• Tidak ada hasil yang ditemukan

Economic Impact Analysis of Road Infrastructure due to Estate Crops Sector in Lampung Province.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Economic Impact Analysis of Road Infrastructure due to Estate Crops Sector in Lampung Province."

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DAMPAK EKONOMI INFRASTRUKTUR JALAN

TERHADAP SEKTOR PERKEBUNAN DI PROVINSI LAMPUNG

NUNI GUSNAWATY

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Dampak Ekonomi Infrastruktur Jalan terhadap Sektor Perkebunan di Provinsi Lampung adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

NUNI GUSNAWATY. Analisis Dampak Ekonomi Infrastruktur Jalan Terhadap Sektor Perkebunan di Provinsi Lampung. Dibimbing oleh BAYU KRISNAMURTHI dan ANNA FARIYANTI.

Komoditas perkebunan merupakan andalan ekspor Indonesia, namun sebagian besar diekspor dalam bentuk bahan mentah. Hal ini menunjukkan belum maksimalnya proses industrialiasasi produk perkebunan. Infrastruktur jalan memiliki peran penting sebagai sektor promosi untuk industrialisasi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis peranan sektor perkebunan dan sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan dalam perekonomian Provinsi Lampung; (2) menganalisis keterkaitan dan peran investasi sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap sektor perkebunan di Provinsi Lampung; (3) menganalisis peranan jalan dalam peningkatan kinerja agribisnis perkebunan kopi di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan analisis tabel input output, analisis regresi berganda, dan analisis efisiensi menggunakan persamaan matematika. Penelitian dilakukan di Provinsi Lampung.

Hasil analisis input output menunjukkan bahwa sektor kunci bagi perekonomian di Provinsi Lampung adalah sektor kelapa, kopi, serta sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan. Sektor perkebunan yang memerlukan sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan adalah sektor kelapa sawit sedangkan sektor karet berperan sebagai penyedia input. Penambahan panjang jalan berpengaruh positif terhadap produksi kopi di Lampung, sedangkan peningkatan mutu jalan dapat mengurangi biaya angkutan sebesar 22.501%. Pengurangan biaya transportasi dapat mengurangi biaya produksi, sehingga harga kopi dapat menjadi lebih kompetitif. Untuk dapat meningkatkan produksi tanaman perkebunan khususnya kopi di Provinsi Lampung upaya yang dapat dilakukan adalah membuat jalan baru, menggunakan bibit unggul sehingga produktivitas lahan meningkat, dan peremajaan pohon yang sudah tidak produktif.

(5)

SUMMARY

NUNI GUSNAWATY. Economic Impact Analysis of Road Infrastructure due to Estate Crops Sector in Lampung Province. Supervised by BAYU KRISNAMURTHI and ANNA FARIYANTI.

Estate commodities are mainstay product for Indonesia export, but most of it was being export as fresh product. These facts showed that industrialization in estate crops product has not been maximized yet. Road infrastructure has important role as promoting sector for industrialization.

The objective of this research are (1) to analyze the role of estate crops sector and roads, bridges and ports sector in Lampung Province economic development; (2) to analyze connection and role of investment in roads, bridges and ports sector for estate crops sector; and (3) to analyze role of road infrastructure for the improvement of coffee agribusiness performance in Lampung Province. Analysis tool used for this research are input output table analysis, multiple linear regression analysis, and efficiency analysis using mathematic equation. This research were held in Lampung Province.

Input-Output analysis (IO) showed that the roads, bridges and ports sector, coconut sector, and coffee sector, are the key sectors in economic development of Lampung province. Estate crops sector who really need the output of roads, bridges and ports sector is the palm sector, while acting as input provider is rubber sector. Increased length of road has positive effect for coffee production in Lampung Province while improved quality of roads could reduce transportation costs up to 22.501%. Reduction in transport costs can reduce production costs and the price of coffee will be more competitive. In order to increased estate crops production specially coffee in Lampung Province, government should build new roads, encourage the use of high quality seeds, and rejuvenation of unproductive trees.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Agribisnis

ANALISIS DAMPAK EKONOMI INFRASTRUKTUR JALAN

TERHADAP SEKTOR PERKEBUNAN DI PROVINSI LAMPUNG

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2013

(8)

Penguji pada Ujian Tertutup: Dr Ir Drajat Martianto, MS

(9)

Judul Tesis : Analisis Dampak Ekonomi Infrastruktur Jalan Terhadap Sektor Perkebunan di Provinsi Lampung

Nama : Nuni Gusnawaty NIM : H451100291

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Bayu Krisnamurthi, MS Ketua

Dr Ir Anna Fariyanti, MSi Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Agribisnis

Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian: 11 Juli 2013 Tanggal Lulus:

(tanggal penandatanganan tesis oleh Dekan Sekolah

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan November 2012 ini adalah infrastruktur dalam agribisnis, dengan judul Analisis Dampak Ekonomi Infrastruktur Jalan terhadap Sektor Perkebunan di Provinsi Lampung.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Bayu Krisnamurthi, MS serta Ibu Dr Ir Anna Fariyanti, MSi yang telah banyak memberi saran dan bimbingan selama penelitian dan penulisan tesis ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr Ir Arief Daryanto, MEc dan Bapak Dr Ir Suharno, MADev selaku penguji luar komisi dan penguji program studi atas saran yang diberikan sehingga tesis ini menjadi lebih baik. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr Sumaryanto di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bapak Dr Haryono, Bapak Kasdi Subagyono, Bapak Dr Marhendro, Bapak Drs Edi Sugianto serta staf Sekretariat Badan Litbang Pertanian, dan Bapak Arif Maelan Khasani serta staf Badan Pusat Statistik yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, alm ibu, suami dan anak-anak serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xi

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 7

Manfaat Penelitian 8

Ruang Lingkup Penelitian 8

2 TINJAUAN PUSTAKA 9

Kondisi Infrastruktur Jalan di Indonesia 9

Peranan Pembangunan Infrastruktur Terhadap Perekonomian dan Upaya untuk Meningkatkan Investasi di Bidang Infrastruktur 13 Keterkaitan antar Sektor dan Peranannya dalam Pembangunan

Perekonomian Daerah 15

Peningkatan Kinerja Agribisnis 17

3 KERANGKA PEMIKIRAN 19

Kerangka Pemikiran Teoritis 19

Model Input-Output 19

Pemutakhiran Tabel Input-Output dengan Metode RAS 23

Teori Produksi 24

Analisis Efisiensi Biaya 25

Konsep Daya Saing 25

Kerangka Pemikiran Operasional 26

4 METODE 29 Lokasi dan Waktu Penelitian 29 Jenis dan Sumber Data 29 Metode Analisis 29 Analisis Keterkaitan antar Sektor Ekonomi 31

Analisis Dampak Berganda 33

Analisis Pengaruh Infrastruktur Jalan terhadap Kinerja Agribisnis Perkebunan Kopi 34

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 38 Kondisi Perekonomian Provinsi Lampung 38 Keterkaitan dan Peranan Sektor Perkebunan dan Sektor Infrastruktur Jalan dalam Perekonomian Provinsi Lampung 39 Keterkaitan ke Belakang 40

Keterkaitan ke Depan 44

Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan 48

(12)

Dampak Investasi Infrastruktur Jalan Terhadap Sektor Perkebunan

di Provinsi Lampung 51

Peranan Jalan dalam Peningkatan Kinerja Agribisnis Perkebunan Kopi

di Provinsi Lampung 54

Peranan Jalan dalam Peningkatan Produksi Kopi 55 Peranan Jalan dalam Efisiensi Biaya Angkutan 58 Peranan Jalan dalam Peningkatan Daya Saing Komoditas Kopi

Lampung 60

6 SIMPULAN DAN SARAN 63

Simpulan 63

Saran 64

DAFTAR PUSTAKA 65

LAMPIRAN 68

(13)

DAFTAR TABEL

1 Luas areal dan produksi tanaman perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta di Provinsi Lampung 2011 4 2 Nilai ekspor per komoditi yang tercatat pada dinas perindustrian dan

perdagangan Povinsi Lampung Tahun 2007-2011 (000 US $) 5

3 Volume ekspor per komoditi Provinsi Lampung Tahun 2002-2011 (ton) 5 4 Panjang jalan dirinci menurut tingkat kewenangan 1987 - 2010 (Km) 11

5 Ilustrasi tabel IO untuk tiga sektor 21

6 Struktur tabel input-output Provinsi Lampung klasifikasi 70 sektor 30 7 Rumus perhitungan multiplier effect menurut tipe dampak 34 8 Keterkaitan langsung ke belakang sektor perkebunan dan sektor

infrastruktur Provinsi Lampung tahun 2011 42

9 Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang sektor perkebunan dan sektor infrastruktur di Provinsi Lampung tahun 2011 43 10 Keterkaitan langsung ke depan sektor tanaman perkebunan dan sektor

infrastruktur Provinsi Lampung tahun 2011 45

11 Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor tanaman perkebunan dan sektor infrastruktur Provinsi Lampung tahun 2011 46 12 Nilai keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan sektor jalan,

jembatan, dan pelabuhan dengan sektor perkebunan Provinsi Lampung

tahun 2011 47

13 Indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan sektor perkebunan dan sektor infrastruktur Provinsi Lampung tahun 2011 49 14 Angka pengganda output sektor perkebunan dan sektor infrastruktur

Provinsi Lampung 2011 50

15 Angka pengganda pendapatan sektor perkebunan dan sektor

infrastruktur Provinsi Lampung 2011 50

16 Angka pengganda tenaga kerja sektor perkebunan dan sektor

infrastruktur Provinsi Lampung 2011 51

17 Multiplier efect investasi pemerintah di sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap output sektor perkebunan dan sektor infrastruktur

Provinsi Lampung tahun 2011 52

18 Multiplier effect investasi pemerintah di sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap pendapatan dari sektor perkebunan dan sektor

infrastruktur Provinsi Lampung tahun 2011 53

19 Multiplier effect investasi pemerintah di sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap tenaga kerja dari sektor perkebunan dan sektor

infrastruktur Provinsi Lampung tahun 2011 53

20 Dampak investasi sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan (juta rupiah) 54 21 Produksi dan luas lahan tanaman kopi di Provinsi Lampung periode

2002 sampai dengan 2011 55

22 Luas lahan kopi dan panjang jalan di Provinsi Lampung tahun 2002

sampai dengan 2011 56

(14)

DAFTAR GAMBAR

1 Kenaikan panjang jalan di Indonesia 3

2 Nilai ekspor komoditas perkebunan Provinsi Lampung 2007-2011 6 3 Grafik volume ekspor per komoditi Provinsi Lampung 2007-2011

(Ton) 6

4 Panjang jalan di Indonesia 1987-2010 10

5 Alur keterkaitan antarsektor dalam perekonomian 22

6 Kerangka pemikiran operasional penelitian 28

DAFTAR LAMPIRAN

1 Klasifikasi sektor tabel IO Lampung tahun 2000 68 2 Klasifikasi sektor tabel IO Lampung tahun 2011 69 3 Keterkaitan langsung ke belakang sektor perkebunan dan infrastruktur 71 4 Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang sektor

perkebunan dan infrastruktur 73

5 Keterkaitan langsung ke depan sektor perkebunan dan infrastruktur 75 6 Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor perkebunan

dan infrastruktur 77

7 Multiplier effect output simulasi investasi sektor jalan, jembatan, dan

pelabuhan 79

8 Multiplier effect pendapatan simulasi investasi sektor jalan, jembatan,

dan pelabuhan 82

9 Multiplier effect tenaga kerja simulasi investasi sektor jalan, jembatan,

dan pelabuhan 84

(15)

RIWAYAT HIDUP

(16)

Latar Belakang

Pengembangan komoditas pertanian tidak terlepas dari peran berbagai subsistem yang terlibat dalam sistem agribisnis, baik subsistem hulu (upstream agribusiness), subsistem usahatani (on farm agribusiness), subsistem hilir (downstream agribusiness) dan subsistem layanan pendukung (supporting subsystem). Namun demikian, subsistem layanan pendukung sering diabaikan dalam upaya pengembangan komoditas pertanian. Hal ini terjadi karena pembangunan subsistem layanan pendukung seringkali bukan merupakan bagian dari pembangunan pertanian walaupun memiliki peranan yang sangat penting untuk mendukung pembangunan pertanian itu sendiri karena memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam mendukung subsistem lainnya sehingga pengembangan agribisnis dapat berjalan dengan baik.

Infrastruktur merupakan salah satu sub sistem pendukung yang penting dalam pengembangan agribisnis dan meningkatkan perekonomian Indonesia yang merupakan salah satu negara yang berbasis pertanian. Bappenas (2010) menyebutkan bahwa penyediaan infrastruktur sangat berperan dalam mendukung perkembangan pertanian, antara lain berkontribusi dalam: (i) pengembangan kapasitas sumberdaya lahan dan air untuk usahatani; (ii) mengurangi risiko usahatani; (iii) memperlancar pengadaan masukan dan penyaluran keluaran usahatani; (iv) pengadaan modal usahatani; dan (v) meningkatkan akses terhadap sumber-sumber inovasi teknologi. Dengan demikian, kondisi infrastruktur yang tidak memadai akan berdampak langsung pada peningkatan biaya, penurunan produktivitas atau kombinasi keduanya dalam jangka pendek. Sedangkan dalam jangka panjang menyebabkan terjadinya kontraksi manfaat tak langsung dari kaitan ke depan (forward linkage) dan ke belakang (backward linkage), turunnya kinerja faktor‐faktor produksi dan lambatnya pertumbuhan kesempatan kerja dan usaha, sehingga pada akhirnya menyebabkan lambatnya pertumbuhan ekonomi di wilayah yang bersangkutan (Bappenas 2010). Dengan demikian, tersedianya infrastruktur yang memadai terutama yang mendukung usaha pertanian merupakan upaya yang perlu dilakukan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat Indonesia, dimana pada Agustus 2011 jumlah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas yang bekerja di bidang pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan sebanyak 35,86 persen (BPS 2011).

(17)

Terkait dengan pengembangan sektor pertanian, Napitupulu et al. (2011) menyebutkan bahwa pembangunan dan investasi sektor jalan dan jembatan dapat mempercepat perubahan wilayah berbasis pertanian menuju industralisasi. Hal ini terjadi karena jalan merupakan bagian dari infrastruktur yang berperan dalam tahap awal pembangunan ekonomi dan lebih berperan sebagai “the promoting sector” yang mendahului perkembangan sektor lainnya seperti industri.

Proses industrialiasi sektor pertanian merupakan isu penting yang masih menjadi titik lemah pembangunan sektor pertanian, terutama sektor perkebunan. Komoditas-komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi yang merupakan andalan ekspor dari sektor pertanian masih diekspor dalam bentuk primer, yang menunjukkan proses industrialiasi belum berjalan dengan baik. Dengan demikian, investasi infrastruktur terutama jalan diharapkan mampu mendorong proses industrialisasi tersebut sehingga tercipta nilai tambah dan daya saing komoditas dari sektor perkebunan.

Walaupun proses industrialisasi masih berjalan lambat, komoditas perkebunan masih memegang peranan penting karena selain sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, komoditas perkebunan juga merupakan komoditas andalan ekspor Indonesia karena dari waktu ke waktu neraca perdagangan komoditas perkebunan hampir selalu mengalami surplus. Selama periode Juli- Agustus 2011, terjadi kenaikan surplus neraca perdagangan, baik dari sisi volume dan nilai masing-masing sebesar 87.86 persen, dan 65.61 persen. Selama periode bulan Agustus 2011, surplus neraca perdagangan yang terbesar adalah komoditas minyak sawit mencapai US$ 2.32 milyar, disusul oleh komoditas karet sebesar US$ 913,39 juta. Sementara, komoditas yang mengalami defisit neraca perdagangan dan terbesar adalah pada komoditas tebu yang mencapai US$ 117.63 juta (Pusdatin Kementan 2011).

Krisis ekonomi yang melanda sebagian negara tujuan ekspor komoditas perkebunan Indonesia, dan semakin ketatnya persaingan di perdagangan internasional sehingga menuntut Indonesia dapat meningkatkan daya saing komoditas perkebunan di dunia internasional antara lain dengan harga yang lebih kompetitif, mutu yang lebih baik, dan meningkatkan dari ekspor yang berupa bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi.Salah satu kendala untuk memperoleh harga pasar yang lebih kompetitif untuk berbagai komoditas di Indonesia adalah masalah transportasi. Menurut Parikesit (2009) infrastruktur jalan bertanggung jawab 5-25% pada harga akhir sebuah komoditi di pasar. Sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai membuat biaya produksi menjadi tinggi sehingga harga produk Indonesia kurang kompetitif.

(18)

yang stabil, institusi hukum yang transparan, efektif dan mampu menjamin keamanan investasi, mengurangi tingkat risiko investasi infrastruktur.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model input-output (I-O) untuk mengetahui peranan sub sektor perkebunan dan infrastruktur terutama jalan dalam peningkatan perekonomian Provinsi Lampung pada umumnya, dan menilai peran infrastruktur jalan dalam peningkatan kinerja agribisnis sektor perkebunan dengan melihat pada salah satu komoditas perkebunan yaitu kopi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk meningkatkan investasi di bidang infrastruktur atau menbuat kebijakan yang dapat meningkatkan peran swasta dalam investasi infrastruktur.

Sifat infrastruktur sebagai barang publik menyebabkan pengadaan infrastruktur dianggap sebagai kewajiban pemerintah, sementara karena keterbatasan anggaran maka dana yang dialokasikan untuk infrastruktur kurang memadai. Keterbatasan anggaran ini dapat diatasi dengan adanya investasi swasta di bidang infrastruktur, namun pihak swasta pada umumnya tidak mau berinvestasi di bidang infrastruktur yang menurut Banarjee et al. (2006) dan Wibowo (2006) penyebabnya adalah karena kurangnya kestabilan makroekonomi, institusi dan penegakkan hukum yang buruk, serta tingkat risiko investasi yang tinggi dengan pengembalian yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Trend kenaikan panjang jalan di Indonesia periode tahun 1988 sampai dengan tahun 2010 pada Gambar 1 menunjukkan nilai yang minimum pada tahun 1998-1999 karena pada tahun tersebut Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Tahun 1999 sampai dengan 2010 terjadi peningkatan pembangunan infrastruktur jalan namun kembali menurun pada tahun 2010.

Gambar 1 Kenaikan panjang jalan di Indonesia Sumber: BPS (2012).

Peran swasta dalam investasi infrastruktur dapat ditingkatkan apabila pemerintah mampu menginformasikan atau memperlihatkan bahwa risiko investasi infrastruktur dapat diminimalkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan sektor-sektor apa yang dapat dikembangkan oleh swasta sebagai timbal balik investasi tersebut. Penelitian ini mengambil komoditas perkebunan sebagai sektor yang akan digunakan sebagai timbal balik investasi karenamerupakan komoditas andalan ekspor Indonesia. Neraca perdagangan sektor perkebunan hampir selalu mengalami surplus. Tahun 2011 surplus neraca perdagangan sektor perkebunan tertinggi dimiliki oleh komoditas

-10

(19)

minyak kelapa sawit mencapai US$ 19.723 miliar, disusul oleh karet sebesar US$ 10.679 miliar (Kementan Pusdatin 2012). Sementara, komoditas yang mengalami defisit neraca perdagangan terbesar adalah tebu yang mencapai US$ 1.791 miliar. Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor perkebunan. Provinsi Lampung bersama dengan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan merupakan penghasil kopi robusta terbesar di Pulau Sumatera yang merupakan daerah penghasil kopi utama di Indonesia.

Rumusan Masalah

Provinsi Lampung menempati posisi yang sangat strategis karena merupakan provinsi penghubung Pulau Sumatera dan Jawa yang merupakan basis kekuatan ekonomi Indonesia. Provinsi ini masih mengandalkan sektor pertanian sebagai leading sector perekonomian daerah. Pada tahun 2010, sektor pertanian secara umum masih merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung dengan kontribusi sebesar 36.98 persen, diikuti sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 16 persen (BPS Prov. Lampung 2012). Pada sektor pertanian, Provinsi Lampung sejak lama dikenal sebagai produsen utama komoditas utama perkebunan seperti lada, kopi, kakao, karet, tebu dan kelapa sawit.

Lahan komoditas utama perkebunan di Provinsi Lampung dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai pada Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi terbanyak untuk sektor perkebunan ditempati oleh tanaman tebu, tetapi tebu tidak memiliki lahan yang belum menghasilkan. Apabila luas lahan yang ada mulai tidak produktif, maka produksi tebu di Provinsi Lampung akan sangat menurun. Sedangkan komoditas perkebunan lain yang masih memiliki potensi untuk peningkatan produksi antara lain karet dan kelapa sawit.

Tabel 1 Luas areal dan produksi tanaman perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta di Provinsi Lampung tahun 2011

Jenis Tanaman

Komposisi Luas Areal (Ha)

Produksi (ton) Belum

Menghasilkan Menghasilkan

Tidak

Menghasilkan Jumlah

Kopi Robusta 9.217 143.904 8.121 161.242 142,986

Kopi Arabika - 28 17 45 10

Lada 8.220 47.503 8.179 63.902 21,905 Karet 48.279 69.442 2.116 119,837 72,240

Tebu - 113.847 - 113.847 548,513 Kakao 19.441 29.451 1.051 49.943 25,541

Kelapa Sawit 36.776 121.873 1.143 159.792 370,606

Sumber: BPS Provinsi Lampung (2012).

(20)

sektor perkebunan tersebut mengindikasikan bahwa sektor perkebunan memiliki peranan yang sangat penting bagi perekenomian masyarakat Provinsi Lampung.

Nilai ekspor komoditas perkebunan di Provinsi Lampung tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan dengan nilai ekspor tertinggi di Provinsi Lampung, dari tahun 2007 – 2011 nilai ekspor untuk komoditas kelapa sawit maupun komoditas perkebunan lainnya menunjukkan nilai yang cenderung meningkat. Nilai ekpor komoditas perkebunan unggulan Provinsi Lampung lainnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Nilai ekspor per komoditi Provinsi Lampung tahun 2007-2011 (000 US $)

Jenis Komoditi 2007 2008 2009 2010 2011

Volume ekspor hasil komoditas perkebunan Provinsi Lampung tertinggi seperti terlihat pada Tabel 3 sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 adalah hasil olahan dari kelapa sawit berupa minyak kelapa sawit sebesar 788,319 ton pada tahun 2011, diikuti oleh gula tetes (olahan dari tebu) sebesar 257,958 ton, dan kopi sebesar 227,127 ton. Namun volume ekspor ketiga komoditas tersebut pada tahun-tahun terakhir mengalami kecenderungan yang menurun.

Tabel 3 Volume ekspor per komoditi Provinsi Lampung tahun 2002-2011 (ton)

Jenis Komoditi 2007 2008 2009 2010 2011

(21)

Gambar 2 Nilai ekspor komoditas perkebunan Provinsi Lampung tahun 2007-2011

Sumber: diolah dari BPS Prov.Lampung (2012).

Gambar 3 menunjukkan tahun 2009 sampai tahun 2010 terjadi pengurangan volume ekspor kelapa sawit, yang disebabkan oleh adanya fenomena el-nino sehingga produksi kelapa sawit berkurang, dan meskipun dampak fenomena iklim sudah berlalu namun ditahun berikutnya ekspor tidak meningkat karena masalah infrastruktur yang tidak mengalami kemajuan berarti, adanya penetapan tarif ekspor untuk CPO dan produk sawit, dan berbagai bentuk non tariff barrier terhadap produk kelapa sawit Indonesia baik oleh organisasi non profit maupun grup konsumen Eropa dan konsorsium negara maju melalui PBB, serta belum jelasnya aturan tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi terutama di provinsi-provinsi penghasil kelapa sawit sehingga tidak ada kepastian hukum untuk pembukaan lahan sawit yang baru (Supriyono dan Yusuf 2012).

Keseluruhan nilai ekspor komoditas perkebunan mengalami trend yang meningkat, namun volume ekspor untuk semua komoditas perkebunan mengalami penurunan terutama untuk kelapa sawit. Pengembangan komoditas perkebunan andalan tidak terlepas dari ketersediaan infastruktur seperti jalan. Infrastruktur jalan memiliki peranan yang sangat penting terkait dengan aksessibilitas dan mobilitas, baik barang, orang maupun jasa yang terkait dengan komoditas tersebut. Dengan demikian, ketersediaan infrastruktur jalan baik secara kuantitas, kualitas maupun penyebarannya di Provinsi Lampung akan memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap pengembangan komoditas perkebunan.

Gambar 3 Grafik volume ekspor per komoditi Provinsi Lampung tahun 2007-2011(Ton)

Sumber: diolah dari BPS Prov. Lampung (2012).

Pada tahun 2011, panjang jalan di Provinsi Lampung mencapai 18,520 km, yang terdiri dari jalan nasional sepanjang 682 km, jalan provinsi sepanjang

0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000

2007 2008 2009 2010 2011

Ekspor Komoditi Perkebunan Prov. Lampung (US $) Trendline Ekspor Komoditi Perkebunan Prov. Lampung

0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000

2007 2008 2009 2010 2011

Karet Kopi Lada

(22)

1,825 km, jalan kabupaten sepanjang 16,013 km dan jalan kota sepanjang 445.44 km (BPS Prov. Lampung 2012). Jika dirinci menurut kondisi jalan, sekitar 40.97 persen panjang jalan di Provinsi Lampung dalam keadaan baik, 21.16 persen dalam kondisi sedang, 23.12 persen dalam kondisi rusak dan 14.75 persen dalam kondisi kritis. Untuk memperbaiki kerusakan jalan provinsi, pemerintah Provinsi Lampung menganggarkan dana sebesar Rp. 481 miliar, namun jumlah tersebut hanya mampu memperbaiki sekitar 14.34 persen dari total jalan yang rusak dimana kebutuhan idealnya mencapai Rp. 3,105.39 miliar (Bappeda Prov. Lampung 2012)

Besarnya anggaran yang diperlukan untuk investasi maupun pemeliharaan jalan mendorong pemerintah pusat maupun daerah harus menetapkan skala prioritas untuk membangun ataupun memperbaiki jalan. Hal tersebut tentu akan berdampak pada seluruh sektor perekonomian yang terkait, termasuk sektor perkebunan. Untuk itu, perlu dilihat keterkaitan antara pembangunan infrastruktur jalan dengan kinerja sektor perkebunan. Dengan demikian, permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana peranan sektor infrastruktur jalan, jembatan, dan pelabuhan dan sektor perkebunan terhadap perekonomian di Provinsi Lampung?

2. Bagaimana dampak ekonomi investasi infrastruktur jalan, jembatan, dan pelabuhan dalam pengembangan sektor perkebunan terutama dalam hal output, tenaga kerja, dan pendapatan?

3. Bagaimana peran investasi infrastruktur jalan terhadap peningkatan kinerja agribisnis sektor perkebunan khususnya kopi di Provinsi Lampung?

Analisis keterkaitan antar sektor digunakan untuk mengetahui peran sektor perkebunan dan sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap perekonomian Provinsi Lampung secara keseluruhan. Sedangkan untuk mengetahui dampak ekonomi investasi infrastruktur di sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap perekonomian Provinsi Lampung pada umumnya dan sektor perkebunan khususnya dilihat dari sisi output, pendapatan, dan tenaga kerja dilakukan simulasi investasi dengan nilai yang tercantum dalam RPJMD Provinsi Lampung 2010-2014 untuk tahun 2013.

Peran infrastruktur jalan terhadap kinerja agribisnis perkebunan kopi dilihat dari tiga hal yaitu dari sisi produksi, efisiensi biaya angkutan, dan daya saing kopi Lampung. Dari sisi produksi selain dilihat pengaruh panjang jalan terhadap produksi kopi di Lampung, dilihat juga pengaruh input-input produksi lainnya seperti produktivitas, penggunaan pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan jumlah pohon yang produktif. Peran infrastruktur jalan terhadap efisiensi biaya angkutan diproxy dari data komposisi jalan sepanjang rute dari sentra perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Barat ke lokasi pengolahan kopi di Bandar Lampung dengan biaya yang diperlukan dalam kondisi eksisting sehingga diperoleh berapa efisiensi yang diperoleh jika mutu jalan sepanjang rute dinaikkan. Peran jalan terhadap peningkatan daya saing akan diperoleh dari hasil analisis secara deskriptif dari berbagai sumber dan hasil analisis kuantitatif sebelumnya.

Tujuan Penelitian

(23)

1. Menganalisis keterkaitan dan peranan sektor infrastruktur jalan, jembatan, dan pelabuhan serta sektor perkebunan dalam perekonomian Provinsi Lampung menggunakan metode input-output (IO).

2. Menganalisis multiplier effect investasi infrastruktur jalan, jembatan, dan pelabuhan terhadap sektor perkebunan di Provinsi Lampung menggunakan metode input-output (IO).

3. Menganalisis peranan jalan dalam peningkatan kinerja agribisnis perkebunan kopi di Provinsi Lampung dilihat dari sisi produksi, efisiensi biaya, dan peningkatan daya saing.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengambil kebijakan untuk merumuskan kebijakan yang tepat dalam investasi jalan sehingga dapat mendorong perkembangan sektor perkebunan yang menjadi andalan di Provinsi Lampung. Serta secara akademis dapat menjadi bahan rujukan bagi peneliti yang menaruh minat untuk memperdalam studi tentang investasi infrastruktur maupun pengembangan ekonomi regional berbasis pertanian.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian untuk mengetahui bagaimana peran infrastruktur jalan raya terhadap sektor perkebunan di Provinsi Lampung ini tidak meneliti peran jalan terhadap keseluruhan sektor komoditas perkebunan di Lampung, tetapi hanya melihat perannya terhadap beberapa komoditas unggulan perkebunan saja yaitu kelapa sawit, kopi, karet, tebu, lada, kakao, kelapa, cengkeh. Sedangkan untuk mengetahui nilai peran jalan dalam peningkatan kinerja agribisnis akan diambil salah satu komoditas saja yaitu kopi. Dalam analisisis menggunankan metode I-O sektor infrastruktur menurut Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) dapat dipisahkan menjadi sektor bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal, sektor prasarana pertanian, sektor jalan, jembatan, dan pelabuhan, sektor bangunan instalasi listrik, gas, air bersih, dan komunikasi serta sektor bangunan lainnya, sehingga kajian menggunakan metode ini tidak dapat melihat hanya sektor jalan saja.

(24)

2 TINJAUAN PUSTAKA

Infrastruktur dalam agribisnis termasuk dalam subsistem kelembagaan dan penunjang kegiatan pertanian. Karena sifatnya sebagai barang publik menyebabkan pengadaan infrastruktur dianggap sebagai kewajiban pemerintah, sementara karena keterbatasan anggaran maka dana yang dialokasikan untuk infrastruktur kurang memadai.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model input-output (I-O) untuk mengetahui berapa besar peranan investasi infrastruktur terutama jalan dalam peningkatan perekonomian Provinsi Lampung pada umumnya, dan dampaknya terhadap subsektor perkebunan pada khususnya. Serta menilai peran jalan dalam peningkatan kinerja sektor perkebunan dengan menganbil salah satu kasus saja yaitu untuk komoditas kopi.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk meningkatkan investasi di bidang infrastruktur atau menbuat kebijakan yang dapat meningkatkan peran swasta dalam investasi infrastruktur.

Kondisi Infrastruktur Jalan di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi nasional di akhir tahun 2011 mencapai 6,5%. Namun, pertumbuhan ekonomi ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur. Kondisi infrastruktur di Indonesia mengalami masa kritis karena kondisi infrastruktur tidak mampu menampung kebutuhan masyarakat. Terbatasnya investasi pada pemeliharaan dan infrastruktur terlihat dari rendahnya peringkat kualitas infrastruktur Indonesia pada indeks kualitas infrastruktur yang pernah dipublikasikan pada World Economic Forum Competitiveness Report tahun 2010-2011. Indeks ini menunjukkan Indonesia berada di posisi ke-4 terendah. Pengukuran infrastruktur Indeks Daya Saing Dunia ini disusun berdasarkan tanggapan survei eksekutif akan kualitas jalan, rel kereta api, pelabuhan, transportasi udara, pasokan listrik,data tentang kabel telepon tetap dan pelanggan telepon selular serta daftar kilometer kursi pesawat udara (Purwanti dan Djumena 2011).

Salah satu infrastruktur yang perlu ditingkatkan adalah infrastruktur transportasi karena infrastruktur transportasi berfungsi sebagai katalisator dalam mendukung pertumbuhan wilayah, pertumbuhan ekonomi, dan sebagai alat persatuan dan kesatuan. Berkaitan dengan peran yang diberikan oleh sub sektor transportasi di dalam mendukung pembangunan perekonomian di Indonesia, data statistik menunjukkan bahwa sub sektor ini memberikan kontribusi antara 3-4 persen terhadap PDB dari tahun 2000 – 2004 (Bappenas 2005).

(25)

Tabel 4 Panjang jalan dirinci menurut tingkat kewenangan tahun 1987 – 2010 (Km)

Tahun Negara Provinsi Kab/Kota Jumlah

Kenaikan

sejak 1999 tidak termasuk Timor-Timur Sumber: BPS (2012).

Panjang jalan di Indonesia terus meningkat tetapi persentase kenaikkan panjang jalan setiap tahun semakin menunun. Puncak penurunan terjadi pada tahun 1999 karena adanya krisis moneter di Indonesia disertai dengan pelepasan Provinsi Timor-Timur. Grafik panjang jalan di Indonesia tahun 1988-2010 dapat dilihat pada Gambar 4.

(26)

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 34 Tahun 2006 tentang jalan, jaringan jalan berdasarkan fungsi dan perannya dapat dibedakan menjadi:

1. Sistem jaringan jalan primer

Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan jalan yang disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:

a. menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan;

b. menghubungkan antar pusat kegiatan nasional.

Tipe jalan dalam sistem jaringan jalan primer terdiri dari: 1. Jalan arteri primer

Jalan arteri primer adalah jalan yang secara efisien menghubungkan antara pusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah. Kecepatan rencana minimum adalah 60 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 11 meter.

2. Jalan kolektor primer

Jalan kolektor primer adalah jalan yang secara efisien menghubungkan antara pusat kegiatan wilayah atau menghubungkan antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal. Kecepatan rencana minimum adalah 40 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 9 meter.

3. Jalan lokal primer

Jalan lokal primer adalah jalan menghubungkan pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan, pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lingkungan, antarpusat kegiatan lokal, atau pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lingkungan, serta antarpusat kegiatan lingkungan. Kecepatan rencana minimum adalah 20 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 7.5 meter. 4. Jalan lingkungan primer

Jalan lokal primer adalah jalan yang menghubungkan antarpusat kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan. Kecepatan rencana minimum adalah 15 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 6.5 meter. Bila tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda 3 (tiga) atau lebih, lebar badan jalan paling rendah 3.5 meter. 2. Sistem jaringan jalan sekunder

Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan seterusnya sampai ke persil. Sistem jaringan jalan sekunder terdiri atas:

1. Jalan arteri sekunder

(27)

2. Jalan kolektor sekunder

Jalan kolektor sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga. Kecepatan rencana minimum adalah 20 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 9 meter.

3. Jalan lokal sekunder

Jalan lokal sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. Kecepatan rencana minimum adalah 10 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 7,5 meter.

4. Jalan lingkungan sekunder

Jalan lingkungan sekunder adalah jalan menghubungkan antarpersil dalam kawasan perkotaan. Kecepatan rencana minimum adalah 10 km/jam dan lebar badan jalan paling rendah 6.5 meter.

PP nomor 36 tahun 2006 tentang jalan menyebutkan bahwa jaringan jalan menurut status jalan dikelompokan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa. Sedangkan jaringan jalan menurut kelasnya seperti tercantum dalam PP nomor 43 tahun 1993 dibagi menjadi:

1. Jalan kelas I

Merupakan jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18,000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton.

2. Jalan kelas II

Merupakan jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18,000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 10 ton.

3. Jalan kelas III A

Merupakan jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18,000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

4. Jalan kelas III B

Merupakan jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12,000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.

5. Jalan kelas III C

(28)

pemerintah sebaiknya mengetahui penyebab rusaknya jalan sebelum tercapai umur rencana.

Menurut Agah (2008) penyebab rusaknya jalan sebelum tercapai umur rencana adalah karena perilaku pengguna jalan yang mengangkut beban melebihi beban standar rencana jalan, kesalahan desain, pengaruh lingkungan seperti kondisi tanah yang memiliki sifat labil, malpraktek dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jalan, dan kurangnya tanggung jawab sosial masyarakat untuk menggunakan prasarana jalan dengan baik.

Peranan Pembangunan Infrastruktur Terhadap Perekonomian dan Upaya untuk Meningkatkan Investasi di Bidang Infrastruktur

Infrastruktur merupakan salah satu komponen yang penting dalam meningkatkan perekonomian. Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa elastisitas diacu dari produk domestik bruto (PDB) terhadap infrastruktur di suatu negara adalah antara 0.07 sampai dengan 0.44 yang berarti kenaikan satu persen saja ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan pertumbuhan PDB sebesar 0.07% sampai dengan 0.44% (World Bank 1994).

Pasar dalam negeri, termasuk untuk produk pertanian banyak dikuasai oleh produk-produk impor. Hal ini salah satunya disebabkan oleh tingginya biaya produksi yang disebabkan oleh hambatan di bidang infrastruktur pendukung. Karena itu untuk meningkatkan daya saing produk nasional yang dapat mendorong peningkatan perekonomian Indonesia diperlukan adanya investasi di bidang infrastruktur (Sindonews 2011).

Menurut World Economic Forum (WEF 2011) ada 12 pilar yang mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing yaitu:

1. Institusi hukum dan administrasi yang baik dan transparan 2. Infrastruktur yang ekstensif dan efisien

3. Stabilitas makroekonomi

4. Kesehatan dan pendidikan dasar

5. Kualitas pendidikan dan pelatihan yang tinggi 6. Efisiensi pasar barang

7. Efisiensi pasar tenaga kerja 8. Perkembangan pasar uang 9. Kesiapan teknologi 10. Ukuran pasar

11. Perilaku bisnis dalam negeri 12. Inovasi

(29)

mencapai hal tersebut, diharapkan pertumbuhan ekonomi riil rata-rata sekitar 7-9 persen per tahun secara berkelanjutan.

Pengembangan MP3EI dilakukan melalui perubahan pola pikir bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya tergantung pada pemerintah saja melainkan merupakan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD, dan Swasta. Pihak swasta akan diberikan peran utama dan penting dalam pembangunan ekonomi terutama dalam peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja, sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator, fasilitator dan katalisator. Dari sisi regulasi, pemerintah akan melakukan deregulasi (debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi. Fasilitasi dan katalisasi akan diberikan oleh pemerintah melalui penyediaan infrastruktur maupun pemberian insentif fiskal dan non fiskal.

Untuk penyediaan infrastruktur karena adanya keterbatasan anggaran pemerintah, maka dalam MP3EI pemerintah akan mengembangkan model kerjasama pemerintah dan swasta atau Public Private Partnership (PPP) juga mengembangkan metode pembangunan infrastruktur sepenuhnya oleh dunia usaha yang dikaitkan dengan kegiatan produksi. Peran Pemerintah adalah menyediakan perangkat aturan dan regulasi yang memberi insentif bagi dunia usaha untuk membangun kegiatan produksi dan infrastruktur tersebut secara paripurna. Insentif tersebut dapat berupa kebijakan (sistem maupun tarif) pajak, bea masuk, aturan ketenagakerjaan, perizinan, pertanahan, dan lainnya, sesuai kesepakatan dengan dunia usaha.

Infrastruktur memiliki peran dalam mendorong dinamika aktivitas ekonomi sektoral dan regional khususnya yang berbasis pertanian. Infrastruktur jalan memiliki daya pendorong paling besar terhadap peningkatan output, permintaan ekspor, upah riil, sewa lahan riil, dan sewa kapital riil serta penurunan harga dan penawaran impor (Delis 2008).

Dari hasil penelitian Hartoyo (1994) subsidi pupuk tidak banyak mempengaruhi penawaran output tanaman pangan di daerah Jawa, sebaliknya investasi di bidang infrastruktur pertanian memiliki dampak yang signifikan untuk peningkatan output tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena dengan infrastruktur yang baik maka biaya produksi akan dapat ditekan sehingga harga riil output tanaman pangan meningkat sehingga mendorong petani untuk meningkatkan outputnya.

Kebutuhan infrastruktur yang terus meningkat menyebabkan dana yang disediakan oleh pemerintah saja tidak mencukupi. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga terjadi di berbagai negara di dunia. Salah satu upaya yang dilakukan di berbagai negara antara lain dengan model kerjasama pemerintah dan swasta atau Public Private Partnership (PPP). Peran swasta dalam investasi infrastruktur di Jerman dan Perancis berkisar antara 9-13%, di Amerika Serikat 47%, dan di Inggris 71% (Milosavljevic dan Benkovic 2009).

(30)

Hal-hal yang menyebabkan kurangnya minat investor untuk berinvestasi di bidang infrastruktur antara lain adalah karena kurangnya kestabilan makroekonomi, institusi dan penegakkan hukum yang buruk, dan tingkat risiko investasi yang tinggi dengan pengembalian yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (Banarjee et al. dan Wibowo 2006).

Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh Banarjee et al. (2006) dan Wibowo (2006) hal terpenting yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan minat swasta untuk berinvestasi di bidang infrastruktur adalah menciptakan kondisi makroekonomi yang stabil, institusi hukum yang transparan, efektif dan mampu menjamin keamanan investasi, mengurangi tingkat risiko investasi infrastruktur.

Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 untuk meningkatkan iklim investasi usaha-usaha yang akan dilakukan pemerintah adalah melalui perbaikan kepastian hukum, penyederhanaan prosedur, perbaikan sistem informasi, dan pengembangan infrastruktur pada koridor-koridor utama ekonomi. Penciptaan kepastian hukum dilakukan melalui reformasi dan harmonisasi regulasi secara bertahap di tingkat nasional dan daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan dalam kerangka kebijakan yang terintegrasi dan kerangka kelembagaan yang bekerja secara sinergis sebagai dasar dari penciptaan iklim investasi yang kondusif.

Menurut Ardianto (2009) beberapa alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan adalah dengan cara sebagai berikut:

1. Kebijakan pemerintah daerah dalam pembangunan infrastruktur jalan untuk mendapatkan peningkatan alokasi dana pembangunan infrastruktur jalan dari pemerintah pusat.

2. Penguatan promosi sumber daya alam untuk menarik minat investor 3. Optimalisasi alokasi APBD

4. Melibatkan/memberdayakan masyarakat dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan.

Berbagai penelitian di atas menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur memiliki hubungan yang positif dengan peningkatan perekonomian, namun Shi (2012) yang meneliti tentang peran modal infrastruktur dalam pertumbuhan ekonomi regional di China memperoleh hasil yang sedikit berbeda. Shi meneliti peran empat tipe modal infrastruktur yaitu listrik, jalan, rel kereta, dan saluran telepon rumah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa infrastruktur memiliki peran penting dalam perekonomian di hampir seluruh provinsi di China, tetapi untuk wilayah di bagian barat pertumbuhan yang makin menurun karena peningkatan pembangunan jalan yang terlalu banyak di daerah ini. Hal ini menunjukkan bahwa jika pembangunan infrastruktur pada level atau kecepatan tertentu akan menjadi kurang produktif.

Keterkaitan Antar Sektor dan Peranannya dalam Pembangunan Perekonomian Daerah

(31)

memiliki nilai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang kuat merupakan ciri bahwa sektor tersebut merupakan sektor kunci yang memegang peranan penting dalam strategi pembangunan. Hasil penelitian Kula (2008) menunjukkan bahwa dala 12 sektor kunci dalam perekonomian di Turki yaitu sektor pertanian, perburuan, dan jasa terkait lainnya, sektor makanan dan minuman, sektor tekstil, sektor kimia dan produk kimia, sektor produk mineral non logam lainnya, sektor logam dasar, sektor energy listrik, gas, uap, dan air panas, sektor perdagangan, sektor angkutan darat, jasa pendukung transportasi, sektor jasa agen perjalanan, dan sektor perumahan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Permana (2009) menunjukkan bahwa dalam perekonomian di Indonesia infrastruktur memiliki keterkaitan ke belakang yang lebih tinggi daripada keterkaitan ke depannya yang berarti bahwa infrastruktur lebih berperan dalam meningkatkan produksi sektor lain yang outputnya digunakan sebagai input oleh infrastruktur dibandingkan dengan kemampuannya meningkatkan produksi sektor lain yang inputnya diperoleh dari infrastruktur.

Zaini (2004) yang melakukan penelitian terhadap sektor-sektor perekonomian di Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan hasil bahwa sektor komoditas pertanian bukan merupakan sektor kunci dalam pembangunan di Kalimantan Timur. Sektor yang merupakan sektor kunci dalam pembangunan di Provinsi ini adalah sektor daging, sayur, dan buah olahan karena memiliki nilai keterkaitan kebelakang paling tinggi dan sektor tambang dan galian karena memiliki keterkaitan ke depan yang paling tinggi.

Selain menunjukkan keterkaitan antar sektor dalam perekonomian, model IO juga dapat menunjukkan dampak pengganda dari kenaikan permintaan akhir suatu sektor terhadap output, pendapatan, dan kebutuhan tenaga kerja secara keseluruhan. Untuk mengetahui seberapa besar peranan investasi infrastruktur dalam meningkatkan perekonomian di suatu daerah dapat dilihat dengan menggunakan model I-O karena secara sistematis mengukur hubungan timbal balik diantara beberapa sektor dalam sistem ekonomi yang kompleks. Penelitian yang dilakukan Hasni (2006) menggunakan model I-O untuk menunjukkan dampak investasi di sektor konstruksi terhadap perekonomian di Indonesia dimana diperoleh hasil bahwa investasi sektor konstruksi dari sisi peningkatan output dan pendapatan paling tinggi mempengaruhi sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran, sedangkan dari sisi penyerapan tenaga kerja tiga sektor yang paling besar peningkatan penyerapan tenaga kerjanya adalah sektor konstruksi, sektor pertanian, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.

(32)

dan infrastruktur akan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan baik antar wilayah maupun antar rumahtangga.

Novita et al. (2009) melakukan penelitian tentang dampak investasi sektor pertanian terhadap perekonomian Sumatera Utara dengan pendekatan analisis I-O. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak investasi sektor pertanian mampu membentuk 1.35 kali lipat dari investasi yang ada dengan pembentukan output terbesar dialami oleh sektor unggas dan peternakan lainnya. Selanjutnya, investasi sektor pertanian mampu meningkatkan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja.

Agroindustri memegang peranan penting dalam perekonomian di Provinsi Lampung. Hasil analisis tabel IO Provinsi Lampung tahun 2000 yang di update ke tahun 2005 menunjukkan bahwa gabungan outputsektor agroindustri memberikan andil 27.925% dari total output daerah, memiliki nilai pengganda output, pendapatan, dan tenaga kerja yang tinggi, memiliki keterkaitan ke depan dan kebelakang yang tinggi, dan memiliki derajat kepekaan dan daya penyebaran yang tinggi sehingga mampu untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor lainnya (Affandi et al. 2007).

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran infrastruktur secara spesifik di salah satu provinsi di Indonesia karena dengan adanya kebijakan otonomi daerah maka besaran dana yang akan digunakan untuk membangun infrastruktur tergantung pengajuan dari pemerintah daerah. Salah satu penelitian dengan menggunakan tabel I-O provinsi telah dilakukan oleh Koylal (2012) yang meneliti peranan sektor pertanian untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi NusaTenggara Timur (NTT). Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa di Provinsi NTT sektor pertanian memiliki kemampuan mendorong pertumbuhan sektor-sektor perekonomian lainnya lebih besar daripada kemampuan menariknya. Sektor pertanian di NTT juga memiliki kemampuan yang relatif rendah dalam menciptakan tambahan output, pendapatan,dan penyerapan tenaga kerja.

Peningkatan Kinerja Agribisnis

Tujuan ketiga dari penelitian ini adalah untuk melihat peran infrastruktur jalan terhadap kinerja agribisnis sektor perkebunan khususnya untuk komoditas kopi di Provinsi Lampung. Peningkatan kinerja akan dilihat dari sisi produksi, efisiensi biaya angkutan, dan peningkatan daya saing komoditas kopi. Napitupulu et al. (2011) menyebutkan bahwa jalan merupakan bagian dari infrastruktur yang berperan dalam tahap awal pembangunan ekonomi dan lebih berperan sebagai “the promoting sector” yang mendahului perkembangan sektor lainnya seperti industri.

Ekaputri (2008) yang meneliti tentang pengaruh luas panen terhadap produksi tanaman pangan di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa luas panen berpengaruh positif dalam peningkatan produksi tanaman pangan, tetapi jika peningkatan produksi terus dilakukan dengan cara pembukaan lahan baru, maka dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, karena alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Karena itu diperlukan upaya lain untuk meningkatkan produksi selain dengan menambah lahan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan intensifikasi tanaman pangan.

(33)

hasil penelitiannya mereka menyimpulkan bahwa infrastruktur transportasi memegang memiliki hubungan positif tertinggi dengan efisiensi teknik sektor pertanian , diikuti dengan infrastruktur pendidikan, listrik, dan sistem persediaan air. Sementara infrastruktur telekomunikasi menunjukkan hasil sebaliknya.

Kebijakan strategis yang perlu dipertimbangkan dalam peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman padi antara lain adalah:

1. memfasilitasi pengembangan infrastruktur fisik dan kelembagaan, perbaikan sistem insentif usaha tani, dan mendorong agroindustri padat tenaga kerja di pedesaan.

2. melakukan reorientasi arah dan tujuan pengembangan agribisnis padi dengan sasaran peningkatan pendapatan dan ketahanan pangan rumah tangga petani padi, serta sebagai wahana dinamisasi perekonomian desa.

3. pengembangan infrastruktur (fisik dan kelembagaan), teknologi, permodalan, kebijakan stabilisasi, dan penyuluhan untuk komoditas alternatif non padi bernilai ekonomi tinggi tetapi memiliki risiko yang besar (Sudaryanto dan Rusastra 2006).

(34)

3 KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Integrasi ekonomi yang kuat, menyeluruh, dan berkelanjutan di antara semua sektor ekonomi menjadi kunci keberhasilan pembangunan. Salah satu model yang dapat memaparkan dengan jelas bagaimana interaksi antar pelaku ekonomi terjadi adalah model input output (IO) yang diperkenalkan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak ekonomi infrastruktur jalan bagi sektor perkebunan. Untuk melihat hubungan antar sektor perkebunan dengan infrastruktur serta dampak investasi di bidang infrastruktur terutama jalan bagi sektor perkebunan digunakan analisis model IO. Sedangkan untuk melihat nilai peran infrastruktur jalan terhadap peningkatan kinerja agribisnis dilihat dari peningkatan produksi, efisiensi biaya, dan peningkatan daya saing akan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana, sistem persamaan menggunakan biaya angkut dan kondisi jalan sepanjang rute angkutan.

Model Input-Output

Model input-output (IO) merupakan salah satu model yang dapat menunjukkan seberapa besar aliran keterkaitan antarsektor dalam suatu perekonomian yang diperkenalkan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930. Menurut Leontief analisis IO merupakan suatu metode yang secara sistematis mengukur hubungan timbal balik diantara beberapa sektor dalam sistem ekonomi yang kompleks (Daryanto dan Hafizrianda 2010a).

Konsep dasar model IO Leontief didasarkan atas:

1. Struktur perekonomian tersusun dari berbagai sektor (industri) yang satu sama lain berinteraksi melalui transaksi jual beli.

2. Output suatu sektor dijual kepada sektor lainnya untuk memenuhi permintaan akhir rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal dan ekspor.

3. Input suatu sektor dibeli dari sektor-sektor lainnya. 4. Hubungan input-output bersifat linear

5. Dalam satu kurun waktu analisis, total input sama dengan total output

6. Suatu sektor hanya menghasilkan suatu output, dan output tersebut dihasilkan oleh suatu teknologi.

Tabel IO merupakan tabel yang menyajikan gambaran informasi dalam bentuk matriks baris dan kolom yang menggambarkan transaksi barang dan jasa serta keterkaitan antara suatu sektor dengan sektor lainnya. Tabel IO sebagai alat analisis kuantitatif dalam perekonomian, mampu memberikan gambaran yang menyeluruh dalam analisis ekonomi. Kemampuan tabel ini dalam memberikan gambaran menyeluruh antara lain terkait dengan beberapa hal sebagai berikut: 1. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah

masing-masing sektor.

(35)

3. Struktur penyediaan barang dan jasa, baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor yang berasal dari luar wilayah tersebut.

4. Struktur permintaan barang dan jasa, baik itu berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi, investasi dan ekspor.

Beberapa kegunaan analisis IO dalam penelitian perekonomian suatu wilayah antara lain:

1. Memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output, nilai tambah, impor penerimaan pajak dan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.

2. Melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. 3. Analisis perubahan harga, yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan

tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output.

4. Mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan ekonomi.

5. Untuk menyusun proyeksi variabel-variabel ekonomi makro.

6. Untuk melihat konsistensi dan kelemahan berbagai data statistik yang pada gilirannya dapat dijadikan landasan perbaikan, penyempurnaan, dan pengembangan lebih lanjut.

Secara umum matriks dalam Tabel IO dapat dibagi menjadi empat kuadran yaitu kuadran I, kuadran II, kuadran III dan kuadran IV, dengan masing-masing penjelasan dan arti kuadran tersebut sebagai berikut:

1. Kuadran I (Intermediate Quadran)

Kuadran I adalah informasi tentang transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam kegiatan produksi. Kuadran I sering disebut juga sebagai input/permintaan antara untuk menegaskan bahwa semua transaksi pada kuadran ini hanya merupakan "antara" untuk diproses lebih lanjut, dan bukan untuk keperluan konsumsi akhir. Dengan demikian jelas, bahwa kuadran ini menunjukkan saling keterkaitan antar sektor ekonomi dalam melakukan kegiatan produksi. Isian sepanjang baris pada kuadran I menunjukkan alokasi output yang dihasilkan oleh suatu sektor dan digunakan sebagai input oleh sektor-sektor produksi. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penggunaan/input oleh suatu sektor yang diperoleh dari output sektor lainnya.

2. Kuadran II (Final Demand Quadran)

(36)

3. Kuadran III (Primary Input Quadran)

Informasi pada kuadaran III adalah tentang input primer atau nilai tambah bruto (NTB), sehingga kuadran ini sering disebut sebagai kuadran Nilai Tambah Bruto (NTB) atau input primer. Input primer adalah input atau biaya yang timbul karena pemakaian faktor produksi dan terdiri dari upah gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto. Isian sepanjang baris kuadran III menunjukkan distribusi penciptaan komponen NTB menurut sektor. Sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan komposisi penciptaan NTB menurut komponennya di suatu sektor.

4. Kuadran IV (Primary Input-Final Demand Quadran)

Kuadran IV memuat informasi tentang input primer yang langsung didistribusikan ke sektor-sektor permintaan akhir. Informasi sepanjang baris kuadran IV menunjukkan alokasi komponen NTB menurut komponen permintaan akhir. Sedangkan informasi sepanjang kolom menunjukkan struktur NTB untuk setiap komponen permintaan akhir. Namun demikian, kuadran ini bukan merupakan tabel pokok dan untuk beberapa alasan dalam penyusunan tabel input-output Indonesia, kuadran ini diabaikan.

(BPS 2008)

Ilustrasi tabel IO pada sistem perekonomian yang terdiri dari tiga sektor dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Ilustrasi tabel IO untuk tiga sektor into

from 1 2 3

1 x11 x12 x13 X1

2 x21 x22 x23 X2

3 x31 x32 x33 X3

X1 X2 X3

Total Input

Sector

Total Output

Sector Kuadran I Kuadran

II

Kuadran III

(Leontif W 1986)

Dalam penerapan model Input-Output terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi yaitu:

1. Keseragaman (Homogenity)

Setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang dan jasa dengan susunan input tunggal (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input atau output sektor yang berbeda.

2. Penjumlahan (Additivity)

Suatu asumsi bahwa total efek dari kegiatan produksi berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan secara terpisah.

(37)

Suatu prinsip dimana hubungan antara output dan input pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linier, artinya suatu sektor akan berubah sebanding dengan berubahnya total output sektor tersebut.

Selain asumsi-asumsi tersebut diatas, tabel IO sebagai metode analisis kuantitatif memiliki beberapa keterbatasan, yaitu:

1. Koefisien input atau koefisien teknis dan teknologi yang digunakan dalam proses produksi diasumsikan tetap konstan selama periode analisis atau proyeksi. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas harga output.

2. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam penyusunan tabel Input-Output dengan menggunakan metode survei.

3. Semakin banyak agregasi yang dilakukan terhadap sektor-sektor yang ada akan menyebabkan semakin besar pula kecenderungan pelanggaran terhadap asumsi homogenitas dan akan semakin banyak informasi ekonomi yang terperinci tidak tertangkap dalam analisisnya.

Menurut Jensen et al. (1979) aspek-aspek analisis Input-Output yang berfungsi dan berkedudukan penting dalam analisis perekonomian yaitu:

1. Analisis Keterkaitan

Konsep keterkaitan biasa digunakan sebagai dasar perumusan strategi pembangunan ekonomi dengan melihat keterkaitan antar sektor dalam suatu sistem perekonomian. Konsep keterkaitan yang biasa dirumuskan meliputi keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor atau industri dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan untuk proses produksi dan keterkaitan ke depan (forward linkage) yang menunjukkan hubungan keterkaitan antar sektor atau industri dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkannya. Alur keterkaitan antar sektor dalam perekonomian diilustrasikan dalam Gambar 5.

Gambar 5 Alur keterkaitan antar sektor dalam perekonomian

Berdasarkan konsep keterkaitan ini dapat diketahui besarnya pertumbuhan suatu sektor lain. Keterkaitan langsung antar sektor perekonomian dalam pembelian dan penjualan input antara ditunjukkan oleh koefisien langsung, sedangkan keterkaitan langsung dan tidak langsungnya ditunjukkan oleh

Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan Langsung ke

Belakang

Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan Langsung ke

Depan

Keterkaitan Tidak Langsung ke Depan

Keterkaitan Tidak Langsung ke Belakang

(38)

matriks kebalikan Leontief (α) karena matriks ini mengandung informasi penting tentang struktur antar sektor perekonomian.

2. Analisis Multiplier

Analisis multiplier ini mencoba melihat apa yang terjadi terhadap variabel-variabel endogen tertentu apabila terjadi perubahan pada variabel-variabel-variabel-variabel eksogen seperti permintaan akhir dalam perekonomian. Ada tiga variabel yang menjadi perhatian utama dalam analisis multiplier yaitu output sektor-sektor produksi, pendapatan rumah tangga dan tenaga kerja.

Angka pengganda output menunjukkan nilai total dari output yang dihasilkan oleh perekonomian untuk memenuhi adanya perubahan satu unit permintaan akhir di suatu sektor. Angka pengganda pendapatan menunjukkan nilai total dari pendapatan yang diperoleh rumah tangga karena adanya perubahan satu unit permintaan akhir di suatu sektor, dan angka pengganda tenaga kerja menunjukkan total kebutuhan tenaga kerja akibat adanya perubahan satu unit permintaan akhir pada suatu sektor. Kategori dampak berganda dibedakan menjadi:

1. Dampak awal (initial impact)

Dampak awal mengacu pada nilai permintaan akhir yang diasumsikan meningkat. Peningkatan permintaan akhir ini menyebabkan terjadinya suatu dampak.

2. Pengaruh putaran pertama (first round effect).

Mengacu pada pembelian putaran pertama oleh sektor yang mengalami peningkatan permintaan.

3. Pengaruh dukungan industri (industrial support effect)

Mengacu kepada pengaruh putaran kedua dan seterusnya sebagai gelombang beruntun peningkatan output dalam suatu perekonomian untuk penyediaan dukungan produksi sebagai respon peningkatan permintaan akhir suatu sektor.

4. Dampak imbasan konsumsi (consumption induced effect)

Imbasan karena meningkatnya pendapatan rumah tangga akibat meningkatnya permintaan akhir output suatu sektor.

5. Dampak total

Merupakan penjumlahan semua dampak termasuk dampak awal, pengaruh putaran pertama, pengaruh dukungan industri, dan dampak imbasan konsumsi.

6. Dampak luberan

Dampak bersih yang terjadi pada seluruh sektor perekonomian karena adanya dampak awal. Dampak luberan dianggap lebih mencerminkan ukuran suatu dampak karena dampak ini mengukur dampak bersih yang dihitung sebagai selisih dampak total dengan dampak awal.

Pemutakhiran Tabel Input-Output dengan Metode RAS

(39)

mengatasi masalah ini, dapat dilakukan pemutakhiran tabel IO dengan metode non survey antara lain dengan metode RAS.

Metode RAS diperkenalkan pertama kali oleh Richard Stone dari Cambridge University pada tahun 1961. Pada dasarnya RAS adalah nama rumus matriks dimana R dan S adalah matriks diagonal berukuran n x n yang menunjukkan penambahan jumlah permintaan output dan perubahan jumlah input sektor-sektor industri. Sedangkan A adalah matriks berukuran n x n yang menunjukkan banyaknya sektor industri. Informasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan matriks koefisien teknologi adalah:

1. Total gross output

2. Total penjualan output antar sektor 3. Total pembelian input antar sektor.

Analisis hubungan peningkatan kinerja agribisnis sektor perkebunan dengan infrastruktur jalan dilakukan pada satu komoditas saja yaitu kopi karena selain merupakan salah satu produk unggulan provinsi Lampung, kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang sangat memungkinkan untuk ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya untuk memperoleh keunggulan kompetitif di pasar dunia.

Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara produsen kopi robusta dengan pangsa pasar 20% dari ekspor kopi robusta dunia. Kawasan segitiga kopi Indonesia meliputi Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu yang merupakan penghasil kopi robusta utama di Indonesia.

Teori Produksi

Produksi adalah suatu proses dimana sumber daya ekonomi atau input dikombinasikan untuk menciptakan atau membuat barang atau jasa. Sedangkan fungsi produksi didefinisikan sebagai sebagai suatu fungsi yang menggambarkan jumlah output maksimum yang dapat dihasilkan dari kombinasi input yang diberikan (Baye 2010).

Kegunaan fungsi produksi adalah untuk mengetahui kombinasi dengan biaya termurah, untuk memaksimalkan produksi, untuk mencapai keseimbangan, membantu dalam membuat keputusan, dan sebagai dasar dalam perencanaan produksi. Bentuk aljabar fungsi produksi dapat dibedakan menjadi:

1. Fungsi produksi linear

adalah suatu fungsi produksi dimana input bersubstitusi secara sempurna. Fungsi produksi linear dapat dituliskan menjadi:

Q = F(K,L) = aK + bL ... (1) dimana:

Q = Produksi K = Modal

L = Tenaga kerja 2. Fungsi produksi Leontif

adalah suatu fungsi produksi dimana input-input digunakan dalam proporsi yang tetap. Fungsi produksi Leontif dapat dituliskan menjadi:

Q = F(K,L) = min , ... (2) dimana:

Gambar

Tabel 2  Nilai ekspor per komoditi Provinsi Lampung tahun 2007-2011 (000 US $)
Gambar 3  Grafik volume ekspor per komoditi Provinsi Lampung tahun
Gambar 4  Panjang jalan di Indonesia tahun 1987-2010
Tabel 5  Ilustrasi tabel IO untuk tiga sektor
+7

Referensi

Dokumen terkait