 53
Tabel 4.3 : Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 54
Tabel 4.4 : Perhitungan Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 55
Tabel 4.5 : Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 56
Tabel 4.6 : Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 57
Tabel 4.7 : Perhitungan Uji-t Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 58
xi
Gambar 4.1 : Diagram Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 60
Gambar 4.2 : Pembelajaran dengan Media Komik ... 62
1 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan seseorang baik dalam keluarga, masyarakat dan
bangsa. Kemajuan suatu bangsa juga ditentukan oleh tingkat keberhasilan
pendidikan. Tujuan pendidikan nasional menurut Undang-undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar menurut Peraturan
Pemerintah No.47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar adalah jenjang pendidikan
yang melandasi jenjang pendidikan menengah, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan
Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah
pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.2
Pada jenjang inilah siswa mulai diberikan dasar pengetahuan dan keterampilan
yang memegang peranan penting dalam mempersiapkan siswa untuk mengikuti
jenjang pendidikan selanjutnya.
Matematika adalah salah satu bidang studi yang harus dipelajari pada
jenjang Pendidikan Dasar (SD/MI). Matematika merupakan salah satu mata
pelajaran yang memiliki peranan cukup penting karena erat penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran ini identik dengan susunan angka beserta
rangkaian rumus. Namun perolehan hasil belajar matematika kebanyakan siswa
1
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas & PP RI Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar, (Bandung: Citra Umbara, 2009), Cet. ke-2, h.6.
2
masih kurang memuaskan. Masih terdapat siswa yang memperoleh nilai dibawah
KKM yang telah ditetapkan sekolah, yaitu sebesar 65. Berdasarkan wawancara
singkat dengan guru kelas, dari 30 siswa di kelas IV setidaknya masih terdapat 10
siswa yang memperoleh nilai dibawah 65. Hal tersebut membuktikan bahwa
masih terdapat siswa yang kesulitan dalam memahami materi pada pelajaran
matematika di sekolah, bahkan jumlahnya mencapai 30% dari total siswa.
Pada kenyataannya juga tidak sedikit siswa di sekolah yang kurang
menyukai matematika. Salah satu penyebabnya adalah siswa menganggap mata
pelajaran ini tergolong sulit dipahami. Matematika dianggap pelajaran yang sulit,
membosankan, dan bahkan orang tua siswa pun juga mengeluh betapa
membingungkannya pelajaran tersebut. Hal tersebut bisa terjadi karena dalam
penyajian materi di kelas masih ada beberapa guru, seperti guru yang lama biasa
mengajar dengan metode ceramah saja tanpa disertai metode dan media
pembelajaran menarik lainnya sehingga siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif
dan hanya mencatat saja.
Agar siswa lebih mudah mempelajari pelajaran matematika di kelas, maka
diperlukan guru yang kreatif, guru yang dapat memilih media, metode, serta
pendekatan yang tepat dengan kondisi siswanya, sehingga proses
pembelajarannya merupakan proses pembelajaran yang berkualitas, efisien, dan
mempunyai daya tarik yang membuat proses pembelajaran tersebut menjadi
menyenangkan. Oleh karena itu diperlukan strategi yang baik dalam proses
pembelajaran, salah satu cara yang dapat diterapkan oleh guru adalah dengan
menggunakan media pembelajaran.
Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam
proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran
pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses
pembelajaran dan penyampaian pesan dan pelajaran pada saat itu. Selain
membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik,
memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.3
Dalam pembelajaran di kelas, guru dapat menggunakan berbagai media
pembelajaran yang dapat membantu kelancaran proses pembelajaran hingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Pemilihan jenis media juga
penting diperhatikan oleh guru sebelum menggunakan media tersebut dalam
pembelajaran di kelas. Mengingat perkembangan pendidikan dewasa ini, media
pembelajaran memiliki banyak jenis yang dapat digunakan di kelas, diantaranya
media visual (penglihatan), media audio (pendengaran), dan audio visual yang
memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya masing-masing, untuk
itu perlu memilihnya dengan cermat dan benar agar dapat digunakan secara tepat.
Keadaan yang terjadi saat ini adalah siswa yang kurang suka membaca
buku-buku teks pelajaran, apalagi buku yang minim gambar dan kurang ilustrasi
yang menarik. Karena dilihat dari sifat penyajian pesannya, buku cenderung
informatif dan lebih menekankan pada sajian materi ajar dengan cakupan yang
luas dan umum sehingga proses komunikasi yang berlangsung menjadi satu arah
dan pembacanya cenderung pasif.
Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa
dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata.
Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna
dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.4 Dengan menggunakan media visual saat
pembelajaran di kelas, guru bisa meningkatkan minat siswa dalam belajar dan
dapat membantu siswa dalam memahami isi materi yang sedang dipelajari.
Komik adalah media komunikasi visual dan lebih daripada sekedar cerita
bergambar yang ringan dan menghibur. Sebagai media komunikasi visual, komik
dapat diterapkan sebagai alat bantu pendidikan dan mampu menyampaikan
informasi secara efektif dan efisien. Seperti diketahui, gaya belajar terdiri atas
3
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 16. 4
gaya visual, gaya auditori, dan gaya keptik. Gaya belajar visual merupakan gaya
belajar yang lebih mengandalkan indera visual untuk menyerap informasi.5
Buku komik juga merupakan salah satu media berbasis visual yang cukup
digemari oleh anak khususnya pada masa anak-anak akhir. Pada usia tersebut
mereka cenderung sedang senang membaca. Menurut Yudhi Munadi, komik dapat
dijadikan media pembelajaran. Gambar dalam komik biasanya berbentuk atau
berkarakter gambar kartun. Ia mempunyai sifat yang sederhana dalam
penyajiannya, dan memiliki unsur urutan cerita yang memuat pesan yang besar
tetapi disajikan secara ringkas dan mudah dicerna, terlebih lagi dilengkapi dengan
bahasa verbal yang dialogis.6
Berdasarkan hal tersebut, komik dapat dimanfaatkan
sebagai media pembelajaran di kelas. Gambar-gambar unik yang terdapat dalam
komik juga dapat menarik perhatian siswa untuk memahami materi pelajaran yang
menjadi isi cerita komik tersebut.
Menurut Dwi Nanto, ada beberapa alasan mengapa anak akan memilih
komik dari pada buku teks pelajaran, diantaranya; (1) komik tidak memiliki
konsekuensi test apapun sehingga bila membaca komik anak akan senang, (2)
komik kaya akan ilustrasi yang bisa mencapai 90 % dari total isi komik. Ilustrasi
ini tentunya mengajak alam imajinasi anak dan mereka menyukai ini, (3) komik
memberi tantangan agar pembacanya tidak berhenti pada satu halaman saja
malainkan hingga tamat satu buku bahkan satu cerita besar yang bisa berisi
puluhan buku, (4) komik menawarkan banyak genre yang tidak seperti buku
pelajaran. Sedangkan buku pelajaran kurang memberi tawaran sudut pandang atau
variasi bacaan sehingga memperkaya cara memahami suatu topik.7
Kelebihan komik yang lainnya adalah ekspresi yang divisualisasikan
dalam gambar di komik membuat pembaca terlibat secara emosional dan
membuat pembaca termotivasi untuk terus membacanya sampai selesai. Sehingga
proses pembelajaran dengan komik sebagai media pembelajaran dapat
meningkatkan minat membaca siswa, hal ini akan berdampak baik bagi siswa
5Heru Dwi Waluyanto, “Komik Sebagai Media Komunikasi Visual Pembelajaran”, Jurnal Nirmana, Vol. 7, No. 1, 2005, h. 51.
6
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 100. 7
dalam aspek pemahaman materi. Maka, apabila media komik tersebut digunakan
dalam pembelajaran matematika di kelas diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar matematika siswa.
Sekarang ini sudah banyak terdapat komik-komik pendidikan yang dapat
dengan mudah dijumpai di internet maupun di toko buku, yang siap digunakan
langsung sebagai media pembelajaran di sekolah. Namun untuk itu diperlukan
pemilihan yang cermat, karena jika tidak disertai dengan pemilihan yang cermat,
materi yang disajikan bisa jadi terlalu luas. Oleh karena itu, dalam perancangan
penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui penggunaan media yang
erat dengan kehidupan siswa. Penulis mempunyai ide untuk membuat sebuah
media komik yang akan disesuaikan oleh materi dan perkembangan siswa.
Diharapkan media komik ini dapat memotivasi dan membantu siswa dalam
memahami materi, sehingga hasil belajar matematika siswa dapat meningkat.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Media Komik terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV pada Konsep Faktor dan Kelipatan”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat diidentifikasi
beberapa masalah, yaitu:
1. Guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional.
2. Masih banyak siswa yang menganggap pelajaran matematika itu sulit dan
membosankan.
3. Minat siswa terhadap pelajaran matematika masih rendah.
4. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih rendah.
5. Potensi komik sebagai media pembelajaran masih kurang dimanfaatkan.
C. Pembatasan Masalah
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, maka perlu dilakukan
pembatasan masalah dalam penelitian ini agar persoalan penelitian dapat dikaji
1. Materi yang diajarkan adalah faktor dan kelipatan.
2. Buku komik yang terdiri dari sampul depan, sampul belakang, dan
halaman isi. Pada halaman sampul depan terdapat judul cerita dan credit
atau keterangan tentang pengarang komik. Pada halaman sampul belakang terdapat ringkasan cerita yang terdapat dalam komik. Sedangkan pada
halaman isi terdapat panel, gang, narasi, balon kata, dan efek suara.
3. Mengukur hasil belajar kognitif siswa berdasarkan posttest dengan jenjang kognitif C1 (pengetahuan), C2 (pemahaman), dan C3 (penerapan).
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah terdapat pengaruh pada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan media komik pada konsep faktor dan
kelipatan?”
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh
pada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan media komik pada
konsep faktor dan kelipatan.
F. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapt berguna bagi siswa, guru, peneliti lain,
sekolah, dll. Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Siswa : diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa.
2. Guru : diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam pemilihan media
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Peneliti : diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan
dan kajian untuk penelitian lebih lanjut.
4. Sekolah : diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangan dalam
7 A. Deskripsi Teoretik
Dalam bagian deskripsi teoritik ini akan dikemukakan bahasan mengenai
hasil belajar matematika siswa, media pembelajaran, dan komik.
1. Hasil Belajar Matematika Siswa a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya yakni ”hasil” dan ”belajar”. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.1 Belajar atau yang disebut
juga dengan learning, adalah perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman.2 Senada dengan Djamarah
yang menyatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di
dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.3
Biggs merumuskan belajar dalam tiga rumusan, yaitu rumusan kuantitatif,
rumusan institusional, dan rumusan kualitatif. Secara kuantitatif (ditinjau dari
sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan
kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang
dari sudut banyaknya materi yang dikuasai siswa. secara kualitatif (tinjauan
kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan
terhadap penguasaan siswa atas materi yang telah dipelajari. Pengertian belajar
secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan
pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.4
1
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), h. 44. 2
Zikri Neni Iska, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Kizi Brothers, 2011), h. 65. 3
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), h. 38.
4
Beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian belajar, seperti yang
dikutip oleh Syah diantaranya:
1) Skinner
Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang
berlangsung secara progresif.
2) Chaplin
Chaplin membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan
pertama menyatakan bahwa belajar adalah perolehan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Sedangkan rumusan kedua
menyatakan bahwa belajar adalah proses memeroleh respon-respon akibat
adanya latihan khusus.
3) Hintzman
Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme
(manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi
tingkah laku organisme tersebut. Dalam pandangannya, perubahan yang
ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila
mempengaruhi organisme.
4) Wittig
Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam
segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil
pengalaman
5) Reber
Reber membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar
adalah proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah suatu
perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan
yang diperkuat. 5
Dari pendapat beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu proses kegiatan yang kompleks dan merupakan proses berfikir
dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Disamping itu,
berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada
5
proses belajar yang dialami siswa, baik ketika berada di sekolah maupun di
lingkungan rumah atau keluarga.
Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada
individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi
hasil belajar. Hasil belajar siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi
tiga macam hasil belajar, yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan
pengertian, serta sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori
hasil belajar, yakni informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif,
sikap, dan keterampilan motorik.6
Muhibbin Syah dalam psikologi belajar juga mengatakan tentang ciri-ciri
perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar, yaitu perubahan
intensional, positif dan aktif, serta efektif dan fungsional.7
1) Perubahan Intensional, perubahan ini merupakan perubahan yang terjadi
berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan
disadari atau dengan kata lain bukan kebetulan.
2) Perubahan Positif dan Aktif, perubahan ini merupakan perubahan yang
terjadi karena proses bersiifat positif dan negatif, perubahan positif artinya
baik yang bermanfaat serta sesuai dengan harapan, adapun perubahan
negatif artinya tidak terjadi dengan sendirinya tetapi karena usaha siswa itu
sendiri.
3) Perubahan Efektif dan Fungsional, perubahan ini merupakan perubahan
yang timbul karena belajar bersifat efektif yaitu berhasil guna artinya
perubahan ini membawa pengaruh makna dan manfaat tertentu bagi siswa.
Perubahan ini bersifat dinamis dan mendorong terjadinya perubahan
positif lainnya.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, jenis-jenis hasil belajar yang paling
dikenal dan paling sering digunakan adalah jenis-jenis belajar yang dikemukakan oleh Benyamin S. Bloom atau yang sering dikenal dengan “Taksonomi Bloom”.
6
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet. XI, h. 22.
7
Benyamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa taksonomi
(pengelompokkan) tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu pada tiga
domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:
ranah proses berpikir (cognitive domain), ranah nilai atau sikap (affective domain), ranah keterampilan (psychomotor domain).8 Berikut ini pembahasan ketiga ranah tersebut menurut Bloom.
1) Ranah kognitif, adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang paling rendah
sampai jenjang tertinggi, yakni (1) pengetahuan/hafalan/ingatan
(knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan/aplikasi
(application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), dan (6) penilaian (evaluation).
2) Ranah afektif, adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
Terdapat lima jenjang dalam ranah afektif, yakni (1) menerima (receiving), (2) menanggapi (responding), (3) menilai/menghargai (valuing), (4) mengatur/mengorganisasi (organization), dan (5) karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai (characterization by a value or value complex.
3) Ranah psikomotor, adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan
(skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.9
Terjadinya perubahan tingkah laku pada seseorang menjadi bukti bahwa
seseorang tersebut telah belajar, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari
tidak mengerti menjadi mengerti. Bertolak dari berbagai definisi di atas, secara
umum hasil belajar dapat dipahami sebagai perubahan seluruh tingkah laku yang
dialami oleh individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Hasil belajar siswa adalah
kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk
8
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011), Cet.11, h. 49.
9
mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hasil belajar siswa yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar
dalam ranah kognitif dengan jenjang kognitif pengetahuan (C1), pemahaman (C2),
dan penerapan (C3). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas
otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.10 Domain kognitif merupakan proses
pengetahuan yang lebih banyak didasarkan perkembangannya dari persepsi,
introspeksi, atau memori siswa.11 Oleh karena itu, penulis melakukan pengukuran
hasil belajar siswa kelas IV pada ranah kognitif jenjang C1, C2, dan C3.
1) Pengetahuan (C1), merupakan kemampuan berpikir yang paling rendah,
yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus, dan
sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.
2) Pemahaman (C2), merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat
lebih tinggi dari pengetahuan, yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti
atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Pada
jenjang ini siswa diharapkan mampu memahami hubungan yang sederhana
dari informasi yang diperoleh baik berupa fakta, konsep, dan prinsip.
3) Penerapan (C3), adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau
menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode,
prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru
dan kongkret. Pada jenjang ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk
menyeleksi atau memilih suatu abstraksi tertentu (konsep, hukum, dalil,
aturan, gagasan, cara) yang telah diketahuinya secara tepat untuk
diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar.
Dalam suatu pembelajaran, yang menjadi indikator atau petunjuk bahwa
suatu proses belajar mengajar tersebut dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai
berikut:12
10
Anas Sudijono, op.cit., h. 50. 11
Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 75.
12
1) daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi
tertinggi, baik secara individual maupun kelompok
2) perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus
telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
Namun demikian, indikator yang banyak dipakai sebagai tolok ukur
keberhasilan adalah daya serap siswa. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, guru
perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada
siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah
menguasai tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai. 13
Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program
belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar-mengajar.
Penilaian formatif berorientasi kepada proses belajar-mengajar. Melalui penilaian
formatif diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi
pelaksanaannya. Tes formatif digunakan untuk mengukur satu atau beberapa
pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya
serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.14 Instrumen tes yang digunakan
untuk mengukur hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Tes
tersebut berupa tes objektif berbentuk uraian berjumlah 10 butir soal.
Adapun dalam menentukan kualitas pendidikan, maka upaya
merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya memperhatikan beberapa
prinsip. Prinsip-prinsip penilaian yang dimaksudkan antara lain:15
1) hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas abilitas yang harus
dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian
2) penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar mengajar
sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.
3) penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya
komprehensif.
4) Penilaian hasil belajar harusnya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil
penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siswa.
13 Ibid. 14
Ibid., h.107. 15
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu faktor
internal dan faktor eksternal:16
1) Faktor Internal
a) Faktor Fisiologi
Secara umum kondisi fisiologi, seperti kesehatan yang prima, tidak
dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan
sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar.
b) Faktor Psikologis
Faktor kedua dari faktor internal adalah faktor psikologis. Setiap
manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang
berbeda-beda, tentunya perbedaan-perbedaan ini akan berpengaruh pada
proses dan hasil belajarnya masing-masing. Beberapa faktor psikologis
yang dapat diuraikan diantaranya meliputi intelegensi, perhatian, minat
dan bakat, motif dan motivasi, dan kognitif dan daya nalar.
2) Faktor Eksternal
a) Faktor Lingkungan
Lingkungan alam misalnya keadaan suhu, kelembaban, kepengapan
udara, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial baik yang berwujud
manusia hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil
belajar.
b) Faktor Instrumental
Faktor-faktor instrumental ini dapat berupa kurikulum, saran dan
fasilitas, dan guru.
Sedangkan menurut Iska, belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : 17
a) Faktor Internal; kesehatan, inteligensi, bakat, motivasi, dan cara belajar.
b) Faktor eksternal; keluarga, sekolah, masyarakat, dan teman sebaya.
16
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru), (Ciputat: Gaung Persada Press, 2008), h. 24-35.
17
c. Pengertian Matematika
Matematika dalam sudut pandang Andi Hakim Nasution istilah
matematika berasal dari kata Yunani, mathein atau manthenein yang berarti
mempelajari. Kata ini memiliki hubungan yang erat dengan kata Sansekerta,
medha atau widya yang memiliki arti kepandaian, ketahuan atau inteligensia. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar (hal ini sesuai dengan arti kata mathein pada matematika).18
Matematika, menurut Ruseffendi, adalah bahasa simbol; ilmu deduktif
yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan,
dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke
unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil.
Sedangkan hakikat matematika menurut Soedjadi, yaitu memiliki objek tujuan
abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.19
Dari berbagai pandangan dan pengertian diatas, dapat disarikan bahwa
matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, dan alat
untuk berkomunikasi. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari
perkembangan teknologi modern, dan mempunyai peran penting dalam berbagai
disiplin serta memajukan daya pikir manusia. Matematika mempunyai
cabang-cabang ilmu, antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Matematika
merupakan suatu ilmu yang dipelajari oleh siswa sejak pertama kali menempuh
pendidikan yang terdiri dari angka-angka dan hitungan yang pasti. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa adalah kemampuan yang
dimiliki oleh siswa atau penguasaan siswa terhadap mata pelajaran Matematika
dalam materi yang telah dipelajari dan merupakan bukti pencapaian pemahaman
terhadap konsep-konsep matematika yang diperoleh siswa setelah melalui proses
pembelajaran.
18
Abdul Halim Fathani, Matematika Hakikat & Logika, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), h. 21.
19
2. Media Pembelajaran a. Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟, atau „pengantar‟. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach &
Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah
manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa
mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini,
guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus,
pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai
alat-alat grafis, potografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal.20
Dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu
yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang
berlangsung antara guru dan siswa. Media juga membawa pesan dan informasi
yang mudah dipahami oleh para peserta didik.
Yusuf Hadi Miarso mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang
dapat merangsang terjadinya proses belajar dalam diri siswa-siswi.21 Sedangkan
menurut Yudhi Munadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana
sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya
dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.22
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sumber belajar yang berisi suatu
pesan dan berfungsi sebagai perantara atau pengantar pesan dari guru ke siswa.
Sebagai salah satu komponen sumber belajar, media pembelajaran adalah alat
bantu, baik berupa alat-alat elektronik, gambar, peraga, buku, dll. yang digunakan
guru dalam menyalurkan isi pelajaran. Media pembelajaran dapat dipakai guru
20
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3. 21
Kasful Anwar dan Hendra Harmi, Perencanaan Sistem Pembelajaran KTSP, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 160.
22
untuk memperjelas informasi/pesan, memberikan tekanan pada hal-hal yang
penting, memberikan variasi, memperjelas struktur pembelajaran, dan
meningkatkan motivasi para siswa.
b. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran
Sebagai salah satu komponen sumber belajar media pembelajaran adalah
alat bantu, baik berupa alat-alat elektronik, gambar, peraga, buku, dan lain-lain
yang digunakan guru dalam menyalurkan isi pelajaran. Media pembelajaran dapat
bermanfaat untuk: 23
1) memperjelas informasi/pesan
2) memberikan tekanan pada hal-hal yang penting
3) memberikan variasi
4) memperjelas struktur pembelajaran
5) meningkatkan motivasi
Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam
proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.24 Media pembelajaran juga dapat
mempertinggi kualitas hasil belajar yang dicapainya. Alasan media pembelajaran
dapat mempertinggi proses belajar siswa adalah sebagai berikut:
1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar siswa
2) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan
pembelajaran lebih baik
3) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi
verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan
dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam
pelajaran
23
Kasful Anwar dan Hendra Harmi, op. cit., h. 161. 24
4) siswa banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya
mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain25
Seberapa pentingnya peran media dalam pengajaran, namun tetap tidak
bisa menggeser peran guru, karena media hanya berupa alat bantu yang
memfasiliatsi guru dalam pengajaran. Dalam proses belajar mengajar, fungsi
media menurut Nana Sudjana, yakni:
1) penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi
tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk
mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
2) penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari
keseluruhan situasi mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran
merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru
3) media dalam pengajaran, penggunaannya bersifat integral dengan tujuan
dan isi pelajaran
4) penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata sebagai alat
hiburan yang digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya
lebih menarik perhatian siswa
5) penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk
mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam
menangkap pengertian yang diberikan guru
6) penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi
mutu belajar mengajar.26
c. Jenis-jenis Media Pembelajaran dan Pengembangannya
Media pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Terdiri dari yang
paling sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada
media yang dapat dibuat sendiri, ada media yang diproduksi pabrik. Ada media
25
Kasful Anwar dan Hendra Harmi, op.cit., h. 161-162. 26
yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat dimanfaatkan, ada pula
media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran.
Klasifikasi media pembelajaran bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya,
dan dari bahan serta cara pembuatannya. Penjelasannya sebagai berikut:27
1) Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam:
a) Media auditif, media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja,
seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.
b) Media visual, media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media
visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula gambar visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak
seperti film bisu, dan film kartun.
c) Media audiovisual, media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi
kedua jenis media yang pertama dan kedua.
2) Dilihat dari daya liputnya, media dibagi dalam:
a) Media dengan daya liput luas dan serentak. Penggunaan media ini tidak
terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik
yang banyak dalam waktu yang sama. Contohnya: radio dan televisi.
b) Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat. Media ini
dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti
film, sound slide, film rangkai, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.
c) Media untuk pengajaran individual. Media ini penggunaannya hanya untuk
seorang diri, termasuk media ini adalah modul berprogram dan pengajaran
melalui komputer.
3) Dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi dalam:
a) Media sederhana. Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya
murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaannya tidak sulit
27
b) Media kompleks. Media ini adalah media yang bahan dan alat
pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan
penggunannya memerlukan keterampilan yang memadai.
d. Karakteristik Media Visual Karakteristik media visual meliputi:28
1) Pesan visual
Ada 5 jenis yang termasuk pesan visual, yaitu:
a) Gambar, secara garis besar dapat dibagi pada tiga jenis yaitu, sketsa, lukisan
dan foto.
b) Grafik, adalah gambar yang sederhana yang banyak sedikitnya merupakan
penggambaran data kuantitatif yang akurat dalam bentuk yang menarik dan
mudah dimengerti.
c) Diagram, sebuah diagram merupakan susunan garis-garis dan lebih
menyerupai peta daripada gambar.
d) Bagan, hampir sama dengan diagram. Bedanya, bagan lebih menekankan
kepada suatu perkembangan atau suatu proses atau susunan suatu
organisasi.
e) Peta, adalah gambar permukaan bumi atau sebagian daripadanya.
2) Penyalur Pesan Visual Non Verbal-Nonverbal Grafis
Penyalur pesan visual non verbal-nonverbal grafis terdiri dari 5 jenis, yaitu:
a) Buku dan Modul
Buku merupakan sumber belajar yang dibuat untuk keperluan umum
dan biasanya seorang siswa yang membaca buku masih membutuhkan
bantuan guru atau orang tua untuk menjelaskan kandungannya. Sedangkan
modul adalah bahan belajar yang dapat digunakan oleh siswa untuk belajar
secara mandiri dengan bantuan seminimal mungkin.
b) Komik
Komik juga dapat dijadikan media pembelajaran. Gambar dalam
komik biasanya berbentuk atau berkarakter gambar kartun. Ia mempunyai
28
sifat yang sederhana dalam penyajiannya, dan memiliki unsur urutan cerita
yang memuat pesan yang besar tetapi disajikan secara ringkas dan mudah
dicerna, terlebih lagi ia dilengkapi dengan bahasa verbal yang dialogis.
c) Majalah dan Jurnal
Majalah secara umum dapat dimaknai sebagai media informasi
dengan tugas utamanya menyampaikan berita aktual. Sedangkan jurnal
adalah hasil pemikiran dan penelitian dari sivitas akademika sebuah
lembaga pendidikan.
d) Poster
Poster adalah gambar yang besar, yang memberi tekanan pada satu
atau dua ide pokok, sehingga dapat dimengerti dengan melihatnya sepintas.
e) Papan visual
Papan visual, yakni papan yang dapat menyalurkan pesan visual.
Papan visual memiliki banyak ragam, diantaranya adalah papan tulis, papan
magnetik, papan peraga, papan bulletin, dan papan flanel.
e. Pemilihan Media Pembelajaran
Media merupakan salah satu hal yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kegiatan proses pembelajaran. Karena beraneka ragamnya media
tersebut, maka masing-masing media mempunyai karakteristik yang
berbeda-beda. Untuk itu perlu memilihnya dengan cermat dan tepat agar dapat digunakan
secara tepat guna.
Dalam menggunakan media pengajaran, hendaknya guru memperhatikan
sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil
yang baik. Prinsip-prinsip yang dimaksud dikemukakan Nana Sudjana sebagai
berikut:29
1) Menentukan jenis media dengan tepat. Artinya, sebaiknya guru memilih
terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan
pelajaran yang diajarkan
29
2) Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat. Artinya, perlu
diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat
kematangan/kemampuan anak didik
3) Menyajikan media dengan tepat. Artinya, teknik dan metode penggunaan
media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode,
waktu dan sarana
4) Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi
yang tepat.
f. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokan dalam dua
jenis, yaiu media jadi, karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan
terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai (media by utilization), dan media rancangan, karena perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk
maksud atau tujuan pembelajaran tertentu (media by design).30
Untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri), pertanyaan yang
dijadikan sebagai acuan diantaranya sebagai berikut:
1) Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau
hanya informasi tambahan atau hiburan?
2) Apakah media yang dirancang itu untuk kepentingan pembelajaran atau
alat bantu pengajaran (peraga)?
3) Apakah dalam pengajarannya akan menggunakan strategi kognitif, afektif
dan psikomotorik?
4) Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih asing bagi anak
didik?
5) Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau
olahraga?
6) Apakah perlu rangsangan warna?31
30
Arif S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 83.
31
Setelah tujuh pertanyaan tersebut terjawab, maka guru dapat mengajukan
alternatif media yang akan dirancang. Alternatif tersebut mungkin jenis media
audio, media visual, atau media audiovisual.
Lebih lanjut, Nana Sudjana & Ahmad Rivai mengemukakan rumusan
pemilihan media dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:32
1) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih
atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang
sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan
media agar lebih mudah dipahami siswa
3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah
diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.
4) Keterampilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang
diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses
pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya,
tetapi dampak dari penggunaannya dalam interaksi bagi siswa selama
pengajaran berlangsung
5) Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan
pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Penggunaan media dalam pembelajaran bertujuan untuk melengkapi dan
membantu guru dalam menyampaikan materi atau informasi kepada siswa.
Dengan menggunakan media, diharapkan dapat terjadi komunikasi yang
komunikatif, siswa mudah memahami maksud dari materi yang disampaikan, dan
guru mudah mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa.
3. Komik
a. Pengertian Komik
Kata komik berasal dari bahasa Perancis yaitu “comique”, yang sebagai kata sifat artinya lucu atau menggelikan dan sebagai kata benda artinya pelawak
atau badut. Comique sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu komikos. Dalam
32
bahasa Inggris, komik sekali muat atau bersambung dalam penerbitan pers disebut
comic strip atau strip cartoon.33
Seperti diketahui, komik memiliki banyak arti dan sebutan, yang
disesuaikan dengan tempat masing-masing komik itu berada. Secara umum,
komik sering diartikan sebagai cerita bergambar. Scout McCloud memberikan
pendapat bahwa komik dapat memiliki arti gambar gambar serta lambang lain
yang ter-jukstaposisi (berdekatan, bersebelahan) dalam urutan tertentu, untuk
menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya.
Komik sesungguhnya lebih dari sekedar cerita bergambar yang ringan dan
menghibur34.
Dalam jurnal lain disebutkan bahwa komik adalah suatu bentuk seni yang
menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa
sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya komik dicetak diatas kertas dan
dilengkapi dengan teks. Komik memanfaatkan ruang dalam media gambar untuk
meletakkan gambar demi gambar sehingga membentuk suatu alur cerita yang
utuh. Komik adalah suatu kartun yang mengungkapkan suatu karakter yang
memerankan cerita dalam urutan yang erat dan merupakan bentuk berita
bergambar, terdiri dari berbagai situasi dan kadangkala bersifat humor.35
Komik adalah gambar atau lukisan bersambung yang merupakan cerita.
Singkatnya, komik dapat juga disebut dengan cerita bergambar.36 Komik
umumnya berbentuk rangkaian gambar, masing-masing dibuat dalam panel dan
dipisahkan oleh gang, yang keseluruhannya merupakan kesatuan cerita yang
runtut. Gambar-gambar tersebut biasanya dilengkapi dengan balon kata yang
berisi ucapan yang disampaikan oleh tokoh dalam komik tersebut dan kadang
disertai narasi sebagai penjelasan yang berbentuk kotak dan tersambung di tepi
panel.
33Maifalinda Fatra, “Penggunaan KOMAT (Komik Matematika) pada Pembelajaran Matematika di MI”, Algoritma, Vol. 3, No. 1, 2008, h. 64.
34Heru Dwi Waluyanto, “Komik Sebagai Media Komunikasi Visual Pembelajaran”, Jurnal Nirmana, Vol. 7, No. 1, 2005, h. 51.
35
Eny E. dan Hilma S., “Pengaruh Penggunaan Media Komik terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA N 3 Pontianak pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit”, Jurnal Pendidikan Matematika dan Ipa, Vol. 1, No. 1, 2010, h. 26.
36
Komik adalah suatu bentuk media komunikasi visual yang mempunyai
kekuatan untuk menyampaikan informasi secara populer dan mudah dimengerti.
Hal ini dimungkinkan karena komik memadukan kekuatan gambar dan tulisan
yang dirangkai dalam suatu alur cerita gambar membuat informasi lebih mudah
diserap. Teks membuatnya lebih dimengerti, dan alur membuatnya lebih mudah
untuk diikuti dan diingat.37
Dari beberapa pengertian komik di atas maka dapat disimpulkan bahwa
komik adalah sajian cerita yang dilengkapi dengan gambar, ilustrasi,
simbol-simbol, dan balon kata yang berdekatan dalam urutan tertentu untuk
menyampaikan informasi.
b. Unsur-unsur Komik
Secara sepintas komik dipandang hanya sebagai media visual yang terdiri
dari kumpulan gambar dan tulisan yang terjalin menjadi sebuah cerita. Namun
bagi para komikus, komik memiliki unsur-unsur yang terdiri dari sampul depan,
sampul belakang, dan halaman isi.
Pada halaman sampul depan sebuah komik biasanya terdapat
komponen-komponen sebagai berikut:
1) Judul cerita atau judul serial
Judul biasanya diambil dari tema cerita yang diangkat, menarik perhatian
dan mudah ditangkap oleh pembaca.
2) Credits
Yaitu keterangan tentang pengarang komik tersebut, seperti penulis
skenario, penggambar, dan sebagainya.
3) Indicia
Yaitu keterangan tentang penerbit maupun percetakan lengkap dengan
waktu terbit dan pemegang hak cipta.38
37
Heru Dwi Waluyanto, loc. Cit., h. 51.
Sedangkan pada halaman sampul belakang tertera ringkasan cerita yang
terdapat dalam komik tersebut untuk memberikan gambaran umum tentang isi
komik kepada pembaca. Halaman isi komik terdiri dari:
1) Panel
Panel berfungsi sebagai ruang tempat diletakannya gambar-gambar
sehingga akan tercipta suatu alur cerita yang ingin disampaikan kepada
pembaca.
2) Gang
Gang adalah ruang atau jarak yang menjembatani antara satu panel
dengan panel lainnya.
3) Narasi
Narasi berfungsi menerangkan dialog, waktu, tempat, kejadian, dan
situasi yang digambarkan dalam komik tersebut. Biasanya berbentuk kotak
dan tersambung di tepi panel.
4) Balon kata
Adalah suatu bulatan dengan garis penunjuk yang di dalamnya
terdapat tulisan yang berisi ucapan yang disampaikan oleh tokoh dalam
komik tersebut.
5) Efek suara (Sound Lettering)
Menunjukkan suara-suara yang terjadi dalam cerita tersebut, misalnya
suara angin, suara ranting patah,suara bel dan sebagainya.39
c. Kelebihan dan Kekurangan Komik
Sebagai media visual, komik juga mempunyai kelebihan maupun
kelemahan dalam pembelajaran. Kelebihan media komik, disamping sifat-sifat
komik yang khas, harus diakui efektivitas media dalam pembelajaran merupakan
segi yang menguntungkan dalam pendidikan. Hurlock menjelaskan argumen yang
menguntungkan komik, yaitu:40
39
Ibid., h.18.
1) Komik membekali dengan kemampuan membaca yang menyenangkan
2) Komik dapat digunakan untuk memotivasi siswa mengembangkan
keterampilan membaca
3) Prestasi pendidikan yang dicapai siswa yang sering membaca komik
hampir identik dengan mereka yang jarang membacanya
4) Siswa diperkenalkan dengan kata-kata yang luas, banyak kata yang
dijumpainya lagi dalam bacaan lain
5) Buku komik menyediakan teknik bagus untuk menyebarluaskan
propaganda yang menentang prasangka
6) Komik memberi siswa sumber katarsis emosional bagi emosi yang
tertahan
7) Siswa mungkin mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh buku komik
yang memiliki sifat yang dikaguminya.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa komik efektif digunakan oleh siswa,
sehingga dapat mengembangkan minat baca dan dapat melatih daya imajinasinya
agar kelak menjadi manusia yang kreatif.
Media komik disamping mempunyai kelebihan juga memiliki kekurangan
tertentu. Hurlock menjelaskan argumen yang menentang komik adalah:
1) Komik mengalihkan perhatian anak dari bacaan lain yang lebih berguna
2) Karena gambar menerangkan cerita, anak yang kurang mampu membaca
tidak akan berusaha membaca teks
3) Lukisan, cerita dan bahasa kebanyakan komik bermutu rendah
4) Komik menghambat anak melakukan bentuk permainan lainnya
5) Dengan menggambarkan perilaku anti sosial, komik mendorong
tumbuhnya agresivitas dan kenakalan remaja pada anak
6) Komik menjadikan kehidupan yang sebenarnya menjadi membosankan
dan tidak menarik.41
d. Macam-Macam Komik
Komik sebagai media massa hadir dengan berbagai jenis dan materi sesuai
dengan kebutuhan khalayak atau konsumen. Dalam hal ini komik dibedakan
dalam 2 kategori yaitu berdasarkan bentuknya dan berdasarkan jenis ceritanya.
1) Komik Berdasarkan Bentuknya42
a) Komik Strip (Comic Strips)
Komik ini merujuk pada komik yang terdiri dari beberapa panel saja dan
biasanya muncul di surat kabar atau majalah. Komik jenis ini terbagi menjadi
dua kategori, yaitu komik strip bersambung dan kartun komik.
b) Buku Komik (Comic Book)
Comic Book atau Buku Komik adalah komik yang disajikan dalam bentuk buku yang tidak merupakan bagian dari media cetak lainnya. Kemasan buku
komik ini lebih menyerupai majalah dan terbit secara rutin.
c) Novel Grafis (Graphic Novel)
Novel grafis memiliki tema-tema yang lebih serius dengan panjang cerita
yang hampir sama dengan novel dan ditujukan bagi pembaca yang bukan
anak-anak.
d) Komik Kompilasi
Komik kompilasi merupakan kumpulan dari beberapa judul komik dan
komikus yang berbeda-beda.
e) Web Comic (Komik Online)
Sesuai dengan namanya, komik ini menggunakan media internet untuk
publikasinya dan jangkauannya sangat luas tak terbatas.
2) Komik Berdasarkan Jenis Ceritanya
Berdasarkan jenis ceritanya komik dibedakan menjadi:43
a) Komik Edukasi
Komik secara nyata memberikan andil yang cuku besar dalam ranah
intelektual dan artistik seni. Keragaman gambar dan cerita yang
ditawarkannya menjadikannya sebagai alat atau media untuk menyampaikan
42
Indira Maharsi, KOMIK Dunia Kreatif Tanpa Batas, (Yogyakarta: Kata Buku, 2011), h. 15.
43
pesan yang beragam, salah satunya adalah pesan didaktis kepada masyarakat
awam. Sehingga hal tersebut menunjukan bahwa komik memiliki dua fungsi
sekaligus. Pertama adalah fungsi hiburan dan kedua dapat dimanfaatkan baik
langsung maupun tidak langsung untuk tujuan edukatif.
Dengan demikian bisa digarisbawahi bahwa sebetulnya komik
berpengaruh sekali dalam memberi pemahaman yang cepat kepada para
pembaca tentang suatu hal yang bermuatan edukasi. Bahasa gambar dan teks
dalam komik ternyata mampu mentransfer pemahaman atau informasi dengan
cepat terhadap suatu masalah dibanding hanya dengan tulisan saja.