• Tidak ada hasil yang ditemukan

RATIONALIZATION VOTERS IN CHOOSING THE ELECTION CANDIDATE COUPLE OF GOVERNOR LAMPUNG 2014 (Studies in Rural Communities Beringin Raya Kingdom Kemiling District of Bandar Lampung) RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RATIONALIZATION VOTERS IN CHOOSING THE ELECTION CANDIDATE COUPLE OF GOVERNOR LAMPUNG 2014 (Studies in Rural Communities Beringin Raya Kingdom Kemiling District of Bandar Lampung) RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNU"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

RATIONALIZATION VOTERS IN CHOOSING THE ELECTION CANDIDATE COUPLE OF GOVERNOR LAMPUNG 2014

(Studies in Rural Communities Beringin Raya Kingdom Kemiling District of Bandar Lampung)

By

MARS BAYU DORAYIDI

Direct local elections is a response to widespread expectations of an entire nation in order to restore the sovereignty of the people democratically. Where to give people the opportunity to choose the candidate pairs without pressure and interference and politicization of any party based on their conscience. This is when viewed from the perspective of political development, the development of local democracy, direct election is the process of succession at the local level that the expectation is able to provide political education for the people to increase the maturity of the people in politics. Events or sociologically interesting phenomenon in this election that is how the electoral system change from indirect to direct election system which will have implications for changes in voting behavior. So appealing is necessary to lift this reality in research, with a view to giving a major boost voter on the voting rights in direct elections, in this case the rationality of voting behavior in choosing one pair of candidates in the election of Governor (Governor Election) Direct Lampung ago 9 April 2014 . This study is a descriptive study based on quantitative data collection, with the intention of doing careful measurements to illustrate the relevance of sociological social reality that can be achieved. Based on the results of this study that, in the act of choosing the most people 48.5% of respondents had categorized as an act of choosing prospective. Where they choose with consideration of the future by looking at the candidate's vision and mission. However, if viewed from the aspect of rationality of action, most of the respondents categorized as non-responders in determining the rational choice. Where most of the voters are still affected 60.8% as well as the emotional aspects of the environment in choosing a candidate.

(2)

ABSTRAK

RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014

(Studi Pada Masyarakat Desa Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung)

Oleh

BAYU MARS DORAYIDI

Pemilihan Kepala Daerah langsung merupakan respon dari meluasnya harapan seluruh bangsa dalam rangka mengembalikan kedaulatan rakyat secara demokratis. Dimana memberikan rakyat kesempatan untuk memilih pasangan kandidatnya tanpa ada tekanan dan campur tangan serta politisasi dari pihak manapun yang berdasarkan hati nurani mereka. Hal ini jika dilihat dari perspektif pembangunan politik, sebagai pengembangan demokrasi lokal, Pilkada langsung merupakan proses pergantian pemimpin ditingkat lokal yang ekspektasinya mampu memberikan pendidikan politik bagi rakyat untuk meningkatkan kedewasaan rakyat dalam berpolitik. Kejadian atau fenomena yang menarik secara sosiologis dalam Pilkada ini yakni bagaimana perubahan sistem pemilihan dari tidak langsung ke sistem pemilihan langsung yang nantinya akan berimplikasi pada perubahan perilaku pemilih. Sehingga menarik kiranya untuk mengangkat realitas ini dalam penelitian, dengan melihat dorongan utama pemilih dalam memberikan hak pilihnya pada pada Pilkada langsung, dalam hal ini rasionalitas perilaku pemilih dalam memilih salah satu pasangan kandidat pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Langsung Provinsi Lampung 9 April 2014 yang lalu. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang didasarkan pada pengumpulan data kuantitatif, dengan maksud melakukan pengukuran cermat untuk menggambarkan realitas sosial sehingga relevansi sosiologisnya dapat tercapai. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa, tindakan dalam memilih masyarakat sebagian besar yakni 48,5% responden sudah terkategorikan sebagai tindakan memilih yang prospektif. Dimana mereka memilih dengan pertimbangan masa depan dengan melihat visi dan misi kandidat. Namun jika dilihat dari aspek rasionalitas tindakan, sebagian besar responden terkategorikan sebagai responden yang tidak rasional dalam menentukan pilihan. Dimana pemilih sebagian besar yakni 60,8% masih terpengaruh lingkungan serta aspek emosional dalam memilih kandidat.

(3)
(4)

RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN

KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014

(Studi Pada Masyarakat Desa Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung)

(Skripsi)

Oleh :

BAYU MARS DORAYIDI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di sebuah Desa kecil bernama Semuli Raya, Kec. Kota Bumi, Kab. Lampung Utara. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Eko Riyanto dan Asti Ayu Komariah.

Pendidikan yang pernah ditempuh oleh penulis :

1. Sekolah Dasar Abadi Perkasa, Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang yang diselesaikan pada tahun 2003

2. SMP Abadi Perkasa, Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2006

3. SMA Sugar Group Companies, Kabupaten Tulang Bawang yang diselesaikan pada tahun 2009

(9)

MOTO

“Kebingungan (ketidahtahuan) merupakan pendorong orang untuk belajar lebih jauh. Bila orang sudah puas, ia telah berada di jurang kemandegan

belajar.” (Gede Prama)

“Semakin banyak kamu memberi kepada orang lain, pada akhirnya semakin banyak, kamu akan menerima bagi dirimu sendiri.”

(Robin Sharma)

“Kebahagiaan atau kesedihan manusia tidak tergantung pada jumlah harta benda atau emas yang ia kumpulkan. Kebahagiaan atau penderitaan berada

di dalam jiwa seseorang. Orang yang bijaksana merasa nyaman disetiap negeri. Seluruh alam semesta inilah rumah bagi jiwa yang mulia.”

(Democritus)

“Bahaya terbesar bagi kebanyakan kita bukanlah cita-cita kita yang terlalu tinggi dan kita tidak dapat meraihnya, tetapi cita-cita kita terlalu rendah

sehingga kita mudah memperolehnya.” (Michelangelo)

“Beberapa orang akan memiliki kebesaran untuk membengkokan sejarah, namun setiap orang dapat mengubah sebagian kecil peristiwa itu, dan gabungan dari semua tindakan yang ditulis itu menjadi sejarah generasi ini.”

(Robert F. Kennedy)

“Akan muncul peristiwa khusus di dalam hidup setiap orang, yaitu peristiwa di mana manusia dilahirkan. Kesempatan istimewa ini, jika ia

menggunakannya, akan memenuhi misinya sebuah misi di mana ia diberi sifat unik. Pada saat itu, ia menemukan kebesarannya. Inilah saat

(10)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap Syukur Alhamdulilah

Kupersembahnkan karyaku ini untuk:

Kedua orang tuaku

Ayahanda Eko Riyanto dan Ibunda Asti Ayu Komariah

Kakakku

Eka Cah Nia Nopiyanti dan Mukasari

Sahabat dan teman-temanku serta semua pihak yang membantu penulisan skripsi ini

Seorang Perempuan berhati lembut Ratika Afdelina yang kelak mendampingi hidupku

Almamater tercinta Universitas Lampung

Ya Allah, puji syukur alhamdulilah ku panjatkan atas segala rahmat dan karunia-Mu, telah menciptakan orang-orang yang selalu dekat denganku

(11)

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat, hidayah dan inayah-Nya di setiap perjalanan hidup dalam setiap menempuh pendidikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik di Universitas Lampung.

Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi serta dukungan kepada penulis. Atas segala bantuan yang diterima, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Susetyo, M.Si., selaku Ketua Jurusan Sosiologi.

3. Bapak Drs. Ikram, M.Si., selaku pembimbing utama, terimakasih ata segala bimbingan, motivasi dan kepercayaan diri yang bapak berikan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Drs. Pairul Syah, M.H., selaku Pembimbing Akademik, terimakasih banyak atas segala saran dan bimbingan selama menjadi mahasiswa dan selama proses penyelesaian skripsi.

(12)

6. Terimakasih banyak kepada seluruh dosen-dosen Sosiologi yang telah banyak memberikan ilmu dan inspirasi yang sangat besar kepada penulis, Ibu Erna, Ibu Anita, Ibu Vivit, Ibu Paraswati, Ibu Dewi, Ibu Yuni, Ibu Endry, Pak Ikram, Pak Gede, Pak Sus, Pak Gede, Pak Fahmi, Pak Bintang, serta Bung Pay. Terimakasih untuk setiap pengetahuan dan motivasi baru yang penulis peroleh setiap harinya selama kuliah. 7. Kepada seluruh keluarga besarku yang tiada henti-hentinya memberikan semangat

dan dukungan, ayah ibu (terimakasih atas segala doa dan kasih sayangmu yang selalu menjadi kekuatan bagiku, semangat yang selalu engkau berikan sehingga aku bisa menjadi seorang sarjana, begitu besar jasa mu dalam kehidupanku). Kakakku tercinta (terimakasih banyak atas motivasi dan bantuannya, entah bagaimana aku harus membalasnya). Kakak Iparku (terimakasih banyak atas segala doa dan semangat yang selalu engkau berikan kepadaku). Oom Baweku (terimakasih banyak karena engkau selalu memberikan bimbingan baik teroritis maupun praktis dan semangat dalam kehidupanku).

8. Kepada seluruh keponakanku. Terimakasih banyak atas doa kalian, karna kalian adalah sebagian dari semangatku.

9. Terimakasih banyak kepada Ratika Afdelina karena selalu memberikanku semangat dalam mencapai gelar sarjana dan selalu setia menemani langkahku. Selalu mengingatkanku betapa berharganya waktu serta setia menungguku.

(13)

doa dan kerjasama semasa kuliah.

11.Kepada seluruh warga Desa Beringin Raya, terimakasih banyak karna telah membantu menyelesaikan skripsi ini.

12.Seluruh pihak yang berperan besar dalam perjalanan penulis mencapai semua ini, penulis ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis mohon maaf dan semoga skripsi ini dapat diterima di masyarakat. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi untuk seluruh pihak. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan senantiasa menjadi orang-orang yang istiqomah berada di jalan-Nya. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, 24 Mei 2014

Penulis,

(14)

SANWACANA

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat, hidayah dan inayah-Nya di setiap perjalanan hidup dalam setiap menempuh pendidikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik di Universitas Lampung.

Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi serta dukungan kepada penulis. Atas segala bantuan yang diterima, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Susetyo, M.Si., selaku Ketua Jurusan Sosiologi.

3. Bapak Drs. Ikram, M.Si., selaku pembimbing utama, terimakasih ata segala bimbingan, motivasi dan kepercayaan diri yang bapak berikan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Drs. Pairul Syah, M.H., selaku Pembimbing Akademik, terimakasih banyak atas segala saran dan bimbingan selama menjadi mahasiswa dan selama proses penyelesaian skripsi.

(15)

Ibu Vivit, Ibu Paraswati, Ibu Dewi, Ibu Yuni, Ibu Endry, Pak Ikram, Pak Gede, Pak Sus, Pak Gede, Pak Fahmi, Pak Bintang, serta Bung Pay. Terimakasih untuk setiap pengetahuan dan motivasi baru yang penulis peroleh setiap harinya selama kuliah. 7. Kepada seluruh keluarga besarku yang tiada henti-hentinya memberikan semangat

dan dukungan, ayah ibu (terimakasih atas segala doa dan kasih sayangmu yang selalu menjadi kekuatan bagiku, semangat yang selalu engkau berikan sehingga aku bisa menjadi seorang sarjana, begitu besar jasa mu dalam kehidupanku). Kakakku tercinta (terimakasih banyak atas motivasi dan bantuannya, entah bagaimana aku harus membalasnya). Kakak Iparku (terimakasih banyak atas segala doa dan semangat yang selalu engkau berikan kepadaku). Oom Baweku (terimakasih banyak karena engkau selalu memberikan bimbingan baik teroritis maupun praktis dan semangat dalam kehidupanku).

8. Kepada seluruh keponakanku. Terimakasih banyak atas doa kalian, karna kalian adalah sebagian dari semangatku.

9. Terimakasih banyak kepada Ratika Afdelina karena selalu memberikanku semangat dalam mencapai gelar sarjana dan selalu setia menemani langkahku. Selalu mengingatkanku betapa berharganya waktu serta setia menungguku.

(16)

senang selalu kita jalani dan kita lewati bersama, makan satu piring, tidur satu ranjang adalah kebiasaan yang takkan pernah kita lewatkan. Terimakasih banyak untuk segala doa dan kerjasama semasa kuliah.

11.Kepada seluruh warga Desa Beringin Raya, terimakasih banyak karna telah membantu menyelesaikan skripsi ini.

12.Seluruh pihak yang berperan besar dalam perjalanan penulis mencapai semua ini, penulis ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis mohon maaf dan semoga skripsi ini dapat diterima di masyarakat. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi untuk seluruh pihak. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan senantiasa menjadi orang-orang yang istiqomah berada di jalan-Nya. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, 24 Mei 2014

Penulis,

(17)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang... ... 1

1.2. Rumusan Masalah... ... 8

1.3. Tujuan Penelitian... ... 8

1.4. Manfaat Penelitian... ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA... 9

2.1. Perspektif Teori Tindakan Sosial... ... 9

2.2. Perspektif Teori Perilaku... ... 12

2.2.1. Behavioral... ... 12

2.2.2. Perspektif Pilihan Rasional... 13

2.3. Faktor-faktor yang Mempenngaruhi Perilaku Pemilih... ... 15

2.4. Tipe Perilaku Pemilih... 19

2.5. Pendekatan Perilaku Pemilih... ... 25

2.6. Kerangka Pikir... ... 29

III. METODE PENELITIAN... ... 31

3.1. Tipe Penelitian... ... 31

3.2. Definisi Konseptual... ... 32

(18)

3.2.2. Pemilihan Gubernur (Pilgub)... ... 33

3.2.3. Kandidat... ... 33

3.3. Definisi Operasional... 34

3.3.1. Perilaku Pemilih... ... 34

3.3.2. Pemilihan Gubernur (Pilgub)... ... 38

3.3.3. Kandidat... ... 39

3.4. Objek Penelitian... ... 40

3.5. Lokasi Penelitian... ... 40

3.6. Populasi Sampling... 40

3.7. Teknik Sampling... 41

3.8. Sumber Data... 42

3.9. Teknik Pengumpulan Data... ... 42

3.10. Teknik Pengolahan Data... ... 43

3.11. Teknik Analisa Data... ... 43

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN... 45

4.1. Kota Bandar Lampung... ... 45

4.2. Kecamatan Kemiling... ... 50

4.3. Kondisi Demografis Desa Beringin Raya... ... 52

4.4. Potensi Desa... ... 53

4.4.1. Sumber Daya Manusia... ... 53

4.4.2. Sumber Daya Buatan... ... 58

4.4.3. Organisasi Sosial... ... 60

V. HASIL DAN PEMBAHASAN... 64

(19)

5.3.1. Pengetahuan Aktor... 68

5.3.2. Pengaruh Lingkungan Sosial Responden Dalam Menentukan Pilihan... 69

5.3.3. Pengaruh Intervensi dari Kandidat Secara Emosional... 70

5.4. Rasionalitas Perilaku Memilih Responden... 71

5.4.1. Rasionalitas perilaku memilih responden dapat dilihat dari tingkat pengetahuan responden dengan ada tidaknya pengaruh lingkungan responden dan ada tidaknya pengaruh intervensi kandidat secara emosional dalam menentukan pilihan... 71

5.4.2. Perilaku memilih responden dilihat dari kategori rasionalitas diakronik dengan rasional dan tidak rasional... 73

VI. KESIMPULAN DAN SARAN... ... 74

6.1. Kesimpulan... ... 74

6.2. Saran... ... 75

DAFTAR PUSTAKA

(20)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Variabel Penelitian... ... 36

2. Daftar Kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pilkada Lampung 2014... ... 39

3. Jumlah penduduk Desa Beringin Raya berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2013... ... 53

4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok Desa Beringin Raya... 55

5. Jumlah Suku Bangsa yang ada di Desa Beringin Raya Tahun 2013... 56

6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pemeluk Agama Desa Beringin Raya Tahun 2013... 57

7. Jumlah Bangunan Infrastruktur Desa Beringin Raya Tahun 2013... 59

8. Jumlah Penduduk dalam Organisasi Sosial Desa Beringin Raya Tahun 2013... 61

9. Kandidat yang dipilih pada saat Pilkada... 64

10. Kategori Tindakan Memilih Responden Dilihat dari Rasionalitas Diakronik... 66

11. Tingkat Pengetahuan Responden dalam Memilih Kandidat... 68

12. Pengaruh Lingkungan Sosial Responden dalam Menentukan Pilihan... 69

13. Pengaruh Emosional dalam Menentukan Pilihan... 70

(21)
(22)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(23)

I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Menurut berbagai kajiannya tentang politik, para sarjana politik sepakat bahwa demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang paling baik. Sistem ini telah memberikan ruang bebas dalam distribusi kekuasaan untuk warga negaranya serta akuntabilitas bagi mereka yang menjalankan kekuasaan. Hal ini juga dikemukakan oleh Hertanto (2006:139), bahwa demokrasi merupakan sebuah sistem yang dianggap ideal untuk semua sistem politik. Dimana terdapat pengakuan atas hak individu didalamnya.

Demokrasi dimaknai sebagai sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dimana kekuasaan tertinggi ada pada rakyat, dengan demikian pusat kekuasaan berasal dari rakyat. Hal tersebut juga disampaikan oleh Sartori, mengutip Basrowi (2006:7) bahwa demokrasi dicirikan sebagai sebuah sistem pemerintahan yang masyarakatnya memiliki partisipasi luas, adanya kompetensi politik yang sehat, sirkulasi politik yang terkelola serta terjaga, kemudian adanya pengawasan yang efektif, diakui suara mayoritas, dan adanya tata krama politik yang telah disepakati.

(24)

2

digunakan secara langsung oleh setiap warga negara yang diaktualisasikan melalui prosedur pemerintahan mayoritas, yang biasa disebut dengan demokrasi langsung. Pemilihan umum tidak hanya sebagai pengakuan hak-hak rakyat pada wakil-wakilnya yang akan menjalankan pemerintahan. Institusi ini sebagai proses rekruitmen serta cara regenerasi kekuasaan politik.

Menyinggung permasalahan demokrasi, sejarah demokrasi di Indonesia cukup panjang. Indonesia pernah mengalami masa demokrasi singkat pada tahun 1955, ketika pertama kalinya diselenggarakan pemilu bebas di Indonesia. Sampai kemudian Presiden Soekarno menyatakan demokrasi terpimpin sebagai pilihan sistem pemerintahan. Setelah mengalami masa demokrasi pancasila, sebuah demokrasi semu yang diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto, Indonesia kembali masuk kedalam masa demokrasi pada tahun 1998 ketika pemerintahan Soeharto tumbang yang ditandai lahirnya reformasi (Heri, 2009:2).

Tercatat pemilihan umum di Indonesia telah berlangsung sembilan kali dalam tiga rezim kekuasaan yang berbeda. Pemilu yang berlangsung di Indonesia pada masa orde lama yaitu pemilu tahun 1955 dan 1971. Kemudian pada masa orde baru, pemilu berlangsung selama lima kali yaitu 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997. Sedangkan sejak reformasi tahun 1998 pemilu telah berlangsung dua kali yaitu tahun 1999 dan 2004 (Heri, 2009:2).

(25)

Jatuhnya rezim Soeharto dan lahirnya reformasi, telah menandai lahirnya babak baru kehidupan politik bangsa Indonesia. Reformasi menuntut pembaharuan membuat dinamika politik masyarakat makin tinggi yang tampak melalui euforia politik yang terus menuntut reformasi disegala sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Masyarakat menuntut pemerintahan baru yang tidak terkontaminasi dengan rezim masa lalu (Heri, 2009:3).

Kelanjutan dari proses demokratisasi, di era reformasi ini ada sesuatu hal yang baru dalam praktek ketatanegaraan kita, yakni ada pemilihan Presiden langsung sejak tahun 2004 dan pemilihan kepala Daerah langsung sejak tahun 2005. Sistem pemilihan langsung ini merupakan respon dari meluasnya harapan seluruh bangsa dalam rangka mengembalikan kedaulatan rakyat secara demokratis. Kita tahu bahwa pada masa orde baru terdahulu kehidupan demokrasi bangsa ini dapat dikatakan sebagai demokrasi yang semu, dimana sistem pemilihan umum yang memilih wakil-wakil rakyat dalam pemilu, implementasinya hanya sebagai formalitas dan untuk melanggengkan kekuasaan yang ada (Heri, 2009:3).

(26)

4

Wakil Kepala Daerah dalam satu pasangan calon melalui suatu sistem pemilihan langsung atau yang lebih dikenal dengan Pilkada langsung.

Dalam konteks ini negara telah memberikan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk menentukan sendiri segala bentuk kebijakan yang menyangkut harkat dan martabat masyarakat daerah. Masyarakat daerah yang selama ini hanya menjadi penonton proses pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh anggota DPRD (parlemen), kini menjadi pelaku atau pemilih yang akan menentukan terpilihnya kepala daerah. Hal demikian dikemukakan juga oleh Asfar (2006:15) bahwa Pilkada merupakan sebuah kiat-kiat yang dilakukan untuk menciptakan pemerintahan yang representatif, sehingga responsif dalam menanggapi isu-isu yang berasal dari publik serta dengan harapan tercapainya visi, misi serta program kerja pemerintahan.

Adapun pendapat yang sejalan mengenai Pilkada oleh Joko Prihatmoko dalam Pristianingsih (2007:23) yang menyebutkan beberapa kelebihan dari Pilkada langsung yakni:

1. Kepala daerah yang terpilih akan memiliki mandat serta legitimasi kuat karena didukung oleh suara rakyat yang memberikan suaranya secara langsung.

2. Kepala daerah yang terpilih tidak terikat pada konsesi partai, sebagaimana selama ini.

(27)

4. Akan terjadinya check and balance antara legislatif dan eksekutif, serta 5. Kriteria kepala daerah dapat dinilai secara langsung oleh rakyat yang akan

memberikan suaranya.

Dengan demikian sistem Pilkada langsung memberikan kelonggaran serta kesempatan kepada rakyat untuk memilih kepala daerahnya secara langsung, bebas menurut hati nuraninya tanpa ada tekanan serta campur tangan dari pihak manapun. Bahkan ditinjau dari perspektif pembangunan politik, sebagai pengembangan demokrasi lokal, Pilkada langsung merupakan proses pergantian pemimpin ditingkat lokal yang diharapkan mampu memberikan pendidikan politik kepada rakyat untuk meningkatkan kedewasaan rakyat dalam berpolitik. Seperti yang dikemukakan oleh Ari Damastuti, dalam Gunawan (2006:24) bahwa tujuan utama proses pendidikan politik dalam suatu ajang pemilihan umum adalah warga masyarakat dapat memilih dengan tepat dan benar, berdasarkan pemahaman yang benar atas pilihan mereka.

(28)

6

menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan pilihan. Hal tersebut dimaksudkan, untuk mendorong rasionalitas pemilih, maka perlunya pemahaman pemilih akan pilihan politiknya. Dimana yang tadinya pemilu 1999 hanya memilih partai saja, kemudian pada pemilu tahun 2004 terjadi perubahan sistem pemilihan, rakyat rakyat tidak hanya bisa memilih partai saja namun mereka dapat juga memilih langsung calon legislatifnya. Beranjak dari fakta ini kiranya dapat memperkuat argumentasi mengenai Pilkada bahwa Pilkada langsung merupakan momentum yang tepat bagi munculnya berbagai varian preferensi pemilih yang menjadi faktor penting dalam melakukan tindakan atau perilaku politiknya.

Kita mengetahui sistem pemilihan umum sebelumnya, lebih mendorong masyarakat sebagai partisipatoris pasif saja. Hal ini dikemukakan oleh Gaffar dalam Mediastutie (2006:7) bahwa akibat budaya politik yang paternalistik, menciptakan pola perilaku masyarakat pemilih di Indonesia tidak bersifat rasional. Pemilih dalam menentukan pilihanya untuk memilih partai politik tertentu bukan atas dasar perhitungan rasional. Namun, berdasarkan kepada faktor yang lebih bersifat tradisional dan ikatan emosional yang terbangun sebagai akibat dari suatu proses internalisasi yang mereka pilih dari suatu generasi sebelumnya.

(29)

perolehan suara Pilkada Gubernur oleh Sjahroedin ZP-Joko Umar Said yang memperoleh suara 43,27% suara pada pilgub Lampung September 2008 lalu. Tentu saja hal tersebut menimbulkan pertanyaan dan jawabannya hanyalah akan kita dapat dari penulusuran terhadap perilaku masyarakat itu sendiri (Heri, 2009:7).

Pilkada Lampung sebelumnya banyak pengamat yang mengatakan bahwa kemungkinan tingkat partisipasi masyarakat Lampung akan sangat rendah. Namun, secara mengejutkan ternyata tingkat partisipasi masyarakat mencapai 68,8% (KPUD Lampung). Hal tersebut berbanding terbalik dengan pilkada-pilkada didaerah lain. Seperti di Jawa Barat misalkan, tingkat partisipasi hanya sekitar 30%, Jawa Timur 50%, Jakarta 40%. Dengan tingkat partisipasi yang cukup tinggi tersebut ternyata kita juga dicengangkan betapa signifikannya perolehan suara pasangan Sjahroedin ZP-Joko Umar Said yang memperoleh 43,27% suara (Heri, 2009:8).

(30)

8

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah

1. Apakah pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 rasional?

2. Apakah pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 menunjuk kepada tindakan yang rasional atau tidak rasional?

3. Seberapa besar tingkat rasionalisasi pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

1. Untuk menjelaskan apakah pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 rasional.

2. Untuk memahami tindakan pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 apakah rasional atau tidak rasional dalam memilih pasangan kandidatnya. 3. Untuk mengukur seberapa besar tingkat rasionalisasi pemilih dalam

memilih pasangan kandidatnya pada Pilgub Lampung tahun 2014.

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan dalam dua aspek, yaitu:

1. Aspek Teoritis, yaitu dapat memberikan sumbangan berupa khasanah pengetahuan sosiologi politik berupa pemahaman rasionalisasi pemilih.

(31)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perspektif Teori Tindakan Sosial

Perilaku memilih dalam Pilkada langsung merupakan perilaku politik yang bisa dikategorikan sebagai tindakan sosial. Dimana tindakan sosial merupakan proses aktor terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan subjektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih, tindakan tersebut mengenai semua jenis perilaku manusia, yang dengan penuh arti diorientasikan kepada perilaku orang lain, yang telah lewat, yang sekarang dan yang diharapkan diwaktu yang akan datang. Menurut Johnson dalam Upe (2008:90) bahwa tindakan sosial (social action) adalah tindakan yang memiliki makna subjektif (a subjective meaning) bagi dan dari aktor pelakunya.

Tindakan sosial seluruh perilaku manusia yang memiliki arti subjektif dari yang melakukannya. Baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang diutarakan secara lahir maupun diam-diam, yang oleh pelakunya diarahkan pada tujuannya. Sehingga tindakan sosial itu bukanlah perilaku yang kebetulan tetapi yang memiliki pola dan struktur tertentudan makna tertentu.

(32)

10

tindakan yang ditentukan oleh harapan-harapan yang memiliki tujuan untuk dicapai dalam kehidupan manusia yang dengan alat untuk mencapai hal tersebut telah dirasionalkan dan dikalkulasikan sedemikian rupa untuk dapat dikejar atau diraih oleh yang melakukannya. Kedua, value rational, yaitu tindakan yang didasari oleh kesadaran keyakinan mengenai nilai-nilai yang penting seperti etika, estetika, agama dan nilai-nilai lainnya yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupannya. Ketiga, affectual (especially emotional), yaitu tindakan yang ditentukan oleh kondisi kejiwaan dan perasaan aktor yang melakukannya. Keempat, traditional, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang mendarah daging.

Beberapa asumsi fundamental teori aksi (action theory) yang dikemukakan oleh Hinkle dalam Upe (2008:90) antara lain :

1. Tindakan manusia muncul dari kesadaran sendiri sebagai subjek dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai objek.

2. Sebagai subjek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

3. Dalam bertindak manusia menggunakan cara teknik prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut. 4. Manusia memilih, menilai, dan mengevaluasi terhadap tindakan yang

sedang terjadi dan yang akan dilakukan.

5. Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat pengambilan keputusan.

(33)

1. Adanya individu selaku aktor.

2. Aktor dipandang sebagai pemburu tujuan-tujuan tertentu.

3. Aktor mempunyai alternatif cara, alat, serta teknik untuk mencapai tujuan. 4. Aktor berhadapan dengan sejumlah kondisi situasional yang dapat

membatasi tindakan dalam mencapai tujuan.

5. Aktor berbeda dibawah kendali nilai-nilai, norma dan berbagai nilai abstrak yang mempengaruhi dalam memilih dan menentukan tujuan. Aktor mengejar tujuan dalam situasi dimana norma-norma mengarahkan dalam memilih alternatif cara dan alat untuk mencapai tujuan, tetapi putusan akhir ditentukan oleh kemampuan aktor untuk memilih. Kemampuan inilah yang disebut Parsons sebagai voluntarisme yaitu kemampuan melakukan tindakan dalam arti menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternatif yang tersedia dalam rangka mencapai tujuannya.

Baik Weber maupun Parsons menempatkan individu sebagai mahluk yang kreatif, dalam bertindak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian menurut Veeger individualitas manusia menampakkan diri dari dalam tindakannya yang sadar dan sengaja. Sebagai individu ia bebas, mampu menentukan apa yang harus dilakukan.

(34)

12

Dengan demikian perilaku politik dalam hal ini perilaku memilih perspektif tindakan sosial adalah tindakan sosial adalah tindakan individu dan kelompok dalam melakukan tindakan-tindakan politik, memiliki keterkaitan dengan kesadaran dan tujuan politik dari aktor yang memainkannya. Bahkan tingkah laku politik merupakan hasil pertemuan faktor-faktor struktur kepribadian, keyakinan politik, tindakan politik, individu dan struktur serta proses politik menyeluruh.

2.2. Perspektif Teori Perilaku

Dalarn sosiologi politik terdapat beberapa perspektif teori yang dapat digunakan untuk menganalisis perilaku politik, karena perilaku politik merupakan sebuah gejala yang hisa diamati Penelitian tentang perilaku pemilih cukup relevan digunakan pendekatan behavior Menurut Budiarjo yang dikutip Upe (2008:95).

2.2.1. Behavioral

(35)

2.2.2. Perspektif Pilihan Rasional

Selanjutnya Ritzer (2007:357) menjelaskan Prinsip dasar teori pilihan rasional berasal dari ekonomi klasik. Berdasarkan berbagai jenis yang berbeda, menghimpun apa yang mereka sebut sebagai model kerangka teori pilihan rasional. Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai rnanusia yang mempunyai maksud. Hal tersebut dimaksudkan aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu. Aktorpun dipandang mempunyai pilihan (atau nilai, keperluan). Teori pilihan rasional tidak rnenghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor. Hal terpenting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tingkatan pilihan aktor.

Kemudian Ritzer menerangkan meskipun teori pilihan rasional berawal dari tujuan atau maksud aktor, namun teori ini memperhatikan sekurang-kurangnya dua pemaksa utama tindakan.

1. Pertama adalah keterbatasan sumber. Aktor mempunyai sumber yang

(36)

14

2. Sumber pemaksa kedua atas tindakan aktor individual adalah lembaga sosial. Hambatan kelembagaan ini menyediakan baik sanksi positif maupun sanksi negatif yang membantu mendorong aktor untuk melakukan tindakan tertentu dan menghindarkan tindakan lain.

Selanjutnya, Friedman dan Hecthter dalam Ritzer (2007:358) mengemukakan dua gagasan lain yang menjadi dasar teori pilihan rasional. Pertama, adalah kumpulan mekanisme atau proses yang menggabungkan tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan akibat sosial. Kedua, bertambahnya pengertian tentang pentingnya informasi dalam membuat pilihan rasional.

Reward dalam bentuk pemberian dukungan (memilih seorang kandidat)

sangat dipengaruhi oleh stimulus yang ada. Stimulus sebagai sebuah produk politik bagi pemilih menurut Kotler, Peter dan Olson sebagaimana yang dikutip oleh Nursal (2004:23), memiliki beberapa tahap respon.

Pertama, awareness yakni bila seseorang bila seseorang dapat mengingat atau menyadari bahwa sebuah pihak tertentu merupakan sebuah konstestan pemilih. Dengan jumlah kontestan Pilkada yang banyak, membangun awareness cukup sulit lakukan khususnya bagi partai-partai baru, secara

umum para pemilih tidak akan menghabiskan waktu dan energi untuk menghapal nama kontestan tersebut. Kontestan yang tidak memiliki brand awareness. Kedua, knowledge. Kedua hal tersebut diartikan ketika seseorang

(37)

interpretasikan sehingga bentuk makna tertentu dalarn pikiran pernerintah. Ketiga liking, yakni tahap dimana seorang pemilih menyukai kontestan tertentu karena satu atau beberapa makna politis yang terbentuk dalam pikirannya sesuai dengan aspirasinya. Keempat, preference, yakni tahap dimana pemilih menganggap bahwa satu atau heberapa makna politis yang terbentuk sebagai interpretasi terhadap produk politik seorang, kontestan tidak dapat dihasilkan secara lebih oleh kontestan lainnya. Ada kecenderungan pemilih memilih kontestan tersebut. Kelima, conviction, yakni pemilih tersebut sampai pada keyakinan untuk memilih kontestan tertentu.

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pemilih

Adnan Nursal (2004:37) menguraikan sejumlah orientasi pemilih dalam ajang pemilihan umum, antara lain :

1. Sosial imagery atau citra sosial (pengelompokan sosial), menunjukan streotip kandidat atau partai untuk menarik pemilih dengan menciptakan asosiasi antar kandidat atau partai dengan segmen - segmen tertentu dalam masyarakat. Social imagery adalah citra kandidat dalam pikiran pemilih mengenai “berada” didalarn kelompok sosial mana atau tergolong sebagai apa sebuah partai atau kandidat politik. Social imagery dapat terjadi berdasarkan banyak faktor antara lain :

a. Demografi

1) Usia (contoh : partai anak muda)

(38)

16

b. Sosio ekonomi

1) Pekerjaan (contoh : partai kaum buruh) 2) Pendapatan (contoh : partai wong cilik) c. Kultur dan etnik

1) Kultur (contoh : kandidat adalah seniman, santri) 2) Etnik (contoh : orang Jawa, Sulawesi)

d. Politis-ideologi (contoh : partai nasionalis, partai agamis, partai konservatif, partai moderat).

2. Identifikasi partai, bisa menjadi salah satu faktor yang cukup signifikan dalam menentukan pilihan politik sesuai dengan kedekatan terhadap suatu partai yang dihubungkan dengan kandidat.

3. Identifikasi kandidat

a. Emosional feelings, dimensi emosional yang terpancar dari sebuah kontestan atau kandidat yang ditunjukan oleh police making yang ditawarkan.

b. Kandidat personality, mengaju pada sifat-sifat pribadi yang penting yang dianggap sebagai karakter kandidat.

4. Isu dan kebijakan politik, pengaruh isu dan program bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perilaku pemilih. Semakin tingginya pendidikan pemilih, yang bisa meningkatkan daya kritis, semakin menyebabkan pentingnya peranan isu dan program.

5. Peristiwa-peristiwa tertentu

(39)

b. Personal events, mengacu pada peristiwa pribadi dan peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh seorang kandidat. Misalnya, skandal seksual, skandal bisnis, menjadi korban rezim, pernah ikut berjuang dan lain-lain.

6. Epistemic, adalah isu-isu pemilihan yang spesifik dimana dapat memicu keingintahuan pemilih mengenai hal-hal tertentu.

Selanjutnya Lipset (2007:181) juga mengemukakan, perilaku pemilih akan dipengaruhi oleh struktur sosial seorang individu, seperti kelompok politik dan sistem politik yang melekat pada individu berdasarkan etnis, agama, atau sistem ekonomi regional.

Kemudian Upe (2008:205) menurut hasil penelitiannya menyimpulkan terdapat enam variabel atau faktor sebagai stimulus politik yang mempengaruhi perilaku pemilih dalam memilih kandidat, antara lain :

1. Identifikasi figure

(40)

18

2. Identifikasi partai politik yang mengusung

Secara sosiologis ada kemungkinan faktor ini dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Dimana pemilih mengaitkan pilihannya dengan kelompok sosialnya, dalam hal ini partai politik.

3. Isu kampanye

Kampanye merupakan proses penyampaian program dari masing-masing pasangan calon melalui pesan-pesan politik yang bertujuan untuk mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku pemilih.

4. Faktor juru kampanye

Juru kampanye yang dimaksud yakni siapa saja yang aktif menyampaikan program-program pasangan calon, baik pada saat kampanye maupun diluar kampanye. Tentu saja para juru kampanye tersebut memiliki ikatan yang lebih dekat dengan konstituen di sekitar mereka.

5. Pertimbangan insentif (hibah politik)

Fenomena menarik dalam pilkada adalah maraknya kapitalisme pilkada. Pertama, sebuah partai memiliki kewenangan untuk menuntut kontribusi kepada partai politik yang akan mengusungnya. Kedua, dalam kondisi pemilih yang masih sangat terbatas baik aspek ekonomi maupun politik, bisa dimanfaatkan para pihak kandidat untuk mendapatkan suara, dalam hal ini disebut hibah politik.

6. Faktor kelompok penekan (pressure group)

(41)

itu juga ada tekanan dari kelompok dimana masing-masing individu berada seperti keluarga, pertemanan, lingkungan pekerjaan dan sebagainya.

2.4. Tipe Perilaku Pemilih

Popkin dalam Nursal (2004:37) membedakan antara pilihan potitik sebagai wujud perilaku politik dengan pilihan pribadi tethadap produk-produk konsumtif sebagaimana dalam perilaku ekonomi. Menurutnya ada empat hal yang membedakan perilaku tersebut. Pertama, memilih kandidat politik, secara tidak Iangsung dirasakan manfaatnya sebagaimana pilihan terhadap produk konsumtif, melainkan manfaatnya diperoleh di masa depan. Kedua, pilihan politik merupakan tindakan kolektif dimana kemenangan ditentukan oleh perolehan suara terbanyak. Jadi pilihan seseorang senantiasa mempertimbangkan pilihan orang lain. Ketiga, pilihan politik senantiasa diperhadapakan dengan ketidakpastian utamanya untuk memenuhi janji politiknya. Keempat, pilihan politik membutuhkan informasi yang intensif demi tereapainya manfaat dimasa depan.

Kemudian iuga. secara umum tipe perilaku pemilih sebagaimana yang dikemukakan oleh Newman dalam Nursal (2004:126). Terdiri atas segmen-segmen sebagai berikut :

1. Segmen pemilih rasional

(42)

20

2. Segmen pemilih emosional

Yaitu kelompok pemilih yang dipengaruhi oleh perasaan-perasaan tertentu seperti kesedihan, kekhawatiran, dan kegembiraan terhadap harapan tertentu dalam menentukan pilihan politiknya. Faktor emosional ini sangat ditentukan o1eh personalitas kandidat.

3. Segmen pemilih sosial

Yaitu kelompok pemilih yang mengasosiasikan kontestan dengan kelompok-kelompok sosial tertentu dalam menentukan pilihan politiknya.

4. Segmen pemilih situasional

Yaitu kelompok pemilih yang dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional tertentu dalam menentukan pilihan politiknya.

Selanjutnya Nimmo dalam Upe (2008:112) menurunkan pemberian suara ke dalam empat alternatif tindakan yakni :

1. Pemberian suara rasional

(43)

2. Pemberian suara reaktif

Bersumber dari asumsi fisikalistik bahwa manusia bereaksi terhadap rangsangan dengan cara pasif dan terkondisi terhadap kampanye politik oleh partai dan kandidat yang menyajikan isyarat dengan maksud menggerakan arah perilaku pemilih dalam memberikan suara. Ikatan emosional kepada partai politik merupakan konstruk yang paling penting yang menghubungkan pengaruh sosial dengan pemberian suara bagi pemilih yang reaktif. Sumber utama aksi dari pemberi suara yang reaktif yaitu sekedar mengasosiasikan lambang partai dengan nama kandidat mendorong mereka yang mengidentifikasikan diri dengan partai atau kandidat untuk mengembangkan citra yang lebih menguntungkan tentang catatan dan pengalamannya, kemampuannya dan atribut personalnya. Oleh karena itu, identifikasi dengan partai meningkatkan tabir perseptual yang melalui tabir itu individu melihat apa yang menguntungkan bagi kepartaiannya.

3. Pemberi suara responsif

(44)

22

umum, ketimbang oleh kesetiaan jangka panjang kepada kelompok atau kcpada partai. Pemberi suara yang responsif bukanlah gambaran pemilih yang dibelenggu oleh determinan sosial atau didorong oleh alam bawah sadar yang dipicu oleh propaganis yang luar biasa terampilnya. Ia lebih merupakan gambaran tentang pemilih yang digerakan oleh perhatiannya terhadap masalah pokok dan relevan tentang kebijakan umum, tentang prestasi pemerintah dan tentang kepribadiaan eksekutif.

4. Pemberi suara aktif

Manusia bertindak terhadap suatu objek yang dilihatnya, memberinya makna dan menggunakan makna itu untuk mengarahkan tindakannya. Bila pandangan demikian, individu yang aktif itu menghadapi dunia yang harus diinterpretasikan dan diberi makna untuk bertindak bukan hanya lingkungan pilihan yang telah diatur sebelumnya, yang terhadapnya orang menanggapi karena silat atribut dan sikap individu atau jangkauan rangsangan yang terbatas. Keterlibatan aktif mencakup orang yang. menginterpretasikan peristiwa, isu, partai dan personalitas. Dengan demikian menetapkan dan menyusun maupun menerima serangkaian pilihan yang diberikan.

(45)

Stimulus politik tidak secara langsung mempengaruhi perilaku politik melainkan terilebih dahulu melewati atau melalui variabel antara yakni visi misi pemilih yang menjadi pertimbangan utama dalam mencapai tujuan politiknya yang dalam penelitian ini disebut sebagai rasionalitas diakronik.

Sintesa teoritis yang didasarkan pada realitas locus penelitian menurut Upe (2008 :255) menunjukan bahwa, perilaku politik pemilih mencirikan model diakhronik, yaitu rasionalitas perilaku pemilih dengan mempertimbangkan jangka waktu percapaian tujuan. Derajat rasionalitas tersebut tersusun dalam tiga rentang waktu, yakni rasionalitas retrospektif, rasionalitas pragmatis-adaptif, dan rasionalitas prospektif.

1. Model rasional retrospektif

Yaitu kemampuan pemilih untuk memilih berdasarkan penilaiannya pada penampilan kontestan pada masa yang lalu. Perilaku memilih retrospektif (retro, spektif, voting) tidak ubahnya seperti memberikan ganjaran atau

hukuman kepada kontestan. Rasionalitas retrospektif diarahkan pada figur dan partai politik. Dalam artian, reward maupun punishment diarahkan pada kandidat, parpol mengusung, dan juru kampanye.

2. Model rasionalitas pragmatis-adaptif

(46)

24

perubahan signifikan. Rasionalitas model ini tidak mengikuti tradisi model prospektif (masa depan) dan tidak pula didasarkan pada model retrospektif (pandangan masa lalu). Melainkan sifatnya flekksibel dan kondisional. Atau dengan kata lain model pragmatis-adaptif, yaitu perilaku pemilih yang diorientasikan pada waktu sekarang, pemilih hanya semata melihat kepentingan sesaat.

3. Model rasionalitas prospektif

Model rasionalitas yang dimaksud adalah perilaku pemilih yang didasarkan pada orientasi masa depan yang lebih panjang (prospective voting). Perilaku pemilih dalam model prospektif dalam menentukan pilihannya didasarkan pada visi misi kandidat, rekam jejak kandidat (track record), integritas, keahlian, dan program yang ditawarkan. Motivasi utama atau tujuan yang ingin dicapai oleh pemilih dari pemberian suaranya pada salah satu pasangan calon yaitu menginginkan pemimpin yang benar-benar dengan dianggap kapabel dalam menjalankan roda pcmerintahan yang good governance and clean governance. Rasionalitas perilaku pemilih paling tinggi berdasarkan

(47)

2.5. Pendekatan Perilaku Pemilih

Dalam Asfar (2006:112) menyatakan bahwa terdapat tiga macam atau dasar pemikiran yang berusaha menerangkan perilaku pemilih, atau dalam istilahnya Roth disebut perilaku pemilu. Ketiganya tidak sepenuhnya berbeda, dan dalam beberapa hal ketiganya bahkan saling membangun/mendasari, serta memiliki urutan kronologis yang jelas. Pendekatan ini terletak pada titik beratnya : model sosiologis untuk menerangkan perilaku pemilu, model psikologi sosial dan model pilihan rasional.

1. Pendekatan sosiologis atau sosial struktural

Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakeristik sosial dan pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan pilihan pemilih. Bahwa pendekatan sosiologi atau lebih tepatnya pendekatan sosial struktural untuk menerangkan perilaku pemilu, secara logis terbagi atas model penjelasan mikrososiologis dan penjelasan makrososiologis. Model penjelasan mikrososiologis lebih dikenal dengan sebutan mazhab Columbia (Columbia school). Sedangkan model penjelasan makrososiologis dari Seymour Martin Lipset dan Stein Rokkan, didasarkan atas pengamatan perilaku pemilu lazarsfeld. Model ini menelaah perilaku pemilu diseluruh tingkatan atau lapisan masyarakat secara keseluruhan.

Selanjutnya Roth mengatakan dasar model penjelasan mikrososiologis berasal

(48)

26

berbagai lingkaran sosial, contohnya keluarga, lingkaran rekan-rekan, tempat kerja dsb. Sedangkan model penjelasan makrososiologis, mengacu kepada konflik-konflik mendasar yang biasanya muncul di masyarakat, yang kesetimbanganya perlu dipertahankan dalam sebuah demokrasi. Biasanya status sosial struktural dilakukan dengan melihat keanggotaan seseorang dalam berbagai kelompok profesi yang ada. Secara keseluruhan, pendekatan sosial struktural dapat memberikan penielasan yang sangat baik mengenal perilaku pemilu yang konstan. Namun tetap tidak dapat memberikan penjelasan mengenai penyebab pindahnya seorang individu kepartai (pilihan) politik lain.

2. Pendekatan sosial psikologis

Pendekatan ini menjelaskan bahwa sikap seseorang merupakan refleksi kepribadian seseorang yang menjadi variabel yang cukup menentukan dalam mempengaruhi perilaku politik seseorang. Sementara pendekatan pemilu dari Columbia School lebih mengaitkan perilaku pemilu dengan konteks

(49)

masing-masing individu secara primer tidak ditentukan secara sosial struktural. melainkan lebih merupakan hasil pengaruh jangka pendek dan jangka panjang terhadap sang individu.

Pendekatan sosial psikologis berusaha untuk menerangkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pemilu jangka pendek atau keputusan pemilu yang diambil dalam waktu yang singkat Hal ini berusaha dijelaskan melalui trias determinin yakni identifikasi partai, orientasi kandidat, dan orientasi isu/tema. Sebagaimana yang dikemukakan Campbell bahwa pendekatan sosial psikologis, membedakan antara kekuatan, arah dan intensitas orientasi, baik dalam orientasi isu, maupun orientasi kandidat. Dimana tema-tema khusus itu hanya dapat mempengaruhi perilaku pemilu individu apabila memenuhi tiga persyaratan dasar ; tema tersebut harus ditangkap oleh pemilih, tema tersebut dianggap penting oleh pemilih, dan pada akhimya pemilih harus mampu menggolongkan posisi pribadinya (baik seeara positif maupun negatif) terhadap pemecahan konsep yang ditawarkan oleh sekurang-kurangnya satu partai. Apabila dilihat seeara keseluruhan maka pendekatan sosial psikologis dapat memberikan tambahan yang berarti kepada model penjelasan sosial struktural bagi perilaku pemilu. Dengan demikian, maka pengaruh jangka pendek harus dapat dipertimbangkan dalam menilai perilaku pemilu. Terutama dalam menjelaskan perilaku pemilu yang berubah-ubah.

3. Pendekatan rasional

(50)

28

(51)

2.6.Kerangka Pikir

Tindakan memilih adalah sebuah tindakan sosial. Tindakan tersebut diartikan sebagai sebuah tanggapan/output terhadap situasi sosial/input yang dihadapkan kepada aktor. Dalam hal ini tanggapan terhadap Pilkada. Situasi sosial akan diinternalisasikan oleh aktor kedalam diri aktor. Yang mana outputnya akan ditentukan/tergantung pada faktor sifat alami yang ada dalam aktor dan faktor intervensi yang datang kepada aktor.

Faktor - faktor tersebut pertama sifat alami aktor, terdiri atas dirinya sendiri dan lingkungannya. Aktor sebagai mahluk individu memiliki pengetahuan akan situasi sosial yang terjadi, dan aktor sebagai mahluk sosial akan dipengaruhi oleh lingkungannya. Kedua, faktor yang juga turut menentukan adalah intervensi yang didatangkan pada aktor dari pihak kandidat, yang secara emosional akan mernpengaruhi keputusan tindakan memilihnya.

(52)

30

Penelitian ini ingin melihat sejauh manakah tindakan tersebut dilakukan. Apakah menunjuk kepada tindakan yang rasional atau tidak rasional yang dilihat dari perspektif individu yang melakukannya.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan kerangka berpikir di bawah : Gambar 1.

Bagan Kerangka Berpikir

Pengetahuan Responden

Lingkungan

Responden Intervensi

Kandidat

Perilaku Pemilih - Retrospektif - Pragmatis-Adaptif - Prospektif

Rasional Tidak Rasional

(53)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pemilihan tipe penelitian deskriptif ini dimaksudkan untuk melakukan pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu. Metode penelitian ini tidak membutuhkan hipotesa, namun hanya membutuhkan sejumlah fakta yang dijadikan sebagai data yang mana pengolahannya dapat memberikan informasi umum tentang suatu aktivitas sosial (Singarimbun, 1989:4).

(54)

32

3.2.Definisi Konseptual 3.2.1. Perilaku Pemilih :

Perilaku Pemilih adalah perilaku politik atau perilaku memilih salah satu pasangan kandidat pada suatu ajang Pemilihan Umum Kepala Daerah. Dimana tindakan tersebut diartikan sebagai tindakan yang disebabkan oleh stimulus-stimulus politik yang ada, yang sebelumnya akan dipengaruhi oleh :

a. Tingkat pengetahuan responden :

Yaitu tingkat pengetahuan responden terhadap situasi sosial yang dihadapkan padanya serta kejadian-kejadian yang dialaminya (keterlibatan) dalam situasi sosial yang sedang terjadi.

b. Pengaruh lingkungan responden (identifikasi kelompok sosial responden) : Karakteristik lingkungan fisik dan sosio kultur kelompok sosial memiliki pengaruh dalam hal referensi pemilih untuk memutuskan sebuah pilihan politik. Dimana individu mengalami proses sosialisasi lewat interaksi dan komunikasi dalarn suatu situasi sosial tertentu.

c. Faktor intervensi dari kandidat secara emosional :

Faktor internal dalam diri responden berupa perasaan emosional memiliki pengaruh dalam merespon stimulus-stimulus politik yang datang dari pihak kandidat untuk menentukan suatu pilihan tidakan.

(55)

rasionalitas diakronik. Dimana derajat rasionalitas perilaku seorang individu tersusun dalam tiga rentan waktu, yakni :

a. Perilaku rasionalitas retrospektif, kemampuan pemilih untuk memilih salah satu kandidat berdasarkan penilaiannya pada penampilan kontestan pada masa yang lalu. Yang selanjutnya akan dilihat kategori tindakannya. Apakah merupakan tindakan yang rasional atau tidak rasional.

b. Perilaku rasionalitas pragmatis-adaptif, dimana pemilih dalam memilih salah satu kandidat berdasarkan pertimbangan sesaat. Yang selanjutnya akan dilihat kategori tindakannya. Apakah merupakan tindakan yang rasional atau tidak rasional.

c. Perilaku rasionalitas prospektif, dimana pemilih mendasarkan pilihan atas orientasi masa depan yang lebih panjang berdasarkan misi kandidat. Yang selanjutnya akan dilihat kategori tindakannya, Apakah merupakan tindakan yang rasional atau tidak rasional.

3.2.2. Pemilihan Gubernur (Pilgub) :

Pemilihan Gubernur (Pilgub) adalah ajang pemilihan umum dalam hal ini proses untuk menentukan atau memilih pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh rakyat daerah dan diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah .

3.2.3. Kandidat :

(56)

34

3.3. Definisi Operasional

3.3.1. Perilaku Pemilih :

Perilaku Pemilih adalah perilaku rnemilih salah satu pasangan kandidat calon Gubemur dan Wakil Gubernur Lampung pada Pemilihan langsung 2014. Dimana tindakan memilih tersebut diartikan sebagai sebuah tindakan yang berorientasi pada jarak waktu pencapaian tujuan atau yang disebut rasionalitas diakronik. Yang terbagi kedalam liga rentan waktu yakni, model rasionalitas retrospektif (masa lalu), rasionalitas pragmatis-adaptif (sesaat) ataukah model rasionalitas prospektif (masa depan). Perilaku rasionalitas diakronik antara lain yaitu :

a. Perilaku rasionalitas retrospektif, kemampuan pemilih untuk memilih salah satu kandidat berdasarkan penilaiannya pada penampilan kontestan pada masa yang lalu.

b. Perilaku rasionalitas pragmatis-adaptif, dimana pemilih dalam memilih salah satu kandidat berdasarkan pertimbangan sesaat.

c. Perilaku rasionalitas prospektif, dimana pemilih mendasarkan pilihan atas orientasi masa depan yang lebih panjang berdasarkan visi misi kandidat.

(57)

dilakukan tersebut rnerupakan tindakan rasional ataukah merupakan tindakan yang tidak rasional, yang akan dilihat melalui tiga aspek. Yakni : a. Tingkat pengetahuan dimana tingkat pengetahuan responden dilihat dari

dua kategori, yakni : a) Berpengetahuan tinggi b) Berpengetahuan rendah

Adapun tingkat pengetahuan responden ditentukan dari indikator : 1. Apakah responden tahu visi dan misi kandidat yang dipilih. 2. Apakah responden tahu partai pengusung kandidat yang dipilih. 3. Apakah responden tahu pengalaman kejahatan kandidat yang dipilih

sebelumnya.

4. Apakah responden tahu nama wakil pasangan kandidat yang dipilih. 5. Apakah responden tahu jumlah pasangan kandidat yang mengikuti

Pilkada.

6. Apakah responden tahu organisasi penyelenggara Pilkada.

b. Pengaruh lingkungan, dimana pengaruh lingkungan dikelompokkan kedalam dua kategori, yakni :

a) Tidak terpengaruh lingkungan b) Terpengaruh lingkungan

Adapun untuk mengetahui responden masuk dalam kategori yang mana, dilihat dari indikator : Ada tidaknya pengaruh kelompok sosial responden seperti :

(58)

36

2. Kesamaan pilihan dengan kelompok pertemanan 3. Pertimbangan etnik/suku bangsa

4. Pertimbangan asal daerah 5. Pertimbangan agama

c. Faktor emosional (intervensi dari kandidat kepada aktor) : a) Tidak terpengaruh emosional (intervensi kandidat)

b) Terpengaruh emosional (mendapat intervensi dari kandidat)

Adapun untuk mengetahui responden masuk dalam kategori yang mana, dilihat dari indikator : Apakah respon memilih karena

1. Pernah bertemu langsung

(59)

kandidat yang dipilihnya

Dari ketiga variabel diatas, maka akan ditentukan tindakan memilih responden apakah merupakan tindakan yang rasional atau tidak rsional.

Adapun kategori tindakan rasional atau tindakan tidak rasional menurut Asfar (2006:113) antara lain :

Tindakan dikategorikan rasional adalah ketika pemilih :

1. Memilih dengan tingkat pengetahuan tinggi dan tidak terpengaruh dengan lingkungannya maupun tidak terpengaruh dengan intervensi dari kandidat.

(60)

38

Tindakan dikategorikan tidak rasional adalah ketika pemilih :

1. Memilih dengan tingkat pengetahuan yang tinggi tetapi ada pengaruh dari lingkungannya maupun pengaruh dari intervensi kandidat secara emosional.

2. Memilih dengan tingkat pengetahuan yang rendah dan tidak ada pengaruh dari lingkungan maupun pengaruh intervensi dari kandidat.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada matrik hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pengaruh lingkungan dan intervensi kandidat secara emosional dibawah :

(Pemilih rasional) (Pemilih yang tidak rasional)

(61)

3.3.3. Kandidat

Adalah pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang mengikuti Pemilihan Kepala Daerah Langsung Provinsi Lampung tahun 2014, yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 yang lalu. Adapun para kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang mengikuti Pilkada Lampung 9 April 2014 yang lalu antara lain dapat dilihat melalui tabel dibawah ini :

Tabel 2. Daftar Kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pilkada Lampung 2014

Nomor urut

Nama pasangan calon Gubernur dan Wakil

Gubernur

Partai pengusung

1 Berlian Tihang-Mukhlis Basri

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 2 Ridho Ficardo-Bachtiar

Basri Partai Demokrat

3 Herman HN-Zainudin

Hasan Partai Amanat Nasional (PAN)

4 Alzier Dianis

(62)

40

3.4. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah masyarakat yang memiliki hak pilih pada Pilgub. Adapun alasan memilih masyarakat sebagai objek penelitian ini dikarenakan masyarakat diasumsikan sebagai kelompok yang menjadi sasaran dari diadakannya Pilgub serta menjadi objek utama kampanye untuk perolehan suara. Dengan begitu rasionalitas masyarakat terpengaruh oleh stimulus politik. Sehingga penelitian ini ingin melihat rasionalitas masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya, dalam hal ini perilaku memilih salah satu pasangan kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pilgub Lampung 9 April 2014 yang lalu.

3.5. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kelurahan Beringin Raya Kecamatan Kemiling. Alasan peneliti memilih Kelurahan Beringin Raya sebagai lokasi penelitian sebab peneliti menemukan fenomena yang relevan pada masyarakat terkait dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.

3.6. Populasi Sampling

(63)

Sehingga dapat merefleksikan populasi karena tidak semua unit populasi mempunyai ciri yang sama dengan unit penelitian ini. Hal tersebut dikarenakan tidak semua masyarakat Kelurahan Beringin Raya menggunakan hak pilihnya untuk memilih pada Pemilihan Gubernur Lampung 9 April 2014.

Unit penelitian dibatasi kepada masyarakat Desa Beringin Raya yang memiliki hak pilih dalam Pilgub Lampung 9 April 2014, dengan pertimbangan bahwa responden dipandang cukup ideal untuk menjadi responden.

3.7. Teknik Sampling

Menurut Arikunto (1998:121), sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Adapun besarnya sampel pada penelitian ini, mengutip Bungin (2004:105) ditentukan berdasarkan rumus :

n = Besarnya sampel N = Jumlah Populasi

d = Tingkat presisi yang diinginkan Keterangan :

(64)

42

97,3 dibulatkan menjadi 97, sehingga responden dalam penelitian ini berjumlah 97 responden.

3.8. Sumber Data

Data yang diperlukan serta digunakan dalam penelitian adalah

1. Data primer, dimana data primer akan diperoleh dari responden (sampel) 2. Data sekunder, akan diperoleh melalui studi pustaka

3.9. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yng lengkap dan akurat serta dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, penulis menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi:

1. Kuesioner

Suatu penelitian mengenai suatu masalh yang dilakukan dengan cara mengedarkan atau memberikan pertanyaan-pertanyaan berupa formulir, diajukan secara tertulis kepada responden untuk mendapatkan jawaban tertulis. Kuesioner ini akan disebarkan serta diberikan kepada responden yang dijadikan sampel.

2. Wawancara

(65)

selanjutnya. Metode wawancara pada penelitian ini hanya dilakukan kepada beberapa responden saja mengingat jumlah responden yang berjumlah banyak dengan keterbatasan waktu, dana, dan tenaga.

3.10. Teknik Pengolahan Data

Setelah data dari hasil penelitian ini dikumpulkan, maka tahap selanjutnya adalah pengolahan data yang meliputi :

1. Tahap Editing

Dalam tahap ini data yang didapat diperiksa kembali apakah ada kesalahan dalam melakukan pengisian yang tidak lengkap atau tidak jelas.

2. Tahap Tabulating

Dalam tahap ini hasil kuesioner dimasukkan ke dalam tabel dan kemudian diinterpretasikan.

3. Tahap Interpretasi

Pada tahap ini data yang didapat diinterpretasikan agar lebih mudah dipahami yang kemudian dilakukan penarikan kesimpulan.

3.11. Teknik Analisa Data

(66)

44

Untuk menghitung frekuensi dan membua persentase maka digunakan rumus :

% 100 N F P

Keterangan : P = Persentase

(67)

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI

4.1. Kota Bandar Lampung

Desa atau Kelurahan Beringin Raya terletak di Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung. Wilayah kota Bandar Lampung terletak antara 50º20’-50º30’ LS dan 105º28’-105º37’ BT. Letak yang demikian, maka daerah Kota Bandar Lampung merupakan daerah tropis seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia.

Wilayah Kota Bandar Lampung pada zaman kolonial Hindia Belanda termasuk wilayah Onder AfdelingTelokbetong yang dibentuk berdasarkan Staatsbalat 1912 Nomor : 462 yang terdiri dari Ibukota Telokbetong sendiri dan daerah-daerah disekitarnya. Sebelum tahun 1912, Ibukota Telokbetong ini meliputi juga Tanjungkarang yang terletak sekitar 5 km di sebelah utara Kota Telokbetong (Encyclopedie Van Nedderland Indie, D.C.STIBBE bagian IV).

(68)

46

Pada zaman pendudukan Jepang, kota Tanjungkarang-Telokbetong dijadikan Si (Kota) dibawah pimpinan seorang Sicho (bangsa Jepang) dan dibantu oleh seorang Fuku Sicho (bangsa Indonesia).

Sejak zaman Kemerdekaan Republik Indonesia, Kota Tanjungkarang dan Kota Telokbetong menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Selatan hingga diterbitkannnya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yang memisahkan kedua kota tersebut dari Kabupaten Lampung Selatan dan mulai diperkenalkan dengan istilah penyebutan Kota Tanjungkarang-Telukbetung.

Pada perkembangannya selanjutnya, status Kota Tanjungkarang dan Kota Telukbetung terus berubah dan mengalami beberapa kali perluasan hingga pada tahun 1965 setelah Keresidenan Lampung dinaikkan statusnya menjadi Provinsi Lampung (berdasarkan Undang-Undang Nomor : 18 tahun 1965), Kota Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung dan sekaligus menjadi ibukota Provinsi Lampung.

(69)

Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung” menjadi “Pemerintah Kota

Bandar Lampung” dan tetap dipergunakan hingga saat ini.

Hari jadi kota Bandar Lampung ditetapkan berdasarkan sumber sejarah yang berhasil dikumpulkan, -terdapat catatan bahwa berdasarkan laporan dari Residen Banten William Craft kepada Gubernur Jenderal Cornelis yang didasarkan pada keterangan Pangeran Aria Dipati Ningrat (Duta Kesultanan) yang disampaikan kepadanya tanggal 17 Juni 1682 antara lain berisikan: “Lampong Telokbetong di

tepi laut adalah tempat kedudukan seorang Dipati Temenggung Nata Negara yang membawahi 3.000 orang” (Deghregistor yang dibuat dan dipelihara oleh

pimpinan VOC halaman 777 dst.)-, dan hasil simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang-Telukbetung pada tanggal 18 November 1982 serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1983 tanggal 26 Februari 1983 ditetapkan bahwa hari Jadi Kota Bandar Lampung adalah tanggal 17 Juni 1682.

Kota Bandar Lampung mempunyai luas wilayah 192.96 km2. Kota Bandar Lampung pintu gerbang Pulau Sumatera. Sebutan ini layak untuk ibu kota Provinsi Lampung. Kota yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sumatera ini memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan. Letaknya di ujung Pulau Sumatera berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian negara.

(70)

48

terminal ini, ternyata mampu mendatangkan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) Kota Bandar Lampung yang pada tahun anggaran 200 mencapai Rp 11,9 milyar. Angkutan jalan raya mampu menyumbang Rp 273 milyar dari total kegiatan ekonomi tahun 2000. Sumbangan lapangan usaha ini paling besar dibanding angkutan lain misalnya air.

Banyaknya kendaraan yang keluar masuk melewati Bandar Lampung ini menambah padatnya jalan-jalan kota. Sejalan dengan perkembangan kota, kendaraan pribadi maupun umum pun semakin menjamur, ditambah lagi dengan kendaraan pengangkut hasil bumi dari pelosok daerah Provinsi Lampung yang akan dikirim ke Bandar Lampung sebagai pusat perdagangan provinsi. Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan daerah perkotaan yang terus berkembang dari daerah tengah ke daerah pinggiran kota yang ditunjang fasilitas perhubungan dan penerangan.

Pada tahun 2001 Kota Bandar Lampung dimekarkan dari 9 Kecamatan dan 84 kelurahan menjadi 13 kecamatan dan 98 kelurahan. Kota Bandar Lampung berada dibagian selatan provinsi Lampung dan ujung selatan Pulau Sumatera. Adapun batas-batas wilayah dari Kota Bandar Lampung sebagai berikut :

Batas Utara : Kecamatan Natar dan Kabupaten Lampung Selatan

Batas Selatan : Kecamatan Padang Cermin, Ketibung dan Teluk Lampung, serta Kabupaten Lampung Selatan

Gambar

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir
Tabel 1. Variabel penelitian
Tabel 2. Daftar Kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pilkada
Gambar 2.
+7

Referensi

Dokumen terkait