PERPUSTAKAAN
LEARNING SOCIETY
BANDUNG
Diajukan untuk memenuhi mata kuliah DI. 38309 Tugas Akhir Semester VIII tahun akademik 2013/2014
Oleh :
Mochamad Noor Hidayat
52010005
PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR FAKULTAS DESAIN
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG
PERPUSTAKAAN
LEARNING SOCIETY
BANDUNG
MOCHAMAD NOOR HIDAYAT
52010005
Telah disetujui dan disahkan di Bandung sebagai Tugas Akhir pada tanggal :
22 Agustus 2014
Menyetujui, Pembimbing
Cherry Dharmawan, M.Sn. NIP. 4127.32.04.002
Dekan Fakultas Ketua Program Studi Desain Desain Interior
PERSETUJUAN PUBLIKASI
Bahwa yang bertanda tangan di bawah ini, penulis dan pihak perusahaan tempat penelitian, menyetujui :
“Untuk memberikan kepada Universitas Komputer Indonesia Hak Bebas
Royalty Noneksklusif atas penelitian ini dan bersedia untuk di-online-kan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk kepentingan riset dan
penelitian”
Bandung, 22 Agustus 2014
Penulis, Pembimbing,
Mochamad Noor Hidayat Cherry Dharmawan, M.Sn.
DATA PRIBADI
Nama : Mochamad Noor Hidayat
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat, tanggal lahir : Pandeglang, 11 November 1991 Kewarganegaraan : Indonesia
Status perkawinan : Belum Kawin Tinggi, berat badan : 175 cm, 60kg
Kesehatan : Baik
Agama : Islam
Alamat lengkap : Jl. Toyogiri selatan. No 17. Rt 05. Rw 03.
Kelurahan jatimulya. Kecamatan Tambun selatan. Kabupaten Bekasi
Telepon, HP : 082117085750
1997 – 2004 : SDN Jatimulya 02 Tambun Selatan, Kabupaten
Bekasi
2004 – 2007 : SMP Noer Hidayah, Tambun Selatan,
Kabupaten Bekasi
2007 – 2010 : SMA Mandalahayu Kota Bekasi (Program IPS)
2010 – 2014 : Universitas Komputer Indonesia
(Program Studi Desain Interior)
SEMINAR
Dialog Publik PT. Jasa Raharja
Temu Karya Mahasiswa Desain Interior X
Temu Karya Mahasiswa Desain Interior XI
Cepat dan Mudah Membuat Website Online dalam 30 Menit
Workshop Pembuatan Lampshade di Rempah Rumah Karya
KEMAMPUAN
Kemampuan Teknik Komputer :
Microsoft Word
Microsoft Excel
Microsoft Power Point
AutoCAD
Kemampuan Melukis
Kemampuan Mematung
Bandung, Agustus 2014 Hormat saya,
v LEMBAR PENGESAHAN
PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA TUGAS AKHIR SURAT KETERANGAN PENYERAHAN HAK EKSKLUSIF DATA RIWAYAT HIDUP
ABSTRAK i
ABSTRACK ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR BAGAN xiii
DAFTAR DIAGRAM xiv
DAFTAR PUSTAKA xv
DAFTAR LAMPIRAN xviii
Bab I 1
Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Ide Perancangan 2
1.3 Fokus Permasalahan 3
1.4 Permasalahan Perancangan 4
vi
Learning Society dan Futurisme 6
2.1 Pengertian Learning Society 6
2.2 Pengertian Perpustakaan 7
2.2.1 Jenis Koleksi Perpustakaan 11
2.2.2 Klasifikasi Buku 13
2.2.3 Katalog Perpustakaan 15
2.3 Tinjauan Umum Interior Perpustakaan 17
2.3.1 Layout Perpustakaan 18
2.3.2 Warna Perpustakaan 20
2.3.3 Fisika Bangunan Perpustakaan 20
2.3.4 Pencahayaan Perpustakaan 23
2.3.5 Akustika Pada Ruangan Perpustakaan 24 2.3.6 Studi Antropometri Perpustakaan 25
2.4 Futurisme 27
2.4.1 Konsep Karya Futurisme 28
2.4.2 Image Futurisme 28
2.5 Studi Banding 29
2.5.1 Perpustakaan Pusat Insitut Teknologi Bandung 30 2.5.2 Badan Perpustakaan dan Kearsipan
vii
3.1 Deskripsi Proyek 43
3.2 Struktur Organisasi Perpustakaan 43
3.3 Visi dan Misi Perpustakaan 44
3.4 Analisis Data dan Bangunan 45
3.5 Pengguna Bangunan 46
3.6 Aktivitas Perpustakaan 47
3.7 Aktivitas Pengguna Perpustakaan 48
3.8 Program Aktivitas dan Fasilitas 50
3.9 Alur Sirkulasi 56
3.10 Program Ruang 58
3.11 Zoning dan Blocking 62
3.12 Studi Image 72
Bab IV 73
Konsep Perancangan Perpustakaan Learning Society
Bandung 73
4.1 Tema Perancangan 73
4.2 Penggayaan Perancangan 75
4.3 Konsep Bentuk 75
4.4 Konsep Lay-out 77
4.5 Pola Lantai 77
viii
4.9 Konsep Warna 83
4.10 Teknis Penghawaan 86
4.11 Teknis Pencahayaan 86
ix Gambar 2.1 Layout Perpustakaan Dusseldorf 18
Gambar 2.2 Perpustakaan Besar di USA 18
Gambar 2.3 Perpustakaan di Gutersloh 19
Gambar 2.4 Perpustakaan di Vierheim 19
Gambar 2.5 Luas Untuk Meja Perseorangan 25
Gambar 2.6 Jarak Minimum Antar Meja 25
Gambar 2.7 Rak Katalog 25
Gambar 2.8 Meja Kerja Perseorangan Sistem Carrles 25
Gambar 2.9 Rak Buku Pelajar 26
Gambar 2.10 Rak Buku Dengan 4 Tingkat Untuk Anak-anak 26 Gambar 2.11 Ruang Gerak Minimum Didalam
Jangkauan Ruang Baca 26
Gambar 2.12 Rak Buku Dengan 5 Tingkat/Bagian 26
Gambar 2.13 Rak/Lemari Majalah 27
Gambar 2.14 Image Futuristic 28
Gambar 2.15 Image Futuristic 29
Gambar 2.16 Image Futuristic 29
Gambar 2.17 Suasana Ruang Baca Lantai 3 35
Gambar 2.18 Suasana Ruang Baca Lantai 4 35
x
Gambar 2.24 Area Baca Kelompok Lantai 4 36
Gambar 2.25 Rak Buku di Lantai 2 36
Gambar 2.26 Rak Buku di Lantai 4 36
Gambar 2.27 Tempat Penitipan Barang 37
Gambar 2.28 Area Baca Kelompok Lantai 2 37
Gambar 2.29 Suasana Lobby Lantai 1 42
Gambar 2.30 Suasana Lobby Lantai 4 42
Gambar 2.31 Area Pendaftaran Anggota 42
Gambar 2.32 Ruang Baca Koleksi Anak 42
Gambar 2.33 Ruang Baca Koleksi Dewasa 42
Gambar 2.34 Ruang Baca Koleksi Remaja 42
Gambar 3.1 Peta Lokasi Perpustakaan
xi Gambar 3.13 Library Culture House Futuristic Design 72
Gambar 4.1 Konsep Bentuk Ruang Statis 76
Gambar 4.2 Konsep Bentuk Ruang Dinamis 76
Gambar 4.3 Pola Lantai 78
Gambar 4.4 Pola Lantai 78
Gambar 4.5 Konsep Way Finding System Perpustakaan
Learning Society Bandung 79
Gambar 4.6 Marmer 80
Gambar 4.7 Epoxy 80
Gambar 4.8 Gypsum Board 81
Gambar 4.9 Stainless Hollow 81
Gambar 4.10 Stainless Plate 82
Gambar 4.11 Multiplex 82
Gambar 4.12 Kaca 83
Gambar 4.13 Skema Warna Putih 84
Gambar 4.14 Skema Warna Abu-abu 84
Gambar 4.15 Skema Warna Cokelat 85
Gambar 4.16 Skema Warna Merah Jingga 85
xii Table 2.1 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan 34 Tabel 2.2 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan 41 Table 3.1 Aktivitas Pengguna Perpustakaan 48
Table 3.2 Fasilitas Perpustakaan Anak 50
Table 3.3 Fasilitas Perpustakaan Dewasa dan Remaja 51
Table 3.4 Fasilitas Publik 54
xiii Bagan 2.1 Struktur Organisasi Perpustakaan 32 Bagan 2.2 Struktur Organisasi Perpustakaan 40 Bagan 3.1 Struktur Organisasi Perpustakaan
xiv Diagram 3.1 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan
Perpustakaan Individual 56
Diagram 3.2 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan
Perpustakaan Kelompok 57
Diagram 3.3 Alur Peminjaman Buku 57
Diagram 3.4 Alur Pengembalian Buku 58
xv Basuki, Sulistyo. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Darmaprawira, Sulasmi. (2002). Warna Teori dan Kreativitas
Penggunanya. ITB. Bandung
Darmono. (2001). Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah.
Grasindo. Jakarta.
Gusti, Andira Maqdissa. (2012). Ramayasthana Ganesha
Perpustakaan Insitut Teknologi Bandung Laporan Tugas Akhir Desain
Interior/DI 4099. FSRD ITB. Bandung.
Karlen, Mark dan Benya, James. (2004). Dasar-dasar Desain
Pencahayaan. Erlangga. Jakarta.
Mediastika, Christina Eviutami. (2005). Akustika Bangunan. Penerbit
Erlangga. Jakarta.
Neufert, Ernst. (2002). Data Arsitek Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Nugroho, Imam. (2005). Perpustakaan Pusat ITB Laporan Pengantar
Tugas Akhir. FSRD ITB. Bandung.
Rachmi, Cindy. (2010). Perpustakaan Kampus Riset ITB Bekasi
Laporan Perancangan AR 4099 Studio Perancangan Tugas Akhir. SAPPK ITB. Bandung.
Sachari, Agus dan Sunarya, Yan Yan. (2011). Catatan Kuliah DS-413
Sejarah Seni Rupa & Desain Modern. Penerbit ITB. Bandung.
xvi Suherman. (2009). Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. MQS
Publishing. Bandung.
Yusuf, Pawit M dan Suhendar, Yaya. (2005). Pedoman
Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Kencana Media Group. Jakarta.
Sumber Internet :
http://nanangsupraiatno-mgmppai.blogspot.com/2009/06/learning-society.html : (08 Januari 2014)
Sumber Gambar :
bapusibda.jabarprov.go.id : (08 Mei 2014)
http://www.suckerpunchdaily.com/wp-content/uploads/2012/10/010.jpg
: (13 Mei 2014)
http://www.dreamstime.com/stock-photography-scifi-interior-d-design-futuristic-illumination-image30394702 : (13 Mei 2014)
http://www.cgarchitect.com/2013/02/futuristic-interior : (13 Mei 2014)
http://www.epoxy.com/chips.aspx : (21 Agustus 2014)
http://jualbatu.blog.com/produk-kami/marmer/ : (21 Agustus 2014) http://www.spantriplast.be/multiplex_NL-15622.html : (21 Agustus
xvii http://www.suryalogam.com/ : (21 Agustus 2014)
http://sifohomes.blogspot.com/2013/03/photoshop-tutorial-gadis-kaca.html : (21 Agustus 2014)
iii Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
Pada kesempatan ini, penulis akan mengucapkan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Allah SWT, yang telah memberi izin juga kekuatan untuk penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
2. Bpk. Saprudin dan Ibu. Siti Aisyah, yang telah memberikan dukungan do’a kepada penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
3. Bpk. Cherry Dharmawan. Sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, kritik dan saran yang senantiasa membangun juga mendorong penulis menuju lebih baik.
4. Ibu. Tiara Isfiaty. Sebagai dosen koordinator Tugas Akhir/Skripsi. 5. Dosen dan staff yang ada di Fakultas Desain, terimakasih atas
kerjasamanya.
iv masukan yang sangat berharga baik berupa saran maupun kritik yang membangun sangat diharapkan untuk penyusunan laporan yang akan datang.
Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Bandung, Agustus 2014
1
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan pendidikan akan seiring sejalan dengan dinamika masyarakatnya, karena ciri masyarakat selalu berkembang. Ada kelompok masyarakat yang berkembang sangat cepat, tetapi ada pula lambat. Hal ini karena pengaruh dari perkembangan teknologi, komunikasi dan telekomunikasi. Dalam kondisi seperti ini perubahan-perubahan di masyarakat terjadi pada semua aspek kehidupan. Efek perubahan di masyarakat akan berimbas pada setiap individu warga masyarakat, pengetahuan, kecakapan, sikap, kebiasaan bahkan pola-pola kehidupan.
(Sa’ud, 2013).
Perpustakaan sebagai salah satu sarana pendidikan. Secara umum perpustakaan melayani peminjaman dan pengembalian buku, sumber referensi dan pembelian buku. Dewasa ini perpustakaan menjadi berkembang dengan berbagai macam fasilitas pendukung perpustakaan yang beriringan dengan teknologi informasi dengan tujuan memudahkan masyarakat dalam mengakses kebutuhan akan buku bacaannya.
2 interior perpustakaan mempunyai standar desain khusus dalam mendesain ruang yang digunakan untuk membaca.
Learning Society adalah gerakan mengajak masyarakat untuk belajar dengan fungsi mendidik serta memberdayakan masyarakat dalam bidang pendidikan. Adanya aktivitas pendidikan non-formal yang dilakukan oleh masyarakat melalui interaksi keseharian antara masyarakat yang lainnya. Menggabungkan aktivitas formal dan non-formal dalam suatu kegiatan kelompok belajar untuk mendapatkan hasil positif dari kegiatan tersebut. Menghadirkan kegiatan konseling bagi setiap individu dan kelompok masyarakat untuk mendapatkan ilmu yang berguna bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Memiliki citra perpustakaan dengan tujuan membedakan perpustakaan pada umumnya.
1.2 Ide Perancangan
3 tujuan mampu merefleksikan citra perpustakaan, dan warna-warna yang membuat seseorang menjadi semangat.
Untuk menggambarkan Learning Society ke bentuk visual ruangan dipadukan dengan konsep bentuk yang statis dan dinamis. Menggabungkan desain furniture yang digunakan untuk individual menjadi satu dalam ruangan dengan tujuan belajar secara berkelompok. Dengan elemen visual yang ada pada Perpustakaan Learning Society ini perpustakaan mempunyai citra visual.
1.3 Fokus Permasalahan
Berikut adalah fokus permasalahan perancangan perpustakaan learning society bandung berdasarkan latar belakang, yaitu :
1. Pendidikan akan seiring sejalan dengan dinamika masyarakatnya. Ciri masyarakat selalu berkembang. Ada yang berkembang sangat cepat, tetapi ada pula yang lambat.
Fokus Permasalahan : Merancang perpustakaan untuk mendidik masyarakat.
2. Menggabungkan aktivitas formal dan non-formal dalam suatu kegiatan kelompok belajar untuk mendapatkan hasil positif dari kegiatan tersebut.
Fokus Permasalahan : Merancang perpustakaan yang menggabungkan aktivitas formal dan non-formal
4 Fokus Permasalahan : Merancang citra perpustakaan untuk membedakan perpustakaan pada umumnya.
1.4 Permasalahan Perancangan
Berikut adalah lingkup permasalahan perancangan perpustakaan learning society bandung berdasarkan permasalahan yang dimiliki oleh perpustakaan, yaitu :
1. Bagaimana merancang perpustakaan untuk mendidik masyarakat ? 2. Bagaimana merancang perpustakaan yang menggabungkan aktivitas
formal dan non-formal ?
3. Bagaimana merancang citra perpustakaan untuk membedakan perpustakaan pada umumnya ?
1.5 Maksud dan Tujuan Perancangan
Berikut adalah maksud dan tujuan perancangan perpustakaan learning society bandung berdasarkan permasalahan yang dimiliki oleh perpustakaan, yaitu :
Maksud Perancangan :
1. Terciptanya perpustakaan yang dapat mendidik masyarakat.
2. Terciptanya perpustakaan yang menggabungkan kedua aktivitas yang berbeda yaitu pendidikan formal dan non-formal.
5 Tujuan Perancangan :
1. Adanya fasilitas perpustakaan yang dapat mendidik masyarakat. 2. Adanya fasilitas perpustakaan yang menggabungkan aktivitas
pendidikan formal dan non-formal.
6
Bab II
Tinjauan Umum Perpustakaan Berbasis
Learning Society
dan Tinjauan Penggayaan Interior
Futuristic
2.1 Pengertian Learning Society
Istilah Learning Society berasal dari bahasa Inggris, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan masyarakat belajar. Learning society diperkenalkan oleh Torsten Husen pada tahun 1971, dengan memberikan batasan bahwa Learning Society adalah memberdayakan peran masyarakat dan keluarga dalam bidang pendidikan.
Seiring dengan pengertian tersebut setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu : Pertama, memberdayakan peran masyarakat. Dalam kalimat ini mengandung makna adanya orang ketiga dalam hal memberdayakan peran masyarakat. Adayanya aktivitas masyarakat secara khusus dalam bidang pendidikan, yang biasa dikenal dengan istilah pendidikan non formal. Kedua, Pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga (rumah tangga). Artinya kelangsungan pendidikan juga merupakan bagian dari tanggung jawab di dalam rumah tangga. Ketiga, diluar dari keduanya adalah tanggung jawab pemerintah.
7 anggota masyarakat melalui interaksi keseharian yang selalu bernuansa
amar ma’ruf dan nahi munkar. Setiap anggota masyarakat akan selalu
mendapatkan masukkan postif dari hasil interaksinya itu.
Sumber : (http://nanangsupraiatno-mgmppai.blogspot.com/2009/06/learning-society.html)
2.2 Pengertian Perpustakaan
Kata dasar perpustakaan ialah pustaka. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pustaka artinya kitab, buku. Dalam bahasa Inggris, adalah library. Istilah ini berasal dari kata latin liber atau libri artinya buku. Dari kata latin tersebut, terbentuklah istilah libraries yang artinya tentang buku. Dalam bahasa asing lainnya (belanda) perpustakaan disebut juga sebagai bibliotheek, (Jerman) bibliothek, (Perancis) bibliotheque, (Spanyol) bibliotheca, dan (Portugis) bibliotheca. Semua istilah itu berasal dari kata biblia dari bahasa Yunani artinya tentang buku, kitab.
(Basuki, 1991)
8 Adapun jenis-jenis perpustakaan yang ada dewasa ini adalah sebagai berikut :
1. Perpustakaan Internasional
Perpustakaan internasional adalah perpustakaan yang didirikan oleh dua negara atau lebih atau perpustakaan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional.
(Basuki, 1991)
2. Perpustakaan Nasional
Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan yang berada di pusat pemerintahan yang bertugas mengarahkan dan mengembangkan melalui kebijakan yang tepat sasaran. Perpustakaan nasional disingkat dengan PNRI, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. PNRI ini mempunyai tugas memberikan layanan ISBN, pengarsipan, dan lain-lain.
(Gusti, 2012)
Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan utama dan paling komprehensif yang melayani keperluan informasi dari penduduk suatu negara.
9 3. Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum adalah perpustakaan diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum.
(Basuki, 1991)
Untuk mencapai tujuannya, perpustakaan umum biasanya mengelompokkan objeknya menjadi empat, yaitu :
Pendidikan
Perpustakaan umum bertugas memelihara dan menyediakan sarana untuk pengembangan perorangan/kelompok pada semua tingkat kemampuan pendidikan.
Informasi
Perpustakaan menyediakan kemudahan bagi pemakai berupa akses yang cepat terhadap informasi yang tepat mengenai seluruh julatan pengetahuan manusia.
Kebudayaan
Perpustakaan merupakan pusat kehidupan kebudayaan dan secara aktif mempromosikan partisipasi dan apresiasi semua bentuk seni.
Rekreasi
Perpustakaan memainkan peran penting dalam mendorong penggunaan secara aktif rekreasi dan waktu senggang dengan penyediaan bahan bacaan.
10 4. Perpustakaan Khusus
Perpustakaan khusus merupakan perpustakaan sebuah departemen, lembaga negara, lembaga penelitian, organisasi massa, militer, industri, maupun perusahaan swasta.
(Basuki, 1991)
5. Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan utama membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya.
(Basuki, 1991)
6. Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perpustakaan perguruan tinggi ialah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi. Dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya. Tujuan perguruan tinggi di Indonesia dikenal dengan nama Tri Dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) maka perpustakaan perguruan tinggi pun membantu melaksanakan ketiga dharma perguruan tinggi.
11 7. Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan swasta atau perpustakaan pribadi artinya perpustakaan yang dikelola pihak swasta atau pribadi dengan tujuan melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu tertentu. Karena semuanya dibiayai oleh swasta maka jenis perpustakaan ini hanya melayani keperluan kelompok terbatas pula.
(Basuki, 1991)
2.2.1 Jenis Koleksi Perpustakaan
Koleksi perpustakaan adalah sejumlah bahan atau sumber-sumber informasi, baik berupa buku ataupun bahan bukan buku, yang dikelola untuk kepentingan belajar. Jenis koleksi yang diperlukan suatu perpustakaan bisa dikelompokan ke dalam kategori buku dan bahan bukan buku. Yang pertama meliputi segala jenis buku dan yang terakhir meliputi segala jenis bahan yang tidak termasuk ke dalam kategori buku. Jenisnya sebagai berikut.
(Yusuf dan Suhendar, 2005)
1. Buku-buku Non-Fiksi
Buku yang ditulis berdasarkan fakta atau kenyataan alam dan budaya. Buku-buku ini disusun atas dasar hasil pengamatan dan hasil penelitian mendalam untuk menjaga kebenaran fakta yang ditulis.
12 2. Buku-buku Fiksi
Buku yang ditulis bukan berdasarkan fakta atau kenyataan. Ia ditulis atas dasar kehendak dan hayalan pengarangnya saja. Imajinasi pengarang dan juga termasuk kecenderungan perasaan pada saat menulis sering tertuang dalam wujud tulisan pada buku yang ditulisnya. Buku-buku model fiksi ini biasanya dalam bentuk cerita, baik pendek maupun lengkap. Nama lain untuk buku-buku fiksi ini sering dikaitkan dengan novel, romans.
(Yusuf dan Suhendar, 2005)
3. Koleksi Bahan Bukan Buku
Yang dimaksud dengan bahan bukan buku di sini adalah bahan atau koleksi yang masih dalam bentuk cetakan namun bukan berupa buku. Jenis koleksi yang termasuk ke dalam kategori ini banyak macamnya, antara lain adalah berkala, gambar, globe, map, surat kabar, dan majalah. Karya-karya selipat seperti brosur dan pamflet atau selebaran juga termasuk ke dalam jenis bahan bukan buku.
(Yusuf dan Suhendar, 2005)
4. Koleksi Bahan Pandang Dengar (Audiovisual)
13 nonkonvensional. Contohnya film suara, kaset video, tape recorder, slide suara, dan sebagainya.
Karena pemanfaatannya menggunakan unsur pandang dan unsur dengar, maka kemudian disebut dengan bahan pandang dengar (audiovisual).
(Yusuf dan Suhendar, 2005)
2.2.2 Klasifikasi Buku
Setiap perpustakaan, besar tau kecil perlu penggolongan bahan pustaka dengan menggunakan suatu sistem tertentu. Tujuan dari penggolongan itu ialah untuk mengelompokan bahan pustaka yang sejenis yang membantu memudahkan para pemakai dalam mencari informasi yang diperlukan dengan mudah dan cepat. Pengelompokan bahan pustaka tersebut biasanya berdasarkan pada subjeknya.
Ada beberapa sistem klasifikasi yang biasa digunakan di perpustakaan, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus maupun sekolah. Sistem-sistem tersebut diantaranya adalah Dewey Decimal Classification (DDC), sistem Universal Decimal Classification (UDC), dan sistem Library of Congress (LC). Adapun paling banyak digunakan ialah DDC.
14 panggilan (Call number), biasanya berupa notasi untuk klasnya disertai dengan nomor buku atau beberapa alat lainnya. Nomor panggil memberikan kode identifikasi unik yang dipakai sebagai suatu alamat pada rak dan suatu tanda pengenal (tag) untuk penyimpanan rekaman perpustakaan dalam sirkulasi dan kendali inventaris (Inventory control).
Dalam suatu perpustakaan, katalog subjek merupakan indeks isi koleksi perpustakaan itu. Katalog mendaftarkan kerja, bagian dari karya, skripsi penting, atau karya kesusastraan dalam koleksi oleh topik. Jika tersusun menurut abjad oleh kata-kata, katalog ini disebut katalog subjek alfabetis. Jika disusun dengan notasi suatu sistem klasifikasi perpustakaan, katalog itu disebut katalog klasifikasi. Selain memberikan nomor klas di mana artikel dirakkan, katalog klasifikasi juga memberikan nomor untuk subjek-subjek lain dalam karya tersebut.
(Suherman, 2009)
1. Kerangka Pengertian Dewey Decimal Classification (DDC)
Dalam DDC, klas dasar diorganisasikan oleh disiplin atau bidang studi akademik tradisional. Bagian-bagian dari klasifikasi disusun oleh disiplin, bukan oleh subjek.
15 2. Notasi Dalam Dewey Decimal Classification (DDC)
DDC dibagi menjadi 10 klas utama yang bersama-sama meliputi seluruh dunia ilmu pengetahuan. Klas utama dibagi menjadi 10 divisi dan setiap divisi dibagi 10 seksi. Di bawah ini diberikan 10 klas utama.
Contohnya :
000 Karya-karya Umum
100 Filsafat
200 Agama
300 Ilmu-ilmu Sosial
400 Bahasa
500 Ilmu-ilmu Pengetahuan Murni
600 Ilmu-ilmu Terapan (Teknologi)
700 Kesenian 800 Kesusastraan
900 Geografi, Biologi, Sejarah
(Yusuf dan Suhendar, 2005)
2.2.3 Katalog Perpustakaan
16 Dalam kaitannya dengan perpustakaan, katalog berarti adalah daftar bahan pustaka baik berupa buku maupun non-buku yang dimiliki dan tersimpan pada perpustakaan. Dalam katalog perpustakaan tercantum informasi-informasi penting dari suatu bahan pustaka yang biasanya dipakai oleh pengunjung perpustakaan sebagai bahan informasi, yang menyangkut fisik bahan pustaka, isi, ataupun informasi-informasi lainnya, seperti judul bahan pustaka, nama pengarang, edisi, cetakan, kota terbit, penerbit, tahun terbit, subjek bahasan, ISBN, dan lain-lain.
(Suhendar, 2005)
1. Fungsi dan Tujuan Katalog Perpustakaan
Sebagaimana tersirat dalam pengertian katalog tersebut di atas, pada dasarnya katalog perpustakaan memiliki dua fungsi. Pertama : berfungsi sebagai daftar inventaris bahan pustaka dari suatu atau kelompok perpustakaan. Kedua : berfungsi sebagai sarana temu balik bahan pustaka. Katalog perpustakaan adalah alat atau media untuk mencari dan menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pengunjung perpustakaan secara cepat, tepat, dan akurat.
(Suhendar, 2005)
17 Memberikan kemudahan kepada seseorang untuk menemukan bahan
pustaka yang telah diketahui pengarang, judul atau subjeknya secara cepat, tepat, dan akurat.
Menunjukkan bahan pustaka yang dimiliki suatu perpustakaan oleh
pengarang tertentu berdasarkan subjek tertentu atau subjek-subjek yang berhubungan dan jenis literatur tertentu.
Membantu dalam pemilihan bahan pustaka berdasarkan edisi dan
karakternya (sastra atau berdasarkan topik). (Suhendar, 2005)
2.3 Tinjauan Umum Interior Perpustakaan
18 2.3.1 Layout Perpustakaan
Gambar 2.1 Layout Perpustakaan Dusseldorf
(sumber : Neufert, 2002)
Gambar 2.2 Perpustakaan Besar di USA
19 Gambar 2.3 Perpustakaan di Gutersloh
(sumber : Neufert, 2002)
Gambar 2.4 Perpustakaan di Vierheim
20 2.3.2 Warna Perpustakaan
Warna dapat menimbulkan kesan tertentu, bahkan mempengaruhi mood dan perasaan manusia. Beberapa warna ada yang dapat membangkitkan semangat, ada pula warna-warna yang menenangkan emosi.
Warna yang sesuai dengan keperibadian dan kebutuhan, bisa mendatangkan kenyamanan fisik, mental maupun spiritual. Warna juga bisa menyembuhkan dan menyeimbangkan emosi, yang pada akhirnya akan menciptakan keselarasan dirumah. Berikut beberapa pengaruh warna pada manusia. (suherman, 2009)
Merah Jingga : semangat, tenaga, kekuatan, pesat, hebat, gairah. Abu-abu : tenang.
Putih : senang, harapan, murni, lugu, bersih, spiritual,
pemaaf, cinta, terang. (Darmaprawira, 2002)
2.3.3 Fisika Bangunan Perpustakaan 1. Pengamanan Perpustakaan
Untuk melindungi bahan pustaka dari pencurian, maka perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut :
Pemasangan alarm sistem, terutama untuk menghindari pencurian
pada jam-jam kantor.
21 Perlu dipasang pengumuman bahwa pengunjung perpustakaan
dilarang membawa tas, mantel, payung ke dalam ruang baca. Bila perlu diadakan pemeriksaan pada pengunjung yang keluar dari ruang baca.
Pengecekan pada bahan pustaka yang ada dalam ruang penyimpanan
dan ruang baca untuk mengetahui lebih dini adanya koleksi yang hilang.
(Darmono, 2001)
2. Mencegah Bahaya Kebakaran
Kebakaran dapat memusnahkan bahan pustaka dalam waktu yang singkat, oleh sebab itu kebakaran harus dihindari dengan jalan :
Memasang semoke detectore pada tiap ruangan dalam perpustakaan.
Instalasi listrik harus diperiksa secara awal.
Dilarang keras merokok di dalam perpustakaan.
Alat pemadam api harus dipasang ditempat-tempat yang mudah
dijangkau.
(Darmono, 2001)
3. Mencegah Kerusakan Karena Faktor Kimia Kayu (Rak)
22 Karton sangat disukai oleh rayap dan mengeluarkan asam klorida dan plastik selulosa asetat mengeluarkan asam asetat. Asam-asam tersebut dapat melemahkan struktur kimia kertas.
(Darmono, 2001)
4. Mencegah Kerusakan Karena Pengaruh Cahaya
Memperkecil intensitas cahaya yang digunakan dalam gudang dan
ruang baca. Intensitas cahaya yang diizinkan untuk kertas adalah 50 lux.
Memperpendek waktu pencahayaan.
Menghilangkan radiasi ultra violet yang dapat menimbulkan reaksi foto
kimia pada kertas dari sumber cahaya. Kandungan ultra violet yang diizinkan untuk kertas adalah watt/lumen.
(Darmono, 2001)
5. Mencegah Kerusakan Karena Faktor Kelembaban Udara
23 ruang akan berubah-ubah. Kondisi seperti ini malah akan mempercepat kerusakan kertas.
(Darmono, 2001)
2.3.4 Pencahayaan Perpustakaan
1. Luminair Fluorescent Gantung Cahaya Langsung-Tidak Langsung Sistem pencahayaan lampu fluorescent gantung ini menghasilkan cahaya ke arah bawah dan ke arah atas dengan menggunakan lampu T-5, lampu
T-5HO, atau lampu T8 yang biasanya berukuran panjang 4’ dan
menggunakan ballast elektronik. Jenis pencahayaan ini harus digantung
paling tidak 12” di bawah plafon, dengan ketinggian plafon 9’ atau lebih.
Sistem pencahayaan ini dapat digunakan sebagai pencahayaan umum pada ruang perpustakaan.
(Karlen dan Benya, 2004)
2. Pencahayaan Warna Putih Pada Perpustakaan
Warna putih memiliki karakter positif, merangsang, cemerlang, ringan, dan sederhana. Putih melambangkan kesucian, polos, jujur, dan murni.
(Darmaprawira, 2002)
3. Kekuatan Penerangan Menurut Standar
Ruang baca umum dan kantor : 400 lux
Ruang penjilidan dan pemandu : 600 lux
24 Ruang baca referensi : 600 lux
Toko buku : 100 lux
Ruang perawatan : 600 lux
Katalog : 400 lux
Ruang selain ruang kerja : 100-300 lux
Ruang koleksi, penyimpanan : 150-330 lux
Kantor dan administrasi : 200-500 lux
Ruang baca dan katalog : 300-850 lux
(Rachmi, 2012)
2.3.5 Akustika Pada Ruangan Perpustakaan
Ruang perpustakaan dikenal sebagai ruang yang membutuhkan ketenangan sangat tinggi. Ketika kebisingan dari luar ruangan dapat diatasi dengan baik, sumber kebisingan lain kemungkinan justru muncul dari dalam ruangan perpustakaan sendiri, seperti langkah kaki atau percakapan antar pengunjung. Untuk meredam kebisingan semacam ini, bagian dalam dinding, lantai, dan plafon ruang perpustakaan perlu dilapisi dengan bahan lunak yang mampu menyerap bunyi.
(Mediastika, 2005)
1. Menata layout Bangunan
25 ketenangan, terpisah dari ruang-ruang yang tidak terlalu membutuhkan ketenangan atau ruang-ruang yang justru menghasilkan kebisingan.
(Mediastika, 2005)
2.3.6 Studi Antropometri Perpustakaan
Gambar 2.5 Luas Untuk Meja Perseorangan Gambar 2.6 Jarak Minimum Antar Meja
(Sumber : Neufert, 2002) (Sumber : Neufert, 2002)
Gambar 2.7 Rak Katalog Gambar 2.8 Meja Kerja Perseorangan Sistem carrles
26 Gambar 2.9 Rak Buku Pelajar Gambar 2.10 Rak Buku Dengan 4 Tingkat Untuk Anak-anak
(Sumber : Neufert, 2002) (Sumber : Neufert, 2002)
Gambar 2.11 Ruang Gerak Minimum Gambar 2.12 rak buku dengan 5 Tingkat/Bagian
Didalam Jangkauan (Sumber : Neufert, 2002)
Ruang Baca
27 Gambar 2.13 Rak/Lemari Majalah
(Sumber : Neufert, 2002)
2.4 Futurisme
Gerakan revolusi Futurisme diproklamirkan pada tahun 1909 oleh seorang penulis dan penyair Italia. Filippo Tommaso Marinetti. Futurisme adalah sebuah pergerakan seni murni Italia dan sebuah pergerakan kebudayaan pertama abad ke-20 ini, yang diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas. Bermula dari konsep dalam pergerakan sastra, kemudian merasuk ke dalam bidang kesenian seperti : seni lukis, seni patung, seni musik, desain, dan arsitektur.
28 perilaku yang individualis dari kaum Futuris ini, lambat laun dimanfaatkan untuk menyebarkan faham Fasisme.
(Sachari dan Sunarya, 2011)
2.4.1 Konsep Karya Futurisme
Dasar pemikiran Futurisme menyatakan, bahwa energi alam harus ditampilkan di dalam karya seni sebagai sensasi dinamis yang dapat memecahkan suatu kesatuan realitas. Ia menjadi suatu yang baru dengan melalui penggunaan gerak dan cahaya. Ciri-cirinya adalah keterbatasan dijadikan gaya dinamis. Bentuk elemen dan kolase banyak digunakan dalam cara-cara dinamis guna menciptakan gambar-gambar.
(Sachari dan Sunarya, 2011)
2.4.2 Image Futurisme
Gambar 2.14 Image Futuristic
29 Gambar 2.15 Image Futuristic
(Sumber :
http://www.dreamstime.com/stock-photography-scifi-interior-d-design-futuristic-illumination-image30394702)
Gambar 2.16 Image Futuristic
(Sumber : http://www.cgarchitect.com/2013/02/futuristic-interior)
2.5 Studi Banding
30 teknologi bandung dan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat.
2.5.1 Perpustakaan Pusat Insitut Teknologi Bandung
Perpustakaan ITB merupakan warisan jaman Belanda, bersamaan dengan berdirinya Technische Hoogeschool (TH) di Bandung tahun 1920, pada waktu itu juga lahir perpustakaan TH yang koleksinya kebanyakan bahasa Belanda. Pada tanggal 1 April 1944 pada masa kependudukan Jepang dirubah namanya dengan Bandung Kyogo Daigaku. Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Bandung Daigaku Kyogo
ditutup, tetapi segera dibuka kembali dengan nama “Sekolah Tinggi
Teknik (STT)”. Pada tahun 1946 TH Bandung dibuka kembali oleh
31 Tahun 1967 dibentuk panitia perpustakaan yang beranggotakan tiga orang, masing-masing mewakili bidang rekayasa, ilmu pengetahuan alam dan seni rupa. Tiga panitia adalah untuk membangun kembali perpustakaan pusat dengan jalan menertibkan koleksi, mengatur kembali cara peminjaman buku dan mengembalikan disiplin pegawai. Keadaan yang makin baik itu rupanya menggugah minat pustakawan The British Council di Indonesia menawarkan bantuan. Tawaran itu berupa :
Tenaga ahli dari Inggris.
Tenaga muda pustakawan yang tergabung dalam VSO (Voluntari
Service Organization).
Pengiriman pegawai perpustakaan ke Inggris untuk belajar ilmu
perpustakaan. Sumbangan buku.
Sebuah gedung perpustakaan.
Tawaran tersebut disambut dengan terbuka oleh bapak Dody Tisnaamidjaja sebagai rektor ITB waktu itu. Semua usul The British Council itu diterima oleh pemerintah Inggris.
32 perpustakaan yang permanen yang akan dirancang sesuai fungsi perpustakaan perguruan tinggi. Kini gedung itu telah berdiri, menghadap ke pintu gerbang kampus ITB dan mulai ditempati pada pertengahan tahun 1987, dengan luas 16000 meter persegi. Tahap kedua baru akan dilaksanakan setelah gedung yang sekarang terisi penuh, yang diperkirakan tercapai paling cepat setelah dua puluh lima tahun.
(Nugroho, 2005)
1. Struktur Organisasi Perpustakaan
Bagan 2.1 Struktur Organisasi Perpustakaan
(sumber : Gusti, 2012)
2. Visi dan Misi Perpustakaan Visi Perpustakaan :
Menyediakan layanan informasi bagi Insitut Teknologi Bandung (ITB) dan masyarakat untuk pengembangan pengetahuan (IPTEK dan Humaniora).
Kepala & Wk. Kepala
Digital Majalah
Kliping Database Registrasi
33 Misi Perpustakaan :
Perpustakaan berorientasi kepada penunjang perkembangan masyarakat akademis, untuk melaksanakan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi dengan misi sebagai berikut :
Menunjang keberhasilan misi perguruan tingginya dengan memberikan
layanan sebaik-baiknya yang menstimulasi mahasiswa dan staf pengajar untuk memanfaatkan perpustakaan.
Mengembangkan koleksi ilmu pengetahuan, teknologi, seni serta
ilmu-ilmu kemanusiaan untuk bahan informasi/acuan bagi civitas akademika.
Menyediakan koleksi ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora untuk
bahan belajar dan mengajar civitas akademik ITB, serta penyediaan koleksi lainnya untuk menambah/memperkaya pengetahuan mahasiswa.
Memerangi bentuk kemiskinan informasi/pengetahuan melalui
penyediaan koleksi yang beragam untuk masyarakat umum. Merawat koleksi yang bersifat langka.
Membantu civitas akademika dalam mendapatkan informasi yang tidak
tersedia di perpustakaan dengan jalan menjalin kerjasama dengan perpustakaan di dalam dan luar negeri.
34 3. Jenis Koleksi Buku Perpustakaan
Table 2.1 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan
No Jenis Koleksi Buku
1.
Civic & landscape arts
Architecture
Plastic arts, sculpture
Drawing & decoration arts
Photography
35 4. Dokumentasi
Gambar 2.17 Suasana Ruang Baca Lantai 3 Gambar 2.18 Suasana Ruang Baca Lantai 4
(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)
Gambar 2.19 Area Informasi & Fotocopy Gambar 2.20 Area Pusat Informasi Lantai 4
(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)
Gambar 2.21 Area Pusat Informasi Lantai 3 Gambar 2.22 Suasana Ruang Baca Lantai 2
36
Gambar 2.23 Rak Buku di Lantai 3 Gambar 2.24 Area Baca Kelompok Lantai 4
(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)
Gambar 2.25 Rak Buku di Lantai 2 Gambar 2.26 Rak Buku di Lantai 4
37 Gambar 2.27 Tempat Penitipan Barang Gambar 2.28 Area Baca Kelompok Lantai 2
(Sumber : Dokumen Pribadi) (Sumber : Dokumen Pribadi)
2.5.2 Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat
38 Kebudayaan nomor 079/1975 induk organisasi Perpustakaan Negara menjadi Pusat Pembinaan Perpustakaan.
Empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Mei 1979 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Keputusan nomor 095/1979 tentang penetapan pengalihan nama Perpustakaan Negara menjadi Perpustakaan Wilayah, sementara induk organisasinya masih Pusat Pembinaan Perpustakaan.
Adanya penggabungan pusat Pembinaan Perpustakaan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989 tentang Perpustakaan Nasional RI. Pasal 14(1) nama Perpustakaan Wilayah yang ada di setiap provinsi berubah lagi menjadi Perpustakaan Daerah Jawa Barat dan induk organisasinya adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND).
39 merupakan instansi vertical Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yan berada di Ibu Kota Provinsi dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Kemudian tanggal 12 April 2002, berdasarkan Peraturan Daerah nomor 6 dibentuk Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu Lembaga Teknis Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam bidang perpustakaan.
(Sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)
Pada tahun 2013, Perpustakaan Umum Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan diri sebagai perpustakaan bertaraf internasional (PBI). PBI mengusung konsep baru sebagai kawasan terpadu yaitu sebagai perpustakaan tempat belajar sekaligus tempat bermain untuk anak. Hal ini penting karena kita perlu mengenalkan perpustakaan kepada anak sejak usia dini, sehingga membantu anak untuk menumbuhkan kecerdasannya secara optimal.
Gedung PBI mengangkat tema "New Look, New Performance" yang membuat pembaca lebih nyaman dan mudah untuk belajar. Suasana pun dibuat seunik mungkin agar pembaca merasa betah di perpustakaan tanpa rasa penat.
40 1. Struktur Organisasi Perpustakaan
Bagan 2.2 Struktur Organisasi Perpustakaan
(Sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)
2. Visi dan Misi Perpustakaan Visi Perpustakaan :
Perpustakaan dan Kearsipan sebagai sumber informasi yang handal menuju masyarakat Jawa Barat cerdas.
Misi Perpustakaan :
Meningkatkan pembinaan dan pengembangan Lembaga Perpustakaan
41 Meningkatkan profesionalisme dan kompetisi SDM Pengelolaan
Perpustakaan dan Kearsipan.
Mengembangkan budaya baca masyarakat guna mewujudkan
masyarakat belajar (Learning Society). Mengembangkan budaya sadar arsip.
Mengembangkan, mengelola dan melestarikan bahan Perpustakaan
dan Arsipa sebagai kazanah informasi dan pengetahuan.
Menyeleggarakan layanan Perpustakaan dan Kearsipan berbasis
teknologi informasi dan komunikasi. (Sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)
3. Jenis Koleksi Buku Perpustakaan Table 2.2 Jenis Koleksi Buku Perpustakaan
No Jenis Koleksi Buku
1.
42 4. Dokumentasi
Gambar 2.29 Suasana Lobby Lantai 1 Gambar 2.30 Suasana Lobby Lantai 4
(sumber : bapusibda.jabarprov.go.id) (sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)
Gambar 2.31 Area Pendaftaran Anggota Gambar 2.32 Ruang Baca Koleksi Anak
(sumber : bapusibda.jabarprov.go.id) (sumber : bapusibda.jabarprov.go.id)
Gambar 2.33 Ruang Baca Koleksi Dewasa Gambar 2.34 Ruang Baca Koleksi Remaja
43
Bab III
Perpustakaan
Learning Society
Bandung
3.1 Deskripsi Proyek
Judul Proyek : Perpustakaan Learning Society
Bandung
Jenis Proyek : Proyek Perancangan Fasilitas Rekreasi
& Kegiatan Budaya Status Kepemilikan : Pemerintah Kota Bandung
Sasaran Pengguna : Pelajar, Mahasiswa, Wisatawan Umum
Jam operasional : Senin – Jum’at, pukul 08.00 – 15.00
WIB
Sabtu – Minggu, pukul 08.00 – 12.00 WIB
3.2 Struktur Organisasi Perpustakaan
44 Bagan 3.1 Struktur Organisasi Perpustakaan Learning Society Bandung
(Sumber : Dokumen Pribadi)
3.3 Visi dan Misi Perpustakaan
Berikut adalah visi dan misi Perpustakaan Learning Society Bandung berdasarkan studi banding.
Visi Perpustakaan :
Menyediakan layanan informasi yang handal menuju masyarakat Bandung cerdas.
Misi Perpustakaan :
Mengembangkan budaya baca masyarakat guna mewujudkan
(Learning Society) masyarakat belajar.
45 Mengembangkan, mengelola, dan melestarikan koleksi perpustakaan
sebagai informasi dan pengetahuan.
Menyelenggarakan layanan perpustakaan berbasis teknologi,
informasi, dan komunikasi.
Menyelenggarakan perpustakaan sebagai pusat pendidikan, informasi,
kebudayaan, dan rekreasi.
Membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi yang tidak
tersedia di perpustakaan dengan jalan menjalin kerjasama dengan perpustakaan di dalam dan luar negeri.
Meningkatkan profesionalisme pengelolaan perpustakaan.
3.4 Analisis Data dan Bangunan 1. Lokasi
46 Gambar 3.1 Peta Lokasi Perpustakaan Learning Society Bandung
(Sumber : Google Maps)
3.5 Pengguna Bangunan
Pengguna bangunan Perpustakaan Learning Society Bandung dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Kelompok Pengunjung Perpustakaan
Sebagian besar pengunjung Perpustakaan Learning Society Bandung adalah yang berprofesi sebagai pelajar dan mahasiswa.
2. Kelompok Pengurus Perpustakaan
Kelompok pengurus perpustakaan terbagi menjadi dua, yaitu pengurus di area front office seperti pegawai resepsionis, pegawai informasi, dan pustakawan yang berhubungan langsung dengan pengunjung, dan juga pengurus di area back office yang meliputi pegawai administrasi.
Perpustakaan Learning
47 3.6 Aktivitas Perpustakaan
1. Membaca Buku
Kegiatan ini merupakan kegitan paling penting dalam program aktivitas perpustakaan, ini merupakan fungsi utama dari perpustakaan sebagai sarana pendukung kegiatan pembelajaran bagi masyarakat.
2. Meminjam dan Mengembalikan Buku
Kegiatan ini adalah termasuk kegiatan yang umum terdapat di perpustakaan dimana pengunjung hendak mengembalikan buku atau meminjam buku untuk di bawa pulang dan dikembalikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Seminar
Kegiatan ini merupakan kegiatan perpustakaan dengan fungsi sebagai sarana pendukung kegiatan pembelajaran bagi masyarakat dengan menghadirkan talk show pendidikan dengan mengundang parktisi.
4. Bedah Buku
48 5. Menonton Film Dokumenter
kegiatan ini merupakan kegiatan pendukung perpustakaan dengan fungsi mengajak masyarakat untuk menonton film bersejarah agar masyarakat tahu akan sejarah bangsanya sendiri.
6. Mengerjakan Tugas
Kegiata ini merupakan kegiatan khusus di perpustakaan dengan fungsi membantu pelajar atau mahasiswa yang mendapatkan tugas dari sekolahnya untuk diselesaikan dengan mencari referensi beberapa buku yang ada di perpustakaan.
7. Browshing
Kegiatan ini merupakan kegiatan pendukung perpustakaan dengan fungsi masyarakat bisa mendapatkan referensi tambahan dari internet.
8. Membeli Buku
kegiatan ini adalah termasuk kegiatan yang umum terdapat di perpustakaan dimana pengunjung jika berminat untuk membeli buku di toko buku perpustakaan.
3.7 Aktivitas Pengguna Perpustakaan Table 3.1 Aktivitas Pengguna Perpustakaan
No Jenis Aktivitas Pengguna Aktivitas
49 2. Aktivitas Utama Individual Membaca
Belajar 3. Aktivitas Utama Pengelola 1. Layanan Langsung
Keamanan
50 4. Aktivitas Tambahan Pengunjung Toko Buku
Cafeteria
Ruang Pameran Temporer (Sumber : Dokumen Pribadi)
3.8 Program Aktivitas dan Fasilitas 1. Fasilitas Perpustakaan Anak Table 3.2 Fasilitas Perpustakaan Anak
51
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Luas keseluruhan fasilitas perpustakaan anak dalam satuan (m2) adalah : (177.7276 m2)
2. Fasilitas Perpustakaan Dewasa dan Remaja Table 3.3 Fasilitas Perpustakaan Dewasa dan Remaja
53
(Sumber : Dokumen Pribadi)
54 3. Fasilitas Publik
Table 3.4 Fasilitas Publik
55
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Luas keseluruhan fasilitas perpustakaan dewasa dan remaja dalam satuan (m2) adalah : (261.59 m2)
4. Fasilitas Pengelola Perpustakaan Table 3.5 Fasilitas Pengelola Perpustakaan
No Nama Ruang Aktivitas Fasilitas Sirkulasi Total (m2)
56 Luas keseluruhan fasilitas pengelola perpustakaan dalam satuan (m2) adalah : (94.62.114 m2)
Luas jumlah keseluruhan fasilitas perpustakaan dalam satuan (m2) adalah : (1251.2667 m2)
3.9 Alur Sirkulasi
Berikut adalah alur sirkulasi perpustakaan learning society Bandung didalam menggunakan layanan perpustakaan :
1. Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Individual
Diagram 3.1 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Individual
(Sumber : Dokumen Pribadi) Lobby Menyimpan Buku di Rak
Penyimpanan Meja Baca Mengambil
57 2. Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Kelompok
Diagram 3.2 Alur Sirkulasi Pengguna Layanan Perpustakaan Kelompok
(Sumber : Dokumen Pribadi)
3. Alur Peminjaman Buku
Diagram 3.3 Alur Peminjaman Buku
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Koleksi Remaja Menyimpan Buku di Rak
58 4. Alur Pengembalian Buku
Diagram 3.4 Alur Pengembalian Buku
(Sumber : Dokumen Pribadi)
5. Alur Pengadaan Koleksi
Diagram 3.5 Alur Pengadaan Koleksi
(Sumber : Dokumen Pribadi)
3.10 Program Ruang
Berikut adalah program ruang dan kedekatan antar ruang dalam perpustakaan learning society Bandung, yaitu :
59 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Basement
Table 3.6 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Basement
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Dasar
Table 3.7 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Dasar
60 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2
Table 3.8 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2
Table 3.9 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 2
61 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 3
Table 3.10 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai 3
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Mezanin
Table 3.11 Program Kedekatan Antar Ruang Lantai Mezanin
62 3.11 Zoning dan Blocking
Berikut adalah zoning dan blocking perpustakaan learning society bandung yang dibagi ke dalam beberapa lantai, yaitu lantai basement, lantai dasar, lantai 2, lantai 3 dan lantai mezanin.
Zoning Lantai Basement
Berikut adalah zoning lantai basement yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat dan zona semi privat.
Gambar 3.2 Zoning Lantai Basement
63
Zoning Lantai Dasar
Berikut adalah zoning lantai dasar yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona semi privat dan zona publik.
Gambar 3.3 Zoning Lantai Dasar
64
Zoning Lantai 2
Berikut adalah zoning lantai 2 yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat, zona semi privat dan zona publik.
Gambar 3.4 Zoning Lantai 2
65
Zoning Lantai 3
Berikut adalah zoning lantai 3 yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat dan zona semi privat.
Gambar 3.5 Zoning Lantai 3
66
Zoning Lantai Mezanin
Berikut adalah zoning lantai mezanin yang di bagi ke dalam beberapa penzonaan diantaranya adalah zona privat dan zona semi privat.
Gambar 3.6 Zoning Lantai Mezanin
67
Blocking Lantai Basement
Berikut adalah blocking lantai basement yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah kantor pengelola perpustakaan dan area parkir mobil dan motor.
Gambar 3.7 Blocking Lantai Basement
68
Blocking Lantai Dasar
Berikut adalah blocking lantai dasar yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah lobby, taman perpustakaan, ruang pamer temporer, toko buku, cafeteria, ruang nonton, ruang seminar, ruang penitipan barang, ruang penyimpanan buku sementara dan lobby perpustakaan.
Gambar 3.8 Blocking Lantai Dasar
69
Blocking Lantai 2
Berikut adalah blocking lantai 2 yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah lounge, ruang baca kelompok dewasa & remaja, ruang baca kelompok anak, ruang baca individual dewasa & remaja, ruang baca individual anak, ruang informasi & pelayanan, ruang audiovisual anak, ruang koleksi dewasa & remaja, ruang koleksi anak dan kelas belajar.
Gambar 3.9 Blocking Lantai 2
70
Blocking Lantai 3
Berikut adalah blocking lantai 3 yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah ruang koleksi dewasa & remaja, ruang koleksi referensi, ruang baca kelompok, ruang baca individual, ruang audiovisual dewasa & remaja, ruang informasi & pelayanan dan lounge.
Gambar 3.10 Blocking Lantai 3
71
Blocking Lantai Mezanin
Berikut adalah blocking lantai mezanin yang di bagi ke dalam beberapa fungsi pakai ruang diantaranya adalah lounge, ruang informasi & pelayanan, ruang baca kelompok, ruang baca individual, area koleksi novel dan area koleksi buku langka.
Gambar 3.11 Blocking Lantai Mezanin
72 3.12 Studi Image
Gambar 3.12 Suasana Ruang Dalian Library
(sumber : http://weandthecolor.com/dalian-library-competition-design-proposal-by-10-design/5905 )
Gambar 3.13 Library Culture House Futuristic Design
73
Bab IV
Konsep Perancangan Perpustakaan
Learning Society
Bandung
4.1 Tema Perancangan
Tema perancangan yang diterapkan pada Perpustakaan Learning Society Bandung adalah Learning Society Library dengan tujuan utama sesuai dengan visi perpustakaan, yakni : Menyediakan layanan informasi yang handal menuju masyarakat Bandung cerdas dan misi perpustakaan, yakni : menyediakan fasilitas perpustakaan yang nyaman dan berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi. Perpustakaan menghadirkan bentuk pendidikan formal dan non-formal, kedua aktivitas yang berbeda ini digabungkan ke dalam fasilitas perpustakaan sehingga masyarakat bisa berbagi ilmu kepada masyarakat yang satu dan yang lainnya. Perpustakaan menyediakan buku sebagai sarana untuk berbagi ilmu kepada orang yang menempuh pendidikan formal dan non-formal. Buku sebagai artefak yang ada di perpustakaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam mencari sumber rujukan ilmu dan sebagai acuan dalam kehidupan keseharian. Sasaran pengguna perpustakaan adalah orang-orang yang cerdas, orang-orang-orang-orang yang ingin belajar dan orang-orang-orang-orang yang membutuhkan buku sebagai sumber rujukan dalam mencari ilmu.
74 bacaannya maka ilmu yang diperoleh sekarang akan menentukan kehidupan di masa depannya. Menghadirkan bentuk statis yaitu bentuk yang kaku dari bentuk-bentuk tersebut perpustakaan learning society bandung tetap menerapkan bentuk kotak namun untuk menghindari kekakuan makan bentuk kotak tersebut dimiringkan. Selain bentuk-bentuk statis perpustakaan menghadirkan bentuk dinamis karena perpustakaan mempunyai beberapa fasilitas diantaranya adalah peminjaman dan pengembalian buku dalam tata caranya ada sebuah pergerakan yang dilakukan oleh petugas dan pengunjung perpustakaan.
Konsep utama perpustakaan membuat seseorang merasakan kenyamanan dalam melakukan aktivitas di dalam perpustakaan, diantaranya seseorang bisa fokus dalam membaca karena pencahayaan langsung menuju ke titik meja baca, seseorang bisa berdiskusi dengan rekannya tanpa harus berbisik karena pada umumnya di perpustakaan harus tenang. Di perpustakaan learning society memfasilitasi konsep ruang yang khusus untuk belajar dan berdiskusi.
75 perpustakaan diantaranya adalah abu-abu, merah jingga, putih, cokelat, cream dan kuning.
4.2 Penggayaan Perancangan
Penggayaan perancangan yang diterapkan pada Perpustakaan Learning Society Bandung adalah Futuristic. Penggayaan tersebut merupakan tujuan untuk mengarah ke masa depan, terkait perpustakaan sebagai sarana untuk pendidikan dan selalu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan maka penggayaan futuristic dapat mewakili sebagai penggayaan pada interior perpustakaan. Penggayaan tersebut mewakilkan dari beberapa kegiatan perpustakaan diantaranya adalah belajar, ketika seseorang belajar dan buku sebagai sarananya maka seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk bekal di kemudian hari.
4.3 Konsep Bentuk Statis
76 Gambar 4.1 Konsep Bentuk Ruang Statis
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Dinamis
Konsep bentuk dinamis diterapkan pada lay-out perpustakaan untuk menyelaraskan dengan bentuk statis. sehingga penataan bentuk lay-out mempunyai perpaduan antara bentuk statis dan dinamis.
Gambar 4.2 Konsep Bentuk Ruang Dinamis
77 4.4 Konsep Lay-out
Penataan lay-out antara satu ruangan dengan ruangan yang lainnya saling berdekatan dengan fungsi mempermudah seseorang dalam mengakses. Sebagai contoh ruangan koleksi buku harus berdekatan dengan ruangan membaca dan ruangan katalog harus dekat dengan ruangan koleksi buku.
4.5 Pola Lantai
78 Gambar 4.3 Pola Lantai
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Gambar 4.4 Pola Lantai
(Sumber : Dokumen Pribadi)
4.6 Konsep Ceiling / Lighting Plan
79 fungsi mempermudah seseorang dalam berjalan. Lighting Plan diaplikasikan sesuai dengan fungsi perpustakaan diantaranya adalah membaca. Titik lampu diaplikasikan tepat diatas meja baca dengan fungsi untuk menerangkan meja baca sehingga seseorang akan lebih fokus dalam membaca. Terdapat titik pencahayaan yang memfokuskan suatu objek yang hendak diterangkan oleh cahaya, pencahayaan jenis spot light ini diaplikasikan khusus diarea display.
4.7 Konsep Way Finding System
Konsep way finding system pada perpustakaan learning society bandung adalah dengan mengaplikasikan bentuk yang informatif diantaranya adalah menerapkan warna kuning pada area sirkulasi untuk orang berjalan dan memberikan material jenis marmer pada area yang bersebelahan dengan sirkulasi jalan sehingga berfungsi mengarahkan pengunjung perpustakaan ke tempat yang ingin di tuju.
Gambar 4.5 Konsep Way Finding System Perpustakaan Learning Society Bandung
80 4.8 Konsep Material
Material Marmer
Material marmer diaplikasikan disetiap ruang perpustakaan.
Gambar 4.6 Marmer
(Sumber : http://jualbatu.blog.com/produk-kami/marmer/)
Material Epoxy
Material epoxy diaplikasikan sebagai border untuk menandakan perbedaan antar ruangan.
Gambar 4.7 Epoxy
(Sumber : http://www.epoxy.com/chips.aspx)
Material Gypsum Board
81 Gambar 4.8 Gypsum Board
(Sumber : http://www.cccme.org.cn/shop/hicity/offer-16.aspx)
Material Stainless Hollow
Material stainless hollow diaplikasikan pada perancangan desain furniture. Selain kuat dalam konstruksi stainless hollow mudah dibersihkan dari debu dan kotoran.
Gambar 4.9 Stainless Hollow
(Sumber : http://www.stainlesssteelblog.com/2012/11/stainless-steel-section.html)
Material Stainless Plate
82 Gambar 4.10 Stainless Plate
(Sumber : http://www.suryalogam.com/)
Material Multiplex
Material multiplex diaplikasikan pada perancangan desain furniture.
Gambar 4.11 Multiplex
(Sumber : http://www.spantriplast.be/multiplex_NL-15622.html)
Material kaca
83 Gambar 4.12 Kaca
(Sumber : http://sifohomes.blogspot.com/2013/03/photoshop-tutorial-gadis-kaca.html)
4.9 Konsep Warna
Konsep warna pada perancangan Perpustakaan Learning Society Bandung adalah menggunakan warna-warna netral diaplikasikan pada ruangan yang membutuhkan ketenangan dalam melakukan aktivitas membaca, warna-warna yang merefleksikan pencitraan perpustakaan, dan aksentuasi warna yang membuat pengunjung menjadi semangat dalam berkunjung ke perpustakaan.
Dalam mencapai konsep warna tersebut, maka digunakan warna-warna sebagai berikut :
Putih
84 Gambar 4.13 Skema Warna Putih
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Abu-abu
Warna abu-abu diaplikasikan pada perancangan desain furniture. Warna ini dapat membuat perasaan jadi tenang dan sangat tepat jika diterapkan di perpustakaan.
Gambar 4.14 Skema Warna Abu-abu
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Cokelat
85 Gambar 4.15 Skema Warna Cokelat
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Merah Jingga
Warna merah jingga diterapkan pada perancangan Perpustakaan Learning Society Bandung dengan tujuan sebagai warna yang dapat memberikan perasaan semangat dan tenang.
Gambar 4.16 Skema Warna Merah Jingga
(Sumber : Dokumen Pribadi)
kuning
86 Gambar 4.17 Skema Warna Kuning
(Sumber : Dokumen Pribadi)
4.10 Teknis Penghawaan
Teknis peghawaan pada perpustakaan learning society bandung adalah menggunakan jenis AC central dengan standar suhu yang ideal 20-24 derajat celcius.
4.11 Teknis Pencahayaan
Teknis pencahayaan pada perpustakaan learning society bandung adalah menggunakan downlight sebagai armatur lampu dan lampu jenis halogen. Titik lampu diaplikasikan tepat diatas meja baca dengan fungsi untuk menerangkan meja baca sehingga seseorang akan lebih fokus dalam membaca.
4.12 Teknis Keamanan Sprinkler
87 Cctv
Teknis keamanan cctv adalah untuk mengawasi pengunjung dari tindak pencurian di perpustakaan.
Material