• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Learning Society Bandung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perpustakaan Learning Society Bandung"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

PERPUSTAKAAN

LEARNING SOCIETY

BANDUNG

Diajukan untuk memenuhi mata kuliah DI. 38309 Tugas Akhir Semester VIII tahun akademik 2013/2014

Oleh :

Mochamad Noor Hidayat

52010005

PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG

(2)

PERPUSTAKAAN

LEARNING SOCIETY

BANDUNG

MOCHAMAD NOOR HIDAYAT

52010005

Telah disetujui dan disahkan di Bandung sebagai Tugas Akhir pada tanggal :

22 Agustus 2014

Menyetujui, Pembimbing

Cherry Dharmawan, M.Sn. NIP. 4127.32.04.002

Dekan Fakultas Ketua Program Studi Desain Desain Interior

(3)

PERSETUJUAN PUBLIKASI

Bahwa yang bertanda tangan di bawah ini, penulis dan pihak perusahaan tempat penelitian, menyetujui :

“Untuk memberikan kepada Universitas Komputer Indonesia Hak Bebas

Royalty Noneksklusif atas penelitian ini dan bersedia untuk di-online-kan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk kepentingan riset dan

penelitian”

Bandung, 22 Agustus 2014

Penulis, Pembimbing,

Mochamad Noor Hidayat Cherry Dharmawan, M.Sn.

(4)

DATA PRIBADI

Nama : Mochamad Noor Hidayat

Jenis kelamin : Laki-laki

Tempat, tanggal lahir : Pandeglang, 11 November 1991 Kewarganegaraan : Indonesia

Status perkawinan : Belum Kawin Tinggi, berat badan : 175 cm, 60kg

Kesehatan : Baik

Agama : Islam

Alamat lengkap : Jl. Toyogiri selatan. No 17. Rt 05. Rw 03.

Kelurahan jatimulya. Kecamatan Tambun selatan. Kabupaten Bekasi

Telepon, HP : 082117085750

(5)

 1997 – 2004 : SDN Jatimulya 02 Tambun Selatan, Kabupaten

Bekasi

 2004 – 2007 : SMP Noer Hidayah, Tambun Selatan,

Kabupaten Bekasi

 2007 – 2010 : SMA Mandalahayu Kota Bekasi (Program IPS)

 2010 – 2014 : Universitas Komputer Indonesia

(Program Studi Desain Interior)

SEMINAR

 Dialog Publik PT. Jasa Raharja

 Temu Karya Mahasiswa Desain Interior X

 Temu Karya Mahasiswa Desain Interior XI

 Cepat dan Mudah Membuat Website Online dalam 30 Menit

 Workshop Pembuatan Lampshade di Rempah Rumah Karya

KEMAMPUAN

 Kemampuan Teknik Komputer :

 Microsoft Word

 Microsoft Excel

 Microsoft Power Point

 AutoCAD

(6)

 Kemampuan Melukis

 Kemampuan Mematung

Bandung, Agustus 2014 Hormat saya,

(7)

v LEMBAR PENGESAHAN

PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA TUGAS AKHIR SURAT KETERANGAN PENYERAHAN HAK EKSKLUSIF DATA RIWAYAT HIDUP

ABSTRAK i

ABSTRACK ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR TABEL xii

DAFTAR BAGAN xiii

DAFTAR DIAGRAM xiv

DAFTAR PUSTAKA xv

DAFTAR LAMPIRAN xviii

Bab I 1

Pendahuluan 1

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Ide Perancangan 2

1.3 Fokus Permasalahan 3

1.4 Permasalahan Perancangan 4

(8)

vi

Learning Society dan Futurisme 6

2.1 Pengertian Learning Society 6

2.2 Pengertian Perpustakaan 7

2.2.1 Jenis Koleksi Perpustakaan 11

2.2.2 Klasifikasi Buku 13

2.2.3 Katalog Perpustakaan 15

2.3 Tinjauan Umum Interior Perpustakaan 17

2.3.1 Layout Perpustakaan 18

2.3.2 Warna Perpustakaan 20

2.3.3 Fisika Bangunan Perpustakaan 20

2.3.4 Pencahayaan Perpustakaan 23

2.3.5 Akustika Pada Ruangan Perpustakaan 24 2.3.6 Studi Antropometri Perpustakaan 25

2.4 Futurisme 27

2.4.1 Konsep Karya Futurisme 28

2.4.2 Image Futurisme 28

2.5 Studi Banding 29

2.5.1 Perpustakaan Pusat Insitut Teknologi Bandung 30 2.5.2 Badan Perpustakaan dan Kearsipan

(9)

vii

3.1 Deskripsi Proyek 43

3.2 Struktur Organisasi Perpustakaan 43

3.3 Visi dan Misi Perpustakaan 44

3.4 Analisis Data dan Bangunan 45

3.5 Pengguna Bangunan 46

3.6 Aktivitas Perpustakaan 47

3.7 Aktivitas Pengguna Perpustakaan 48

3.8 Program Aktivitas dan Fasilitas 50

3.9 Alur Sirkulasi 56

3.10 Program Ruang 58

3.11 Zoning dan Blocking 62

3.12 Studi Image 72

Bab IV 73

Konsep Perancangan Perpustakaan Learning Society

Bandung 73

4.1 Tema Perancangan 73

4.2 Penggayaan Perancangan 75

4.3 Konsep Bentuk 75

4.4 Konsep Lay-out 77

4.5 Pola Lantai 77

(10)

viii

4.9 Konsep Warna 83

4.10 Teknis Penghawaan 86

4.11 Teknis Pencahayaan 86

(11)

ix Gambar 2.1 Layout Perpustakaan Dusseldorf 18

Gambar 2.2 Perpustakaan Besar di USA 18

Gambar 2.3 Perpustakaan di Gutersloh 19

Gambar 2.4 Perpustakaan di Vierheim 19

Gambar 2.5 Luas Untuk Meja Perseorangan 25

Gambar 2.6 Jarak Minimum Antar Meja 25

Gambar 2.7 Rak Katalog 25

Gambar 2.8 Meja Kerja Perseorangan Sistem Carrles 25

Gambar 2.9 Rak Buku Pelajar 26

Gambar 2.10 Rak Buku Dengan 4 Tingkat Untuk Anak-anak 26 Gambar 2.11 Ruang Gerak Minimum Didalam

Jangkauan Ruang Baca 26

Gambar 2.12 Rak Buku Dengan 5 Tingkat/Bagian 26

Gambar 2.13 Rak/Lemari Majalah 27

Gambar 2.14 Image Futuristic 28

Gambar 2.15 Image Futuristic 29

Gambar 2.16 Image Futuristic 29

Gambar 2.17 Suasana Ruang Baca Lantai 3 35

Gambar 2.18 Suasana Ruang Baca Lantai 4 35

(12)

x

Gambar 2.24 Area Baca Kelompok Lantai 4 36

Gambar 2.25 Rak Buku di Lantai 2 36

Gambar 2.26 Rak Buku di Lantai 4 36

Gambar 2.27 Tempat Penitipan Barang 37

Gambar 2.28 Area Baca Kelompok Lantai 2 37

Gambar 2.29 Suasana Lobby Lantai 1 42

Gambar 2.30 Suasana Lobby Lantai 4 42

Gambar 2.31 Area Pendaftaran Anggota 42

Gambar 2.32 Ruang Baca Koleksi Anak 42

Gambar 2.33 Ruang Baca Koleksi Dewasa 42

Gambar 2.34 Ruang Baca Koleksi Remaja 42

Gambar 3.1 Peta Lokasi Perpustakaan

(13)

xi Gambar 3.13 Library Culture House Futuristic Design 72

Gambar 4.1 Konsep Bentuk Ruang Statis 76

Gambar 4.2 Konsep Bentuk Ruang Dinamis 76

Gambar 4.3 Pola Lantai 78

Gambar 4.4 Pola Lantai 78

Gambar 4.5 Konsep Way Finding System Perpustakaan

Learning Society Bandung 79

Gambar 4.6 Marmer 80

Gambar 4.7 Epoxy 80

Gambar 4.8 Gypsum Board 81

Gambar 4.9 Stainless Hollow 81

Gambar 4.10 Stainless Plate 82

Gambar 4.11 Multiplex 82

Gambar 4.12 Kaca 83

Gambar 4.13 Skema Warna Putih 84

Gambar 4.14 Skema Warna Abu-abu 84

Gambar 4.15 Skema Warna Cokelat 85

Gambar 4.16 Skema Warna Merah Jingga 85

(14)

xii Table 2.1 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan 34 Tabel 2.2 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan 41 Table 3.1 Aktivitas Pengguna Perpustakaan 48

Table 3.2 Fasilitas Perpustakaan Anak 50

Table 3.3 Fasilitas Perpustakaan Dewasa dan Remaja 51

Table 3.4 Fasilitas Publik 54

(15)

xiii Bagan 2.1 Struktur Organisasi Perpustakaan 32 Bagan 2.2 Struktur Organisasi Perpustakaan 40 Bagan 3.1 Struktur Organisasi Perpustakaan

(16)

xiv Diagram 3.1 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan

Perpustakaan Individual 56

Diagram 3.2 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan

Perpustakaan Kelompok 57

Diagram 3.3 Alur Peminjaman Buku 57

Diagram 3.4 Alur Pengembalian Buku 58

(17)

xv  Basuki, Sulistyo. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Gramedia

Pustaka Utama. Jakarta.

 Darmaprawira, Sulasmi. (2002). Warna Teori dan Kreativitas

Penggunanya. ITB. Bandung

 Darmono. (2001). Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah.

Grasindo. Jakarta.

 Gusti, Andira Maqdissa. (2012). Ramayasthana Ganesha

Perpustakaan Insitut Teknologi Bandung Laporan Tugas Akhir Desain

Interior/DI 4099. FSRD ITB. Bandung.

 Karlen, Mark dan Benya, James. (2004). Dasar-dasar Desain

Pencahayaan. Erlangga. Jakarta.

 Mediastika, Christina Eviutami. (2005). Akustika Bangunan. Penerbit

Erlangga. Jakarta.

 Neufert, Ernst. (2002). Data Arsitek Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

 Nugroho, Imam. (2005). Perpustakaan Pusat ITB Laporan Pengantar

Tugas Akhir. FSRD ITB. Bandung.

 Rachmi, Cindy. (2010). Perpustakaan Kampus Riset ITB Bekasi

Laporan Perancangan AR 4099 Studio Perancangan Tugas Akhir. SAPPK ITB. Bandung.

 Sachari, Agus dan Sunarya, Yan Yan. (2011). Catatan Kuliah DS-413

Sejarah Seni Rupa & Desain Modern. Penerbit ITB. Bandung.

(18)

xvi  Suherman. (2009). Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. MQS

Publishing. Bandung.

 Yusuf, Pawit M dan Suhendar, Yaya. (2005). Pedoman

Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Kencana Media Group. Jakarta.

Sumber Internet :

http://nanangsupraiatno-mgmppai.blogspot.com/2009/06/learning-society.html : (08 Januari 2014)

Sumber Gambar :

 bapusibda.jabarprov.go.id : (08 Mei 2014)

 http://www.suckerpunchdaily.com/wp-content/uploads/2012/10/010.jpg

: (13 Mei 2014)

http://www.dreamstime.com/stock-photography-scifi-interior-d-design-futuristic-illumination-image30394702 : (13 Mei 2014)

 http://www.cgarchitect.com/2013/02/futuristic-interior : (13 Mei 2014)

 http://www.epoxy.com/chips.aspx : (21 Agustus 2014)

 http://jualbatu.blog.com/produk-kami/marmer/ : (21 Agustus 2014)  http://www.spantriplast.be/multiplex_NL-15622.html : (21 Agustus

(19)

xvii  http://www.suryalogam.com/ : (21 Agustus 2014)

http://sifohomes.blogspot.com/2013/03/photoshop-tutorial-gadis-kaca.html : (21 Agustus 2014)

(20)

iii Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.

Pada kesempatan ini, penulis akan mengucapkan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Allah SWT, yang telah memberi izin juga kekuatan untuk penulis dapat menyelesaikan laporan ini.

2. Bpk. Saprudin dan Ibu. Siti Aisyah, yang telah memberikan dukungan do’a kepada penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

3. Bpk. Cherry Dharmawan. Sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, kritik dan saran yang senantiasa membangun juga mendorong penulis menuju lebih baik.

4. Ibu. Tiara Isfiaty. Sebagai dosen koordinator Tugas Akhir/Skripsi. 5. Dosen dan staff yang ada di Fakultas Desain, terimakasih atas

kerjasamanya.

(21)

iv masukan yang sangat berharga baik berupa saran maupun kritik yang membangun sangat diharapkan untuk penyusunan laporan yang akan datang.

Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Bandung, Agustus 2014

(22)

1

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan pendidikan akan seiring sejalan dengan dinamika masyarakatnya, karena ciri masyarakat selalu berkembang. Ada kelompok masyarakat yang berkembang sangat cepat, tetapi ada pula lambat. Hal ini karena pengaruh dari perkembangan teknologi, komunikasi dan telekomunikasi. Dalam kondisi seperti ini perubahan-perubahan di masyarakat terjadi pada semua aspek kehidupan. Efek perubahan di masyarakat akan berimbas pada setiap individu warga masyarakat, pengetahuan, kecakapan, sikap, kebiasaan bahkan pola-pola kehidupan.

(Sa’ud, 2013).

Perpustakaan sebagai salah satu sarana pendidikan. Secara umum perpustakaan melayani peminjaman dan pengembalian buku, sumber referensi dan pembelian buku. Dewasa ini perpustakaan menjadi berkembang dengan berbagai macam fasilitas pendukung perpustakaan yang beriringan dengan teknologi informasi dengan tujuan memudahkan masyarakat dalam mengakses kebutuhan akan buku bacaannya.

(23)

2 interior perpustakaan mempunyai standar desain khusus dalam mendesain ruang yang digunakan untuk membaca.

Learning Society adalah gerakan mengajak masyarakat untuk belajar dengan fungsi mendidik serta memberdayakan masyarakat dalam bidang pendidikan. Adanya aktivitas pendidikan non-formal yang dilakukan oleh masyarakat melalui interaksi keseharian antara masyarakat yang lainnya. Menggabungkan aktivitas formal dan non-formal dalam suatu kegiatan kelompok belajar untuk mendapatkan hasil positif dari kegiatan tersebut. Menghadirkan kegiatan konseling bagi setiap individu dan kelompok masyarakat untuk mendapatkan ilmu yang berguna bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Memiliki citra perpustakaan dengan tujuan membedakan perpustakaan pada umumnya.

1.2 Ide Perancangan

(24)

3 tujuan mampu merefleksikan citra perpustakaan, dan warna-warna yang membuat seseorang menjadi semangat.

Untuk menggambarkan Learning Society ke bentuk visual ruangan dipadukan dengan konsep bentuk yang statis dan dinamis. Menggabungkan desain furniture yang digunakan untuk individual menjadi satu dalam ruangan dengan tujuan belajar secara berkelompok. Dengan elemen visual yang ada pada Perpustakaan Learning Society ini perpustakaan mempunyai citra visual.

1.3 Fokus Permasalahan

Berikut adalah fokus permasalahan perancangan perpustakaan learning society bandung berdasarkan latar belakang, yaitu :

1. Pendidikan akan seiring sejalan dengan dinamika masyarakatnya. Ciri masyarakat selalu berkembang. Ada yang berkembang sangat cepat, tetapi ada pula yang lambat.

Fokus Permasalahan : Merancang perpustakaan untuk mendidik masyarakat.

2. Menggabungkan aktivitas formal dan non-formal dalam suatu kegiatan kelompok belajar untuk mendapatkan hasil positif dari kegiatan tersebut.

Fokus Permasalahan : Merancang perpustakaan yang menggabungkan aktivitas formal dan non-formal

(25)

4 Fokus Permasalahan : Merancang citra perpustakaan untuk membedakan perpustakaan pada umumnya.

1.4 Permasalahan Perancangan

Berikut adalah lingkup permasalahan perancangan perpustakaan learning society bandung berdasarkan permasalahan yang dimiliki oleh perpustakaan, yaitu :

1. Bagaimana merancang perpustakaan untuk mendidik masyarakat ? 2. Bagaimana merancang perpustakaan yang menggabungkan aktivitas

formal dan non-formal ?

3. Bagaimana merancang citra perpustakaan untuk membedakan perpustakaan pada umumnya ?

1.5 Maksud dan Tujuan Perancangan

Berikut adalah maksud dan tujuan perancangan perpustakaan learning society bandung berdasarkan permasalahan yang dimiliki oleh perpustakaan, yaitu :

Maksud Perancangan :

1. Terciptanya perpustakaan yang dapat mendidik masyarakat.

2. Terciptanya perpustakaan yang menggabungkan kedua aktivitas yang berbeda yaitu pendidikan formal dan non-formal.

(26)

5  Tujuan Perancangan :

1. Adanya fasilitas perpustakaan yang dapat mendidik masyarakat. 2. Adanya fasilitas perpustakaan yang menggabungkan aktivitas

pendidikan formal dan non-formal.

(27)

6

Bab II

Tinjauan Umum Perpustakaan Berbasis

Learning Society

dan Tinjauan Penggayaan Interior

Futuristic

2.1 Pengertian Learning Society

Istilah Learning Society berasal dari bahasa Inggris, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan masyarakat belajar. Learning society diperkenalkan oleh Torsten Husen pada tahun 1971, dengan memberikan batasan bahwa Learning Society adalah memberdayakan peran masyarakat dan keluarga dalam bidang pendidikan.

Seiring dengan pengertian tersebut setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu : Pertama, memberdayakan peran masyarakat. Dalam kalimat ini mengandung makna adanya orang ketiga dalam hal memberdayakan peran masyarakat. Adayanya aktivitas masyarakat secara khusus dalam bidang pendidikan, yang biasa dikenal dengan istilah pendidikan non formal. Kedua, Pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga (rumah tangga). Artinya kelangsungan pendidikan juga merupakan bagian dari tanggung jawab di dalam rumah tangga. Ketiga, diluar dari keduanya adalah tanggung jawab pemerintah.

(28)

7 anggota masyarakat melalui interaksi keseharian yang selalu bernuansa

amar ma’ruf dan nahi munkar. Setiap anggota masyarakat akan selalu

mendapatkan masukkan postif dari hasil interaksinya itu.

Sumber : (http://nanangsupraiatno-mgmppai.blogspot.com/2009/06/learning-society.html)

2.2 Pengertian Perpustakaan

Kata dasar perpustakaan ialah pustaka. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pustaka artinya kitab, buku. Dalam bahasa Inggris, adalah library. Istilah ini berasal dari kata latin liber atau libri artinya buku. Dari kata latin tersebut, terbentuklah istilah libraries yang artinya tentang buku. Dalam bahasa asing lainnya (belanda) perpustakaan disebut juga sebagai bibliotheek, (Jerman) bibliothek, (Perancis) bibliotheque, (Spanyol) bibliotheca, dan (Portugis) bibliotheca. Semua istilah itu berasal dari kata biblia dari bahasa Yunani artinya tentang buku, kitab.

(Basuki, 1991)

(29)

8 Adapun jenis-jenis perpustakaan yang ada dewasa ini adalah sebagai berikut :

1. Perpustakaan Internasional

Perpustakaan internasional adalah perpustakaan yang didirikan oleh dua negara atau lebih atau perpustakaan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional.

(Basuki, 1991)

2. Perpustakaan Nasional

Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan yang berada di pusat pemerintahan yang bertugas mengarahkan dan mengembangkan melalui kebijakan yang tepat sasaran. Perpustakaan nasional disingkat dengan PNRI, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. PNRI ini mempunyai tugas memberikan layanan ISBN, pengarsipan, dan lain-lain.

(Gusti, 2012)

Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan utama dan paling komprehensif yang melayani keperluan informasi dari penduduk suatu negara.

(30)

9 3. Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum adalah perpustakaan diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum.

(Basuki, 1991)

Untuk mencapai tujuannya, perpustakaan umum biasanya mengelompokkan objeknya menjadi empat, yaitu :

 Pendidikan

Perpustakaan umum bertugas memelihara dan menyediakan sarana untuk pengembangan perorangan/kelompok pada semua tingkat kemampuan pendidikan.

 Informasi

Perpustakaan menyediakan kemudahan bagi pemakai berupa akses yang cepat terhadap informasi yang tepat mengenai seluruh julatan pengetahuan manusia.

 Kebudayaan

Perpustakaan merupakan pusat kehidupan kebudayaan dan secara aktif mempromosikan partisipasi dan apresiasi semua bentuk seni.

 Rekreasi

Perpustakaan memainkan peran penting dalam mendorong penggunaan secara aktif rekreasi dan waktu senggang dengan penyediaan bahan bacaan.

(31)

10 4. Perpustakaan Khusus

Perpustakaan khusus merupakan perpustakaan sebuah departemen, lembaga negara, lembaga penelitian, organisasi massa, militer, industri, maupun perusahaan swasta.

(Basuki, 1991)

5. Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan utama membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya.

(Basuki, 1991)

6. Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan perguruan tinggi ialah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi. Dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya. Tujuan perguruan tinggi di Indonesia dikenal dengan nama Tri Dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) maka perpustakaan perguruan tinggi pun membantu melaksanakan ketiga dharma perguruan tinggi.

(32)

11 7. Perpustakaan Pribadi

Perpustakaan swasta atau perpustakaan pribadi artinya perpustakaan yang dikelola pihak swasta atau pribadi dengan tujuan melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu tertentu. Karena semuanya dibiayai oleh swasta maka jenis perpustakaan ini hanya melayani keperluan kelompok terbatas pula.

(Basuki, 1991)

2.2.1 Jenis Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan adalah sejumlah bahan atau sumber-sumber informasi, baik berupa buku ataupun bahan bukan buku, yang dikelola untuk kepentingan belajar. Jenis koleksi yang diperlukan suatu perpustakaan bisa dikelompokan ke dalam kategori buku dan bahan bukan buku. Yang pertama meliputi segala jenis buku dan yang terakhir meliputi segala jenis bahan yang tidak termasuk ke dalam kategori buku. Jenisnya sebagai berikut.

(Yusuf dan Suhendar, 2005)

1. Buku-buku Non-Fiksi

Buku yang ditulis berdasarkan fakta atau kenyataan alam dan budaya. Buku-buku ini disusun atas dasar hasil pengamatan dan hasil penelitian mendalam untuk menjaga kebenaran fakta yang ditulis.

(33)

12 2. Buku-buku Fiksi

Buku yang ditulis bukan berdasarkan fakta atau kenyataan. Ia ditulis atas dasar kehendak dan hayalan pengarangnya saja. Imajinasi pengarang dan juga termasuk kecenderungan perasaan pada saat menulis sering tertuang dalam wujud tulisan pada buku yang ditulisnya. Buku-buku model fiksi ini biasanya dalam bentuk cerita, baik pendek maupun lengkap. Nama lain untuk buku-buku fiksi ini sering dikaitkan dengan novel, romans.

(Yusuf dan Suhendar, 2005)

3. Koleksi Bahan Bukan Buku

Yang dimaksud dengan bahan bukan buku di sini adalah bahan atau koleksi yang masih dalam bentuk cetakan namun bukan berupa buku. Jenis koleksi yang termasuk ke dalam kategori ini banyak macamnya, antara lain adalah berkala, gambar, globe, map, surat kabar, dan majalah. Karya-karya selipat seperti brosur dan pamflet atau selebaran juga termasuk ke dalam jenis bahan bukan buku.

(Yusuf dan Suhendar, 2005)

4. Koleksi Bahan Pandang Dengar (Audiovisual)

(34)

13 nonkonvensional. Contohnya film suara, kaset video, tape recorder, slide suara, dan sebagainya.

Karena pemanfaatannya menggunakan unsur pandang dan unsur dengar, maka kemudian disebut dengan bahan pandang dengar (audiovisual).

(Yusuf dan Suhendar, 2005)

2.2.2 Klasifikasi Buku

Setiap perpustakaan, besar tau kecil perlu penggolongan bahan pustaka dengan menggunakan suatu sistem tertentu. Tujuan dari penggolongan itu ialah untuk mengelompokan bahan pustaka yang sejenis yang membantu memudahkan para pemakai dalam mencari informasi yang diperlukan dengan mudah dan cepat. Pengelompokan bahan pustaka tersebut biasanya berdasarkan pada subjeknya.

Ada beberapa sistem klasifikasi yang biasa digunakan di perpustakaan, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus maupun sekolah. Sistem-sistem tersebut diantaranya adalah Dewey Decimal Classification (DDC), sistem Universal Decimal Classification (UDC), dan sistem Library of Congress (LC). Adapun paling banyak digunakan ialah DDC.

(35)

14 panggilan (Call number), biasanya berupa notasi untuk klasnya disertai dengan nomor buku atau beberapa alat lainnya. Nomor panggil memberikan kode identifikasi unik yang dipakai sebagai suatu alamat pada rak dan suatu tanda pengenal (tag) untuk penyimpanan rekaman perpustakaan dalam sirkulasi dan kendali inventaris (Inventory control).

Dalam suatu perpustakaan, katalog subjek merupakan indeks isi koleksi perpustakaan itu. Katalog mendaftarkan kerja, bagian dari karya, skripsi penting, atau karya kesusastraan dalam koleksi oleh topik. Jika tersusun menurut abjad oleh kata-kata, katalog ini disebut katalog subjek alfabetis. Jika disusun dengan notasi suatu sistem klasifikasi perpustakaan, katalog itu disebut katalog klasifikasi. Selain memberikan nomor klas di mana artikel dirakkan, katalog klasifikasi juga memberikan nomor untuk subjek-subjek lain dalam karya tersebut.

(Suherman, 2009)

1. Kerangka Pengertian Dewey Decimal Classification (DDC)

Dalam DDC, klas dasar diorganisasikan oleh disiplin atau bidang studi akademik tradisional. Bagian-bagian dari klasifikasi disusun oleh disiplin, bukan oleh subjek.

(36)

15 2. Notasi Dalam Dewey Decimal Classification (DDC)

DDC dibagi menjadi 10 klas utama yang bersama-sama meliputi seluruh dunia ilmu pengetahuan. Klas utama dibagi menjadi 10 divisi dan setiap divisi dibagi 10 seksi. Di bawah ini diberikan 10 klas utama.

Contohnya :

 000 Karya-karya Umum

 100 Filsafat

 200 Agama

 300 Ilmu-ilmu Sosial

 400 Bahasa

 500 Ilmu-ilmu Pengetahuan Murni

 600 Ilmu-ilmu Terapan (Teknologi)

 700 Kesenian  800 Kesusastraan

 900 Geografi, Biologi, Sejarah

(Yusuf dan Suhendar, 2005)

2.2.3 Katalog Perpustakaan

(37)

16 Dalam kaitannya dengan perpustakaan, katalog berarti adalah daftar bahan pustaka baik berupa buku maupun non-buku yang dimiliki dan tersimpan pada perpustakaan. Dalam katalog perpustakaan tercantum informasi-informasi penting dari suatu bahan pustaka yang biasanya dipakai oleh pengunjung perpustakaan sebagai bahan informasi, yang menyangkut fisik bahan pustaka, isi, ataupun informasi-informasi lainnya, seperti judul bahan pustaka, nama pengarang, edisi, cetakan, kota terbit, penerbit, tahun terbit, subjek bahasan, ISBN, dan lain-lain.

(Suhendar, 2005)

1. Fungsi dan Tujuan Katalog Perpustakaan

Sebagaimana tersirat dalam pengertian katalog tersebut di atas, pada dasarnya katalog perpustakaan memiliki dua fungsi. Pertama : berfungsi sebagai daftar inventaris bahan pustaka dari suatu atau kelompok perpustakaan. Kedua : berfungsi sebagai sarana temu balik bahan pustaka. Katalog perpustakaan adalah alat atau media untuk mencari dan menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pengunjung perpustakaan secara cepat, tepat, dan akurat.

(Suhendar, 2005)

(38)

17  Memberikan kemudahan kepada seseorang untuk menemukan bahan

pustaka yang telah diketahui pengarang, judul atau subjeknya secara cepat, tepat, dan akurat.

 Menunjukkan bahan pustaka yang dimiliki suatu perpustakaan oleh

pengarang tertentu berdasarkan subjek tertentu atau subjek-subjek yang berhubungan dan jenis literatur tertentu.

 Membantu dalam pemilihan bahan pustaka berdasarkan edisi dan

karakternya (sastra atau berdasarkan topik). (Suhendar, 2005)

2.3 Tinjauan Umum Interior Perpustakaan

(39)

18 2.3.1 Layout Perpustakaan

Gambar 2.1 Layout Perpustakaan Dusseldorf

(sumber : Neufert, 2002)

Gambar 2.2 Perpustakaan Besar di USA

(40)

19 Gambar 2.3 Perpustakaan di Gutersloh

(sumber : Neufert, 2002)

Gambar 2.4 Perpustakaan di Vierheim

(41)

20 2.3.2 Warna Perpustakaan

Warna dapat menimbulkan kesan tertentu, bahkan mempengaruhi mood dan perasaan manusia. Beberapa warna ada yang dapat membangkitkan semangat, ada pula warna-warna yang menenangkan emosi.

Warna yang sesuai dengan keperibadian dan kebutuhan, bisa mendatangkan kenyamanan fisik, mental maupun spiritual. Warna juga bisa menyembuhkan dan menyeimbangkan emosi, yang pada akhirnya akan menciptakan keselarasan dirumah. Berikut beberapa pengaruh warna pada manusia. (suherman, 2009)

 Merah Jingga : semangat, tenaga, kekuatan, pesat, hebat, gairah.  Abu-abu : tenang.

 Putih : senang, harapan, murni, lugu, bersih, spiritual,

pemaaf, cinta, terang. (Darmaprawira, 2002)

2.3.3 Fisika Bangunan Perpustakaan 1. Pengamanan Perpustakaan

Untuk melindungi bahan pustaka dari pencurian, maka perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut :

 Pemasangan alarm sistem, terutama untuk menghindari pencurian

pada jam-jam kantor.

(42)

21  Perlu dipasang pengumuman bahwa pengunjung perpustakaan

dilarang membawa tas, mantel, payung ke dalam ruang baca. Bila perlu diadakan pemeriksaan pada pengunjung yang keluar dari ruang baca.

 Pengecekan pada bahan pustaka yang ada dalam ruang penyimpanan

dan ruang baca untuk mengetahui lebih dini adanya koleksi yang hilang.

(Darmono, 2001)

2. Mencegah Bahaya Kebakaran

Kebakaran dapat memusnahkan bahan pustaka dalam waktu yang singkat, oleh sebab itu kebakaran harus dihindari dengan jalan :

 Memasang semoke detectore pada tiap ruangan dalam perpustakaan.

 Instalasi listrik harus diperiksa secara awal.

 Dilarang keras merokok di dalam perpustakaan.

 Alat pemadam api harus dipasang ditempat-tempat yang mudah

dijangkau.

(Darmono, 2001)

3. Mencegah Kerusakan Karena Faktor Kimia Kayu (Rak)

(43)

22 Karton sangat disukai oleh rayap dan mengeluarkan asam klorida dan plastik selulosa asetat mengeluarkan asam asetat. Asam-asam tersebut dapat melemahkan struktur kimia kertas.

(Darmono, 2001)

4. Mencegah Kerusakan Karena Pengaruh Cahaya

 Memperkecil intensitas cahaya yang digunakan dalam gudang dan

ruang baca. Intensitas cahaya yang diizinkan untuk kertas adalah 50 lux.

 Memperpendek waktu pencahayaan.

 Menghilangkan radiasi ultra violet yang dapat menimbulkan reaksi foto

kimia pada kertas dari sumber cahaya. Kandungan ultra violet yang diizinkan untuk kertas adalah watt/lumen.

(Darmono, 2001)

5. Mencegah Kerusakan Karena Faktor Kelembaban Udara

(44)

23 ruang akan berubah-ubah. Kondisi seperti ini malah akan mempercepat kerusakan kertas.

(Darmono, 2001)

2.3.4 Pencahayaan Perpustakaan

1. Luminair Fluorescent Gantung Cahaya Langsung-Tidak Langsung Sistem pencahayaan lampu fluorescent gantung ini menghasilkan cahaya ke arah bawah dan ke arah atas dengan menggunakan lampu T-5, lampu

T-5HO, atau lampu T8 yang biasanya berukuran panjang 4’ dan

menggunakan ballast elektronik. Jenis pencahayaan ini harus digantung

paling tidak 12” di bawah plafon, dengan ketinggian plafon 9’ atau lebih.

Sistem pencahayaan ini dapat digunakan sebagai pencahayaan umum pada ruang perpustakaan.

(Karlen dan Benya, 2004)

2. Pencahayaan Warna Putih Pada Perpustakaan

Warna putih memiliki karakter positif, merangsang, cemerlang, ringan, dan sederhana. Putih melambangkan kesucian, polos, jujur, dan murni.

(Darmaprawira, 2002)

3. Kekuatan Penerangan Menurut Standar

 Ruang baca umum dan kantor : 400 lux

 Ruang penjilidan dan pemandu : 600 lux

(45)

24  Ruang baca referensi : 600 lux

 Toko buku : 100 lux

 Ruang perawatan : 600 lux

 Katalog : 400 lux

 Ruang selain ruang kerja : 100-300 lux

 Ruang koleksi, penyimpanan : 150-330 lux

 Kantor dan administrasi : 200-500 lux

 Ruang baca dan katalog : 300-850 lux

(Rachmi, 2012)

2.3.5 Akustika Pada Ruangan Perpustakaan

Ruang perpustakaan dikenal sebagai ruang yang membutuhkan ketenangan sangat tinggi. Ketika kebisingan dari luar ruangan dapat diatasi dengan baik, sumber kebisingan lain kemungkinan justru muncul dari dalam ruangan perpustakaan sendiri, seperti langkah kaki atau percakapan antar pengunjung. Untuk meredam kebisingan semacam ini, bagian dalam dinding, lantai, dan plafon ruang perpustakaan perlu dilapisi dengan bahan lunak yang mampu menyerap bunyi.

(Mediastika, 2005)

1. Menata layout Bangunan

(46)

25 ketenangan, terpisah dari ruang-ruang yang tidak terlalu membutuhkan ketenangan atau ruang-ruang yang justru menghasilkan kebisingan.

(Mediastika, 2005)

2.3.6 Studi Antropometri Perpustakaan

Gambar 2.5 Luas Untuk Meja Perseorangan Gambar 2.6 Jarak Minimum Antar Meja

(Sumber : Neufert, 2002) (Sumber : Neufert, 2002)

Gambar 2.7 Rak Katalog Gambar 2.8 Meja Kerja Perseorangan Sistem carrles

(47)

26 Gambar 2.9 Rak Buku Pelajar Gambar 2.10 Rak Buku Dengan 4 Tingkat Untuk Anak-anak

(Sumber : Neufert, 2002) (Sumber : Neufert, 2002)

Gambar 2.11 Ruang Gerak Minimum Gambar 2.12 rak buku dengan 5 Tingkat/Bagian

Didalam Jangkauan (Sumber : Neufert, 2002)

Ruang Baca

(48)

27 Gambar 2.13 Rak/Lemari Majalah

(Sumber : Neufert, 2002)

2.4 Futurisme

Gerakan revolusi Futurisme diproklamirkan pada tahun 1909 oleh seorang penulis dan penyair Italia. Filippo Tommaso Marinetti. Futurisme adalah sebuah pergerakan seni murni Italia dan sebuah pergerakan kebudayaan pertama abad ke-20 ini, yang diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas. Bermula dari konsep dalam pergerakan sastra, kemudian merasuk ke dalam bidang kesenian seperti : seni lukis, seni patung, seni musik, desain, dan arsitektur.

(49)

28 perilaku yang individualis dari kaum Futuris ini, lambat laun dimanfaatkan untuk menyebarkan faham Fasisme.

(Sachari dan Sunarya, 2011)

2.4.1 Konsep Karya Futurisme

Dasar pemikiran Futurisme menyatakan, bahwa energi alam harus ditampilkan di dalam karya seni sebagai sensasi dinamis yang dapat memecahkan suatu kesatuan realitas. Ia menjadi suatu yang baru dengan melalui penggunaan gerak dan cahaya. Ciri-cirinya adalah keterbatasan dijadikan gaya dinamis. Bentuk elemen dan kolase banyak digunakan dalam cara-cara dinamis guna menciptakan gambar-gambar.

(Sachari dan Sunarya, 2011)

2.4.2 Image Futurisme

Gambar 2.14 Image Futuristic

(50)

29 Gambar 2.15 Image Futuristic

(Sumber :

http://www.dreamstime.com/stock-photography-scifi-interior-d-design-futuristic-illumination-image30394702)

Gambar 2.16 Image Futuristic

(Sumber : http://www.cgarchitect.com/2013/02/futuristic-interior)

2.5 Studi Banding

(51)

30 teknologi bandung dan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat.

2.5.1 Perpustakaan Pusat Insitut Teknologi Bandung

Perpustakaan ITB merupakan warisan jaman Belanda, bersamaan dengan berdirinya Technische Hoogeschool (TH) di Bandung tahun 1920, pada waktu itu juga lahir perpustakaan TH yang koleksinya kebanyakan bahasa Belanda. Pada tanggal 1 April 1944 pada masa kependudukan Jepang dirubah namanya dengan Bandung Kyogo Daigaku. Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Bandung Daigaku Kyogo

ditutup, tetapi segera dibuka kembali dengan nama “Sekolah Tinggi

Teknik (STT)”. Pada tahun 1946 TH Bandung dibuka kembali oleh

(52)

31 Tahun 1967 dibentuk panitia perpustakaan yang beranggotakan tiga orang, masing-masing mewakili bidang rekayasa, ilmu pengetahuan alam dan seni rupa. Tiga panitia adalah untuk membangun kembali perpustakaan pusat dengan jalan menertibkan koleksi, mengatur kembali cara peminjaman buku dan mengembalikan disiplin pegawai. Keadaan yang makin baik itu rupanya menggugah minat pustakawan The British Council di Indonesia menawarkan bantuan. Tawaran itu berupa :

 Tenaga ahli dari Inggris.

 Tenaga muda pustakawan yang tergabung dalam VSO (Voluntari

Service Organization).

 Pengiriman pegawai perpustakaan ke Inggris untuk belajar ilmu

perpustakaan.  Sumbangan buku.

 Sebuah gedung perpustakaan.

Tawaran tersebut disambut dengan terbuka oleh bapak Dody Tisnaamidjaja sebagai rektor ITB waktu itu. Semua usul The British Council itu diterima oleh pemerintah Inggris.

(53)

32 perpustakaan yang permanen yang akan dirancang sesuai fungsi perpustakaan perguruan tinggi. Kini gedung itu telah berdiri, menghadap ke pintu gerbang kampus ITB dan mulai ditempati pada pertengahan tahun 1987, dengan luas 16000 meter persegi. Tahap kedua baru akan dilaksanakan setelah gedung yang sekarang terisi penuh, yang diperkirakan tercapai paling cepat setelah dua puluh lima tahun.

(Nugroho, 2005)

1. Struktur Organisasi Perpustakaan

Bagan 2.1 Struktur Organisasi Perpustakaan

(sumber : Gusti, 2012)

2. Visi dan Misi Perpustakaan Visi Perpustakaan :

Menyediakan layanan informasi bagi Insitut Teknologi Bandung (ITB) dan masyarakat untuk pengembangan pengetahuan (IPTEK dan Humaniora).

Kepala & Wk. Kepala

Digital Majalah

Kliping Database Registrasi

(54)

33 Misi Perpustakaan :

Perpustakaan berorientasi kepada penunjang perkembangan masyarakat akademis, untuk melaksanakan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi dengan misi sebagai berikut :

 Menunjang keberhasilan misi perguruan tingginya dengan memberikan

layanan sebaik-baiknya yang menstimulasi mahasiswa dan staf pengajar untuk memanfaatkan perpustakaan.

 Mengembangkan koleksi ilmu pengetahuan, teknologi, seni serta

ilmu-ilmu kemanusiaan untuk bahan informasi/acuan bagi civitas akademika.

 Menyediakan koleksi ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora untuk

bahan belajar dan mengajar civitas akademik ITB, serta penyediaan koleksi lainnya untuk menambah/memperkaya pengetahuan mahasiswa.

 Memerangi bentuk kemiskinan informasi/pengetahuan melalui

penyediaan koleksi yang beragam untuk masyarakat umum.  Merawat koleksi yang bersifat langka.

 Membantu civitas akademika dalam mendapatkan informasi yang tidak

tersedia di perpustakaan dengan jalan menjalin kerjasama dengan perpustakaan di dalam dan luar negeri.

(55)

34 3. Jenis Koleksi Buku Perpustakaan

Table 2.1 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan

No Jenis Koleksi Buku

1.

Civic & landscape arts

Architecture

Plastic arts, sculpture

Drawing & decoration arts

Photography

(56)

35 4. Dokumentasi

Gambar 2.17 Suasana Ruang Baca Lantai 3 Gambar 2.18 Suasana Ruang Baca Lantai 4

(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)

Gambar 2.19 Area Informasi & Fotocopy Gambar 2.20 Area Pusat Informasi Lantai 4

(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)

Gambar 2.21 Area Pusat Informasi Lantai 3 Gambar 2.22 Suasana Ruang Baca Lantai 2

(57)

36

Gambar 2.23 Rak Buku di Lantai 3 Gambar 2.24 Area Baca Kelompok Lantai 4

(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)

Gambar 2.25 Rak Buku di Lantai 2 Gambar 2.26 Rak Buku di Lantai 4

(58)

37 Gambar 2.27 Tempat Penitipan Barang Gambar 2.28 Area Baca Kelompok Lantai 2

(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)

2.5.2 Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat

(59)

38 Kebudayaan nomor 079/1975 induk organisasi Perpustakaan Negara menjadi Pusat Pembinaan Perpustakaan.

Empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Mei 1979 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Keputusan nomor 095/1979 tentang penetapan pengalihan nama Perpustakaan Negara menjadi Perpustakaan Wilayah, sementara induk organisasinya masih Pusat Pembinaan Perpustakaan.

Adanya penggabungan pusat Pembinaan Perpustakaan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989 tentang Perpustakaan Nasional RI. Pasal 14(1) nama Perpustakaan Wilayah yang ada di setiap provinsi berubah lagi menjadi Perpustakaan Daerah Jawa Barat dan induk organisasinya adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND).

(60)

39 merupakan instansi vertical Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yan berada di Ibu Kota Provinsi dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kemudian tanggal 12 April 2002, berdasarkan Peraturan Daerah nomor 6 dibentuk Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu Lembaga Teknis Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam bidang perpustakaan.

(Sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)

Pada tahun 2013, Perpustakaan Umum Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan diri sebagai perpustakaan bertaraf internasional (PBI). PBI mengusung konsep baru sebagai kawasan terpadu yaitu sebagai perpustakaan tempat belajar sekaligus tempat bermain untuk anak. Hal ini penting karena kita perlu mengenalkan perpustakaan kepada anak sejak usia dini, sehingga membantu anak untuk menumbuhkan kecerdasannya secara optimal.

Gedung PBI mengangkat tema "New Look, New Performance" yang membuat pembaca lebih nyaman dan mudah untuk belajar. Suasana pun dibuat seunik mungkin agar pembaca merasa betah di perpustakaan tanpa rasa penat.

(61)

40 1. Struktur Organisasi Perpustakaan

Bagan 2.2 Struktur Organisasi Perpustakaan

(Sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)

2. Visi dan Misi Perpustakaan Visi Perpustakaan :

Perpustakaan dan Kearsipan sebagai sumber informasi yang handal menuju masyarakat Jawa Barat cerdas.

Misi Perpustakaan :

 Meningkatkan pembinaan dan pengembangan Lembaga Perpustakaan

(62)

41  Meningkatkan profesionalisme dan kompetisi SDM Pengelolaan

Perpustakaan dan Kearsipan.

 Mengembangkan budaya baca masyarakat guna mewujudkan

masyarakat belajar (Learning Society).  Mengembangkan budaya sadar arsip.

 Mengembangkan, mengelola dan melestarikan bahan Perpustakaan

dan Arsipa sebagai kazanah informasi dan pengetahuan.

 Menyeleggarakan layanan Perpustakaan dan Kearsipan berbasis

teknologi informasi dan komunikasi. (Sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)

3. Jenis Koleksi Buku Perpustakaan Table 2.2 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan

No Jenis Koleksi Buku

1.

(63)

42 4. Dokumentasi

Gambar 2.29 Suasana Lobby Lantai 1 Gambar 2.30 Suasana Lobby Lantai 4

(sumber : bapusibda.jabarprov.go.id) (sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)

Gambar 2.31 Area Pendaftaran Anggota Gambar 2.32 Ruang Baca Koleksi Anak

(sumber : bapusibda.jabarprov.go.id) (sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)

Gambar 2.33 Ruang Baca Koleksi Dewasa Gambar 2.34 Ruang Baca Koleksi Remaja

(64)

43

Bab III

Perpustakaan

Learning Society

Bandung

3.1 Deskripsi Proyek

 Judul Proyek : Perpustakaan Learning Society

Bandung

 Jenis Proyek : Proyek Perancangan Fasilitas Rekreasi

& Kegiatan Budaya  Status Kepemilikan : Pemerintah Kota Bandung

 Sasaran Pengguna : Pelajar, Mahasiswa, Wisatawan Umum

 Jam operasional : Senin – Jum’at, pukul 08.00 – 15.00

WIB

Sabtu – Minggu, pukul 08.00 – 12.00 WIB

3.2 Struktur Organisasi Perpustakaan

(65)

44 Bagan 3.1 Struktur Organisasi Perpustakaan Learning Society Bandung

(Sumber : Dokumen Pribadi)

3.3 Visi dan Misi Perpustakaan

Berikut adalah visi dan misi Perpustakaan Learning Society Bandung berdasarkan studi banding.

Visi Perpustakaan :

Menyediakan layanan informasi yang handal menuju masyarakat Bandung cerdas.

Misi Perpustakaan :

 Mengembangkan budaya baca masyarakat guna mewujudkan

(Learning Society) masyarakat belajar.

(66)

45  Mengembangkan, mengelola, dan melestarikan koleksi perpustakaan

sebagai informasi dan pengetahuan.

 Menyelenggarakan layanan perpustakaan berbasis teknologi,

informasi, dan komunikasi.

 Menyelenggarakan perpustakaan sebagai pusat pendidikan, informasi,

kebudayaan, dan rekreasi.

 Membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi yang tidak

tersedia di perpustakaan dengan jalan menjalin kerjasama dengan perpustakaan di dalam dan luar negeri.

 Meningkatkan profesionalisme pengelolaan perpustakaan.

3.4 Analisis Data dan Bangunan 1. Lokasi

(67)

46 Gambar 3.1 Peta Lokasi Perpustakaan Learning Society Bandung

(Sumber : Google Maps)

3.5 Pengguna Bangunan

Pengguna bangunan Perpustakaan Learning Society Bandung dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu :

1. Kelompok Pengunjung Perpustakaan

Sebagian besar pengunjung Perpustakaan Learning Society Bandung adalah yang berprofesi sebagai pelajar dan mahasiswa.

2. Kelompok Pengurus Perpustakaan

Kelompok pengurus perpustakaan terbagi menjadi dua, yaitu pengurus di area front office seperti pegawai resepsionis, pegawai informasi, dan pustakawan yang berhubungan langsung dengan pengunjung, dan juga pengurus di area back office yang meliputi pegawai administrasi.

Perpustakaan Learning

(68)

47 3.6 Aktivitas Perpustakaan

1. Membaca Buku

Kegiatan ini merupakan kegitan paling penting dalam program aktivitas perpustakaan, ini merupakan fungsi utama dari perpustakaan sebagai sarana pendukung kegiatan pembelajaran bagi masyarakat.

2. Meminjam dan Mengembalikan Buku

Kegiatan ini adalah termasuk kegiatan yang umum terdapat di perpustakaan dimana pengunjung hendak mengembalikan buku atau meminjam buku untuk di bawa pulang dan dikembalikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Seminar

Kegiatan ini merupakan kegiatan perpustakaan dengan fungsi sebagai sarana pendukung kegiatan pembelajaran bagi masyarakat dengan menghadirkan talk show pendidikan dengan mengundang parktisi.

4. Bedah Buku

(69)

48 5. Menonton Film Dokumenter

kegiatan ini merupakan kegiatan pendukung perpustakaan dengan fungsi mengajak masyarakat untuk menonton film bersejarah agar masyarakat tahu akan sejarah bangsanya sendiri.

6. Mengerjakan Tugas

Kegiata ini merupakan kegiatan khusus di perpustakaan dengan fungsi membantu pelajar atau mahasiswa yang mendapatkan tugas dari sekolahnya untuk diselesaikan dengan mencari referensi beberapa buku yang ada di perpustakaan.

7. Browshing

Kegiatan ini merupakan kegiatan pendukung perpustakaan dengan fungsi masyarakat bisa mendapatkan referensi tambahan dari internet.

8. Membeli Buku

kegiatan ini adalah termasuk kegiatan yang umum terdapat di perpustakaan dimana pengunjung jika berminat untuk membeli buku di toko buku perpustakaan.

3.7 Aktivitas Pengguna Perpustakaan Table 3.1 Aktivitas Pengguna Perpustakaan

No Jenis Aktivitas Pengguna Aktivitas

(70)

49 2. Aktivitas Utama Individual Membaca

Belajar 3. Aktivitas Utama Pengelola 1. Layanan Langsung

Keamanan

(71)

50 4. Aktivitas Tambahan Pengunjung Toko Buku

Cafeteria

Ruang Pameran Temporer (Sumber : Dokumen Pribadi)

3.8 Program Aktivitas dan Fasilitas 1. Fasilitas Perpustakaan Anak Table 3.2 Fasilitas Perpustakaan Anak

(72)

51

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Luas keseluruhan fasilitas perpustakaan anak dalam satuan (m2) adalah : (177.7276 m2)

2. Fasilitas Perpustakaan Dewasa dan Remaja Table 3.3 Fasilitas Perpustakaan Dewasa dan Remaja

(73)
(74)

53

(Sumber : Dokumen Pribadi)

(75)

54 3. Fasilitas Publik

Table 3.4 Fasilitas Publik

(76)

55

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Luas keseluruhan fasilitas perpustakaan dewasa dan remaja dalam satuan (m2) adalah : (261.59 m2)

4. Fasilitas Pengelola Perpustakaan Table 3.5 Fasilitas Pengelola Perpustakaan

No Nama Ruang Aktivitas Fasilitas Sirkulasi Total (m2)

(77)

56 Luas keseluruhan fasilitas pengelola perpustakaan dalam satuan (m2) adalah : (94.62.114 m2)

Luas jumlah keseluruhan fasilitas perpustakaan dalam satuan (m2) adalah : (1251.2667 m2)

3.9 Alur Sirkulasi

Berikut adalah alur sirkulasi perpustakaan learning society Bandung didalam menggunakan layanan perpustakaan :

1. Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Individual

Diagram 3.1 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Individual

(Sumber : Dokumen Pribadi) Lobby Menyimpan Buku di Rak

Penyimpanan Meja Baca Mengambil

(78)

57 2. Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Kelompok

Diagram 3.2 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Kelompok

(Sumber : Dokumen Pribadi)

3. Alur Peminjaman Buku

Diagram 3.3 Alur Peminjaman Buku

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Koleksi Remaja Menyimpan Buku di Rak

(79)

58 4. Alur Pengembalian Buku

Diagram 3.4 Alur Pengembalian Buku

(Sumber : Dokumen Pribadi)

5. Alur Pengadaan Koleksi

Diagram 3.5 Alur Pengadaan Koleksi

(Sumber : Dokumen Pribadi)

3.10 Program Ruang

Berikut adalah program ruang dan kedekatan antar ruang dalam perpustakaan learning society Bandung, yaitu :

(80)

59  Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Basement

Table 3.6 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Basement

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Dasar

Table 3.7 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Dasar

(81)

60  Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2

Table 3.8 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2

Table 3.9 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2

(82)

61  Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 3

Table 3.10 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 3

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Mezanin

Table 3.11 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Mezanin

(83)

62 3.11 Zoning dan Blocking

Berikut adalah zoning dan blocking perpustakaan learning society bandung yang dibagi ke dalam beberapa lantai, yaitu lantai basement, lantai dasar, lantai 2, lantai 3 dan lantai mezanin.

Zoning Lantai Basement

Berikut adalah zoning lantai basement yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat dan zona semi privat.

Gambar 3.2 Zoning Lantai Basement

(84)

63

Zoning Lantai Dasar

Berikut adalah zoning lantai dasar yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona semi privat dan zona publik.

Gambar 3.3 Zoning Lantai Dasar

(85)

64

Zoning Lantai 2

Berikut adalah zoning lantai 2 yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat, zona semi privat dan zona publik.

Gambar 3.4 Zoning Lantai 2

(86)

65

Zoning Lantai 3

Berikut adalah zoning lantai 3 yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat dan zona semi privat.

Gambar 3.5 Zoning Lantai 3

(87)

66

Zoning Lantai Mezanin

Berikut adalah zoning lantai mezanin yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat dan zona semi privat.

Gambar 3.6 Zoning Lantai Mezanin

(88)

67

Blocking Lantai Basement

Berikut adalah blocking lantai basement yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah kantor pengelola perpustakaan dan area parkir mobil dan motor.

Gambar 3.7 Blocking Lantai Basement

(89)

68

Blocking Lantai Dasar

Berikut adalah blocking lantai dasar yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah lobby, taman perpustakaan, ruang pamer temporer, toko buku, cafeteria, ruang nonton, ruang seminar, ruang penitipan barang, ruang penyimpanan buku sementara dan lobby perpustakaan.

Gambar 3.8 Blocking Lantai Dasar

(90)

69

Blocking Lantai 2

Berikut adalah blocking lantai 2 yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah lounge, ruang baca kelompok dewasa & remaja, ruang baca kelompok anak, ruang baca individual dewasa & remaja, ruang baca individual anak, ruang informasi & pelayanan, ruang audiovisual anak, ruang koleksi dewasa & remaja, ruang koleksi anak dan kelas belajar.

Gambar 3.9 Blocking Lantai 2

(91)

70

Blocking Lantai 3

Berikut adalah blocking lantai 3 yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah ruang koleksi dewasa & remaja, ruang koleksi referensi, ruang baca kelompok, ruang baca individual, ruang audiovisual dewasa & remaja, ruang informasi & pelayanan dan lounge.

Gambar 3.10 Blocking Lantai 3

(92)

71

Blocking Lantai Mezanin

Berikut adalah blocking lantai mezanin yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah lounge, ruang informasi & pelayanan, ruang baca kelompok, ruang baca individual, area koleksi novel dan area koleksi buku langka.

Gambar 3.11 Blocking Lantai Mezanin

(93)

72 3.12 Studi Image

Gambar 3.12 Suasana Ruang Dalian Library

(sumber : http://weandthecolor.com/dalian-library-competition-design-proposal-by-10-design/5905 )

Gambar 3.13 Library Culture House Futuristic Design

(94)

73

Bab IV

Konsep Perancangan Perpustakaan

Learning Society

Bandung

4.1 Tema Perancangan

Tema perancangan yang diterapkan pada Perpustakaan Learning Society Bandung adalah Learning Society Library dengan tujuan utama sesuai dengan visi perpustakaan, yakni : Menyediakan layanan informasi yang handal menuju masyarakat Bandung cerdas dan misi perpustakaan, yakni : menyediakan fasilitas perpustakaan yang nyaman dan berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi. Perpustakaan menghadirkan bentuk pendidikan formal dan non-formal, kedua aktivitas yang berbeda ini digabungkan ke dalam fasilitas perpustakaan sehingga masyarakat bisa berbagi ilmu kepada masyarakat yang satu dan yang lainnya. Perpustakaan menyediakan buku sebagai sarana untuk berbagi ilmu kepada orang yang menempuh pendidikan formal dan non-formal. Buku sebagai artefak yang ada di perpustakaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam mencari sumber rujukan ilmu dan sebagai acuan dalam kehidupan keseharian. Sasaran pengguna perpustakaan adalah orang-orang yang cerdas, orang-orang-orang-orang yang ingin belajar dan orang-orang-orang-orang yang membutuhkan buku sebagai sumber rujukan dalam mencari ilmu.

(95)

74 bacaannya maka ilmu yang diperoleh sekarang akan menentukan kehidupan di masa depannya. Menghadirkan bentuk statis yaitu bentuk yang kaku dari bentuk-bentuk tersebut perpustakaan learning society bandung tetap menerapkan bentuk kotak namun untuk menghindari kekakuan makan bentuk kotak tersebut dimiringkan. Selain bentuk-bentuk statis perpustakaan menghadirkan bentuk dinamis karena perpustakaan mempunyai beberapa fasilitas diantaranya adalah peminjaman dan pengembalian buku dalam tata caranya ada sebuah pergerakan yang dilakukan oleh petugas dan pengunjung perpustakaan.

Konsep utama perpustakaan membuat seseorang merasakan kenyamanan dalam melakukan aktivitas di dalam perpustakaan, diantaranya seseorang bisa fokus dalam membaca karena pencahayaan langsung menuju ke titik meja baca, seseorang bisa berdiskusi dengan rekannya tanpa harus berbisik karena pada umumnya di perpustakaan harus tenang. Di perpustakaan learning society memfasilitasi konsep ruang yang khusus untuk belajar dan berdiskusi.

(96)

75 perpustakaan diantaranya adalah abu-abu, merah jingga, putih, cokelat, cream dan kuning.

4.2 Penggayaan Perancangan

Penggayaan perancangan yang diterapkan pada Perpustakaan Learning Society Bandung adalah Futuristic. Penggayaan tersebut merupakan tujuan untuk mengarah ke masa depan, terkait perpustakaan sebagai sarana untuk pendidikan dan selalu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan maka penggayaan futuristic dapat mewakili sebagai penggayaan pada interior perpustakaan. Penggayaan tersebut mewakilkan dari beberapa kegiatan perpustakaan diantaranya adalah belajar, ketika seseorang belajar dan buku sebagai sarananya maka seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk bekal di kemudian hari.

4.3 Konsep Bentuk  Statis

(97)

76 Gambar 4.1 Konsep Bentuk Ruang Statis

(Sumber : Dokumen Pribadi)

 Dinamis

Konsep bentuk dinamis diterapkan pada lay-out perpustakaan untuk menyelaraskan dengan bentuk statis. sehingga penataan bentuk lay-out mempunyai perpaduan antara bentuk statis dan dinamis.

Gambar 4.2 Konsep Bentuk Ruang Dinamis

(98)

77 4.4 Konsep Lay-out

Penataan lay-out antara satu ruangan dengan ruangan yang lainnya saling berdekatan dengan fungsi mempermudah seseorang dalam mengakses. Sebagai contoh ruangan koleksi buku harus berdekatan dengan ruangan membaca dan ruangan katalog harus dekat dengan ruangan koleksi buku.

4.5 Pola Lantai

(99)

78 Gambar 4.3 Pola Lantai

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Gambar 4.4 Pola Lantai

(Sumber : Dokumen Pribadi)

4.6 Konsep Ceiling / Lighting Plan

(100)

79 fungsi mempermudah seseorang dalam berjalan. Lighting Plan diaplikasikan sesuai dengan fungsi perpustakaan diantaranya adalah membaca. Titik lampu diaplikasikan tepat diatas meja baca dengan fungsi untuk menerangkan meja baca sehingga seseorang akan lebih fokus dalam membaca. Terdapat titik pencahayaan yang memfokuskan suatu objek yang hendak diterangkan oleh cahaya, pencahayaan jenis spot light ini diaplikasikan khusus diarea display.

4.7 Konsep Way Finding System

Konsep way finding system pada perpustakaan learning society bandung adalah dengan mengaplikasikan bentuk yang informatif diantaranya adalah menerapkan warna kuning pada area sirkulasi untuk orang berjalan dan memberikan material jenis marmer pada area yang bersebelahan dengan sirkulasi jalan sehingga berfungsi mengarahkan pengunjung perpustakaan ke tempat yang ingin di tuju.

Gambar 4.5 Konsep Way Finding System Perpustakaan Learning Society Bandung

(101)

80 4.8 Konsep Material

 Material Marmer

Material marmer diaplikasikan disetiap ruang perpustakaan.

Gambar 4.6 Marmer

(Sumber : http://jualbatu.blog.com/produk-kami/marmer/)

 Material Epoxy

Material epoxy diaplikasikan sebagai border untuk menandakan perbedaan antar ruangan.

Gambar 4.7 Epoxy

(Sumber : http://www.epoxy.com/chips.aspx)

 Material Gypsum Board

(102)

81 Gambar 4.8 Gypsum Board

(Sumber : http://www.cccme.org.cn/shop/hicity/offer-16.aspx)

 Material Stainless Hollow

Material stainless hollow diaplikasikan pada perancangan desain furniture. Selain kuat dalam konstruksi stainless hollow mudah dibersihkan dari debu dan kotoran.

Gambar 4.9 Stainless Hollow

(Sumber : http://www.stainlesssteelblog.com/2012/11/stainless-steel-section.html)

 Material Stainless Plate

(103)

82 Gambar 4.10 Stainless Plate

(Sumber : http://www.suryalogam.com/)

 Material Multiplex

Material multiplex diaplikasikan pada perancangan desain furniture.

Gambar 4.11 Multiplex

(Sumber : http://www.spantriplast.be/multiplex_NL-15622.html)

 Material kaca

(104)

83 Gambar 4.12 Kaca

(Sumber : http://sifohomes.blogspot.com/2013/03/photoshop-tutorial-gadis-kaca.html)

4.9 Konsep Warna

Konsep warna pada perancangan Perpustakaan Learning Society Bandung adalah menggunakan warna-warna netral diaplikasikan pada ruangan yang membutuhkan ketenangan dalam melakukan aktivitas membaca, warna-warna yang merefleksikan pencitraan perpustakaan, dan aksentuasi warna yang membuat pengunjung menjadi semangat dalam berkunjung ke perpustakaan.

Dalam mencapai konsep warna tersebut, maka digunakan warna-warna sebagai berikut :

 Putih

(105)

84 Gambar 4.13 Skema Warna Putih

(Sumber : Dokumen Pribadi)

 Abu-abu

Warna abu-abu diaplikasikan pada perancangan desain furniture. Warna ini dapat membuat perasaan jadi tenang dan sangat tepat jika diterapkan di perpustakaan.

Gambar 4.14 Skema Warna Abu-abu

(Sumber : Dokumen Pribadi)

 Cokelat

(106)

85 Gambar 4.15 Skema Warna Cokelat

(Sumber : Dokumen Pribadi)

 Merah Jingga

Warna merah jingga diterapkan pada perancangan Perpustakaan Learning Society Bandung dengan tujuan sebagai warna yang dapat memberikan perasaan semangat dan tenang.

Gambar 4.16 Skema Warna Merah Jingga

(Sumber : Dokumen Pribadi)

 kuning

(107)

86 Gambar 4.17 Skema Warna Kuning

(Sumber : Dokumen Pribadi)

4.10 Teknis Penghawaan

Teknis peghawaan pada perpustakaan learning society bandung adalah menggunakan jenis AC central dengan standar suhu yang ideal 20-24 derajat celcius.

4.11 Teknis Pencahayaan

Teknis pencahayaan pada perpustakaan learning society bandung adalah menggunakan downlight sebagai armatur lampu dan lampu jenis halogen. Titik lampu diaplikasikan tepat diatas meja baca dengan fungsi untuk menerangkan meja baca sehingga seseorang akan lebih fokus dalam membaca.

4.12 Teknis Keamanan  Sprinkler

(108)

87  Cctv

Teknis keamanan cctv adalah untuk mengawasi pengunjung dari tindak pencurian di perpustakaan.

 Material

Gambar

Gambar 2.1 Layout Perpustakaan Dusseldorf
Gambar 2.32 Ruang Baca Koleksi Anak
Gambar 3.1 Peta Lokasi Perpustakaan Learning Society Bandung
Table 3.2 Fasilitas Perpustakaan Anak
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jenis layanan terbuka, dengan Sistem yang masih manual dan komputerisasi. Pelayanan ruang baca di perpustakaan SD N Krapyak Wetan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan

pelatihan ini mencakup beberapa hal berikut.. Materi yang disajikan terkait dengan desain interior ruang perpustakaan. sekolah dan budaya baca. Penyajian ini diploting

Berangkat dari isu dimana minat baca masyarakat rendah dan usaha untuk membuat perpustakaan yang merangkap fungsi sebagai ruang publik, serta kriteria desain

Obyek penelitiannya adalah sarana pendukung kegiatan layanan arsip meliputi ketersediaan ruang baca arsip, ruang konsultasi, ruang staf layanan arsip, lemari khusus

Karena mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Museum Geologi adalah pelajar, dan salah satu fungsi museum adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat luas, maka

Bukaan pada dinding bangunan yang berupa jendela kaca dapat dimanfaatkan sebagai sarana pencahayaan alami untuk diteruskan ke dalam ruang dalam (ruang baca) di area

Dispenda Wilayah Kota Bandung Soekarno Hatta dalam memberikan pelayanan yang prima kepada wajib pajak mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:.. Penyelenggara

Hasil penelitian yang diperoleh yaitu berupa 1 analisa dari prinsip umum penataan ruang di area lantai 1, lantai 2, dan lantai 3 yang berpengaruh pada penempatan menurut karakteristik