• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Media Komik Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan (Kuasi Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Media Komik Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan (Kuasi Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup)."

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

(Penelitian Kuasi Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

ASRI ANITA NIM. 109018300077

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

(Penelitian Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

ASRI ANITA NIM. 109018300077

Di Bawah Bimbingan

Dosen Pembimbing Skripsi

Lia Kurniawati, M.Pd NIP. 19760521 200801 2 008

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan (Penelitian Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup).” disusun oleh Asri Anita NIM.109018300077, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan

dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang

munaqasah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 20 Februari 2014

Yang Mengesahkan,

Pembimbing

Lia Kurniawati, M.Pd

(4)

Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan disusun oleh ASRI ANITA Nomor Induk Mahasiswa 109018300077, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan LULUS dalam Ujian Munaqasah pada tanggal 07 Maret 2014 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S. Pd) dalam bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Jakarta, 17 Maret 2014

Panitia Ujian Munaqasah

Ketua Jurusan Tanggal Tanda Tangan

Dr. Fauzan, MA. ____________ ____________

NIP. 19761107 200701 1 013

Penguji I

Abdul Muin, M. Pd. ____________ ____________

NIP. 19751201 200604 1 003

Penguji II

Dr. Kadir, M. Pd. ____________ ____________

NIP. 19670812 199402 1 001

Mengetahui: Dekan,

(5)

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Asri Anita

NIM : 109018300077

Jurusan : PGMI

Alamat : Jalan Utan Panjang II. RT 06 RW 08 No.25. Kemayoran.

Jakarta Pusat. 10650.

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa skripsi yang berjudul Pengaruh Media Komik terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa pada Konsep Faktor dan Kelipatan (Penelitian Eksperimen di SDN Muhara 02 Citeureup). Adalah benar hasil karya sendiri dibawah bimbingan dosen :

Nama pembimbing : Lia Kurniawati, M.Pd.

NIP : 19760521 200801 2 008

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap

menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya

sendiri.

Jakarta, 20 Februari 2014

Yang menyatakan,

(6)

i

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pada penggunaan media komik terhadap hasil belajar matematika siswa pada konsep faktor dan kelipatan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Muhara 2 Citeureup. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan bentuk

Posttest-Only Control Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Assignment Random Sampling. Sampel penelitian yang pertama berjumlah 30 siswa untuk kelas eksperimen dengan menggunakan media komik. Sampel yang kedua berjumlah 30 siswa untuk kelas kontrol tanpa menggunakan media komik. Analisis data proses kedua kelompok menggunakan uji-t, diperoleh hasil thitung sebesar 5,17 dan ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,00, maka thitung > ttabel. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada penggunaan media komik terhadap hasil belajar matematika siswa.

(7)

ii

The purpose of this study was to determine whether there is an influence on the use of comics media on students’ mathematic achievement on factor and multiple concept. This study was conducted in SDN Muhara 02 Citeureup. The method used in this study was quasi experiment with Posttest-Only Control Design. Sampling was done by using Assignment Random Sampling technique.

The first study’s samples are 30 students for experiment class use comics media.

The second’s samples are 30 students for control class without comics media.

Data analysis process of the two groups used the t-test, obtained results of taccount

5,17 and ttable 2,00 on 5% significance level, accordingly taccount>ttable. This case

shows that there are significant on the used comics media on student’s mathematic achievement.

(8)

iii

rahmat dan karuniaNya dengan segala kemuliaan dan keagunganNya telah

mempermudah langkah penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Dalam penulisan

skripsi ini penulis belajar banyak ketika mengalami kesulitan, kebingungan, dan

menghadapi tantangan sampai menemukan kemudahan. Namun atas izinNya dan

motivasi serta dukungan dari berbagai pihak penulis menyadari bahwa

keberhasilan dan kesempurnaan merupakan sebuah proses yang harus dijalani.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua

pihak yang turut berjasa dalam proses penyelesaian skripsi ini, diantaranya

adalah:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. selaku Rektor Universitas Islam

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dra. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.

3. Dr. Fauzan, MA. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah

Ibtidaiyah.

4. Lia Kurniawati, M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah

dengan sabar dan bersedia meluangkan waktu demi membimbing penulis

dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Dindin Ridwanudin, M.Pd. dan Tanenji, MA. Dosen yang menjadi

inspirasi dan memotivasi penulis.

6. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memotivasi dan mengalirkan

ilmunya kepada penulis selama masa kuliah.

7. Sekolah Dasar Negeri Muhara 02 Citeureup-Bogor, khususnya Kepala

Sekolah, guru kelas IV, siswa-siswi kelas IV, dan staf yang telah

membantu dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk

(9)

8. Teristimewa untuk kedua orang tuaku, Ibu Sapsiti dan Bapak Sobari

Hardjosasmito, Nene dan Kake yang tak henti mendoakan, melimpahkan

kasih sayangnya, dan memberikan dukungan moril maupun materiil

kepada penulis.

9. Abangku, Mas Bowo yang telah memberikan banyak dukungan materiil

kepada penulis selama masa kuliah. Kakakku tersayang; Mamah, Mbor,

Mano, Mba Indah atas doa dan motivasinya kepada penulis. Adikku

sayang yang sangat menyebalkan, dan keponakan-keponakan lucu yang

menghibur penulis.

10. Aprianto, A.Md., Je’C yang selalu menemani dan memotivasi penulis

dalam suka duka melewati masa kuliah, terima kasih atas kasih kinasih

yang telah tercurah.

11. Sahabatku, Imi Genduth, terima kasih atas seluruh untaian doa yang selalu

tertuju kepada penulis, semoga kita tetap berada dalam kebaikan.

12. Sahabat Ember Bulan S.Pd (Adit, Lilu, Miftah) atas semua canda tawa dan

waktu yang telah dilewati bersama penulis, semoga mimpi-mimpi kita

mewujud nyata di kehidupan mendatang dan silaturahim kita tetap terjaga

hingga tua menjelang.

13. Keluarga Ibu Siti Choiriyah, S.Pd, terima kasih atas bantuan dan

dukungannya kepada penulis selama masa penelitian.

14. Yopi Fajar Suryadi, S.Pd.I, yang telah membantu penulis dalam proses

pembuatan media komik yang digunakan dalam penelitian ini.

15. Sahabat-sahabat sejak SMA (Van, Bundo, Astri, Ary, Abdul), rekan-rekan

masa PPKT di Madania School, dan rekan-rekan mahasiswa PGMI

khususnya angkatan 2009 yang telah menemani, memotivasi dan

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,

mudah-mudahan bantuan bimbingan, motivasi, dan doa yang telah diberikan menjadi

pintu datangnya ridho dan kasih sayang Allaah SWT di dunia dan akhirat kelak.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

(10)

Penulis menerima segala bentuk saran serta masukan yang bersifat membangun

sebagai bahan perbaikan skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis dan bagi khazanah ilmu pengetahuan umum serta semua

pihak tentunya.

Jakarta, 20 Februari 2014

(11)

vi

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Kegunaan Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teoritik ... 7

1. Hasil Belajar Matematika Siswa ... 7

a. Pengertian Hasil Belajar ... 7

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 12

c. Pengertian Matematika ... 13

2. Media Pembelajaran ... 14

a. Pengertian Media ... 14

b. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran ... 15

c. Jenis-jenis Media Pembelajaran dan Pengembangan- nya ... 17

d. Karakteristik Media Visual ... 18

e. Pemilihan Media Pembelajaran ... 20

(12)

vii

c. Kelebihan dan Kekurangan Komik ... 25

d. Macam-Macam Komik ... 26

e. Komik Sebagai Media Pembelajaran ... 28

f. Membuat Komik ... 32

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 34

C. Kerangka Berpikir ... 34

D. Hipotesis Penelitian ... 37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 38

B. Metode dan Desain Penelitian ... 38

C. Populasi dan Sampel ... 39

D. Variabel Penelitian ... 40

E. Teknik Pengumpulan Data ... 40

F. Kontrol terhadap Validitas Internal ... 40

1. Penyusunan Kisi-kisi Instrumen ... 40

2. Uji Coba Instrumen ... 41

a. Validitas Instrumen ... 42

b. Reliabilitas Instrumen ... 43

c. Taraf Kesukaran Butir Soal ... 44

d. Daya Pembeda ... 46

G. Teknik Analisis Data ... 47

1. Uji Normalitas ... 48

2. Uji Homogenitas ... 49

3. Uji Hipotesis ... 50

(13)

viii

3. Rekapitulasi Data Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen

dan Kontrol ... 54

B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis .... 56

1. Uji Normalitas ... 57

2. Uji Homogenitas ... 58

3. Uji Hipotesis ... 58

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 59

D. Keterbatasan Penelitian ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 67

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(14)

ix

Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen ... 70

Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ... 110

Lampiran 3 : Media Komik ... 123

Lampiran 4 : Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Keli-

patan dan Faktor ... 141

Lampiran 5 : Instrumen Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Kelipatan dan

Faktor ... 144

Lampiran 6 : Kunci Jawaban Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Kelipatan

dan Faktor ... 145

Lampiran 7 : Rubrik Penskoran Tes Hasil Belajar Siswa pada Materi Keli-

patan dan Faktor ... 147

Lampiran 8 : Perhitungan Uji Validitas Instrumen, Uji Reliabilitas, Taraf

Kesukaran, Daya Pembeda Soal, Persentase Jenjang Kognitif

Nilai Posttest Kelas Eksperimen, Persentase Jenjang Kognitif Nilai Posttest Kelas Kontrol ... 151 Lampiran 9 : Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol,

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen,

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol ... 158

Lampiran 10 : Perhitungan Uji Normalitas, Perhitungan Uji Homogenitas,

Perhitungan Uji-t ... 164

Lampiran 11 : Surat Bimbingan Skripsi, Surat Permohonan Izin Penelitian,

(15)

x

Tabel 3.1 : Desain Penelitian ... 37

Tabel 3.2 : Kisi-kisi Instrumen ... 39

Tabel 3.3 : Validitas Soal ... 41

Tabel 3.4 : Indeks Reliabilitas ... 42

Tabel 3.5 : Kriteria Tingkat Kesukaran Soal ... 43

Tabel 3.6 : Taraf Kesukaran Butir Soal ... 44

Tabel 3.7 : Klasifikasi Daya Pembeda Soal ... 45

Tabel 3.8 : Daya Pembeda Butir Soal ... 45

Tabel 3.9 : Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen ... 46

Tabel 4.1 : Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen ... 52

Tabel 4.2 : Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Kontrol ... 53

Tabel 4.3 : Pemusatan dan Penyebaran Data Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 54

Tabel 4.4 : Perhitungan Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 55

Tabel 4.5 : Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 56

Tabel 4.6 : Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 57

Tabel 4.7 : Perhitungan Uji-t Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 58

(16)
[image:16.595.117.500.173.589.2]

xi

Gambar 4.1 : Diagram Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 60

Gambar 4.2 : Pembelajaran dengan Media Komik ... 62

(17)

1 A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat

dipisahkan dari kehidupan seseorang baik dalam keluarga, masyarakat dan

bangsa. Kemajuan suatu bangsa juga ditentukan oleh tingkat keberhasilan

pendidikan. Tujuan pendidikan nasional menurut Undang-undang No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan

menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar menurut Peraturan

Pemerintah No.47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar adalah jenjang pendidikan

yang melandasi jenjang pendidikan menengah, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan

Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah

pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.2

Pada jenjang inilah siswa mulai diberikan dasar pengetahuan dan keterampilan

yang memegang peranan penting dalam mempersiapkan siswa untuk mengikuti

jenjang pendidikan selanjutnya.

Matematika adalah salah satu bidang studi yang harus dipelajari pada

jenjang Pendidikan Dasar (SD/MI). Matematika merupakan salah satu mata

pelajaran yang memiliki peranan cukup penting karena erat penerapannya dalam

kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran ini identik dengan susunan angka beserta

rangkaian rumus. Namun perolehan hasil belajar matematika kebanyakan siswa

1

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas & PP RI Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar, (Bandung: Citra Umbara, 2009), Cet. ke-2, h.6.

2

(18)

masih kurang memuaskan. Masih terdapat siswa yang memperoleh nilai dibawah

KKM yang telah ditetapkan sekolah, yaitu sebesar 65. Berdasarkan wawancara

singkat dengan guru kelas, dari 30 siswa di kelas IV setidaknya masih terdapat 10

siswa yang memperoleh nilai dibawah 65. Hal tersebut membuktikan bahwa

masih terdapat siswa yang kesulitan dalam memahami materi pada pelajaran

matematika di sekolah, bahkan jumlahnya mencapai 30% dari total siswa.

Pada kenyataannya juga tidak sedikit siswa di sekolah yang kurang

menyukai matematika. Salah satu penyebabnya adalah siswa menganggap mata

pelajaran ini tergolong sulit dipahami. Matematika dianggap pelajaran yang sulit,

membosankan, dan bahkan orang tua siswa pun juga mengeluh betapa

membingungkannya pelajaran tersebut. Hal tersebut bisa terjadi karena dalam

penyajian materi di kelas masih ada beberapa guru, seperti guru yang lama biasa

mengajar dengan metode ceramah saja tanpa disertai metode dan media

pembelajaran menarik lainnya sehingga siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif

dan hanya mencatat saja.

Agar siswa lebih mudah mempelajari pelajaran matematika di kelas, maka

diperlukan guru yang kreatif, guru yang dapat memilih media, metode, serta

pendekatan yang tepat dengan kondisi siswanya, sehingga proses

pembelajarannya merupakan proses pembelajaran yang berkualitas, efisien, dan

mempunyai daya tarik yang membuat proses pembelajaran tersebut menjadi

menyenangkan. Oleh karena itu diperlukan strategi yang baik dalam proses

pembelajaran, salah satu cara yang dapat diterapkan oleh guru adalah dengan

menggunakan media pembelajaran.

Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam

proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,

membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa

pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran

pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses

pembelajaran dan penyampaian pesan dan pelajaran pada saat itu. Selain

(19)

membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik,

memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.3

Dalam pembelajaran di kelas, guru dapat menggunakan berbagai media

pembelajaran yang dapat membantu kelancaran proses pembelajaran hingga

tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Pemilihan jenis media juga

penting diperhatikan oleh guru sebelum menggunakan media tersebut dalam

pembelajaran di kelas. Mengingat perkembangan pendidikan dewasa ini, media

pembelajaran memiliki banyak jenis yang dapat digunakan di kelas, diantaranya

media visual (penglihatan), media audio (pendengaran), dan audio visual yang

memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya masing-masing, untuk

itu perlu memilihnya dengan cermat dan benar agar dapat digunakan secara tepat.

Keadaan yang terjadi saat ini adalah siswa yang kurang suka membaca

buku-buku teks pelajaran, apalagi buku yang minim gambar dan kurang ilustrasi

yang menarik. Karena dilihat dari sifat penyajian pesannya, buku cenderung

informatif dan lebih menekankan pada sajian materi ajar dengan cakupan yang

luas dan umum sehingga proses komunikasi yang berlangsung menjadi satu arah

dan pembacanya cenderung pasif.

Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa

dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata.

Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna

dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.4 Dengan menggunakan media visual saat

pembelajaran di kelas, guru bisa meningkatkan minat siswa dalam belajar dan

dapat membantu siswa dalam memahami isi materi yang sedang dipelajari.

Komik adalah media komunikasi visual dan lebih daripada sekedar cerita

bergambar yang ringan dan menghibur. Sebagai media komunikasi visual, komik

dapat diterapkan sebagai alat bantu pendidikan dan mampu menyampaikan

informasi secara efektif dan efisien. Seperti diketahui, gaya belajar terdiri atas

3

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 16. 4

(20)

gaya visual, gaya auditori, dan gaya keptik. Gaya belajar visual merupakan gaya

belajar yang lebih mengandalkan indera visual untuk menyerap informasi.5

Buku komik juga merupakan salah satu media berbasis visual yang cukup

digemari oleh anak khususnya pada masa anak-anak akhir. Pada usia tersebut

mereka cenderung sedang senang membaca. Menurut Yudhi Munadi, komik dapat

dijadikan media pembelajaran. Gambar dalam komik biasanya berbentuk atau

berkarakter gambar kartun. Ia mempunyai sifat yang sederhana dalam

penyajiannya, dan memiliki unsur urutan cerita yang memuat pesan yang besar

tetapi disajikan secara ringkas dan mudah dicerna, terlebih lagi dilengkapi dengan

bahasa verbal yang dialogis.6

Berdasarkan hal tersebut, komik dapat dimanfaatkan

sebagai media pembelajaran di kelas. Gambar-gambar unik yang terdapat dalam

komik juga dapat menarik perhatian siswa untuk memahami materi pelajaran yang

menjadi isi cerita komik tersebut.

Menurut Dwi Nanto, ada beberapa alasan mengapa anak akan memilih

komik dari pada buku teks pelajaran, diantaranya; (1) komik tidak memiliki

konsekuensi test apapun sehingga bila membaca komik anak akan senang, (2)

komik kaya akan ilustrasi yang bisa mencapai 90 % dari total isi komik. Ilustrasi

ini tentunya mengajak alam imajinasi anak dan mereka menyukai ini, (3) komik

memberi tantangan agar pembacanya tidak berhenti pada satu halaman saja

malainkan hingga tamat satu buku bahkan satu cerita besar yang bisa berisi

puluhan buku, (4) komik menawarkan banyak genre yang tidak seperti buku

pelajaran. Sedangkan buku pelajaran kurang memberi tawaran sudut pandang atau

variasi bacaan sehingga memperkaya cara memahami suatu topik.7

Kelebihan komik yang lainnya adalah ekspresi yang divisualisasikan

dalam gambar di komik membuat pembaca terlibat secara emosional dan

membuat pembaca termotivasi untuk terus membacanya sampai selesai. Sehingga

proses pembelajaran dengan komik sebagai media pembelajaran dapat

meningkatkan minat membaca siswa, hal ini akan berdampak baik bagi siswa

5Heru Dwi Waluyanto, “Komik Sebagai Media Komunikasi Visual Pembelajaran”, Jurnal Nirmana, Vol. 7, No. 1, 2005, h. 51.

6

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 100. 7

(21)

dalam aspek pemahaman materi. Maka, apabila media komik tersebut digunakan

dalam pembelajaran matematika di kelas diharapkan dapat meningkatkan hasil

belajar matematika siswa.

Sekarang ini sudah banyak terdapat komik-komik pendidikan yang dapat

dengan mudah dijumpai di internet maupun di toko buku, yang siap digunakan

langsung sebagai media pembelajaran di sekolah. Namun untuk itu diperlukan

pemilihan yang cermat, karena jika tidak disertai dengan pemilihan yang cermat,

materi yang disajikan bisa jadi terlalu luas. Oleh karena itu, dalam perancangan

penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui penggunaan media yang

erat dengan kehidupan siswa. Penulis mempunyai ide untuk membuat sebuah

media komik yang akan disesuaikan oleh materi dan perkembangan siswa.

Diharapkan media komik ini dapat memotivasi dan membantu siswa dalam

memahami materi, sehingga hasil belajar matematika siswa dapat meningkat.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Media Komik terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV pada Konsep Faktor dan Kelipatan”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat diidentifikasi

beberapa masalah, yaitu:

1. Guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional.

2. Masih banyak siswa yang menganggap pelajaran matematika itu sulit dan

membosankan.

3. Minat siswa terhadap pelajaran matematika masih rendah.

4. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih rendah.

5. Potensi komik sebagai media pembelajaran masih kurang dimanfaatkan.

C. Pembatasan Masalah

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, maka perlu dilakukan

pembatasan masalah dalam penelitian ini agar persoalan penelitian dapat dikaji

(22)

1. Materi yang diajarkan adalah faktor dan kelipatan.

2. Buku komik yang terdiri dari sampul depan, sampul belakang, dan

halaman isi. Pada halaman sampul depan terdapat judul cerita dan credit

atau keterangan tentang pengarang komik. Pada halaman sampul belakang terdapat ringkasan cerita yang terdapat dalam komik. Sedangkan pada

halaman isi terdapat panel, gang, narasi, balon kata, dan efek suara.

3. Mengukur hasil belajar kognitif siswa berdasarkan posttest dengan jenjang kognitif C1 (pengetahuan), C2 (pemahaman), dan C3 (penerapan).

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah terdapat pengaruh pada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan media komik pada konsep faktor dan

kelipatan?”

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh

pada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan media komik pada

konsep faktor dan kelipatan.

F. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapt berguna bagi siswa, guru, peneliti lain,

sekolah, dll. Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Siswa : diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa.

2. Guru : diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam pemilihan media

pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

3. Peneliti : diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan

dan kajian untuk penelitian lebih lanjut.

4. Sekolah : diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangan dalam

(23)

7 A. Deskripsi Teoretik

Dalam bagian deskripsi teoritik ini akan dikemukakan bahasan mengenai

hasil belajar matematika siswa, media pembelajaran, dan komik.

1. Hasil Belajar Matematika Siswa a. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya yakni ”hasil” dan ”belajar”. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang

mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.1 Belajar atau yang disebut

juga dengan learning, adalah perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman.2 Senada dengan Djamarah

yang menyatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di

dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.3

Biggs merumuskan belajar dalam tiga rumusan, yaitu rumusan kuantitatif,

rumusan institusional, dan rumusan kualitatif. Secara kuantitatif (ditinjau dari

sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan

kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang

dari sudut banyaknya materi yang dikuasai siswa. secara kualitatif (tinjauan

kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan

terhadap penguasaan siswa atas materi yang telah dipelajari. Pengertian belajar

secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan

pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.4

1

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), h. 44. 2

Zikri Neni Iska, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Kizi Brothers, 2011), h. 65. 3

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), h. 38.

4

(24)

Beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian belajar, seperti yang

dikutip oleh Syah diantaranya:

1) Skinner

Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang

berlangsung secara progresif.

2) Chaplin

Chaplin membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan

pertama menyatakan bahwa belajar adalah perolehan tingkah laku yang relatif

menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Sedangkan rumusan kedua

menyatakan bahwa belajar adalah proses memeroleh respon-respon akibat

adanya latihan khusus.

3) Hintzman

Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme

(manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi

tingkah laku organisme tersebut. Dalam pandangannya, perubahan yang

ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila

mempengaruhi organisme.

4) Wittig

Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam

segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil

pengalaman

5) Reber

Reber membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar

adalah proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah suatu

perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan

yang diperkuat. 5

Dari pendapat beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar

merupakan suatu proses kegiatan yang kompleks dan merupakan proses berfikir

dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Disamping itu,

berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada

5

(25)

proses belajar yang dialami siswa, baik ketika berada di sekolah maupun di

lingkungan rumah atau keluarga.

Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada

individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi

hasil belajar. Hasil belajar siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki

siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi

tiga macam hasil belajar, yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan

pengertian, serta sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori

hasil belajar, yakni informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif,

sikap, dan keterampilan motorik.6

Muhibbin Syah dalam psikologi belajar juga mengatakan tentang ciri-ciri

perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar, yaitu perubahan

intensional, positif dan aktif, serta efektif dan fungsional.7

1) Perubahan Intensional, perubahan ini merupakan perubahan yang terjadi

berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan

disadari atau dengan kata lain bukan kebetulan.

2) Perubahan Positif dan Aktif, perubahan ini merupakan perubahan yang

terjadi karena proses bersiifat positif dan negatif, perubahan positif artinya

baik yang bermanfaat serta sesuai dengan harapan, adapun perubahan

negatif artinya tidak terjadi dengan sendirinya tetapi karena usaha siswa itu

sendiri.

3) Perubahan Efektif dan Fungsional, perubahan ini merupakan perubahan

yang timbul karena belajar bersifat efektif yaitu berhasil guna artinya

perubahan ini membawa pengaruh makna dan manfaat tertentu bagi siswa.

Perubahan ini bersifat dinamis dan mendorong terjadinya perubahan

positif lainnya.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, jenis-jenis hasil belajar yang paling

dikenal dan paling sering digunakan adalah jenis-jenis belajar yang dikemukakan oleh Benyamin S. Bloom atau yang sering dikenal dengan “Taksonomi Bloom”.

6

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet. XI, h. 22.

7

(26)

Benyamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa taksonomi

(pengelompokkan) tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu pada tiga

domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:

ranah proses berpikir (cognitive domain), ranah nilai atau sikap (affective domain), ranah keterampilan (psychomotor domain).8 Berikut ini pembahasan ketiga ranah tersebut menurut Bloom.

1) Ranah kognitif, adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).

Terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang paling rendah

sampai jenjang tertinggi, yakni (1) pengetahuan/hafalan/ingatan

(knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan/aplikasi

(application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), dan (6) penilaian (evaluation).

2) Ranah afektif, adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.

Terdapat lima jenjang dalam ranah afektif, yakni (1) menerima (receiving), (2) menanggapi (responding), (3) menilai/menghargai (valuing), (4) mengatur/mengorganisasi (organization), dan (5) karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai (characterization by a value or value complex.

3) Ranah psikomotor, adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan

(skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.9

Terjadinya perubahan tingkah laku pada seseorang menjadi bukti bahwa

seseorang tersebut telah belajar, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari

tidak mengerti menjadi mengerti. Bertolak dari berbagai definisi di atas, secara

umum hasil belajar dapat dipahami sebagai perubahan seluruh tingkah laku yang

dialami oleh individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi

dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Hasil belajar siswa adalah

kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk

8

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011), Cet.11, h. 49.

9

(27)

mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa

dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Hasil belajar siswa yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar

dalam ranah kognitif dengan jenjang kognitif pengetahuan (C1), pemahaman (C2),

dan penerapan (C3). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas

otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.10 Domain kognitif merupakan proses

pengetahuan yang lebih banyak didasarkan perkembangannya dari persepsi,

introspeksi, atau memori siswa.11 Oleh karena itu, penulis melakukan pengukuran

hasil belajar siswa kelas IV pada ranah kognitif jenjang C1, C2, dan C3.

1) Pengetahuan (C1), merupakan kemampuan berpikir yang paling rendah,

yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus, dan

sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.

2) Pemahaman (C2), merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat

lebih tinggi dari pengetahuan, yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti

atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Pada

jenjang ini siswa diharapkan mampu memahami hubungan yang sederhana

dari informasi yang diperoleh baik berupa fakta, konsep, dan prinsip.

3) Penerapan (C3), adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau

menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode,

prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru

dan kongkret. Pada jenjang ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk

menyeleksi atau memilih suatu abstraksi tertentu (konsep, hukum, dalil,

aturan, gagasan, cara) yang telah diketahuinya secara tepat untuk

diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar.

Dalam suatu pembelajaran, yang menjadi indikator atau petunjuk bahwa

suatu proses belajar mengajar tersebut dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai

berikut:12

10

Anas Sudijono, op.cit., h. 50. 11

Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 75.

12

(28)

1) daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi

tertinggi, baik secara individual maupun kelompok

2) perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus

telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

Namun demikian, indikator yang banyak dipakai sebagai tolok ukur

keberhasilan adalah daya serap siswa. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, guru

perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada

siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah

menguasai tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai. 13

Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program

belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar-mengajar.

Penilaian formatif berorientasi kepada proses belajar-mengajar. Melalui penilaian

formatif diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi

pelaksanaannya. Tes formatif digunakan untuk mengukur satu atau beberapa

pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya

serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.14 Instrumen tes yang digunakan

untuk mengukur hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Tes

tersebut berupa tes objektif berbentuk uraian berjumlah 10 butir soal.

Adapun dalam menentukan kualitas pendidikan, maka upaya

merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya memperhatikan beberapa

prinsip. Prinsip-prinsip penilaian yang dimaksudkan antara lain:15

1) hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas abilitas yang harus

dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian

2) penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar mengajar

sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.

3) penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya

komprehensif.

4) Penilaian hasil belajar harusnya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil

penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siswa.

13 Ibid. 14

Ibid., h.107. 15

(29)

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu faktor

internal dan faktor eksternal:16

1) Faktor Internal

a) Faktor Fisiologi

Secara umum kondisi fisiologi, seperti kesehatan yang prima, tidak

dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan

sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar.

b) Faktor Psikologis

Faktor kedua dari faktor internal adalah faktor psikologis. Setiap

manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang

berbeda-beda, tentunya perbedaan-perbedaan ini akan berpengaruh pada

proses dan hasil belajarnya masing-masing. Beberapa faktor psikologis

yang dapat diuraikan diantaranya meliputi intelegensi, perhatian, minat

dan bakat, motif dan motivasi, dan kognitif dan daya nalar.

2) Faktor Eksternal

a) Faktor Lingkungan

Lingkungan alam misalnya keadaan suhu, kelembaban, kepengapan

udara, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial baik yang berwujud

manusia hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil

belajar.

b) Faktor Instrumental

Faktor-faktor instrumental ini dapat berupa kurikulum, saran dan

fasilitas, dan guru.

Sedangkan menurut Iska, belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : 17

a) Faktor Internal; kesehatan, inteligensi, bakat, motivasi, dan cara belajar.

b) Faktor eksternal; keluarga, sekolah, masyarakat, dan teman sebaya.

16

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru), (Ciputat: Gaung Persada Press, 2008), h. 24-35.

17

(30)

c. Pengertian Matematika

Matematika dalam sudut pandang Andi Hakim Nasution istilah

matematika berasal dari kata Yunani, mathein atau manthenein yang berarti

mempelajari. Kata ini memiliki hubungan yang erat dengan kata Sansekerta,

medha atau widya yang memiliki arti kepandaian, ketahuan atau inteligensia. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar (hal ini sesuai dengan arti kata mathein pada matematika).18

Matematika, menurut Ruseffendi, adalah bahasa simbol; ilmu deduktif

yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan,

dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke

unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil.

Sedangkan hakikat matematika menurut Soedjadi, yaitu memiliki objek tujuan

abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.19

Dari berbagai pandangan dan pengertian diatas, dapat disarikan bahwa

matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, dan alat

untuk berkomunikasi. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari

perkembangan teknologi modern, dan mempunyai peran penting dalam berbagai

disiplin serta memajukan daya pikir manusia. Matematika mempunyai

cabang-cabang ilmu, antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Matematika

merupakan suatu ilmu yang dipelajari oleh siswa sejak pertama kali menempuh

pendidikan yang terdiri dari angka-angka dan hitungan yang pasti. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa adalah kemampuan yang

dimiliki oleh siswa atau penguasaan siswa terhadap mata pelajaran Matematika

dalam materi yang telah dipelajari dan merupakan bukti pencapaian pemahaman

terhadap konsep-konsep matematika yang diperoleh siswa setelah melalui proses

pembelajaran.

18

Abdul Halim Fathani, Matematika Hakikat & Logika, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), h. 21.

19

(31)

2. Media Pembelajaran a. Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟, atau „pengantar‟. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach &

Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah

manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa

mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini,

guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus,

pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai

alat-alat grafis, potografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan

menyusun kembali informasi visual atau verbal.20

Dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu

yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang

berlangsung antara guru dan siswa. Media juga membawa pesan dan informasi

yang mudah dipahami oleh para peserta didik.

Yusuf Hadi Miarso mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang

dapat merangsang terjadinya proses belajar dalam diri siswa-siswi.21 Sedangkan

menurut Yudhi Munadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat

menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana

sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya

dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.22

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah

segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sumber belajar yang berisi suatu

pesan dan berfungsi sebagai perantara atau pengantar pesan dari guru ke siswa.

Sebagai salah satu komponen sumber belajar, media pembelajaran adalah alat

bantu, baik berupa alat-alat elektronik, gambar, peraga, buku, dll. yang digunakan

guru dalam menyalurkan isi pelajaran. Media pembelajaran dapat dipakai guru

20

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3. 21

Kasful Anwar dan Hendra Harmi, Perencanaan Sistem Pembelajaran KTSP, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 160.

22

(32)

untuk memperjelas informasi/pesan, memberikan tekanan pada hal-hal yang

penting, memberikan variasi, memperjelas struktur pembelajaran, dan

meningkatkan motivasi para siswa.

b. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran

Sebagai salah satu komponen sumber belajar media pembelajaran adalah

alat bantu, baik berupa alat-alat elektronik, gambar, peraga, buku, dan lain-lain

yang digunakan guru dalam menyalurkan isi pelajaran. Media pembelajaran dapat

bermanfaat untuk: 23

1) memperjelas informasi/pesan

2) memberikan tekanan pada hal-hal yang penting

3) memberikan variasi

4) memperjelas struktur pembelajaran

5) meningkatkan motivasi

Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam

proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,

membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa

pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.24 Media pembelajaran juga dapat

mempertinggi kualitas hasil belajar yang dicapainya. Alasan media pembelajaran

dapat mempertinggi proses belajar siswa adalah sebagai berikut:

1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat

menumbuhkan motivasi belajar siswa

2) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih

dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan

pembelajaran lebih baik

3) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi

verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan

dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam

pelajaran

23

Kasful Anwar dan Hendra Harmi, op. cit., h. 161. 24

(33)

4) siswa banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya

mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,

melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain25

Seberapa pentingnya peran media dalam pengajaran, namun tetap tidak

bisa menggeser peran guru, karena media hanya berupa alat bantu yang

memfasiliatsi guru dalam pengajaran. Dalam proses belajar mengajar, fungsi

media menurut Nana Sudjana, yakni:

1) penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi

tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk

mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif

2) penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari

keseluruhan situasi mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran

merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru

3) media dalam pengajaran, penggunaannya bersifat integral dengan tujuan

dan isi pelajaran

4) penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata sebagai alat

hiburan yang digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya

lebih menarik perhatian siswa

5) penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk

mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam

menangkap pengertian yang diberikan guru

6) penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi

mutu belajar mengajar.26

c. Jenis-jenis Media Pembelajaran dan Pengembangannya

Media pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Terdiri dari yang

paling sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada

media yang dapat dibuat sendiri, ada media yang diproduksi pabrik. Ada media

25

Kasful Anwar dan Hendra Harmi, op.cit., h. 161-162. 26

(34)

yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat dimanfaatkan, ada pula

media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran.

Klasifikasi media pembelajaran bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya,

dan dari bahan serta cara pembuatannya. Penjelasannya sebagai berikut:27

1) Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam:

a) Media auditif, media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja,

seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.

b) Media visual, media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media

visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula gambar visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak

seperti film bisu, dan film kartun.

c) Media audiovisual, media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.

Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi

kedua jenis media yang pertama dan kedua.

2) Dilihat dari daya liputnya, media dibagi dalam:

a) Media dengan daya liput luas dan serentak. Penggunaan media ini tidak

terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik

yang banyak dalam waktu yang sama. Contohnya: radio dan televisi.

b) Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat. Media ini

dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti

film, sound slide, film rangkai, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.

c) Media untuk pengajaran individual. Media ini penggunaannya hanya untuk

seorang diri, termasuk media ini adalah modul berprogram dan pengajaran

melalui komputer.

3) Dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi dalam:

a) Media sederhana. Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya

murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaannya tidak sulit

27

(35)

b) Media kompleks. Media ini adalah media yang bahan dan alat

pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan

penggunannya memerlukan keterampilan yang memadai.

d. Karakteristik Media Visual Karakteristik media visual meliputi:28

1) Pesan visual

Ada 5 jenis yang termasuk pesan visual, yaitu:

a) Gambar, secara garis besar dapat dibagi pada tiga jenis yaitu, sketsa, lukisan

dan foto.

b) Grafik, adalah gambar yang sederhana yang banyak sedikitnya merupakan

penggambaran data kuantitatif yang akurat dalam bentuk yang menarik dan

mudah dimengerti.

c) Diagram, sebuah diagram merupakan susunan garis-garis dan lebih

menyerupai peta daripada gambar.

d) Bagan, hampir sama dengan diagram. Bedanya, bagan lebih menekankan

kepada suatu perkembangan atau suatu proses atau susunan suatu

organisasi.

e) Peta, adalah gambar permukaan bumi atau sebagian daripadanya.

2) Penyalur Pesan Visual Non Verbal-Nonverbal Grafis

Penyalur pesan visual non verbal-nonverbal grafis terdiri dari 5 jenis, yaitu:

a) Buku dan Modul

Buku merupakan sumber belajar yang dibuat untuk keperluan umum

dan biasanya seorang siswa yang membaca buku masih membutuhkan

bantuan guru atau orang tua untuk menjelaskan kandungannya. Sedangkan

modul adalah bahan belajar yang dapat digunakan oleh siswa untuk belajar

secara mandiri dengan bantuan seminimal mungkin.

b) Komik

Komik juga dapat dijadikan media pembelajaran. Gambar dalam

komik biasanya berbentuk atau berkarakter gambar kartun. Ia mempunyai

28

(36)

sifat yang sederhana dalam penyajiannya, dan memiliki unsur urutan cerita

yang memuat pesan yang besar tetapi disajikan secara ringkas dan mudah

dicerna, terlebih lagi ia dilengkapi dengan bahasa verbal yang dialogis.

c) Majalah dan Jurnal

Majalah secara umum dapat dimaknai sebagai media informasi

dengan tugas utamanya menyampaikan berita aktual. Sedangkan jurnal

adalah hasil pemikiran dan penelitian dari sivitas akademika sebuah

lembaga pendidikan.

d) Poster

Poster adalah gambar yang besar, yang memberi tekanan pada satu

atau dua ide pokok, sehingga dapat dimengerti dengan melihatnya sepintas.

e) Papan visual

Papan visual, yakni papan yang dapat menyalurkan pesan visual.

Papan visual memiliki banyak ragam, diantaranya adalah papan tulis, papan

magnetik, papan peraga, papan bulletin, dan papan flanel.

e. Pemilihan Media Pembelajaran

Media merupakan salah satu hal yang dapat digunakan untuk

meningkatkan kegiatan proses pembelajaran. Karena beraneka ragamnya media

tersebut, maka masing-masing media mempunyai karakteristik yang

berbeda-beda. Untuk itu perlu memilihnya dengan cermat dan tepat agar dapat digunakan

secara tepat guna.

Dalam menggunakan media pengajaran, hendaknya guru memperhatikan

sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil

yang baik. Prinsip-prinsip yang dimaksud dikemukakan Nana Sudjana sebagai

berikut:29

1) Menentukan jenis media dengan tepat. Artinya, sebaiknya guru memilih

terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan

pelajaran yang diajarkan

29

(37)

2) Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat. Artinya, perlu

diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat

kematangan/kemampuan anak didik

3) Menyajikan media dengan tepat. Artinya, teknik dan metode penggunaan

media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode,

waktu dan sarana

4) Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi

yang tepat.

f. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokan dalam dua

jenis, yaiu media jadi, karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan

terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai (media by utilization), dan media rancangan, karena perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk

maksud atau tujuan pembelajaran tertentu (media by design).30

Untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri), pertanyaan yang

dijadikan sebagai acuan diantaranya sebagai berikut:

1) Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau

hanya informasi tambahan atau hiburan?

2) Apakah media yang dirancang itu untuk kepentingan pembelajaran atau

alat bantu pengajaran (peraga)?

3) Apakah dalam pengajarannya akan menggunakan strategi kognitif, afektif

dan psikomotorik?

4) Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih asing bagi anak

didik?

5) Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau

olahraga?

6) Apakah perlu rangsangan warna?31

30

Arif S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 83.

31

(38)

Setelah tujuh pertanyaan tersebut terjawab, maka guru dapat mengajukan

alternatif media yang akan dirancang. Alternatif tersebut mungkin jenis media

audio, media visual, atau media audiovisual.

Lebih lanjut, Nana Sudjana & Ahmad Rivai mengemukakan rumusan

pemilihan media dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:32

1) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih

atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.

2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang

sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan

media agar lebih mudah dipahami siswa

3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah

diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.

4) Keterampilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang

diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses

pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya,

tetapi dampak dari penggunaannya dalam interaksi bagi siswa selama

pengajaran berlangsung

5) Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan

pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa.

Penggunaan media dalam pembelajaran bertujuan untuk melengkapi dan

membantu guru dalam menyampaikan materi atau informasi kepada siswa.

Dengan menggunakan media, diharapkan dapat terjadi komunikasi yang

komunikatif, siswa mudah memahami maksud dari materi yang disampaikan, dan

guru mudah mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa.

3. Komik

a. Pengertian Komik

Kata komik berasal dari bahasa Perancis yaitu “comique”, yang sebagai kata sifat artinya lucu atau menggelikan dan sebagai kata benda artinya pelawak

atau badut. Comique sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu komikos. Dalam

32

(39)

bahasa Inggris, komik sekali muat atau bersambung dalam penerbitan pers disebut

comic strip atau strip cartoon.33

Seperti diketahui, komik memiliki banyak arti dan sebutan, yang

disesuaikan dengan tempat masing-masing komik itu berada. Secara umum,

komik sering diartikan sebagai cerita bergambar. Scout McCloud memberikan

pendapat bahwa komik dapat memiliki arti gambar gambar serta lambang lain

yang ter-jukstaposisi (berdekatan, bersebelahan) dalam urutan tertentu, untuk

menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya.

Komik sesungguhnya lebih dari sekedar cerita bergambar yang ringan dan

menghibur34.

Dalam jurnal lain disebutkan bahwa komik adalah suatu bentuk seni yang

menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa

sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya komik dicetak diatas kertas dan

dilengkapi dengan teks. Komik memanfaatkan ruang dalam media gambar untuk

meletakkan gambar demi gambar sehingga membentuk suatu alur cerita yang

utuh. Komik adalah suatu kartun yang mengungkapkan suatu karakter yang

memerankan cerita dalam urutan yang erat dan merupakan bentuk berita

bergambar, terdiri dari berbagai situasi dan kadangkala bersifat humor.35

Komik adalah gambar atau lukisan bersambung yang merupakan cerita.

Singkatnya, komik dapat juga disebut dengan cerita bergambar.36 Komik

umumnya berbentuk rangkaian gambar, masing-masing dibuat dalam panel dan

dipisahkan oleh gang, yang keseluruhannya merupakan kesatuan cerita yang

runtut. Gambar-gambar tersebut biasanya dilengkapi dengan balon kata yang

berisi ucapan yang disampaikan oleh tokoh dalam komik tersebut dan kadang

disertai narasi sebagai penjelasan yang berbentuk kotak dan tersambung di tepi

panel.

33Maifalinda Fatra, “Penggunaan KOMAT (Komik Matematika) pada Pembelajaran Matematika di MI”, Algoritma, Vol. 3, No. 1, 2008, h. 64.

34Heru Dwi Waluyanto, “Komik Sebagai Media Komunikasi Visual Pembelajaran”, Jurnal Nirmana, Vol. 7, No. 1, 2005, h. 51.

35

Eny E. dan Hilma S., “Pengaruh Penggunaan Media Komik terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA N 3 Pontianak pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit”, Jurnal Pendidikan Matematika dan Ipa, Vol. 1, No. 1, 2010, h. 26.

36

(40)

Komik adalah suatu bentuk media komunikasi visual yang mempunyai

kekuatan untuk menyampaikan informasi secara populer dan mudah dimengerti.

Hal ini dimungkinkan karena komik memadukan kekuatan gambar dan tulisan

yang dirangkai dalam suatu alur cerita gambar membuat informasi lebih mudah

diserap. Teks membuatnya lebih dimengerti, dan alur membuatnya lebih mudah

untuk diikuti dan diingat.37

Dari beberapa pengertian komik di atas maka dapat disimpulkan bahwa

komik adalah sajian cerita yang dilengkapi dengan gambar, ilustrasi,

simbol-simbol, dan balon kata yang berdekatan dalam urutan tertentu untuk

menyampaikan informasi.

b. Unsur-unsur Komik

Secara sepintas komik dipandang hanya sebagai media visual yang terdiri

dari kumpulan gambar dan tulisan yang terjalin menjadi sebuah cerita. Namun

bagi para komikus, komik memiliki unsur-unsur yang terdiri dari sampul depan,

sampul belakang, dan halaman isi.

Pada halaman sampul depan sebuah komik biasanya terdapat

komponen-komponen sebagai berikut:

1) Judul cerita atau judul serial

Judul biasanya diambil dari tema cerita yang diangkat, menarik perhatian

dan mudah ditangkap oleh pembaca.

2) Credits

Yaitu keterangan tentang pengarang komik tersebut, seperti penulis

skenario, penggambar, dan sebagainya.

3) Indicia

Yaitu keterangan tentang penerbit maupun percetakan lengkap dengan

waktu terbit dan pemegang hak cipta.38

37

Heru Dwi Waluyanto, loc. Cit., h. 51.

(41)

Sedangkan pada halaman sampul belakang tertera ringkasan cerita yang

terdapat dalam komik tersebut untuk memberikan gambaran umum tentang isi

komik kepada pembaca. Halaman isi komik terdiri dari:

1) Panel

Panel berfungsi sebagai ruang tempat diletakannya gambar-gambar

sehingga akan tercipta suatu alur cerita yang ingin disampaikan kepada

pembaca.

2) Gang

Gang adalah ruang atau jarak yang menjembatani antara satu panel

dengan panel lainnya.

3) Narasi

Narasi berfungsi menerangkan dialog, waktu, tempat, kejadian, dan

situasi yang digambarkan dalam komik tersebut. Biasanya berbentuk kotak

dan tersambung di tepi panel.

4) Balon kata

Adalah suatu bulatan dengan garis penunjuk yang di dalamnya

terdapat tulisan yang berisi ucapan yang disampaikan oleh tokoh dalam

komik tersebut.

5) Efek suara (Sound Lettering)

Menunjukkan suara-suara yang terjadi dalam cerita tersebut, misalnya

suara angin, suara ranting patah,suara bel dan sebagainya.39

c. Kelebihan dan Kekurangan Komik

Sebagai media visual, komik juga mempunyai kelebihan maupun

kelemahan dalam pembelajaran. Kelebihan media komik, disamping sifat-sifat

komik yang khas, harus diakui efektivitas media dalam pembelajaran merupakan

segi yang menguntungkan dalam pendidikan. Hurlock menjelaskan argumen yang

menguntungkan komik, yaitu:40

39

Ibid., h.18.

(42)

1) Komik membekali dengan kemampuan membaca yang menyenangkan

2) Komik dapat digunakan untuk memotivasi siswa mengembangkan

keterampilan membaca

3) Prestasi pendidikan yang dicapai siswa yang sering membaca komik

hampir identik dengan mereka yang jarang membacanya

4) Siswa diperkenalkan dengan kata-kata yang luas, banyak kata yang

dijumpainya lagi dalam bacaan lain

5) Buku komik menyediakan teknik bagus untuk menyebarluaskan

propaganda yang menentang prasangka

6) Komik memberi siswa sumber katarsis emosional bagi emosi yang

tertahan

7) Siswa mungkin mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh buku komik

yang memiliki sifat yang dikaguminya.

Berdasarkan uraian diatas, bahwa komik efektif digunakan oleh siswa,

sehingga dapat mengembangkan minat baca dan dapat melatih daya imajinasinya

agar kelak menjadi manusia yang kreatif.

Media komik disamping mempunyai kelebihan juga memiliki kekurangan

tertentu. Hurlock menjelaskan argumen yang menentang komik adalah:

1) Komik mengalihkan perhatian anak dari bacaan lain yang lebih berguna

2) Karena gambar menerangkan cerita, anak yang kurang mampu membaca

tidak akan berusaha membaca teks

3) Lukisan, cerita dan bahasa kebanyakan komik bermutu rendah

4) Komik menghambat anak melakukan bentuk permainan lainnya

5) Dengan menggambarkan perilaku anti sosial, komik mendorong

tumbuhnya agresivitas dan kenakalan remaja pada anak

6) Komik menjadikan kehidupan yang sebenarnya menjadi membosankan

dan tidak menarik.41

(43)

d. Macam-Macam Komik

Komik sebagai media massa hadir dengan berbagai jenis dan materi sesuai

dengan kebutuhan khalayak atau konsumen. Dalam hal ini komik dibedakan

dalam 2 kategori yaitu berdasarkan bentuknya dan berdasarkan jenis ceritanya.

1) Komik Berdasarkan Bentuknya42

a) Komik Strip (Comic Strips)

Komik ini merujuk pada komik yang terdiri dari beberapa panel saja dan

biasanya muncul di surat kabar atau majalah. Komik jenis ini terbagi menjadi

dua kategori, yaitu komik strip bersambung dan kartun komik.

b) Buku Komik (Comic Book)

Comic Book atau Buku Komik adalah komik yang disajikan dalam bentuk buku yang tidak merupakan bagian dari media cetak lainnya. Kemasan buku

komik ini lebih menyerupai majalah dan terbit secara rutin.

c) Novel Grafis (Graphic Novel)

Novel grafis memiliki tema-tema yang lebih serius dengan panjang cerita

yang hampir sama dengan novel dan ditujukan bagi pembaca yang bukan

anak-anak.

d) Komik Kompilasi

Komik kompilasi merupakan kumpulan dari beberapa judul komik dan

komikus yang berbeda-beda.

e) Web Comic (Komik Online)

Sesuai dengan namanya, komik ini menggunakan media internet untuk

publikasinya dan jangkauannya sangat luas tak terbatas.

2) Komik Berdasarkan Jenis Ceritanya

Berdasarkan jenis ceritanya komik dibedakan menjadi:43

a) Komik Edukasi

Komik secara nyata memberikan andil yang cuku besar dalam ranah

intelektual dan artistik seni. Keragaman gambar dan cerita yang

ditawarkannya menjadikannya sebagai alat atau media untuk menyampaikan

42

Indira Maharsi, KOMIK Dunia Kreatif Tanpa Batas, (Yogyakarta: Kata Buku, 2011), h. 15.

43

(44)

pesan yang beragam, salah satunya adalah pesan didaktis kepada masyarakat

awam. Sehingga hal tersebut menunjukan bahwa komik memiliki dua fungsi

sekaligus. Pertama adalah fungsi hiburan dan kedua dapat dimanfaatkan baik

langsung maupun tidak langsung untuk tujuan edukatif.

Dengan demikian bisa digarisbawahi bahwa sebetulnya komik

berpengaruh sekali dalam memberi pemahaman yang cepat kepada para

pembaca tentang suatu hal yang bermuatan edukasi. Bahasa gambar dan teks

dalam komik ternyata mampu mentransfer pemahaman atau informasi dengan

cepat terhadap suatu masalah dibanding hanya dengan tulisan saja.

Gambar

Gambar 4.1 : Diagram Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest Siswa Kelas
gambar-gambar
gambar tokoh komik beserta ilustrasi yang menarik, hal tersebut bisa mengasah
Tabel 3.1 Desain Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tanpa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, baik akibat kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kenaikan muka air laut, sektor pertanian pangan akan mengalami

Pengambilan subyek wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik snowball sampling artinya pengambilan sampel tertentu untuk diwawancarai, namun

Data-data yang diperlukan untuk pengerjaan tugas akhir ini antara lain terdiri dari data bathimetri (memakai data hasil surve pada tahun 2011), Topografi (memakai

Komisi Pemilihan Umum mempunyai tanggungjawab yang besar dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan pemilihan umum, bagaimana Komisi Pemilihan Umum

Menurut UU No.13 tahun Tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna.. menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenughi

mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan berpikir tinggi dengan cakupan materi yang luas. Namun peserta didik tidak mengembangkan sendiri

Pertambahan diameter bonggol didominasi oleh unsur N, P, dan K, trichokompos TKKS dan pupuk NPK tablet mengandung unsur kalium dan fosfor yang tinggi, dilihat dari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kesukaan panelis terhadap warna dari ketiga jenis susu (S1; S2; S3) mendapat skor 4-5 dengan nilai rata-rata masing-masing adalah