• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian validitas konstruksi dari Intelligenz Struktur Test (IST) yang telah direvisi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengujian validitas konstruksi dari Intelligenz Struktur Test (IST) yang telah direvisi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNOLOGI (BPPT)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Bセiᄋェ

:

BゥGゥZNBG[BGVGG{[GG[GGセMHイGGQゥG

1gl. :

tJ(

: ..

6<['::..

2i...

オNセ

No. Induk :

w.

セN|LRNHエN

kh\sifikasi : .

Disusun oleh :

NURSAKINAH OKTAVIANA SASMITA

NIM: 105070002297

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

TEKNOlOGI

(BPr---

----1

ERPUSTAKAAN UTAMA

Skripsi UIN SYAHID JAKARTA

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh:

NURSAKINAH OKTAVIANA SASMITA

NIM:

105070002297

Dibawah Bimbingan

Pembimbing

Jahja Umar, Ph. D

NIP.130 885 522

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

;TRUKTUR TEST (1ST) YANG TELAH DIREVISI BADAN PENGKAJIAN DAN

'ENERAPAN TEKNOLOGI (BPPT)" telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas

'sikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 28 Januari

1010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

3arjana Psikologi.

Jakarta, 28 Januari 2010

Sidang Munaqasyah

<etua Merangkap Anggota

Jahja Umar, Ph.D

NIP.130 885 522

Penguji I

Yunita Faela Nisa, M. Psi, Psi

NIP. 150368748

Sekretaris Merangkap Anggota

Om.

fG、セmNs[

NIP.19561223 198303 2001

Anggota,

Penguji II

Jahja Umar, Ph.D

NIP. 130885522

Pembimbing,

-Jahja Umar, Ph.D

(4)

uウセィセ

エ。ョイセ

ォ・イケセ

ker'd.s

セjセィィウィMウゥセN

k・イケセ

ュ・ョェセjゥ

ョケセエセ

セjセiセィ

ォ・「セィセYゥセセョN

Hk・「ィセYゥセセョI

ケセョY

jゥィョjセウゥ

j・ョYセョ

ゥュセョL

エ。セキセL

(5)

2010

(C) Nursakinah Oktaviana Sasmita

(D) Pengujian Validitas Konstruk dari Intelligenz Struktur Test (1ST) Yang

Telah Direvisi Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT)

(E) ix+

110

halaman +Lampiran

(F) Dalam merekrut calon karyawan pada sebuah perusahaan dibutuhkan

suatu alat tes dan wawancara untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki

mereka. Biro SDM dan Organisasi BPPT telah merevisi beberapa alat tes

yang mengukur intelegensi. Salah satu dari alat tes yang telah direvisi adalah

1ST(/ntel/igenz Struktur Test). Alat tes tersebut telah digunakan pada proses

seleksi calon pegawai. Oleh karena itu, mengingat alat tes tersebut akan

digunakan dalam proses pengambilan keputusan penting, maka perlu

diadakan pengujian validitas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas konstruk dari tes 1ST

tersebut. Sampel yang digunakan berjumlah 963 orang dari calon karyawan

BPPT yang diseleksi pada tahun

2008.

Uji Validitas Konstruk dilakukan dengan Analisis Faktor Konfirmatori (CFA).

Dari hasil analisis data dengan delapan sub tes yang berjumlah

151

item

dengan menggunakansoftware Lisrel 8,7 terdapat

25

item yang didrop.

Ketidakvalidan item tersebut dikarenakan tidak mengukur apa yang hendak

diukur, terlalu kompleks, dan negatif dengan apa yang hendak diukur.

Dengan menggunakan item yang valid, dilakukan analisis faktor untuk

menguji apakah delapan sub tes yang ada terbukti mengukur satu

kemampuan umum yaitu inteligensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

memang delapan sub tes tersebut mengukur inteligensi umum tetapi, hanya

(6)

pengetesan menggunakan empat sub tes yang signifikan saja (short form)

ternyata hasilnya tidak berbeda dengan yang diperoleh dari penggunaan

seluruh sub tes (long form). Korelasi antara keduanya adalah 0,957. Oleh

sebab itu. direkomendasikan untuk cukup menggunakan bentukshort form

yaitu sub tes ZR, ME, AN dan RA.

(G) Bahan bacaan : 17 buku, 2 jurnal, 2 bahan persentasi, dan 2 website

(1960 -2009)

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji bagi Illahi Rabb, Sang Pemilik Langit dan Bumi yang

memiliki kasih yang sedemikian luas kepada seluruh umatNya. Shalawat

serta salam tereurahkan bagi Rasulullah SAW, suri tau ladan sepanjang

masa. Akhirnya usai juga, penulisan skripsi dengan judul "Pengujian Validitas

Konstruk dari Intelligenz Struktur Test (1ST) Yang Telah Direvisi Badan

Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT)".

Skripsi ini merupakan tugas akhir dalam rangka menyelesaikan pendidikan

Sarjana Strata Satu (S 1) sesuai kurikulum yang diterapkan di Fakultas

Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini dHaksanakan untuk mengetahui validitas item 1ST.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis merasa kesulitan dalam penearian bahan

untuk bab kajian teori, untuk itu penulis menyarankan agar memperbanyak

jurnal-jurnal penelitian pad a perpustakaan guna mempermudah mahasiswa

meneari bahan literature. Penulis juga tidak luput dari berbagai masalah dan

menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan yang diperoleh bukanlah

semata-mata hasH usaha penulis sendiri, melainkan berkat dukungan,

bantu an, dorongan, dan bimbingan yang tak ternilai harganya dari

pihak-pihak lain. Ueapan terima kasih tak terhingga, penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Jahja Umar, Ph. D selaku Dekan Fakultas Psikologi.

merangkap pembimbing dan penguji skripsi saya. Terima kasih atas

bimbingannya selama ini.

2. Para jajaran pimpinan, dosen-dosen tereinta di Fakultas Psikologi

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Bu

(8)

tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terimakasih atas segala dukungan

dan perhatiannya pada skripsi yang saya buat.

3. Ke dua orang tua saya, Ayahanda Jeppy Jajang Jaya Sasmita beserta

ibunda tercinta Annie Hendriani. Terimakasih atas segalanya, "Love usa

much,,"Kepada saudara-saudara kandung saya, Mba Yu, Ichsan dan Usi.

Terimakasih, sudah terus mendorong saya, agar semangat menghadapi

bimbingan skripsi.

4. Pihak BPPT, khususnya Bu Suratna, dan Bapak Roni Tulak yang

sudah memberikan izin penelitian dalam skripsi ini.

5. Dian Saputro Utomo, yang sudah memberikan semangat, dan selalu

setia menemani penulis dan Bang Tupi yang sudah ikut serta membantu

saya dalam penulisan skripsi.

6. Fitri Husnia, Evi Aini, Dian Eka, Nur Jamilah, Lia Martila (sahabat pena

di Lombok) dan Indah Purwati. Sahabat yang tak pernah lekang oleh waktu,

serta teman-teman angkatan 2005, terimakasih atas dukungannya.

7. Anggota Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) khususnya Mba Trie,

Mba Ditha, Fitri Sartika, Naritha, serta Andine. Terimakasih dengan

catatan-catatan kecil yang bermanfaat buat skolioser, agar para skolioser hidup lebih

nyaman di masa datang. Untuk para skolioser, ayo jangan menyerah!

Tunjukkan pad a dunia, bahwa skolioser adalah keunikan yang kita miliki.

8. Teman-teman di Forum Lingkar Pena Ciputat dan Tangerang.

Penulis menyadari bahwa di dalam penyelesaian skripsi ini kurang dari kata

sempurna. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat

bagi semua pembaca, khususnya mahasiswa-i Fakultas Psikologi Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Januari 2010

(9)

DAFTAR 151

Abstrak

Kata Pengantar iii

Daftar lsi v

Daftar Tabel viii

Daftar Gambar ix

BAB I PENDAHULUAN 1-9

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Identifikasi Masalah 7

1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah 7

1.3.1 Pembatasan Masalah 7

1.3.2 Rumusan masalah 7

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 8

1.4.1. Tujuan Penelitian 8

1.4.2. Manfaat Penelitian 8

1.5Sistematika Penulisan 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA 10-38

2.1 DeskriptifTeoritis 10

2.1.1 Bahasan umum tes psikologi 10

2.1.2Inteligensi 12

2.1.2.1 Definisi Intelegensi 13

2.1.2.2 Teori Intelegensi 14

2.1.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi 16

2.1.2.4 Pengukuran Intelegensi 17

2.1.3 Konstruksi Tes 20

2.1.3.1. Validitas Alat Ukur 20

1.validitas Penelitian 21

(10)

b. Validitas Eksternal

2. Validitas Item (Item Validity)

3.Validitas Tes

a. Validitas isi

21

21

22

22

b. Validitas konstruk 22

b.1 Validasi alat ukur dengan analisis faktor 23

b.2 Validasi alat ukur dengan cara analisis konvergen dan diskriminan dan dikaitkan dengan konsep

multi trait, multi methode. 23

b.3 IRT(Item Responses Theory) 23

c. Validitas Berdasarkan Kriteria 25

2.1.3.2. Reliabilitas Tes 25

1. Pendekatan Tes Ulang (Test Retest) 26

2. Pendekatan Tes Sejajar(Alternate Forms) 26

3. Pendekatan Konsistensi Internal (Internal Consistency)

a. Belah dua (Split Half) 27

b. Alpha Cronbach 27

2.1.4 Gambaran Umum 1ST 29

2.2 Kerangka Berpikir 36

2.3 Hipotesis 38

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 SUbjek Penelitian

3.2 Instrumen Penelitian

3.3 Metode Analisis data

3.4 Prosedur Penelitian

39-46 39

(11)

BAB IV HASIL PENELITIAN 47-101

4.1 Validitas Konstruk Tingkat Sub Tes 47

4.1.1 Validitas Konstruk sub tes Satzergaenzung(SE) 47

4.1.2 Validitas Konstruk sub tes Wortauswahl 0NA) 55

4.1.3 Validitas Konstruk sub tes Analogien (AN) 62

4.1.4 Validitas Konstruk sub tes Rechhenaufgben (RA) 69

4.1.5 Validitas Konstruk sub tes Zahlenreihen (ZR) 75

4.1.6 Validitas Konstruk sub tes Formasuwahl(FA) 82

4.1.7 Validitas Konstruk sub tes Wurfelaugfgaben 0NU) 88

4.1.8 Validitas Konstruk sub tes Merkaufgaben(ME) 92

4.2 Menguji hipotesis apakah seluruh sub tes 1STmengukur 1

konstruk bersifat umum (General Intelligence) 96

4.3 Korelasi antar sub tes dengan total skor pada short form dan full 101

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Diskusi

5.3 Saran

103-109

103

106

(12)
[image:12.529.44.430.162.511.2]

DAFTAR TABEl

Tabel 4.1 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item SE

Tabel4.2 Muatan Faktor Item 1ST sub tes SE

Tabel 4.3 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item WA

Tabel 4.4 Muatan Faktor Item 1ST sub tes WA

Tabel 4.5 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item AN

Tabel4.6 Muatan Faktor Item 1ST sub tes AN

Tabel 4.7 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item RA

Tabel4.8 Muatan Faktor Item 1ST sub tes RA

Tabel4.9 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item ZR

Tabe14.10 Muatan Faktor Item 1ST sub tes ZR

Tabe14.11 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item FA

Tabe14.12 Muatan Faktor Item 1ST sub tes FA

Tabe14.13 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item WU

Tabe14.14 Muatan Faktor Item 1ST sub tes WU

Tabe14.15 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item ME

Tabe14.16 Muatan Faktor Item 1ST sub tes ME

Tabe14.17 Koefisien Muatan Faktor untuk(General Intelligence)

Tabel 4.18 Matriks korelasi antar sub tes dan sub tes dengan total skor pada shari

(13)

DAFTAR

GAMBAR

Gambar2.1 Kerangka Berpikir

Gambar2.2 Kerangka Berpikir

Gambar4.1 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes SE

Gambar 4.5 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes WA

Gambar 4.5 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes AN

Gambar 4.5 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes RA

Gambar 4.5 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes ZR

Gambar 4.6 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes FA

Gambar 4.7 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes WU

Gambar 4.8 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes ME

Gambar 4.9 Koefisien Muatan Faktor untuk Generallntelfigence

[image:13.529.32.420.112.520.2]
(14)

1.1 Latar Belakang

Salah satu elemen dalam perusahaan adalah Sumber Oaya Manusia (SOM).

Pengelolaan SOM dari suatu perusahaan sangat mempengaruhi banyak

aspek penentu keberhasilan kerja dari perusahaan tersebut. Oleh karena itu,

banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan jasa para sarjana

psikologi untuk melaksanakan pemeriksaan psikologis terhadap calon tenaga

kerja yang melamar untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu dalam rangka seleksi

tenaga kerja.

Pimpinan perusahaan yang percaya pada hasH dalam tes psikologi tersebut

akan terus menggunakan apa yang telah disarankan oleh lembaga yang

menyediakan tes psikologi tersebut. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para

sarjana psikologi perlu sekali mengadakan berbagai penelitian yang berkaitan

dengan kebenaran (kebenaran ramalan, kebenaran konstruk, kebenaran isi,

kebenaran sintetik) dari perangkat tes psikologik yang digunakan dalam

seleksi dan assesment, sehingga seleksi dan assesment psikologik untuk

berbagai tujuan menjadi lebih menggunakan kaidah-kaidah Hmiah.

(15)

Dalam merekrut calon karyawan pada sebuah perusahaan dibutuhkan suatu

alat tes dan wawancara untuk menguji kemampuan atau mengetahui

kemampuan yang dimiliki oleh calon karyawan. Biro SDM dan Organisasi

BPPT telah merevisi beberapa alat tes yang mengukur inteligensi. Salah satu

dari alat tes yang telah direvisi adalah Intelligenz Struktur Test(1ST) (Van Der

Ven, 1992). 1ST adalah suatu alat tes yang mengukur inteligensi seseorang

dari beberapa sub tes yang telah disediakan.

Alat tes tersebut telah digunakan sebagai alat tes pada proses penyeleksian

calon pegawai. Oleh karena itu, mengingat alat tes tersebut akan digunakan

dalam proses penyeleksian calon pegawai, maka perlu adanya pengujian

validitas, sehingga tes tersebut layak digunakan sebagai alat tes psikologi.

Suatu tes yang baik memiliki kualitas pokok sebagai berikut: pembakuan,

objektif, reliabel, dan valid (Sukardi, 1997).Dalam menggunakan alat ukur

psikologis, setelah kriteria valid telah dipenuhi, maka hasil validitas itu akan

memberikan jawaban sebagai alat ukur yang baik atau tidak. Dan setelah

validasi alat tes, perlu diketahui item yang gugur dan membuat kurang

baiknya suatu alat ukur psikologis.

Kebutuhan akan sumber daya manusia yang ahli, terampil dan kualitasnya

sesuai dengan tuntutan zaman dan teknologi semakin meningkat. Sumber

(16)

yang dituntut pada bidang pekerjaannya. Keahlian dan keterampilan dalam

suatu bidang pekerjaan ditentukan oleh salah satu diantaranya adalah

inteligensi. Seseorang yang memiliki bakat tetapi kekurangan dalam hal

inteligensi. Maka, produktivitasnya tidak optimal dan akan terjadi

pegawai-pegawai yang memiliki ciri-Giri: Loyalitas rendah, ditunjukkan dengan tingkat

'absenteesm'yang tinggi dan banyak pegawai yang melakukan

'moonlighting', yang tidak sejalan dengan program-program BPPT.

Entrepreneurship skillstidak dikembangkan untuk keberhasilan unit

organisasi. Mental dan disiplin kerja tidak menunjukkan jiwa profesional.

Bidang keahlian yang dimilikinya tidak berkembang. Egoisme kelompok dan

unit kerja diutamakan dan tidak mengedepankan budaya teamworking.

Kreativitas dan kemandirian yang rendah, masih perlu adanya dorongan dan

arahan dari atasan dalam melakukan pekerjaan. Hal ini tergambar dengan

masih rendahnya jumlah hasH-hasH penelitian yang dipatenkan, walaupun

ragam keahlian yang dimiliki SOM BPPT sangat luas. Beberapa

kecenderungan di atas, akan muncul apabHa peran para pimpinan dalam

membina dan mengembangkan pegawainya tidak berfungsi dan tidak adanya

kemauan dan motivasi pegawai dalam mengembangkan diri dan melibatkan

dirinya dalam program di masing-masing unit kerja. Oi antara beberapa

kelemahan unsur pimpinan yang memungkinkan rendahnya pendayagunaan

SOM adalah diakibatkan rendahnya "Human Skills"yang dimiliki diantaranya

(17)

mengarahkan, membina, dan memotivasi pegawai, serta kurang mampu

menciptakan iklim yang mendukung munculnya kreativitas pegawai (profil

BPPT, 2009). Oleh karena itu, pemilihan jenis pendidikan, jurusan sekolah,

ataupun bidang pekerjaan yang disesuaikan dengan inteligensi seseorang,

diharapkan dapat mempermudah usaha seseorang dalam kinerjanya. Salah

satu alat ukur inteligensi yang sering digunakan pada lembaga atau instansi

pemerintah maupun swasta sudah sejak lama adalah 1ST. Disamping itu,

banyak juga item-item yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan

zaman sekarang. Maka, perlu adanya revisi ulang terhadap alat tes tersebut,

agar tes-tes tersebut dapat digunakan pada penseleksian pegawai

selanjutnya.

Kemudian belum adanya pengujian validitas pada item sub tes 1ST, yang

menyebabkan item sub tes 1ST belum memuaskan. Kalaupun sudah ada,

baru diuji dengan teori klasik dan dengan sub tes item yang belum direvisi

seperti yang sudah diteliti oleh Hamidah (Hamidah dan Hartati Nurul, 2000).

Dari pengolahan data yang dilakukannya diperoleh hasil bahwa dari

176

item

tes terdapat

131

item dinyatakan valid dan 45 item gugur. Oleh karena itu,

peneliti akan meneliti dengan teori modern dalam rangka menguji validitas

konstruk dari 1ST. Dikarenakan peneliti belum mempelajari secara khusus

statistik tentang analisis faktor, maka peneliti hanya akan mempraktekkannya

(18)

hasil analisis faktor terhadap data hasil tes 1ST, sehingga peneliti akan dapat

menentukan

1.

Apakah benar seluruh item dalam setiap sub tes 1ST mengukur

konstruk yang dimaksud. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian model

satu faktor dengan data yang sudah ada. Apabila terbukti seluruh item

dalam suatu sub tes sesuai dengan model yang bersifat

unidimensional, maka dapat diartikan bahwa seluruh item tersebut

mengukur dimensi atau konstruk yang dimaksud.

2. Selanjutnya jika hal yang ditanyakan pada butir 1adalah benar,

pertanyaannya adalah, apakah masing-masing item memberikan

sumbangan yang signifikan dalam mengukur konstruk yang dimaksud?

3. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah seluruh sub tes juga mengukur

satu dimensi yang bersifat lebih umum yaitu, kecerdasan umum

(general Intelligence).

Dalam penelitian ini 1ST digunakan karena tes tersebut mengukur

kemampuan-kemampuan umum pada individu dan dapat dipakai untuk

semua kalangan. 1ST merupakan salah satu alat tes inteligensi yang bisa

digunakan secara individual maupun klasikal atau kelompok, serta dapat

memberikan gambaran atau profil seseorang tentang kelemahan maupun

kekuatan yang dimilikinya berdasarkan berbagai aspek yang terkait dengan

fungsi inteligensinya. Oleh karena itu amatlah penting untuk mengetahui

(19)

sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh individu itu. Oalam penelitian

ini, 1ST menjadi delapan sub tes dan berjumlah 151 item tes karena, satu sub

tes 1ST yaitu GE tidak tersedia datanya dan pada sub tes WU, hanya tersedia

sebelas item, sedangkan sembilan item lainnya tidak tersedia datanya. Oleh

sebab itu, dalam penelitian ini uji validitas sub tes WU hanya diwakili oleh

sebelas item saja.

Sebagian masyarakat umum telah mengetahui bahwa, Badan Pengkajian

dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah Lembaga Pemerintah

Non-Oepartemen yang berada dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan

Teknologi yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan

penerapan teknologi. Proses pembentukan BPPT bermula dari gagasan

Presiden Soeharto kepada Prof Dr. Ing. B.J. Habibie pada tanggal

28-Januari-1974. Oi dalam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

ini terdapat Biro Sumber Oaya Manusia dan Organisasi (SOMO) yang

berupaya untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menunjang

terlaksananya visi dan misi BPPT, yaitu mengelola SOM dan organisasi

(20)

1.2

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang diatas, muncul beberapa permasalahan yang dapat

diidentifikasikan, yaitu:

a. Berapa validitas item tes 1ST yang terdiri dari delapan sub tes dengan

jumlah item sebanyak

151

butir?

b. Apakah alat tes 1ST tersebut sudah layak digunakan sebagai alat ukur

inteligensi?

c. Apakah item tes 1ST tersebut memerlukan revisi ulang?

1.3

Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.3.1

Pembatasan Masalah

Penelitian ini menggunakan data sekunder di BPPT, yang beralamatkan JI.

MH. Thamrin no.8, Jakarta Pusat. Respondennya adalah semua orang yang

melamar pada BPPT tahun 2008. Pada penelitian ini, konsep-konsep yang

perlu dibatasi pengertiannya diantaranya validitas yang bermaksud

mengetahui apakah tes 1ST yang telah direvisi benar-benar mampu

mengukur apa yang hendak diukur alat tes tersebut.

1.3.2

Rumusan masalah

Setelah membatasi pembatasan masalah, peneliti perlu mengajukan

pertanyaan yang mengarah pada rumusan masalah dalam skripsi ini adalah

(21)

dirumuskan dalam pernyataan yang lebih spesifik, sebagai berikut:

a. Apakah setiap item dalam masing-masing sub tes fit (sesuai) dengan

model satu faktor dan apakah setiap item dalam masing-masing sub

tes secara signifikan mengukur kemampuan pada sub tes tersebut?

b. Apakah delapan sub tes 1ST adalah fit (sesuai) dengan model satu

faktor, yaitu inteligensi umum?

c. Apakah dengan menggunakan model short form (hanya sebagian sub

tes saja) sudah memadai dalam mengukur inteligensi umum?

1.4Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.1.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas 1ST, sehingga alat tes 1ST

tersebut dapat digunakan pada pengetesan calon pegawai berikutnya di

dalam BPPT.

1.4.2.

Manfaat Penelitian

a. Secara teoritik, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah

ilmu pengetahuan psikologi, khususnya psikologi industri dan organisasi

dan memberikan gambaran mengenai bagaimana menggunakan software

Lisrel untuk menguji validitas konstruk dari sebuah alat ukur psikologis.

Sehingga, menambah ilmu baru pada peneliti, pihak BPPT, maupun

(22)

b. Secara praktis, hasil penelitian ini bermanfaat bagi pihak BPPT dan

pengguna tes 1ST lainnya, sehingga alat tes tersebut dapat

disempurnakan dan digunakan pada pengetesan calon pegawai

berikutnya di dalam BPPT maupun di tempat lainnya dengan tingkat

validitas yang lebih tinggi.

1.5Sisternatika Penelitian

Penelitian penelitian ini dibagi menjadi beberapa bahasan seperti yang akan

digambarkan berikut ini :

BAB I: Pendahuluan ini meliputi: latar belakang masalah, identifikasi

masalah dalam penelitian, batasan dan rurnusan masalah, tujuan

dan manfaat penelitian dan sistematika penelitian.

BAB II Kajian teori rneliputi: sub bab Bahasan Urnurn Tes Psikologi,

Inteligensi, dan Konstruksi Tes. Konstruksi Tes berisi tentang

Persyaratan Tes, Validitas, Reliabilitas Tes, dan Gambaran Umurn

1ST, sub bab kerangka berpikir, dan hipotesis

BAB III : Metode penelitian: Subjek Penelitian, Instrumen Penelitian,

Metode Analisis Data, dan Prosedur Penelitian.

BAB IV : Hasil Penelitian meliputi: validitas yang dihasilkan oleh analisis

faktor, dengan masing-masing skalanya.

(23)

Bab ini memaparkan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Ada pun sub

bab yang akan dipaparkan adalah subbab tentang deskriptif teoritis yang

membahas tentang bahasan umum tes psikologi, hal-hal yang mengenai

inteligensi serta teori inteligensi yang digunakan oleh alat tes 1ST, definisi

validitas dan reliabilitas, sub bab gambaran umum alat ukur 1ST, kerangka

berpikir, dan hipotesis penelitian.

2.1 Deskriptif Teoritis

2.1.1 Bahasan umum tes psikologi

Tes psikologi adalah alat ukur yang obyektif dan dibakukan atas sampel

perilaku tertentu yang berfungsi untuk mengukur perbedaan-perbedaan

antara individu-individu atau antara reaksi-reaksi individu yang sama dalam

situasi yang berbeda (Anastasi & Urbina, 1997). Dalam kamus Psikologi, tes

adalah satu perangkat pertanyaan yang sudah dibakukan, yang dikenakan

pada seseorang dengan tujuan untuk mengukur perolehan atau bakat pad a

suatu bidang tertentu (Chaplin, 2006).

Cronbach mendefinisikan tes sebagai "anumerical procedure for observinga

(24)

categorical system."(dalam Azwar, 1996). Dari batasan tersebut dapat

diambil kesimpulan. Pertama, tes merupakan prosedur sistematis. Butir-butir

tes disusun menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi dan

pemberian angka (scoring) harus jelas dan spesifik, dan setiap orang yang

mengambil tes harus mendapat butir-butir yang sama dan dalam kondisi

yang sebanding. Namun, pada teori tes modern (misalnya IRT), orang yang

berbeda dapat menempuh tes yang berbeda tetapi hasilnya dapat

dibandingkan (Umar, 1999). Kedua, tes berisi sampel perilaku. Populasi butir

tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya.

Keseluruhan butir itu mustahil dapat seluruhnya tercakup dalam tes.

Kelayakan tes lebih tergantung kepada sejauh mana butir-butir di dalam tes

mewakili secara representatif kawasan (domain) perilaku yang diukur. Ketiga,

tes sebagai stimulus memerlukan respons berupa perilaku sehingga

diperoleh data kuantitatif. Butir-butir tes menghendaki subjek agar

menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari subjek dengan

cara menjawab butir-butir atau mengerjakan tugas yang dikehendaki oleh tes.

Respon subjek atas tes merupakan indikator dari apa yang ingin diketahui

oleh penyelenggara tes.

Sebuah tes psikologi pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan

dibakukan atas sampel perilaku tertentu (Anastasi & Urbina, 1997). Dalam

(25)

mengukur inteligensi umum(general intelligence test). Tes ini dirancang

untuk mengukur kemampuan umum seseorang dalam suatu tugas. Kedua,

tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat (special ability test).

Tes ini digunakan untuk mengungkap kemampuan potensial subjek dalam

bidang tertentu. Ketiga, tes yang mengukur prestasi (achievement test). Tes

ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kemampuan aktual sebagai hasil

belajar. Keempat, tes yang mengungkap aspek kepribadian (personality

assesment). Tes ini mengungkap karakteristik individual subjek dalam aspek

non ability.

Dalam penelitian ini, peneliti akan berfokus pada definisi yang disampaikan

oleh Anastasi, bahwa tes psikologi adalah alat ukur yang obyektif dan

dibakukan atas sampel perilaku tertentu dari perilaku seorang individu,

berfungsi untuk mengukur perbedaan antara individu-individu atau antara

reaksi-reaksi individu yang sama dalam situasi yang berbeda.

2.1.2 Inteligensi

2.1.2.1 Definisi Inteligensi

Terdapat banyak definisi inteligensi yang dikemukakan oleh para ahli

psikologi maupun ahli pendidikan. Beberapa diantaranya akan dikemukakan

di sini untuk mengarahkan pemahaman terhadap penelitian ini. Inteligensi

(26)

untuk mengetahui masalah serta kondisi baru, kemampuan berpikir abstrak,

kemampuan bekerja, kemampuan menguasai tingkah laku instinktif, serta

kemampuan menerima hubungan yang kompleks.

Aiken dan Marnat (2006) mengutip definisi inteligensi dari Binet, yang

mengemukakan bahwa inteligensi itu menekankan pentingnya unsur

penilaian(judgment), pemahaman (understanding), dan penalaran

(reasoning). Selain itu, mereka juga memberikan definisi lain yang

menyatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak,

kemampuan untuk belajar, atau kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi

baru. Sedangkan Wechsler (dalam Groth-Marnat, 1984) menyatakan bahwa

inteligensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan

bertindak secara terarah, serta menyesuaikan diri dengan Iingkungan secara

efektif.

Carlson dan Buskist (1997) memberikan definisi inteligensi adalah

kemampuan seseorang yang belajar dan mengingat informasi untuk

mengenali konsep dan hubungannya serta menerapkan infonmasi kepada

tingkah laku mereka untuk beradaptasi. Dari berbagai definisi yang telah

dikemukakan diatas tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa inteligensi

merupakan potensi menyeluruh dari kemampuan seseorang yang bersifat

(27)

2.1.2.2

Teori Inteligensi

Pada dasarnya, teori inteligensi secara umum dapat dibagi dalam empat

golongan. Golongan pertama berorientasi pada teori daya, yang kedua pada

dua faktor, dan yang ketiga pada multi faktor, yang keempat pada kelompok

faktor (Fudyartanto, 2002). Salah satu tokoh golongan pertama adalah Binet

(dalam Azwar, 2005), yang menyatakan bahwa inteligensi bersifat

monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum (g).

Dikatakan bahwa inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang

terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.

Sedangkan tokoh golongan kedua adalah Spearman dalam Teori "2 faktor"

mengenai kemampuan mental, yaitu faktor 9 dan s. Menurut Spearman,

faktor 9 adalah kernampuan umum seperti memahami arti pelatihan, eduksi

relasi dan eduksi korelasi (Carlson & Buskist, 1997). Eduksi relasi adalah

kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang berlaku diantara

dua hal, sedangkan eduksi korelasi adalah kemampuan untuk menerapkan

hubungan dasar yang telah ditemukan dalam proses eduksi relasi

sebelumnya ke dalam situasi baru (dalam Azwar, 2005).

Tokoh golongan ketiga, adalah Thorndike yang menyatakan dalam teorinya

bahwa inteligensi terdiri atas kemampuan spesifik yang diperlihatkan dalam

(28)

adalah Thurstone. Menurut teori kelompok faktor, kecerdasan itu tidak hanya

mempunyai satu faktor G, tetapi ada beberapa faktor G, dan tiap-tiap faktor G

adalah mendasari beberapa faktor S. Dengan demikian, maka terdapatlah

kelompok-kelompok faktor, yakni satu faktor G dengan sejumlah faktor S

(Fudyartanto, 2002). Pada perkembangan selanjutnya, banyak muncul

spekulasi mengenai sifat inteligensi. Sternberg misalnya, dengan komponen

proses dan teori triarki dan teori mUltiple inteligensi Gardner (dalam Aiken

dan Marnat, 2006). Dalam analisis Gardner, dari usahanya melakukan

identifikasi terhadap inteligensi, ia menggunakan beberapa macam kriteria,

yaitu 1. kemampuan itu independen, 2. memuat satuan operasi khusus, 3.

mempunyai sejarah perkembangan sendiri, 4. terkait dengan sejarah evolusi

zaman dulu, 5. dukungan psikologi eksperimental, 6. dukungan dari

penemuan psikometrik, dan 7. dapat disimbolkan (Suparno, 2004).

Dalam penelitian ini, secara khusus peneliti akan menggunakan teori

Thrustone. Thurstone menyusun Tes Kemampuan Primer Chicago dan

menguraikan keenam faktor kemampuan berikut (dalam Cronbach, 1960):

V: (Verbaf), yaitu pemahaman akan hubungan kata, kosa kata, dan

penguasaan komunikasi lisan.

N: (Numbef), yaitu kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan

fungsi-fungsi hitung dasar.

(29)

bentuk visual.

W: (Word fluency), yaitu kemampuan untukmencerna dengan cepat

kata-kata tertentu.

M: (Memory), yaitu kemampuan mengingat gambar-gambar, pesan-pesan,

angka-angka, kata-kata, dan bentuk-bentuk pola.

R: (Reasoning), yaitu kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari beberapa contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan sebagai

kemampuan pemecahan masalah.

2.1.2.3 Faktor-faktoryang mempengaruhi inteligensi

0.0 Hebb dan R.B Cattell (dalam Fudyartanto, 2002) memberikan dua faktor

yang mempengaruhi inteligensi, yakni :

Tipe A dan tipe B (fluid and crystaJized).Yang dimaksud dengan kecerdasan

tipe A disebut (Fluid Intelligence) adalah potensialitas keturunan

(pembawaan), atau kualitas dasar pembawaan pada sistim syaraf dasar

pembawaan pada sistem syaraf seseorang, sedang kecerdasan tipe B atau

(Crystallized Intelligence) adalah kecerdasan yang dibentuk oleh pengalaman

(30)

2.1.2.4 Pengukuran Inteligensi

Tes inteligensi modern dimulai di Prancis, oleh Alfred Binet. Sejak tes

inteligensinya diadapatasi oleh psikolog dari Amerika, tes tersebut masih

digunakan sampai sekarang. Psikolog lainnya, David Wechsler, membuat

dua tes inteligensi untuk dewasa dan anak (dalam Carlson & Buskist, 1997).

Di Amerika, usaha pertama tersebut dimulai oleh tokoh pencetus istilah ( tes

mental ), James McKeen Cattel (dalam AVNar, 2005) yang menerbitkan

bukunya Mental Test and Measurementdi tahun 1890. Buku ini berisi

rangkaian tes inteligensi yang terdiri atas sepuluh jenis ukuran. Kesepuluh

ukuran tersebut adalah :

1. Dynamometer Pressure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan

pegas yang dianggap sebagai indikator aspek psikofisologis.

2. RateofMovement. Tempo gerakan atau kecepatan gerak tangan yang

dianggap juga sebagai memiliki komponen mental di dalamnya.

3. Sensation Areas, yaitu pengkuran jarak terkecil diantara dua tempat

yang terpisah di kulit yang masih dapat dirasakan sebagai dua titik

berbeda.

4. Pressure Causing Pain, yaitu pengukuran yang dianggap berguna

dalam diagnosis terhadap penyakit-penyakit syaraf dan dalam

(31)

5. Least Noticeable Difference in Weight, yaitu pengukura perbedaan

berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan oleh seseorang.

Ukuran ini dianggap sebagai suatu konstanta psikologis.

6. Reaction Time for Sound, yang mengukur waktu antara pemberian

stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat. Dalam tes ini stimulus

bersifat auditori dan menghencaki respon gerakan menekan suatu

kunci telegraf.

7. Time for Naming Colors, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap

proses yang lebih «mental» daripada waktu-reaksi yang dianggap

reflektif.

8. Bisection of a 50-centimeter Line, yang dimaksudkan sebagai suatu

ukuran terhadap akurasi 'space judgment'.

9. Judgmentof10-second Time, yang dimaksudkan sebagai ukuran

akurasi dalam 'time judgment'. Tes ini meminta subjek memperkirakan

ajrak waktu 10 delik tanpa bantuan alat apa pun.

10. NumberofLetters Repeated Upon Once Hearing, yang dimaksudkan

sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan. Tes ini meminta

subjek mengulang menyebutkan huruf-huruf yang disebutkan sekali.

Tes-tes inteligensi yang sudah ada dan sering digunakan oleh para ahli

psikologi adalah (Azwar, 2005):

1. Stanford-Binet Intelligence Scale. Materi yang terdapat dalam Skala

(32)

mainan tertentu yang akan disajikan pada anak-anak (sebagaimana

telah disebutkan terdahulu, skala ini dimaksudkan untuk mengukur

inteligensi anak-anak), dua buah buku kecil yang memuat cetakan

kartu-kartu, sebuah buku catatan utnuk mencatat jawaban dan skorny,

dan sebuha manual/petunjuk pelaksanaan pernberian tes.

2. The Wechsler Intelligence Scale for Children- Revised(WISC-R).

WISC-R terdiri atas 12 sub tes yang dua diantaranya digunakan hanya

sebagai persediaan apabila siperlukan penggantian sub tes.

Keduabelas sub tes tersebut dikelompokkan rnenjadi dua golongan,

yaitu skala Verbal dan skala Performansi (performance).

3. The Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised(WAIS-R). WAIS-R

terdiri skala Verbal dan skala Performansi. Kedua skala tersebut

masing-masing menghasilkan IQ-verbal dan IQ-performansi

sedangkan kombinasi keduanya menjadi dasar perhitungan IQ-deviasi

sebagai IQ keseluruhan.

4. The Standard Progressive Matrices(SPM) merupakan salah satu

contoh bentuk skala inteligensi yang dapat diberikan secara individual

maupun secara kelompok. Skala ini dirancang J.G Raven. SPM

merupakan tes yang bersifat nonverbal, artinya materi item-itemnya

diberikan tidak dalam bentuk tulisan ataupun bacaan melainkan dalam

bentuk gambar-gambar. Tes SPM terdiri atas 60 buah item yang

(33)

5. The Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC). Tes intelgensi

yang disebut K-ABC merupakan baterai (rangkaian) tes yang relatif

baru yang diperuntukkan bagi anak usia 2,5 sampai 12,5 tahun.

Skala-skala inteligensi dalam baterai ini adalah Sequential Processing Scale

(skala yang mengungkapkan abilitas atau kemampuan untuk

memecahkan permasalahan secara bertahap dengan penekanan

pada hubungan serial atau hubungan temporal diantara stimulus),

Simultaneous Processing Scale (skala yang bertujuan

mengungkapkan kemampuan anak dalam memecahkan

permasalahan dengan cara mengorganisasikan dan memadukan

banyak stimulasi sekaligus dalam waktu yang sama).

2.1.3 Konstruksi Tes 2.1.3.1. Validitas Alat Ukur

Validitas adalah apakah kita sungguh-sungguh mengukur ihwal yang

memang ingin kita ukur. Suatu tes atau skala dapat valid atau tidak valid

untuk maksud i1miah atau praktis yang hendak dicapai oleh si pengguna tes

(34)

2005):

Validitas digunakan dalam tiga konteks, yaitu (dalam Suryabrata,

1. Validitas Penelitian

Validitas penelitian adalah sejauhmana hasH penelitian

mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Validitas penelitian

mengandung dua sisi, yaitu:

a. Validitas Internal

Validitas internal penelitian adalah membahas tentang

kesesuaian antara data hasil penelitian dengan keadaan yang

sebenarnya. Untuk mendapatkan validitas internal penelitian

yang memadai peneliti menggarapnya lewat penggunaan

instrumen pengambH data yang memenuhi persyaratan ilmiah

tertentu.

b. Validitas Eksternal

Validitas eksternal penelitian adalah membahas tentang

sejauhmana generalisasi hasil penelitian sesuai dengan

keadaan yang sebenarnya. Untuk menjamin validitas eksternal

hasH penelitian peneliti menggarapnya lewat penyusunan

rancangan sampling yang cermat.

2. Validitas Item (Item Validity)

Validitas item adalah derajat kesesuaian antara suatu item dengan

(35)

antara skor pad a item itu dengan skor pada item-item (item total

correlation) yang banyak dihitung dengan korelasi biserial. lsi

validitas item adalah daya pembeda item (item discreminating

powen

bukan validitas tes.

3. Validitas Tes

Validitas tes atau validitas alat ukur adalah sejauhmana tes itu

mengukur apa yang dimaksud untuk diukur. Jadi, validitas tes pada

dasarnya menunjukkan pada derajat fungsi untuk mengukur suatu

tes, atau derajat kecermatan ukur suatu tes. Untuk mengkaji

validitas ukur, secara konvensional dapat dilihat dalam tiga bagian,

yaitu:

a. Validitas isi

Validitas isi merupakan seperangkat item-item tes yang

menunjukkan sejauhmana isi dari item-item tersebut memang

mengukur apa yang hendak diukur. Dengan menggunakan

spesifikasi tes yang telah dikembangkan (telah ada), kemudian

dilakukan analisis logis untuk menetapkan apakah item-item

yang telah dikembangkan tersebut mengukur apa yang hendak

diukur. Jadi, dapat dilihat bahwa validitasi isi adalah kegiatan

telaah item yang merupakan kegiatan esensial dalam

(36)

b. Validitas konstruk

Validitas konstruk mengukur tentang sejauhmana skor-skor

hasil pengukuran dengan instrumen itu sesuai atau tidak

dengan teori yang mendasari penyusunan alat ukur tersebut.

Validasi konstruk ini merupakan proses yang kompleks, yang

memerlukan analisis logis dan dukungan data empiris.

Tiga metode validasi konstruk, yaitu:

b.1 Validasi alat ukur dengan analisis faktor

Dasar pemikiran analisis faktor ini adalah bahwa walaupun

perilaku manusia itu sangat beragam, namun perilaku

tersebut didasari oleh sejumlah faktor yang terbatas,

faktor-faktor yang mendasari perilaku yang beragam itu dapat

ditemukan dengan analisis faktor.

b.2 Validasi alat ukur dengan cara analisis

konvergen dan diskriminan dan dikaitkan dengan

konsep multi trait, multi methode.

Dasar pemikirannya adalah: Sesuatu tes itu harus

berkorelasi tinggi dengan variabel-variabel yang secara teori

harus berkorelasi tinggi dan sekaligus tak berkorelasi

dengan variabel-variabel lain yang secara teori tidak

(37)

yang kedua disebut diskriminan.

b.3

IRT(Item Responses Theory)

Analisis item-item secara modern yaitu penelaahan item

dengan menggunakan Item Respons Theory(IRT) atau teori

jawaban terhadap item. Teori ini merupakan suatu teori

yang menggunakan fungsi matematika untuk

menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu

skala dengan kemampuan testee (Umar, 2008).

Teori ini menjelaskan tentang apa yang エ・セ。、ゥ jika

seseorang menempuh satu butir item. Menurut teori ini, jika

satu butir item dengan tingkat kesukaran tertentu ditempuh

oleh ribuan orang yang kemampuannya berbeda-beda,

maka orang yang kemampuannya lebih tinggi akan memiliki

peluang yang lebih besar untuk menjawab benar pada item

tersebut dibandingkan dengan orang yang kemampuannya

lebih rendah. Atau dengan kata lain, makin tinggi

kemampuan seseorang makin tinggi pula peluangnya untuk

menjawab benar pada satu butir item, dan sebaliknya.

Ada empat macam IRT (Hambleton, dkk.1991). (1) Model

satu parameter (Model Rasch), yaitu hanya menitikberatkan

pada parameter tingkat kesukaran item. (2) Model dua

(38)

tingkat kesukaran dan daya pembeda item. (3) Model tiga

parameter, yaitu hanya menitikberatkan pada parameter

tingkat kesukaran item, daya pembeda item, danpseudo

guessing, (4) Model empat parameter, yaitu yang

menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran item,

daya beda item, pseudo guessingdan gangguan seperti,

kepanasan di dalam ruangan, dan sebagainya.

c. Validitas Berdasarkan Kriteria

Validitas kriteria dilihat dari sejauh mana hasil pengukuran

dengan alat yang diujikan itu sama atau mirip dengan hasil

pengukuran dengan alat lain yang dijadikan kriteria. Yang

dijadikan kriteria biasanya adalah hasil pengukuran atribut

yang sama dengan alat lain yang diakui merupakan alat ukur

yang baik.

2.1.3.2. Reliabilitas Tes

Anastasi dan Urbina (1997) memberikan pengertian bahwa suatu tes dapat

dikatakan reliabel apabila tes tersebut mampu memberikan hasil yang

konsisten meskipun tes tersebut diberikan dan di skor oleh penilai yang

berbeda, atau diberikan pada waktu yang berlainan atau menggunakan

bentuk paralel dari tes tersebut. Sejalan yang diungkapkan Kerlinger (2006),

(39)

prediktabilitasl keteramalan. Definisi keandalan dapat didekati dengan tiga

ancangan. Pertama, jika kita mengukur himpunan obyek yang sama berulang

kali, dengan instrumen yang sama atau mirip, akankah kita mendapatkan

hasil yang sama atau serupa pula? Kedua, apakah ukuran-ukuran yang

diperoleh dari suatu instrumen pengukur adalah ukuran yang sebenarnya

untuk sifat yang diukur itu. Ketiga, adalah kita dapat menelaah berapa

banyak kesalahan pengukuran yang terdapat dalam suatu instrumen

pengukur. Dalam pengertian yang lebih luas reabilitas alat ukur menunjuk

kepada sejauhmana perbedaan-perbedaan (varians) skor perolehan itu

mencerminkan perbedaan-perbedaan (varians) atribut yang sebenarnya.

Estimasi reliabilitas dapat dilakukan melalui salah satu pendekatan umum,

yaitu (dalam Suryabrata, 2005):

1. Pendekatan Tes Ulang (Test Retest)

Pendekatan ini menunjukkan konsistensi pengukuran dari waktu ke waktu

dan menghasilkan koefisien reliabilitas yang sering disebut sebagai koefisien

stabilitas. Prinsip estimasinya adalah dengan menggunakan suatu instrumen

pengukur dua kali dengan tenggang waktu tertentu terhadap sekelompok

subjek yang sama.

2. Pendekatan Tes Sejajar(Alternate Forms)

Pendekatan tes sejajar hanya dapat dilakukan apabila tersedia dua bentuk

instrumen pengukur yang dapat dianggap memenuhi asumsi paralel. Salah

(40)

sam a tingkat kesukarannya, setaranya korelasi antara skor kedua instrumen

tersebut dengan skor suatu ukuran lain. Estimasi reliabilitas dengan

pendekatan bentuk sejajar dilakukan setelah kedua instrumen tersebut

dikenakan berturut-turut pada sekelompok subjek. Kelemahan utama pada

pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua alat ukur yang

memenuhi persyaratan paralel atau sejajar disamping pendekatan ini juga

tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan terjadinya efek bawaan.

3. Pendekatan Konsistensi Internal (Internal Consistency)

Pengestimasian kadar reliabilitas dengan prosedur konsistensi internal

dilakukan dengan memfokuskan diri pada unsur-unsur internal instrurnent,

yaitu butir-butir pertanyaan atau item. Jadi, estimasi itu cukup dilakukan

berdasarkan kekuatan tiap-tiap butir pertanyaan yang secara keseluruhan

membentuk N item, dan tidak membutuhkan data-data dari hasil pengukuran

yang lain sebagaimana kedua prosedur reliabilitas di atas. Ada beberapa

teknik reliabilitas yang termasuk ke dalam prosedur konsistensi internal, di

antaranya yang banyak digunakan adalah, sebagai berikut:

a. Belah dua (Split Half). Yaitu teknik uji reliabilitas yang

dikemukakan oleh Spearman-Brown. Uji reliabilitas teknik ini

disebut sebagai belah dua karena dalam cara kerjanya N item

itu dibelah menjadi dua bagian, ke dalam butir-butir bernomor

ganjil dan genap yang keduanya diasumsikan setara atau

(41)

UIN SYAHID JAKART A

teknik ini:

'

-b. Alpha Cronbach yaitu teknik uji yang dapat digunakan baik

untuk instrument yang jawabannya berskala maupun jika

dikehendaki yang bersifat dikotomi. Alpha cronbach juga

dipergunakan untuk menguji reliabilitas pertanyaan-pertanyaan

esai.

b.1 Jika seluruh responsnya dikhotomi, yaitu yang

memiliki dua jawaban, yaitu benar dan salah. Tes-tes bentuk

objektif seperti pada pilihan ganda yang mempunyai 3 sampai 5

opsi merupakan contoh alat tes yang bersifat dikhotomis karena

di dalamnya hanya terdapat satu jawaban yang benar, maka

menggunakan: 0:= KR20.

b.2 Jika seluruh responsnya dikhotomi ditambah dengan

asumsi bahwa semua item berada pada tingkat kesukaran yang

sama, maka 0:= KR21.

Tetapi asumsi ini tidak mungkin terpenuhi dalam kenyataan empiris.

Dikarenakan tidak mungkin ada suatu tes yang benar-benar kesemua item

item tersebut bersifat homogen tingkat kesukarannya.

Dalam penelitian ini, pembahasan tentang reliabilitas tes 1ST dalam

pengertian Konsistensi Internal dari butir-butir tes bukan dalam arti stabilitas

(42)

2.1.4 Gambaran Umum 1ST

Inte/ligenz Struktur Test(1ST) adalah salah satu tes psikologis yang dapat

mengukur inteligensi. 1ST disusun oleh Rudolf Amthaueur di Jerman pada

tahun 1973 (Van Der Ven, 1992) lalu diadaptasi oleh Universitas Padjajaran

Bandung untuk penggunaannya di Indonesia. 1ST banyak digunakan di

Indonesia untuk seleksi penempatan di dunia kerja maupun pendidikan

karena 1ST yang terdiri dari sembilan sub tes tidak hanya menghasilkan skor

IQ tetapi juga dapat mengetahui minat dan bakat seseorang yang dapat

dilihat dari skor setiap sub tes pada 1ST yang kemudian digunakan untuk

membentuk profil kecerdasan praktis (dalam Hamidah & Hartini Nurul, 1985).

Tes 1ST adalah tes inteligensi yang terdiri dari 9 sub tes dengan jumlah

itemnya 176 item dan merupakan tes kecepatan (speed tes), Inteligensi

dipandang sebagai suatu gestalt yang terdiri dari bagian-bagian yang saling

berhubungan secara bermakna (struktur), sehingga dapat dipercaya bahwa

struktur inteligensi tertentu akan cocok dengan tuntutan pekerjaan atau

profesi tertentu pula. Oleh karena itu 1ST dapat menampilkan kemampuan

khusus seseorang yang merupakan kekuatan dan kelemahan yang

dimilikinya sesuai dengan perkembangan fungsi intelektualnya. Sehingga,

1ST ini dapat menampilkan profil M dan profil

W.

Profil ini diukur dari 4

(empat) aspek yang pertama, yaitu: SE, WA, AN dan GE. Seseorang akan

(43)

tinggi, rendah dan tinggi. Profil M tersebut menunjukkan bahwa seseorang

memiliki struktur kemampuan teoritis global. Sedangkan profil W apabila

keempat aspek tersebut memiliki irama; tinggi, rendah, tinggi dan rendah.

Profil W tersebut menunjukkan bahwa seseorang memiliki struktur

kemampuan praktis (dalam Hamidah & Hartini Nurul, 2000).

Tes 1ST digunakan untuk mengungkap kecerdasan sebagai kepandaian atau

kemampuan untuk memecahkan periteman yang dihadapi. Inteligensi terdiri

dari bagian-bagian yang saling berhubungan secara bermakna dan sebagai

suatu gestalt. Struktur inteligensi tertentu menggambarkan pola bekerja yang

tertentu yang akan cocok dengan tuntutan pekerjaan atau profesi tertentu.

Ada pun tes yang digunakan akan meliputi beberapa interpretasi tiap-tiap sub

tes, yaitu (Polhaupessy,

1985):

a. Sub tes SE (Satzergaenzung). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ) Satzer berarti susunan kalimat. Sub

tes SE ini berisi item-item melengkapi kalimat: pada sub tes

ini berfungsi untuk mengetahui tentang potensi seseorang

dalam:

- Pembentukan keputusan, mengukur kemampuan

seseorang dalam membuat kuputusan (dapatkah

seseorang berprestasi)

(44)

Common Sense (memanfaatkan pengalaman masa lalu

untuk mengatasi permasalahan) dapatkah seseorang

berpikir secara mandiri)

Berpikir konkrit praktis (masalah yang dihadapi

sehari-hari)

- Aspek yang diukur pada sub tes ini adalahjudgment

subjek.

b. Sub tes WA(Wortauswah/). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ), Wortauberartikan kata-kata. Sub

tes WA berisi item-item memilih kalimat: sub tes ini

mengukur potensi seseorang dalam:

Intelektual, rasa bahasa, kemampuan menghayati

masalah bahasa, rasa empati.

Berpikir induktif dengan menggunakan bahasa,

memahami pengertian

Pada remaja merupakan komponen intuisi

Pada orang dewasa merupakan motif sesuatu

- Aspek yang diukur pada sub tes ini adalah kecepatan

dalam menangkap dan menyerap maksud I

inti/makna/isi pokok dari perintah atau instruksi dan

informasi yang disampaikan secara verbal oleh orang

(45)

c. Sub tes AN (Analogien). Dalam kamus Jerman ( Adiwimarta

dkk, 2008 ),Analogienberarti analogi, analisis. Sub tes ini

berisi item-item analogi: Sub tes ini berfungsi untuk

mengukur potensi seseorang dalam:

Fleksibilitas berpikir

Dapat berpikir logis atau menggunakan pikiran sebagai

dasar berpikir (kedalaman hati)

Tidak suka bertindak berdasarkan kira-kira

Bila skor tinggi berarti mampu memahami hubungan

antar masalah

- Aspek yang diukur pada sub tes ini adalah proses

berpikir yang mencakup analisis, judgment dan

kesimpulan.

d. Sub tes GE(Gemeinsamkeiten). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ), Gemein berarti hal yang umum.

Sub tes ini berisi item-item persamaan: fungsi dari sub tes

ini adalah untuk mengungkap kemampuan seseorang

dalam:

Kemampuan abstraksi, pembentukan pengertian

Kemampuan untuk menyatakan pengertian dalam

bahasa

(46)

permasalahan

- Aspek yang diukur pada sub tes ini adalah kemampuan

bernalar secara logis.

e. Sub tes RA(Rechhenaufgaben). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ), Rechheberarti ilmu hitung. Sub tes

ini berisi item-item berhitung: fungsi dari sub tes ini adalah

mengukur kemampuan seseorang dalam :

- Cara berpikir praktis melalui hitungan

- Kemampuan berhitung

- Kemampuan menggunakan bilangan-bilangan secara

praktis yang berhubungan dengan hitungan.

f. Sub tesZR (Zahlenreihen). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ), Zahlen berarti menghitung. Sub tes

ini berisi item-item deret angka: fungsi dari sub tes ini

adalah untuk mengukur kemampuan seseorang dalam:

- Melihat momen-momen ritmis

- Berpikir induktif dengan buangan secara teoritis (dengan

angka)

- Penggunaan bilangan secara agak teoritis

Berpikir teoritis dengan hitungan disertai dengan

momen-momen ritmis.

(47)

Adiwimarta dkk, 2008 ), Forma berarti bentuk. Sub tes ini

berisi item-item memilih bentuk: fungsi dari sub tes tersebut

adalah untuk mengukur kemampuan seseorang dalam:

Kemampuan membayangkan

Mengkonstruksi (sintesa dan analisa) tetapi ada momen

konstantif

Berpikir secara konkrit yang menyeluruh

Memasukkan bagian pada suatu keseluruhan

Dapat menanggapi secara lebih variatif

Cara berpikir menyeluruh yang konkrit dalam

momen-momen yang konstruktif.

h. Sub tes WU (Wurfelaugfgaben). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ), Wurfe berarti kubus. Sub tes ini

berisi periteman kubus: fungsi dari sub tes ini adalah untuk

mengukur kemampuan seseorang dalam:

Kemampuan membayangkan ruang tiga dimensi

Disertai dengan cara berpikir yang analitis

i. Sub tes ME (Merkaufgaben). Dalam kamus Jerman (

Adiwimarta dkk, 2008 ), Merkau berarti memori. Sub tes ini

berisi item-item tentang mengingat: fungsi dari sub tes ini

adalah untuk mengungkap potensi seseorang dalam:

(48)

Indikasi konsentrasi yang menetap

Konsentrasi dalam waktu yang relatif lama

Sebagai tanda ketahanan

- Aspek yang diukur adalah memori atau ingatan yang

(49)

2.2 Kerangka Berpikir

Dari latar belakang dan teori yang telah ada, dapat disimpulkan dalam

[image:49.534.38.492.171.701.2]

suatu kerangka sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Peinbetitukan kCputilSiltl;tasareatitilS;common sense:beipikfr'koilkrit

praKtis

ャイゥセiセQ」エエゥイゥャNᄋエQャウ。セXQQᄋエQsセᄋォセョGヲセJゥエャャNᄋヲiャ⦅セセケセエゥMjZQャ。ウ。i。iャ「ョィ。ウヲャLN rasa

セー。セ[セゥォゥセゥョセヲ\ゥ・エャァ。エQQャャfセァオョセ「。ャエセb[⦅NセHj。Nイ・ョャ。ェ。

meropakWi komponenitltuisi.pada'orangdewasamempllkail motlfsesuntu

,,---,f--' - - - ,,---,f--'

sエャャQゥ⦅セゥj」ゥセZセA[エャQセセゥYャQゥ⦅セセァセ⦅[セョエjQpセNセセセ[セ。ューQャAuャ

ュ・ョァァオョイゥォヲオゥ「ゥャ。ョァョョM「ョ。ョァョョ⦅Mセ⦅セ prilktisyangberhiJb\1ngan'dengan hltungan

,,---,I-

L - セ ] ⦅ ⦅ ----l

-ᆬセャゥャャセエエャャL_セセjZャセエャQHIQャャ・セーセセウLセゥi、イ __ゥiゥZセヲGセャャャャセuAAAQbャャャゥ __sセH[mX

エ・oセエゥウMH、・ゥゥァ。ョ。エャァォ。IセN⦅セセセNエセYセセセセャQゥエオョァ。ョM、ゥs・イエョゥ、・ョァキゥ

rnomen"momenritmis.

k・エャャエャイQQ⦅セセセMセセセセセiiNLᄃᆬセセセᄃイゥウセ⦅エセゥCセセ⦅ᆬiQMN⦅ᆬMョャゥCIM

__

tetapi

.•M⦅MMNLMNMャG|エ「ャZQャャHIャャQセセッセセヲMセセセセMQ」ᄚpー⦅ゥセケ⦅エ|jZゥセャャQセQャ_Gセiエャエゥャィ[MMMMMM __-_"

ュセセM⦅ZーセァゥセーXセセMセャャエ|ャᆬセセAセイヲQGABG⦅M⦅G⦅ZセpャャエLセセMセ⦅ャャpセセャャャGXᆳ ャ・「ゥャゥカ。イゥ。エゥᆪL」。ュ「」ゥGpゥォゥイZュセiャyセセセyエオGャ[ァォッョォイゥエMM、。Q。ュュッュ・ョセュッュ・イゥ

yangkonstroktif.

MQセQmj

-..JI-

Kemaolpuari rnembliyangkllD.rtlangtiga·diri1ensi. disertai dengrui· cam

bCrpikir·yang ail81itis

MengukurkclriwPUffu·mengiligat,iiidikasi·.konsentmsiyang·DlenCtap.

(50)

,, ,,

B

General Intelligence

a

,,,

8

[image:50.525.41.422.108.662.2]
(51)

2.3 Hipotesis

Sesuai dengan kerangka berpikir dan gambar

2.1

dan

2.2

di atas, dapat

dinyatakan hipotesis:

1. Bahwa setiap item dalam masing-masing sub tes adalah fit (sesuai)

dengan model satu faktor, yang berarti semua item pada suatu sub tes

mengukur hanya satu kemampuan yang didefinisikan pada sub tes tersebut.

Dan bahwa setiap item dalam masing-masing sub tes adalah secara

signifikan mengukur/menghasilkan informasi tentang kemampuan pada sub

tes tersebut.

2. Bahwa delapan sub tes 1ST adalah fit (sesuai) dengan model satu

faktor, yaitu semua sub tes mengukur satu faktor umum yang dalam hal ini

adalah "Inteligensi Umum".

3. Bahwa dengan menggunakan model short form (menggunakan

sebagian sub tes saja), sudah cukup signifikan dalam mengukur inteligensi

(52)

Seperti yang dikemukakan pada pendahuluan bahwa yang hendak diteliti

dalam penelitian ini adalah tingkat validitas alat tes 1ST. Selanjutnya untuk

menjawab pertanyaan penelitian ini ada beberapa hal yang ditentukan oleh

peneliti, diantaranya SUbjek Penelitian, Instrumen Penelitian, Metode Analisis

Data, dan Prosedur Penelitian.

3.1 Subjek Penelitian

Seperti yang dikemukakan pada pendahuluan bahwa yang hendak diteliti

dalam penelitian ini adalah berapa tingkat validitas dan reliabilitas alat tes

inteligensi 1ST. Untuk keperluan tersebut, peneliti akan menguraikan kembali

bahwa penelitian ini bertujuan untuk menguji item-item yang sudah direvisi

pada sub tes 1ST, bukan tentang siapa yang mengikuti tes 1ST. Untuk

menguji item tersebut digunakan pendekatan uji validitas konstruk yang akan

menentukan apakah sub tes-sub tes tersebut mengukur komponen yang

dapat mengukurgeneral intelligence. Oleh karena itu, untuk bisa mengetahui

hal tersebut diperlukan data, dimana peneliti menggunakan data yang

tersedia di BPPT pada penerimaan tes CPNS tahun 2008. Dalam hal ini tes

(53)

tentang teknik pengambilan sampel, karena yang dijadikan sampel dalam

penelitian ini adalah butir-butir item dari item 1ST. Adapun, karakteristik dari

para penempuh tes pada data yang tersedia ini adalah sebagai berikut:

a. Umur 23-30 tahun

b. Tingkat pendidikan 03-S1 (fresh graduate)

c. Sedangkan, data mengenai jenis kelamin tidak tersedia datanya.

3.2 Instrumen Penelitian

Adapun sub tes 1ST seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya

diantaranya, adalah:

Sub tes SE (Satzergaenzung). 20 item

=

6 menit. Item sub tes SE berupa

pilihan ganda dan terdiri atas kalimat-kalimat. Pada setiap kalimat satu kata

hilang dan disediakan lima kata pilihan sebagai penggantinya.

Sub tes WA (Wortauswahl). 20 item

=

6 menit. Item WA berupa pilihan ganda

dan terdiri atas empat kata dan mencari kata kelima yang terdapat satu

kesamaan.

Sub tes AN(Analog/en). 20 item =7 menit. Item AN berupa pilihan ganda dan

terdiri dari tiga kata dan mencari satu kata yang memiliki hubungan yang

sama tersebut.

Sub tes GE (Gemeinsamkeiten). 16 item

=

8 menit. Item GE berupa menulis

jawaban dan terdiri dari dua kata, dan mencari perkataan yang meliputi

(54)

Sub tes RA(Rechhenaufgaben). 20 item =10 menit. Item RA berupa pilihan

ganda dan item menghitung.

Sub tes ZR (Zahlenreihen). 20 item =10 menit. Item ZR berupa pilihan ganda

dan terdiri deret angka yang harus dilanjutkan.

Sub tes FA(Formasuwahf). 20 item =7 menit. Item FA berupa pilihan ganda

dan terdiri atas item yang memperlihatkan sesuatu bentuk tertentu yang

terpotong menjadi beberapa bagian.

Sub tes WU (Wurfelaugfgaben). 20 item =9 menit. Item WU berupa pilihan

ganda dan terdiri atas lima kubus, yang mempunyai sisi yang berlainan. Dan

setiap kubus memperilhatkan satu kedudukan yang berbeda.

Sub tes ME (Merkaufgaben). 20 item =3 menit untuk menghafal, dan 6 menit

untuk mengerjakan. Item ME berupa pilihan ganda, subjek diminta untuk

menghafal beberapa kata.

Dalam penelitian ini, 1ST menjadi delapan sub tes dan 「・セオュャ。ィ 151 item tes

karena, satu sub tes 1ST yaitu GE tidak tersedia datanya dan pada sub tes

WU, hanya tersedia sebelas item, sedangkan sembilan item lainnya tidak

tersedia datanya. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini uji validitas sub tes WU

hanya diwakili oleh sebelas item saja. Ada pun sUbjek penelitian diminta

mengerjakan seluruh item. Jawaban diberikan oleh subjek dengan memilih

diantara 4 pilihan jawaban yang telah disediakan, dimana diantara keempat

(55)

Untuk penskoran, sUbjek akan mendapatkan 1bila menjawab dengan benar

dan 0 bila menjawab salah.

3.3 Metode Analisis data

Dalam menganalisis data, maka peneliti menggunakan teknik analisis statistik

yang disebut "analisis faktor konfirmatori" (CFA). Untuk selanjutnya, akan

disebut CFA (Confirmatory Factor Analysis). Adapun logika dasar dari CFA

adalah sebagai berikut (Umar, 2009):

1. Bahwa ada sebuah konsep atau trait berupa kemampuan yang

didefinisikan secara operasional sehingga dapat disusun pertanyaan

atau pernyataan untuk mengukurnya. Kemampuan ini disebut faktor.

Sedangkan pengukuran terhadap faktor ini dilakukan melalui analisis

terhadap respon Oawaban) atas itern-itemnya.

2. Bahwa pada suatu faktor diteorikan setiap item hanya mengukur atau

memberi informasi tentang faktor tersebut saja. Sebagai contoh, suatu

konstruk psikologis yang disebut kemampuan berpikir analogis, yang

dalam tes 1ST adalah sub tes AN. Sub tes ini terdiri dari 20 item,

semuanya dimaksudkan untuk mengukur satu faktor yaitu kemampuan

berpikir analitis. Artinya, semua item sub tes bersifat unidimensional.

3. Berdasarkan teori yang dipaparkan di atas, dapat disusun sehimpunan

persamaan matematis. Persamaan tersebut dapat digunakan untuk

(56)

korelasi antar item yang seharusnya akan diperoleh jika teori tersebut

(unidimensional) benar. Matriks karelasi ini dinamakan sigma

(LJ

Kemudian matriks ini akan dibandingkan dengan matriks korelasi yang

diperoleh secara empiris dari data (disebut matriks S). Jika teari

tersebut benar (unidimensional), maka seharusnya tidak ada

perbedaan yang signifikan antara elemen matriks L: dengan elemen

matriks S. Secara matematis dapat dituliskan: S-L:=O

4. Pernyataan matematik inilah yang dijadikan hipotesis nihil yang akan

dianalisis menggunakan CFA. Dalam hal ini dilakukan uji signifikasi

dengan Chi Square. Jika Chi Square yang dihasilkan tidak signifikan

(nilai p>0,05), maka dapat disimpulkan, bahwa hipotesis nihil yang

menyatakan: "tidak ada perbedaan antara matriks S dan

L"

tidak

ditolak. Artinya teori yang menyatakan bahwa ke 20 item tersebut

semuanya mengukur hal yang sama, yaitu kemampuan berpikir

analogis, dapat diterima kebenarannya (didukung oleh data).

Sebaliknya, jika nilai Chi Square yang diperoleh signifikan, maka

hipotesis nihil S-L:=O ditolak. Artinya teori tersebut tidak didukung data

(ditolak).

5. Jika teori diterima (model fit), langkah selanjutnya, adalah menguji

hipotesis tentang signifikan tidaknya masing-masing item dalam

mengukur apa yang hendak diukur (kemampuan berpikir analogis). Uji

(57)

masing-masing terdiri dari dua jenis analisis statistik, yaitu:

a. Menguji teori yang menyatakan bahwa semua item pada satu sub tes

bersifat unidimensional (mengukur apa yang hendak diukur)

b. Menguji tingkat signifikansi setiap butir soal dalam mengukur apa yang

hendak diukur.

Selanjutnya, dalam 1ST juga diteorikan bahwa delapan faktor (sub tes)

tersebut adalah mengukur satu hal (dimensi) yang sama yaitu inteligensi

umum (general intelligence). Hanya saja, disini berkenaan dengan hubungan

antara sub tes dan inteligensi umum. Artinya, dapat dilakukan analisis faktor

konfirmatori seperti yang dilakukan pada masing-masing sub tes, tetapi yang

dijadikan datanya disini adalah skor sub tes, sedangkan faktornya adalah

inteligensi umum. Namun demikian, peneliti akan melakukan kedua jenis

analisis faktor tersebut secara simultan (untuk sub tes dan inteligensi umum).

Dengan kata lain, diteorikan bahwa item-item mengukur faktor tingkat satu

(sub tes) dan selanjutnya faktor-faktor tersebut (sub tes) mengukur faktor

tingkat dua yang lebih umum yaitu general intelligence. Analisis faktor

konfirmatori secara simultan (sekaligus seperti ini) disebutsecond order

confirmatory factor analysis. Dalam hal ini, sub tes adalah faktor tingkat

(orde) ke satu dan general intelligenceadalah faktor tingkat (orde) ke dua.

Semua pengerjaan ini dilakukan dengan menggunakan software Lisrel 8.8

(58)

3.4

Prosedur Penelitian

Dalam penelitian penelitian ini, perlu melalui beberapa tahapan, yaitu:

Prosedur penelitian melalui data sekunder pada tes masuk calon karyawan

BPPT yang jumlahnya 963 orang pada tahun 2008 di Jakarta.

Sebelum diadakan penelitian, perlu diadakan pengamatan terbatas dengan

cara mewawancarai pihak biro SDM dan Organisasi di BPPT perihal

menyeleksi pegawai di BPPT. Studi awal ini bertujuan untuk memperjelas

permasalahan sebagai langkah awal dalam penelitian, dengan ini dapat

diketahui:

1. Dimulai dengan perumusan masalah

2. Melakukan studi kepustakaan untuk mendapatkan gambaran dan

landasan teoritis yang tepat mengenai variabel penelitian

3. Membuat surat izin melakukan penelitian kepada pihak fakultas

Psikologi dan meminta izin melakukan penelitian di Biro Sumber

Daya Manusia dan Organisasi (SDMO) Badan Pengkajian dan

Penerapan Teknologi (BPPT).

(59)

Sesuai dengan judul penelitian, uji validitas konstruk akan dilakukan per sub

tes untuk melihat apakah butir-butir item mengukur apa yang seharusnya

diukur. Hal ini dilakukan dengan dua tahap:

1. Menguji hipotesis tentang model teori yang mengatakan bahwa item

pada masing-masing sub tes mengukur satu faktor saja. Secara teknis,

yang diuji adalah tentang ada tidaknya perbedaan yang signifikan

antara matriks korelasi yang diharapkan atau diprediksi oleh teori

dengan yang diperoleh dari data.

2. Menguji hipotesis apakah setiap butir item itu memberikan informasi

yang signifikan mengenai aspek yang hendak diukur.

Kedua tahap ini, dilakukan dengan analisis faktor konfirmatori (CFA). Berikut

ini dipaparkan hasil penelitian baik pada tingkat sub tes maupun pada tingkat

inteligensi umum:

4.1 Validitas Konstruk Tingkat Sub Tes

4.1.1 Validitas Konstruk sub tes

Satzergaenzung

(SE)

Dari hasil yang diperoleh untuk sub tes SE, model satu faktor

(unidimensional) tidak fit, dengan Chi Square = 284, 24, df=170,

(60)

model dimana kesalahan pengukuran pada beberapa item dibolehkan atau

dibebaskan berkorelasi satu sama lainnya, maka akhirnya diperoleh model fit

seperti pada Gambar 4.1 berikut ini

MᄚゥGセセウMQイゥziャQ

:1

[image:60.524.87.434.170.608.2]

o.1_'!l6

Gambar 4.1 Analisis Faktor Konfirmatorik untuk sub tes SE

(61)

Terlihat dari gambar 4.1, bahwa nilai chi square menghasilkan p> 0,05 (tidak

signifikan). Dengan demikian, model dengan hanya satu faktor dapat

diterima, yang berarti bahwa seluruh item terbukti mengukur satu hal saja,

yaitu SE. Namun karena pada model ini, kesalahan pengukuran pada

beberapa item saling berkorelasi, dapat disimpulkan bahwa beberapa item

tersebut sebenarnya bersifat multidimensi pada dirinya masing-masing. Ada

pun butir-butir yang kesalahan pengukurannya saling berkorelasi disajikan

(62)

Tabel4.1

Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item SE <

Gambar

Tabel 4.1 Matriks Korelasi antar kesalahan pengukuran pada butir-butir item SE
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir
+7

Referensi

Dokumen terkait