PERBANDINGAN SISWA YANG DITERIMA BINA LINGKUNGAN DENGAN SISWA REGULER TERHADAP KEBUGARAN JASMANI. (Jurnal) Oleh M.

14 

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN SISWA YANG DITERIMA BINA LINGKUNGAN DENGAN SISWA REGULER TERHADAP KEBUGARAN JASMANI

(Jurnal)

Oleh

M. HAFID ABIDIN DAUD

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2015

(2)

ABSTRACT

The Differences between the Student which Accepted in Community Development Class and Regular Class toward Physical Fitness

by:

Muhammad HafidAbidinDaud

Mentor:

Drs. Ade Jubaedi, M.Pd Heru Sulistianta, S.Pd, M.Or.

The aim of this research is to analyze the differences between the student which accepted in community development class and regular class toward physical fitness in Junior High School 9 Bandar Lampung. To collect the data the writer use

quantitative methodology. The sample are the student in the grade VII and VIII which only take 10 % amount all of the student or 49 from 487 students. In collecting the data for Physical Fitness test, the writer uses the TKJI technique for 13 – 15 years old.

Result of the test showed the student who accepted in community development class lower than in those in regular class. Based on TKJI instrumental tes, in short the percentage for physical fitness in community development reach 20,83 % whereas regular class student reach 56 %.

(3)

ABSTRAK

PERBANDINGAN SISWA YANG DITERIMA BINA LINGKUNGAN DENGAN SISWA REGULER TERHADAP KEBUGARAN JASMANI

Oleh:

M. Hafid Abidin Daud

Pembimbing: Drs. Ade Jubaedi, M.Pd Heru Sulistianta, S.Pd, M.Or

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat kebugaranjasmani siswa bina lingkungan dengan siswa reguler di SMP Negeri 9 Bandar Lampung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi penelitian kuantitatif. Sampelnya yaitu murid kelas VII dan kelas VIII di SMP N 9 Bandar Lampung yang hanya 10% dari total keseluruhan yaitu 49 anak dari 487 murid. Teknik pengambilan data untuk test Kebugaran Jasmani ini menggunakan TKJI untuk usia 13-15 tahun.

Hasil penelitian diketahui bahwa tingkat kebugaran jasmani anak bina lingkungan lebih rendah daripada anak reguler. Pada hasil dari instrument TKJI, kebugaran jasmani kategori bina lingkungan mencapai 20,83 % sedangkan kebugaran jasmani kategori reguler mencapai 56 %.

(4)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan merupakan unsur utama dalam pengembangan manusia Indonesia seutuhnya. Oleh

karenanya, pengelolaan pendidikan harus berorientasi kepada

bagaimana menciptakan perubahan yang lebih baik. Salah satu upaya itu ditempuh dengan menerapkan Kurikulum 2013 yang disusun dengan dilandasi pemikiran tantangan masa depan, yaitu

tantangan abad ke-21 yang ditandai dengan abad ilmu pengetahuan, knowledge-based society dan kompetensi masa depan.Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.( Sumber : Kurinasih, imas. 2014.

Sekolah merupakan salah satu pendidikan formal yang berfungsi untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi anak yang beriman, cerdas, disiplin, terampil, betanggung jawab, bertaqwa, serta sehat jasmani dan rohani. Oleh

karena itu, sekolah dijadikan sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang dalam penyelenggaraan pendidikannya dilakukan secara terorganisir, sistematis, dan berkesinambungan dengan maksud agar tujuan pendidikan nasional itu sendiri dapat tercapai sesuai dengan kurikulum yang sudah ditetapkan pada kurikulum berkarakter kebangsaan.

Program Penerimaan Didik Baru ( PPDB ) di Bandar Lampung tahun 2013 ada tiga jalur, yaitu jalur prestasi akademik dan prestasi calon siswa lainnya, jalur bina

lingkungan, dan jalur penerimaan secara regular. Program Bina Lingkungan adalah program Walikota Bandar Lampung untuk meringankan calon siswa yang kurang mampu agar bisa masuk sekolah negeri tanpa dipungut biaya sedikitpun. Pada jalur penerimaan siswa baru Program Bina

Lingkungan ( Biling ), calon siswa dari keluarga yang kurang mampu mendapatkan kesempatan masuk ke sekolah negeri terdekat lingkungan tempat tinggalnya, dengan kuota siswa baru mencapai 50 persen dari keseluruhan siswa baru di sekolah tersebut.

(http://www.antarasumsel.com/berit a/275521/program-bina-lingkungan-bantu-siswa-kurang-mampu).

Menurut Muhajir (2004 : 2) kebugaran jasmani adalah

(5)

melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap pembebasan fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari) tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Setiap orang

membutuhkan kesegaran jasmani yang baik agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan efektif dan efisien tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Dari permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka perlu dilakukan penelitian yang diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi berbagai pihak yang terkait, terutama berkenaan dengan kebugaran jasmani siswa bina lingkungan dengan siswa reguler pada siswa SMP Negeri 9 Bandar Lampung tahun ajaran2014/2015.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka permasalahan yang dapat diidentifkasi adalah sebagai berikut:

1. Rendahnya kebugaran jasmani pada siswa bina lingkungan di SMP Negeri 9 Bandar Lampung.

2. Rendahnya kebugaran jasmani pada siswa reguler di SMP Negeri 9 Bandar Lampung.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka

penelitian di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Apakah ada perbedaan kebugaran jasmani antara siswa bina

lingkungan dengan siswa reguler di SMP Negeri 9 Bandar Lampung?

Batasan Masalah

Agar penelitian ini tidak meluas, Untuk menghindari salah penafsiran dalam memberi pengertian yang dimaksud dalam judul skripsi, maka penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang dianggap penting, dengan demikian ada kesamaan pendapat dalam memberikan penafsiran.

1. Perbandingan : analogi, ibarat, kesetaraan, kesetimpalan,

komparasi, nisbah, parameter, patokan, pedoman, perbedaan, perimbangan, perpadanan, perpaduan, persamaan, pertimbangan, perumpamaan, proporsi, rasio, skala, tolok ukur. 2. Siswa

Siswa ( terutama pada tingkat Sekolah Menangah Pertama; pelajar). Yang dimaksudkan siswa dalam penelitian ini adalah pelajar yang bersekolah di SMP, terutama siswa SMP Negeri 9 Bandar Lampung.

3. Diterima

Diterima : Dikabulkan, diraih. 4. Bina Lingkungan

Program Bina Lingkungan adalah pemberdayaan kondisi sosial masyarakat. Yang dimaksud

masyarakat disini adalah siswa yang diberi keringanan masuk negeri tanpa tes bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tempat tinggalnya berdekatan dengan lingkungan sekolah negeri

(6)

setempat. ( 2013. Walikota Bandar Lampung, Drs. Herman, H.N. )

5. Reguler

Reguler adalah teratur; mengikuti peraturan; tetap; biasa.

6. Kebugaran Jasamani

Kebugaran jasmani adalah

kemampuan atau kesanggupan fisik seseorang untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari secara efisien dan efektif dalam waktu yang relatif lama tanpa kelelahan yang berarti.

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan masalah penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kebugaran jasmani antara siswa bina lingkungan dengan siswa reguler di SMP Negeri 9 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2014-2015.

Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat antara lain : 1. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan agar dapat mengetahui kebugaran jasmani siswa di SMP Negeri 9 Bandar Lampung.

2. Bagi Mahasiswa Penjaskesrek Menambah wawasan dan

pengetahuan bagi peneliti tentang karya ilmiah untuk dapat

dikembangkan lebih lanjut. 3. Bagi Guru Penjaskesrek Sebagai masukan untuk dijadikan pedoman guru Penjaskesrek SMP Negeri 9 akan pentingnya

kebugaran jasmani pada aktivitas siswa..

.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Kebugaran Jasmani Menurut Muhajir (2004 : 2) kebugaran jasmani adalah

kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap pembebasan fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari) tanpa

menimbulkan kelelahan yang berlebihan.

Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebugaran sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan hidup bugar segala aktivitas yang akan dilakukan bisa terselesaikan dengan baik. Kebugaran dapatmenggambarkan kehidupan seseorang secara harmonis, penuh semangat dan kreatif. Dengan kata lain orang yang bugar adalah orang yang

berpandangan sehat, cerah terhadap kehidupanya baik untuk masa kini maupun masa depan, menjaga harga diri dan memiliki pergaulan dengan sesama manusia.

2. Komponen Kebugaran Jasmani

Dalam usaha pembinaan kebugaran jasmani, maka seseorang guru pendidikan jasmani harus mengetahui dan memahami komponen-komponen kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani terdiri

(7)

dari komponen-komponen sebagai berikut:

Daya tahan paru jantung (cardiorespiratory endurance) a) Kekuatan otot

b) Daya tahan otot c) Fleksibilitas d) Komposisi tubuh e) Kecepatan f) Daya ledak g) Keseimbangan h) Kelincahan i) Koordinasi

3. Komponen Kebugaran Jasmani Menurut Anatomi dan Fisiologi

Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuh orang yang beraktivitas (olahraga) kita terlebih dahulu mengetahui struktur dan fungsi tiap alat dari susunan tubuh manusia dalam kehidupan sehari – hari. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia merupakan dasar yang penting dalam melaksanakan pembinaan gerak.

Dari sejumlah ilmu pengetahuan yang dikemukakan di atas salah satu yang paling erat hubunganya dengan pembinaan olahraga atau latihan terutama untuk mengetahui tingkat kemampuan fisik seseorang

terhadap aktivitas kerja yang dilakukan, yaitu ilmu faal (fisiologi).

Tujuan dari ilmu faal itu sendiri adalah Meningkatkan pemahaman bagaimana fungsi tubuh dan hubungannya dengan aktivitas

jasmani, dan mengembangkan komponen fisik, seperti: kekuatan, daya tahan, kelentukan, kecepatan, keseimbangan, ketepatan, power.

4. Jenis Kebugaran Jasmani

a) Mental fitness adalah kemampuan seseorang untuk mengatasi

permasalahan pada dirinya sendiri maupun orang lain dengan

mengunakan pandangan,

pengetahuan, kecerdasan moral dan semangat kerja yang baik.

b) Emosional fitness adalah adanya rasa tenang dan bebas dari tekanan keluarga maupun lingkungan masyarakat serta mampu menghadapi dan mengatasi permaslahan yang ada.

c) Sosial fitness adalah kemampuan untuk menyesuaikan, menempatkan dan mengabdikan diri dalam

lingkungan keluarga dan masyarakat.

5. Hakekat Latihan Kebugaran Jasmani

Suatu latihan apapun bentuknya, jika dilakukan dengan benar akan memberikan suatu perubahan pada sistem tubuh, baik itu sistem aerobik, hormon maupun sistem otot.

Latihan merupakan aktivitas olahraga yang sistematik dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara progresif dan individual yang mengarah kepada ciri-ciri fungsi psikologis dan fisiologis manusia

(8)

untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Demikian pula Harsono (1988) menjelaskan bahwa latihan adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja yang dilakukan secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau

pekerjannya.

6. Prinsip-Prinsip Latihan Kebugaran Jasmani.

a. Prinsip Beban Lebih (overload) Harsono (1988) menyebutkan bahwa beban yang diberikan kepada anak harus lah ditingkatkan. Kalau beban latihan tidak pernah ditambah maka berapa lamapun dan berapa seringpun anak berlatih, prestasi tak mungkin akan meningkat. Namun demikian, kalau beban latihan terus menerus bertambah tanpa ada peluang-peluang untuk istirahat performanya pun mungkin tidak akan meningkat secara progresif.

b. Prinsip Peningkatan Beban Terus Menerus (progresif)

Menurut Harsono, prinsip progresif adalah penambahan beban dengan memanipulatif intensitas, repetisi dan lama latihan. Penambahan beban dilakukan dengan

meningkatkan beban secara bertahap dalam pogram latihan. Progresif artinya adalah apabila otot lelah menunjukkan gejala kemampuannya meningkat, maka beban ditambah untuk memberi stress baru bagi otot yang bersangkutan.

c. Prinsip Reversibility (kembali asal)

Menurut Harsono (2004: 60) prinsip ini mengatakan bahwa kalau kita berhenti berlatih, tubuh kita akan kembali kekeadaan semula atau kondisinya tidak akan meningkat. Ini berarti jika beban latihan yang sama terus menerus kepada anak maka terjadi penambahan awal dalam kesegaran kesuatu tingkat dan kemudian akan tetap pada tingkat itu. Sekali tubuh telah menyesuaikan terhadap beban latihan tertentu, proses penyesuaian ini terhenti. Sama halnya apabila beban latihan jauh terpisah maka tingkat

kesegaran si anak selalu cenderung kembali ketingkat semula. Hanya perbaikan sedikit atau tidak sama sekali.

d. Prinsip kekhususan

Harsono menyebutkan bahwa manfaat maksimal yang bisa diperoleh dari rangsangan latihan hanya akan terjadi manakala rangsangan tersebut mirip atau merupakan replika dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut. Termasuk dalam hal ini metode dan bentuk latihan kondisi fisiknya.

Kerangka Pikir

Menurut Suharsimi Arikunto,

hipotesis adalah jawaban Kebugaran jasmani adalah kemampuan untuk

(9)

dapat melaksanakan tugas sehari-hari dengan semangat, tanpa rasa lelah yang berlebihan, dan dengan penuh energi melakukan dan menikmati kegiatan pada waktu luang dan dapat menghadapi keadaan darurat bila datang. Dari banyak penelitian, seseorang yang memiliki kebugaran jasmani yang baik maka dalam setiap aktivitasnya tidak akan cepat mengalami

kelelahan, dan kesegaran fisiknya akan cepat pulih setelah melakukan kegiatan.

Dari pengertian kebugaran jasmani dapat disimpulkan beberapa hal mengenai kebugaran jasmani sebagai berikut:

1. Kebugaran Jasmani lebih memusatkan pada kelompok usia tertentu.

2. Siswa tidak mudah mengalami kelelahan.

3. Kebugaran jasmani dapat menunjang siswa untuk turut membantu pada tercapainya tujuan pendidikan.

Karena dengan adanya kebugaran jasmani bisa bermanfaat untuk mencapai tujuan dan pada akhir pembelajaran dapat merasakan manfaat akan apa yang sudah dilakukan. Ada kemungkinan peserta didik belum menyadari pentingnya kebugaran jasmani untuk menyuplai proses kegiatan belajar. Oleh karena itu peranan kebugaran jasmani begitu berarti karena dengan kebugaran jasmani, siswa akan mencapai fisik yang prima.

Sehingga siswa SMP Negeri 9 Bandar Lampung dapat merasakan pentingnya kebugaran jasmani.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.

Pada umumnya tujuan utama penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini metode penelitian deskriptif banyak digunakan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.

Di samping kedua alasan tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik bagi para peneliti muda, karena bentuknya sangat sederhana dengan mudah dipahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks.Walaupun sebenarnya tidak demikian

kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks,

(10)

misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual.

Penemuan makna adalah fokus dari keseluruhan proses yang dilakukan. Penelitian Deskriptif bertujuan untuk:

1. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.

2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.

3. Membuat perbandingan atau evaluasi.

4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk

menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang. Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan perlakukan-perlakukan tertentu terhadap variabel, tetapi semua kegiatan, keadaan, kejadian, aspek komponen atau variabel berjalan apa adanya.

Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang akan menjadi titik perhatian suatu penelitian

(Arikunto).Dalam penelitian ini, variabel penelitiannya yaitu : 1. Variabel X1 yaitu kebugaran jasmani siswa bina lingkungan. 2. Variabel X2 yaitu kebugaran jasmani siswa reguler.

Populasi dan Sampel

1) Populasi Penelitian

memberikan pengertian bahwa, populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.

Menurut Arikunto, populasi adalah

keseluruhan subjek penelitian. Maka populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 9 Bandar

Lampung yang bina lingkungan dan regular sejumlah 487 siswa.

2). Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Dalam penelitian ini, untuk menentukan sampel penulis menggunakan teknik simple random sampling.Teknik ini digunakan dengan cara memilih sampel dimana anggota dari populasi dipilih satu per satu secara random (acak). Semua anggota dari populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk dipilih. Jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 487 siswa yang diterima secara bina lingkungan dan reguler, menurut Suharsimi Arikunto di dalam pengambilan sampel apabila

subyeknya kurang dari 100 diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10% – 15% atau 20% – 25% atau lebih.

(11)

Dalam penelitian ini penulis

menggunakan sampel sebanyak 10% dari jumlah populasi.

= 0,1 X 487 = 48,7 = 49

sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 49 murid.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Deskripsi Data Hasil Temuan

1) Hasil Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Murid Bina Lingkungan SMP Negeri 9 Kategori Putra

Dari hasil test TKJIdapat

disimpulkan: sebanyak 4 sampel (33,33%) memiliki kebugaran jasmani yang berada pada kategori baik, 6 sampel (50%) berada pada kategori sedang, dan 2 sampel (16,67%) berada pada kategori kurang.

2) Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa Murid Lingkungan Kategori Putri

Hasil Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Murid Bina Lingkungan SMP Negeri 9 Kategori Putri Dari hasil test TKJI dapat disimpulkan: sebanyak 1 sampel

(8,33%) memiliki kebugaran jasmani yang berada pada kategori baik, sebanyak 3 sampel (25%) berada pada kategori sedang, sebanyak 2 sampel (16,67%) berada pada kategori

kurang, dan sebanyak 6 sampel (50%) berada pada kategori kurang sekali.

3) Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Murid Reguler SMP Negeri 9 Kategori Putra

Hasil Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa Reguler SMP Negeri 9 Kategori Putra

Dari hasil test TKJI dapat disimpulkan: sebanyak 1 sampel (6,67%) memiliki kebugaran jasmani yang berada pada kategori baik sekali, 11 sampel (73,33%) berada pada kategori baik, dan 3 sampel (20%) berada pada ketegori sedang.

4) Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Murid Reguler SMP Negeri 9 Kategori Putri

Hasil Klasifikasi Tingkat Kebugaran Jasmani Murid Reguler SMP Negeri 9 Kategori Putri

Dari tabel di atas dapat disimpulkan: sebanyak 3 sampel (30%) memiliki kebugaran jasmani yang berada pada kategori baik, 7 sampel (70%) berada pada kategori sedang.

(12)

B. Pembahasan

Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk

meyesuaikan fungsi alat-alat tubuh dalam batas-batas fisiologis terhadap keadaan lingkungan atau kerja fisik dengan cara yang cukup efisien tanpa lelah secara berlebihan. Adapun bentuk kurangnya kebugaran jasmani murid bina lingkungan SMP Negeri 9 Bandar Lampung antara lain sebagai berikut :

- Banyaknya murid bina lingkungan yang kekurangan gizi. - Banyaknya murid bina lingkungan yang pola istirahatnya kurang.

Melihat hal tersebut, menurut Suharjana (2008:14) mengatakan istirahat sangat dibutuhkan bagi tubuh untuk membangun kembali otot-otot setelah latihan sebanyak kebutuhan latihan yang ada di dalam

perangsangan pertumbuan otot. Istirahat yang cukup sangatlah perlu bagi pikiran dangan makanan dan udara. Dalam sehari semalam, waktu yang diperlukan untuk istirahat 7 sampai 8 jam.

Jika dikaitkan dengan siswi yang istirahatnya kurang berdasarkan wawancara, siswi yang mengalami kurang istirahat adalah siswi bina lingkungan kelas 7 SMP. TAA ( 14 tahun ) salah satu siswi kelas 7 bina lingkungan yang kurang istirahat melontarkan :

“Saya merasa kelelahan yang mengakibatkan susah tidur tiap malam, sepulang sekolah saya langsung membantu orang tua untuk berdagang dari jam 4 sore dan kadang-kadang pulang sampai jam 9 malam, bahkan sepulang dari dagang pun saya jarang makan malam” Berbeda dengan TAA, FU salah seorang siswi kelas 7 ( reguler ) yang mengalami istirahat cukup

sebagaimana yang diungkapkan oleh Suharjana bahawa waktu yang diperlukan untuk istirahat 7 sampai 8 jam dalam sehari semalam.

Dalam wawancara, pengakuan dari FU seorang siswi kelas 7 reguler mengungkapkan :

“Saya selalu istirhat jam 9 malam dan biasanya sih kalo ada PR agak lamaan dikit sekitar jam 10. Tapi saya makan selalu teratur dan mama suka ngasih vitamin gitu ke saya”

Seiring dengan pola istirahat dan pola makan murid, ada kecendrungan dan pengaruhnya terhadap kebugaran jasmani antara murid bina lingkungan dengan reguler. Faktor yang

menyebabkan rendahnya kebugaran jasmani murid bina lingkungan adalah faktor dorongan ekonomi, karena dengan dorongan ekonomi membuat murid ikut membantu orang tua bekerja sehingga murid sangat minim waktu untuk beristirahat dan juga kurangnya gizi karena ekonomi yang

(13)

menengah ke bawah untuk membeli makanan yang bergizi serta vitamin.

Dari penjelasan teori Suharjana tentang istirahat dan berdasarkan hasil observasi serta wawancara yang dilakukan, maka penulis

menyimpulkan bahwa murid yang mempunyai kebugaran yang baik adalah murid yang memiliki istirahat yang cukup dan juga pola makan yang teratur serta olahraga yang cukup. Sedangkan murid yang mempunyai tingkat kebugaran jasmani yang kurang adalah murid yang kurang beristirahat serta pola makan yang tidak teratur dan juga kurang olahraga..

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data, mengenai perbandingan tingkat kebugaran jasmani siswa bina lingkungan dengan siswa reguler di SMP Negeri 9 tahun ajaran

2014/2015 yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

a. Kebugaran jasmani murid bina lingkungan lebih rendah daripada murid reguler.

b. Kebugaran jasmani kategori putra ( bina lingkungan ) yang mendapatkan kategori baik menurut instrumen TKJI mencapai 33,33% (4 dari 12 anak)

c. Kebugaran jasmani kategori putra (reguler) yang mendapatkan kategori baik menurut instrumen TKJI

mencapai 73,33% (11 dari 15 anak)

d. Kebugaran jasmani kategori putri (bina lingkungan) yang mendapatkan kategori baik menurut instrumen TKJI mencapai 8,33% (1 dari 12 anak)

e. Kebugaran jasmani kategori putri (reguler) yang mendapatkan kategori baik menurut instrumen TKJI

mencapai 30% (3 dari 10 anak).

Saran

Berdasarkan pada hasil

penelBerdasarkan kesimpulan di atas, maka selanjutnya peneliti mengajukan beberapa saran. Adapun saran tersebut adalah:

• Ditujukan untuk siswi khususnya siswi bina lingkungan SMP Negeri 9 agar bisa meluangkan waktu untuk beristirahat karena kebugaran jasmani sangat penting untuk aktivitas sehari-hari.

• Ditujukan untuk orangtua agar lebih memperhatikan pola makanan dan pola istirahat anaknya supaya anak lebih bugar serta bisa lebih fokus untuk mengemban pendidikan. • Ditujukan untuk peneliti pemula agar tidak menggunakan metode gabungan dalam melakukan

penelitian, karena metode kuantitatif dan kualitatif adalah dua metode yang berbeda kutub, dimana metode

kuantitatif menjawab dari hipotesis dan metode kualitatif menciptakan hipotesis untuk dilakukan penelitian lanjut, sehingga untuk

menggabungkan kedua metode tersebut bukan hal yang mudah.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Harsono. 1988. Coaching Dan

Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching. Jakarta : CV. Tambak Kusuma.

Harsono. (2004). Perencanaan Program Latihan. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

HN, Drs. Herman. 2014. Keputusan Walikota Bandar Lampung Semester Satu Tahun Ajaran 2014/2015. Bandar Lampung : No 400/IV.4d hk/2014

Kurinasih, Imas. 2014. Sukses Mengimplementasikan

Kurikulum 2013. Jakarta : Kata Pena.

Muhajir. 2004: 2. Manfaat melakukan kesegaran jasmani (physical fitnees). Surakarta. UNS Press.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :