KAPASITAS MAKSIMUM KEPADATAN TANAH PADA BERBAGAI DISTRIBUSI UKURAN PARTIKEL DAN KADAR BAHAN ORGANIK TANAH DALAM KONDISI KERING UDARA
DAN KAPASITAS LAPANG
SITI PUTRI CINTA AYU
A14062831
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN
FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
SITI PUTRI CINTA AYU. Kapasitas Maksimum Kepadatan Tanah pada Berbagai Distribusi Ukuran Partikel dan Kadar Bahan Organik Tanah dalam Kondisi Kering Udara dan Kapasitas Lapang. Dibimbing oleh OTENG HARIDJAJA dan ENNI DWI WAHJUNIE.
Tanah terdiri dari bahan mineral dan bahan organik. Distribusi ukuran partikel tanah mempengaruhi sifat fisik tanah sedangkan bahan organik tanah berperan memperbaiki sifat tanah. Salah satu perubahan yang dapat terjadi pada tanah adalah kepadatan tanah yang diakibatkan oleh reaksi tanah terhadap gaya yang bekerja pada tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekstur dan bahan organik tanah serta pengaruh kadar air saat pemadatan terhadap kepadatan tanah dan hubungannya dengan sifat-sifat fisik tanah.
Penelitian simulasi tekstur dan kadar bahan organik tanah dilakukan dengan menggunakan bahan: tanah, pasir kuarsa, dan kompos. Tanah diambil dari daerah Ciampea, Bogor. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor A yaitu tekstur tanah, yang meliputi: liat berat, liat, lempung berpasir, dan pasir. Faktor B yaitu kadar bahan organik tanah, yang meliputi: 0,5%; 2,5%; 5,0%; dan 7,5% bahan organik. Perbedaan perlakuan kadar air saat pemadatan dianalisis menggunakan uji t-student untuk membandingkan pemadatan kondisi kering udara dengan kapasitas lapang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur dan bahan organik dalam pemadatan tanah memberikan pengaruh nyata terhadap kepadatan maksimum dan sifat fisik tanah, yang meliputi: bobot isi, pori drainase total, pori air tersedia, permeabilitas, ketahanan penetrasi, dan energi pemadatan tanah. Semakin halus butir tanah, maka semakin kecil nilai bobot isi, permeabilitas tanah, dan pori drainase total. Bahan organik berpengaruh menurunkan bobot isi, permeabilitas tanah, dan meningkatkan pori air tersedia tanah. Kadar air tanah memberikan pengaruh terhadap pemadatan tanah. Peningkatan kadar air pada saat pemadatan menyebabkan energi yang dibutuhkan untuk pemadatan semakin kecil. Kepadatan tanah dapat dilihat dari bobot isi dan ketahanan penetrasi tanah.
ABSTRACT
SITI PUTRI CINTA AYU. The Maximum Capacity of Soil Density at Various Particle Size Distribution and Organic Matter Content in Dry Air and Field Capacity Condition. Supervised by OTENG HARIDJAJA and ENNI DWI WAHJUNIE.
Soil consists of mineral and organic matter. The particle size distribution of soil affects the physic characteristics, while soil organic matter is important to improve the soil characteristics. One of the physical change that may occur in soil, as a result of certain forces worked to it, is soil compaction. This research aimed to determine the effect of soil particle size distribution and organic matter in soil compaction, in relation with soil physic characteristics, also to determine the influence of water content in soil compaction and its relation to soil physical properties.
The simulation of soil particle size distribution and organic matter content conducted using soil, quartz, and compose. Soils collected from Ciampea, Bogor. The analysis carried out in Laboratory of Departement of Soil Science and Land Resources, Faculty of Agricultural, IPB. The research was set up using randomized design with two factors with three replications. Factor A, which consists: heavy clay, clay, sandy loam, and sand. Factor B consist of: organic matter content 0,5%; 2,5%; 5,0%; and 7,5%. Water content treatments for compaction analyzed using t-student test to compare between the dry air with field capacity compaction.
The result showed that the soil particle size distribution and organic matter in soil compaction provide real effect on the maximum soil density and soil physic characteristics, which include: bulk density, total drainage pore, available water pore, permeability, penetration resistance, and compaction energy. The finer soil texture, the smaller of soil bulk density, soil permeability, and soil drainage pore. The organic matter content has an effect in decreasing bulk density, soil permeability, and increasing the available water pore. Soil moisture content has influence on soil compaction. The increase in water content during compaction caused energy required to compaction decreased. The density of soil can be seen from the soil bulk density and penetration resistance.
KAPASITAS MAKSIMUM KEPADATAN TANAH PADA BERBAGAI DISTRIBUSI UKURAN PARTIKEL DAN KADAR BAHAN ORGANIK TANAH DALAM KONDISI KERING UDARA
DAN KAPASITAS LAPANG
SITI PUTRI CINTA AYU
A14062831
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN
FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
52 Menyetujui,
Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2
Dr. Ir. Oteng Haridjaja, M.Sc NIP. 19490106 1974031 002
Dr. Ir. Enni Dwi Wahjunie, M.Si NIP. 19600330 198601 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan
Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc NIP. 19621113 198703 1 003
Tanggal Lulus:
dalam Kondisi Kering Udara dan Kapasitas Lapang Nama Mahasiswa : Siti Putri Cinta Ayu
NRP : A14062831
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 27 Mei 1988. Penulis merupakan putri dari ibu dr. Heni Herawati sebagai anak ke-empat dari empat bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Rawa Baru 45 Bekasi Timur pada tahun 2000, kemudian menyelesaikan pendidikan sekolah menegah pertama di SLTP Negeri 2 Bogor pada tahun 2003. Penulis melanjutkan sekolah menegah atas di SMA Negeri 2 Bogor dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada kehadirat Allah SWT, karena-Nya penulis mendapatkan izin dan kemudahan untuk melaksanakan dan menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi, yang berjudul Kapasitas Maksimum Kepadatan Tanah pada Berbagai Distribusi Ukuran Partikel dan Kadar Bahan Organik Tanah dalam Kondisi Kering Udara dan Kapasitas Lapang. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Manajemen Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai April 2012. Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh tekstur dan bahan organik tanah serta kadar air saat pemadatan terhadap kepadatan tanah maksimum dan hubungannya dengan sifat fisik tanah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa interaksi tekstur dan bahan organik tanah berpengaruh nyata terhadap sifat tanah (bobot isi, pori drainase total, pori air tersedia, permeabilitas, ketahanan penetrasi, dan energi pemadatan tanah). Kadar air tanah pada saat pemadatan memberikan pengaruh nyata terhadap pemadatan tanah dan sifat fisik tanah.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Oteng Haridjaja, M.Sc dan Dr. Ir. Enni Dwi Wahjunie, M.Si atas bimbingan, saran, motivasi serta kesabaran yang diberikan selama proses penelitian dan penyusunan skripsi; keluarga tercinta atas doa dan dukungannya; staf Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB; serta seluruh sahabat MSL 43 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Akhir kata, penulis berharap semoga tulisan ini dapat berguna bagi semua pihak yang membacanya baik dalam dunia ilmu tanah maupun bidang-bidang lain yang terkait dengan penelitian.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Manfaat Penelitian ... 2
Hipotesis ... 2
TINJAUAN PUSTAKA ... 3
Tekstur Tanah ... 3
Pemadatan Tanah ... 3
Sifat Fisik Tanah dan Hubungannya dengan Kepadatan, Tekstur, dan Bahan Organik Tanah ... 4
Bobot Isi (Bulk Density) dan Porositas Tanah ... 4
Ketahanan Penetrasi Tanah ... 5
Kemampuan Tanah Memegang Air ... 5
Permeabilitas Tanah ... 5
Hubungan Kadar Air terhadap Pemadatan Tanah ... 6
Hubungan Kepadatan Tanah dengan Tanaman ... 6
METODOLOGI ... 8
Lokasi dan Waktu Penelitian ... 8
Alat dan Bahan Penelitian ... 8
Metode Pelaksanaan Penelitian ... 9
Pengumpulan Bahan Contoh Tanah ... 9
Persiapan Penetapan Contoh Tanah ... 10
Pemadatan Contoh Tanah ... 12
Pengamatan Sifat - Sifat Tanah ... 12
Bobot Isi Tanah ... 12
Permeabilitas Tanah ... 13
Kurva pF ... 13
Energi Pemadatan ... 14
Bobot Jenis Partikel (BJP)... 14
Analisis Data ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16
Pengaruh Tekstur dan Bahan Organik Tanah terhadap Sifat-Sifat Tanah dalam Proses Pemadatan Tanah ... 16
Bobot Jenis Partikel (BJP)... 16
Bobot Isi Tanah ... 16
Pori Drainase Total ... 21
Pori Air Tersedia... 23
Permeabilitas Tanah ... 25
Ketahanan Penetrasi Tanah ... 28
pH Tanah ... 30
Pengaruh Kadar Air Tanah dalam Proses Pemadatan Tanah terhadap Sifat-Sifat Tanah ... 31
Bobot Isi Tanah ... 31
Kurva pF ... 32
Pori Drainase Total ... 33
Pori Air Tersedia... 34
Permeabilitas Tanah ... 34
Ketahanan Penetrasi Tanah ... 36
Energi Pemadatan Tanah... 37
Pengaruh Interaksi Tekstur dan Bahan Organik Tanah ... 37
Pengaruh Kondisi Kadar Air Tanah dalam Proses Pemadatan ... 38
Aplikasi Tekstur, Kadar Bahan Organik, dan Kadar Air Tanah dalam Proses Pemadatan Tanah ... 40
KESIMPULAN ... 44
Kesimpulan... 44
Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 46
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Kelas permeabilitas tanah menurut USSCS ... 6
2. Jenis, metode, dan alat yang digunakan dalam penelitian ... 8
3. Formulasi contoh tanah untuk setiap perlakuan percobaan ... 11
4. Perbandingan tanah, kuarsa, dan kompos pada contoh tanah... 11
5. Pengaruh tekstur dan bahan organik tanah terhadap bobot jenis partikel 16 6. Pengaruh tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah tanpa pemadatan... 26
7. Pengaruh tekstur dan bahan organik tanah terhadap pH tanah... 30
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Segitiga tekstur tanah... 3
2. Efek pemadatan tanah pada ruang pori... 4
3. Bagan alir metodologi penelitian... 9
4. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap bobot isi tanah... 18
5. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap kurva pF... 21
6. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori drainase total... 22
7. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori air tersedia... 24
8. Pengaruh tekstur tanah terhadap pori air tersedia pada tanah pemadatan kering udara... 25
9. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah... 27
10. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap ketahanan penetrasi tanah... 29
11. Bobot isi tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang... 31
12. Bobot isi tanah tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan kapasitas lapang... 32
13. Pori drainase total pemadatan kering udara dan kapasitas lapang... 33
14. Pori drainase total tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan kapasitas lapang... 33
15 Permeabilitas tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang... 35
16 Permeabilitas tanah tanpa pemadatan, pemadatan kering udara dan kapasitas lapang... 35
17 Ketahanan penetrasi tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang 36
18 Ketahanan penetrasi tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang... 36
19. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap energi pemadatan tanah... 38
20. Energi pemadatan tanah dalam kondisi kering udara dan kapasitas lapang... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Tabel
Nomor Halaman
1. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh tekstur dan bahan organik tanah serta interaksinya terhadap karakteristik tanah pada tanah tanpa
pemadatan... 51
2. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh tekstur dan bahan organik tanah serta interaksinya terhadap karakteristik tanah pada tanah pemadatan dalam kondisi kering udara ... 51
3. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh tekstur dan bahan organik tanah serta interaksinya terhadap karakteristik tanah pada tanah pemadatan dalam kondisi kadar air kapasitas lapang... 52
4. Uji t-student pengaruh kondisi kadar air pada saat pemadatan terhadap karakteristik tanah... 52
5. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap bobot isi tanah... 53
6. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori drainase total... 53
7. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori air tersedia... 54
8. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah... 54
9. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap ketahanan penetrasi... 55
10. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap energi pemadatan... 55
11. Tekstur dan bahan organik tanah ... 56
12. Kadar abu dan kadar bahan organik kompos ... 56
13. Kadar air dan bobot isi tanah ... 56
14. Nilai kadar air kapasitas lapang Alhricks ... 57
15. Kadar air berbagai pF pada tanah tanpa pemadatan ... 58
16. Kadar air berbagai pF pada tanah pemadatan dalam kondisi kering udara... 59
Gambar
Nomor Halaman
1. Contoh tanah pada berbagai tekstur dan bahan organik tanah ... 61
2. Pengamatan kadar air kapasitas lapang Alhricks ... 61
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanah merupakan suatu sistem dinamis dimana merupakan tempat berlangsungnya kegiatan pertanian maupun non pertanian. Sebagai suatu sistem yang dinamis, tanah dapat berubah keadaanya dari waktu ke waktu baik disebabkan faktor alami maupun yang dilakukan manusia. Salah satu perubahan tersebut yaitu kepadatan tanah yang diakibatkan oleh adanya reaksi tanah terhadap gaya-gaya yang bekerja pada tanah.
Pemadatan tanah dapat berdampak buruk dan baik bagi kegiatan manusia tergantung pada tujuan penggunaan lahannya. Umumnya pemadatan tanah bermanfaat dalam kegiatan bidang civil engineering (bangunan, jalan raya, irigasi, dan lain-lain). Manfaat pemadatan tanah dalam bidang civil engineering yaitu memperbaiki kekuatan geser tanah, mengurangi kompresibilitas (penurunan oleh beban), mengurangi permeabilitas, dan mengurangi sifat mengembang menyusut tanah. Pemadatan tanah di bidang pertanian juga diperlukan yaitu untuk memperkokoh tubuh tanaman dan pengaplikasian alat-alat mesin pertanian, namun pemadatan tanah juga dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat.
tekstur dan bahan organik tanah perlu diketahui kaitannya terhadap kepadatan dan sifat ciri tanah, oleh karena itu dalam penelitian ini dikaji untuk memperoleh informasi tersebut.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh tekstur dan bahan organik tanah terhadap tingkat kepadatan dan hubungannya dengan sifat fisik tanah, 2) Mengetahui pengaruh kondisi kadar air saat pemadatan terhadap tingkat kepadatan dan hubungannya dengan sifat fisik tanah, 3) Mengetahui tingkat kepadatan tanah maksimum yang dapat dicapai pada tiap kelas tekstur dan kadar bahan organik tanah dalam kondisi kering udara dan kadar air kapasitas lapang.
Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini, terdapat beberapa hal yang ingin penulis sumbangkan pada berbagai pihak, yaitu:
a. Dapat menjadi bahan referensi bagi perencanaan dan pembangunan lahan pertanian dan kegiatan bidang civil engineering untuk mengetahui peran tekstur dan bahan organik tanah terhadap kepadatan maksimum tanah. b. Dapat menjadi referensi bagi peneliti yang ingin mengkaji permasalahan
terkait dengan isu-isu pemadatan tanah.
c. Memberikan data mengenai kapasitas maksimal kepadatan tanah dan pengaruhnya terhadap sifat-sifat fisik tanah.
Hipotesis
1. Semakin halus tekstur tanah maka semakin besar kepadatan tanah yang dapat dicapai.
2. Semakin besar kadar bahan organik tanah maka semakin kecil nilai kepadatan tanah yang dapat dicapai.
TINJAUAN PUSTAKA
Tekstur Tanah
Kelas ukuran butir tanah merupakan penyederhanaan dari tekstur tanah. Berdasarkan perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu, dan liat maka tanah dikelompokkan ke dalam beberapa kelas tekstur. (Hardjowigeno, 2003). Menurut Rowell (1994), Distribusi ukuran partikel tanah memberikan indikasi umum terhadap sifat fisik dan kimia tanah. Akan tetapi bentuk partikel dan sifat permukaan terutama ukuran fraksi liat secara signifikan mengubah sifat tersebut.
Gambar 1. Segitiga tekstur tanah
(Sumber : http://gov.mb.ca/agriculture/soilwater/soilmgmt/fsm01s01.html. diakses tanggal 20 juni 2010)
Pemadatan Tanah
Gambar 2. Efek pemadatan tanah pada ruang pori (Hughes et al,. 2001)
Sifat Fisik Tanah dan Hubungannya dengan Kepadatan, Tekstur, dan Bahan Organik
Bobot Isi (Bulk Density) dan Porositas Tanah
Menurut Hardjowigeno (2003), bobot isi tanah menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori tanah. Bobot isi merupakan penunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi bobot isi. Nilai bobot isi tanah sangat bervariasi dikarenakan perbedaan kandungan bahan organik, tekstur tanah, kedalaman tanah, jenis fauna tanah, dan kadar air tanah (Agus et al., 2006). Bobot isi tanah paling rendah yaitu pada liat, diikuti oleh liat berdebu, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir (Shao et al., 2004). Bahan organik mempunyai massa lebih ringan dibandingkan dengan partikel tanah, sehingga semakin besar kadar bahan organik tanah, nilai berat volume tanah semakin kecil (Santosa, 2006). Tanah dengan bahan organik yang tinggi mempunyai bobot isi relatif rendah.
Ketahanan Penetrasi
Metode yang paling umum untuk mengukur pemadatan tanah adalah menentukan nilai indeks menggunakan penetrometer (Herrick dan Jones, 2002). Penambahan bahan organik menyebabkan nilai ketahanan penetrasi lebih rendah dibandingkan dengan tanah tanpa penambahan bahan organik. Hal ini dikarenakan, bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, tanah menjadi porous sehingga dapat menurunkan bobot isi tanah (Damanik, 2007).
Kemampuan Tanah Memegang Air
Dominasi partikel pasir menyebabkan terbentuknya pori makro, sehingga luas permukaan yang disentuh menjadi sempit dan daya ikat terhadap air
menjadi lemah. Sedangkan partikel liat menyebabkan terbentuknya pori mikro, sehingga luas permukaan sentuh menjadi luas dan daya ikat terhadap air kuat. Bahan organik tanah mempunyai pori meso-mikro lebih banyak dibandingkan bahan mineral tanah, yang berarti luas permukaan penjerap air lebih banyak, sehingga makin tinggi kadar bahan organik maka semakin tinggi kadar dan ketersediaan air tanah (Hanafiah, 2010). Tanah bertekstur kasar (pasir) mempunyai kemampuan memegang air lebih rendah dibandingkan dengan tanah bertekstur halus (liat). Demikian juga, tanah dengan kadar bahan organik yang rendah, kemampuan memegang air lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang mempunyai kadar bahan organik tinggi. (Kurnia et al., 2006).
Permeabilitas Tanah
air dalam jumlah yang lebih banyak dalam waktu lebih lama, sehingga laju penurunan kadar air pun melambat. (Baskoro dan Tarigan, 2007).
Tabel 1. Kelas permeabilitas tanah menurut USSCS
Kelas Permeabilitas (cm/jam)
Sangat lambat <0,125
Lambat 0,125 – 0,5
Agak Lambat 0,5 – 1,6
Sedang 1,6 – 5,0
Agak Cepat 5,0 – 16
Cepat 16 – 25
Sangat Cepat >25
Sumber: Kohke,1980 dalam Hanafiah, 2010
Hubungan Kadar Air terhadap Pemadatan Tanah
Pada kadar air yang rendah, sebagian besar tanah kaku dan sukar untuk dipadatkan. Penambahan kadar air pada tanah menjadikan tanah lebih mudah dipadatkan, sehingga dihasilkan bobot isi lebih tinggi, namun apabila kadar air tanah terlalu tinggi, bobot isi tanah menjadi berkurang sejalan dengan bertambahnya kadar air, dimana air mengisi ruang pori, sehingga volume tanah bertambah (Craig, 1991). Menurut penelitian Herlina (2003), bertambahnya kadar air maka bobot isi tanah semakin besar dan koefisien permeabilitas tanah semakin kecil. Hal ini dikarenakan tanah semakin padat, sehingga tanah semakin sulit meloloskan air tetapi apabila kadar air tanah sudah mulai jenuh, maka tanah semakin sulit dipadatkan dan mudah meloloskan air. Bobot isi tanah semakin meningkat akibat penambahan kadar air, maka kadar air pada berbagai pF semakin menurun dan tidak mengalami kenaikan kembali setelah bobot isi maksimal. Daya mengikat air pada tanah dengan pemadatan lebih kecil dibandingkan daya mengikat air pada tanah tanpa pemadatan, karena pemadatan menurunkan pori makro dan pori total sehingga ruang untuk memegang air lebih kecil.
Hubungan Kepadatan Tanah dengan Tanaman
METODOLOGI
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian terdiri dari dua kegiatan yaitu pengambilan contoh tanah sebagai bahan dasar dan analisis laboratorium. Pengambilan tanah dilakukan di Desa Cicadas, Kabupaten Bogor (06034’25’’LS, 106041’26’’BT). Sementara itu, analisis laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai bulan April 2012.
Alat dan Bahan Penelitian
Bahan simulasi kepadatan tanah dalam penelitian ini adalah tanah, pasir kuarsa, dan kompos. Tanah yang digunakan yaitu contoh tanah terganggu. Bahan-bahan kimia yang dibutuhkan terdiri dari: air bebas ion, FeSO4, NaOH, HCl, H2SO4
pekat, kalium dikromat, alkohol 96 %, indikator conway, parafin cair, dan indikator ferroin. Alat yang digunakan menurut metode analisisnya pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis analisis, metode, dan alat yang digunakan dalam penelitian
No. Jenis analisis Metode Alat
1. Pengambilan tanah Komposit Cangkul, GPS, karung, polybag 2. Kadar air tanah Gravimetrik Cawan, oven, neraca 3. Tekstur tanah Pipet Gelas piala, gelas ukur 1000 ml, pipet
volumetrik, cawan porselen, saringan 2µm, pengaduk.
4. C-organik tanah Walkley dan Black
Buret, erlenmeyer, pipet volumetrik, gelas piala
5. Kadar air kapasitas lapang
Alhricks Gelas piala, cawan, oven, pasir karsa, neraca
6. Bobot isi tanpa pemadatan
Pengetukan 50 Gelas ukur, neraca, oven
7. Pemadatan Tanah Alat pemadat tanah, timbangan, ring sample, mistar
8. Bobot isi Ring sample, timbangan, mistar 9. Permeabilitas Permeameter
Lab
Set alat permeabilitas laboratorium, gelas ukur, mistar, oven 10. Kurva pF Pressure plate
apparatus
Set alat penetapan kadar air berbagai pF, plate apparatus membran, timbangan,
oven 11. Bobot jenis partikel Metode
Piknometer
Labu ukur 50 ml, penangas
Metode Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini terdiri dari berbagai tahap yaitu: pengumpulan bahan dasar simulasi tanah, pembuatan contoh tanah simulasi, proses pemadatan tanah, analisis sifat - sifat fisik tanah, dan pengolahan data. Tahapan penelitian tersaji dalam bagan alir pada Gambar 3.
Keterangan: KL = kapasitas lapang
Gambar 3. Bagan alir metodologi penelitian
Pengumpulan Bahan Contoh Tanah
Bahan dasar contoh tanah terdiri dari: tanah asal, pasir kuarsa, dan kompos. Jenis tanah yang digunakan adalah Typic Dystrudept dari Desa Cicadas, Kabupaten Bogor (06034’25’’LS, 106041’26’’BT). Tanah diambil di kedalaman 80 - 100 cm.
138 cm bertekstur liat berat dengan persentase liat sebesar 86%, debu 11%, pasir 3%, dan mengandung C-organik yang rendah yaitu sebesar 0,12%. Tanah dikeringudarakan selama kurang lebih 24 jam, kemudian diukur kadar C-organik dan tekstur tanah.
Pasir kuarsa yang digunakan pada penelitian berasal dari pasir kuarsa komersial. Pada tahap ini pasir disaring dengan ayakan 2 mm untuk memisahkan ukuran pasir yang terlalu besar. Setelah itu, dilanjutkan penyaringan dengan ayakan 2 µ m sambil dialiri air. Hal ini bertujuan untuk meloloskan debu, liat, dan bahan lainnya sehingga didapatkan pasir 100%. Untuk kompos pada penelitian ini digunakan kompos komersial. Kompos disaring dengan menggunakan ayakan 2 mm, setelah itu dianalisis kandungan C-organik.
Persiapan Penetapan Contoh Tanah
Tahap ini mempersiapkan contoh tanah penelitian sehingga sesuai dengan formulasi perlakuan. Berdasarkan hasil analisis tanah asal dan kompos yang sudah dilakukan pada tahap sebelumnya, diketahui kandungan C-organik dan tekstur tanah yang kemudian dijadikan pedoman dalam formulasi contoh tanah. Simulasi contoh tanah dilakukan dengan mencampurkan bahan yang terdiri: tanah, pasir kuarsa, dan kompos sesuai dengan formulasi penelitian.
Berdasarkan hasil analisis awal yang tersaji pada Tabel Lampiran 11 dan 12, tanah asal bertekstur liat berat dengan kadar pasir 4%; liat 84%; debu 12%, dan kadar bahan organiknya sebesar 0,49%. Kompos yang digunakan dalam percobaan memiliki kadar bahan organik sebesar 74%. Setelah tekstur tanah diketahui, tanah asal dicampur dengan pasir kuarsa sampai sesuai dengan formulasi contoh tanah yaitu: tekstur liat berat sebesar 83% liat, tekstur liat sebesar 50% liat, tekstur lempung berpasir sebesar 30% liat, dan tekstur pasir sebesar 8% liat. Tiap kelas tekstur tanah ditambahkan kompos untuk mencapai kadar bahan organik tanah sesuai formulasi, yaitu: 0,5% (rendah), 2,5% (sedang), 5% (tinggi), dan 7,5% (sangat tinggi). Formulasi contoh tanah dan perbandingannya ditampilkan pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tanah diketuk sebanyak 50 kali dalam gelas ukur sehingga didapatkan volume tanah. Metode ini merupakan modifikasi 1,000 knocks method (de Boodt dan Vandevelde, 1970 dalam Kurnia et al., 2006). Tanah kemudian ditetapkan kadar airnya, sehingga dapat dihitung berat kering mutlak tanah. Nilai bobot isi didapatkan dengan membagi berat kering mutlak tanah dengan volume tanah. Tabel 3. Formulasi contoh tanah untuk setiap perlakuan percobaan
Contoh tanah
Formulasi Contoh
tanah
Formulasi
Tekstur BO (%) Tekstur BO (%)
LB1 Liat berat 0,5 LP1 Lempung berpasir 0,5
LB2 Liat berat 2,5 LP2 Lempung berpasir 2,5
LB3 Liat berat 5,0 LP3 Lempung berpasir 5,0
LB4 Liat berat 7,5 LP4 Lempung berpasir 7,5
L1 Liat 0,5 P1 Pasir 0,5
L2 Liat 2,5 P2 Pasir 2,5
L3 Liat 5,0 P3 Pasir 5,0
L4 Liat 7,5 P4 Pasir 7,5
Tabel 4. Perbandingan tanah, kuarsa, dan kompos contoh tanah Contoh
tanah
Formulasi (%) Contoh tanah
Formulasi (%)
Tanah Kuarsa Kompos Tanah Kuarsa Kompos
LB1 99,98 0,00 0,02 LP1 35,41 64,14 0,44
LB2 99,98 0,00 2,81 LP2 35,41 64,14 3,23
LB3 99,98 0,00 6,53 LP3 35,41 64,14 6,95
LB4 99,98 0,00 10,53 LP4 35,41 64,14 10,95
L1 68,62 31,16 0,22 P1 9,43 89,96 0,61
L2 68,62 31,16 3,02 P2 9,43 89,96 3,40
L3 68,62 31,16 6,73 P3 9,43 89,96 7,12
L4 68,62 31,16 10,73 P4 9,43 89,96 11,12
ulangan, masing-masing diambil dari tempat yang berbeda dalam satu gelas piala, kemudian contoh tanah yang diambil tersebut dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu 1050C untuk dihitung kadar airnya. Kadar air contoh tanah diukur kembali di hari berikutnya sampai didapatkan kadar air yang konstan.Data kadar air ini digunakan untuk penetapan kadar air pemadatan tanah dalam kondisi kapasitas lapang sehingga tiap contoh tanah dapat disesuaikan kadar airnya.
Pemadatan Contoh Tanah
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan alat pemadat tanah yang memiliki beban sebesar 2,5 kg dan tinggi jatuh beban 11,1 cm. Beban dijatuhkan ke contoh tanah dalam ring sampai didapatkan bobot isi maksimum yang dapat dicapai. Pemadatan dilakukan dalam dua kondisi kadar air yaitu saat kondisi kering udara (P1) dan kapasitas lapang (P2) di mana kondisi kapasitas lapang ini didasarkan dari hasil kadar air lapang dengan metode Alhricks. Metode pemadatan ini merupakan metode modifikasi dari Standard Compaction Test.
Pengamatan Sifat - Sifat Tanah
Pengamatan sifat-sifat tanah dilakukan pada contoh tanah tanpa pemadatan (P0), pemadatan dalam kondisi kering udara (P1), dan pemadatan dalam kondisi kadar air kapasitas lapang (P2). Parameter yang diamati antara lain: bobot isi tanah, kadar air pada berbagai pF, dan permeabilitas. Analisis ketahanan penetrasi dan energi pemadatan dilakukan pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dan kapasitas lapang. Sementara analisis bobot jenis partikel dan pH dilakukan pada tanah tanpa pemadatan.
Bobot Isi Tanah
Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah didapatkan dengan memasangkan tanah ke dalam set alat permeabilitas yang dijenuhkan dan dialiri air sampai empat hari pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan pengukuran volume air yang keluar melalui tanah. Perhitungan permeabilitas dilakukan dengan menggunakan hukum Darcy.
K = + ℎ +
Yang mana K adalah permeabilitas (cm/jam), t adalah waktu (jam), L adalah tebal contoh tanah (cm), h tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm), dan A adalah luas permukaan contoh tanah (cm2).
Kurva pF
Penentuan kurva pF dilakukan dengan pengukuran kadar air tanah pada berbagai pF. Penetapan kadar air berbagai pF menggunakan metode gravimetrik. Contoh tanah dalam ring sample sesuai dengan bobot isi yang telah didapatkan dari simulasi pemadatan, dijenuhkan selama kurang lebih 24 jam, kemudian dimasukkan ke
dalam pressure plate apparatus. Tekanan alat disesuaikan berdasarkan pF yang diinginkan. Setelah proses dalam pressure plate apparatus selesai, tanah dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1050C selama 24 jam untuk mendapatkan
nilai kadar air. Besarnya kadar air dihitung dengan persamaan berikut :
KA =BKU − BKMx
Yang mana KA adalah kadar air (%), BKU adalah berat kering udara (g), dan BKM adalah berat kering mutlak (g).
Pori Drainase Total dan Pori Air Tersedia
Energi Pemadatan
Energi pemadatan merupakan salah satu hasil dari penetapan pemadatan tanah menggunakan alat pemadat. Energi per satuan volume (E) didapatkan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
� = � . . . �
Yang mana E adalah energi pemadatan (kJ/m3), Nb adalah jumlah pukulan per
lapisan, N1 adalah jumlah lapisan, W adalah berat pemukul, H tinggi jatuh pemukul,
dan V adalah volume cetakan m3.
Bobot Jenis Partikel (BJP)
Pengukuran BJP dilakukan dengan menimbang labu ukur berisi tanah dan air bebas ion yang kemudian dididihkan. Besarnya BJP dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
�� = +�� −
Yang mana s adalah BJP (g/cm3), f adalah berat jenis air (1 g/cm3), M1 adalah
berat piknometer dan air (g), M2 adalah berat tanah kering udara (g), M3 adalah
berat piknometer + tanah + air (g).
Analisis Data
Data yang didapatkan dianalisis secara statistik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor, yang terdiri dari faktor A yaitu tekstur tanah dan faktor B yaitu kandungan bahan organik tanah dengan tiga ulangan. Model matematika yang digunakan sebagai berikut :
� = � + ∝ + + + �
Keterangan :
Yijk = Nilai Pengamatan perlakuan ke-i, perlakuan ke-j, dan ulangan ke-k μ = Rataan umum
∝i = Pengaruh tekstur tanah ke-i
βj = Pengaruh kandungan bahan organik ke -j
(αβ)ij = Pengaruh interaksi perlakuan tekstur tanah ke-i dan perlakuan kandungan bahan organik ke-j
Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan Sidik Ragam (Analysis of Variance/ ANOVA) melalui software STATISTICA 10. Faktor yang berpengaruh sangat nyata (p<0,01) dan nyata (P<0,05) diuji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (Duncan's Multiple Range Test) pada taraf 5%.
Statistik uji t-student pada taraf 5% digunakan untuk membandingkan pengaruh kadar air (kering udara dan kapasitas lapang) pada saat pemadatan terhadap sifat fisik tanah. Rumus yang digunakan yaitu:
− � = � + �
√�� � + �
���� � = √ � − � + � − �� + � −
Keterangan :
x1, x2 = rata-rata pengamatan pada kadar air kapasitas lapang dan kering udara
� , � = ragam contoh pada kadar air kapasitas lapang dan kering udara
n1, n2 = jumlah pengamatan pada kadar air kapasitas lapang dan kering udara Sp = simpangan baku gabungan
Nilai berbeda nyata apabila thitung>ttabel dan tidak berbeda nyata apabila thitung<ttabel,
ttabel diperoleh dari nilai sebaran t pada taraf 5% dan derajat bebas (n1+n2-2)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Tekstur dan Bahan Organik Tanah terhadap Sifat-Sifat Tanah dalam Proses Pemadatan Tanah
Bobot Jenis Partikel (BJP)
Bobot jenis partikel adalah bobot massa partikel padat per satuan volume tanah. Tekstur dan bahan organik tanah mempengaruhi sangat nyata terhadap bobot jenis partikel tanah, namun tidak ada pengaruh interaksi dari kedua faktor tersebut (Tabel Lampiran 1). Dari Tabel 5 terlihat bahwa semakin kasar tekstur tanah atau semakin rendah kadar bahan organik tanah, maka semakin tinggi bobot jenis partikel tanah.
Tabel 5. Pengaruh tekstur dan kadar bahan organik tanah terhadap bobot jenis partikel
Faktor Perlakuan BJP (g/cm3)
Tekstur
Liat berat 2,10 a
Liat 2,12 a
Lempung berpasir 2,27 b
Pasir 2,45 c
Bahan Organik Tanah (%)
0,5 2,34 k
2,5 2,25 j
5,0 2,25 j
7,5 2,10 i
Keterangan: angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Bobot jenis partikel tanah antara liat berat dan liat tidak berbeda nyata, tetapi meningkat secara nyata pada tekstur lempung berpasir dan pasir. Peningkatan kadar bahan organik dari 0,5% menjadi 2,5% nyata menurunkan bobot jenis partikel tanah, tetapi bobot jenis partikel antara tanah berkadar bahan organik 2,5% dan 5,0% tidak berbeda nyata. Peningkatan kadar bahan organik menjadi 7,5%, nyata menurunkan bobot jenis partikel tanah dibanding bobot jenis partikel tanah berkadar bahan organik 5,0%.
Bobot Isi Tanah
dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dan kapasitas lapang, interaksi tekstur tanah dan bahan organik tanah mempengaruhi secara sangat nyata terhadap bobot isi (Tabel Lampiran 2 dan 3).
Hasil pengamatan bobot isi tanah pada tanpa pemadatan dapat dilihat pada tabel pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik terhadap bobot isi (Tabel Lampiran 5) dan grafik yang tersaji pada Gambar 4a. Dari grafik tersebut menghasilkan informasi bahwa bobot isi tanah tanpa pemadatan semakin menurun secara nyata dengan semakin kecil ukuran butir tanah dan peningkatan kadar bahan organik tanah. Pada tanah bertekstur liat, bobot isi tidak berbeda nyata dengan adanya perubahan kadar bahan organik, sedangkan pada liat berat terjadi penurunan bobot isi pada kadar 7,5%. Pada pasir dan lempung berpasir terjadi penurunan bobot isi yang lebih tajam dengan adanya peningkatan kadar bahan organik dibandingkan dengan liat berat dan liat. Pada pasir, peningkatan bahan organik menurunkan bobot isi tanah, sedangkan pada lempung berpasir terjadi penurunan bobot isi pada kadar bahan organik 2,5% dan 7,5%.
Penurunan bobot isi tanah seiring dengan peningkatan kadar bahan organik, dikarenakan massa bahan organik itu sendiri. Bahan organik mempunyai berat yang lebih ringan dibandingkan dengan bahan mineral tanah. Pada satuan volume yang sama, berat bahan mineral tanah lebih besar dari berat bahan organik. Dalam tanah yang sama, semakin tinggi kadar bahan organik, maka nilai berat volume tanah semakin kecil (Santosa, 2006). Menurut Sutanto (2005), bahan organik merupakan bahan yang sarang (porous) dan selalu meningkatkan total porositas. Hubungan bobot isi dengan porositas yaitu tanah yang poros memiliki volume pori lebih besar sehingga bobot isi tanah menjadi kecil. Hasil penelitian Agustina (2007) menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos berpengaruh sangat nyata terhadap bobot isi tanah. Nilai bobot isi semakin rendah dengan semakin tingginya dosis kompos. Hal ini sejalan juga dengan hasil penelitian Kalantari, Hatami, Ardalan, Alikhani, dan Shorafa (2009) yang menunjukkan bahwa bobot isi tanah menurun seiring peningkatan pemberian dosis kompos dengan dosis kompos sebesar 0, 1, 3, 6, dan 9%.
maka tanah lebih padat, dikarenakan bobot isi yang didapatkan merupakan tanah dalam kondisi tanpa pemadatan. Bobot isi tanah bertekstur kasar lebih besar dikarenakan memiliki bobot partikel yang lebih besar dibandingkan dengan tanah bertekstur halus. Sejalan dengan Hanafiah (2010), bahwa tanah pasir memiliki bobot isi lebih tinggi dibandingkan tanah berbutir halus (liat), yaitu tanah liat memiliki bobot isi antara 1,3-1,8 g/cm2, sedangkan pasir memiliki bobot isi antara 1,3-1,8 g/cm3.
Gambar 4. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap bobot isi tanah (a.Tanpa pemadatan, b.Pemadatan kering udara, c.Pemadatan kapasitas lapang)
Hasil pengamatan bobot isi tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dapat dilihat pada tabel pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap bobot isi tanah (Tabel Lampiran 5) dan grafik pada Gambar 4b.
cd bc b
a
ef e de cd
i
g g f
k j i h 0,50 1,00 1,50 2,00
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik tanah (%)
(a)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
e c a d
g f d b
k
j h i
n l o m
0,50 1,00 1,50 2,00
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik tanah (%)
(b)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
b ab ab a
f d d c h g f e h g g 0,50 1,00 1,50 2,00
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik (%)
(c)
[image:31.595.108.472.115.713.2]Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara umum bobot isi tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara pada berbagai tekstur tanah mengalami penurunan seiring dengan penurunan ukuran partikel tanah dan peningkatan bahan organik yang berkisar 2,5 – 5,0%, kemudian bobot isi meningkat pada kadar bahan organik 7,5%. Pada pasir, bobot isi tanah mengalami penurunan pada kadar bahan organik 2,5%, kemudian meningkat pada kadar bahan organik 5,0%, dan menurun kembali pada kadar bahan organik 7,5%. Pada lempung berpasir penurunan bobot isi terjadi pada kadar bahan organik 2,5-5,0%, kemudian mengalami peningkatan pada kadar bahan organik 7,5%. Bobot isi pada liat mengalami penurunan pada tiap peningkatan kadar bahan organik tanah, sedangkan pada liat berat mengalami penurunan pada kadar bahan organik 2,5-5,0%, kemudian meningkat pada kadar bahan organik 7,5%. Adanya peningkatan bobot isi pada kadar bahan organik 5,0-7,5% dikarenakan bahan organik membuat tanah lebih lembab sehingga tanah lebih mudah dipadatkan.
fluktuatif naik turun pada setiap peningkatan kadar bahan organik tanah. Namun dengan peningkatan kadar bahan organik dari 0,5% menjadi 7,5%, terjadi penurunan bobot isi secara nyata pada setiap tekstur tanah. Pada proses pemadatan pada kondisi kapasitas lapang, perubahan dosis bahan organik nyata menurunkan bobot isi tanah antara 0,5% ke 2,5-5% dan ke 7,5%. Seperti halnya pada tanpa pemadatan dan dengan pemadatan kondisi kering udara, semakin kasar tekstur tanah bobot isinya makin besar.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa pada setiap tekstur tanah membutuhkan kadar bahan organik yang berbeda untuk menurunkan nilai bobot isi tanah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sarjiyah (1999) yaitu, salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas tanah pasir yaitu dengan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah.
Kurva pF
Kurva pF digunakan untuk menunjukkan banyaknya air yang dapat ditahan oleh tanah atau dapat disebut juga sebagai kemampuan tanah memegang air, selain itu juga kurva pF berguna untuk menentukan jumlah air yang dilepaskan atau dihisap oleh tanah tergantung dengan tegangannya. Hasil penetapan kurva pF pada tanah tanpa pemadatan, tanah dengan pemadatan baik dalam kondisi kering udara dan kadar air kapasitas lapang dapat dilihat pada Gambar 5. Kurva pF pada penelitian ini menunjukkan bahwa kadar air pada berbagai pF semakin meningkat dengan semakin halusnya tekstur tanah dan semakin besarnya kadar bahan organik tanah.
Gambar 5. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap kurva pF (a.Tanpa pemadatan, b.Pemadatan kering udara, c.Pemadatan kapasitas lapang)
Pori Drainase Total
Tanah mempunyai pori-pori, yaitu suatu bagian yang tidak terisi bahan padat. Bagian yang tidak terisi padatan akan diisi oleh air dan udara. Pori tanah dibedakan menjadi dua, yaitu pori mikro dan makro. Pori makro berisi air gravitasi atau udara. Pori makro disebut juga sebagai pori drainase. Interaksi tekstur dan bahan organik tanah tanpa pemadatan mempengaruhi secara sangat nyata (p<0,01) terhadap pori drainase (Tabel Lampiran 1). Begitu juga pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dan kapasitas lapang, interaksi tekstur dan bahan organik tanah mempengaruhi sangat nyata terhadap pori drainase total.
Hasil pengamatan pori drainase total tanah tanpa pemadatan dapat dilihat pada Tabel Lampiran 6 dan grafik pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori drainase total, tersaji pada Gambar 6a. Dari Gambar 6a menunjukkan bahwa penurunan ukuran partikel tanah dan peningkatan kadar bahan organik tanah pada tanah tanpa pemadatan mengakibatkan jumlah pori drainase berbeda nyata secara beragam. Pada liat berat, peningkatan kadar bahan organik tidak mempengaruhi jumlah pori drainase total, sedangkan pada liat, peningkatan kadar bahan organik menurunkan pori drainase total. Pada lempung berpasir, pori
0 1 2 3 4 5
0 10 20 30 40 50 60
p F (l o g c m ai r )
Kadar air (%v) (b)
0 1 2 3 4 5
0 10 20 30 40 50 60 70
p F (l o g c m ai r )
Kadar air (%v) (a)
0 1 2 3 4 5
0 10 20 30 40 50 60
p F (l o g c m ai r )
Kadar air (%v) (c)
[image:34.595.108.512.80.358.2]drainase total meningkat pada kadar bahan organik 5,0%. Pada pasir, peningkatan bahan organik tidak mempengaruhi jumlah pori drainase total.
Gambar 6. Pengaruh interaksi tekstur dan kadar bahan organik tanah terhadap pori drainase total (a.Tanpa pemadatan, b.Pemadatan kering udara, c.Pemadatan kapasitas lapang)
Hasil pengamatan pori drainase total tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dapat dilihat pada tabel pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori drainase total (Tabel Lampiran 6) dan grafik pada Gambar 6b. Hasil pengamatan yang tersaji menunjukkan bahwa penurunan ukuran partikel tanah dan peningkatan kadar bahan organik menurunkan pori drainase total pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara. Pori drainase total pada liat berat mengalami penurunan pada kadar bahan organik 7,5%, begitu juga tanah
bc ab bc bc
e
d cd
a
fg gh hi
fg
ij j ij j
0 10 20 30 40
0 2 4 6 8
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%)
(a)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
b ab b
a
d de d
b
de ef f
g g def c 0 10 20 30 40
0 2 4 6 8
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%)
(b)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
bc bcd bc
bc a a ab
de e f cd j i h g 0 10 20 30 40
0 2 4 6 8
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%)
(c)
[image:35.595.112.459.102.636.2]liat dan lempung berpasir. Pada pasir, pori drainase total mengalami penurunan dengan meningkatnya kadar bahan organik sebesar 5,0% dan 7,5%.
Pori drainase tanah pada berbagai tekstur dan kadar bahan organik tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang ditampilkan pada Tabel lampiran 6 dan Gambar 6c. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pori drainase pada liat berat dan liat tidak berbeda nyata pada peningkatan kadar bahan organik tanah. Pori drainase total pada lempung berpasir tertinggi pada kadar bahan organik 5,0%. Pada pasir, pori drainase total mengalami penurunan pada tiap peningkatan kadar bahan organik tanah.
Dari ketiga grafik pori drainase total diketahui bahwa tanah bertekstur kasar memiliki pori drainase yang lebih banyak dibandingkan dengan tanah bertekstur halus. Menurut Yuwono (2007), pori drainase/makro sulit menahan air didalam tanah sehingga air hanya merembes masuk dan lewat begitu saja. Terjadinya penurunan jumlah pori drainase pada peningkatan kadar bahan organik tanah dikarenakan bahan organik berperan sebagai “pengikat” butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Keadaan ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air, dan aerasi tanah (Simanungkalit, Suriadikarta, Saraswati, Setyorini, dan Hartatik, 2006). Penambahan bahan organik pada tanah berbutir kasar dapat meningkatkan pori yang berukuran menengah dan menurunkan pori makro (Stevenson, 1982), oleh karena itu pasir memiliki grafik pori drainase total yang lebih curam seiring dengan peningkatan kadar bahan organik dibandingkan dengan yang lain pada tanah dengan pemadatan baik dalam kondisi kering udara maupun kapasitas lapang (Gambar 6 b dan c).
Pori Air Tersedia
mempengaruhi secara nyata. Pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang, tekstur tanah mempengaruhi pori air tersedia secara nyata.
Gambar 7. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori air tersedia (a.Tanpa pemadatan, b.Pemadatan kapasitas lapang)
Hasil pengamatan pori air tersedia tanah tanpa pemadatan dapat dilihat pada Tabel Lampiran 7 dan grafik pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap pori air tersedia pada Gambar 7a. Dari data yang tersaji menghasilkan informasi bahwa jumlah pori air tersedia pada liat berat tidak berbeda nyata dengan peningkatan kadar bahan organik tanah, begitu juga dengan pasir. Pada lempung berpasir, pori air tersedia mengalami penurunan pada kadar bahan organik 5,0%, kemudian meningkat kembali pada kadar bahan organik 7,5%. Pada liat, pori air tersedia mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan kadar bahan organik tanah.
Hasil pengamatan pori air tersedia tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel Lampiran 7 dan grafik pengaruh tekstur tanah terhadap pori air tersedia pada Gambar 8. Hasil pengamatan yang tersaji menunjukkan bahwa pori air tersedia tanah bertekstur liat berat, lempung berpasir, dan pasir tidak berbeda nyata, tetapi tanah bertekstur liat berbeda nyata, dimana pori air tersedia pada liat lebih besar dibandingkan dengan tekstur yang lain.
a ab ab abc
cde def ef f abcd bcde a def abcd abcd a 0 4 8 12 16
0 2 4 6 8
P o r i ai r te r se d ia (% )
Kadar bahan organik tanah (%)
(a)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
cd
bc
de de
a aba aab aba
ab ab ab
e 0 4 8 12 16
0 2 4 6 8
P o r i ai r te r se d ia (% )
Kadar bahan organik tanah (%)
(b)
[image:37.595.117.459.126.491.2]Gambar 8. Pengaruh tekstur tanah terhadap pori air tersedia pada tanah pemadatan kering udara
Hasil pengamatan pori air tersedia tanah pemadatan kapasitas lapang dapat dilihat pada tabel pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik terhadap pori air tersedia (Tabel Lampiran 7) dan grafik pada Gambar 7b. Berdasarkan hasil pengamatan yang tersaji, pori air tersedia pada liat dan lempung berpasir tidak berbeda nyata dengan peningkatan kadar bahan organik. Pada pasir, pori air tersedia meningkat pada kadar bahan organik 7,5%, sedangkan pada liat berat meningkat pada kadar bahan organik 5,0%.
Dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah pori air tersedia pada liat yang lebih banyak dibandingkan dengan liat berat. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Hakim et al (1986) bahwa, jumlah air tersedia tertinggi justru dimiliki oleh tanah bertekstur sedang. Hal tersebut terjadi karena pada tanah bertekstur halus, molekul air dijerap kuat oleh tanah pada pori mikro, sehingga meskipun kemampuan tanah dalam memegang air tinggi, belum tentu air tersedia bagi tanaman tinggi, sehingga air menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Pada tanah bertekstur kasar, pori makro lebih dominan dibandingkan pori meso sehingga air lebih mudah hilang merembes akibat pengaruh gravitasi. Peningkatan bahan organik tanah menyebabkan peningkatan pori air tersedia atau pori meso. Pada tanah bertekstur halus, bahan organik meningkatkan pori meso dan menurunkan pori mikro, sedangkan pada tanah bertekstur kasar, bahan organik meningkatkan pori meso dan menurunkan pori makro.
Permeabilitas Tanah
Pada tanah tanpa pemadatan (Tabel Lampiran 1), interaksi tekstur dan bahan organik tanah tidak mempengaruhi secara nyata (p>0,01), namun tekstur tanah
0 3 6 9
Liat berat Liat Lempung
berpasir
Pasir
P
o
r
i
ai
r
te
r
se
d
ia
(%
)
mempengaruhi secara sangat nyata (p<0,01) dan bahan organik tanah mempengaruhi secara nyata (p<0,05) terhadap permeabilitas tanah. Permeabilitas tanah pada tanpa pemadatan meningkat dari tekstur liat hingga pasir, tetapi tidak ada perbedaan secara statistik antara liat berat dan liat. Begitu juga pengaruh bahan organik dapat meningkatkan permeabilitas tanah dari 0,5% ke 2,5%, sedangkan peningkatan bahan organik dari 2,5% ke 7,5% tidak mempengaruhi permeabilitas tanah.
Tabel 6. Pengaruh tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah tanpa pemadatan
Faktor Perlakuan Permeabilitas (cm/jam)
P0
Tekstur
Liat berat 71,91 a
Liat 133,19 a
Lempung berpasir 299,30 b
Pasir 485,90 c
Bahan Organik (%)
0,5 181,53 i
2,5 259,45 j
5,0 269,97 j
7,5 284,45 j
Keterangan: angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%
Gambar 9. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah (a.Pemadatan kering udara, b.Pemadatan kapasitas lapang)
[image:40.595.104.495.70.842.2]Pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara, interaksi tekstur dan bahan organik tanah mempengaruhi secara sangat nyata terhadap permeabilitas tanah (Tabel Lampiran 2). Hasil pengamatan permeabilitas tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel Lampiran 8 dan grafik pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah yang tersaji pada Gambar 9a. Gambar 9a menunjukkan permeabilitas tanah bertekstur pasir menurun terus dari kadar bahan organik 0,5% ke 5,0%. Setelah mencapai kadar bahan organik 5,0%, permeabilitas tanah pasir tidak berbeda nyata dengan kadar bahan organik 7,5% maupun tekstur lain di berbagai kadar bahan organik.
Pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang, interaksi tekstur dan bahan organik tanah mempengaruhi secara sangat nyata terhadap permeabilitas tanah (Tabel Lampiran 3). Permeabilitas tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang dapat dilihat pada Tabel Lampiran 8 dan grafik pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap permeabilitas tanah yang tersaji pada Gambar 9b. Seperti halnya pada pemadatan kering udara, permeabilitas tanah pada pemadatan kapasitas lapang menunjukkan penurunan
abc abcd abc
abcd cd bcd ab d a f e cd abcd 0 30 60 90 120
0 2 4 6 8
P e r m e ab il itas (c m /jam )
Kadar bahan organik tanah (%)
(a)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
a ab
ab ab ab
ab b ab
a c ab a ab 0 30 60 90 120
0 2 4 6 8
P e r m e ab il itas (c m /jam )
Kadar bahan organik tanah (%)
(b)
[image:40.595.113.458.84.467.2]hanya terjadi pada pasir dengan kadar bahan organik 0,5% ke 2,5% (Gambar9b). Namun pada kadar bahan organik ≥ 2,5%, permeabilitas tanah pasir tidak berbeda nyata dengan tanah tekstur liat berat, liat, dan lempung berpasir pada berbagai kadar bahan organik tanah.
Ketahanan Penetrasi Tanah
Ketahanan penetrasi merupakan salah satu parameter sifat fisik tanah yang menggambarkan kepadatan dan kekuatan tanah. Menurut Rachman (2002), penggunaan cone penetrometer untuk mengukur kepadatan tanah pertanian masih mendapat kritikan, namun penggunaannya masih dianggap relevan untuk memberikan gambaran hambatan mekanik tanah. Interaksi tekstur dan bahan organik tanah pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara mempengaruhi sangat nyata terhadap ketahanan penetrasi tanah (Tabel Lampiran 2). Begitu juga tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang, interaksi tekstur dan bahan organik tanah mempengaruhi sangat nyata terhadap ketahanan penetrasi tanah (Tabel Lampiran 3).
7,5%, tanah lempung berpasir berbahan organik 5,0%, dan 7,5% juga menghambat pertumbuhan akar.
Gambar 10. Pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap ketahanan penetrasi tanah (a.Pemadatan kering udara, b.Pemadatan kapasitas lapang)
Hasil pengamatan ketahanan penetrasi tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang dapat dilihat pada Tabel Lampiran 9 dan grafik pengaruh interaksi tekstur dan bahan organik tanah terhadap ketahanan penetrasi tanah tersaji pada Gambar 10b. Data yang tersaji menginformasikan bahwa ketahanan penetrasi tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang mengalami perubahan yang beragam pada tiap tekstur dan kadar bahan organik tanah. Ketahanan penetrasi tanah liat berat tidak mengalami perubahan pada tiap peningkatan kadar bahan organik. Pada liat, ketahanan penetrasi mengalami kenaikan pada kadar bahan organik 2,5%, kemudian menurun kembali pada kadar bahan organik 5,0%. Pada lempung berpasir, ketahanan penetrasi mengalami penurunan pada kadar bahan organik ≥ 2,5%. Pada pasir, ketahanan penetrasi mengalami kenaikan yang tidak terlalu mencolok, ketahanan penetrasi berbeda nyata pada kadar bahan organik 0,5% dengan ≥ 5,0%.
Ketahanan penetrasi tanah meningkat secara nyata dengan peningkatan ukuran butir tanah dan kadar bahan organik tanah. Sama halnya dengan pada tanah
ab bc bc g c de a ab ef f d de de 0 10 20 30
0 2 4 6 8
K e tah an an p e n e tr as i (k g/ c m 2)
Kadar bahan organik tanah (%)
(a)
Liat berat Liat Lempung berpasir Pasir
ab ab ab
ab d a a c b cd d d 0 10 20 30
0 2 4 6 8
K e tah an an p e n e tr as i (k g/ c m 2)
Kadar bahan organik tanah (%)
(b)
dengan pemadatan dalam kondisi kering udara, partikel kuarsa lebih keras dibandingkan dengan partikel liat, sehingga tanahnya menjadi lebih keras. Bahan organik pada tanah pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang mengakibatkan tanah menjadi mantap dengan peningkatan bahan organik sehingga ketahanan penetrasi tanah lebih besar. Pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang, tanah liat berbahan organik 2,5%, lempung berpasir 0,5%, dan pasir berbahan organik 0,5%, 2,5%, 5,0%, dan 7,5% termasuk susah untuk ditembus akar tanaman.
pH Tanah
Nilai pH tanah dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut. Kebanyakan tanaman tumbuh baik pada kisaran pH 7, karena pada pH 7 konsentrasi Ca, Mg, dan P tersedia cukup untuk pertumbuhan tanaman, serta kadar hara unsur mikro dalam larutan tanah juga mencukupi. Tekstur dan bahan organik tanah mempengaruhi secara sangat nyata terhadap pH tanah, namun interaksi kedua faktor tersebut tidak mempengaruhi secara nyata terhadap pH tanah (Tabel Lampiran 1).
Tabel 7. Pengaruh tekstur dan bahan organik tanah terhadap pH tanah
Faktor Perlakuan pH
Tekstur
Liat berat 5,70 a
Liat 6,40 b
Lempung berpasir 6,57 b
Pasir 7,04 c
Bahan Organik Tanah (%)
0,5 6,24 i
2,5 6,34 ij
5,0 6,46 j
7,5 6,74 k
Keterangan: angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
kenaikan dosis kompos berpengaruh nyata terhadap peningkatan pH tanah dan mendekati pH 7 (netral). Menurut Yuwono (2007), pemberian kompos ternyata membantu meningkatkan pH tanah. Peningkatan pH tanah ini diduga disebabkan adanya efek asam-asam organik dalam mengikat ion Al dan meningkatkan KTK tanah. Semakin besar bahan organik yang diberikan pada tanah maka berpeluang semakin besar asam organik yang akan disumbangkan tanah. Asam-asam organik tersebut mengkhelat ion Al sehingga menghambat hidrolisis Al yang akan menghasilkan ion H+, akibatnya pH tanah meningkat.
Pengaruh Kadar Air Tanah dalam Proses Pemadatan Tanah terhadap Sifat-Sifat Tanah
Bobot Isi Tanah
Pengaruh kondisi kadar air tanah pada saat pemadatan yaitu kering udara dan kapasitas lapang mempengaruhi secara nyata terhadap bobot isi tanah (Tabel Lampiran 4). Bobot isi tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi kering udara (Gambar 11). Menurut Hardiyatmo (1992), pada kadar air yang rendah, untuk kebanyakan tanah menyebabkan tanah cenderung bersifat kaku dan sulit dipadatkan. Setelah air ditambahkan, tanah menjadi lebih lunak. Udara di dalam tanah dipaksa keluar pada waktu pemadatan, sehingga kadar air tanah akan berada dalam kedudukan jenuh dan nilai bobot isi akan menjadi maksimum.
Gambar 11. Bobot isi tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang
Pada semua tekstur, bobot isi tanah pada tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan pemadatan kapasitas lapang semakin rendah nilainya seiring dengan peningkatan kadar bahan organik (Gambar 12). Bobot isi tanah pemadatan kapasitas lapang lebih besar dari bobot isi tanah pemadatan kering udara, dan bobot
1,27
1,40
1,2 1,3 1,4 1,5
kering udara kapasitas lapang
B
o
b
o
t
is
i
(g/
c
m
3)
isi tanah pemadatan kering udara lebih besar dibandingkan dengan bobot isi tanpa pemadatan untuk semua jenis tekstur tanah. Laju penurunan bobot isi tanah seiring peningkatan kadar bahan organik cukup tajam pada lempung berpasir, dan cukup landai pada liat berat dan pasir.
Gambar 12. Bobot isi tanah tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan kapasitas lapang (a. Liat berat, b. Liat, c. Lempung berpasir, d.Pasir)
Kurva pF
Pada grafik sebelumnya (Gambar 5), kurva pF pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang paling curam diikuti dengan pemadatan dalam kondisi kering udara kemudian tanah tanpa pemadatan. Hal ini menunjukkan bahwa pori air tersedia dan pori drainase pada tanah pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang lebih rendah dibandingkan dengan tanah pemadatan dalam kondisi kering udara maupun tanpa pemadatan. Sejalan dengan hasil pengamatan bobot isi bahwa bobot isi tanah dengan pemadatan dalam kapasitas lapang lebih besar dibandingkan dalam kondisi kering udara, yang menunjukkan bahwa tanah dengan pemadatan dalam kapasitas lapang lebih padat dibandingkan dengan kering udara, yang menyebabkan ruang pori total tanah menjadi lebih rendah sehingga kemampuan tanah mengikat air pada berbagai pF menjadi lebih rendah. Sesuai dengan hasil penelitian Herlina (2003), bahwa pemadatan tanah menurunkan ruang pori total sehingga kemampuan tanah mengikat air lebih rendah.
R² = 0,9742 R² = 0,9575 R² = 0,9033
0,6 1 1,4 1,8
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik tanah (%) (b)
R² = 0,9507 R² = 0,1534 R² = 0,9985
0,6 1 1,4 1,8
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik tanah (%) (a)
R² = 0,9917
R² = 0,0392 R² = 0,956
0,6 1 1,4 1,8
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik tanah (%) (d)
R² = 0,9074 R² = 0,4954 R² = 0,9811
0,6 1 1,4 1,8
0 2 4 6 8
B o b o t is i (g/ c m 3)
Kadar bahan organik tanah (%) (c)
Pori Drainase Total
[image:46.595.103.517.81.786.2]Kondisi kadar air pada saat pemadatan mempengaruhi secara nyata terhadap jumlah pori drainase total (Tabel Lampiran 4). Diagram persentase pori drainase total pada kondisi kering udara dan kapasitas lapang yang tersaji pada Gambar 13 menunjukkan bahwa peningkatan kadar air pada saat pemadatan menurunkan jumlah pori drainase total. Hasil pengamatan bobot isi yang telah dibahas sebelumnya menunjukkan bahwa bobot isi tanah dalam kondisi kapasitas lapang lebih besar dibandingkan kering udara, menyebabkan pori mikro-meso lebih terbentuk pada kondisi kapasitas lapang, sehingga pori drainase lebih banyak pada tanah pemadatan dalam kondisi kering udara.
[image:46.595.105.513.357.714.2]Gambar 13. Pori drainase total tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang
Gambar 14. Pori drainase total tanah tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan kapasitas lapang (a. Liat berat, b. Liat, c. Lempung berpasir, d.Pasir) 13,73 8,24 0 5 10 15
kering udara kapasitas lapang
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kondisi kadar air tanah
R² = 0,95
R² = 0,62 R² = 0,09 0
10 20 30 40
0 2 4 6 8
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%) (b)
R² = 0,03
R² = 0,38
R² = 0,09 0
10 20 30 40
0 2 4 6 8
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%) (a)
R² = 0,04
R² = 0,16 R² = 0,01 0
10 20 30 40
0 2 4 6 8
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%) (c)
R² = 0,30
R² = 0,95
R² = 0,97
0 10 20 30 40
0 5 10
P o r i d r ai n as e to tal (% )
Kadar bahan organik tanah (%) (d)
Pada semua tekstur, pori drainase total tanah pada tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan pemadatan kapasitas lapang semakin rendah nilainya seiring dengan peningkatan kadar bahan organik tanah (Gambar 14). Pori drainase total pada pemadatan kapasitas lapang lebih rendah nilainya dari pori drainase total tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara, dan pori drainase total tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara lebih rendah nilainya dibandingkan dengan pori drainase total tanah tanpa pemadatan untuk semua jenis tekstur tanah. Laju penurunan pori drainase total seiring peningkatan kadar bahan organik cukup tajam pada pasir, dan cukup landai pada liat berat dan lempung berpasir.
Pori Air Tersedia
Kondisi kadar air tanah pada saat pemadatan tidak mempengaruhi secara nyata terhadap pori air tersedia (Tabel Lapiran 4). Hal ini menunjukkan bahwa pori air tersedia pada tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara dan kapasitas lapang tidak berbeda nyata.
Permeabilitas Tanah
Menurut klasifikasi permeabilitas tanah, secara keseluruhan permeabilitas tanah tanpa pemadatan termasuk ke dalam kelas permeabilitas sangat cepat. Hal ini dikarenakan contoh tanah yang dianalisis merupakan tanah simulasi sehingga butir tanah belum terikat satu sama lain yang menyebabkan air dengan mudah lolos.
Gambar 15. Permeabilitas tanah pemadatan kering udara dan kapasitas lapang
Gambar 16. Permeabilitas tanah tanpa pemadatan, pemadatan kering udara dan kapasitas lapang (a. Liat berat, b. Liat, c. Lempung berpasir, d. Pasir) Gambar 16 menjelaskan bahwa permeabilitas tanah dengan pemadatan dalam kondisi kapasitas lapang lebih rendah nilainya dari tanah dalam kondisi kering udara, dan permeabilitas tanah dengan pemadatan dalam kondisi kering udara lebih rendah nilainya dibandingkan dengan tanah tanpa pemadatan untuk semua jenis tekstur tanah. Permeabilitas tanah liat berat, liat, dan lempung berpasir pada tanpa pemadatan, pemadatan kering udara, dan pemadatan kapasitas lapang semakin tinggi nilainya seiring dengan peningkatan kadar bahan organik, sedangkan permeabilitas pasir semakin rendah nilainya dengan makin besarnya kadar bahan organik tanah. Sejalan dengan data sebelumnya (Gambar 14d), laju pori drainase pada pasir menurun tajam seiring peningkatan kadar bahan organik dibandingkan dengan tekstur yang lain.
26,83 6,82 0 10 20 30
kering udara kapasitas lapang
P e r m e ab il itas (c m /jam )
R² = 0,99
R² = 0,55 R² = 0,11 0 130 260 390 520 650
0 2 4 6 8
P e r m e ab il itas (c m /jam )
kadar bahan organik tanah (%)
(a)
R² = 0,99
R² = 0,04 R² = 0,86 0 130 260 390 520 650
0 2 4 6 8
P e r m e ab il itas (c m /jam )
kadar bahan organik tanah (%)
(b)
R² = 0,93
R² = 0,00 R² = 0,49 0 130 260 390 520 650
0 2 4 6 8
P e r m e ab il itas (c m /jam )
ka