P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 1
DAFTAR ISI
Halaman Penjelasan Umum ...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian, Triwulan IV
Tahun 2013 – 2014 ...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia, Triwulan IV
Tahun 2013 – 2014 ...6 Kontribusi PDB Sub Sektor Pertanian Terhadap PDB Sektor Pertanian
Triwulan IV Tahun 2013 – 2014 ...8 PDB Harga Konstan dan Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian
Triwulan IV Tahun 2013 – 2014 ...9 Indeks Implisit dan Tingkat Perubahan Harga Produsen Sektor Pertanian
Triwulan IV Tahun 2012 -2014 ... 11
B u l e t i n P D B S e k t o r P e r t a n i a n diterbitkan 4 (empat) kali dalam
setahun (Triwulanan) oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.
Pengarah : Ir. M. Tassim Billah, MM
Penanggung Jawab : Ir. Dewa N. Cakrabawa, MM
Penyunting : Ir. Sabarella, MSi
Penyusun : 1. Metha Herwulan Ningrum
2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Sri Wahyuningsih, S.Si
4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE
Layout-Publikasi : 1. Heri Dwi Martono
2. Heruwaty
Alamat Redaksi : Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Jl. Harsono RM No. 3
Gedung D Lantai IV Jakarta Selatan 12550, Telp. (021) 7805305, Fax. (021) 7805305,
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 2
PENJELASAN UMUM
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode tertentu adalah data Produk Domestik Bruto (PDB). PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.
Dalam rangka menyediakan data
PDB sektor pertanian serta hasil
analisisnya, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2015 kembali menerbitkan Buletin PDB Sektor Pertanian yang terbit setiap triwulan. Buletin PDB Sektor Pertanian Volume 14 Nomor 1, Pebruari 2015 ini berisi data dan analisis deskriptif PDB sektor pertanian triwulan IV tahun 2013 dan tahun 2014, dan juga triwulan sebelumnya. Data dan informasi yang disajikan dalam buletin ini bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Mulai tahun 2015 BPS telah merilis PDB atas dasar harga konstan tahun 2010 berbasis System of National Accounts (SNA 2008) atau Sistem Neraca Nasional (SNN), yang sebelumnya merupakan PDB harga konstan tahun 2000. Dengan adanya
perubahan tahun dasar tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan konsep dan metode penghitungan diantaranya output pertanian mencakup output saat panen dan nilai hewan serta tumbuhan yang belum menghasilkan dan penggunaan indeks harga produsen (IHP) yang sebelumnya menggunakan indeks harga perdagangan besar (IHPB).
PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan
PDB atas dasar harga konstan
menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.
PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Manfaat yang dapat diperoleh dari data PDB antara lain adalah :
1. PDB harga berlaku nominal
menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu negara. Nilai PDB yang besar menunjukkan sumber daya ekonomi yang besar, begitu juga sebaliknya. 2. PDB harga konstan (riil) dapat
digunakan untuk menunjukkan laju
pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun.
3. Distribusi PDB harga berlaku menurut
sektor menunjukkan struktur
perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam suatu negara.
Sektor-sektor ekonomi yang
mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian suatu negara. Untuk menghitung PDB terdapat tiga
pendekatan yang dapat digunakan, yaitu :
1. Pendekatan Produksi
PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Mulai tahun 2015 penyajian PDB berdasarkan tahun dasar 2010 dengan lapangan usaha dikelompokkan menjadi 17 lapangan usaha (sektor) yang sebelumnya dikelompokkan ke dalam 9 sektor dengan tahun dasar 2000 (Tabel 1.)
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 3 Tabel 1. Perbandingan Lapangan Usaha antara PDB Tahun Dasar 2000 dan PDB Tahun
Dasar 2010.
Tahun Dasar 2000 Tahun Dasar 2010
No Lapangan usaha No Lapangan usaha
1 Pertanian, Peternakan,
Kehutanan dan Perikanan 1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
2 Pertambangan dan
Penggalian 2 Pertambangan dan Penggalian
3 Industri Pengolahan 3 Industri Pengolahan
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 4 Pengadaan Listrik dan Gas
5 Konstruksi 5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang
6 Perdagangan, Hotel dan
Restoran 6 Konstruksi
7 Pengangkutan dan
Komunikasi 7 Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8 Keuangan, Real Estate dan
Jasa Perusahaan 8 Transportasi dan Perdagangan
9 Jasa-jasa termasuk jasa
pelayanan pemerintah 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
10 Informasi dan Komunikasi 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 12 Real Estate
13 Jasa Perusahaan
14 Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
15 Jasa Pendidikan
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 17 Jasa Lainnya
2. Pendekatan Pendapatan
PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah,
bunga modal dan keuntungan;
semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya.
Dalam definisi ini, PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).
3. Pendekatan Pengeluaran
PDB adalah semua komponen
permintaan akhir yang terdiri dari :
pengeluaran konsumsi rumah tangga
dan lembaga swasta nirlaba
pengeluaran konsumsi pemerintah
pembentukan modal tetap domestik
bruto
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 4
ekspor neto (ekspor neto merupakan
ekspor dikurangi impor).
Secara konsep ketiga pendekatan
tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi.
PDB yang disajikan dalam buletin ini menggunakan PDB dengan pendekatan produksi, mengingat sektor pertanian merupakan salah satu lapangan usaha dalam perekonomian Indonesia.
Metode Penghitungan PDB dengan
pendekatan produksi sebagai berikut :
1. PDB Atas Dasar Harga Berlaku
Menghitung nilai tambah seluruh kegiatan ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari masing-masing total nilai produksi (output) tiap-tiap sektor atau subsektor.
Dimana:
Output b,t = Ouput/nilai produksi bruto atas
dasar harga berlaku tahun t NTBb,t = Nilai tambah bruto atas dasar
harga berlaku tahun ke t Produksit = Kuantum produksi tahun ke t
Harga t = Harga produsen tahun ke t
Rasio NTB = Perbandingan NTB terhadap Output (NTB/Ouput)
Rasio NTBt = Rasio NTB pada tahun berjalan
(t)
2. PDB Atas Dasar Harga Konstan
PDB atas dasar harga konstan dihitung menggunakan metode revaluasi, yaitu output diperoleh dari perkalian antara produksi dengan harga tahun dasar. Sedangkan nilai tambah dihasilkan dari output atas dasar harga konstan dikalikan dengan rasio nilai tambah tahun dasar. Atau dengan rumus dapat dijelaskan :
Outputk,t =Produksit x Harga0 NTBk,t =Outputk,t x Rasio NTB0 dimana:
Outputk,t = Output/nilai produksi bruto
atas dasar harga konstan tahun t
NTBk,t = Nilai tambah bruto atas dasar
harga konstan tahun t Harga0 = Harga produksi tahun dasar
Rasio NTB0 = Rasio nilai tambah bruto
terhadap output tahun dasar.
Khusus sub sektor peternakan,
penghitungan produksinya adalah selisih populasi ditambah dengan pemotongan, dengan rumus sebagai berikut :
Produksit = (Populasit – Populasit-1) +
Pemotongant + (Eksport –
Import ) Output
b,t = Produksit x Hargat NTBb,t = Outputb,t – Biaya Antarab,t Atau
NTB
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 5
Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian Triwulan IV
Tahun 2013 – 2014
Perekonomian Indonesia pada tahun
2014 menunjukkan peningkatan
dibandingkan tahun 2013. Hal ini diindikasikan dengan adanya peningkatan pada nilai PDB yang telah dicapai sebesar Rp. 1.017,96 triliun terhadap tahun 2013. Secara nominal PDB Indonesia tahun 2014
mencapai Rp. 10.542,7 triliun yang
merupakan kontribusi dari 17 (tujuh belas) lapangan usaha. Sumbangan dari sektor
pertanian terhadap PDB Indonesia
mencapai Rp. 1.410,66 triliun, sementara
sektor ekonomi lainya secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.
PDB sektor pertanian secara luas (pertanian, kehutanan dan perikanan) mengalami peningkatan nilai tambah bruto dari Rp. 1.275,05 triliun (tahun 2013) menjadi Rp. 1.410.66 triliun (tahun 2014) yang disebabkan oleh peningkatan PDB sub sektor penyusunnya. Begitu juga dengan PDB pertanian sempit (tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, peternakan,
perburuhan & Jasa pertanian) mengalami peningkatan dari Rp. 994,78 triliun tahun 2013 menjadi Rp. 1.088,94 triliun pada tahun 2014.
Pada tahun 2014 sumbangan PDB pertanian terbesar berasal dari sub sektor tanaman perkebunan sebesar Rp. 397,90 triliun, disusul sub sektor tanaman Tanaman Pangan sebesar Rp. 343,95
Tw. IV Total Tw.III Tw. IV Total
1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 290,30 1.275,05 395,26 316,24 1.410,66 a. Pertanian sempit, Perburuhan & Jasa Pertanian 214,28 994,78 312,67 228,96 1.088,94
- Tanaman Pangan 53,06 332,11 97,62 54,14 343,95
- Tanaman Hortikultura 32,48 137,37 42,70 36,29 159,52
- Tanaman Perkebunan 84,04 358,17 123,90 88,44 397,90
- Peternakan 40,27 147,98 42,71 45,72 167,08
- Jasa Pertanian dan Perburuan 4,44 19,14 5,74 4,36 20,50
b. K e h u t a n a n 19,08 69,60 19,39 19,54 74,62 c. P e r i k a n a n 56,95 210,67 63,20 67,75 247,09
2. Pertambangan dan Penggalian 276,70 1.042,98 264,56 248,16 1.035,12
3. Industri Pengolahan 519,22 1.998,69 560,81 572,36 2.215,75
4. Pengadaan Listrik dan Gas 26,49 98,69 27,85 29,17 114,12
5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 1,85 7,15 1,94 1,97 7,70
6. Konstruksi 248,81 905,99 265,32 282,53 1.041,95
7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 327,85 1.263,82 365,14 357,49 1.410,93
8.Transportasi dan Pergudangan 100,60 368,68 116,97 125,13 450,60
9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 76,51 289,50 83,63 86,59 330,67
10. Informasi dan Komunikasi 88,01 341,01 93,08 95,24 368,94
11. Jasa Keuangan dan Asuransi 93,86 368,88 102,09 107,33 408,65
12. Real Estate 68,63 264,28 74,46 77,62 294,57
13. Jasa Perusahaan 37,42 144,60 42,06 43,73 165,99
14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 98,01 371,21 111,46 109,09 404,38
15. Jasa Pendidikan 88,50 309,44 90,73 98,45 346,56
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 27,12 96,67 28,37 29,98 109,07
17. Jasa lainnya 37,33 140,31 41,17 43,97 163,55
NILAI TAMBAH BRUTO ATAS HARGA DASAR 2.407,20 9.286,93 2.664,90 2.625,07 10.279,22
PAJAK DIKURANG SUBSIDI ATAS PRODUK 62,91 237,80 74,57 65,17 263,47
PRODUK DOMESTIK BRUTO 2.470,11 9.524,74 2.739,47 2.690,24 10.542,69 Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sangat sementara **) Angka sangat sangat sementara
Lapangan Usaha 2013
*) 2014**)
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 6 triliun, sub sub sektor peternakan sebesar
Rp. 167,08 triliun, sub sektor tanaman hortikultura sebesar RP. 159,52 triliun, sub sektor jasa pertanian dan perburuan sebesar Rp. 20,50 triliun, demikian pula kondisi tahun 2013 (Gambar 1).
Gambar 1. PDB Pertanian Menurut Harga berlaku, Tahun 2013 - 2014
Pada periode triwulanan, secara nominal total PDB Indonesia triwulan IV tahun 2014 mencapai Rp. 2.690,24 triliun atau turun Rp. 49,23 triliun dibandingkan PDB triwulan sebelumnya. penurunan PDB
tersebut disebabkan oleh adanya
penurunan di empat sektor, sementara
sektor yang lainnya mengalami
peningkatan. Penurunan terbesar terjadi pada sektor pertanian menjadi Rp. 316,24 triliun atau turun Rp. 79,02 triliun dibandingkan triwulan sebelumnya.
Secara umum triwulan IV memang merupakan periode dimana PDB sektor pertanian mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan triwulan lainnya. Hal ini sebagai dampak dari adanya siklus musiman yang ditandai dengan berkurangnya luas panen dan produksi komoditas tanaman pangan,
hortikultura dan tanaman perkebunan yang belum memasuki musim panen.
Total PDB sub sektor tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman
perkebunan, peternakan serta jasa
pertanian dan perburuan (pertanian sempit) pada triwulan IV tahun 2014 adalah sebesar Rp. 228,96 triliun atau turun Rp. 83,71 triliun dibandingkan triwulan sebelumnya, sementara jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (triwulan IV tahun 2013) naik mencapai Rp. 14,68 triliun.
Perkembangan nilai tambah bruto tanpa pengaruh musim dapat diketahui dengan membandingkan PDB triwulan IV tahun 2014 terhadap triwulan IV tahun 2013, dimana penyusun PDB sub sektor pertanian mengalami peningkatan, kecuali sub sektor jasa pertanian dan perburuhan mengalami penurunan (Gambar 2).
Gambar 2. PDB Pertanian Menurut Harga berlaku, Triwulan IV Tahun 2013 - 2014 -20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 Tanaman Pangan Tanaman Hortikultura Tanaman Perkebunan
Peternakan Jasa Pertanian dan Perburuan 53,06 32,48 84,04 40,27 4,44 54,14 36,29 88,44 45,72 4,36 Tw IV 2013 TW IV 2014 -100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 Tanaman Pangan Tanaman Hortikultura Tanaman Perkebunan
Peternakan Jasa Pertanian dan Perburuan 332,11 137,37 358,17 147,98 19,14 343,95 159,52 397,90 167,08 20,50 2013 *) 2014 **)
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 7
Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia, Tahun 2013 - 2014
Peranan setiap lapangan usaha dalam
pembentukan nilai tambah bruto
perekonomian Indonesia selama tahun 2013 - 2014 didominasi oleh 3 (tiga) sektor, yaitu sektor industri pengolahan, sektor pertanian serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor.
Secara kumulatif ketiga sektor
tersebut memberikan kontribusi terhadap total PDB Indonesia pada tahun 2013 sebesar 47,64% dan tahun 2014 sebesar 47,78%.
Pada tahun 2014 PDB Sektor industri
pengolahan memberikan kontribusi
terbesar terhadap PDB Indonesia, yaitu sebesar 21,02%. Peringkat kedua diduduki oleh sektor pertanian serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparsi mobil dan sepeda motor masing-masing memberikan kontribusi sebesar 13,38% terhadap PDB Indonesia.
Begitu juga pada triwulan IV tahun 2014 kontribusi terbesar masih diduduki oleh sektor industri sebesar 21,28%, peringkat kedua diduduki oleh sektor
pertanian sebesar 11,76%, diperingkat ke tiga diduduki oleh sektor perdagangan besar dan eceran, reparsi mobil dan sepeda motor sebesar 13,29% terhadap PDB Indonesia (Tabel 3).
Kontribusi masing-masing sub sektor pertanian terhadap PDB Indonesia tahun
2013 dibandingkan tahun 2014
menunjukan peningkatan pada sub sektor tanaman hortikultura dan peternakan, sementara sub sektor tanaman pangan, perkebunan serta jasa pertanian dan
perburuhan mengalami penurunan
(Gambar 3).
Gambar 3. Kontribusi PDB Sektor Pertanian Triwulan IV Tahun 2013 -2014 -1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 Tanaman Pangan Tanaman Hortikultura Tanaman Perkebunan Peternakan Jasa Pertanian dan Perburuan 2,15 1,31 3,40 1,63 0,18 2,01 1,35 3,29 1,70 0,16 (%) Tw. IV 2013 Tw. IV 2014
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 8
Tw. IV Total Tw.III Tw. IV Total
1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 11,75 13,39 14,43 11,76 13,38 a. Pertanian sempit, Perburuhan & Jasa Pertanian 8,67 10,44 11,41 8,51 10,33
- Tanaman Pangan 2,15 3,49 3,56 2,01 3,26
- Tanaman Hortikultura 1,31 1,44 1,56 1,35 1,51
- Tanaman Perkebunan 3,40 3,76 4,52 3,29 3,77
- Peternakan 1,63 1,55 1,56 1,70 1,58
- Jasa Pertanian dan Perburuan 0,18 0,20 0,21 0,16 0,19 b. K e h u t a n a n 0,77 0,73 0,71 0,73 0,71 c. P e r i k a n a n 2,31 2,21 2,31 2,52 2,34
2. Pertambangan dan Penggalian 11,20 10,95 9,66 9,22 9,82 3. Industri Pengolahan 21,02 20,98 20,47 21,28 21,02
4. Pengadaan Listrik dan Gas 1,07 1,04 1,02 1,08 1,08
5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 0,07 0,08 0,07 0,07 0,07
6. Konstruksi 10,07 9,51 9,69 10,50 9,88
7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 13,27 13,27 13,33 13,29 13,38
8.Transportasi dan Pergudangan 4,07 3,87 4,27 4,65 4,27
9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 3,10 3,04 3,05 3,22 3,14
10. Informasi dan Komunikasi 3,56 3,58 3,40 3,54 3,50
11. Jasa Keuangan dan Asuransi 3,80 3,87 3,73 3,99 3,88
12. Real Estate 2,78 2,77 2,72 2,89 2,79
13. Jasa Perusahaan 1,51 1,52 1,54 1,63 1,57
14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 3,97 3,90 4,07 4,06 3,84
15. Jasa Pendidikan 3,58 3,25 3,31 3,66 3,29
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,10 1,01 1,04 1,11 1,03
17. Jasa lainnya 1,51 1,47 1,50 1,63 1,55 NILAI TAMBAH BRUTO ATAS HARGA DASAR 97,45 97,50 97,28 97,58 97,50
PAJAK DIKURANG SUBSIDI ATAS PRODUK 2,55 2,50 2,72 2,42 2,50
PRODUK DOMESTIK BRUTO 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sangat sementara **) Angka sangat sangat sementara
Lapangan Usaha 2013
*) 2014**)
Tabel 3. Kontribusi PDB Menurut Lapangan Usaha terhadap PDB Indonesia (%), 2013 - 2014
Kontribusi PDB Sub Sektor Pertanian Terhadap PDB Sektor Pertanian , Tahun 2013 - 2014
Pada tahun 2013 - 2014, sub sektor tanaman perkebunan memegang peranan terbesar dalam pembentukan PDB sektor
pertanian dengan kontribusi hingga
mencapai 28,21% terhadap PDB sektor pertanian di tahun 2014. Peringkat kedua ditempati oleh sub sektor tanaman pangan dengan kontribusi sebesar 24,38%, sub sektor perikanan berada di peringkat ketiga dengan kontribusi sebesar 17,52%, sub sektor peternakan memberikan kontribusi sebesar 11,84% di peringkat ke empat, di
peringkat kelima diduduki oleh sektor hortikultura dengan kontribusi sebesar 11,31%, sektor kehutanan menduduki peringkat ke enam dengan kontribusi sebesar 5,29%, sektor jasa pertanian dan perburuhan memberikan kontribusi sebesar 1,45%.
Bila dibandingkan dengan tahun
sebelumnya, kontribusi PDB sektor
pertanian sempit mengalami penurunan yaitu dari 78,02% menjadi 77,19% pada tahun 2014. Kontribusi sub sektor tanaman pangan menurun yaitu dari 26,05% menjadi 24,38%, sub sektor jasa pertanian dan perburuhan turun dari 1,50% menjadi 1,45%.
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 9 Sebaliknya tanaman hortikultura meningkat
dari 10,77% menjadi 11,31%, tanaman Perkebunan meningkat dari 28,09% menjadi 28,21%, sub sektor peternakan meningkat dari 11,61% menjadi 11,84% (Tabel 4).
PDB Harga Konstan dan Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian, Tahun 2013 -2014
Kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2014 berdasarkan tahun dasar 2010
menunjukan peningkatan 5,02%
dibandingkan tahun 2013 atau menjadi Rp. 8.568,12 triliun.
Tw. IV Total Tw.III Tw. IV Total
a. Pertanian sempit, Perburuhan & Jasa Pertanian 73,81 78,02 79,10 72,40 77,19
- Tanaman Pangan 18,28 26,05 24,70 17,12 24,38
- Tanaman Hortikultura 11,19 10,77 10,80 11,48 11,31
- Tanaman Perkebunan 28,95 28,09 31,35 27,97 28,21
- Peternakan 13,87 11,61 10,80 14,46 11,84
- Jasa Pertanian dan Perburuan 1,53 1,50 1,45 1,38 1,45
b. K e h u t a n a n 6,57 5,46 4,91 6,18 5,29
c. P e r i k a n a n 19,62 16,52 15,99 21,42 17,52
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sangat sementara **) Angka sangat sangat sementara
Lapangan Usaha 2013
*) 2014**)
Tabel 4. Kontribusi Sub Sektor Pertanian terhadap PDB Sektor Pertanian (%), 2013 - 2014
Laju Pertumbuh
an
Tw. IV Total Tw.III Tw. IV Total 2014 thd
2013
1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 239,78 1.083,14 317,72 246,42 1.128,45 4,18 a. Pertanian sempit, Perburuhan & Jasa Pertanian 177,72 847,76 254,67 180,86 879,23 3,71
- Tanaman Pangan 41,75 268,27 76,99 40,36 268,92 0,24
- Tanaman Hortikultura 26,30 118,21 33,08 26,98 123,16 4,19
- Tanaman Perkebunan 72,93 319,53 106,44 75,05 338,15 5,83
- Peternakan 33,11 125,30 33,39 34,93 132,12 5,44
- Jasa Pertanian dan Perburuan 3,63 16,45 4,77 3,53 16,88 2,58 b. K e h u t a n a n 15,90 59,23 15,42 15,29 59,57 0,58 c. P e r i k a n a n 46,16 176,15 47,64 50,27 189,64 7,66
2. Pertambangan dan Penggalian 200,94 785,02 197,72 205,41 789,33 0,55 3. Industri Pengolahan 451,93 1.774,10 468,51 471,07 1.856,31 4,63
4. Pengadaan Listrik dan Gas 22,98 88,81 23,40 24,48 93,76 5,57
5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 1,67 6,59 1,71 1,71 6,79 3,05
6. Konstruksi 204,17 772,72 209,38 219,83 826,62 6,97
7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 282,55 1.118,21 302,45 292,32 1.172,36 4,84
8.Transportasi dan Pergudangan 80,15 308,52 85,05 85,88 333,19 8,00
9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 62,49 243,75 64,91 65,53 258,16 5,91
10. Informasi dan Komunikasi 90,32 349,15 97,08 99,38 384,13 10,02
11. Jasa Keuangan dan Asuransi 75,34 306,43 80,15 83,03 321,53 4,93
12. Real Estate 62,08 244,24 64,57 65,38 256,44 5,00
13. Jasa Perusahaan 32,16 125,49 34,83 35,27 137,80 9,81
14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 74,36 288,96 75,51 79,46 296,15 2,49
15. Jasa Pendidikan 69,82 251,78 66,74 74,80 267,63 6,29
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 23,20 84,52 23,20 24,62 91,29 8,01
17. Jasa lainnya 31,84 123,09 33,85 34,51 134,07 8,92 NILAI TAMBAH BRUTO ATAS HARGA DASAR 2.005,79 7.954,51 2.146,79 2.109,08 8.353,99 5,02
PAJAK DIKURANG SUBSIDI ATAS PRODUK 52,47 203,68 60,08 52,38 214,13 5,13
PRODUK DOMESTIK BRUTO 2.058,25 8.158,19 2.206,87 2.161,46 8.568,12 5,02
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sangat sementara **) Angka sangat sangat sementara
Lapangan Usaha 2013
*)
2014**) Tabel 5. PDB Atas Dasar Harga Konstan tahun 2010 (Triliun Rupiah), 2013 - 2014
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 10 (4,00) (3,00) (2,00) (1,00) -1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 Tanaman Pangan Tanaman Hortikultura Tanaman Perkebunan Peternakan Jasa Pertanian dan Perburuan (3,31) 2,57 2,91 5,49 (2,85) (%)
Peningkatan terbesar terjadi pada sektor informasi dan komunikasi sebesar 10,02% dan untuk sektor pertanian meningkat sebesar sektor pertanian meningkat sebesar 4,18% yaitu dari Rp. 1.083,14 triliun pada tahun 2013 menjadi Rp. 1.128,45 triliun, demikian PDB pertanian sempit meningkat 3,71% yaitu dari Rp. 847,76 triliun tahun 2013 menjadi Rp. 879,23 triliun tahun 2014.
Peningkatan kinerja tersebut terjadi pada sub sektor tanaman pangan
meningkat dari Rp. 268,27 triliun menjadi Rp. 268,92 triliun pada tahun 2014 atau
setara dengan pertumbuhan positif
sebesar 0,24% (Tabel 5).
Begitu juga dengan sub sektor hortikultura dari Rp. 118,21 triliun naik menjadi Rp. 123,16 triliun atau naik sebesar 4,19%, sub sektor perkebunan mengalami peningkatan dari Rp. 319,53 triliun naik menjadi Rp. 338,15 triliun pada
tahun 2014 atau setara dengan
pertumbuhan positif sebesar 5,83%.
Gambar 4. Laju Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian,
Triwulan IV terhadap Triwulan III 2014 Gambar 5. Laju Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian, Triwulan IV 2014 terhadap 2013
Demikian pula dengan sub sektor
peternakan mengalami peningkatan dari Rp. 125,30 triliun menjadi Rp. 132,12 triliun atau mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,44% pada tahun 2014, sektor jasa pertanian dan perburuhan pada tahun 2013 sebesar Rp. 16,45 triliun naik menjadi Rp. 16.88 triliun pada tahun 2014.
Sementara itu bila dibandingkan triwulan III tahun 2014, PDB pertanian sempit triwulan IV mengalami penurunan
sebesar 28,98%, demikian pula
pertumbuhan sub sektor pendukungnya mengalami penurunan, dengan penurunan terbesar pada sub sektor tanaman pangan mencapai 47,58%, sebaliknya sub sektor peternakan mengalami peningktan sebesar 4,63% (Gambar 4).
Perkembangan kinerja perekonomian Indonesia tanpa pengaruh faktor musim dapat diketahui dengan membandingkan nilai PDB triwulan IV tahun 2014 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya.
(50,00) (40,00) (30,00) (20,00) (10,00) -10,00 Tanaman Pangan Tanaman Hortikultura Tanaman Perkebunan
Peternakan Jasa Pertanian dan Perburuan (47,58) (18,45) (29,49) 4,63 (25,92) (%)
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 11 Jika dibandingkan triwulan IV tahun 2013,
PDB Indonesia meningkat 5,01% dari Rp. 2.058,25 triliun menjadi Rp. 2.161,46 triliun. Demikian halnya PDB pertanian sempit tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 1,76%, yang didukung oleh peningkatan sub sektor peternakan sebesar 5,49%, sub sektor tanaman perkebunan sebesar 2,91% dan sub sektor hortikultura sebesar 2,57%, sebaliknya sub sektor tanaman pangan mengalami penuruan sebesar 3,31% serta jasa pertanian dan perburuan sebesar 2,85% (Gambar 5).
Indeks Implisit dan Tingkat
Perubahan Harga Produsen Sektor Pertanian Tahun 2013 - 2014
Indeks harga dapat diturunkan dari perhitungan PDB yang disebut sebagai PDB deflator atau indeks implisit. Indeks implisit diperoleh dari perbandingan antara PDB
atas dasar harga berlaku dan PDB atas dasar harga konstan. Berbeda dengan Indeks Harga Konsumen (IHK), indeks implisit menggambarkan perubahan harga di tingkat produsen.
Harga yang dicakup dalam indeks implisit relatif lebih lengkap karena memperhitungkan harga barang dan jasa. Pertumbuhan indeks implisit terhadap
periode sebelumnya merupakan
inflasi/deflasi harga produsen setiap sektor/sub sektor pada periode yang bersangkutan.
Periode tahun 2013 sampai dengan tahun 2014, indeks implisit sektor pertanian cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa di sektor pertanian
dibandingkan tahun dasar 2010
(Gambar 6).
Gambar 6. Perkembangan Indeks Implisit Sektor Pertanian, tahun 2013 -2014
90,00 100,00 110,00 120,00 130,00 140,00 I II III IV I II III IV 2013*) 2014**) (%)
Pertanian Luas Pertanian sempit Tanaman Pangan Tanaman Hortikultura Tanaman Perkebunan Peternakan
P u s a t D a t a d a n S i s t e m I n f o r m a s i P e r t a n i a n 12 Indeks implisit sektor pertanian luas
tahun 2014 sebesar 125,01 artinya kenaikan harga barang dan jasa di sektor pertanian mencapai 25,01% dibandingkan tahun dasar 2010. Dengan indeks implisit tersebut sektor pertanian mengalami inflasi sebesar 6,19 terhadap tahun 2013. Sementara pertanian sempit mengalami inflasi sebesar 5,21% pada tahun 2014.
Pada sektor pertanian sempit indeks implisit terbesar terjadi pada sektor hortikultura mempunyai indeks implisit sebesar 129,52 atau mengalami kenaikan sebesar 29,52 terhadap tahun dasar 2010 dengan laju inflasi sebesar 4,63%, sektor
tanaman pangan mempunyai indeks implisit sebesar 127,90 atau mengalami kenaikan sebesar 27,90 terhadap tahun dasar 2010 dengan laju inflasi sebesar 9,00%, sektor peternakan mempunyai indeks implisit sebesar 126,46 dengan laju inflasi terbesar mencapai 12,81%, sektor jasa pertanian dan perburuan mempunyai indeks implisit sebesar 121,46 dengan laju inflasi sebesar 2,85%.
Sedangkan indeks implisit terendah terjadi pada sektor perkebunan sebesar 117,67 dengan inflasi sebesar 1,25% (Tabel 6). (MHN)
Tabel 6. Indeks Implisit dan Tingkat Perubahan Harga Produsen (2010=100), 2013 - 2014
Tw.III Tw. IV Total
a. Pertanian sempit, Perburuhan & Jasa Pertanian 117,72 122,78 126,60 123,85 3,11 5,21
- Tanaman Pangan 117,34 126,79 134,14 127,90 5,80 9,00
- Tanaman Hortikultura 123,80 129,07 134,53 129,52 4,23 4,63
- Tanaman Perkebunan 116,21 116,41 117,83 117,67 1,22 1,25
- Peternakan 112,09 127,92 130,87 126,46 2,31 12,81
- Jasa Pertanian dan Perburuan 118,10 120,42 123,61 121,46 2,65 2,85 b. K e h u t a n a n 116,35 125,75 127,76 125,25 1,60 7,65 c. P e r i k a n a n 117,51 132,67 134,77 130,29 1,58 10,88
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 117,72 124,40 128,34 125,01 3,16 6,19
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sangat sementara **) Angka sangat sangat sementara
Lapangan Usaha 2014**)
Inflasi/Deflasi Indeks Implisit