Bagaimana ISIS Masuk Indonesia?
TEMPO.CO, Jakarta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyatakan sejak awal sudah mendeteksi masuknya paham Negara Islam Irak dan Suriah atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ke Indonesia. Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayor Jenderal Agus Surya Bhakti mengatakan paham ISIS sudah masuk ke Indonesia sebelum gerakan tersebut dideklarasikan di Timur Tengah. (Baca: BNPT Sebut ISIS Termasuk Kelompok Teroris)
"Kami sudah memantau bagaimana paham itu masuk Indonesia," kata Agus Surya Bhakti saat dihubungi Tempo, Ahad, 3 Agustus 2014. (Baca: Ini Alasan Kominfo Belum Blokir Video ISIS) Menurut Agus, paham tersebut masuk ke Indonesia lebih banyak melalui jaringan Internet. Masyarakat Indonesia, dia melanjutkan, dengan mudah mengakses informasi seperti berita, artikel, hingga video tentang paham ISIS melalui dunia maya. "Bahkan ada yang berkomunikasi dengan anggota ISIS di Timur Tengah," kata Agus. (Baca: Ini Reaksi Amir Syamsuddin Soal Blokir Video ISIS)
Pengamat terorisme Al Chaidar menyatakan ada anggota ISIS yang sudah kembali ke Indonesia dan mempengaruhi banyak orang untuk bergabung. Al Chaidar mengaku mengetahui informasi bahwa anggota ISIS telah berhasil membaiat sekitar 2 juta orang di Indonesia. Menurut dia, kabar itu diperolehnya dari bekas anggota ISIS yang pulang ke Tanah Air.
Pada 2013 diduga ada 56 orang Indonesia dari berbagai macam organisasi Islam dan kelompok pedagang berangkat ke Irak untuk bergabung dengan ISIS. Mereka bergabung saat pergi ke Arab Saudi untuk ibadah haji atau umrah. Dari jumlah tersebut, sekitar 16 orang telah kembali ke Tanah Air dan melanjutkan proses perekrutan di daerah masing-masing. (Baca: Perekrutan ISIS Sasar Kawasan Majemuk)
Apa Itu ISIS?
Posted on
3 July, 2014
in
Artikel
Jika para pengunjung sering mengikuti berita-berita internasional, maka para pengunjung pastinya tahu kalau Suriah saat ini sedang dilanda perang saudara. Awalnya perang tersebut hanya membenturkan kubu pendukung pemerintah Suriah dengan kubu anti pemerintah Suriah yang didominasi oleh Free Syrian Army (FSA; Tentara Pembebasan Suriah). Belakangan, muncul nama ISIS sebagai peserta baru dalam konflik di Suriah. Siapa itu ISIS & apa kepentingan mereka di Suriah serta Timur Tengah?
ISIS atau lengkapnya Islamic State of Iraq & Al-Sham (Negara Islam Irak & Syam; Ad-Dawlat Al-Islamiyya Fil-Iraq Wash-Sham) adalah sebutan dari media-media berbahasa Inggris untuk kelompok Islamis bersenjata yang aktif di wilayah Irak & Suriah. Nama “Al-Sham” / “Syam” pada kelompok ini diambil dari nama versi Arab untuk kawasan di sebelah timur Laut Mediterania. Selain dengan nama ISIS, kelompok yang sama juga dikenal dengan akronim ISIL / Islamic State of Iraq & Levant (Negara Islam Irak & Levant) di mana nama “Levant” merupakan sebutan orang-orang Eropa untuk kawasan Syam.
Wilayah kekuasaan ISIS (merah) hingga
minggu ke-2 bulan Juni 2014.
(Sumber)
ISIS juga bisa dideskripsikan sebagai negara tanpa pengakuan internasional karena para personil ISIS memang bercita-cita menjadikan wilayah taklukannya sebagai negara berbasis hukum Islam. Hingga bulan Juni 2014 ini, ISIS dilaporkan sudah menguasai kawasan Suriah timur laut & Irak utara. Menariknya, walaupun ISIS mengusung Islam sebagai ideologi perjuangannya, kelompok tersebut tidak benar-benar akur dengan kelompok Islamis lainnya. Sebagai contoh, ISIS yang keanggotaannya didominasi oleh Muslim Sunni kerap melakukan penyerangan kepada orang-orang Muslim Syiah. Lalu sejak permulaan tahun 2014, ISIS juga mulai terlibat konflik dengan kelompok pemberontak Jabhat Al-Nusra di Suriah. LAHIR DARI API PEPERANGAN
Irak adalah negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam sekte Syiah. Namun sejak Irak memperoleh kemerdekaannya dari tangan Inggris, pucuk pemerintahan negara berjuluk “Negeri Seribu Satu Malam” tersebut selalu dipegang oleh orang-orang Sunni, tak terkecuali di era diktator Saddam Hussein. Supaya bisa mendapatkan dukungan dari rakyatnya sendiri, Saddam tidak menggunakan isu sektarian sebagai ideologinya, tetapi menggunakan ide nasionalisme & persatuan Bangsa Arab (pan-Arabisme). Bukan hanya itu, Saddam juga menerapkan gaya pemerintahan tangan besi untuk membungkam pihak-pihak yang tidak sejalan & menjaga stabilitas dalam negeri.
kondisi dalam negeri akibat perang lantas mendorong timbulnya kelompok-kelompok bersenjata di seantero Irak. Banyak dari kelompok tersebut yang memanfaatkan sentimen kesukuan & sektarian agama supaya bisa mendapatkan dukungan & simpatisan.
Peta Irak berdasarkan populasi
masing-masing etnis & sekte.
(Sumber)
Salah satu orang yang memanfaatkan situasi Irak yang kacau & terbelah oleh sentimen sektarian adalah Abu Musab Al-Zarqawi, seorang panglima kelahiran Yordania yang berasal dari sekte Sunni & menganut aliran Salafiyah. Di tahun 90-an, Zarqawi sempat mendirikan kamp militer di Afganistan untuk
mengumpulkan pengikut supaya nantinya ia bisa mengerahkan mereka untuk menggulingkan Kerajaan Yordania yang ia anggap tidak cukup agamis. Namun menyusul invasi pasukan koalisi ke Irak, Zarqawi lalu mengubah rencananya. Ia membawa para simpatisannya ke Irak untuk memerangi pasukan koalisi.
Kelompok milisi pimpinan Zarqawi nantinya dikenal dengan nama Jama’at Al-Tawhid Wal-Jihad (JTJ; Jamaah Keesaan & Jihad). Selain bertempur melawan pasukan koalisi, JTJ juga menargetkan komunitas Syiah, pekerja kemanusiaan asing, & anggota pemerintahan transisi Irak. Seiring berjalannya waktu, JTJ menjadi terkenal karena seringnya kelompok tersebut menggunakan taktik bom bunuh diri menggunakan mobil. Bukan hanya itu, JTJ juga kerap melakukan penyembelihan kepada personil lawannya, lalu merekam peristiwa penyembelihan tersebut sebelum kemudian mengunggah video rekamannya ke internet. Selebihnya, para personil JTJ juga dikenal lihai dalam melakukan serangan sembunyi-sembunyi memakai senjata api, senapan pelontar RPG, & ranjau rakitan.
BERGANTI WAJAH MENJADI AL-QAEDA IRAK
Bendera ISI.
(Sumber)
Tak lama usai naiknya Abu Omar, AQI menggabungkan diri dengan sejumlah milisi Irak lainnya untuk membentuk kelompok baru yang bernama “Ad-Dawlat Al-Islamiyya Fil-Iraq” / “Islamic State of Iraq” (ISI; Negara Islam Irak). Pembentukan ISI dimaksudkan sebagai upaya untuk mendirikan negara Islam di Irak sekaligus menandingi pemerintahan berdaulat Irak yang bermarkas di Baghdad & kini dipimpin oleh figur Syiah. Seperti yang sudah diduga, ISI tidak mendapat pengakuan diplomatik dari negara berdaulat manapun. Namun hal tersebut toh tetap tidak membuat ISI patah arang. Tahun 2007, ISI bahkan merilis daftar kabinet pemerintahan versi mereka yang beranggotakan 10 orang menteri.
Di bidang militer, ISI masih menggunakan taktik yang dulu kerap digunakan oleh AQI, salah satunya taktik meledakkan bom di kawasan padat penduduk. Taktik yang lantas membuat ISI dimusuhi oleh orang-orang Irak sendiri, tak terkecuali oleh mereka yang berasal dari komunitas Sunni. Buntutnya, sejak awal tahun 2007, ISI pun mulai terlibat konflik dengan milisi-milisi Sunni yang tidak sejalan dengan mereka. Sudah jatuh tertimpa tangga, pada tahun 2010 ISI juga harus kehilangan pemimpinnya (Abu Omar Al-Baghdadi) akibat serangan gabungan yang dilakukan oleh pasukan AS & Irak.
Seperti kasus kematian Zarqawi, kematian Abu Omar juga gagal menghentikan aktivitas ISI karena kelompok tersebut langsung mengangkat Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai pemimpin baru mereka. Namun kombinasi dari tewasnya Abu Omar & konflik berkepanjangan dengan lawan-lawannya nampaknya mulai menguras tenaga ISI. Dasarnya adalah karena sesudah tahun 2010, jumlah aksi kekerasan bersenjata yang dilakukan oleh ISI mengalami penurunan signifikan.
BANGKIT SEBAGAI ISIS / ISIL
Tahun 2011, AS selaku penyumbang utama personil pasukan koalisi menarik mundur seluruh pasukannya. Mundurnya AS dari Irak lantas berbuntut pada melonggarnya kembali keamanan dalam negeri Irak. Situasi tersebut tidak disia-siakan oleh ISI yang mencoba membangun kembali kekuatannya. Tahun 2012, jumlah aksi kekerasan bersenjata yang dilakukan oleh ISI kembali meroket. Seolah merasa belum puas dengan hanya bercokol di Irak, ISI mulai memperlebar jangkauannya ke Suriah. Negara tetangga Irak di sebelah barat laut yang sudah dilanda perang saudara sejak tahun 2011.
Masuknya ISI ke Suriah ditandai dengan keluarnya pernyataan dari Abu Bakar pada bulan April 2013 kalau ISI melebur dengan Jabhat Al-Nusra – kelompok pemberontak Suriah yang berideologi Islam & banyak beranggotakan veteran konflik Irak – untuk membentuk kelompok baru yang bernama “Islamic State of Iraq & Al-Sham” (ISIS). Namun kontroversi timbul karena tidak lama sesudah keluarnya pernyataan dari Abu Bakar, muncul pernyataan balasan dari pemimpin Al-Nusra kalau kelompoknya tidak bersedia melebur ke dalam ISIS. Masih di tahun yang sama, ISIS juga terlibat konflik dengan militer Suriah & FSA karena memperebutkan wilayah Suriah timur.
Tahun berganti, perbedaan pendapat antara ISIS & Al-Nusra akhirnya memuncak menjadi konflik terbuka. Peristiwa yang lantas memaksa Al-Qaeda untuk memutus hubungannya dengan ISIS. Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada bulan Juni 2014, ISIS membuat semua orang terhenyak ketika pasukan mereka yang hanya beranggotakan ratusan orang berhasil merebut Mosul, Irak utara, yang dijaga oleh puluhan ribu tentara Irak yang bersenjata lengkap. Dengan masih kacaunya situasi di Suriah & Irak, patut ditunggu apakah “negara” berbendera hitam ini bisa mempertahankan keberadaan mereka dalam jangka waktu lama, atau justru malah musnah akibat dikeroyok musuh-musuhnya.
thanks to republik-tawon.blogspot.com buat share infonya
Bahaya Gerakan Radikal ISIS, Sejarah
dan Perkembangannya
Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang mulai menanamkan pengaruh di
sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari adanya deklarasi
pendirian ISIS Indonesia di Solo, Bima dan sejumlah wilayah lainnya
beberapa waktu yang lalu.
Dan kini secara resmi pemerintah indonesia melarang perkembangan ISIS
di Indonesia hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik
Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto menyampaikan
penegasan sikap pemerintah itu dalam jumpa pers usai Sidang Kabinet
Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (4/8/2014).
“ISIS bukan masalah agama. Ini adalah masalah ideologi yang kalau kita
kaitkan dengan negara kita, maka ini tidak sama, dan bertentangan dengan
ideologi Pancasila kita, keberadaan negara kesatuan kita dan kebhinekaan
kita,” kata Djoko Suyanto.
Memang tak bisa dipungkiri ISIS merupakan gerakan yang bisa
mengancam pemerintahan dan keamanan dalam Negeri Indonesia hal ini
bisa dilihat dimana ISIS berusaha menciptakan suatu sistem pemerintahan
yang berdasarkan pada terbentuknya Khilafah dan negara Islam dan tentu
hal ini sangat tidak mungkin bisa diterapkan di Indonesia.
Ada beberapa hal yang membuat gerakan ISIS tidak boleh dibiarkan
bertumbuh kembang di Indonesia yaitu;
Pertama Idiologi ISIS sangat bertentangan dengan Pancasila yang
merupakan dasar dan falsafah hidup bangsa Indonesia
Kedua ,ISIS bertentangan dengan UUD 1945
Ketiga, ISIS sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika.
Karna itu ISIS sudah sangat tepat perkembangannya di Indonesia harus dilarang.
ISIS merupakan kelompok jaringan radikal yang bisa mengancam kedaulatan NKRI
ke depan.
Pertama, Jumlah Muslim di Indonesia sangat mayoritas hal ini menyebabkan
Indonesia menjadi target untuk mengembangkan jaringan ISIS di Indonesia.
Kedua ,di Indonesia banyak muncul gerakan-gerakan radikal hal ini bisa dilihat dari
beberapa kasus-kasus kerusuhan yang kadang terjadi bermotifkan SARA.
MEMAHAMI ISIS DI INDONESIA
Beberapa bulan terakhir ini yang termegah belasan, dunia internasional
dikejutkan dengan kemunculan gerakan terorisme baru yang dikenal
dengan istilah ISIS (Islamic State of Iraq and Sham/Syria), yang berarti
Negara Islam Irak Syria. Wujud organisasi tersebut di Timur Tengah, telah
merambat ke Asia Tenggara. Bahkan disinyalir ISIS sudah memiliki
anggotanya di Aceh. Berbagai spekulasi dan analisa pun bermunculan
untuk mengatakan bahwa ada jaringan ISIS di negara ini. Artikel ini
berusaha untuk memberikan “sisi lain” dari cara pandang mengenai
keberadaan jaringan ISIS di Indonesia dan Aceh. Pertama, untuk
membedah jaringan terorisme yang tersebar di media massa, baik online
maupun cetak, harus dilihat dari segi konteks. Perihal ISIS yang tersebar
secara massif dibuktikan dengan aktivitas mereka di Timur Tengah
dilakukan persis setelah Arab dan keberhasilan dan kegagalan beberapa
gerakan militer ketika menggulingkan rezim pemerintahan di kawasan
tersebut. Sebelum itu, dalam list jaringan terorisme internasional, ISIS
belumlah dikenal, baik dari sisi personal maupun ideologi.
Disaat huruhara di Timur Tengah, organisasi non-pemerintah yang sering
ditampilkan adalah Hizbullah, Hamas, Al-Qaeda, dan Taliban. Merekalah
yang menjadi media darling di level internasional. Tidak ada satu pun di
antara jaringan tersebut yang memiliki dampak di Indonesia, kecuali
al-Qaeda yang dihubungkan dengan Jamaah Islamiyah atau Jama‘at Asharut
Tauhid. Ketika persoalan ini mencuat, titik penghabisan analisanya adalah
pada sosok Abu Bakar Ba’asyir dan beberapa pentolan jaringan terorisme,
baik yang masih berada di penjara maupun diluar penjara. Kedua, jika
dibedah melalui pendekatan ideologi, persoalan khilafah dan negara Islam
merupakan dua hal yang lazim diperjuangkan oleh gerakan Islam, baik
yang bersifat ultra-radicalism atau non-ultra-radicalism. Di Asia Tenggara,
satu gerakan yang memperjuangkan khilafah adalah Hizbut Tahrir, dimana
setiap Jumat ditemukan bulletin mereka di masjid-masjid, serta bandera
gerakan ini selalu berkibar di beberapa penjuru tanah air. Namun, gerakan
ini masih mendapat tempat di pentas global, tidak terkecuali di
negara-negara Barat.
Adapun gerakan-gerakan ISIS yang bersifat spiritualis-cum-
non-radikalisme yang memperjuangkan khilafah dan tidak pernah
Seorang anggota Jama‘ah Tabligh di Kuala Lumpur mengatakan bahwa
tidak perlu mengklaim kita mendirikan Khilafah kepada dunia, karena
khilafah akan berdiri sendiri jika ummat Islam mendirikan shalat berjamaah
di masjid-masjid. Intinya, ketika masjid sudah makmur oleh para jamaah, di
situlah khilafah terbangun kembali seperti zaman Rasululllah saw, yang
menjadikan masjid sebagai pusat pemerintahan beliau. Sementara itu,
gerakan khilafah yang bersifat village-based adalah Darul Arqam yang
sudah berubah menjadi global ikhwan.
Gerakan ini telah berhasil membangun “sistem khilafah” tersendiri yang
memiliki jaringan di seluruh dunia. Sebuah ibadah yang dipadukan dengan
dakwah dan bisnis, telah memperlihatkan kekuatan organisasi ini untuk
bertahan dari setiap kepungan pemerintah di Malaysia. Al-hasil, gerakan ini
sendiri sebenarnya merupakan satu gerakan yang tidak pernah mengklaim
khilafah atau Negara Islam sebagai utamanya. Sayangnya, kedua gerakan
di atas tidak pernah sama sekali memanggul senjata, seperti ISIS,
walaupun arah adalah pendirian khilafah dan Negara Islam. Persoalan
khilafah atau Negara Islam yang diusung oleh ISIS seperti sebuah mainan
baru, ketika tidak ditemukan lagi alasan ideologis dari Islam yang dapat
menggerakkan kekerasan dari kalangan Islam yang dijadikan sebagai
legitimasi, untuk menyebutkan bahwa Islam dan Muslim berbahaya. Para
analisismasa depan menyebutkan bahwa Islam masih dipandang sebagai
ancaman serius untuk menerapkan konsep-konsep baru seperti one world,
global mind, dan planetary civilization. Sebuah inti dari konsep-konsep
tersebut adalah bahwa kendali dunia harus dimulai dari kesadaran baru
yang dikelola oleh Barat melalui model “khilafah Amerika”.
Sejalan dengan itu, tidak mengejutkan ketika ada pendapat yang
menyebutkan bahwa ISIS merupakan hasil “binaan” Amerika Serikat dan
sekutunya. Dalam paradigma devil orchestra pada tahun 2005, pola
kemunculan ISIS hampir sama dengan pola kemunculan gerakan-gerakan
radikalisme/terorisme di Timur Tengah era Perang Dingin. Dalam
acuan utama untuk menggiring opini publik pada jaringan gerakan yang
sudah dikenal secara meluas.
Sejauh ini, sebuah pemahaman ini sudah begitu mencuat dalam terorisme
dan radikalisme. Para peneliti akan diturunkan untuk membuktikan
hipotesa sambil dicocokkan dengan data intelijen. Walaupun terkadang
hasil penelitian menunjukkan sebaliknya. Namun karena proses
pengondisian opini publik terlanjur dipublikasikan secara massif, hasil
penelitian kerap tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pengaruh
opini tersebut. Dalam konteks ini, sejak tahun 2013, istilah ISIS sudah
begitu membumi secara meluas. Kata al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah
mulai diganti oleh ISIS dalam pencarian. Pola ini juga hampir mirip dengan
pola pada tahun 1979 (Khomeini dan fundamentalisme), pada 1991 Perang
Teluk dan Irak, pada tahun2001 al-Qaeda dan Osama bin Laden, pada
tahun 2011 Muammar Qadhafi dan Arab Spring. Akhirnya, artikel ini hanya
sebagai bahan diskusi ketika melihat Indonesia sudah dilanda ISIS secara
nasional. Ada kata nasihat orang bijak berkatadi dalam menanggapi
fenomena ini yaitu: hewan akan mengejar makanan dilempar di depannya,
tanpa perlu menoleh pada si pelempar. Adapun manusia akan melihat
siapa yang memberikan makanan dan motif pemberian makanan yang
diberikan kepadanya, apalagi kalau gratis. Tentu saja ISIS merupakan
hidangan baru di pentas meluas yang dimasak dengan bumbu yang sama
oleh tukang masak yang sama pula, yang sudah berpengalaman selama
puluhan tahun.
Banda Aceh, 13 Agustus 2014
MENANGKAL PENGARUH ISIS
Seluruh lini di republik ini mulai dari pemerintah, dewan perwakilan rakyat hingga perguruan tinggi, organisasi-organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, agaknya sepakat tidak menerima masuknya ajaran radikalisme yang disebarkan oleh kelompok yang menamakan dirinya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ini karena ISIS dan konsep ke-khilafahannya bertentangan dengan ajaran Islam yang digariskan di dalam Al-Qur’an dan Hadis Nab Muhammad SAW.
Permintaan Abu Bakar Al Baghdadi yang mengangkat dirinya sebagai Khalifah dengan menjadikan sejumlah wilayah Irak dan Suriah yang dikuasainya sebagai negara Islam, dan perintah pertamanya agar semua Muslim di dunia mematuhinya, tak pelak menuai berbagai reaksi dari para tokoh Islam di berbagai negara.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengimbau masyarakat Indonesia agar tidak terpengaruh untuk bergabung dengan organisasi ISIS dan mengingatkan bahwa tidak semua persoalan yang terjadi di Timur Tengah adalah murni persoalan agama.
”Kita paham mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. Jadi banyak kepedulian dari masyarakat kita untuk Timur Tengah. Tapi tidak semua persoalan yang terjadi di Timur Tengah itu persoalan agama. Keliru kalau menyimpulkan bahwa Islam lawan non Islam dan Islam melawan Barat,” katanya.
Pernyataan SBY tersebut diperkuat Menkopolhukam Djoko Suyanto yang menyebutkan bahwa sejak awal pemerintah telah memantau dan mengawasi berbagai pergerakan suatu kelompok agama yang dinilai radikal, seperti ISIS. Menyikapi keberadaan ISIS dan potensinya di tanah air, pemerintah akan melakukan sejumlah langkah, diantara penegasan bahwa gerakan tersebut bukanlah masalah agama.
”Jadi ini adalah masalah ideologi. Untuk itu pemerintah dan negara menolak dan tidak mengijinkan paham ISIS berkembang di Indonesia, karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, NKRI dan Kebhinekaan kita,” ujar Djoko.
Kementrian Agama bersama dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat, juga akan melakukan upaya penyadaran publik terhadap pengaruh negatif ISIS tersebut. Sementara Kementrian
Komunikasi dan Informasi memblokir upaya-upaya penyebaran gerakan ISIS melalui segala bentuk media sosial, termasuk situs youtube.com.
”Kemenlu menjadi leading sector bersama dengan Polri, BNPT sebagai clearing house bagi WNI yang akan bepergian ke daerah Timur Tengah dan Asia Selatan. Sedangkan Kemenkum dan HAM akan melakukan operasi keimigrasian bagi warga negara yang tidak jelas keimigrasiannya,” kata Menkopolhukam.
Untuk mencegah WNI yang berniat bergabung dengan ISIS, Menlu Marty Natalegawa bekerjasama dengan dengan pemerintah sejumlah negara-negara di Timur Tengah dan Asia Selatan akan memperketat proses aplikasi visa. Terutama, jika tidak ada tujuan jelas terkait kunjungan ke sebuah negara.
”Jadi ada upaya baik bersifat intern, diantara kita maupun yang sifatnya dengan negara-negara sahabat. Tapi ada kendala, di kawasan kan ada yang menerapkan Visa on Arrival, Karen itu kami akan berbagi informasi dengan negara-negara tersebut,” ujarnya.
Sikap resmi organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia tentang ajaran ISIS disampaikan oleh Sekjen PP Muhammadiyah, Dr. Abdul Mu’thi yang menyatakan menolak dan tak akan mengikuti ajakan Abu Bakar Al-Baghdadi.
konflik yg meluas. Di tengah realitas politik umat Islam dan negara-negara Muslim, yang diperlukan adalah kerjasama antar bangsa dan antar negara, bukan hegemoni dan utopia politik ala ISIS. Khatib Aam PBNU, KH. Malik Madani juga menyatakan penolakannya atas didirikannya kekhalifahan oleh ISIS secara sepihak itu. “NU menolak mematuhi seruan Abu Bakar Al-Baghdadi. Pegangan NU dalam menanggapi konflik antar sesama Muslim adalah mengupayakan ishlah, sesuai dengan perintah Allah SWT.”
NU tidak mencita-citakan sebuah khilafah dan menganggap ide itu sebagai sebuah utopia, setelah umat Islam tersebar di berbagai penjuru dunia di bawah naungan negara-negara bangsa,” ujar Malik. Cara-cara bendung ISIS
Untuk mengantisipasi masuknya ISIS ke dalam negeri, pemerintah bersama dengan jajaran Badan Intelejen Negara (BIN), Polri, Menteri Dalam Negeri dan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) sudah menyiapkan langkah-langkah strategis.
Pertama, mencegah berdirinya perwakilan-perwakilan, pengembangan paham-paham IS (Islamic State) dan ISIS di Indonesia. Pemerintah, kata Menkopolhukam Djoko Suyanto, meminta semua pihak, aparat pemerintah maupun lembaga negara, serta seluruh komponen masyarakat agama, untuk turut mencegah masuknya paham ISIS. “Setiap upaya pengembangbiakan paham ISIS dan IS ini harus dicegah. Indonesia tidak boleh menjadi tempat persemaian paham ISIS ataupun IS. Kita harus menghormati negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara yang menganut asas Kebhinekaan dari suku, agama, ras dan golongan. Bukan negara Islam,” ujarnya.
Kedua, memerintahkan Kementerian Agama bekerjasama dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh-tokoh ulama, untuk melakukan upaya-upaya pencerahan dan penyadaran publik terhadap pengaruh-pengaruh negatif keberadaan paham ISIS maupun IS.
Menurut dia, Menteri Agama segera melakukan pertemuan sosialisasi dan pencerahan dengan seluruh tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang ada.
Ketiga, kata Djoko, Presiden SBY menginstruksikan kepada Kementerian Kominfo untuk melakukan blokade terhadap upaya-upaya penyebaran paham ISIS maupun IS melalui media sosial, atau yang lebih tajam yang selalu disiarkan melalui Youtube.
Keempat, kepada Kementerian Luar Negeri, Presiden SBY meminta bekerjasama dengan
Kementerian Hukum dan HAM, POLRI, BIN, dan BNPT untuk melakukan clearing house bagi Warga Negara Indonesia yang akan berpergian khususnya ke Timur Tengah, ke daerah konfik maupun ke Asia Selatan.
Sementara itu Ketua Komisi VIII DPR RI, Ida meminta pemerintah bersikap proaktif dalam
membendung gerakan ISIS agar pengaruhnya tidak menyebar di Indonesia. Setidaknya menurut dia ada tiga hal yang bisa dilakukan pemerintah.
Pertama, pemerintah harus memberi penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI.
Kedua, pemerintah harus menggandeng para tokoh, baik dari kalangan keagamaan, masyarakat dan adat untuk berdialog sekaligus penggalangan kerjasama guna mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat.
Ketiga, memanfaatkan lembaga-lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS. “Langkah-langkah tersebut, tentu saja jangan sampai menimbulkan suasana yang mencekam dan justru menjadi alat untuk menakuti-nakuti masyarakat,” katanya.
“Kalau pun benar-benar ada, kata politisi PKS itu, ISIS tidak akan berkembang di Jabar. Tapi ya mudah-mudahan tidak ada orang di Jabar yang sepaham dengan ISIS,” kata Aher.
Salah satu kampus yang mengawasi ketat penyebaran ISIS adalah IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten. Di sini pihak kampus membentuk Tim Pembina Mahasiswa yang diketuai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Tim ini akan memantau kegiatan-kegiatan mahasiswa di lingkungan kampus.
Pengawasan ketat ini dilakukan guna memastikan tidak ada keterlibatan mahasiswanya di dalam aliran yang menyimpang, seperti paham ISIS.
Pemerintah Kota Bogor juga menurut Wali Kota Bima Arya melakukan antisipasi untuk mewaspadai penyebaran gerakan radikal tersebut. Dia berkoordinasi dan menginstruksikan kepada aparat di tingkat wilayah, mulai dari RT/RW, kelurahan, hingga kecamatan untuk melakukan pemetaan. “Pemetaan ini adalah bentuk identifikasi terhadap arus urbanisasi pasca-Lebaran. Jadi pendatang benar-benar dipantau pergerakannya dan mencari tahu apa tujuan mereka datang ke Kota Bogor. Ini sebagai pendeteksi dini bila ada gerakan penyebaran ideologi radikal ISIS di sini,” katanya.
Seperti kata Menang, Lukman Hakim Saifudin, ISIS melenceng jauh dari paham keagamaan yang dianut kebanyakan umat Islam. “ISIS ini bukan hanya ancaman terbuka, tapi juga merongrong sendi-sendi negara kita. Karenanya jangan sampai penyebaran ISIS meluas di Indonesia.” (T/IK/E01)