• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk-Debuk Berbasis Masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk-Debuk Berbasis Masyarakat"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENGEMBANGAN TWA LAU DEBUK-DEBUK BERBASIS MASYARAKAT

SKRIPSI

Oleh:

Afriyanti Sembiring 061201002 / Manajemen Hutan

DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

UPAYA PENGEMBANGAN TWA LAU DEBUK-DEBUK BERBASIS MASYARAKAT

SKRIPSI

Oleh:

Afriyanti Sembiring 061201002 / Manajemen Hutan

Skripsi sebagai satu diantara beberapa syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk-Debuk Berbasis Masyarakat

Nama : Afriyanti Sembiring

Nim : 061201002

Departemen : Kehutanan

Program Studi : Manajemen Hutan

Disetujui Oleh :

Komisi Pembimbing

Pindi Patana S.Hut, M.Sc

Ketua Anggota

Dr. Agus Purwoko S.Hut, M.Si

Mengetahui,

(4)

ABSTRAK

AFRIYANTI SEMBIRING. Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk Debuk Berbasis Masyarakat. Dibimbing oleh PINDI PATANA dan AGUS PURWOKO.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan manfaat TWA Lau Debuk Debuk, mengetahui persepsi dan peran serta masyarakat dalam pengembangan TWA Lau Debuk Debuk serta merumuskan alternatif strategi peningkatan peran serta masyarakat dalam mengembangkan TWA Lau Debuk Debuk. Penelitian ini dilakukan dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk termasuk dalam kategori sedang dimana masyarakat jarang mengikuti kegiatan yang dilakukan guna pengembangan TWA Lau Debuk Debuk. Faktor penting yang menentukan keberhasilan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk adalah partisipasi masyarakat seperti proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pengembangan TWA Lau Debuk Debuk.

(5)

ABSTRACT

AFRIYANTI SEMBIRING. Effort Development of TWA Lau Debuk Debuk base on Society. Under supervised by Pindi Patana and Agus Purwoko.

This study is aimed to know benefit and potency of TWA Lau Debuk Debuk, knowing role and perception and also society in development of TWA Lau Debuk Debuk and also formulate strategy alternative of society in developing TWA Lau Debuk Debuk.This research was conducted with Analytical Hierarchy Process (AHP) method, while analysis method used descriptive analysis.

Research result indicate that society participation storey;level in the effort development of TWA Lau Debuk Debuk of[is included in category is where society seldom follow activity which [to] utilize development of TWA Lau Debuk Debuk. Important Factor which determine efficacy of development of TWA Lau Debuk Debuk is society participation like planning process, program evaluation and execution development of TWA Lau Debuk Debuk.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Afriyanti Sembiring dilahirkan di Namu Ukur, Sumatera Utara pada

tanggal 21 April 1988 dari Bapak T. Sembiring dan Ibu S. Bukit. Penulis

merupakan anak keempat dari enam bersaudara.

Pada tahun 2006 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Berastagi dan

pada tahun yang sama lulus masuk Universitas Sumatera Utara (USU) melalui

jalur PMDK. Penulis memilih Program Studi Manajemen Hutan Departemen

Kehutanan Fakultas Pertanian.

Selama aktif mengikuti perkuliahan, penulis pernah mengikuti

Praktik Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) tahun 2008 di Tangkahan dan

kawasan hutan mangrove Pulau Seribu. Pada tahun 2010 penulis melaksanakan

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

atas berkat dan kasih karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan draft hasil

penelitian yang berjudul “Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

Berbasis Masyarakat”.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Pindi

Patana S.Hut, M.Sc dan Dr. Agus Purwoko S.Hut, M.Si, selaku komisi

pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan

skripsi penelitian ini. Begitu juga dengan pihak-pihak yang telah membantu dalam

penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki banyak

kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun guna perbaikan

proposal ini sangat diharapkan oleh penulis.

Semoga penelitian ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Medan, Juli 2012

(8)

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRAK ... ii

ABSTRAK ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah ... 2

Tujuan Penelitian ... 2

Manfaat Penelitian ... 2

TINJAUAN PUSTAKA... 4

Partisipasi Masyarakat ... 4

Ekowisata ... 5

Kondisi Umum Taman Wisata Alam Lau Debuk Debuk ... 8

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 12

Alat dan Bahan ... 12

Populasi dan Sampel ... 12

Pengumpulan Data ... 13

Data Primer ... 13

Data Sekunder ... 14

Analisis Data ... 14

Karakteristik Responden ... 14

Fenomenologi ... 14

Skala Likert ... 15

PRA ... 16

Analisis SWOT terhadap TWA Lau Debuk Debuk ... 17

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Masyarakat ... 19

Tingkat Partisipasi Masyarakat ... 22

Analisis SWOT ... 26

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 32

Saran ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

(9)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Perumusan strategi dengan Matrik SWOT ... 18

2. Distribusi responden menurut kelas umur ... 19

3. Distrtibusi responden menurut tingkat pendidikan ... 20

4. Distribusi responden menurut mata pencaharian ... 21

5. Distribusi tingkat partisipasi responden dalam perencanaan kegiatan pengembang TWA ... 22

6. Distribusi tingkat partisipasi responden dalam pelaksanaan kegiatan Pengembangan TWA ... 24

7. Distribusi tingkat partisipasi responden dalam evaluasi kegiatan Pengembangan TWA ... 25

8. Rekapitulasi tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk ... 25

9. Ringkasan SWOT ... 28

10. Analisis dengan menggunakan Matriks SWOT ... 29

(10)

No. Hal.

1. Karakteristik pengunjung ... 36

2. Karakteristik masyarakat ... 39

3. Partisipasi masyarakat ... 41

(11)

ABSTRAK

AFRIYANTI SEMBIRING. Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk Debuk Berbasis Masyarakat. Dibimbing oleh PINDI PATANA dan AGUS PURWOKO.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan manfaat TWA Lau Debuk Debuk, mengetahui persepsi dan peran serta masyarakat dalam pengembangan TWA Lau Debuk Debuk serta merumuskan alternatif strategi peningkatan peran serta masyarakat dalam mengembangkan TWA Lau Debuk Debuk. Penelitian ini dilakukan dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk termasuk dalam kategori sedang dimana masyarakat jarang mengikuti kegiatan yang dilakukan guna pengembangan TWA Lau Debuk Debuk. Faktor penting yang menentukan keberhasilan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk adalah partisipasi masyarakat seperti proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pengembangan TWA Lau Debuk Debuk.

(12)

ABSTRACT

AFRIYANTI SEMBIRING. Effort Development of TWA Lau Debuk Debuk base on Society. Under supervised by Pindi Patana and Agus Purwoko.

This study is aimed to know benefit and potency of TWA Lau Debuk Debuk, knowing role and perception and also society in development of TWA Lau Debuk Debuk and also formulate strategy alternative of society in developing TWA Lau Debuk Debuk.This research was conducted with Analytical Hierarchy Process (AHP) method, while analysis method used descriptive analysis.

Research result indicate that society participation storey;level in the effort development of TWA Lau Debuk Debuk of[is included in category is where society seldom follow activity which [to] utilize development of TWA Lau Debuk Debuk. Important Factor which determine efficacy of development of TWA Lau Debuk Debuk is society participation like planning process, program evaluation and execution development of TWA Lau Debuk Debuk.

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang

dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan

dan kesejahteraan penduduk setempat. Indonesia sebagai negara mega

biodiversity nomor dua di dunia, telah dikenal memiliki kekayaan alam, flora dan

fauna yang sangat tinggi. Kata wisata (tourism) pertama kali muncul dalam

Oxford English Dictionary tahun 1811, yang mendeskripsikan atau menerangkan tentang perjalanan untuk mengisi waktu luang (Hakim, 2004).

Pengertian tentang ekowisata mengalami perkembangan dari waktu ke

waktu. Namun pada hakekatnva, pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata

yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat.

Pariwisata adalah suatu fenomena yang mana ditimbulkan oleh bentuk

kegiatan manusia, yaitu kegiatan melakukan perjalanan (travel). Berdasarkan hal itu maka perjalanan yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata dimana

perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia di luar tempat

tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap

di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau untuk melakukan

pekerjaan-pekerjaan dengan mendapatkan “upah“ (Kodhyat, 1996).

Salah satu daerah wisata yang sedang berkembang di Kabupaten Karo

tepatnya berada di Doulu, Raja Berneh. Kawasan tersebut merupakan salah satu

(14)

Beranjak dari pengalaman, kegiatan dalam upaya pengembangan TWA

Lau Debuk Debuk kurang berhasil karena belum teroganisasi dengan baik dimana

masyarakat hanya menggunakan pengertian sendiri dalam pengembangan TWA

Lau Debuk Debuk dan kurangnya kerjasama masyarakat dengan pihak

pemerintah, maka dilakukan penelitian ini. Faktor penting yang menentukan

keberhasilan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk adalah partisipasi

masyarakat seperti proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk. Keikutsertaan masyarakat lebih

ditekankan agar mereka memiliki rasa tanggungjawab guna pengembangan TWA

Lau Debuk Debuk. Menurut Saleh (2000), diantara faktor yang perlu diperhatikan

dalam perencanaan pengembangan dan peningkatan usaha ekowisata ini adalah

segmen pasar serta SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunities, Treats) dan faktor lainnya. Dengan mengetahui faktor-faktor ini maka dapat direncanakan

tindakan pengembangan yang lebih efektif.

Perumusan Masalah

1. Bagaimana potensi dan manfaat TWA Lau Debuk Debuk berbasis

masyarakat?

2. Bagaimana persepsi dan peran serta masyarakat dalam pengembangan TWA

Lau Debuk Debuk?

3. Bagaimana strategi peningkatan peran serta masyarakat dalam

(15)

Tujuan Penelitian

1. Mengetahui potensi dan manfaat TWA Lau Debuk Debuk

2. Mengetahui persepsi dan peran serta masyarakat dalam pengembangan TWA

Lau Debuk Debuk

3. Merumuskan alternatif strategi peningkatan peran serta masyarakat dalam

mengembangkan TWA Lau Debuk Debuk

Manfaat Penelitian

1. Memberikan pengaruh positif kegiatan ekowisata terhadap lingkungan di

kawasan TWA Lau Debuk Debuk.

2. Memberikan data tentang perkembangan ekowisata di kawasan TWA Lau

Debuk Debuk.

3. Bahan masukan dan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pengelolaan

(16)

TINJAUAN PUSTAKA Partisipasi Masyarakat

Pengertian partisipasi merupakan kesediaan untuk membantu berhasilnya

suatu program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti

mengorbankan kepentingan diri sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan

partisipasi tersebut sama dengan peran serta. Peran serta merupakan proses

komunikasi dua arah yang dilakukan terus menerus guna meningkatkan

pengertian masyarakat atas suatu proses dimana masalah-masalah dan kebutuhan

lingkungan sedang dianalisa oleh badan yang bertanggung jawab (Sormin, 2006).

Partisipasi menurut Sormin (2006) terbagi atas partisipasi vertikal dan

partisipasi horizontal. Partisipasi vertikal bisa terjadi dalam kondisi tertentu,

dimana masyarakat terlibat atau mengambil bagian dalam suatu program pihak

lain, dalam hubungan dimana masyarakat berada sebagai posisi bawahan.

Partisipasi horizontal dimana pada suatu saat tidak mustahil masyarakat

mempunyai prakarsa dimana setiap anggota/kelompok masyarakat berpartisipasi

horizontal satu dengan yang lainnya, baik dalam melakukan usaha bersama

maupun dalam rangka melakukan kegiatan dengan pihak lain. Partisipasi seperti

ini merupakan suatu tanda permulaan tumbuhnya masyarakat yang mampu

berkembang secara mandiri.

Secara harfiah, Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan

penilaian/pengkajian/penelitian keadaan desa secara partisipatif. Dengan demikian

metode PRA artinya adalah cara yang digunakan dalam melakukan kajian untuk

memahami keadaan atau kondisi desa dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

(17)

memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan, dan

menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, membuat

rencana dan bertindak. Usaha-usaha pengembangan masyarakat dilakukan

mengikuti daur program. Daur program adalah tahapan-tahapan dalam

pengembangan program mulai dari identifikasi masalah dan kebutuhan, pencarian

alternatif kegiatan, pemilihan alternatif kegiatan, pengorganisasian dan

pelaksanaan kegiatan, serta pemantauan dan evaluasi (Driyamedia, 1996).

Metode PRA dikembangkan dengan dua tujuan utama, yaitu :

- Tujuan praktis (tujuan jangka pendek) adalah menyelenggarakan kegiatan

bersama masyarakat untuk mengupayakan pemenuhan kebutuahan praktis dan

peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus sebagai sarana proses belajar

tersebut.

- Tujuan strategis (tujuan jangka pendek) adalah mencapai pemberdayaan

masyarakat dan perubahan sosial melalui pengembangan masyarakat dengan

menggunakan pendekatan pembelajaran (Driyamedia, 1996).

Ekowisata

Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan

tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

Kawasan taman wisata alam dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya

pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

Suatu kawasan taman wisata alam dikelola berdasarkan suatu rencana pengelolaan

yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial

(18)

tujuan pengelolaan, kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan

dan pemanfaatan kawasan (Dirjen PHKA Departemen Kehutanan, 2010).

Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan taman

wisata alam:

1. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala

alam serta formasi geologi yang menarik;

2. Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian fungsi potensi dan

daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;

3. Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata

alam

Pariwisata merupakan suatu aktivitas yang melakukan perjalanan dari

rumah utama guna bersantai menuju daerah yang lain. Kepariwisataan juga

merupakan lingkup usaha yang terdiri atas ratusan komponen usaha seperti:

layanan angkutan udara, kapal pesiar, kereta api, agen perjalanan, pengusaha tur,

penginapan, restoran, dan pusat-pusat perbelanjaan (Lundberg dkk, 1997).

Ekowisata dari segi pasar merupakan perjalanan yang diarahkan pada

upaya-upaya pelestarian lingkungan. Sedangkan pendekatan pengembangan,

ekowisata merupakan metode pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya

pariwisata secara ramah lingkungan dan bertanggungjawab terdapap kelestarian

alam serta kesejahteraan masyarakat lokal (Damanik dan Weber, 2006)

Menurut Fandeli dan Mukhlison (2000) bahwa ekowisata lebih banyak

digunakan dan lebih populer jika dibandingkan terjemahan yang seharusnya dari

(19)

prinsip konservasi. Dalam upaya pengembangannya juga menggunankan strategi

konservasi, sehingga ekowisata berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan

dan juga keaslian ekosistem di areal yang masih alami.

Dalam pendugaan permintaan terhadap manfaat intangible seperti rekreasi bisa dilakukan dengan pendekatan metode biaya perjalanan. Jumlah biaya

perjalanan ini termaksud biaya pulang pergi ditambah dengan nilai uang dari

waktu yang telah dihabiskan dalam perjalanan dan selama rekreasi

(Davis dan Jhonson, 1987).

Pariwisata yang merupakan suatu fenomena multidimensional,

menumbuhkan citra petualangan, romantik dan tempat-tempat eksotik, dan juga

meliputi realita keduniaan seperti bisnis, kesehatan dan lain-lain. Kata pariwisata

sering menonjolkan bidang perjalanan dan juga pertumbuhan meningkat dari

orang-orang yang melakukan perjalanan, biasanya disebut turis/wisatawan

(Hadinoto, 1996).

Seseorang melakukan perjalanan baik secara individu maupun rombongan,

bergantung pada motivasinya. Namun motivasi itu selalu berubah-ubah sesuai

dengan perkembangan dan kemajuan ekonomi, teknologi yang telah dicapai

manusia di abad modern ini (Yoeti, 1985).

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut

yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek

dan daya tarik wisata. Pada umumnya seseorang akan terdorong untuk melakukan

perjalanan wisata jika tersedianya waktu luang, tersedianya biaya dan ada

(20)

Kondisi Umum TWA Lau Debuk Debuk

Lau Debuk-Debuk (Hot Spring) atau sering disebut pemandian air panas merupakan salah satu potensi wisata yang sangat menarik disekitar kaki Gunung Sibayak.

Pemandian air panas merupakan hasil aktifitas alam Gunung Sibayak di masa lampu.

Mata airnya bersumber dari perut bumi mengandung unsur belerang dapat mengobati

penyakit gatal-gatal dan dapat dijadikan sebagai pengganti mandi sauna. Objek wisata ini

terletak di Desa Semangat Gunung yakni hanya beberapa meter dari jalan setapak menuju

pintu rimba.

Gunung Sibayak dijuluki sebagai "Gunung Raja" arti kata Sibayak ialah

"Raja" Konon Tanah karo diperintah oleh 4 Raja (Sibayak). Keempat dari

kerajaan itu ialah Sibayak Lingga, Sarinembah, Barusjahe dan Kutabuluh.

Gunung Sibayak, yang meletus terakhir kali pada tahun 1600, merupakan gunung

vulkanik yang masih aktif mengeluarkan gumpalan asap dengan ketinggian

hingga 2 km. Gumpalan asapnya berasal dari panas bumi dan berguna sebagai

sumber energi listrik. Di Kabupaten Karo telah terdapat sebuah kawasan

pembangkit tenaga uap di dekat Gunung Sibayak. Ketinggian gunung itu sekitar

2.094 m dari permukaan laut. Dari Desa Sibayak, terlihat jelas kondisi kawahnya

yang agak landai, yang kelihatannya seperti membelah gunung. Sekitar pukul

15:00 WIB, kabut mulai kelihatan di sekitar puncak gunung hingga ke bagian

bawahnya, dan tidak lama kemudian, kabut mulai menyebar hingga ke Desa

Semangat Gunung (Langkisau, 2009).

Secara administratif pemerintahan Taman Wisata Alam Lau Debuk-Debuk

terletak di Desa Doulu Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo. Secara

geografisnya kawasan TWA Lau Debuk-Debuk terletak pada 98048’45” BT dan

(21)

tanggal 30 Desember 1924, sebelumnya kawasan ini merupakan daerah Cagar

Alam. Namun, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.

320/Kpts/Um/5/1980, pada tanggal 9 Mei tahun 1980 bahwa areal ini dialihkan

menjadi TWA yang luasnya 7 ha. Areal TWA Lau Debuk Debuk ini dikelola oleh

Pemerintah Kabupaten Karo dan masyarakat.

Gunung Sibayak yang berketinggian 2.094 m.dpl secara administratif

masuk dalam kabupaten Karo di Sumatera Utara. Hutan gunung ini masuk dalam

hutan lindung berupa hutan alam pengunungan, yang tergabung dalam Taman

Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Pembangunan Tahura ini sebagai upaya

konservasi sumber daya alam dan pemanfaatan lingkungan melalui peningkatan

fungsi dan peranan hutan. Hutan gunung yang masih alami tersebut tergabung

dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan Daerah Tangkapan Air

(DTA) bagi masyarakat disekitar gunung dan hutan (Mabring, 2010).

Mata air panas muncul melalui retakan dari aliran lava di daerah Selatan

lereng Gunung Api Sibayak. Mata air panas ini kemudian ditampung didalam

kolam. Pemandian air panas ini dikelolah oleh Pemerintah Kabupaten Karo

dengan masyarakat setempat. Sebagian pendaki memanfaatkan kolam air panas

ini untuk berendam membersihkan diri dan menyegarkan tubuh sekembali dari

puncak. Jarak dari Kota Berastagi ke objek wisata kira-kira berjarak 10 km dapat

ditempuh dengan bus umum atau pribadi (Langkisau, 2009).

Di kaki Gunung Sibayak terdapat sumber air panas yang sering didatangi

para pengunjung. Uap airnya mengandung belerang, sehingga tercium agak

menyengat. Kondisi alamnya masih natural, dipenuhi pepohonan bambu dan

(22)

sebagai jalur resmi pendakian. Kawasan sekitar TWA Lau Debuk Debuk terkenal

dengan udara yang sejuk karena berada di kaki Gunung Sibayak. Daerah

kunjungan wisata ini dianugerahi air panas belerang. Ali mengalir sepanjang masa

dengan balutan panorama eksotis yang menyajikan suasana indah, tenang dan

damai. Jarak yang ditempuh menuju Lau Debuk Debuk sekitar 10 Km dari

Berastagi sementara dari Medan bisa menempuh 60 Km.

Desa Semangat Gunung adalah desa terakhir ditemukan ketika mendaki

gunung melalui jalur ini. Perjalanan menuju objek wisata ini tidak terlalu sulit

karena transportasi umum gampang ditemui dengan ongkos pasti terjangkau.

Sedangkan dengan mobil atau sepeda motor pribadi juga bisa ditempuh tanpa

banyak rintangan karena jalannya sudah beraspal. Setelah sampai di kawasan ini

tinggal menentukan lokasi pemandian yang akan dipergunakan. Ada sekitar tujuh

pusat pemandian air panas (hot spring) yang telah kelola secara modern dan dilengkapi fasilitas semi permanen. Sedangkan satu lokasi pemandian dikelola

secara tradisional oleh pihak Pemda setempat. Sebenarnya objek wisata ini merupakan pemandian air panas yang mata airnya bersumber dari perut bumi dan

mengandung unsur belerang. Selain terasa hangat, air panas tersebut juga dapat

mengobati penyakit gatal-gatal bagi pengunjung yang datang. Sehingga tidak

salah kalau berendam dengan air hangat belerang bisa dijadikan sebagai pengganti

mandi sauna. Objek wisata air panas Lau Debuk Debuk memiliki kekhasan

tersendiri dengan yang lainnya. Bukan hanya dari Medan, Langkat atau Deli

Serdang, pengunjung yang datang berasal dari luar daerah bahkan dari Jawa dan

(23)

Sekitar pemandian air panas Lau Debuk Debuk, banyak ditemukan tempat

untuk meletakkan sesajen atau pemujaan. Tidak jauh dari sumber air panas utama

akan ditemukan sumur yang dijadikan sebagai tempat pemujaan dan meletakkan

sesajen. Selain itu pengunjung yang datang juga sering melepaskan ayam putih

sebagai bentuk kepercayaan dan niat karena satu permintaan atau permintaan yang

telah dikabulkan. Sedangkan air berada di sumur tersebut sering dibawa pulang

dengan jerigen sebagai oleh-oleh sekaligus dipercayai untuk obat.

Sedangkan pada waktu-waktu tertentu akan dilaksanakan kegiatan ritual seperti

“Erpangir Ku Lau” (mandi ritual). Kegiatan ritual dilaksanakan biasanya

bertujuan membersihkan diri dari roh-roh jahat dan niat-niat yang tidak baik.

Kegiatan seperti ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis dan pengunjung

dari luar daerah. Sehingga kegiatan ritual seperti ini biasanya akan dimeriahkan

oleh pendatang dari luar kota ke objek wisata ini.

Selain lokasi pemandian air panas yang sengaja dikelola secara tradisional,

saat ini juga bermunculan lokasi pemandian air panas semi permanen. Dari

catatan, ada sekitar 5 lokasi tempat pemandian yang dikelola secara profesional, di

antaranya pemandian air panas Karona Family, Alam Sibayak, Panorama, Rindu

Alam dan lainnya. Lokasi pemandian ini dipermak dan dipoles seindah mungkin,

tetapi sumber air panas tetap berasal dari aliran Gunung Sibayak. Sedangkan

temperatur air panas yang berada di pusat-pusat pemandian air panas di Desa

(24)

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kawasan Taman Wisata Alam Lau Debuk

Debuk Kecamatan Berastagi dan Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka,

Kab. Karo yang terletak di sekitar Gunung Sibayak. Penelitian ini dilaksanakan

pada bulan Februari 2011 sampai Mei 2011.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : kamera untuk

dokumentasi, tape recorder untuk merekam,alat tulis, kertas sketsa dan perangkat komputer. Bahan dan objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar

kuisioner dan wawancara terhadap wisatawan yang berkunjung ke TWA Lau

Debuk Debuk.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian adalah stake holder yang mana orang-orang

yang berkaitan langsung atau berkepentingan terhadap Taman Wisata Alam Lau

Debuk Debuk seperti instansi pemerintah, kelompok ahli/akademisi, masyarakat

sekitar dan pengunjung.

Pengambilan sampel dalam metode ini dilakukan dengan cara Purposive

Sampling (sampel bertujuan). Menurut Jalil (1997), metode Purposive Sampling

adalah pengumpulan data atas dasar pertimbangan pribadi penelitian. Sampel

purposive adalah sampel yang anggota sampelnya dipilih secara sengaja atas dasar

keterwakilan dan karakteristik populasi. Teknik pengambilan sampel ini adalah

metode pengunjung yaitu dengan perjumpaan secara proporsional. Sampel untuk

(25)

sedangkan sampel yang diambil di desa Doulu adalah 20 orang dari 200 KK dan

sampel 60 orang di desa Semangat Gunung dari 600 KK. Dalam pengambilan

sampel untuk masyarakat sesuai dengan literatur Arikunto (1997) yang

menyebutkan apabila subjeknya lebih dari 100 orang maka diambil antara

10-15%, 20-25% dan seterusnya. Namun apabila subjeknya dibawah 100 orang lebih

baik diambil seluruhnya.

Pengumpulan Data Data primer

1. Kuisioner

Kuisioner merupakan suatu set pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh

responden dalam penelitian.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan tanya jawab langsung dengan responden.

Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada pengunjung kawasan ekowisata

Lau Debuk-Debuk, masyarakat dan juga pihak pemerintah sehingga dapat

mendukung keakuratan dan kelengkapan data yang diperoleh dari responden.

3. Focus Group Discussion (FGD)

Dalam melakukan diskusi kelompok, peserta utamanya adalah masyarakat

dari berbagai golongan, baik itu tokoh masyarakat, pejabat pemerintah desa,

petani, laki-laki dan perempuan, generasi tua dan generasi muda. Namun, jika ada

pihak-pihak pelaksanaan program juga dapat dilibatkan. Karena

masukan-masukan dari mereka akan sangat membantu dalam penyusunan rencana kegiatan

(26)

4. Observasi

Observasi merupakan survei langsung ke lapangan sehingga dapat melihat

kehidupan responden serta kondisi daerah ekowisata.

Data sekunder

Data yang diperlukan berupa data umum yang ada pada instansi

Pemerintah Desa, Dinas Pariwisata Berastagi, Dinas Kehutanan Kabupaten Karo

dan literatur yang mendukung. Data ini meliputi jumlah pengunjung setiap tahun,

luas daerah objek wisata, potensi wisata, aksesibilitas wisata dan fasilitas rekreasi.

Analisis Data

Karakteristik responden

Data dan informasi yang akan dikumpulkan adalah data karakteristik

pengunjung yang meliputi : umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,

pendapatan, tempat tinggal, tujuan kunjungan, lama kunjungan dan cara

melakukan kunjungan.

Fenomenologi

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna

konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada

beberapa individu. Adapun langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi

yaitu:

- memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang

fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.

- membaca data secara keseluruhan

- menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh

(27)

awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang

tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat

repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons

(arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak

mengalami penyimpangan).

- pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis

gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.

- selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena

tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut.

- peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari

fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden

mengenai fenomena tersebut.

- membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari

gambaran tersebut ditulis.

Skala Likert

Metode ini merupakan penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan

distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Jumlah alternatif respon

yang ada dalam skala Likert ada 5 jenis (sangat setuju, setuju , ragu-ragu, tidak

setuju, sangat setuju). Untuk mengurangi kecenderungan responden menjawab

pilihan ragu-ragu, karena obyek penilaian yang cukup sensitif, maka pada

penelitian ini pilihan jawaban ragu-ragu sengaja tidak diberikan sebagai alternatif

jawaban bagi responden. Pernyataan dalam item yang mengandung item-item

favorabel mengandung nilai-nilai yang positif dan nilai-nilai yang diberikan ialah :

(28)

Setuju = 2

Sangat tidak setuju = 1

Sedangkan item-item yang unfavorabel mengandung nilai-nilai yang negatif, dan

nilai-nilai yang diberikan ialah :

Sangat tidak setuju = 3

Tidak setuju = 2

Sangat setuju = 1

Pemakaian skala Likert dalam hal ini dilakukan dengan tujuan meminimalkan

terjadinya kecemasan responden dalam menjawab.

Participatory Rural Appraisal(PRA)

PRA merupakan suatu pendekatan dan metode untuk mempelajari kondisi

dan kehidupan pedesaan dari, dengan dan oleh masyarakat desa. Selain itu, PRA

juga merupakan teknik untuk menyusun dan mengembangkan program yang

operasional dalam pembangunan tingkat desa. Metode ini ditempuh dengan

memobilisasi sumber daya manusia, alam setempat, dan lembaga lokal guna

mempercepat peningkatan produktivitas, menstabilkan dan meningkatkan

pendapatan masyarakat serta mampu pula melestarikan sumber daya setempat.

Tekni-teknik PRA dapat digunakan untuk kebutuhan yang berbeda dalam

Daur Program sehingga muncul istilah penerapan PRA untuk perencanaan

program, penerapan PRA untuk pelaksanaan kegiatan, penerapan PRA untuk

evaluasi program, dan sebagainya. Teknik-teknik PRA mencakup teknik

penelusuran alur sejarah lokasi/desa dan teknik pembuatan peta desa.

Tingkat peran serta masyarakat dalam penelitian ini dinilai melalui

(29)

dalam perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi kegiatan

tersebut.

Menurut Danie (2002), persentase peran serta dihitung dengan

menggunakan rumus :

P (%) = ni / N x 100%

Dimana :

P = Persentase partisipasi (%)

ni = Jumlah sampel pada kategori-i (tinggi, sedang atau rendah)

N = Jumlah seluruh sampel

Tingkat peran serta masyarakat dikelompokkan dalam 3 kategori, yaitu :

1. Tingkat peran serta masyarakat tinggi berada pada interval skor 66,68 – 100

2. Tingkat peran serta masyarakat sedang berada pada interval skor 33,34 – 66,67

3. Tingkat peran serta masyarakat rendah berada pada interval skor 0 - 33,33

Analisis SWOT terhadap TWA Lau Debuk-Debuk

Analisis ini merupakan kegiatan penelitian yang mengidentifikasi berbagai

faktor secara sistematika guna merumuskan strategi pengembangan TWA Lau

Debuk-debuk. Analisis ini meliputi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunity) dan ancaman (threat). Analisis tersebut dibuat secara deskriptif sehingga berpedoman pada kerangka pemikiran serta tujuan penelitian

yang akan diperoleh dari hasil observasi di lapangan. Semua informasi yang

memiliki pengaruh terhadap kelangsungan objek wisata digunakan untuk

perumusan strategi dengan menggunakan matrik SWOT. Matrik ini

(30)

dihadapi bisa disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh

[image:30.595.109.514.138.365.2]

objek wisata.

Tabel 1. Perumusan strategi dengan matrik SWOT Internal

Eksternal

Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weakness)

Peluang (Opportunities)

Strategi (SO)

Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

Strategi (WO)

Ciptakan strategi yang meminimalkan

kelemahan untuk memanfaatkan peluang

Ancaman (Threats) Strategi (ST)

Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman

Strategi (WT)

Ciptakan strategi yang meminimalkan

kelemahan dan menghindari ancaman

Penentuan empat macam strategi pengembangan berdasarkan faktor internal dan

faktor eksternal dengan model sebagai berikut:

1. strategi SO, dibuat dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut

dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.

2. strategi ST, dibuat dengan menggunakan kekuatan yang ada untuk mengatasi

segala ancaman yang ada.

3. strategi WO, dibuat dengan memanfaatkan peluang dan meminimalkan

kelemahan yang ada.

4. strategi WT, dibuat untuk meminimalkan kelemahan dan menghindari

(31)

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Masyarakat

Umur responden

Karakteristik responden merupakan salah satu faktor yang memengaruhi

tingkat partisipasi masyarakat secara tidak langsung terhadap kegiatan upaya

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk. Karakteristik responden yang dianalisis

dalam penelitian ini adalah umur, tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.

Rata-rata umur responden antara 21 – 81 tahun. Distribusi berdasarkan umur,

[image:31.595.115.510.346.431.2]

ditampilkan pada tabel 2.

Tabel 2. Distribusi responden menurut kelas umur

No Kelompok Umur (tahun) Frekuensi Proporsi (%)

1 20 – 30 12 15

2 31 – 40 27 33,75

3 41 – 50 28 35

4 > 50 13 16,25

Jumlah 80 100

Tabel 2 menunjukkan bahwa kelompok umur terbanyak yang

berpartisipasi dalam kegiatan upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

adalah 41 – 50 tahun (35 %). Menurut Mantra (2004) menyatakan bahwa tenaga

kerja merupakan penduduk yang dalam usia produktif yakni 25 – 64 tahun. Hal itu

berarti umur responden yang pada umumnya telah memiliki tanggung jawab

dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga mempunyai kemampuan yang

lebih baik dalam berpikir dan bertindak untuk merencanakan suatu kegiatan.

Pertambahan umur menunjukkan kemampuan fisik seseorang dalam

bekerja dan menghasilkan sesuatu secara maksimal. Pada usia tertentu, seseorang

dapat bekerja dan mencapai titik optimal kemudian dengan bertambahnya usia

(32)

Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan responden pada umumnya telah menyelesaikan

pendidikan hingga tingkat SMA (50 %), sedangkan tingkat SMP (28,75%) dan

ada yang menyelesaikan sampai jenjang perguruan tinggi (10%). Meskipun

demikian, masih ada terdapat beberapa responden yang hanya menyelesaikan

pendidikan hingga tingkat SD (11,25%). Distribusi responden berdasarkan tingkat

[image:32.595.110.512.290.379.2]

pendidikan ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan

No Kelompok Umur (tahun) Frekuensi Proporsi (%)

1 SD 8 10

2 SMP 23 28,75

3 SMA 40 50

4 S1 9 11,25

Jumlah 80 100

Tabel 3 menunjukkan bahwa pada umumnya tingkat pendidikan responden

tidak rendah karena hanya ada 8 responden saja yang tingkat pendidikan SD. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Suharjito (2000), yang mengatakan bahwa

pendidikan SD termaksud dalam tingkat pendidikan rendah.

Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap

kemampuannya untuk menyerap sebuah informasi dan melakukan perubahan serta

pengembangan terhadap suatu kegiatan. Oleh sebab itu, tingkat pendidikan secara

tidak langsung juga memberi pengaruh terhadap keberhasilan suatu program

upaya pengembangan TWA Lau Debuk-Debuk. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Djamali (2000), yang mengatakan bahwa tingkat pendidikan sejalan dengan

tingkat produktivitas dan efisiensi kerja.

Desa Semangat Gunung dan Doulu tidak terdapat sekolah, sehingga untuk

(33)

Kondisi ini menyebabkan beberapa masyarakat hanya menyelesaikan sekolah

mereka sampai tingkat SD dan lebih memilih untuk membantu orang tua ke

ladang. Namun lebih banyak yang memilih untuk menyekolahkan anak-anak

mereka sampai jenjang yang lebih tinggi dengan harapan bisa merubah kualitas

hidup pada masa yang mendatang.

Mata pencaharian

Mata pencaharian responden merupakan kegiatan yang dilakukan

masyarakat guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pada umumnya, mata

pencaharian utama responden adalah petani (80 %), pedagang dan wiraswasta

[image:33.595.111.515.372.447.2]

(10%). Distribusi responden menurut mata pencaharian ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Distribusi responden menurut mata pencaharian

No Kelompok Umur (tahun) Frekuensi Proporsi (%)

1 Petani 64 80

2 Pedagang 8 10

3 Wiraswasta 8 10

Jumlah 80 10

Desa Semangat Gunung dan Doulu merupakan wilayah yang cukup subur

dan terkenal dengan penghasil sayur mayur dan buah. Jenis sayur yang biasa

mereka tanam adalah kangkung, sayur parit, brokoli, daun sop, daun pre, dan

sawi. Sedangkan buah seperti jeruk, strowberry, buah naga, markisa, dan terong

belanda. Kondisi tanah yang subur karena berada di bawah kaki gunung

memberikan manfaat yang banyak bagi para petani yaitu hasil panen yang lebih

baik dibandingkan dengan desa lainnya.

Beberapa masyarakat membuka usaha pemandian air panas, dimana

memiliki fasilitas seperti tempat makan, memanggang, berfoto, kamar mandi,

tempat parkir, tempat menginap bahkan ada tempat pemandian menyediakan

(34)

usaha pemandian air panas ada 8 yakni Karona, Pesona, Alam Sibayak, Purnama,

Sibayak, Anugrah Sibayak, Rindu Alam dan Ginting.

Pekerjaan sebagai pedagang juga cukup menguntungkan. Pada daerah

menuju TWA Lau Debuk Debuk ada dua lokasi penjualan buah di sepanjang

perjalanan. Usaha ini dibuka mulai pukul 09.00 - 22.00 pada hari biasa. Namun

pada hari sabtu dan minggu dibuka lebih lama lagi, karena pengunjung lebih

banyak yang datang dibanding dengan hari biasa.

Tingkat Partisipasi Masyarakat

Desa Semangat Gunung dan Doulu merupakan desa yang dipilih guna

pengembangan kawasan TWA Lau Debuk Debuk. Tingkat partisipasi masyarakat

yang dinilai dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi masyarakat dalam

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan upaya pengembangan TWA Lau

Debuk Debuk.

Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan kegiatan

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk meliputi intensitas kehadiran masyarakat,

pemberian ide dan pemberian sumbangan. Distribusi tingkat partisipasi

masyarakat dalam perencanaan kegiatan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Distribusi tingkat partisipasi responden dalam perencanaan kegiatan pengembangan TWA

No Kategori Skor Frekuensi Proporsi (%)

1 Tinggi 66,68 – 100 20 25

2 Sedang 33,34 - 66,67 31 38,75

3 Rendah 0 - 33,33 29 36,25

[image:34.595.110.512.650.722.2]
(35)

Tingkat partisipasi responden dalam perencanaan kegiatan upaya

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk di atas dapat dinilai dari keaktifan

responden dalam setiap pertemuan yang diadakan. Selain itu, pengajuan ide-ide

tentang perencanaan kegiatan upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

yang dilaksanakan dan bahkan pemberian sumbangan baik itu berupa materi.

Berdasarkan Tabel 5 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat partisipasi masyarakat

dalam perencanaan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk yang berkategori

tinggi ada sebanyak 20 orang (25%) atau bisa dikatakan lebih rendah apabila

dibandingkan dengan kategori sedang (38,75%) dan rendah (36,25%). Hal ini

disebabkan karena masyarakat sendiri merasa sudah paham dengan apa yang akan

dilakukan nantinya ke depan sehingga jarang ikut dalam pertemuan yang

diadakan. Selain itu, beberapa responden jarang mengikuti pertemuan tersebut

karena bersamaan dengan jam kerja mereka sehingga mengharapkan informasi

dari masyarakat lain yang ikut dalam pertemuan dan seusai dari ladang mereka

menanyakan kepada mereka.

Pertemuan yang diadakan pada umumnya tidak dilakukan secara rutin

karena masyarakat lebih sibuk untuk mengurus tanaman mereka di ladang.

Mereka merasa hasil panen dari ladang lebih mendatangkan banyak keuntungan

daripada ikut rapat namun tidak mendapatkan uang. Apabila ada rapat paling tidak

harus tersedia makan kalau tidak masyarakat biasanya malas mengikutinya. Hal

ini merupakan suatu kendala dalam upaya pengembangan TWA Lau Debuk

(36)

Tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

Tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan upaya

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk meliputi intensitas keikutsertaan

masyarakat dalam pelaksanaan di lapangan. Distribusi tingkat partisipasi

masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan upaya pengembangan TWA Lau Debuk

Debuk ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Distribusi tingkat partisipasi responden dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan TWA

No Kategori Skor Frekuensi Proporsi (%)

1 Tinggi 66,68 – 100 19 23,75

2 Sedang 33,34 - 66,67 40 50

3 Rendah 0 - 33,33 21 26,25

Jumlah 80 100

Tabel 6 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam

pelaksanaan kegiatan upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk yang masuk

dalam kategori tinggi ada sebanyak 19 orang (23,75%) atau dengan kata lain lebih

rendah dibanding kategori sedang (50%) dan rendah (26,25%). Hal ini

dikarenakan karena masyarakat lebih terfokus pada kegiatan pertanian yang lebih

menguntungkan sehingga dalam pelaksanaan kegiatan upaya pengembangan

TWA Lau Debuk Debuk biasa saja atau tidak terlalu serius.

Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Evaluasi Upaya Pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

Kegiatan evaluasi bertujuan guna mengetahui tingkat keberhasilan

kegiatan upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk yang telah diadakan dan

mengidentifikasi kendala-kendala yang terjadi selama kegiatan diadakan. Evaluasi

yang telah diadakan hanya sebatas pertanggungjawaban para pekerja kepada ketua

[image:36.595.110.512.292.362.2]
(37)

Distribusi tingkat partisipasi masyarakat dalam evaluasi kegiatan upaya

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk meliputi intensitas kehadiran, keaktifan

masyarakat dalam pertemuan serta dalam memberikan masukan. Distribusi tingkat

partisipasi masyarakat dalam evaluasi kegiatan upaya pengembangan TWA Lau

Debuk Debuk ditunjukkan pada Tabel 7.

Tabel 7. Distribusi tingkat partisipasi responden dalam evaluasi kegiatan pengembangan TWA

No Kategori Skor Frekuensi Proporsi (%)

1 Tinggi 66,68 – 100 6 7,5

2 Sedang 33,34 - 66,67 29 36,25

3 Rendah 0 - 33,33 46 57,5

Jumlah 80 100

Rekapitulasi Tingkat Partisipasi Masyarakat

Rekapitulasi tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan upaya

pengembangan TWA Lau Debuk Debuk meliputi tingkat partisipasi masyarakat

dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Rekapitulasi tingkat

partisipasi masyarakat terhadap kegiatan upaya pengembangan TWA Lau Debuk

Debuk ditunjukkan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rekapitulasi tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk

No Partisipasi Masyarakat Rata-rata Kategori

1 Perencanaan 43,36 Sedang

2 Pelaksanaan 51,25 Sedang

3 Evaluasi 35,37 Sedang

Jumlah 129,98

Rata-rata 43,33 Sedang

Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa rata-rata tingkat partisipasi

masyarakat terhadap ketiga kegiatan yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

termasuk ke dalam kategori sedang. Tingkat partisipasi masyarkat dalam ketiga

[image:37.595.113.512.238.321.2] [image:37.595.113.511.508.613.2]
(38)

jaminan akan kelangsungan dan keberhasilan kegiatan upaya pengembangan

TWA Lau Debuk Debuk. Analisis SWOT

Kekuatan (Strenght)

Daya tarik utama kawasan TWA Lau Debuk Debuk adalah kolam yang

sekaligus tempat pemandian alam dengan sumber air panas yang mengandung

belerang yang mana dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Kawasan

Lau Debuk Debuk dekat dengan kaki Gunung Sibayak yang membuat suasana

menjadi sejuk yang juga dikelilingi dengan perbukitan. Disamping itu, kawasan

TWA Lau Debuk Debuk juga memiliki pemandangan alam yang indah serta udara

yang segar dan suasana nyaman.

Lokasi Lau Debuk Debuk juga merupakan salah satu tempat suci dan

keramat terbesar bagi penganut aliran kepercayaan masyarakat Karo. Penganutnya

disebut Kalak Pemena (Animisme). Pada hari tertentu menurut hari-hari Karo para penganut kepercayaan Pemena melakukan acara erpangir (mandi membersihkan diri dengan air bunga) di Lau Debuk Debuk. Hari erpangir ini bagi para penganut kepercayaan dianggap sebagai acara sakral. Acara erpangir serta tempat keramat di Lau Debuk Debuk ini bisa dijadikan sebagai komoditi wisata

religius.

Kelemahan (Weakness)

Kelemahan yang menjadi kendala pada objek wisata Lau Debuk Debuk

terutama adalah sarana dan prasarana yang kurang memadai. Hal ini dapat dilihat

dari toilet yang kurang perawatan dan kurangnya tempat bagi pengunjung untuk

(39)

dari pihak pengelola. Aroma dari belerang yang sangat menyengat menjadi

kelemahan dari lokasi ini. Banyak para pengunjung yang tidak tahan dengan

aroma air Lau Debuk Debuk karena aromanya yang menyengat. Berdasarkan

wawancara dengan pengelola, bahwa air tersebut yang dapat menyembuhkan

penyakit, karena air tersebut benar-benar mengandung belerang. Selain itu, yang

menjadi kelemahan dri kawasan ini adalah masalah kebersihan, yang menjadi

tolak ukur perhatian setiap pengunjung. Tidak tersedianya sarana air bersih juga

merupakan kelemahan dri kawasan ini yang dapat dijadikan pengunjung untuk

membersihkan diri setelah mandi air belerang.

Peluang (Opportunity)

TWA Lau Debuk Debuk merupakan objek wisata yang baik bagi orang

tua, anak muda maupun lansia yang dilakukan bersama keluarga atau teman.

Lokasi Lau Debuk Debuk terdapat di kaki Gunung Sibayak dan merupakan jalur

linntas alam untuk pendakian menuju gunung api Sibayak. Oleh sebab itu,

berpeluang untuk tempat peristirahatan bagi parapendaki untuk melepas

kepenatannya selama pendakian.

Dilihat dari jumlah daerah asal pengunjung Taman Wisata Alam Lau

Debuk Debuk memiliki peluang yang cukup baik untuk pengembangan dan

promosinya. Pengunjung berasal dari Kabanjahe, Berastagi, Pancurbatu, Medan,

Binjai, Jerman, dan Inggris. Menurut Diniyati (2002), semakin tersebarnya daerah

asal pengunjung memberikan dampak tersebarnya peluang terjaringnya

pengunjung dari kelompok lain atau sebaliknya pengunjung akan berkurang jika

objek wisata yang ditinjaunya tidak memuaskan. Dalam penyebaran informasi

(40)

dilakukan oleh pengunjung itu sendiri. Pengunjung mendapatkan informasi ini

dari teman dan juga keluarga.

Ancaman (Threat)

Ancaman yang bisa mempengaruhi kelangsungan kelestarian dan

eksistensi TWA Lau Debuk Debuk adalah adanya tempat-tempat pemandian air

panas yang dibuka oleh masyarakat/individu yang berdekatan dengan lokasi TWA

Lau Debuk Debuk. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana juga merupakan

ancaman dan sekaligus kelemahan bagi kawasan TWA Lau Debuk Debuk yang

menyebabkan berkurangnya pengunjung. Menurut Rangkuti (1997), strategi

pengembangan dapat berupa pengembangan pasar, peningkatan kualitas dan

[image:40.595.115.517.396.638.2]

kuantitas serta fasilitas lainnya.

Tabel 9. Ringkasan SWOT

Faktor-faktor strategi eksternal Faktor-faktor strategi internal

Peluang

- merupakan objek wisata yang baik bagi keluarga, dan anak muda baik dilakukan bersama keluarga atau teman

- merupakan jalur lintas alam untuk pendakian gunung Sibayak

- memiliki peluang menjadi rangkaian kunjungan wisata ke Air Terjun Sikulikap

Kekuatan

- merupakan panorama yang indah dengan kesejukan alam yang asri, dekat dengan kaki gunung Sibayak yang membuat suasana sejuk serta dikelilingi dengan perbuatan

- kawasan ekowisata Lau Debuk Debuk lebih kurang 8 Km dari kota Berastagi dengan waktu perjalanan sekitar 25 menit dengan menggunakan bus - air belerang yang masih asri dipercayai

masyarakat setempat sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit kulit Ancaman

- sarana dan prasarana yang kurang memadai

- ada cukup banyak tempat pemandian dijumpai di TWA Lau Debuk Debuk

Kelemahan

- sarana dan prasarana yang kurang memadai

- belum tersedianya toko souvenir sebagai salah satu daya tarik objek dan daya tarik wisata

Hasil keseluruhan yang telah dianalisis dengan berfokus pada teknik

analisis SWOT, maka dibuat ringkasan strategi yang dapat diambil dari analisis

(41)

kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Selain itu, dengan adanya daya tarik yang

dimiliki, penyebaran informasi di luar dan dalam daerah dapat terlaksana

mengingat daerah asal pengunjung yang cukup beragam.

Strategi WO merupakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk

memanfaatkan peluang. Kelemahan-kelemahan diminimalisir dengan cara

memperbaiki dan menambah fasilitas serta peningkatan kualitas dan kuantitas

sumberdaya manusia yang ada sehingga wisatawan akan lebih tertarik untuk

melakukan kunjungan.

Strategi ST merupakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk

mengatasi ancaman. Banyak daerah tujuan wisata yang bermotif sama

mengakibatkan adanya persaingan. Selain itu, perlu juga dilakukan perbaikan

fasilitas dan penataan yang lebih baik.

Strategi WT merupakan strategi yang mana berperan dalam

meminimalkan kelemahan guna menghindari ancaman. Melalui penataan kembali

fasilitas yang telah ada dan penambahan fasilitas sehingga diharapkan guna

meningkatkan mutu kawasan.

Strategi SO merupakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk

memanfaatkan peluang. Melalui penyebarluasan informasi tentang keunikan dan

keindahan alam di kawasan TWA Lau Debuk Debuk, peningkatan sarana dan

prasarana yang dipungut melalui restribusi dan juga penting disoroti lebih dalam

mengenai budaya serta kepercayaan masyarakat mengenai aroma air belerang Lau

(42)
[image:42.595.116.520.86.746.2]

Tabel 10. Analisis dengan menggunakan Matriks SWOT

Internal

Eksternal

Kekuatan

- merupakan objek wisata yang baik bagi keluarga, dan anak muda baik dilakukan bersama keluarga atau teman

- merupakan panorama yang indah dengan kesejukan alam yang asri, dekat dengan kaki gunung Sibayak yang membuat suasana sejuk serta dikelilingi dengan perbuatan

- air belerang yang masih

asri dipercayai masyarakat setempat sebagai obat untuk menyembuhkan

penyakit kulit

Kelemahan

- sarana dan prasarana yang kurang memadai - belum tersedianya

toko souvenir sebagai salah satu daya tarik objek dan daya tarik wisata

Peluang

- kawasan

ekowisata Lau Debuk Debuk lebih kurang 8 Km dari kota Berastagi dengan waktu perjalanan sekitar 25 menit dengan

menggunakan bus - merupakan jalur

lintas alam untuk pendakian gunung Sibayak

- memiliki peluang menjadi

rangkaian

kunjungan wisata ke Air Terjun Sikulikap

Strategi SO

- menyebarluaskan

informasi tentang keunikan dan keindahan alam di kawasa TWA Lau Debuk Debuk - peningkatan sarana dan

prasarana yang dipungut melalui restribusi - penting disoroti lebih

dalam mengenai budaya serta kepercayaan masyarakat mengenai aroma air belerang Lau Debuk Debuk

Strategi WO

- melakukan kegiatan upaya investasi baik dari swasta maupun pemerintah guna peningkatan sarana dan prasarana wisata

Ancaman

- kurangnya kebersihan - ada cukup banyak

tempat pemandian dijumpai di TWA Lau Debuk Debuk yang menjadi pesaing

Strategi ST

- melakukan perbaikan fasilitas dengan penataan yang baik

- membuat tempat sampah yang sesuai

Strategi WT

(43)

Hasil teknik analisis SWOT ditampilkan pada Tabel 10 secara keseluruhan

baik lingkungan eksternal guna peluang dan ancaman, maupun lingkungan

internal untuk kekuatan dan kelemahan, sekaligus interaksi antar dimensi-dimensi

tersebut dalam menemukan strategi bagi pengembangan TWA Lau Debuk Debuk.

Dari hasil matriks SWOT dapat dilihat secara garis besar bentuk alternatif

strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan TWA Lau Debuk Debuk.

Sedangkan aplikasinya adalah wewenang dari pihak pengelola yaitu pemerintah

serta masyarakat setempat juga ikut berperan serta dalam melestarikan keberadaan

(44)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. TWA Lau Debuk Debuk merupakan kawasan yang memiliki

keindahan alam yang menarik dengan kesejukan alam yang asri serta

memiliki tempat pemandian air panas yang terdapat di bawah kaki

gunung Sibayak yang bisa mengobati penyakit kulit dan memberikan

ketenangan bagi pengunjung.

2. Masyarakat merasa sudah mengerti dengan apa yang dilakukan dalam

upaya pengembangan TWA Lau Debuk Debuk sehingga tingkat

partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi

kegiatan pengembangan TWA Lau Debuk Debuk termasuk dalam

kategori sedang yakni masyarakat jarang hadir dalam kegiatan

tersebut.

3. Informasi mengenai keunikan alam serta khasiat dari air belerang yang

terdapat di kawasan TWA Lau Debuk Debuk disebarluaskan dengan

cara dari mulut ke mulut oleh pengunjung itu sendiri.

Saran

1. Semua pihak mengembangkan potensi dari TWA Lau Debuk Debuk

2. Perlunya peningkatan terhadap partisipasi semua pihak

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Arief, F. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Usaha Nasional. Surabaya.

Arikunto, S. 1997. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.

Damanik, J., dan Weber, H.F. 2006. Perencanaan Ekowisata: dari Teori ke Aplikasi. C.V ANDI OFFSET. Yogyakarta.

Daniel, M. 2002. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Bumi Aksara. Jakarta.

Davis dan Jhonson (1987) dalam N. Sulistiyono. 2007. Pengantar Ekotourisme. Di dalam Affandi O. Editor Buku Panduan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan. Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Desky, MA. 1999. Manajemen Perjalanan Wisata. Adicita Karya Nusa. Yogyakarta.

Ditjen PHKA Departemen Kehutanan. 2010. Taman Wisata Alam.

Djamali RA. 2000. Manajemen Usahatani. Jember: Departemen Pendidikan Nasional, Politeknik Pertanian Negeri Jember, Jurusan Manajemen Agribisnis

Driyamedia. 1996. Berbuat Bersama Berperan Setara. Driyamedia. Bandung.

Fandeli, C., dan Mukhlison. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Hadinoto, K. 1996. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata. UI. Jakarta.

Hakim, L. 2004. Dasar-Dasar Ekowisata. Bayumedia Publishing. Jatim.

Julia, B. 2004. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda. Yogyakarta.

Kodyat, H. 1996. Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indonesia. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Langkisau, 2009. Gunung Sibayak. [05 Nopember 2010]

(46)

Mabring, 2010. Wisata Gunung Sibayak. [05 Nopember 2010]

Mantra IB. 2004. Demografi Umum. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Saleh, W. 2000. Pengelolaan Perusahaan Bidang Ekowisata. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sormin, R. N. S. 2006. Persepsi, Sikap dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Kawasan Ekowisata Tangkahan. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Suharjito D. 2000. Hutan Rakyat di Jawa. Pemanfaatan oleh Masyarakat. Jakarta.

(47)

Lampiran 1. Karakteristik pengunjung

Tabel 1. Persentase responden menurut jenis kelamin

No Jenis kelamin Jumlah responden Persentase (%)

1 Laki-laki 36 36

2 Perempuan 64 64

Jumlah 100 100

Tabel 2. Persentase responden menurut kelas umur

No Umur (tahun) Jumlah responden Persentase (%)

1 < 25 24 24

2 25-30 29 29

3 > 30 47 47

[image:47.595.117.511.284.404.2]

Jumlah 100 100

Tabel 3. Persentase responden menurut daerah asal pengunjung

No Asal pengunjung Jumlah responden Persentase (%)

1 Kabanjahe 24 24

2 Berastagi 28 28

3 Pancurbatu 11 11

4 Medan 18 18

5 Binjai 15 15

6 Jerman 2 2

7 Inggris 2 2

Jumlah 100 100

Tabel 4. Persentase responden menurut pekerjaan pokok

No Pekerjaan pokok Jumlah responden Persentase (%)

1 Pelajar/Mahasiswa 18 18

2 Pegawai/Karyawan 44 44

3 Pedagang 38 38

Jumlah 100 100

Tabel 5. Persentase responden menurut motivasi pengunjung

No Motivasi kunjungan Jumlah responden Persentase (%)

1 Terapi kesehatan 41 41

2 Menikmati keindahan alam 32 32

3 Rekreasi 19 19

4 Melewatkan waktu 8 8

[image:47.595.112.514.620.702.2]

Jumlah 100 100

Tabel 6. Persentase responden nenurut intensitas kunjungan

No Intensitas kunjungan Jumlah responden Persentase (%)

1 1 kali 18 18

2 2 kali 7 7

3 3 kali 20 20

4 > 4 kali 55 55

(48)
[image:48.595.112.512.96.218.2]

Tabel 7. Rata-rata biaya perjalanan wisata pengunjung Zona Transportasi

PP

Konsumsi rekreasi

Lain-lain** Total***

Kabanjahe 20.000 20.000 5.000 45.000

Berastagi 18.000 20.000 5.000 43.000

Pancurbatu 10.000 20.000 5.000 35.000

Medan 25.000 25.000 5.000 55.000

Binjai 35.000 30.000 5.000 70.000

Keterangan :

**) harga karcis, dokumentasi ***) angka dibulatkan

Tabel 8. Kelemahan terhadap kawasan TWA Lau Debuk-debuk

No Kelemahan Jumlah responden Persentase (%)

1 Masalah kebersihan 26 26

2 Sarana dan prasarana kurang memadai

44 44

3 Bau belerang yang

menyengat

16 16

4 Kurang pemandu wisata 14 14

Jumlah 100 100

Tabel 9. Ancaman terhadap TWA Lau Debuk-Debuk

No Ancaman Jumlah responden Persentase (%)

1 Kebersihan lokal 61 61

2 Hilangnya keindahan alam 39 39

Jumlah 100 100

Tabel 10. Objek wisata yang paling diminati

No Objek yang disukai Jumlah responden Persentase (%)

1 Pemandian air panas 26 26

2 Pemandangan alam 23 23

3 Kebun buah petik sendiri 15 15

4 Tracking 20 20

5 Acara religi 4 4

6 Keyboard 12 12

[image:48.595.118.510.577.749.2]

Jumlah 100 100

Tabel 11. Data pengunjung TWA Lau Debuk-Debuk

No Nama responden Jenis kelamin Umur (tahun)

Asal responden

1 Ulina Bangun Perempuan 26 Berastagi

2 Ame Tarigan Perempuan 32 Medan

3 Lia Sinurat Perempuan 25 Medan

4 Ardi Saragih Laki-laki 24 Medan

5 Melias Karo Perempuan 22 Kabanjahe

6 Ukurenta Sembiring Perempuan 32 Pancurbatu 7 Prananta Sembiring Laki-laki 28 Berastagi

8 Dastanta Bangun Laki-laki 28 Kabanjahe

9 Edi Sembiring Laki-laki 27 Berastagi

10 Margaret Pinem Perempuan 21 Berastagi

(49)

12 Muhammad Laki-laki 27 Binjai

13 Kartika Perempuan 24 Binjai

14 Erika Perempuan 28 Berastagi

15 Opung Saragih Perempuan 68 Berastagi

16 Hernita Perempuan 24 Kabanjahe

17 Boy Laki-laki 54 Berastagi

18 Yetty Pangaribuan Perempuan 22 Berastagi

19 Dewi Perempuan 28 Medan

20 Rani Perempuan 34 Pancurbatu

21 Nisa Perempuan 27 Medan

22 Runggunta Perempuan 37 Kabanjahe

23 Melisa Perempuan 26 Kabanjahe

24 Ibu Pinem Laki-laki 45 Berastagi

25 Bp. Irwan Pinem Laki-laki 47 Kabanjahe

26 Monika Perempuan 22 Berastagi

27 Lisma Perempuan 23 Berastagi

28 Loren Perempuan 25 Binjai

29 Adi Laki-laki 33 Pancur batu

30 Andi Silitonga Laki-laki 35 Pancur batu

31 Dian yodana Perempuan 36 Binjai

32 Iqbal Laki-laki 34 Binjai

33 Ipeh Perempuan 25 Pancur batu

34 Cici Marpaung Perempuan 28 Pancur batu

35 Mike Laki-laki 29 Inggris

36 Jane Perempuan 27 Inggris

37 Ronal Laki-laki 31 Berastagi

38 Ibu Agnes Sembiring Perempuan 47 Medan 39 Bp. Jenda ukur Karo Perempuan 49 Medan

40 Robert Karo Laki-laki 22 Medan

41 Arihta Karo Perempuan 20 Medan

42 Opung Sinulingga Perempuan 81 Binjai 43 Gomgom Silitonga Laki-laki 48 Binjai

44 Gustav Karo Laki-laki 46 Binjai

45 Mordekai Karo Laki-laki 49 Binjai

46 Bp. Endakrina Laki-laki 52 Kabanjahe

47 Ibu Srikartika Karo Perempuan 51 Kabanjahe

48 Ibu Susanti Perempuan 49 Kabanjahe

49 Menwa Perempuan 23 Berastagi

50 Rika Perempuan 25 Berastagi

51 Jessica Perempuan 35 Jerman

52 Diana Perempuan 37 Jerman

53 Rut Perempuan 27 Kabanjahe

54 Rasta Laki-laki 28 Kabanjahe

55 Mena Perempuan 39 Pancur batu

56 Rina Perempuan 41 Kabanjahe

57 Roy Laki-laki 42 Pancur batu

58 Budi Laki-laki 22 Kabanjahe

59 Civita Perempuan 27 Kabanjahe

60 Hardi Laki-laki 23 Berastagi

61 Erik Laki-laki 23 Berastagi

62 Wendi Laki-laki 31 Berastagi

(50)

65 Priska Perempuan 28 Kabanjahe

66 Asmadi Laki-laki 27 Kabanjahe

67 Gebi Perempuan 30 Kabanjahe

68 Nurul Perempuan 20 Binjai

69 Yunita Perempuan 26 Binjai

70 Ika Tarigan Perempuan 24 Binjai

71 Mina Perempuan 42 Binjai

72 Rudi Laki-laki 34 Berastagi

73 Yuni Perempuan 32 Berastagi

74 Yolan Perempuan 24 Berastagi

75 Kiki Laki-laki 22 Berastagi

76 Zupri Laki-laki 25 Medan

77 Menak Perempuan 28 Medan

78 Risa Perempuan 31 Medan

79 Parida Perempuan 46 Medan

80 Yuyun Perempuan 34 Berastagi

81 Eko Laki-laki 46 Kabanjahe

82 Susi Perempuan 47 Berastagi

83 Uni Perempuan 49 Berastagi

84 Rita Perempuan 52 Pancurbatu

85 Rapika Perempuan 53 Medan

86 Riris Perempuan 72 Kabanjahe

87 Minah Perempuan 79 Berastagi

88 Apriyanto Laki-laki 24 Kabanjahe

89 Mbak ipeh Perempuan 65 Kabanjahe

90 Yuri Laki-laki 46 Kabanjahe

91 Yika Perempuan 22 Kabanjahe

92 Neneng Perempuan 23 Pancurbatu

93 Nunul Perempuan 25 Binjai

94 Rama Perempuan 27 Binjai

95 Rostika Perempuan 24 Kabanjahe

96 Gindar Laki-laki 56 Medan

97 Gugun Laki-laki 36 Medan

98 Dinda Perempuan 34 Medan

99 Abdi Laki-laki 23 Medan

100 Yasa Laki-laki 25 Berastagi

[image:50.595.114.519.578.747.2]

Lampiran 2. Karakteristik Masyarakat

Tabel 12. Data responden desa Semangat Gunung No Nama

responden

Umur Jenis kelamin

Pekerjaan Pendidikan terakhir

Pendapatan (Rp/bulan) 1 K. Ginting 46 Lak-laki Petani SMA 2.000.000

2 Adi Pinem 34 Lak-laki Petani S1 3.000.000

3 Rahmat 25 Lak-laki Petani SMA 1.500.000

4 Ukurta 56 Lak-laki Petani SMP 2.500.000

5 Minah 47 Perempuan Petani SMP 2.000.000

6 Rina 42 Perempuan Pedagang SMA 1.800.000

7 I. Ginting 38 Lak-laki Petani S1 3.000.000

8 Kamal 67 Lak-laki Pedagang SD 1.800.000

9 Rukunta 24 Perempuan Petani SD 800.000

10 Mbela 36 Lak-laki Petani SD 1.000.000

(51)

12 P. Pinem 40 Lak-laki Petani SD 2.500.000 13 S. Tarigan 41 Perempuan Wiraswasta S1 2.500.000

14 Damenta 44 Lak-laki Petani SD 1.500.000

15 Nd. Rina 29 Perempuan Petani SMA 1.800.000 16 Erliana 26 Perempuan Pedagang SMA 800.000 17 Supriadi 29 Lak-laki Wiraswasta SMA 1.800.000

18 Miko 25 Lak-laki Petani SMA 2.500.000

19 Maya 33 Perempuan Pedagang SMA 500.000

20 Vina 38 Perempuan Petani SMA 2.500.000

21 Dika 42 Lak-laki Petani SMA 1.800.000

22 Murni 47 Perempuan Petani SMA 1.000.000

23 Ninta 45 Perempuan Petani SMA 1.800.000

24 Edi 52 Lak-laki Petani SMA 2.000.000

25 Prananta 58 Lak-laki Wiraswasta S1 6.500.000

26 Siska 34 Perempuan Petani SMP 800.000

27 Riris 51 Perempuan Petani SMA 1.800.000

28 F. Sitepu 61 Perempuan Wiraswasta SMA 4.000.000

29 Rinta 24 Perempuan Petani SMP 800.000

30 Korda 27 Lak-laki Pedagang SMA 1.800.000

31 Simbelasa 34 Lak-laki Petani SD 1.800.000 32 P. Karo 37 Perempuan Petani SMA 1.800.000

33 Rikun 38 Perempuan Petani SMA 2.000.000

34 Tina 27 Perempuan Petani SMA 1.800.000

35 G. Karo 81 Perempuan Petani SD 700.000

36 I. Pinem 62 Lak-laki Petani SMP 2.000.000

37 Hidup 56 Lak-laki Petani SMP 1.800.000

38 Minatta 47 Perempuan Petani SMA 1.500.000

39 Hagai 41 Lak-laki Petani SMA 1.800.000

40 J. Tarigan 38 Lak-laki Petani SMA 1.000.000 41 H. Pinem 42 Perempuan Petani SMA 1.000.000 42 D. Ginting 40 Perempuan Petani SMP 1.800.000 43 P. Karo 39 Lak-laki Wiraswasta SMA 2.300.000

44 Rinta 36 Perempuan Petani S1 2.500.000

45 Ginta 37 Lak-laki Petani SMP 1.800.000

46 Guguh 50 Lak-laki Petani SMP 2.500.000

47 Jenda 51 Perempuan Petani SMP 2.500.000

48 Y. Ginting 36 Lak-laki Wiraswasta S1 3.500.000 49 H. Karo 37 Perempuan Petani SMA 1.800.000 50 H. Pinem 39 Perempuan Petani SMA 2.500.000

51 G. Karo 38 Lak-laki Petani SMP 2.500.000

52 Elisa Karo 28 Perempuan Pedagang SMA 1.800.000 53 P. Karo 31 Perempuan Petani SMA 1.800.000

54 Hiskia 33 Lak-laki Petani SMP 1.500.000

55 Roman 31 Perempuan Petani SMA 1.800.000

56 Rita Karo 46 Perempuan Petani SMP 2.500.000

57 Guntir 44 Lak-laki Petani SMP 700.000

58 J. Ginting 53 Laki-laki Wiraswasta SMA 1.800.000 59 E. Bangun 46 Perempuan Petani S1 6.000.000 60 A. Karo 46 Perempuan Petani SMA 3.500.000

Jumlah 122.000.000

[image:51.595.116.515.87.733.2]

Rata-rata 2.033.000

(52)

No Nama responden

Umur Jenis kelamin

Pekerjaan Pendidikan terakhir

Pendapatan (Rp/bulan) 1 R. Sinuhaji 62 Lak-laki Petani SMP 2.000.000

2 Dani 45 Lak-laki Petani SMA 1.800.000

3 Artinta 46 Lak-laki Wiraswasta SMA 700.000

4 R. Purba 43 Lak-laki Petani SMP 2.000.000

5 J. Tarigan 42 Lak-laki Pedagang SMA 1.800.000

6 S. Karo 24 Perempuan Petani SD 1.500.000

7 J. Sinuhaji 46 Perempuan Petani SMA 1.800.000

8 Ginta 47 Perempuan Petani SMP 1.000.000

9 Dita 48 Perempuan Petani SMA 2.000.000

10 R. Ginting 46 Lak-laki Petani S

Gambar

Tabel 1. Perumusan strategi dengan matrik SWOT
Tabel 2. Distribusi responden menurut kelas umur
Tabel 3. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan
Tabel 4. Distribusi responden menurut mata pencaharian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Disarankan bagi perhutani tidak menghentikan program agroforestry demi kesejahteraan hidup masyarakat di sekitar kawasan hutan, perlunya bimbingan dan pengawasan kepada masyarakat

Pengelolaan lingkungan binaan wisata bunga pada kawasan daerah ekowisata kota Batu, Malang, adalah merupakan suatu model konsep pengelolaan lingkungan yang baik yang dikelola

wisata, masyarakat sekitar yang berada di kawasan Masjid Loram Kulon Jati. Kudus untuk memperoleh informasi dan data yang berkaitan

Pengelolaan lingkungan binaan wisata bunga pada kawasan daerah ekowisata kota Batu, Malang, adalah merupakan suatu model konsep pengelolaan lingkungan yang baik yang dikelola

Pendidikan atau pengembangan minat masyarakat sekitar untuk belajar dan mengelola sangat penting untuk keberlangsungan kawasan, banyak geopark yang berhasil menjalankan

Pengembangan Kawasan Ekowisata Dalam Roadmap Sistem Inovasi Daerah SIDA Kabupaten Labuhanbatu Melalui Pariwisata Berbasis Masyarakat Sefri Doni, Andjar Prasetyo 2017 dengan

Data hasil penelitian tentang jenis-jenis tumbuhan paku Pteridophyta di kawasan Goa Batu Kelurahan Taba Jemekeh akan disosialisasikan kepada masyarakat sekitar Kawasan Goa Batu