DENGAl\' SISTEM TPTI DI AREAL HPH PT. KlANI LESTARI
KALIMANTAN TIMUR
Oleh :
ROUP PUROBli\1 E 27.0932
.IURUSAN TEKNOLOGI BASIL HUTAN E·C\KULTAS KEHUTANAN
dengan Sistem silvikultur TPTI di Areal HPH PT. Kiani Les-tari, Kalimantan Timur. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Elias dan Ir. Andry Indrawan, MS.
RINGKASAN
Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), merupakan sistem silvikultur yang hingga sekarang masih digunakan dalam pengelolaan dan pengusahaan hutan di Indone-sia, khususnya di luar Jawa. Walaupun pemanenan kayu dapat mengakibatkan kerusakan tegakan tinggal, pemanenan kayu dengan sistem silvikultur TPTI diharapkan dapat menjamin kelestarian hutan. Elias (1993), menyebutkan bahwa kerusa-kan akibat pemanenan kayu dengan sistem silvikultur TPTI adalah kerusakan yang terjadi pada bagian tegakan yang sebenarnya tidak termasuk dalam rencana untuk dipanen ha-silnya pada waktu pemanenan tersebut. Kerusakan dapat berupa pohon roboh, at au pohon masih berdiri tetapi bagian batang, banir at au tajuk rusak dan diperkirakan tidak dapat tumbuh normal.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkem-bangan struktur dan komposisi jenis tegakan tinggal serta riap diameter tegakan akibat pemenenan kayu dengan sistem ".,,-.--'" silvikultur TPTI.
Penelitian ini dilaksanakan di areal HPH PT. Kiani Lestari, Kalimantan Timur, mulai bulan September sampai November 1994. Pengamatan dilakukan pada 8 (delapan) plot
dan datar (plot lA, IB, IC), 1 plot eontoh Et+6 (plot II), 1 plot eontoh Et+ll (plot III), 1 plot eontoh Et+14 (plot IV) dan 1 plot eontoh Et+18 (plot V) serta 1 plot eontoh hutan pr imer (plot VI) yang digunakan sebagai pembanding. Luas masing-masing plot I hektar (100 m x 100 m).
Data yang dikumpulkan terdiri : potensi tegakan, nata-litas dan mortanata-litas semai serta mortanata-litas pohon, riap dia-meter tahun berjalan, anal isis vegetasi serta perkembangan keterbukaan areal satu tahun setelah pemanenan kayu.
Hasil p9ngamatan pad a masing-masing plot eontoh peneli-tian terhadap jumlah spesies yang ditemukan berturut-turut pada plot eontoh lA, IB, IC, I I, I I I, IV dan V adalah 73, 67, 74, 82, 81, 78 dan 74 spesies sedangkan pada plot eontoh VI diketemukan 78 spesies.
Seeara umum potensi tegakan meningkat dengan bert
am-bahnya umur tegakan tinggal dan selama satu tahun pengukur-an. Riap volume rata-rata tegakan yang berdiameter 10 em ke atas untuk semua plot eontoh sebesar 8,877 m3 .
Ketersediaan pohon inti at au penggantinya yaitu permu-daan tingkat semai, paneang dan tiang dari masing-masing plot eontoh dinilai memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam pedoman TPTI.
Riap diameter tahun berjalan rata-rata dari tegakan tinggal dan hutan primer berkisar antara 0.40 em - 0.82 em.
lebih besar dari plot contoh lainnya. Natalitas semai yang tinggi terjadi karena semai jenis pionir banyak tumbuh di areal terbuka bekas pemanenan kayu tahun sebelumnya.
Hasil anal isis vegetasi menunjukkan bahwa terjadinya pergantian jenis yang dominan pada semua tingkat pertumbuhan dan terjadi perubahan komposisi spesies selama perkembangan tegakan tinggal.
Hasil perhitungan indeks keanekaragaman (H) menujukkan bahwa secara keseluruhan tidak terjadi perubahan keanekara-gaman jenis akibat kegiatan pemanenan kayu dan terjadi kecenderungan meningkatnya nilai H sesuai dengan pertambahan umur tegakan tinggal.
Bentuk pemusatan jenis pada tingkat tiang, untuk semua plot conto:1, lebih terpusat pada beberapa spesies saja, yaitu pada spesies yang dominan terutama pada plot contoh lA, IB, IV dan VI. Spesies tersebut berturut-turut untuk plot contoh lA, IB, IV dan VI adalah Hevea sp. (INP = 91.69%), Markeladi (INP
=
17.68%), Marjelawat (INP=
42.11%), Mersuit (INP = 59.90%) dan Shorea leavifolia (INP 61. 65%).Perbandingan kesamaan komunitas antara tegakan tinggal dengan hutan primer, pada plot contoh III relatif mendekati kesamaan dengan komunitas hutan primer. Sedangkan perban-dingan plot contoh yang lain pada umumnya masih menunjukkan kondisi straKtur dan komposisi jenis masih berbeda (IS 1ebih
Struktur tegakan terdiri dari tiga strata untuk semua plot contoh, yaitu strata A, B dan C, kecuali untuk plot contoh IV (Et+14) tidak dijumpai strata B. Strata A diisi oleh ウー・ウゥ・セ@ dari famili Dipterocarpaeeae, Lauraeeae dan Myrtaceae.
Tabel 1. Komposisi Penutupan Tajuk (%).
Strata A B e IA 3.70 7.41 88.86 IB 3.45 13.79 82.76 Ie 3.33 20.00 76.66
Plot eontoh
I I 15.00 22.50 62.50 III 5.77 21.15 73.08 IV 2.38 97.62 V 9.68 24.19 66.13 VI 13.33 22.22 64.44
Tabel 1. menunjukkan bahwa strata C menguasai sebagian besar jalur stratifikasi. Nilai penutupan strata C eender-ung menurun iengan bertambahnya umur tegakan tinggal, tetapi sebaliknya untuk strata A. Dengan demikian dapat diartikan bahwa penambahan umur tegakan tinggal terjadi perbaikan struktur tegakan.
Pada plot contoh satu tahun setelah pemanenan kayu terjadi perubahan luas keterbukaan areal. Penutupan areal oleh vegetasi pionir terjadi pada tempat-tempat yang terbu-kat sebagian besar terjadi pada areal bekas
DAN RiAI' DIAMETER POBON SETELAB PEMANENAN KAYU DENG ·\N SISTEM TPTI DI AREAL HPH PT. KIANI LESTARI
KALIMANTAN TIMUR
Oleh:
ROUP PUROHIM
E. 27 0932
S K RIP S I
Sebagai Salah satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan
Pada
FaKultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL BUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
NAN KAYU DENGAN SISTEM SILVIKULTUR TPTI
DI AREAL HPH PT. KIANI LESTARI KALIMANTAN
TIMUR
ROUP PUROHIM
E 27.0932
Disetujui oleh : Ketua Komisi Pembimbing
Tanggal : _ _ _ _ _
Anggota Komisi pembimbing
Halaman
KATA PENGANTAR . . . i
DAFTAR, lSI . . . iii
DAFTAR TABEL . . . v
DAFTAR GAMBAR . . . vii i DAFTAR LAMP I RAN . . . x
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang . . . 1
B. Tujuan... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Karateristik Hutan Hujan Tropika Basah ... 4
B. Tebang Pilih Indonesia dan Tebang pilih Tanam Indonesia . . . 6
C. Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu . . . 9
1. Tipe Kerusakan . . . 10
2. Tingkat Kerusakan . . . 10
3. Keterbukaan Tanah akibat Penebangan dan Penyaradan . . . 11
4. Penurunan Keragaman Jenis . . . 13
D. Struktur dan Komposisi Hutan Tropika Basah . . . 14
E. Riap Hutan Tropika Basah . . . 16
III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Areal . . . 19
B. Konfigurasi Lapangan Tanah dan Iklim . . . 20
1. Topografi... 20
2. Geolog i dan Tanah . . . 21
3. Iklim . . . 21
C. KEADAAN HUTAN . . . 23
D. SEJARAH PENGUSAHAAN HUTAN . . . 25
E. SISTIM PEMANENAN KAYU . . . 27
1. Penebangan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27
2. Pembagian batang . . . 28
3. Penyaradan... . . . . . . . . . . . . . . . . . 28
4. Pemuatan di TPn . . . '. . . . . . 28
5. Pengangkutan. . . . . . . . . . . . . . . . . . 29
6. Pembongkaran di Log Yard . . . 29
7. Pengupasan di Log Yard . . . 29
IV. METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian . . . 31
B. Obyek dan Alat Penelitian . . . 31
2.2. Data Pohon-pohon Mati . . . 34
2.3. Keterbukaan Areal/Tanah . . . 34
2.4. Analisis Vegetasi . . . 36
2.5. Stratifikasi Tajuk . . . 37
D. ANALISIS DATA . . . 38
1. Potensi Tegakan . . . 38
2. Riap Diameter Tahunan Berjalan . . . 38
3. Riap Diameter Tahunan Rata-rata . . . 39
4. Keterbukaan Areal/Tanah . . . 40
5. Analisis Vegetasi . . . 40
6. Stratifikasi Tajuk . . . 43
7. Penutupan Tajuk Atas Lantai Hutan .... 44
8. 'Natalitas dan Mortalitas . . . 44
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pot ens i Tegakan . . . 45
B. Riap Diameter . . . 51
C. Natalitas dan Mortalitas Semai serta Mortalitas Pohon . . . 54
D. Komposisi dan Struktur . . . 59
1. Komposisi... . . . . . . . . .. 59
2. Frekuensi (F) . . . 69
3. Dominansi... . . . . . . . . . . . . 79
4. Indeks Kesamaan Komunitas (IS) . . . 94
5. Diversitas (Keragaman) . . . 97
6. Stratifikasi . . . 100
E. Keterbukaan Tanah 124 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . . . 127
B. Saran . . . 129
DAFTAR PUSTAKA . . . 13 a LAMPIRAN . . . 133
Nomor
1. Jumlah Pohon Inti yang Harus Ditinggalkan dan Batas Diameter Boleh Tebang
Halaman
Sesuai Ketentuan TPI 1972 . . . 7 2. Syarat-syarat Pelaksanaan TPTI ... 8 3. Perbandingan dari Tegakan Tinggal
Setelah Tebang Pilih dengan Menggunakan
Traktor dan Kabel... 9 4. Tipe-tipe Kerusakan Pohon Akibat Pemanenan
Kayu . . . 11 5. Keterbukaan Areal/Tanah Akibat Penebangan
dan Penyaradan . . . 12 6. Perubahan Struktur dan Komposisi Hutan
karena Pemanenan Kayu di Lempake . . . 14 7. Riap Diameter Pohon di Hutan Hutan Produksi
dan Hutan Bekas Tebangan di Kalimantan Timur 17 8. Rata-rata Pertambahan Diameter Pohon
di Hutan Alam dan Hutan Bekas Tebangan
di Kalimantan Timur . . . 18 9. Respon Perlakuan 'rSI dan Tidak Dilakukan TSI
pada Plot Bekas Tebangan di Areal HPH Picop,
Mindanao, piliphina . . . 18 10. Komposisi Kelas Lereng HPH PT. Kiani Lestari 20 11. Curah Hujan Tahunan di Daerah Kelompok
Hutan Jele - Beliwit . . . 22 12. Jumlah Hari Hujan Tahunan di Daerah Kelompok
Hutan Jele - Beliwit . . . 22 13. Keadaan Hutan di Areal HPH PT. Kiani Lestari
Setelah Tahap Jangka Waktu Pengusahaan
Hutan I (1970/1971 -1990/1991) . . . 23 14. Kerapatan dan Volume Pohon Perhektar
Berdasarkan Kelas Diameter di
Areal HPH PT. Kiani Lestari . . . 24
16. Reneana dan Realisasi Luas dan Produksi
Tebangan HPH PT. Kiani Lestari . . . 26 17. Potensi Tegakan Masing-masing Plot Contoh
yang Berdiameter 10 em ke atas . . . .
18. Potensi Masing-masing Plot Contoh
yang Berdiameter 20 em ke atas . . . .
19. Jumlah Tingkat Semai, Paneang dan Tiang pada Plot Contoh Penelitian . . . .
20. Riap Diameter Berdasarkan Kelas Diameter . . . .
21. Natalitas dan Mortalitas semai . . . .
22. Mortalitas Pohon dan Tiang . . . .
23. Jumlah ウー・ウゥセウNケ。ョァ@ Ditemukan pada Plot
Contoh Penelltlan . . . . 24. Jumlah Individu Pohon dan Tiang yang
Diketemukan pada Plot Contoh . . . .
25. Beberapa Spesies yang Memiliki Nilai
Frekuensi Tinggi . . . .
26. Beberapa Spesies yang Memiliki INP Tinggi pada Plot Permanen IA (Et+l, RKT 1993/1994) 27. Beberapa Spesies yang Memiliki INP Tinggi
pada Plot Permanen IB (Et+l, RKT 1993/1994) 28. Beberapa Spesies yang Memiliki INP Tinggi pada Plot Permanen Ie (Et+l, RKT 1993/1994) 29. Beberapa Spesies yang Memiliki INP Tinggi
pada Plot Permanen II (Et+6, RKT 1988/1989) 30. Beberapa spesies yang Memiliki INP Tinggi
pada Plot Permanen III (Et+ll, RKT 1983/1984) 31. Beberapa Spesies yang Memiliki INP Tinggi
pada Plot Permanen IV (Et+14, RKT 1980/1981) 32. Beberapa Spesies yang Memiliki INP Tinggi
pada Plot Permanen V (Et+18, RKT 1976/1977)
34. Indeks Kesamaan Komunitas (IS) Antara Dua
Tegakan yang Dibandingkan (%) . . . 95
35. Indeks Keanekaragaman . . . 97
36. Indeks Dominansi (C) . . . 99 37. Komposisi Penutupan Tajuk dari Plot Contoh . . . . 105
38. Luas Penutupan Tajuk (m2 ) 106
39. Persen Luas Areal yang Masih Terbuka
pada Plot Contoh lA, IB dan IC . . . 124 40. Persen Luas Keterbukaan Tanah pada
Plot Contoh II, III, IV dan V . . . 126
Nomor Halaman
1. Desain Plot Permanen 38
2. Skema Pengukuran Keterbukaan Tanah Akibat
Penebangan Pohon . . . . . . 41
3. Skema Pengukuran Keterbukaan Tanah Akibat
Penyaradan . . . 41 4. Subpetak-Subpetak untuk Penelitian Tingkat
Pohon, Tiang, Pancang dan Semai ... . . 42
5. Grafik Peningkatan Potensi Tegakan 55
6. Diagram peningkatan Potensi Tegakan 55
7. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pada Plot Contoh IA . . . 61
8. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pada Plot Contoh IE . . . 61
9. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pad a Plot Contoh IC . . . 62
10. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pada Plot Contoh II . . . 62
11. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pada Plot Contoh III . . . 64
12. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pad a Plot Contoh I V . . . . . . 64
13. Grafik Hubungan Antara Jumlah Pohon dengan
Kelas Diameter pada Plot Contoh V . . . 65
14. Grafik Hubungan Antara Jum1ah Pohon dengan
Kelas Diameter pada Plot Contoh V I . . . 65
15. stratifikasi Tajuk pada Plot Contoh IA (Et+1, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan
Skala 1 : 400 . . . 108
PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan
Skala 1 : 400 . . . 110 17. Stratifikasi Tajuk pada Plot Permanen Ie
(Et+1, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan
Skala 1 : 400 . . . 112 18. Stratifikasi Tajuk pad a Plot Pemanenen II
(Et+6, RKT 1988/1989) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan Skala
1 : 400 . . . 114 19. stratifikasi Tajuk pada Plot Perman en III
(Et+ll, RKT 1983/1984) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan Skala
1 :400 . . . 116 20. Stratifikasi Tajuk pada Plot Perman en IV
(Et+14, RKT 1980/1981) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan Skala
1 : 400 . . . 118 21. Stratifikasi Tajuk pada Plot Permanen V
(Et+18, RKT 1976/1977) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) dengan Skala
1 : 400 . . . 120
22. Stratifikasi Tajuk pada Plot Permanen VI
(Hutan primer) di Areal HPH PT. Kiani Lestari
(Kal-Tim) dengan Skala 1 : 400 . . . . ... 122
Nomor Halaman 1. Peta Stuasi Areal Kerja HPH PT. Kiani Lestari .. 134 2a. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang serta
Keter-bukaan Areal pada plot Contoh IA (Et+l, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari
(Kal-Tim) . . . 135 2b. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang serta Keter-'
bukaan Areal pada Plot Contoh IB (Et+l, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari
(Kal-Tim) . . . ' . . . 138 2c. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang serta
Keter-bukaan Areal pada plot Contoh IC (Et+l, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari
(Kal-Tim) . . . 141 2d. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang pada Plot
Cor.toh II (Et+6, RKT 1988/1989) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) . . . 144 2e. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang pada Plot
Contoh III (Et+ll, RKT 1983/1984) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) . . . 147 2f. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang pada Plot
Contoh IV (Et+14, RKT 1980/1981) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) . . . 150 2g. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang pada Plot
Contoh V (Et+lB, RKT 1976/1977) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) . . . 154 2h. Peta Kedudukan Pohon dan Tiang pada Plot
Contoh VI (Hutan Primer, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari (Kal-Tim) . . . 158
3a. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pada Plot Contoh IA (Et+1, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani
Lestari . . . 161 3b. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pada Plot Contoh
IB (Et+l, RKT 1993/1994) di Areal HPH PT. Kiani Lestari . . . 163
Lestari . . . 165 3d. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pad a Plot Contoh
II (Et+6, RKT 1988/1989) di Areal HPH PT. Kiani
Lestari . . . 167 3e. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pada Plot Contoh
III (Et+11, RKT 1983/1984) di Areal HPH PT. Kianj Lestari . . . 169 3f. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pada plot Contoh
IV (Et+14, RKT 1980/1981) di Areal HPH PT. Kiani Lestari . . . 171 3g. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pada Plot Contoh
V (Et+18, RKT 1976/1977) di Areal HPH PT. Kiani
Lestari . . . 173 3h. Pohon dan Tiang yang Ditemukan pada Plot Contoh
VI (Hutan Primer, RKT 1993/1994) di Areal HPH
PT. Kiani Lestari . . . 175 4. Daftar Pohon/Tiang yang l1ati Tiap Plot Contoh .. 177
A. LATAR BELAKANG
Kawasan hutan Indonesia mencakup areal seluas 141 juta hektar atau sekitar 2/3 luas wilayah daratan Indonesia, merupakan aset negara yang harus dimanfaat-kan sebagai modal dasar pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari segi luas, Indonesia merupakan negara dengan hutan tropis terluas nomor tiga setelah Brazi dan コ。ゥイセN@
Sistem silviku1tur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) merupakan sistem silvikultur yang hingga sekar-ang masih digunakan dalam pengusahaan hutan dan penge-lolaan hutan alam tropika basah di Indonesia, khu-susnya di luar Jawa. Menurut Elias (1993), walaupun sistem TPI/TPTI sudah dilaksanakan selama kurang lebih 24 tahun, akan tetapi data/informasi mengenai keberha-silannya masih langka, sehingga banyak pakar kehutanan masih ragu terhadap ketangguhan sistem tersebut dalam menjamin kelestarian hutan alam produksi di Indonesia. Kegiatan pemanenan hasil hutan merupakan kegiatan dalam rangka pemanfaatan hasi1 hutan, terutama kayu. Kegiatan pemanenan kayu yang dilaksanakan dengan sistem TPTI tersebut, diharapkan dapat menjamin
kehutanan mulai dari industri hulu sampai industri hilir.
Untuk dapat melestarikan hutan tersebut, maka perlu memperhatikan cara-cara pemanenan kayu yang dapat menekan kerusakan akibat pemanenan kayu terse-but. Karena setiap kegiatan pemanenan kayu dapat mengakibatkan kerusakan tegakaan tinggal. Walaupun pemanenan kayu itu dilaksanakan dengan hati-hati, kerusakan tegakan tinggal tersebut sulit dihindarkan.
Menurut Elias (1993), kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu dengan sistem TPTI adalah keru-sakan yang terjadi pada bagian tegakan yang sebenarnya tidak termasuk dalam rene ana untuk dipanen hasilnya pada waktu pemanenan tersebut. Kerusakan tegakan tersebut dapat berupa pohon roboh, atau pohon masih berdiri tetapi bagian batang, banir, at au tajuk rusak dan diperkirakan tidak dapat tumbuh normal.
Selain itu informasi penting yang perlu diketahui dalam pengelolaan hutan adalah perkembangan pertumbu-han (riap) dari tegakan tinggal tersebut, karena riap tegakan merupakan data dasar yang diperlukan dalam rangka menjamin kelestarian hutan.
berbeda-beda termasuk penambahan riap diameternya, maka anggapan mengenai penambahan riap diameter rata-rata sebesar 1 cm/tahun masih perlu dikaji dan dibuk-tikan kebenarannya.
B. TUJUAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini ingin diketahui :
1. Perkembangan struktur dan komposisi jenis pada tegakan tinggal serta keadaan perkembangan permu-daannya pad a areal bekas tebangan di areal HPH PT. Kiani Lestari.
A. KARAKTERISTIK HUTAN TROPIKA BASAH
Richards (1964), Ashton (1965 ) dan Whitmore
(1975) dalam Bratawinata (1991), mengatakan bahwa
hutan tropika basah mempunyai sifat selalu hijau, tinggi pohonJtegakan paling rendah 30 meter atau lebih, banyak liana-liana yang berbatang tebal dan berkayu maupun yang bersifat herba. Salah satu sifat yang menonjol adalah mayoritas dari tumbuhannya berkayu dan berukuran pohon. Tidak hanya pohon-pohon yang mendominasi komunitas hutan hujan tropika basah, tetapi juga tumbuhan yang memanjat dan sebagian epifit yang berkayu. Gambaran dari wujud pohon-pohon di hutan primer, adalah adanya bentukan dari batang-batang pohon yang umumnya lurus, bentuk batang-batang bundar kadang-kadang pipih, keadaan percabangan dari lapisan pohon bag ian atas umumnya membentuk sudut yang lebar mendekati 900 antara cabang dan batang pohon. Strata tajuk bagian bawah pada umumnya membentuk tajuk yang lonjong kadang-kadang berbentuk kerucutJpiramid.
berbu-kit (::; 1000 m dpl) dan pada tanah tinggi (sampai dengan 4000 m dpl), dapat dibedakan menjadi 3 zone menu rut ketinggian yaitu hutan hujan bawah (2-1000 m dpl), hutan hujan tengah (1000-3000 m dpl) dan hujan tengah atas (3000-4000 m dpl).
Selanjutnya Richards (1964),
hutan hujan tropika basah bisa
menjelaskan bahwa digolongkan sebagai hutan klimaks (Homeo statis) , walaupun secara kenya-taannya masih terjadi pergantian-pergantian komposisi secara alam (Cyberatic) sehingga tegakan bisa memper-tahankan kondisinya sesuai dengan faktor habitatnya.
Kartawinata (1975), menerangkan arti keseimbangan biologis adalah bahwa hutan alam bersifat stabil, perubahan ada tetapi terjadi di dalam hutan itu sen-diri. Salah satu contohnya adalah perubahan-perubahan dengan terjadinya tempat-tempat terbuka akibat pohon-pohon tua yang telah roboh sehingga mengakibatkan terjadinya rumpang (gap), selanjutnya akan memberikan kesempatan masuknya sinar matahari sampai ke lantai hutan, sehingga merangsang pertumbuhan anakan. Pohon-pohon muda yang selama ini tertekan akan ada kesempa-tan berkembang dengan baik. Tempat-tempat terbuka yang terjadi karena alam hanya mencakup areal yang tidak terlalu luas dan hal ini dikategorikan sebagai bag ian dari proses dinamika hutan alam tropika basah
Menurut Richard HセYVTIL@ hutan di Indonesia seba-gian besar merupakan hut an hujan dataran rendah yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae sehingga sering disebut sebagai hut an dataran rendah Diptero-carpaceae.
B. TEBANG PILIH INDONESIA (TPI) DAN TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTI)
sistem sil vikul tur untuk pengusahaan hutan pro-duksi di Indonesia dijabarkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 35/Kpts/DD/I/1972 tentang Pedoman Tebang Pi1ih Indonesia, Tebang Habis dengan Penanaman, Tebang Habis dengan Permudaan Alam dan Pedoman-pedoman pengawasannya.
Dalam lampiran SK Direktur Jenderel Kehutanan Nomor 35/1972 di atas, dinyatakan bahwa sistem Tebang Pilih Indonesia (TPI) adalah sistem silvikiultur meliputi car a penebangan dan permudaan hut an , yang merupakan perpaduan antara sistem-sistem Tebang pilih dengan batas minimum diameter Indonesia, Tebang pilih Filipina, Penyempurnaan hutan dengan pengayaan
tinggalkan dan Batas Diameter
Boleh Ditebang Sesuai Ketentuan TPI 1972
Batas diameter Rotasi
yang ditebang (cm) (th)
50 35
40 45
30 55
Jumlah pohon inti yang ditinggalkan
(batang)
25 25 40
Sumber Vademacum Kehutanan, 1976
Diameter pohon inti
(cm)
" 35
2: 35
セ@ 20
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 485/Kpts-II/1989 tentang sistem silvikutur di Indonesia, dise-butkan bahwa pengelolaan hutan produksi di Indonesia dapat dilakukan dengan sistem silvikultur Tebang pilih Tanam Indonesian (TPTI), Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA) dan Tebang Habis dengan Permu-daan Buatan (THPB) (Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan, 1990).
Tebang pilih Tanam Indonesia (TPTI) adalah suatu sistem silvikultur yang mengatur cara penebangan dan permudaan hutan. Sistem ini merupakan sistem yang dinilai sesuai untuk diterapakan di hutan alam produk-si di Indoneproduk-sia, kecuali hutan payau. Persyaratan dalam melaksanakan pedoman TPTI, seperti pada Tabel 2.
a. Penataan Arel Kerja (Et-3),
b. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (Et-2) c. Pembukaan wilayah Hutan (Et-l),
d. Penebangan (Et), e. Perapihan (Et+l),
f. Inventarisasi Tegakan'Tinggal (Et+2), g. Pembebasan Tahap Pertama (Et+2),
h. Pengadaan Bibit (Et+2),
i. Pengayaan/Rehabilitasi (Et+3),
j. Pemeliharaan Tanaman Pengayaan/Rehabilitasi (Et+3), (Et+4) dan (Et+5),
k. Pembebasan Tahap Kedua dan Ketiga (Et+4) dan (Et+6),
i. Penjarangan Tegakan Tinggal
dan (Et+20). (Et+10) ,
Tabel 2. syarat-Syarat Pelaksanaan TPTI
(Et+1S)
No. Batas diameter Rotasi tebang Jumlah pohon Diameter
tebang (em) (tahun) Inti (btgjha) ph. inti (em)
1- Hutan a1am campuran
50 35
"
25 KD 20-49 ?+ KTD
"
50 02. Hutan ramin 1)
35 35
"
25"
153. Hutan eboni 2 )
35 45
"
25"
15Sumber: Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan, 1990
Keterangan :
1). Hutan rawa, bila diameter 50 em up tidak cukup
2). Hutan yang memiliki pertumbuhan lambat, dan sulit ditemukan diameter 50 em up.
KD Komersial Ditebang
SISTEM TPTI
Tegakan tinggal adalah tegakan hutan yang sudah ditebang pilih dan menjadi modal pengusahaan hutan berikutnya yang terdiri dari pohon-pohon binaan dan pohon pendamping (Departemen Kehutanan, 1993).
weidelt (1982), memberikan data keadaan tegakan hutan setelah pemanenan kayu dengan menggunakan trak-tor dan kabel di daerah Mindanao, Philipina.
Tabel 3.
Jenis Pohon
Semua jenis Dipt.
Non Dipt.
Perbandingan dari Tegakan Setelah Tebang pilih dengan nakan Traktor dan Kabel.
Tinggal
Menggu-Tegakan Tinggal (% )
Traktor Kabel
Rusak Tdk Rusak Rusak Tdk Rusak
54.4 45.5 56.7 43.3
68.8 35.2 55.5 44.5
46.7 53.8 58.1 41.9
Sumber : Weidelt and Banaag, 1982.
Wiradinata et al. (1985), menyatakan bahwa fak-tor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kerusakan tegakan tinggal adalah pohon rebah, traktor penyarad dan batang yang disarad. Pengaruh tersebut akan semakin diperbesar apabila kerapatan tegakan tinggi, frekuensi rendah, penentuan arah rebah tidak teratur dan topografi bervariasi. Sedangkan Yanuar (1992),
besarnya kerusakan tegakan tinggal adalah kerapatan tegakan yang tinggi, perebahan yang tidak terarah dan kedudukan pohon tebangan dalam tegakan.
Selanjutnya Yanuar (1992), menyebutkan bahwa kerusakan tegakan tinggal tidak terjadi pada semua kelas diameter. Kerusakan cenderung dialami oleh pohon berdiameter keci 1.
dalam tahap penebangan
Kerusakan terbesar timbul kerusakan pohon kayu. Tipe
terberat yang juga mengurangi jumlah pohon dari dalam tegakan adalah pohon patah dan pohon roboh.
1. Tipe Kerusakan
Menurut hasil penelitian Elias, et al. (1993) di areal HPH PT. Narkata Rimba, Kalimantan Timur, tipe kerusakan pohon akibat penebangan adalah : rusak tajuk (9.45%), patah batang (23.08%), Roboh (19.23%), luka batang/kulit dan pecah batang (8.24%). Sedangkan tipe kerusakan pohon akibat penyaradan adalah roboh (88.32%), condong (4.47%), luka batang/kulit, rusak tajuk, banir, patah batang (2.74%).
Elias (1993), membandingkan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan hasilnya tidak jauh berbeda, seperti pada Tabel 4.
2. Tingkat Kerusakan Bila dilihat dari pohon, maka tingkat
besarnya kerusakan
luka tiap pohon-pohon
individu
tinggal akibat pemanenan kayu adalah sebagai berikut (Elias et. al., 1993) kerusakan berat (82.13%),
kerusakan sedang (13.29%) dan keruskan ringan (4.58%). Dari pohon-pohon yang rusak tersebut, yang masih tinggal atau hidup dalam tegakan tinggal hanya 6.00% dari jumlah populasi tegakan tinggal.
Tabel 4. Tipe-tipe Kerusakan Pohon Akibat Pemanenan Kayu
Peneliti Lokasi Tipe Kerusakan
Penelitian Roboh/ Rusak Rusak Rusak Jum1ah patah tajuk kulit Banir (% )
(% ) (% ) (% ) (% )
1. Tinal dan Bilore, 28.60 5.90 1. 70 36.40
Panelewen KalTim
1974
2. Muhandis Beraur 19.60 3.20 0.10 0.20 23.00
1976 KalTim
3. Fernandus P. Buru 27.53 7.87 2.40 2.94 40.71
1978
4. Yanuar Ketapang, 14.19 2.42 1.12 17.73
1992 Ka1Bar
5. Elias Muara 16.91 4.08 0.77 0.20 21.96
et al. wahau
1993
Sumber : Elias, 1993.
3. Keterbukaan Tanah Akibat Penebangan dan Penyaradan Keterbukaan tanah adalah terbukanya permukaan tanah karena terkupasnya lapisan serasah yang menutu-pinya, karena terdongkel pohon-pohon yang ditebang dan yang roboh, terkikis dan tergusur oleh traktor sewaktu penyaradan, pembuatan jalan angkutan dan pembuatan TPn
Menurut Elias et. al. (1993) , keterbukaan areal/tanah akibat penebangan dan penyaradan persatuan luas sangat tergantung dari intensitas penebangan. Makin tinggi intensitas penebangan, makin luas juga keterbukaan areal/tanah, seperti pada Tabel 5.
Tabel 5. Keterbukaan Areal/Tanah
Akibat Penebangan dan Penyaradan
Plot Intensitas Luas keterbukaan Tanah (m2) Akibat Penebangan
(batang/ha) Penebangan Penyaradan Total
I 6 808 2 008 2 816
I I 16 2 512 2 324 4 856
III 2 92 596 688
Sumber Elias, 1993
Hasil penelitian Elias et. al. (1993), menunjukkan bahwa rata-rata keterbukaan areal/tanah akibat pemane-nan kayu di dalam plot permanen di areal HPH PT. Narkata Rimba, Kalimantan Timur adalah sebesar 2 780
per hektar atau 27.80%. Luas keterbukaan areal/tanah tersebut hampir sama dengan hasil peneli-tian Yanuar (1993) di areal HPH PT. Kayu Pesaguan, Kalimantan Barat, yang menunjukkan luas keterbukaan areal/tanah berkisar antara 15-30% sebagai akibat dari penebangan dan penyaradan 5-11 pohon per hektar. Tetapi lebih kecil dari hasil penelitian Abdullah et.
hektar dan hasil penelitian Butarbutar (1991) di areal HPH PT. Austral Byna Kalimantan Timur, sebesar 32.02% keterbukaan tanah/ areal akibat pemanenan 9 pohon per hektar.
Berdasarkan data di atas, Elias (1993), menarik kesimpulan bahwa ada kecenderungan menu- runnya keru-sakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu dengan sistem TPI/TPTI sesuai dengan perjalanan waktu, perk-embangan teknologi, pengalaman dan pengetahuan para pengelola hutan.
4. Penurunan Keragaman Jenis
Menurut Kartawinata (1982), pemanenan kayu di Indonesia akan menyebabkan degradasi sumberdaya gene-tik, yaitu kehilangan jenis dan erosi genetik. Selan-jutnya disebutkan bahwa mengingat hutan hujan tropik khususnya hutan Dipterocarpaceae itu sangat heterogen dan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi (yaitu setiap unit luas, setiap jenis yang ada mempunyai jumlah individu yang sedikit), kehilangan jenis dari hutan alam akan sebanding dengan jumlah pohon yang ditebang dan yang rusak parah sebagai akibat pemanenan kayu.
Tabel 6. Perubahan Strukur dan Komposisi
Hutan karena Pemanenan Kayu di Lempake.
Struktur dan Hutan yang
Komposisi belum dipanen
Hutan yang sudah dipanen
- Jumlah pohon/ha 445 - Luas Bidang Dasar,m3/ha 35.98 - Jumlah Jenis pohon/ha
- Dipterocarpa 12
- Non dipterocarpa 197
- Jum1ah fami1i tumbuhan 43
Sumber : Abdulhadi et. ai., 1981
259 16.75
7
152 41
Suratmo (1992), menyebutkan bahwa penebangan hutan alam dengan sistem TPTI jelas akan menurunkan kelimpa-han dan keragaman jenis di dalam hutan sampai dalam perubahan struktur dan bentuk komunitas flora-flora dan berakhir pada gangguan ekosistem. Makin besar perubahan yang akan terjadi akan mampu mengi1angk<'1D spesies atau genetik baik yang dikena1 maupun yang belum dikena1. Makin intensif penebangan, misalnya makin kecil diameter yang ditebang, makin besar jumlah
jenis yang hilang berarti tidak menguntungkan pada kelestarian dari jumlah jenis flora dan fauna di hutan alamo
D. STRUKTUR DAN KOMPOSISI HUTAN TROPIKA BASAH
jumlah pohon persatuan luas (hektar) dalam berbagai kelas diameternya. Richard (1964), menggunakan isti-lah struktur hutan sebagai sebaran individu tumbuhan dalam lapisan tajuk. sedangkan istilah komposisi digunakan untuk menyatakan keberadaan jenis-jenis pohon dalam hutan.
Unesco (1978) dalam Suhendang (1985), menunjukkan hasil peneli tian pada hutan hujan tropika di daerah Imataca (Venezuela Guyana) menunjukkan bahwa struktur tegakan hutan untuk semua jenis mengikuti bentuk huruf
J terbalik tetapi bentuknya menjadi sangat bervariasi
jika dibuatkan untuk setiap jenisnya.
Pemanenan kayu pada umumnya akan menurunkan taraf komposisi, struktur dan massa tegakan hutan. Akibat terjadinya kerusakan pada struktur dan komposisi hut an alam, maka berbagai proses yang ada akan mengalami perubahan ataupun gangguan, terutama riap, siklus hara, siklus air dan keseimbangan ekosistem (Parisy, Darmawangsa, Hardjoprajitno dan suratinaja, 1987).
E. RIAP HUTAN TROPIKA BASAH
Pertambahan membesar dari dimensi pohon dan/atau tegakan menurut pertambahan umurnya di sebut
pertumbu-han (growth). Dalam praktek istilah pertumbuhan
(grDl'lth) seringkali diterapkan sarna dengan riap
(increment), yang sebenarnya tidak sarna (Suharlan dan Sudiono, 1973). Riap adalah pertambahan dimensi atau pertambahan pertumbuhan. Dengan demikian antara riap dan pertumbuhan ada bedanya yaitu
a. Pertumbuhan merupakan pertambahan tumbuh dimensi pohon atau tegakan sepanjang umurnya. b. Riap merupakan pertambahan tumbuh dimensi
pohon atau tegakan, dimana pertumbuhan terse-but suatu saat berhenti.
Sedangkan sifat dari riap ini adalah bahwa pad a suatu saat besarnya riap sarna dengan nol atau dengan kata lain berhenti meriap. Pada saat/mulai saat ini pohon tersebut dikatakan berhenti meriap.
Pada hutan primer (klimaks) riap pohonnya sangat rendah. Riap pohon di hutan bekas tebangan pada umumnya lebih besar karena persaingan dalam hal ruang, eahaya, air dan hara mineral antara pohon-pohon menja-di berkurang (Kasim, 1987).
Pad a sistem TPI/TPTI diasumsikan bahwa riap diameter rata-rata 1 em/tahun, namun Sutanto et. al.
dan hutan bekas tebangan menunjukkan bahwa beberapa jenis pohon yang berdiameter 15 em atau lebih riap diameter pohon pad a areal bekas tebangan berkisar antara 0.37 sampai 0.98 em/tahun (rata-rata 0.7 em/tahun) (Tabel 7).
Tabel 7. Riap Diameter Pohon di Hutan Produksi dan Hutan Bekas Tebangan di Kalimantan Timur
Jenis pohon (diameter 15 em
ke atas)
Meranti (Shorea spp.)
Kapur (Dryobalanops spp.) Bangkirai (Shorea spp.) Ulin (Eusideroxilon zwageri) Medang (Lauraceae)
Hopea,Vatica
Hutan
Alam (cm/th)
0.62
1.14
0.65 0.33 0.18 0.65
Sumber : Sutanto et. a1., 1976
Hutan
6ekas tebangan
(cm/th) 0.75 0.98 0.62 0.50 0.37 0.78
Hasil penelitian yang dilakukan Miller (1981), mengenai perbandingan pertumbuhan diameter pohon di hutan alam yang telah di tebang di Kalimantan Timur, seperti pada Tabel 8.
Tabel 8. Rata-rata Pertumbuhan Diameter Pohon di Hutan Alam dan Hutan Bekas Tebangan di Kaliamantan Timur
Kelas Rata-rata pertumbuhan Diameter (cm/th)
Diameter
15 - 24.9 25 - 34.9 35 - 44.9
Hutan Alam
0.2 0.6 0.7 Sumber : Miller, 1981
Intensitas
4 0.4 0.4 0.4
Penebangan (% )
5 20
0.4 1.6 0.6 1.6 1.0 1.6
Perlakuan terhadap dilakukan dan tidaknya kegia-tan pemeliharaan tegakan tinggalpun memberikan pengar-uh terhadap pertambahan diameter pohon, seperti hasil peneli tian Weidel t (1982), mengenai pertumbuhan dia-meter antara pohon yang tidak dilaksanakan (kontrol) dan yang dilakukan TSI (Timber Stand Improvement) disalah satu areal HPH di daerah Mindanao, Philipina.
Tabel 9. Respon perlakuan TSI dan tidak dilakukan TSI pada plot bekas tebangan di Areal HPH picop, Mindanao, Philipina.
Kelas Diameter
Perlakuan 5-15 15-25 25-35 35-45 45-55 55-65 SA (m2jth)
Penambahan rata-rata diameter pOhonjth (em)
TSI 0.78 0.81 0.91 0.73 1. 33 0.87 20.35
Kontrol 0.39 0.32 0.77 0.79 0.98 0.64 32.05
Perbedaan +0.39 +0.49 +0.20 +0.06 +0.35 +0.23 -11. 70
seluas 223.500 Ha yang seluruhnya terletak di kelompok hutan Jele-Beliwit. Berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), areal hutan terbagi dalam fungsi Hutan Produksi Tetap (134.250 Ha) dan Hutan Produksi terbatas (89.250 Ha).
B. KONFIGURASI LAPANGAN, TANAH DAN IKLIM 1. Topografi
Berdasarkan Peta Bentuk wilayah, areal HPH PT. Kiani Lestari di kelompok Hutan Jele-Beliwit terdiri dari dataran aluvial di bagian Selatan dipinggir sungai Telen, dataran bergelombang terletak di tengahnyadan perbukitan yang meliputi areal punggung di sebelah utara dan Timur. Areal ini terletak pada ketinggian antara 25-375 m di atas permukaan laut, dengan kecuraman lereng dari landai sampai agak curam.
Tabel 10. Komposisi Kelas Lereng di Areal HPH PT. Kiani Lestari.
No. Kelas Lereng
1. Datar (0-8%) 2. sedang (8-15%)
3. Agak Curam (15-25%) 4. Curam (25-45 %)
Jele-Beliwit (% Wilayah)
20 40 30 10
2. Geologi dan Tanah
Secara geologi, areal HPH PT. Kiani Lestari tersusun oleh satuan batuan formasi Pamaluan (batuan pasir, sisipan lempung, serpih dan batuan gamping) dan satuan batuan formasi Pulau Balang (batu pasir, sisipan batu gamping, batu lempung, serpih dan lensa batu bara) .
Jenis tanah yang terdapat di areal HPH PT. Kiani Lestari terdiri dari jenis podzolik merah
kuning dan aluvial dengan tekstur liat sampai
lempung berpasir. Pada bag ian selatan Batu Ampar dijumpai sedikit daerah yang berbahan induk organ-ik bercampur liat sehingga membentuk tanah organo-sol kley humus.
3. Iklim
Areal kerj a HPH PT. Kiani Lestari beriklim tropis yang menurut klasifikasi Koppen termasuk tipe Alfa yaitu daerah beriklim hutan hujan tropis dengan curah hujan bulan kering > 60 mm dan suhu bulan terpanas lebih besar dari 22 °C. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk tipe iklim A (sangat basah).
Tabel 11. Curah Hujan Tahunan di Kelompok Hutan Jele-beliwit.
stasiun Periode Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul A9t Sep Okt Nov Des Tahunan
Huara I../ahau 1929-90 176 147 189 247 263 214 155 150 158 174 252 252 2377
Huara Marah 1980-83 139 172 192 242 RセR@ 196 104 132 151 162 240 232 2214
Satu Ampar 1971-91 247 205 236 246 247 177 118 161 170 246 265 304 2622
sumber 1) Transmigration Area Development Project, 1982 2) PT. Kiani Lestari, 1991
Tabel 12. Jumlah Hari Hujan Tahunan di Kelompok Hutan Jele-Beliwit.
Stasiun Periode Jan Peb Mar Apr Mei Jun JuL Agt Sep Okt Nov Des Tahunan
Huara \.Iahau 1929-90 8 8 9 10 10 9 6 7 7 8 10 11 101
Huara Harah 1980-83 10 9 10 11 11 9 7 7 8 9 11 12 114
Satu Ampar 1971-91 12 10 12 12 12 9 8 8 9 10 13 14 129
Sumber 1) Transmigration Area Development Project, 1982
2) PT. Kiani Lestari
1991-Suhu udara rata-rata relatif panas dengan ra-taan suhu udara minimum 23_1 oC dan maksimum 31.50C dan suhu udara rata-rata adalah 26.4oC.
Kelembaban udara tergolong tinggi dengan kisa-ran 53 % sampai 92 セ@o • Lama penyinaran termasuk
kategori sedang, rata-rata selama 5.6 jam per hari
C.
KEADAAN HUTAN
Pada awal Pengusahaan hutan pada tahun 1970, kawa-san produktif meliputi 285.000 ha (81%), hutan sekund-er non produktif 47.000 ha (14 %) dan rawa-rawa 18.000 ha (5%). Setelah melaksanakan kegiatan sejak tahun 1971/1972 sampai dengan tahun 1992/1993 keadaan hutan di areal HPH PT. Kiani Lestari menjadi sebagaimana tertera pada tabel 13.
Tabel 13. Keadaan Hutan di Areal HPH PT. Kiani Les-tari setelah Tahap Jangka l'iaktu pengusahaan 20 Tahun Pertama (1970/71 - 1990/91).
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Jumlah
uraian Slok
Jele - Beliwit
(ha) Hutan Lindung 11.500
Kawasan Penyangga 13.486
Kawasan Hutan yang Belum di
Tebang(vir-gin Forest) 69.787
Areal Bekas Tebangan
diluar HTI 71. 214 Hutan Tanaman Indus
tri 53.080
Transmigrasi dan
Pirbun 18.300
Areal Non Produktif 47.251
Areal Pertambangan Batu Bara
Pelestarian Jenis 300
Areal Perkebunan 100
285.000 Blok Kariorang (ha) 13.698 18.542 22.890 9.870 65.000 Jumlah (ha) 11. 500 13.486 69.787 84.912 53.080 36.842 70.141 9.870 300 100 350.000
Sumber URKPH Periode II PT. Kiani Lestari, 1991.
apabila termasuk HTI. Bertambahnya luas areal non produktif ini terutama disebabkan oleh kebakaran hutan pada tahun 1982/1983 seluas 118.772 ha.
Rata-rata kerapatan dan volume pohon perhektar di areal HPH PT. Kiani Lestari disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Kerapatan dan Volume Pohon Perhektar Berda-sarkan Kelas Diameter di Areal HPH PT. Kiani Lestari.
Kelas Diameter
(em)
* Komersial Dipterocarpaceae
Kerapatan
(N/ha)
20 29 15.66
50 up 14.59
* Komersial Non Dipterocarpaceae
20 29 1.18
50 up 5.68
* Komersial Lain
20 29 5.68
50 up 1.12
Sumber , URKL V (1991/1992 - 1996/1997)
volume
(m3/ha)
12.38 68.87 1.15 15.85 5.57 3.79
Jenis-jenis dominan yang terdapat di areal HPH PT. Kiani Lestari dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Jenis-jenis Dominan yang Dijumpai di Areal HPH PT. Kiani Lestari.
No Nama Daerah Nama Botani
1- Meranti Shorea sp.
2. Kapur Dryobalanops sp.
3. Keruing Dipterocarpus sp.
4. Bangkirai Shorea laevifolia
5. Nyerakat Hopea bracteata
PT. Kiani Lestari semula bernama PT. Georgia Pa-cific Indonesia (GPI) yang merupakan perusahaan patun-gan antara PT. Georgia Pacific International Corp. dengan M. Hasan. Perusahaan patungan ini didir ikan pad a tanggal 7 Agustus 1970 dengan status PMA dan sejak tahun 1984 seluruh sahamnya telah diambil alih oleh M. Hasan sehingga statusnya menjadi PMDN dengan saham seluruhnya dimiliki oleh M.Hasan.
Pada tahun pertama operasi, pemenenan kayu dilak-sanakan di kelompok hutan Jele - Belwit dengan base camp Batu Ampar. Tahun 1972/1973, kegiataan pengusa-haan hutan di kelompok hutan Kariorang dimulai dan berakhir pad a tahun 1983/1984, sehingga mulai tahun 1984/1985 kegiatan pengusahaan kembali terpusat di Batu Ampar.
akhirnya PT. Kiani Lestari mendapat surat perpanjangan HPH untuk periode pengusahaan ke II (1990/1991 sampai
dengan 2010/2011) dengan luas areal 223.500 Ha.
Realisasi luas tebangan dalam jangka waktu pengu-sahaan hutan tahun 1971/1972 sampai 1994/1995 dengan
jatah tebangan tahunan (Me) minimum 300.000 m3 dan maksimum 500.000 m3 disajikan pad a Tabel 16.
Tabel 16. Rencana Tebangan
dan Realisasi Luas dan HPH PT. Kiani Lestari
Produksi Tahun 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 1986/1987 1987/1988 1988/1989 1989/1990 1990/1991 1991/1992 1992/1993 1993/1994 1994/1995 JUMLAH Sumber
Luas (ha)
Rencana Realisasi
2.000 6.000 7.200 7.315 7.200 8.000 7.100 7.765 7.500 7.500 8.200 5.950 6.000 7.900 8.100 16.900 13.665 11. 000 10.000 11.200 7.751 6.509 5.473 5.664 195.150 1. 324 4.247 5.190 6.151 5.947 6.209 5.275 6.542 6.793 7.316 5.185 5.105 1. 965 4.788 5.539 7.332 12.319 8.835 8.693 7.355 7.384 4.961 15 .743,11
'5.664 セ@ 145.273 Rencana 90.000 225.000 350.000 496.000 490.000 500.000 525.000 515.000 550.000 332.000 397.000 350.000 250.000 330.000 330.000 600.000 573.000 500.000 466.000 400.000 381. 000 255.200 225.800 250.000 Realisasi 65.343,67 261.331,25 327.322,75 344.928,40 352.465,61 399.676,78 339.534,04 494.370,12 375.359,50 304.484,18 320.004,71 271.442,92 129.712,82 243.060,43 218.141,81 424.260,06 524.499,93 445.305,51 410.360,74 419.094,52 390.519,92 228.079,15 185.843,38 169.461,44
9.300.500 7.531.876,71
Lap. Tahunan Kegiatan Pengusahaan Hutan (April
sistim pemanenan kayu yang digunakan PT. Kiani Lestari dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan adalah sistim Tebang Pilih Indonesia (TPI) yang digu-nakan sampai dengan tahun 1989 dan sistim Tebang pilih Tanam Indonesia (TPTI) yang digunakan sejak tahun 1989 sampai sekarang. Kegiatan pemanenan kayu yang dilaku-kan terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
1. Penebangan
pekerjaan penebangan terdiri dari kegiatan persia-pan, penebangan, pembersihan cabang dan ranting serta pembagian batang sehingga kayu siap untuk disarad.
Dalam satu regu tebang terdapat 2 - 3 orang tenaga kerj a, yai tu satu orang operator yang bertugas mene-bang pohon dan satu sampai dua orang sebagai pembantu operator yang bertugas membersihkan tumbuhan bawah sekitar pohon yang akan ditebang serta cabang dari pohon yang telah ditebang. Penebangan dilakukan dengan menggunakan Chainsaw dengan panjang bar lebih kurang 1.25 meter dan kapasitas tangki bahan bakar lebih kurang 2 liter.
Jenis-jenis putih (Shorea
pohon yang
leprosula) ,
ditebang meranti
adalah meranti merah (Shorea
smithiana) , meranti kuning (Shorea parvifolia) ,
panciflora), Kapur (Dryobalanops sp.), Keruing
(Dip-terocarpus sp.), Keledang (Shorea sp.), Nyerakat
(Hopea bracteata) dan jenis komersial lain.
2. Pembagian Batang
pembagian batang langsung dilakukan tebang yang bersangkutan di petak tebang,
oleh regu yang dise-suaikan dengan ukuran yang diinginkan dan kondisi pohon yang ditebang.
3. Penyaradan
Kegiatan penyaradan di areal HPH PT. Kiani Lestari dilakukan dengan menggunakan Crawler tractor jenis Komatsu D7F, D7G dan D7H yang dilengkapi dengan Hyster winch.
Dalam satu regu sarad terdapat dua orang tenaga kerja, yai tu operator dan pembantunya. Seorang pem-bantu bertugas mencari kedudukan pohon yang telah ditebang dan memberikan alternatif jalan
harus dilalui oleh operator. Kayu-kayu disarad diletakkan di Tempat Pengumpulan menunggu di angkut ke Log Yard/Tempat
(TPK) .
4. Pemuatan di TPn
sarad yang yang telah (TPn) untuk Penimbunan
kendar-aan pengangkut dan memberikan instruksi kepada opera-tor angkutan bahwasanya kayu-kayu telah siap dia-ngkut.
5. pengangkutan
Pengangkutan di areal HPH PT. Kiani Lestari dila-kukan dengan menggunakan Truk trailer. Pengangkutan dilakukan dari TPn langsung menuju Log Yard.
6. Pembongkaran di Log Yard
Setelah truk trailer bermuatan sampai di Log Yard, langsung dilakukan pembongkaran oleh regu bongkar muat yang ada di Log Yard dengan menggunakan wheel loader. Setelah semua muatan diturunkan, trailer langsung dimuat kembali ke atas truk, dan dapat langsung kemba-Ii ke lokasi Tpn.
pembongkaran dilakukan oleh satu orang yang bertu-gas sebagai operator loader dan satu orang sebagai pembantu.
7. Pengupasan di Log Yard
A. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian dilakukan di areal HPH PT. Kiani Lestari, Kalimantan Timur.
Waktu penelitian selama dua bulan yaitu bulan Oktober - November 1994.
B. BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Pita diameter untuk mengukur diameter pohon
2. Pita meter untuk mengukur luas keterbukaan areal 3. Kompas untuk menentukan arah rintis dan menentukan
arah batas petak contoh penelitian 4. Hagameter
5. Karpet plastik, kantung plastik, paku, pisau dan parang
6. Patak, tali dan cat untuk menandai batas petak penelitian
7. Tally sheet, alat tulis dan kalkulator 8. Daftar nama pohon daerah
9. Sasak, kertas koran dan alkohol untuk pembuatan herbarium
10. Kamera foto dan film negatif
12. Peta tat a letak pohon plot permanen 13. Peta keterbukaan areal plot permanen 14. Data pengukuran plot permanen tahun 1993.
c.
METODE PENGUMPULAN DATA 1. Data SekunderData yang dikumpulkan mengenai keadaan umum lokasi yaitu
a. Letak dan luas areal
b. Keadaan lapangan, iklim dan tanah
c. Keadaan hutan, yang meliputi tipe hutan, potensi dan jenis pohon utama yang terdapat
d. pengusahaan hutan, yaitu sistem pemanenan kayu, volume produksi dan jenis kayu yang dipanen.
2. Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan cara mengada-kan pengukuran langsung di plot permanen yang telah dibuat tahun 1993, yang meliputi :
a. 1 plot permanen hutan primer (virgin forest) b. 3 plot permanen hutan bekas tebangan tahun ke-1 c. 4 plot permanen hutan bekas tebangan,
masing-masing pada areal bekas tebangan tahun ke-5, 10, 13 dan '17.
100 m
セMMMMMMMMMMMMMMMMMMM 100 m
---1
UTARAIV III
21 22 23 24 25
--- --- --- --- --- jalur 5
16 17 18
- - - -
---11- ---12-
---13-- ---13-- ---13-- ---13-- ---13-- ---13-- ---13-- ---13-- ---
---6 7 8
- - - - - - - -
---1 2 3
- - - - ---
---I
p
-19 20
--- - - - - jalur
---14- ---15- T j1r3 10
---
---9 10
---
---4 5
---
-I -I
+-- 20 m -+
l.
jalur
j alur 4
m
2
1
--- セ@ jalan hutan
Gambar 1. Desain plot permanen
Keterangan :
1 , 2 , , 2 5
- P
I, . . . , IV
Nomor urut sub petak ukuran 20m x 20 m
Ti tik pasti berupa papan nama plot penelitian di tepi jalan hutan
Subpetak-subpetak di dalam petak eontoh utama dibuat berdasarkan perkembangan tingkat vegetasi
yaitu :
a. Untuk tingkat pohon, subpetak ukuran 20 x 20 m
Rセ「。ョケ。ォ@ 25 buah pada jalur 1 sampai 5.
Inten-sitas sampling 100 % dari petak utama.
b. Untuk tingkat tiang, subpetak ukuran 10 x 10 m sebanyak 20 buah pada jalur 2 dan 4. Intensi-tas sampling 20 % dari petak utama.
e. Untuk tingkat paneang, subpetak ukuran 5 x 5 m sebanyak 20 buah pada jalur 2 dan 4. Intensi-tas sampling 5 % dari petak utama.
d. Untuk tingkat semai, subpetak ukuran 2 x 2 m sebanyak
20
buah pada jalur2
dan 4. Intensi-tas sampling 0.8 % dari petak utama.Desain subpetak-subpetak tersebut dapat dili-hat pada gambar 4.
2.1. Pengukuran Diameter
Pengukuran diameter dilakukan dengan mengukur diameter pohon pada ketinggian 130 em (dbh) atau 20
Hasil pengukuran dituliskan pad a karpet plas-tik, dibungkus kantong plastik dan dipakukan tepat disamping pengukuran tahun lalu. Pohon yang diukur sesuai dengan nomor urutnya dan apabila terdapat pohon baru yang meneapai diameter 10 em atau lebih pada tahun pengukuran ini, maka diberi nomor baru dengan memberi nomor pohon didekatnya ditambah huruf a, b, atau c.
2.2. Data Pohon-pohon yang Mati Pohon-pohon
dieatat nomor, kematiannya.
berdiameter 10 em up yang mati jenis, diameter dan sebab-sebab
2.3. Keterbukaan Areal/Tanah
v
1
Gambar 2. Skema Pengukuran Keterbukaan Tanah Akibat Penebangan Pohon
Keterangan
a arah pengukuran ( 0) • P tunggak pohon
1, 2, 3 . . nomor titik
d jarak antar titik
Gambar 3. Skema Pengukuran Keterbukaan Tanah Akibat Penyaradan
Keterangan
a arah pengkuran (0)
p panjang (m)
11 , 2, .. n lebar (m) jalan sarad tegak lurus terhadap sisi jalan sarad
1, 2, ... n nomor titik
2.4. Analisis vegetasi
Untuk dapat melihat perkembangan tingkat vege-tasi, maka dilakukan analisis vegetasi pada jalur rintis di dalam plot permanen penelitian. Analisis vegetasi pada plot penelitian dilakukan dengan sistem jalur seperti terlihat pad a Gambar 4.
Parameter yang diukur adalah :
1. Untuk tingkat pohon dan tiang meliputi nama spesies, diameter setinggi dada atau 20 em di atas banir dan jumlah tiap spesies.
2. Untuk tingkat paneang dan semai, hanya nama spesies, jumlah spesies dan jumlah individu tiap spesies.
20 m - - - 1 UTARA
;
---- 10 m
----1
10
- 5 m
-1
EJb
- - - - -
--
-セ「@
cb
j1r 2,4 m
1
c----
Keterangan :
a Subpetak penelitian tingkat semai, 2m x 2m b Subpetak penelitian tingkat pancang, Sm x Sm c Subpetak penelitian tingakat tiang, 10m X 10m
d Subpetak penelitian tingkat pohon, 20m x 20 m Kriteria permudaan yang digunakan adalah kri-teria permudaan berdasarkan pedoman teknis TPTI
(Anonymous, 1990) sebagai berikut :
a. Tingkat semai (seedling) yai tu permudaan yang tingginya mencapai 1.5 meter.
b. Tingkat pancang (sapling) yaitu permudaan yang tingginya lebih dari 1.S m dan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tingkat tiang (poles) yaitu pohon muda yang berdiameter antara 10-19 cm.
d. Tingkat pohon (tree) yaitu pohon-pohon yang berdiameter minimal 20 cm.
2.5. stratifikasi Tajuk
Jalur di dalam plot permanen yang digunakan untuk anal isis stratifikasi tajuk adalah jalur 3 yang berukuran 10 x 100 meter (Gambar 1).
Pengamatan dilakukan terhadap pohon berdia-meter 10 em up. Parameter yang diamati adalah : - Tata letak pohon
- Jenis pohon
- Diameter pohon (DBH atau 20 em di atas banir) - Tinggi pohon sampai cabang pertama
- Bentuk tajuk
- Bentuk dan ukuran proyeksi tajuk di lantai hutan - Batas terendah tajuk
D. ANALISA DATA
1. Potensi Tegakan
Potensi tegakan pad a plot-plot permanen
dihi-tung berdasarkan volume pohon dari persamaan yang
merupakan hubungan volume dan diameter pohon hasil pengukuran 1993.
2. Riap Diameter Tahunan Berjalan
Untuk menghitung riap diameter tahunan berja-Ian dari tegakan tinggal dan hut an primer, maka masing-masing tegakan dipisahkan dalam kelompok jenis, masing-masing adalah Kelompok Komersial Dipterocarpaceae (D), Kelompok KOJJJlllersial Non
Dip-terocarpaeae (ND) serta Kelompok Non Komersial (NL)
dan berdasarkan kelas diameter. Dihi tung dengan rumus (Elias, 1994; pers com.)
ADi =
dimana AD· l
D·
1D· 1 l
-Riap diameter (em) pada tahun ke-i setelah penebangan
Diameter pohon pada tahun ke-i setelah penebangan
3. Perkiraan Riap Diameter Tahunan Rata-Rata
Berdasar hasil pengukuran diameter tegakan bekas tebangan pada tahun ke-O, I, 5, 6, 10, II, 13, 14, 17 dan tahun ke-18, dilakukan pendugaan dan perkiraan terhadap riap tahunan rata-rata dengan mengasumsikan bahwa pengukuran diameter pada ma-sing-masing tegakan dilakukan seeara periodik pada waktu yang berbeda, pada tegakan yang sarna.
Riap diameter tahunan rata-rata tegakan tinggl seeara keseluruhan dihitung dengan menggunakan rumus (Elias, 1994; pers com.)
dimana
AD
ADll
AD14
.i.D 18
AD =
5
Riap diameter tahunan rata-rata tegakan tinggal
= Riap diameter tahun berjalan, 1 tahun setelah penebangan (em)
= Riap diameter tahun berjalan, 6 tahun setelah penebangan (em)
= Riap diameter tahun berjalan, I I tahun setelah penebangan (em)
= Riap diameter tahun berjalan, 14 tahun setelah penebangan (em)
4. Keterbukaan Tanah/Areal
Luas tanah/areal yang masih terbuka dan yang sudah tertutup vegetasi dipetakan pada kertas mili-meter blok dengan skala 1 : 200, kemudian dihitung dengan menggunakan rumus (Elias, 1994; pers com.) :
L P
K ;
10 000 m2
x 100%
Keterangan :
K Keterbukaan tanah/areal (%)
L Luas tanah/areal yang terbuka akibat kegiatan penebangan/penyaradan th 1994 P Luas tanah/areal yang sudah tertutup
vegetasi
5. Analisis Vegetasi
Untuk mengetahui gambaran ten tang komposisi dan struktur tegakan, dilakukan perhitungan terha-dap parameter yang meliputi nilai penting, indeks dominansi dan keanekaragaman. Pengolahan data hasil ana1isa vegetasi meliputi
a. Nilai penting
Nilai penting digunakan untuk menentukan domi-nasi jenis dalam suatu tegakan. Nilai penting merupakan penjumlahan dari Kerapatan Relatif (KR) , Frekuensi Relatif (FR) dan Dominasi Realatif (DR) , dimana (Soerianegara
1. Kerapatan
=
Jumlah dari individuLuas petak contoh
Kerapatan dari suatu spesies
Kerapatan Relatif
(%)=
(KR) Kerapatan seluruuh
spesies
2. Dominasi
=
Jumlah luas bidang dasarLuas petak contoh
Dominasi dari suatu spesies
Dominasi Relatif (%)
(DR) Dominasi dari seluruh
spesies
3. Frekuensi
=
Jumlah plot contoh ditemukan suatu spesies
Jumlah seluruh plot
Frekwesi dari suatu spesies
Frekwensi Relatif (%)
=
(FR) Frekwensi dari seluruh
spesies
4. Nilai Penting (NPJ = KR + DR + FR
b. Indeks Dominansi
nilai indeks akan menurun at au rendah.
,
Untuk menentukan indeks dominansi dipergun-kan rumus Simpson da1.iJJII Misra (1980) sebagai berikut :
c
-:-i-f
Keterangan :
ni nilai penting masing-masing spesies N total nilai penting
C Indeks dominasi
c. Indeks Keanekaragaman
Keragaman jenis adalah parameter yang berguna untuk membandingkan 2 (dua) komunitas, teruta-ma, untuk mempelajari pengaruh gangguan biotik atau untuk mengetahui tingkat suksesi atau kestabilan. Indek keanekaragaman jenis dihi-tung menggunakan rumus (Margalef, 1968 dalam
Misra, 1980) . n
[
ni]
[
ni]
H = - Z; log e
i=l N N
Keterangan :
H Indeks keanekaragaman
ni Nilai penting masing-masing spesies
N Total nilai semua spesies
d. Koefisien Kesamaan Komunitas
Koefisien kesamaan komunitas digunakan untuk menunjukan komposisi jenis dari dua contoh yang dibandingkan. Rumusnya adalah (oosting, 1956; Bray dan Curtis, 1957 dan George-smith, 1964 daIam Soerianegara dan Indrawan, 1988)
2 W
C
=
x 100 a + bdimana :
C (IS)
=
Koefisien kesamaan komunitasW Jumlah jenis yang sama dan nilai
yangberbeda dari jenis yang terdapat dalam 2 tegakan yang dibandingkan a Jumlah nilai kuantitatif dari semua
jenis yang terdapat pada tegakan pertama
b
=
Jumlahjenis kedua
nilai kuntitatif dari semua yang tedapat pada tegakan
Nilai koefisien komunitas ini berkisar antara 0 100, makin dekat pada nilai 100 maka dua tegakan yang dibandingkan adalah makin sama.
6. stratifikasi Tajuk
7. Penutupan Tajuk Atas Lantai Hutan
Luas penutupan tajuk dinyatakan dalam persen, yang dihitung dengan cara (Elias, 1994; pers com. )
Penutupan tajuk pada lantai hutan
h T
x 100%
dimana h T
L
L
Jumlah luas proyeksi tajuk pada lantai hutan (m2)
Luas lantai hutan petak contoh (Luas jalur stratifkasi ; 10x100 meter)
8. Natalitas dan Mortalitas
Tingkat Natalitas dan Mortalitas dihitung dengan rumus (Elias, 1994; pers com.) :
h Et+i - h Et+(i-1)
N x 100%
h Et+(i-1)
h Et+(i-1) - h Et+i
M x 100 %
dimana
N
M
h Et+1
h Et+(i-1)
h Et+(i-1)
Persen natalitas semai
Persen mortalitas semai at au pohon/tiang
Jumlah sernai at au pohon/tiang pada tahun ke-i setelah pemanenan kayu Jumlah semai at au pohon/tiang
A. POTENSI TEGAKAN
Potensi tegakan pada 8 buah plot eontoh penelitian yang masing-masing luasnya 1 hektar, dari pohon-pohon
yang berdiameter 10 em ke atas dengan jumlah pohon perhektar (Njha) di sajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Potensi Tegakan Masing-masing Plot yang Berdiameter 10 em ke atas.
Plot eontoh IA IB Ie I I III IV V VI Rataan Keterangan vo VI Riap IA 18 Ie I I III IV V VI
N/Ha Vo (m3 ) V1 (m3 )
405 249.370 257.831 315 147.404 152.979 320 136.661 143.353 506 358.461 367.893 529 264.584 275.524 714 271.222 277.820 677 462.972 476.054 510 287.777 298.967
Volume tahun pengukuran tahun Ke-l
Volume tahun pengukuran tahun ke-2
VI - Vo
Et+l (kelas lereng curam)
Et+l (kelas lereng datar)
Et+l (kelas lereng sedang)
Et+6 Et+ll Et+14 Et+18
Hutan primer
Riap volume 8.461 5.573 6.695 9.432 10.940 6.058 13.082 11.190 8.877 (1993) (1994) Per sen 3.39 3.78 4.89 2.63 4.14 2.23 3.83 3.89 3.45
dikarenakan adanya pohon yang mati, yaitu pohon-pohon yang mengalami kerusakan pada waktu pemanenan kayu. Selain i tu masih terdapat pohon-pohon yang mengalami rusak mekanis. Pad a plot IA (Et+1) pohon yang ada berjumlah 405 pohon (257.831 m3 ), yang terdiri dari 375 pohon sehat -(225.857 m3 ) dan 48 pohon rusak (31.974 m3 ). Plot IB terdiri dari 315 pohon (152.979 m3 ), terdiri dari 274 pohon sehat (134.431 m3 ) dan 41 pohon rusak (18.638 m3 ) dan pada plot IC tersisa 320 pohon (143.493 m3 ), yang terdiri dari 295 pohon sehat (117.532 m3 ) dan 25 pohon rusak (25.962 m3 ) •
Sedangkan untuk plot II, III, IV, V, dan VI, umur tegakan tinggal telah mencapai enam tahun at au lebih maka, kerusakan tegakan sudah tidak terlalu besar lagi.
lebih eepat. Hal ini juga terlihat pada hasil pengu-kuran riap diameter pohon.
Secara umum terlihat adanya peningkatan nilai potensi tegakan dari tiap plot eontoh sesuai dengan peningkatan umur tegakan tinggal, kecuali untuk plot eontoh II (Et+6) ke plot eontoh III (Et+ll) terjadi penurunan potensi. Tetapi pada plot eontoh IV (Et+14) naik kembali sampai plot eontoh V (Et+18) dan diikuti dengan penurunan 1agi pada plot eontoh VI (hutan primer). Gambar 5 dan 6. memperlihatkan adanya peningkatan potensi tegakan berdasarkan kelompok jenis komersial Dipteroearpaceae, non Dipteroearpaeeae dan non komersial.
Saslihadi (1994), menduga penurunan potensi tega-kan