PROOGRAM
D-N
KA
-IV BIDAN UNIVERS
TAHUN
NOVALITA 115102
ARYA TUL
N PENDIDI SITAS SUM
201 N 2012
A ORIZA 2082
LIS ILMIAH
IK FAKUL MATERA U 12
H
LTAS KEPE UTARA
Judul : Pengaruh Pemberian Vitamin A dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012
Nama : Novalita Oriza
Jurusan : Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Tahun : 2012
ABSTRAK
Latar belakang : penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) bukan hanya untuk mencegah kebutaan, tetapi juga berkaitan dengan upaya memacu pertumbuhan dan kesehatan anak. Asupan vitamin A di awal kehidupan akan tercukupi melalui air susu ibu, terutama pada ibu yang memiliki status vitamin A yang baik. Manfaat vitamin A bagi ibu post partum adalah untuk pertumbuhan janin dan produksi ASI sedangkan bagi bayi untuk pertumbuhan.
Tujuan penelitian : untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian vitamin A dengan pengeluaran ASI pada ibu post partum di Klinik Cahaya Medan tahun 2012
Metodologi penelitian : penelitian ini menggunakan desain quasy eksperimen dengan rancangan penelitian one-group pretest posttest. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 44 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Klinik Cahaya Medan tahun2012. Analisis data digunakan uji statistik McNemar.
Hasil penelitian : karakteristik demografi responden mayoritas berusia 20-35 tahun sebanyak 36 orang (81,8%). Jumlah anak mayoritas 2 orang anak sebanyak 19 orang (43,2%). Berdasarkan pekerjaan mayoritas responden bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 18 orang (40,9%), dengan mayoritas pendidikan SMA sebanyak 29 orang (65,9%) dan berdasarkan jumlah penghasilan mayoritas ibu tidak berpenghasilan sebanyak 15 orang (34,1%). Dari analisis data diketahui bahwa pengeluaran ASI sebelum pemberian Vitamin A sebagian besar tidak lancar yaitu 26 orang (59,1%) dan pengeluaran ASI sesudah pemberian Vitamin A sebagian besar lancer yaitu 32 (72,7%). Hasil perhitungan uji McNemar diperoleh p value 0,000 <(0,05), maka terlihat bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pengeluaran ASI pada Ibu post partum sebelum dan sesudah pemberian vitamin A.
Kesimpulan : penelitian ini membuktikan bahwa pemberian vitamin A berpengaruh terhadap pengeluaran ASI. Sehingga diharapkan kepada bidan untuk mensosialisasikan pemberian vitamin A khususnya bagi ibu nifas dan memberikan informasi yang lengkap mengenai manfaat vitamin A dalam meningkatkan asupan gizi pada Ibu post partum.
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang
berjudul“Pengaruh Pemberian Vitamin A dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Post
Partum di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012”.
Peneliti menyadari bahwasannya dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini
masih banyak terdapat kekurangan karena keterbatasan kemampuan pengetahuan
peneliti. Untuk itu dengan kerendahanhati peneliti menerima segala kritik dan saran
yang sifatnya membangun dari para pembaca sekalian.
Pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu dan membimbing peneliti dalam menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah ini yaitu :
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
3. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns. M.Kep selaku Ketua Program Studi
D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Febrina Oktavinola Kaban SST, M.Keb selaku dosen pembimbing
dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
5. dr. Juliandi Harahap, MA selaku penguji I.
6. Ibu Betty Mangkuji SST, M.Kebselaku penguji II.
7. Ibu Nur Cahaya AM.Keb selaku pimpinan Klinik Cahaya Medan.
8. Seluruh dosen, staf dan pegawai administrasi program studi D-IV Bidan
9. Ayahanda, ibunda dan keluargaku tersayang yang telah memberikan
dukungan, semangat dan materil kepada peneliti dalam menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada peneliti sehingga
Karya Tulis Ilmiah ini selesai.
11. Semua pihak yang mendukung peneliti dalam menyelesaikan Karya Tulis
Ilmiah ini.
Akhir kata peneliti ucapkan terimahkasih atas semua bantuan yang diberikan,
semoga mendapat anugerah dari Allah SWT. Amin Ya Robbal Alamin.
Medan, Juni 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR SKEMA ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
1. Tujuan Umum ... 6
2. Tujuan Khusus ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Vitamin A ... 8
1. Definisi Vitamin A ... 8
a. manfaat Pemberian Vitamin A Bagi Kesehatan Ibu Nifas dan Bayi ... 8
b. Pedoman dan pelaksanaan Pemberian Vitamin A ... 9
c. Pelaksanaan Pemberian Vitamin A ... 10
d. Kelebihan Vitamin A ... 11
B. Pengeluaran ASI ... 11
1. Pengertian ... 11
2. Komposisi ASI ... 11
3. Mekanisme Produksi ASI ... 12
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengeluaran ASI ... 13
5. Faktor-faktor Dalam Menilai Kecukupan ASI ... 15
6. Kebutuhan Zat Gizi Pada Ibu Menyusui ... 15
7. Pemberian Vitamin A terhadap Pengeluaran ASI ... 16
C. Nifas ... 17
2. Tahapan Masa Nifas ... 17
3. Pola Makan Yang Sehat Salama Masa Nifas ... 18
BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFENISI OPERASIONAL ... 19
A. Kerangka Konsep ... 19
B. Hipotesa ... 19
B. Defenisi Operasional ... 20
BAB IV METODE PENELITIAN ... 21
A. Desain Penelitian ... 21
B. Populasi Dan Sampel Penelitian ... 21
1. Populasi ... 21
2. Sampel ... 22
C. Tempat Penelitian ... 23
D. Waktu Penelitian ... 23
E. EtikaPenelitian ... 23
F. Instrumen Penelitian ... 24
G. Validitas dan Reabilitas Instrumen ... 24
H. Pengumpulan Data ... 24
1. Pengolahan Data ... 25
2. Analisa Data ... 26
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
A. Hasil Penelitian ... 28
1. Analisa Univariat ... 28
2. Analisa bivariat ... 33
B. Pembahasan ... 34
BAB VI Kesimpulan Dan Saran ... 40
A. Kesimpulan ... 40
B. Saran ... 40
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi operasional variabel penelitian ... 25 Tabel 5.1 Distribusi dan frekuensi berdasarkan data demografi ibu bersalin
di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012 ... 29 Tabel 5.2 Distribusi jawaban responden tentang pengeluaran ASI pada Ibu
post partum sebelum diberikan vitamin A ... 31 Tabel 5.3 Distribusi frekuensi pengeluaran ASI sebelum pemberian
Vitamin A ... 32 Tabel 5.4 Distribusi jawaban responden tentang pengeluaran ASI pada Ibu
post partum sesudah diberikan vitamin A ... 33 Tabel 5.5 Distribusi frekuensi pengeluaran ASI sesudah pemberian
Vitamin A ... 34 Tabel 5.6 Perbedaaan pengeluaran ASI pada ibu post partum sebelum
DAFTAR SKEMA
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : LembarPersetujuanMenjadiResponden
Lampiran 2 : Lemba Informed Consent
Lampiran 3 : Lembar Kuesioner
Lampiran 4 : Lembar Protap Penelitian
Lampiran 5 : Lembar Konsultasi KTI
Lampiran 6 : Surat Izin Pengambilan Data Penelitian Dari USU
Lampiran 7 : Surat Balasan Izin Melakukan Penelitian Dari Klinik
Judul : Pengaruh Pemberian Vitamin A dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012
Nama : Novalita Oriza
Jurusan : Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Tahun : 2012
ABSTRAK
Latar belakang : penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) bukan hanya untuk mencegah kebutaan, tetapi juga berkaitan dengan upaya memacu pertumbuhan dan kesehatan anak. Asupan vitamin A di awal kehidupan akan tercukupi melalui air susu ibu, terutama pada ibu yang memiliki status vitamin A yang baik. Manfaat vitamin A bagi ibu post partum adalah untuk pertumbuhan janin dan produksi ASI sedangkan bagi bayi untuk pertumbuhan.
Tujuan penelitian : untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian vitamin A dengan pengeluaran ASI pada ibu post partum di Klinik Cahaya Medan tahun 2012
Metodologi penelitian : penelitian ini menggunakan desain quasy eksperimen dengan rancangan penelitian one-group pretest posttest. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 44 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Klinik Cahaya Medan tahun2012. Analisis data digunakan uji statistik McNemar.
Hasil penelitian : karakteristik demografi responden mayoritas berusia 20-35 tahun sebanyak 36 orang (81,8%). Jumlah anak mayoritas 2 orang anak sebanyak 19 orang (43,2%). Berdasarkan pekerjaan mayoritas responden bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 18 orang (40,9%), dengan mayoritas pendidikan SMA sebanyak 29 orang (65,9%) dan berdasarkan jumlah penghasilan mayoritas ibu tidak berpenghasilan sebanyak 15 orang (34,1%). Dari analisis data diketahui bahwa pengeluaran ASI sebelum pemberian Vitamin A sebagian besar tidak lancar yaitu 26 orang (59,1%) dan pengeluaran ASI sesudah pemberian Vitamin A sebagian besar lancer yaitu 32 (72,7%). Hasil perhitungan uji McNemar diperoleh p value 0,000 <(0,05), maka terlihat bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pengeluaran ASI pada Ibu post partum sebelum dan sesudah pemberian vitamin A.
Kesimpulan : penelitian ini membuktikan bahwa pemberian vitamin A berpengaruh terhadap pengeluaran ASI. Sehingga diharapkan kepada bidan untuk mensosialisasikan pemberian vitamin A khususnya bagi ibu nifas dan memberikan informasi yang lengkap mengenai manfaat vitamin A dalam meningkatkan asupan gizi pada Ibu post partum.
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) bukan hanya untuk
mencegah kebutaan, tetapi juga berkaitan dengan upaya memacu pertumbuhan dan
kesehatan anak. Menurut WHO, kebutaan anak di dunia kini telah mencapai 1,5
miliar dengan temuan setengah juta kasus baru dalam 1 tahun, gangguan penglihatan
ini terutama terjadi pada awal kehidupan. Kekurangan vitamin A pada anak selama
periode ini berisiko dan berdampak negatif pada kelangsungan hidup anak dan juga
dapat mempengaruhi perkembangan anak ketika anak mencapai usia sekolah (Ernita,
2011, hal.1).
Sejak tahun 1992, Indonesia dinyatakan bebas masalah xeropthalmia, namun
50% balita masih mempunyai serum retinol kurang dari 20 µg/dl yang akan
berdampak pada risiko kebutaan dan kematian karena infeksi. Survei pemetaan
vitamin A yang di lakukan di Provinsi Sumatera Utara, dilaporkan bahwa prevalensi
xeropthalmia sebesar 0,12% lebih rendah dari batas WHO yaitu sebesar 0,5%.
Namun, bila dilihat dari kecenderungan pencapaian cakupan pemberian kapsul
vitamin A yang mengalami penurunan sejak tahun 2005, dikhawatirkan akan muncul
kembali kasus tersebut.
Keller (2006, dalam soetarini, Yulifah & Wirastuti, 2009, hal. 96)
mengatakan bahwa vitamin A merupakan salah satu zat gizi yang tidak dapat di buat
oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar. Vitamin ini berfungsi merangsang
pertumbuhan epitel seluruh tubuh diantaranya epitel otak dan payudara. Di dalam
pertumbuhan epitel otak vitamin A merangsang sekresi hormon prolaktin sebagai
Vitamin A, penting dalam menyintesis pigmen sel-sel retina yang fotosensitif,
dan deferensiasi normal struktur epitel penghasil lendir. Kekurangan yang parah
menyebabkan rabun senja, serosis, dan keratinisasi konjungtiva dan kornea yang
pada akhirnya menimbulkan ulkus serta nekrosis kornea. Kebutaan yang disebabkan
oleh malnutrisi merupakan akibat dari defisiensi vitamin A yang berkepanjangan.
Vitamin A sendiri sangat penting dalam menopang fungsi tubuh termasuk
penglihatan integritas sel, kompetensi sistem kekebalan, serta pertumbuhan
(Arisman. 2007.hlm.121).
Penelitian epidemiologis memperlihatkan faktor-faktor risiko KVA, yang
meliputi campak, infeksi saluran napas (meningkat risiko sebanyak 2,5 kali), dan
diare (risiko naik 2,5 kali). Diare, infestasi cacing, dan gangguan lain pada saluran
pencernaan mengganggu penyerapan vitamin A, sementara campak, infeksi saluran
napas, dan demam meningkatkan metabolisme tubuh, serta tidak jarang pula merusak
nafsu makan. Kekurangan vitamin A ialah penyakit sistemik yang merusak sel dan
organ tubuh, dan menyebabkan metaplasi keratinisasi pada epitel saluran pernapasan,
saluran kemih, dan saluran pencernaan. Perubahan pada ketiga saluran ini relatif
lebih awal terjadi ketimbang kerusakanyang terdeteksi pada mata. Namun, karena
hanya mata yang mudah diamati dan diperiksa, diagnosis klinis yang spesifik
didasarkan pada pemeriksaan mata (Arisman. 2007.hlm.122). .
Dinkes (2005) mengatakan bahwa kekurangan vitamin A dosis tinggi di
Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari hasil survei
Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2005 ada 50,2% balita yang
mempunyai kadar vitamin A dalam darah kurang dari 20 µg/dL dan ada 66,4% ibu
Menurut Arisman (2007, hlm. 126) telah terbukti bahwa bayi baru lahir,
terutama di negara sedang berkembang yang kasus defisiensi vitamin A-nya bersifat
endemis, memiliki cadangan vitamin A yang sangat rendah. Asupan vitamin A di
awal kehidupan akan tercukupi melalui air susu ibu, terutama pada ibu yang
memiliki status vitamin A yang baik. Pernyataan ini menyiratkan bahwa bayi yang
tidak disusui berisiko menderita kekurangan dan karenanya harus diberi
suplementasi, terutama jika makanan pengganti ASI tidak diperkaya dengan vitamin
A. Status vitamin A yang baik diawal kehidupan akan mempengaruhi status dan
cadangan vitamin A pada tahap kehidupan lebih lanjut.
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan ibu, apabila
makanan ibu secara teratur dan cukup mengandung gizi yang diperlukan akan
mempengaruhi produksi ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja
dengan sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk produksi ASI yang
baik, makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak, dan vitamin serta
mineral yang cukup (Ambarwati & Wulandari. 2009.hlm.27).
Pemberian kapsul vitamin A untuk ibu nifas memiliki manfaat penting bagi
ibu dan bayi yang disusuinya, selain untuk meningkatkan daya tahan tubuh,
meningkatkan kelangsungan hidup anak juga dapat membantu pemulihan kesehatan
ibu, oleh sebab itu pemerintah ditingkat kabupaten dapat meningkatkan kualitas
kesehatan ibu dan anak dengan cara memperkuat program vitamin A ibu nifas, akan
tetapi kebijakan yang dibuat masih berupa pengadaan, sedangkan untuk kegiatan
distribusi, sosialisasi dan kunjungan rumah masih sangat terbatas (Ernita, 2011,
Pada asuhan masa nifas yang berhubungan dengan nutrisi, ibu nifas
mempunyai kebutuhan dasar yaitu mengkonsumsi vitamin A (200.000 unit) agar bisa
memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Depkes, 2006, ¶ 1). ASI
merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung zat gizi yang paling
sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam tahap percepatan tumbuh
kembang, terutama pada 2 tahun pertama (IDAI. 2008.hlm.2).
Asupan vitamin A pada perempuan Indonesia sangat rendah, baru 1/3 dari
jumlah yang dianjurkan sebesar 500 RE (Retino Ekivalen) per hari. Jumlah ini
meningkat menjadi 700 RE per hari pada ibu hamil dan 850 RE per hari pada masa
menyusui.Untuk memenuhi kebutuhan vitamin A tersebut pemerintah mengeluarkan
program suplementasi vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas tetapi kendala program
ini adalah sosialisasi yang masih terbatas.
Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative Group
(IVACG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya menerima
400.000 SI atau dua kapsul dosis tinggi @ 200.000 SI. Pemberian kapsul pertama
dilakukan segera setelah melahirkan, dan kapsul kedua diberikan sedikitnya satu hari
setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian (Keller,
2004, ¶ 12).
Tambahan vitamin A melalui suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI,
meningkatkan daya tahan tubuh, dan dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak.
Oleh sebab itu, pemerintah di tingkat kabupaten dapat meningkatkan kualitas
kesehatan ibu dan anak dengan cara memperkuat program vitamin A ibu nifas
(Dinkes, 2005).
Pada ibu hamil dan menyusui, vitamin A berperan penting untuk memelihara
menyusui, merupakan kondisi yang sering terjadi karena kekurangan vitamin A
(KVA). Kekurangan vitamin A juga berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu,
kekurangan berat badan, kurang gizi, meningkatnya risiko infeksi dan penyakit
reproduksi (Keller, 2004, ¶ 2).
Pedoman nasional yang ada pada saat ini merekomendasikan bahwa 100%
ibu nifas menerima satu kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI paling lambat 30
hari setelah melahirkan. Walaupun begitu, data NSS di beberapa propinsi
menunjukkan bahwa cakupannya hanya berkisar antara 15-25%. (Keller, 2004, ¶13).
Menurut Ridwanamiruddin (2007, dalam Soetarini,Yulifah & Wirastuti,
2009, hal. 96) cakupan pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas di Jawa Timur
hanya 54,9% dan di Malang 41,29%. Di Kecamatan Dau 93% di Desa Kalisongo
baru 73% dari target yang ditentukan yaitu 100%. Masih rendahnya cakupan tersebut
menurut ibu yaitu salah satunya disebabkan karena ketidaktahuan ibu tentang
pentingnya vitamin A bagi ibu nifas. Ibu hanya mengetahui bahwa pemberian
vitamin A khusus untuk bayi dan anak (Data Puskesmas Dau,2007).
Menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat (2006), pencapaian pemberian
vitamin A pada ibu nifas tahun 2006 >60% provinsi di Indonesia. Sekitar 20% baru
mencapai kisaran 45,01-60%. Provinsi dengan presentasi tertinggi adalah Jawa
Tengah (88,18%), sementara 5 provinsi dengan presentasi terendah adalah Sumatera
Utara (40,46%), Sulawesi Barat (34,66%), Lampung (26,65%), DKI Jakarta
(18,06%), dan Papua (4,97%) (www.depkes.go.id/Petakesehatan2006).
Dengan cakupan pemberian vitamin menurun dan target pemberian ASI
Eksklusif yang juga masih rendah peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh
pemberian vitamin A dengan pengeluaran Air Susu Ibu pada ibu post partum di
B.Perumusan masalah
Berdasarkan uraian di atas dan dengan cakupan pemberian vitamin A
menurun serta target pemberian ASI eksklusif yang juga masih rendah maka peneliti
tertarik untuk mengetahui “Pengaruh Pemberian Vitamin A dengan Pengeluaran ASI
pada Ibu Post Partum di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012“
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum :
Mengidentifikasi pengaruh pemberian vitamin A dengan pengeluaran ASI
pada ibu post partum di Klinik Cahaya Medan tahun 2012.
2. Tujuan khusus :
a. Mengidentifikasi karakteristik ibu post partum di Klinik Cahaya Medan
tahun 2012.
b. Mengidentifikasi pengeluaran ASI pada ibu post partum di Klinik Cahaya
Medan sebelum diberikan vitamin A.
c. Mengidentifikasi pengeluaran ASI pada ibu post partum di Klinik Cahaya
Medan sesudah diberikan vitamin A.
D.Manfaat Penelitian
1. Bagi Klinik Bidan Cahaya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi bidan
praktek swasta di klinik Cahaya Medan untuk meningkatkan penerapan
standar pelayanan kebidanan bagi ibu post partum tentang pemberian vitamin
2. Bagi Penelitian
Sebagai acuan dalam meningkatkan pengetahuan khususnya tentang
pemberian vitamin A bagi ibu nifas dan menambah wawasan tentang masalah
yang terjadi dalam masyarakat.
3. Bagi Pendidikan Kebidanan Universitas Sumatera Utara
Sebagai bahan kepustakaan bagi institusi pendidikan dan meningkatkan
pengetahuan khususnya sebagai bahan bacaan dalam kegiatan proses belajar
khususnya di Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
BAB II
2. Bagi Penelitian
Sebagai acuan dalam meningkatkan pengetahuan khususnya tentang
pemberian vitamin A bagi ibu nifas dan menambah wawasan tentang masalah
yang terjadi dalam masyarakat.
3. Bagi Pendidikan Kebidanan Universitas Sumatera Utara
Sebagai bahan kepustakaan bagi institusi pendidikan dan meningkatkan
pengetahuan khususnya sebagai bahan bacaan dalam kegiatan proses belajar
khususnya di Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
BAB II
A.Vitamin A
1. Definisi Vitamin A
Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Vitamin A
merupakan salah satu vitamin yang vital untuk menjaga kesehatan. Vitamin A tidak
hanya bertanggung jawab pada kesehatan mata, tapi juga pada kekebalan tubuh.
Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan rendahnya respons imun, kesuburan,
gangguan pada pertumbuhan, dan rendahnya perkembangan mental. Tingkat
kematian pada anak kekurangan vitamin A mencapai 50% (Prabantini. 2010.hlm.47).
Menurut Almatsier (2001, hlm. 153) vitamin A adalah vitamin larut lemak
yang pertama ditemukan. Secara luas, vitamin A merupakan nama generik yang
menyatakan semua retinoid dan prekusor/provitamin A/karotenoid yang mempunyai
aktivitas biologik sebagai retinol.
a. Manfaat Pemberian Vitamin A Bagi Kesehatan Ibu Nifas dan Bayi
1.) Bagi ibu nifas
Ibu hamil dan menyusui, seperti halnya juga anak-anak, berisiko
mengalami Kurang Vitamin A (KVA) karena pada masa tersebut ibu
membutuhkan vitamin A yang tinggi untuk pertumbuhan janin dan produksi
ASI. Konsentrasi vitamin A dalam ASI sangat bergantung pada status gizi
ibu. Pemberian kapsul vitamin A pada ibu setelah melahirkan dapat
meningkatkan status vitamin A dan jumlah kandungan vitamin tersebut
dalam ASI (Keller, 2004, ¶ 8).
Studi terbaru dari Nepal menunjukkan bahwa rendahnya status vitamin
A selama masa kehamilan dan menyusui berasosiasi dengan rendahnya
setiap minggunya, sebelum kehamilan, pada masa kehamilan serta setelah
melahirkan telah menaikkan konsentrasi serum retinol ibu dan menurunkan
penyakit rabun senja (Keller, 2004, ¶ 9).
2.)Bagi bayi
Sediaoetama (2000, dalam Soetarini, Yulifah & Wirastuti, 2009, hal.
98) mengatakan bahwa manfaat vitamin A bagi bayi adalah untuk
pertumbuhan dimana dasar hambatan pertumbuhan adalah akibat terjadinya
hambatan dalam sintesa protein. Sedangkan dalam sintesa protein
membutuhkan kehadiran vitamin A. Sehingga pada defisiensi vitamin A ini
terjadi hambatan sintesa protein yang akan menghambat pertumbuhan sel.
Pada pertumbuhan gigi ameloblast yang membentuk email sangat
dipengaruhi oleh vitamin A. Pada kondisi kekurangan vitamin A akan
membentuk email gigi yang sensitif terhadap serangan karies gigi. Untuk
pencegahan defisiensi Vitamin A pemberian dianjurkan untuk mengikuti
kebutuhan yang meningkat pada bayi, yaitu dosis yang dianjurkan bagi ibu
laktasi.
b. Pedoman dan Pelaksanaan Pemberian Vitamin A
Pada tahun 1998, Badan Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa ibu dan
bayi yang disusuinya akan mendapatkan manfaat dari pemberian satu kapsul vitamin
A dosis tinggi (200,000 IU) yang diberikan paling lambat 60 hari (8 minggu atau 2
bulan) setelah melahirkan (Keller, 2004, ¶ 11).
Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative
Group (IVACG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya
menerima 400.000 SI atau dua kapsul dosis tinggi @200.000 SI. Pemberian kapsul
satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian.
Sebagai tambahan atau sebagai alternatif, ibu pasca melahirkan dapat mengkonsumsi
vitamin A dosis 10.000 SI setiap harinya atau 25.000 SI sekali seminggu, selama
enam bulan pertama, guna meningkatkan status vitamin A dalam tubuhnya (Keller,
2004, ¶ 12).
Saat ini pemerintah sedang melaksanakan studi operasional untuk
meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis baru 2 x 200.000 SI pada
ibu nifas, serta melihat keuntungan dan kerugian pembaharuan pedoman
suplementasi untuk dapat konsisten dengan rekomendasi internasional yang terkini
(Keller, 2004, ¶ 13).
c. Pelaksanaan pemberian vitamin A :
1. Bersamaan dengan pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi umur
0-7 hari pada kunjungan neonatal (KN1).
2. Apabila kapsul vitamin A tidak diberikan pada KN1, maka dapat
diberikan pada KN2 (8-28 hari) atau KN3 (minggu ke-6 setelah
persalinan).
Untuk menghindari duplikasi pemberian kapsul vitamin A oleh petugas
kepada ibu nifas, setiap petugas yang akan memberikan kapsul harus
memberitahukan dan menanyakan kepada ibu nifas tentang pemberian kapsul
vitamin A (Dinkes, 2008, ¶ 5).
d. Kelebihan Vitamin A
Hanya bisa terjadi bila memakan Vitamin A sebagai suplemen dalam
takaran tinggi yang berlebihan misalnya takaran 16 RE untuk jangka waktu lama
pusing, rambut rontok, kulit mengering, tidak ada nafsu makan atau anoreksia dan
sakit pada tulang. Pada wanita menstruasi berhenti. Pada bayi terjadi pembesaran
kepala, hidrosefalus dan mudah tersinggung yang dapat terjadi pada konsumsi 8000
RE/hari selama 30 hari. Gejala kelebihan ini hanya terjadi bila dimakan dalam
bentuk vitamin A. Karoten tidak dapat menimbulkan gejala kelebihan, karena
absorpsi karoten menurun bila konsumsi tinggi. Disamping itu sebagian dari karoten
yang diserap tidak diubah menjadi vitamin A akan tetapi disimpan di dalam lemak.
Bila lemak dibawah kulit mengandung banyak karoten, warna kulit akan terlihat
kekuningan (Almatsier. 2001.hlm.162).
B.Pengeluaran ASI
1. Pengertian ASI
ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi yang
paling sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam tahap percepatan tumbuh
kembang, terutama pada 2 tahun pertama (IDAI. 2008.hlm)
2. Komposisi ASI
ASI bersifat khas untuk bayi karena susunan kimianya, mempunyai nilai
biologis tertentu, dan mempunyai substansia yang spesifik. Ketiga sifat itulah yang
membedakan ASI dengan susu formula. Pengeluaran ASI tergantung dari umur
kehamilan sehingga ASI yang keluar dari ibu dengan kelahiran prematur akan
berbeda dengan ibu yang bayinya cukup bulan. Dengan demikian pengeluaran ASI
sudah diatur sehingga sesuai dengan tuanya kehamilan.
Pengeluaran ASI dapat dibedakan atas:
a) Kolostrum.
Mengandung: imunoglobulin, laktoferin, ion-ion (Na, Ca, K, Zn, Fe),
vitamin (A, D, E dan K), lemak dan rendah laktosa.
Pengeluaran kolostrum berlangsung sekitar dua tiga hari dan diikuti
ASI yang mulai berwarna putih.
b) ASI transisi (antara).
ASI antara, mulai berwarna putih bening dengan susunan yang
disesuaikan kebutuhan bayi, dan kemampuan mencerna usus bayi.
c) ASI sempurna
Pengeluaran ASI penuh sesuai dengan perkembangan usus bayi,
sehingga dapat menerima susunan ASI sempurna (Manuaba.
2000.hlm.56).
3. Mekanisme Produksi ASI
Ada dua hormon, prolaktin dan oksitosin yang memegang peranan penting
dalam produksi dan pengeluaran air susu (pengaliran). Bayi yang mengisap payudara
ibu juga merangsang kelenjar hipofisis anterior yang terletak di otak untuk
melepaskan prolaktin ke dalam aliran darah ibu. Prolaktin menyebabkan sel-sel pada
alveoli menarik air dan nutrien dari darah untuk memproduksi susu. Oksitosin
dilepaskan ke dalam aliran darah oleh kelenjar hipofisis posterior sebagai respons
terhadap isapan bayi dan tangisan maupun rengekan bayi, bahkan mendengar bayi
terbangun sekalipun dapat membuat kelenjar melepas hormon tersebut. Oksitosin
menyebabkan otot-otot kecil di sekitar sel-sel penghasil susu berkontraksi dan
mengeluarkan susu. Juga menyebabkan duktus melebar dan memendek,
memungkinkan air susu mengalir ke luar.
Jumlah air susu yang ibu produksi umumnya dipengaruhi oleh frekuensi dan
susu yang ibu produksi. Bayi bisa menyusui 8 sampai 15 kali dalam 24 jam, hal itu
dapat memperlancar produksi ASI, walaupun beberapa sesi berlangsung amat
singkat. Lamanya menyusu berbeda-beda tiap periode menyusu. Rata-rata bayi
menyusu selama 5-15 menit, walaupun terkadang lebih. Dengan menunda atau
membatasi pemberian air susu, penggunaan dot, pemberian suplemen (susu formula,
air atau cairan lain), atau menjadwalkan waktu menyusu setiap tiga atau empat jam
sekali akan menunda pengeluaran ASI dan menurunkan produksinya. Sering
menyusui, untuk memuaskan rasa lapar bayi dan membiarkan bayi mengisap selama
bayi mau, akan membantu ibu memproduksi pasokan air susu yang baik (Simkin,
Whalley & Keppler. 2007).
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengeluaran ASI
Pada ibu yang normal dapat menghasilkan ASI kira-kira 550-1000 ml setiap
hari, jumlah ASI tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
a. Makanan
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan ibu, apabila
makanan ibu secara teratur dan cukup mengandung gizi yang diperlukan
akan mempengaruhi produksi ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat
bekerja dengan sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk
produksi ASI yang baik, makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori,
protein, lemak, dan vitamin serta mineral yang cukup selain itu ibu
dianjurkan minum lebih banyak kurang lebih 8-12 gelas/hari.
b. Ketenangan jiwa dan fikiran
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu
ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak akan
terjadi produksi ASI.
c. Penggunaan alat kontrasepsi
Pada ibu yang menyusui bayinya penggunaan alat kontrasepsi hendaknya
diperhatikan karena pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat dapat
mempengaruhi produksi ASI.
d. Perawatan payudara
Dengan merangsang buah dada akan mempengaruhi hypofise untuk
mengeluarkan hormon progesteron dan estrogen lebih banyak lagi dan
hormon oxytocin.
e. Anatomis buah dada
Bila jumlah lobus dalam buah dada berkurang, lobulus pun berkurang.
Dengan demikian produksi ASI juga berkurang karena sel-sel acini yang
menghisap zat-zat makan dari pembuluh darah akan berkurang.
f. Fisiologi
Terbentuknya ASI dipengaruhi hormon terutama hormon prolaktin ini
merupakan hormon laktogenik yang menentukan dalam hal pengadaan dan
mempertahankan sekresi air susu.
g. Faktor istirahat
Bila kurang istirahat akan mengalami kelemahan dalam menjalankan
fungsinya dengan demikian pembentukan dan pengeluaran ASI berkurang.
h. Faktor hisapan anak
Bila ibu menyusui anak segera jarang dan berlangsung sebentar maka
i. Faktor obat-obatan
Diperkirakan obat-obatan yang mengandung hormon mempengaruhi
hormon prolaktin dan oxytocin yang berfungsi dalam pembentukan dan
pengeluaran ASI. Apabila hormon-hormon ini terganggu dengan sendirinya
akan mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI (Ambarwati &
Wulandari. 2009.hlm.27).
5. Faktor-faktor dalam menilai kecukupan ASI
a.ASI akan cukup bila posisi dan perlekatan benar
b. Bila buang air kecil lebih dari 6 kali sehari dengan warna urine yang tidak
pekat dan bau tidak menyengat
c. Berat badan naik lebih dari 500 gram dalam sebulan dan telah melebihi
berat lahir pada usia 2 minggu
d. Bayi akan relaks dan puas setelah menyusu dan melepas sendiri dari
payudara ibu.
6. Kebutuhan Zat Gizi pada Ibu Menyusui
a. Kebutuhan Kalori
Selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan
dan lebih tinggi selama menyusui dibandingkan selama hamil. Rata-rata
kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70
kkal/100 ml, dan kira-kira 85 kkal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml
yang dihasilkan. Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kkal/hari untuk
6 bulan pertama dan 510 kkal/hari selama 6 bulan kedua untuk
menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi
b. Protein
Ibu memerlukan tambahan 20 gram diatas kebutuhan normal ketika
menyusui. Jumlah ini hanya 16% dari tambahan 500 kkal yang dianjurkan.
c. Cairan
Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan.
Dianjurkan ibu menyusui minum 2-3 liter per hari, dalam bentuk air putih,
susudan jus buah.
d. Vitamin dan Mineral
Kebutuhan vitamin dan mineral selama menyusui lebih tinggi daripada
selama hamil (Intan, Rury & Ircham. 2011).
7. Pemberian Vitamin A Terhadap Pengeluaran ASI
Astawan (2008, dalam Sortarini, Yulifah & Wirastuti, 2009, hal. 98)
memaparkan pembentukan ASI dipengaruhi hormon prolaktin tetapi selama
terbentuk hormon estrogen maka pembentukan prolaktin terhambat. Dengan
berhentinya pengaruh estrogen setelah persalinan, produksi prolaktin meningkat dan
mengaktivasi kelenjar buah dada memproduksi ASI. Vitamin A mempunyai aktifitas
mirip hormon yaitu mengadakan interaksi dengan reseptor spesifik intraselluler pada
jaringan target yaitu merangsang pertumbuhan epitel-epitel pada seluruh tubuh
diantaranya adalah epitel otak dan payudara. Pada epitel otak vitamin A membantu
hipofise anterior untuk merangsang sekresi hormon prolaktin. Pada payudara
Vitamin A bekerja mengaktifkan sel-sel epitel pada alveoli untuk menampung air
susu.
Vitamin A diabsorbsi sempurna, pesat dan praktis sempurna, kecuali bila
dosis terlampau tinggi. Kadar dalam plasma mencapai puncak setelah 4 jam.
minyak. Zat ini terikat dan ditranspor dengan RBP (Retinol Binding Protein)
sebagian dioksidasi menjadi retinal dan asam retinoat yang bersama glukoronidanya
diekskresi lewat kemih dan tinja.
C.Post Partum / Nifas
1. Pengertian Nifas.
Masa nifas (puerperium) menurut Sarwono Prawirohardjo adalah dimulai
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan semula atau sebelum hamil, yang berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Masa nifas (puerperium) menurut Rustam Mochtar adalah masa pulih kembali yang
dimulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil
yang lamanya 6-8 minggu. Definisi lain masa nifas (puerperium) adalah masa
sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang
lamanya 6 minggu. Menurut hanifa Wiknjosastro, masa nifas (puerperium) adalah
dimulai setelah persalinan selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.
2. Tahapan Masa Nifas
Masa nifas seperti seperti dijelaskan diatas merupakan rangkaian setelah
proses persalinan dilalui oleh seorang wanita, beberapa tahapan masa nifas yang
harus difahami oleh seorang bidan antara lain:
a) Puerperium dini yaitu pemulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan-jalan.
b) Puerperium intermedial yaitu pemulihan menyeluruh alat-alat genital yang
c) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki komplikasi (Bahiyatun.
2009.hlm.110).
3. Pola Makan Yang Sehat Selama Masa Nifas
a. Petunjuk pola makan yang sehat adalah makanan yang dikonsumsi memiliki
jumlah kalori dan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan seperti karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, mineral, serat dan air. Selain itu, pola makan harus
diatur secara rasional, yaitu 3 kali sehari (pagi,siang dan malam). Selain
makanan utama ibu nifas harus mengkonsumsi cemilan dan jus buah-buahan
sebagai makanan selingan (Krisnatuti, 2005).
b. Ibu nifas hendaknya mengusahakan mengkonsumsi daging khususnya daging
sapi agar penurunan berat badan berjalan lebih cepat. Dan produksi ASI tetap
lancar, karena daging sapi memiliki banyak serat yag dapat memperlancar
buang air besar. Sehingga tanpa diet ibu tetap memiliki badan yang ideal.
Selain itu sayur dan buah pun juga mengandung banyak serat yang dapat
memperlancar air besar (Iping, 2005).
c. Pola makan dengan menu seimbang sangat dianjurkan yang mana menu
seimbang terdiri dari jumlah kalori serta zat gizi yang sesuai dengan
kebutuhan seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, serat dan air.
Sebagai contoh makanan yang terdiri dari nasi, ikan, sayur bayam, apel dan
susu. Sedangkan jenis makanan yang sebaiknya dihindari oleh ibu nifas
diantaranya adalah makanan yang mengandung zat aditif atau bahan
pengawet makanan yang berkalori tinggi, daging atau makanan yang tidak
diolah dengan sempurna serta makanan yang merangsang seperti makanan
pedas (Krisnatuti, 2005).
BAB III
c) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki komplikasi (Bahiyatun.
2009.hlm.110).
3. Pola Makan Yang Sehat Selama Masa Nifas
a. Petunjuk pola makan yang sehat adalah makanan yang dikonsumsi memiliki
jumlah kalori dan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan seperti karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, mineral, serat dan air. Selain itu, pola makan harus
diatur secara rasional, yaitu 3 kali sehari (pagi,siang dan malam). Selain
makanan utama ibu nifas harus mengkonsumsi cemilan dan jus buah-buahan
sebagai makanan selingan (Krisnatuti, 2005).
b. Ibu nifas hendaknya mengusahakan mengkonsumsi daging khususnya daging
sapi agar penurunan berat badan berjalan lebih cepat. Dan produksi ASI tetap
lancar, karena daging sapi memiliki banyak serat yag dapat memperlancar
buang air besar. Sehingga tanpa diet ibu tetap memiliki badan yang ideal.
Selain itu sayur dan buah pun juga mengandung banyak serat yang dapat
memperlancar air besar (Iping, 2005).
c. Pola makan dengan menu seimbang sangat dianjurkan yang mana menu
seimbang terdiri dari jumlah kalori serta zat gizi yang sesuai dengan
kebutuhan seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, serat dan air.
Sebagai contoh makanan yang terdiri dari nasi, ikan, sayur bayam, apel dan
susu. Sedangkan jenis makanan yang sebaiknya dihindari oleh ibu nifas
diantaranya adalah makanan yang mengandung zat aditif atau bahan
pengawet makanan yang berkalori tinggi, daging atau makanan yang tidak
diolah dengan sempurna serta makanan yang merangsang seperti makanan
pedas (Krisnatuti, 2005).
BAB III
A.Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan
atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel
yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo.
2010.hlm.83). Variabel independen dalam penelitian ini adalah pemberian vitamin A
dan variabel dependen adalah pengeluaran ASI pada ibu post partum. Penelitian ini
terdiri dari 1 kelompok yang diidentifikasi berdasarkan pengeluaran Air Susu Ibu
sebelum dan sesudah diberikan vitamin A. Hasil yang diharapkan adalah
meningkatnya pengeluaran Air Susu Ibu setelah diberikan vitamin A.
Dari uraian tersebut maka dapat digambarkan kerangka konsep penelitian
sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Skema 1. Variabel independen dan variabel dependen
B.Hipotesa
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan
penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini adalah hipotesis alternatif (Ha) yaitu ada
pengaruh pengeluaran ASI pada ibu post partum.
C.Definisi Operasional
Pemberian Vitamin A
Pengeluaran ASI pada ibu post partum Karakteristik
1. Usia 2. Paritas 3. Pendidikan 4. Pekerjaan
5. penghasilan
Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud,
[image:33.595.77.554.149.766.2]atau tentang yang bersangkutan.
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian
No. Variabel Definisi
Operasional
Alat Ukur
Cara Ukur Hasil ukur Skala
1. Independen Pemberian vitamin A Vitamin yang diberikan pada ibu post partum - - - -
2. Dependen Pengeluaran ASI pada ibu
post partum
Pengeluaran ASI ibu selama masa nifas
Kuesioner Chek list 1 = Lancar 0 = Tidak lancar
Nominal
3. Usia Umur yang
dihitung sejak lahir hingga penelitian dilakukan
Kuesioner Chek list 1 = < 20 tahun 2 = 20-35 tahun 3 = > 35 tahun
Interval
4. Paritas Jumlah
persalinan yang pernah dialami ibu
Kuesioner Chek list 1 = 1 orang 2 = 2 orang 3 = > 2 orang
Rasio
5. Pekerjaan Kegiatan yang
dilakukan setiap harinya untuk
kehidupan
Kuesioner Chek list 1 = IRT 2 = PNS 3 = Swasta 4 = Wiraswasta
Nominal
6. Pendidikan Jenjang dari tingkat yang rendah ke tingkat yang tinggi untuk menyelesaikan suatu pendidikan
Kuesioner Chek list 1 = SD 2 = SMP 3 = SMA 4 = PT
Ordinal
7. Penghasilan Pendapatan Kuesioner Chek list 1 = tidak berpenghasilan 2 = < 1.000.000 3 =
1.000.000,-2.000.000 4 = ≥ 2.000.000
BAB IV
METODE PENELITIAN
A.Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy eksperimen yang bersifat one-group pretest posttest untuk melihat pengaruh pemberian vitamin A terhadap pengeluaran Air Susu Ibu post partum di Klinik Cahaya tahun 2012
sebelum dan sesudah pemberian vitamin A.
Pretest Perlakuan Postest
01 X 02
Skema 2. Desain Penelitian
Keterangan :
01 : Pengeluaran ASI pada ibu post partum sebelum diberi vitamin A
02 : Pengeluaran ASI pada ibu post partum sesudah diberi vitamin A
X : Intervensi (Pemberian vitamin A)
B.Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sekelompok subjek yang menjadi objek atau sasaran
penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Klinik Cahaya
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi. Menentukan
sampel dengan menggunakan ketetapan absolut dan menggunakan rumus :
n N
N d
Keterangan :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d = Ketetapan relatif yang ditetapkan oleh peneliti (0,05)
Jadi sampel dalam penelitian ini adalah :
Diketahui : N = 61
,
,
n = 53
Sampel dalam penelitian ini dengan kriteria inklusi : ibu post partum hari ke 3
melahirkan yang memberikan ASI kepada bayinya dan tidak mengkonsumsi obat
untuk meningkatkan kualitas ASI, ibu post partum yang melakukan proses persalinan
di Klinik Cahaya Medan dan bersedia menjadi responden. Teknik pengambilan
sampel menggunakan pendekatan secara purposive sampling yaitu suatu teknik penetapan atau pengambilan sampel yang didasarkan atas pertimbangan peneliti
pertimbangan peneliti dan sesuai dengan kriteria sampel yang telah ditentukan.
Dimana jumlah sampel sebanyak 53 orang, namun pada penelitian ini hanya 44
responden yang dapat dijadikan sampel, karena memenuhi kriteria inklusi yang telah
ditentukan sebelumnya.
C.Lokasi Penelitian
Peneliti melaksanakan penelitian di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012
dengan pertimbangan adanya populasi yang mencukupi untuk dijadikan responden,
lokasi mudah dijangkau, serta belum pernah dilakukan penelitian yang sama
sebelumnya.
D.Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei tahun 2012.
E.Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapat izin dari ketua Program
Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Kemudian peneliti mengajukan permohonan izin penelitian kepada Pimpinan Klinik
Cahaya Medan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan
permasalahan etik, yaitu : peneliti memberikan penjelasan kepada calon responden
tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan penelitian. Apabila calon responden
bersedia, maka calon responden dipersilahkan untuk menandatangani informed consent. Tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka calon responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri. Responden juga berhak mengundurkan diri
selama proses pengumpulan data berlangsung. Kerahasiaan catatan mengenai data
penelitian, tetapi menggunakan inisial. Data-data yang diperoleh dari responden juga
hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
F. Instrumen Penelitian
Alat pengumpulan data yang digunakan berupa kuesioner yang terdiri dari
dua bagian, yaitu : bagian pertama adalah data demografi yaitu: usia, paritas,
pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan. Sedangkan bagian kedua adalah kuesioner
untuk mengobservasi frekuensi pengeluaran ASI sebelum dan sesudah diberikan
vitamin A yang di buat oleh peneliti berdasarkan kerangka konsep, tinjauan pustaka
dan dikonsultasi kepada dosen pembimbing. Kuesioner frekuensi pengeluaran ASI
menggunakan 20 pertanyaan, jika dijawab “ya“ mendapat nilai 1, dan apabila
menjawab “tidak” mendapat nilai 0.
Responden dengan kategori pengeluaran ASI lancar diberikan nilai 1 dan
responden dengan kategori penegluaran ASI tidak lancar diberikan nilai 0.
G. Uji Validitas dan Reliabilitas
Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan mengacu pada kerangka
konsep dan literatur dan telah dikonsultasikan pada dosen pembimbing sehingga
tidak dilakukan uji validitas dan realibilitas.
H. Prosedur Pengumpulan Data
Setelah peneliti mendapatkan izin melakukan penelitian dari ketua pelaksana
program studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara, selanjutnya mengajukan permohonan izin penelitian ke pimpinan Klinik
Cahaya Medan. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan selama dan sesudah
pengumpulan data. Setelah mendapatkan izin dari pimpinan Klinik Cahaya Medan,
agar bersedia menjadi asisten peneliti dalam mendapatkan responden yang sesuai
kriteria dengan menghubungi peneliti menggunakan telefon seluler. Asisten peneliti
merupakan lulusan dari DIII kebidanan.
Peneliti menemui pasien dan meminta persetujuan dari calon responden untuk
untuk menjadi responden dengan menandatangani Informed Consent dan memberikan kuesioner untuk mengidentifikasi data demografi sebelum diberikan
vitamin A. Setelah itu peneliti menjelaskan prosedur mengkonsumsi vitamin A yaitu
kapsul pertama diminum segera setelah melahirkan, dan kapsul kedua diminum
sedikitnya satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu
kemudian. Peneliti juga menyarankan kepada responden sesuai dengan pendapat
Keller (2004) bahwa sebagai tambahan atau sebagai alternatif, ibu pasca melahirkan
dapat mengkonsumsi vitamin A dosis 10.000 SI setiap harinya atau 25.000 SI sekali
seminggu, selama enam bulan pertama, guna meningkatkan status vitamin A dalam
tubuhnya. Kemudian1 minggu berikutnya peneliti mendatangi rumah responden dan
memberikan lembar check list serta mewawancarai responden untuk mengidentifikasi peningkatan kualitas Air Susu Ibu setelah mengkonsumsi vitamin A
dengan melibatkan suami atau orang terdekat yang dapat mengobservasi ibu dalam
mengkonsumsi vitamin A.
I. Rencana Analisis Data
1. Pengolahan data
a.) Editing (Pemeriksaan Data)
Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah
dikumpulkan, karena kemungkinan data yang masuk atau data
b.) Coding (Pemberian Kode)
Coding merupakan proses pemberian/pembuatan kode-kode pada
tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Kode adalah isyarat
yang dibuat dalam bentuk angka-angka/huruf-huruf yang memberikan
petunjuk, atau identitas pada suatu informasi atau data yang akan
dianalisis.
c.) Tabulating (Tabulasi)
Adalah membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberi kode,
sesuai dengan analisis yang dibutuhkan (Hasan. 2002.hlm.89).
d.) Cleaning (pembersihan Data)
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai
dimasukkan, kemudian dicek kembali untuk melihat
kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan
sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi
(Notoatmodjo. 2010.hlm.177).
2. Analisa data
Analisis data diperoleh dengan menggunakan 2 tahap, yaitu :
a.)Analisa Univariat
Analisi ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik
masing-masing variabel yang diteliti, yakni melihat frekuensi Air Susu Ibu
sebelum dan sesudah diberikan vitamin A. Data yang bersifat
kategorik dicari frekuensi dan proporsinya, sedangkan data yang
b.)Analisa Bivariat
Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh vitamin A dengan
pengeluaran Air Susu Ibu. Dalam menganalisa data secara bivariat,
pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik uji
McNemar Test yang digunakan untuk menguji perbedaan proporsi dua populasi yang berpasangan, jika data berskala nominal dan hanya
memiliki dua kategori. Rancangan penelitian biasanya berbentuk “pre
dan post”. Taraf signifikan 95% (α = 0,05). Pedoman dalam menerima
hipotesis : jika nilai probabilitas (p) < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha
menyatakan adanya pengaruh, apabila (p) >0,05 maka H0 gagal
ditolak, artinya tidak ada pengaruh pengeluaran ASI pada ibu post
partum sebelum dan sesudah mengkonsumsi vitamin A. Data
disajikan dalam bentuk tabel agar dapat dengan mudah dilihat
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Klinik Cahaya Medan yang terletak di Jl. Bilal Gg.
Melawai No. 29 Medan, yang diasuh oleh Bidan Nurcahaya P, Am. Keb. Pada Bab
ini akan menguraikan tentang hasil penelitian mengenai pengaruh pemberian vitamin
A dengan pengeluaran ASI pada ibu post partum di Klinik Cahaya Medan tahun
2012 melalui pengumpulan data terhadap 44 orang responden sebelum diberikan
vitamin A dan sesudah diberikan vitamin A. Penyajian data meliputi karakteristik
responden, frekuensi pengeluaran ASI sebelum pemberian vitamin A dan sesudah
vitamin A pada ibu post partum di Klinik Cahaya Medan tahun 2012.
1. Analisa Univariat
Analisis univariat ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik responden
terdiri dari usia, jumlah paritas, pekerjaan, pendidikan, penghasilan dan distribusi
frekuensi pengeluaran ASI sebelum dan Sesudah pemberian Vitamin A.
a. Karakteristik Responden
Berdasarkan data demografi diketahui bahwa terdapat 3 responden (6,8%)
berusia <20 tahun, 36 responden (81,8%) berusia 20-35 tahun, dan 5 responden
(11,4%) berusia > 35 tahun. Berdasarkan paritas terdapat 13 responden (29.5%)
dengan jumlah paritas 1 orang, 19 responden (43,2%) dengan jumlah paritas 2
orang, dan 12 responden (27,3%) dengan jumlah paritas >2 orang. Berdasarkan
pekerjaan mayoritas responden bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 18
responden (40,9%). Bekerja sebagai PNS sebanyak 9 responden (20,5%), sebagai
Pegawai Swasta sebanyak 9 responden (20,5%) dan bekerja sebagai Wiraswasta
1 responden (2,3%), pendidikan SMP sebanyak 1 responden (2,3%), pendidikan
SMA sebanyak 29 responden (65,9%) dan pendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 13
responden (29,5%). Berdasarkan jumlah penghasilan sebagian besar ibu tidak
berpenghasilan sebanyak 15 responden (34,1%), dan yang berpenghasilan <
1.000.000 sebanyak 8 responden (18,2%), penghasilan 1.000.000 – 2.000.000
sebanyak 10 responden (22,7%) dan penghasilan > 2.000.000 sebanyak 11 responden
[image:42.595.114.525.320.655.2](25%).
Tabel 5.1
Distribusi dan Frekuensi berdasarkan data demografi ibu bersalin di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012(n= 44)
Data Demografi Frekuensi Persentase (%)
Usia
<20 tahun 20 – 35 tahun >35 tahun 3 36 5 6,8 81,8 11,4 Paritas 1 orang 2 orang > 2 orang
13 19 12 29,5 43,2 27,3 Pekerjaan IRT PNS Swasta Wiraswasta 18 9 9 8 40,9 20,5 20,5 18,2 Pendidikan SD SMP SMA PT 1 1 29 13 2,3 2,3 65,9 29,5 Penghasilan Tidak berpenghasilan < 1.000.000
b. Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sebelum Pemberian Vitamin A
Berdasarkan hasil jawaban dari responden diperoleh hasil tentang
pengeluaran ASI pada ibu post partum sebelum pemberian Vitamin A bahwa dari 44 orang Ibu post partum setelah melahirkan ibu makan secara teratur dan cukup mengandung gizi yang diperlukan untuk pengeluaran ASI yaitu sebanyak 30 orang (68,2%). Setelah diberikan vitamin A ibu merasa berat badan bayi bertambah dari berat baru lahir yaitu sebanyak 21 orang (47,7%). Sebagian besar ibu tidak
[image:43.595.121.528.432.772.2]menjadwalkan waktu menyusu setiap 3 atau 4 jam sekali yaitu sebanyak 23 orang (52,3%), ibu tidak melakukan perawatan payudara sendiri di rumah yaitu sebanyak 29 orang (65,9%), dan ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan untuk memperlancar produksi ASI yaitu sebanyak 23 orang (52,3%), dan ibu merasa hisapan pada bayi ibu kuat sewaktu menyusui yaitu sebanyak 11 orang (25%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2
Distribusi Jawaban Responden tentang Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sebelum diberikan Vitamin A
No
Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum
Jawaban
Ya Tidak F % F % 1 Apakah ibu menyusui bayi 8-15 x/hari? 14 31.8 30 68.2 2 Apakah ibu menyusui bayi 1-7 x/hari? 7 15.9 37 84.1 3 Apakah ibu makan secara teratur dan cukup mengandung
gizi yang diperlukan untuk pengeluaran ASI?
30 68.2 14 31.8
4 Apakah bayi ibu menyusui selama lebih dari 5-15 menit dalam sekali menyusui?
22 50.0 22 50.0
5 Apakah ibu menjadwalkan waktu menyusu setiap 3 atau 4 jam sekali?
21 47.7 23 52.3
6 Apakah ibu juga memberikan susu formula pada bayi ibu? 26 59.1 18 40.9 7 Apakah ibu istirahat > 3 jam dalam sehari? 32 72.7 12 27.3 8 Apakah ibu merasa berat badan bayi ibu naik dari berat
baru lahir?
23 52.3 21 47.7
9 Apakah ibu melakukan perawatan payudara sendiri dirumah?
15 34.1 29 65.9
10 Apakah ibu minum 8-12 gelas/hari? 24 54.5 20 45.5 11 Apakah bayi ibu akan melepas sendiri dari payudara ibu
setelah puas dan relaks menyusu?
19 43.2 25 56.8
12 Apakahibu mengetahui posisi menyusui yang benar? 15 34.1 29 65.9 13 Apakah bayi ibu buang air kecil lebih dari 6 kali sehari? 19 43.2 25 56.8 14 Apakah ibu mengkonsumsi obat-obatan untuk
memperlancar produksi ASI
8 18.2 36 81.8
15 Apakah ibu merasa nyaman dan tenang saat menyusui bayi ibu?
21 47.7 23 52.3
16 Apakah ibu merasa hisapan pada bayi ibu kuat sewaktu menyusui?
Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum
sebelum pemberian vitamin A diperoleh bahwa sebagian besar pengeluaran ASI pada
ibu post partum tidak lancar yaitu sebanyak 26 responden (59,1%), pengeluaran ASI
pada ibu post partum lancar yaitu sebanyak 18 responden (40,9%). Untuk lebih
[image:44.595.110.525.251.336.2]jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pengeluaran ASI sebelum Pemberian Vitamin A
No Pengeluaran ASI
Sebelum Pemberian Vitamin A Frekuensi Persentase
1 Pengeluaran ASI Lancar 18 40,9
2 Pengeluaran ASI tidak Lancar 26 59,1
Total 44 100
c.Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sesudah Pemberian Vitamin A
Berdasarkan hasil jawaban dari responden diperoleh hasil tentang
Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sesudah Pemberian Vitamin A bahwa dari 44
orang Ibu Post Partum sebagian besar setelah melahirkan ibu makan secara teratur
dan cukup mengandung gizi yang diperlukan untuk pengeluaran ASI yaitu sebanyak
39 orang (88.6%). Setelah diberikan vitamin A ibu merasa berat badan bayi naik dari
berat baru lahir yaitu sebanyak 39 orang (88,6%) dan ibu merasa hisapan pada bayi
ibu kuat sewaktu menyusui yaitu sebanyak 39 orang (88,6%). Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 5.4.
Distribusi Jawaban Responden tentang Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sesudah diberikan Vitamin A
No Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Jawaban
Ya Tidak
F % F %
1 Apakah ibu menyusui bayi 8-15 x/hari? 18 40.9 26 59.1 2 Apakah ibu menyusui bayi 1-7 x/hari? 8 18.2 36 81.8 3 Apakah ibu makan secara teratur dan cukup mengandung
gizi yang diperlukan untuk pengeluaran ASI?
39 88.6 5 11.4
4 Apakah bayi ibu menyusui selama lebih dari 5-15 menit dalam sekali menyusui?
31 70.5 13 29.5
5 Apakah ibu menjadwalkan waktu menyusu setiap 3 atau 4 jam sekali?
32 72.7 12 27.3
6 Apakah ibu juga memberikan susu formula pada bayi ibu? 37 84.1 7 15.9 7 Apakah ibu istirahat > 3 jam dalam sehari? 19 43.2 25 56.8 8 Apakah ibu merasa berat badan bayi ibu naik dari berat
baru lahir?
39 88.6 5 11.4
9 Apakah ibu melakukan perawatan payudara sendiri dirumah?
22 50.0 22 50.0
10 Apakah ibu minum 8-12 gelas/hari? 31 70.5 13 29.5 11 Apakah bayi ibu akan melepas sendiri dari payudara ibu
setelah puas dan relaks menyusu?
30 68.2 14 31.8
12 Apakahibu mengetahui posisi menyusui yang benar? 31 70.5 13 29.5 13 Apakah bayi ibu buang air kecil lebih dari 6 kali sehari? 39 88.6 5 11.4 14 Apakah ibu mengkonsumsi obat-obatan untuk
memperlancar produksi ASI
35 79.5 9 20.5
15 Apakah ibu merasa nyaman dan tenang saat menyusui bayi ibu?
24 54.5 20 45.5
16 Apakah ibu merasa hisapan pada bayi ibu kuat sewaktu menyusui?
39 88.6 5 11.4
Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum
sesudah pemberian Vitamin A diperoleh sebagian besar Pengeluaran ASI pada Ibu
Post Partum lancar yaitu sebanyak 26 responden (59,1%), pengeluaran ASI Ibu Post
Partum tidak terlalu lancar/sedikit yaitu 16 responden (36,4%) dan paling sedikit
sebanyak 2 responden (4,5%) pengeluaran ASI tidak lancar/tidak ada. Untuk lebih
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Pengeluaran ASI Sesudah Pemberian Vitamin A
No Pengeluaran ASI
Sesudah Pemberian Vitamin A Frekuensi Persentase
1 Pengeluaran ASI Lancar 32 72,7
2 Pengeluaran ASI tidak Lancar 12 27,3
Total 44 100.0
2. Analisis Bivariat
Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan uji
statistik uji McNemar Test yaitu menguji pengaruh pengeluaran ASI pada kelompok Ibu post partum sebelum pemberian Vitamin A dan sesudah pemberian Vitamin A.
a. Pengaruh Pengeluaran ASI Pada Ibu Post Partum Sebelum Pemberian Vitamin A
dan Sesudah Pemberian Vitamin A
Pada analisa bivariat, peneliti akan melihat Pengaruh Pemberian Vitamin A
dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012
dengan uji McNemar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5.6
Tabel silang Pengaruh Pemberian Vitamin A dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Klinik Cahaya Medan Tahun 2012“
No Sebelum
Sesudah
Jumlah
p value Lancar Tidak
lancar
f % F % F %
1 2 Lancar Tidak lancar 18 14 40,9 31,8 0 12 0 27,3 18 26 40,9
59,1 0,000
Total 32 72,7 12 27,3 44 100
Dari hasil Tabel Silang di atas diketahui bahwa terdapat 18 responden
(40,9%) dengan pengeluaran ASI lancar sebelum dan sesudah diberikan vitamin A.
A, dan setelah diberikan vitamin A terdapat 14 responden (31,8%) dengan
pengeluaran ASI lancar dan 12 responden (27,3%) dengan pengeluaran ASI tidak
lancar.
Dari hasil uji statistik dengan menggunakan uji McNemar, diperoleh hasil p
value 0,000 (p<0,05) yang berarti bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pemberian vitamin A dengan pengeluaran ASI pada ibu post partum di Klinik
Cahaya Medan Tahun 2012“
B. Pembahasan
1. Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sebelum Pemberian Vitamin A
Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum
sebelum pemberian Vitamin A diperoleh bahwa sebagian besar pengeluaran ASI
pada Ibu Post Partum tidak lancar yaitu sebanyak 26 responden (59,1%) dan yang
paling sedikit pengeluaran ASI pada Ibu post partum adalah lancar yaitu sebanyak 18
responden (40,9%). Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan ibu tentang pentingnya
vitamin A bagi ibu post partum. Ibu hanya mengetahui bahwa pemberian vitamin A
khusus untuk bayi dan anak. Dengan cakupan pemberian vitamin A menurun dan
target pemberian ASI eksklusif yang juga masih rendah sehingga pengeluaran Air
Susu Ibu post partum tidak lancar.
Berdasarkan umur ibu Post Partum sebagian besar berada pada rentang 20 –
35 tahun yaitu sebanyak 36 subjek (81,8 %) . Pada masa ini merupakan kurun waktu
reproduksi sehat dan aman untuk kehamilan dan persalinan. Umur lebih dari 35
tahun (11,4 %) dianggap berbahaya sebab alat reproduksi maupun fisik ibu sudah
menurun, sehingga dapat meningkatkan penyulit pada kehamilan, persalinan dan
nifas. Selain itu komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian
merupakan salah satu faktor risiko tinggi persalinan, oleh sebab itu pemberian dua
kapsul vitamin A kepada ibu nifas akan memberi manfaat untuk meningkatkan daya
tahan tubuh ibu nifas dan mempercepat pemulihan kesehatan ibu nifas.
Berdasarkan pendidikan ibu sebagian besar SMA yaitu sebanyak 29 orang
(65,9%), pendidikan yang dimiliki oleh ibu adalah pendidikan formal yang bersifat
umum dan tidak ada kaitannya dengan materi kapsul vitamin A untuk ibu post
partum, materi tentang kapsul vitamin A untuk ibu post partum lebih banyak didapat
dari penyuluhan dan pelatihan dalam bentuk pendidikan informal.
Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, umumnya
terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru yang berkaitan dengan kapsul vitamin
A untuk ibu post partum. Pendidikan juga akan membuat seseorang ingin tahu dan
mencari pengalaman sehingga informasi yang diterima akan menjadi pengetahuan,
sikap dan tindakan. Salah satu kemungkinan penyebab rendahnya pengetahuan
subjek tentang kapsul vitamin A untuk ibu post partum adalah kurangnya informasi
yang didapat oleh subjek tentang manfaat pemberian kapsul vitamin A, yang
menyebabkan rendahnya respon subjek tentang pentingnya kapsul vitamin A untuk
ibu post partum. Kurangnya pengetahuan subjek tentang vitamin A akan
mempengaruhi perilaku subjek untuk mengkonsumsinya.
Peranan petugas kesehatan sangat diperlukan dalam melakukan perubahan
penerapan gizi dan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, salah
satunya dalam pemberian kapsul vitamin A untuk ibu post partum dan pemberian
penyuluhan kepada ibu post partum tentang pentingnya kapsul vitamin A bagi ibu
post partum dan bayi yang disusuinya. Apabila peranan petugas kesehatan optimal
dalam pemberian kapsul vitamin A maupun dalam memberikan penyuluhan kepada
menunjang program kesehatan guna meningkatkan cakupan program pemberian
kapsul vitamin A untuk ibu post partum.
Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa pengeluaran ASI pada Ibu post
partum sebelum pemberian Vitamin A diperoleh sebagian besar pengeluaran ASI
pada Ibu Post Partum tidak terlalu lancar/sedikit yaitu sebanyak 23 responden
(52,3%). Hal ini juga dikarenakan kurangnya ibu melakukan perawatan payudara
sendiri di rumah yaitu sebanyak 29 orang (65,9%). Bagi seorang wanita, payudara
adalah organ tubuh yang sangat penting bagi keberlangsungan perkembangan bayi
yang baru dilahirkannya. Payudara memang secara natural akan mengeluarkan ASI
begitu ibu melahirkan. Tetapi bukan berarti seorang wanita atau ibu tidak perlu
merawat payudaranya.
Perawatan payudara setelah melahirkan bertujuan agar payudara senantiasa
bersih dan mudah dihisap oleh bayi. Banyak ibu yang mengeluh bayinya tidak mau
menyusu, bisa jadi ini disebabkan oleh faktor teknis seperti puting susu yang masuk
atau posisi yang salah. Selain faktor teknis ini tentunya air susu ibu juga dipengaruhi
oleh asupan nutrisi dan kondisi psikologis ibu.
Meski demikian, tidak semua ibu mau menyusui bayinya karena berbagai
alasan. Misalnya takut gemuk, sibuk,payudara kendor dan sebagainya. Di lain pihak,
ada juga ibu yang ingin menyusui bayinya tetapi mengalami kendala. Biasanya ASI
tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar.
Banyak hal yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Produksi dan
pengeluaran ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin.
Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi
proses pengeluaran ASI. Prolaktin berkaitan dengan nutrisi ibu, semakin asupan
Namun demikian, untuk mengeluarkan ASI diperlukan hormon oksitosin
yang kerjanya dipengaruhi oleh proses hisapan bayi. Semakin sering puting susu
dihisap oleh bayi maka semakin banyak pula pengeluaran ASI. Hormon oksitosin
sering disebut sebagai hormon kasih sayang. Sebab, kadarnya sangat dipengaruhi
oleh suasana hati, rasa bahagia, rasa dicintai, rasa aman, ketenangan, relaks.
2. Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Sesudah Pemberian Vitamin A
Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum
sesudah pemberian Vitamin A diperoleh sebagian besar pengeluaran ASI Lancar
sebanyak 32 responden (72,7%) dan yang paling sedikit pengeluaran ASI tidak
lancar sebanyak 12 responden (27,3%). Hasil ini menunjukkan bahwa vitamin A
berfungsi merangsang pertumbuhan epitel seluruh tubuh diantaranya epitel otak dan
payudara.
Pembentukan ASI dipengaruhi hormon prolaktin tetapi selama terbentuk
hormon estrogen maka pembentukan prolaktin terhambat. Dengan berhentinya
pengaruh estrogen setelah persalinan, produksi prolaktin meningkat dan mengaktifasi
kelenjar buah dada memproduksi ASI. Vitamin A mempunyai aktivitas mirip
hormon yaitu mengadakan interaksi dengan reseptor spesifik intraseluler pada
jaringan target yaitu merangsang pertumbuhan epitel-epitel otak dan seluruh tubuh
diantaranya adalah epitel otak dan payudara. Pada epitel otak vitamin A membantu
hipofise anterior untuk merangsang sekresi hormon prolaktin. Pada payudara vitamin
A bekerja mengaktifkan sel-sel epitel pada alveoli untuk menampung air susu
(Astawan, 2008).
Manfaat vitamin A bagi bayi adalah untuk pertumbuhan dimana dasar
hambatan pertumbuhan adalah akibat terjadinya hambatan dalam sintesa protein.
defisiensi vitamin ini terjadi hambatan sintesa protein yang akan menghambat
pertumbuhan sel (Sediaoetama, 2000). Pada pertumbuhan gigi ameloblast yang
membentuk email sangat dipengaruhi oleh vitamin A. Pada kondisi kekurangan
vitamin akan bentuk email gigi yang sensitive terhadap serangan karies gigi
(Sediaoetama, 2000)
3. Pengaruh Pemberian Vitamin A dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Post
Partum
Pengaruh pengeluaran ASI pada Ibu Post partum sebelum dan sesudah
pemberian vitamin A jelas tergambar dengan tingginya perbedaan pada ibu post
partum yang sebelum mengkonsumsi vitamin A pengeluaran ASI tidak lancar
sebesar 26 responden (59,1%) dan setelah ibu post partum mengkonsumsi vitamin A
pengeluaran ASI lancar sebesar 32 responden (72,7%).
Berdasarkan analisis data penelitian diketahui bahwa terdapat 18 responden
(40,9%) dengan pengeluaran ASI lancar sebelum dan sesudah diberikan vitamin A.
Dari 26 responden (59,1%) pengeluaran ASI tidak lancar sebelum diberikan vitamin
A, dan setelah diberikan vitamin A terdapat 14 responden (31,8%) dengan
pengeluaran ASI lancar dan 12 responden (27,3%) dengan pengeluaran ASI tidak
lancar.
Dari hasil uji statistik dengan menggunakan uji McNe