DESAIN DAN PEMODELAN
UPPER STRUCTURE
PROYEK
PEMBANGUNAN PERKANTORAN 7 LANTAI KABUPATEN
TANGERANG, BANTEN
FACHRU BAHARI JASMAN
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PERNYATAAN
MENGENAI
SKRIPSI
DAN
SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Desain dan Pemodelan
Upper Structure Proyek Pembangunan Perkantoran 7 Lantai Kabupaten Tangerang, Banten adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, 17 Juni 2015
Fachru Bahari Jasman
ABSTRAK
FACHRU BAHARI JASMAN. Desain dan Pemodelan Upper Structure Proyek Pembangunan Perkantoran 7 Lantai Kabupaten Tangerang, Banten. Dibimbing oleh MACHMUD ARIFIN RAIMADOYA.
Perencanaan gedung bertingkat perlu memperhatikan beberapa kriteria, antara lain kriteria kekuatan, perilaku yang baik pada taraf gempa rencana, serta aspek ekonomis. Penelitian ini bertujuan merencanakan preliminary design struktur atas dengan sistem SRPMK pada bangunan, menghitung penulangan untuk struktur utama, serta mampu mendesain dan mempresentasikan hasil perencanaan menggunakan Tekla Structure 17.0. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laptop dengan spesifikasi prosesor Intel ® Core™i3-2410M CPU 2.30 GHz dengan kapasitas RAM sebesar 2.00 GB, Program SAP2000, ETABS, Microsoft Office, Sketchup Pro 8, dan program Tekla Structures V17. Hasil
Preliminary design , analisis struktur, dan kontrol analisis dengan SRPMK menunjukkan bahwa struktur kantor kuat atau mampu menahan berbagai beban yang bekerja pada struktur.
Kata kunci: Analisis struktur, SAP 2000, SRPMK, ETABS, Tekla Structures V17
ABSTRACT
FACHRU BAHARI JASMAN. Design and Modeling Upper Structure of 7 Floor Office Building Project in Tangerang Regency, Banten. Supervised by MACHMUD ARIFIN RAIMADOYA.
Planning storey building need to consider multiple criteria, including the criteria of strength, good behavior at the level of seismic plans, as well as economic aspects. This study aimed to plan the structure of the preliminary design SRPMK systems in buildings, compute reinforcement to the main structure, and is able to design and present the results of planning using Tekla Structure 17.0 The tools used in this study is a laptop with specs Intel ® Core ™ i3-2410M CPU 2:30 GHz with a capacity of 2.00 GB of RAM, program SAP2000, ETABS, Microsoft Office, Sketchup Pro 8, and Tekla Structures Program V17. Preliminary results of design, structural analysis, and control analysis with SRPMK systems showed that the structure of the office strong or able to withstand the various loads acting on the structure.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
DESAIN DAN PEMODELAN
UPPER STRUCTURE
PROYEK
PEMBANGUNAN PERKANTORAN 7 LANTAI KABUPATEN
TANGERANG, BANTEN
FACHRU BAHARI JASMAN
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tema penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April-Juli 2015 ini adalah perencanaan konstruksi dengan judul Desain dan Pemodelan Upper Structure Proyek Pembangunan Perkantoran 7 Lantai Kabupaten Tangerang, Banten.
Dengan selesainya tugas akhir ini, penulis ingin memberikan penghargaan serta ucapan terimakasih kepada:
1. Ir. Mahmud Arifin Raimadoya, Msc. selaku pembimbing yang telah memberikan saran, arahan, motivasi dan nasihat kepada penulis selama proses penelitian hingga penulisan skripsi selesai.
2. Dr. Ir. Roh Santoso Budi Waspodo, MT. dan Sutoyo, S.TP., M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan bermanfaat dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Ayahanda Jasman Jabir, ibunda Andi Ratnasari, Tasya Salsabila Jasman selaku adik penulis, serta Irmawati Syam yang telah memberikan motivasi, dukungan, semangat, kasih sayang dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Teman-teman sebimbingan yang telah memberikan banyak kontribusi pada penyelesaian tugas akhir ini
5. Para sahabat-sahabat serta rekan-rekan mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan angkatan 2011 atas segala doa, motivasi, dan kasih sayangnya.
Bogor, Juni 2015
DAFTAR ISI
Beban yang Bekerja pada Struktur 4
Perencanaan Struktur terhadap Gempa 5
SRPMK ( Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus) 7
Tekla Structures 8
Perhitungan Gempa Dinamik Respons Spektrum 31
Kontrol dan Analisis Struktur 32
Analisis Upper Stucture 36
Penulangan Struktur 36
Pembesian Balok 37
Desain Tulangan Balok B1 38
Desain Tulangan Balok BA 41
Kontrol Persyaratan Balok pada SRPMK 42
Pembesian Kolom 44
Kontrol Persyaratan Kolom pada SRPMK 45
Penulangan Plat Lantai 46
Pemodelan Struktur dengan Tekla 47
SIMPULAN DAN SARAN 48
Simpulan 48
Saran 49
DAFTAR PUSTAKA 49
LAMPIRAN 50
DAFTAR TABEL
1 Koefisien periode pendek, Fa 6
2 Koefisien periode 1.0 detik 6
3 Persyaratan Tebal Selimut Minimum 20
4 Kombinasi Pembebanan yang Digunakan (SNI Beton 03-2847 2002) 23 5 Jenis Beban Mati pada Gedung (SNI Beton 03-2847-2002) 24
6 Beban Hidup untuk Gedung (PPPURG 1987) 25
7 Faktor Reduksi Beban Hidup untuk Gedung (PPPURG 1987) 25 8 Koefisien ζ yang membatasi waktu getar alami Fundamental gedung
(SNI Gempa Pasal 5.6) 28
9 Hasil Perhitungan Beban total Bangunan 30
10 Perhitungan Eksentrisitas Rencana (ed) Tiap Lantai 31
11 Perhitungan Selisih Periode (ΔT) setiap Mode 32
12 Hasil Penjumlahan Base Shear untuk Masing- masing Gempa 34
13 Kinerja Batas Layan Arah X 35
14 Kinerja Batas Layan Arah Y 35
15 Kinerja Batas Ultimit Arah X 36
16 Kinerja Batas Ultimit Arah Y 36
DAFTAR GAMBAR
1 Bentuk tipikal respon spektra desain di permukaan tanah 7
2 Integrasi pekerjaan dalam Tekla Structures 9
3 Lokasi proyek pembangunan perkantoran (Google Maps 2015) 11
4 Pemodelan grid 12
5 Pemodelan kolom 13
6 Pemodelan Balok 13
7 Pemodelan Slab 14
8 Pemodelan Shear Wall 14
9 Tampilan dalam pemilihan model tangga 15
10 Hasil penampang tangga beton 15
11 Diagram alir metode penelitian 16
12 Material Property Data (satuan kNm) 17
13 Grid atau Sumbu As untuk Penggambaran Balok dan Kolom 18 14 Input Profil Balok B1 dan BA (satuan : meter) 19 15 Input Profil Tie Beam TB1 dan TB2 (satuan : meter) 19 16 Input Profil Kolom K1 dan K2 (satuan : meter) 19
17 Data Plat S1, S2, S3 (satuan meter) 20
18 Input Elemen Wall 21
19 Hasil pemodelan 3D struktur (Extrusion view) 22
20 Hasil pemodelan 3D struktur (Object fill view) 22
21 Distribusi Beban Mati pada Balok 25
23 Elemen Plat di Setiap Lantai yang Bekerja sebagai Diafragma 27 24 Perilaku struktur dari arah X dan Y akibat gempa statik ( Nilai T ) 28 25 Nilai Faktor Respon Gempa pada Wilayah Gempa 3 29
26 Desain Respon spektrum wilayah Tangerang 31
27 Nilai Spektrum Gempa pada ETABS 32
28 Hasil Pengecekan Struktur 36
29 Detail Informasi Momen, Luas Tulangan, Gaya Geser, dan Torsi Balok
B1 37
30 Nilai As Tulangan Tumpuan dan Lapangan Balok B1 37 31 Detail Informasi Momen, Luas Tulangan, Gaya Geser, dan Torsi Kolom 43
32 Diagram Interaksi Kolom yang Ditinjau 44
33 Detail Luas Tulangan Kolom dan Balok yang ditinjau untuk Kontrol
Strong Column Weak Beam 45
34 Tegangan yang Terjadi pada Plat Akibat Beban Mati dan Hidup 46
DAFTAR LAMPIRAN
1 Peta wilayah gempa Indonesia (T = 1,0 dtk) 51
2 Peta wilayah gempa Indonesia (T = 0,2 dtk) 52
3 Output Hasil Analisis Partisipasi massa 53
4 Simpangan yang terjadi pada arah X dan Y akibat beban gempa 54
5 Diagram Momen dan Gaya Geser 55
6 Analisis Struktur Tangga dan Output Tegangan Plat Tangga pada
SAP2000 56
7 Hasil pemodelan struktur dengan Tekla 58
8 Daftar Harga Satuan Pekerjaan Konstruksi Kabupaten Tangerang 59
9 RAB Pembangunan Kantor 7 lantai 62
10 Hasil Analisis Base Shear Gempa Dinamik Respon Spektrum Arah X 66 11 Hasil Analisis Base Shear Gempa Dinamik Respon Spektrum Arah Y 67
12 Hasil Pemodelan Tulangan 68
13 Sectional drawing dari hasil detailing dengan proyeksi front view 69
14 Sectional drawing dari hasil detailing dengan proyeksi side view 70 15 Hasil detailing proyeksi denah lantai 1-7 71
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Semakin pesatnya pertumbuhan pekerjaan konstruksi di Indonesia dalam berbagai bidang serta perkembangan dunia teknik sipil di Indonesia saat ini menuntut terciptanya sumber daya manusia yang dapat mendukung kemajuannya dalam bidang serupa. Gedung perkantoran memiliki fungsi utama sebagai tempat bekerja ratusan karyawan serta menjadi tempat berlangsungnya berbagai proses ekonomi yang aka menuntun suatu kota menjadi lebih baik dalam segi perekonomian, sehingga sudah sepantasnya jika perencanaan gedung ini harus dilakukan secara baik dari segi arsitektur maupun kekuatan dari struktur, karena hal tersebut berkaitan dengan aspek keamanan dan jaminan investasi.
Perencanaan gedung bertingkat perlu memperhatikan beberapa kriteria, antara lain kriteria kekuatan, perilaku yang baik pada taraf gempa rencana, serta aspek ekonomis. Dalam mendesain dan merencanakan suatu bangunan, diperlukan ketelitian yang sangat tinggi serta waktu yang relatif lama. Oleh karena itu hampir semua konsultan maupun pelaksana pembangunan (kontraktor) menggunakan bantuan aplikasi teknik dalam merencanakan, mendesign, dan membuat laporan struktur suatu proyek. Aplikasi yang sudah sangat umum digunakan seperti Autocad yang digunakan untuk membuat gambar struktur secara detail dibantu dengan SAP2000 atau ETABS untuk analisa struktur. Berbeda dengan hal diatas, aplikasi Tekla Structures masih sangat jarang digunakan di Indonesia, namun memiliki kemampuan yang sangat menjanjikan untuk digunakan sebagai aplikasi utama dalam perencanaan dan visualisasi suatu pekerjaaan konstruksi
Tekla Structures merupakan sebuah terobosan terbaru sebagai perangkat lunak (software) desain grafis untuk rancang bangun suatu bangunan dalam dunia konstruksi. Tekla Structures memiliki banyak kelebihan, diantaranya memodelkan elemen-elemen struktur, menggambarkan detail penulangan struktur, dan menyajikan volume material dari elemen struktur dengan tampilan yang lebih menarik dan cara yang lebih mudah. Perangkat lunak ini pun mampu terintegrasi dengan berbagai kegiatan pemodelan, analisis serta desain struktur dengan hasil gambar yang lebih jelas, estimasi harga pekerjaan konstruksi, urutan/rangkaian pekerjaan, hingga kegiatan penjadwalan yang terbaru (real time/up to date). Perangkat lunak ini sangat menghemat biaya, waktu dan sumber daya manusia.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana merencanakan preliminary design dengan sistem SRPMK pada bangunan?
2. Bagaimana menghitung penulangan untuk struktur utama (balok dan kolom) dan dinding geser struktur?
3. Bagaimana mendesain dan mempresentasikan hasil perencanaan dalam bentuk gambar kerja dan visualisasi 3D menggunakan Tekla Structure17.0?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang ada di atas dapat dibuat beberapa tujuan yang akan dicapai dalam penyusunan penelitian ini yaitu :
1. Mampu merencanakan preliminary design struktur atas dengan sistem SRPMK pada bangunan.
2. Menghitung penulangan untuk struktur utama (balok dan kolom) dan dinding geser struktur.
3. Mendesain dan mempresentasikan hasil perencanaan menggunakan Tekla Structure17.0
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi perencanaan untuk konsultan perencana struktur pada proyek pembangunan perkantoran 7 lantai di kota tangerang. Selain hal tersebut hasil dari penelitian juga diharapkan dapat menjadi referensi dan memberikan contoh cara perhitungan struktur gedung dengan SRPMK
Ruang Lingkup Penelitian
Pada penelitian ini terdapat batasan-batasan masalah dalam pembahasannya, di antaranya:
1. Tidak meninjau dari segi metode pelaksanaan, arsitektural, dan manajemen konstruksi.
2. Tidak memperhitungkan sistem utilitas bangunan, instalasi air bersih dan air kotor, instalasi listrik, finishing dsb.
3. Perhitungan pembebanan dan penulangan tangga dilakukan terpisah dari perhitungan portal utama
4. Perhitungan pembebanan pada struktur akibat gempa menggunakan statik ekivalen.
5. Hanya melakukan desain dan analisis untuk struktur atas bangunan. 6. Analisa struktur dengan program bantu ETABS v9.7.1 dan SAP2000.
TINJAUAN PUSTAKA
Konstruksi Bangunan
Bangunan berasal dari kata dasar “bangun”, yang memiliki arti susunan yang merupakan suatu wujud. Bangunan berdasarkan kamus Bahasa Indonesia memiliki definisi sesuatu yang didirikan. Bangunan menjelaskan adanya sesuatu yang dibangun seperti rumah, gedung bertingkat, menara, dan mencakup sarana dan prasarana antara lain jalan, jembatan, bendungan, irigasi, dan lain-lain. Bangunan merupakan bentuk nyata/riil dari rancangan suatu gambar.
Bangunan merupakan suatu lingkungan buatan. Bangunan memiliki fungsi untuk melindungi dan menjaga penghuninya dari berbagai macam bahaya dan kondisi (alam) yang tidak menyenangkan (Matondang dan Mulyana 2012). Manusia secara sengaja membuat suatu lingkungan binaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti tempat istirahat, berkumpul, rekreasi, maupun tempat untuk bekerja.
Bangunan berdasarkan komponen penyusun merupakan perpaduan beberapa bahan dan konstruksi sehingga dapat berfungsi sesuai dengan rencana. Bangunan memiliki susunan bagian yang kontinu dan kompleks. Susunan elemen penyusun gedung disebut juga struktur bangunan. Setiap elemen struktur bangunan saling memberikan dampak terhadap komponen lainnya, jika salah satu komponen mendapatkan perlakuan (beban). Struktur bangunan merupakan bagian dari bangunan yang tersusun dari tiap komponen struktur yang dapat bekerja sama satu kesatuan. Koordinasi tiap komponen struktur bangunan memiliki fungsi menjamin kekuatan, kekakuan, stabilitas, keselamatan dan kenyamanan gedung terhadap segala macam beban dan terhadap bahaya lain dari kondisi sekitarnya.
Bangunan secara fisik (umumnya) berbahan dasar beton, baja, maupun kombinasi antara beton dan baja. Bangunan gedung merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian dan/atau seluruhnya berada di atas maupun di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya maupun kegiatan khusus (UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung).
Peraturan-peraturan
Perhitungan konstruksi gedung ini memperhatikan ketentuan – ketentuan yang berlaku yang terdapat pada buku-buku pedoman antara lain :
a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002, diterbitkan oleh Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan Departemen Pekerjaan Umum, Bandung. Beberapa ketentuan yang diambil dari Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002 dalam perencanaan tugas akhir ini adalah:
2) kuat perlu ( U )
3) faktor reduksi kekuatan (φ ) 4) faktor β1
5) tebal selimut beton
b. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung SNI-1729-2002, diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Beberapa ketentuan yang diambil dari Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung SNI-1729-2002 dalam perencanaan tugas akhir ini adalah:
1) modulus elastisitas baja (Es), 2) mutu baja,
3) tegangan-tegangan baja (tegangan ijin, tegangan geser, tegangan leleh), c. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung
SNI-1726-2002, diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Beberapa ketentuan yang diambil dari Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung SNI-1726-2002, dalam perencanaan Tugas Akhir ini adalah:
d. Peraturan Perencanaan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987. Beberapa ketentuan yang diambil dari Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 dalam perencanaan Tugas Akhir ini adalah:
1) berat sendiri bahan bangunan 2) beban hidup lantai gedung
Beban yang Bekerja pada Struktur
Tahap perencanaan pembebanan untuk struktur bangunan tahan gempa adalah perencanaan beban mati, beban hidup, dan beban gempa. Berdasarkan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002) struktur bangunan tahan gempa harus mampu menahan pembebanan/kuat perlu dibawah ini:
U = 1,2 D + 1,0 L ± 1,0 E (25)
Beban Mati
gedung. Beban mati akibat material konstruksi yang digunakan adalah beton bertulang dengan berat material 2400 kg/m3 sedangkan beban mati akibat komponen gedung yang digunakan meliputi dinding pasangan bata merah setengah batu dengan berat 250 kg/m2, berat langit-langit penggantung seesar 18 kg/m2, berat keramik sebesar 24 kg/m2, dan berat spesi 2 cm sebesar 42 kg/m2.
Beban Hidup
Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung dan kedalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang–barang yang dapat berpindah, mesin-mesin, serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkanperubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut (SKBI-1.3.53.1987). Beban hidup yang digunakan pada struktur bangunan adalah beban beban lantai dan tangga rumah tinggal sederhana sebesar 150 kg/m2 dan beban pekerja sebasar 100 kg/m2.
Beban Gempa
Beban gempa adalah suatu beban statik ekuivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang meniru pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu (SKBI-1.3.53.1987). Besarnya beban gempa yang diterima struktur bangunan, dipengaruhi oleh wilayah gempa, spektrum respon, jenis tanah, faktor keutamaan gedung, daktilitas struktur gedung, arah pembebanan gempa, dan pembatas waktu getar.
Perencanaan Struktur terhadap Gempa
Perencanaan struktur terhadap gempa berdasarkan Perencanaan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 03-1726-1989) dengan metode analisis beban gempa nominal statik ekuivalen dan analisis respons dinamik.
Metode Analisis Beban Gempa Nominal Statik Ekuivalen
Perencanaan struktur terhadap gempa berdasarkan Perencanaan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 03-1726-1989) dengan metode analisis beban gempa nominal statik ekuivalen dilakukan dengan tahapan:
- Menghitung Beban Geser Dasar Nominal Statik Ekuivalen V yang Terjadi di Tingkat Dasar
- Beban geser dasar nominal statik ekuivalen V yang terjadi di tingkat dasar dapat dihitung menurut persamaan :
pusat massa lantai tingkat ke-i menurut persamaan :
Analisis Respons Dinamik
Metode analisis respon spektrum diawali dengan penentuan respon spektra permukaan tanah. Respon spektra adalah nilai yang menggambarkan respon dari sistem berderajat-kebebasan-tunggal (SDOF) pada berbagai alami (periode alami) teredam akibat suatu goyangan tanah. Untuk praktis, maka respon spektra percepatan dibuat dalam bentuk responyang sudah disederhanakan (Peta Hazard Gempa Indonesia 2010). Adapun pada lampiran 1 dan lampiran 2 menunjukan lokasi peta gempa di Indonesia dengan T = 1 detik dan T = 0,2 detik.
Penentuan parameter respon spektra percepatan di permukaan tanah, diperlukan faktor amplifikasi terkait spektra percepatan untuk periode pendek ( ) periode 1.0 detik ( ). Parameter respon spektra percepatan diperoleh darigempa Indonesia 2010 berdasarkan persamaan berikut:
Tabel 1. Koefisien periode pendek, Fa
Klasifikasi Site Ss
Sumber: Peta hazard gempa Indonesia 2010
Kemudian untuk koefisien periode 1,0 detik parameter respon spectra percepatan diperoleh seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Koefisien periode 1.0 detik,
Batuan Lunak (SC) 1.7 1.6 1.5 1.4 1.3
Tanah Sedang (SD) 2.4 2.0 1.8 1.6 1.5
Tanah Lunak (SE) 3.5 3.2 2.8 2.4 2.4
Tanah Khusus (SF) SS SS SS SS SS
Ss adalah lokasi yang memerlukan investigasi geoteknik dan analisis respon site spesifik. Sumber: Peta hazard gempa Indonesia 2010
Respon spektra desain di permukaan tanah dapat ditetapkan sesuai dengan Gambar 1.
Gambar 1 Bentuk tipikal respon spektra desain di permukaan tanah
Sumber: Peta hazard gempa Indonesia 2010
Keterangan:
1. Untuk periode lebih kecil dari , respon spektra percepatan, didapatkan dari persamaan berikut:
SRPMK ( Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus)
dijelaskan dalam SNI 03-2847-2002 bab 23.3 yang idem dengan ketentuan ACI 318-02.
Desain struktur beton bertulang dengan SRPMK sudah dimulai sejak tahun 1960 (Blume et al, 1961) dan pertama kali diwajibkan penggunaannya untuk wilayah yang memiliki resiko gempa tinggi dalam Uniform Building Code (ICBO 1973). Saat ini, SPRMK wajib digunakan untuk wilayah dengan resiko gempa tinggi (ketagori desain sesimik D, E dan F dalam SNI 1726-2012 atau ASCE-7).SPRMK dapat digunakan juga dalam kategori desain seismik A, B dan C, namun perlu diperhatikan jika tidak ekonomis.
Berdasarkan pengalaman para praktisi, untuk desain yang ekonomis dengan SPRMK, bentang balok yang proporisional adalah 6 sampai 9 m. Untuk jarak antar lantai disarankan tidak lebih dari 6 m. Untuk jarak antar lantai yang tinggi, perlu diperhatikan kemungkinan soft story.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dalam SNI 1726-2012 dan ASCE-7 faktor reduksi gaya gempa R dapat diambil sebesar 8. Hal ini disebabkan karena struktur SPRMK memiliki sifat yang fleksibel dengan daktilitas yang tinggi, sehingga bisa direncanakan dengan gaya gempa rencana yang minimum. Namunkekuatan dan kekakuan dari struktur juga harus diperhatikan untuk mampu menahan beban rencana, baik beban gravitasi maupun angin dan gempa, dan juga struktur harus menghasilan story drift yang sesuai denganbatasan peraturan.Drift dari struktur dihitung dengan beban terfaktor yang diamplifikasi dengan faktor Cd (SNI 1726-2012 tabel 9).Dalam analisa tersebut, kekakuan efektif dari frame juga harus mempertimbangkan efek dari keretakan beton (post elastic desain).Analisa P-Delta juga perlu dilakukan karena dapat memberikan efek yang signifikan.
Struktur SPRMK diharapkan memiliki tingkat daktilitas yang tinggi, yaitu mampu menerima mengalami siklus respon inelasitis pada saat menerima beban gempa rencana. Pendetailan dalam ketentuan SRPMK adalah untuk memastikan bahwa respon inelastis dari strukur bersifat daktail. Prinsip ini terdiri dari tiga hal, yaitu strong-column/weak-beam yang bekerja menyebar di sebagian besar lantai, tidak terjadi kegagalan geser pada balok, kolom dan joint, dan menyediakan detail yang memungkinkan perilaku daktail.
Dalam menganalisa pengaruh gempa, ada tiga metode yang dapat digunakan yaitu; 1. Equivalent Lateral Force (ELF), 2. Modal Response Spectrum
(MRS), 3. Seismic Response History (SRH). Metode ELF atau lebih dikenal dengan metode statik ekivalen dapat digunakan untuk struktur bangunan yang sederhana dan beraturan. Untuk struktur bangunan yang tinggi, kompleks atau memiliki periode panjang, metode kedua dan ketiga harus dilakukan untuk mengevaluasi kekuatan dari struktur dalam menahan gaya gempa.
Tekla Structures
Tekla Structures BIM (Building Information Modeling) merupakan software
yang dapat membantu kontraktor untuk mengelola resiko dari biaya-biaya yangtidak terduga dan hilangnya waktu, terutama pada fase pelaksanaan proyek(Saputri 2012). Data penting untuk pekerjaan proyek seperti desain untuk
supply dan instalasi dapat dimasukkan kedalam software Tekla Structures.
proyek mengenai Building Information Modeling (BIM) yang memungkinkan untuk membuat dan mengelola data secara akurat dan rinci, serta dapat membuat modelstruktur 3D tanpa melupakan material dan struktur yang kompleks.
Model TeklaStructures ini dapat mencakup seluruh proses konstruksi bangunan dari konsepdesain untuk fabrikasi, erection, dan manajemen konstruksi. Format yangdidukung oleh Tekla Structures adalah IFC, DWG, CIS/2, DSTV, SNDF, DGNdan DXF, sehingga Tekla Structures dapat digabungkan dengan aplikasi-aplikasiyang sudah ada. Software ini terhubung dengan berbagai jenis sistem melewatiTekla Open API. IFC, CIS/2, DSTV dan SDNF merupakan contoh format biasayang didukung oleh Tekla Structures, sedangkan DWG, DGN dan DXFmerupakan contoh dari format yang sudah jadi hak milik yang didukung olehTekla Structures (Ramadiaprani 2012).
Keuntungan menggunakan Tekla Structures pada konstruksi adalah kualitas tinggi dan dokumentasi akurat dari proses konstruksi, perbaikan manajemen konstruksi, meningkatkan interaksi antara arsitek, insinyur dan kontraktor, memungkinkan pra-fabrikasi dari berbagai komponen konstruksi untuk meminimalkan kesalahan (Ramadiaprani 2012). Keuntungan lain menggunakan Tekla adalah dapat menampilkan gambar dalam bentuk sebuah model secara 3D, 4D (penjadwalan), dan 5D (estimasi biaya) dengan ribuan jenis profil, bentuk dan sambungan. Perencanaan modeling dalam tekla untuk mengerjakannya dengansangat mudah dan cepat, menggurangi kesalahan dan mengurangi biaya pada akhirnya.
Gambar 2 Integrasi pekerjaan dalam Tekla Structures
Sumber : (www.tekla.com)
ETABS
bahan, dan berwawasan menampilkan grafis, laporan, dan gambar skema yangmemungkinkan pengguna untuk dengan cepat dan mudah menguraikan danmemahami analisis dan desain hasil.Dari mulai desain konsep melalui produksi gambar skema, ETABS mengintegrasikan setiap aspek dari proses desain rekayasa. Penciptaan model yang sangat mudah, perintah menggambar intuitif memungkinkan untuk memodelkan elevasi tiap lantai dengan baik.Gambar CAD dapat dikonversi langsung ke model ETABS atau digunakan sebagai template keETABS.Kemampuan solver memungkinkan model yang sangat besar dan kompleks untuk dianalisa dengan cepat, dan mendukung teknik pemodelan nonlinier seperti sekuensing konstruksi dan efek waktu (misalnya, susut dan rangkak). Desain baja dan beton (dengan optimasi otomatis), balok komposit, kolom komposit, balok baja, dan beton serta dinding geser disertakan cek kapasitas untuk koneksi baja dan pelat dasar.Model dapat realistis diberikan, dan semua hasilnya dapat ditampilkan secara langsung pada struktur. Laporan komprehensif dan disesuaikan tersedia untuk semua analisis dan output desain, dan gambar konstruksi skema rencana framing, jadwal, rincian, dan lintas-bagian dapat dihasilkan untuk struktur beton dan baja (Moehle et al, 2008).
ETABS memberikan kemudahan tiada bandingnya untuk insinyur struktur merancang bangunan, apakah mereka bekerja pada satu lantai struktur industri atau high rise building. Sangat detail, namun mudah digunakan, telah menjadi ciri khas dari ETABS sejak puluhan tahun yang lalu diperkenalkan.
SAP2000
Secara Umum. SAP 2000 digunakan untuk menghitung mekanika teknik pada perencanaan struktur. SAP2000 menampilkan penggunaantarmuka yang sangat canggih, intuitif dan serbaguna didukung oleh mesin analisis dan desain alat yang tak tertandingi untuk insinyur yang bekerja pada bidang transportasi, industri, pekerjaan umum, , dan fasilitas lainnya. pemodelan objek 3D yang berbasis grafis dengan berbagai analisis dan pilihan desain sepenuhnya terintegrasi, SAP2000 telah terbukti menjadi tujuan umum program yang struktural yang paling terintegrasi, produktif dan praktis di pasar saat ini. Program ini memungkinkan Anda untuk membuat model struktural cepat dan intuitif. SAP2000 dapat digunakan untuk semua analisis dan desain untuk berbagai keperluan, termasuk masalah kecil sehari-hari (Wigroho 2001).
Teknik analisis canggih memungkinkan untuk langkah-demi-langkah analisis deformasi besar, Eigen dan Ritz analisis berdasarkan kekakuan kasus nonlinier, analisis cabel catenary, analisis nonlinier bahan dengan serat engsel,
U
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Juli 2015 pada proyek pembangunan perkantoran Kabupaten Tangerang. Sedangkan pengolahan dan analisis data dilakukan di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor.
Gambar 3 Lokasi proyek pembangunan perkantoran (Google Earth 2015)
Alat dan Bahan
Bahan penelitian merupakan data sekunder yang diperoleh dari Proyek Pembangunan perkantoran kabupaten Tangerang. Data tersebut mencakup data spesifikasi Proyek serta denah kasar arsitektur bangunan bersama dengan dokumen dasar peraturan-peraturan yang digunakan.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laptop dengan spesifikasi prosesor Intel ® Core™i3-2410M CPU 2.30 GHz dengan kapasitas RAM sebesar 2.00 GB, Program SAP2000, ETABS, Microsoft Office, Sketchup Pro 8, dan Program Tekla Structures.
Prosedur Analisis Data
Penelitian yang telah dilakukan terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: 1. Persiapan Penelitian
Data dan bahan yang dibutuhkan pada penelitian ini dicatat secara keseluruhan agar tidak ada data yang kurang untuk penelitian dan mempermudah dalam pelaksanaan penelitian. Pada tahap ini dilakukan juga install software Tekla Structures 17 pada laptop.
2. Pengumpulan data
Pengumpulan data dari peraturan SNI 03-1726-2002, SNI 03-2847-2002, SKBI-1.3.53.1987, dan peta hazard gempa Indonesia 2010.
Pembuatan rancangan struktur yaitu pembuatan denah bangunan struktur Perencanaan struktur portal 3D dilakukan berdasarkan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) dan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung ( SNI 03-2847-2002). Rancangan struktur atap dibuat sama. 4. Pemodelan struktur menggunakan Tekla Structures
a. Pembuatan grid
Sebelum dilakukan pemodelan objek kolom, balok, dan objek struktur lainnya di Tekla Structures, hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah pembuatan garis grid. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu Pada tab modeling, kemudian dipilih create grid.
Diklik dua kali pada grid untuk memunculkan kotak dialog
properties yang berfungsi untuk memodifikasi karakteristik grid. Koordinat X, Y, dan Z didefinisikan sesuai shop drawing dan DED.
Perlu diketahui bahwa koordinat X dan Y bersifat relatif dan Z
bersifat mutlak. Gambar grid disajikan pada gambar 4.
Gambar 4 Pemodelan grid b. Pemodelan kolom
Tahap-tahap pemodelan kolom beton yaitu :
Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete column. Penempatan kolom dilakukan pada posisi yang diinginkan.
Gambar 5 Pemodelan kolom c. Pemodelan balok
Tahap-tahap pemodelan balok beton yaitu:
Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete beam. Pada grid ditentukan titik awal dan titik akhir.
Kemudian dirubah karakteristik balok, klik 2 kali pada balok agar muncul kotak dialog concrete beam properties. Gambar permodelan balok beton chase tower disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6 Pemodelan Balok d. Pemodelan slab
Tahap-tahap pemodelan balok beton yaitu:
Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete slab. Dilakukan pemilihan titik awal slab.
Ditentukan titik-titik pojok slab.
Setelah itu dipilih titik awal lagi, atau diklik tombol tengah mouse untuk menyelesaikannya.
Gambar 7 Pemodelan Slab e. Pemodelan shear wall
Tahap-tahap pemodelan shear wall yaitu:
Pada tab modeling, kemudian dipilih create concrete panel. Pada grid ditentukan titik awal dan titik akhir shear wall.
Dirubah karakteristik shear wall, klik 2 kali pada shear wall agar muncul kotak dialog Concrete Panel Properties. Gambar permodelan shear walldisajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 Pemodelan Shear Wall
f. Pemodelan tangga
Tipe tangga yang digunakan adalah tangga beton sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam pemodelan yaitu:
Tangga beton digunakan pada situasi menghubungkan dua slab beton. Sebelum dimulai, dibuat terlebih dahulu dua slab beton yang agar dihubungkan oleh tangga dengan elevasi yang telah ditentukan.
Pada menu bar diklik Detailing, kemudian dipilih Component, dan diklik kiri pada Component Catalog. Cara lain yaitu pada keyboard ditekan Ctrl+F.
Data dimensi setiap ukuran rancangan tangga dimasukkan dalam setting tangga tersebut. Contoh dapat dilihat di Gambar 9.
Gambar 9 Tampilan dalam pemilihan model tangga
Ditentukan pemilihan titik awal dan akhir. Titik awal yang mengindikasikan level dari pijakan terendah dari tangga dan titik akhir yang mengindikasikan level dari pijakan teratas dari tangga.
Diklik tombol tengah dari mouse untuk menyelesaikannya. Contoh gambar tangga beton disajikan pada Gambar 10.
Gambar 10 Hasil penampang tangga beton 5. Pembuatan spektrum gempa
Pembuatan spektrum gempa menggunakan peta hazard gempa Indonesia 2010.
6. Analisa pembebanan
Analisa pembebanan dilakukan dengan software ETABS dan SAP 2000 untuk mendapatkan gaya-gaya dalam yang bekerja pada struktur. Beban yang dianalisa meliputi beban mati, beban hidup, dan beban gempa.
Analisis struktur dilakukan setelah gaya-gaya dalam didapatkan untuk menentukan jumlah tulangan kolom dan balok menggunakan software ETABS.
8. Penyusunan laporan akhir
Penyusunan laporan akhir berisi seluruh hasil penelitian, gambar dan desain-desain struktur yang telah dilakukan.Adapun bagan alir seperti Gambar 11.
Gambar 11 Diagram alir metode penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Input Data Perencanaan
Beton
Kuat beton yang disyaratkan, fc’ = 30 Mpa Modulus Elastisitas beton , Ec = 4700 fc’
= 25742,96 MPa = 25742960 kN/m²
Angka poison, υ = 0,2
Modulus geser, G = Ec / [ 2( 1 + υ ) ]
= 8757,91MPa = 8757910 kN/m²
Baja Tulangan
Diameter ≤ 12 mm menggunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan tegangan leleh, fy = 240 MPa.
Diameter > 12 mm menggunakan baja tulangan ulir BJTD 40 dengan tegangan leleh, fy = 400 MPa.
Baja Profil
Mutu baja profil yang digunakan untuk struktur baja harus memenuhi persyaratan setara dengan BJ 40 dengan tegangan leleh fy = 400 MPa. Bahan struktur beton yang digunakan adalah dengan spesifikasi berikut :
Mass per unit volume = 2,4
F’c (mutu kuat tekan beton) = 20 MPa = 20000 kNm
Fy (tegangan leleh tulangan utama), BJ 40 = 400 Mpa = 400000 kNm Fys (tegangan leleh tulangan geser/ sengkang), BJ 24 = 240 Mpa = 240000
kNm
Data bahan tersebut dapat diinput ke dalam ETABS setelah grid selesai dibuat dengan cara Define – Material Properties – Conc– Modify seperti ditunjukkan pada Gambar 12.
Gambar 13 Grid atau Sumbu As untuk Penggambaran Balok dan Kolom
Setelah memasukkan angka – angka yang sesuai dengan mutu beton yang direncanakan, maka tahap selanjutnya adalah memasukkan data detail elemen struktur yang berupa data material yang digunakan serta dimensi balok, kolom, slab, dan shearwall sesuai dengan detail elemen struktur yang direncanakan. Detail elemen struktur yang direncanakan adalah sebagai berikut.
▪ Jenis struktur = Beton bertulang
▪ Pondasi = Bore pile
▪ Kode balok = TB1 - 40x80 (balok tie beam arah X) = TB2 - 30x50 (balok tie beam arah Y)
= B1 - 40x70 (balok utama lantai 1 – lantai 4) = B2 - 40x70 (balok utama lantai 5 – lantai 7) = B3 - 40x70 (balok utama lantai 5 – lantai 7) = BA - 30x60 (balok anak lantai 1 - lantai 7) ▪ Kode Kolom = K1 - 70x70 (kolom utama lantai 1 – lantai 4)
= K2 - 70x70 (kolom utama lantai 5 – lantai 6) = K3 - 20x20 (kolom utama lantai atap)
Gambar 14 Input Profil Balok B1 dan BA (satuan : meter)
Gambar 15 Input Profil Tie Beam TB1 dan TB2 (satuan : meter)
Gambar 16 Input Profil Kolom K1 dan K2 (satuan : meter)
beton minimum yang diizinkan dijelaskan pada Tabel 3.
Tabel 3. Persyaratan Tebal Selimut Minimum
Sumber:SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 9.7
Tebal selimut tersebut dapat diinput ke ETABS dengan cara Define – Frame Section – Rectangular – Reinforcement – Concrete cover to Rebar Center.
Tebal selimut untuk balok dan kalom 40 mm, serta untuk Tie Beam 60 mm.Untuk pemodelan Plat lantai, Input elemen plat dilakukan dengan cara Define – Wall/ Slab – Deck Section – Add New Slab.Dalam perencanaan ini, plat dimodelkan sebagai Shell, sehingga selain menerima gaya vertikal akibat beban mati dan hidup, plat juga diasumsikan menerima gaya horizontal/ lateral akibat gempa. Input data plat ditunjukkan pada Gambar 17.
Gambar 17 Data Plat S1, S2, S3 (satuan meter)
dimensi plat yang digunakan relatif tebal dan plat tersebut juga menumpu di tanah sebagai pondasi.
Adanya gerakan lift menyebatkan getaran yang berakibat retaknya dinding, maka digunakan shear wall untuk meredam getaran tersebut dan untuk memperbesar kekakuan gedung akibat pengaruh gempa. Karena shear wall tersebut dimodelkan berbentuk tube untuk lubang lift, maka bisa juga disebut core lift. Pemodelan shear wall tersebut dapat dilakukan dengan cara Define – Wall/ Slab – Deck Section – Add New Wall. Shear wall tersebut dapat diasumsikan sebagai Thick Plate, karena dimensi dinding yang digunakan relatif tebal dan karena plat tersebut juga menumpu di tanah sebagai pondasi.
Gambar 18 Input Elemen Wall
Pemodelan Struktur dengan ETABS
Setelah semua data perencanaan diinput seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka selanjutnya adalah memodelkan keseluruhan bangunan secara keseluruhan. Pemodelan struktur gedung dilakukan secara 3D dengan menggambar semua elemen balok, kolom, plat, dan shear wall. Penggambaran elemen struktur baik berupa balok, kolom, plat, dan shear wall dapat dilakukan secara praktis dengan pilihan Similar Story untuk beberapa lantai yang mempunyai denah balok yang sama (typical), sedangkan untuk kasus dimana lantai yang didesain berbeda dengan lantai yang lain, maka dapat digunakan pilihan One Story.
Gambar 19 Hasil pemodelan 3D struktur (Extrusion view)
Gambar 20 Hasil pemodelan 3D struktur (Object fill view)
Analisis Pembebanan
yang terdiri dari dinding, keramik, plesteran, plumbing, dll diberikan faktor pengali sama dengan 0, karena beban tersebut diinput secara manual.
Struktur bangunan yang dirancang harus mampu menahan beban mati, hidup dan gempa sesuai peraturan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 4.1.1 dimana gempa rencana ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun, sehingga probabilitas terjadinya terbatas pada 10 % selama umur gedung 50 tahun. Kombinasi pembebanan yang digunakan mengacu pada SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 11.2 sebagai berikut : beban mati tambahan (superimposed dead load, D),
L : beban hidup (live load), tergantung fungsi gedung,
Lr : beban hidup yang boleh direduksi dengan faktor pengali 0,5
E : beban gempa (earthquake load), ditinjau terhadap gempa statik (EQX, EQY), gempa dinamik respons spektrum (RSPX, RSPY).
Rincian kombinasi pembebanan tersebut ditunjukkan pada Tabel 4. Kombinasi pembebanan tersebut kemudian dimasukkan ke ETABS kecuzali untuk kombinasi pembebanan no 9-12. Dalam penelitian ini hanya dilakukan analisis pembebanan statik ekuivalen dan dinamik respon spektrum.
Tabel 4. Kombinasi Pembebanan yang Digunakan (SNI Beton 03-2847-2002)
Nama Kombinasi Kombinasi Pembebanan Jenis Kombinasi
Perhitungan Beban Mati (Dead Load)
Beban mati adalah beban dari semua elemen gedung yang bersifat permanen termasuk peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung. Jenis- jenis beban mati pada gedung ditunjukkan pada Tabel berikut :
Tabel 5. Jenis Beban Mati pada Gedung (SNI Beton 03-2847-2002)
Beban mati yang bekerja pada plat lantai gedung meliputi :
Beban pasir setebal 1 cm = 0,01 x 16 = 0,16 kN/m2 Beban spesi setebal 3 cm = 0,03 x 22 = 0,66 kN/m2 Beban keramik setebal 1 cm = 0,01 x 22 = 0,22 kN/m2
Beban plafon dan penggantung = 0,2 kN/m2
Beban Instalasi ME = 0,25 kN/m2
Total beban mati pada plat lantai = 1,49 kN/m2
Beban mati yang bekerja pada plat atap gedung meliputi :
Berat waterproofing dengan aspal tebal 2 cm = 0,02 x 14 = 0,28 kN/m2
Berat plafon dan penggantung = 0,2 kN/m2
Berat Instalasi ME = 0,25 kN/m2
Total beban mati pada plat atap = 0,73 kN/m2
Beban mati didistribusikan pada plat secara merata Beban mati yang bekerja pada balok meliputi :
Beban dinding pasangan bata ½ batu = 3,6 x 2,50 = 9 kN/m Beban dinding partisi (cladding) = 2 x 0,20 = 0,40 kN/m Beban reaksi pada balok akibat tangga = 13,65 kN/m Beban reaksi pada balok akibat gerakan lift = 70 kN
Beban mati pada balok yang berupa beban garis seperti beban dinding dan partisi diinput dengan cara Assign – Frame/ Line Loads – Distributed. Sedangkan beban mati yang berupa titik seperti beban lift dan reaksi tumpuan kuda- kuda diinput dengan cara Assign – Frame/ Line Loads – Point.
NO. Jenis Beban Mati Berat Satuan
1 Baja 78,5 KN/m3
2 Beton 22 KN/m3
3 Pasangan batu kali 22 KN/m3
4 Mortar, spesi 22 KN/m3
5 Beton bertulang 24 KN/m3
6 Pasir 16 KN/m3
7 Lapisan aspal 14 KN/m2
8 Air 10 KN/m3
9 Dinding pasangan bata ½ batu 2,5 KN/m2
10 Curtain wall kaca + rangka 0,6 KN/m2
11 Langit- langit dan penggantung 0,2 KN/m2 12 Cladding metal sheet + rangka 0,2 KN/m2 13 Finishing lantai (tegel atau keramik) 22 KN/m3 14 Marmer, granit per cm tebal 0,24 KN/m2
15 Instalasi plumbing (ME) 0,25 KN/m2
Gambar 21 Distribusi Beban Mati pada Balok
Beban Hidup (Live Load)
Besarnya beban hidup lantai bangunan menurut Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung PPPURG 1987 ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Beban Hidup untuk Gedung (PPPURG 1987)
Reduksi beban dapat dilakukan dengan cara mengalikan beban hidup dengan koefisien reduksi yang nilainya tergantung pada penggunaan bangunan. Besarnya koefisien reduksi beban hidup untuk perencanaan portal dan gempa disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Faktor Reduksi Beban Hidup untuk Gedung (PPPURG 1987)
Dari Tabel 7, beban hidup yang bekerja untuk perkantoran adalah sebagai berikut:
NO. Jenis Beban Mati Berat Satuan
1 Dak atap bangunan 1 KN/m2
2 Rumah tinggal 2 KN/m2
3 Kantor, sekolah, hotel, pasar, rumah sakit 2,5 KN/m2
4 Hall, tangga, coridor, balcony 3 KN/m2
5 Ruang olahraga, pabrik, bioskop, bengkel, 4 KN/m2
perpustakaan, tempat ibadah, parkir, aula KN/m2
6 Panggung penonton 5 KN/m2
No. Fungsi Bangunan Faktor Reduksi untuk Portal
1 Perumahan : rumah tinggal, asrama hotel, rumah sakit 0,75
2 Gedung pendidikan : sekolah, ruang kuliah 0,90
3
Tempat pertemuan umum, tempat ibadah, bioskop, restoran,
ruang dansa, ruang pergelaran 0,90
4 Gedung perkantoran : kantor, bank 0,60
5
Gedung perdagangan dan ruang penyimpanan : toko, toserba,
pasar, gudang, ruang arsip, perpustakaan 0,80
6 Tempat kendaraan : garasi, gedung parkir 0,90
Beban hidup ruang kerja = 2,5 kN/m² Beban hidup lantai atap = 1 kN/m²
Beban hidup tersebut kemudian diinput ke ETABS sebagai beban gravity. Setelah semua pembebanan pada pelat selesai diinput, maka Semua elemen plat dibagi menjadi pias- pias kecil agar disribusi beban dari plat ke balok bisa lebih halus dan merata dengan cara pilih elemen plat, kemudian Edit – Mesh Areas.
Pembagaian elemen plat menjadi pias- pias kecil cukup dilakukan setiap jarak 0,5 m – 1,5 m, karena pembagian pias yang terlalu rapat/ banyak akan membuat proses Run Analysis menjadi lebih lama.Elemen plat lantai yang telah dibagi menjadi pias- pias kecil dengan Meshing Areas dapat dilihat pada Gambar berikut:
Gambar 22 Pembagian Plat Menjadi Pias- pias Kecil (Meshing Areas)
Beban Gempa
Analisis beban gempa dilakukan dengan 2 cara yaitu statik ekuivalen dan dinamik respons spektrum. Untuk perhitungan gempa statik ekuivalen dapat dilakukan secara otomatis dengan Auto Lateral Loads dan secara manual dengan cara menginput besarmya beban gempa ke pusat massa struktur tiap lantai.
Perhitungan Gempa Statik Ekuivalen
Beban gempa statik ekuivalen adalah penyederhanaan dari perhitungan beban gempa yang sebenarnya dengan asumsi tanah dasar dianggap tetap (tidak bergetar), sehingga beban gempa diekuivalensikan menjadi beban lateral statik yang bekerja pada pusat massa struktur tiap lantai bangunan. Perhitungan gempa statik ekuivalen dapat dilakukan secara otomatis setelah melakukan pendefinisian beban pada program ETABS.
sangat kaku (rigid) dalam bidangnya dan dianggap bekerja sebagai diafragma terhadap beban gempa horisontal. Maka, masing- masing lantai tingkat didefinisikan sebagai diafragma kaku seperti pada Gambar 23.
Gambar 24 Perilaku struktur dari arah X dan Y akibat gempa statik ( Nilai T ) Dalam SNI Gempa Pasal 5.6 disebutkan bahwa waktu getar alami fundamental harus dibatasi untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel dengan persayaratan T1 < ζ n , dimana n adalah jumlah lantai dan koefisien ζ tergantung dari zona gempa seperti pada tabel berikut.
Tabel 8. Koefisien ζ yang membatasi waktu getar alami Fundamental gedung (SNI Gempa Pasal 5.6)
Lokasi gedung berada pada zona 3, maka ζ = 0,18 Maka : T1 < ζ x n
0,7585 < 0,18 x 8
0,7585 < 1,44 → OK, waktu getar struktur gedung memenuhi persyaratan. Gedungmempunyai kekakuan yang cukup.
Keutamaan (Important Factor, I). Sesuai tabel faktor keutamaan untuk berbagai kategori gedung pada SNI Gempa 1736-2002 nilai I untuk perkantoran sebesar 1,0.
Perhitungan Beban Gempa Nominal
Beban gempa nominal statik ekuivalen yang terjadi di tingkat dasar dapat dihitung berdasarkan zona gempa.Dari hasil Test Penetrasi Standar, diperoleh nilai SPT rata- rata, N = 16,36 maka berdasarkan tabel SNI Gempa 1726-2002, lokasi termasuk kategori tanah sedang.Beban gempa nominal statik ekuivalen yang terjadi di tingkat dasar dapat dihitung berdasarkan zona gempa, faktor reduksi untuk jenis struktur yang digunakan, fungsigedung, dan berat total gedung.Nilai faktor respon gempa berdasarkan wilayah gempa dan jenis tanah ditentukan seperti Gambar 25.
Gambar 25 Nilai Faktor Respon Gempa pada Wilayah Gempa 3
Waktu getar struktur untuk arah X dan Y berbeda, sehingga nilai faktor respon gempa juga berbeda. Nilai spektrum gempa rencana dihitung sebagai berikut berikut :
Gempa statik arah X (Mode 1), T1 = 0,7585 detik → C1 = 0,33/ 0,7585 = 0,4350.
Gempa statik arah Y (Mode 2), T2 = 0,7058 detik → C2 = 0,33/ 0,7058= 0,4675.
Beban geser nominal untuk perhitungan gempa statik dapat dihitung sebagai berikut :
Karena struktur gedung didesain dengan daktilitas penuh, diambil faktor daktilitas μ = 5,3 dan ditetapkan kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur gedung f1 = 1,6 sesuai SNI Gempa 1726- 2002 Pasal 4.3.3. Maka R = μ x f1 = 5,3 x 1,6 = 8,5. Sedangkan nilai Wt (berat gedung keseluruhan) diperoleh dengan menjumlahkan nilai beban mati tambahan, beban hidup tambahan, dan beban sendiri tiap lantai yang dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Hasil Perhitungan Beban total Bangunan
Besarnya koefisien gaya geser gempa untuk arah X dan Y dapat dihitung sebagai berikut. Nilai yang diperoleh ini kemudian diinput ke ETABS:
Koefisien gaya geser dasar gempa arah X = C1x I / R = 0,4189 x 1/ 8,5= massa dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana (ed). Apabila ukuran horisontal terbesar denah struktur gedung pada lantai tingkat itu, diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa dinyatakan dengan ‘b’, maka eksentrisitas rencana harus ditentukan sebagai berikut :
untuk 0 < e ≤ 0,3 b , maka ed = 1,5 e + 0,05 atau ed = e – 0,05 b
Nilai dari keduanya dipilih yang pengaruhnya paling menentukan untuk unsur atau subsistem struktur gedung yang ditinjau, dimana eksentrisitas (e) adalah pengurangan antara pusat massa dengan pusat rotasi.Nilai pusat massa dan rotasi bangunan dapat diperoleh langsung dari ETABS. Sedangkan hasil perhitungan eksentrisitas rencana dapat dilihat pada Tabel 10.
Beban Mati Beban Hidup Berat Sendiri Beban Total Tambahan (kN) Tambahan (kN) (kN) (kN)
Tabel 10. Perhitungan Eksentrisitas Rencana (ed) Tiap Lantai
Perhitungan Gempa Dinamik Respons Spektrum
Dalam analisis beban gempa dinamik, respons spektrum disusun berdasarkan respons terhadap percepatan tanah (ground acceleration) hasil rekaman gempa. Desain spektrum merupakan representasi gerakan tanah (ground motion) akibat getaran gempa yang pernah terjadi pada suatu lokasi. Hal- hal yang dipertimbangkan adalah zona gempa dan jenis tanah. Desain kurva respons spektrum untuk zona gempa 3 dengan kondisi tanah lunak sesuai dengan hasil SPT adalah sebagai berikut :
Gambar 26 Desain Respon spektrum wilayah Tangerang
Analisis respon dinamik dilakukan dengan menginput nilai spektrum gempa yang telah dibuat ke program ETABS seperti pada Gambar 27. Nilai spektrum gempa akan dianalisis pada program ETABS dan didapat nilai gaya-gaya dalam yang bekerja.
X Y X Y X Y X Y X Y
TIE BEAM 32.4 10.683 32.4 9.487 0 1.196 1.08 2.87 -1.08 0.116 STORY1 32.4 10.693 32.4 8.937 0 1.756 1.08 3.71 -1.08 0.676 STORY2 32.4 10.693 32.4 9.414 0 1.279 1.08 3.00 -1.08 0.199 STORY3 32.4 10.688 32.4 9.688 0 1 1.08 2.58 -1.08 -0.08 STORY4 32.4 10.693 32.4 9.814 0 0.879 1.08 2.40 -1.08 -0.201 STORY5 32.4 10.693 32.4 9.867 0 0.826 1.08 2.32 -1.08 -0.254 STORY6 32.4 10.693 32.4 9.885 0 0.808 1.08 2.29 -1.08 -0.272 STORY7 32.4 10.526 32.4 9.916 0 0.61 1.08 2.00 -1.08 -0.47
ATAP 32.4 5.56 32.4 9.816 0 -4.256 1.08 -5.30 -1.08 -5.336 Story Pusat Massa Pusat Rotasi Eksentrisitas (e) ed = 1,5e + 0,05b ed = e - 0,05b
Gambar 27 Nilai Spektrum Gempa pada ETABS
Kontrol dan Analisis Struktur
Analisis Ragam Respons Spektrum
Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.2 disebutkan bahwa untuk struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berdekatan atau selisih nilainya kurang dari 15%, harus dilakukan dengan metoda yang dikenal dengan Kombinasi Kuadratik Lengkap (Complete Quadratic Combination atau CQC). Jika waktu getar alami yang berjauhan, penjumlahan respons ragam tersebut dapat dilakukan dengan metoda yang dikenal dengan Akar Jumlah Kuadrat (Square Root of the Sum of Squares atau SRSS).Untuk menentukan tipe analisis ragam respons spektrum yang sesuai, maka selisih dari periode yang diperoleh dari waktu getar alami dihitung seperti pada Tabel 11.
Tabel 11. Perhitungan Selisih Periode (ΔT) setiap Mode Mode Period (T) Δ T
1 0.758484 6.95
2 0.705757 1.01
3 0.698646 67.86
4 0.224515 10.04
5 0.201973 1.89
6 0.198163 33.28
7 0.132216 1.13
8 0.130728 0.32
9 0.130312 12.14
10 0.114493 12.12
11 0.100622 3.28
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada tabel diatas terlihat bahwa waktu getar struktur ada yang melebihi 15%, maka sebaiknya digunakan kombinasi ragam spektrum SRSS sesuai dengan persayaratan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.2.
Partisipasi Massa
Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.1 disebutkan bahwa jumlah ragam vibrasi yang ditinjau dalam penjumlahan respons harus menghasilkan partisipasi massa minimum 90%. Dari hasil analisis dengan 26 mode diperoleh hasil partisipasi massa pada sumbu X sebesar 99.2289% dan pada sumbu Y sebesar 100%. Ini berarti bahwa hasil analisis telah sesuai dengan Pasal SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.1.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Gaya Geser Dasar Nominal, V (Base Shear)
Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.1.3 disebutkan bahwa : Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana dalam suatu arah tertentu, tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama. Bila respons dinamik struktur gedung dinyatakan dalam gaya geser dasar nominal V, maka persyaratan tersebut dapat dinyatakan menurut persamaan berikut :
Vdinamik < 0,8 Vstatik
Hasil dari analisis base shear akibat beban gempa statik dan dinamik dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Hasil Penjumlahan Base Shear untuk Masing- masing Gempa Tipe
Beban Gempa
Fx (kN) Fy (kN) 80% Statik X 80% Statik Y Statik EQx -11286.58 -1688.17 -9029.264 -1350.536
EQy -1805.27 -12072.3 -1444.216 -9657.872 Dinamik RSPx 4019.28 1572.7
RSPy 1447.92 4275.77
Dari tabel tersebut disimpulkan persyaratan gaya geser gempa dinamik belum terpenuhi (Vdinamik <0,8 Vstatik), maka besanya Vdinamik harus dikalikan nilainya dengan faktor skala yang diperoleh dari Vstatik dibagi dengan Vdinamik. Faktor skala untuk arah X sebesar 2,25 dan untuk arah Y sebesar 2,26
Kinerja Batas Layan
tinggi tingkat yang bersangkutan atau 30 mm atau diambil yang terkecil. Contoh besarnya simpangan yang terjadi pada arah X dan Y akibat beban gempa tersebut dapat dilihat pada lampiran.Sedangkan untuk hasil perhitungan cek kinerja batas layan dapat dilihat pada Tabel 13 dan 14.
Tabel 13. Kinerja Batas Layan Arah X
No Lantai
Tabel 14. Kinerja Batas Layan Arah Y
No Lantai ultimit struktur gedung ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar tingkat maksimum struktur gedung akibat pengaruh gempa rencana dalam kondisi struktur gedung di ambang keruntuhan, yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah benturan berbahaya antar gedung atau antar bagian struktur gedung yang dipisah dengan sela pemisah (sela dilatasi).
simpangan struktur gedung untuk batas ultimit tidak boleh melampaui 0,02 kali tinggi tingkat yang bersangkutan. Hasil perhitungan cek kinerja batas ultimit disajikan pada Tabel 15 dan 16. Perhitungan simpangan untuk kinerja batas ultimit disajikan sebagai berikut.
Faktor pengali, ξ = 0,7 x R
= 0,7 x 8,5 = 5,95
Simpangan yang diizinkan, max = 0,02 x H Tabel 15. Kinerja Batas Ultimit Arah X
No Lantai
Tabel 16. Kinerja Batas Ultimit Arah Y
proyek konstruksi di Indonesia.Faktor reduksi berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 11.3 adalah sebagai berikut.
Reduksi lentur (bending) = 0,8 Reduksi geser (shear) = 0,75
Untuk persentase efektifitas penampang berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 12.11 sebagai berikut.
Balok = 0,35 Ig
Kolom = 0,70 Ig
Dinding struktural = 0,35 Ig
Analisis Gaya Dalam
Pemodelan gedung yang dilakukan program lunak ETABS bertujuan untuk mengetahui gaya-gaya dalam akibat beban yang bekerja di dalamnya dalam berbagai bentuk kombinasi pembebanan. Nilaigaya dalam hasil dari analisis program ini selanjutnya akan digunakan sebagai dasar perhitungan tulangan perlu, baik tulangan lentur, geser maupun puntir atau torsi. Diagram momen dan gaya geser yang terjadi akibat berbagai macam kombinasi pembebanan ditunjukkan pada Lampiran 5.
Penulangan Struktur
Hasil perhitungan pembesian balok dan kolom dengan kombinasi pembebanan yang telah ditetapkan dapat dilihat pada Gambar 33.Tampak bahwa tak satupun elemen balok atau kolom yang mengalami over strength (OS) yang ditandai dengan warna merah pada elemennya.Dengan demikian secara keseluruhan struktur aman terhadap berbagai macam kombinasi beban gempa yang telah ditetapkan.
Pembesian Balok
Hasil output dari analisis dan perencanaan balok B1 dengan dimensi 40 x 70 cm dapat ditunjukkan pada Gambar 29.
Gambar 29 Detail Informasi Momen, Luas Tulangan, Gaya Geser, dan Torsi Balok B1
Gambar 30 Nilai As Tulangan Tumpuan dan Lapangan Balok B1
Pada Gambar 30, hasil analisis menunjukkan nilai luas tulangan yang dibutuhkan baik untuk tulangan utama, sengkang, maupun torsi. Nilai output inilah yang akan digunakan untuk melakukan desain dan perhitungan tulangan pada elemen struktur
Desain Tulangan Balok B1
Desain Tulangan Utama Balok
Tulangan utama daerah tumpuan
Digunakan tulangan ulir diameter 22 (D22)
▪ Luas tulangan bagian atas = 2626 mm2
Jumlah tulangan = 2626/380 = 6,91 = 7 ( digunakan tulangan atas 7D22) ▪ Luas tulangan bagian bawah = 1257 mm2
Jumlah tulangan = 1257/380 = 3,5 = 4 ( digunakan tulangan bawah 4D22) Tulangan utama daerah lapangan
Luas tulangan bagian atas = 822 mm2
Jumlah tulangan = 822/380 = 2,2 = 3 ( digunakan tulangan atas 3D22)
Luas tulangan bagian bawah = 1257 mm2
Jumlah tulangan = 980/380 = 2,57 = 4 ( digunakan tulangan bawah 4D22)
Desain Tulangan Geser Balok (Sengkang)
Tulangan geser daerah tumpuan Luas tulangan bagian atas = 1,326 mm2
Digunakan Sengkang 2P12 – 150 ( sengkang 2 kaki diameter 12 mm setiap jarak 150 mm)
Luas tulangan per 1 m = = = 1507 mm2
Sehingga luas tulangan per meter panjang = 1507/1000 = 1,507 mm2
Kontrol keamanan : 1,507 > 1,326………..OK (sengkang mampu menahan gaya geser)
Sehingga digunakan sengkang 2P12 – 150 Tulangan geser daerah lapangan
Luas tulangan bagian atas = 1,010 mm2
Digunakan Sengkang 2P12 – 200 ( sengkang 2 kaki diameter 12 mm setiap jarak 200 mm)
Luas tulangan per 1 m = = = 1130 mm2
Sehingga luas tulangan per meter panjang = 1507/1000 = 1,130 mm2 Kontrol keamanan : 1,130 > 1,010………..OK (sengkang mampu menahan gaya geser)
Sehingga digunakan sengkang 2P12 – 200
Desain Tulangan Torsi (Puntir)
Desain Tulangan Badan
Dimensi balok yang relatif tinggi (lebih dari 400 mm) membuat resiko retak pada bagian badan semakin besar. Maka harus diberi tulangan pinggang dengan jarak antar tulangan maksimal sebesar nilai d atau 300 mm (diambil yang terkecil).
Perhitungan d = tinggi balok - selimut - Dsengkang - ½ Dtul. utama = 700- 40- 10- (½ x 22) = 639 mm
Maka diambil jarak tulangan minimum 300 mm, sehingga dengan tinggi balok 700
Kontrol Persyaratan Balok pada SRPMK
Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.3 komponen struktur lentur SRPMK harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Gaya aksial terfaktor pada balok dibatasi maksimum 0,1 x Ag x fc’ Cek : 0,1 : x Ag x fc’ = 0,1 x 400 x 700 x 30 Mpa = 840 kN Dari perhitungan ETABS gaya aksial yang terjadi adalah 0.
Jadi 0 < 840 kN OK
b. Bentang bersih struktur minimal 4 x tinggi efektifnya.
Tinggi efektif= (d) =700–(40+10 +½x22)= 639 mm x 4= 2556mm.
Bentang bersih balok=bentang balok - dimensi kolom= 7200–700= 6500mm. Jadi 6500mm>2556mm→OK.
c. Perbandingan lebar dan tinggi minimal 0,3
b = 400 mm, h = 700 mm, b/ h = 400/ 700 = 0,57. Jadi 0,57> 0,3 → OK.
d. Lebar elemen tidak boleh kurang dari 250 mm b = 400 mm > 250 mm → OK.
e. Lebar elemen tidak boleh Melebihi lebar komponen struktur pendukung (diukur pada bidang tegak lurus terhadap sumbu longitudinal komponen struktur lentur) + jarak pada tiap sisi komponen struktur pendukung yang tidak melebihi dari ¾ tinggi struktur lentur.
Jadi b = 250 mm < 700 mm → OK.
f. Persyaratan Tulangan Longitudinal
Luas tulangan atas dan bawah tidak boleh kurang dari persyaratan tulangan minimum untuk struktur lentur sesuai SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 12.5 : ▪ Asmin = x b x d
=
x 400 x 639 = 874,98 mm
▪ Asmin = x b x d = 1,4 x 639 = 894,6 mm2
Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.3.2, batas rasio tulangan yang digunakan adalah 0,025.
Jadi ρ < ρmax dan ρ < 0,025→ OK.
g. Persyaratan Tulangan Geser
Tulangan geser/sengkang yang dipasang pada sendi plastis harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
▪ Sengkang tertutup pertama harus dipasang ≤50 mm dari muka tumpuan. h.
▪ Jarak sengkang tidak boleh lebih dari= d/4
Cek : jarak sengkang tumpuan 150mm < 639/4 = 159→OK.
i.
▪ Jarak sengkang tidak boleh lebih dari 8Dutama.
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 8 x 22 = 176→OK.
j .
▪ Jarak sengkang tidak boleh lebih dari 24Dsengkang.
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 24 x 12 = 288→OK.
k.
▪ Jarak sengkang tidak melebihi 300 mm.
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 300→OK.
l.
▪ Jarak sengkang maksimum disepanjang balok adalah d/2
Cek : jarak sengkang lapangan 200 mm < 639/2 = 319mm→OK.
Desain Tulangan Balok BA
Desain Tulangan Utama Balok Tulangan utama daerah tumpuan
Digunakan tulangan ulir diameter 19 (D19)
▪ Luas tulangan bagian atas = 896 mm2
Jumlah tulangan = 896/283 = 3,16 = 4 ( digunakan tulangan atas 4D19) ▪ Luas tulangan bagian bawah = 362 mm2
Tulangan utama daerah lapangan
Luas tulangan bagian atas = 480 mm2
Jumlah tulangan = 480/283 = 1,7 = 2 ( digunakan tulangan atas 2D19)
Luas tulangan bagian bawah = 574 mm2
Jumlah tulangan = 574/283 = 2,2 = 3 ( digunakan tulangan bawah 3D19)
Desain Tulangan Geser Balok (Sengkang)
Tulangan geses daerah tumpuan Luas tulangan bagian atas = 0,562 mm2
Digunakan Sengkang 2P10 – 150 ( sengkang 2 kaki diameter 12 mm setiap jarak 150 mm)
Luas tulangan per 1 m = = = 1046 mm2
Sehingga luas tulangan per meter panjang = 1046/1000 = 1,046 mm2 Kontrol keamanan : 1,046 > 0,562………..OK (sengkang mampu menahan gaya geser)
Sehingga digunakan sengkang 2P10 – 150 Tulangan geser daerah lapangan
Luas tulangan bagian atas = 0,283 mm2
Digunakan Sengkang 2P10 – 250 ( sengkang 2 kaki diameter 10 mm setiap jarak 200 mm)
Luas tulangan per 1 m = = = 628 mm2
Sehingga luas tulangan per meter panjang = 628/1000 = 0,628 mm2
Kontrol keamanan : 0,628 > 0,283………..OK (sengkang mampu menahan gaya geser)
Sehingga digunakan sengkang 2P10 – 250
Desain Tulangan Torsi (Puntir)
Dari hasil output analisis, detail luas tulangan torsi yang ditinjau menunjukkan hasil bahwa nilai luas tulangan torsi untuk sengkang dan tulangan utama lebih kecil dibandingkan nilai luas tulangan untuk sengkang dan tulangan utama seperti yang tertera diatas. Sehingga tidak diperlukan tulangan untuk torsi. Perhitungan d = tinggi balok - selimut – Dsengkang - ½ Dtul. utama
= 600- 40- 10 - (½ x 19 ) = 540,5 mm
Kontrol Persyaratan Balok pada SRPMK
Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.3 komponen struktur lentur SRPMK harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: