• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEREMPUAN DALAM PALSAFAH ADAT MINANGKABAU.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEREMPUAN DALAM PALSAFAH ADAT MINANGKABAU."

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

PEREMPUAN DALAM PALSAFAH ADAT MINANGKABAU Satya Gayatri, Andriana Yohan, Sulastri

Nomor Kontrak : 68/LP-UA/SPP-DPP/K/V-2001

ABSTRAK

Perempuan minangkabau punya kedudukan yang khas dibandingkan dengan perempuan lain di Indonesia. Sebutan untuk perempuan Minagkabau dinyatakan dengan “Bundo Kanduang.” “Bundo Kanduang: punya peranan yang penting dalam keluarga yang bersifat komunal. Peranan dan kedudukan perempuan itu dituangkan dalam falsafah adat.

Falsafah adat merupakan pedoman dalam masyarakat Minagkabau. Dengan falsafah adat terbandung nilai-niali dan etika yang dituangkan dengan bahasa yang indah. Perempuan dalam falsafah adat menuntut mereka untuk dapat berbuat dan bertingkah laku sesuai dengan budaya Minangkabau.

Referensi

Dokumen terkait

Fanotona Laila : Kedudukan Anak Perempuan Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Nias (Studi Di Kab…, 2005 USU Repository © 2008... Fanotona Laila : Kedudukan Anak Perempuan

Fanoto Laia: Kedudukan Anak Perempuan dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Nias, 2005 USU Repository © 2006... Fanoto Laia: Kedudukan Anak Perempuan dalam Hukum Waris Adat

Meskipun mempunyai kedudukan yang tinggi dalam adat, perempuan Minangkabau harus paham dengan posisinya sebagai perempuan yang harus patuh pada laki-laki

Pada novel Padusi karya Ka’bati, kedudukan perempuan Minangkabau yang tergambar dalam novel ini dilihat dari tokoh ibu Dinar dan ibu Sahara. Berikut kedudukan perempuan

Rajo Penghulu, Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di Minangkabau, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hal.. Oleh karena itu dapat dilihat

Menurut kondisi normatif, pria dan perempuan mempunyai status atau kedudukan dan peranan (hak dan kewajiban) yang sama. Akan tetapi menurut ondisi objektif, perempuan mengalami

Ketentuan ini memberikan legalisasi untuk perempuan terlibat secara langsung dalam ranah publik sekaligus menjadi suatu peluang yang sangat strategis bagi bundo

keterwakilan perempuan di lembaga legislatif di Sumatera Barat, dimana organisasi bundo kanduang dinilai sebagai salah satu modal sosial yang dimiliki oleh perempuan Sumatera Barat