• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITICAL ECONOMY ANALYSIS OF THE DEVELOPMENT OF RAMAYANA MALL LAMPUNG (ROBINSON) ANALISIS EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN RAMAYANA MAL LAMPUNG (ROBINSON)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "POLITICAL ECONOMY ANALYSIS OF THE DEVELOPMENT OF RAMAYANA MALL LAMPUNG (ROBINSON) ANALISIS EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN RAMAYANA MAL LAMPUNG (ROBINSON)"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

POLITICAL ECONOMY ANALYSIS OF THE DEVELOPMENT OF RAMAYANA MALL LAMPUNG (ROBINSON)

By

HELSI EKA PUTRI

The building permit issuance of Ramayana Mal Lampung by related institutions was one form of misuse space function in the city of Bandar Lampung as the building permit violated local laws of Bandar Lampung Number 4 Year 2004 on Spatial Planning of Bandar Lampung Year 2005-2015. This might happen because of the economic goals such as to reduce unemployment and bring in local revenue, other than that expected by the existence of the Ramayana Mall Lampung in Rajabasa can trigger the growth of economic activity around it. The purpose of this study is to see the economics fundamental as well as analyzing the interests and the value preferences in the issuance formulation process of IMB of Ramayana Mall Lampung (Robinson). The method used in this study is qualitative where the research procedure are explain, process, visualize and interpret the results with the data that appears in the form of words arranged in expanded text as the answer.

The results showed that economic factors that were being the basis of the issuance of IMB of Ramayana Mall Lampung (Robinson) is not realized. Based on an analysis of the political economics approach, personal interests outside the public interest and the economics goals strong influence on this policy. Related institutions in formulating this policy was based on the individual preferences value and the policy was the result of supplies and demands among stakeholders in order to maximize personal gain.

▸ Baca selengkapnya: keluarga ramayana

(2)

ABSTRAK

ANALISIS EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN RAMAYANA MAL LAMPUNG (ROBINSON)

Oleh

HELSI EKA PUTRI

Penerbitan IMB Ramayana Mal Lampung oleh instansi terkait merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan fungsi ruang di Kota Bandar Lampung karena IMB tersebut melanggar PERDA Kota Bandar Lampung No.4 Tahun 2004 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandar Lampung Tahun 2005-2015. Hal ini dimungkinkan terjadi karena adanya tujuan-tujuan bersifat ekonomis seperti untuk mengurangi angka pengangguran dan mendatangkan pendapatan asli daerah, selain itu diharapkan dengan adanya Ramayana Mal Lampung di kawasan Rajabasa dapat memicu pertumbuhan kegiatan ekonomi lain disekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dasar-dasar ekonomi serta menganalisis kepentingan dan preferensi nilai dalam proses formulasi penerbitan IMB Ramayana Mal Lampung (Robinson). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dimana prosedur penelitiannya bersifat menjelaskan, mengolah, menggambarkan dan menafsirkan hasil dengan data yang muncul berupa kata-kata yang disusun dalam teks yang diperluas sebagai jawaban. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor ekonomi yang menjadi dasar penerbitan IMB Ramayana Mal Lampung (Robinson) tidak terealisasikan. Berdasarkan analisis dari pendekatan ekonomi politik, kepentingan-kepentingan pribadi diluar kepentingan publik dan tujuan-tujuan ekonomi berpengaruh kuat terhadap kebijakan ini. Instansi terkait dalam memformulasikan kebijakan ini dilandasi atas dasar preferensi nilai individu dan kebijakan ini merupakan hasil permintaan dan penawaran antar stakeholder guna memaksimalkan keuntungan pribadi.

(3)

ANALISIS EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN RAMAYANA MAL LAMPUNG (ROBINSON)

Oleh

Helsi Eka Putri

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU ADMINISTRASI NEGARA

Pada

Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politiik

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

ANALISIS EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN RAMAYANA MAL LAMPUNG (ROBINSON)

Skripsi

Oleh

Helsi Eka Putri

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Bandar Lampung pada tanggal 28 Desember 1992. Penulis merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Bapak Helmi M.N dan Ibu Sri Gustini.

Penulis memulai pendidikan formal pada tahun 1997 di Taman Kanak-kanak Aisiyah Kota Bandar Lampung. Lalu melanjutkan Pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Rawa Laut pada tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama pada SMP Negeri 5 Bandar Lampung diselesaikan tahun 2007, kemudian melanjutkan Sekolah Lanjutan Umum pada SMA Negeri 4 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2010, dan pada tahun yang sama diterima di Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung melalui jalur penerimaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

(9)

MOTO

I am the master of my fate, I am the captain of my soul

William Ernest Henley

••••••••

It always seems impossible until it’s done –

Nelson

Mandela

••••••••

Don’t practice until you get it right, practice until you

can’t get it

wrong

Unknown

••••••••

No matter how slow you progress, you are one step closer

(10)

P E R S E M B A H A N

Dengan menyebut nama Allah....

Kupersembahkan karya sederhana ini kepada:

Ayah, Ibu serta kedua adikku tercinta yang selalu memberikan yang terbaik untukku

Terima kasih atas segala kasih sayang, doa dan dukungan dalam membantu mencapai

keberhasilanku.

Keluarga besar yang selalu memberikan semangat, doa dan dukungan kepadaku

Sahabat-sahabat terbaikku yang selalu ada disaat susah maupun senang

Teman-teman serta keluarga besar HIMAGARA yang telah mewarnai hidupku

(11)

SANWACANA

Assalamualaikum Wr Wb,

Puji Syukur Penulis kehadirat Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang telah melimpahkan nikmat, anugerah serta kekuatan lahir dan bathin kepada Penulis.

Dengan berbekal keyakinan, ketabahan dan kemauan yang keras, bimbingan dan ridho dari ALLAH S.W.T, serta bantuan dari berbagai pihak jualah, maka Penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Penulis menyadari bahw masih terdapat kekurangan dalam penulisan Skripsi ini karena keterbatasan dan pengetahuan yang peneliti miliki. Melalui kesempatan ini, Penulis hendak mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril, maupun spiritual.

Dengan teriring salam dan doa serta ucapan terimakasih yang tak terhingga Penulis sampaikan kepada :

(12)

menyerah. Maaf belum bisa menjadi kebanggaan ayah dan ibu, tapi percayalah tidak pernah surut tekad ini untuk membahagiakan dan membanggakan kalian. Semoga Allah memberikan kita umur yang panjang dalam kesehatan dan kebahagiaan agar bersama-sama kita dapat menikmati keberhasilanku dimasa depan.

2. Untuk kedua adik laki-lakiku, Gustian Ilham Akbar dan M. Satria yang segera akan dewasa dan menjadi laki-laki hebat, terimakasih sudah menjadi adik yang baik dan penurut, aku selalu berharap bisa menjadi inspirasi dan contoh yang baik untuk kalian berdua. Semoga Allah memberikan kita umur yang panjang dalam kesehatan dan kebahagiaan agar bersama-sama kita dapat menikmati keberhasilan kita dimasa depan.

3. Bapak Dr. Bambang Utoyo, M.Si selaku pembimbing utama yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta selalu memberi semangat dan dukungan untuk tidak pernah putus asa. Terimakasih atas bimbingan, arahan, saran serta masukan yang sangat membantu dalam proses penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Dr. Noverman Duadji, M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran dan masukan yang sangat membantu penulis dalam memperbaiki skripsi ini.

(13)

6. Bapak Syamsul Ma’arif, S.Sos, M,Si yang telah membantu di saat proses awal penyusunan skripsi ini serta masukan-masukan dan saran yang sangat membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

7. Bapak Drs. Agus Setiawan, M.S. selaku Deka Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

8. Bapak Dr. Dedy Hermawan, S.sos, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Lampung.

9. Seluruh Dosen pengajar yang telah berbagi ilmu dan pengalaman selama perkuliahan.

10. Keluarga besar yang telah membantu dalam berbagai hal dan selalu memberikan dukungan untukku agar menjadi orang yang sukses dunia akhirat kelak.

(14)

much! Well, I cant find any other words to describe how thankful I am to have you guys in my life. Just.... thanks for being such a good friends and catching me when i fall. I hope our friendship will last forever.

12. Sahabat-sahabat di kampus, Gusti Tangga Mustika, Bunga Mayang Sari, Lica Chintya, Lusy Dian Irveta yang awet bertemen dari awal kuliah sampe sekarang, dan semoga selamanya.. makasih udah sering bantu di kuliahan maupun diluar urusan kuliah. Pasti bakalan kangen ngegossip yang hot abis sama kalian...hehehe

13. Temen-temen seangkatan, Astria, Dita, Sari, Oyen, Pandu, Fadri, Desmon, Yulia, Indah, Intan, Erisa, Tio, Cahya, Rizka pokoknya semuanya yang gak bisa disebutin satu-satu makasih udah jadi temen-temen yang baik selama kuliah, kalian semua bala-balaaaa!

14. Kucing-kucingku yang lucu-lucu, acong, acil, petot, manis, barbara yang selalu nemenin kalo lagi begadangan ngerjain skripsi dan jadi mood booster kalo lagi moodless... hihihi

(15)

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun Penulis berharap semoga penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandar Lampung, 20 Juni 2014 Penulis,

(16)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang danMasalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Kegunaan Penelitian ... 13

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Ruang Lingkup Kebijakan Publik ... 14

B. Tinjauan Tentang Formulasi Kebijakan ... 18

C. Tinjauan Tentang Tata Ruang 1. Pengertian Tata Ruang ... 36

2. Struktur Ruang ... 36

3. Pola Ruang ... 37

4. Tata Ruang Kota ... 37

D. Pengertian Pembangunan ... 38

E. Pengertian Pembangunan Infrastruktur ... 43

F. Ekonomi Politik Pembangunan 1. Definisi Ekonomi Politik ... 43

2. Tujuan Studi Ekonomi Politik Pembangunan ... 46

3. Manfaat Studi Ekonomi Politik Pembangunan ... 47

4. Fokus Studi Ekonomi Politik Pembangunan ... 47

G. Bagan Kerangka Pikir ... 49

BAB III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ... 50

B. Fokus Penelitian ... 51

(17)

D. Teknik Pengumpulan Data ... 54

E. Teknik Analisa Data ... 55

F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 56

BAB IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Kota Bandar Lampung ... 58

B. Topografi Kota Bandar Lampung ... 59

C. Demografi Kota Bandar Lampung ... 60

D. Visi Misi Kota Bandar Lampung ... 65

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penyajian Data 1. Faktor-Faktor yang Menjadi Pertimbangan Pemerintah dalam Formulasi Kebijakan Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan Ramayana Mal Lampung (Robinson) Khususnya dalam Bidang Ekonomi ... 72

a. Serapan TenagaKerja ... 72

b. Kontribusi Terhadap PAD Kota Bandar Lampung ... 77

c. Pengaruh Terhadap Ekonomi Kota ... 80

2. Kepentingan Para Aktor dalam Kebijakan Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan Ramayana Mal Lampung (Robinson) ... 84

a. Kepentingan Dinas-dinas terkait Pembangunan Ramayana Mal Lampung (Robinson) ... 84

b. Kepentingan Investor ... 89

c. Kebutuhan Masyarakat Bandar Lampung Terhadap Mal ... 91

B. Pembahasan ... 93

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 103

(18)

4. Lembar Telaahan Staf dari Badan Penanaman Modal dan Perizinan Kota Bandar Lampung

5. Lembar Rekomendasi dari Pemerintah Kota Bandar Lampung 6. Lembar Rekomendasi dari Sekertariat Kota Bandar Lampung

7. Lembar Risalah Pertimbangan Teknis Pertanahan Dalam Penerbitan Izin Lokasi 8. Lembar Pengesahan Gambar Untuk Permohonan Penerbitan Izin Keterangan

Rencana Kota dari Dinas Tata Kota

9. Berita Acara Rapat Komisi Pembahasan Dokumen ANDAL, RKL-RPL Pembangunan Mall Lampung dari Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup

10.Lembar Rekomendasi dari Dinas Perhubungan Kota Bandar Lampung 11.Surat Keputusan Walikota Bandar Lampung

12.Data Realisasi Pajak Daerah Mall Lampung Ramayana/Robinson Th.2012 s/d 2014

(19)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. BWK Kota Bandar Lampung Tahun 2005-2015... 61 2. BWK Kota Bandar LampungTahun 2011-2030 ... 63 3. Jumlah Tenaga Kerja Ramayana Mal Lampung ... 76 4. Realisasi PAD Sektor Pajak daerah dan Jumlah WP yang dibayar

(20)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

Sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia berdasarkan pendekatan kesisteman meliputi sistem pemerintahan pusat atau disebut pemerintah dan sistem pemerintahan daerah. Praktik penyelenggaraan pemerintahan dalam hubungan antar pemerintah dikenal dengan konsep sentralisasi dan desentralisasi. Konsep sentralisasi menunjukkan karakteristik bahwa semua kewenangan penyelenggaraan pemerintahan berada di pemerintah pusat, sedangkan sistem desentralisasi menunjukkan karakteristik yakni sebagian kewenangan urusan pemerintahan yang menjadi kewajiban pemerintah, diberikan kepada pemerintah daerah (Pamuji, 2013:1).

(21)

pemerintahan di Indonesia. (id.wikipedia.org/wiki/Desentralisasi diakses 20 Juni 2013 pukul 23:40 WIB)

Desentralisasi selanjutnya melahirkan sistem pemerintahan daerah atau lebih dikenal dengan otonomi daerah. Otonomi daerah merupakan kewenangan suatu daerah untuk menyusun, mengatur, dan mengurus daerahnya sendiri tanpa ada campur tangan serta bantuan dari pemerintah pusat. Dengan adanya otonomi daerah maka segala urusan dan keperluan daerah otonom diserahkan seutuhnya kepada pemerintah daerah.

Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri sesuai tugas pokok dan fungsinya dengan memperhatikan potensi, keunggulan dan keadaan daerahnya masing-masing. Rasyid (2000), menyatakan bahwa tugas-tugas pokok tersebut dapat diringkas menjadi 3 (tiga) fungsi hakiki yaitu pelayanan (service), pemberdayaan (empowerment), dan pembangunan (development). Otonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan di daerah. (http://repository.usu.ac. id/bitstream/123456789/19940/4/Chapter%20II.pdf, diakses tanggal 23 Juli 214 pukul 22.20 WIB)

(22)

seluruh aspek kehidupan. Proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (community/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.. http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/, di akses tanggal 15 Juli 2013, 22:40 WIB)

Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber daya nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju masyarakat madani yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Penyelenggaraan pemerintah sebagai subsistem pemerintah daerah sebagai subsitem pemerintah negara dimaksudkan untuk meningkatakan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat. Sebagai daerah otonom, daerah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab menyelenggarakan kepentingan mayarakat berdasarkan prinsip-prinsip keterbukaan, partisipasi masyarakat, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat (Bratakusumah dan solihin, 2001:168)

(23)

perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Pengembangan wilayah sangat berorientasi pada isu dan permasalahan pokok wilayah yang saling berkaitan. Dimensi ruang (spasial) mempunyai arti penting dalam konteks pengembangan wilayah, karena ruang yang terbatas dapat menciptakan konflik namun juga dapat membawa kemajuan bagi individu dan masyarakat.

Kebijakan dalam pengembangan wilayah sangat diperlukan karena kondisi fisik geografis, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang sangat berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya, sehingga penerapan kebijakan pengembangan wilayah itu sendiri harus disesuaikan dengan kondisi, potensi, dan isu permasalahan di wilayah bersangkutan. Pengembangan wilayah sendiri ditujukan untuk menyerasikan dan mensinkronisasikan berbagai kegiatan pembangunan sektor dan wilayah, sehingga pemanfaatan ruang dan sumberdaya yang ada di dalamnya dapat mendukung kehidupan masyarakat secara optimal sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan wilayah yang diharapkan. Dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah, maka dalam usaha pengembangan wilayah diperlukan keserasian antara pembangunan yang dilakukan dengan melihat kondisi tata ruang wilayahnya.

(24)

urgensi, yaitu (a) optimalisasi pemanfaatan sumberdaya (prinsip produktifitas dan efisiensi); (b) alat dan wujud distribusi sumberdaya (prinsip pemerataan, keberimbangan, dan keadilan), dan (c) keberlanjutan (prinsip sustainability).

Tujuan lain dari penataan ruang menurut Budiharjo (Wahyuni, 2006:2) adalah untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. Dengan kata lain penataan ruang diharapkan dapat mengefisienkan pembangunan dan meminimalisasi konflik kepentingan dalam pemanfaatan ruang. Perencanaan tata ruang kawasan perkotaan secara sederhana dapat diartikan sebagai kegiatan merencanakan pemanfaatan potensi dan ruang perkotaan serta pengembangan infrastruktur pendukung yang dibutuhkan untuk mengakomodasikan kegiatan sosial ekonomi yang diinginkan.

(25)

Perencanaan tata ruang merupakan proses penyusunan rencana tata ruang wilayah yang mencakup wilayah administratif/pemerintahan (provinsi, kabupaten dan kota) dan atau wilayah fungsional/kawasan (Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan lindung, kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan) yang tercermin dalam Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Pemanfaatan ruang merupakan wujud operasionalisasi rencana tata ruang melalui penatagunaan tanah, sedangkan pengendalian pemanfaatan ruang tercermin dalam dokumen pengendalian pemanfaatan ruang yang mengatur mekanisme pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang berdasarkan mekanisme perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, pemberian kompensasi, mekanisme pelaporan, mekanisme pemantauan, mekanisme evaluasi dan mekanisme pengenaan sanksi.

Salah satu perwujudan dari Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) adalah pemetaan wilayah pembangunan infrastruktur-infrastruktur fisik agar tercapainya keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan antar wilayah dalam suatu daerah. Infrastruktur adalah suatu rangkaian yang terdiri atas beberapa bangunan fisik yang masing-masing saling mengkait dan saling ketergantungan satu sama lainnya. Karena itu, setiap kali terjadi pembangunan infrastruktur seyogyanya diperlukan koordinasi secara mendalam dan antisipatif antar institusi terkait agar kemanfaatannya dapat berfungsi secara maksimal dan berdayaguna tinggi serta nyaman bagi masyarakat pengguna.

(26)

sangat diperlukan. Sarana dan prasarana fisik, atau sering disebut dengan infrastuktur, merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem pelayanan masyarakat. Berbagai fasilitas fisik merupakan hal yang vital guna mendukung berbagai kegiatan pemerintahan, perekonomian, industri dan kegiatan sosial di masyarakat dan pemerintahan.

Tujuan dibangunnya infrastruktur adalah untuk mendukung kepentingan masyarakat umum, bangsa dan negara yaitu untuk memenuhi kebutuhan daerah termasuk untuk memenuhi tuntutan kebutuhan yang diakibatkan oleh kemungkinan munculnya berbagai ancaman dari dalam dan luar.Infrastruktur yang baik adalah berjalan sesuai fungsinya, mampu untuk mendukung dinamika dan meningkatkan ekonomi, mensejahterakan masyarakat serta diharapkan dapat berfungsi untuk mendukung sistem pertahanan bilamana suatu saat dibutuhkan seperti misalnya bila terjadi bencana alam, ancaman (teror), huru-hara dan bahkan bila terjadi perang. Pembangunan infrastruktur didasarkan atas gagasan, maksud dan tujuan yang tidak saja bermanfat untuk suatu golongan namun harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. Tolak ukur keberhasilan pembangunan infrastruktur adalah sejauh mana pemanfaatan dan dampaknya terhadap dinamika pembangunan ekonomi masyarakat meningkat. Keterkaitan fungsi diantara infrastruktur yang ada sangat menentukan tingkat kemanfaatannya.(http://balitbang.kemhan.go.id/?q=content/konseppembangunan-infr astruktur-dengan-kriteria-pertahanan. Diakses tanggal, 18 Juli 2013 pukul 20:23)

(27)

sistem politik, dan stabilitas sosial dari masyarakatnya sendiri. Aspek-aspek ini merupakan hal yang saling berkaitan satu sama lain dalam proses pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Sehingga dalam pembuatan kebijakan pembangunan, aspek-aspek tersebut merupakan suatu hal yang sulit untuk disatukan agar dapat mencapai tujuan bersama yang diinginkan.

Pembangunan Mal merupakan salah satu bentuk pembangunan infrastruktur di Kota Bandar Lampung. Pembangunan Mal merupakan salah satu bentuk perubahan penggunaan lahan. Lahan-lahan yang tersedia dimanfaatkan dengan mendirikan pusat-pusat perbelanjaan, dan bentuk properti lainnya. Dengan adanya bangunan-bangunan baru tersebut tentu saja ada dampak-dampak yang dihasilkan baik dampak positif ataupun negatif.

Dampak positif yang dapat terjadi adalah mal menjadi multiplier effect karena dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja, menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Bandar Lampung melalui sektor bangunan, dan menyediakan fasilitas yang diperlukan oleh masyarakat. Sektor Bangunan/Konstruksi selama 5 tahun terakhir (2008-2012) memberikan kontribusi rata-rata 7,73 persen terhadap PDRB Kota Bandar Lampung, dengan laju pertumbuhan rata-rata 3,94 persen.(http://administrasinegaraku.Blogspot.com/2012/06/dampakmaraknyapembangu nan-mall.html,diakses tanggal 18 Juli 2013 pukul 15:30)

(28)

antara developer dan masyarakat. Walaupun dapat mendatangkan penghasilan bagi masyarakat, akibat adanya penjualan lahan, pembangunan mall dapat memiskinkan masyarakat. Proses pemiskinan tidak hanya terjadi akibat adanya pembebasan lahan dan penurunan pendapatan yang dialami oleh masyarakat, tetapi juga diakibatkan oleh pembangunan mal yang tidak sesuai dengan tata ruang, dan adanya penurunan penegakan hukum.

Ramayana Mal Lampung (Robinson) adalah usaha pasar modern yang terletak di jalan ZA Pagar Alam Rajabasa, Bandar Lampung. Mal ini dibangun diatas tanah seluas 14,158 m2 yang merupakan tanah hak milik. Pembangunan mal ini sudah dimulai sekitar bulan Agustus tahun 2011 lalu dan diresmikan pada tanggal 26 april 2012 oleh Walikota Bandar Lampung Bapak Herman HN.

Menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Kota Bandar Lampung pada tanggal 29 Mei 2013, pembangunan Ramayana Mal Lampung sudah sesuai dengan fungsi ruang kawasan Rajabasa sebagai salah satu subpusat kawasan perdagangan dan jasa. Pihak BPMP mengatakan bahwa pembangunan Mal ini merujuk pada Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2011 tanggal 21 Oktober 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2011 – 2030 Bagian Ketiga Pasal 19 tentang rancana sistem pusat pelayanan kota pada bulir ketiga.

(29)

maka dapat dilihat bahwa pada tanggal 3 Maret 2011 PT. JAKARTA INTILAND sebagai pihak investor telah mengeluarkan surat permohonan izin prinsip pembangunan pasar modern yang ditujukan kepada Walikota Bandar Lampung, yang ditindaklanjuti dengan surat Telaahan Staf yang dikeluarkan tanggal 25 Mei 2013 oleh Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Kota Bandar Lampung. Surat tersebut kemudian diikuti dengan keluarnya surat-surat rekomendasi lain seperti surat rekomendasi dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung pada tanggal 15 Juli 2011, surat rekomendasi dari Sekertaris Kota Bandar Lampung tanggal 21 Juni 2011, risalah pertimbangan teknis pertanahan dalam penerbitan lokasi yang dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan Kota Bandar Lampung tanggal 11 Agustus 2011, surat pengesahan gambar sebagai permohonan penerbitan izin Keterangan Rencana Kota yang dikeluarkan oleh Dinas Tata Kota Kota Bandar Lampung tanggal 11 Agustus 2011 dan yang terakhir adalah keluarnya surat Keputusan Walikota Bandar Lampung Nomor : 556/III.20/Hk/2011 tentang Kelayakan Lingkungan Kegiatan Pembangunan Mall (Toko Modern) Lampung di Jalan ZA. Pagar Alam, Kelurahan Rajabasa, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung Oleh PT. Jakarta Intiland yang ditetapkan tanggal 4 November 2011 di Bandar Lampung.

(30)

November 2011, maka tidak ada peraturan yang dilanggar dan Mal ini sudah memenuhi syarat-syarat untuk melakukan investasi. Namun jika dilihat dari tanggal diterbitkannya surat-surat izin yang berkaitan dengan pembangunan mal tersebut, maka pembangunan Ramayana Mal Lampung seharusnya merujuk ke Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandar Lampung Tahun 2005 – 2015 karena surat-surat tersebut sudah diterbitkan sebelum tanggal disahkan nya Peraturan Daerah yang baru.

Dalam Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandar Lampung Tahun 2005 – 2015 daerah Rajabasa tesmasuk kedalam BWK A Gedong Meneng yang dibagi menjadi dua fungsi kota yaitu fungsi utama dan fungsi pendukung. Fungsi utama BWK A adalah sebagai kegiatan fungsional yang peranan nya adalah untuk menyediakan sarana kegiatan dengan skala pelayanan regional; dan menciptakan saluran informasi yang cepat. Fungsi pendukung nya yaitu sebagai pusat pendidikan tinggi; pusat kebudayaan; dan perumahan skala kecil yang peranan nya untuk menyediakan pusat penelitian dan pendidikan tinggi; menciptakan karakter kota budaya dan agama; dan menetapkan areal kawasan perumahan.

(31)

melihat surat izin dari instansi-instansi terkait pembangunan Ramayana Mal Lampung (Robinson) yang telah diterbitkan sebelum tanggal disahkan nya Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2011 pada tanggal 21 Oktober 2011 maka fenomena ini cukup menarik untuk diteliti mengingat adanya kemungkinan pemerintah sebagai pembuat kebijakan mempunyai faktor-faktor pertimbangan lain dalam menentukan kebijakan politik nya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah “Bagaimana formulasi kebijakan pemberian izin

mendirikan bangunan Ramayana Mal Lampung (Robinson) ditinjau dari perspektif ekonomi politik?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis faktor-faktor ekonomi dan kepentingan para stakeholder yang menjadi dasar pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Ramayana Mal Lampung (Robinson) oleh instansi-instansi terkait.

D. Kegunaan Penelitian

(32)

1. Secara teoritis

Penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu sosial, khususnya dalam bidang Administrasi Negara yang berkaitan dengan prosesdan preferensi nilai dalam formulasi kebijakan publik. 2. Secara praktis

(33)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Kebijakan Publik

Menurut N. Dunn, menyatakan bahwa kebijakan publik (Public policy) adalah “Pola ketergantungan yang kompleks dari pilihan-pilihan kolektif yang saling tergantung, termasuk keputusan-keputusan untuk bertindak yang dibuat oleh badan atau kantor pemerintah” (Dunn, 2000:132).

Kebijakan publik merupakan semacam jawaban terhadap suatu masalah karena merupakan upaya memecahkan, mengurangi dan mencegah suatu keburukan serta sebaliknya menjadi penganjur inovasi dan pemuka terjadinya kebaikan dengan cara terbaik dan tindakan terarah. Dapat dirumuskan pula bahwa pengetahuan tentang kebijakan publik adalah pengetahuan tentang sebab-sebab, konsekuensi, dan kinerja kebijakan dan program publik (Kencana, 1999:106).

(34)

dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak (tentang pemerintahan dan organisasi); penyertaan cita-cita, tujuan, prinsip dan maksud. Sementara itu pengertian publik yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti negara atau pemerintah. Serangkaian pengertian tersebut diambil makna bahwa pengertian kebijakan publik menurut Santosaadalah “Serangkaian keputusan yang dibuat oleh

suatu pemerintah untuk mencapai suatu tujuan tertentu dan juga petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut terutama dalam bentuk peraturan-peraturan atau dekrit-dekrit pemerintah”

Ahli-ahli ini selanjutnya memandang kebijakan publik sebagai keputusan-keputusan pemerintah yang mempunyai tujuan atau maksud-maksud tertentu, dan mereka yang menganggap kebijakan publik memiliki akibat-akibat yang bisa diramalkan. Mewakili kelompok tersebut Nakamura dan Smallwood dalam bukunya yang berjudul The Politics of Policy Implementation,melihat kebijakan publik dalam ketiga lingkungannya yaitu :

1. Yaitu lingkungan perumusan kebijakan (Formulation), 2. Lingkungan penerapan (Implementation), dan

3. Lingkungan penilaian (Evaluation) kebijakan.

Bagi mereka suatu kebijakan melingkupi ketiga lingkungan tadi ini berarti kebijakan publik adalah :

(35)

the mean for achieving those goals). Beberapa lingkungan kebijakan dalam proses kelembagaan terdiri dari lingkungan pembuatan; lingkungan implementasi dan lingkungan evaluasi” (http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=2211, diakes 20 Agustus 2013, 2230 WIB)

Para pakar dalam memberi definisi kebijakan publik sering berbeda sesuai dengan pendekatan masing-masing, bahkan cenderung berselisih pendapat satu sama lain. Thomas R Dye sebagaimana dikutip oleh Islamy (2000:18) mendefinisikan kebijakan publik sebagai “ is whatever government choose to do or not to do” ( apapaun yang

dipilih pemerintah untuk dilakukan atau untuk tidak dilakukan). Selanjutnya Dye mengatakan bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu maka harus ada tujuannya. Dan kebijakan publik harus meliputi semua tindakan pemerintah jadi bukan semata-mata merupakan pernyataan keinginan pemerintah atau pejabat pemerintah saja. Hal yang tidak dilakukan pemerintah juga merupakan kebijakan publik karena mempunyai dampak yang sama besar dengan sesuatu yang dilakukan. (Islamy, 2000:18)

Kaitannya dengan hal tersebut, kebijakan publik tentunya mempunyai suatu kepentingan yang bersifat publik dimana menurut Schubert Jrmengungkapkan bahwa kepentingan publik itu ternyata paling tidak sedikitnya ada tiga pandangan yaitu :

(36)

2. Pandangan idealis mengatakan kepentingan publik itu adalah hal yang luhur, sehingga tidak boleh direka-reka oleh manusia.

3. Pandangan realis memandang bahwa kepentingan publik adalah hasil kompromi dari pertarungan berbagai kelompok kepentingan.

(http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=2211, diakses tanggal 20 Juli 2013 pukul 20:30 WIB).

Menurut James E. Anderson memberikan definisi tentang kebijakan publik sebagai kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah, di mana implikasi dari kebijakan tersebut adalah:

a. Bahwa kebijakan selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan tindakan yang berorientasi pada tujuan.

b. Bahwa kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan pejabat-pejabat pemerintah.

c. Bahwa kebijakan merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah. d. Bahwa kebijakan bisa bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk

tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu.

(37)

B. Tinjauan Tentang Formulasi Kebijakan

Dalam fase formulasi kebijakan publik, realitas politik yang melingkupi proses pembuatan kebijakan publik tidak boleh dilepaskan dari fokus kajiannya. Sebab bila kita melepaskan kenyataan politik dari proses pembuatan kebijakan publik, maka jelas kebijakan publik yang dihasilkan itu akan miskin aspek lapangannya. Sebuah produk kebijakan publik yang miskin aspek lapangannya itu jelas akan menemui banyak persoalan pada tahap penerapan berikutnya. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah penerapannya dilapangan dimana kebijakan publik itu hidup tidaklah pernah steril dari unsur politik.

(38)

sepenuhnya presisi dengan nilai ideal normatif, itu bukanlah masalah asalkan uraian atas kebijakan itu presisi dengan realitas masalah kebijakan yang ada dilapangan (http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=2211, diakses tanggal 20 Juli 2013 pukul 20:30

WIB).

Solichin menyebutkan, bahwa seorang pakar dari Afrika, Chief J.O. Udoji (1981) merumuskan secara terperinci pembuatan kebijakan negara dalam hal ini adalah formulasi kebijakan sebagai :

“The whole process of articulating and defining problems, formulating possible

solutions into political demands, chenelling those demands into the political system, seeking sanctions or legitimation of the preferred course of action, legitimation and implementation, monitoring and review (feedback)”

(Keseluruhan proses yang menyangkut pengartikulasian dan pendefinisian masalah, perumusan kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dalam bentuk tuntutan-tuntutan politik, penyaluran tuntutan-tuntutan-tuntutan-tuntutan tersebut kedalam sistem politik, pengupayaan pemberian sanksi-sanksi atau legitimasi dari arah tindakan yang dipilih, pengesahan dan pelaksanaan/implementasi monitoring dan peninjauan kembali (umpan balik). Menurut pendapatnya, siapa yang berpartisipasi dan apa peranannya dalam proses tersebut untuk sebagian besar akan tergantung pada struktur politik pengambilan keputusan itu sendiri. (Wahab, 2004:17).

(39)

formulasi kebijakan publik dimana sudah dikenal secara umum oleh khalayak kebijakan publik yaitu :

1. Pendekatan Kekuasaan dalam pembuatan Kebijakan Publik 2. Pendekatan Rasionalitas dan Pembuatan Kebijakan publik 3. Pendekatan Pilihan Publik dalam Pembuatan Kebijakan Publik

4. Pendekatan Pemrosesan Personalitas, Kognisi dan Informasi dalam Formulasi Kebijakan Publik. (http://elib.unikom.ac.id/download.php ?id=2211, diakses tanggal 20 Juli 2013 pukul 20:30 WIB).

Oleh sebab itu dalam proses formulasi kebijakan publik ini Fadillah (2001) mengutip pendapat dari Yezhezkhel Dror yang membagi tahap-tahap proses-proses kebijakan publik dalam 18 langkah yang merupakan uraian dari tiga tahap besar dalam proses pembuatan kebijakan publik yaitu :

A. Tahap Meta Pembuatan kebijakan Publik (Metapolicy-making stage): 1. Pemrosesan nilai;

2. Pemrosesan realitas; 3. Pemrosesan masalah;

4. Survei, pemrosesan dan pengembangan sumber daya;

5. Desain, evaluasi, dan redesain sistem pembuatan kebijakan publik; 6. Pengalokasian masalah, nilai, dan sumber daya;

7. Penentuan strategi pembuatan kebijakan.

(40)

1. Sub alokasi sumber daya;

2. Penetapan tujuan operasional, dengan beberapa prioritas;

3. Penetapan nilai-nilai yang signifikan, dengan beberapa prioritas; 4. Penyiapan alternatif-alternatif kebijakan secara umum;

5. Penyiapan prediksi yang realistis atas berbagai alternatif tersebut diatas, berikut keuntungan dan kerugiannya;

6. Membandingkan masing-masing alternatif yang ada itu sekaligus menentukan alternatif mana yang terbaik;

7. Melakukan ex-ante evaluation atas alternatif terbaik yang telah dipilih tersebut diatas.

C. Tahap Pasca Pembuatan Kebijakan Publik (Post policy-making stage) 1. Memotivasi kebijakan yang akan diambil;

2. Mengambil dan memutuskan kebijakan publik;

3. Mengevaluasi proses pembuatan kebijakan publik yang telah dilakukan; 4. Komunikasi dan umpan balik atas seluruh fase yang telah dilakukan.

(http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=2211, diakses tanggal 20 Juli 2013

pukul 20:30 WIB).

(41)

pertama (penyusunan agenda), atau tahap ditengah, dalam lingkaran aktivitas yang tidak linear. Aplikasi prosedur dapat membuahkan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan yang secara langsung mempengaruhi asumsi, keputusan, dan aksi dalam satu tahap yang kemudian secara tidak langsung mempengaruhi kinerja tahap-tahap berikutnya.

1. Model-model Perumusan Kebijakan

Proses pembuatan kebijakan merupakan proses yang rumit. Oleh karena itu, beberapa ahli mengembangkan model-model perumusan kebijakan publik untuk mengkaji proses perumusan kebijakan agar lebih mudah dipahami. Dengan demikian, pembuatan model-model perumusan kebijakan digunakan untuk lebih menyederhanakan proses perumusan kebijakan yang berlangsung secara rumit tersebut.

1. Model Sistem

Paine dan Naumes (1974) menawarkan suatu model proses pembuatan kebijakan merujuk pada model sistem yang dikembangkan oleh David Easton. Model ini menurut Paine dan Naumes merupakan model deskripitif karena lebih berusaha menggambarkan senyatanya yang terjadi dalam pembuatan kebijakan.

(42)

menghitung kesempatan dan meraih atau menggunakan dukungan internal dan eksternal, (b) memuaskan permintaan lingkungan, dan (c) secara khusus memuaskan keinginan atau kepentingan para pembuat kebijakan itu sendiri.

Model ini mengasumsikan bahwa dalam pembuatan kebijakan terdiri dari interaksi yang terbuka dan dinamis antar para pembuat kebijakan dengan lingkungannya. Interaksi yang terjadi dalam bentuk keluaran dan masukan (inputs dan outputs). Keluaran yang dihasilkan oleh organisasi pada akhirnya akan menjadi bagian lingkungan dan seterusnya akan berinteraksi dengan organisasi. Paine dan Naumes memodifikasi pendekatan ini dengan menerapkan langsung pada proses pembuatan kebijakan.

Menurut model sistem, kebijakan politik dipandang sebagai tanggapan dari suatu sistem politik terhadap tuntutan-tuntutan yang timbul dari lingkungan yang merupakan kondisi atau keadaan yang berada diluar batas-batas politik. Kekuatan-kekuatan yang timbul dari dalam lingkungan dan mempengaruhi sistem politik dipandang sebagai masukan-masukan (inputs) sebagai sistem politik, sedangkan hasil-hasil yang dikeluarkan oleh sistem politik yang merupakan tanggapan terhadap tuntutan-tuntutan tadi dipandang sebagai keluaran (outputs) dari sistem politik.

(43)

dihasilkan sebagai bagian dari input berikutnya. Dalam hal ini, berjalannnya sistem tidak akan pernah berhenti.

Menurut model sistem, kebijakan publik merupakan hasil dari suatu sistem politik. Konsep ”sistem” itu sendiri menunjuk pada seperangkat lembaga dan kegiatan yang dapat diidentifikasi dalam masyarakat yang berfunsi mengubah tuntutan-tuntutan (demands) menjadi keputusan-keputusan yang otoritatif. Konsep ”sistem” juga menunjukkan adanya saling hubungan antara elemen-elemen yang membangun sistem politik serta mempunyai kemampuan dalam menanggapi kekuatan-kekuatan dalam lingkungannya. Masukan-masukan diterima oleh sistem politik dalam bentuk tuntutan-tuntutan dan dukungan.

Tuntutan-tuntutan timbul bila individu atau kelompok-kelompok dalam sistem politik memainkan peran dalam mempengaruhi kebijakan publik. Kelompok-kelompok ini secara aktif berusaha mempengaruhi kebijakan publik. Sedangkan dukungan (supports) diberikan bila individu-individu atau kelompok-kelompok dengan cara menerima hasil-hasil pemilihan-pemilihan, mematuhi undang-undang, membayar pajak dan secara umum mematuhi keputusan-keputusan kebijakan. Suatu sistem menyerap bermacam-macam tuntutan yang kadangkala bertentangan antara satu dengan yang lain.

(44)

mendukung sistem tersebut dan hal ini bergantung pada interaksi antara berbagai subsistem, maka suatu sistem akan melindungi dirinya melalui tiga hal, yakni: 1) menghasilkan i yang secara layak memuaskan, 2) menyandarkan diri pada ikatan-ikatan yang berakar dalam sistem itu sendiri, dan 3) menggunakan atau mengancam untuk menggunakan kekuatan (penggunaan otoritas).

Dengan penjelasan yang demikian, maka model ini memberikan manfaat dalam membantu mengorganisaikan penyelidikan terhadap pembentukan kebijakan. Selain itu, model ini juga menyadarkan mengenai beberapa aspek penting dari proses perumusan kebijakan, seperti misalnya bagaimana masukan-masukan lingkungan mempengaruhi substansi kebijakan publik dan sistem politik? Bagaimana kebijakan publik mempengaruhi lingkungan dan tuntutan-tuntutan berikut sebagai tindakan? Kekuatan-kekuatan atau faktor-faktor apa saja dalam lingkungan yang memainkan peran penting untuk mendorong timbulnya tuntutan-tuntutan pada sistem politik.

2. Model Rasional Komprehensif

Model ini merupakan model perumusan kebijakan yang paling terkenal dan juga paling luas diterima para kalangan pengkaji kebijakan publik pada dasarnya model ini terdiri dari beberapa elemen, yakni :

(45)

tersebut dapat dipandang bermakna bila dibandingkan dengan masalah-masalah yang lain.

b. Berdasarkan atas masalah-masalah yang sudah ada ditangan pembuat kebijaksanaan tersebut kemudian dipilih dan disusun tujuan-tujuan dan nilai-nilai sesuai dengan urutan-urutan pentingnya.

c. Kemudian pembuat kebijaksanaan menentukan atau menyusun daftar semua cara-cara atau pendekatan-pendekatan (alternatif-alternatif) yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan atau nilai-nilai tadi.

d. Pembuat kebijaksanaan seterusnya meneliti dan menilai konsekuensi-konsekuensi masing-masing alternatif kebijaksanaan tersebut diatas.

e. Selanjutnya hasil penelitian dan penilaian dari masing-masing alternatif itu dibandingkan satu sama lain konsekuensi-konsekuensinya

f. Akhirnya, pembuat kebijaksanaan memilih alternatif yang terbaik, yaitu yang nilai konsekuensi-konsekuensinya paling cocok (rasional dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.(Islamy, 2000:50-51)

(46)

3. Model Penambahan

Kritik terhadap model rasional komprehensif akhirnya melahirkan model penambahan atau inkrementalisme. Oleh karena itu berangkat dari kritik terhadap model rasional komprehensif, maka model ini berusaha menutupi kekurangan yang ada dalam model tersebut dengan jalan menghindari banyak masalah yang ditemui dalam model rasional komprehensif.

Model ini lebih bersifat deskriptif dalam pengertian, model ini menggambarkan secara aktual cara-cara yang dipakai para pejabat dalam membuat keputusan. Menurut Charles Lindblom (1979) sebagaimana dikutip oleh Solichin (2004:22) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mempelajari model penambahan (inkrementalisme), yakni:

a. Pemilihan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran dan analisis-analisis empirik terhadap tindakan dibutuhkan. Keduanya lebih berkaitan erat dengan dan bukan berada satu sama lain.

b. Para pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang langsung berhubungan dengan pokok dan alternatif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.

(47)

d. Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan diredifinisikan secara teratur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkinan untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.

e. Tidak ada keputusan atau cara pemecahan yangtepat bagi tiap masalah.Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu, meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

f. Pembuatan keputusan secara inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempurnaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalah sosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.

(48)

Sementara itu, konflik biasanya akan meningkat bila pembuat keputusan memfokuskan pada perubahan-perubahan kebijakan besar yang dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian besar. Karena ketegangan politik yang timbul demikian besar dalam menetapkan program-program atau kebijakan baru, maka kebijakan masa lalu diteruskan untuk tahun depan kecuali bila terdapat perubahan politik secara substansial. Dengan demikian, pembuatan keputusan secara inkrementalisme adalah penting dalam rangka mengurangi konflik, memelihara stabilitas dan sistem politik itu sendiri.

Menurut pandangan kaum inkrementalis, para pembuat keputusan dalam menunaikan tugasnya berada dibawah keadaan yang tidak pasti yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan mereka di masa depan, maka keputusan-keputusan inkremental dapat mengurangi resiko atau biaya ketidakkepastian itu. Inkrementalisme juga mempunyai sifat realistis karena didasari kenyataan bahwa para pembuat keputusan kurang waktu, kecakapan dan sumber-sumber lain yang dibutuhkan untuk melakukan analisis yang menyeluruh terhadap semua penyelesaian alternatif masalah-masalah yang ada.

(49)

dapat mengurangi resiko biaya-biaya atas ketidakpastian tersebut.Inkrementalisme juga realistik karena mengakui bahwa para pembuat kebijakan memilikikekurangan waktu, keahlian dan sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan analisisnya. Lagipula, manusia pada hakikatnya adalah pragmatis, tidak selalu mencarisatu cara yang terbaik untuk mengatasi masalahnya tetapi secara lebih sederhana mencarisesuatu yang cukup baik untuk mengatasi masalahnya. Jadi secara singkat inkrementalisme menghasilkan keputusan-keputusan yang terbatas, dapat dilaksanakan dan dapat diterima.

4. Model penyelidikan campuran

Ketiga model yang telah dipaparkan sebelumnya, yakni model sistem, model rasional komprehensif dan model inkremental pada dasarnya mempunyai keunggulann dan kelemahannya masing-masing. Oleh karena itu, dalam rangka mencari model yang lebih komprehensif, Amitai Etzioni mencoba membuat gabungan antara keduanya dengan menyarankan penggunaan mixedscanning. Pada dasarnya ia menyetujui model rasional, namun dalam beberapa hal ia juga mengkritiknya. Demikian juga, ia melihat pula kelemahan-kelemahan model pembuatan keputusan inkremental.

(50)

pendek dan terbatas, para inkrementalis mengabaikan pembaruan sosial yang mendasar. Keputusan-keputusan yang besar dan penting, seperti pernyataan perang dengan negara lain tidak tercakup dengan inkrementalisme. Sekalipun jumlah keputusan yang dapat diambil dengan menggunakan model rasional terbatas, tetapi keputusan-keputusan yang mendasar menurut Etzioni adalah sangat penting dan seringkali memberikan suasana bagi banyak keputusan yang bersifat inkremental.

Etzioni memperkenalkan mixed scanning sebagai suatu pendekatan terhadap pembuatan keputusan yang memperhitungkan keputusan-keputusan pokok dan inkremental, menetapkan proses-proses pembuat kebijakan pokok urusan tinggi yang menentukan petunjuk-petunjuk dasar, proses-proses yang mempersiapkan keputusan-keputusan pokok dan menjalankannya setelah keputusan itu tercapai.

(51)

inkrementalisme mungkin tidak dapat mengamati tempat-tempat yang kacau di daerah-daerah yang tidak dikenal. (Islamy, 2000:71-72

Strategi penyelidikan campuran (mixed scanning strategy) menggunakan elemen-elemen dari dua pendekatan dengan menggunakan dua kamera, yakni sebuah kamera dengan sudut pandang lebar yang mencakup semua bagian luar angkasa, tetapi tidak sangat terperinci dan kamera yang kedua membidik dengan tepat daerah-daerah yang diambil oleh kamera pertama untuk mendapatkan penyelidikan yang mendalam. Menurut Etzioni, daerah-daerah tertentu mungkin luput dari penyelidikan campuran ini, namun pendekatan ini masih lebih baik dibandingkan dengan inkrementalisme yang mungkin tidak dapat mengamati tempat-tempat yang kacau di daerah-daerah yang tidak dikenal. (Islamy, 2000:72)

Dalam penyelidikan campuran para pembuat keputusan dapat memanfaatkan teori-teori rasional komprehensif dan inkremental dalam situasi-situasi ayang berbeda. Dalam beberapa hal, pendekatan inkrementalisme mungkin telah cukup memadai namun dalam situasi yang lain dimana masalah yang dihadapi berbeda, maka pendekatan yang lebih cermat dengan menggunakan rasional komprehensif mungkin jauh lebih memadai.

(52)

keputusan. Menurut Etzioni, bila bidang cakupan penyelidikan campuran semakin besar, maka akan semakin efektif pembuatan keputusan tersebut dilakukan.

Dengan demikian, penyelidikan campuran merupakan suatu bentuk pendekatan ”kompromi”yang menggabungkan penggunaan inkrementalisme dan rasionalisme

sekaligus. Namun demikian, Etzioni tidak memberi penjelasan yang cukup memadai menyangkut bagaimana pendekatan itu digunakan dalam praktiknya. Walaupun begitu, pendekatan yang ditawarkan Etzioni tersebut dapat membantu mengingatkan kenyataan-kenyataan penting bahwa keputusan berubah secara besar-besaran dan proses keputusan yang berbeda adalah wajar sejalan dengan sifat keputusan yang berubah-ubah tadi.

2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dalam pembuatan kebijakan

(53)

a. Faktor politik, faktor ini perlu dipertimbangkan dalam perumusan suatu kebijakan, karena dalam perumusan suatu kebijakan diperlukan dukungan dari berbagai aktor kebijakan (policy actors), baik aktor-aktor dari pemerintah maupun dari kalangan bukan pemerintah (LSM, asosiasi profesi, media massa, dan lain – lain)

b. Faktor ekonomi/finansial, faktor inipun perlu dipertimbangkan terutama apabila kebijakan tersebut akan mengunakan atau menyerap dana yang cukup besar atau akan berpengaruh pada situasi ekonomi dalam suatu daerah.

c. Faktor administratif/organisatoris, faktor ini perlu dipertimbangkan terutama dalam pelaksanaan kebijakan apakah benar-benar akan didukung oleh kemampuan administratif yang memadai, atau apakah sudah ada organisasi yang akan melaksanakan kebijakan itu.

d. Faktor teknologi, dalam perumusan kebijakan perlu mempertimbangkan teknologi yaitu apakah teknologi yang ada dapat mendukung apabila kebijakan tersebut diimplementasikan.

e. Faktor sosial, budaya, dan agama. Faktor ini berkaitan dengan kondisi disekitar pelaksanaan penerapan kebijakan agar tidak menimbulkan benturan sosial, budaya ataupun agama.

(54)

(http://stialan.ac.id/artikel%20hamka.pdf, hal. 5, diakses tanggal 19 September 2013 pukul 20.26).

Selain itu James E. Anderson (Islamy, 2000:27), melihat adanya beberapa macam nilai

yang melandasi tingkah laku pembuat keputusan dalam membuat keputusan, yaitu: a. Nilai-nilai Politik (political value)

Keputusan-keputusan dibuat atas dasar kepentingan politik dari partai politik atau kelompok kepentingan tertentu.

b. Nilai-nilai Organisasi (organization values)

Keputusan-keputusan dibuat atas dasar nilai-nilai yang dianut organisasi, seperti balas jasa (rewards) dan sanksi (sanctions) yang dapat mempengaruhi anggota organisasi untuk menerima dan melaksanakannya. c. Nilai-nilai Pribadi (personal values)

Seringkali pula keputusan dibuat atas dasar nilai-nilai pribadi yang dianut oleh pribadi pembuat keputusan untuk mempertahankan status quo, reputasi, kekayaan dan sebagainya

d. Nilai-nilai Kebijaksanaan (policy values)

Keputusan dibuat atas dasar persepsi pembuat kebijakan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan.

e. Nilai-nilai Ideologis (ideological values)

(55)

C. Tinjauan Tentang Tata Ruang

1. Pengertian Tata ruang

Tata Ruang atau dalam bahasa Inggrisnya Land use adalah wujud struktur ruang dan pola ruang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK). Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.(

http://id.wikipedia.org /wiki/Tata_ruang

, diakses 15 Juli 2013

20:30 WIB)

2. Struktur Ruang

(56)

3. Pola Ruang

Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.. (UU Tata Ruang Nasional No.26 Tahun 2007)

4. Tata Ruang Kota

Tata ruang perkotaan lebih kompleks dari tata ruang perdesaan, sehingga perlu lebih diperhatikan dan direncanakan dengan baik. Kawasan/zona di wilayah perkotaan dibagi dalam beberapa zona sebagai berikut:

1. Perumahan dan permukiman 2. Perdagangan dan jasa

3. Industri 4. Pendidikan

5. Perkantoran dan jasa 6. Terminal

(57)

D. Pengertian Pembangunan

(58)

umat. (http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/, di akses 15 Juli 2013 23:30 WIB)

Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacam-macam seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya, Negara satu dengan Negara lain. Namun secara umum ada suatu kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2003:4).

Siagian memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau

rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)” (Siagian, 2012:4). Sedangkan Ginanjar Kartasasmita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana”(Riyadi dan Bratakusumah, 2003:4).

(59)

perbedaan yang cukup prinsipil, karena masing-masing mempunyai latar belakang, azas dan hakikat yang berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meskipun semuanya merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan (Riyadi dan Bratakusumah, 2003:4).

(60)

Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (commuinity/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.Sebagaimana dikemukakan oleh para para ahli di atas, pembangunan adalah sumua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana. Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi secara alami sebagai dampak dari adanya pembangunan (Riyadi dan Bratakusumah, 2003:5).

Dengan semakin meningkatnya kompleksitas kehidupan masyarakat yang menyangkut berbagai aspek, pemikiran tentang modernisasi pun tidak lagi hanya mencakup bidang ekonomi dan industri, melainkan telah merambah ke seluruh aspek yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, modernisasi diartikan sebagai proses trasformasi dan perubahan dalam masyarakat yang meliputi segala aspeknya, baik ekonomi, industri, sosial, budaya, dan sebagainya. (Riyadi dan Bratakusumah, 2003:5).

(61)

Selanjutnya seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu -ilmu sosial, para Ahli manajemen pembangunan terus berupaya untuk menggali ko nsep-konsep pembangunan secara ilmiah. Secara sederhana pembangunan sering diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Karena perubahan yang dimaksud adalah menuju arah peningkatan dari keadaan semula, tidak jarang pula ada yang mengasumsikan bahwa pembangunan adalah juga pertumbuhan. Seiring dengan perkembangannya hingga saat ini belum ditemukan adanya suatu kesepakatan yang dapat menolak asumsi tersebut. Akan tetapi untuk dapat membedakan keduanya tanpa harus memisahkan secara tegas batasannya, Siagian (1983) dalam bukunya Administrasi Pembangunan mengemukakan, “Pembangunan sebagai suatu perubahan, mewujudkan suatu kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang, sedangkan pembangunan sebagai suatu pertumbuhan menunjukkan kemampuan suatu kelompok untuk terus berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dan merupakan sesuatu yang mutlak harus terjadi dalam pembangunan.”(Riyadi dan Bratakusumah, 2003:5-6).

(62)

E. Pengertian Pembangunan Infrastruktur

Siagian dalam bukunya administrasi pembangunan memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan per -ubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)” (Siagian, 2012:4). Sedangkan Kartasasmita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik

melalui upaya yang dilakukan secara terencana”(Riyadi dan Bratakusumah, 2003:4).

Sedangakan infrastruktur berarti prasarana atau segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses baik itu usaha, pembangunan, dll. Dari pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa pembangunan infrastruktur adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang dilakukan secara terencana untuk membangun prasarana atausegala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses pembangunan.

F. Ekonomi Politik Pembangunan

1. Definisi Ekonomi Politik

(63)

Lebih lanjut, Staniland menguraikan definisi tentang Ekonomi Poltik tersebut sebagai berikut: “mengacu pada masalah dasar dalam teori sosial: hubungan antara politik dan ekonomi. Isu ini memiliki dua sisi baik eksplanatori maupun normatif. Isu ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana kedua proses tersebut saling terkait dan mengenai bagaimana seharusnya mereka terkait”.

Selain itu Arief Budiman,1996 menyatakan bahwa Ekonomi Politik sebagai cabang ilmu ekonomi yang mempelajari proses-proses sosial dan institusional dimana kelompok-kelompok elit (aktor) ekonomi dan politik berusaha mempengaruhi keputusan untuk mengalokasikan sumber-sumber produktif yang langka untuk masa sekarang atau mendatang, baik untuk kepentingan kelompok maupun untuk kepentingan masyarakat luas (publik). Ekonomi politik jugamembahas hubungan ekonomi dan politik dengan tekanan pada peran kekuasaan dalam pengambilan keputusan ekonomi. (http://eprints.undip.ac.id/9795/1/APA_ITU_EKONOMI_POLITIK_KOMUNIKASI_[C ompatibility_Mode].pdf, diakses tanggal 20 oktober 2013 pukul 20:15)

(64)

yang bersama-sama membentuk produksi, distribusi dan konsumsi sumber daya-sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi.(http://eprints.undip.ac.id/9795/1/APA _ITU_EKONOMI_POLITIK_KOMUNIKASI_[Compatibility_Mode].pdf, diakses tanggal 20 oktober 2013 pukul 20:15)

Dwight Y. King (Yanuar, 2007:2) berpendapat bahwa ekonomi politik merupakan alat analisis yang menitikberatkan kepada kekuasaan politik sebagai variabel dominan. Pengamatannya banyak menuju pada segi-segi politik yang mengubah aspek-aspek ekonomi. Sebegitu jauh, istilah ekonomi politik seringkali dipertukarkan dengan istilah politik ekonomi. Penggunaan kedua istila ini tampaknya tidak mengandung perbedaan, padahal sesungguhnya ada perbedaan yang hakiki. Politik ekonomi pada dasarnya dapat diartikan sebagai suatu unsur atau elemen yang menjadi alat dari ekonomi dengan rasionalisasi kekuatan politik dalam melaksanakan rencana-rencana aplikasi-aplikasi ekonomi itu sendiri untuk mencapai sasaran yang dikehendaki. Sedangkan ekonomi politik itu memiliki wilayah kajian (kawasan) telaah luas pada konteks terdapatnya hubungan yang saling mempengaruhi antara faktor ekonomi dan faktor politik yang menimbulkan efek tertentu dalam kehidupan masyarakat sekaligus membawa umpan balik pada variabel-variabel subjeknya (Yanuar, 1995:15)

(65)

keuntungan sendiri atau kelompok meupun secara umum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang luas. Dengan demikian, ilmu ekonomi politik itu pada intinya membahas kaitan antara ilmu politik dan ilmu ekonomi, dengan perhatian utama pada peranan kekuasaan dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomi (Todaro dan Smith, 2003:10).

Ketika kita akan membahas masalah ekonomi maka biasanya hal tersebut akan terkait dengan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan masalah politik. Kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga politik dalam pemerintahan pasti ada yang langsung bersinggungan dengan permasalahan ekonomi. Kajian dalam ekonomi politik yang menyeluruh lebih menggunakan analisis terhadap sistem kekuasaan di dalam suatu daerah, yang mungkin atau potensial memberikannya ruang kebebasan atau tidak terhadap bekerjanya mekanisme pasar. Hal ini menjadikan pemerintah sebagai pihak yang menentukan jalannya perekonomian baik dalam pelaksanaan ataupun kebijakannya. Daerah memiliki kewenangan dan akses penuh untuk melakukan analisis terhadap jalannya mekanisme pasar serta memformulasikan sebuah kebijakan sesuai dengan analisis yang mereka lakukan. Selain itu, tindakan-tindakan dalam pengambilan keputusan harus sesuai dengan pertimbangan proses politik yang dilakukan oleh daerah.

2. Tujuan Studi Ekonomi Politik Pembangunan

(66)

fisik), sehingga dapat dijelaskan secara rasional berbagai hal mengenai bagaimana sistem ekonomi politik seharusnya bekerja.

3. Manfaat Studi Ekonomi Poltik Pembangunan

Secara teoritik kajian ekonomi politik berguna:

a. Untuk mengetahui mengapa dan dengan cara bagaimana kebijakan pembangunan (termasuk kebijakan ekonomi dan politik) dirumuskan dan di implementasikan dalam suatu negara, dan siapa saja yang terlibat dalam perumusan pengambilan keputusan dan kebijakan tersebut.

b. Untuk memahami kebijakan pembangunan dan dampaknya dengan benar pada kurun waktu tertentu dengan menelusuri secara cermat perilaku, motivasi dan preferensi para aktornya sehingga diperoleh jawaban siapa, memperoleh apa, berapa banyak, mengapa, dan dengan cara bagaimana berdasarkan tinjauan deterministik ekonomi politik secara interaktif.

c. Sebagai alat analisis untuk mengkaji berbagai isu sosial yang menyangkut persoalan proses kebijakan dan pembangunan.

4. Fokus Studi Ekonomi Politik Pembangunan

(67)

b. Mengamati fenomena pembangunan secara interaktif dan komprehensif yaitu dari segi proses dan dampaknya

c. Mengkaji dan menganalisis keputusan-keputusan politik dan kebijakan publik menyangkut persoalan-persoalan ekonomi dan politik dalam pembangunan mengenai kesediaan barang-barang (goods) dan jasa pelayanan (services) yang diperlukan oleh publik

Dalam konteks hubungan antara politik dan ekonomi dilihat dari segi hubungan kausal atau yang bersifat deterministik hubungan politik dengan ekonomi dibagi menjadi dua yaitu:

a. Kebijakan umum (public policy) atau politisme yang liberal maupun marxixme yang melihat ekonomi menentukan politik.

b. Public Choice yang merupakan aliran ekonomi politik baru yang berupaya menerapkan asumsi, bahasa, dan logika ekonomi neoklasik kedalam prilaku ekonomi.

(68)

Bagan Kerangka Pikir

Pembangunan Infrasturktur Perkotaan

Penyediaan Fasilitas Publik

Pembangunan Mal

Proses Formulasi Kebijakan Penerbitan Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

Ramayana Mal Lampung ( Robinson)

Keputusan Walikota Bandar Lampung No : 556/III.20/Hk/2011 Tentang Kelayakan Lingkungan Kegiatan

Pembangunan Mall Lampung

Kepentingan

Pemerintah Swasta Masyarakat

Kebijakan Penerbitan Surat Izin Mendirikan Bangunan

(IMB) Ramayana Mal Lampung (Robinson)

(69)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan kualitatif, dimana prosedur penelitiannya bersifat menjelaskan, mengolah, menggambarkan dan menafsirkan hasil dengan data yang muncul berupa kata-kata yang disusun dalam teks yang diperluas sebagai jawaban, Chadwick dkk (1991:234) mendeskripsikan penelitian kualitatif sebagai berikut:

“Metode Kualitatif mengacu pada strategi penelitian, seperti observasi partisipan, wawancara mendalam, partisipasi total dalam aktifitas mereka yang diselidiki, kerja lapangan dan sebagainya, yang memungkinan peneliti mendapat informasi tangan pertama mengenai masalah sosial empiris yang hendak dipecahkan. Metode kualitatif memungkinkan peneliti mendekati data sehingga mampu mengembangkan komponen-komponen keterangan yang analitis, konseptual dan kategoris dari data itu sendiri, dan bukannya dari teknik-teknik yang dikonsepsikan sebelumnya, tersusun secara kaku, dan kualifikasi secara tinggi yang memasukan saja dunia sosial empiris ke dalam definisi konseptual yang telah disusun oleh peneliti.”

(70)

Metode kualitatif memiliki beberapa tipe dan dalam penelitian ini tipe yang digunakan adalah deskriptif. Menurut Handari Nasution yaitu, penelitian deskriptif, terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat sekedar untuk mengungkapkan fakta (Fact Finding). Hasil penelitian ditekankan pada pemberian gambaran secara objektif tentang keadaan sebenarnya dari objek yang diselidiki. Pada prinsipnya penelitian deskriptif adalah cara yang digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan dan menjawab permasalahan di lapangan dengan teori-teori, konsep-konsep dan data hasil penelitian lapangan.

B. Fokus penelitian

Fokus penelitian yang dikhususkan dalam skripsi ini adalah menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam Formulasi kebijakan penerbitan izin mendirikan bangunan Ramayana Mal Lampung (Robinson) khususnya dalam bidang ekonomi:

a. Serapan tenaga kerja b. Kontribusi terhadap PAD

c. Pengaruh terhadap ekonomi Kota Bandar Lampung

Gambar

Tabel. 1. BWK Kota Bandar Lampung Tahun 2005-2015
Tabel. 2. BWK Kota Bandar Lampung 2011-2030

Referensi

Dokumen terkait