PENGAMATAN SIFAT-SIFAT AGRONOMI DARI MUTAN PADI PENDEK

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGAMATAN

SIFAT-SIFAT

AGRONOMI

DARI MUTAN PADI

PENDEK

A.M. Riyanti Sumanggono*

ABSTRAK - ABSTRACT

PENGAMATAN SIFAT-SIFAT AGRONOMI DARI MUTAN PADl PENDEK. Te1ah dilakukan pengamatan sifat-sifat agronomi dari 35 nomer mutan padi pendek dan pola ruas batangnya. Pengamatan tinggi tanaman menunjukkan hampir semua mutan mempunyai tinggi tanaman yang lebih rendah bila dibandingkan dengan induknya Pe1ita III (PIll), perkecualian terdapat pada 5 mutan yang tingginya hampir sarna dengan induknya. Panjang malai dan berat 1000 butir mutan pada umumnya sama dengan induknya. Beberapa mutan memiliki jumlah anakan produktif lebih sedikit bila dibandingkan dengan induknya. Pada umumnya mutan , pendek mempunyai 4 ruas batang, sedang induknya mempunyai 5 mas batang. Berdasarkan persentase panjang mas batang, mutan padi pendek tersebut dapat digolongkan menjadi 4 tipe. Tipe pertama, yaitu mutan yang mempunyai 5 mas batang seperti pada induknya. Tipe kedua, yaitu mutan yang mempunyai 4 ruas batang, di mana penambahan persentase panjang ruas batang hanya terjadi pada ruas yang pertama saja. Tipe ketiga, yaitu mutan yang mempunyai 4 ruas batang yang penambahan persentase panjang ruas batang terjadi pada mas pertama dan kedua. Tipe keempat, yaitu mutan yang mempunyai 4 ruas batang, di mana penambahan persentase panjang ruas batang terjadi pada ruas yang pertama dan terakhir.

OBSERVATION ON TIlE AGRONOMIC CHARACTERS OFSOME SEMI-DWARF RICE MUTANTS. Agronomic characters of 35 semi-dwarf rice mutants and internode elongation 'pattern were investigated. Most of semi-dwarf rice mutants showed decreasing in culm length compared to the tall parent Pe1ita III (PIll). Exceptions were found in 5 mutants which have culm length as high as PIll. The panicle length and 1000 grain weight of the mutants are the same compared to those of the parent. Five mutants have lower number of productive tillers compared to that of PIll. Most of the mutants ruive 4 internodes, whereas, the parent has 5 internodes. Based on the percentage contributions of the internode length, the mutants were classified into 4 types. The first type is mutant which has 5 internodes as the parent has. The second type is mutant which has 4 internodes, increasing of the percentage of internode length occured only in the first internode. The third type is mutant which has 4 internodes, increasing of the percentage of internode length occured in the first and second internodes. The fourth type is mutant which has 4 internodes, increasing of the percentage of internode length occured in the first and the last internodes.

PENDAHULUAN

Di Indonesia padi pendek mulai ditanam sejak kira-kira 20 tahun yang lalu, yaitu sejak diperkenalkannya miracle rice. Sejak saat itu penggunaan atau penanam-an padi pendek mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, baik untuk tujuan komersial maupun sebagai tetua dalam persilangan-persilangan. Padi yang pendek sangat bermanfaat untuk pemuliaan tanaman karena sering kali juga memiliki sifat tahan rebah dan daya adaptasi yang baik terhadap pemupukan berat (1). Bahkan menurut laporan dari IRRl (2), pada tahun 1974/1975 penggunaan padi pendek

(2)

sebagai tetua dalam persilangan telah meneapai 80 %dari semua persilangan yang dilakukan di lima benua.

Padi pendek selain dapat dihasilkan dengan eara persllangan juga dapat dlhasil-kan dengan penggunaan mutagen, baik f1sikal maupun kemikal (3). Pada saat ini, beberapa padi pendek yang sangat berguna bagi pemuliaan tanaman telah dihasilkan dengan eara pemuliaan mutasi (3,4,5).

Di Pusat Aplikasi Isotop Dan Radiasi, pemuliaan mutasi pada paw telah dimulai sejak tahun 1972 dengan menggunakan sinar gamma. Pada waktu itu sebagai materi percobaan digunakan varietas Pelita 1/1 yang merupakan padi unggul saat itu. Tujuan semula adalah untuk mendapatkan mutan padi yang lebih genjah dibanding-kan dengan in duknya. Dari kegiatan tersebut telah dihasildibanding-kan kira-kira 40 mutan pendek. Mutan tersebut digunakan sebagai materi pereobaan dalam penelitian ini.

Pad a tulisan ini akan dilaporkan hasil pengamatan sifat-sifat agronomi dan pola ruas batang dari mutan tersebut.

BAHAN DAN METODE

Tiga puluh lima mutan padi pendek telah digunakan sebagai materi pereobaan. Mutan-mutan tersebut ditanam dalam plot ukuran 1,0 x 5,0 m dengan jarak tanam 40 em x 25 em, dan satu tanaman tiap lubang. Pereobaan dilaksanakan dengan raneangan aeak berblok dengan 3 ulangan. Tanaman wpupuk dengan N dan P berturut-turut dengan taka ran 92 dan 20,44 kg unsur per hektar.

Pengamatan sifat-sifat agronomi yang dilakukan meliputi : tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, dan bobot 1000 butir. Pengamatan pola mas batang dilakukan ialahjumlahdan panjang ruas batang. Diamati pula persentase panjang masing-masing ruas terhadap tinggi keseluruhan dari masing-masing tanaman. Berbagai pengamatan tersebut di atas dilakukan sampling pada 10 tanaman dari setiap plot. Pengamatan pola ruas batang hanya dilakukan pada 26 mutan padi pendek.

HASIL DAN DISKUSI

Oari basil pengamatan sifat-sifat agronomi (Tabel 1) tampak bahwa pada umumnya mutan tersebut mempunyai tinggi tanaman yang lebih pendek bila diban-dingkan dengan induknya Pelita 1/1. Perkecualian tampak pada mutan No. 627/1/a, A227/2/6, A366/1 dan 713/0-2. Pada umumnya mutan mempunyaijumlah anak-an produktif sarna dengan induknya, hanya ada 5 mutan yang jumlah anakan produktifnya lebih rendah sedikit dari PI/I tetapi mutan No. 713/0-3 memiliki anakan produktif 1ebih banyak dari PI/I. Pada umumnya mutan tersebut mempu-nyai panjang malai dan bobot 1000 butir yang sarna dengan induknya. Perkeeualian tampak pada mutan No. 713/0-2 yang mempunyai panjang malai lebih pendek bila dibandingkan dengan induknya. Sedang grup mutan No. A366 mempunyai gabah yang lebih besar dari PIll tetapi mutan No. A227/1/1 dan A349/1 mempu-nyai gabah yang lebih keeil bila dibandingkan dengan PI/I.

(3)

Pada pengamatan terhadap pola ruas batang (Gambar I) tampak bahwa kebanyakan mutan mempunyai mas batang yang lebih sedikit jumlahnya bila dibandingkan den~n induknya. Hal ini sesuai den~n pendapat beberapa ahli yang disitir oleh OKUNO (6) dan KlrANO (7) yang mengatakan bahwa terdapat peru-bahan pola ruas batang dari mutan pendek bila dibandingkan dengan induknya yang tinggi. Perubahan terse but adalah berupa pengurangan jumlah ruas batang atau penguran~n panjang semua ruasnya. Pada mutan pendek yang agak tinggi tidak tampak adanya pengurangan jumlah ruas batang, hal ini tampak pada mutan No. A227/I/a, A227/2/6, A366/1, 627/C dan 713/D-2. Pada umumnya mUtan mempunyai 4 mas batang, sedanglcin mutan terse but di atas mempunyai 5 ruas batang seperti induknya. Pengurangan jumlah ruas batang biasanya disertai dengan kenaikan persentase panjang dari masing-masing mas batang.

Berdasarkan kenaikan persentase panjang ruas batang, mutan-mutan pendek tersebut dapat digolongkan menjadi 4 tipe, yaitu :

- ripe 1 : Mutan pendek yang mempunyai 5 ruas batang seperti induknya (PI/I), yaitu mutan No. A227/I/a, A227/2/6, A366/1, 627/C dan 713/0-2.

- ripe 2: Mutan pendek yang mempunyai 4 ruas batang, kenaikan persentase panjang mas batang terjadi pada mas yang pertama saja. Sedang ruas-ruas yang lain tetap. ripe ini misalnya terdapat pada mutan No. A227/1/b, A227/1/3, A227/2/11, A227/3, B15 dan A23. - ripe 3: Mutan pendek yang mempunyai 4 mas batang, kenaikan persentase

panjang mas batang terjadi pada ruas pertama dan kedua. ripe ini misalnya terdapat pada mutan No. A227/1/1, A227/1/5, A227/4, A227/5, A227/8, A329/1, A349/1, A365/1-3, A366/4/1, 16-86, 163-12/-/402,713/0-3 dan A366/4/2.

- ripe 4: Mutan yang mempunyai 4 ruas batang, kenaikan persentase mas batang terjadi pada ruas yang pertama dan terakhir. ripe ini terdapat pada mutan No. A227/1/2 dan A366/2.

Dari pengarnatan pola ruas batang tampak bahwa pada mutan yang agak tinggi tidak terjadi pengurangan jumlah ruas batang.

KESIMPULAN

Dari pengamatan sifat-sifat agronomi dari mutan padi pendek tampak bahwa pada umumnya mutan pendek mempunyai jumlah anakan produktif, panjang malai, dan bobot 1000 butir yang sarna dengan induknya yang tinggi (PI/ I). Perkecualian !ampak pacta beberapa mutan yang tingginya hampir sarna dengan PI/I. Lima mutan mempunyai anakan produktif lebih rendah bila dibandingkan dengan PI/I. Sedang mutan No. 713/0-3 mempunyai anakan produktiflebih banyak dan grup mutan bemomor A366 mempunyai biji yang 1ebih besar dari PI/I.

Dari pengamatan po1a ruas batangnya tampak bahwa pada umumnya mutan pendek mempunyai 4 ruas batang, sedang induknya yang tinggi (PI/I) mempunyai 5 mas batang. Pengecualian tampak pada 5 mutan yang teramati yang mempunyai

(4)

5 ruas batang seperti pada PI/I. Pengurangan jurnlah mas batang pada mutan biasa-nya diikuti dengan kenaikan persentase panjang dari masing-masing mas batang. Berda§arkan kenaikan f)enenWe panjang roMbatang, mutan pendek tenebut dapat digolongkan menjadi 4 tipe, yaitu : (i) mempunyai 5 mas batang seperti PI/I, (ii) yang mempunyai 4 ruas batang, kenaikan persentase panjang ruas batang terjadi pada ruas yang pertama saja, (iii) yang mempunyai 4 mas batang, kenaikan persen-tase panjang ruas batang pada mas pertama dan kedua, dan (iv) yang mempunyai 4 mas batang, kenaikan persentase panjang mas batang pada mas pertama dan terakhir.

DCAP AN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada IAEA atas bantuan biaya yang diberikan dalam bentuk kontrak riset No. 3125/R2/RB untuk kelancaran pengamat-an. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Saudara Giman dan Saudara Darmo Putro atas bantuannya selama pelaksanaan dan pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. FUTSUHARA, Y., TORIY AMA, K., and TSUNODA, K., Breeding of a new rice variety Reimei by gamma-ray irradiation, Gamma Field Symp. 7 (1968) 87.

2. HARGROVE, T.R., Diffusion and adoption of semi-dwarf rice cultivars as parents in Asia rice breeding programmes, Crop Science 19 (1979).

3. FUTSUHARA, Y., TORIYAMA, K., and TSUNODA, K., Breeding of a new rice variety Reimei by gamma-ray irradiation, Jap. J. Breed. 17 (1967) 252. 4. SAMOTO, S., Short stature mutants induced by gamma-ray irradiation to the

Japanese rice variety Koshihirari, Gamma Field Symp.14 (1975) 11. 5. RUTGER, J.N., PETERSON"M.L., HU, C.H., and LEHMAN, W.F., Induction

of useful short stature and early maturing mutants in two japonica rice cultivars, Crop Science 16 (1976) 631.

6. OKUNO, K., and KAWAI, T., Variation of internode length and other charac-ters in induced long culm mutants of rice, Japan J. Breed 283 (1978) 243. 7. KITANO, H., and FUTSUHARA, Y., Characters expression of induced dwarf mutants in rice. I. Effects of temperature on culm elongation in the dwarf mutant line, FukeiNo. 71,JapanJ.Breed311 (1981)9.

(5)

Tabcl 1 : Evaluasi .ifat-sifat agronomi dari beberapa mutan padi pendek. Tinggi

Jumlah PanjangBobot No.

No. galurmalai1000 butiranakan tanaman (Cm) (Cm) (Gr) 1. A227/1/123,33 24,6713,67 50,97 2. A227/1/a24,00 28,0014,00 75,14 3. A227/1/b22,67 31,6714,00 54,13 4. A227/1/425,00 30,0013,67 73,00 5. A227/1/224,33 28,6712,67 50,40 6. A227/1/322,67 29,3313,67 54,13 7. A227/1/524,00 27,0014,33 53,84 8. A227/2/624,33 28,6714,33 74,20 9. A227/2/11-15,6722,67 28,33 53,33 10. A227/ 2/BG/ 5 69,1324,00 29,6713,00 11. A227/324,00 28,6713,67 45,80 12. A227/423,33 28,3315,67 62,95 13. A227/523,00 28,0016,00 53,43 14. A227/724,00 28.3314,00 73 ,32 15. A227/822,00 27,6711,00 49,~ 16. A3~/221,67 27,3316,33 79,69 17. A329/123,33 25,0017,00 53,42 18. A348/121,33 26,3 317,00 57,00 19. A349/121,67 17,6715,33 51,58 20. A271/224,3 3 31,3312,67 79,11 21. A365/1-323 ,33 29,3314,67 48,74 22. A365/322,67 29,3312,67 50,94 23. A366/122,67 30,3311,33 79,44 24. A366/221,67 32,0012,67 54,65 25. A366/322,33 32,0013,33 74,84 26. A366/1/423,67 31,0012,67 52,48 27. A366/4/222,33 31,3314,00 55,83 28. B 1523 ,33 29,0012,00 64,09 29. 16 -B622,67 25,3317,67 50,20 30. 627/C 86,70 13,00 23,67 31,00 31. 163/12/402 59,38 14,00 23,33 29,67 32. 163-12-40522,67 30,0011 ,67 58,67 33. 713/D-220,33 25,6717,33 79,62 34. 713/D-322,33 26,6718,67 49,97 35. A2322,33 26,0015,00 48,86 36. PI/l23,33 29,0013,33 85,55 LSD 5% 9,0169 4,62 2,34 3,68 1% 11,9924 8,47 4,30 6,78

-Sl

(6)

I 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 121314 15 16 17 1819 2021 22 23 24 2526 27· Nomor mutan P . 00

N

75 50 25

o

100

anJang ruas batang Cm

f.--

-•...

RI

~

10-

--

-

-

~~

-

-

-

-

-'--

--

f--

-

-

-R.2

-

R~

-~

-

-

-

-

•...

-

-

-R3

I--

----

-•...

I--

-

R2

-

R4

-

-

-

-

-

-

-

--

-~

~

I--

-

-

•...

-

R3

-

R4

-

-

-R5 -

-

-

Keterangan: 1. PI/I 2. 627/C 3. 713/0-2 4. A366/1 5. A227/2/6 6. A227/1/a 7. A227/1/b 8. A227/1/3 9. A23

10. 815

11. A227/3 12. A227/2/ 11 13. 7l3/D~3 14. 163-12/-/4()2

15.

168~

16. A349/1 17. A329/1 18. A227/8 19. A227/5 20. A227/4 21. A227/1/5 22. A366/4/2 23. A366/4/1 24. A365/1-3 25. A227/1/1 26. A227/1/2 Gambar 1: Panjang mas batang pada mutan padi pendek.

(7)

an : R5 100

o

R1 R1 R1R1 Keterang Rl--?> R2

-R2 R2 R2 R3 R3 R4 R3 R3 R5 R4 R4R4 Ruas ke 1 hingga ke 5. 2 3

4

Tipe mutan

(8)

DISKUSI

HA VID RASnD :

Salah satu manfaat disebutkan tahan terhadap pemupukan N yang tinggi. 1. Apakah ini tidak bertolak belakang dengan program hemat energi?

2. Pengamatan di lapangan sebagian besar petani tidak menyukai varietas yang rendah/pendek, alasan waktu tanam bibit kecil, waktu panen susah/sukar di panen.

Jadi apakah mendapatkan varietas yang rendah/pendek kurang bermanfaat bagi pet ani?

A.M. RIY ANTI SUMANGGONO :

1. Pada umumnya untuk memperoleh hasil/produksi yang tinggi dipergunakan dosis pemupukan optimal yang biasanya cukup tinggi dosisnya.

2. Dengan sifat ketahanan 1erhadap rebah diharapkan hasil yang lebih tinggi sehingga jelas lebih menguntungkan petani. Tanaman yang dipilih untuk segi komersial bukan tanaman yang sangat pendek tapi yang sedikit agak tinggi.

ELSJE L. SISWORO :

Apakah tinggi tanaman yang makin berkurang akan mempengaruhi hubungan antara source dan sink tanah, jadi dengan makin pendek tanaman, luasan source akan berkurang sehingga akibatnya hasil sink juga akan berkurang. Sampai batas tinggi berapa hasil akhir masih tetap baik ?

A.M. RIY ANTI SUMANGGONO :

Pada pengamatan saya mutan No. A227/4 mempunyai hasil cukup tinggi, yaitu 6,2 ton/ha, sarna dengan induknya. Pada mutan No. 713/D-3 yang tingginya kurang dari 50 cm justru mempunyai jumlah anakan produktif yang cukup banyak.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :