ANALISIS KONSEP ZEN DALAM NOVEL
“THE HARSH CRY OF THE HERON”
KARYA LIAN HEARN
LIAN HEARN NO SAKUHIN NO “THE HARSH CRY OF THE HERON”
NO SHOUSETSU NI OKERU ZEN NO
GAINEN NO BUNSEKI
050708024
ELLYS PARINDURI
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana
Bidang ilmu sastra jepang
Pembimbing I Pembimbing II
Adriana Hasibuan,SS M.Hum Prof.Drs. Hamzon Situmorang, M.S.Ph.D
NIP. 19620727 198703 0 205 NIP. 19580704 198412 1 001
Program Studi Bahasa Jepang ketua program studi
NIP. 19580704 198412 1 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT yang Maha Sempurna, karena atas Rahmat dan Ridho –Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi yang berjudul Analisis Konsep Zen dalam Novel “The Harsh Cry of The Heron” Karya Lian Hearn ( Lian Hearn no sakuhin no “The Harsh Cry of The Heron” No Shosetsu Ni Okeru Zen No Gainen No Bunseki) ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan pada Fakultas Sastra Program Studi Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih, penghargaan, serta penghormatan yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan studi dan skripsi ini, antara lain kepada:
1. Bapak Prof. Drs. Syaifuddin M.A, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sastra Univeritas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Drs. Hamzon Situmorang M.S, Ph.D, selaku Ketua Program Studi S-1 Sastra Jepang Sumatera Utara sekaligus dosen pembimbing II penulis, yang telah menyediakan waktu disela –sela kesibukannya dan jadwalnya yang padat untuk membimbing dan memberi nasehat kepada penulis intuk menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Adriana Hasibuan SS, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I, yang telah menyediakan waktu disela-sela kesibukannya untuk membimbing dan
tak terbalaskan, dan hanya Allah yang dapat membalasnya dengan yang terbaik. Amin ya Rabb.
4. Dosen Penguji Ujian Skripsi, yang telah menyediakan waktu untuk membaca dan menguji skripsi ini. Terima Kasih juga penulis ucapkan kepada semua Dosen Pengajar Program Studi S-1 Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik. Terima Kasih juga penulis ucapkan untuk Bang Amran dan Bang Mistam yang juga telah banyak membantu penulis.
5. Ayahanda Alm.Amrin Parinduri yang telah tiada namun kenangan tentangnya yang menyemangatkan penulis untuk segera menyelesaikan Skripsi ini, juga Ibunda ku Tersayang yang telah banyak membantu penulis yang dengan setia merawat dan mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada penulis, sehingga penulis selalu bersemangat dan percaya diri.
6. Suamiku Tercinta, H. Muhammad Irfandi, ST yang dengan setia menemani penulis hingga larut malam ketika penulis mengerjakan Skripsi ini. Dan juga selalu menyemangati penulis ketika penulis harus menunggu dosen berjam-jam lamanya. Semoga cinta kita selalu di Ridhoi ALLAH SWT, Amin.. 7. Abangdaku yang nun jauh di Semarang, Terima kasih atas doanya kepada
adiknya ini sehingga dapat menyelesaikan Skripsi ini, Terima Kasih juga buat Kakakku yang Ndut dan Bang Irfa yang Kibo yang tetap memberikan
8. Teman-teman penulis sesama mahasiswa Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara Stambuk 2005, yang selalu gokil dan tetap semangat juga menguatkan satu sama lain dalam menyelesaikan studi serta telah membagi begitu banyak hal selama menjalani proses belajar di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
9. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Skripsi ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, termasuk juga dalam penulisan skripsi ini. Namun penulis tetap mencari kesempurnaan tersebut dalam suatu nilai pekerjaan yang dilakukan secara maksimal. Maka dengan berangkat dari prinsip itu jugalah, penulis berusaha merampungkan skripsi penulis tersebut.
Medan, Oktober 2009 Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………..i
DAFTAR ISI……….iv
BAB I PENDAHULUAN………...1
1.1.Latar Belakang Masalah………..1
1.2.Perumusan Masalah……….6
1.3.Ruang Lingkup Pembahasan………...7
1.4.Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori………8
1.4.1 Tinjauan Pustaka………8
1.4.2 Kerangka teori………...10
1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian……….13
1.5.1 Tujuan………...13
1.5.2 Manfaat Penelitian………13
1.6. Metodologi Penelitian………..14
BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP ZEN DI JEPANG DAN NOVEL “THE HARSH CRY OF THE HERON” 2.1 Sejarah Perkembangan Zen………15
2.1.1 Sejarah Munculnya Zen………..15
2.1.2 Perkembangan Zen di Jepang……….17
2.2 Konsep umum Zen dalam Bushido...19
2.3.2 Setting dalam Novel “The Harsh Cry of The Heron”……25 2.3.2.1 Setting Tempat, Waktu dan Sosial………25
2.3.3 Pendekatan Semiotik, Sosiologi, Historis pada Novel The Harsh Cry of The Heron………..26
2.4 Biografi Pengarang………31 BAB III ANALISIS KONSEP ZEN DALAM NOVEL
THE HARSHOFTHE HERON
3.1 Sinopsis Cerita………..33
3.2 Analisis Konsep Zen Mengenai Kesetiaan dan Kesederhanaan para tokoh Utama dalam novel the Harsh Cry of The Heron……….36
3.2.1 Analisis Tokoh Takeo……….36 3.2.2 Analisis Tokoh Shigeru………..51 3.2.3 Analisis Tokoh Shizuka………..55 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan……….. 4.2. saran………. DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Analisis konsep Zen dalam novel The Harsh Cry of The Heron
karya lian hearn. Skripsi ini menggunakan pendekatan sosiologi, histories, dan semiotic
dalam penulisannya. Pendekatan sosiologi diperlukan dalam penelitian ini karena karya
sastra lahir dari msyarakat dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Pendekatan
histories diperlukan dalam penelitian ini karena melalui pendekatan histiris, penulis akan
menganalisis tentang perkembangan Zen dalam masyarakat Jepang yang tergambar dalam
novel The Harsh Cry of The Heron, bagaimana situasi zaman pada masa itu (awal zaman
Edo), dan bagaimana sejarah muncul dan berkembangnya ajaran Zen di Jepang. Sedangkan
Semiotika diperlukan untuk menjelaskan dan memperlihatkan tanda-tanda secara
mendalam dalam novel the Harsh Cry of The Heron.
Karya sastra adalah sarana bagi seseorang untuk menyampaikan pemikiran,
pandangan dan kreatifitasnya dengan tujuan untuk menghibur, memberitahu atau
mempengaruhi pembacanya tentang suatu hal. Novel merupakan sebuah karya fiksi yang
menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan dan bersifat
imajiner.
Novel The Harsh Cry of The Heron karya lian hearn ini ini mengandung konsep
kesetiaan yang diwujudkan dalam sikap untuk membalaskan dendam tuan (adauchi) dan
bukannya ikut mati dalam kesia-siaan mengikuti kematian sang tuan. Dalam novel ini juga
ditemui kemiripan samurai dan ninja. Dalam novel ini ada ditampilkan sosok seorang
samurai yang memiliki kemampuan yang dimiliki oleh ninja, yaitu dari kalangan Tribe,
salah satu contohnya adalah Takeo yang memiliki kemampuan menghilangkan diri,
suara-suara di sekelilingnya. Novel ini juga memaparkan ajaran Zen dalam kehidupan takeo
dan Shigeru.
Ajaran zen bagi kelas samurai dijadikan pedoman moral dan pelatihan mental dalam
menghadapi kehidupan mereka yang keras dan penuh tekanan, karena ajaran Zen
merupakan doktrin pembersihan jiwa yang yang keras, menekankan disiplin mental dan
hidup yang keras. Tapi hal itu sesuai dengan kehidupan samurai.
Ajaran Zen tidak dapat dipahami secara rasional atau intelektual tetapi pemahaman
secara intuitif atau pengalaman langsung.
konsep Zen dalam novel The Harsh Cry of The Heron terlihat melalui
tokoh-tokohnya, yaitu:
• Pada tokoh Takeo, Diantara para tokoh yang ada dalam novel The Harsh Cry
of The Heron ini tokoh Takeo lah yang dominant paling banyak menganut
konsep Zen dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya dari cara bertindak
dalam mengambil keputusan, Takeo selalu berpikir secara tenang dan matang
dan jauh dari keputusan akan kekerasan dan pembantaian. Sehingga Tiga
Negara yang dipimpinnya pun aman dan damai. Selain itu Takeo selalu
berpikir positif kepada semua orang, Takeo tidak pernah membeda-bedakan
status orang karena Takeo berpikir tidak secara dualisme sebagimana yang
telah diajarkan dalam konsep Zen. Dalam kehidupan religiusnya Takeo tidak
menentang ajaran asing masuk dalam negaranya, hanya saja Takeo tidak
percaya kepada agama yang membunuh orang lain itu merupakan hal yang
biasa, sangat bertolak belakang dalam pemikirannya dan dalam konsep Zen
belajar melukis agar mendapatkan ketenangan jiwa tanpa harus memikirkan
lagi masalah duniawi.
• Pada tokoh shigeru, Konsep zen juga turut mempengaruhi dalam cara berpikir
dan bertindak Shigeru dalam kehidupan sehari-harinya, misalnya ketenangan
jiwanya dalam setiap menghadapi masalah. Selain itu konsep Zen turut
mempengaruhi shigeru dalam pembuatan Taman yang dilakukannya sendiri.
Taman itu adalah salah satu konsep estetika yang berpengaruh terhadap Zen.
• Pada tokoh Shizuka, Konsep Zen turut mempengaruhi cara berpikir Shizuka
tentang kesetiaannya kepada pemimpinnya Lord Takeo. Bahkan untuk
menunjukkan kesetiaannya ishizuka menyarankan untuk membunuh anak
kandungnya sendiri yang telah berani berkhianat kepada Takeo. Namun pada
akhirnya Shizuka memutuskan untuk tinggal di biara dan mengabdikan
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Analisis konsep Zen dalam novel The Harsh Cry of The Heron
karya lian hearn. Skripsi ini menggunakan pendekatan sosiologi, histories, dan semiotic
dalam penulisannya. Pendekatan sosiologi diperlukan dalam penelitian ini karena karya
sastra lahir dari msyarakat dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Pendekatan
histories diperlukan dalam penelitian ini karena melalui pendekatan histiris, penulis akan
menganalisis tentang perkembangan Zen dalam masyarakat Jepang yang tergambar dalam
novel The Harsh Cry of The Heron, bagaimana situasi zaman pada masa itu (awal zaman
Edo), dan bagaimana sejarah muncul dan berkembangnya ajaran Zen di Jepang. Sedangkan
Semiotika diperlukan untuk menjelaskan dan memperlihatkan tanda-tanda secara
mendalam dalam novel the Harsh Cry of The Heron.
Karya sastra adalah sarana bagi seseorang untuk menyampaikan pemikiran,
pandangan dan kreatifitasnya dengan tujuan untuk menghibur, memberitahu atau
mempengaruhi pembacanya tentang suatu hal. Novel merupakan sebuah karya fiksi yang
menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan dan bersifat
imajiner.
Novel The Harsh Cry of The Heron karya lian hearn ini ini mengandung konsep
kesetiaan yang diwujudkan dalam sikap untuk membalaskan dendam tuan (adauchi) dan
bukannya ikut mati dalam kesia-siaan mengikuti kematian sang tuan. Dalam novel ini juga
ditemui kemiripan samurai dan ninja. Dalam novel ini ada ditampilkan sosok seorang
samurai yang memiliki kemampuan yang dimiliki oleh ninja, yaitu dari kalangan Tribe,
salah satu contohnya adalah Takeo yang memiliki kemampuan menghilangkan diri,
suara-suara di sekelilingnya. Novel ini juga memaparkan ajaran Zen dalam kehidupan takeo
dan Shigeru.
Ajaran zen bagi kelas samurai dijadikan pedoman moral dan pelatihan mental dalam
menghadapi kehidupan mereka yang keras dan penuh tekanan, karena ajaran Zen
merupakan doktrin pembersihan jiwa yang yang keras, menekankan disiplin mental dan
hidup yang keras. Tapi hal itu sesuai dengan kehidupan samurai.
Ajaran Zen tidak dapat dipahami secara rasional atau intelektual tetapi pemahaman
secara intuitif atau pengalaman langsung.
konsep Zen dalam novel The Harsh Cry of The Heron terlihat melalui
tokoh-tokohnya, yaitu:
• Pada tokoh Takeo, Diantara para tokoh yang ada dalam novel The Harsh Cry
of The Heron ini tokoh Takeo lah yang dominant paling banyak menganut
konsep Zen dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya dari cara bertindak
dalam mengambil keputusan, Takeo selalu berpikir secara tenang dan matang
dan jauh dari keputusan akan kekerasan dan pembantaian. Sehingga Tiga
Negara yang dipimpinnya pun aman dan damai. Selain itu Takeo selalu
berpikir positif kepada semua orang, Takeo tidak pernah membeda-bedakan
status orang karena Takeo berpikir tidak secara dualisme sebagimana yang
telah diajarkan dalam konsep Zen. Dalam kehidupan religiusnya Takeo tidak
menentang ajaran asing masuk dalam negaranya, hanya saja Takeo tidak
percaya kepada agama yang membunuh orang lain itu merupakan hal yang
biasa, sangat bertolak belakang dalam pemikirannya dan dalam konsep Zen
belajar melukis agar mendapatkan ketenangan jiwa tanpa harus memikirkan
lagi masalah duniawi.
• Pada tokoh shigeru, Konsep zen juga turut mempengaruhi dalam cara berpikir
dan bertindak Shigeru dalam kehidupan sehari-harinya, misalnya ketenangan
jiwanya dalam setiap menghadapi masalah. Selain itu konsep Zen turut
mempengaruhi shigeru dalam pembuatan Taman yang dilakukannya sendiri.
Taman itu adalah salah satu konsep estetika yang berpengaruh terhadap Zen.
• Pada tokoh Shizuka, Konsep Zen turut mempengaruhi cara berpikir Shizuka
tentang kesetiaannya kepada pemimpinnya Lord Takeo. Bahkan untuk
menunjukkan kesetiaannya ishizuka menyarankan untuk membunuh anak
kandungnya sendiri yang telah berani berkhianat kepada Takeo. Namun pada
akhirnya Shizuka memutuskan untuk tinggal di biara dan mengabdikan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Istilah “sastra” dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada
semua masyarakat meskipun secara sosial, ekonomi, dan keagamaan keberadaannya
tidak merupakan keharusan, (Soeratno dalam Pradopo 2001 : 9). Ini berarti sastra dapat
masuk dalam bidang kehidupan manusia atau sastra itu merupakan gejala yang
universal. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Boulton dalam Aminuddin (2000 : 37)
mengungkapkan, bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan dan
paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga
mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin,
baik berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai
macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas hidup ini.
Sastra memiliki beberapa jenis (genre) dan ragam. Jenis-jenis (genre) sastra
meliputi puisi, prosa, dan drama. Sastra prosa mempunyai ragam yaitu, cerpen, novel
dan roman. Novel menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1998 : 9) berasal dari bahasa
Itali novella, secara harafiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan
kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’. Menurut Nurgiyantoro
(1998 : 4) novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang
berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui
berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, dan penokohan, latar, sudut
Berdasarkan pengertian di atas novel itu merupakan cerita rekaan atau cerita
khayalan, disebabkan novel itu tidak berdasarkan pada kebenaran sejarah. Dalam novel,
menceritakan tentang berbagai masalah kehidupan manusia, yaitu bagaimana interaksi
dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya
dengan Tuhan. Bila bicara tentang kehidupan dan pengalaman manusia, sebuah novel
tidak terlalu asing dengan kehidupan sebagaimana yang kita kenal atau kita alami.
Namun dalam ceritanya, sebuah karya fiksi seperti novel tidak sama betul dengan
kehidupan, apa yang diceritakan dalam fiksi mungkin tidak pernah terjadi dan tidak
akan pernah terjadi (Semi, 1993 : 31).
Sastra terdiri dari unsur-unsur yang membangun suatu karya sastra, yaitu unsur
intrinsik dan ekstrinsik. Demikian halnya juga dalam sebuah novel, terdapat unsur
intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang turut
serta membangun cerita pada peristiwa, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang
penceritaan, bahasa, gaya bahasa, dan sebagainya.
Unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi
secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra
(Burhan, 1998 : 23). Unsur-unsur ekstrinsik menurut Wellek dan Warren dalam
Nurgiyantoro (1998 : 24) antara lain, keadaan subjektivitas individu pengarang yang
memiliki sikap, keyakinn, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan
mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya. Pendek kata, meliputi unsur biografi
pengarang, psikologi, keadaan lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan
Di Jepang sendiri, sebagai salah satu negara yang memiliki karya-karya sastra
yang terkenal di dunia, juga mengenal novel sebagai salah satu genre sastranya. Dalam
bahasa Jepang novel disebut dengan shosetsu. Pengertian shosetsu menurut Kawabara
Takeo dalam Muhammad Pujiono (2002 : 3) adalah novel yang menggambarkan
kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat yang lebih menitikberatkan kepada tokoh
manusia (peran) di dalam karangannya daripada kejadiannya.
Salah satu hasil karya sastra yang berupa novel adalah novel yang berjudul “The
Harsh Cry of the Heron” yang ditulis oleh Lian Hearn. Novel ini menceritakan tentang
perebutan kekuasaan antar klan (suku atau kelompok samurai), yaitu klan otori, kaum
samurai yang berasal dari kaum atau klan otori yang memperjuangkan tanah
kekuasaannya di tengah-tengah perebutan kekuasaan yang sedang terjadi antar klan
pada awal abad 17 sampai akhir abad 18.
Awal penceritaan kisah klan otori ini dimulai saat seorang pemuda yang tinggal
di antara kaum Heiden yang bernama Tomasu menemukan kehidupannya yang tiba-tiba
berubah pada suatu hari. Ketika ia pergi ke hutan yang berada di sekeliling desanya,
saat itu sedang terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Iida Sadamu. Maklum saja,
pada awal abad 17 sampai akhir abad 18 ini sedang terjadi pelebaran daerah kekuasaan
oleh kaum-kaum yang berkuasa walaupun dengan menempuh cara memusnahkan
kaum-kaum yang ada. Hal ini dilakukan agar nantinya tidak ada sisa-sisa kaum yang
dibantai yang mempunyai kesempatan untuk membalas dendam terhadap kaum yang
membantai. Pemuda yang beruntung lepas dari pembantaian kaumnya itu bernama
Tomasu. Saat bersembunyi dari kejauhan untuk melihat kondisi desanya, ia ditolong
Tomasu merupakan anak yang memiliki darah dari 3 klan yang berbeda. Ayahnya
berasal dari kaum Kikuta, ibunya dari kaum Heiden, sedangkan neneknya berasal dari
klan otori. Di kemudian hari melalui pencerahan yang diberikan guru dan pamannya
(Lord Otori Shigeru) dia akan menemukan banyak kelebihan yang diwariskan oleh
masing-masing darah yang mengalir dalam dirinya, dan bakat-bakat atau kelebihan ini
akan sangat membantunya dalam usaha menguasai Jepang. Wujud fisik Tomasu amat
mirip dengan adik Lord Otori Shigeru yang bernama Lord Otori Takeshi yang sudah
meninggal, oleh karena itu maka Lord Otori Shigeru mengangkat Tomasu menjadi anak
angkatnya dan diberi nama Lord Otori Takeo.
Meskipun tokoh-tokoh dalam kisah yang ada dalam novel ini adalah fiktif dan
merupakan cerita rekaan pengarang, namun fakta-fakta historis tentang kehidupan dan
perebutan kekuasaan antar penguasa yang terdapat di dalamnya adalah benar.
Uniknya novel ini bercerita tentang samurai dalam kehidupan dan kebudayaan
Jepang, tetapi ditulis oleh seorang penulis wanita berkebangsaan Inggris yang tinggal di
Australia yang bernama Lian Hearn atau Gillian Rubinstein.
Ajaran Zen merupakan dasar dari tindakan dan cara berpikir para samurai
(prajurit). Dalam novel The Harsh Cry of the Heron banyak bercerita tentang
kehidupaan samurai dan pertikaian-pertikaian yang sering terjadi di antara mereka
untuk mempertahankan kehormatan diri mereka. Para samurai dalam mengambil
tindakan dan berfikir selalu menggunakan pola fikir menurut ajaran zen, sehingga
ajaran Zen sudah pasti banyak diungkapkan dan dijelaskan dalam novel tersebut.
Zen yang merupakan salah satu sekte Budha yang terkenal, masuk ke Jepang dari
pendeta Zen yang terkenal, yaitu Eisei (1141-1215) dan Dogen (1200-1253)
menyebarkannya ke Jepang. Mereka berdua adalah pelopor berkembangnya Zen di
Jepang. Ajaran Zen dikatakan sangat diminati oleh kalangan militer atau bushi
(samurai), terutama pada periode Kamakura dan Muromachi. Hal ini disebabkan pada
masa itu sering terjadi peperangan untuk memperebutkan kekuasaan di antara para
penguasa militer, sehingga para prajurit atau samurai sangat membutuhkan suatu agama
yang kuat, yang meneguhkan mental dan memuaskan aspirasi spiritual mereka di
masa-masa penuh pergolakan. Agama yang sesuai dengan keinginan mereka (samurai)
tersebut adalah agama Budha aliran Zen. Ajaran Zen tersebut mengajarkan suatu
doktrin pembersihan jiwa yang keras dan disiplin diri yang tegas, namun doktrin ini
cocok dengan hati para samurai. Keberadaan Zen tetap bertahan dan diminati oleh
semua kalangan masyarakat Jepang pada saat itu hingga masuk zaman Edo.
Ajaran atau konsep Zen yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya dalam novel
tersebut, menarik bagi saya untuk diteliti lebih lanjut. Bagaimana ajaran atau konsep
Zen dalam novel The Harsh Cry of the Heron, dan saya akan mencoba membahasnya
lebih luas lagi dalam skripsi dengan judul “ANALISIS KONSEP ZEN DALAM
NOVEL THE HARSH CRY OF THE HERON”. Konsep Zen disini mengenai
kesetiaan dan pengabdian diri yaitu dari bawahan ke atasan, anak ke orang tua,
istri ke suami, dan seorang suami ke istri, suami ke keluarganya dalam novel “The
1.2 Perumusan Masalah
Agama Budha aliran Zen memang berasal dari Cina, tetapi lebih berkembang di
Jepang. Bahkan ajaran Zen tetap dipertahankan hingga sekarang dan memberikan
sumbangan yang berarti terhadap mental dan moral masyarakat Jepang sekarang ini.
dalam novel “The Harsh Cry of the Heron” menceritakan ajaran-ajaran Zen serta
hubungannya dengan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel tersebut.
Seperti apa konsep-konsep Zen yang terealisasikan oleh para tokoh cerita yang
terdapat dalam novel “The Harsh Cry of the Heron” ? hal inilah yang menjadi pokok
permasalahannya, yaitu :
“Bagaimana konsep Zen pada kehidupan para tokoh utamanya dalam novel “The
Harsh Cry of the Heron”.
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan membahas dan menganalisis
konsep-konsep Zen yang terdapat dalam novel “The Harsh Cry of the Heron”. Hal ini tentu masih
pokok permasalahan secara umum, penulis akan membaginya ke dalam beberapa
pertanyaan. Seperti yang telah diuraikan di atas, akan dianalisis seperti apa konsep Zen itu
berperan dalam kehidupan seorang samurai. Selain ajaran itu dalam pembentukan jalan
seorang samurai, ajaran Zen juga berpengaruh besar dalam berbagai bidang kehidupan
masyarakat secara umum. Dalam novel tersebut yang paling jelas terlihat berpengaruh yaitu
pada bidang seni yang tidak terlepas dari budaya. Penulis lebih memfokuskan analisis pada
konsep-konsep Zen mengenai kesetiaan, pengabdian diri, dan kesederhanaan yang
Sebelum membahas pokok permasalahannya, tentu saja penulis akan menjelaskan
sejarah Zen, apa itu ajaran Zen secara umum, perkembangan ajaran tersebut di Jepang pada
umumnya, dan dijelaskan juga seperti apa kondisi sosial masyarakat pada periode awal
zaman Edo yang menjadi latar belakang cerita novel “The Harsh Cry of the Heron”, agar
tidak terjadi kesalahan dan kebingungan dalam memahami tentang ajaran Zen secara utuh.
Selanjutnya akan dipaparkan mengenai pengertian novel secara umum.
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori Tinjauan Pustaka
Bangsa Jepang adalah suatu bangsa yang mengenal beberapa agama, yaitu agama
Budha, Shinto, Konfusianisme, dan lainnya. Agama Budha mempunyai beberapa sekte
antara lain, sekte Tendai, Shingon, Jodo, Hokke (Nichiren), dan Zen. Dalam penelitian ini
yang akan dibahas lebih lanjut adalah mengenai sekte Zen.
Sekte Zen berasal dari Cina, dan merupakan pertemuan antara Budha dan pemikiran
Tao. Zen secara harafiah berarti meditasi, berasal dari kata Cina yaitu “ch’an” (Sutrisno,
2002 : 47). Pengertian Zen menurut Anesaki (1997 : 208) adalah sebuah metode pelatihan
spiritual yang berdasarkan intuisi, tujuannya yang terdiri dalam pencapaian keutamaan
yang agung melampaui kesusahan duniawi. Ajaran Zen diperkenalkan ke Jepang pada akhir
abad ke -12, tetapi baru dikenal luas oleh masyarakat setelah dua orang pendeta Zen, yaitu
Eisai dan Dogen, menyebarkannya ke Jepang. Eisai kemudian mendirikan sekte Rinzai Zen,
dan Dogen mendirikan sekte Sootoo. Mereka berdua belajar mengenai Zen di Cina,
meskipun pelajaran dan metode merek berbeda-beda, tetapi mereka menetapkan sebuah
aturan utama untuk meditasi sebagai dasar latihan spiritual mereka. Menurut Saburo dkk
dan keduniaan dan mengkonsentrasikan semua usaha pada zazen atau meditasi, orang akan
dapat mencapai pencerahan spiritual, dan ternyata ajaran ini mempunyai arti yang amat
penting dalam periode-periode selanjutnya.
Ajaran Zen sangat mendominasi dan berpengaruh besar terhadap budaya Jepang
baik dahulu maupun sekarang. Ajaran ini bahkan memberikan kontribusi yang besar bagi
pengembangan budaya prajurit selama periode Kamakura hingga zaman Edo. Golongan
prajurit selaku golongan penguasa pada saat itu (Kamakura-Edo) memberi perlindungan
yang kuat kepada Budhisme Zen. Menurut Suprayogo (2001 : 16-17) dari pola pemahaman
agama, muncul skripturalisme, fundamentalis, modernisme, dan tradisionalisme, dan
perilaku sosial sebgai manifestasi keyakinan doktrin agama, muncul perilaku politik,
ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.
Pengaruh agama, berdasarkan keterangan di atas, terhadap pembentukan dan
perkembangan suatu kebudayaan sangat besar. Agama atau dikenal juga dengan istilah
religi adalah suatu sistem kepercayaan dan upacara-upacaranya yang terdapat dalam setiap
kebudayaan manusia, jadi religi itu bersifat universal (Salim, 1978 : 175).
Agama dan kebudayaan saling berkaitan erat. Hal ini dikarenakan kebudayaan
menurut Suparlan dalam Ali (2002 : 75) adalah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang
diyakini kebenarannyaa. Sedangkan agama itu sendiri juga sebagai pedoman bagi
kehidupan masyarakat, dan pada saat nilai-nilai budaya suatu kebudayaan itu berintikan
atau berasaskan keyakinan agama, ia bersifat sakral dan suci. Menurut Suparlan dalam Ali
(2002 : 77) dalam hubungan antar agama dan kebudayaan setempat, agama berfungsi
dilihat sebagai kebudayaan, agama merupakan pedoman yang diyakini kebenarannya oleh
warga masyarakat yang bersangkutan.
Pengaruh ajaran ini tidak hanya terbatas pada pembentukan kebudayaan prajurit,
tetapi juga berpengaruh dalam bidang seni dan budaya Jepang yang lainnya. Menurut
Anesaki (1997 : 212) pencapaian spiritual dalam pelatihan Zen juga dijalankan untuk
membantu perkembangan rasa yang khas dari persamaan jiwa manusia dengan alam, bukan
keaktifannya dan aspek yang digerakkan tetapi kemurnian dan ketenangan yang meliputi
alam semesta dan terserap ke dalam hati kaum Zen. Kemurnian, ketenangan, dan
kenikmatan estetis inilah yang mendasari upacara minum teh, merangkai bunga, seni
pertamanan, lukisan tinta, drama NO, dan kesusasteraan. Dalam novel “The Harsh Cry of
the Heron” lebih banyak menceritakan hubungan ajaran Zen dengan golongan samurai, dan
penguasa (shogun dan daimyo), tetapi juga diceritakan bagaimana pengaruh ajaran Zen
terhadap masyarakat umum. Misalnya, bagi seniman, pedagang, pendeta, dan sebagainya
dengan bidang-bidang kehidupan seperti yang diklasifikasikan di atas. Kebiasaan-kebiasaan
yang ditimbulkan dari ajaran Zen masih terlihat dalam kehidupan masyarakat Jepang
dewasa ini, terutama pada disiplin hidup bagi bangsa Jepang.
Kerangka Teori
Meneliti suatu karya sastra berarti harus menggunakan salah satu teori sastra atau
dapat juga dikatakan pendekatan sastra. Dalam hal ini, pendekatan yang sesuai dengan
pokok permasalahan yang akan dianalisis adalah pendekatan sosiologis. Karya sastra
masyarakat. Dengan kata lain, karya sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat, di mana
sastra mencerminkan dan mengekspresikan hidup yang sebagian besar adalah kenyataan
hidup dalam masyarakat. Novel, sebagai salah satu genre sastra, yang dianggap paling
dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial (Nyoman, 2004 : 335).
Menurut Nyoman (2004 : 59) pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam
masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu. Penulis, melalui
pendekatan sosiologis ini akan menganalisis bagaimana perilaku individu-individu dalam
novel “The Harsh Cry of the Heron” yang berkaitan dengan agama yang dianutnya (dalam
hal ini agama Zen). Agama yang dianut melahirkan berbagai perilaku sosial, yakni perilaku
yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah kehidupan bersama (Ali, 2002 : 100). Dalam
novel The Harsh Cry of the Heron, banyak dipaparkan mengenai perubahan-perubahan
sosial dan konflik yang sering terjadi sebagai akibat dari perubahan sosial tersebut.
Pendekatan sosiologis dalam meneliti suatu agama di masyarakat melalui novel, sangat
diperlukan.
Karya sastra yang diteliti melalui pendekatan sosiologis, berarti berusaha untuk
memaparkan kehidupan masyarakat di suatu masa atau zaman tertentu dari sejarah
manusia. Hakekat imajinasi karya sastra adalah wakil zamannya dan dengan demikian
merupakan refleksi zamannya (Nyoman, 2004 : 66). Hal ini berarti penelitian karya sastra
tidak terlepas dari pendekatan secara historis/ sejarah. Pendekatan historis mengasumsikan
bahwa realitas sosial yang terjadi sekarang ini sebenarnya merupakan hasil proses sejarah
yang terjadi sejak beberapa tahun, ratusan tahun, atau bahkan ribuan tahun yang lalu (Ali,
Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan Zen yang terdapat dalam novel The
Harsh Cry of the Heron, merupakan kejadian yang terjadi dengan latar belakang abad
ke-17. Penulis melalui pendekatan historis, akan membahas bagaimana sebenarnya
perkembangan Zen dalam diri masyarakat Jepang yang tergambar dalam novel The Harsh
Cry of the Heron pada masa itu. Melalui pendekatan historis ini, dapat diketahui signifikasi
waktu dan menemukan kebenaran tentang bagaimana dan mengapa peristiwa-peristia
penting terjadi, dan individualitas serta perkembangan. Karena dalam novel The Harsh Cry
of the Heron di latar belakangi abad ke-17 sampai dengan abad ke-18, maka penulis
menggunakan pendekatan historis.
Agar kita dapat memahami ajaran Zen dalam novel The Harsh Cry of the Heron
secara utuh, berarti harus mengetahui situasi zaman pada masa itu (awal zaman Edo), untuk
menelitinya dapat dilakukan melalui pendekatan historis selain pendekatan sosiologis.
Analisis sejarah tidak terlepas dari analisis sebab akibat, subjektif dan objektif. Dalam hal
ini, perlu diketahui bagaimana sejarah zaman Edo yang berpengaruh besar terhadap
perkembangan Jepang dewasa ini, dan tentu saja tidak ketinggalan tentang bagaimana
sejarah muncul dan berkembangnya agama Zen di Jepang.
Pendekatan terakhir yang akan digunakan adalah pendekatan semiotika. Semiotika
(semiotik) adalah ilmu tentang tanda-tanda, ilmu ini menganggap bahwa fenomena
sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari
sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi, yang memungkinkan tanda-tanda tersebut
mempunyai arti (Pradopo dkk, 2002 : 71). Karya sastra itu sendiri merupakan struktur
tanda-tanda yang bermakna, tetapi bila kita tidak memahami sistem tanda-tanda dan
optimal. Dalam penelitian ini, penulis akan menerapkan teori semiotika untuk
memperlihatkan dan menjelaskan tanda-tanda yang terdapat dalam novel The Harsh Cry of
the Heron secara lebih mendalam. Tanda-tanda yang dimaksud adalah berupa pengalaman
dan pemikiran dari tokoh-tokohnya yang mewakili adanya peran ajaran Zen dalam
pembentukan sikap mereka dalam masyarakat. Tanda-tanda yang lainnya adalah terdapat
kebenaran tentang perkembangan agama Zen yang tergambar dari tokoh-tokohnya.
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
“Untuk mendeskripsikan dan menggambarkan konsep Zen pada kehidupan para
tokoh utama dalam novel “The Harsh Cry of the Heron”.
b. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1. Memberikan pengetahuan yang mendalam mengenai sekte Budha yang terkenl
yaitu Zen.
2. Mengetahui dan menambah wawasan tentang peranan ajaran Zen dalam
kehidupan samurai dan masyarakat umum.
1.6 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan proposal skripsi ini yaitu metode
deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang
(seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta
yang tampak atau sebagaimana adanya (Hadari, 1991 : 63). Fakta-fakta yang tampak tentu
saja tidak sekedar digambarkan, tetapi juga dihubungkan satu dengan yang lainnya di
dalam aspek-aspek yang diselidiki.
Penelitian ini juga mencakup penelitian secara kualitatif, yaitu datanya dinyatakan
secara verbal dan kualifikasinya bersifat teoritis. Dalam penelitian ini, penulis
menggunakan data tertulis atau tulisan, yang dinyatakan dalam bentuk kalimat / uraian.
Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semiotik, sosiologis
dan historis, yang diperlukan untuk memperlihatkan ajaran Zen dalam kehidupan
masyarakat Jepang serta asal mulanya seperti yang terdapat pada novel “The Harsh Cry of
the Heron”. Teknik penelitiannya yaitu menggunakan studi dokumenter atau studi
kepustakaan. Menurut Hadari (1991 : 133) studi kepustakaan yaitu mengumpulkan data
melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku
tentang pendapat, teori, dalil / hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan
masalah penyelidikan. Khususnya buku-buku yang menyangkut tentang novel, ajaran Zen,
sosiologi, agama, dan sejarah. Penulis mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan,
BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP ZEN DI JEPANG DAN NOVEL THE HARSH CRY OF THE HERON
2.1. Sejarah Perkembangan Zen 2.1.1. Sejarah Munculnya Zen
Agama Budha memiliki tiga aliran utama, yaitu : Mahayana, Hinayana, dan
Vajrana. Zen Buddhism merupakan salah satu aliran utama dalam Buddhisme Mahayana.
Mahayana sendiri memiliki dua pandangan tentang bagaimana mencapai keselamatan,
yaitu Jiriki (upaya sendiri) dan Tariki (upaya dari ‘yang lain’). Zen menganut pandangan
pertama yaitu Jiriki, bahwa keselamatan hanya bisa diperoleh dengan usaha dan upaya
sendiri. Kata ‘Zen’ itu sendiri setidaknya mempunyai tiga arti berbeda, tetapi saling
berkaitan. Menurut Christmas Humpreys dalam Wong Kiew Kit (2004:4), ketiga arti kata
Zen tersebut berarti meditasi, pemahaman dan kenyataan kosmis tertinggi yang merupakan
panduan terbaik.
Zen Buddhism yang berkembang di Jepang tidak terjadi begitu saja, tetapi
mempunyai hubungan yang erat dengan Zen yang ada di Cina. Orang yang paling berjasa
memperkenalkan ajaran Zen di Cina adalah Bodhidharma (440-528), seorang biarawan
India yang nantinya disebut Patriarki Pertama dalam penyebaran ajaran Zen di Cina.
Disebutkan bahwa ketika Bodhidharma tiba di Cina itulah saat lahirnya aliran Zen yang
dalam bahasa Cina disebut Chan.. Bodhidarma tiba di Cina tahun 520 kemudian dia
diundang kaisar Liang Wu Di, kaisar yang berkuasa di Cina pada saat itu, mereka terlibat
baik saja tidak cukup tetapi melalui perbuatan baik akan mendorong kemurnian moral,
suatu syarat mutlak bagi pencerahan. Pada tingkatan pencerahan tertinggi, tidak ada
pemikiran dualistis (Wong Kiew Kit, 2004:103-104). Kaisar Liang Wu Di tidak siap
menerima ajaran Bodhidharma karena itu dia melewatkan kesempatan untuk memperoleh
pencerahan atau kesadaran.
Bodhidharma pergi ke kuil Shaolin dan tiba tahun 527 untuk mengajar Zen. Di kuil
tersebut Bodhidharma mengajarkan kepada para rahib tentang pentingnya menjaga
kebugaran tubuh, emosi, dan mental untuk pengembangan spiritual. Oleh karena itu, dia
mengajarkan dua bentuk latihan, yaitu Delapan belas Tangan Lohan dan Metamorfosis
Otot, yang akhirnya berkembang menjadi Kungfu Shaolin dan Chi kung Shaolin.
Bodhidharma menemukan penggantinya sebagai Patriarki kedua di kuil tersebut. Orang itu
bernama Ji Guang (487-583) atau Hui Ke, dan Eka dalam bahasa Jepang. Bodhidharma
mengajarkan kepada Hui Ke tentang arti penting bermeditasi, dia sendiri pernah
bermeditasi selama sembilan tahun di sebuah gua, yang disebut Gua Bodhidharma. Ajaran
Zen tidak bergantung pada kitab-kitab, dokumen-dokumen ataupun teori-teori keagamaan
dalam penyebarannya, tetapi disampaikan dari hati ke hati. Demikian jugalah yang
dilakukan Hui Ke untuk mencari penerusnya sebagai Patriarki Ketiga. Seng Can yang
diangkat sebagai penerus Hui Ke juga berasal dari kuil Shaolin dan mendapat pencerahan
setelah berdialog dengan Hui Ke.
Seng Can kemudian membimbing muridnya Dao Xin (580-651) di kuil Shaolin
selama sembilan tahun, dan menggantikannya sebagai Patriarki Keempat. Dao Xin
kemudian digantikan muridnya Hong Jen sebagai Patriarki Kelima. Tetapi dalam mencari
huruf, Hui Neng, dianggap lebih layak untuk menggantikannya, tetapi murid seniornya
Shen Xiu tidak mengakuinya. Sejak itu, pengajaran Zen di Cina terpecah dua, yang satu
disebut aliran Utara (Shen Xiu) dan yang lainnya disebut aliran Selatan (Hui Neng). Dalam
perkembangannya, aliran Utara tidak dapat bertahan lama, akhirnya lenyap.
2.1.2. Perkembangan Zen Di Jepang
Aliran Zen telah memasuki Jepang dari Cina sebelum masa Kamakura. Pendeta
Jepang telah pergi ke Cina untuk belajar Zen Buddhism ditahun 654, demikian juga
biarawan Cina pergi ke Jepang untuk mengajarkan Zen, tepatnya di daerah Nara. Beberapa
guru Zen dari Cina tersebut telah memasuki Jepang dan menyebarkan ajaran Zen, tetapi Zen
baru benar-benar mengakar di Jepang setelah ajarannya disebarkan dua guru asli Jepang,
Eisai (1141-1215) mendirikan sekte Rinzai dan Dogen mendirikan sekte Soto.
Eisai pertama kali mengajarkan Zen di Kamakura, dia didukung oleh Shogun dan
membuat Zen sangat populer di antara para samurai. Dia juga membangun banyak kui Zen
di Jepang yang disebut sistem Gozan. Diantarnya adalah kuil Rinjai di Shofukuji Hakata
pada tahun 1195 (sekarang perfektur Fukuoka), kemudian menjadi kepala biara pertama di
kuil Jufukuji Kamakura, kemudian di kuil Kenninji Kyoto. Para pendeta Zen dari sistem
Gozan tersebut seringkali bertindak sebagai penasehat politik Keshogunan Muromachi.
Peran para pendeta Zen tersebut bukan hanya dalam bidang politik, urusan luar negeri dan
perdagangan, tetapi juga memainkan peran utama di bidang seni dan ilmu pengetahuan juga
kesusatraan.
Dogen sebagai pendiri sekte Soto berbeda sama sekali dengan Eisai. Dogen berasal
di Jepang. Dogen tidak seperti Eisai yang sangat dekat dengan penguasa militer, sebaliknya
dia berusaha menghindari pengaruh penguasa dalam ajaran Zen yang dianutnya. Karena itu
ia memilih tinggal di propinsi EchiZen tempat ia membangun kuil Eiheiji daripada tingagl
di Kyoto. Dogen hanya ingin mengajarkan Zen secara murni, meninggalkan nafsu duniawi
dan menjalankan meditasi. Menurut Wong Kiew Kit (2004:197) perbedaan yang paling
penting antara ajaran Dogen dan Eisai mengenai Zen adalah pendekatan mereka mengenai
pencerahan. Ajaran Eisai, yang berkarakteristik Rinzai Zen, menekankan penggunaan
koan/cerita sementara ajaran Dogen, yang berkarakteristik Soto Zen, menekankan pada
zaZen atau meditasi duduk. Meskipun demikian ajaran Soto tidak menolak koan dalam
pencapaian pencerahan demikian juga sebaliknya.
Pengaruh Zen mencapai level yang paling tinggi terjadi selama periode Muromachi
(1333-1568). Pada masa itu Zen memperlihatkan kekuatannya yang luar biasa dan
menyebarluas terutama dikalangan prajurit/bushi yang merupakan penguasa Jepang saat itu.
Ajaran Zen turut memberikan sumbangan bagi pengembangan kebudayaan prajurit,
menjadi dasar moral dan filosofi utama bagi banyak prajurit Jepang hingga masuk zaman
modern. Bahkan sebelum berperang, banyak anggota militer memasuki biara Zen untuk
mendisiplinkan diri untuk menghadapi musuh. Mikiso Hane (1991:80) mengatakan,
“Tendai untuk keluarga kerajaan, Shingon untuk bangsawan, Zen untuk kelas prajurit, dan
Jodo untuk masyarakat”. Sepanjang periode Muromachi, Zen menggunakan pengaruhnya
yang berkembang pada lukisan tinta, drama NO, upacara minum teh, merangkai bunga, seni
pertamanan, dan seni lukis. Jadi ajaran Zen bukan hanya sekedar teori keagamaan saja,
Periode Edo (1600-1868) menghasilkan perdamaian dan mendukung
berkembangnya ajaran Zen. Para biawaran yang terkenal pada zaman Edo adalah Takuan
Soho (1573-1645), Bankei Yotaku (1622-1693), dan Hakuin (1686-1769) mereka berasal
dari Rinzai Zen, Takuan mengajar afinitas antara Zen dan manusia pedang, dia juga dikenal
sebagai guru spiritual Miyamoto Musashi (seorang pemain pedang legendaris Jepang).
Bankei bertanggungjawab untuk membuat Zen dapat diperoleh kedalam bentuk tidak
tertulis yang paling sederhana.
Memasuki zaman Meiji (1868), pemerintah lebih mendukung Shinto ketimbang
agama Budha. Meskipun demikian Zen tetap berkembang dan Imakiya Kosen diangkat
menjadi kepala biara di kuil Engakuji, Kamakura (1875). Penggantinya Shaku Soen yang
dikenal sebagai guru Daiset T. Suzuki, orang yang mengembangkan prinsip Zen di Barat.
2.2. Konsep Umum Zen Dalam Bushido
Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, Zen diajarkan dari hati ke hati tidak
bergantung pada buku-buku. Bodhidharma menekankan bahwa dalam pembinaan spiritual,
intinya adalah pada pengalaman langsung, bukan melalui belajar dari buku (Wong Kiew
Kit, 2004:262). Pengajaran Zen tidak dapat dipahami sepenuhnya jika diungkapkan melalui
kata atau bahasa, tetapi Zen harus dialami secara pribadi. Meskipun demikian, belajar
melalui buku tidak dapat disalahkan, karena melalui buku seseorang dapat dipersiapkan
untuk memperoleh pencerahan.
Sasaran Zen seperti yang diungkapkan Suzuki (2004:212) : Zen pada dasarnya
adalah seni melihat hakekat kebenaran seseorang, dan menunjukkan jalan dari perbudakan
beraktivitas. Berarti Zen itu adalah seni untuk melihat kodrat diri dan mempergunakan
secara maksimal kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam diri manusia. Energi atau
kekuatan yang terdapat secara alami dalam tubuh manusia dibebaskan tanpa halangan atau
dimaksimalkan. Hal seperti ini dalam permainan pedang sering disebut alam Bawah-Sadar.
Dalam Suzuki (2004:43) dikatakan bahwa seorang pemain pedang yang terlatih tidak lagi
memiliki kesadaran-relatif umum ketika berhadapan dengan musuh, tetapi yang bekerja
adalah bawah-sadarnya yang terbangunkan ketika ia mencapai suatu keadaan tiada diri,
tiada pikiran. Dalam keadaan bawah-sadar tersebut, pemain pedang biasanya tidak lagi
memikirkan dirinya, gerakan pedang musuhnya, dan ketika menyerang bukan dia lagi tetapi
pedang di tangan bawah-sadarlah yang menyerang. Tentu saja dibutuhkan disiplin dan
latihan bertahun-tahun untuk memaksimalkan kekuatan bawah-sadarnya. Sesuai dengan
pernyataan Wong Kiew Kit (2004:263), doktrin Zen yaitu langsung menunjuk pada pikiran,
menekankan latihan langsung dan praktis untuk memunirkan pikiran sehingga mencapai
Ajaran zen memiliki pengaruh yang besar terhadap konsep Bushido. Bushido adalah
Jalan prajurit, yang merupakan dasar moral dan filosofi utama bagi banyak prajurit Jepang
pada masa lampau hingga zaman modern. Bushido lahir di zaman Kamakura dan
Muromachi, kemudian berkembang hingga zaman Edo.
Dalam Situmorang (1995:21), bushido mempunyai ciri khas yaitu pengabdian diri
yang mutlak terhadap tuannya, sehingga mereka (para bawahan) rela melakukan junshi
(bunuh diri mengikuti kematian tuannya) dan adauchi (mewujudkan balas dendam
tuannya). Pengabdian diri berarti berkaitan erat dengan kesetiaan, salah satu hal yang
ditekankan dalam dunia samurai. Menurut Bellah (1992:126-127), seorang samurai harus
bersikap hormat atau kesopanan.
Kewajiban tertinggi dari kaum samurai adalah kesetiaan mutlak terhadap tuannya
bahkan diatas kepentingannya sendiri. Oleh karena itu mereka dituntut untuk hidup
sederhana, mampu untuk menahan diri dari segala keinginan-keinginan mereka dan
ugahari (hidup hemat). Kutipan dari Hagakure dalam Bellah dituliskan:
Hematlah dengan kata-kata. Jika kamu memerlukan sepuluh kata, gunakanlah satu
kata saja.
Jika kamu meninggalkan tempat pesta ria,pergilah ketika kamu masih ingin tinggal.
Jika kamu merasa kamu sudah puas, kamu sudah mendapatkan lebih dari cukup. Cukup itu
berlebihan. Jangan menyenangkan diri serndiri.
Kehidupan sederhana dan tidak berpikir tentang keuntungan dalam mengabdi
kepada tuannya, membuat mereka (kaum samurai) bersedia melakukan apa saja demi
tuannya, termasuk bunuh diri. Menurut Hagakure dalam Bellah, bushido, jalan
(junshi) menurut Watsuji (Situmorang, 1995:21) adalah karena di dalam Ie terjalin
hubungan yang erat antara tuan dan pengikut yang berlangsung dari generasi ke generasi.
Segala sesuatu yang diterimanya (pengikut) selama hidup merupakan on (budi) dari tuan,
yang harus dibayar dengan chu (penghormatan terhadap tuan), yang diwujudkan dengan
giri (balas budi).
Ajaran Zen turut mempengaruhi pandangan-pandangan tentang kematian tersebut.
Dikatakan dalam ajaran Zen, bahwa perjalanan di dunia kematian adalah gelap, oleh
karena itu para anak buah harus rela mati untuk menemani perjalanan kematian tuan
menuju raise (dunia setelah mati), Situmorang (1995:21-22). Hal ini berarti para samurai
semasa hidupnya harus dapat membiasakan diri dengan kematian,sehingga pada saat
kematian itu tiba tidak menyakitkan dan mengerikan bagi mereka. Dengan
bersikapdemikian, keangkuhan mereka dihilanggkan. Ini sesuai dengan ajaran Zen, yang
tidak mementingkan diri sendiri tetapi memperhatikan kehidupan orang lain.
Konsep Bushido yaitu mengenai kesetiaan, taat, sederhana, dan kematian yang
semuanya itu dilakukan demi tuannya. Selain itu etika Samurai juga menyangkut
penghargaan yang sangat tinggi terhadap pencarian ilmu. Menurut Bellah (1992:131),
hampir semua samurai terpelajar dan membaca buku. Tujuannya, bukan untuk sekedar
menguasai pengetahuan, tatapi untuk dapat memimpin tingkah lakunya, menguasai orang
lain dan mengembangkan diri. Pengetahuan dan tindakan bernilai sama, penerapan dan
Ajaran Zen tidak hanya berbicara tentang kerohanian saja, tetapi juga berbicara
tentang penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dua hal yang terpenting dalam ajaran
Buddhisme Mahayana yaitu : welas asih dan bijaksana (Wong Kiew Kit, 2004:351). Para
rahib Zen dikatakan selalu berdoa untuk orang lain dan makhluk hidup lain, tidak pernah
untuk dirinya sendiri. Kalaupun pernah, hanya berupa penyesalan bukan meminta
pertolongan. Mereka tidak hanya mengajarkan tentang kasih dan kebijaksanaan namun
mereka juga menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Para pengikut Zen berusaha
untuk hidup dalam disiplin yang ketat untuk membina dan menumbuhkan keutamaan,
ketaatan, kesehajaan, kerendahan hati serta keutamaan yang khas (Sutrisno, 2002:62).
Menurut Baizhang dalam Tsai (2004:65) mengatakan :
“pentingnya bekerja dalam masyarakat sangat relevan bagi kemanusiaan. Untuk menjadi mandiri dan tidak bergantung, kita menentukan nasih ditangan kita sendiri”.
Pengikut Zen bukan hanya dituntut untuk hidup sederhana, disiplin, menolong orang yang
kesusahan, tetapi juga harus bekerja keras untuk hidup tidak bergantung pada belaskasihan
orang lain seperti yang sering dilakukan para pendeta Budha.
2.3. Defenisi, Novel dan Setting Novel The Harsh Cry of The Heron 2.3.1. Defenisi Novel
Dunia kesusastraan mengenal beberapa genre yaitu prosa, puisi, drama. Prosa dapat
terbagi lagi dalam beberapa ragam yaitu cerpen, novel, dan roman. Prosa dalam pengertian
kesastraan juga disebut fiksi, teks naratif atau wacana naratif, istilah fiksi dalam pengertian
tidak berdasarkan kebenaran sejarah, tetapi berdasarkan sesuatu yang bersifat rekaan,
khayalan, dan tidak terjadi dalam dunia kenyataan.
Sesuai dengan pernyataan diatas, pengertian prosa fiksi menurut Aminuddin
(2000:66) adalah :
“Kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita”.
Menurut pengertian di atas, kebenaran yang terdapat dalam sebuah karya fiksi tidak
harus sama dan tak perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Baik
itu para pelakunya (pemerannya), tempat terjadinya dan rangkaian ceritanya, semuanya
bersifat fiksi sesuai dengan imajinasi pengarangnya. Hal ini disebabkan dunia fiksi dan
dunia nyata memiliki sistem atau aturan tersendiri.
Pengertian prosa fiksi di atas juga berlaku untuk pengertian novel. Sesuai dengan
pernyataan Abrams dalam Nurgiyantoro (1998:4), yaitu dalam perkembangannya karya
fiksi sering dianggap bersinonim dengan novel. Kata novel dalam bahasa Inggris (juga
dipakai dalam bahasa Indonesia) berasal dari bahasa Italia yaitu Novella (dalam bahasa
Jerman Novelle). Secara harafiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan
kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’ (Abrams dalam
Nurgiyantoro, 1998:9).
Menurut Jassin dalam Nurgiyantoro (1998:16) :
“Novel, dipihak lain dibatasi dengan pengertian: suatu cerita yang bermain dalam dunia manusia dan benda yang ada di sekitar kita, tidak mendalam, lebih banyak melukiskan satu saat dari kehidupan seseorang, dan lebih mengenai suatu episode”. Berdasarkan pengertian di atas, novel menceritakan satu periode dalam kehidupan
meninggal. Berarti sebuah novel pada umumnya memaparkan tentang kehidupan manusia
dan segala permasalahannya, lingkungan dan kondisi sosial yang terdapat di sekitar
pengarang.
2.3.2. Setting Dalam Novel The Harsh Cry of The Heron 2.3.2.1.Setting tempat, waktu dan Sosial
Setting dan latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian
tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang
diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1995:216).
Unsur-unsur latar dapat dibedakan ke dalam unsur pokok yaitu :
1. Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah
karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat0tempat dengan nama
tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
2. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang
diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan
dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa
sejarah.
Sama halnya juga dalam Novel “The Harsh Cry of The Heron” terdapat ruang lingkup
tempat dan waktu sebagai wahana para tokohnya mengalami berbagai pengalaman dalam
hidupnya. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam novel “The Harsh Cry of The Heron”
ini seluruhnya terjadi di Jepang dan berlangsung pada awal abad 17 sampai akhir abad 18.
Pada awal abad 17-18 akhir, di Jepang sedang terjadi perebutan kekuasaan antar klan
atau kaum samurai. Klan terkuat akan berusaha menguasai klan yang lain. Sama halnya
yang dilakukan oleh lida Sadamu yang tega membantai kaum heiden (kaum dimana Takeo
tinggal sampai masa remajanya). Novel ini secara keseluruhan menggambarkan perjalanan
hidup seorang samurai bernama Takeo dari awal hidupnya terpisah dengan keluarganya,
sampai kepada keputusannya meneruskan perjuangan Otori Shigeru dalam menguasai tiga
wilayah besar di Jepang yang dikenal pada saat ini dengan sebutan wilayah Tiga Negara.
Meskipun banyak cobaan hidup yang dialami oleh Takeo, seperti pengkhianatan yang
dilakukan oleh orang yang dipercayainya, bahkan istrinya pun ikut memusuhi dan
membencinya. Namun setelah beberapa waktu ia bermeditasi di kuil, ia mengalami
pencerahan dan perbedaan pada dirinya. Akhirnya Takeo dapat melalui cobaan hidupnya
dengan tenang.
2.3.3. Pendekatan Semiotik, Sosiologi, Historis pada Novel
Seperti yang telah dijelaskan dalam bab pendahuluan, meneliti suatu karya sastra
harus menggunakan salah satu teori sastra atau pendekatan sastra. Dalam penelitian ini.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi, historis, dan semiotik.
Pendekatan sosiologi diperlukan dalam penelitian ini karena karya sastra lahir dari
genre sastra, yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial
(Nyoman, 2004:335). Novel Musashi yang menjadi objek penelitian, banyak menceritakan
tentang kehidupan masyarakat Jepang pada awal abad ke-17.
Menurut Nyoman (2004:60), dasar filosofis pendekatan sosiologis adalah adanya
hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang
dimaksudkan disebabkan oleh : a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, b) pengarang itu
sendiri adalah anggota masyarakat, dan c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada
dalam masyarakat, dan d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Aspek utama karya sastra adalah estetika, tetapi karya sastra juga mengandung estetika,
filsafat, logika, bahkan juga ilmu pengetahuan. Melalui karya sastra diharapkan mampu
mempengaruhi tingkah laku manusia, karena karya sastra dapat memasukkan hampir
seluruh aspek kehidupan manusia dan menjadikannya dekat dengan aspirasi masyarakat.
Pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman
mulai dari masyarakat ke individu (Nyoman, 2004:59).
Demikian halnya dengan novel, sebagai salah satu genre sastra, yang dianggap
paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial (Nyoman 2004:335). Hal ini
disebabkan novel menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan secara luas, memiliki
media yang luas, unsur-unsur ceritanya lengkap, bahasa yang digunakan dalam novel
adalah bahasa sehari-hari dan yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Novel The
Harsh Cry of The Heron yang menjadi objek penelitian, banyak menceritakan tentang
kehidupan masyarakat Jepang pada awal abad ke-17. Dalam novel tersebut dipaparkan
bawah, kehidupan beragama, kebudayaan, perubahan-perubahan sosial, dan konflik karena
masa itu adalah masa transisi dari penguasa sebelumnya kepenguasa yang baru.
Melalui pendekatan sosiologis ini, penulis juga akan menganalisis bagaimana peran
agama (dalam hal ini agama Zen) dalam mempengaruhi kehidupan tokoh-tokoh yang
terdapat dalam novel The Harsh Cry of The Heron. Menurut Ali (2002:100), agama yang
dianut melahirkan berbagai perilaku sosial, yakni perilaku yang tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan bersama. Agama mampu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan sosial. Menurut Suprayogo (2001:24), gejala-gejala sosial-agama dapat berupa
tindakan-tindakan, ucapan-ucapan/ungkapan-ungkapan, sikap-sikap, simbol-simbol yang
dihargai, cita-cita, emosi-emosi dan pikiran-pikiran yang oleh pelakunya dianggap
memiliki keterkaitan dengan hidup keberagamannya atau merupakan perwujudan dari
ajaran atau doktrin agama yang diyakini.
Pendekatan kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis
(sejarah). Hakiat imajinasi karya sastra adalah wakil zamannya dan dengan demikian
merupakan refleksi zamannya (Nyoman, 2004:66). Novel The Harsh Cry of The Heron
adalah novel yang banyak mengandung cerita sejarah bangsa Jepang pada masa lampau
yaitu abad ke-17 atau dikenal dengan zaman Edo, dimana semangat zaman tersebut
mempengaruhi masyarakat Jepang hingga sekarang. Pendekatan historis mengkonsumsikan
bahwa realitas sosial yang terjadi sekarang ini sebenarnya merupakan hasil proses sejarah
yang terjadi sejak beberapa tahun, ratusan tahun, atau bahkan ribuan tahun yang lalu (Ali,
2002:117).
Menurut Nyoman (2004:65), pendekatan historis mempertimbangkan historis karya
awal hingga sekarang, sastra sejarah sebagai karya sastra yang mengandung unsur-unsur
sejarah, dan novel sejarah, novel dengan unsur-unsur sejarah. Pendekatan sejarah paling
tepat digunakan untuk meneliti sastra sejarah dan novel sejarah. Dapat dikatakan penelitian
suatu karya sastra tidak terlepas dari pendekatan secara historis/sejarah, karena karya sastra
dapat mewakili ciri-ciri zamanya.
Suprayogo (2001:67) berpendapat melalui analisis sejarah, baru dapat dilacak asal
mula situasi yang melahirkan suatu ide dari seorang tokoh. Melalui analisis sejarah pula,
dapat diketahui bahwa seorang tokoh dalam berbuat atau berpikir sesungguhnya dipaksa
oleh keinginan-keinginan dan tekanan-tekanan yang muncul dari dirinya sendiri. Hal ini
berarti, kondisi ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu karya sastra tidak
muncul begitu saja, ada sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Melalui pendekatan
historis itu, penulis akan menganalisis tentang perkembangan Zen dalam masyarakat
Jepang yang tergambar dalam novel The Harsh Cry of The Heron, bagaimana situasi zaman
pada masa itu (awal zaman Edo), dan bagaimana sejarah muncul dan berkembangnya
agama Zen di Jepang, agar dapat memahami ajaran Zen secara utuh dalam novel The Harsh
Cry of The Heron.
Pendekatan terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
semiotik. Semiotik (semiotika) dalam ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap
bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik
itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi, yang memungkinkan
tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Pradopo, 2007:71). Mengapa harus menggunakan
teori semiotik? Hal ini dikarenakan karya sastra itu sendiri merupakan struktur tanda-tanda
konvensi tanda, kita tidak akan mengerti karya sastra itu secara optimal. Menurut
Nurgiyantoro (1998:40) tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat
berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Jadi yang dapat menjadi
tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi
kehidupan ini. Makna tanda itu sendiri berasal dari konteks dimana ia diciptakan dan
sebuah tanda memiliki banyak arti atau sama sekali tidak berarti. Tanda tidak berfungsi
dalam dirinya sendiri.
Peletak dasar teori semiotik ada dua orang, yaitu Ferdinand de Saussure dan Charles
Sanders Peirce. Saussure dikenal sebagai bapak ilmu bahasa modern dan mempergunakan
istilah semiopologi, sedangkan Peirce seorang ahli filsafat dan memakai istilah semiotik.
Dalam Nurgiyantoro (1998:40) dituliskan, Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya
tanda pada umumnya dengan menempatkan tanda-tanda linguistik pada tempat yang
penting, namun bukan yang utama. Hal yang berlaku bagi tanda pada umumnya, berlaku
pula bagi linguistik, namun tidak sebaliknya. Saussure, di pihak lain, mengembangkan
dasar-dasar teori linguistik umum. Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia
menganggap bahasa sebagai sebuah sistem tanda.
Peirce juga membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga
jenis hubungan, 1) ikon, jika ia berupa hubungan kemiripan, 2) indeks, jika ia berupa
hubungan kedekatan eksistensi, dan 3) simbol, jika ia berupa hubungan yang sudah
terbentuk secara konvensi. Sedangkan menurut Saussure (Nurgiyantoro, 1998:43), bahasa
sebagai sebuah sistem tanda, memiliki dua unsur yang tak terpisahkan:signifer dan
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori semiotika untuk menjelaskan dan
memperlihatkan tanda-tanda secara mendalam dalam novel The Harsh Cry of The Heron.
Tanda-tanda tersebut dapat berupa pemikiran tokoh-tokohnya yang mewakili adanya ajaran
Zen dalam pembentukan sikap mereka dalam masyarakat, dan juga terdapatnya kebenaran
tentang perkembangan ajaran Zen dalam novel The Harsh Cry of The Heron.
2.4. Biografi Pengarang
Lian Hearn adalah seorang penulis yang lahir dan besar di Inggris. Namun semenjak
tahun 1993, dia hijrah ke Australia dan menetap disana. Nama asli Lian Hearn adalah
Gillian Rubenstein. Namun karena ingin membawa dirinya masuk ke dalam kehidupan
Jepang, maka ia mengganti namanya menjadi Lian Hearn. Jadi bisa dibilang bahwa Lian
Hearn adalah nama samaran Gillian Rubenstein dalam karya sastra Jepang.
Nama Lian sendiri diambil dari namanya Gillian. Sedangkan nama Hearn diambil
dari nama seorang penulis kenamaan Jepang, sekaligus merupakan lambang dari Klan Otori
(klan yang menjadi sentral penceritaan dalam karya novelnya), yang berarti bangau.
Pada awalnya Lian Hearn adalah seorang penulis cerita anak-anak. Namun pada
tahun 1999, dia mendapat beasiswa Asialink Foundation. Selama tiga bulan ia mendapat
kesempatan untuk tinggal di Jepang. Selama di Jepang dia tinggal di Australia
Council-Departemen Luar Negeri dan Perdagangan, Kedutaan Besar Australia di Tokyo dan ArtSa,
The South Australian Government Arts Department. Saat di Jepang ia disponsori oleh
Yamaguchi Prefecture’s Akiyoshi Internasional Arts Village dengan para stafnya yang
Selama tiga bulan ia berada di Jepang, ia menghabiskan waktu di Jepang dengan
dua perusahaan teater yang telah memberinya kesempatan untuk melakukan riset penuh
demi mengumpulkan data yang diperlukan untuk melengkapi data demi penulisan novel
pertamanya.
Karakter utama Takeo dan Kaede muncul ketika kunjungan pertama Lian Hearn di
Jepang pada tahun 1993. Novel ini diisi dengan konflik dan perebutan kekuasaan antar klan
yang terjadi sekitar abad 17 awal sampai abad 18 akhir. Peran Takeo adalah sebagai tokoh
yang berupaya menyatukan Wilayah Tiga Negara di bawah kekuasaan Klan Otori
kemudian Takeo mendapatkan pencerahan sehingga terjadi perubahan pada diri Takeo.
BAB III
ANALISIS KONSEP ZEN DALAM NOVEL THE HARSH CRY OF THE HERON
3.1 Sinopsis cerita
Tokoh utama dalam novel “The Harsh Cry of The Heron” adalah seorang samurai
yang bernama Takeo, yang kemudian diberi gelar kebangsaan menjadi Lord Takeo. Dalam
novel ini dia berperan sebagai tokoh utama yamng menjadi tokoh sentral penceritaan.
Novel “The Harsh Cry of the Heron” ini mengisahkan tentang bagian penting perjalanan hidup Takeo, yakni sedikit kisah tentang masa remajanya ditengah-tengah kaum
Heiden (kaum ibunya),kisah tentang masa pencarian jati dirinya ditengah-tengah perang
antar Klan, sampai kepada masa kepemimipinannya dalam mempersatukan Wilayah Tiga
Negara yang berada di Jepang pada m,asa ini.
Perjalanan seorang samurai yang bernama Takeo ini, bermula dari pembantaian
kaum Heiden yang dilakukan oleh Lord Iida Sadamu. Pada masa ini, Iida Sadamu
merupakan seorang pemimpin klan yang terkuat. Untuk menambah daerah kekuasaannya
Iida Sadamu membantai kaum atau klan lain.
Pada saat Iida Sadamu membantai kaum Heiden, Takeo sedang berada dihutan,
sehingga ia selamat dari pembantaian itu. Ketika kembali kedesanya Takeo mendapati
kekacauan yang terjadi didesanya. Namun pada saat anak buah Iida Sadamu yang bernama
Ando hendak membunuh Takeo, maka ia diselamatkan oleh Lord Shigeru yang berasal dari
Pada awalnya Takeo merasa amat sedih karena menemukan dirinya telah menjadi
sebatang kara dan harus terpisah dengan keluarga untuk selamanya. Dia menyesali dirinya
karena pada saat pembantaian itu terjadi dia berada di tempat lain. Namun setelah
beberapa minggu hidup bersama Otori Shigeru, dia sadar bahwa dia harus menerima
kenyataan yang ada dan harus melanjutkanhidupnya. Otori Shigeru mengajarkan banyak
hal pada Takeo layaknya pendidikan yang dirasakan oleh para bangsawan pada masa itu.
Seiring waktu berlalu, Takeo sudah dapat melupakan masa lalunya. Bahkan dia
mendapati sisi yang lain dari dirinya yang tidak ia ketahui selama ini. Takeo menyadari
ada bakat lain dalam dirinya yang tidak dimiliki oleh orang lain. Bakat ini seperti
menidurkan orang, menghipnotis, berjalan tanpa menimbulkan suara, menggandakan diri,
dan menghilang. Kemampuan ini berasal dari bakat kaum Tribe yang diturunkan oleh
neneknya. Namun hal ini bertentangan dengan sifatnya yang cepat kasihan dengan orang
lain, lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri dan tak tega membunuh orang
lain. Perasaan Takeo yang welas asih ini ia peroleh dari pamannya yang menganut ajaran
Zen.
Namun lambat laun Takeo menjadi pribadi yang tidak lagi merasa bersalah jika harus
membunuh orang lain dikarenakan oleh kenangannya akan pembantaian yang terjadi pada
kaumnya. Karena Otori Shigeru tidak menikah, maka ia mengangkat Takeo menjadi anak
angkatnya, sekaligus penerus klan otori . Namun ada hal yang lebih besar yang diketahui
oleh Takeo mengenai dirinya yaitu, bahwa ia dan Otori Shigeru bersaudara. Otori Shigeru
merupakan paman kandung Takeo, dimana Otori Shigeru merupakan adik dari ayah
Tiga darah klan yang mengalir dalam diri Takeo membuat dia harus memutuskan
pilihan kepada siapa kesetiaannya harus diberikan. Apakah kepada klan Otori-klan dimana
Takeo telah dititipkan wasiat untuk meneruskannya, atau kepada klan tribe-klan yang telah
memberikan Takeo banyak kemampuan yang jarang dimiliki oleh orang lain.
Namun karena dia lebih memihak pada klan Otori, maka setelah kematian Otori
Shigeru, dan membunuh Iida Sadamu, Takeo pun membulatkan hatinya untuk memimpin
klan Otori dalam meneruskan cita-cita Otori Shigeru untuk menguasai tiga wilayah yang
pada abad 17-an awal disebut sebagai wilayah Tiga Negara, dan saat ini dikenal sebagai
pulau terbesar dijepang. Kemudian Takeo menikahi pewaris klan Seisshu yaitu Kaede dan
memiliki 3 orang putri dua diantaranya kembar, yang sulung bernama Shigeko dan si
kembar bernama Miki dan Maya. Nasib si kembar sungguh malang karena harus dibenci
masyarakat, dan yang paling menyedihkan dibenci oleh ibunya sendiri. Kepercayaan
masyarakat pada zaman itu melahirkan anak kembar merupakan hal yang memalukan dan
membawa bencana bagi orang disekitarnya, sehingga salah satu dari anak itu harus
dibunuh, namun bagi Takeo itu adalah kepercayaan bodoh karena sangat tidak mungkin ia
membunuh anak kandungnya sendiri, ia sangat menyayangi putri kembarnya karena
didarah mereka juga terdapat darah tribe seperti dirinya. Dan diakhir perjuangannya
melawan pengkhianatan dalam Tiga Negara akhirnya Takeo memutuskan mengabdikan
hidupnya dikuil untuk lebih mempelajari Zen lebih dalam. Takeo memutuskan dengan
bersumpah untuk tidak membunuh lagi dan mengabdikan hidupnya untuk melukis hingga