PENDEKATAN HUKUM
YANG BERKEADILAN DAN
MEMBERIKAN KEPASTIAN HUKUM
TERHADAP NELAYAN KECIL
DISKUSI PANEL
PADA RAKORNAS IUU FISHING
JAKSA AGUNG MUDA TINDAK PIDANA UMUM
P
E
N
D
A
H
U
L
U
A
N
SALAH SATU ARAH
PERUBAHAN UURI NO. 31
TAHUN 2004 TENTANG
PERIKANAN:
KEBERPIHAKAN
KEPADA NELAYAN
KECIL DAN PEMBUDI
DAYA-IKAN KECIL
ANTARA LAIN DALAM
ASPEK PERIZINAN,
KEWAJIBAN
PENERAPAN
KETENTUAN MENGENAI
SISTEM PEMANTAUAN
KAPAL PERIKANAN,
PUNGUTAN PERIKANAN,
DAN PENGENAAN
SANKSI PIDANA
KATEGORI NELAYAN KECIL
MENANGKAP IKAN
UNTUK KEBUTUHAN
SEHARI-HARI
MENGGUNAKAN
KAPAL PERIKANAN
PALING BESAR 5 GT
Mengacu kepadaPasal 1 angka 10 UURI No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan sebagaimana diubah dengan UURI No. 45 Tahun 2009
P
E
N
D
A
H
U
L
U
A
N
P
E
N
D
A
H
U
L
U
A
N
UNDANG-UNDANG
YANG PUNYA KEBERPIHAKAN KEPADA
NELAYAN KECIL DAN
PEMBUDI DAYA-IKAN KECIL
TIDAK SERTA MERTA MENJADIKAN
NELAYAN KECIL DIMAKSUD KEBAL HUKUM
(
EQUALITY BEFORE THE LAW
)
NAMUN
TERDAPAT BEBERAPA
KEPADA MEREKA,
DAN ADA PULA BERBENTUK
DI SISI LAIN,
TERKAIT BARANG BUKTI KAPAL MILIK
NELAYAN KECIL TIDAK DIATUR
PENINDAKAN SECARA KHUSUS.
KEWAJIBAN YANG TIDAK DIBEBANKAN
PENUNTUTAN MEMPERHATIKAN…..
UU 31 TAHUN 2004 TENTANG PERIKANAN SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN
UU 45 TAHUN 2009,
BESERTA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BAWAHNYA.
PENEGAKAN HUKUM:
UNTUK MEWUJUDKAN KEADILAN,
KEMANFAATAN
DAN KEPASTIAN HUKUM
KEBIJAKAN/CONCERN SATGAS 115
KHUSUSNYA MENGENAI TUNTUTAN
TERHADAP BARANG BUKTI KAPAL
ASAS FIKSI HUKUM
- PRESUMPTIO IURES DE IURE
- IGNORANTIA JURIST NON EXCUSAT
KENDALA DALAM PELAKSANAAN PENUNTUTAN
KETENTUAN HUKUM DALAM UNDANG-UNDANG YANG BERKAITAN ERAT DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BAWAHNYA SEPERTI HALNYA PERATURAN
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN ADA KALANYA BERTENTANGAN DENGAN KEBIASAAN PARA NELAYAN DALAM MENANGKAP IKAN MAUPUN KEBIASAAN YANG
DITURUNKAN OLEH NENEK MOYANGNYA, SEHINGGA NELAYAN LEBIH MEMILIH MENGIKUTI KEBIASAAN SELAMA INI.
ADANYA KEBIJAKAN SATGAS 115 YANG PERNAH DI-SOUNDING SATGAS 115 AGAR KAPAL-KAPAL YANG MENJADI BARANG BUKTI
TINDAK PIDANA PERIKANAN, DIMUSNAHKAN.
SELAIN ITU, ADANYA PENGELOMPOKAN TINDAK PIDANA PERIKANAN SEBAGAI PELANGGARAN DAN KEJAHATAN TIDAK DIBARENGI KETEGASAN PENGATURAN
KETENTUAN PENINDAKAN BARANG BUKTI (KHUSUSNYA KAPAL).
…..misalnya apakah terhadap pelanggaran kapal dikembalikan…?
TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEMAHAMAN HUKUM NELAYAN KECIL YANG TERBATAS, SEHINGGA DI DALAM KETERANGANNYA TERDAKWA MENGATAKAN TIDAK MENGETAHUI ADANYA PERATURAN SEPERTI ITU,
KEBIJAKAN PENUNTUTAN TERKAIT SANKSI PIDANA BADAN/DENDA DAN SIKAP
JPU TERHADAP BARANG BUKTI (KHUSUSNYA KAPAL) NELAYAN KECIL
1. Agar satu suara, Kejaksaan Agung selaku Pimpinan Pusat Kejaksaan seluruh Indonesia mewajibkan hierarki rencana tuntutan dari Cabang Kejaksaan Negeri/Kejaksaan Negeri ke Kejaksaan Tinggi diteruskan ke Kejaksaan Agung, dengan harapan penerapan tuntutan pidana badan dan/atau denda maupun sikap terhadap barang bukti kapal telah mempertimbangkan pelaksanaan terhadap kepatuhan hukum maupun upaya perwujudan rasa keadilan di tengah-tengah masyarakat;
2. Kejaksaan mematuhi kekhususan pemidanaan terhadap nelayan kecil, seperti peringanan hukuman sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku. Namun demikian, Kejaksaan tidak hanya mempertimbangkan ukuran Kapal yang dibatasi undang-undang maksimal 5 GT, tetapi juga mempertimbangkan apakah penangkapan ikan dimaksud untuk hajat hidup kelompok nelayan kecil yang tergabung dalam suatu koperasi nelayan, sehingga memang kapal yang digunakan ada kalanya melebihi 5 GT.
3. Kejaksaan mempertimbangkan untuk mengembalikan barang bukti kapal kepada nelayan kecil, apabila terhadap dirinya tidak terdapat pemberatan pidana, misalnya residivis, dan di dalam pembuktian diketahui bahwa penangkapan ikan dimaksud bermotifkan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dengan salah satu bahan pertimbangan adalah jumlah ikan tangkapan.
KEBIJAKAN PENUNTUTAN TERKAIT SANKSI PIDANA BADAN/DENDA DAN SIKAP
JPU TERHADAP BARANG BUKTI (KHUSUSNYA KAPAL) NELAYAN KECIL
3. Kejaksaan tetap menghormati asas fiksi hukum, sehingga ketidaktahuan pelaku terhadap ketentuan hukum yang berlaku tidak menghapus pidana pada dirinya. Namun demikian, dengan memahami bahwa nelayan kecil pada umumnya minim pendidikan, tidak memiliki akses dan kemampuan untuk meng-update informasi hukum, dan pelaksanaan penyuluhan maupun penerangan hukum yang belum menjangkau seluruh wilayah perkampungan nelayan secara utuh, maka “ketidaktahuan/ketidakpahaman” nelayan terhadap ketentuan hukum menjadi pertimbangan Jaksa meringankan tuntutan terhadap dirinya didukung data latar belakang pelaku yang valid, sehingga kebijakan demikian tidak serta merta dijadikan tolok ukur perkara lain dengan kondisi yang berbeda.
4. Selain aktif melaksanakan dan mengikuti kegiatan seminar, in house training, workshop baik secara internal maupun bersama-sama dengan anggota Satgas 115, bidang pidana umum kejaksaan juga aktif memberi masukan dan materi kepada bidang intelijen kejaksaan untuk disampaikan dalam penyuluhan dan penerangan hukum, sehingga mampu menjangkau masyarakat nelayan, bahkan yang dipelosok sekalipun, sehingga penerapan hukum kepada mereka telah sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan mampu memberi manfaat maupun kepastian hukum.
BERBAGAI PERMASALAHAN LAIN DALAM PENUNTUTAN
TINDAK PIDANA PERIKANAN
1.
SINERGITAS ANGGOTA SATGAS 115
Masih ada
mindset
bahwa setiap perkara yang ditangani oleh
Penyidik, wajib dinyatakan lengkap oleh Penuntut Umum,
meskipun syarat formil maupun materil berkas perkara tidak
lengkap.
Beberapa perkara tindak pidana perikanan telah disidik selama 1-2
tahun, padahal semangat keberadaan Satgas 115 (satu atap) ialah
untuk mempercepat dan memudahkan penanganan perkara;
Masih ada tindak pidana perikanan yang disidik oleh Penyidik
2.
SUBSTANSI PERUBAHAN UU NO.45 TAHUN 2009 TERHADAP
UU NO. 31 TAHUN 2004 INKONSISTEN:
PASAL 28 (4) UU 45 TAHUN 2009
Kewajiban memiliki SIKPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau
membawa SIKPI asli sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), tidak berlaku bagi nelayan kecil dan/atau pembudi daya-ikan kecil.
PASAL 100B UU 45TAHUN 2009 Pasal 100B
Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 12, Pasal 14 ayat (4), Pasal 16 ayat (1), Pasal 20 ayat (3), Pasal 21, Pasal 23 ayat (1), Pasal 26 ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (1), Pasal 28 ayat (3), Pasal 35 ayat (1), Pasal 36 ayat (1), Pasal 38, Pasal 42 ayat (3), atau Pasal 55 ayat (1) yang dilakukan oleh nelayan kecil dan/atau pembudi daya-ikan kecil dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).
INKONSISTEN
Di Pasal 28 ayat (4), Nelayan Kecil/pembudi daya ikan kecil
tidak dapat dipidana dengan dasar Pasal 28 ayat (1) , (3) VS
Di Pasal 100B, Nelayan
Kecil/pembudi daya ikan kecil
dapat dipidanadengan dasar Pasal 28 ayat (1) , (3), dengan peringanan pidana badan dan dendanya.
2.
SUBSTANSI PERUBAHAN UU NO.45 TAHUN 2009 TERHADAP
UU NO. 31 TAHUN 2004 INKONSISTEN:
Perubahan Pasal Kewajiban memiliki SIKPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau membawa SIKPI asli sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tidak berlaku bagi nelayan kecil dan/atau pembudi daya-ikan kecil. PASAL 100B UU 45TAHUN 2009 Pasal 100B
(1) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan berbendera Indonesia di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia wajib memiliki SIKPI.
(2) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan berbendera asing yang digunakan untuk melakukan pengangkutan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia wajib memiliki SIKPI
Pasal 94 UU 31/2004 sebagai
ketentuan pidana dari Pasal 28 ayat (1) UU 31/2004 tidak mengalami
perubahan, sehingga Pasal 28 ayat (2) UU 45/2009 tidak diatur ketentuan pidananya.
“Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan
perikanan Republik Indonesia yang melakukan pengangkutan ikan atau kegiatan yang terkait yang tidak memiliki SIKPI sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1),
dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). “
BERBAGAI PERMASALAHAN LAIN DALAM PENUNTUTAN
TINDAK PIDANA PERIKANAN
3.
KEBULATAN PEMAHAMAN TERKAIT PENENTUAN TINDAKAN
TERHADAP BARANG BUKTI KAPAL
Adanya kebijakan di KKP bahwa kapal-kapal yang dipergunakan untuk melakukan
tindak pidana perikanan agar dirampas untuk dimusnahkan, sedangkan UU
Perikanan masih memberi alternatif pilihan, apakah BB Kapal dirampas untuk
negara atau dimusnahkan (vide Pasal 76A UU Perikanan). Hal ini menjadi kendala
ketika TP Perikanan terjadi di ZEEI dimana mengacu Pasal 102 UU Perikanan,
pelaku tidak dapat dikenai sanksi pidana badan, hanya dapat dikenai denda saja dan
pelaku cenderung tidak sanggup membayar denda dimaksud.