• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS MANAJEMEN RISIKO TERHADAP PEMBIAYAAN PAKET MASA DEPAN (PMD) PT. BTPN SYARIAH AREA TEMANGUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS MANAJEMEN RISIKO TERHADAP PEMBIAYAAN PAKET MASA DEPAN (PMD) PT. BTPN SYARIAH AREA TEMANGUNG"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS MANAJEMEN RISIKO TERHADAP PEMBIAYAAN PAKET MASA DEPAN (PMD) PT. BTPN SYARIAH AREA TEMANGUNG

SKRIPSI

Oleh :

Dian Ayu Puspitasari

NPM: 20130730186

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PRODI MUAMALAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)
(3)

ANALISIS MANAJEMEN RISIKO TERHADAP PEMBIAYAAN PAKET MASA DEPAN (PMD) PT. BTPN SYARIAH AREA TEMANGUNG

SKRIPSI Oleh :

Dian Ayu Puspitasari

NPM: 20130730186

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PRODI MUAMALAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(4)

ii SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam ( S.E.I ) Strata Satu

pada Prodi Muamalat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh:

Dian Ayu Puspitasari

NPM: 20130730186

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PRODI MUAMALAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(5)
(6)
(7)
(8)

vi

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – LATIN

TRANSLITERASI

Transliterasi kata Arab-Latin yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor :158/1987 dan 0543b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.

1. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

Bā‟ b -

t -

s (dengan titik diatas)

ج Jīm j -

ح Hā‟ h (dengan titik dibawah)

خ Khā‟ kh -

د Dāl d -

Zāl ż z (dengan titik diatas)

ر Rā‟ r -

Zā‟ z -

Sīn s -

(9)

vii

Sād s (dengan titik dibawah) ض Dād d (dengan titik dibawah) ط Tā‟ t (dengan titik dibawah)

Zā‟ ẓ z (dengan titik dibawah) ع Aīn „ Koma terbalik keatas

Gaīn g -

ف Fā‟ f -

Qāf q -

Kāf k -

Lām l -

Mīm m -

Nūn n -

و Wāwu w -

Hā‟ h -

ء Hamzah „ Apostrof

ي Yā‟ y -

2. Konsonan Rangkap karena Syaddah ditulis rangkap

ةد Ditulis Muta’addidah

(10)

viii 3. Ta’ Marbūṭahdi akhir kata

a. Bila dimatikan tulis h

ح ditulis ḥikmah

ي ج ditulis jiyah

(Ketentuan ini tidak diperlukan, bila kata-kata arab yang sudah terserap kedalam bahasa Indonesia, seperti zakat, salat dan sebagainya, kecuali bila dikehendaki lafal aslinya)

b. Bila ta’ Marbūṭah diikuti dengan kata sandang“al”serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan h

ء ي وأ ك ditulis Kar mah al-auliy ’

c. Bila ta’ Marbūṭah hidup atau dengan harakat, fathah, kasrah dan dammah ditulis t

(11)

ix

ي ه ج j hiliyah

2

faṭhạh +ya’ mati

ي ت ditulis tans

3

kasrah+ ya’ mati

ي ك ditulis ī karīm

4

ḍammah + wawumati

ضو ف ditulis ū furūd

6. Vokal Rangkap

1

faṭhạh + ya’ mati

يب ditulis Ai bainakum

2

faṭhạh +wawumati

ق ditulis au qaul

7. Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof

أأ ditulis a’antum

عأ ditulis u’iddat

(12)

x 8. Kata Sandang Alif + Lam

a. Bila diikuti huruf Qamariyah

ditulis al –Qur’ n

ي ditulis al-Qiy s

b. Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya, serta menghilangkan huruf l (el)-nya

ء ditulis as –Sam ’

ditulis asy- Syams

9. Penulisan kata dalam Rangkaian Kalimat Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya.

ضو و ditulis zawi al-furūḍ

هأ ditulis ahl as-sunnah

(13)

xi MOTTO





  

“...Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar’’

(Al Baqarah : 153)

All that happens to you is for good. Even when God allow bad things to happen, there’s a good thing behind it.

(Wilz Kanadi)

No matter what happens to you, you just gotta be strong and keep shining.

(14)

xii

Skripsi ini saya persembahkan teruntuk kedua orang tua saya tercinta, Papa

Sardi dan Ibu Tuntun Endang Herawati dengan segala kasih dan sayang

Untuk Eyang Putri, Ny. Mardiyat yang begitu mengasihi saya

Adik Dimas Niko Rudi Laksono, dan juga untuk

(15)

xiii

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, inayah-Nya dan tidak lupa shalawat serta salam kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Manajemen Risiko Terhadap Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) PT. BTPN Syariah Area Temanggung” guna mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi Islam Strata satu pada Prodi Muamalat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan baik dan lancar.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, arahan dan motivasi berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya kepada:

1. Allah SWT atas limpahan karunia, rahmat dan berkah yang diberikan. 2. Kedua Orang Tua yang senantiasa mendidik, membimbing, memberi dan

mendo‟akan yang terbaik tanpa henti kepada penulis.

3. Bapak Prof. Dr. H. Bambang Cipto, MA. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

4. Dr. Mahli Zainudin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

(16)

xiv

6. Miftakhul Khasanah, S.TP., MSI. selaku Dosen Pembimbing Skripsi utama, yang telah mencurahkan segala pikiran, tenaga, kasih sayang dan perhatian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Syah Amelia Manggala Putri, S.E.I., M.EI. selaku Dosen Pembimbing Penelitian Skripsi yang telah memberikan kesempatan untuk bergabung dalam Tim Penelitian Dosen dan juga telah memberikan pengarahan, masukan serta perhatian tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

8. Seluruh Dosen dan Staff Pengajaran Program Studi Ekonomi dan Perbankan Islam yang telah mengajarkan ilmu dan pengetahuan untuk kemajuan akademis penulis serta membantu kelancaran proses belajar mengajar.

9. Keluarga Besar Hardjosoewito, untuk dorongan semangat dan motivasi untuk penulis menyelesaikan tugas akhir ini.

10.Sahabat-sahabatku (Farida, Nana, Anggi, Arum, Dedep, Anita, Dila, Nanda, Mba Fitri, Mba Dita, Amalia, Dina, Agis, Antia, Ayuk, Bekti, Bunga) setiap dukungan, semangat, doa, dan motivasi untuk penulis selama proses perkuliahan dan penulisan skripsi.

(17)

xv

Arieva, Mas Risky, Mas Wira, Mas Uze, Pisco) kalian adalah orang-orang terbaik dalam menyemangati penulis.

13.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan doa dan dukungan untuk penulisan skripsi ini hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan dan belum sempurna. Dengan segenap kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pihak manapun demi kesempurnaan skripsi ini.

Yogyakarta, 19 Desember 2016

Penulis

(18)

xvi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ………..………... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN NOTA DINAS ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v

HALAMAN PEDOMAN TRANSLITERASI ... vi

HALAMAN MOTTO ... xi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... xii

HALAMAN KATA PENGANTAR ... xiii

DAFTAR ISI ... xvi

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah …... 5

C. Tujuan Penelitian …... 6

D. Kegunaan Penelitian ………... 6

E. Sistematika Pembahasan ………... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI ... 9

A. Penelitian Terdahulu ………. 9

B. Kerangka Teori ………... 19

1. Bank Syariah ...………... 19

a. Pengertian Bank Syariah ………... 19

b. Falsafah Operasional Bank Syariah …………... 20

c. Dasar Hukum Bank Syariah ………...………... 21

2. Kebijakan dan Teknik Pembiayaan di Bank Syariah…….... 22

a. Ketentuan Kebijakan Pembiayaan di Bank Syariah ... 22

b. Penyusunan Perencanaan Pembiayaan ...………... 23

c. Kelayakan Pemberian Pembiayaan …... 25

d. Proses Administratif Pembiayaan ... 27

(19)

xvii

3. Analisis Kelayakan Pembiayaan di Bank Syariah……….... 29

a. Tujuan Analisis Pembiayaan …... 29

b. Prinsip Analisis Pembiayaan …... 31

c. Prosedur Analisis Pembiayaan …... 32

d. Aspek-aspek Analisis Pembiayaan …... 34

e. Pedoman Memorandum Pembiayaan ... 35

f. Pemantauan dan Pengawasan Pembiayaan ... 36

g. Penanganan Pembiayaan Bermasalah ... 37

4. Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan ... 38

a. Risiko Pembiayaan ... 38

b. Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah ... 39

5. Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) BTPN Syariah ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ……….…………... 44

A. Jenis Penelitian …... 44

1. Metode Penelitian …... 44

a. Konsep dan Variabel Penelitian ... 44

b. Lokasi dan Subyek ... 45

c. Teknik Pengumpulan Data ... 45

d. Keabsahan dan Kredibilitas ... 46

e. Analisis Data ... 47

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ...……... 48

A. PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah …... 48

1. Profil PT. BTPN Syariah ... 48

2. Struktur Organisasi BTPN Syariah ... 51

3. Profil Produk Penyaluran Dana Paket Masa Depan (PMD) 53 4. Perkembangan Nasabah dan Penyaluran PMD ... ... 57

5. Data Keuangan dan NPF BTPN Syariah ... 58

6. Prosedur Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) ... 60

a. Pre-marketing ... 60

b. Proses Seleksi Nasabah ... 63

c. Pelatihan Dasar Keanggotaan ... 63

d. Pencairan Pembiayaan PMD ... 64

e. Pemantauan dan Pengawasan Nasabah ... 64

7. Analisis Pembiayaan PMD BTPN Syariah ... 65

8. Identifikasi Risiko Gagal Bayar PMD BTPN Syariah ... 71

B. Identifikasi Risiko Pembiayaan PMD BTPN Syariah ... 73

C. Mitigasi Risiko Pembiayaan PMD BTPN Syariah ... 76

BAB V PENUTUP ………... 83

A. Kesimpulan …………... 83

B. Saran ………. 84

(20)

xviii

DAFTAR TABEL

(21)

xix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Jumlah Pembiayaan …... 3

Gambar 1.2 NPF BTPN Syariah……….………... 3

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pengelola BTPN Syariah ... 52

Gambar 4.2 Perkembangan Nasabah PMD ... 57

Gambar 4.3 Penyaluran Pembiayaan PMD …... 57

Gambar 4.4 Dana Pihak Ketiga BTPN Syariah 2015 ... 58

Gambar 4.5 Total Aset BTPN Syariah 2015 …... 58

(22)

xx ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen risiko terhadap pemberian pembiayaan paket masa depan (PMD) BTPN Syariah di Area Temanggung, dan mengetahui bagaimana mitigasi yang dilakukan oleh bank dalam meminimalisir pembiayaan bermasalah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data-data yang diperoleh adalah data primer yang didapatkan melalui wawancara dengan pihak BTPN Syariah dan data sekunder dari laporan keuangan BTPN Syariah, jurnal, buku-buku dan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis manajemen risiko yang diterapkan pada BTPN Syariah pada pembiayaan pakaet masa depan (PMD) BTPN Syariah sudah dilakukan cukup baik. Analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan prinsip 5C. Sedangkan proses mitigasi pihak bank dalam meminimalisir risiko pembiayaan bermasalah dilakukan dengan menerapkan proses pengelolaan risiko, yaitu; penghindaran risiko, pengurangan risiko, pengalihan risiko dan penanganan risiko yang dilakukan sebelum maupun sesudah pemberian pembiayaan kepada nasabah PMD.

(23)

xxi ABSTRACT

This study aimed to analyze risk management about distribution of financing Paket Masa Depan (PMD) BTPN Syariah in Temanggung Area, and to find out the mitigation financing by BTPN Syariah to minimizing financing problems. This study used a qualitative method with descriptive approach. The data obtained are primary data from interviews with BTPN Syariah’s Staff and secondary data from financial reports, journals, books and the internet. The results showed that the risk management analysis applied to the Sharia Bank on the financing of Paket Masa Depan (PMD) is good. The analysis used 5C principle of analysis, and the process of mitigation by bank to minimizing the risk of financing problems are by applying a risk management process; prevention risk, reduction risk, transferred risk and risk management to carried out before and after the provision of financing for PMD’s customers.

(24)
(25)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen risiko terhadap pemberian pembiayaan paket masa depan (PMD) BTPN Syariah di Area Temanggung, dan mengetahui bagaimana mitigasi yang dilakukan oleh bank dalam meminimalisir pembiayaan bermasalah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data-data yang diperoleh adalah data primer yang didapatkan melalui wawancara dengan pihak BTPN Syariah dan data sekunder dari laporan keuangan BTPN Syariah, jurnal, buku-buku dan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis manajemen risiko yang diterapkan pada BTPN Syariah pada pembiayaan pakaet masa depan (PMD) BTPN Syariah sudah dilakukan cukup baik. Analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan prinsip 5C. Sedangkan proses mitigasi pihak bank dalam meminimalisir risiko pembiayaan bermasalah dilakukan dengan menerapkan proses pengelolaan risiko, yaitu; penghindaran risiko, pengurangan risiko, pengalihan risiko dan penanganan risiko yang dilakukan sebelum maupun sesudah pemberian pembiayaan kepada nasabah PMD.

(26)

by BTPN Syariah to minimizing financing problems. This study used a qualitative method with descriptive approach. The data obtained are primary data from interviews with BTPN Syariah’s Staff and secondary data from financial reports, journals, books and the internet. The results showed that the risk management analysis applied to the Sharia Bank on the financing of Paket Masa Depan (PMD) is good. The analysis used 5C principle of analysis, and the process of mitigation by bank to minimizing the risk of financing problems are by applying a risk management process; prevention risk, reduction risk, transferred risk and risk management to carried out before and after the provision of financing for PMD’s customers.

(27)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perbankan Syariah merupakan segala sesuatu yang berkaitan mengenai Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, dimana didalamnya mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usaha, sedangkan Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Undang-Undang RI Tentang Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun 2008). Bank sebagai lembaga perantara jasa keuangan diharapkan mampu untuk memenuhi pembiayaan pada masyarakat yang membutuhkan melalui produk-produk penyaluran dana yang ditawarkan.

(28)

tersebut dapat berkembang dan menghasilkan keuntungan baik bagi nasabah itu sendiri dalam menyelesaikan pembiayaan yang diajukan maupun bagi pihak bank dalam memperoleh kembali dana yang disalurkan serta bagi hasil dari pembiayaan tersebut. Di samping itu BTPN Syariah secara rutin terus melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap penggunaan dana yang diberikan kepada nasabah pembiayaan demi tercapainya program pemberdayaan PMD yang berkelanjutan dan terukur, sehingga pemberian pembiayaan tersebut sesuai sasaran (http://www.btpnsyariah.com/produk).

Pembiayaan mikro untuk usaha kecil menengah yang diberdayakan oleh PT. BTPN Syariah ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memperbaiki kesejahteraan hidup dengan mengembangkan potensi diri melalui usaha yang dijalankan, hal ini dibuktikan dengan keberhasilan BTPN Syariah pada tahun 2015 dan 2016 mendapatkan penghargaan sebagai Bank Umum Syariah Terbaik Pertama dengan Penyaluran Pembiayaan Tertinggi Kategori Buku 1 dan 2 dari The 11th Islamic Finance Awarding 2015 dan The 12th Islamic Finance Awarding 2016,

sebagai Bank Umum Syariah dengan Profitabilitas Tertinggi pada acara Islamic Finance Awarding dan penghargaan sebagai Bank Pendukung UMKM 2016 Terbaik

(29)

Sumber : Laporan Tahunan BTPN Syariah 2015

Gambar 1.1 Jumlah Pembiayaan Gambar 1.2 NPF BTPN Syariah

Dari penghargaan-penghargaan yang telah diraih, data penyaluran pembiayaan yang diberikan BTPN Syariah dan pembiayaan bermasalah (NPF Gross) pada diagram di atas, maka dapat diketahui BTPN Syariah berusaha terus meningkatkan pelayanan pembiayaan kepada masyarakat pra-sejahtera di seluruh Indonesia dengan menyalurkan dana PMD mencapai 3.678.027 (dalam jutaan rupiah) pada tahun 2015 dan menekan NPF di bawah rata-rata perbankan syariah dari tahun 2013 yaitu sebesar 2,94 persen menjadi 1,25 persen di tahun 2015. Sehingga dari data tersebut dapat disimpulkan, BTPN Syariah memiliki manajemen risiko yang baik dalam mengelola dan mengawasi penyaluran pembiayaan yang di berikan kepada masyarakat untuk meminimalisir risiko pembiayaan bermasalah, karena menurut teori risiko bahwa semakin banyak dana yang disalurkan maka risiko yang akan ditanggung bank akan semakin besar (laporan keuangan, https://www.btpnsyariah.com/) dengan demikian

“pendayagunaan sumber ekonomi dapat dikembangkan dengan melakukan mixing

(30)

Penyaluran Dana Bank Syariah dan 10/17/PBI/2008 Tentang Produk Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, menentukan bahwa dalam pelaksanaan penyaluran dana pada produk pembiayaan bank syariah harus sesuai dan memenuhi syarat yang telah ditetapkan serta diatur dalam peraturan Bank Indonesia. Muhammad (2005:43) mengemukakan bahwa analisis kelayakan pembiayaan harus memperhatikan beberapa aspek administratif, sebagaimana yang diungkapkan:

”Proses pemberian pembiayaan bank syariah kepada nasabah-nasabahnya sangat memperhatikan aspek-aspek teknik administratif. Adapun aspek-aspek yang sangat diperhatikan atau sebagai dasar pertimbangan pembiayaan adalah: Surat Permohonan Pembiayaan, Proses Evaluasi, dan Proses Penilaian, Proses Administratif Pembiayaan, dan Pengamanan Pembiayaan.”

(31)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan pokok-pokok permasalahan sebagai berikut;

1. Bagaimana mekanisme pelaksanaan pembiayaan Paket Masa Depan (PMD)?

2. Bagaimana cara untuk meminimalisir dan mengatasi pembiayaan macet pada Paket Masa Depan (PMD)?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan secara umum dari penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana manajemen risiko yang diterapkan dan dijalankan pada pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) PT.BTPN Syariah, sedangkan tujuan secara khusus dari penelitian ini adalah;

1. Mengetahui bagaimana mekanisme pelaksanaan pembiayaan Paket Masa Depan (PMD)

2. Mengetahui bagaimana cara untuk meminimalisir dan mengatasi pembiayaan macet pada Paket Masa Depan (PMD)

D. Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Praktis

a. Sebagai sumbangan pemikiran pada dunia perbankan mengenai pentingnya analisis manajemen risiko terhadap pengajuan perencanaan pembiayaan oleh nasabah.

(32)

menganalisa manajemen risiko terhadap pembiayaan yang diajukan oleh nasabah.

b. Memberikan pemahaman dan pengembangan wawasan khususnya bagi penulis dalam bidang Perbankan Syariah. E. Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan dalam mengkaji dan memahami secara keseluruhan dari skripsi ini, peneliti akan menguraikan mengenai sistematika pembahasan sebagai berikut:

1. BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat hasil penelitian, dan sistematika penulisan.

2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini membahas tentang tinjauan pustaka yang menjadi sumber acuan untuk penelitian yang akan dilakukan, kerangka teori berupa landasan-landasan teori yang digunakan untuk penelitian mengenai Bank Syariah, Kebijakan dan Teknik Pembiayaan di Bank Syariah, dan Manajemen Risiko pada Pembiayaan di Bank Syariah.

3. BAB III : METODE PENELITIAN

(33)

4. BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan mengenai hasil penelitian yang telah diperoleh, yaitu mekanisme pelaksanaan pembiayaan PMD pada PT. BTPN Syariah dan bagaimana langkah yang digunakan dalam meminimalisir dan mengatasi pembiayaan macet pada PMD.

5. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

(34)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

A. Penelitian Terdahulu

(35)

2

No Nama Peneliti/ Tahun Judul Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan

1. Rachna Fauzia

Pada jurnal ini disimpulkan bahwa pengaruh tingkat penyaluran dana

pembiayaan PMD PT. BTPN Syariah MMS Bojoang Soang terhadap kesejahteraan nasabah pembiayaan sangat tinggi dan baik.

Pembiayaan PMD

(36)

dalam Perbankan Syariah

(37)

4

Madani. tersebut juga melakukan pembinaan dan pengawasan kepada nasabah agar menggunakan dana yang diberikan dengan benar dalam mengelola usaha yang dijalankan. Murabahah dan Ijarah (Studi Kasus BMT Al-Fath IKMI Ciputat)

BMT Al-Fath IKMI Ciputat harus melakukan tindakan mitigasi dalam penyaluran pembiayaan baik pada produk Murabahah maupun Ijarah yang di prediksi masuk ke dalam tingkat kolektibiltas 3, 4 dan 5, karena apabila BMT Al-Fath IKMI Ciputat tetap memberikan pembiayaan ini akan berdampak

(38)

terhadap profitabilitas BMT Bagi Hasil Pembiayaan Al-Mudharabah pada Bank Syariah

Analisis calon nasabah pembiayaan Bank Muamalat berpedoman pada prinsip syariah, analisis calon nasabah pembiayaan dilakukan secara mendalam. Pengambilan keputusan kelayakan pembiayaan yang diajukan nasabah didasarkan pada analisis prinsi 6C yaitu character, capacity, capital, collateral, condition of economy dan constrains.

(39)

6

5C Bank BPR Dalam Menentukan Kelayakan Pemberian Kredit Pada Nasabah (Studi pada PD BPR Bank Salatiga dan PT BPR Kridaharta Salatiga)

penentu kelayakan dalam pemberian kredit kepada nasabah PD BPR Salatiga dan PT BPR

Prosedur pemberian kredit pada Bank BPD DIY sesuai dengan UU

Variabel Dependen

(40)

rangka Pemberian Kredit pada Bank BPD DIY Cabang Senopati

No. 7 Tahun 1992 – UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

Metode

penelitian dan Objek Penelitian

(41)

8

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa, pada penelitian Jurnal Penelitian milik Rachna Fauzia Nurhuda, et al. 2004. Pengaruh Pembiayaan Paket Masa Depan Tehadap Kesejahteraan Nasabah di PT.

BTPN Syariah MMS Bojong Soang. Universitas Islam Bandung. Prosiding

Keuangan dan Perbankan Syariah ISSN: 2460-2159 membahas mengenai pengaruh penyaluran dana melalui pembiayaan oleh PT. BTPN Syariah yaitu Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) terhadap kesejahteraan nasabah setelah melakukan pengajuan pembiayaan. Pada jurnal ini disimpulkan bahwa pengaruh tingkat penyaluran dana pembiayaan PMD PT. BTPN Syariah MMS Bojoang Soang terhadap kesejahteraan nasabah pembiayaan sangat tinggi dan baik. Sehingga dari hasil penelitian ini penulis menyimpulkan, pembiayaan pada PMD PT. BTPN Syariah telah mencapai ketepatan penyaluran dana untuk meningkatkan kesejahteraan pada masyarakat pra sejahtera.

Pada Paper milik Sholahuddin, M. 2004. Risiko Pembiayaan dalam Perbankan Syariah. Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah

Surakarta. Benefit, Vol. 8, No. 2, Desember 2004 membahas mengenai risiko-risiko yang akan dihadapi oleh perbankan syariah dalam menyalurkan dana melalui produk-produk pembiayaan yang ada pada perbankan syariah.

(42)

Madani. Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan bagaimana

BMT AL Munawarrah dan BMT Berkah Madani menyusun strategi manajemen risiko untuk mengatasi pembiayaan bermasalah bahkan nasabah gagal bayar, kedua BMT tersebut juga melakukan pembinaan dan pengawasan kepada nasabah agar menggunakan dana yang diberikan dengan benar dalam mengelola usaha yang dijalankan.

Dalam skripsi milik Aulia Eka Anindhita, 2012. Kajian Manajemen Risiko Pembiayaan UMKM pada Produk Murabahah dan

Ijarah (Studi Kasus BMT Al-Fath IKMI Ciputat). Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB menjelaskan bahwa BMT Al-Fath IKMI Ciputat harus melakukan tindakan mitigasi dalam penyaluran pembiayaan baik pada produk Murabahah maupun Ijarah yang di prediksi masuk ke dalam tingkat kolektibiltas 3,4 dan 5, karena apabila BMT Al-Fath IKMI Ciputat tetap memberikan pembiayaan ini akan berdampak terhadap profitabilitas BMT tersebut. Dengan demikian, BMT Al-Fath IKMI Ciputat harus mensyaratkan jaminan kepada nasabah pembiayaan yang memiliki tingkat kolektabilitas 3, 4 dan 5 yang memiliki nilai agunan, tidak memberikan pembiayaan yang terlalu besar, melakukan reschedulling dan reconditioning terhadap nasabah pembiayaan yang

berkolektibilitas pada tingkat 3, 4 dan 5.

(43)

10

Malang. Jurnal Keuangan dan Perbankan. Vol. 15, No. 3 Sepetember 2011 menjelaskan bahwa penyaluran pembiayaan mudharabah di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang disalurkan pada berbagai sektor perekonomian, dalam menganalisis calon nasabah pembiayaan Bank Muamalat telah berpedoman pada prinsip syariah, serta melakukan analisis yang mendalam terhadap nasabah terkait ikhtikad, kemampuan dan tanggungjawab nasabah dalam memenuhi kewajibannya mengembalikan pembiayaan yang diberikan. Pengambilan keputusan kelayakan pembiayaan yang diajukan nasabah didasarkan pada analisis prinsi 6C yaitu character, capacity, capital, collateral, condition of economy dan constrains.

Dalam penelitian Jurnal Ilmiah milik Afandi, Pandi. 2010. Analisis Implementasi 5C Bank BPR Dalam Menentukan Kelayakan Pemberian

Kredit Pada Nasabah. (Studi Pada PD BPR Bank Salatiga dan PT BPR

Kridaharta Salatiga). STIE AMA Salatiga. Jurnal Ilmiah Among Makarti.

Vol 3, No. 5 (2010) membahas bahwa faktor 5C merupakan faktor penentu kelayakan dalam pemberian kredit kepada nasabah PD BPR Bank Salatiga dan PT BPR Kridaharta Salatiga.

Dalam tesis Triwahyuniati, Nani. 2008. Pelaksanaan Analisis Pemberian Kredit Di PT. Bank HAGA Cabang Semarang. Masters Thesis,

Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Nani Triwahyuniati

menjelaskan bahwa penggunaan 5C’s dalam setiap permohonan kredit

(44)

keputusan diterima atau ditolaknya suatu kredit, tetapi pada kenyataannya PT. Bank Haga Cabang Semarang belum sepenuhnya menerapkan analisis penggunaan 5C secara optimal dalam pemberian kredit, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Penelitian ini juga belum menjelaskan bagaimana mengatasi risiko-risiko yang ditimbulkan apabila terdapat kredit macet.

Pada Skripsi Wahyu Novianto Eka Purnama, NIM. 11340125 (2015) Pelaksanan Prinsip Kehati-hatian Dalam Rangka Pemberian Kredit Pada Bank BPD DIY Cabang Senopati. Skripsi thesis, UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta. Dalam penelitian ini menjelaskan bahwa penerapan pemberian kredit pada Bank BPD DIY telah sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008 Perbankan Syariah, dimana penilaian yang diterapkan melalui prinsip 5C dianalisis secara menyeluruh.

B. Kerangka Teori

1. Kerangka Teori Tentang Bank Syariah a. Pengertian Bank Syariah

Sebagian masyarakat menganggap Bank Syariah dan Bank Konvensional adalah lembaga keuangan yang memiliki peran dan fungsi yang sama dalam pengoperasionalannya. Akan tetapi apabila di kaji lebih lanjut, Bank Syariah melakukan penghimpunan dan penyaluran dananya berdasarkan

prinsip-prinsip syariah Islam yang mengacu kepada Al qur’an dan

(45)

12

Bank Syariah adalah lembaga keuangan syariah yang memiliki usaha pokok dalam pelaksanaan penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat serta jasa usaha syariah yang lain, seperti pembayaran, pembiayaan, dan peredaran uang dimana seluruh operasional yang dijalankan oleh bank syariah berdasarkan prinsip-prinsip syariat Islam sebagai salah satu solusi alternatif terhadap persoalan pertentangan antara bunga bank dengan riba (Muhammad, 2002:13).

b. Falsafah Operasional Bank Syariah

Hal mendasar yang menjadikan Bank Syariah dan Bank Konvensional memiliki perbedaaan yang signifikan adalah pengembalian dan pembagian keuntungan atas pembiayaan yang diberikan kepada nasabah oleh Bank Syariah, yaitu pihak bank menerapkan sistem bagi hasil terhadap nasabah pembiayaan yang besarannya ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak. Falsafah-falsafah yang harus diterapkan dalam operasional Bank Syariah, adalah sebagai berikut (Muhammad, 2005:2):

1) Baik pihak bank maupun nasabah harus menjauhkan diri dari unsur riba

(46)

dan perdagangan didasari oleh adanya pertukaran antar uang dengan barang, sehingga apabila di kemudian hari terdapat penyalahgunaan pembiayaan oleh nasabah, spekulasi, dan inflasi dapat dihindari. c. Dasar Hukum Bank Syariah

Setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Perbankan Syariah No. 21 Tahun 2008, Bank Syariah mendapat titik terang dan respon yang positif dalam pelaksanaan penghimpunan, penyaluran dana, pembiayaan serta menghadirkan produk-produk dan jasa usaha syariah. Dengan diterbitkannya Undang-Undang tersebut, Pemerintah secara tegas memberikan batasan kepada Bank Umum Syariah maupun Unit Usaha Syariah bahwa “bank syariah tidak boleh melakukan kegiatan usaha yang tidak berdasarkan prinsip bagi hasil, sebaliknya pula bank yang kegiatan usahanya tidak berdasarkan prinsip bagi hasil tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha, berdasarkan prinsip bagi hasil” maka operasional dalam Perbankan Syariah semakin terarah (Muhammad, 2005:4).

(47)

14

Bank Syariah harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan dilaporkan terlebih dahulu untuk kemudian mendapatkan persetujuan rencana pengeluaran produk Bank Syariah dari Bank Indonesia sebelum produk tersebut diperkenalkan kepada masyarakat (Peraturan Bank Indonesia Nomor: 10/17/PBI/2008).

2. Kerangka Teori Tentang Kebijakan dan Teknik Pembiayaan di Bank Syariah

a. Ketentuan Kebijakan Pembiayaan di Bank Syariah

(48)

yaitu pembiayaan bermasalah yang kemungkinan terburuk menjadi pembiayaan macet. Langkah yang perlu diambil untuk menghindari risiko tersebut, maka pihak bank dalam mengambil keputusan pada permohonan pengajuan pembiayaan harus diputuskan secara obyektif, sehingga proses pengambilan keputusan yang akan diambil harus melibatkan tim Pemutus Komite Pembiayaan, mengenai berapa besar jumlah pembiayaan yang disetujui untuk dibiayai (Muhammad, 2005:37).

b. Penyusunan Rencana Pembiayaan

(49)

16

dapat dilakukan oleh bank sebelum dalam pemberian pembiayaan kepada nasabah (Muhammad, 2005:39).

Menurut Muljono (1996) beberapa pendekatan yang dapat dijadikan rujukan dan dilakukan oleh bank dalam penyusunan perencanaan pemberian pembiayaan kepada nasabah, adalah sebagai berikut:

1) Pendekatan perencanaan pengajuan pembiayaan yang didasarkan pada jumlah sumber dana bank itu sendiri

2) Pendekatan perencanaan pengajuan pembiayaan yang didasarkan pada kemampuan pasar dalam menyerap dana-dana yang ditawarkan melalui pembiayaan

3) Pendekatan perencanaan pengajuan pembiayaan yang didasarkan pada anggaran yang dimiliki oleh pihak bank

4) Pendekatan perencanaan pengajuan pembiayaan yang didasarkan pada kebijakan-kebijakan moneter yang ditetapkan oleh para penguasa moneter.

Muhammad (2005:40) mengemukakan bahwa dalam situasi tight money policy jumlah besaran ekspansi dari pemberian

(50)

Pemberian Pembiayaan dapat melakukan efisiensi untuk meminimalisisasi risiko pembiayaan macet di kemudian hari agar pihak bank juga mendapatkan keuntungan dari bagi hasil pembiayaan yang disetujui.

c. Kelayakan Pemberian Pembiayaan

Proses dari pengajuan pembiayaan oleh nasabah kepada bank syariah sangat mempertimbangkan beberapa aspek dan serangkaian teknik administratif, untuk selanjutnya pengajuan permohonan pembiayaan dinilai layak untuk dibiayai oleh pihak bank, aspek-aspek administratif tersebut merupakan dasar pertimbangan pihak bank untuk pembiayaan yang diajukan oleh nasabah, aspek tersebut adalah sebagai berikut:

1) Surat Permohonan Pembiayaan

(51)

18

kartu identitas nasabah, legalitas yang akan dibiayai, dan bukti kepemilikan agunan.

2) Proses Evaluasi

(52)

permohonan pembiayaan yang diajukan (Muhammad, 2005:43).

d. Proses Administratif Pembiayaan

(53)

20

pihak yang dilakukaan di hadapan pejabat/ petugas bank (Muhammad, 2005:48).

e. Pengamanan Pembiayaan

Pembiayaan yang diajukan pada bank syariah tidak selamanya berjalan sesuai dengan perjanjian, karena kadang pada pembiayaan yang dibiayai muncul beberapa faktor yang tidak dapat dihindari sehingga akhirnya mengakibatkan pembiayaan macet, maka pihak bank harus melakukan upaya-upaya pengamanan terhadap pembiayaan yang berpotensi macet dan bermasalah tersebut sebelum dan sesudah persetujuan pengajuan pembiayaan diberikan kepada nasabah, langkah-langkah pengamanan pembiayaan oleh bank dapat ditempuh, melalui:

1) Sebelum Realisasi Pembiayaan

Berdasarkan persetujuan dari nasabah ketika penandatanganan akad, bank terlebih dahulu dapat menutup asuransi dan/atau pengikatan agunan yang diberikan kepada bank sebelum realisasi pembiyaaan diberikan kepada nasabah

2) Setelah Realisasi Pembiayaan

(54)

atas dana pembiayaan yang diberikan, ketika pemberian dana pembiayaan digunakan untuk pembiayaan sesuai dengan rencana yang diajukan dalam permohonan pembiayaan kepada pihak bank, selanjutnya penggunaan dana dari bank diawasi dan di pantau agar tidak disalahgunakan dan keluar dari kesepakatan pengajuan pembiayaan, bank juga harus mampu dalam membina dan memberdayakan penggunaan dana pembiayaan yang diberikan agar bernilai produktif dan menghasilkan keuntungan (Muhammad, 2005:49).

3. Kerangka Teori Tentang Analisis Kelayakan Pembiayaan di Bank Syariah

a. Tujuan Analisis Pembiayaan

(55)

22

ataupun menolak permohonan pembiayaan yang diajukan setelah melalui beberapa proses analisis pengajuan pembiayaan dan evaluasi permohonan pembiayaan (Muhammad, 2005:59).

Sebelum pengajuan pembiayaan disetujui oleh pihak bank, pengajuan tersebut di analisis terlebih dahulu oleh tim pelaksana pembiayaan bank, hal ini ditujukan untuk menilai kelayakan usaha calon nasabah pengajuan pembiayaan, nominal yang akan disetujui untuk usaha tersebut dan menekan risiko yang mungkin ditimbulkan dari pemberian pembiayaan apabila disetujui nantinya, tujuan analisis pada pengajuan pembiayaan dilakukan dan disepakati oleh pelaksana pembiayaan melalui beberapa pendekatan dalam menganalisa pembiayaan, yaitu (Muhammad, 2005:59):

1) Pendekatan melalui jaminan yang diberikan oleh nasabah, yang berarti dalam pemberian pembiayaan pihak bank menganalisa dari kuantitas dan kualitas jaminan yang dimiliki oleh penjain pembiayaan.

(56)

3) Pendekatan melalui kemampuan nasabah dalam melakukan pelunasan pembiayaan pada bank, pendekatan ini bank menganalisis bagaimana kemampuan calon nasabah dalam menyelesaikan pembiayaan yang diberikan oleh pihak bank.

4) Pendekatan dengan melakukan studi kelayakan terhadap usaha yang dimiliki calon nasabah untuk dibiayai oleh bank.

5) Pendekatan melalui fungsi-fungsi bank yang sebenarnya sebagai pihak lembaga keuangan yang menyediakan modal untuk usaha-usaha masyarakat yang membutuhkan pembiayaan, ban juga harus mengatur mekanisme penghimpuan dan penyaluran dananya.

b. Prinsip Analisis Pembiayaan

(57)

24

1) Character, merupakan sifat atau karakter yang dimiliki oleh nasabah penjamin pembiayaan yang diajukan

2) Capacity, adalah kemampuan dari nasabah pembiayaan dalam mengelola dan mengembangkan usaha untuk mengembalikan pembiayaan yang disetujui

3) Capital, adalah besaran modal yang dibutuhkan oleh calon nasabah pembiayaan untuk pengembangan usaha yang dijalankan

4) Collateral, jaminan atau agunan yang dimiliki calon nasabah untuk kemudian diberikan kepada pihak bank sebagai pengikat untuk pembiayaan yang diajukan

5) Condition, adalah keadaan atas usaha calon nasabah pengajuan pembiayaan, apakah usaha tersebut memiliki prospek untuk dibiayai atau tidak

(58)

c. Prosedur Analisis Pembiayaan

Pengelola Bank Syariah dalam menentukan prosedur analisis pembiayaan yang diajukan oleh nasabah harus mempertimbangkan beberapa aspek dalam menganalisis pembiayaan, aspek-aspek tersebut adalah (Muhammad, 2005:61):

1) Prosedur Analisis

a) Pengumpulan dan pencatatan dokumen nasabah

b) Data Pokok dan Analisis Pendahuluan (1) Realisasi pembelian, produksi dan

penjulan

(2) Rencana pembelian, produksi dan penjualan

(3) Agunan

(4) Laporan keuangan

(5) Data kualitatif dari calon nasabah (6) Penelitian Data

(7) Penelitian atas Realisasi Usaha (8) Penelitian dan Penilaian Barang

Jaminan

(59)

26

2) Keputusan Permohonan Pembiayaan

a) Bahan pertimbangan pengambilan keputusan

b) Wewenang pengambilan keputusan d. Aspek-aspek Analisis Pembiayaan

Muhammad (2005:62) mengemukakan ada beberapa aspek-aspek yang harus dilakukan ketika bank syariah melakukan analisis pembiayaan kepada nasabah dalam memutusakan besaran pembiayaan yang akan diberikan, diantaranya adalah:

(60)

2) Evaluasi Manajemen Perusahaan Debitur

Perkembangan dan pengelolaan sebuah perusahaan didasarkan pada mananjemen, dimana bank bank dan tim pelaksana analisis pembiayaan harus memperhatikan bagaimana nasabah pembiayaan mengelola sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh perusahaannya dengan baik dan benar, sehingga nantinya perusahaan mampu memperoleh keuntungan yang diharapkan untuk dikelola menjadi harta kekayaan perusahaan.

3) Analisis Kondisi Keuangan

(61)

28

e. Pedoman Memorandum Pembiayaan

Penyusunan memorandum pengajuan pembiayaan merupakan salah satu syarat wajib yang harus dipenuhi untuk menilai kelayakan permohonan pembiayaan. Memorandum pembiayaan adalah suatu bentuk proposal yang berisi analisis-analisis dari perencanaan pembiayaan yang akan diajukan. Dalam memorandum pembiayaan, pemohon pengajuan harus mencantumkan hal-hal, seperti: tujuan dari pembiayaan yang akan diajukan, hal apa saja yang melatarbelakangi calon nasabah mengajukan pembiayaan, kondisi usaha dari nasabah, analisis keuangan dari calon nasabah, analisis jaminan atau agunan, analisis resiko pembiayaan yang diajukan dan kesimpulan serta rekomendasi pengajuan pembiayaan tersebut (Muhammad, 2005:64).

f. Pemantauan dan Pengawasan Pembiayaan

(62)

sehingga dengan adanya pengawasan bank dapat menghindari penyelewengan-penyelewengan baik dari dalam maupun dari luar bank syariah. Hal ini juga membantu bank syariah untuk memastikan ketelitian dan kebenaran data administrasi pada bidang pembiayaan, serta memajukan efisiensi dalam mengelola tata laksana usaha di bidang peminjaman dan sasaran pencapaian yang ditetapkan. Bank syariah dapat memantau dan mengawasi pembiayaan tersebut melalui informasi nasabah dalam menggunakan dananya. Bank syariah juga dapat mengevaluasi dengan melakukan kunjungan terhadap nasabah pembiayaan, bagaimana nasabah menggunakan dana yang diberikan dan bagaimana kondisi kemajuan usaha yang dibiayai sehingga dapat menghasilkan pendapatan yang menguntungkan (Muhammad, 2002:309). g. Penanganan Pembiayaan Bermasalah

(63)

30

atau usaha yang dijalankan sehingga dana pembiayaan yang diberikan oleh pihak bank digunakan secara efektif. Namun apabila kemacetan pada pembiayaan masih terjadi, pihak bank syariah dapat melakukan perbaikan akad yang digunakan atau memberikan pembiayaan ulang kepada nasabah, melakukan penundaan pembayaran angsuran, memperkecil angsuran dengan memperpanjang jangka waktu pembiayaan atau memperkecil margin bagi hasil agar pembiayaan yang telkah diberikan kepada nasabah dapat terselesaikan hingga akhir (Muhammad, 2002:311).

4. Kerangka Teori Tentang Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan a. Risiko Pembiayaan

(64)

Risiko pembiayaan bagi bank syariah adalah bank tidak bisa mendapatkan kembali dana yang telah diberikan kepada nasabah pembiayaan atau investasi, risiko pembiayaan ini dapat dipengaruhi oleh penilaian pembiayaan yang tergesa-gesa karena pihak bank juga dituntut memanfaatkan kelebihan likuiditas yang dimiliki dengan menyalurkan dana nya untuk pembiayaan, sehingga analisis penilaian pembiayaan kurang teliti dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko yang dibiayai, sehingga dana pembiayaan yang diberikan juga kurang efektif. Risiko pembiayaaan dalam analisis penilaian pembiayaan dapat ditekan dengan memberikan batas wewenang keputusan pembiayaan berdasarkan kapabilitasnya dan batas jumlah pembiayaan yang akan diberikan, yang selanjutnya dilakukan diversifikasi (Muhammad, 2002:358). b. Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah

(65)

32

melakukan penyaringan (screening) terhadap calon nasabah yang mengajukan pembiyaaan dan melakukan perlakuan (treatment) yang sesuai dengan karakter nasabah dan usaha

yang disetujui untuk dibiayai (Muhammad, 2002:365).

5. Kerangka Teori Tentang Pembiayaan Paket Masa Depan PT. BTPN Syariah

Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) adalah salah satu produk penyaluran dana bagi usaha mikro kecil menengah yang menggunakan akad wakalah wal murabahah dari PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah, produk pembiayaan ini diberikan kepada sekelompok wanita di pedesaan yang memiliki usaha untuk dikembangkan maupun bagi yang belum memiliki usaha tetapi mempunyai tekad untuk berusaha membangun dan menumbuhkan usaha yang tidak memiliki akses dan jaminan kepada bank. Pembiayaan PMD ini ditujukan sebagai usaha pemberdayaan melalui pemberian pembiayaan untuk usaha produktif, sehingga pada pemberian pembiayaan PMD nantinya dapat mendorong seluruh nasabah untuk giat dalam mengelola dana yang diberikan pada usaha nya agar mendapatkan keuntungan yang diharapkan (http://www.btpnsyariah.com/produk/).

(66)

pertama, kemudian dibayarkan melalui cicilan setiap dua minggu dengan jangka waktu pengembalian satu tahun. Di akhir periode, nasabah yang memiliki track record bagus selama pembayaran angsuran, yang berarti nasabah membayar tepat waktu dapat mengajukan dan menerima pembiayaan pada periode berikutnya dengan jumlah yang lebih besar yaitu dua kali lipat dari plafond pada periode awal tanpa agunan. Dengan adanya pembiayaan PMD, BTPN Syariah berharap tidak hanya dapat menyalurkan dana yang telah dihimpun tetapi juga mampu memberikan solusi keuangan kepada setiap nasabah, kemudian merancang perencanaan keuangan sederhana untuk memulai usaha, ikut berpartisipasi terhadap seluruh anggota kelompok pembiayaan dan melibatkan karyawan BTPN Syariah yang bertindak sebagai fasilitator pembiayaan untuk menjadi teladan bagi nasabah BTPN Syariah dalam membangun dan mengembangkan usaha yang dibiayai. Pembiayaan PMD ini terdiri dari 4 komponen yang saling terkait, yaitu;

a. Pembiayaan, tabungan, dan asuransi berkelanjutan b. Pelatihan Daya (Capacity Building Program)

c. Sistem keanggotaan (kelompok formal, pertemuan wajib dua mingguan, disiplin menabung, dan tanggung renteng)

d. Karyawan bank terlatih untuk menjadi pembina

(67)

34

program pembiayaan ini merupakan suatu langkah dalam memulai dan mengembangkan agar terfokus pada pembangunan karakter pada setiap nasabah pembiayaan. Hal ini diharapkan agar setiap nasabah memiliki tanggungjawab dan sikap disiplin untuk mencapai keberhasilan dalam mengelola usaha melalui program pembiayaan PMD ini. Dengan demikian, Pembiayaan PMD dirancang dengan membangun empat perilaku utama, yaitu yang pertama adalah keberanian calon nasabah untuk memulai usaha. Kedua adalah memiliki sikap disiplin dalam memegang komitmen untuk tepat waktu membayarkan kewajibannya dan mengelola dana yang diberikan secara bijaksana. Ketiga adalah kemauan untuk bekerja keras dalam mengelola dan mengembangkan usaha yang dijalani, dan keempat adalah masing-masing dari anggota kelompok saling membangun solidaritas terhadap kelompok pembiayaannya (Sumber di peroleh dari hasil observasi dengan melakukan wawancara kepada Manager Sentra MMS Pembiayaan PMD Area Temanggung Desa Kandangan pada tanggal 28 September 2016).

(68)
(69)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian 1. Metode Kualitatif

Sugiyono, (2013:15) mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan),

analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

a. Konsep dan Variabel Penelitian

Konsep pada penelitian ini adalah penelitian lapangan, dimana data yang di peroleh dengan melakukan penelitian secara langsung ke lapangan. Data-data yang di peroleh nantinya merupakan data penelitian dari hasil survey, observasi, dan wawancara di Wisma Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) PT. BTPN Syariah Area Temanggung.

(70)

manajemen risiko yang diterapkan oleh Bank untuk meminimalisir pembiayaan macet.

b. Lokasi dan Subyek

Lokasi penelitian ini berada di Wisma MMS Pembiayaan PMD PT. BTPN Syariah Area Temanggung yang berada di Desa Balun Kecamatan Kandangan dan Rumah salah satu angoota kelompok Pembiayaan PMD di Krajan I RT 01 RW 07 Kandangan, Temanggung.

Subyek dari penelitian ini adalah Pembina Sentra dan Manager Sentra Pembiayaan PMD PT. BTPN Syariah Area Temanggung, dan beberapa nasabah PMD Area Temanggung.

c. Teknik Pengumpulan Data

(71)

1) Observasi Partisipatif

Dalam pengumpulan data melalui observasi, data diperoleh dengan cara mengamati bagaimana mekanisme pelaksanan pembiayaan PMD dan cara meminimalisir pembiayaan bermasalah. 2) Wawancara

Pengumpulan Data dengan melakukan wawancara kepada Manager Sentra dan salah satu Pembina Sentra terkait dalam penelitian manajemen risiko terhadap kelayakan pembiayaan nasabah PMD.

Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk memperoleh informasi-informasi terkait manajemen risiko kelayakan pemberian pembiayaan pada nasabah PMD PT. BTPN Syariah Area Temanggung.

3) Dokumentasi

(72)

didapatkan hasil yang kredibel pada penelitian ini nantinya.

d. Keabsahan dan Kredibilitas

Keabsahan dan kredibilitas pada penelitian ini melalui pendekatan kepada Pembina Sentra dan Manager Sentra untuk menganalisa mekanisme pembiayaan yang diajukan oleh nasabah secara teliti dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga didapatkan data atau informasi yang akurat mengenai calon nasabah pembiayaan PMD. Pendekatan dalam kredibilitas penelitian ini diperoleh dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi langsung terhadap calon nasabah pembiayaan PMD.

e. Analisis Data

(73)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah 1. Profil PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah

(74)

wanita yang tidak memiliki pendidikan pada jenjang Strata satu untuk bergabung menjadi karyawan Pembina Sentra pada produk pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) yang nantinya diharapkan mampu melayani dan mendampingi masyarakat pra-sejahtera dalam mengelola dana untuk membangun usaha (https://www.btpnsyariah.com/).

Dengan mengedepankan layanan bisnis dan sistem operasional perbankan tersebut, BTPN Syariah mengajak dan melibatkan stakeholders secara bersama-sama dalam memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat pra-sejahtera di Indonesia untuk tumbuh menggapai kehidupan yang lebih baik.

(75)
(76)

Business Coach : Yudha Darmono Pembina MMS : Novayanti Vernanda Manager Sentra : Tri Widiyaningsih Pembina Sentra 1 : Marantika

Pembina Sentra 2 : Nurul Rochiningrum Pembina Sentra 3 : Fajar Yuni

b. Dewan Komisaris

1) Kemal Azis Stamboel 2) Dewie Pelitawati 3) Mahdi Syahbuddin c. Dewan Direksi

1) Harry A.S. Sukadis 2) Ratih Rachmawaty 3) Taras Wibawa Siregar 4) Setiasmo

5) Gatot Adhi Prasetyo d. Dewan Pengawas Syariah

1. KH. DRS. Amidhan

(77)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pengelola BTPN Syariah 2015

(78)

3. Profil Produk Penyaluran Dana Paket Masa Depan (PMD) BTPN Syariah

Hingga pada awal tahun 2016, BTPN Syariah terus berupaya untuk tetap berfokus pada pengembangan bisnis yang berada pada segmen mass market khususnya masyarakat pra-sejahtera atau BTPN Syariah menyebutnya segmen Tunas Usaha Rakyat, fokus pada segmen ini diwujudkan melalui produk pembiayaan Pembiayaan Masa Depan (PMD) yang telah melayani lebih dari 2 (dua) juta nasabah dengan jumlah dana yang disalurkan sebesar Rp. 3,7 triliun. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik bagi BTPN Syariah, karena dengan adanya PMD memberikan dampak yang positif bagi masyarakat pra-sejahtera untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (https://www.btpnsyariah.com/).

(79)

nilai Berani Berusaha dapat tercermin pada usaha yang akan dijalankan, bagaimana nasabah berusaha untuk mengelola usaha tersebut sampai akhirnya berkembang, nilai Disiplin dapat dilihat ketika pembayaran angsuran pembiayaan, apakah nasabah datang secara rutin ke Pertemuan Rutin Sentra (PRS) dan membayar kewajibannya dengan tepat waktu, kemudian nilai Kerja Keras dapat diamati dari usaha nasabah untuk menabung, bertekad mengelola usaha sehingga menghasilkan keuntungan dari pembiayaan yang diberikan oleh bank, dan nilai Saling Bantu oleh setiap anggota nasabah tercermin dari kekompakan kelompok pembiayaan (http://www.btpnsyariah.com/produk/).

Dalam memberikan pembiayaan PMD kepada nasabah BTPN Syariah memiliki empat pilar utama sebagai pondasi yang kuat untuk dapat bersaing dengan bank syariah lainnya di dunia perbankan syariah Indonesia, untuk menjadi integrator ekonomi yang memberikan layanan baik pendanaan maupun pelayanan kepada nasabah dari berbagai segmen masyarakat. Empat pilar utama pada pembiayaan PMD BTPN Syariah, adalah;

(80)

secara langsung berupa asuransi proteksi jiwa untuk nasabah dan suami selama masa pembiayaan dan santunan sebesar Rp. 500.000 apabila suami meninggal, pembukaan rekening tabungan wajib bagi nasabah, pelatihan pengelolaan uang secara praktis dan efektif, pelatihan mengenai kewirausahaan, potongan angsuran pada saat Hari Raya Idul Fitri dan bagi nasabah yang secara disiplin hadir membayar angsuran kewajiban diberikan kesempatan untuk memperoleh pembiayaan dua kali lipat dari plafond periode pertama, setelah mengikuti tiga kali periode pembiayaan PMD, nasabah akan mendapatkan pembiayaan untuk memperbaiki rumah dan dana pendidikan bagi anak.

b. Program Daya merupakan program berkelanjutan BTPN Syariah dari pembiayaan PMD dengan mengintegrasikan misi bisnis dan misi sosial yang didasarkan pada tiga rumusan pokok pelatihan dan pembinaan bagi nasabah yang nantinya diharapkan dapat memberikan dan meningkatkan pengetahuan serta kemampuan nasabah dalam mengelola usaha, tiga rumusan pokok tersebut yaitu: Daya Tumbuh Usaha, Daya Sehat Sejahtera, dan Daya Tumbuh Komunitas.

(81)

10 (sepuluh) orang dan anggota dari masing-masing kelompok tersebut dipilih sendiri oleh nasabah, sistem keanggotaan pada nasabah pembiayaan PMD ini merupakan salah satu langkah efektif bagi setiap nasabah untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain.

(82)

4. Perkembangan Nasabah dan Penyaluran Pembiayaan PMD

Sumber : Laporan Tahunan BTPN Syariah 2015

Gambar 4.2 Perkembangan Nasabah Paket Masa Depan (PMD)

Sumber : Laporan Tahunan BTPN Syariah 2015

Gambar 4.3 Penyaluran Pembiayaan PMD

(83)

tahun 2015 mencapai angka 3.678.027 dalam jutaan rupiah, peningkatan anggota kelompok nasabah dan dana yang diberikan melalui PMD ini terjadi setelah Unit Usaha Syariah dilepas dari BTPN dan secara resmi beroperasional sebagai Bank Umum Syariah (BTPN Syariah) pada tanggal 14 Juli 2014. Pencapaian ini menjadi prestasi tersendiri bagi BTPN Syariah sekaligus menjadi tanggungjawab untuk meningkatkan pelayanan dan pembinaan agar tujuan pembiayaan PMD berjalan sesuai dengan tujuan.

5. Data Keuangan dan NPF BTPN Syariah

Sumber : Laporan Tahunan Sumber : Laporan Tahunan BTPN Syariah 2015

BTPN Syariah 2015

Gambar 4.4 Dana Pihak Ketiga BTPN Gambar 4.5 Total Aset (dalam jutaan rupiah) Syariah 2015 (dalam jutaan rupiah)

(84)

dari gambar 4.5 diatas, total aset yang dimiliki BTPN Syariah selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang sangat baik, seluruh aset di tahun 2015 sebanyak 5.189.013 meningkat dari tahun 2014 yaitu 3.710.016 dan tahun 2013 sebesar 300.438 (dalam jutaan rupiah).

Sumber : Laporan Tahunan BTPN Syariah 2015 Gambar 4.6 NPF BTPN Syariah 2015

Pada gambar 4.6 NPF yang dimiliki BTPN Syariah semakin menurun dari tahun ke tahun, seperti yang dapat kita ketahui dara gambar diatas, NPF bank pada tahun 2013 adalah sebesar 2,94 persen dan mampu menekan di angka 1,25 persen di tahun 2015. Hal ini merupakan pencapaian yang sangat baik bagi BTPN Syariah dalam mengelola seluruh aset, baik dari penghimpunan, penyaluran dana dan risiko pembiayaan bermasalah.

(85)

Berdasarkan hasil observasi awal pada tanggal 26 September 2016 dengan Marantika selaku Pembina Sentra dan wawancara dengan Ibu Tri Widiyaningsih selaku Manager Sentra dan Ibu Fajar Yuni selaku Pembina Sentra MMS PMD BTPN Syariah Area Temanggung maka penulis dapat menjabarkan, dalam upaya untuk mendapatkan pelayanan pembiayaan PMD, calon nasabah harus melalui beberapa tahapan prosedur pengajuan pembiayaan yang harus diikuti, tahapan-tahapan tersebut adalah:

a. Pre-marketing

Pada tahapan pre-marketing terdapat tiga tingkatan pertemuan yang dilakukan oleh karyawan BTPN Syariah untuk pembiayaan PMD yaitu Manager dan Pembina Sentra, ketiga tingkatan tersebut diantaranya:

(86)

2) Mini Meeting

Setelah pihak melakukan pertemuan dengan bersilaturrahmi kepada tokoh masyarakat adan perangkat desa, bank mendapatkan informasi mengenai data masyarakat pra-sejahtera yaitu ibu-ibu yang dianggap layak untuk dijadikan calon nasabah dan diberikan kesempatan untuk mengajukan pembiayaan pada PMD BTPN Syariah, selanjutnya bank akan mengadakan mini meeting untuk semua calon nasabah pembiayaan guna memperkenalkan diri dan menjelaskan produk pembiayaan PMD, yang diharapkan akan dapat menggali potensi, informasi dan kebutuhan dari calon nasabah yang akan bergabung pada pembiayaan ini, sehingga pihak bank juga dapat melakukan screening calon nasabah.

3) Projection Meeting

(87)

prosedur PMD dan menggali secara mendalam agar bank mendapatkan data dan informasi calon nasabah yang akurat, di samping itu pihak bank menjelaskan lagi secara lengkap dan detail syarat dan ketentuan yang harus dipahami oleh calon nasabah pada pembiayaan PMD, adapun syarat dan ketentuan pembiayaan PMD adalah sebagai berikut:

a) Syarat pembukaan rekening PMD

(1) Calon nasabah wajib mengikuti pelatihan yang diberikan oleh pihak bank ketika diadakan Pelatihan Dasar Keanggotaan

(2) Mengisi aplikasi pengajuan pembiayaan PMD dan pembukaan rekening tabungan

(3) Menyerahkan fotocopy identitas dan surat keterangan domisili dari kelurahan setempat

b) Ketentuan pengajuan PMD

(1) Membuat kelompok pembiayaan minimal 10 (sepuluh) orang

(88)

(3) Fotocopy KTP calon nasabah dan suami

(4) Fotocopy Kartu Keluarga

(5) Tidak sedang dalam keadaan hamil dan usia kandungan lebih dari 7 (tujuh) bulan

(6) Bukan merupakan PNS, Pegawai Swasta dan Karyawan

(7) Tempat tinggal milik sendiri b. Proses Seleksi Nasabah

(89)

c. Pelatihan Dasar Keanggotaan

Pelatihan dasar keanggotaan adalah salah satu pembinaan awal yang diberikan oleh pihak bank untuk calon nasabah pembiayaan yang telah lolos seleksi, pelatihan ini berlangsung selama lima hari berturut-turut sebagai bentuk kedisiplinan untuk menaati dan patuh terhadap peraturan PMD sebelum permohonan pembiayaan disetujui pihak bank, pelatihaan ini ditujukan agar calon nasabah memahami dan mengerti secara jelas mengenai program pembiayaan PMD, apa dan bagaimana PMD tersebut.

d. Pencairan Pembiayaan PMD

(90)

e. Pemantauan dan Pengawasan Nasabah

Pada tahapan yang terakhir, bank melakukan pembinaan dan pendampingan kepada nasabah pembiayaan dalam mengelola dana yang diberikan untuk mengembangkan atau membangun usaha. Pendampingan dilakukan pihak bank paling lambat 2 (dua) bulan setelah proses pencairan dengan memonitoring berapa dana yang telah digunakan untuk usaha yang dijalankan nasabah, apakah dana yang diberikan benar-benar digunaan untuk mengelola usaha, bagaimana perkembangan usaha setelah diberikan tambahan modal melalui PMD, apakah usaha tersebut semakin meningkat atau bahkan menurun. Ketika pendampingan tersebut, bank juga memberikan pembinaan dalam mengelola usaha, selain tercapainya tujuan dari PMD hal itu juga dapat memberikan semangat kepada nasabah untuk terus berusaha mengembangkan usahanya. Selanjutnya pihak bank akan melakukan surprise visit kepada nasabah untuk mengetahui penggunaan dana dan keadaan usaha setelah pemberian pembiayaan.

7. Analisis Pembiayaan Paket Masa Depan (PMD) BTPN Syariah

(91)

pembiayaan, calon nasabah dapat mendaftarkan kelompoknya melalui Pembina Sentra untuk dapat mengikuti menjadi nasabah PMD BTPN Syariah dengan menyertakan syarat-syarat dan ketentuan pengajuan pembiayaan PMD, yang kemudian berkas dan dokumen dari calon nasabah akan diperiksa kelengkapannya oleh Pembina Sentra. Apabila berkas dari persyaratan dan ketentuan pengajuan pembiayaan PMD sudah lengkap maka Pembina Sentra dan Manager Sentra MMS PMD BTPN Syariah selaku pihak bank akan melakukan projection meeting kepada seluruh calon nasabah, namun bagi yang belum lengkap diberi kesempatan untuk melengkapi terlebih dahulu (wawancara dengan Pembina Sentra Ibu Fajar Yuni pada tanggal 15 November 2016 di Rumah Nasabah PMD ketika Jadwal Pembayaran Angsuran).

(92)

aparat setempat untuk memastikan kebenaran usaha dan karakter dari calon nasabah, hal ini menjadi sangat penting karena proses seleksi merupakan langkah awal yaitu berupa penyaringan calon nasabah untuk mitigasi risiko nasabah gagal bayar.

Setelah proses seleksi, calon nasabah yang lulus survey harus mengikuti Pelatihan Dasar Keanggotan (PDK) selama lima hari berturut-turut dari pihak bank, PDK adalah pelatihan awal bagi calon nasabah untuk mengetahui dan memahami apa dan bagaimana PMD, menaati peraturan yang diterapkan pada PMD dan bagaimana mengelola usaha agar mendapatkan keuntungan yang diharapkan.

Selama pelaksanaan PDK, pihak bank juga melakukan analisis kepada calon nasabah melalui prinsip 5C sebelum penilaian kelayakan pembiayaan disetujui. Dalam melakukan penilaian prinsip 5C, pihak bank menganalisis berdasarkan ketentuan dari prosedur pembiayaan PMD, formulir permohonan pembiayaan, rancangan laporan keuangan sederhana, berkas dan dokumen nasabah serta referensi dari masyarakat sekitar dan aparat warga, prinsip-prinsip 5C diantaranya adalah;

a. Character

(93)

watak dari calon nasabah, pihak bank menilai karakter calon nasabah PMD melalui beberapa tahap, yaitu;

1) Perilaku calon nasabah dalam berinteraksi sosial dengan calon nasabah yang lain, ketika projection meeting berlangsung, pihak bank tidak hanya memberikan penjelasan mengenai PMD, tetapi juga menilai karakter masing-masing calon nasabah yag akan diseleksi menjadi nasabah pembiayaan. Pada tahap ini bank menilai dari segi tingkah laku, bagaimana memperlakukan orang lain, saling sapa dan antusias ketika berdiskusi atau tidak.

2) Kelengkapan dan kesesuaian berkas, dari berkas yang diberikan calon nasabah selanjutnya pihak bank akan memverifikasi data dan melakukan survey untuk mencocokkan data yang diberikan. Dari survey tersebut bank akan menilai karakter dari kejujuran calon nasabah dalam memberikan data.

3) Komunikasi ketika wawancara, dari tanya jawab yang dilakukan bank kepada calon nasabah ini. Penyampaian informasi yang diberikan akan menunjukkan karakter calon nasabah dalam memenuhi kewajibannya.

(94)

Dalam hal ini pihak bank akan mengetahui bagaimana karakter calon nasabah melalui reaksi yang diberikan, kondisi yang sebenarnya dari usaha yang dijalankan, gaya hidup, kebiasaan dan interaksi sosial calon nasabah di lingkungan masyarakat sekitar.

5) Referensi tetangga dan Aparat Desa, penilaian karakter calon nasabah juga melibatkan tetangga maupun aparat desa setempat untuk memastikan bahwa calon nasabah tersebut layak atau tidak untuk diberikan pembiayaan. b. Capacity

(95)

c. Capital

Capital merupakan modal atau kekayaan yang dimiliki

calon nasabah untuk menjalankan usaha. Penilaian pada prinsip ini dalam pembiayaan PMD dianalisis melalui laporan keuangan sederhana usaha calon nasabah, pendistribusian modal yang dimiliki calon nasabah untuk mengelola usaha sehingga dana tersebut dapat berputar secara produktif, kemudian bagaimana calon nasabah mampu menghasilkan keuntungan dan memajukan usaha dari modal sendiri. Penilaian pada prinsip ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana calon nasabah mengelola modal sendiri untuk usahanya secara efektif dan tepat guna sehingga mendatangkan keuntungan.

d. Collateral

(96)

e. Condition

Prinsip condition yang dianalisis pada pembiayaan PMD ditujukan untuk mengetahui bagaimana prospek bisnis dari usaha calon nasabah yang akan dibiayai. Prinsip ini merupakan suatu kondisi dimana faktor-faktor ekonomi, sosial, budaya sekitar dan politik yang ada di masyarakat dapat mempengaruhi eksistensi usaha secara langsung maupun tidak langsung. Pihak

bank biasanya menilai prinsip ini melalui lama usaha yang sudah dikelola, mengapa demikian? Karena usia usaha yang dimiliki akan memberikan gambaran nyata bagi pihak bank sejauh dan sekuat mana usaha tersebut memiliki prospek yang baik ketika diberikan tambahan modal melalui PMD nantinya, hal ini juga dapat membantu pihak bank untuk mengetahui seberapa besar risiko pembiayaan bermasalah yang akan diterima ketika pengajuan PMD disetujui.

8. Identifikasi Risiko Gagal Bayar PMD BTPN Syariah

Gambar

Gambar 1.1 Jumlah Pembiayaan
Tabel 2.1
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pengelola BTPN Syariah 2015
Gambar 4.2 Perkembangan Nasabah Paket Masa Depan (PMD)
+3

Referensi

Dokumen terkait

pada Bank BNI Syariah, yaitu pertama, bank melakukan pengumpulan data nasabah yang mengajukan pembiayaan, kedua penyelidikan berkas oleh pihak bank kepada calon/nasabah berupa

Risiko kredit muncul akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi liabilitas kepada bank syariah sesuai kontrak. Risiko ini disebut juga risiko gagal

Apakah gaji yang diterima oleh calon nasabah tiap bulan cukup atau tidak untuk. angsuran pembiayaan. Dan hal ini digunakan pihak Bank BRI Syariah

BNI Syariah Cabang Banda Aceh dengan menggunakan analisis know your custumer yaitu dengan menganalisa watak/karakter kepada calon nasabah pembiayaan, dan juga

Bank Pembiayaan Syariah Al-Falah Banyuasin Palembang ketika menentukan besarnya nisbah bagi hasil antara pihak bank dan nasabah mempunyai permasalahan yang dihadapi oleh pihak bank

BPRS Baiturrahman penulis menyarankan bank harus lebih berhati-hati dalam mengelola pembiayaan- pembiayaan yang diberikan kepada nasabah oleh pihak bank dan harus sesuai

Selanjutnya, ketika nasabah telah menyepakati kewajiban atau aturan yang telah ditetapkan oleh pihak bank, bagaimana sistem penetapan harga yang dilakukan oleh

sebelumnya milik nasabah. Karena kuasa lelang menandakan adanya hak preogratif bagi pihak bank atas barang gadai yang tidak di ambil oleh nasabah. Pengukuran risiko