STUDI BIOFARMASETIKA
SEDIAAN MATA
(OCULAR )
1
•
Anatomi saluran mata
•
Penetrasi okular
•
Ketersediaan hayati sediaan mata
•
Evaluasi sediaan
Sediaan Mata -→ STERIL
2
Skema disposisi sediaan mata
ANATOMI SALURAN MATA
Mata terdiri atas 3 lapisan (arah luar-dalam) : lap. Serabut (sclera), lap. Vaskuler (choroidea), lap. Saraf dalam (retina)
Lap. Mata
Sclera : - bentukan buram, sedikit aliran darah
- berhubungan dgn permukaan posterior kelopak
mata (konjungtiva)
- daerah yg ditutupi sklera membentuk kantung konjungtiva → lokasi pengolesan sediaan
Choroidea : - aliran darah cukup (utk bola mata)
- makin dalam, struktur makin kompleks dan
lbh tipis; corpus ciliaris tersusun atas
musculus ciliaris, processus ciliaris
- terdpt pupil pd bag.anterior lap.sebelah dalam berupa lap.tipis dan berlubang ditengahnya
Lensa :
- cembung dan cekung
- bag.cembung-rangkap; tdk mendapt aliran darah dan saraf, bentuk jernih dan teratur, konsistensi seperti gel yg agak keras
Bagian lain :
Segmen anterior : anterior chamber dan posterior (wadah air mata) Air mata : - cairan spesifik yg dihasilkan processus ciliaris
- fungsi utk menjaga tekanan dalam okuler tetap ( 19 mm Hg) - dominan pd bag.posterior mata (sebagian besar bola mata)
Sistem lakrimal :
- menjaga kelicinan mata; melapisi kornea dgn cairan yg dihasilkan konjungtiva dan kljr.lakrimal
- cairan lakrimal; mengandung seny.lipid yg melindungi kornea dari penguapan dan sifatnya bipolar shg kontak cukup baik antara lakrimal (aqueous lemak)
- menetralkan efek sediaan mata
- pengeluaran air mata tergantung saraf simpatik Kornea :
- berperan dlm penyerapan obat
- tdd tumpukan jaringan saling berbeda, tanpa aliran darah - tebal bagian tengah ± 0,5 mm
Bagian kornea : Epitel :
- Penyusun kornea paling luar
- Bersifat lipofil, tdd lap.sel dgn tebal ± 10% tebal keseluruhan epitel
- Jika tjd luka, akan tjd regenerasi dan dlm waktu 24 jam permukaan kornea akan tertutupi sel baru (pembelahan sel konjungtiva perifer)
Stroma :
- Bersifat hidrofil, tebal 90% tebal kornea
- Tdd lembaran kolagen yg tersusun berjajar dan dipisahkan dari epitel oleh membran bowman (struktur tdk teratur)
a. Jalur sistemik
- melintasi epitel dari corpus ciliaris
- menembus dinding kapiler jar.penghubung di sktr iris
→ proses difusi dan sekresi; obat menembus kapiler dan menuju bag.dalam epitel
• Proses difusi : penembusan melintasi sel iris, obat keluar kapiler, melintas diantara sel konjungtiva utk mencapai anterior chamber
• Laju penembusan dan pencapaian target dipengaruhi : proses difusi, koof.partisi, derajat ionisasi, ukuran partikel
• Molekul lipofil mencapai cairan okuler lebih cepat
• Obat meninggalkan cairan okuler melalui; jalur peniadaan senyawa melalui celah fontana dan schlemm; jalur difusi melintasi membran lipid yg memisahkan cairan mata dari darah; jalur transport aktif
PENETRASI OKULER
b. Jalur topikal
- Efek lokal; absorbsi melalui kornea atau non kornea secara difusi
- Jalur penembusan; kornea dan konjungtiva
- Pemb.darah pd konjungitva sering mengalami pelebaran akibat iritasi (infksi oleh bhn asing/mekanik) → molekul obat memasuki peredaran darah ≈sistemik (tdk diharapkan)
- seny.kortikosteroid; menembus kornea sec.keseluruhan dan kemampuan penyempitan pemb.darah; peningkatan waktu kontak kornea-obat
- Laju penembusan kornea tergantung ; derajat ionisasi, koof.partisi zat aktif dlm lipid/air
- Perlintasan meningkat bila daya larut zat aktif dlm lemak meningkat dan disosiasi rendah
- Perlintasan pd stroma; lbh cepat utk seny.hidrofil
Desain sediaan yang berkualitas secara farmasetika :
• Menghantarkan zat aktif pada tempat yang dituju
• Menigkatkan rasio aktivitas lokal dibanding sistemik
• Mengurangi jumlah pemakaian dalam sehari
• Mudah digunakan (pemakaian sendiri)
• Tidak menimbulkan reaksi penolakan dari tubuh (rasa sakit atau gangguan lain)
• Dapat disimpan tanpa memerlukan kondisi yang khusus
• Zat aktif kompatibel dengan pengawet pada jumlah yang sesuai • Proses sterilisasi terjamin
• Terlindungi oleh hak paten (legitimasi produksi) mulai dari proses produksi dan
pengembangan pada R&D
BIOAVAILABILITAS SEDIAAN OKULER
Faktor yang mempengaruhi KH zat aktif :
• Faktor fisiologi
• Faktor fisika-kimia Faktor fisiologi
- Keadaan serta fungsi kornea dan konjungtiva
- Luka pd bag.epitel; meningkatkan permeabilitas jaringan dan mempengaruhi laju abs. zat aktif
- Keadaan luka dpt dipicu oleh; perbedaan pH, surfaktan, pemakaian berulang, sifat pembawa atau zat aktif
- Ikatan molekul obat dgn protein mata, kornea dan cairan mata dpt menyebabkan hilangnya aktivitas obat (penelitian oleh Mikkelsen dkk)
- Kandungan air mata = 0,7% protein (total), kornea (0,15%),kolagen (18,4%), cairan bola mata (protein 0,22%)
Faktor fisika-kimia
-
Karakteristik fisika kimia zat aktif
-
Proses pembuatan
Mempengaruhi ; toleransi mata thd obat, pengeluaran air mata,
permeabilitas epitel konjungtiva dan kornea
Meliputi ; tonisitas, pH, konsentrasi zat aktif, viskositas, surfaktan
• Tonisitas
- Tekanan osmotik air mata = 0,93% lar. NaCl (fisiologis)
- Konsentrasi NaCl 0,7-1,4%, tdk menyebabkan rasa sakit dan iritasi (menurut Trolle-Lassen); umumnya zat aktif dilarutkan dlm lar.NaCl 0,8-0,9% (pelarut lain dgn tonisitas sama ≈isotonis)
- Keadaan hipertonis lbh dpt diterima daripada hipotonis
- Tdk tjd peningkatan permeabilitas pd penggunaan NaCl 0,9-10%, namun keadaan hipotonik dpt meningkatkan permeabilitas kornea (by Maurice) - Konsentrasi zat aktif ≠hipertonis melebihi batas
- Resiko iritasi dpt berkurang krn pengenceran oleh air mata
• pH
- pH ideal mata 7,4
- Jarang zat aktif memiliki kesatbilan dan kelarutan yg baik pd pH tsb - Kriteria stabilitas dlm batasan pH yg dpt dierima oleh mata
- Optimasi pH yg memenuhi syarat : satbilitas, toleransi, efektivitas
- Maurice : Larutan dapar fosfat isotonik pH 7,4-9,6 tdk menyebabkan iritasi
- Cairan lakrimal mempunyai sistem dapar pH 7,4 dan dpt mengubah derajat keasaman sediaan pH 3,5-10,5 dan kapasitas dapar yg rendah pd pH yg diterima
-
Bbrp penelitian berkaitan dgn hub.pH dan kemampuan mendapar
sed.mata, memberikan hasil berikut :
➢ sed.mata tdk dpt didapar diluar batas pH yg aman utk mata; pengecualian utk stabilitas dan pemakaian khusus
➢ efek “pre dapar”; penetesan awal sed. dgn dapar borat pH 9,2 memberikan efek yg cepat dan berlangsung lama (seny. Midriatik)
➢ adanya efek potensiasi akibat peningkatan pH cairan lakrimal stlh perlakuan awal
•
Konsentrasi zat aktif
-
Penembusan obat ≈proses difusi pasif
-
Laju penembusan ≈fungsi konsentrasi ; Hukum Fick I
misal : jika 1 tetes obat mata≈vol. 0,05-0,075 mL; 1 gtt akan
diencerkan oleh air mata 0,01 mL; keadaan ini tdk berlaku jik tjd
iritasi (obat meningkatkan pengeluaran cairan lakrimal)
- Hasil penelitian (Chrai dkk): aktivitas pilokarpin 100%-27,7% pd
vol.penetesan 5-75 μL (pd mata kelinci)
• Kekentalan
Tujuan penggunaan lar.pengental :
- air mata buatan
- pelicin utk lensa kontak
- meningkatkan kekentalan lar.obat
- memperpanjang waktu kontak sed.dgn kornea
- memperlambat proses difusi melintasi membran; penggunaan seny.makromolekul hidrofil (selulosa)
- metil selulosa; pembentukan kompleks misel yg dpt menjerat zat aktif, shg mengurangi konsentrasi zat aktif yg menembus atau terbtk ikatan hidrogen dgn intra molekuler
-
cont.: tjd peningkatan efek midriasis lar. Collyrium hematropin
dan efek miosis pilokarpin (dgn penambahan metil selulosa)
-
Kekentalan optimal lar.mata : 25-55 cP
-
Pemilihan pengental mengikuti kriteria : mudah disaring, tahan
saat sterilisasi, inkompatibilitas
-
Pengujian dibandingkan dgn lar. encer
• Surfaktan
- Fungsi : penurunan tegangan permukaan; dpt meningkatkan aksi terapeutik, misal. Seny.antimikroba gol.kationik (benzalkonium klorida, setil piridinium klorida)
- Efek utama : meningkatkan ketercampuran cairan obat dgn cairan lakrimal, memperluas permukaan epitel kornea, meningkatkan kontak obat-kornea/konjugntiva, meningkatkan penembusan dan penyerapan obat
- Persyaratan surfaktan : tdk mengiritasi, meningkatkan pengeluaran air mata, tdk merusak kornea
- Cont.: kationik, non inonik (lbh dpt diterima krn non iritasi)
-
Surfaktan;
kaitan
dgn HLB, penelitian oleh Maurice; tjd
peningkatan
penembusan
seny.Fluoresin
pd
HLB
16-17
penggunaan Tween 20-Brij 35;
-
Tween 20 : surfaktan non ionik paling baik sbg peningkat penetrasi
-
Penggunaan surfaktan : uji pendahuluan utk melihat kemungkinan
pembentukan kompleks atau interaksi dgn zat aktif (hanya obat
bebas yg dpt melintasi membran epite)l , penentuan konsentrasi
miselar, dan kemungkinan iritasi,
BENTUK SEDIAAN
Bentuk sediaan :
▪ Larutan ; dengan penambahan peningkat viskositas ▪ Suspensi
▪ Salep, gel
▪ Sistem penghantaran modifikasi; softlens, Ocusert (Opthalmic disc); disisipkan pada mata berupa lempengan kecil, hidrokoloid (gelatin/kolagen), untuk obat yang tdk mudah menguap
Bentuk sediaan ≈lama kontak
- salep; kontak lebih lama (24 jam) - larutan dlm minyak ; kontak 1 jam - emulsi a/m; kontak 2-3 jam
Pertimbangan formulasi
:- Salep : harus mencapai permukaan kornea dan konjungtiva secara merata stlh pemakaian (bantuan kedipan kelopak mata), →
pertimbangan berikut : sifat
rheologi, lebur pd suhu permukaan mata (32,9⁰C), sifat hidrofil (mudah
tercampur/emulsi dgn cairan lakrimal)
Faktor yg mempengaruhi penetrasi : tebal lapisan yg terbentuk , juml.
dan kapasitas pengolesan
- Suspensi ; penetrasi dipengaruhi : ukuran partikel (pengurangan ukuran
partikel dpt meningkatkan penetrasi →peningkatan terapetik)
EVALUASI SEDIAAN MATA
•
Metode in vitro ;
- menggambarkan pelepasan zat aktif,
- tdk spesifik utk semua sediaan
- berkaitan dgn teknik difusi dlm medium gel/agar/cairan dlm
melintasi membran
-menggunakan membran spt kornea; perlintasan spesifik ,
penyerapan konjungtiva, dpt ditetapkan kinetika proses transport
•
Metode in vivo
- uji farmakologi, pengukuran konsentrasi dlm cairan
mata
-
keuntungan;
mengikuti
keadaan
fisiologi
penetrasi
(kontak, sekresi cairan lakrimal,pengaliran darah)
-
kesulitan ; tdk mempu menentukan kinetika
penetrasi dan
tdk reprodusibel utk setiap subjek
Pengembangan sediaan
• Modifikasi sistem penghantaran • Pengembangan formulasi
Permasalahan :
▪ Keterbatasan dosis
▪ Waktu kontak yang singkat dan adanya barier yang berlapis (hanya efektif pada bagian eksternal dan sedikit bagian anterior)
▪ Jumlah obat yang berpenetrasi tergantung penegenceran oleh air mata dan kecepatan pengeluaran obat oleh air mata
Pengembangan sediaan mata dari sistem konvensional ke arah
sistem yang baru memerlukan waktu yang cukup lama, karena
bbrp kondisi :
• Adanya persyaratan tertentu dalam formula, seperti sterilitas, tdk toksik lokal, kemudahan dalam pencampuran dan perlunya pemakaian pengawet utk multi dosis serta ketentuan lain
• Jumlah penderita tidak terlalu banyak, karenanya dibutuhkan sediaan yang memiliki keuntungan terapetik yang lebih besar dibanding sediaan konvensional (suspensi/larutan biasa); adanya pengembangan formula
Pengembangan Formula ; meliputi :
• Optimasi pelepasan zat aktif dan penghantaran
• Mengurangi pengeluaran zat aktif akibat aliran air mata
→ Sediaan perlepasan terkendali Persyaratan :
- menyenangkan
- mudah digunakan
- tidak mengganggu penglihatan dan permeabilitas oksigen
- kinetika pelepasan reprodusibel
- dapat digunakan untuk berbagai jenis obat
- steril, stabil dan mudah dibuat
28
Sistem :
•
Erodibel;
- ocusert : salep mata diletakkan dalam dua lapisan membran yang mengatur difusi dengan kecepatan orde nol
- ITS (implants Therapeutic Soluble) atau SODI (Soluble Ocular Drug Insert) , berupa lempengan polimer jenis poliakrilamida yang dibacam dengan zat aktif
•
Non erodibel;
- softlens : lensa hidrogel yang hidrofil, lunak dengan pengembangan terbatas, mengandung zat aktif yang dibuat dengan proses dibacam
skema sediaan
Pelepasan obat dikontrol oleh membran polimer
Drug reservoir
Pilocarpine-core Reservoir
White ring;
(titanium dioksida)
sbg batasan utk menempatkan sistem
30
Mekanisme pelepasan zat aktif :
Molekul zat aktif (pilokarpin) terlarut dalam cairan mata, pelepasan dikontrol oleh membran(orde nol) berdifusi pada permukaan kornea absorpsi
Bioavailabilitas sediaan dipengaruhi faktor :
• Adanya cairan lakrimal pada bagian cul-de-sac mengencerkan larutan obat yang ditanamkan pada precorneal, serta aliran masuk dan keluar cairan dapat menyebabkan kehilangan obat secara signifikan
• Substansi yang terdapat dalam cairan mata seperti protein, dapat berinteraksi atau menguraikan obat keika berada pada bagian okuler
• Penyerapan yang produktif/non produktif dari obat yang dioleskan pada berbagai daerah jaringan mata, terutama kornea dan konjungtiva
Modifikasi Sediaan dengan pelepasan terkendali
A. Larutan dengan peningkat viskositas - larutan kental; hidogel
- penambahan hidrokoloid pada larutan air
- pemberian gel ~ salep (kurang nyaman dibanding larutan), dan keberadaan lebih lama - secara farmasetika, tdk ada batasan yang jelas antara larutan sangat pekat dan gel
- polimer yang digunakan; turunan selulosa, karbomer, polisakarida
- perubahan pH, suhu dan bentuk ionik dapat mempengaruhi perubahan bentuk larutan menjadi gel pada saluran konjungtiva
B. Sistem dispersi
- bentuk liposom, nanopartikel, nanokapsul
- isu utama sistem penghantaran adalah mengenai koofisien perlintasan yaitu berapa jumlah zat aktif yang terdapat pada produk akhir, stabilitas dan waktu paruh, toleransi pemakaian, surfaktan dan proses sterilisasi
- teknologinya belum bisa ditetapkan
34
C. Penyisipan (Insert)
- formulasi sudah cukup lama dan establish
- memiliki kelemahan ; - ketidaksesuaian sediaan untuk pasien, terutama usia lanjut karena susah saat disisipkan dan timbulnya sensasi asing dari tubuh
- bentuk implant; pemakaian dengan merobek jaringan mata melalui tindakan operasi Pengembangan :
✓ Bioadhesif Opthalmic Drug Insert (BODI)
✓ Gelfoam ( bentuk gelatin yang mudah diserap); disisipkan pada konjungtiva dalam btk
lempengan tipis yang telah ditanami zat aktif
✓ Novel Ocular Delivery System (NODS)
- insert with handle - mucoadhesif
- intraocular implants
- nanopartikel, liposom, nanokapsul - microemulsion
- sprays
✓ iontophoresis