• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Pencabutan Gigi Untuk Penanganan Penyakit Periodontal Pada Premolar Dan Molar Kucing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Kasus Pencabutan Gigi Untuk Penanganan Penyakit Periodontal Pada Premolar Dan Molar Kucing"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS PENCABUTAN GIGI UNTUK

PENANGANAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA

PREMOLAR DAN MOLAR KUCING

RILI WAHYU AJI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Kasus Pencabutan Gigi untuk Penanganan Penyakit Periodontal pada Premolar dan Molar Kucing adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2015

Rili Wahyu Aji

(4)
(5)

ABSTRAK

RILI WAHYU AJI. Studi Kasus Pencabutan Gigi untuk Penanganan Penyakit Periodontal pada Premolar dan Molar Kucing. Dibimbing oleh DENI NOVIANA dan SITI ZAENAB.

Penyakit periodontal dapat menyerang hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penanganan penyakit periodontal dengan pencabutan gigi pada premolar dan molar kucing. Penanganan penyakit periodontal pada kucing dilakukan dengan pemeriksaan keadaan klinis gigi kucing terlebih dahulu. Pemeriksaan keadaan klinis dilakukan setelah calculus pada gigi dibersihkan dengan extraction forceps. Gigi yang tidak dapat diselamatkan atau mengalami kerusakan yang cukup parah dilihat dari indeks hasil pemeriksaan harus dicabut. Pencabutan gigi berakar satu dan berakar lebih dari satu dilakukan dengan teknik yang berbeda. Gigi berakar satu dapat langsung dicabut atau dengan pengurangan perlekatan terhadap gusi terlebih dahulu. Gigi berakar lebih dari satu dilakukan pembagian menjadi gigi berakar satu terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan pencabutan gigi. Desinfeksi alveolar bone dilakukan pada setiap pencabutan gigi. Lubang pada alveolar bone yang cukup luas harus ditutup dengan teknik gingival flapping. Penjahitan dilakukan menggunakan benang yang dapat diserap oleh tubuh. Berdasarkan studi kasus yang dilakukan, penanganan penyakit periodontal pada premolar dan molar kucing dilakukan dengan pencabutan pada gigi yang telah mengalami kerusakan parah. Pencabutan gigi premolar dan molar kucing dilakukan dengan teknik yang berbeda didasarkan pada jumlah akar gigi.

(6)

ABSTRACT

RILI WAHYU AJI. Case Study on Dental Extraction of Molar and Premolar as Periodontal Disease Treatment in Cat. Supervised by DENI NOVIANA and SITI ZAENAB.

Periodontal disease is one of health problems that can affect pet animals, such as cat and dog. The purpose of this case study is to evaluate periodontal disease treatment by dental extraction in cat’s premolar and molar teeth. Periodontal disease treatment is done by formerly performing cat’s dental clinical checkup. It is done after the calculus has been cleansed off the teeth using extraction forceps. Based on the physical examination result, teeth that cannot heal or sustain severe damage need to be extracted. Single and multi rooted teeth are extracted by using different technique. The single rooted teeth can be extracted directly or after reducing its attachment to the gum. The multiple rooted teeth required it to be divided into several single rooted teeth before it can be extracted using the same technique as the single rooted teeth extraction. Alveolar bone disinfection is also done in every extraction. Holes on alveolar bone that considered wide were closed by gingival flapping technique. Every stitch used absorbable suture. Based on the result of this case study, periodontal disease in cat’s premolar and molar can be treated by performing dental extraction to severely damaged teeth. The premolar and molar teeth is extracted by using different technique depending on the number of the teeth root.

(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

pada

Fakultas Kedokteran Hewan

STUDI KASUS PENCABUTAN GIGI UNTUK

PENANGANAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA

PREMOLAR DAN MOLAR KUCING

RILI WAHYU AJI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul karya ilmiah ini adalah “Studi Kasus Pencabutan Gigi untuk Penanganan Penyakit Periodontal pada Premolar dan Molar Kucing”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof Drh Deni Noviana, PhD selaku pembimbing I dan Drh Siti Zaenab selaku pembimbing II. Ungkapan terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Drh Trioso Purnawarman, MSi selaku pembimbing akademik yang telah membimbing selama kuliah. Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis, Bapak Akhmad Nuhaji dan Ibu Yonna. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Muhammad Faiz Hafizhuddin yang menjadi rekan seperjuangan sejak awal kuliah, teman Ganglion FKH 48, teman White House dan teman-teman Arundina atas segala doa dan dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(12)
(13)

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 1 Tujuan Studi Kasus 1 Manfaat Studi Kasus 1 TINJAUAN PUSTAKA ... 2

Gigi Kucing 2

Penyakit Gigi Kucing 3

Penanganan Penyakit Periodontal 3

METODE ... 4

Bahan 4 Alat 4 Tempat dan Waktu Pengamatan 4 Prosedur 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 7

SIMPULAN DAN SARAN... 13

Simpulan 13 Saran 14 DAFTAR PUSTAKA ... 15

LAMPIRAN ... 18

(14)

DAFTAR TABEL

1 Hasil pemeriksaan Complete Blood Count 7

2 Hasil pemeriksaan kimia darah 8

3 Status fisik pasien menurut American Society of Anesthesiologist 9

DAFTAR GAMBAR

1 Diagram gigi kucing 2

2 Three-ways syringe yang digunakan untuk mendesinfeksi ruang mulut 6 3 Gejala kinis yang terlihat dari hasil pemeriksaan keadaan ruang mulut

kucing yang menderita penyakit periodontal 10

4 Probing pada premolar pertama kucing dan caninus kucing untuk

mengetahui indeks sulcus gingivitis 10

5 Pemeriksaan furcation pada molar pertama maxilla kanan kucing (107) dan molar pertama mandibular kanan kucing (407) 11

6 Diagram hasil pemeriksaan gigi kucing 11

7 Pembagian gigi berakar lebih dari satu menjadi bagian-bagian gigi

berakar satu pada maxilla dan mandibular kucing 12 8 Alveolar bone pada gigi yang telah dilakukan pencabutan 12 9 Penjahitan gusi pada maxilla dan mandibular kucing 13

DAFTAR LAMPIRAN

(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang membuat pola hidup masyarakat mengikuti gaya di negara maju. Salah satu gaya hidup yang diikuti adalah memiliki hewan kesayangan. Kucing dan anjing merupakan hewan peliharaan yang umum dimiliki oleh masyarakat. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan kucing seperti faktor diet, stress, jenis ras, penyakit infeksius, dan penyakit periodontal (DeLaurier et al. 2006).

Penyakit periodontal sangat sering dihadapi oleh dokter hewan praktisi (Klein 2000). Hal tersebut membuat klien menanyakan penyakit periodontal pada hewan kesayangan mereka (Gorrel 2008). Faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit periodontal adalah kebiasaan menggigit, grooming, status kesehatan, perawatan di rumah, bakteri yang aktif di ruang mulut, serta jenis pakan yang diberikan (Gawor et al. 2006).

Gigi kucing terdiri dari incisivus, caninus, premolar dan molar. Incisivus berfungsi untuk membantu mengambil makanan. Caninus berfungsi untuk merobek dan menahan makanan. Premolar dan molar berfungsi untuk menghancurkan makanan menjadi bentuk yang dapat ditelan (Perrone 2013). Penyakit periodontal lebih mudah terjadi pada premolar dan molar dibanding dengan tipe gigi lain berdasarkan fungsi gigi. Prevalensi kejadian penyakit periodontal dengan hilangnya perlekatan gigi dengan gingiva 85.5% terjadi pada premolar 1, 2, dan 3 (Kortegaard et al. 2014).

Dasar penanganan penyakit periodontal adalah pengendalian bakteri yang membentuk plak. Penanganan penyakit periodontal umumnya terdiri atas dua hingga empat langkah. Langkah-langkah tersebut meliputi, profilaksis, operasi periodontal, perawatan kesehatan gigi di rumah, dan pencabutan gigi (Niemeic 2008c).

Perumusan Masalah

Kucing sering mengalami penyakit periodontal khususnya pada premolar dan molar kucing. Penanganan penyakit periodontal dapat dilakukan dengan pencabutan gigi.

Tujuan Studi Kasus

Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penanganan penyakit periodontal pada premolar dan molar kucing dengan teknik pencabutan gigi.

Manfaat Studi Kasus

(16)

2

TINJAUAN PUSTAKA

Gigi Kucing

Struktur primer dari ruang mulut terdiri atas gigi, gusi, lidah, palatum durum, dan palatum nuchae. Setiap spesies memiliki formula gigi yang berbeda. Formula gigi adalah jumlah dan tipe dari gigi pada mulut yang normal. Mamalia umumnya memiliki dua jenis gigi yaitu, gigi primer atau deciduous dan gigi permanen. Kucing memiliki empat tipe gigi yang terdiri dari gigi incisivus, caninus, premolar dan molar (Perrone 2013).

Jumlah gigi primer atau deciduous pada kucing adalah 26 yang terdiri atas 6 pasang incisivus, 2 pasang caninus, dan 5 pasang premolar. Jumlah tersebut akan lengkap dimiliki oleh kucing pada umur enam minggu. Gigi primer digantikan dengan gigi permanen saat kucing memasuki usia empat bulan hingga usia enam bulan. Jumlah gigi permanen pada kucing adalah 30 gigi. Perbedaan jumlah tersebut terjadi karena penambahan gigi molar sebanyak 2 pasang (Perrone 2013).

Struktur anatomi gigi terdiri atas crown, enamel, cementum, dentin, pulpa, dan akar (Gorrel 2008). Crown adalah bagian gigi yang terletak di atas gusi dan akar gigi adalah bagian gigi yang berada di bawah gusi. Enamel adalah bagian yang melindungi crown dan cementum adalah bagian yang melindungi akar gigi. Pulpa terdiri atas jaringan ikat, nervus, dan pembuluh darah (Perrone 2013).

(17)

3

Penyakit Gigi Kucing

Kucing mulai mengalami penyakit pada gigi dan jaringan di sekitar gigi saat memasuki usia 5 bulan (Perrone 2013). Penyakit pada gigi dan jaringan di sekitar gigi disebut dengan penyakit periodontal. Penyebab penyakit periodontal adalah malocclusion, supernumery pada gigi, dan aktivitas bakteri Gram-positif dan Gram-negatif (Holmstrom et al. 2013b). Penyakit periodontal mengakibatkan kerusakan pada ligamen periodontal dan alveolar bone. Gingivitis adalah peradangan pada gusi dan sebagai tanda awal dari penyakit periodontal (Holmstrom et al. 2013b). Penyakit periodontal ditandai dengan bau mulut yang tidak sedap yang berhubungan dengan nekrosis dan infeksi (Perrone 2013).

Gingivitis yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi periodontitis. Periodontitis adalah kerusakan yang diikuti dengan hilangnya struktur pendukung dari gigi termasuk periodontium, gingiva, ligamen, cementum, dan alveolar bone. Gingivitis tidak menyebabkan hilangnya perlekatan gigi pada gusi, namun periodontitis menyebabkan hilangnya perlekatan gigi pada gusi (Gorrel 2008).

Gingivitis dapat disembuhkan jika kausa dihilangkan, sedangkan periodontitis umumnya tidak dapat disembuhkan (Harvey 2005). Peradangan menjadi lebih intensif saat gingivitis berlanjut menjadi periodontitis. Peradangan tersebut akan menyebabkan kerusakan pada jaringan, memicu gingival recession, dan membentuk pocket periodontal (Niemeic 2008b).

Komposisi dari calculus pada gigi adalah mineral organik dan anorganik. Brushite, dicalcium phosphate dehydrate, octacalcium phosphate, hydroxyapatite dan whitlockite adalah komponen yang membentuk calculus. Fosfolipid berperan penting dalam pembentukan calculus. Calculus selalu dilapisi oleh lapisan tipis dari mikroorganisme. Kerusakan gigi akan diikut dengan terjadinya penyerapan protein dari saliva. Bakteri Gram-negatif akan ikut terserap mendominasi terbentuknya lapisan biofilm plak. Plak menyerap kalsium dan fosfat dari saliva untuk membentuk supragingival calculus dan cairan crevicular akan membentuk subgingival calculus ( Jin dan Yip 2002).

Terdapat tiga kondisi ruang mulut yang umum terjadi pada kucing dibandingkan spesies lainnya. Kondisi tersebut adalah chronic ulcerative gingivostomatitis, tooth resorption atau feline odontoclastic resorptive lesion, dan feline oral pain syndrome (Holmstrom et al. 2013a).

Penanganan Penyakit Periodontal

Penyakit periodontal adalah infeksi lokal yang harus lebih diperhatikan. Telah banyak dilaporkan kasus yang berhubungan antara penyakit periodontal dengan penyakit sistemik. Bakteri dan hasil metabolismenya masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui ruang mulut saat mengunyah. Bakteri Gram-negatif dilaporkan menginduksi lesio seperti artherosklerosis pada hewan coba dan dilaporkan juga pada studi di manusia (Pavlica dan Nemec 2010).

(18)

4

periodontal dibedakan menjadi dua jenis yaitu penanganan non-operasi dan penanganan dengan operasi (Caiafa 2006).

Penanganan non-operasi bertujuan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit periodontal. Penanganan non-operasi dilakukan dengan menghilangkan plak atau calculus pada gigi dan disebut dental scaling. Penanganan non-operasi dilakukan pada gigi dengan deposit calculus pada permukaan gigi namun perlekatan gigi pada gusi masih baik (Gorrel 2008). Scaling dapat dilakukan manual menggunakan forceps atau dengan peralatan ultrasonic scaler (Bellows 2010).

Penanganan dengan operasi dilakukan dengan pencabutan atau extraction. Pencabutan gigi dilakukan ketika gigi tidak dapat diselamatkan atau klien tidak dapat melakukan perawatan di rumah. Gigi tidak dapat diselamatkan ketika pulpa telah mengalami trauma (Bellows 2010). Pencabutan pada gigi akar satu dan gigi berakar lebih dari satu memiliki cara yang berbeda. Gigi berakar lebih dari satu perlu dipotong menjadi bagian-bagian gigi yang berakar satu (Niemeic 2008a).

METODE

Bahan

Bahan yang digunakan pada studi kasus ini adalah satu ekor kucing, atropin sulfat 0.25%, ketamine 10%, xylazine 2%, anastetikum gas isofluran, pet gel, chlorhexidine rinse 0.12%, fluoride, NaCl 0.9%, benang polyglycoli acid 4/0 dan jarum regular taper point ½ circle.

Alat

Alat yang digunakan pada studi kasus ini adalah termometer, stetoskop, timbangan, grafik gigi untuk kucing, endotracheal tube ukuran 2 mm, IV catheter 24G, reader kimia darah VetScan® versi 2, hematology analyzer VetScan® HM 5, tabung vakum dengan antikoagulan heparin, dan tabung vakum tanpa antikoagulan, alat-alat dental scaling dan dental extraction meliputi elevator, extraction forceps, probe, ultrasonic scaler, sharp scaler, bor gigi, polisher, curette, hook explorer, dan 3-ways syringes (Holmstrom et al. 2013a).

Tempat dan Waktu Pengamatan

(19)

5

Prosedur Pengamatan

1. Pre-Operasi

a. Pemeriksaan Fisik Hewan

Hewan diperiksa keadaan fisiknya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan fisik hewan, perubahan yang terjadi dan evaluasi pre-anestesi. Pemeriksaan fisik meliputi pengukuran berat badan menggunakan timbangan, pengukuran suhu tubuh hewan menggunakan termometer, menghitung frekuensi napas dan frekuensi jantung per menit menggunakan stetoskop.

b. Pemeriksaan Gambaran Darah

Pemeriksaan darah yang dilakukan adalah pemeriksaan Complete Blood Count (CBC) dan kimia darah. Pemeriksaan diawali dengan pengambilan darah pada vena cephalica antebrachii dorsalis sebanyak 1.5 mL. Darah tersebut dimasukkan ke dalam tabung vakum dengan antikoagulan heparin sebanyak 0.5 mL untuk pemeriksaan CBC. Sebanyak 1 mL darah dimasukkan ke dalam tabung vakum tanpa antikoagulan untuk pemeriksaan kimia darah. Darah pada tabung vakum tersebut selanjutnya dianalisa menggunakan hematology analyzer dan reader kimia darah.

c. Anestesi

Anestesi kucing dilakukan dengan pemberian premedikasi atropin sulfat terlebih dahulu melalui rute subkutan. Kombinasi ketamine dan xylazine diberikan untuk anestesi umum melalui rute intravena. Dosis ketamine yang digunakan adalah 10 mg/kg BB dan dosis xylazine yang digunakan adalah 1 mg/kg BB. Saat hewan mulai hilang kesadarannya, endotracheal tube ukuran 2 mm dipasang pada kucing. Pemasangan endotracheal tube dibantu dengan laryngoscope untuk melihat posisi epiglotis.

Tanda bahwa endotracheal tube masuk pada saluran pernapasan adalah hewan sedikit tersedak dan keluar udara melalui lubang endotracheal tube. Isofluran sebagai anestesi per inhalasi diberikan setelah endotracheal tube terpasang. Maintenance isofluran dilakukan sepanjang proses operasi penyakit periodontal. Dosis isofluran yang digunakan adalah 1.63% dengan aliran oksigen 20 mL/kg/menit (Lee 1998).

d. Pemeriksaan keadaan gigi

(20)

6

e. Diagnosa

Diagnosa dibuat dengan melihat hasil pemeriksaan gigi secara langsung yang tercatat pada diagram gigi kucing. Terapi yang dilakukan juga berdasarkan hasil dari pemeriksaan keadaan gigi.

2. Operasi

a. Pencabutan gigi

Pencabutan gigi dilakukan pada gigi yang perlekatannya dengan gusi sudah buruk. Pencabutan untuk tiap gigi memiliki cara yang berbeda, karena jumlah akar gigi yang berbeda. Pencabutan gigi yang memiliki satu akar, diawali dengan dikuranginya perlekatan gigi dengan gusi dengan menggunakan elevator. Gigi dicabut menggunakan extraction forceps. Pencabutan gigi dilakukan ketika gigi sudah bebas perlekatannya dengan gusi.

Pencabutan gigi dengan akar lebih dari satu, pertama-tama gigi dibagi berupa segmen sehingga gigi menjadi beberapa bagian yang berakar satu. Segmen tersebut dibuat dengan menggunakan bor gigi. Gigi yang telah berakar satu kemudian dikurangi perlekatannya dengan gusi menggunakan elevator. Gigi yang sudah berkurang perlekatannya dicabut menggunakan extraction forceps. Kuret dilakukan pada gusi setiap selesai mencabut satu gigi untuk mencegah adanya bagian dari gigi yang tertinggal.

Proses desinfeksi dilakukan pada lubang alveolar bone menggunakan chlorhexidine rinse dengan bantuan alat 3-ways syringe. Penjahitan pada gusi dilakukan pada lubang alveolar bone yang cukup besar. Penjahitan dilakukan dengan benang polyglycoli acid ukuran 4/0 dan jarum regular taper point ½ circle. Teknik penjahitan yang digunakan adalah simple interrupted.

(21)

7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan studi kasus, kucing yang digunakan bernama Uba. Berjenis kelamin jantan yang telah di kastrasi, berumur 7 tahun dengan warna rambut abu-abu dan ras Cross Long Hair. Penyakit periodontal mulai menyerang kucing saat memasuki usia 5 bulan (Perrone 2013). Penyakit periodontal dapat berjalan secara progresif dan menyerang organ-organ tubuh jika tidak ditangani.

Hasil pemeriksaan fisik didapatkan berat badan kucing tersebut 4.7 kg. Suhu tubuh 38.8ºC. Frekuensi napas dan jantung adalah 88 dan 120 kali/menit. Pengukuran berat badan digunakan untuk menghitung dosis anestetikum yang akan digunakan. Hasil pemeriksaan fisik tersebut menunjukkan kondisi hewan dalam kondisi yang sehat secara fisik. Frekuensi napas dan jantung normal kucing adalah 20 ̶ 40 kali/menit dan 110 – 200 kali/ menit. Ukuran normal suhu tubuh kucing adalah 38.0ºC – 39.0ºC (HVSMA-RAVS 2015). Tingginya frekuensi napas kucing dikarenakan banyaknya lendir dalam mulut dan epiglotis sehingga kucing tidak dapat bernapas dengan bebas. Lendir tersebut membuat pernapasan yang dangkal namun frekuensinya tinggi.

Tabel 1 Hasil pemeriksaan Complete Blood Count

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan

(22)

8

Evaluasi Complete Blood Count (CBC) menunjukkan nilai-nilai parameter dalam kisaran normal, kecuali pada hasil pemeriksaan sel darah putih. Hasil pemeriksaan sel darah putih menunjukkan jumlah yang lebih tinggi dari jumlah normal, khususnya pada monosit dan neutrofil. Hasil pemeriksaan darah lengkap dapat dilihat pada Tabel 1. Kadar monosit dan neutrofil yang tinggi menunjukkan terjadinya infeksi, peradangan (Amulic et al. 2012) dan penyakit degeneratif (Shi dan Pamer 2011).

Hasil dari evaluasi kimia darah menunjukkan tingginya total protein khususnya globulin. Nilai-nilai dari parameter lainnya masih dalam kisaran normal seperti terlihat pada Tabel 2. Parameter albumin, ALT, ALP (Berent et al. 2007), amilum, dan total bilirubin merupakan parameter untuk kesehatan fungsi organ hati (Peng et al. 2005). Parameter Blood Urea Nitrogen (BUN), kalsium, fosfor, kreatinin, glukosa, K+, Na+, total protein dan globulin merupakan parameter untuk kesehatan fungsi organ ginjal (Lee et al. 2012). Tingginya kadar globulin diduga karena adanya peradangan (Freeman 2014). Evaluasi darah lengkap dan kimia darah dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan hewan secara menyeluruh dan menghindari risiko anestesi yang akan dilakukan. Kucing usia tua cenderung memiliki keterbatasan cadangan homeostasis. Kebanyakan sediaan anestesi memiliki efek samping pada kardiovaskular yaitu menurunkan kerja jantung (de Vries dan Putter 2015). Tabel 2 Hasil pemeriksaan kimia darah

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan

Albumin 3,0 2,2 - 4,4 g/dl

Anestesi dilakukan dengan pemberian premedikasi terlebih dahulu. Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat. Atropin sulfat adalah sediaan anti kolinergik. Atropin sulfat digunakan untuk mencegah terjadinya bradikardia (Vesal et al. 2011). Pemberian premedikasi bertujuan untuk menetralkan efek samping yang tidak diinginkan dari sediaan anestetikum dan dapat menurunkan dosis anestesi (Lee 1998).

(23)

9

ketamine memiliki efek samping terjadinya kekakuan otot dan xylazine merupakan sediaan yang dapat merelaksasikan otot. Efek samping dari xylazine yaitu muntah dapat diatas dengan pemberian premedikasi atropin sulfat (Lukasik 2014). Anestesi umum diberikan dengan tujuan untuk mempermudah pemasangan endotracheal tube.

Tabel 3 Status fisik pasien berdasarkan American Society of Anesthesiologist

Stage Status fisik

1 Pasien dalam keadaan normal

2 Pasien dengan penyakit sistemik yang ringan 3 Pasien dengan penyakit sistemik yang berat

4 Pasien dengan penyakit sistemik yang berat yang memengaruhi kehidupan pasien tersebut

5 Pasien yang tidak diharapkan untuk bertahan hidup tanpa operasi

Status fisik untuk hewan yang menderita penyakit periodontal menurut American Society of Anesthesiologist (ASA) adalah tingkat 2. Hal tersebut dikarenakan dari hasil pemeriksaan fisik dan nilai-nilai dari parameter yang menunjukkan status kesehatan hati dan ginjal masih dalam kisaran normal. Status fisik ini digunakan sebagai acuan analisa risiko dan komplikasi anestesi (Bednarski et al. 2011). Kategori status fisik menurut ASA dapat dilihat pada Tabel 3.

Pemasangan endotracheal tube dilakukan setelah hewan hilang kesadarannya. Tujuan dari pemasangan endotracheal tube adalah untuk mempermudah proses maintenance anestesi secara per inhalasi. Sediaan anestesi per inhalasi yang digunakan adalah isofluran. Isofluran digunakan karena induksinya yang halus dan cepat, pemulihannya yang cepat, dan kelarutannya dalam darah rendah (Capey 2007). Anestesi per inhalasi umum digunakan pada operasi yang membutuhkan waktu yang panjang. Keuntungan dari penggunaan anestesi perinhalasi adalah kedalaman anestesi mudah dikendalikan, kesadaran dapat kembali dengan cepat (Lee 1998), dan mencegah masuknya debris dari calculus ke dalam trakea (Bednarski et al. 2011).

(24)

10

Indeks gingivitis dinilai dari adanya kemerahan, kebengkakan, dan ada atau tidaknya perdarahan saat proses probing. Probing dilakukan dengan cara meletakkan probe pada celah antara gusi dan gigi. Indeks gingivitis ditulis dengan simbol “G” dengan indeks 1 ̶ 3. Nilai 1 untuk gusi yang mengalami kebengkakan tapi tidak ada perdarahan; nilai 2 untuk gusi yang mengalami kebengkakan, kemerahan dan perdarahan; nilai 3 untuk gusi yang mengalami perdarahan terus menerus; dan nilai 0 untuk gusi yang sehat (Gorrel 2008). Sulcus gingivitis diindikasikan sebagai hadirnya periodontitis karena ligamen telah mengalami kerusakan (Gorrel 2008). Pemeriksaan indeks gingivitis dengan bantuan probe seperti terlihat pada Gambar 4.

Gingival recession adalah penyusutan gusi sehingga akar gigi terlihat (Caiafa 2006). Pemeriksaan gingival recession dilakukan dengan bantuan probe. Furcation digunakan sebagai penilaian pergerakan gigi dan perlekatan gigi pada gusi. Pemeriksaan furcation dilakukan menggunakan hook explorer. Pemeriksaan furcation dan gingivitis dilakukan setelah deposit calculus pada

Gambar 4 a) Probing premolar pertama kucing, b) Probing pada caninus kucing untuk mengetahui indeks sulcus gingivitis

A

B

Gambar 3 Gejala kinis yang terlihat dari hasil pemeriksaan keadaan ruang mulut kucing yang menderita penyakit periodontal a) hipersalivasi b) gingivitis pada kucing dengan indeks 3

(25)

11

permukaan gigi dihilangkan terlebih dahulu menggunakan extraction forceps. Pemeriksaan furcation dilakukan seperti yang terlihat pada Gambar 5.

Hasil dari pemeriksaan keadaan gigi, dicatat pada diagram gigi kucing untuk mempermudah tindakan yang akan dilakukan (Gorrel 2008). Diagram gigi kucing diisi seperti dengan simbol yang digunakan untuk setiap pemeriksaan. Penulisan penilaian keadaan gigi dilakukan pada setiap gigi seperti yang terlihat pada Gambar 6.

Hasil pemeriksaaan gigi dievaluasi untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan. Tindakan pencabutan gigi dilakukan pada gigi yang tidak dapat

Gambar 6 Diagram hasil pemeriksaan gigi kucing

Gambar 5 a) Pemeriksaan furcation pada molar pertama maxilla kanan kucing (107) b) Pemeriksaan furcation pada molar pertama mandibular kanan kucing (407)

(26)

12

diselamatkan atau kerusakan yang dialami sudah berjalan kronis (Bellows 2010). Pencabutan gigi berakar satu dan gigi yang berakar lebih dari satu memiliki teknik yang berbeda (Holmstrom et al. 2013a). Gigi berakar lebih dari satu seperti premolar dan molar perlu dilakukan pembagian gigi menjadi beberapa bagian gigi berakar satu.

Pembagian gigi menjadi beberapa bagian gigi berakar satu dapat dilakukan menggunakan bor. Pembagian gigi menjadi beberapa bagian berakar satu bertujuan untuk mempermudah proses pencabutan gigi. Gigi yang telah terbagi menjadi beberapa bagian berakar satu dapat dilihat pada Gambar 7. Gigi yang telah berakar satu kemudian dikurangi perlekatannya dengan gusi. Perlekatan dengan gusi dikurangi menggunakan elevator. Gigi yang sudah berkurang perlekatannya dicabut menggunakan extraction forceps.

Gigi yang telah dicabut akan meninggalkan lubang pada alveolar bone seperti terlihat pada Gambar 8. Alveolar bone tersebut harus dikuret untuk memastikan tidak ada bagian dari gigi yang tertinggal. Alveolar bone juga perlu didesinfeksi menggunakan chlorhexidine rinse (Niemeic 2008a) dengan bantuan alat 3-ways syringe. Three-ways syringe adalah alat yang dapat mengeluarkan air, chlorhexidine rinse ataupun udara berkecepatan tinggi.

Gambar 7 Pembagian gigi berakar lebih dari satu menjadi bagian-bagian gigi berakar satu pada a) maxilla kucing b) mandibular kucing

A

B

(27)

13

Lubang alveolar bone yang terlalu besar perlu ditutup dengan melakukan penjahitan atau disebut gingival flapping. Gingival flapping direkomendasikan saat dilakukan pencabutan caninus, premolar dan molar (Woodall 2008). Penjahitan gusi bertujuan untuk mempercepat persembuhan (Hale 2001) dan mencegah masuknya makanan ke dalam alveolar bone sehingga mengakibatkan infeksi pasca pencabutan. Penjahitan untuk menutup lubang pada alveolar bone dapat dilihat pada Gambar 9. Penjahitan dilakukan menggunakan benang yang dapat diserap oleh tubuh. Teknik penjahitan yang digunakan adalah simple interrupted.

Menurut Taylor (2013) penjahitan gusi tidak dapat mempercepat persembuhan luka jika terjadi trauma yang signifikan pada pembuluh darah. Penutupan luka dan penjahitan harus menggunakan prosedur yang tidak menyebabkan trauma, bahan yang digunakan tidak menyebabkan iritasi dan menggunakan teknik penjahitan yang memadai (Velvart dan Peters 2005). Teknik yang digunakan pada gingival flapping pada studi kasus ini adalah rectangular (Wadhwani dan Garg 2004). Lama persembuhan luka dipengaruhi oleh jarak antar jahitan (Taylor 2013). Penanganan pasca operasi adalah dengan pemberian chlorhexidine rinse selama 5-7 hari untuk menurunkan tingkat akumulasi plak, menurunkan risiko infeksi dan peradangan (Oxford 2013).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penanganan penyakit periodontal pada premolar dan molar kucing dapat dilakukan melalui pencabutan gigi didasarkan pada indeks pemeriksaan klinis dan dilakukan dengan teknik yang berbeda sesuai dengan jumlah akar gigi.

Gambar 9 Penjahitan gusi pada a) maxilla kucing, b) mandibular kucing

(28)

14

Saran

(29)

15

DAFTAR PUSTAKA

Amulic B, Cazalet C, Hayes GL, Metzler KD, Zychlinsky A. 2012. Neutrophil function: from mechanism to disease. Web of Science. 30: 459–489. doi: 10.1146/annurev-immunol-020711-074942.

Bellows J. 2010. Feline Dentistry: Oral Assessment, Treatment, and Preventative Care. Iowa (US): J Wiley. hlm 181, 196.

Bednarski R, Grimm K, Harvey R, Lukasik VM, Penn WS, Sargent B, Spetts K. 2011. AAHA anesthesia guidelines for gogs and cats. J Am Aim Hosp Assoc. 47: 377–385. doi: 10.5326/JAAHA-MS-5846.

Berent AC, Drobatz KJ, Ziemer L, Johnson VS, Ward CR. Liver function in cats with hyperthyroidism before and after 131I therapy. J Vet Intern Med. 21(6): 1217–1223. doi: 0891-6640/07/2106-0009.

Caiafa T. 2006. The Complete Dental Prophylaxis: Protocols Including Oral Examination, Oral Radiography, Canine and Feline Extraction Techniques. Di dalam: Proceedings of annual seminars of the companion animal society of the NZ Veterinary Nurses Association [Internet]. [2006 Januari dan tempat pertemuan tidak diketahui]; NZ: New Zealand Veterinary Association. hlm 34.

Capey S. 2007. The Comprehensive Pharmacology. Philadelphia (US): Elsevier Science. hlm 1–4.

Crossley D. 2002. Tooth Numbering in Other Species. [Internet]. [diunduh 17 September 2015]. Tersedia pada: http://www.rvc.ac.uk/review/dentistry/basi cs/triadan/other.html.

DeLaurier A, Boyde A, Horton MA, Price JS. 2006. Analysis of the surface characteristics and mineralization status of feline teeth using scanning electron microscopy. J Compilation. 209(5): 655–669. doi: 10.1111/j.1469-7580.2006.00643.x. Influence of diet on oral health in cats and dogs. J Nutrition. 136(7):2021– 2023.

Gorrel C. 2008. Small Animal Dentistry. Nind F, editor. Philadelphia (US): Elsevier Science. hlm 13, 21, 22, 23, 39.

Hale FA. 2001. Why do I suture extraction sites? [Internet]. [diunduh 2015 Juli 29]. Tersedia pada: http://www.toothvet.ca/PDFfiles/suture.pdf.

Harvey CE. 2005. Management of periodontal disease: understanding the option. Science Direct. 35(4):819–836. doi:10.1016/j.cvsm.2005.03.002.

Holmstrom LA (a), Holmstrom SE, Lewis JR, Reiter AM. c2013. Veterinary Dentistry. St. Louis (US): Elsevier Science. hlm 80–109, 151, 228, 243. Holmstrom SE (b), Bellows J, Juriga S, Knutson K, Niemeic BA, Perrone J. 2013.

(30)

16

HVSMA-RAVS. The Humane Society Veterinary Medical Association-Rural Area Veterinary Services. 2015. Physical Examination of Dogs and Cats [Internet].

[diunduh 2015 Juli 29]. Tersedia pada:

http://www.ruralareavet.org/PDF/Physical_Examination.pdf.

Jin Y, Yip H. 2002. Supragingival calculus: formation and control. CROBM. 13(5): 426 – 441. doi: 10.1177/154411130201300506.

Klein T. 2000. Predisposing factor and gross examination findings in periodontal disease. Science Direct. 15(4):189–196. doi:10.1053/svms.2000.22244. Kortegaard HE, Eriksen T, Baelum V. 2014. Screening for Periodontal Disease in

Research Dogs: A Methodology Study. Acta Veterinaria Scandinavica. 56(1): 77.doi: 10.1186/s13028-014-0077-8.

Lee L. 1998. Canine and Feline Anesthesia [Internet]. [Diunduh 2015 Juli 4 ]. Tersedia pada: https://instruction.cvhs.okstate.edu/vmed5412/pdf/22Canine-FelineAnesthesia.pdf.

Lee YJ, Chan JP, Hsu WL, Lin KW, Chang CC. 2012. Prognostic factor and a prognostic index for cats with acute kidney injury. J Vet Intern Med. 26: 500– 505. doi: 10.1111/j.1939-1676.2012.00920.x.

Lukasik VM. 2014. Understanding the unwanted side effects of the anesthesia drugs. Didalam: Australasian Structural Engineering 2014. [Internet].[2014 Juli 11-9 di Sky City Auckland]. option. Vet Times.[Internet]. [diunduh 2015 Agustus 26]. Tersedia pada: http://www.vetsonline.com/media/a65/a26b7c5e1bef0a0a76577ace8e190.pd f.

Pavlica Z, Nemec A. 2010. Periodontal disease from the whole body perspective. EJCAP. 20(3):236 ̶ 240.

Peng WK, Sheikh Z, Paterson-Brown S, Nixon SJ. 2005. Role of liver function test in predicting common bile duct stones in acute calculous cholecystitis. BJS. 92(10): 1241–1247. doi: 10.1002/bjs.4955.

Perrone JR. 2013. Small Animal Dental Procedures for Veterinary Technicians and Nurses. Iowa (US): J Wiley. hlm 4, 5, 14, 15, 25, 26, 96, 97.

Soares PBF, Magalhaes D, Neto AJF, Castro CG, Filho PCFS, Soares CJ. 2010. Effect of periodontal.

Shi C, Pamer EG. 2011. Monocyte recruitment during infection and inflammation. NI. 11: 762 – 774. doi:10.1038/nri3070.

Taylor EM. 2013. Evidence-based Dentistry: Does the Scientific Literature Support the Common Recommendations in Extraction Techniques and Extraction Site Management?. [Internet]. [Diunduh pada 2015 Agustus 06]. Tersedia pada: http://www.valvt.net/S4_EBDentistry_2013.pdf.

(31)

17

Vesal N, Sarchachi AA, Nikahval B, Karampour A. Clinical evaluation of the sedative properties of acepromazine-xylazine combination with or without atropine and their effect on physiologic values in dogs. Vetertinarski Arhiv. 81(4): 485–489.

Wadhwani KK, Garg A. Healing of soft tissue after different types of flap designs used in periapical surgery. IES. 16: 19–22.

(32)
(33)

19

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Wonogiri pada tanggal 19 April 1994. Anak pertama dari empat bersaudara, orang tua bapak Akhmad Nuhaji dan Ibu Yonna. Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan. Tahun 2008 lulus dari SMP Negeri 2 Cisauk, Puspiptek dan pada tahun 2005 lulus dari SDI Al-Amanah. Penulis diterima di Fakultas Kedokteran Hewan – Institut Pertanian Bogor pada tahun 2011 melalui jalur SNMPTN Undangan.

Gambar

Gambar  1 Diagram Gigi Kucing (Crossley 2002). Gigi 101 – 109 adalah gigi pada maxilla kanan, gigi 201 – 209 adalah gigi pada maxilla kiri
Gambar 2  Three-ways syringe yang digunakan untuk mendesinfeksi ruang mulut. Three-ways syringe dapat mengeluarkan air, chlorhexidine rinse dan udara
Tabel 1  Hasil pemeriksaan Complete Blood Count
Tabel 2  Hasil pemeriksaan kimia darah
+7

Referensi

Dokumen terkait