PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMENUHAN HAK PEKERJA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMENUHAN HAK PEKERJA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH

DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh

Muhammad Fahrozi

Pertumbuhan Industri skala Kecil dan Menengah belakangan berkembang mewarnai perekonomian di Indonesia. Di Kota Bandar Lampung, struktur industri berdasarkan usaha masih sangat didominasi oleh industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang kemudian penyerapan tenaga kerja pada industri ini menjadi lebih besar daripada industri besar dan sedang. Pekerja/buruh merupakan bagian dari tenaga kerja yang telah melakukan kerja, dalam hubungan kerja atau dibawah perintah pemberi kerja dan atas jasanya dalam bekerja yang bersangkutan akan menerima hak-hak nya sebagai pekerja. Hal yang terpenting untuk dikaji adalah hak pekerja sektor informal, khususnya yang termasuk dalam industri kecil, telah dan dapat diakomodir di dalam hukum ketenagakerjaan di Indonesia yang berlaku saat ini. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja dan faktor-faktor apa saja yang menghambat pelaksanaan perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja industri kecil dan menengah di kota Bandar Lampung.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian yuridis normatif dan yuridis empiris dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari penelitian lapangan yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti, yakni dilakukannya wawancara, data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, kemudian data primer diperoleh melalui studi lapangan dengan cara observasi dan wawancara.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja industri kecil dan menengah di Kota Bandar Lampung belum dapat terpenuhi dikarenakan badan usaha yang belum terdaftar di Dinas Tenaga Kerja. Faktor-faktor penghambat ditimbulkan baik dari Pekerja, Pengusaha dan Pemerintah.

Saran dalam penelitian ini adalah dibentuknya suatu wadah tersendiri untuk para pekerja industri kecil dan menengah di kota Bandar Lampung, yang bertujuan untuk mendapatkan haknya sebagai pekerja, sesuai dengan hak pekerja yang tercantum dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

(2)
(3)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMENUHAN HAK PEKERJA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH

DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Skripsi

Oleh :

Muhammad Fahrozi

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

DAFTAR ISI 2.1. Pengertian Industri dan Pengelompokan Jenis Industri ... 8

2.1.1. Pengertian Industri ... 8

2.1.2. Pengelompokan Jenis Industri ... 9

2.2. Industri Kecil dan Menengah ... 11

2.3. Hukum Ketenagakerjaan ... 13

2.3.1. Pengertian Hukum Ketenagakerjaan ... 13

2.3.2 Sumber Hukum Ketenagakerjaan ... 16

2.4. Pengertian Tenaga Kerja dan Pengolongan Tenaga Kerja ... 17

2.4.1. Pengertian Tenaga Kerja ... 17

2.4.2. Penggolongan Tenaga Kerja ... 19

2.5. Hubungan Kerja ... 19

3.3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 34

3.3.1. Pengumpulan Data ... 34

3.3.2. Pengolahan Data ... 35

(5)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... ... 4.1. Gambaran Umum Penelitian ... 37

4.1.1. Dinas Tenaga Kerja ... 37 4.1.2. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian

dan Perdagangan ... 38 4.1.3. Industri Kecil dan Menengah keripik pisang Aneka Rasa ... 39

4.2. Perlindungan Hukum Terhadap Pemenuhan Hak Pekerja Industri

Kecil dan Menengah Di Kota Bandar Lampung ... 39 4.3. Faktor-faktorPenghambat dalam Perlindungan Hukum Terhadap

Pemenuhan Hak Pekerja Industri Kecil dan Menengah

Di Kota Bandar Lampung ... 47

BAB V

(6)
(7)
(8)

Moto

“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa

bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada

kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri

yang tersenyum.”

“Mahatma Gandhi”

“Tidak ada kesia

-siaan yang menguras tubuh kecuali kekhawatiran,

dan orang yang punya keyakinan pada Tuhan seharusnya merasa malu

kalau

masih mengkhawatirkan sesuatu.”

“Adolf Hitler”

“Kesombongan lebih merugikan daripada kelaparan, kehausan, dan

kedinginan”

(9)
(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung (Lampung) 10 Maret 1992 sebagai anak Pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Sahril dan Farida Zubaidah.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar Negri 5 Sukaraja, Bandar Lampung tahun 2004, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Menengah Pertama Negri 3 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2006, dan Sekolah Menengah Atas Taman Siswa T. B. Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2009.

(11)

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdullilahirobbil ‘alamin, segala puji hanya kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Muhammad Rosululloh SAW, yang telah memberikan teladan dalam setiap kehidupan, juga kepada keluarga, sahabat, dan penerus-penerus risalahnya yang mulia.

Skripsi yang berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Pemenuhan Hak Pekerja Industri Kecil Dan Menengah Di Kota Bandar Lampung” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Lampung. Banyak pihak yang telah memberikan sumbangsih, bantuan, nasihat, serta saran-saran yang membangun dalam penyelesaian slripsi ini, karena itu dengan rendah hati penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga nilainya kepada :

1. Bapak Dr. Heryandi., S.H., M.H. sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung.

(12)

3. Ibu Sri Sulastuti., S.H., M.H., sebagai Pembimbing Pertama, atas bimbingan, arahan dan nasehatnya.

4. Ibu Marlia Eka Putri AT., S.H., M.H., sebagai Pembimbing Kedua, atas bimbingan, arahan dan nasehatnya.

5. Bapak Satria Prayoga., S.H., M.H., sebagai Dosen Penguji Pertama, terimakasih atas saran, arahan dan nasehatnya.

6. Bapak Agus Triono., S.H., M.H., sebagai Dosen Penguji Kedua, terimakasih atas saran, arahan dan nasehatnya.

7. Ibu Yennie Agustin MR., S.H., M.H. sebagai Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama menjalani studi S1 di Fakultas Hukum Universitas Lampung.

8. Karyawan-karyawan di Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum, Prof Misyo, Pak Marlan, Ibu Erna dan Kyai, terima kasih atas bantuannya. 9. Kedua orang tuaku Tercinta yaitu Sopni dan Farida Zubaidah serta

saudara-saudaraku tercinta yaitu Mita Farida, Sherly Vitaloka, Ayuk Pera dan Mey yang telah memberikan kasih sayang dan do’a tak henti-hentinya, semoga ALLAH SWT selalu memberikan perlindungan dan kasih sayangnya untuk kita semua.

10.Saudara-saudaraku yang tak henti memberikanku semanangat yang tak bisa ku sebutkan satu-satu, terimakasih selama ini telah memberikan semangat dalam proses mengerjakan skripsi ini.

(13)

telah menemani hari-hari penulis selama menyelesaikan studi S1 di Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang telah diberikan dan tetap menanamkan semangat untuk berbuat baik dalam diri kita, semoga karya kecil yang masih jauh dari kesempurnaan ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Akhirnya, penulis meminta maaf jika ada kesalahan dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.

Bandar Lampung, 02 – 07 -2014 Penulis

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dan terus mengedepankan pembangunan guna meningkatkan seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang sekaligus merupakan proses pengembangan keseluruhan sistem

penyelenggaraan negara untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional.

Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan tertuang dalam pembukaan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke IV, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dilaksanakan dalam rangka pembangunan ekonomi, sumber daya manusia, sosial budaya, dan politik, untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur.1 Oleh karena itu, pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus

menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia yang maju dan demokratis berdasarkan Pancasila.

1

(15)

2

Sebagai bagian integral dari tujuan pembangunan nasional, pembangunan ketenagakerjaan sangatlah menentukan atas keberhasilan pembangunan, yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan harkat, martabat, dan harga diri tenaga kerja, serta mewujudkan masyarakat sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

Pembangunan ketenagakerjaan harus diatur sebagaimana mestinya, sehingga terpenuhi hak-hak dan perlindungan yang mendasar bagi tenaga kerja dan pekerja/buruh, serta pada saat yang bersamaan dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha. Pembangunan Ketenagakerjaan mempunyai banyak keterkaitan dimana keterkaitan tersebut tidak hanya tentang kepentingan tenaga kerja selama, sebelum, dan sesudah masa kerja tetapi juga keterkaitan dengan kepentingan pengusaha, pemerintah dan masyarakat.2

Diperlukan pengaturan yang menyeluruh dan kompherenshif, yang mencakup pengembangan sumber daya manusia, peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja, upaya perluasan kesempatan kerja, pelayanan penempatan tenaga kerja dan pembinaan hubungan industrial. Hal ini di pertegas dalam Pasal 27 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi3 : ”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang

layak bagi kemanusiaan”

2

Abdul Hakim, 2003, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, hlm. 25

3

(16)

3

Pertumbuhan Industri skala Kecil dan Menengah belakangan berkembang mewarnai perekonomian di Indonesia. Mulai dari industri makanan, kerajinan, mebel, hingga konveksi atau tekstil, dimana keberadaannya menjadi salah satu solusi dalam mengatasi pengangguran dan pemasukan bagi pendapatan daerah.

Di Kota Bandar Lampung, struktur industri berdasarkan usaha masih sangat didominasi oleh industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang kemudian penyerapan tenaga kerja pada industri ini menjadi lebih besar daripada industri besar dan sedang. Kota Bandar Lampung merupakan salah satu daerah yang sangat potensial dalam pengembangan Industri Kecil dan Menengah(IKM).

Hingga tahun 2012 berdasarkan data Dinas Koperasi, UKM, dan Perindag (Diskoperindag) Kota Bandar lampung mencatat ada 710 unit usaha kecil pada sektor industri pengolahan yang sebagian besar merupakan industri rumah tangga.

Perkembangan industri kecil ini, ditandai dengan bertambahnya jumlah unit usaha ataupun peningkatan jumlah produksi. Semakin banyak pula tenaga kerja atau pekerja/buruh yang dibutuhkan pada suatu industri ini. 4

Pekerja adalah orang yang bekerja pada orang lain dengan menerima upah. Kedudukan pekerja seringkali tidak sederajat dengan kedudukan pemberi kerja apabila dilihat dari sudut pandang sosial ekonomis. Di Kota Bandar Lampung jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada jumlah pasar kerja. Mereka kebanyakan unskill labour, sehingga posisi tawar mereka rendah. Pekerja/buruh merupakan bagian dari tenaga kerja yang telah melakukan kerja, dalam hubungan kerja atau dibawah perintah pemberi kerja dan atas jasanya dalam bekerja yang

4

(17)

4

bersangkutan akan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.5 Pekerja/buruh yang dipekerjakan dalam Industri Kecil dan Menengah(IKM) pada umumnya direkrut tanpa adanya perjanjian kerja atau kontrak kerja secara tertulis melainkan hanya perjanjian secara lisan antara pekerja/buruh dan pengusaha. Pekerja yang tidak memiliki kontrak kerja dapat dikatakan atau ditempatkan di posisi pekerja informal.

Masalah yang kemudian hadir akibat tidak adanya perjanjian kerja tertulis tersebut adalah hilangnya jaminan hak-hak dasar terhadap pekerja (buruh). Hal ini jelas telah merugikan kaum buruh dimana hak dasar mereka untuk memperoleh kesamaan dan kesempatan yang sama dalam melakukan pekerjaan, mendapatkan jaminan kesejahteraan, kesehatan, dan upah yang layak tidak dapat terjamin. Pekerjaan tanpa jaminan adalah bentuk kerja yang tidak sesuai standar hukum tenaga kerja yang berlaku. Oleh karena itu, pekerjaan tidak pasti/tanpa jaminan bertentangan dengan standar perjanjian kerja sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013, Tentang Ketenagakerjaan.

Dari pengakuan salah satu pekerja industri kecil dan menengah Keripik Pisang, Aneka Rasa di JL. Pagar Alam, sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, bapak Sutono, beliau menjelaskan bahwa selama bekerja tidak adanya perlindungan hukum yang pada dasarnya ditujukan untuk melindungi hak-haknya sebagai pekerja, Upah yang kecil, tidak adanya akses ke jaminan sosial, dan kesehatan. Hubungan kerja nya hanya perjanjian secara lisan antara pekerja dan pengusaha.6

5

Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013, tentang Ketenagakerjaan

6

(18)

5

Dibandingkan dengan pekerja yang memiliki standar perjanjian kerja formal, pekerja informal seperti buruh yang hanya melakukan pekerjaan dengan perjanjian kerja secara lisan kerap mengalami perlakuan tak menyenangkan dari perusahaan, mulai dari upah rendah, pemutusan hubungan kerja sepihak, tidak memiliki jaminan perlindungan atas pekerjaannya, dapat diberhentikan kapan saja dengan mudah tanpa tunjangan, mendapatkan upah yang lebih rendah dari upah minimum, tidak mendapatkan jaminan pemeliharaan kesehatan dan hak jaminan sosial lainnya hingga hak-hak lain yang tidak terpenuhi.

Berdasarkan dari hasil uraian di atas, dimana hak pekerja Industri Kecil dan Menengah(IKM) kerap tidak terpenuhi sehingga dari sinilah penulis tertarik untuk membuat penelitian hukum dengan judul : “Perlindungan Hukum Terhadap Pemenuhan Hak Pekerja Industri Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung”

1. 2. Rumusan Masalah

Perumusan masalah dalam suatu penelitian diperlukan untuk memfokuskan masalah agar dapat dipecahkan secara sistematis. Dalam penelitian ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1) Bagaimana perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja Industri Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung?

(19)

6

1. 3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian harus mempunyai tujuan penelitian yang jelas agar tepat mengenai sasaran yang dikehendaki. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1) Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja Industri Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung.

(2) Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja Industri Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung.

1.3.2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Bagi Perkembangan ilmu Hukum Administrasi Negara khususnya bidang hukum ketenagakerjaan mengenai perlindungan hukum terhadap pekerja Industri Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

(20)

7

timbul dimasyarakat, baik memotivasi diri sendiri maupun memotivasi orang lain.

b. Bagi Pemerintah

Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah dalam rangka meningkatkan perlindungan hukum terhadap pekerja Industri Kecil dan Menengah Kota Bandar Lampung.

c. Bagi Pekerja dan Pengusaha

Sebagai acuan nantinya dapat memberikan pemahaman yang tepat tentang kerjasama saling menguntungkan antara Pengusaha, Pekerja dan Pemerintah terkait pemberian hak pekerja pada Industri Kecil dan Menengah di Kota Bandar Lampung.

d. Bagi Masyarakat

(21)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Industri dan Pengelompokan Jenis Industri 2.1.1. Pengertian Industri

Istilah industri berasal dari bahasa latin, yaitu industria yang artinya buruh atau tenaga kerja. Istilah industri sering digunakan secara umum dan luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam rangka mencapai kesejahteraan. Definisi Industri menurut Sukirno adalah perusahaan yang menjalankan kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor sekunder. Kegiatan itu antara lain adalah pabrik tekstil, pabrik perakitan dan pabrik pembuatan rokok. Industri merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya.1

Dalam pengertian yang sempit, industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.

1

(22)

9

Secara umum pengertian industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.

Industri merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejateraan penduduk. Selain itu industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengelola bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya termasuk kegiatan rancangan bangun dan perekayasaan industri. Dari sudut pandang geografi, Industri sebagai suatu sistem, merupakan perpaduan sub sistem fisis dan sub sistem manusia.2

2.1.2. Pengelompokan Jenis Industri

Departemen Perindustrian mengelompokan industri nasional Indonesia dalam 3 kelompok besar yaitu:

1. Industri Dasar

Industri dasar meliputi kelompok industri mesin dan logam dasar (IMLD) dan kelompok industri kimia dasar (IKD). Yang termasuk dalam IMLD atara lain industri mesin pertanian, elektronika, kereta api, pesawat terbang, kendaraan bermotor, besi baja, alumunium, tembaga dan sebagainya.

2

(23)

10

Sedangkan yang termasuk IKD adalah industri pengolahan kayu dan karet alam, industri pestisida, industri pupuk, industry silikat dan sebagainya. Industri dasar mempunyai misi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membantu struktur industri dan bersifat padat modal. Teknologi yang digunakan adalah teknologi maju, teruji dan tidak padat karya namun dapat mendorong terciptanya lapangan kerja secara besar.

2. Aneka industri (AL)

Yang termasuk dalam aneka industri adalah industri yang mengolah sumber daya hutan, industri yang mengolah sumber daya pertanian secara luas dan lain-lain. Aneka industri mempunyai misi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan atau pemerataan, memperluas kesempatan kerja, tidak padat modal dan teknologi yang digunakan adalah teknologi menengah atau teknologi maju.

3. Industri Kecil

Industri kecil meliputi industri pangan (makanan, minuman dan tembakau), industri sandang dan kulit (tekstil, pakaian jadi serta barang dari kulit), industri kimia dan bahan bangunan (industri kertas, percetakan, penebitan, barang-barang karet dan plastik), industri kerajinan umum (industri kayu, rotan, bambu dan barang galian bukan logam) dan industri logam (mesin, listrik, alat-alat ilmu pengetahuan, barang dan logam dan sebagainya). Industri di Indonesia dapat digolongkan kedalam beberapa macam kelompok. Industri didasarkan pada banyaknya tenaga kerja dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu:

(24)

11

2. Industri sedang, memiliki jumlah tenaga kerja antara 20–99 orang, 3. Industri kecil, memiliki jumlah tenaga kerja antara 5–19 orang,

4. Industri rumah tangga, memiliki jumlah tenaga kerja antara 1–4 orang.

2. 2 Industri Kecil dan Menengah

IKM atau Industri Kecil dan Menengah adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usah kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha serta usahanya berdiri sendiri.

Menurut Keputusan Presiden RI No. 99 Tahun 1998 maka pengertian usaha kecil

adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.

Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:

1) Mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- ( Dua Ratus Juta Rupiah ) dimana tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. 2) Mempunyai hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,-

(Satu Miliar Rupiah).

3) Dimiliki Warga Negara Indonesia.

4) Dimiliki / Berdiri sendiri, bukan merupakan bagian anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar lainnya.

(25)

12

Industri Kecil dan Menengah disingkat IKM merupakan bagian dari usaha rumah tangga yang dikelola secara sederhana, dan masih terbatas dalam pengelolaannya. Karyawannya merupakan keluarga dan melibatkan saudara-saudara serta tetangganya, manajemennya masih diatur oleh salah seorang anggota keluarganya.3

Industri Kecil merupakan jenis usaha informal, yang bukan termasuk badan hukum. Pendirian badan usaha ini tidak memerlukan izin dan tata cara tententu serta bebas membuat bisnis personal/pribadi tanpa adanya batasan untuk mendirikannya. Pada umumnya bermodal kecil, jenis serta jumlah produksinya terbatas, memiliki tenaga kerja/buruh yang sedikit dan masih menggunakan alat produksi teknologi yang sederhana.

Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kriteria usaha kecil dan menengah dijelaskan bahwa usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil. Sedangkan pengertian dari usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak

3

(26)

13

perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung sebagaimana diatur dalam undang-undang. Dari klasifikasi di atas, usaha kecil dan menengah tergolong ke dalam badan usaha yang tidak berbadan hukum dan perusahaan perseorangan, dan karena jenis usahanya tergolong informal, maka pekerjanya pun disebut sebagai pekerja informal. Definisi buruh sektor informal ialah segala jenis pekerjaan di luar perlindungan negara dan atas usaha tersebut tidak dikenakan pajak.

Definisi lain, menyatakan pekerja industri rumahan ialah segala jenis pekerjaan yang tidak menghasilkan pendapatan yang tetap dan tiadanya keamanan kerja (job security) atau tidak ada status permanen atas pekerjaan tersebut. Intinya, buruh informal ialah yang bekerja di unit usaha atau lembaga yang tak berbadan hukum.4

2. 3. Hukum Ketenagakerjaan

2.3.1. Pengertian Hukum Ketenagakerjaan

Hukum ketenagakerjaan adalah sekumpulan peraturan yang mengatur hubungan hukum antara pekerja dengan majikan atau pengusaha dan pemerintah, termasuk di dalamnya adalah proses-proses dan keputusan-keputusan yang dikeluarkan untuk merealisasikan hubungan tersebut menjadi kenyataan. Dari rumusan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa hukum ketenagakerjaan itu adalah suatu himpunan peraturan yang mengatur hubungan hukum antara pekerja,

majikan/pengusaha, organisasi pekerja, organisasi pengusaha, dan pemerintah.5

4

http://panimbang.blogspot.com/buruh-sektor-informal, diunduh pada 10 September 2013

5

(27)

14

Definisi hukum perburuhan menurut pendapat para ahli hukum dapat dirumuskan sebagai berikut:6

1. Menurut Molenaar, hukum perburuhan adalah bagian hukum yang berlaku, yang pokoknya mengatur hubungan antara tenaga kerja dan pengusaha, antara tenaga kerja dan tenaga kerja.

2. Menurut Mok, hukum perburuhan adalah hukum yang berkenaan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh swapekerja yang melakukan pekerjaan atau tanggung jawab dan risiko sendiri.

3. Menurut Soetikno, hukum perburuhan adalah keseluruhan peraturan hukum mengenai hubungan kerja yang mengakibatkan seseorang secara pribadi ditempatkan di bawah perintah/pimpinan orang lain dan mengenai keadaan-keadaan penghidupan yang langsung bersangkut paut dengan hubungan kerja tersebut.

4. Menurut Imam Soepomo, hukum perburuhan adalah himpunan peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang berkenaan dengan kejadian saat seseorang bekerja pada orang lain dengan menerima upah.

5. Menurut M.G. Levenbach, hukum perburuhan adalah hukum yang berkenaan dengan hubungan kerja, yakni pekerja di bawah pimpinan dan dengan keadaan penghidupan yang langsung bersangkut-paut dengan hubungan kerja itu.

6. Menurut N.E.H. Van Esveld, hukum perburuhan adalah tidak hanya meliputi hubungan kerja dengan pekerjaan dilakukan di bawah pimpinan,

6

(28)

15

tetapi juga meliputi pekerjaan yang dilakukan oleh swapekerja atas tanggung jawab dan risiko sendiri.

7. Menurut Halim, hukum perburuhan adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan kerja yang harus diindahkan oleh semua pihak, baik pihak buruh/pekerja maupun pihak majikan.

8. Menurut Daliyo, hukum perburuhan adalah himpunan peraturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang mengatur hubungan kerja antara buruh dan majikan dengan mendapat upah sebagai balas jasa.

9. Menurut Syahrani, hukum perburuhan adalah keseluruhan peraturan hukum yang mengatur hubungan-hubungan perburuhan, yaitu hubungan antara buruh dan majikan dengan perintah (penguasa).

Hukum ketenagakerjaan memiliki unsur-unsur sebagai berikut:7

1. Serangkaian peraturan yang berbentuk tertulis dan tidak tertulis.

2. Mengatur tentang kejadian hubungan kerja antara pekerja dan pengusaha/majikan.

3. Adanya orang pekerja pada dan di bawah orang lain, dengan mendapatkan upah sebagai balas jasa.

4. Mengatur perlindungan pekerja/buruh, meliputi masalah sakit, haid, hamil, melahirkan, keberadaan organisasi pekerja/buruh dan sebagainya.

7

(29)

16

2.3.2. Sumber Hukum Ketenagakerjaan A. Undang-Undang

Undang-Undang dan Peraturan lain yang dipergunakan sebagai pedoman dalam hukum tenaga kerja yaitu sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

2. Undang-Undang Nomor. 21 Tahun 2003 Tentang Pengawasan Ketenagakerjaan Dalam Industri dan Perdagangan

3. Undang-Undang Nomor. 02 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

4. Undang-Undang Nomor. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional

5. Undang-Undang Nomor. 21 Tahun 1999 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 111 concerning Discrimination in Repect of Employment and Occupation (Konvensi ILO Mengenai Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan)

6. Undang-Undang Nomor. 19 TAHUN 1999 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 105 Concerning The Abolition Of Forced Labour (Konvensi ILO Mengenai Penghapusan Kerja Paksa)

7. Undang-Undang Nomor. 03 Tahun 1992 : Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

8. Undang-Undang Nomor. 01 Tahun 1970 : Tentang Keselamatan Kerja.

B. Peraturan Lain.

(30)

17

C. Kebiasaan.

Kebiasaan dalam hal ini adalah kebiasaan yang terjadi antara pekerja dan pemberi kerja yang dilakukan berulang-ulang dan diterima masyarakat (para pihak baik pekerja maupun pemberi kerja), Contoh : Perkerutan Pegawai tanpa pelatihan terstruktur (industri kecil dan menengah)

D. Yurisprudensi / Putusan

Semenjak diberlakukannya Undang-Undang No. 02 Tahun 2004. : Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial maka putusan Pengadilan Hubungan Industrial yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht) akan menjadi dasar hukum bagi hakim untuk memutus perkara serupa.

E. Traktat/Perjanjian

Kaitannya dengan masalah perburuhan, perjanjian yang merupakan sumber hukum tenaga kerja ialah perjanjian kerja. perjanjian kerja mempunyai sifat kekuatan hukum mengikat dan berlaku seperti undang-undang pada pihak yang membuatnya.8

2.4. Pengertian Tenaga Kerja dan Penggolongan Tenaga Kerja 2.4.1 Pengertian Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut Undang-Undang Nomor. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi

8

(31)

18

kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia tenaga kerja adalah orang yang bekerja atau mengerjakan sesuatu, orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.

Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun. Tenaga kerja merupakan istilah yang identik dengan istilah personalia, di dalamnya meliputi buruh. Buruh yang dimaksud adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian.9

Pengertian tenaga kerja dalam penelitian ini adalah mereka yang bekerja pada suatu perusahaan yang didalam maupun diluar hubungan kerja untuk menghasilkan barang maupun jasa. Tenaga kerja di Indonesia menghadapi permasalahan dalam hal produktifitasnya yang rendah. Hal ini terjadi akibat jumlah orang yang mencari pekerjaan atau yang menganggur semakin besar. Keadaan tersebut membawa konsekuensi terhadap usaha penyediaan lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja baru. Dengan adanya permasalahan mengenai ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, maka perlu upaya peningkatan mutu tenaga kerja, dan meningkatkan sumberdaya manusia yang baik akan menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan mempunyai

9

(32)

19

produktifitas yang tinggi. Akibatnya tenaga kerja akan mudah dalam mencari kerja, atau mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

2.4.2. Penggolongan Tenaga Kerja

Dari segi keahlian dan pendidikannya tenaga kerja dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :

1. Tenaga kerja kasar yaitu tenaga kerja yang berpendidikan rendah dan tidak mempunyai keahlian dalam suatu bidang pekerjaan.

2. Tenaga kerja terampil yaitu tenaga kerja yang mempunyai keahlian dan pendidikan atau pengalaman kerja seperti montir mobil, tukang kayu, dan tukang memperbaiki televisi dan radio.

3. Tenaga kerja terdidik yaitu tenaga kerja yang mempunyai pendidikan yang tinggi dan ahli dalam bidang-bidang tertentu seperti dokter, akuntan ahli ekonomi, dan insinyur.

2. 5. Hubungan Kerja

Hubungan kerja adalah hubungan antara pekerja dengan pengusaha yang terjadi setelah adanya perjanjian kerja. Dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.10

Dalam Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak.

10

(33)

20

Perjanjian kerja yang menimbulkan hubungan kerja mempunyai unsur-unsur, yaitu :

1. Pekerjaan

Dalam suatu perjanjian kerja harus ada pekerjaan yang diperjanjikan (obyek perjanjian), pekerjaan tersebut haruslah dilakukan sendiri oleh pekerja, hanya dengan seizin majikan, pekerja tersebut dapat menyuruh orang lain. Sifat pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja itu sangat pribadi karena bersangkutan dengan keterampilan/keahliannya, maka menurut hukum jika pekerja meninggal dunia, perjanjian kerja tersebut putus demi hukum.

2. Upah

Upah memegang peranan penting dalam perjanjian kerja, bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan utama seorang pekerja bekerja pada pengusaha adalah untuk memperoleh upah. Sehingga jika tidak ada unsur upah, maka suatu hubungan tersebut bukan merupakan hubungan kerja.

3. Perintah

Manifestasi dari pekerjaan yang diberikan kepada pekerja oleh pengusaha adalah pekerja yang bersangkutan harus tunduk pada perintah pengusaha untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diperjanjikan.

Selanjutnya berdasarkan Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan, syarat sahnya perjanjian kerja adalah:

1. Kesepakatan kedua belah pihak

(34)

21

pekerjaan yang ditawarkan, dan pihak pengusaha menerima pekerjaan tersebut untuk dipekerjakan.

2. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum

Maksudnya pihak pekerja maupun pihak pengusaha cakap membuat perjanjian, yaitu telah cukup umur (minimal 18 tahun), dan tidak terganggu jiwanya.

3. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan

Merupakan obyek dari perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha, yang akibat hukumnya melahirkan hak dan kewajiban para pihak.

4. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.6. Perlindungan Hukum Pekerja

Perlindungan pekerja dan buruh menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan meliputi:

Perlindungan hukum menurut Philipus, selalu berkaitan dengan kekuasaan. Ada dua kekuasaan yang selalu menjadi perhatian yakni kekuasaan pemerintah dan kekuasaan ekonomi. Dalam hubungan kekuasaan pemerintah, permasalahan perlindungan hukum bagi rakyat (yang diperintah), terhadap pemerintah (yang memerintah). Dalam hubungan dengan kekuasaan ekonomi, permasalahan perlindungan hukum adalah perlindungan bagi si lemah (ekonomi) terhadap si kuat (ekonomi), misalnya perlindungan bagi pekerja terhadap pengusaha.11

11

(35)

22

Perlindungan hukum bagi pekerja sangat diperlukan mengingat kedudukannya yang lemah. Disebutkan oleh Zainal Asikin, yaitu : perlindungan hukum dari kekuasaan majikan terlaksana apabila peraturan perundang-undangan dalam bidang peburuhan yang mengharuskan atau memaksa majikan bertindak seperti dalam perundang-undangan tersebut benar-benar dilaksanakan semua pihak karena keberlakuan hukum tidak dapat diukur secara yurdis saja.12

1. Perlindungan Pengupahan

Sesungguhnya upah dibayarkan berdasarkan kesepakatan para pihak, yakni pekerja/buruh dan pengusaha, namun untuk melindungi pekerja dari pengupahan yang terlampau rendah dan tidak sesuai dengan kualitas pekerjaan serta kuantitas lamanya jam kerja dan/atau jumlah hari kerja, maka pemerintah menetapkan standar upah terendah melalui suatu perundang-undangan, inilah yang kemudian disebut dengan upah minimum.13

Untuk merealisasikan bunyi Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi:

”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak

bagi kemanusiaan”, maka pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan

untuk melindungi pekerja/buruh, yang meliputi: a) Upah minimum;

b) Upah kerja lembur;

c) Upah tidak masuk kerja karena berhalangan;

(36)

23

e) Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya; f) Bentuk dan cara pembayaran upah;

g) Denda dan potongan upah;

h) Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah; i) Struktur dan skala pengupahan yang proporsional; j) Upah untuk pembayaran pesangon; dan

k) Upah untuk peritungan pajak penghasilan.

Pemerintah menetapkan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Upah minimum dapat terdiri atas upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota; upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota.

(37)

24

kewajiban pekerja/buruh tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, warna kulit, dan aliran politik. 14

Dalam buku Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, Zainal Asikin menjelaskan bahwa perlindungan tenaga kerja dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu :

1. Perlindungan secara ekonomis, yaitu perlindungan pekerja dalam bentuk penghasilan yang cukup, termasuk bila tenaga kerja tidak bekerja diluar kehendaknya.

2. Perlindungan sosial, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja, dan kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi.

3. Perlindungan teknis, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan.15

Selain perlindungan tenaga kerja di atas, terdapat perlindungan lain terhadap pekerja yaitu:

1. Norma Keselamatan Kerja, meliputi keselamatan kerja yang bertalian dengan mesin, alat-alat kerja bahan dan proses pengerjaan, keadaan tempat kerja, lingkungan serta cara melakukan pekerjaan.

2. Norma kesehatan kerja dan higiene kesehatan perusahaan, yang meliputi pemeliharaan dan peningkatan keselamatan pekerja,

14

Abdul Hakim, 2003, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, hlm.60

15

(38)

25

penyediaan perawatan medis bagi pekerja, dan penetapan standar kesehatan kerja.

3. Norma kerja, berupa perlindungan hak tenaga kerja secara umum baik sistem pengupahan, cuti, kesusilaan, dan religius dalam rangka memelihara kinerja pekerja.

4. Norma kecelakaan kerja, berupa pemberian ganti rugi perawatan atau rehabilitasi akibat kecelakaan kerja dan/atau menderita penyakit akibat pekerjaan, dalam hal ini ahli waris berhak untuk menerima ganti rugi. 2. Perlindungan Jam Kerja.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja (Pasal 77 ayat 1). Waktu kerja yang dimaksud meliputi yang pertama adalah 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. Atau 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh. Tercantum pada Pasal 79 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan:

1. Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus-menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja;

(39)

26

3. Cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/ buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus-menerus; dan

4. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/ buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/ buruh tersebut berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun.

3. Perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dalam Pasal 86 ayat 1 Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas: Keselamatan dan kesehatan kerja; Moral dan kesusilaan; dan Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.

Tujuan diselenggarakannya K3 adalah untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. Ditinjau dari segi keilmuan, K3 diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja. K3 harus diterapkan dan dilaksanakan di setiap tempat kerja/perusahaan. Tempat kerja adalah setiap tempat yang di dalamnya terdapat 3 (tiga) unsur, yaitu:

(40)

27

3. Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus-menerus maupun sewaktu-waktu.

Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Ada 3 (tiga) hal di sini, yaitu:

1. Tindakan membahayakan (unsafe practices/actions)

Tindakan yang membahayakan adalah tindakan yang menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan/bekerja bukan pada kewenangannya, gagal menciptakan keadaan yang baik sehingga menjadi tidak aman atau memanas menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kecepatan geraknya, pengrusakan alat pengaman peralatan yang digunakan, bekerja berlebihan/melebihi jam kerja di tempat kerja, mengangkat/mengangkut beban yang berlebihan, menggunakan tenaga berlebihan/tenaganya, peminum/pemabuk/mengkonsumsi narkoba.

2. Kondisi yang membahayakan (unsafe conditions)

Adapun yang dimaksud dengan kondisi yang membahayakan adalah kondisi yang:

a. Dalam keadaan pengamanan yang berlebihan b. Alat dari peralatan yang sudah tidak layak c. Terjadi kemacetan (congestion)

d. Sistem peringatan yang berlebihan (inadequate warning system) e. ada api dan di tempat yang berbahaya; alat penjaga/pengaman

(41)

28

f. kondisi suhu (atmosfir) yang membahayakan g. terpapar gas, fumes, bising, radiasi

h. Pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau pun berlebihan. 3. Upaya-upaya pengendalian K3

Adapun suatu bentuk upaya pengendalian K3 antara lain: substitusi bahan kimia yang berbahaya, proses isolasi, pemasangan lokal exhauster, ventilasi umum, pemakaian APD, ketatarumahtanggaan perusahaan, pengadaan fasilitas saniter, pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan berkala, penyelenggaraan latihan/penyuluhan kepada semua karyawan dan pengusaha, dan kontrol administrasi.

4. Perlindungan Kesejahteraan

Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia.16

Program Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang, akibat risiko sosial. Kebutuhan Jamsostek sudah merupakan hak asasi manusia yang wajib dipenuhi oleh pihak perusahaan atau instansi

16

(42)

29

kepada tiap-tiap tenaga kerjanya. Kebijakan tentang jamsostek tersebut sesuai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia serta menciptakan Indonesia yang adil dan demokratis.17

5. Perlindungan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Undang-Undang Ketenagakerjaan memberikan pengertian PHK adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara buruh/pekerja dengan pengusaha. Mengenai PHK sekarang diatur dalam Bab XII Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ketentuan PHK ini berlaku bagi :

1. Badan usaha yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum milik orang perseorangan, milik persekutuan, milik badan hukum, baik yang milik swasta maupun milik negara.

2. Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan mendapat upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Jenis-jenis PHK antara lain:18

1. PHK oleh majikan/pengusaha

Berdasarkan Pasal 158 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan, pengusaha dapat memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dengan alasan pekerja/buruh telah melakukan kesalahan berat sebagai berikut:

a. Melakukan penipuan, pencurian, atau penggelapan barang dan/atau uang milik perusahaan;

17

F.X. Djumialdji, Op.Cit.. hlm 145.

18

(43)

30

b. Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan;

c. Mabuk, meminum minuman keras yang memabukkan, memakai dan/atau mengedarkan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di lingkungan kerja;

d. Melakukan perbuatan asusila atau perjudian di lingkungan kerja; e. Menyerang, menganiaya, mengancam, atau mengintimidasi teman

sekerja atau pengusaha di lingkungan kerja;

f. Membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;

g. Dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan bahaya barang milik perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan;

h. Dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau pengusaha dalam keadaan bahaya di tempat kerja;

i. Membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dirahasiakan kecuali untuk kepentingan negara; atau j. Melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang

diancam pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. 2. PHK oleh Pekerja/Buruh

(44)

31

menghendakinya. Dengan demikian, PHK oleh buruh ini yang aktif untuk meminta di-PHK adalah dari buruh/pekerja itu sendiri. Menurut Pasal 169 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, pekerja/buruh dapat mengajukan permohonan pemutusan hubungan kerja kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial dalam hal pengusaha melakukan perbuatan sebagai berikut:

1. menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam pekerja/buruh;

2. membujuk dan/atau menyuruh pekerja/buruh untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;

3. tidak membayar upah tepat pada waktu yang telah ditentukan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih;

4. tidak melakukan kewajiban yang telah dijanjikan kepada pekerja/buruh;

5. memerintahkan pekerja/buruh untuk melaksanakan pekerjaan di luar yang diperjanjikan; atau

6. memberikan pekerjaan yang membahayakan jiwa, keselamatan, kesehatan, dan kesusilaan pekerja/buruh sedangkan pekerjaan tersebut tidak dicantumkan pada perjanjian kerja.

3. Hubungan Kerja Putus Demi Hukum

(45)

32

1. Pekerja/buruh masih dalam masa percobaan kerja, bilamana telah dipersyaratkan secara tertulis sebelumnya.

2. Pekerja/buruh mengajukan permintaan pengunduran diri, secara tertulis atas kemauan sendiri tanpa ada indikasi adanya tekanan/intimidasi dari pengusaha, berakhirnya hubungan kerja sesuai dengan perjanjian kerja waktu tertentu untuk pertama kali. 3. Pekerja/buruh mencapai usia pensiun sesuai dengan ketetapan

dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau peraturan perundang-undangan. atau

4. Pekerja/buruh meninggal dunia. 4. PHK oleh Pengadilan

(46)

33

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Masalah

Proses pengumpulan dan penyajian sehubungan dengan penelitian ini maka digunakan pendekatan secara yuridis normatif dan yuridis empiris. Pendekatan Yuridis Normatif adalah suatu pendekatan yang dilakukan dimana pengumpulan dan penyajian data dilakukan dengan mempelajari dan menelaah konsep-konsep dan teori-teori serta peraturan-peraturan secara kepustakaan yang berkaitan dengan pokok bahasan penulisan skripsi ini. Pendekatan yuridis empiris dilakukan untuk mempelajari hukum dalam kenyataan yang ada mengenai pokok bahasan.

3.2. Sumber dan Jenis Data

(47)

34

Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari bahan literatur kepustakaan dengan melakukan studi dokumen, arsip yang bersifat teoritis, konsep-konsep, doktrin dan asas-asas hukum yang berkaitan dengan pokok cara membaca, mengutip dan menelaah peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan permasalahan yang akan di bahas, yang terdiri antara lain:

1. Bahan Hukum Primer

a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. c) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Hubungan

Industrial.

d) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2013 Tentang Upah Minimum. e) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan

Sosial Nasional. 2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan bahan hukum primer dalam hal ini teori-teori yang dukemukakan para ahli dan peraturan-peraturan pelaksana dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Kepres, Perda, dan Putusan hakim.

3. Bahan Hukum Tersier

(48)

35

3.3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data 3.3.1.Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan, dengan studi pustaka dan studi literatur.

a) Studi Pustaka

Studi kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari undang-undang, peraturan pemerintah dan literatur hukum yang berkaitan dengan kekuatan pembuktian keterangan saksi. Hal ini dilakukan dengan cara membaca, mengutip dan mengidentifikasi data yang sesuai dengan pokok bahasan dan ruang lingkup penelitian ini.

b) Studi Lapangan

Studi lapangan dilakukan melalui wawancara dengan informan yang telah direncanakan sebelumnya. Wawancara (Interview) yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara (Interview) secara langsung dengan alat bantu daftar pertanyaan yang bersifat terbuka, terhadap informan/narasumber yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Narasumber yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah :

1. Bapak Paika S.E. M.M. selaku Kadiskoperindag Bandar Lampung, 2. Bapak Dermawan Setiyabudi selaku Kepala Seksi Hubungan

(49)

36

3. Bapak Rudolf MA, S.H. selaku Kepala Bidang Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, dan

4. Bapak Sutono selaku pekerja/buruh Industri Kecil dan Menengah, Keripik Pisang, Aneka Rasa di Jalan Pagar Alam, Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung.

3.3.2. Pengolahan Data

Tahapan pengolahan data dalam penelitian ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a) Identifikasi data, yaitu mencari data yang diperoleh untuk disesuaikan dengan pembahasan yang akan dilakukan dengan menelaah peraturan, buku atau artikel yang berkaitan dengan judul dan permasalahan.

b) Klasifikasi data, yaitu hasil identifikasi data yang selanjutnya diklasifikasi atau dikelompokkan sehingga diperoleh data yang benar-benar objektif. c) Penyusunan data, yaitu menyusun data menurut sistematika yang telah

ditetapkan dalam penelitian sehingga memudahkan peneliti dalam menginterprestasikan data.

3.4. Analisis Data

(50)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan :

1. Perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja industri kecil dan menengah di Kota Bandar Lampung belum dapat terpenuhi dikarenakan badan usaha yang belum terdaftar di Dinas tenaga kerja.

2. Faktor penghambat perlindungan hukum terhadap pemenuhan hak pekerja industri kecil dan menengah di Kota Bandar Lampung ditimbulkan baik dari pekerja, pengusaha/majikan, dan pemerintah.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan peneliti pada penelitian ini adalah:

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku

Asikin, Zainal, 2002, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Asyhadie, Zaeni. 2007. Hukum Kerja, Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Djumialdji, F.X., 2010. Perjanjian Kerja Edisi Revisi. Sinar Grafika. Jakarta. Hakim Abdul, 2003, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT. Citra

Aditya Bakti, Bandung.

Husni, Lalu, 2007. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Karta Sapoetra, G, dkk. 1994. Hukum Perburuhan Indonesia Berlandaskan Pancasila. Catakan IV. Jakarta: Sinar Grafika.

Kusumohamidjojo, Budiono, 1999, ketertiban yang adil, problematika filsafat hukum, Grasindo, Jakarta

Maimun, 2007. Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar. Jakarta: PT.Pradnya Paramitha

Mahmud Marzuiki, Peter, 2005, penelitian hukum, Prenada Media, Jakarta Marbun, Rocky, 2010, Jangan Mau di PHK Begitu Saja, Visimedia, Jakarta. Philipus Hadjon, 1994, Perlindungan hukum dalam negara hukum Pancasila,

(52)

Prints, Darwan, 2000, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Santoso, Gempur, 2004. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, Ghalia Indonesia, Bogor.

Stephen Smith, Todaro P. Michael. 2006. Pembangunan Ekonomi. Munandar, dkk, penerjemah. Jakarta: PT Erlangga

Soepomo Imam, 1987, Pengantar Hukum Perburuhan, Penerbit Djambatan, Jakarta.

Sumaryono Eugenius, filsafat hukum; sebuah pengantar singkat, Universitas Atmajaya, Yogyakarta,1989

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Nomor. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.

Undang-Undang Nomor. 03 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003 Tentang Pengawasan Ketenagakerjaan Dalam Industri dan Perdagangan.

(53)

Sumber Lain

http://www.lampung-news.com/article/BandarLampung diunduh pada 31 Oktober 2013

http://altanwir.word diunduh pada 10 September 2013

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...