Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2 Pengetahuan dan Persepsi Masyarakat Desa Rawasari di Sekitar Hutan Lindung
Gambut Londerang Terkait Kebakaran Hutan Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Tantria Ariani 1) , Bambang Hariyadi 1), Winda Dwi Katika 1)
Program Studi Biologi FKIP Universitas Jambi, Jl. Jambi Muara Bulian KM 15 Mendalo Darat, Jambi, e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengetahuan masyarakat disekitar Hutan Lindung Gambut Londerang terkait Kebakaran hutan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Salah satu kawasan hutan rawa gambut yang mengalami kebakaran yaitu HLG Londerang Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pada tahun 2015 terjadi kebakaran hutan gambut besar yang menyebabkan asap selama beberapa bulan, diduga kawasan HLG Londerang yang bersebelahan dengan Desa Rawasari memiliki titik api terbanyak, sehingga dampak dari kebakaran hutan tersebut sangat dirasakan oleh desa ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Hasil dari wawancara beberapa responden yang dilakukan di Desa Rawasari, 80% masyarakat mengetahui HLG Londerang tapi belum pernah mengunjungi langsung, sedangkan 20% masyarakat mengetahui HLG Londerang sebelum dan setelah terjadi kebakaran. Untuk pengetahuan tentang lahan gambut hampir seluruh masyarakat mengerti tentang lahan gambut karena masyarakat mayoritas adalah petani, tetapi tidak cara pengelolaan nya, pengetahuan masyarakat Desa Rawasari tentang HLG Londerang berdasarkan hasil tes yaitu sedang sekitar 68% untuk perempuan dan 86% untuk laki-laki.
Kata Kunci: Pengetahuan dan persepsi, Masyarakat, Hutan Lindung Gambut Londerang,
Kebakaran Hutan
Jambi, Maret 2018 Mengetahui dan Menyetujui
Pembibing I Pembimbing II
Ir. Bambang Hariyadi, M.Si., Ph.D Winda Dwi Kartika, S. Si., M.Si
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2 PENDAHULUAN
Jambi merupakan Provinsi yang memiliki hutan gambut terluas ketiga di Sumatera setelah Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Selatan. Luas hutan gambut Jambi yaitu 676,341 Ha, baik berupa hutan maupun non hutan (KKI WARSI. 2003:4). Salah satu hutan gambut yang ada di Provinsi Jambi adalah Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Jambi termasuk ke dalam deretan Provinsi yang paling sering mengalami kebakaran. Menurut data dari KKI WARSI (2015), Jambi menduduki peringkat kedua penyumbang kebakaran terbanyak di Sumatera setelah Provinsi Riau. Kebakaran ini terjadi baik kebakaran hutan dan lahan perkebunan. Potensi kebakaran ini meliputi hampir seluruh Kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kebakaran ini berlangsung terus menerus pada kondisi cuaca ekstrim yaitu kemarau panjang (KKI WARSI. 2015:33).
Salah satu wilayah di Provinsi Jambi yang mengalami kebakaran hutan pada tahun 2015
yang lalu adalah Hutan Lindung Gambut Londerang yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Menurut data dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi (2004:18) HLG Londerang merupakan hutan gambut terluas di Provinsi Jambi dengan luas sekitar 13.325 ha. HLG Londerang terletak di dua wilayah yaitu Tanjung Jabung Timur (7.298 ha) dan Muaro Jambi (6.027 ha). Diduga kebakaran tersebut merupakan kebakaran terparah yang pernah terjadi. Kebakaran tersebut hampir menghabiskan separuh bagian hutan. Dari hasil observasi dilakukan di HLG Londerang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, keadaan hutan yang sudah terbakar sangat memprihatinkan. Beberapa desa yang terletak di sekitar HLG Londerang antara lain, Desa Parit Culum 1, Desa Koto Kandis Dendang, Desa Teluk Dawan dan Desa Rawasari. Dari beberapa desa tersebut yang berada sangat dekat dengan HLG Londerang adalah Desa Rawasari. Menurut pemetaan dari WWF (2016) Desa Rawasari merupakan desa yang berada di kawasan hutan terbakar dengan titik
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2
api terbanyak, sehingga dampak kebakaran sangat dirasakan di desa tersebut. Berdasarkan hasil diatas penulis melalukan penelitian mengenai pengetahuan dan persepsi masyarakat Desa Rawasari terkait lahan gambut dan kebakaran yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Persepsi masyarakat
sangat dibutuhkan karena
permasalahan yang terjadi dilingkungan tidak hanya berdampak kepada oknum yang merusak lingkungan tetapi juga akan berdampak kepada semua orang yang hidup di sekitar wilayah tersebut.
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk mendapatkan data secara mendalam pada obyek yang alamiah dan data tersebut mengandung suatu makna sedangkan deskriptif kuantitatif adalah mendapatkan data dengan cara menghitung jumlah masyarakat yang memiliki pengetahuan dan persepsi. Analisis data dilakukan
berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan kemudian dikontruksikan menjadi teori (Sugiyono, 2013:2).
Perlengkapan penelitian
Perlengkapan penelitian yang dibutuhkan adalah kamera digital, perekam suara, panduan wawancara, dan perlengkapan alat tulis.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat di Desa Rawasari Kabupaten Tanjung Jabung Timur Kecamatan Berbak dengan jumlah penduduk 803 jiwa. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara Nonprobability Sampling. Responden yang diambil
berumur 17 tahun keatas sebanyak 50 orang, dari semua penduduk Desa Rawaari yang berumur 17 tahun keatas sebanyak 422 orang (RPJMDES, 2017:13). Responden diambil secara sampel kuota karena sifat masyarakat Desa Rawasari relatife homogen.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara mendalam (In-depth Interview)
Wawancara mendalam
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2
benar-benar mengetahui tentang HLG Londerang.
Wawancara Semi Terstruktur
Wawancara semi terstruktur merupakan hal yang pokok untuk pengumpulan data penelitian deskriptif mengenai suatu masalah yang diteliti dengan cara menyiapkan
daftar pertanyaan untuk
mendapatkan jawaban secara tertulis ataupun lisan guna kepentingan penelitian (Kartono, 1990:2017).
Observasi Non partisipatif
Pengumpulan data dengan cara mengamati kegiatan langsung yang dilakukan oleh masyarakat namun tidak ikut terlibat. Dalam hal ini, peneliti hanya bertindak sebagai pengamat yang memiliki jarak tertentu dengan subjek yang diamati. Data dari pengamatan (non-partisipatif) didokumentasi dengan foto.
Perhitungan skor pengetahuan
Untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat di sekitar kawasan Hutan Lindung Gambut Londerang terkait kebakaran hutan, kuesioner yang digunakan adalah semi terstruktur dengan jawaban
berdasarkan pengetahuan responden, sehingga jawaban dapat disesuaikan dengan tingkat pengetahuannya. Skor yang diberikan yaitu 1 sampai 4 berdasarkan tingkat pengetahuan responden. Skor yang diperoleh kemudian dicoding menggunakan Microsoft exel untuk setiap soal berdasarkan skor yang didapatkan oleh setiap individu. Selanjutnya dijumlahkan untuk semua skor 1 (tidak mengetahui), 2 (kurang mengetahui), 3 (cukup mengetahui), dan 4 (sangat mengetahui) untuk setiap responden. Skor yang diperoleh tersebut kemudian di persentasekan (jumlah skor : skor maxsimal x 100%) dan dibuat grafik tingkatan pengetahuan masyarakat.
Waktu dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di Desa Rawasari Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Penelitian
pengetahuan dan persepsi
dilaksanakan mulai bulan Maret 2017 sampai Mei 2017, yang meliputi tahap persiapan, pengambilan data di lapangan, pengolahan data, analisis data dan penyajian laporan.
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2 HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengetahuan Masyarakat Desa Rawasari Mengenai Hutan Lindung Gambut Londerang
Hasil wawancara pengetahuan tentang hutan gambut yang dilakukan kepada masyarakat Desa Rawasari dengan jumlah responden sebanyak 25 laki-laki dan 25
perempuan. Pada umumnya
masyarakat sudah mengetahui tentang gambut.
G
Gambar 1 pengetahuan masyarakat Pengetahuan masyarakat Desa Rawasari mengenai hutan gambut yang paling tinggi diperoleh dari responden laki-laki (Cukup mengetahui 55,71%., Sangat mengetahui 51,7%) sedangkan pengetahuan responden perempuan masih tergolong rendah (cukup mengetahui 35,71%., sangat mengetahui 25,43%) (Gambar 4.1). Hal tersebut karena masyarakat Desa Rawasari mayoritas yang lebih aktif
bertani adalah laki-laki. Kegiatan pelatihan mengenai pengelolaan hutan gambut yang dilakukan di Desa Rawasari juga sering melibatkan laki-laki sebagai peserta. Sedangkan perempuan di Desa Rawasari mayoritas adalah Ibu rumah tangga, sehingga mereka kurang memahami kondisi hutan gambut.
Manfaat HLG Londerang
Manfaat langsung dari HLG Londerang antara lain, sebagai tempat berburu dan mengambil kayu dari hutan tersebut. Manfaat tersebut dirasakan oleh beberapa masyarakat yang menjadikan HLG Londerang sebagai lokasi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Selain itu bagian dari HLG londerang yang dijadikan hutan desa yang memiliki luas 4.405 ha. (Diana,2014:1) juga dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Pembukaan lahan baru dan kebakaran hutan
Dari hasil wawancara yang dilakukan mengenai hubungan pembukaan lahan dengan kebakaran hutan, 68% laki-laki menyatakan ada
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2
hubungannya kebakaran dengan pembukaan lahan sedangkan 32% menyatakan tidak ada hubungannya.
Responden perempuan 28%
menjawab ada hubungannya
pembukaan lahan dengan kebakaran
sedangkan 72% perempuan
menjawab tidak ada hubungannya.
Pengelolaan HLG Londerang
Saat ini beberapa pengelolaan HLG Londerang sudah mulai dilakukan, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. Menurut pendapat responden laki-laki 36% menjawab belum dikelola dan 64% menjawab sudah dikelola dengan baik. Sedangkan responden perempuan 48% menjawab belum dikelola, 16% menjawab sudah dikelola dengan baik dan 36% tidak menjawab. Berdasarkan hasil tersebut, pengelolaan HLG Londerang mengikutsertakan masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan sudah mulai dilakukan di Desa Rawasari.
Dampak kebakaran HLG Londerang
Hasil wawancara mengenai dampak kebakaran HLG Londerang bagi masyarakat Desa Rawasari diperoleh bahwa semua masyarakat
desa tersebut merasakan dampak kebakaran. Keluhan yang dirasakan yaitu, terbakarnya ladang pribadi
miliki mereka sehingga
mengakibatkan kerugian
dihubungkan gagal panen, asap yang menyelimuti desa mengakibatkan terganggunya aktifitas sehari-hari masyarakat serta penyakit saluran pernafasan yang menyerang dewasa maupun anak-anak.
Pelatihan dan Penyuluhan tentang Hutan Gambut
Beberapa kegiatan pelatihan dan penyuluhan tentang cara mencegah kebakaran hutan gambut terlah dilakukan di Desa Rawasari terutama setelah kebakaran tahun 2015 yang lalu. Namun, kegiatan tersebut dianggap masih perlu dilakukan. 68% responden laki-laki mengatakan jarang dilakukan dan hanya 32% yang menyatakan sering dilakukan sedangkan responden perempuan 60% menyatakan jarang dilakukan, 12% menyatakan sering dilakukan dan 28% tidak menjawab.
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2 Harapan masyarakat untuk
pengelolaan HLG Londerang
Harapan dari semua masyarakat, pemerintah menyediakan beberapa alat bantu pemadam kebakaran jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran kembali karena dengan adanya alat tersebut kebakaran besar bisa saja dicegah. Pemerintah lebih memperhatikan lagi pengelolaan
HLG Londerang, melakukan
penghijauan kembali serta adanya pelatihan dan penyuluhan yang rutin diadakan di Desa Rawasari.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Pengetahuan masyarakat di sekitar Hutan Lindung Gambut Londerang tekait kebakaran hutan paling tinggi yaitu responden laki-laki, terutama dalam segi pengetahuan hutan gambut dan cara pengelolaan nya. Responden perempuaan memiliki pengetahuan lebih rendah karena mayoritas perempuan adalah Ibu rumah tangga.
2. Persepsi masyarakat di sekitar
Hutan Lindung Gambut
Londerang terkait kebakaran hutan. Semua masyarakat Desa
Rawasari merasakan manfaat HLG Londerang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Mayoritas masyarakat
mengetahui dampak dari pembukaan lahan dengan cara dibakar, namun belum didasari oleh teori-teori yang memadai. Dari kegiatan pelatihan dan penyuluhan tentang hutan gambut masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu masyarakat Desa Rawasari berharap, tidak terjadi lagi kebakaran hutan gambut terutama HLG Londerang, adanya alat pemadam kebakaran yang lebih baik jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran kembali,
lebih memeperhatikan
pengelolaan hutan gambut.
DAFTAR RUJUKAN
Diana, E. 2014. Tiga Hutan Tanjung Jabung Timur Terima SK. Diakses pada tanggal 29 Mei 2016.
.http;//www.mongabay.co.id/t ag/hutan-desa/.
Dinas Kehutanan Provinsi Jambi. 2015. Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pencegahan
Tantria Ariani RRA1C412043 Pendidikan Biologi Universitas Jambi Page 2 dan Pengendalian Kebakaran
Hutan dan Lahan Di Provinsi Jambi. Jambi: Dinas Kehutanan Provinsi Jambi.
KKI WARSI. 2013. Alam Sumetera:
Fokus Setelah Hutan Adat Bukan Hutan Negara. Jambi: KKI
WARSI.
KKI WARSI. 2015. Alam
Sumetera:Introduksi Suku Batin IX. Jambi: KKI WARSI.
Kartono, K. 1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial.
Mandar Maju: Bandung.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian
Kualitatif dan Kuantitatif dan R&D. Bandung: CV, Alfabeta.
WWF Indonesia. 2016. Mengelola
Gambut Mengurangi
Kebakaran: Ekosistem Hutan Lindung Gambut Londerang.
Powerpoint dipresentasikan pada meeting provate sector. 17 Oktober 2016, Jambi.