• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN SIGN SYSTEM TAMAN SATWA TARU JURUG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANCANGAN SIGN SYSTEM TAMAN SATWA TARU JURUG"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PERANCANGAN

SIGN SYSTEM

TAMAN SATWA TARU JURUG

Diajukan Guna Melengkapi Persyaratan dalam Mencapai Gelar Sarjana Seni Rupa Jurusan

Desain Komunikasi Visual

Disusun oleh: FIKI ARISTANTIE

NIM C0706023

JURUSAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

Pengantar Karya Tugas Akhir dengan judul

PERANCANGAN SIGN SYSTEM

TAMAN SATWA TARU JURUG

Telah disetujui dan dipertahankan di hadapan tim penguji, dalam sidang Tugas Akhir

Pada tanggal 11 April 2011

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Hermansyah Mutaqin, S.Sn Arif Iman Santoso, S.Sn

NIP. 19711115 200604 1001 NIP.19790327 2005001 1102

Mengetahui,

Koordinator Tugas Akhir

Arif Iman Santoso, S.Sn

(3)

commit to user

iii

Disahkan dan dipertanggungjawabkan pada Sidang Tugas Akhir Jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret Surakarta 2011

Pada Tanggal :

Ketua Sidang Tugas Akhir:

Andreas Slamet Widodo, S.Sn, M.Hum

NIP. 19751201 200112 1002

( ...)

Sekretaris Sidang Tugas Akhir :

Esty Wulandari, S. Sos, M.Si

NIP. 19791109 200801 2015

( ...)

Pembimbing Tugas Akhir I

Hermansyah Mutaqin, S.Sn

NIP. 19711115 200604 1001

( ...)

Pembimbing Tugas Akhir II

Arif Iman Santoso, S.Sn

NIP. 19790327 2005001 1102

( ...)

Mengetahui

Dekan

Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Drs. Sudarno, MA

NIP. 19530314 198506 1001

Ketua Jurusan Studi

Desain Komunikasi Visual

Drs. Edi Wahyono Hardjanto, M.Sn

(4)

commit to user

iv

Karya ini kupersembahan pada:

Kedua orang tua tercinta yang terus

(5)

commit to user

v

“Berbuatlah sesuatu maka Anda akan menjadi seseorang. Atau diam saja, Anda juga

(6)

commit to user

vi

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan kemudahan dan melimpahkan hikmahnya, akhirnya penulis dapat

menyelesaikan Konsep Pengantar Karya Tugas Akhir ini, dengan judul

PERANCANGAN SIGN SYSTEM TAMAN SATWA TARU JURUG,

sebagaimana yang telah diwajibkan sebagai syarat gelar kesarjanaan Seni Rupa

Jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

Laporan ini dibuat berdasarkan atas penelitian dan wawancara langsung dengan

pihak-pihak yang bersangkutan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan objek

wisata Taman Satwa Taru Jurug.

Dengan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sangat mendalam

kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan baik secara

materiil maupun spiritual. Oleh karena sudah selayaknya bila dalam kesempatan ini

penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat kepada :

1. Drs. Sudarno, MA selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa dan seluruh

jajaran ruang lingkup Fakultas Sastra dan Seni Rupa;

2. Drs. Edi Wahyono Hardjanto, M.Sn. Selaku Ketua Jurusan Desain Komunikasi

Visual Fakultas Sastra dan Seni Rupa;

3. Andreas Slamet Widodo, S.Sn, M.Hum. selaku Ketua Penguji Tugas Akhir yang

telah memberikan pengarahannya;

4. Esty Wulandari, S.Sos, M.Si, selaku Sekretaris Penguji Tugas Akhir yang telah

memberikan pengarahannya;

5. Hermansyah Muttaqin,S.Sn, selaku Pembimbing Akademik serta pembimbing 1

yang telah memberikan pengarahan dan bimbingannya;

6. Arif Iman Santoso, S.Sn, Selaku Koordinator Tugas Akhir serta pembimbing II

yang telah memberikan pengarahan dan bimbingannya;

7. Seluruh Staff Pengajar Jurusan Desain Komunikasi Visual UNS yang telah

bersedia memberikan bekal ilmu dan bimbingan kuliah;

8. Seluruh Staff Administrasi Jurusan Desain Komunikasi Visual UNS atas segala

(7)

commit to user

vii

melakukan observasi di Taman Satwa Taru Jurug;

10.Semua pihak yang telah membantu terselesainya tugas akhir ini yang tidak dapat

penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Pengantar Karya Tugas Akhir ini masih

jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun demi kesempurnaan Pengantar Karya Tugas Akhir ini. Semoga

Pengantar Karya Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi

pembaca umumnya. Atas perhatian dan kerjasamanya penulis ucapkan terimakasih.

Surakarta, 11 April 2011

Penulis,

(8)

commit to user

viii

HALAMAN SAMPUL ………... i

HALAMAN PERSETUJUAN ……….. ii

HALAMAN PENGESAHAN ………... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ……… iv

HALAMAN MOTTO ………. v

KATA PENGANTAR ……… vi

(9)

commit to user

ix

A. Identifikasi Obyek Perancangan ……… 28

1. Sejarah Taman Satwa Taru Jurug………..………... 28

2. Papan Larangan dan Peringatan………... 63

3. Papan Himbauan……… 64

E. Prediksi Biaya ……… 65

BAB V VISUALISASI KARYA ………. 71

(10)

commit to user

x

B. Saran ……… 121

DAFTAR PUSTAKA

(11)

commit to user

xi

Gambar 3.1 Sign System Taman Satwa Taru Jurug ….……… 39

Gambar 3.2 Sign System Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka …… 46

(12)

commit to user

xii

Tabel 2.1 Ukuran Simbol……….. 12

Tabel 2.2 Ukuran Tinggi Huruf……… 12

(13)

commit to user

xiii

1. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Taman Satwa Taru Jurug ……… 34

2. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kebun Binatang Gembira Loka …….. 44

(14)

commit to user

xiv

TAMAN SATWA TARU JURUG

Fiki Aristantie1

Hermansyah Mutaqin, S.Sn 2 Arif Iman Santoso, S.Sn 3

ABSTRAK

Fiki Aristantie. 2011 . Perancangan Sign System Taman Satwa Taru Jurug ini

dilakukan dengan latar belakang kebutuhan sign system kini cukup penting

keberadaannya dan tidak hanya digunakan untuk lalu lintas dan tanda bangunan, tetapi juga berkembang menjadi tanda di tempat-tempat umum seperti tempat wisata.

Oleh karena itulah sebuah sign system perlu dirancang sebaik mungkin sehingga dapat

menjadi sign system yang efektif dalam menyampaikan pesan atau informasi, namun

tetap memiliki tingkat estetik yang tinggi, sehingga dapat menarik perhatian. Serta

harus memiliki kesinambungan antara signage yang ada, namun keseragaman yang

diciptakan tidak menimbulkan kejenuhan. Tujuannya untuk mempermudah pengunjung dalam menggunakan fasilitas yang disediakan oleh Taman Satwa Taru Jurug.

1

Mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan NIM C0706023

2

Dosen Pembimbing 1

3 Dosen Pembimbing

(15)

commit to user

xv

TAMAN SATWA TARU JURUG

Fiki Aristantie1

Hermansyah Mutaqin, S.Sn 2 Arif Iman Santoso, S.Sn 3

ABSTRACT

Fiki Aristantie. 2011. Redesign Sign System Taman Satwa taru Jurug are held by some needs of the importance of sign system nowadays not only for traffic and building guides, but also for public area such as amusement/ theme park. Therefore it is important to create a good and communicative sign system so it can be effective in communicating information. Esthetic in design so it can distract attention from the audience. The syncronization between each signage is vital, but are not meant to make saturation in design. The purpose is to make the visitor comfort with Taman Satwa Taru Jurugs facilities.

1 The student of Visual Communication Design of Faculty of Letters and Fine Arts of Surakarta

Sebelas Maret University with NIM C0706023

2

Dosen Pembimbing 1

3 Dosen Pembimbing

(16)

commit to user 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan jaman, pola hidup masyarakat kini bergerak ke

arah yang lebih praktis dan efisien. Salah satunya dapat dilihat dengan adanya sign

system yang telah berada di beberapa tempat seperti perkantoran, plaza, tempat wisata,

rumah sakit, dll. Sign system atau sistem tanda adalah perangkat unsur yang secara teratur

saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas petunjuk. Salah satu fungsi sign

system adalah untuk memudahkan pengunjung di suatu tempat untuk menuju ke suatu

tempat dengan cepat dan tepat. Selain itu sign system dapat menghemat waktu dan

tenaga, misalnya suatu gedung atau tempat wisata yang mempunyai sign system yang

benar tidak memerlukan tenaga untuk memberikan atau menunjukkan informasi

mengenai arah ke satu tempat kepada setiap pengunjung. Ketepatan sign system akan

membuat pengunjung puas karena tidak perlu tersesat dan menghemat waktunya.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya bila lalu lintas tidak dilengkapi dengan

rambu-rambu, dan begitu halnya dengan tempat wisata yang begitu luas, tidak diketahui nama

dan letaknya. Oleh karena itu sign system telah ramai dipraktekan di beberapa tempat

wisata di Surakarta pada khususnya walaupun keberadaannya masih kurang lengkap

namun dirasa telah cukup memberikan informasi yang sesuai bagi para pengunjungnya.

Kebun binatang adalah suatu tempat atau wadah yang memiliki fungsi utama

sebagai lembaga konservasi yang melakukan usaha perawatan dan penangkaran berbagai

(17)

commit to user 2

perlindungan dan pelestarian alam, dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan,

pengembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi serta sarana rekreasi yang sehat

(kepmenhutbun no 479/kpts- 11/1998).

Sign system di sebuah kebun binatang merupakan salah satu prasarana fisik yang

sebaiknya harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pihak pengelola dengan

tujuan agar masyarakat yang berkunjung ke kebun binatang bisa mendapat informasi

yang jelas dan terarah selama berkeliling areal kebun binatang yang sangatlah luas.

Selain menyediakan informasi bagi pengunjung, sign system pada sebuah kebun binatang

juga harus dirancang semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian pengunjung.

Dengan adanya sign system selain memberi nilai tambah bagi interior Taman Satwa Taru

Jurug, pengunjung tidak akan lagi kesulitan menemukan tempat dan informasi yang

mereka perlukan terutama tentang satwa yang mereka cari dan tidak ingin melewatkan

satwa-satwa lain tentunya.

Sign system yang ada di Taman Satwa Taru Jurug sangat terbatas jumlahnya.

Selain itu, kondisi sign yang ada saat ini sangat memprihatinkan, kotor, tidak terawat,

patah bahkan sudah tidak terbaca sehingga banyak pengunjung yang kebingungan

menemukan lokasi yang mereka cari. Sebagai kebun binatang satu-satunya yang berada

di daerah Surakarta dengan luas area kebun lebih dari 14 hektar tentunya Satwa Taru

Jurug sangat membutuhkan sign system yang tepat dan lengkap serta menarik untuk

menarik minat pengunjung dan memudahkan pengunjung pergi ke tempat yang

diinginkan. Oleh karena itu, tugas ini berjudul Perancangan Sign System Taman Satwa

(18)

commit to user 3

B. Rumusan Masalah

Dari uraian-uraian di atas maka didapatkan masalah yang harus dihadapi yaitu

bagaimana merancang sign system (tema, bentuk komunikasi, gaya pendekatan) yang

menarik, komunikatif dan informatif agar bisa dipahami oleh pengunjung Taman Satwa

Taru Jurug?

C. Tujuan Perancangan

Dari rumusan masalah yang didapatkan, maka tujuan perancangannya adalah

menciptakan suatu sign system yang informatif dan memiliki daya tarik visual tinggi

dengan tema, bentuk komunikasi dan gaya pendekatan yang menarik, efektif dan jelas

kepada pengunjung agar dapat memanfaatkan semua fasilitas yang diberikan oleh Taman

Satwa Taru Jurug.

D. Target

Audience

Guna berhasilnya proses perancangan sign system, target ditentukan melalui

beberapa pertimbangan sebagai berikut :

1. Segmentasi Geografis

Mencakup wilayah karesidenan Surakarta dan sekitarnya.

2. Segmentasi Demografis

a. Umur : 7 tahun ke atas

b. Jenis kelamin : laki-laki dan perempuan

c. Pendidikan : semua lapisan pendidikan

(19)

commit to user 4

3. Segmentasi Psikografis

Target audiencenya secara umum adalah masyarakat yang menyukai hiburan atau

pergi berwisata ke tempat yang murah dan mudah dijangkau. Dan untuk memperlancar

perancangan sign system, target audiencenya ditujukan kepada mereka yang memiliki

keingintahuan terhadap segala sesuatu yang ada di sekitar mereka serta masyarakat

urban yang terbiasa membaca informasi lewat tanda/ rambu.

E. Metode Pengumpulan Data

Guna mewujudkan validitas data, penulis menggunakan beberapa teknik untuk

mengumpulkan data antara lain :

1. Library Research

Pengkajian bahan dokumen dari sumber-sumber yang bisa dipercaya dan sumber

pustaka yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan.

2. Wawancara

Pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada pihak yang

bersangkutan dengan mengajukan pertanyaan secara langsung untuk memperoleh

data yang diperlukan.

3. Survey

Melakukan kunjungan langsung ketempat yang dijadikan obyek penelitian dalam

hal ini adalah kebun binatang Taman Satwa Taru Jurug.

Proses selanjutnya yaitu dengan melakukan proses analisis data. Metode analisis

yang digunakan adalah metode analisis SWOT. Metode ini digunakan untuk mengetahui

(20)

commit to user 5

binatang Taman Satwa Taru Jurug sehingga dapat merancang sign system yang efektif

(21)

commit to user

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Signage

Signage adalah suatu bentuk komunikasi yang diperlukan dalam era modern ini

sebagai sarana penyampaian informasi yang efektif, sehingga membantu mengatur

kelancaran kehidupan masyarakat. Contoh nyata yang menggambarkan pentingnya

keberadaan suatu tanda adalah rambu-rambu lalu lintas. Namun keberadaan tanda-tanda

tersebut tidak hanya di jalan saja. Sarana publik dan bangunan penting seperti rumah

sakit, tempat wisata dan gedung perkantoran juga membutuhkan adanya tanda.

Kebutuhan akan suatu sign system yang baik semakin berkembang, khususnya

dimana kerumunan massa membutuhkan informasi petunjuk arah. Hal ini dikarenakan

sign system mampu mengkomunikasikan informasi kepada masyarakat dengan cepat dan

biasanya relatif dengan biaya yang rendah. Selain itu, sign system juga merupakan suatu

bagian yang penting dari keseluruhan advertising dan program pencitraan suatu

perusahaan, karena membantu menciptakan suatu image yang mudah dikenal dan unik,

sehingga membantu perusahaan yang bersangkutan untuk bertahan di persaingan pasar.

Untuk menjadi efektif, penandaan semestinya menjadi suatu sistem dari

elemen-elemen yang saling berhubungan, dan dirancang pada saat yang bersamaan, sehingga

menjadi suatu kesatuan. Apabila hal tersebut dilakukan, maka sign system mampu

(22)

commit to user

Suatu sign system diharapkan mampu mengkomunikasikan informasi dengan baik

kepada semua orang, baik yang bergerak cepat ataupun lambat. Oleh karena itu, ukuran

huruf dalam sign system seharusnya disesuaikan dengan target audiencenya.

1. Pengertian Sign System

Yang dimaksud dengan sign system adalah kumpulan dari tanda-tanda individual

yang telah didesain untuk mengidentifikasikan atau mengarahkan lalu lintas dan atau

suatu bangunan yang kompleks atau berkelompok. Hal-hal yang menyangkut tanda

sebagai sebuah sistem harus berdasarkan elemen-elemen desain, seperti bahan,

bentuk, warna, dan elemen desain lainnya.

Tanda-tanda yang dipakai di dalam sebuah sign system pada dasarnya

mengungkapkan makna aturan-aturan yang merupakan standar international, sehingga

akan mudah untuk dipahami maksudnya oleh semua orang di seluruh dunia.

2. Sejarah Sign System

Sign system sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan

simbol mulai ada sejak awal abad ke-20, karena simbol dianggap penting untuk

menyamakan persepsi di seluruh dunia, sehingga dapat dimengerti secara universal.

Perkembangan dari jenis-jenis sign dimulai setelah Perang Dunia II. Pada tahun

1909, di Paris diadakan konvensi bagi pengguna kendaraan bermotor international,

yang akhirnya menghasilkan sistem tanda lalu lintas yang menunjukkan kondisi jalan

yang berlubang, persimpangan jalan, jalan yang berliku, dan persimpangan jalur rel

kereta api. Sistem ini pada awalnya diadopsi oleh beberapa negara di Eropa dan

(23)

commit to user

Hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pembuatan sign adalah

membuat dengan sederhana, namun mampu menyampaikan pesan, dan mampu

berbicara lalu lintas budaya, sehingga dapat dimengerti oleh orang-orang dari latar

budaya yang berbeda-beda.

3. Jenis-Jenis Sign

Dalam suatu sistem komunikasi visual, Sign mengalami perkembangan dan lima

macam dasar dari jenis-jenis tanda dengan kode yang mudah untuk diingat.

Jenis-jenis tersebut antara lain :

a. Sign Petunjuk dan Informasi

Sign ini biasanya digunakan untuk menuntun audiencenya dengan

menginformasikan di mana suatu lokasi berada, juga di saat kantor-kantor atau

toko-toko yang sedang buka atau tutup, dan informasi-informasi lainnya.

b. Sign Untuk Petunjuk Arah

Sign yang termasuk dalam kelompok ini mencakup arah panah yang mampu

mengarahkan pemakainya menuju ke suatu tempat, seperti seperti sebuah

(24)

commit to user

c. Sign Untuk Pengenal

Sign ini dipakai untuk menunjukkan suatu identitas, seperti sebuah kantor,

toko, fasilitas, atau sebuah gedung.

d. Sign untuk Larangan dan Peringatan

Sign ini bertujuan untuk menginformaskan mengenai apa yang tidak boleh

dikerjakan atau dilarang. Selain itu, Sign ini juga menginformasikan agar

audience berhati-hati. Biasanya, dalam penerapannya dikombinasikan dengan

kata-kata atau dipakai sebagai simbol-simbol.

e. Sign Untuk Pemberitahuan Resmi

Sign ini menunjukkan informasi tentang pemberitahuan resmi agar tidak

dikacaukan dengan tanda-tanda petunjuk (orientation sign).

(25)

commit to user 4. Copy Wording

Kriteria yang harus dipenuhi suatu copy pada sign system agar pesan yang dibawa

dapat dimengerti, antara lain :

a. Konsisten.

b. Pesan dibuat sesingkat mungkin agar dapat dibaca dengan cepat.

c. Berarti sama bagi semua pengamat.

d. Pernyataan secara positif.

Sangat penting untuk mempertahankan kekonsistenan penggunaan kata-kata di

semua jenis sign system.

5. Fungsi Sign System

Kebutuhan akan sign system yang efektif sangat besar. Sign system selalu

digunakan untuk mengenali, mengarahkan, dan memberi informasi secara cepat dan

jelas. Namun kini kegunaan tersebut telah meluas dari sebelumnya, dan digunakan

untuk menandai daerah teritori, melalui perbedaan bentuk dan fungsinya.

Kegunaan sign system menurut Phil Boines dan Catherine Dixon, dapat dibagi ke

dalam dua bagian, yaitu :

a. Sign sebagai pemberi informasi

Sign yang termasuk dalam kelompok ini biasanya untuk memberikan

pengarahan-pngarahan dan informasi yang terkait. Informasi yang dimuat dalam

sebuah sign system sebaiknya terbatas pada inti yang penting dan ditampilkan

secara konsisten. Sign tidak harus menjelaskan secara spesifik, tapi mampu

(26)

commit to user

sign system ini mempunyai dampak yang besar pada tampilannya. Perancangan

sign system ini merupakan aktivitas yang rasional dengan melibatkan :

1) Analisa dan pengeditan informasi

2) Pengujian prototype untuk keterbacaan di dalam kondisi yang berbeda-beda.

3) Pengetahuan mengenai proses produksi.

b. Sign sebagai pengontrol

Sign di dalam kelompok ini lebih mengarah pada perilaku manusia, daripada

tujuan yang hendak dicapai. Penggunaan ekstensif dari simbol-simbol, atau

piktogram telah diperdebatkan selama bertahun-tahun untuk membentuk suatu

tanda international yang menyatukan perbedaan-perbedaan nasional.

(Boines 12)

Selain kedua fungsi di atas, sign system kini juga berfungsi sebagai dekoratif

atau penghias, misalnya banner dan flags. Biasanya, sign system jenis ini tidak

mengarahkan atau mengidentifikasikan pesan, namun lebih dipakai untuk

mempromosikan tempat/ event/ hal-hal yang lainnya.

6. Faktor-Faktor Penting Dalam Membuat Sign

a. Elemen Dasar

Saat membuat tanda-tanda dari sudut pandang fungsional, elemen-elemen

dasar yang membentuk tanda tersebut adalah informasi, material, dan teknologi.

Setiap dari elemen tersebut harus dipertimbangkan dalam hubungan khusus antara

manusia, kegiatan, dan benda.

(27)

commit to user

1) Sebagai standar penentuan besar atau ukuran simbol menurut jarak pandang

pengamat dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1. Ukuran Simbol

Jarak Pandang Ukuran Simbol (mm)

Dibawah 7 m

Sumber : Public Works Department, 1995

2) Sebagai standar penentuan tinggi huruf dilihat dari jarak pandang pengamat

dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.2. Ukuran Tinggi Huruf

Jarak Pandang (m) Tinggi Huruf minimum (mm)

2

(28)

commit to user

c. Pendekatan Untuk Mendesain Suatu

Perancangan sebuah sign system hendaknya disesuaikan dengan lingkungan

sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu pendekatan yang harus dilakukan untuk

merancang sebuah sign system. Selain itu, pembuatan sign system sebaiknya

dipertimbangkan agar menjadi satu kesatuan dengan elemen-elemen yang sudah

ada.

Pendekatan lain yang bisa dilakukan adalah mendahulukan fungsi

komunikasinya, baru memasukkan nilai estetis. Dalam pendekatan ini, semua

elemen yang ada harus diseragamkan, baik dalam bentuk, material, warna, dan

detail. Pendekatan ini biasanya menghasilkan suatu sign system yang kontras

dengan lingkungan sekitarnya, dan biasanya sesuai digunakan untuk

proyek-proyek transportasi dan industri.

d. Merancang Sebuah Keluarga Sign

Walaupun diperlukan variasi dalam pembuatan suatu sign system, perlu

diperhatikan agar variasi tersebut tidak menimbulkan kekacauan visual. Untuk

menghindarinya, dapat dilakukan pengelompokan sign ke dalam suatu keluarga

atau kelompok yang termasuk semua tipe-tipe tanda. Pengulangan bentuk yang

sama atau setipe dapat membuat menjadi monoton.

Menghubungkan sign dengan menyamakan bentuk adalah salah satu cara

yang mudah untuk menciptakan sebuah keluarga sign. Namun masih banyak

elemen desain yang lain yang dapat membantu memperkuat suatu kelompok.

Misalnya, penggunaan letterstyle yang sama, penggunaan warna atau material

(29)

commit to user

e. Faktor-Faktor Fungsional

1) Outdoor Sign

a) Ukuran dan bentuk

Ukuran dari outdor sign biasanya disesuaikan dengan ukuran dari

copynya. Ukuran dari copy pesan dipengaruhi oleh dua seberapa panjang

pesan yang disampaikan dan sampai seberapa jauh pesan tersebut harus

dapat terbaca. Selain copy, layout pesan juga harus diperhatikan.

b) Lokasi

Lokasi peletakan sign system harus sudah ditentukan sebelum

perencanaan. Pemilihan lokasi yang tepat tersebut ditentukan berdasarkan

analisa mendalam mengenai situasi dan kondisi lingkungan, serta

kebutuhan yang muncul. Akan sangat membantu apabila sebelum

menentukan lokasi yang tepat dilakukan survei lokasi dan

mendokumentasikan dengan foto. Hal-hal mendasar lain yang perlu

dipertimbangkan antara lain :

c) Bahan/ material

Bahan-bahan dasar yang biasa digunakan untuk outdoor sign terbatas

karena efek matahari dan cuaca yang dapat merusak bahan. Material yang

biasa digunakan untuk outdoor sign yaitu lembaran metal, steel structural

shapes, kayu, exterior grade plywood, acrylic plastic, tembaga,

alumunium, batu, concrete, fiberglass.

(30)

commit to user 2) Interior Sign

a) Lokasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi yaitu

karakteristik lingkungan, fungsi area yang bersangkutan,

halangan-halangan, sudut pandang dan hubungan dengan sign yang lain.

b) Pendukung

Biasanya disarankan untuk menggunakan dua pendukung untuk setiap

panel sign untuk menghindari perubahan letak, sehingga mengakibatkan

kekacauan dalam menunjukkan arah.

c) Tanda yang freestanding dan portable.

Beberapa interior sign membutuhkan tanda portable. Tanda tersebut

dibuat seringan mungkin dan biasanya terpasang pada soket yang dapat

dibongkar pasang. Biasanya tanda seperti ini digunakan untuk

memperingati lantai yang basah, elevator yang rusak, dan lain-lain.

d) Material

Bahan-bahan yang bisa digunakan untuk indoor sign antara lain kayu,

plywood, papan fiber, laminasi tekanan tinggi, tembaga, alumunium,

stainless steel, acrylic, vinyl, fiberglass, polycarbonate, plastic laminate,

kaca.

e) Perawatan

Perawatan yang dilakukan biasanya hanya membersihkan dalam jangka

waktu tertentu.

(31)

commit to user

f. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan Suatu Sign System

1) Penggunaan piktogram

Penggunaan piktogram terbukti paling efektif untuk menggambarkan benda

secara nyata, namun tidak cocok digunakan untuk mewakili suatu ide atau

konsep. Hal ini dikarenakan adanya ambiguitas yang mampu mengacaukan

makna. Oleh karena itu, penggunaan piktogram sebaiknya diawasi dengan

sangat hati-hati karena audience yang berasal dari banyak budaya yang

berbeda.

2) Simbol dapat menjadi ambigu

Jika pengunaan simbol tanpa disertai dengan kata-kata, dapat menimbulkan

keambiguan dalam penangkapan pesan. Oleh karena itu, apabila ingin

menggunakan simbol, lebih baik dipilih suatu simbol yang dipakai secara

universal, dan dimengerti oleh semua orang dengan latar belakang budaya

yang berbeda.

B. Warna dalam Sign System

Warna juga merupakan faktor yang penting untuk menunjang sebuah tanda.

Simbol, logotype, dan warna merupakan tiga elemen visual yang diperlukan dalam

menyusun sebuah simbol. Pemilihan warna yang tepat dapat membuat sebuah simbol

(32)

commit to user

Dalam suatu logo atau simbol, warna dapat tampil sebagai perwakilan simbolik

dan dapat juga tampil untuk mempengaruhi secara psikologis. Pada simbol yang

bersifat persuasif, warna tampil secara psikologis, sehingga mampu mempengaruhi

orang yang melihatnya. Sedangkan pada logo yang bersifat informatif, warna tampil

sebagai perwakilan simbolik.

Penggunaan warna dalam pembuatan sign system sangat vital dalam usaha

membuat sign system tersebut sesuai dengan lingkungannya. Warna yang dipilih

harus berhubungan dengan warna dan bahan material dari bangunan dimana sign

tersebut akan dipasang. Walaupun begitu, untuk beberapa kasus tertentu, warna dari

sign system harus dibuat kontras dengan bangunan sekitar, dan pada kasus yang lain,

warnanya dibuat monokrom.

Secara umum, warna pada sign system berfungsi sebagai :

1. Pengidentifikasian terhadap informasi/ pesan.

2. Memperkuat keberadaan sign melalui kekontrasan warna dengan lingkungan

sekitar.

3. Memberi identifikasi.

4. Menarik perhatian.

5. Menimbulkan pengaruh psikologis.

6. Mengembangkan asosiasi.

7. Membangun ketahanan minat.

(33)

commit to user

Menurut teori warna Munsell, pembagian warna adalah sebagai berikut :

1. warna primer

Warna primer adalah warna pokok, yaitu warna yang tidak bisa dibuat dari warna

lain, tetapi dalam campurannya bisa dibuat warna lain. Yang termasuk dalam

warna primer adalah : merah, biru, dan kuning.

2. Warna sekunder

Warna sekunder adalah warna yang didapat dari pencampuran dua warna primer.

Yang termasuk dalam warna sekunder adalah : warna orange, ungu, dan hijau.

3. Warna tersier

Warna tersier adalah pencampuran dua warna sekunder. Yang termasuk dalam

warna tersier ini adalah warna coklat merah, coklat kuning, dan coklat biru.

4. Warna quartenair

Warna quartenier adalah pencampuran dua warna tersier. Yang termasuk dalam

warna quartenair ini adalah warna orange quartenair, ungu quartenair, dan hijau

quartenair.

5. Warna Intermediate

Warna intermediate adalah warna antara warna pokok dan warna sekunder. Yang

termasuk dalam kelompok warna intermediate ini adalah warna merah ungu, biru

unu, biru hijau, kuning orange, dan merah orange.

6. Warna standar

Warna standar adalah tiga warna primer dan dua warna sekunder atau warna

pelangi. Yang termasuk dalam warna standar adalah warna merah, orange,

(34)

commit to user

7. Warna analogoes

Warna analogoes adalah warna yang saling berdekatan atau harmonis. Misalnya,

warna biru dengan biru ungu.

Menurut Maitland Graves, sifat warna digolongkan menjadi dua, yaitu :

1. Warna panas

Yang termasuk dalam kelompok ini adalah warna kuning, jingga, dan merah. Sifat

dari kelompok warna ini adalah positif, agresif, aktif, dan merangsang.

2. Warna dingin

Yang termasuk di dalam kelompok ini adalah warna hijau, biru, dan ungu. Sifat

dari kelompok warna ini adalah negatif, mundur, tenang, tersisih, dan aman.

Identifikasi warna terhadap penggunaannya di dalam sign system :

1. Merah

Warna ini dipakai sebagai tanda larangan dan bahaya.

2. Biru

Warna ini dipakai untuk tanda menyampaikan informasi.

3. Hijau

Warna ini dipakai untuk tanda kadaan gawat darurat, pertolongan pertama, dan

perlindungan terhadap kebakaran.

4. Kuning

Warna ini dipakai untuk tanda peringatan atau hati-hati.

5. Hitam

Warna ini dipakai sebagai untuk warna simbol pada tanda yang menggunakan

(35)

commit to user

6. Putih

Warna ini dipakai untuk semua simbol dalam kelompok tanda-tanda lainnya, atau

dapat juga digunakan pada semua tanda yang telah disebut diatas.

(Darmaprawira 33-34)

C.

Tipografi

Tipografi adalah salah satu sarana untuk menterjemahkan kata-kata yang terucap

ke halaman yang dapat dibaca. Peran dari tipografi adalah untuk mengkomunikasikan ide

atau informasi dari halaman tersebut ke pengamat. Dalam membuat perencanaan suatu

karya desain, keberadaan elemen tipografi sudah harus diperhitungkan, karena dapat

mempengaruhi susunan hirarki dan keseimbangan karya desain tersebut. (wijaya 48-49)

Hadirnya tipografi dalam sebuah media terapan visual merupakan faktor yang

membedakan antara desain grafis dan media terapan visual (lukisan). Tipografi

merupakan representasi visual dari sebuah bentuk komunikasi verbal dan merupakan

representasi visual dari sebuah bentuk komunikasi verbal dan merupakan properti visual

yang pokok dan efektif. Lewat kandungan nilai fungsional dan nilai estetikanya, huruf

memiliki potensi untuk menterjemahkan atmosfer-atmosfer yang tersirat dalam sebuah

komunikasi verbal yang dituangkan melalui abstraksi bentuk-bentuk visual. (Sihombing

58).

Ada empat buah prinsip pokok tipografi yang sangat mempengaruhi keberhasilan

(36)

commit to user

1. Legibility

Yang dimaksud dengan legibility adalah kualitas pada huruf yang membuat

huruf tersebut dapat terbaca. Seorang desainer harus mengenal dan mengerti

karakter dari bentuk suatu huruf dengan baik.

2. Clarity

Yang dimaksud dengan clarity yaitu kemampuan huruf-huruf yang digunakan

dalam suatu karya desain dapat dibaca dan dimengerti oleh target pengamat yang

dituju. Beberapa unsur desain yang dapat mempengaruhi clarity antara lain visual

hierarcy, warna, pemilihan type, dan lain-lain.

3. Visibility

Yang dimaksud dengan visibility adalah kemampuan satu huruf, kata, atau

kalimat dapat terbaca dalam jarak baca tertentu. Setiap karya desain mempunyai

suatu target jarak baca, dan huruf-huruf yang digunakan dalam desain tipografi

harus dapat terbaca dalam jarak tersebut sehingga suatu karya desain dapat

berkomunikasi dengan baik.

4. Readibility

Yang dimaksud dengan readibility adalah penggunaan huruf dengan

memperhatikan hubunganya dengan huruf yang lain sehingga terlihat jelas. Dalam

menggabungkan huruf dan huruf, baik untuk membentuk suatu kata atau kalimat,

harus memperhatikan hubungan antara huruf yang satu dengan yang lain,

(37)

commit to user

matematika, tetapi harus dilihat dan dirasakan. Ketidaktepatan menggunaan spasi

dapat mengurangi kemudahan membaca satu keterangan yang membuat informasi

yang disampaikan terkesan kurang jelas.

Tipografi memiliki beraneka ragam jenis dan bentuk, yang berbeda antara satu

dan lainnya, dan mempunyai ciri khas tersendiri. Yang dimaksud dengan letterstyle

sebagai suatu kesatuan akan berbeda dari letterstyle-letterstyle yang lain. Letterstyle

ini juga bisa disebut typeface. Elemen-elemen dari sebuah letterstyle antara lain huruf

kapital, huruf kecil, angka, simbol dan tanda baca.

Ada lebih dari 5000 jenis letterstyle yang berbeda, dan mereka dibagi ke

dalam empat kategori besar, yaitu :

1. Serif

Serif adalah jenis huruf yang memiliki kait pada stroke hurufnya. Biasanya

huruf jenis ini relatif mudah terbaca, namun tidak sebaik jenis sans serif. Jenis

huruf yang termasuk dalam kelompok serif ini berkesan serius, elegan dan klasik.

Biasanya huruf serif memiliki stroke dengan ketebalan yang tidak sama.

2. Sans serif

Huruf dalam kelompok sans serif ini telah dikenal sejak abad ke-19. ciri khas

dari huruf sans serif ini adalah tidak mempunyai serif (garis pembuka dan penutup

pada stroke) dan kebanyakan memiliki stroke dengan ketebalan yang sama. Huruf

sans serif sangat baik digunakan pada display type, head line,dan dapat digunakan

untuk body copy yang pendek. Dilihat dari pertimbangan fungsional, huruf sains

serif dianggap sebagai pilihan sempurna karena lebih mudah dibaca dan mampu

(38)

commit to user 3. Italic

Jenis huruf yang miring ke sebelah kanan (lebih kurang 12o) ini bisa

digunakan untuk penekanan atau pembedaan.

4. Dekoratif/ Stylistic/ Ornamentic/ Fantasi

Huruf dekoratif biasanya unik dan bersifat menghias. Huruf jenis ini mampu

menciptakan kesan tertentu atau memberikan spessial effect. Namun huruf jenis

ini biasanya sulit dibaca dan digunakan tidak untuk mengkomunikasikan

informasi. Biasanya digunkan untuk tujuan tertentu, misalnya desain logo, judul

buku, label, dan lain-lain.

(Follis 64-66)

D.

Semiotika

Semiotika secara etimologi berasal dari kata Yunani “semeion” yang berarti

“tanda”. Secara terminologi semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang

tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu

merupakan bentuk dari tanda-tanda. Semiotik juga mempelajari sistem-sistem,

aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.

Semiotik bias dikatakan sebagai ilmu untuk memahami konteks secara umum

yang berlaku di masyarakat yang akan menjadi targetnya. Ilmu Semiotik sudah dipelajari

dan dikembangkan sejak berabad-abad yang lalu. Menurut sejarah, Ilmu Semiotik

setidaknya sama tuanya dengan Ilmu kedokteran dan filosofi Yunani. Dalam dunia grafis,

(39)

commit to user

symbol. Isyarat serta penerapannya. Suatu studi tentang pemaknaan semiotik menyangkut

aspek-aspek budaya, adat-istiadat, atau kebiasaan di masyarakat. Semiotik dibagi menjadi

tiga bagian, yaitu :

1. Semantik

Semantik berkenan dengan makna dan konsep. Semantik berasal dari kata

”semanien” dalam bahasa Yunani, yakni ”berarti, bermaksud, meneliti”. Semantik

Simbolik adalah suatu simbolisasi yang memiliki makna atau pesan. Contohnya,

Ideograph, yang berkenaan dengan makna yang terkandung dalam simbol kompleks

dari suatu konsep yang lain. Misalnya, tulisan Heirogliph dari jaman Mesir kuno. Hal

itu biasanya menyangkut persepsi atau intepretasi makna pesan visual yang berbeda

dari khalayak yang mengapresiasi. Dalam hal ini, pihak penyampai maupun pihak

penerima pesan memiliki dua kemungkinan cara :

a. Denotatif

Memiliki makna leksikal, arti yang pokok, pasti dan terhindar dari

kesalahtafsiran. Denotatif bersifat langsung, konkret, jelas dan tersurat. Dalam

perancangan sign system, penting untuk menggunakan makna denotatif agar

terhindar dari penafsiran yang berbeda-beda.

b. Konotatif

Memiliki makna struktural, makna tambahan di samping makna sebenarnya.

Konotatif memiliki sifat tidak langsung, maya, abstrak, dan tersirat.

Menerjemahkan informasi ke dalam bentuk visual dapat dilakukan melalui hal-hal

(40)

commit to user

1) Semantik indrawi

a) Memvisualkan suara

Menggambarkan secara visual bagaimana bunyi ledakan, suara ribut, suasana

sunyi, musik jazz, dan lain-lain.

b) Memvisualisasikan indra peraba

Menggambarkan sesuatu yang memiliki permukaan kasar, lembut, halus, dan

lain-lain.

c) Memvisualisasikan penciuman

Bau wangi seperti bunga mawar, bau busuk, dan lain-lain.

d) Memvisualisasikan sesuatu yang verbal

Seperti tanda larangan, rambu-rambu, tanda peringatan, papan informasi,

signage, dan lain-lain.

2) Karakter

Menggambarkan secara visual bagaimana gambaran galak, pemarah, bingung,

sakit, dan lain-lain.

3) Memvisualkan suasana

Menggambarkan secara visual suasana yang berkesan sepi, misteri, romantis,

sibuk, dan lain-lain.

Seorang visualiser dituntut memiliki kemampuan ”menyederhanakan bentuk”.

Pada saat dia diminta untuk menjelaskan suatu ide atau konsep pemikiran agar lawan

(41)

commit to user

menggambarkan ide tersebut secara sederhana. Beberapa konsep penyampaian visual,

antara lain :

1) Semantik metafora

Merupakan perspektif bentuk dalam logika dan imajinasi.

2) Semantik kontradiksi

Menggambarkan pertentangan, perlawanan, sebab-akibat, perbandingan, dan

seterusnya.

3) Semantik kombinasi

Perspektif bentuk dalam logika dan imajinasi dengan menggabungkan dua bentuk

atau lebih yang berbeda maupun yang sama.

4) Semantik style

Visual yang disampaikan dalam beberapa style atau gaya merujuk pada style-style

tertentu sebagai ikatan benang merahnya.

2. Sintaktik

Sintaktik berkenaan dengan keterpaduan dan keseragaman. Sintaktik berasal dari

kata ”sintaksis” dalam bahasa Yunani Suntattein yang berarti ”mengatur,

mendisiplinkan”. Sintaktik berkenaan dengan perpaduan, keseragaman, dan kesatuan

sistem. Penerapan sintaktik penting untuk menjaga citra yang baik dari sebuah

rancangan dalam bentuk apa pun. Usaha itu dilakukan agar citra yang baik dapat

tertanam serta dapat diingat oleh para khalayak. Dikalangan desainer istilah yang

digunakan adalah benang merah sebuah rancangan yang merujuk pada kesatuan

(42)

commit to user

Dalam perancangan sign system, semuanya harus memiliki keseragaman &

keterpaduan konsep, ada suatu ciri khas/ benang merah yang mengikatnya antara

yang satu dengan yang lain. Di dalam pembuatan sign system harus selalu ada alur

kesatuan yang menghubungkan sehingga menjadi satu kesatuan rancangan.

3. Pragmatik

Pragmatik berkenaan dengan teknis dan praktis. Pragmatik adalah hubungan

fungsional yang berkenaan dengan teknis dan praktis, material atau bahan yang

dipergunakan, serta efisiensi yang menyangkut ukuran bahan, warna yang

dipergunakan, maupun teknik memproduksinya. Pertimbangan yang dipikirkan

mencakup kegunaan, kemudahan, keamanan, kenyamanan dan seterusnya.

(43)

commit to user

BAB III

IDENTIFIKASI DATA

A. Identifikasi Obyek Perancangan

1. Sejarah Taman Satwa Taru Jurug

Taman Satwa Taru Jurug Solo (TSTJ) pada awalnya merupakan pindahan Kebun

Binatang Sriwedari yang lebih dikenal dengan sebutan “Kebun Rojo” didirikan Sri

Susuhunan Paku Buwono X pada tanggal 20 Dal 1381 atau 17 Juli 1901. Pada

awalnya merupakan tempat hiburan bagi keluarga Raja yang berisi koleksi satwa dan

akhirnya berkembang sebagai tempat rekreasi untuk masyarakat umum. Pada tahun

1983 Kebun Binatang Sriwedari kemudian dipindahkan ke Taman Jurug yang

beralamat di Jl. Ir. Sutami No. 109 Jebres karena keberadaannya ditengah pusat kota

Surakarta sudah tidak sesuai lagi. Taman Jurug yang memiliki lahan lebih dari 14

hektar itu awalnya dikenal oleh warga Solo sebagai tempat sirkuit motor cross yang

waktu itu konon terbaik di Asia Tenggara. Dipindahkannya Kebun Binatang

Sriwedari ke Taman Jurug pada mulanya bersifat titipan saja dari pemerintah

Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta, pada tempat rekreasi Taman Jurug yang

merupakan salah satu taman rekreasi yang berada di Kota Surakarta yang kemudian

dikelola oleh beberapa pihak. Adapun pihak-pihak yang pernah megelola Taman

Satwa Taru Jurug tersebut adalah sebagai berikut :

a. PT. Bengawan Permai

Taman Jurug diresmikan Tahun 1975 dan pengelolaannya diserahkan kepada

(44)

commit to user

mampu lagi mengelola satwa titipan tersebut dan akhirnya tahun 1986

pengelolaannya diserahkan kembali kepada Pemerintah Kotamadya Daerah

Tingkat II Surakarta.

b. Yayasan Bina Sata Taru Surakarta

Melalui Surat Keputusan Walikota Kepala Daerah Tingkat II Surakarta No.

556/96/1986, pengelolaan Taman jurug kemudian diserahkan kepada Dinas

Pariwisata Daerah Tingkat II Surakarta. Agar pengelolaannya lebih profesional

dibentuk suatu badan yang terbentuk Yayasan Bina Satwa Taru Surakarta

berdasar akte notaris Budi Maknawi, SH No.36 tanggal 19 Nopember 1986 yang

anggotanya terdiri dari berbagai unsur Pemerintah, profesional, tokoh masyarakat,

usahawan dan unsur pendidikan. Sejak itulah nama Taman Jurug berganti menjadi

Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang dipakai hingga sekarang.

c. PT. Solo Citra Perkasa

Dalam perjalanan waktu dibawah pengelolaan Yayasan Bina Satwa Taru

perkembangan dan pembangunan fisik maupun keadaan satwa belum dapat

memenuhi sebagaimana yang diharapkan masyarakat, sehingga Pemerintah

Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta bekerjasama dengan investor yang

diharapkan pembangunan dan perkembangan TSTJ lebih cepat dan terarah.

Investor yang dimaksud adalah PT. Solo Citra Perkasa. Namun dalam

perkembangannya PT. SCP tidak dapat memenuhi kewajiban seperti apa yang

tertuang dalam Surat Perjanjian, selain itu PT.SCP tidak dapat menjalin kerjasama

(45)

commit to user

d. TIM Pengelola Sementara TSTJ Surakarta

Pada tanggal 8 Nopember 2000 dengan berbagai pertimbangan dan proses

yang panjang, pemerintah Kota Surakarta mengambil alih pengelolaan TSTJ

melalui Surat Keputusan Walikota No. 556.4.05/256/I/2000 dibentuk Tim

Pengelola Sementara TSTJ Surakarta yang diketuai oleh Asisten I Tata Praja dan

beranggotakan Instansi terkait dibantu dari Kebun Binatang Gembira Loka

Yogyakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta No.

556.4.05/894.A/I2001 tentang perubahan Tim Pengelola Sementara TSTJ dan

ditetapkan sistem pengelolaan mandiri artinya segala pembiayaan dan

pembangunan yang berkaitan dengan pengelolaan TSTJ Surakarta dibebankan

dari hasil pendapatan TSTJ itu sendiri.

e. Unit Pengelola TSTJ Surakarta

Setelah Tim Pegelola Sementara TSTJ berjalan sekitar dua tahun, kemudian

Walikota Surakarta membentuk pengelolaan menjadi Unit Pengelola Taman

Satwa Taru Jurug, berdasar :

1) Keputusan Walikota Surakarta No. 13 Tahun 2002 tanggal 13 Nopember

2002 tentang pembentukan Unit Pengelola TSTJ Surakarta.

2) Surat keputusan Walikota Surakarta No. 556.4/974/I/2002 tanggal 20 Januari

2003 tentang pengangkatan keanggotaan Dewan Pembina TSTJ Surakarta.

3) Surat Keputusan Walikota Surakarta No. 821/2/0271/2002 tanggal 14

Nopember 2002 tentang Pengangkatan Kepala Unit Pengelola TSTJ

(46)

commit to user

Unit Pengelola TSTJ Surakarta ini berlangsung dari tanggal 13 Nopember

2002 sampai Tanggal 8 Mei 2006.

f. Satuan Tugas Pengelolaan Tama Satwa Taru Jurug

Sesuai dengan perkembangan ternyata bentuk Unit Pengelola ini dipandang

kurang sesuai, sehingga perlu untuk disempurnakan, menjadi bentuk BUMD.

Melalui peraturan Walikota Surakarta Nomor 7 tahun 2006 teranggal 8 Mei 2006

tentang Pembentukan Satuan Tugas Pengelolaan Taman Satwa Taru Jurug

Surakarta yang dirubah dengan Peraturan Walikota Surakarta Nomor 7 Tahun

2006 tentang Pembentukan Satuan Tugas Pengelolaan Tama Satwa Taru Jurug

Surakarta tertanggal 1 Juni 2006 Keputusan Walikota Surakarta Nomor 13 Tahun

2002 tentang Pembentukan Unit Pengelola Taman Satwa Taru Jurug dinyatakan

tidak berlaku. Maksud dan tujuan Pembentukan Satuan Tugas Pengelolaan TSTJ

adalah :

1) Mengoptimalkan nilai TSTJ agar berdaya saing yang kuat.

2) Untuk mendorong pengelolaan TSTJ menjadi lebih profesional.

3) Mendorong agar seluruh jajaran TSTJ bekerja dengan dilandasi moral yang

tinggi, kepatuhan terhadap peraturan, kesadaran tanggung jawab terhadap

layanan publik, keselamatan satwa dan lingkungan.

4) Meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah.

5) Mewujudkan sumber daya yang dimiliki sebagai aset wisata yang atraktif.

6) Pengelolaan sementara dalam rangka menuju terbentuknya BUMD.

Satuan Tugas Pengelolaan Taman Satwa Taru Jurug menyelenggarakan

(47)

commit to user

BUMD. Satuan tugas TSTJ ini bertugas selama enam bulan sejak ditetapkan

Peraturan Walikota Nomor 7 tahun 2006. Namun sampai berakhirnya Satuan

Tugas Pengelolaan Taman Satwa Taru Jurug ini menjalankan tugasnya, ternyata

draf pembentukan PT. Taman Jurug yang diajukan oleh Pemerintah Daerah Kota

Surakarta belum mendapatkan pengesahan dari Dewan Perwakilan Daerah Kota

Surakarta (masih dalam proses pembahan DPRD Kota Surakarta). Untuk itu

Walikota Surakarta pada tanggal 9 Nopember 2006 menunjuk Tim Pengelola

Taman Satwa Taru Jurug yang mana susunan Tim Pengelola ini terdiri dari :

1) Ir. Sudjadi selaku Koordinator Tim Pengelola

2) Kepala Dinas Pertanian Kota Surakarta selaku Pengelola Flora dan Fauna

3) Kepala Dinas Pendapatan Kota Surakarta selaku Pengelola Managemen

Keuangan

4) Kepala Dinas Tata Kota selaku Pengelola Fungsi Ruang, Lahan dan Investasi

5) Kepala Kantor Pegelola Aset Daerah, selaku Pengelola Konsolidasi dan

Akuisisi Aset

2. Visi dan Misi Taman Satwa Taru Jurug

a. Visi

Visi Taman Satwa Taru Jurug adalah terwujudnya Taman Satwa Taru Jurug

yang konservatif dan berdaya saing tinggi untuk mengembangkan agrowisata,

pendidikan dan budaya kota Solo.

b. Misi

1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas flora dan fauna

(48)

commit to user

3) Meningkatkan sarana dan prasarna hiburan

4) Meningkatkan pendidikan dan pengembangan budaya

5) Meningkatkan pendapatan

c. Nilai-Nilai

1) Kejujuran

2) Kerja keras

3) Bersih, rapi dan indah

4) Aman dan nyaman

5) Lestari

6) Mengutamakan kepuasan pengunjung

d. Tujuan, Fungsi dan Sasaran

1) Sebagai konservasi satwa dan tanaman langka

2) Sebagai paru-paru kota/ hutan kota

3) Sebagai tempat hiburan dan rekreasi

4) Sebagai pendidikan

5) Sebagai pendukung pendapatan

3. Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Taman Satwa Taru Jurug pengelolaannya diserahkan kepada beberapa pihak yang

disebut Tim Pengelola. Yang menjadi Tim Pengelola Taman Satwa Taru Jurug antara

lain :

a. Asisten Perekonomian dan Pembangunan

b. Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset

(49)

commit to user

d. Dinas Tata Kota

e. Dinas Pekerjan Umum

f. Dinas Periklanan

Berikut ini adalah bagan struktur organisasi dan tata kerja di kebun binatang

Taman Satwa taru jurug.

Bagan Struktur Organisasi & Tata Kerja

Taman Satwa Taru Jurug

Tim Pengelola

a. Tugas Tim Pengelola, antara lain :

1) Mengelola, mengembangkan dan mengoptimalkan kebun binatang Taman

Satwa taru Jurug.

2) Merencanakan rencana kerja dan rencana penggunaan dana agar

(50)

commit to user

3) Mengawasi dan memeriksa hasil kerja serta mengendalikan kualitas

pekerjaan.

4) Mendorong seluruh jajaran Taman Satwa Taru Jurug untuk bekerja lebih baik.

5) Memelihara aset yang dimiliki oleh Taman Satwa taru Jurug.

b. Tugas Pelaksana Lapangan, antara lain :

1) Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang telah diperintahkan.

2) Memberikan laporan baik harian, mingguan, serta bulanan jenis pekerjaan dan

hal-hal yang diperlukan.

c. Tugas kepala TU, antara lain :

1) Menyusun program tata usaha.

2) Membantu mengelola keuangan dan pendapatan.

3) Membina dan mengembangkan kinerja Taman Satwa taru Jurug.

4) Mengkoordinasi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diadakan.

5) Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan.

d. Tugas seksi Pengembangan dan Perlindungan, antara lain :

1) Menyusun program pengembangan dan perlindungan flora dan fauna.

2) Melakukan analisis kebutuhan flora dan fauna.

3) Menyusun kebutuhan dan saran penunjang pengembangan dan perlindungan

flora dan fauna.

e. Tugas seksi Promosi dan Pendidikan, antara lain :

1) Memberikan pelayanan dan mempromosikan Taman satwa Taru Jurug.

2) Mengembangkan pembinaan dan pendidikan tentang flora dan fauna.

(51)

commit to user

f. Tugas seksi Pendapatan, antara lain :

1) Melaporkan pendapatan Taman satwa taru Jurug.

2) Membuat dan menyempurnakan daftar pendapatan.

3) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh tim pengelola sesuai dengan

bidangnya.

g. Tugas seksi Pertamanan dan Kebersihan, antara lain :

1) Bertanggung jawab menjaga dan mengawasi pertamanan dan kebersihan

Taman Satwa Taru Jurug.

2) Menyusun laporan perkembangan kondisi fisik Taman Satwa Taru Jurug.

h. Tugas seksi Perawatan, antara lain :

1) Mendata riwayat kondisi Flora dan fauna.

2) Bertanggung jawab dengan perawatan Taman Satwa taaru Jurug.

3) Menyusun laporan perkembangan kondisi fisik Taman Satwa Taru Jurug

bersama dengan seksi pertaamanan daan kebersihan.

4. Potensi Taman Satwa Taru Jurug

Taman Satwa Taru Jurug sebagai tempat wisata, konservasi dan pendidikan

mampu menarik banyak pengunjung, terutama pada hari minggu, libur nasional

maupun pada masa liburan sekolah. Taman tersebut dikunjungi wisatawan dari

berbagai kalangan yang berasal dari berbagai daerah terutama di sekitar Surakarta.

Daya tarik yang ditawarkan cukup menarik, tempatnya mudah dijangkau dan dekat

(52)

commit to user

a. Atraksi

Atraksi merupakan daya tarik yang mampu menarik perhatian wisatawan

untuk berkunjung ke suatu objek wisata dan merupakan pusat dari industri

pariwisata. Atraksi biasanya dimiliki oleh sektor non-profit yang tidak bertujuan

memaksimalkan keuntungan atau laba, tetapi orientasinya lebih ke arah sosial.

Oleh karenanya jarang dimiliki oleh sektor swasta (Spullane, 1994 : 63-64).

Atraksi yang ditawarkan oleh Taman Satwa Taru Jurug atara lain adalah koleksi

berbagai jenis satwa yang dimiliki, tanaman langka, pertunjukan kesenian dan

upacara adat.

b. Koleksi Satwa

Taman Satwa Taru Jurug mempunyai koleksi berbagai jenis satwa meliputi

mamalia, aves, primata, dan reptilia. Sebagai suatu lembaga konservasi, Taman

Satwa Taru Jurug telah berhasil menangkarkan beberapa jenis satwa antara lain

gajah, kanguru, onta dan harimau Sumatera. Upaya penambahan dan penangkaran

perlu ditingkatkan, terutama pada satwa yang jumlahnya sedikit terlebih yang

kurang dari 3 ekor untuk mejaga kemungkinan kepunahan jika terjadi kematian

satwa. Peningkatan jumlah satwa tersebut dilakukan dengan cara menangkarkan

suatu jenis satwa, saling tukar dengan kebun binatang lain atau menerima

sumbangan dari masyarakat.

c. Koleksi Tanaman Langka

Area Taman Satwa Taru Jurug pada mulanya merupakan hutan kota, taman

rekreasi tersebut mempunyai koleksi ratusan tanaman langka yang masih

(53)

commit to user

juga menambah suasana rindang dan menyejukkan. Upaya penggantian atau

penambahan tanaman dilakukan yaitu dengan penanaman kembali jenis-jenis

tanaman pada awal musim hujan. Kondisi koleksi tanaman setiap waktu dapat

berubah baik bertambah maupun berkurang.

d. Pertunjukan Kesenian

Dalam area Taman Satwa Taru Jurug terdapat Sanggar Gesang yang

merupakan tempat pertunjukan orkes keroncong. Tempat tersebut dibangun oleh

para penggemar Gesang yang berasal dari Negara Jepang karena lagu Bengawan

Solo sangat popular di negeri sakura tersebut.

e. Upacara Adat

Setiap satu tahun sekali diadakan Pekan Syawalan yang digelar pada awal

bulan Syawal yaitu tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Acara tersebut diakhiri

dengan Pesta Ketupat dan Larung Gethek Joko Tingkir yang rutenya melalui

Sungai Bengawan Solo.

Pekan Syawalan mampu menarik ratusan ribu pengunjung dari berbagai

daerah di wilayah Surakarta dan sekitarnya dan tidak menutup kemungkinan dari

daerah lain. Otomatis kenaikan jumlah pengunjung juga menaikkan jumlah

pendapatan bagi pihak Taman Satwa Taru jurug Surakarta.

Pekan Syawalan tersebut dimeriahkan denga adanya Pasar Rakyat yang

menggelar berbagai produk industri kerajinan, rumah tangga, otomatif, furniture,

bursa buku, elektronik dan lain sebagainya. Selain itu juga dimeriahkan dengan

berbagai pertunjukkan kesenian tradisional seperti campur sari, musik dangdut,

(54)

commit to user

jaran dor, barongsai, reog dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat mendukung

minat wisatawan untuk datang ke Taman Satwa Taru Jurug.

5. Sign System Taman Satwa Taru Jurug Saat Ini

Sign system yang ada di Taman Satwa Taru Jurug saat ini tampak sangat tidak

terawat, kotor bahkan sebagian besar sudah sulit dibaca. Pengunjung pun jadi malas

memperhatikan papan peringatan yang ada di sekitarnya. Desain sign system pun

sangat sederhana, hanya berupa plat dengan keterangan singkat yang diberikan baik

pada papan informasi, larangan maupun papan nama binatang. Papan nama yang baru

hanya diberikan kepada tanaman-tanaman yang belum lama ini ditanam sedangkan

sign system yang lama sama sekali tidak diperbaharui apalagi dibersihkan. Di

beberapa lokasi terdapat juga papan yang sudah bengkok bahkan ada yang patah, akan

tetapi keadaan tersebut tetap dibiarkan sehingga nampak kumuh dan mengurangi

keindahan Taman Satwa Taru Jurug.

(55)
(56)

commit to user

Gambar 3.1 Sign System Taman Satwa Taru Jurug

B. Komparasi

1. Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

a. Sejarah Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

Proses berdirinya Gembira Loka memakan waktu sampai 20 tahun. Sejak

tahun 1933 atas berkenan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII direncanakan

adanya tempat hiburan yang dinamakan Kebun Rojo yang selanjutnya diteruskan

oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pelaksanaan rencana Kebon Rojo itu, oleh

(57)

commit to user

Menurut pendapatnya tempat yang paling baik adalah disebelah barat Kali

Winongo, oleh karena itu lalu diadakan pembebasan tanah.

Rencana mendirikan Kebon Rojo tersebut belum sampai terwujud, Perang

Dunia II meletus dan Indonesia sebagai jajahan Belanda terseret akibat perang

tersebut dan selanjutnya diduduki oleh tentara Jepang. Selama pendudukan

Jepang tersebut rencana untuk mendirikan Kebon Rojo itu terlupakan sama sekali.

Tahun 1949, Pemerintah pusat merencanakan dan menyiapkan pemindahan

Ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta. Waktu itu timbullah gagasan dari para

Sekretaris Jenderal Kementerian yang akan pindah ke Jakarta berkehendak

memberikan suatu kenang-kenangan kepada masyarakat Yogyakarta suatu tempat

hiburan. Pelopor dari usaha itu adalah Sdr. Januismadi dan Sdr. Hadi, SH.

Walaupun usaha itu mendapat sambutan baik dari masyarakat Yogyakarta, tetapi

hasilnya belum dapat dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta.

Baru pada tahun 1953 rencana untuk mendirikan Kebon Rojo itu dapat

diwujudkan, yaitu dengan berdirinya Yayasan GEMBIRA LOKA Yogyakarta,

dengan Akte Notaris RM. Wiranto No.11 tanggal 10 September 1953, dan

diketuai oleh Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII. Yayasan inilah yang merintis

berdirinya Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka.

Mengenai lokasi penempatan Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira

Loka, atas beberapa tempat yang direncanakan Kohtler, ahli kebangsaan Austria

menasehatkan lokasi dipilih di komplek Warungboto.

Pengerjaan tanah yang pertama kali tahun 1955 di bawah pengawasan

(58)

commit to user

Tirtowinoto yang mempunyi minat besar untuk membantu perkembangan

Gembira Loka dengan mencurahkan pikiran dan tenaganya serta biaya yang tidak

sedikit, sehingga membawa Gembira Loka maju dengan baik. Sesuai dengan

bertambahnya umur, maka Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

menjadi dewasa dan pada tahun 1975 menyatakan mandiri.

b. Struktur dan Organisasi Tata Kerja

Struktur Organisasi & Tata Kerja

Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

(59)

commit to user

c. Jenis dan Kegiatan KRKB Gembira Loka

1) Kegiatan rutin

a) Atraksi binatang setiap hari minggu dan liburan

b) Gajah tunggang, kuda tunggang, onta tunggang setiap hari minggu dan

liburan

c) Lomba tembang Gembira Loka setiap perayaan Hari Ulang Tahun

KRKB Gembira Loka

2) Kegiatan tidak rutin

a) Beberapa jenis lomba antara lain cepat tepat, lomba lukis anak-anak

b) Panggung gembira

c) Pameran flora dan fauna

d) Bimbingan penelitian dan penulisan karya ilmiah

d. Potensi KRKB Gembira Loka

1) Fasilitas Objek

Terdiri dari koleksi flora dan fauna berbagai jenis. Koleksi tersebut diatur

sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Mulai

tahun 1994 dilengkapi dengan akuarium, terdiri dari 8 unit akuarium ikan hias

dan 12 unit akuarium ikan hias air laut.

2) Fasilitas dan Sarana Rekreasi

Untuk memberikan kesegaran kepada pengunjung, maka KRKB Gembira

Loka mempunyai beberapa sarana rekreasi, antara lain :

a) Taman Gua Sarpa

(60)

commit to user

c) Perahu dayung

d) Becak air

e) Taman anak-anak

f) Taman lalu lintas

g) Gajah tunggang

h) Kuda tunggang

i) Onta tunggang

3) Fasilitas Pelayanan

Pelayanan di berbagai pos pengunjung yang selalu dioptimalkan yaitu

pelayanan penjualan karcis masuk objek wisata dan sarana rekreasi, pelayanan

siaran, pelayanan informasi dan pendidikan, pelayanan keamanan dan

perlindungan, pelayanan keselamatan pengunjung.

4) Fasilitas Sarana Pengunjung

Beberapa sarana pengunjung terus diadakan pembenahan dan

penambahan-penambahan sarana pengunjung yang ada, antara lain :

a) Taman parkir

(61)

commit to user

e. Sign System KRKB Gembira Loka Saat Ini

Saat ini Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka telah memiliki sign

system yang cukup lengkap dan menarik apalagi masih baru dan terawat. Berikut

adalah beberapa contoh sign system yang ada di Kebun Raya dan Kebun Binatang

Gembira Loka :

Gambar 3.2 Sign system Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

Sign system yang masih baru dan tampak terawat tersebut sangat berpengaruh

(62)

commit to user

sign system tersebut memiliki desain yang cukup menarik dan mudah dipahami oleh

pengunjung.

Sign system yang berada di Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

berupa papan informasi, papan edukasi, papan petunjuk, papan larangan dan papan

nama binatang. Beberapa sign system tersebut juga turut digabungkan dengan aneka

macam gambar ilustrasi yang menarik dan mudah dipahami.

2. Taman Safari Indonesia

a. Sejarah Taman Safari Indonesia

Taman Safari Indonesia memiliki tujuan untuk menyelamatkan kehidupan

satwa liar di seluruh dunia dan merupakan kebun binatang yang paling terkenal di

Indonesia. Organisasi Taman Safari Indonesia merupakan tempat pariwisata dan

pusat dari satwa langka. Taman Safari Indonesia juga merupakan aset nasional di

bidang industri pariwisata.

Taman Safari Indonesia merupakan bentuk kelahiran ide dan obsesi dari

pecinta binatang yang bergabung dalam Oriental Circus Indonesia Group (OCI),

untuk membangun kebun binatang yang modern. Grup ini memiliki keinginan dan

pengetahuan tentang kehidupan binatang, mencoba untuk menemukan lokasi yang

ideal untuk tempat tinggal para binatang tersebut. Setelah melakukan survei di

beberapa lokasi, tidak lama kemudian akhirnya mereka menemukan lokasi yang

sangat sempurna di ladang teh yang sudah tidak produktif di desa Cibeureum.

Semua usaha yang telah tercapai tersebut menjadi ide untuk membuat benteng

terakhir bagi penyelamatan satwa liar endemik Indonesia pada khususnya dan

(63)

commit to user

mengundang konsultan-konsultan dari Jerman dan Amerika Serikat. Pada awal

pembangunan sekitar tahun 1981-1985, jumlah spesies binatang yang dimiliki

Taman Safari Indonesia masih sangat sedikit, sekitar 100 satwa dan pada awal

april 1986 Taman Safari Indonesia resmi dibuka untuk umum.

Setelah suksesnya Taman Safari Indonesia yang berada di desa Ciberium, kini

telah dibangun Taman Safari Indonesia-Prigen, yang terletak di

Prigen-Pasuruan-Jawa Timur, tepatnya di lereng Gunung Arjuna dengan pemandangan pegunungan

tropis, terbentang sebesar 400 ha dengan koleksi satwanya yang sangat

menakjubkan, lebih dari 1000 satwa liar dari 150 daerah di seluruh dunia, serta

terdapat satwa-satwa langka seperti Komodo Kragon, Bison Eropa, Beruang

Hitam Himalaya, Macan Putih, dan lain-lain.

Taman Safari Indonesia merupakan salah satu tempat wisata terbesar di Jawa

Timur, yang mampu menarik minat wisatawan nasional maupun wisatawan

internasional.

b. Visi dan Misi Taman Safari Indonesia

Taman safari Indonesia memiliki visi sebagai benteng terakhir bagi

penyelamatan satwa liar endemik Indonesia pada khususnya dan satwa langka

dunia pada umumnya. Taman Safari Indonesia berpedoman untuk menjadi

lembaga konservasi dan pusat penangkaran satwa langka, semuanya itu berasal

(64)

commit to user 1) Conservation (Konservasi)

Untuk menjaga dan melindungi sumber daya alam, menjadikan sebagai

benteng terakhir bagi penyelamatan satwa liar dan satwa langka di seluruh

Indonesia.

2) Education (Pendidikan)

Sebuah program pendidikan melalui sarana hiburan, dengan menampilkan

kehidupan binatang sesuai habitat aslinya, tanpa pagar pembatas, sehingga

pengunjung dapat semakin mengenal dan menyelami kehidupan satwa di

alam bebas.

3) Research (Penelitian)

Taman Safari Indonesia adalah laboratorium yang hidup bagi peneliti lokal

dan international, maupun setiap orang yang ingin mempelajarinya dari

segala sudut pandang ilmu pengetahuan.

4) Recreation (Rekreasi)

Taman Safari Indonesia memiliki pusat rekreasi untuk pengunjung sebagai

pendukung dari keberadaan Taman Safari itu sendiri, sehingga Taman Safari

Indonesia bukan saja sekedar kebun binatang, namun juga merupakan taman

hiburan dan taman rekreasi keluarga.

c. Fasilitas Taman Safari Indonesia

Taman Safari Indonesia memiliki empat tujuan utama yaitu konservasi,

pendidikan, penelitian dan rekreasi. Untuk mencapai semua tujuan tersebut

Taman Safari Indonesia menyediakan banyak fasilitas, mulai dari kawasan satwa,

Gambar

Gambar 3.3 Sign System Taman Safari Indonesia ………...……………………. 51
Tabel 2.1 Ukuran Simbol…………………………………………………….. 12
Tabel 2.2. Ukuran Tinggi Huruf
Gambar 3.1 Sign System Taman Satwa Taru Jurug
+3

Referensi

Dokumen terkait

4.10 Matrik Hasil Penelitian dimensi Transparansi pada Program Pembangunan dan Pengembangan Infrastruktur Perusahaan Daerah Taman Satwa Taru jurug

Making Media Promotions in English for Taman Satwa Taru Jurug Surakarta, English Diploma Program, Faculty of Cultural Sciences, Sebelas Maret University.. The objectives of

Prakoso, Victory, Implementasi Peraturan Walikota Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pembentukan Satuan Tugas Taman Satwa Taru Jurug dalam Usaha Mengembangkan Salah Satu

Making Promotion Media in English about Taman Satwa Taru Jurug, English Diploma Program, Faculty of Cultural Sciences, Sebelas Maret University. The objectives of this

Redesain Taman Satwa Taru Jurug di Surakarta Sebagai Sarana Edukasi dan Rekreasi Serta Konservasi Satwa : Proses membuat dan menciptakan obyek baru dari obyek yang

Kawasan Taman Satwa Taru Jurug akan diwujudkan menjadi taman wisata yang mendukung fungsi sebagai kawasan konservasi satwa, mendukung kegiatan edukasi, dan tempat

Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) berada pada kuadarn 1 yang berarti berada pada keadaan growth sehingga perusahaan harus mampu meraih peluang berdasarkan

BAB IV ANALISIS TAMAN SATWA TARU JURUG 4.1 Analisis Kondisi dan Lokasi Alam .... Kondisi alam dan