• Tidak ada hasil yang ditemukan

GROUP COMMUNICATION WITHIN THE ART CLUB ANGKONAN KENALI DUA OF SURABAYA IN THE CONSERVATION OF SEGATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "GROUP COMMUNICATION WITHIN THE ART CLUB ANGKONAN KENALI DUA OF SURABAYA IN THE CONSERVATION OF SEGATA"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

GROUP COMMUNICATION WITHIN THE ART CLUB ANGKONAN KENALI DUA OF SURABAYA IN THE CONSERVATION OF SEGATA

By Deny Wijaya K

Diversity of art and culture is one of Indonesian character that differentiate among other countries. This diversity all at once as a rich of nation that unvalues. To conserved and heritanced to next generation. It is really values and education that can get pint from each art and traditional cultures be references in national and country life one of it is traditional art came from Lampung province, that is Segata.

Segata is one of oral art in form of traditional poetry consist of nature and social life and in this Segata each verse of whch consist of fourteens wich each verse end bt a-b-a-b. Commonly this Segata used in traditional ceremony or other cultures procession and also in the celebration lie as nyambay, miyah, kedayek. Besides that usually Segata performed by teenager with accompaniment by traditional music such asgong, bamboo instrumentetc.

(2)

Based on the objectives of the research above, the writer canconclused that function and roles of the group communication within the art club Angkonan Kenali dua of Surabaya in the conservation ofSegatais to involves social interacs between members and group, education function, persuasion ability, problem solving function and teraphy function.

(3)

KENALI DUA SURABAYA (ANGKASA) DALAM MELESTARIKAN KESENIAN SEGATA

OLEH DENY WIJAYA. K

Keragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai, untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya seperti kesenian tradisional yang berasal dari propinsi lampung, yaitu kesenian segata.

kesenian segata merupakan suatu kesenian lisan yang berbentuk pantun yang bertemakan alam dan kehidupan sosial, dimana segata ini terdiri dari empat baris dengan bersajak a-b-a-b. Dan segata ini umumnya digunakan pada upacara atau prosesi adat dan acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek. Selain itu juga segata biasanya dipentaskan oleh muda-mudi dengan iringan musik tradisional seperti gong, gamelan bambu, dan lain-lain.

(4)

pengolahan data yang digunakan adalah, wawancara, kepustakaan, observasi dan dokumentasi.

Berdasarkan pada tujuan penelitian maka penulis mengambil kesimpulan bahwa peran dan fungsi komunikasi kelompok anggota sanggar seni angkonan kenali dua surabaya (ANGKASA) dalam melestarikan kesenian segataadalah agar menjalin hubungan social antar anggota dan kelompok, fungsi pendidikan atau adukasi, kemampuan persuasi, fugsi pemecahan masalah (problem solving) dan fungsi terapi.

(5)

DALAM MELESTARIKAN KESENIAN

SEGATA

(Studi Pada Anggota Sanggar Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) di Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat)

(Skripsi)

Oleh

DENY WIJAYA K

0746031017

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

(6)

Halaman

2.2 Pengertian Komunikasi Kelompok ... 15

2.2.1 Teori Komunikasi Kelompok ... 17

2.2.2 Klasifikasi Kelompok dan Karekteristi komunikasinya 18 2.2.3 Fungsi Komunikasi Kelompok ... 19

2.2.4 Metode Pengambilan Keputusan Komunikasi Kelompok 21 2.3 Kakuppulan Sebagai Bentuk Komunikasi Kelompok ... 22

2.4 Pengertian Sanggar... 23

2.4.1 Pengertian Sanggar Seni ... 24

2.4.2 Konsep Sanggar Seni Angkasa ... 25

2.4.3 Sanggar Seni Angkasa Sebagai Kelompok Sosial ... 25

2.4.4 Sanggar Angkasa Sebagai forum Komunikasi Kelompok 26 2.5 Pengertian Sagata ... 27

2.5.1 Pembagian Segata menurut jenisnya... 28

2.5.2 Syarat-Syarat Segata ... 31

2.5.3 Konsep Usaha Melestarikan Kesenian Segata ... 31

(7)

3.2 Fokus Penelitian ... 37

3.3 Objek Penelitian ... 37

3.4 Informan ... 37

3.5 Jenis Data ... 39

3.6 Teknik Pengolahan Data ... 39

3.7 Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 41

4.1.1 Data Monografi ... 41

4.1.2 Luas Wilayah dan Batas Wilayah ... 41

4.1.3 Orbitasi ... 42

4.1.4 Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 42

4.1.5 Keadaan Penduduk Menurut Agama ... 42

4.1.6 Keadaan Penduduk Menurut Kelompok Usia ... 43

4.1.7 Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ... 43

4.2 Gambaran Umum Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (Angkasa) Kecamatan Belalau Lampung Barat ... 44

4.2.1 Sejarah Berdirinya Sanggar Angkasa ... 44

4.2.2 Tujuan Sanggar Angkasa ... 45

4.2.3 Struktur Organisasi Sanggar Angkasa ... 45

4.2.4 Kegiatan Sanggar Angkasa ... 47

4.3 Kegiatan Komunikasi kelompok Sanggar Angkasa dalam Melestarikan kesenianSegata ... 48

4.3.1 Kegiatan Komunikasi Kelompok Dalam bentuk Rapat Rutin dalam Melestarikan KesenianSegata ... 49

(8)

5.2 Peran dan Fungsi Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar

Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (Angkasa) ... 52

5.3 Rangkuman Hasil Penelitian... 74

5.4 Pembahasan Hasil Penelitian... 77

5.5 Pembahasan Kegunaan Hasil Penelitian Secara Praktis... 87

5.6 Pembahasan Kegunaan Hasil Penelitian Secara Teoritis... 88

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 90

6.2 Saran ... 92

(9)

Tabel Halaman

Tabel 1. Persepsi Informan Mengenai Pengertian Kesenian segata ... 53 Tabel 2. Persepsi Informan Mengenai Kapan Biasanya Kesenian

Segata Dipentaskan... 54 Tabel 3. Persepsi Informan Mengenai Bagaimana Bentuk Komunikasi

Kelompok Yang Terjadi Di Sanggar Seni ANGKASA ... 56 Tabel 4. Persepsi Informan Mengenai Proses Pertukaran Informasi

Pada Kegiatan Kakuppulan ... 58 Tabel 5. Persepsi Informan Mengenai Elemen-Elemen Komunikasi

Kelompok Dalam Kegiatan Kakuppulan... 61 Tabel 6. Persepsi Informan Mengenai Topik Yang Dibahas Dalam

Kegiatan Kakuppulan ... 63 Tabel 7. Persepsi Informan Mengenai Proses PengamBilan Keputusan

Melalui Jalan Kakuppulan ... 65 Tabel 8. Persepsi Informan Mengenai Isi Pesan Atau Informasi Dalam

Kegiatan Kakuppulan ... 67 Tabel 9. Persepsi Informan Mengenai Apakah Peranan Kakuppulan

Yang Dilakukan Anggota Sanggar Seni ANGKASA Dalam

(10)
(11)

Arifin, Anwar.1984.Strategi Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas. Armico.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. PT Citra Aditya. Bandung.

Rakhmat, Jalaludin. 1994.Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Depdikbud. 1990.Pengenalan Sanggar Kesesianian.

Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Koentjaraningrat. 1985.Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru Bandung.

Pratikno, Riyono. 1983.Jangkauan Komunikasi. Alumni. Bandung.

Badudu.1984.Sastra lisan lampung.

Sendjaja, S. Djuarsa. 1999.Teori Komunikasi. Universitas Terbuka. Jakarta.

(12)

Tim Penyusun Kamus, Pusat Pengembangan Bahasa, 1997. Kamus Besar Indonesia. Balai pustaka. Jakarta.

Sumber lain :

Wawancara, Dirhamsyah. Pada minggu 11 maret 2012. Pekon Kenali, Lampung Barat.

Sumber internet :

http://enhiespearzt.blogspot.com

http://enhiespearzt.blogspot.com/2011/12/komunikasi-kelompok.html.diakses pada 12 juni 2012

http://adiprakosa.blogspot.com

http://adiprakosa.blogspot.com/2008/07/komunikasi-kelompok.html. diakses pada 12 juni 2012

http://sigodangpos.blogspot.com

http://sigodangpos.blogspot.com/2011/11/teknik-pengolahan-data.html. diakses pada 12 juni 2012

http://kuliah.dagdigdug.com

http://psikologikelompok.wordpress.com/2010/10/10/komunikasi-kelompok-dan-fungsinya/. Diakses pada 20 september 2012

http://www.slideshare.net

(13)

penelitian-dan.html .diakses pada 18juni 2012 Omit.2008.teori komunikasi

http://search.mywebsearch.com/mywebsearch/SNdns.jhtml?st=dns&ptb=7

3FCB78F-0537-43CC-8EA0-74621B90150E&n=77edc7ec&ind=2012071916&id=XPxdm221YYid&pt nrS=XPxdm221YYid&si=CD291&searchfor=www.anneahira.com

(14)

Dalam Melestarikan Kesenian Segata

(15)

Dalam Melestarikan Kesenian Segata

(16)

Dalam Melestarikan Kesenian Segata

(17)

KENALI DUA SURABAYA (ANGKASA) DALAM MELESTARIKAN KESENIAN SEGATA

I. Identitas Informan

A. Nama :

B. Umur :

C. Jenis Kelamin :

D. Agama :

E. Status :

II. Komunkasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkasa Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat Dalam Melestarikan Kesenian Segata.

1. Apa yang dimaksud dengan kesenian segata? 2. Kapan biasanya kesenian segata ini dipentaskan?

3. Bagaimana bentuk komunikasi kelompok yang terjadi di sanggar seni angkonan kenali dua surabaya (ANGKASA)?

4. Bagaimanakah proses komunikasi kelompok pada kegiatan kakupuplan?

(18)

kakuppulan?

8. Apakah isi pesan atau informasi dalam kegiatan kakuppulan bisa dimengerti dan diterapkan oleh anggota kelompok dalam usaha melestarikan kesenian segata?

9. Adakah peranan kakupulan yang dilakukan anggota sanggar seni angkonan kenali dua surabaya (ANGKASA) dalam usaha melestarikan kesenian segata?

10. Adakah fungsi komunikasi kelompok (kakuppulan) yang dilaksanakan oleh sanggar seni angkonan kenali dua surabaya (ANGKASA)?

(19)
(20)

Karya dan kerja keras ini kupersembahkan dari hati untuk

Bak dan Mak tercinta,

Yang tak pernah lelah berjuang untuk saya.

Terima kasih telah memberiku kasih sayang, cinta, doa, dukungan,

(21)

Kalau bisa beda, kenapa mesti sama? (Anonim)

Kesalahan terbesar yang dibuat manusia dalam kehidupannya adalah terus menerus merasa takut bahwa mereka akan melakukan

kesalahan (Elbert Hubbad)

Penampilan terbaik dari seseorang adalah penampilan yang mewakili hati yang baik.

(22)

ALHAMDULILLAHHIROBBIL’ALAMIN…

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan curahan rahmat dan hidayahNya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini serta penulis haturkan shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “KOMUNIKASI KELOMPOK ANGGOTA SANGGAR SENI ANGKONAN KENALI DUA

SURABAYA (ANGKASA) DALAM MELESTARIKAN KESENIAN

SEGATA” merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar (S.I.Kom) Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu, sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa terimakasih kepada:

1.

Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosisal dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

2.

Bapak Drs. Teguh Budi Rahardjo, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung sekaligus dosen pembahas yang telah banyak memberikan pendapatnya.

(23)

4.

Bapak Agung Wibawa, S.Sos,M.Si selaku pembimbing kedua yang telah memberikan saran, nasehat dan meluangkan waktu kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terima kasih pula dengan kesabaran dalam membimbing penulis, terima kasih atas semua ilmu yang telah diberikan.

5.

Seluruh dosen FISIP Unila, terutama dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan bantuan kepada penulis atas semua didikan, pelajaran dan bimbingan serta ilmu yang diberikan semoga dengan bekal yang diberikan, penulis dapat menjadi lebih berarti dan lebih berguna untuk orang banyak dikemudian hari.

6.

Bapak suseno, S.IP selaku Kepala Sanggar seni ANGKASA yang telah memberikan kesempatan dan izinnya untuk melakukan penelitian.

7.

Ibu Efa Pitri, SE selaku Sekertaris Sanggar seni ANGKASA yang telah memberikan banyak informasi yang penulis butuhkan demi kelancaran skripsi ini.

8.

Bapak Dirhamsyah, S.Pd dan Bapak Ali Baksin yang telah bersedia dimintai pendapat dan sarannya tentang kesenian segata.

9.

Kedua orang tuaku, Bak dan Mak tercinta, Kasmito dan Asmani yang telah mendidik, membesarkan, dan membiayai pendidikan demi masa depan dan kebahagianku. Terimakasih untuk setiap doa yang luar biasa dan semua dukungannya.

10.

Udo ku tercinta, Brigpol Martin Arizona. K dan Kaka Efa Liana, S.Pd, Adikku Kiky Asrindo. K. Terima kasih untuk doa, semangat, bantuan, dan motivasi yang diberikan

11.

Keponakanu Novia Ferlita yang bisa menghibur ku di saat aku mengalami kejenuhan terhadap skripsi ini.

(24)

Imel, Budi, Amoy, Refto, Yogi, Robby, Rohma, Morian. Iam, Irpan, Uje, Feris, Anggi, Erwin, Zahra (terima kasih untuk keceriaan dan kebersamaan yang kalian ciptakan selama ini, Kalian semua sangat berarti). Sukses untuk semua Mahasiswa Komunikasi Non-Reg Angkatan 2007.

14.

Teman-teman di bawah pohon ceri “Kiay” terima kasih untuk keceriaan dan kebersamaan yang kalian ciptakan selama ini.

15.

Seluruh teman-teman yang membantu dalam kelancaran skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu serta kakak-kakak tingkat angkatan 2006. Terima kasih untuk bantuan dan motivasi yang telah diberikan.

16.

Almamater-Ku tercinta Universitas Lampung.

Semoga semua pihak yang membantu tersebut diatas senantiasa mendapat Taufik dan Hidayah-NYA. Akhirnya dengan mengucap syukur, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Bandar Lampung, Februari 2013 Penulis,

(25)

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

Nama : Deny Wijaya. K

NPM : 0746031017

Jurusan : Ilmu Komunikasi

Alamat Rumah : Perum Bukit Emas Blok E/5 Sukabumi Bandar Lampung

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Dalam Melestarikan Kesenian Segata” adalah benar-benar hasil karya sendiri, bukan plagiat ataupun dibuatkan oleh orang lain.

Apabila dikemudian hari hasil penelitian/skripsi saya, ada pihak-pihak yang merasa keberatan maka saya akan bertanggung jawab sesuai dengan peraturan yang berlaku dan siap untuk dicabut gelar akademik saya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dalam tekanan pihak-pihak manapun.

(26)
(27)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Ilmu Komunikasi adalah seni menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan melalui saluran-saluran dengan harapan mendapatkan umpan balik (feedback) dan respon yang sesuai dengan keinginan atau tujuan komunikator. Setidaknya itu adalah salah satu dari sekian banyak pengertian Ilmu Komunikasi. Dimana setiap orang memiliki cara-cara tertentu untuk bisa mengkomunikasikan pesannya agar mudah dipahami orang lain. Baik itu komunikasi yang terjadi secara langsung (seperti tatap muka) maupun tidak (melalui media).

Komunikasi merupakan sarana kehidupan yang sangat penting dan kehadirannya mutlak dibutuhkan, apalagi dalam proses pembangunan dimana partisipasi aktif segenap lapisan masyarakat harus makin meluas dan terus dikembangkan. Upaya pembangunan yang berkesinambungan disegala bidang mempunyai jangkauan universal dan menyeluruh hingga kepelosok tanah air.

(28)

“ pembangunan kebudayaan bangsa ialah pembangunan kebudayaan yang timbul

sebagai buah usaha budaya rakyat indonesia. Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju kebudayaan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”.

Apalagi bagi bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pedesaan yang masih menganut tradisi dan nilai-nilai tradisional yang kental, tentu saja memerlukan aktivitas komunikasi khas tradisional pedesaan yang di perogramkan dengan baik dan dirancang secara matang sebagai usaha pewarisan budaya.

Keragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai, untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

(29)

kelangsungan dari kesenian segata ini semakin terkikis oleh hiburan baru yang lebih modern.

Generasi muda menganggap kesenian ini sebagai hiburan kuno, mereka lebih menyenangi pergi ketempat-tempat hiburan menonton film, televisi, dan video atau tempat-tempat pesta dengan hiburan seni musik modern dari pada mengikuti atau mendengarkan kesenian tradisional. Bahkan sebagian orang menganggap hiburan yang seharusnya untuk melepas kepenatan akhirnya hanya merupakan tontonan yang membosankan. Itu semua karena konsep yang ditampilkan sudah usang dan itu-itu saja tanpa adanya variasi atau hal baru yang membangkitkan ketertarikan mereka akan kesenian tradisional. Akibatnya kesenian segata ini kurang diminati dan di kenal khususnya oleh generasi muda. Padahal kesenian tradisional semacam ini merupakan aset dan kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Selain menjadi media hiburan kesenian segata juga menjadi media alternatif dalam menjalin silahturahmi kepada masyarakat. Dengan demikian kesenian segata menjadi media penting yang senantiasa menjadi kegiatan rutin kelompok masyarakat agar tetap ada. Di tengah krisis kebudayaan bangsa ini agar kesenian segatatetap dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat.

(30)

Memang, upaya pelestarian dan penanaman kencintaan public (terutama generasi muda) terhadap seni dan budaya tradisional menjadi tugas awal yang mesti direalisasikan, sebelum berbicara tentang pemanfaatan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Selama ini seni dan budaya tradisional masih dimaknai sebatas karya seni pemuas naluri estetika setiap orang, sehingga belum banyak yang berpikir pemanfaatan hal tersebut sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan social baik oleh pemerintah kepada publik secara vertical maupun secara horizontal di antara masyarakat.

Salah satu kelompok sosial yang mempelajari serta berusaha memajukan dan melestarikan kesenian tradisional yaitu Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) di Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat. Sanggar ini merupakan bentuk kelompok paguyuban, dimana pada awal berdirinya merupakan wadah atau wahana kerukunan warga untuk mengembangkan dan melestarikan kebudayaan tradisional daerah. Namun dalam proses perkembangannya, sanggar seni ini berkembang menjadi organisasi atau kelompok sosial masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap kesenian tradisional yang berasal dari Propinsi Lampung khususnya di Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat.

(31)

proses komunikasi, dan didalam komunikasi tersebut terjadi suatu penyampaian gagasan atau ide untuk mencapai tujuan bersama kelompok.

Menurut Arifin komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat,

pertemuan, konperensi dan sebagainya dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. (Anwar, Arifin. 1984 : 31).

Bentuk komunikasi kelompok yang dilakukan oleh sesepuh adat maupun anggota sanggar angkasa dalam usaha melestarikan seni tradisional khususnya kesenian segata antara lain menyelenggarakan " kakuppulan" dan latihan bersama yang mana selain untuk menguasai keterampilan dan penguasaan seni dimaksudkan juga untuk wadah atau penyampaian ide atau gagasan dari para penerus, sesepuh dan para anggota kelompok, juga sebagai evaluasi serta penyampaian informasi tentang berbagai hasil kegiatan yang telah dilakukan dan sedang berjalan di sanggar angkasa.

(32)

Fungsi korelasi sosial merujuk pada upaya pemberian interpretasi dan informasi yang menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya atau antara satu pandangan dengan pandangan lainnya dengan tujuan mencapai konsensus. Fungsi sosialisasi merujuk pada upaya pewarisan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi lainnya, atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Riyono Pratikno ( 1983 ; 24 ) dalam buku Jangkauan Komunikasi, mengemukakan bahwa faktor komunikasi merupakan faktor yang bisa mempertahankan kesatuan kelompok. Setiap anggota kelompok menjadi sumber dalam berkomunikasi seperti sumber kata-kata, isyarat, lambang-lambang yang semuanya mengandung arti komunikasi ditujukan kepada sesama angota kelompoknya.

Komunikasi kelompok sangat diperlukan didalam sebuah kelompok atau organisasi agar tercipta hubungan yang baik antara ketua dan anggota kelompok ataupun sesama anggota kelompok sehingga akan memberikan pengetahuan (kognitif) tentang tugas dan fungsi dari masing-masing anggota, menumbuhkan suatu sikap (afektif) tanggung jawab tugas dan fungsi para anggota kelompok serta mengimplementasikan segala pengetahuan, sikap yang baik dalam menjalankan fungsi bagian-bagiannya masing-masing. Tanpa komunikasi dengan baik maka akan berdampak pada kurang baiknya hubungan antara ketua dengan anggotanya maupun sesama anggota kelompok.

(33)

kelangsungan dan kelestarian kesenian tradisional segata ini dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi penerus kelompok ini sebagai upaya pewarisan budaya Lampung.

Kegiatan"kakuppulan"dan latihan bersama ini sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan seni tradisional khususnya kesenian segata dan kemajuan sanggar itu sendiri. Inilah yang nantinya dijadikan acuan dalam melakukan penelitian. Dalam setiap kegiatan "kakuppulan" diharapkan dapat memecahkan segala permasalahan yang terjadi dalam sanggar. Dari masalah yang berkaitan dengan kegiatan pelatihan, pembinaan sampai dengan kegiatan pementasan.

Pada dasarnya, kegiatan"kakuppulan" ini bertujuan untuk melihat seberapa besar peranan "kakuppulan" dan efeknya pesan yang telah disampaikan dan juga dijalankan oleh seluruh anggota dari sanggar seni angkasa, selain sebagai evaluasi program kegiatan yang telah di laksanakan agar dapat mengetahui kemajuan apa yang telah dicapai atau sebaliknya untuk mengoreksi segala kekurangannya.

Berdasarkan penjelasan diatas, alasan memilih anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) di Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat, adalah dengan alasan bahwa pemuda dan pemudi anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) merupakan komunitas yang aktif melestarikan kebudayaan Lampung lewat berbagai aktivitas kesenian mereka.

(34)

mengkhawatirkan, padahal peran dan fungsi kesenian tradisional ini cukup signifikan terutama pada acara muda-mudi (muli-mekhanai) di malam puncak proses acara resepsi pernikahan di masyarakat etnis Lampung Sai Batin. Berdarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mendeskripsikan Bagaimana Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Dalam Melestarikan KesenianSegata.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang penelitian di atas, maka rumusan masalah yang didapat adalah : Bagaimanakah Peran dan Fungsi Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Dalam Melestarikan KesenianSegata?

1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Peran dan Fungsi Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Dalam Melestarikan KesenianSegata.

2. Peranan "kakuppulan" sebagai bentuk Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Dalam Melestarikan KesenianSegata.

1.4 Kegunaan penelitian

(35)

1. Secara teoritis Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan yang berarti bagi khazanah kajian ilmu sosial dan perkembangan ilmu komunikasi khususnya dalam peranan komunikasi kelompok dalam usaha melestarikan kesenian tradisional.

(36)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi

Manusia berkomunikasi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umumnya termasuk bahasa sinyal,bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Proses ini dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan. Melalui proses ini, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh orang lain. Akan tetapi, proses hanya akan efektik apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Komunikasi mempunyai arti sebagai suatu usaha atau kegiatan untuk menyampaikan ide atau gagasan kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Onong Uchjana Effendy (2002 : 28) dalam buku Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, bahwa komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau prilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung yaitu lewat media.

Ketercapaian tujuan komunikasi merupakan keberhasilan komunikasi, Keberhasilan ini tergantung dari berbagai faktor sebagai berikut:

(37)

3. Komunikan (penerima pesan) 4. Konteks

5. Sistem penyampaian

(Onong Uchjana, 2002 : 28 : Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan. dan komunikasi dapat dikatakan efektif jika dapat mempengaruhi, merubah sikap dan prilaku.

Komunikasi dapat dikatakan efektif jika menimbulkan efek pada komunikan, yang meliputi :

1. Efek kognitif, adalah efek yang berkaitan dengan pikiran, pengetahuan dan wawasan, misalnya komunikan yang tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak paham menjadi paham.

2. Efek afektif, adalah efek yang berkaitan dengan perasaan, misalnya komunikasi yang semula merasa tidak senang menjadi senang, merasa sedih menjadi gembira, merasa pesimis menjadi optimis.

3. Efek konatif, adalah efek yang berkaitan dengan timbulnya keyakinan dalam diri komunikan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh komunikator berdasarkan pesan yang disampaikan.

(38)

2.1.1 Tujuan Komunikasi

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan komunikasi, dan dalam proses ini mengharapkan tujuan dari komunikasi itu sendiri. Pada umumnya tujuan komunikasi anatara lain, yaitu:

1. Supaya yang kita sampaikan dapat mengerti, sebagai komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengerti dan mengakui apa yang kita maksud.

2. Memahami orang lain. Kita sebagai komunikator harus mengerti benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkan kemauannya.

3. Supaya gagasan dapat diterima orang lain. Kita berusaha agar gagasan kita dapat diterima orang lain dengan pendekatan persuasive bukan memaksakan kehendak.

4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakan sesuatu itu dapat bermacam-macam, mungkin berupa kegiatan. Kegiatan dimaksud di sini adalah kegiatan yang lebih banyak mendorong, namun yang penting harus diingat adalah bagaimana cara baik untuk melakukan.

(Onong Uchana 2002 : 48 dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek)

(39)

2.1.2 Jenis-Jenis Komunikasi

Menurut Deddy Mulyana, (2005 : 93) dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi Jenis komunikasi terdiri dari:

1. Komunikasi Verbal dengan Kata-kata

a. Perbendaharaan kata-kata

Jika Perbendaharaan kata-kata seseorang terbatas, dikhawatikan komunikasi tidak akan efektif atau tersendat apabila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti atau dipahami.

b. Kecepatan bicara

Dalam berkomunikasi, diharapkan seseorang dapat mengatur kecepatan berbicara. Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.

c. Kepadatan

Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.

d. Intonasi suara.

Intonasi suara akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik.sebuah pesan yang disampaikan dengan intonasi yang keliru akan menimbulkan pemahaman yang keliru.

e. Waktu

(40)

2. Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal. Yang termasuk komunikasi non verbal :

a. Ekspresi wajah

Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.

b. Kontak mata

Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya c. Sentuhan

Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.

d. Gestures

(41)

e. Penggunaan Gerakan Tubuh

Mungkin anda juga perlu mengetahui dan mengerti bagaimana gerak tubuh dipergunakan dalam komunikasi nonverbal. Tanpa diobservasi sekalipun, ternyata setiap gerakan tubuh mengkomunikasikan fungsi tertentu.

f. Suara

Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.

2.2 Pengertian Komunikasi Kelompok

Menurut Riyono Pratikno (1983 : 24) dalam buku Jangkauan Komunikasi, mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

Komunikasi Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.

(42)

Terdapat empat elemen yang terkandung didalam pendapat ahli diatas yaitu: 1. Interaksi tatap muka

Mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik verbal dari setiap anggotanya.

2. Terminologi tatap muka (face-toface)

Mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya.

3. Maksud dan tujuan yang dikehendaki

Bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri.

4. Kemampuan anggota untuk menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lain mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud atau tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.

(43)

2.2.1 Teori Komunikasi Kelompok

Menurut Mulyana (2005), kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelopok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah mengadakan rapat untuk mengambil suatu keputusan.

Teori yang berhubungan dalam penelitian ini adalah Teori percakapan kelompok (Group Achievement Theory) berkaitan dengan produktivitas kelompok atau upaya-upayanuntuk mencapainya melalui pemeriksaan masukan dari anggota (member inputs), variabel-variabel perantara (mediating variables), dan keluaran dari kelopok (group output). Masukan atau input yang berasal dari anggota kelompok dapat diidentifikasikan sebagai prilaku, interaksi dan harapan-harapan (expectation) yang bersifat individual. Sedangkan variabel-variabel perantara merujuk pada struktur formal dan struktur peran dari kelompok seperti status, norma, dan tujuan-tujuan kelompok.

(44)

Para ahli komunikasi juga memiliki pandangan yang tidak sama mengenai hal apa yang menjadi fokus perhatian atau aspek apa dalam komunikasi yang menurut mereka paling penting dalam ilmu komunikasi. Tidak adanya teori tunggal dalam ilmu komunikasi mendorong kita untuk memiliki suatu metamodel teori komunikasi yang bersifat menyeluruh (komprehensif) yang dapat membantu kita menjelaskan berbagai topik dan asumsi dan membantu kita dalam melakukan pendekatan terhadap berbagai teori yang ada. Metamodel teori komunikasi menyediakan suatu sistem yang kuat bagi kita untuk mengorganisir berbagai teori komunikasi.

2.2.2 Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya

Menurut Onong Uchjana Effendy (1999:76:78) dalam buku Ilmu Teori Dan Filsafat Komunikasi, Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya yaitu:

1. Kelompok primer dan sekunder.

Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.

2. Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.

(45)

administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.

3. Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif

John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga yaitu, kelompok tugas, kelompok pertemuan dan kelompok penyadar.

Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

2.2.3 Fungsi Komunikasi Kelompok

(46)

1. menjalin hubungan social antar anggota dan kelompok. Bagaimana individu dalam suatu kelompok bisa berhubungan social tanpa komunikasi atau sejauh mana suatu kelompok dapat memelihara hubungan social diantara anggota dengan anggota atau pun anggota dengan kelompok.

2. fungsi pendidikan atau adukasi. Hal ini berkaitan dengan pertukaran informasi anatar anggota. Melalui fungsi ini kebutuhan anggota akan informasi baru dapat terpenuhi. Dan secara tidak langsung kemampuan para anggota dibidangnya masing-masing dapat embawa pengetahuan baru atau justru membawa keuntungan untuk para anggota lainnya ataupun bagi kelompok. 3. kemampuan persuasi. Fungsi ini sebelumnya dapat menguntungkan atau

merugikan pihak yang mem-persuasi. Misalnya, seorang anggota yang berusaha mem-persuasi anggota kelompok lainnya untuk tidak atau melakuakan sesuatu. Jika ia mem-persuasi suatu yang sejalan dengan kelompok, maka ia akan diterima dan menciptakan iklim yang positif di dalam kelompok, tapi sebaliknya jika ia mem-persuasi suatu yang bertentangan dengan kelompok, maka akan berpotensi menciptakan konflik dan perpecahan di dalam kelompok.

4. Fungsi pemecahan masalah (problem solving). Hal ini berkaitan erat dengan jalan-jalan alternative dari para anggota kelompok untuk memecahkan masalah. Jadi, pemecahan masalah menghasilkan materi atau bahan untuk pembuatan keputusan.

(47)

dikumpulkan, dan mereka diminta untuk saling terbuka dalam mengungkapkan diri mereka ataupun masalah mereka. Dalam kelompok ini juga tetap membutuhkan pemimpin sebagai pengatur atau penengah jika terjadi konflik atau perbedaan pendapat.

2.2.4 Metode Pengambilan Keputusan Komunikasi Kelompok

Cara lain untuk memahami tidakan komunikasi menurut S. Djuarsa Sendjaja (1999 : 103) dalam buku Teori Komunikasi adalah dengan bagaimana sutu kelompok menggunakan metode-metode tertentu untuk mengambil suatu keputusan terhadap masalah yang dihadapi. Seperti kewenangan tanpa diskusi, pendapat ahli, kewenangan setelah diskusi dan kesepakatan. Yang mana metode-metode tersebut dijabarkan sebagai berikut :

1. Kewenangan tanpa diskusi

Metode pengambilan keputusan ini sering sekali digunakan oleh para pimpinan otokratik atau dalam kepemimpinan militer. Pengambilan keputusan ini tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya. Sehingga metode pengambilan keputusan ini sering menimbulkan persoalan-persoalan seperti ketidakpercayaan anggota kelompok terhadap keputusan yang diambil oleh pemimpinnya, karena mereka tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

2. Pendapat ahli

(48)

akan bekerja dengan baik apabila seseorang anggota kelompok dianggap ahli tersebut memang tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota kelompoknya.

3. Kewenangan setelah diskusi

Metode ini mempertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota kelompok dalam proses pengambilan keputusan dengan demikian keputusan yang diambil melalui metode ini akan meningkatkan kualitas dan tanggung jawab para anggotanya.

4. Kesepakatan

Kesepakatan atau consensus akan terjadi kalau sesama anggota dari suatu kelompok mendukung keputusan ini memiliki keuntungan, yaitu partisipasi penuh dari seluruh anggota akan meningkatkan kualitas keputusan yang diambil. Metode consensus sangat penting khususnya dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan komplek.

2.2 Kakuppulan Sebagai Bentuk Komunikasi Kelompok

(49)

di suatu tempat secara tidak sengaja, masinng-masing pihak mempunyai kepentingan yang sama dan akhirnya mengadakan diskusi informal.

Kegiatan ini merupakan suatu metode komunikasi kelompok yang dilakukan oleh sesepuh maupun anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat dalam upaya melestarikan kesenian segata. Berbagai bentuk permasalahan dibahas dalam kegiatan "kakuppulan" ini ini, di antaranya usaha pelatihan dan pengembangan variasi dan kreasi keseniansegataagar lebih dikenal serta diminati oleh generasi muda, dengan demikian diharapkan kelangsungan dan kelestarian kesenian tradisional segata ini dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi penerus kelompok ini sebagai upaya pewarisan budaya Lampung.

2.3 Pengertian Sanggar

Berbicara mengenai pengertian sanggar dapat di tinjau dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sanggar adalah tempat untuk melaksanakan segala kegiatan seni, misalnya seni tari, seni drama, seni musik, seni ukir dan seni lukis. (Depdikbud, 1990; 875).

(50)

maka sanggar merupakan tempat untuk melaksanankan berbagai macam kegiatan kesenian tradisional maupun kesenian klasik.

2.4.1 Pengertian Sanggar Seni

Untuk mengaktifkan dan melestarikan kesenian tradisional, maka perlu dibentuk sanggar untuk mewadahi kegiatan tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1990 yang dimaksud dengan sanggar adalah :

1. Tempat pemujaan yang terletak di pekarangan rumah.

2. Tempat pertemuan untuk mengadakan tukar pikiran tentang suatu bidang ilmu atau bidang kegiatan tertentu.

3. Ruang yang diatur sedemikian rupa untuk mengerjakan sesuatu.

Sementara itu masih dalam sumber yang sama yang dimaksud dengan seni ialah : 1. Kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi.

2. Keahlian membuat karya yang bermutu dilihat dari segi kehalusannya dan keindahannya.

3. Seni suara atau vokal seni suara yang didengarkan dengan perantara suara seni.

4. Segala sesuatu bentuk kegiatan masyarakat yang dapat menimbulkan rasa indah yang diciptakan sendiri yang hasilnya merupakan milik bersama.

(51)

2.4.2 Konsep Sanggar Seni Angkasa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sanggar adalah tempat untuk melaksanakan segala kegiatan kesenian, misalnya kesenian lisan, seni tari, seni drama, seni musik, seni ukir, seni lukis, dan sebagainya. (depdikbud, 1990 : 875)

Berdasarkan pengertian diatas, maka sanggar seni angkasa merupakan tempat untuk melaksanakan kegiatan seni, tetapi bentuk keseriusannya lebih cenderung kesenian tradisional, dalam hal ini penulis lebih memfokuskan untuk meneliti kesenian segata.

2.4.3 Sanggar Seni Angkasa Sebagai Kelompok Sosial

Kelompok sosial menurut Koentjaraningrat (1985 : 89) dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi antara lain adalah :

1. Memiliki struktur dalam masyarakat dimana kelompok itu berada. 2. Memiliki maksud dan tujuan yang sama.

3. Diakui kedudukannya dalam masyarakat.

4. Memiliki norma-norma yang harus ditaati oleh masyarakat setempat.

(52)

Yang kedua Koentjaraningrat mengatakan kelompok sosial memiliki maksud dan tujuan yang sama. Pada kelompok sanggar seni angkasa maksud dan tujuan kelompok ini berdiri adalah disamping karena untuk melestarikan kesenian tradisional itu sendiri tetapi juga sebagai wadah atau wahana kerukunan warga agar memperat tali silaturahmi sesama anggotanya.

Yang ketiga diakui kedudukannya dalam masyarakat. Adapun bukti bahwa kelompok sanggar seni angkasa diakui kedudukannya di masyarakat yaitu dengan sering adanya pementasan hiburan masyarakat atas permintaan masyarakat dan kantor kecamatan belalau.

Yang keempat Koentjaraningrat mengatakan kelompok sosial memiliki norma-norma atau peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat. Disini para anggota sanggar seni angkasa selaku masyarakat memiliki norma serta aturan yang tertulis dalam buku pedoman keanggotaan beserta pasal-pasal yang mengaturnya.

2.4.4 Sanggar Angkasa Sebagai Forum Komunikasi Kelompok

(53)

2.5 Pengertian Segata

Segata yaitu kesenian pantun, setiap bait dari segata terdiri empat baris dengan pembagian dua baris pertama sebagai baris sampiran yang menceritakan tentang alam, sedangkan baris kedua baru isi yang menjelaskan tujuan atau maksud pantun itu. Segata sering dilakukan pada acara muda-mudi (muli-mekhanai) di malam puncak proses acara resepsi pernikahan di masyarakat etnis Lampung Sai Batin. Segata pada umumnya mempergunakan suara ganda yang terdiri dari beberapa orang.

Menurut Dirhamsyah, SPd (Staf Pengajar Bahasa Daerah Lampung SMPN 1 Belalau, dan Tokoh Adat Pekon Kenali.)

“Segata merupakan suatu kesenian lisan yang berbentuk pantun yang bertemakan alam dan kehidupan sosial, dimana segata ini terdiri dari empat baris dengan bersajak a-b-a-b. Dan segata ini umumnya digunakan pada upacara atau prosesi adat khususnya pada masyarakat etnis lampung sai batin yang berdomisili di kecammatan belalau. Selain itu juga segata biasanya dipentaskan oleh muda-mudi dengan iringan musik tradisional seperti gong, gamelan bambu, dan lain-lain”.

(54)

2.5.1 Pembagian Segata menurut jenisnya

Berikut adalah pembagian jenis-jenis kesenian segata, yaitu : 1. Segata Sanak Ngebabang

Yaitu segata yang digemari dan sering digunakan untuk mengasuh atau memomong anak-anak yang berceritakan tentang segala sesuatu yang menimbulakan suka-duka dalam kehidupan anak-anak. Misalkan hadiah baju baru, rasa sedih ditinggalkan ayah ibu, oleh-oleh yang menarik, hadiah hari raya, dan sebagainya.

Contoh :

Kapal bulayagh dawah debingi Selalu haga nyepok daghatan Gham belajagh dawah debingi Guna nyiapkon masa depan

Kapal berlayar siang dan malam Selalu mencari daratan

Kita belajar siang dan malam Guna menyiapkan masa depan 2. Segata Bukahaga

Yaitu segata yang sering digunakan oleh orang muda atau remaja, biasanya bertemakan alam kehidupan remaja, percintaan, perjuangan hidup, kerinduan. Tema cinta asmara sangat dominan dalam segata ini.

Contoh :

(55)

Kusassat ghelom pedom Asal putungga niku

Kucari ke dasar gelap Asal bersua batu Kucari hingga ke tidur Asal bersua denganmu 3. Segata Nangguh

Yaitu segata yang berisikan salam pembukaan dalam suatu acara atau akhir acara. Misalnya sapaan terhadap tamu, sapaan untuk memulai acara, dan sebagainya.

Contoh :

Numpang pai nanom peghing Titanom banjagh capa Numpang pai ngulih-ulih Jama kutti sai dija

Numpang menanam bambu Ditanam dekat capa

Numpang bertanya Kepada kalian di sini 4. Segata Lalagaan

(56)

Contoh :

Indani ghaddak minyak Titanom di cenggighing Musakik kik injuk nyak Bukundang kalah sahing

Layaknya pohon minyak Ditanam di lereng bukit Betapa derita kurasakan Pacaran kalah saingan 5. Segata Nyendekh

Yaitu segata yang berisikan sindiran-sindiran halus, dan tidak bermaksud untuk memojokkan seseorang, melaikan hanya untuk hiburan gelak tawa semata.

Contoh :

Nyilok silok di lawok Lentera di balimbing Najin ghalang kupenok Kidang ghisok kubimbing

Melihat-lihat di laut Lentera di balimbing Walau jarang kulihat Tapi sering kuucap

(57)

2.5.2 Syarat-Syarat Segata

1. Terdiri atas empat baris

2. Tiap baris terdiri atas 8 sampai 10 suku kata

3. Dua baris pertama disebut sampiran, isinya mengenai alam dan sebagainya, dua baris berikutnya mengandung maksud isi pemantun

4. Biasanya berisi ungkapan seseorang

5. Segata mementingkan rima ahir dan rumus rima itu disebut dengan sajak a-b-a-b. Maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga, baris kedua sama dengan baris keempat. (badudu, 1984 : 11 Sastra lisan lampung)

2.5.3 Konsep Usaha Melestarikan Kesenian Segata

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, usaha adalah kegiatan yang menggerakkan tenaga, pikiran dan badan untuk mencapai suatu maksud pekerjaan dan untuk mencapai tujuan yang di harapkan. (Depdikbud, 1990 : 997).

Masih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian melestarikan kesenian adalah merupakan upaya untuk melindungi kesenian budaya bangsa agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dari segala ancaman dan gangguan baik secara langsung maupun tidak langsung.

(58)

tradisional segata sebagai salah satu hasil cipta, rasa dan karsa yang merupakan hasil kebudayaan yang perlu dilestarikan mengingat kesenian tradisional segata merupakan hasil hidayah nenek moyang kita, dan sebagai salah satu aset budaya bangsa

2.6 Kerangka Pikir

Keragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai, untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat baik dalam bentuk lembaga atau organisasi mempunyai peranan yang sangat penting peranan yang dapat dilihat dalam pembangunan nasional terutama dalam pelestarian kebudayaan dan adat istiadat yang ada didalamnya.

Sebagai salah satu bentuk agar kebudayaan nasional tidak hilang karena pengaruh dari kebudayaan baru ialah dengan. Membentuk organisasi kelompok yang bergerak dibidang kesenian dan kebudayaan. Yang mana dalam prakteknya tidak terlepas dari peranan komunikasi khususnya komunikasi kelompok

(59)

daerah tradisional. Berbagai kegiatan dilakukan untuk berbagai tujuan tersebut. Salah satu usaha yang paling menonjol yaitu "kakuppulan", ini merupakan bentuk kegiatan yang dilaksanakan rutin dan melibatkan semua anggota kelompok bahkan sesepuh adat didalam sanggar seni angkasa.

Komunikasi kelompok sangat diperlukan didalam sebuah kelompok atau organisasi agar tercipta hubungan yang baik antara ketua dan anggota kelompok ataupun sesama anggota kelompok sehingga akan memberikan pengetahuan (kognitif) tentang tugas dan fungsi dari masing-masing anggota, menumbuhkan suatu sikap (afektif) tanggung jawab tugas dan fungsi para anggota kelompok serta mengimplementasikan segala pengetahuan, sikap yang baik dalam menjalankan fungsi bagian-bagiannya masing-masing. Dan diharapkan agar dapat memecahkan berbagai permasalahan ataupun persoalan yang tengah dihadapi dalam upaya melestarikan kesenian segata.

Hal ini yang mendasari penulis meneliti seberapa besar peranan "kakuppulan" dalam memajukan dan melestarikan kegiatan Sanggar Seni Angkasa khususnya kesenian segata. Dalam kegiatan "kakuppulan" berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan yang ada di Sanggar Seni Angkasa dibahas. Semua ini bertujuan agar dapat memecahkan berbagai permasalahan yang ada, baik itu permasalahan kelompok, ketua dengan anggotanya ataupun sesama anggota kelompok sanggar seni angkasa. Disamping itu juga kegiatan"kakuppulan" ini mengevaluasi semua bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan dan yang dilaksanakan.

(60)

seperti usaha pelatihan, dan pembinaan dari para sesepuh guna mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional khusunya kesenian segata berupa menambahkan kreasi baru agar lebih diminati oleh masyarakat umum.

Hal-hal lain yang juga menjadi agenda dalam sanggar seni angkasa ini yaitu, evaluasi hasil dari penyelenggaraan berbagai kegiatan pementasan kesenian tradisional khususnya kesenian segata. Sampai dengan menyiapkan segala keperluan sebelum pementasan. Kesemua aktifitas ini mendukung terciptanya sebuah komunikasi kelompok yang baik antar anggota, yang menjadi faktor penting tercapainya tujuan kelompok yakni melestarikan kesenian tradisional khususnya kesenian segata sebagai kekayaan nasional bangsa indonesia yang mulai terkikis oleh kebudayaan baru yang berasal dari luar.

(61)

Bagan Kerangka Pikir

Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (Angkasa)

Di Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat

Kegiatan Kakuppulan

Indikatornya :

 Proses pertukaran informasi  Topik pembahasan

 Proses pengambilan keputusan  Peran dan fungsi kakuppulan

Upaya Melestarikan

Indikatornya :

 Upaya pelestarian Kesenian tradisional Segata

Anggota Sanggar Seni Angkasa

(62)

III METODEPENELITIAN

3.1 Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apaa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2005:6).

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yangs ecara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dan kawasannya dan dalam peristilahannya.

(63)

3.2 Fokus Penelitian

Menyatakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian kualitatif. Hal ini karena suatu penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong atau tanpa adanya masalah, baik masalah-masalah yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui kepustakaan ilmiah (Moleong, 2000 : 62).

Pada prinsipnya fokus penelitian dimaksudkan untuk dapat membantu agar dapat melakukan penelitiannya sehingga hanya akan ada beberapa hal atau beberapa aspek yang dapat diarahkan penulis sesuai dengan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Masalah dalam penelitian ini difokuskan pada komunikasi kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Dalam Melestarikan KesenianSegata.

3.3 Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) di Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat.alasan pemilihan lokasi penelitia ini adalah dengan alasan bahwa pemuda dan pemudi anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) merupakan komunitas yang aktif melestarikan kebudayaan Lampung lewat berbagai aktifitas kesenian mereka.

3.4 Informan

(64)

merupakan orang-orang yang terkait langsung dalam komunikasi kelompok dalam upaya melestarikan kesenian segata. untuk pemilhan informan pada penelitian ini menggunakan teknik sampel purposif. menurut Ruslan (2006:156) teknik sampel purposif (purposive sampling) adalah pemilihan informan berdasarkan pada karekteristik tertentu yang dianggap mempunyai sangkut pautnya dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya.

Informan tersebut dipilih berdasarkan pada pemahaman dan pengetahuan mengenai komunikasi kelompok dalam upaya melestarikan kesenian segata. Adapun kriteria informan yang dipilih adalah:

1. Informan adalah orang-orang yang berkecimpung dalam kegiatan Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA).

2. Informan adalah orang-orang yang memahami seluk beluk tentang kesenian sagata.

Adapun informan yang dipilih antara lain:

1. Pengurus Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) yaitu ketua sanggar Suseno S.IP, sekertaris Efa Pitri S.E.

(65)

3.5 Jenis Data

Dalam penelitian ini ada dua sumber data yang digunakan, yaitu sumber data primer dan data skunder:

1. Data primer yaitu data terpenting dalam penelitian yang akan diteliti. data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan baik melalui pengamatan, maupun melalui pertanyaan yang telah disiapkan. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dan jawaban dari daftar pertanyaan yang akan diajukan.

2. Data skunder yaitu data yang mendukung data primer, mencakup data lokasi penelitian dan data lain yang mendukung masalah penelitian.

3.6 Teknik Pengolahan Data

Dalam penelitian ini teknik pengolahann data yang digunakan adalah :

1. Wawancara yaitu mengumpulkan data dengan cara berdialog secara langsung dengan responden guna mengetahui dan memperoleh data serta informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

2. Kepustakaan yaitu mencari atau menggali informasi atau pengetahuan yang berhubungan dengan penelitian ini melalui sumber-sumber ilmiah, literatur, brosur-brosur, dan bacaan lain yang berhubungan dengan penelitian.

3. Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan pencatatan terhadap dokumen-dokumen, arsip-arsip, buku-buku peraturan serta dokumen lainnya yang ada pada obyek penelitian.

(66)

3.7 Teknik Analisis Data

Analisa data adalah proses mencari dan mengatur catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya yang ditemukan di lapangan. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang berpijak dari data yang di dapat dari hasil wawancara serta hasil dokumentasi, dengan tahapan analisis sebagai berikut:

a. Reduksi Data, yaitu tahap merangkum atau menyederhanakan data sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian.

b. Penyajian Data, yaitu tahap menyajikan data ke dalam deskripsi atau penjabaran kalimat dan memberikan interprestasi atas data tersebut.

(67)

V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Informan

(68)

3. Informan Ketiga

Nama : Ali Baksin

Umur : 43 Tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Jabatan : Tokoh adat dan Pegiat kesenian

Agama : Islam

Jabatan : Staf pengajar SMPN 1 Belalau

Agama : Islam

Suku : Lampung

Pekerjaan : Pegawai Negri Sipil

Alamat : Jl. Merdeka No 223 Pekon Kenali Kecamatan

Belalau Kabupaten Lampung Barat (Sumber : Diolah dari Hasil Penelitian Tahun 2012)

5.2 Peran dan Fungsi Komunikasi Kelompok Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (Angkasa) Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat Dalam Melestarikan Kesenian Segata.

Pada subbab ini penulis akan mendeskripsikan peran dan fungsi komunikasi kelompok anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat Dalam Melestarikan Kesenian Segata, jawaban para informan penelitian.

1. Pengertian Kesenian Segata.

(69)

sama-sama bersaing menyajikan konsep hiburan variatif dan modern. Hal ini mau tidak mau akan berdampak pada kurangnya minat masyarakat terhadap hiburan yang berakar pada kebudayaan daerah tradisional bangsa indonesia sendiri. Termasuk kelangsungan dari kesenian segata ini semakin terkikis oleh hiburan baru yang lebih modern. Hasil wawancara dari keempat informan mengenai pengertian keseniansegataitu sendiri dapat dijelaskan di tabel berikut ini :

Tabel 1. Persepsi informan mengenai pengertian keseniansegata.

No Pertanyaan Jawaban

1 Apakah yang

dimaksud dengan keseniansegata?

Suseno

adalah salah satu jenis sastra lisan berbentuk pantun tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek.

Efa Pitri

sebuah kesenian berbalas pantun antara bujang dan gadis pada acara muda-mudi atau resepsi pernikahan.

Ali Baksin

segata adalah kesenian pantun lampung yang dilakukan oleh bujang dan gadis yang diiringi musik tradisional. Secara umum, isinya berupa ungkapan perasaan, harapan, atau humor. Dirhamsyah

(70)

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesenian segata merupakan suatu kesenian lisan yang berbentuk pantun yang bertemakan alam dan kehidupan sosial, dimana segata ini terdiri dari empat baris dengan bersajak a-b-a-b. Dan segata ini umumnya digunakan pada upacara atau prosesi adat dan acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda-mudi, nyambai, miyah damagh, kedayek. Selain itu juga segata biasanya dipentaskan oleh muda-mudi dengan iringan musik tradisional seperti gong, gamelan bambu, dan lain-lain. Disamping sebagai media hiburan pada acara muda-mudi, kesenian segata ini memiliki pesan tersendiri bagi pendengarnya, biasanya pesan yang terkandung dalam bait-bait kesenian segata ini adalah pesan-pesan moral dan lain-lain.

2. Waktu Pementasan KesenianSegata.

Seiring dengan kehadiran berbagai media hiburan, Generasi muda menganggap kesenian tradisional seperti segata ini sebagai hiburan kuno, Akibatnya kesenian segata ini kurang diminati dan di kenal khususnya oleh generasi muda. Padahal kesenian tradisional semacam ini merupakan aset dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Hasil wawancara dari keempat informan mengenai waktu pementasan keseniansegataitu sendiri dapat dijelaskan di tabel berikut ini :

Tabel 2. Persepsi informan mengenai kapan biasannya kesenian segata ini dipentaskan.

(71)

Efa Pitri

Biasanya kesenia segata ini dipentaskan pada acara mda-mudi, tepatnya pada malam puncak resepsisi pernikahan, segagai bentuk suka cita atas kelangsungan pernikahan tersebut.

Ali Baksin

Kesenian segata ini sering dipentaskan pada acara muda-mudi pada saat kegiatan malam puncak resepsi pernikahan.

Dirhamsyah

Biasanya kesenian segataini dipentaskan pada malam puncak resepsisi pernikahan yang dilakukan oleh muda-mudi sebagai hiburan untuk tamu dari pihak besan.

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa waktu atau momen dalam pementasan kesenian segata terjadi pada acara muda-mudi pada saat kegiatan malam puncak resepsi pernikahan. Dan segata ini umumnya digunakan pada upacara atau prosesi adat dan acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda-mudi nyambai, miyah damagh, kedayek Selain itu juga pementasansegataini bermaksud sebagai hiburan untuk tamu. Dan berikut adalah contoh segata yang bersifat banyolan:

(72)

3. Bentuk Komunikasi Kelompok di Sanggar Seni (ANGKASA).

Salah satu upaya untuk membangkitkan kembali minat masyarakat pada kesenian tradisional adalah dengan memajukan dan meningkatkan kembali kegiatan dan aktivitas didalam sanggar seni tradisional. Seperti juga kelompok-kelompok sosial yang lain, kehadiran dan tumbuhnya sanggar kesenian tradisional yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tidak lepas dari proses komunikasi kelompok. Berikut adalah hasil wawancara dari informan mengenai bentuk komunikasi kelompok yang terjadi di Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) :

Tabel 3. Persepsi informan mengenai bagaimana bentuk komunikasi kelompok yang terjadi di Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya

(ANGKASA)

Di sangar angkasa ini bentuk komunikasi kelompoknya lebih dikenal dengan istilah "kakuppulan". Kegiatan ini semacam forum diskusi atau rapat yang dilakukan oleh anggota sanggar seni angkasa.

Efa Pitri

Bentuk komunikasi kelompok di sanggar angkasa ini, mengikuti tradisi masarakat disini,

yaitu dengan melakukan kegiatan

"kakuppulan" (berkumpul). Dan kegiatan "kakuppulan" ini terjadi proses interaksi atau diskusi secara langsung antara anggota sanggar seni angkasa guna mencari atau menemukan ide dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh sanggar seni angkasa ini.

(73)

adalah kegiatan "kakuppulan" (berkumpul), Kegiatan ini merupakan kegiatan duduk bersama seperti rapat atau diskusi yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, guna mencari atau menemukan ide dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat ini. Tujuan kegiatan kakuppulan ini seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan bahwa pada saat kegiatan "kakuppulan", anggota kelompok pun melakukan komunikasi interpersonal yang berlangsung secara diadik. Komunikasi antar pribadi terjadi ketika anggota kelompok Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA) melakukan komunikasi diadik (komunikasi tatap muka antara dua orang), baik itu bersifat formal maupun non formal.

(74)

4. Proses Pertukaran Informasi Pada Kegiatan Kakuppulan.

Komunikasi kelompok sangat diperlukan didalam sebuah kelompok atau organisasi agar tercipta hubungan yang baik antara ketua dan anggota kelompok ataupun sesama anggota kelompok. Tanpa komunikasi dengan baik maka akan berdampak pada kurang baiknya hubungan antara ketua dengan anggotanya maupun sesama anggota kelompok. Seperti diketahui Komunikasi kelompok adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain kepada anggota kelompok lainya. Dalam sebuah kelompok tentu sangatlah diperlukan adanya sirkulasi komunikasi yang baik sehingga tercipta suatu hubungan yang sehat dalam penyampaian pesan, baik pesan lisan maupun tulisan secara terbuka, para anggota kelompok juga dapat mengeluarkan pesan berupa ide-ide, gagasan, secara kreatif didalam kelompok tersebut yang dapat membentuk suatu prilaku dan kecakapan yang baik, sehingga dapat mendukung tujuan atau sasaran kelompok tersebut. Berikut adalah kutipan wawancara dari informan mengenai proses pertukaran informasi pada kegiatan kakuppulan:

Tabel 4. Persepsi informan mengenai proses pertukaran informasi pada kegiatan kakuppulan.

Proses komunikasi kelompok yang terjadi dalam kegiatan "kakuppulan" pada sanggar seni ANGKASA yaitu terjadi proses pertukaran informasi, gagasan, dan pendapat antara pengurus dengan anggota sanggar seni ANGKASA, yang terlibat dalam kegiatan kakuppulan guna mencapai kesamaan makna. Efa Pitri

Gambar

Gambar 1. Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA)Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat padasaat kegiatan kakuppulan.
Gambar 3. Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA)Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat pada saatkegiatan latihan segata dan orkes musik lampung.
Gambar 2. Anggota Sanggar Seni Angkonan Kenali Dua Surabaya (ANGKASA)Pekon Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat pada saatkegiatan kakuppulan.
Tabel 1. Persepsi informan mengenai pengertian kesenian segata.
+7

Referensi

Dokumen terkait