• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik."

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM

NONSISTEMATIK

NASKAH PUBLIKASI

Oleh:

SAEPUL ROCHMAN NIM: C. 100 040 219

FAKULTAS HUKUM

(2)
(3)

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Saepul rochman

NIM : C.100 040 219

Alamat : Panyaweuyan, Ds. Sukamulya, Kec. Pangatikan,

Kab. Garut.

Dengan ini menyatakan bahwa:

1. Karya tulis saya, skripsi/jurnal ini adalah orisinal dan belum pernah

diajukan untuk memperoleh gelar akademik Strata 1 baik di

Universitas Muhammadiyah Surakarta maupun di perguruan tinggi

lain.

2. Bahwa benar skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dibawah

arahan pembimbing I a/n. Prof. Dr. Absori., SH., M., Hum dan

pembimbing II a/n Kelik Wardiono., SH., M. H., Cdr

3. Bahwa dalam skripsi/jurnal ini tidak terdapat karya, pendapat yang

telah ditulis, dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan

jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dan semua sumber

baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian

hari dibuktikan bahwa skripsi/jurnal ini disusun dengan tindakan

plagiarisme, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pembatalan gelar akademik yang telah saya peroleh, serta sanksi lainnya

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah

Surakarta.

Surakarta, 30 Juli 2014 Yang membuat pernyataan,

(4)

SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Bismillahirrahmanirrohim

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya;

Nama : Saepul Rochman

NIM : C 100 040 219

Fakultas/Jurusan : Hukum/ Ilmu Hukum

Jenis : Skripsi

Judul : Paradigma Profetik Dalam Ilmu Hukum: Kritik

Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Nonsistematik

Dengan ini menyatakan bahwa saya memberikan hak-hak terhadap perpustakaan UMS, kecuali hal-hal yang disebutkan sebaliknya:

1. Bahwa saya memberikan hak menyimpan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database) untuk kepentingan pengarsipan dan akademis perpustakaan UMS;

2. Bahwa saya tidak mengizinkan jurnal ini ditampilkan dalam bentuk apapun, karena penulis telah memiliki kesepakatan dengan pihak pimpinan UMS untuk menerbitkan di media lain.

3. Bahwa saya bersedia menjamin dan bertanggungjawab secara pribadi tanpa melibatkan pihak perpustakaan UMS dari semua tuntutan hukum yang timbul apabila dikemudian hari penelitian ini diklaim oleh orang lain telah melakukan pelanggaran hak cipta dalam karya ilmiah ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Surakarta, 24 Desember 2014

Yang Menyatakan

(5)

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM

NONSISTEMATIK

Oleh: Saepul Rochman (NIM C. 100 040 219)

Abstrak

Pergeseran paradigma merupakan peluang dialog, itulah yang menjadi acuan diskursus hukum dan sains sebagaimana diperkenalkan oleh hukum nonsistematik yang mendasarkan pada consilience, teori chaos, dekontruksi, gerak transubstansial dan relasi gradasi sebagai dalil-dalil penyangganya. Pondasi kefilsafatan ini memahami pancasila sebagai norma dasar yang terbuka untuk memunculkan perlunya pluralisme hukum. Di bagian dunia yang lain, revolusi pengetahuan juga dimaknai sebagai peluang untuk menambatkan kembali wahyu dan ilmu pengetahuan. Selain islamisasi ilmu, salah satu gagasan yang muncul lebih lanjut dari pusaran gelombang posmodernisme itu adalah paradigma profetik. Tulisan ini mengkritisi asumsi-asumsi dasar dari nonsistematik dengan mendasarkan perspektif profetik.

(6)

PROPHETICS PARADIGM IN THE LEGAL SCIENCE: A CRITIQUE FOR THE BASIC ASSUMPTIONS OF

NONSISTEMATICS LEGAL THEORY

by:

Saepul Rochman (NIM C. 100 040 219)

Abstract

Shifting paradigm is a chance for dialog, that is a reference of the discourse between law and science, that introduced by non-sistematics legal theory. Based to consilience, chaos theory, decontruction, trans-substantial motion and gradationally relation as supreme arguments. The Fundamental philosophy take in pancasila as inclusive grundnorm to afford an emergence of legal pluralism. In the otherside, scientific revolution can interpreted to dediferenciation between revelation and science. Like islamization of Knowledge, the other perspective that appear from the next wave of posmodernism is prophetics paradigm. This paperwork is a critique for nonsistematic’s basic assumptions from Prophetic side.

(7)

1 PENDAHULUAN

Perubahan paradigma dalam pandangan Kuhn adalah perubahan cara

memandang suatu persoalan.1 Meskipun ini menuai kritik dari Feyerabend yang

dalam Paul H. Huene menyatakan bahwa apa yang ditulis Kuhn bukan sekedar

sejarah, namun juga “it is ideology covered up as history”.2 Pandangan dunia

ilmiah yang semula berbasis sains kaku Cartesian-Newtonian mempengaruhi

positivisme sosial Comte dan selanjutnya konstruksi hukum positivistik.3

Pandangan ini pada gilirannya mulai dipersoalkan melalui teori relativitas Einstein

hingga teori Chaos yang diperkenalkan Edward Lorenz.4

Kritik yang berlandaskan teori chaos ini dilakukan oleh Charles Sampford

melaluiteori “Theories of Legal Disorder”.5 Di Indonesia pandangan

keotik

(chaos) ini diperkenalkan oleh Satjipto Rahardjo6yang kemudian digunakan oleh Anthon F. Susanto dalam membangun ilmu ilmu hukum non-sistematik. Seperti

pendahulunya Susanto mempercayai keruntuhan positivisme hukum adalah

niscaya sebab runtuhnya basis ilmiah Cartesian-Newtonian.7 Pergeseran sains

memunculkan gelombang susulan, termasuk pada ilmu hukum yaitu; dari

positivistik ke normatif dan selanjutnya nonsistematik yang disebabkan adanya

1 Heddy Shri Ahimsa-Putra, Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya, Sketsa Beberapa

Episode, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada Pada tanggal 10 November 2008 di Yogyakarta, hal. 5.

2 Feyerabend dalam Paul Hoyingen Huene, Two Letters of Paul Feyerabend to Thomas S. Kuhn on a Draft of

The Structure of Scientific Revolutions, Journal Pergamon History and Philosophy Vol. 26, Elsevier Science ltd, Great Britain, 1995, hal. 353-387.

3Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, (Jakarta :Gramedia), 2008, hal. 26.

4 Hokky Situngkir, Menyambut Fajar Menyingsing Teori Sosial Berbasis Kompleksitas, Makalah Diskusi

yang diadakan atas Kerjasama Bandung Fe Institute (BFI) dengan Center for Strategies and International Studies (CSIS), Jakarta, 5 Juni 2003, hal. 3-4.

5 Ricardo Samarmata, Penggunaan Socio-Legal dan Gerakan Pembaharuan Hukum, Jurnal Digest Law,

Society and Development, Volume. 1 (Desember 2006- Maret 2007), hal. 1-6.

6Agus Raharjo, Hukum dan Dilema Pencitraannya: Transisi Paradigmatis Ilmu Hukum dalam Teori dan

Praktek, Jurnal Hukum Pro Justitia, (Januari 2006), Volume. 24. No. 1, hal. 151

7 Anthon F. Sutanto, Ilmu Hukum Non-Sistematik: Pondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia,

(8)

2

perkembangan sains. Pembahasan ini menarik dilihat dari kemunculannya yang

erat kaitannya dengan posmodernisme hukum.8 Kondisi yang disemarakkan

dengan relativisme bahkan nihilistik dalam posmodernisme, membuka ruang

untuk suatu transisi antara teori hukum yang dikukuhi pada era modern.

Berdasarkan fokus studi yang demikian, maka yang menjadi pokok

masalah adalah: (1) Bagaimanakah asumsi-asumsi dasar ilmu hukum

non-sistematik yang dikemukakan oleh Anthon F. Susanto? (2) Bagaimanakah

asumsi-asumsi dasar paradigma profetik dalam ilmu hukum? (3) Kritik terhadap ilmu

hukum non-sistematik yang dikemukakan oleh Anthon F. Susanto, bila dilihat dari

asumsi-asumsi dasar paradigma profetik? Dengan mendasarkan pada pendekatan

filosofis, penelitian ini melakukan eksplorasi, deskripsi dan refleksi kritis.

Data-data tersebut kemudian akan dianalisis dengan cara sebagai berikut: (1) Analisis

Deskriptif, (2) Interpretasi dan hermeneutik yang oleh metode analisis dalam

perspekstif Islamic Worldview, yakni Tashwir dan Ta’sil. (3) Heureustik.9

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Ilmu Hukum Nonsistematik: Sebuah Acuan Awal Memahami Kajian

Menurut paradigma nonsistematik realitas tergradasi menjadi tiga bagian,

sebagiannya terlahir dari ide (realitas simbolis) dan alam inderawi (realitas

materil), sementara sebagiannya lagi diciptakan melalui rekayasa teknologi, yang

8 Muh.Hanif, Studi Media Dan Budaya Populer Dalam Perspektif Modernisme dan Postmodernisme, Jurnal

Komunika, Vol.5 No.2 (Juli - Desember 2011), hal. 238-239.

9 Kelik Wardiono, Paradigma Profetik Dalam Ilmu Hukum, Sebagai Pembaharuan Basis Epistemologi Dari

(9)

3

disebut Buadrillard dan Umberto Eco sebagai hypereality.10 Konsekuensi dari adanya dunia hiperrealitas ini adalah pergeseran terhadap norma, nilai, dan iman.

Norma hukum tertulis akan mengalami dialektika, sebaliknya hukum tidak tertulis

dan hukum adat yang tidak mengandalkan pengadilan akan mengambil peran. Hal

ini dipahami dengan pendekatan chaos bahwa relasi kekuasaan yang timpang merupakan esensi ketidakteraturan.11

Demikian juga teks terdapat tiga bagian; makna konsensus minimal,

makna simbolik dan makna plural yang tak tertafsir. Kebenaran makna merupakan

berbagai penafsiran yang terbuka atas keragaman dan perbedaannya.Realitas teks

yang bersifat menyebar, konstruktif, dinamis dan transgresif ini hanya dapat

dipahami melalui dekonstruksi.12 Pijakan dekontruksi adalah

keraguan-ketidakpastian yang berarti bahwa pengambilan keputusan, harus melibatkan

sebuah lompatan diantara persiapan yang telah ada sebelumnya.13

Pada ranah filsafat hukum, teori hukum dan ilmu hukum serta ilmu-ilmu

lainnya, relasi gradasi Huston Smith dan Consilience Edward O. Wilson serta gerak transubstansial adalah penghubung kesenjangan antar ilmu dan peneliti

terhadap objek yang ditelitinya.14 Dari sini, hukum dipahami sebagai jaringan

10Dunia yang melampaui batas-batas realitas yang ada, suatu citraan yang terakumulasi, yang menumpang

pada realitas nyata, tetapi tidak mengambil alih realitas itu.Anthon F. Sutanto dan Otje Salman, 2009, Teori Hukum Mengingat, Mengumpulkan, dan Membuka Kembali, (Bandung: PT. Refika Aditama), hal. 27-30.

11Anthon F. Susanto, Ilmu Hukum Non-Sistematik, Op.Cit, hal. 277-281.

12Anthon dan Otje Salman, Teori Hukum: Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Iman Taufik,

(Bandung: PT. Refika Aditama), 2007, hal. 127, 128 dan 227.

13Anthon F. Susanto, 2007. Hukum dari Consilience Menuju Paradigma Hukum Konstruktif-Transgresif,

(Bandung: PT. Refika Aditama), hal. 127-128.

14Anthon F. Sutanto, Ilmu Hukum Non-Sistematik: Pondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia,

(10)

4

yang memiliki posisi sederajat dengan disiplin lain. Hukum dapat bekerjasama

dengan ilmu-ilmu lain untuk menyelesaikan permasalahan lintas disiplin.15

Pada aspek asumsi tentang manusia (homo asymethricus), ilmu hukum non-sistematis mempercayai bahwa manusia memiliki potensi alamiah di dalam

otak, yang dikenal dengan IESQ.16 Dengan potensi tersebut, homo asymetrichus

memiliki keberanian dan motif-motif yang khas,17 antara lain: (1) Motif

dekonstruksi; (2) Motif relativitas; (3) Motif revolusioner; dan, (4) Motif kosmopolitann. Juga memiliki integritas yang antara lain: (1) Mengurangi jarak

dengan apa yang ditelitinya; (2) melebur dengan objek; (3) harus berusaha untuk

terikat dan intim; (4) Terlibat dalam proses penciptaan kebenaran; (5) mengalami

secara murni; (6) Memiliki kesabaran;dan, (7) Memiliki kemampuan untuk

menerima keragaman.18

Terakhir, pada ranah aksiologis, paradigma non-sistematik

mendekonstruksi Pancasila sebagai fondasi pengembangan ilmu hukum di

Indonesia.19 Melalui proses dekontruksi dan pembacaan relasi gradasi,20 nilai-nilai

pancasila tidak lagi sebagai sesuatu yang tertutup melainkan terbuka untuk

dimaknai.21 Dari sini lahirlah gagasan tentang makna keadilan asimetris yang

diturunkan dari sila ke-5 tentang keadilan sosial. Berbeda dengan “keadilan yang

15Anthon dan Otje Salman, Teori Hukum: Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Op. Cit, hal.

9-12

16Ary Ginanjar Agustian, ESQ Emostional Spiritual Quotinet: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan

Emosi dan Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta: Penerbit Arga), 2001, hal. 57.

17Anthon F. Susanto, Hukum dari Consilience Menuju Paradigma Konstruktif Transgresif, Op.Cit, hal.

103-104.

18Motif-motif dan integritas homo asymethricus ini diderivasi dari terdapat Prinsip-prinsip transformatif motif

dan perilaku manusia (Sistem adaptif kompleks dalam pandangan sains), yang kemudian diturunkan dalam diri manusia (sifat adaptif kompleks yang cerdas pada manusia). Lihat, Danah Zoihar dan Ian Marshal, Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, terj. Helmi Mustofa, (Bandung: PT. Mizan Pustaka), 2005, hal.208-212.

19Ibid, hal. 301.

20Otje Salman dan Anthon F. Sutanto, Teori Hukum, Op.Cit, hal. 158-159.

21Anthon F. Susanto, Ilmu Hukum Non-Sistematik: Pondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia,

(11)

5

diberlakukan” dalam ilmu hukum positivistik, keadilan yang dimaksud adalah

“keadilan melalui proses penafsiran”,22 karena sederhana saja, tidak ada orang

yang mampu merasakan keadilan sejati.23 Keadilan asimetrik ditegakkan baik

melalui pengadilan atau non-pengadilan dengan kriteria adanya perbedaan pada

setiap hasil penafsiran atau putusan hukum, dan bersifat pluralitas, multikultural

dan luas.24

Paradigma Profetik Dalam Ilmu Hukum: Sebuah Rekonstruksi

Dalam paradigma profetik, mengenal Tuhan dan wahyu merupakan unsur

penting dalam menjelaskan realitas.Wahyu yang terkategorisasi menjadi

ilmu-ilmu alam(hukum alam) dan teologi, di luar dua hal ini adalah ilmu-ilmu-ilmu-ilmu

humaniora (makna, kesadaran dan nilai)25 Dalam tinjauan ilmu-ilmu sosial

profetik, kandungan Al-Quran terbagi menjadi dua bagian.Bagian pertama berisi

konsep-konsep doktrin Islam dan welthanchuung dengan konsep-konsep ini kita diperkenalkan ideal-type. Sementara bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan

archetype dapat dilakukan perenungan untuk memperoleh hikmah, Karenanya melalui pendekatan sintetik-analitik dapat dikembangkan perspektif etik dan

moral individual, dan memposisikan wahyu sebagai data.26

22Kata pemberlakuan, dalam bahasa Jerman diistilahkan dengan Inkraftsetzen yaitu menetapkan (setzen) suatu

kekuatan (kraft) telah menyiratkan kekerasan. Demikian juga dapat dilihat dalam pandangan Derrida

mengenai apa yang disebut Hardiman sebagai “rahasia hukum”, atau relasi keadilan dengan kekerasan. Lihat, F. Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris: Deskripsi, Kritik dan Dekonstruksi, (Yogyakarta: Kanisius), 2007, hal. 239-240

23Anthon F. Sutanto, Keraguan dan Keadilan dalam Hukum, Sebuah Pembacaan Dekonstruktif, Loc. Cit, hal.

23.

24Loc.Cit, hal. 290.

25Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, Teraju (PT. Mizan Publika),

Jakarta, 2004, hal. 27.

(12)

6

Realitas menurut paradigma profetik dipahami melalui basis sains

integralisme yang melihat segala sesuatu dari partikel fundamental hingga alam

semesta membentuk sebuah hierarki,27 termasuk juga alam akhirat dan Tuhan

(metakosmos) sebagai penghujung jenjang material.28 Manusia sebagai bagian

dari semesta yang integralistik ini tidak hanya dilahirkan untuk dunia namun juga

untuk langit dan akhirat (homo-propheticus).29 Dalam hubungannya manusia dengan alam dan Tuhan, terdapat empat relasi antara Tuhan dan manusia, yaitu;

relasi ontologis (penciptamakhluk), relasi komunikatif, relasi status (Tuan

-hamba), dan relasi etis (sifat Tuhan yang lembut dan keras lintas syukur dan

takut).30 Relasi-relasi ini membawa konsekuensi akan adanya struktur ontologi

yang integral,31 sifat asal dari ciptaan, prinsip ekualitas manusia dan alam semesta

mematuhi hukum alam, amanah, dan visi etis tertentu.32 Dengan demikian,

terdapat empat hal yang harus dimiliki dalam benak subjek hukum, yaitu tentang

konsep umat terbaik, aktivisme sejarah, transendensi dan liberasi.33

Tugas manusia adalah mengimplementasikan wahyu dengan cara

membebaskan dari beban historis yang dibawanya dalam memperoleh makna

kekinian dan kedisinian.34 Yakni melalui kesepaduan kesadaran Senses,

27Ibid, hal. 62.

28Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami

(Bandung, Mizan, 2004), hal. xxxvii

29Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, (Jakarta: PT. Grasindo), 2007,hal. 43, 47, 48 dan 51. 30Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik Terhadap Al-Quran, Terj. Agus Fahri

Husein, Supriyanto Abdullah dan Amirudin, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana), 2003, hal. 10, 15, 104, 105 dan 106.

31Ahzami Samiun Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Quran, terj. Sari Nuralita, (Jakarta: Gema Insani

Press), 2006, hal. 35.

32Agus Iswanto, Relasi manusia Dengan Lingkungan dalam Al-Quran: Upaya Membangun Eco-Theology,

Jurnal Suhuf, Vol. 6, No. 1, 2013, hal. 13-14.

33Hasnan Bachtiar, Profetisme, Muhammadiyah dan Gelombang Besar Globalisasi: Suatu Tinjauan

Transformasi Sosial, The Centre for Religious and Social Studies, Malang, Volume 15 Nomor 1 (Juni 2012,) hal. 25-27.

34Nor Huda, Islam Nusantara; Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia . (Yogyakarta; Ar Ruzz Media

(13)

7

Inspiration (Intuition), Ratio dan Revelation (SIRR) yang bersifat seketika, bersamaan dan menyeluruh, Iqbal menyebutnya sebagai intelek induktif.35

Mentransendensikan makna tidak berarti membiarkan lompatan makna

berhamburan ke segala penjuru dan arah. Tetapi dipandu dengan wahyu,

kesadaran pradisposisi (fitrah), inspirasi36 atau ilham,37 hati,38 jantung,39 praanggapan metafisik,40 dan khusus untuk para nabi adalah wahyu.

Dengan menyetujui adanya inspirasi yang melibatkan faktor Tuhan, maka

ilmu tidak hanya didapatkan melalui proses rasionalisasi, melainkan juga melalui

wahyu dan hidayah, adanya norma mutlak yang tidak berasal dari manusia.41

Pada asumsi aksiologis, secara fundamental pancasila merupakan hasil

dari objektifikasi bangsa. Penyimpangan terhadap pancasila akibat pemahaman

penguasa terhadap kekuasaan sebagai pemilik (ambaudendha) bukan pemegang amanah (ambaureksa) Makna pancasila menurut paradigma profetik antara lain: (1) pluralisme positif; (2) kebebasan yang beradab; (3) demokrasi budaya; (4)

negara obyektif; dan (5) nasionalisme sosiologis.42 Dari makna pluralisme positif,

kebebasan yang beradab dan demokrasi budaya menderivasikan keadilan hukum

35Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, alih bahasa: Ali Audah, Taufiq Ismail, dan

Gunawan Muhammad, (Yogyakarta: Jalasutra), 1982, hal. 148.

36William C. Chittick,Dunia Imajinal Ibnu ‘Arabi: Kreativitas dan Persoalan Diversitas Agama,

diterjemahkan oleh Ahmad Syahid dari judul aslinya “Imaginal Worlds; Ibn ‘arabi and The Problem of Religious Diversity”, (Surabaya: Risalah Gusti), 2001, hal.92

37Heddy Heddy Shri Ahimsa Putra, 2011, Paradigma Profetik: Mungkinkah? Perlukah?, Makalah

disampaikan dalam “Sarasehan Profetik 2011”, diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM, di Yogyakarta, 10 Februari 2011, hal. 31-44.

38Para tokoh yang menganggap bahwa faktor hati ini juga penting adalah William Shakespeare, Francis

Bacon, J.W.N Sulivan dan Blaise Pascal Lihat, Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sistem Islam, (Jakarta: Gema Insani Press), 2004, hal.22.

39Marios Loukas, Yousuf Saad, R. Shane Tubbs, dan Mohammadali M. Shoja, The Heart and Cardiovascular

system in Quran and Hadeeth, International Journal of Cardiology 140, 2010, hal. 21

40 Maimun Syamsuddin, Integrasi Multidimensi Agama dan Sains: Analisis Sains Islam Al-Attas dan Mehdi

Golshani, (Yogyakarta: IRCISOD), 2012,hal. 308-311.

41 Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, (Bandung: Mizan), 1995,.Hal. 31.

42Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, Ed. Mukhaer Pakkana, (Jakarta: PT. Kompas Media

(14)

8

profetik yang bersifat intersubjektif. Hukum dirumuskan dan berlaku untuk

masing-masing kelompok masyarakat43

Paradigma profetik tidak berhenti pada pluralisme hukum yang

menghargai perbedaan sebagai suatu konstruksi sosial, akan tetapi juga

mendorong integralisasi hukum, yang disandarkan pada interobjektifitas

norma-norma dan dihasilkan melalui pengalaman batin agama dan identitas kebudayaan.

Makna ini dapat disebut dengan keadilan interobjektif yang diejawantahkan dari

makna negara objektif44 dan objektifisme sains. Cara yang perlukan adalah

menjadikan wahyu sebagai teori umum (grand theory) yang harus diturunkan ke tahapan teoritis hingga praksis: teologi, filsafat sosial, teori sosial, dan perubahan

sosial.45

Kritik Terhadap Asumsi Dasar Ilmu Hukum Nonsistematik

Paradigma nonsistematik tidak sepenuhnya menghapuscara pandang

keraguan Cartesian, bahkan masih terbawa sebagai kenang-kenangan, meskipun

dengan tujuan berbeda; keraguan-ketidakpastian. Persoalan keraguan memperoleh

tantangan dari Misbah Yazdi46 dan Naquib Al-Attas melalui konsepnya tentang

hidayah).47 Dalam perspektif profetik, ilmu didasarkan pada adanya kepercayaan, setelah kepercayaan tersebut didukung pembuktian, maka akan memunculkan

keyakinan, yang pada gilirannya mengantarkan pada pengetahuan. Dari sini

43 Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, AE. Priyono dan Lukman Hakiem (peny),

Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Shalahuddin Press, 1994, hal. 11-12.

44 Kuntowijoyo, Selamat Tinggal Mitos,Selamat Datang Realitas: Esai-Esai Budaya dan Politik, (Bandung:

Mizan), 2002, hal.170, 210 dan 225.

45Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, AE. Priyono (ed). Bandung: Mizan, 1991, hal. 70. 46Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, terj. Musa Kazhim dan Saleh Bagir,

(Bandung: Mizan), 2003, hal. 89-90.

(15)

9

profetik menawarkan integralisasi (ilmu dan agama) dan obyektifikasi untuk

menerjemahkan nilai-nilai internal ke dalam kategori obyektif sehingga seseorang

dapat saja melakukan sesuatu sebagai kewajaran tanpa harus menyetujui nilai

asalnya.48

Paradigma nonsistematik bertumpu pada dekontruksi dan relativitas

kebenaran untuk menafsirkan keseluruhan dalil-dalil penyangganya. Selain tidak

ada sumber kebenaran yang mutlak, dekonstruksi dilakukan juga terhadap teori

chaos, Pancasila, consilience, IESQ dan gerak transubstansial, hal ini menjadikan teori-teori tersebut mengalami perubahan radikal dan menimbulkan konsekuensi

baru; Pertama, Hakim memiliki beban putusan hukum yang berbeda dengan yang sebelumnya meskipun dengan kasus yang sama (rechtshepping), ini merupakan syarat keadilan.49 Lebih dari itu, paradigma nonsistematik menanggalkan

yurisprudensi dan tidak ada lagi ne bis in idem karena kasus harus dianggap tak sama;50 Kedua, Paradigma nonsistematik menafsirkan chaos berorientasi pada ketidakteraturan, meskipun puisi Hesoid mengisyaratkan sebaliknya bahwa

“segalanya adalah Chaos", baru sesudah itu segalanya menjadi stabil;51

Ketiga, Meskipun nonsistematik menolak hukum sebagai tujuan ilmu, sebagaimana Wilson memposisikan biologi sebagai tujuan akhirdari segala

ilmu.52Tetapi di bagian lain ia memaparkan proses evolusi pilihan; hukum

48Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam, Op. Cit, hal. 68-69.

49Cut Asmaul Husna TR, Penemuan Hukum dan Pembentukan Hukum The Living Law Melalui Putusan

Hukum, Jurnal Mizan, Vol.2. No. 3.Februari, 2012, hal. 65.

50 Karen Leback, Teori-Teori Keadilan: Analisis Kritis Pemikiran J.S. Mill, J. Rawls, R. Neibuhr dan J.P.

Miranda, Terj. Yudi Santoso, (Bandung: Nusamedia), 2004, hal. 63.

51 Hesoid, Theogony: Works and Days, Terj. Apostolos N. Athanassakis, (United States of America: The

Johns Hopkins University Press), 2004, hal.3 Dalam Mitologi Yunani Kuno, Chaosmerupakan wujud pertama (dewa) yang tercipta dari semesta. Lihat, E. M. Berens, Kumpulan Mitologi dan Legenda Yunani dan Romawi, ed. Dewi Fita, (Jakarta Selatan: Penerbit Bukune), 2010, hal. 7 dan 8.

52Anthon F. Susanto, Hukum Dari Consilience Menuju Paradigma Hukum Konstruktif-Transgresif, Ed. Aep

(16)

10

kembali kepada tatanan alam semesta dan atau perintah Tuhan (consilience

hukum);53 Keempat, Semula gerak transubstansial adalah suatu kesatuan integral dengan gradasi wujud dan Primasi wujud.54 Namun dengan hanya mengadopsi gerak-transubstansial, mengesankan bahwa asal-usul keberadaan manusia dan

alam hanya akibat alami yang terbentuk melalui gerak abadi semata;55 kelima,

Dalam konsepsi IESQ untuk menilik domain realitas dan makna,56 terdapat

kontradiksi internal, Danah Zohar dan Ian Marshal yang membantah spiritual57

disini berhubungan dengan agama58 Sebaliknya Ary Ginanjar Agustian lekat

dengan Islam. Akan tetapi, paradigma nonsistematik tidak memberi argumen lebih

lanjut mengenai sintesis antara keduanya.59

Berdasarkan hal yang demikian, nonsistematik menjelaskan bahwa

kenyataan dan teks sebenarnya bersifat chaos adalah relatif benar, namun ia tidak berorientasi pada ketidakpastian, tidaklah keliru bahwa alam pada dasarnya suatu

kontruksi yang menyeluruh antara chaos dan cosmos, antara subjektivitas dan objektivitas, antara relativitas dan absoluditas, dan demikian seterusnya.

53Anthon F. Susanto, Hukum Dari Consilience, Op.Cit, hal. 72

54Husain Heriyanto, Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains dan Kehidupan Menurut Shadra dan

Whitehead, (Jakarta Selatan: Teraju), 2003, hal. 156.

55Anthon F. Susanto, Ilmu Hukum Non-Sistematik: Pondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia,

Ed. Nasrullah O Bana dan Ufran, (Yogyakarta: Gentha Publishing), 2010, hal. 24.

56Ibid,hal. 260.

57Danah Zoihar dan Ian Marshal, Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, terj. Helmi

Mustofa, (Bandung: PT. Mizan Pustaka), 2005, hal. 96-97 dan 181.

58Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam berpikir Integralistik dan

Holistik Untuk Memaknai Kehidupan, diterjemahkan dari SQ Spiritual Intellegence The Ultimate Intellegence, oleh Rahmani Astuti, (Bandung : Mizan), 2001, hal. 8-9.

59Ary Ginanjar Agustian, ESQ Emostional Spiritual Quotinet: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan

(17)

11

Keduanya merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan akan tidak adil jika

hanya memihak kepada salah satunya dan mengesampingkan sebagiannya.60

Dalam persoalan keadilan pun demikian adanya ia tidak hanya tentang

upaya untuk memberikan keleluasaan pada persepsi atau keyakinan subjektif

hakim dalam menjatuhkan suatu putusan hukum, melainkan juga memberi

kekuasaan pada keluarga korban untuk menghakimi jika terdakwa terbukti

bersalah. Hakim tidak lagi sebagai pejabat negara yang sangat sensitif merasakan

derita keluarga korban.

Keadilan asimetrik mensyaratkan ada keadilan yang multikultural,

meskipun hanya terbatas pada hukum adat. Paradigma profetik menyarankan

adanya akomodasi radikal terhadap seluruh sumber hukum nasional,61 juga

mereposisikan hukum agama dan kepercayaan lainnya yang berlaku di

kelompoknya masyarakatnya masing-masing,62 dengan tujuan mewujudkan

intersubjektivitas keadilan.63 Namun bilamana terjadi konflik antar kelompok

masyarakat, lintas agama dan budaya, keadilan juga harus bersifat interobyektif

dalam perkara lintas kelompok yang diambil dari obyektifitas ajaran agama,

kemanusiaan maupun adat, karenanya intersubjektivitas dan interobjektivitas

keadilan harus dipandu dengan visi etis profetik.

60 Mulyadhi Kertanegara, Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia, (Surabaya: Penerbit Erlangga),

2007, hal. 10.

61Kuntowijoyo nampaknya tidak memcampurkan hukum dengan pandangan ekonomi communitarian, tetapi

justru menganjurkan keadilan yang bermula dari sikap personal, harus terlebih dahulu dijadikan produk legal.Ibid, hal. 102.

62Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, AE. Priyono dan Lukman Hakiem (peny),

Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Shalahuddin Press, 1994, hal. 11-12.

(18)

12

PENUTUP

Kesimpulan-Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa:

Pertama, terdapat kontradiksi internal dalam paradigma nonsistematik yang masing-masing menimbulkan persoalan-persoalan lain; Kedua, asumsi dasar

dalam memandang semesta yang sebenarnya berpijak pada mitos Yunani tentang

dewa chaos, menyelesaikan setiap masalah ke titik awalnya, namun dengan tanpa memperhitungkan ranah cosmos menjadikan bangunan ilmiahnya mengafirmasi kekacauan, libertanisme, sekularisme dan relativisme; Ketiga, makna keadilan

nonsistematik atau asimetrik terbatas pada keadilan yang bersifat multikultural

dengan dimensi sekularisme yang merasukinya, keadilan ini memang mampu

menjawab persoalan dalam tubuh komunitas.

Saran-Saran

Berdasarkan yang demikian juga penulis memberikan saran sebagai

berikut: Pertama, Dalam kontradiksi internal, seharusnya ada proses sintesis terhadap kontradiksi tersebut; Kedua, pada faktanya masyarakat tidak sepenuhnya kosong dari nilai-nilai, karena itu nampak sekali pandangan nonsistematik akan

sukar diimplementasikan, penyelesaian masalah tidak selalu harus menggunakan

cara ekstrim dengan menghilangkan (reset) nilai yang lebih dulu hidup di masyarakat, akan tetapi melalui interaksi, dialog dan integrasi; Ketiga, keadilan asimetrik tidak dapat menjawab permasalahan antar golongan, karena itu masih

tetap diperlukan keadilan yang berlaku untuk seluruh masyarakat meskipun

(19)

13

DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku

Abbas, Anwar, 2010, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, Ed. Mukhaer Pakkana, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara

Agustian, Ary Ginanjar, 2001, ESQ Emostional Spiritual Quotinet: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Jakarta: Penerbit Arga.

Anwar, Wan, 2007, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, Jakarta: PT. Grasindo. Anwar, Yesmil dan Adang, 2008, Pengantar Sosiologi Hukum, Jakarta:

Gramedia

Salman, Otje dan Anthon F. Sutanto, 2009, Teori Hukum Mengingat, Mengumpulkan, dan Membuka Kembali, Bandung: PT. Refika Aditama

Susanto, Anthon F. 2007. Hukum dari Consilience Menuju Paradigma Hukum Konstruktif-Transgresif, Bandung: PT. Refika Aditama.

2010, Ilmu Hukum Non-Sistematik: Pondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia, Bandung: Gentha Publishing.

Chittick, William C. 2001, Dunia Imajinal Ibnu ‘Arabi: Kreativitas dan

Persoalan Diversitas Agama, Surabaya: Risalah Gusti.

Anshari, Endang Saifuddin, 2004, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sistem Islam, Jakarta: Gema Insani Press.

Berens, E. M, 2010, Kumpulan Mitologi dan Legenda Yunani dan Romawi, ed. Dewi Fita, Jakarta Selatan: Penerbit Bukune.

Hardiman, F. Budi, 2007, Filsafat Fragmentaris: Deskripsi, Kritik dan Dekonstruksi, Yogyakarta: Kanisius.

Huda, Nor, 2007, Islam Nusantara; Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, Yogyakarta; Ar Ruzz Media Group.

Heriyanto, Husain 2003, Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, Jakarta Selatan: Teraju. Hesoid, 2004, Theogony: Works and Days, Terj. Apostolos N. Athanassakis,

(United States of America: The Johns Hopkins University Press.

Iqbal, Muhammad, 1982, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, alih bahasa: Ali Audah, Taufiq Ismail, dan Gunawan Muhammad, Yogyakarta: Jalasutra.

(20)

14

Jazuli, Ahzami Samiun, 2006, Kehidupan dalam Pandangan Al-Quran, terj. Sari Nuralita, Jakarta: Gema Insani Press

Kertanegara, Mulyadhi 2007, Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia,

Surabaya: Penerbit Erlangga.

Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, AE. Priyono (ed). Bandung: Mizan.

2002, Selamat Tinggal Mitos,Selamat Datang Realitas: Esai-Esai Budaya dan Politik, Bandung: Mizan.

1994, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, AE. Priyono dan Lukman Hakiem (peny), Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Shalahuddin Press.

2004, Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika,

Teraju Jakarta: PT. Mizan Publika.

Leback, Karen 2004, Teori-Teori Keadilan: Analisis Kritis Pemikiran J.S. Mill, J. Rawls, R. Neibuhr dan J.P. Miranda, Terj. Yudi Santoso, Bandung: Nusamedia.

Mahzar, Armahedi 2004, Revolusi Integralisme Islam Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, Bandung, Mizan.

Naquib Al-Attas, 1995, Islam dan Filsafat Sains, Bandung: Mizan.

Syamsuddin, Maimun, 2012, Integrasi Multidimensi Agama dan Sains: Analisis Sains Islam Al-Attas dan Mehdi Golshani, Yogyakarta: IRCISOD. Yazdi, Muhammad Taqi Mishbah, 2003, Buku Daras Filsafat Islam, terj. Musa

Kazhim dan Saleh Bagir, Bandung: Mizan

Zohar, Danah dan Ian Marshal, 2005, Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, terj. Helmi Mustofa, Bandung: PT. Mizan Pustaka. 2001, SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam berpikir Integralistik dan

Holistik Untuk Memaknai Kehidupan, terj. Rahmani Astuti, Bandung: Mizan

Makalah dan Jurnal

Ahimsa Putra, Heddy Shri, Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya, Sketsa Beberapa Episode, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada Pada tanggal 10 November 2008 di Yogyakarta.

Paradigma Profetik: Mungkinkah? Perlukah?, Makalah disampaikan dalam

“Sarasehan Profetik 2011”, diselenggarakan oleh Sekolah

Pascasarjana UGM, di Yogyakarta, 10 Februari 2011.

(21)

15

Hanif, Muh. Studi Media Dan Budaya Populer Dalam Perspektif Modernisme dan Postmodernisme, Jurnal Komunika, Vol.5 No.2 (Juli - Desember 2011).

Husna TR, Cut Asmaul Penemuan Hukum dan Pembentukan Hukum The Living Law Melalui Putusan Hukum, Jurnal Mizan, Vol.2. No. 3.Februari, 2012.

Iswanto, Agus, Relasi manusia Dengan Lingkungan dalam Al-Quran: Upaya Membangun Eco-Theology, Jurnal Suhuf, Vol. 6, No. 1, 2013.

Loukas, Marios, Yousuf Saad, R. Shane Tubbs, dan Mohammadali M. Shoja, The Heart and Cardiovascular system in Quran and Hadeeth,

International Journal of Cardiology 140, 2010.

Paul Hoyingen Huene, 1995, Two Letters of Paul Feyerabend to Thomas S. Kuhn on a Draft of The Structure of Scientific Revolutions, Journal Pergamon History and Philosophy Vol. 26, Elsevier Science ltd, Great Britain.

Raharjo, Agus, Hukum dan Dilema Pencitraannya: Transisi Paradigmatis Ilmu Hukum dalam Teori dan Praktek, Jurnal Hukum Pro Justitia, (Januari 2006), Volume. 24. No. 1.

Ricardo Samarmata, Penggunaan Socio-Legal dan Gerakan Pembaharuan Hukum, Jurnal Digest Law, Society and Development, Volume. 1 (Desember 2006- Maret 2007).

Situngkir, Hokky Menyambut Fajar Menyingsing Teori Sosial Berbasis Kompleksitas, Makalah Diskusi yang diadakan atas Kerjasama Bandung Fe Institute (BFI) dengan Center for Strategies and International Studies (CSIS), Jakarta, 5 Juni 2003.

Susanto, Anthon F. Keraguan dan Keadilan dalam Hukum, Sebuah Pembacaan Dekonstruktif, Jurnal keadilan Sosial Mitra Pembaruan Pendidikan Hukum Indonesia (ILRC), Edisi.1, didukung oleh Open Soceity Institute, Jakarta Selatan, 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat fertilitas (TFR maupun ASFR) wanita di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wanita di perdesaan. Tingkat

5 Matrik jarak genetik Fusarium oxysporum sampel Tanah Karangploso dengan beberapa Gen dari spesies lain tergabung dalam Genus Fusarium yang terdata

Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Lele Dumbo ( Clarias gariepinus ) pada Konsentrasi Tepung Daun Jaloh ( Salix tetrasperma Roxb) yang Berbeda dalam

Bagian pembahasan ini terfokus pada penjelasan atas aspek-aspek yang terkait dengan topik sistem koreferensial, yaitu menyangkut rancang bangun atau bentuk tipologi

Walaupun dalam beberapa hasil analisis telah menunjukkan kategori baik seperti pada penilaian aktivitas guru, namun ada beberapa kriteria penilaian mendapat nilai dua, hal

Rencana produk pengembangan media lempar cakram menggunakan media acrylic pada peser- ta didik kelas VI SDN Mulyorejo 3 Malang yang dikembangkan ini terlebih dahulu diuji coba oleh

keberadaan suatu pihak pada suatu kontrak anjak piutang yang muncul dari kontrak penjualan barang-barang antara seorang pemasok barang dengan debitor dari negara yang berbeda